Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore 3. Risalah kebijakan atau Policy Brief

3. Risalah kebijakan atau Policy Brief

Published by Dina Lenggu, 2022-12-27 06:22:30

Description: 3. Risalah kebijakan atau Policy Brief

Search

Read the Text Version

POLICY BRIEF TEMA/TOPIK JUDUL Zona Konservasi Air Tanah Pada Cekungan Air Tanah Nemberala, Cekungan Air Tanah Batutua dan Cekungan Air Tanah Rote Kabupaten Rote Ndao KERJA SAMA Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Kabupaten Rote Ndao Dengan Fakultas Sains dan Teknik - Unviversitas Nusa Cendana TAHUN 2022

1. PENDAHULUAN Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah, Kabupaten Rote Ndao memiliki 3 Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu CAT Nemberala, CAT Batutua, dan CAT Rote, sebagai sumber air bersih bagi Penduduk Kabupaten Rote Ndao. A. Cekungan Air Tanah Nemberala CAT Nemberala memiliki luas 236 Km2 atau sebesar 23.600 ha terletak pada koordinat lintang -10°44'20,81\" –10°56'20,38\" dan koordinat bujur yaitu 122°48'9,99\" – 122°57'53,87\". Litologi akuifer: alluvium terdiri dari pasir, kerikil, kerakal, lempung dan lumpur. Kelulusan sedang – tinggi. Batugamping koral, setempat karstifikasi, kelulusan sedang – tinggi. Jumlah air tanah pada akuifer bebas (Q1): 74 juta m3/tahun; akuifer tertekan (Q2): 1 juta m3/tahun. Gambar 1 Peta Cekungan Air Tanah Nemberala Lama

Berdasarkan pengukuran muka air tanah pada sumur gali, sumur bor didapat hasil bahwa pada daerah penelitian memiliki kedalaman antara 0 mdpl di daerah Boni hingga kedalaman - 100 mdpl di bagian Barat Oenitas (lihat Gambar 1). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat groundwater devide di daerah Manggis yang terletak di antara Oenitas dan Sedeoen. Pola aliran air tanah di bagian Utara Oenitas cenderung menyebar ke arah barat laut, sedangkan pola aliran air tanah bagian selatan Sedeoen cenderung mengalir ke arah barat daya dan selatan, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2 Peta arah aliran air tanah dalam CAT Nemberala Berdasarkan data-data sumur bor, sumur gali, mata air, pengukuran geolistrik Potensi airtanah di dalam Cekungan Air Tanah Nemberala dapat dikelompokkan menjadi empat bagian air tanah, yaitu:  Potensi air tanah dangkal pada batugamping dan berhubungan dengan air laut, dapat terjadi instrusi air laut apabila pengambilan air

tanah berlebihan. Untuk kelompok ini meliputi daerah dengan morfologi pedataran tersebar di daerah pesisir/pantai yang melingkari Cekungan Air tanah Nemberala. Meliputi daerah Oeseli, Oenggaut, Nemberala, Oelolok, Mbueaian, Boni. Pada Peta Potensi Air Tanah diberi notasi warna biru tua (Gambar 3).  Potensi air tanah dangkal sampai dalam pada batugamping. Tersebar di daerah Oebou, Oeseli, Boa, oenggaut, Nemberala, Oenitas, Lalukoen, Oeteffu, Lidor, Oehandi, Meoain, Modosinal, Ingguinak. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna biru muda (Gambar 3).  Batugamping yang tidak berpotensi ait tanah. Tersebar di Oelua, Tolama, Temas, Oebela. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna abu-abu (Gambar 3).  Lapisan Impermeable (tidak memiliki potensi air tanah). Dapat dikembangkan rekayasa air permukaan (Embung). Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna coklat (Gambar 3).

Gambar 3 Peta Potensi Air Tanah CAT Nemberala B. Cekungan Air Tanah Batutua CAT Batutua memiliki luas 229 Km2 atau sebesar 22.900 ha terletak pada koordinat -10°43'24.27\" – -10°51'48.04\" Lintang Selatan dan koordinat 122°57'56.21\" – 123°14'26.62\" Bujur Timur. Litologi akuifer: alluvium terdiri dari pasir, kerikil, kerakal, lempung dan lumpur. Kelulusan sedang – tinggi. Batugamping koral, setempat karstifikasi, kelulusan sedang – tinggi. Jumlah air tanah pada akuifer bebas (Q1): 72 juta m3/tahun; akuifer tertekan (Q2): 1 juta m3/tahun. Ada sedikit koreksi luas CAT Batutua berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: 31.265 ha. Dengan demikian jumlah air tanah pada akuifer bebas (Q1): 98 juta m3/tahun; akuifer tertekan (Q2): 1 juta m3/tahun.

Gambar 4 Peta Cekungan Air Tanah Batutua Untuk membuat peta pola aliran air tanah bebas, telah dilakukan pengukuran pada sumur gali, sumur bor dan mata air dalam CAT Batutua, meliputi pengukuran koordinat x dan y sebagai koordinat lokasi sumur gali, sumur bor serta mata air dengan Hand GPS, dan pengukuran elevasi muka air tanah terhadap muka tanah asli dengan menggunakan meteran. Pengukuran/inventarisasi dilakukan pada 339 titik minatan sumur gali, 39 titik minatan sumur bor, dan 25 titik minatan mata air, seperti ditunjukkan pada Gambar 4. Titik-titik minatan tersebut menjadi dasar pembuatan arah aliran muka air tanah seperti pada Gambar 5. Berdasarkan pengukuran muka air tanah pada sumur gali, sumur bor didapat hasil bahwa pada daerah penelitian memiliki kedalaman antara 0 mdpl hingga kedalaman - 300 mdpl. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat groundwater devide Lengusalu – Daleholu: dengan pola aliran sisi utara cenderung mengalir daerah Limakoli (Utara), Lidamanu (Barat), Nusadale (Timur Laut), Oematamboli (Timur). Pola aliran sisi selatan: ke arah Daleholu, Kolobolon,

Dodaek, dan Inaoe (Barat Daya, Selatan dan Tenggara). Daerah Busalangga, Haloaman, Sanggaoen, Mokdale dan Oelunggu, air tanahnya cenderung mengalir ke arah utara, seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Gambar 5 Peta arah aliran air tanah dalam CAT Batutua Berdasarkan data-data sumur bor, sumur gali, mata air, pengukuran geolistrik Potensi air tanah di dalam Cekungan Air Tanah Batutua dapat dikelompokkan menjadi Lima bagian air tanah, yaitu:  Potensi air tanah dangkal pada batugamping dan berhubungan dengan air laut, dapat terjadi instrusi air laut apabila pengambilan air tanah berlebihan. Untuk kelompok ini meliputi daerah dengan morfologi pedataran tersebar di daerah pesisir/pantai selatan Cekungan Air tanah Batutua, meliputi daerah Batutua, Dolasi, Kuli, Inaoe, dan Dodaek. Pada Peta Potensi Air Tanah diberi notasi warna biru tua (Gambar 6).

 Potensi air tanah dangkal pada batugamping, dapat dimanfaatkan dengan sumur gali. Potensi air tanah jenis ini tersebar setempat- setempat di daerah Daleholu, Lenguselu, Suelain, Busalangga, Batutua, Tuanatuk, Mokdale dan Maubesi. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna biru muda (Gambar 6).  Potensi air tanah dalam pada batugamping, dapat dimanfaatkan dengan sumur bor. Potensi air tanah jenis ini tersebar di daerah Lidamanu, Lenguselu, Inaoe, Suelain, Oelasin, Haloama, Helebeik, Sanggaoen, Oelunggu, Maubesi, Oetutulul dan Batutua. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna merah muda (Gambar 6).  Batugamping yang tidak berpotensi air tanah. Tersebar di daerah Suelain, Kolobolon, Daleholu, Dodaek, setempat-setempat di daerah Oetutulil, Tuanauk. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna abu-abu (Gambar 6).  Lapisan Impermeable (tidak memiliki potensi air tanah). Dapat dikembangkan rekayasa air permukaan (Embung). Lapisan impermeable ini tersebar di daerah: Mbokak, Lekik, Oebaffo, Oebatu, Modosinal, Netenain, Oetutulul, Daudulu, Tuanatuk, Baadale, Oelunggu, Maubesi, Helebeik, Bebalain, kolobolon, Maubesi, Lidabesi, Oenatali. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna coklat (Gambar 6).

Gambar 6 Peta Potensi Air Tanah CAT Batutua C. Cekungan Air Tanah Rote CAT Rote memiliki luas 250 Km2 atau sebesar 25.000 ha terletak pada koordinat -100 25' 41,43\" - -100 39' 07.79\" Lintang Selatan dan koordinat 123o 09' 57,98\" – 123o25' 33,15\" Bujur Timur. Litologi akuifer: alluvium terdiri dari pasir, kerikil, kerakal, lempung dan lumpur. Kelulusan sedang – tinggi. Batugamping koral, setempat karstifikasi, kelulusan sedang – tinggi. Jumlah air tanah pada akuifer bebas (Q1): 78 juta m3/tahun; akuifer tertekan (Q2): 1 juta m3/tahun.

Gambar 7 Peta Cekungan Air Tanah Rote Untuk membuat peta pola aliran air tanah bebas, telah dilakukan Pengukuran pada sumur gali, sumur bor dan mata air dalam CAT Rote, meliputi pengukuran koordinat x dan y sebagai koordinat lokasi sumur gali, sumur bor serta mata air dengan Hand GPS, dan pengukuran elevasi muka air tanah terhadap muka tanah asli dengan menggunakan meteran. Pengukuran/inventarisasi dilakukan pada 230 titik minatan sumur gali, 34 titik minatan sumur bor, dan 7 titik minatan mata air, seperti ditunjukkan pada Gambar 7. Titik-titik minatan tersebut menjadi dasar pembuatan arah aliran muka airtanah seperti pada Gambar 8. Berdasarkan pengukuran muka air tanah pada sumur gali, sumur bor didapat hasil bahwa pada daerah penelitian memiliki kedalaman 0 mdpl di daerah Daiama, kedalaman muka air tanah -6,25 – -87,5 mdpl di daerah Bolatena, kedalaman muka air tanah - 6,25 – -50 mdpl di daerah Matasio dan Serubeba, kedalaman -12,5 - -175 mdpl meliputu daerah Tesabela, Tungganamo, Olafulihaa, Edalode dan Koen.

(lihat Gambar 8). Di daerah Bolatena, air cenderung mengalir ke arah timur laut, barat laut dan barad daya, sedangkan di daerah Tesabela, Tungganamo, Olafulihaa, Edalode dan Koen air cenderung mengalir ke arah barat laut. (lihat Gambar 8). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua groundwater devide di daerah Bolatena. Untuk groundwater divided yang pertama: aliran airtanah cenderung mengalir ke arah timur laut dan yang cenderung mengalir ke arah barat daya. Groundwater divided kedua: air cenderung mengalir ke arah barat laut dan cenderung ke arah tenggara, seperti ditunjukkan pada Gambar 8 Peta arah aliran air tanah dalam CAT Rote Berdasarkan data-data sumur bor, sumur gali, mata air, pengukuran geolistrik Potensi air tanah di dalam Cekungan Air Tanah Rote dapat dikelompokkan menjadi Lima bagian air tanah, yaitu:

 Potensi air tanah dangkal pada batugamping dan berhubungan dengan air laut, dapat terjadi instrusi air laut apabila pengambilan air tanah berlebihan. Untuk kelompok ini meliputi daerah dengan morfologi pedataran tersebar di daerah pesisir/pantai Cekungan Air Tanah Rote, meliputi daerah Onatali, Tesabela, Bolatena, Daiama dan Sitimori. Pada Peta Potensi Air Tanah diberi notasi warna biru tua (Gambar 9).  Potensi air tanah dangkal pada batugamping, dapat dimanfaatkan dengan sumur gali. Potensi air tanah jenis ini tersebar setempat- setempat di daerah Bolatena, Tunganamo dan Matasio. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna biru muda (Gambar 9).  Potensi air tanah dalam pada batugamping, dapat dimanfaatkan dengan sumur bor. Potensi air tanah jenis ini tersebar di daerah Oebau. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna merah muda (Gambar 9).  Batugamping yang tidak berpotensi ait tanah. Tersebar di daerah Olafulihaa, Edalode dan Koen. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna abu-abu (Gambar 9).  Lapisan Impermeable (tidak memiliki potensi air tanah). Dapat dikembangkan rekayasa air permukaan (Embung). Lapisan impermeable ini tersebar di daerah: Olafulihaa, Edalode dan Serubeba. Pada Peta Potensi Air tanah diberi notasi warna coklat (Gambar 9).

Gambar 9 Peta Potensi Air Tanah CAT Rote 2. TEMUAN DAN BAHASAN Hasil pengukuran secara in situ terhadap 132 sampel sampel air tanah di daerah CAT Nembrala menunjukkan bahwa kadar TDS bervariasi antara 32,7 dan 9610 ppm. Nilai TDS tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu: (1) aman (<500 ppm), (2) rawan (500-750 ppm), (3) kritis (750-1000 ppm) dan (4) rusak (>1000 ppm). Berdasarkan klasifikasi, terdapat 65 sampel atau 52 persen air tanah di daerah CAT Nembrala yang memiliki nilai TDS aman, 17 sampel atau 14 persen masuk klasifikasi rawan, 15 sampel atau 12 persen termasuk dalam kasifikasi kritis. Pada cekungan air tanah ini juga terdapat daerah yang termasuk dalam klasifikasi rusak, yaitu 28 sampel atau 22 persen. Nilai TDS terendah (32,7 ppm) terdapat pada sumur gali umum di Desa Sedeoen, Rote Barat. Sedangkan daerah yang memiliki TDS tertinggi (9610 ppm) terdapat

pada sumur gali di Desa Huleaman, Rote Barat Daya. Daerah yang termasuk dalam klasifikasi rusak juga tersebar di Desa Huleaman, Desa Moeain, Desa Nembrala, Desa Netenain, Desa Oelua, Desa Oeseli dan Desa Tasilo. Distribusi spasial kondisi TDS menurut kelas ditunjukkan pada Gambar 10. GGamambabrar4.1109 PPeettaa IIssoolliinnee KKuuaalliittaass TTDDSS IInn sSitituuMMaatataAAiri,r,SSuummuur rBBoro,rddaannSSuummuur rGGaalili ddaalalammCCeekkuunnggaannAAirirTTanaanhahNeNmembebrearlaala Hasil survey lapangan diketahui sebanyak 42% sampel memiliki daya hantar listrik yang tinggi (>1000 µS/cm), dengan lokasi yang tersebar (lihat Gambar 11). DHL yang tinggi dapat disebabkan oleh sumber alamiah (seperti kandungan mineral dan batuan) dan sumber antropogenik. Sementara, sebanyak 58% area sumber air memiliki daya hantar listrik <1000 µS/cm yang termasuk dalam zona aman berdasarkan Kepmen ESDM No.145.K/10/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Pemerintah Bidang Pengelolaan Air Bawah. Daya Hantar Listrik dapat memberikan informasi

mengenai air tidak berasa, payau dan asin untuk mengetahui daerah yang terindikasi intrusi air laut. Gambar 11 Peta Isoline Kualitas DHL In situ Mata Air, Sumur Bor, dan Sumur Gali Dalam Cekungan Air Tanah Nembrala Hasil survei lapangan menunjukan bahwa nilai DHL berbanding terbalik dengan elevasinya. Semakin tinggi elevasi maka semakin kecil nilai DHL- nya. Sebaliknya semakin rendah elevasinya maka semakin besar nilai DHL-nya. Namun, terlihat pada Peta Sebaran Data (Gambar 11), terdapat titik pengamatan yang memiliki nilai DHL tinggi pada elevasi yang tinggi. Hal tersebut menunjukan DHL pada titik tersebut mengalami anomali yang diakibatkan oleh intrusi air laut. Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas air. Nilai pH menunjukkan tingkat keasaman atau

kekuatan asam dan basa dalam air serta mencirikan keseimbangan antara asam dan basa. Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain aktivitas biologis misalnya fotosintesis dan respirasi organisme, serta suhu dan keberadaan ion-ion dalam air. Adanya senyawa-senyawa hidroksida dan bikarbonat akan meningkatkan nilai pH, sedangkan keberadaan asam-asam mineral dan asam karbonat akan menurunkan nilai pH. Gambar 12 Peta Isoline Kualitas pH in situ Mata Air, Sumur Bor, dan Sumur Gali Dalam Cekungan Air Tanah Nembrala Berdasarkan hasil uji in situ dari 132 sampel sumur gali, sumur bor, dan mata air, di daerah CAT Nembrala memiliki nilai pH rata-rata 7,3. Rentang nilai yang didapatkan sebesar 6,8 – 8,1. Nilai acuan baku mutu parameter pH sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum maupun Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan

Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum, keduanya mensyaratkan nilai pH yang sama yaitu 6,5-8,5. Dengan demikian, data untuk akuifer bebas memiliki gambaran umum yang termasuk dalam kategori aman dan layak untuk dikonsumsi karena nilai pH semuanya berada dalam nilai rentang baku mutu, yaitu 6,5-8,5. Tinggi rendahnya pH air tidak berpengaruh langsung pada kesehatan akan tetapi untuk air dengan pH lebih kecil dari 6,5 akan menyebabkan korosi pada metal (misalnya pada pipa saluran air minum) yang melarutkan unsur-unsru timbal, tembaga, dan lain-lain yang bersifat beracun. Demikian pula jika pH lebih besar dari 8,5 dapat membentuk endapan (kerak) pada pipa air yang terbuat dari metal yang kemudian menghasilkan endapan beracun. a. Zat Padat Terlarut (Total Dissolved Solid) pada sumur gali, sumur bor, dan mata air di CAT Batutua Gambar 13 Peta Isoline Kualitas TDS In Situ CAT Batutua

Hasil pengukuran langsung di lapangan menunjukan bahwa secara umum nilai TDS di area Cekungan Air Tanah Batutua memiliki variasi nilai dengan kisaran 32,7 ppm hingga 5593 ppm, dengan rata-rata 529 ppm. Nilai TDS pada cekungan air tanah ini terbagi dalam 4 kategori, (1) aman (<500 ppm), (2) rawan (500-750 ppm), (3) kritis (750-1000 ppm) dan (4) rusak (>1000 ppm). Semakin besar nilai TDS di wilayah ini maka semakin besar ion terlarutnya sehingga mengindikasikan adanya interaksi yang lebih intensif dan waktu kontak yang lebih lama antara air tanah dengan akuifer. Berdasarkan hasil pengukuran TDS terhadap 403 sampel mata air, sumur bor dan sumur gali, menunjukkan bahwa sebagian besar area CAT didominasi oleh nilai TDS yang aman dan layak untuk dikonsumsi. Menurut standar baku mutu nasional sesuai PerMenakes No. 492/2010, sebesar 64% sampel layak digunakan sebagai air minum. Area ini ditandai dengan warna biru pada peta sebaran TDS (Gambar 13). Terdapat 68 sampel sumur (18%) yang sudah masuk dalam klasifikasi rawan, 39 titik pengamatan sumur (10%) yang berada pada tingkat kritis, dan 30 titik pengamatan sumur yang memiliki tingkat kerusakan tinggi. Delapan persen area cekungan air tanah ini ditandai dengan warna merah pada Gambar 13, dan tersebar di area pesisir seperti Desa Batutua, Desa Dolasi, dan Desa Oelasin. Nilai tertinggi pada CAT ini berada pada sumur di Desa Lenguselu, Rote Selatan (5593 ppm). b. Sebaran Daya Hantar Listrik (DHL) pada sumur gali, sumur bor, dan mata air di CAT Batutua Analisis nilai DHL pada area cekungan air tanah Batutua berdasarkan 403 titik pengamatan, diketahui bahwa area ini sebagian besar memiliki nilai daya hantar listrik rendah (<1000 µS/cm). Air tanah yang memiliki nilai TDS rendah tersebar pada titik-titik yang sama dengan air tanah yang memiliki nilai DHL tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa padatan

terlarut yang tinggi dalam air tanah menyebabkan jumlah ion-ion terlarut per volume dan mobilitas ion-ion meningkat. Semakin banyak air mengandung garam terlarut, maka nilai daya hantar listriknya semakin tinggi, sehingga daya hantar listrik juga mencerminkan jumlah zat padat terlarut. Gambar 14 Peta Isoline Kualitas DHL CAT Batutua Daerah yang memiliki nilai DHL paling tinggi adalah sumur gali di Desa Batutua. Sumur dengan air asin tersebut memiliki nilai DHL sebesar 8568 µS/cm. Menurut responden (pemilik sumur), air yang dihasilkan oleh sumurnya tidak layak digunakan untuk keperluan apapun, bahkan sifatnya yang korosif hanya merugikannya. Anomali ini diindikasikan adanya intrusi air laut menyebabkan sumur tersebut menjadi asin.

c. Derajat Keasaman (pH) pada sumur gali, sumur bor, dan mata air di CAT Batutua Berdasarkan hasil uji insitu dari 403 sampel sumur gali, sumur bor, dan mata air, daerah CAT Nembrala memiliki nilai pH rata-rata sebesar 7,1. Rentang nilai yang didapatkan sebesar 6,6-8,5. Dengan acuan baku mutu nilai pH oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 maupun Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017, data untuk akuifer bebas memiliki gambaran umum yang termasuk dalam standar aman dan layak untuk dikonsumsi, yaitu 6,5-8,5. Air tanah di area CAT Batutua umumnya memiliki nilai pH yang mendekati netral. Gambar 15 Peta Isoline pH In Situ CAT Batutua Tinggi rendahnya nilai pH pada dasarnya tidak berpengaruh pada kesehatan manusia, namun pH yang nilainya lebih rendah dari 6,5 dapat menyebabkan korosi pada metal sehingga dapat melarutkan unsur-unsur seperti timbal dan tembaga yang sifatnya racun. Nilai pH yang bersifat

asam pada daerah CAT dapat dipengaruhi oleh material penyusun akuifer atau litologi batuan sekitarnya. Air yang bersifat asam (pH<7) biasanya terdapat pada daerah – daerah dengan endapan vulkanik. Namun terdapat juga daerah yang memiliki nilai pH basa. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas fisik dan kimia air secara in situ terhadap 230 air sumur dangkal, 34 dari 37 sumur bor, dan 7 mata air dan dikaitkan dengan baku mutu air menurut Permenkes No. 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum dan Permenkes No. 32 tahun 2017 khususnya untuk air bagi keperluan Higiene Sanitasi, dapat dilihat bahwa keseluruhan sumber air memenuhi persyaratan baku mutu untuk parameter bau. Sebanyak 45 dari 230 sampel air sumur dangkal (19,56%), 2 dari 34 sampel air sumur bor (5,88%) dan 1 dari 7 sampel mata air (14,28%) tidak memenuhi baku mutu parameter rasa air. Rasa pada air tanah berhubungan dengan nilai DHL yang tinggi dan potensi adanya kandungan asam mineral dan besi terlarut yang juga tinggi. Nilai DHL yang tinggi memberi indikasi adanya kandungan garam-garam terlarut yang memberikan rasa asin pada air, sedangkan kandungan besi yang tinggi akan menyebabkan air terasa pahit. Total zat padat terlarut (TDS) juga mempengaruhi kualitas air. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh data bahwa 35 sampel air sumur dangkal (15,22%), 2 sampel sumur bor (5,88%), dan 1 sampel mata air (14,28%) memiliki kadar TDS yang telah melampaui baku mutu air karena nilainya lebih dari 1000 ppm. Kandungan TDS yang tinggi menjadi indikasi bahwa sumber air tersebut banyak mengandung senyawa organik dan anorganik terlarut dalam air serta mineral dan garam-garamnya, sehingga air dengan TDS yang tinggi umumnya tingkat kesadahannya juga tinggi dan akan meningkatkan nilai DHL. Selain itu, TDS yang tinggi dapat menyebabkan kekeruhan dan salinitas air karena kandungan garam- garam terlarut yang tinggi menyebabkan air menjadi asin. Jika air

memiliki kadar TDS lebih dari 1500 ppm menjadikan air tidak layak dikonsumsi karena memiliki rasa yang tidak enak. Berdasarkan Tabel 4.3, dapat dilihat bahwa ada keterkaitan antara parameter DHL dan TDS. Jika kadar TDS tinggi, umumnya diikuti dengan nilai DHL yang juga tinggi. Hasil pengukuran in situ menunjukkan bahwa 72 sumur dangkal (31,30%), 10 sumur bor (29,41%) dan 1 mata air (14,28%) memiliki nilai DHL>1000 µS/cm. Hal ini memberikan indikasi bahwa air tanah pada CAT Rote dengan jumlah dan persentase tersebut masuk dalam kategori zona rusak dan kualitas airnya telah melebihi nilai DHL dari sumber air alami. Ditinjau dari parameter pH, secara umum kualitas air pada sumber air di Cekungan Air Tanah Rote dapat dikatakan sangat baik karena hanya terdapat 4 dari 271 sampel air (1,48%) yang nilai pH air berada di luar rentang 6,5 – 8,5 sesuai yang dipersyaratkan dalam Permenkes No. 492 tahun 2010 maupun Permenkes No. 32 tahun 2017. Tinggi rendahnya pH air tidak secara langsung berpengaruh pada kesehatan manusia, namun air dengan pH <6,5 dapat menyebabkan korosi pada logam dan meningkatkan kelarutan logam berat dalam air (Cr, Zn, Fe, Cu, Hg, Pb, Cd dll) yang dapat membahayakan kesehatan, sebaliknya jika pH air >8,5 dapat membentuk endapan (kerak) pada pipa air yang kemudian dapat bersifat toksik. a. Sebaran Zat Padat Terlarut (Total Dissolved Solid) pada sumur gali, sumur bor, dan mata air di CAT Rote Berdasarkan hasil pengukuran TDS terhadap 274 sampel air tanah dangkal dan dalam serta air permukaan (mata air) dari daerah CAT sebagai sifat fisik air tanah dapat menunjukkan peringkat kualitas kerusakan yang bervariasi dari parameter total zat padat terlarut (TDS). Hasil pengujian insitu menunjukkan bahwa nilai zat padat terlarut (TDS) daerah cadangan air tanah Rote memiliki kisaran nilai 185 – 7079 ppm. Nilai TDS terendah terdapat pada Desa Matasio, Rote Timur. Sedangkan

untuk nilai tertinggi berada pada sebuah sumur dangkal yang berair asin di Desa Daiama, Landu Leko. Dari data yang dianalisis, menunjukan nilai TDS yang dapat dikategorikan sebagai daerah aman (67%), daerah rawan (14%), daerah kritis (5%) dan daerah rusak (14%). Daerah yang termasuk dalam daerah rusak adalah daerah di pesisir pantai, yang sebagian besar berair payau dan asin. Sebaran air tanah dangkal dan dalam serta air permukaan (mata air) yang merupakan air asin paling banyak ditemukan di Desa Daiama, dan Desa Pukuafu. Air tanah dangkal yang payau juga terdapat di Desa Nggodimeda, Desa Siomeda dan Desa Tesabela. Sebagian daerah pada Kecamatan Rote Tengah dan Kecamatan Rote Timur merupakan daerah rawan dan kritis yang perlu mendapatkan perlakuan khusus. Gambar 16 Peta Isoline Kualitas TDS Insitu CAT Rote Total padatan yang terlarut di dalam air sebagai hasil reaksi dari zat padat, cair, dan gas di dalam air yang dapat berupa senyawa organik dan anorganik. Substansi anorganik berasal dari mineral, logam dan gas yang

terbawa masuk ke dalam air setelah kontak dengan materi pada permukaan dan tanah. Nilai TDS yang tinggi dapat diakibatkan karena kandungan material dari satuan Alluvium yang belum mengalami kompaksi dengan baik menyebabkan material pada Alluvium tidak dapat tersaring dan bercampur pada air tanah. Semakin tinggi nilai DHL pada umumnya akan mempengaruhi kualitas dari air tanah. Peningkatan nilai DHL juga dapat diakibatkan oleh banyaknya polutan pada air tanah. Berdasarkan hasil pengukuran insitu nilai DHL yang berjumlah 274 titik sampel memiliki nilai DHL berkisar 382 μS/cm - 14150 μS/cm. DHL terendah sebesar 382 μS/cm ditemukan pada sumur di Desa Siomeda Kecamatan Rote Tengah, sedangkan DHL tertinggi sebesar 14150 μS/cm terukur pada sumur yang berair asin di Desa Daiama Kecamatan Landu Leko. Berdasarkan klasifikasi, terdapat 188 sampel yang memiliki nilai DHL kurang dari 1000 μS/cm termasuk dalam zona aman dan layak dikonsumsi. Sedangkan 83 sampel lainnya termasuk dalam zona rusak dan tidak layak dikonsumsi, dengan nilai daya hantar listrik lebih dari 1000 μS/cm. Daerah yang termasuk zona rusak ialah Desa Daiama, Desa Pukuafu dan Desa Tesabela. Semakin banyak air mengandung garam terlarut, maka nilai daya hantar listriknya semakin tinggi, sehingga daya hantar listrik juga mencerminkan jumlah zat padat terlarut

Gambar 17 Peta Isoline Kalitas DHL Insitu CAT Rote b. Sebaran Derajat Keasaman (pH) pada sumur gali, sumur bor, dan mata air di CAT Rote Derajat keasaman (pH) didefinisikan sebagai negatif dari logaritma konsenrasi ion hidrogen (Mandel, 1981). Hasil pengukuran derajat keasaman (pH) di lapangan terhadap sampel air pada akuifer bebas menunjukkan nilai pH berkisar antara 6,2 – 8,5. Adapun nilai derajat keasaman sudah mencapai standar baku mutu air tanah layak minum menurut PERMENKES NO/492/MENKES/PER/IV/2010 maupun baku mutu pH air untuk hygiene sanitasi sesuai PERMENKES Nomor 32 Tahun 2017, yang keduanya mensyaratkan nilai pH 6,5 – 8,5. Terdapat 3 sampel sumur di Desa Serubeba dan 1 sampel sumur di Desa Oenggao yang tidak memenuhi standar sebagai bahan baku air minum karena memiliki nilai pH di bawah 6,5. Nilai pH yang bersifat asam pada daerah penelitian dapat dipengaruhi oleh material penyusun akuifer atau litologi batuan sekitarnya. Sedangkan di daerah

cekungan air tanah dangkal dan dalam tidak ditemukan sampel lebih dari 8,5. Namun daerah cekungan air tanah ini didominasi oleh pH air yang netral. Gambar 18 Peta Isoline Kualitas pH Insitu CAT Rote 3. TAWARAN KEBIJAKAN 1. Perlu dilakukan upaya pengaturan dan pembatasan pengambilan air tanah untuk mencegah penurunan kuantitas dan kualitas air tanah serta kerusakan lingkungan fisik air tanah. 2. Hasil penelitian tentang zona konservasi air tanah (daerah imbuhan/recharge dan daerah pemanfaatan/discharge pada CAT Nemberala, CAT Batutua, dan CAT Rote Kabupaten Rote Ndao ini, dapat dijadikan referensi bagi Pemerintah Kabupaten Rote Ndao untuk segera menerbitkan aturan pengelolaan air bawah tanah atau penelitian dan/atau pengujian kualitas air secara lengkap sesuai dengan peraturan yang berlaku, melanjutkan pengujian parameter

kualitas air bagi sumber-sumber yang masuk dalam kategori kritis, dan rusak berdasarkan kandungan TDS. 3. Peta potensi air tanah dan peta zona konservasi (imbuhan/recharge dan pemanfaatan/discharge) dapat diakomodir di dalam peta rencana tata ruang wilayah dan Rencana Detail Tata ruang untuk untuk menjaga kesinambungan, dan pelestarian air bawah tanah di Kabupaten Rote Ndao. 4. Alternatif penyediaan air bersih untuk daerah-daerah yang ditinjau dari geologi dan hidrogeologi hanya berfungsi sebagai recharge/imbuhan, karena batugamping di daerah ini tidak memiliki potensi air tanah dapat dilakukan melalui penyediaan IPAH (Instalasi Pemanenan Air Hujan). 5. Pemerintah Kabupaten Rote Ndao perlu mempertimbangkan untuk membuat sumur pantau bagi lingkungan fisik air tanah berdasarkan pengujian parameter insitu TDS dan DHL, masuk dalam kluster rawan, kristis dan rusak.


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook