Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Richard Dawkins - The God Delusion

Richard Dawkins - The God Delusion

Published by arhyief, 2022-06-06 12:20:11

Description: Richard Dawkins - The God Delusion

Search

Read the Text Version

394 GOD DELUSION mengikuti proses hukum yang selayaknya tetapi m alah main hakim sendiri dan m em bunuh seorang dokter. Bray m em bela aksi rekan pendetanya dengan kata-kata yang sam a ketika dia dulu diwawancara oleh Juergensm eyer, dengan m em buat pembedaan antara pem bunuhan balasan, untuk dokter pensiun, dan m em bunuh dokter praktek sebagai cara untuk m encegah dia ‘m em bunuh bayi-bayi terus m enerus’. Saya lalu mengem ukakan kepadanya bahwa, walaupun ketulusan iman Paul Hill tak diragukan lagi, masyarakat m ungkin akan terpuruk ke dalam anarki yang m engerikan jika setiap orang m em buat keyakinan pribadi supaya bisa m ain hakim sendiri, dan bukannya m em atuhi hukum negara. Tidakkah sebuah cara yang benar mencoba m engubah hukum , secara dem okratis? Bray m enjaw ab: ‘Baik, ini adalah m asalah ketika kita tidak memiliki hukum yang benar-benar sejati; ketika kita memiliki hukum yang dibuat oleh m anusia dengan terburu- buru dan tanpa pertim bangan sebagaimana kita lihat dalam kasus hukum tentang hak-hak aborsi, yang dipaksakan kepada masyarakat oleh para hakim ... ’ Kami lalu m asuk ke sebuah argumen tentang konstitusi Amerika dan tentang dari mana hukum -hukum itu berasal. Sikap Bray terhadap soal-soal tersebut menjadi sangat mirip dengan kaum m ilitan Muslim yang tinggal di Britania yang secara terbuka m enyatakan diri hanya terikat oleh hukum Islam, bukan oleh hukum -hukum yang diakui secara demokratis di negara adopsi mereka. Tahun 2003 Paul Hill dieksekusi untuk pem bunuhan D r Britton dan pengawalnya, dengan m engatakan bahwa dia akan m elakukannya lagi demi m enyelam atkan yang belum terlahirkan. M enanti tak sabar kem atiannya karena kasus hukum tersebut, dia berkata dalam konferensi pers, ‘Saya yakin, dengan eksekusi ini, negara akan m enjadikanku seorang m artir.’ Pendukung anti-aborsi sayap-kanan yang memprotes eksekusi tersebut bergabung dalam aliansi tak suci (unholy alliance)

RICHARD DAWKINS 395 dengan para penentang hukum an m ati dari sayap-kiri yang m endesak G u b ern u r Florida, J e b Bush, u n tu k ‘m enghentikan kem artiran Paul H ill’. M ereka m em berikan alasan m asuk akal bahwa pem bunuhan judisial atas Hill sesungguhnya akan m endorong lebih banyak lagi pem bunuhan, suatu hasil yang sebaliknya dari efek pencegah yang dianggap dimiliki oleh hukum an m ati tersebut. Hill sendiri selalu tersenyum m enuju ruang eksekusi, sam bil berkata, ‘Saya m engharapkan balasan yang sangat besar di surga ... saya tak sabar menanti keagungan.’ D ia m enganjurkan agar orang-orang sebaiknya m enerim a alasan kekerasannya. Mengantisipasi serangan balasan atas ‘k em artiran ’ Paul H ill, polisi m eningkatkan kewasapadaan ketika dia dieksekusi, dan individu-individu berbeda yang terkait dengan kasus tersebut menerima surat- surat ancaman yang disertai peluru. Semua masalah yang sangat m enjengkelkan ini berasal dari perbedaan persepsi yang sederhana. Ada orang yang, karena pendirian keagamaan mereka, m enganggap aborsi itu pem bunuhan dan bersiap untuk m em bunuh demi membela em brio-em brio, yang m ereka sebut ‘bayi-bayi’. D i sisi lain ada pendukung-pendukung aborsi yang sama tulusnya, yang memiliki pendirian keagamaan berbeda, atau tanpa agama, di sam ping ajaran m oral konsekuensialis yang teliti dan apik. M ereka juga m em andang dirinya sebagai para idealis, yang m enyediakan pelayanan medis bagi pasien-pasien yang sedang m em butuhkan, yang, jika tidak diberi pelayanan, mungkin akan pergi ke dokter-dokter gadungan yang tidak piawai dan berbahaya. D ua kelom pok ini m em andang satu sama lain sebagai pem bunuh atau pendukung pembunuhan. Keduanya, dengan sudut pandangnnya sendiri, sama-sama tulus. Seorang w anita juru bicara sebuah klinik aborsi m enggam barkan Paul Hill sebagai psikopat. Tetapi orang-orang seperti dia tidak m enganggap dirinya sebagai psikopat yang

396 GOD DELUSION berbahaya; mereka m enganggap dirinya orang baik, bermoral dan dibimbing Tuhan. Kenyataannya, saya tidak m enganggap Paul Hill seorang psikopat. H anya saja sangat religius. Bahaya, ya, tetapi bukan psikopat. Religius yang berbahaya. D engan sudut pandang iman keagamaannya, Hill sepenuhnya benar dan bermoral m enem bak D r Britton. Apa yang salah dengan Hill adalah iman keagam aannya sendiri. Michael Bray juga, ketika saya menemuinya, tidak menyerang saya seperti psikopat. Saya sungguh sangat menyukainya. M enurut saya dia seorang yang jujur dan tulus, sangat vokal dan penuh pertim bangan, tetapi sayang pikirannya dicengkram omong kosong keagamaan yang beracun. Kelompok penentang aborsi yang gigih ham pir semuanya beragama secara teguh. Kelompok pendukung aborsi, entah secara personal beragam a atau tidak, kem ungkinan besar m engikuti filsafat moral konsekuensialis yang tidak religius, yang barangkali m engutip pertanyaaan Jeremy Bentham, ‘D apatkah m ereka menderita?’ Paul H ill dan M ichael Bray tidak melihat perbedaan moral antara m em bunuh embrio dan mem bunuh dokter kecuali bahwa embrio itu, bagi mereka, adalah ‘bayi’ polos tak berdosa. Seorang konsekuensialis melihat semua perbedaan di dunia. Sebuah embrio tahap awai memiliki kem am puan merespon, dan mirip, kecebong. Seorang dokter adalah m akhluk dewasa yang sadar dengan harapan, cinta, aspirasi, rasa takut, sebuah gudang raksasa pengetahuan manusia, memiliki perasaan yang dalam , sangat m ungkin seorang janda yang kesusahan dan anak yatim, m ungkin kedua orang tua yang menyayanginya. Paul Hill m enyebabkan penderitaan yang nyata, dalam dan lama, kepada m akhluk hidup dengan sistem syaraf yang m ampu merasa sakit. Korbannya yang dokter itu tidak melakukan hal demikian. Embrio-embrio di tahap awai yang tidak memiliki sistem syaraf ten tu saja tidak m enderita. D an

RICHARD DAWKINS 397 jika em brio-em brio yang digugurkan itu memiliki sistem syaraf dan mereka m enderita— walaupun semua penderitaan tidak bisa diterim a— m ak a b u k an karena m ereka manusia mereka menderita. Tidak ada alasan um um untuk mengira-ngira bahw a em brio-em brio m anusia di usia berapa pun, itu lebih m enderita dibandingkan embrio-embrio sapi atau kambing di tahap pertum buhan yang sama. Dan terdapat alasan yang kuat untuk m enganggap bahwa semua embrio, entah manusia atau bukan, jauh kurang m enderita dibandingkan sapi atau domba dewasa di penjagalan, terutam a ritual penjagalan di mana, untuk alasan-alasan keagamaan, mereka mesti sepenuhnya sadar bahw a tenggorokan m ereka dipotong secara seremonial. Penderitaan itu sulit diukur, dan detail-detailnya mungkin diperdebatkan. Tetapi itu tidak m em engaruhim aksudpandangan saya, yang berm inat pada perbedaan antara konsekuensialis sekular dan filsafat m oral yang secara keagam aan absolut. Satu mazhab pem ikiran peduli pada persoalan apakah embrio-embrio itu m enderita. M azhab pem ikiran lain peduli pada persoalan apakah m ereka itu manusia. Moralis-moralis beragam a bisa didengar sedang m em perdebatkan soal-soal seperti, ‘Kapan perkem bangan embrio menjadi seorang pribadi— seorang manusia?’ Moralis-moralis sekular lebih cenderung bertanya, ‘Tidak m asalah ia m anusia atau b u k an (apakah artinya hal ini u n tu k sekelom pok kecil sel); di usia berapakah perkem bangan em brio, dari spesies m ana pun, m am p u menderita?.' K ek elir u a n B esar t e n t a n g B eeth o v en Langkah berikutnya dari para pendukung anti-aborsi dalam perm ainan catu r verbal biasanya berlangsung seperti ini. Poinnya bukan apakah embrio manusia itu dapat atau tidak dap at m enderita sekarang. Poinnya terletak pada potensi-nya. Aborsi telah m enyingkirkan embrio dari kesempatan untuk

398 GOD DELUSION kehidupan m anusia seutuhnya di masa depan. G agasan ini diwakili oleh sebuah argum en retoris yang kebodohannya semata-mata m erupakan pem belaan menolak tanggung jawab atas kebohongan yang parah. Saya sedang m em bicarakan Kekeliruan Besar Tentang B eethoven (Great Beethoven Fallacy), yang terdapat dalam berbagai bentuk. Peter dan Jean Medawar, dalam The Life Science, m enyandarkan versi b erik u t kepada Norman St John Stevas (sekarang Lord St John), seorang Anggota Parlemen Britis dan Katolik awam yang terkem uka. Dia sendiri m endapatkannya dari Maurice Baring (1874-1945), seorang m ualaf Katolik Roma yang terkenal dan rekan dekat dua pendukung Katolik yang gigih G. K. Chesterton dan Hilaire Belloc. Dia m engem ukakannya dalam bentuk dialog hipotetis antara dua dokter. 'Saya m enginginkan pandangan anda tentang m enggugurkan kandungan. Sang ayah terkena sipilis, sang ibu terkena tuberkolosis. Dari em pat anak yang dilahirkan, yang pertam a buta, yang kedua meninggal, yang ketiga tuli dan bisu, yang keempat juga terkena tuberkolosis. Apa yang akan anda lakukan?’ ‘Saya akan m enggugurkan kandungan tersebut.’ ‘M aka anda telah m em bunuh Beethoven.’ Internet diramaikan oleh situs-situs web pro-kehidupan (pro-life) yang m engulang-ulang cerita konyol ini, dan kebetulan m engubah premis sebenarnya dengan sesuatu yang ceroboh. B erikut ini adalah versinya yang lain: ‘Jik a anda mengenal seorang w anita yang sedang hamil, yang sudah memiliki 8 anak, tiga di antaranya tuli, yang dua buta, yang satu mentalnya terbelakang (semuanya dikarenakan sang ibu m engidap sipilis), akankah anda m engusulkan agar dia melakukan aborsi? M aka anda telah m em bunuh Beethoven.’ Penggambaran dari legenda ini m enurunkan peringkat seorang komposer besar dari lima ke sepuluh dalam urutan kelahiran,

RICHARD DAWKINS 399 m engangkat nomor yang terlahir tuli ke tiga dan nomor yang terlahir b uta ke dua, dan m em berikan sipilis kepada ibunya, bukan kepada ayahnya. Kebanyakan dari empat puluh tiga website ini yang saya tem ukan ketika mencari versi-versi cerita tersebut, m enyandarkan cerita tersebut bukan kepada Maurice B aring tetap i kepada seorang Profesor bernam a L. R. Agnew dari Sekolah Kedokteran UCLA, yang konon melontarkan dilema itu kepada m urid-muridnya dan berkata kepada mereka, ‘Selam at, anda baru saja m em b u n u h B eethoven.’ K ita m ungkin m engangg ap L. R. A gnew benar ten tan g keberadaannya— adalah m enakjubkan bagaim ana legenda-legenda urban ini m uncul dengan cepat. Saya tidak menemukan apakah Baring yang menciptakan legenda tersebut, ataukah legenda itu diciptakan sebelumnya. Tentu saja ia dulunya diciptakan. [N am un] itu sepenuhnya keliru. Yang benar adalah Ludwig van Beethoven bukan anak kesembilan atau anak kelima dari orang tuanya. Dia adalah yang tertua— tepatnya anak nomor dua, tetapi kakaknya m eninggal saat masih bayi, sebagaimana um um saat itu, dan, sejauh yang diketahui, dia tidak buta, tuli, bisu, atau terbelakang secara m ental. Tidak ada bukti bahwa salah satu orang tuanya m engidap sipilis, w alaupun benar bahwa ibunya akhirnya m eninggal karena tuberkolosis. Banyak yang mengalam i demikian saat itu. Ini sesungguhnya adalah legenda urban, suatu kebohongan yang sengaja disebarkan oleh orang-orang dengan maksud terselubung. Tetapi fakta bahwa itu bohong bukanlah poin yang hendak dibicarakan. Bahkan jika itu bukan kebohongan, argum en yang disimpulkan darinya adalah argumen yang sangat buruk. Peter dan Jean Medawar tidak perlu meragukan kebenaran cerita tersebut untuk m enunjukkan kesalahan argum ennya: ‘Penalaran di balik argum en dangkal yang m enyebalkan ini benar-benar m enyesatkan, karena, kecuali jika

400 GOD DELUSION ditunjukkan bahwa terdapat hubungan kausal antara memiliki ibu yang m engidap tuberkolosis dan ayah sipilis dengan melahirkan seorang jenius berbakat musisi, dunia tidak lagi m ungkin kekurangan seorang Beethoven disebabkan aborsi ketimbang m um i m enahan diri dari bersetubuh.’ Penolakan Medawar yang m enohok ini tidak terjawab (m em injam plot salah satu cerita pendek Roald D ahi yang m uram , sebuah keputusan untung-untungan untuk tidak m elakukan aborsi pada tahun 1888 memberikan kita seorang Adolf Hitler). Tetapi anda sungguh m em butuhkan sedikit kecerdasan— atau m ungkin kebebasan dari sejenis latar belakang pendidikan keagamaan tertentu— un tu k sampai pada poin ini. D ari em pat puluh tiga website pro-kehidupan yang m engutip satu versi dari legenda B eethoven yang d item ukan dalam searching G oogle saya, tidak seorang pun m em perhatikan ketidaklogisan dalam argumen tersebut. Semua situs itu (perlu diketahui, semuanya adalah situs religius) tertipu m entah-m entah oleh suatu kekeliruan. Salah satunya bahkan m engakui M edawar (dieja M edawar) sebagai sumbernya. Begitu bersemangatnya orang- orang ini meyakini kekeliruan yang ram ah terhadap keim anan mereka, sehingga mereka bahkan tidak m em perhatikan bahwa Medawar m engutip argumen tersebut semata-mata untuk m enolaknya. Sebagaimana dengan benar dikem ukakan oleh Medawar, kesim pulan logis u n tu k argum en ‘potensi m enjadi m anusia’ adalah bahwa kita secara potensial m erenggut jiwa manusia dari anugerah eksistensi setiap kali kita gagal m endapat kesempatan berhubungan seks. Setiap penolakan terhadap tawaran berhubungan seks dengan seorang individu subur, m enurut logika ‘p ro -kehidupan’ yang bebal ini, adalah sam a dengan m em bunuh anak yang potensial (yang m u n g k in lahir)! Bahkan menolak pemerkosaan m ungkin bisa dianggap sebagai pembunuhan bayi potensial (dan, perlu diketahui, banyak

RICHARD DAWKINS 401 dari m ereka yang m engam panyekan ‘pro-kehidupan’ itu m enentang aborsi bahkan untuk w anita yang diperkosa secara brutal). A rgum en Beethoven, dapat kita lihat dengan jelas, adalah logika yang sangat buruk. Kedunguannya yang tidak masuk akal terangkum dengan sangat baik dalam sebuah lagu m erdu ‘Every sperm is sacred’ (Setiap air m ani adalah suci) yang dinyanyikan oleh Michael Palin, dengan paduan suara yang terdiri dari ratusan anak-anak, dalam film M onty Phyton The Meaning of Life (jika anda belum m elihatnya, silahkan lihat). Kekeliruan Besar tentang Beethoven adalah contoh tipikal dari jenis logika berantakan yang kita pakai ketika pikiran kita dibuat ruwet oleh absolutisme agama. Sekarang p erhatikan bahw a ‘pro-k eh id u p an ’ sama sekali tidak secara rigid m engandung arti pro -kehidupan. Ia berarti 'pm-kehidupan-manusia. Pengakuan hak-hak istim ewa bagi sel- sel spesies Homo Sapiens sulit didam aikan dengan fakta mengenai evolusi. Sebagaimana lazim diakui, ini tidak m engkhawatirkan para anti-aborsionis yang tidak paham bahwa evolusi adalah fakta\\ Tetapi izinkan saya secara singkat menguraikan argumen tersebut untuk keuntungan para aktivis anti-aborsi yang m ungkin tidak begitu awam terhadap sains. P andangan evolusi itu sangat sederhana. Perasaan kasihan pada sel-sel embrio tidak bisa mem berikan kepadanya status m oral apa pun yang m utlak terputus. Tidak bisa demikian, karena kontinuitas kita yang evolusioner dengan simpanse dan, lebih jauh lagi, dengan setiap spesies di planet ini. U ntuk m em aham i ini, bayangkan sesosok spesies menengah (intermediate species), sebut saja Australopithecus afarensis, berhasil bertahan hidup dan ditem ukan di belahan bumi Afrika yang terpencil. A pakah m ak h lu k ini akan ‘dipertim bangkan sebagai m anusia’ atau tidak? Bagi seorang konsekuensialis seperti saya, pertanyaan tersebut tidak layak dijawab, karena tidak ada yang memicunya. Cukuplah bahwa kita akan terpesona dan terhormat

402 GOD DELUSION bertemu dengan ‘Lucy’ baru. Seorang absolutis, di sisi lain, mesti menjawab pertanyaan tersebut, supaya bisa m enerapkan prinsip moral yang memberikan kepada manusia statusnya yang unik dan istimewa karena mereka manusia. Jik a hal tersebut m enim bulkan situasi kritis, mereka m ungkin akan m em bawanya ke pengadilan, seperti halnya orang-orang yang m enganut kebijakan apartheid di Afrika Selatan, untuk m em utuskan apakah seorang individu tertentu ‘kelihatan seperti m anusia’. W alaupun m ungkin sebuah jawaban yang terang bisa diusahakan u n tu k Australopithecus, kontinuitas bertahap yang m erupakan ciri tak terhindarkan dari evolusi biologis m engatakan kepada kita bahwa m esti terdapat beberapa pertengahan yang m ungkin cukup dekat dengan ‘batas pem isah’ u n tuk mengaburkan prinsip moral dan menghancurkan keabsolutannya. Cara yang lebih baik untuk m engungkapkan ini adalah bahwa tidak ada batas-batas pemisah alamiah dalam evolusi. Ilusi tentang batas pemisah diciptakan oleh fakta bahwa pertengahan- pertengahan (intermediates) evolusioner itu kebetulan sudah punah. Tentu, mungkin saja beralasan bahwa manusia itu lebih mampu, misalnya, m enderita dibandingkan spesies-spesies lain. Ini bisa jadi benar, dan karenanya kita m ungkin sah m em berikan kepada manusia status istimewa. Tetapi kontinuitas evolusioner memperlihatkan bahwa tidak ada distingsi absolut. Diskriminasi moral absolut sudah tergerus oleh fakta evolusi. Kesadaran yang gelisah akan fakta ini barangkali menjadi dasar salah satu m otif utama kalangan kreasionis dalam menolak evolusi: m ereka takut akan apa yang mereka yakini sebagai konsekuensi moralnya. Mereka salah berbuat demikian tetapi, bagaim ana pun, tentu sangatlah aneh m enganggap bahwa suatu kebenaran tentang dunia riil dapat dibalik oleh pertim bangan akan apa yang lebih diminati secara moral.

RICHARD DAWKINS 403 B a g a im a n a ‘M o d e r a s i ’ K e i m a n a n M e r a w a t F a n a tism e D alam ilustrasi te n ta n g sisi gelap absolutism e, saya m enyebutkan para penganut K risten Amerika yang meledakkan klinik-klinik aborsi, dan Taliban Afghanistan, yang daftar kekejamannya, terutam a terhadap kaum wanita, terlalu m enyakitkan untuk saya ceritakan. Saya bisa memperluasnya ke Iran di bawah pim pinan para ayatullah, atau Arab Saudi di bawah pangeran- pangeran Saud, di m ana para w anita tidak bisa menyetir, dan bermasalah jika m ereka m eninggalkan rum ah tanpa ditemani saudara laki-lakinya (yang m ungkin saja, sebagai keringanan, seorang anak laki-laki yang m asih kecil). Lihat Price of Honour Jan Goodwin untuk pengungkapan mencengangkan tentang perlakuan terhadap wanita di Arab Saudi dan negara-negara teokrasi lainnya saat ini. Johann H ari, salah satu kolumnis (London) Independent yang bersem angat, m enulis sebuah artikel yang judulnya m em bela diri: ‘Cara terbaik m elem ahkan pejuang-pejuang Jihad adalah memicu pemberontakan para w anita M uslim.’ Atau, beralih ke agama Kristen, saya telah menyebutkan p ara K ristiani ‘surgaw i’ (rapture Christian) yang pengaruhnya atas kebijakan Amerika atas Tim ur Tengah dikendalikan oleh keyakinan biblikal m ereka bahwa Israel memiliki hak— pem berian Tuhan— atas semua tanah Palestina. Beberapa K ristiani surgawi bertindak lebih jauh dan benar-benar m enginginkan perang nuklir karena mereka menafsirkan itu sebagai 'Armageddon yang— m en u ru t penafsiran mereka atas kitab Revelation yang aneh nam un populer itu— akan m em percepat K edatangan K edua (Second Corning). Saya tidak bisa m elam paui kom entar mencemaskan dari Sam Harris dalam Letter to a Christian Nation■.

404 GOD DELUSION Karenanya, tidaklah berlebihan m engatakan bahw a jika kota N ew York tiba-tiba dilalap bola api, m aka sebagian besar rakyat Amerika m ungkin akan m elihat secercah harapan di antara kepulan asap dari ledakan berikutnya, karena hal itu m enunjukkan kepada m ereka bahw a hal terbaik yang akan terjadi pastilah terjadi: kem balinya K ristus. Ini sebaiknya sudah sangat jelas bahw a keyakinan-keyakinan jenis ini akan sedikit m em bantu kita m enciptakan m asa masa depan yang langgeng— secara sosial, ekonom i, lingkungan, atau geopolitik. B ayangkan konsekuensinya jika berbagai kom ponen penting pem erintahan AS benar-benar percaya bahw a dunia ini pasti berakhir dan bahw a berakhirnya itu menakjubkan. K eny ataan bahw a h am p ir separuh dari rakyat A m erika tam paknya m em ercayai ini, m um i berdasarkan dogm a agam a, sebaiknya dipertim bangkan sebagai darurat m oral dan intelektual. Maka, ada juga orang-orang yang iman keagamaannya m em buat mereka berada di luar konsensus 'Zeitgeist m oral’ saya yang tercerahkan. Mereka mewakili apa yang telah saya sebut sebagai sisi gelap absolutisme, dan mereka seringkali disebut kaum ekstrimis. Tetapi tujuan saya dalam bagian ini adalah bahwa agam a yang halus dan moderat sekalipun m em bantu menciptakan iklim keyakinan di mana ekstrimisme tum buh subur. Juli 2005, London menjadi korban serangan bom bunuh diri masai: tiga bom di subway dan satunya lagi di bis. Tidak seburuk serangan W orld Trade Center 2001, dan ten tu saja bukannya tidak terduga sebelumnya (kenyataannya, London telah bersiap-siap untuk peristiwa itu sejak Blair m enawarkan kami menjadi relawan dalam invasi Bush atas Irak), nam un demikian ledakan-ledakan di kota London telah m enakutkan Britania. Koran-koran dipenuhi dengan penilaian-penilaian mencemaskan tentang apa yang mendorong em pat orang anak muda meledakkan diri dan m erenggut banyak nyawa orang tak berdosa bersamanya. Para pem bunuh itu adalah warga Britania, pecinta kriket dan tahu sopan santun, anak-anak m uda yang pertemanannya m ungkin disukai orang-orang.

RICHARD DAWKINS 405 M engapa anak-anak m u d a pecinta kriket ini melakukannya? Tidak seperti pem uda-pem uda Palestina, atau K am ikaze di Jepang, atau M acan Tamil di Sri Lanka, bom-bom m anusia ini tidak m emiliki harapan bahwa keluarga mereka yang ditinggalkan itu menjadi terkenal, yang dicukupi atau ditunjang oleh uang pensiunan martir. Sebaliknya, keluarga m ereka harus pergi bersembunyi. Salah satu dari mereka dengan ceroboh m enjandakan istrinya yang tengah hamil dan m eyatim kan anaknya yang baru belajar jalan. Tindakan em pat orang ini bukan hanya menjadi bencana bagi mereka dan korban-korbannya, tetapi juga bagi keluarga mereka dan seluruh kom unitas M uslim di Britania, yang sekarang m enghadapi reaksi keras. H anya iman keagamaan yang dapat menjadi kekuatan cukup kuat untu k memotivasi kegilaan seperti itu pada orang-orang yang sebenarnya baik dan rasional. Sekali lagi, Sam Harris m engem ukakan pandangannya dengan tajam, dengan mengambil contoh dari pemimpin al-Qaida Osama bin Laden (yang tentunya tidak memiliki kaitan dengan pem bom an London). M engapa orang ingin menghancurkan W orld Trade Center dan setiap orang di dalamnya? Menyebut bin Laden ‘ja h a t’ m engenyam pingkan tan g g ung jawab kita untuk m em berikan jawaban yang selayaknya terhadap persoalan penting demikian. Jaw aban terhadap persoalan ini— jika hanya karena itu telah diungkapkan terus m enerus oleh bin Laden sendiri. Jaw abannya adalah bahw a orang seperti bin Laden kenyataannya m em ercayai apa yang m ereka katakan m ereka percaya. M ereka percaya terhadap kebenaran literal Q uran. M engapa lelaki-lelaki berusia sem bilan belas dari kelas m enengah terdidik m enukar nyawa m ereka di dunia ini dem i keistim ew aan m em bunuh ribuan tetangga kita? Karena m ereka percaya bahwa m ereka akan langsung m enuju surga dengan m elakukan itu. A m at jarang m enem ukan perilaku m anusia yang begitu dapat dijelaskan secara m em uaskan. M engapa kita telah begitu enggan menerima penjelasan ini?

406 GOD DELUSION Seorang jurnalis terhorm at M uriel Gray, yang menulis di (Glasgow) Herald pada 24 Juli 2005, memiliki pandangan serupa, dalam hal ini dengan m erujuk pada pem bom an kota London. Setiap orang disalahkan, dari duet yang jelas m em alukan antara G eorge Bush dan Tony Blair, sam pai ketidakberdayaan ‘k o m u n ita s-k o m u n ita s’ M uslim . T etapi tid a k p e rn a h b e rta m b a h jelas bahw a hanya ada satu tem p at u n tu k m elem parkan kesalahan. Penyebab dari sem ua kesedihan, kekacauan, kehancuran, teror dan ketidakpedulian ten tu saja adalah agam a sendiri, dan jika m erupakan hal bodoh m engungkapkan kenyataan yang dem ikian jelas itu, kenyataannya adalah bahw a p em erintah d an m edia m elakukan pekerjaan yang sangat bagus dengan berpura-pura bahwa itu tidak demikian. Para politisi Barat m enghindar m enyebut kata R Creligion), dan m alah m eng g am b ark an peperangan m ereka sebagai perang terhadap ‘tero r’, seolah-olah tero r itu adalah sejenis roh atau daya, dengan kehendak d an pikirannya sendiri. Atau m ereka m enggam barkan para teroris sebagai orang-orang yang dim otivasi oleh ‘kejah atan ’ m urni. Tetapi mereka tidak dimotivasi oleh kejahatan. B etapapun m ungkin kelirunya kita menilai mereka, mereka dimotivasi oleh, seperti halnya para kristiani terhadap dokter-dokter aborsi, oleh apa yang mereka anggap benar, yang dengan penuh keyakinan mengikuti apa yang dikatakan oleh agama. M ereka tidak mengidap psikosis; mereka adalah idealis-idealis beragam a yang, m enurut penjelasannya sendiri, adalah rasional. M ereka memandang tindakan mereka sendiri baik, bukan karena pola perilaku yang menyimpang, dan bukan karena m ereka telah dikuasai oleh Setan, tetapi karena m ereka sejak dini dididik untuk memiliki keimanan yang total dan tak terbantahkan. Sam Harris m engutip seorang pem bom bunuh diri Palestina yang gagal yang m engatakan bahwa apa yang m endorong dia

RICHARD DAWKINS 407 u n tu k m e m b u n u h orang-orang Israel adalah ‘kecintaan pada kem artiran ... Saya tidak ingin balas dendam pada apa pun. Saya hanya ingin m enjadi m artir.’ 19 N ovem ber 2001 The New Yorker m em u at sebuah w aw ancara oleh N asra H assan dengan seorang pem bom bunuh diri lain yang gagal, seorang pemuda Palestina yang sopan berusia dua puluh tujuh tahun, diketahui berinisial ‘S’. B egitu puitisnya gam b aran ten tan g pesona surga, sebagaimana dikhutbahkan oleh para pemimpin dan pendeta keagam aan, sehingga saya kira akan berguna untuk menyajikannya sedikit panjang: 'A pakah yang m enarik dari kem artiran?’ Saya bertanya ‘K e k u a ta n jiw a m en arik k a m i ke atas, se m e n ta ra k e k u a ta n h al-h al d u n iaw i m e n a rik k am i ke b a w a h ,’ k atan y a. ‘Seseorang yang m em iliki hasrat kuat terhadap kem artiran m enjadi kebal terhadap tarikan duniawi. Perencana kam i bertanya, \"Bagaimana jika operasi ini gagal?\" K am i m enjaw ab, “bagaim anapun, kita pasti b ertem u dengan N ab i dan sahabat-sahabatnya, insya A llah.” “K a m i te ra p u n g , b eren an g , dalam perasaan bahw a kam i akan m em asuki keabadian. Kam i tidak ragu. Kam i telah bersum pah dem i al-Q uran, atas nam a kehadiran Allah— sebuah janji pahala yang tidak u n tu k dilanggar. Pahala jihad yang dijanjikan ini disebut bayt al-ridwan, sebuah kebun di Surga yang disediakan bagi para nabi dan m artir. Saya tahu ada cara lain u n tu k berjihad. Tetapi yang ini m anis— yang paling manis. Sem ua tindakan kem artiran, jika dilakukan karena Allah, tidaklah m enyakitkan, bahkan kurang sakit dibandingkan gigitan taw on!’ S m em perlihatkan kepada saya sebuah video yang m endokum entasikan rencana akhir operasi tersebut. D i beberapa adegan yang sam ar, saya m elihat dia dan dua pem uda lain terlibat dalam ritual dialog berupa tanya jawab tentang kem uliaan kem artiran ... Para pem uda tersebut dan seorang perencana lalu berlutut dan m enem patkan tangan kanan m ereka di atas Q uran. Sang p ere n c a n a b e rk a ta : ‘K alian siap? B esok, kalian ak an ad a di S u rg a .’ Jik a saya ‘S’, saya akan tergoda u n tu k berkata kepada si perencana, ‘Baik, lalu m engapa anda tidak m em asang kain di

408 GOD DELUSION m ulut anda? M engapa anda tidak m elakukan m)s‫ ؛‬bunuh diri dan mengambil jalur cepat m enuju Surga?’Tetapi apa yang bagi kita begitu $ukar dipahami adalah bahwa— m engulang apa yang telah dikatakan karena ini beg itu p en tin g — orang-orang ini sebenarnya memercayai apa yang mereka katakan mereka percaya. Pesan yang tersisa adalah bahw a ‫ قءل>ا‬sebaiknya m enyalahkan agam a itu sendiri, bukan ekstrimisme keagamaan— seolah-olah itu adalah penyim pangan dari agam a yang sejati dan beradab. Voltaire m em benarkan: ‘M ereka yang d ap at m em b u atm u percaya pada keabsurdan dapat m em buatm u m elakukan kebiadaban.’ D em ikian halnya B ertran d Russel: ‘B anyak orang lebih memilih m ati ketim bang berpikir. K enyataannya mereka sungguh-sungguh.’ Selama kita m enerim a prinsip bahwa iman keagam aan harus dihargai sem ata-m ata karena ia adalah iman keagamaan, adalah sulit m enahan horm at dari keim anan Osam a bin Laden dan para pembom bunuh diri. Alternatifnya, sesuatu yang begitu jelas sehingga tidak perlu m endapatkan penekanan, adalah meninggalkan prinsip penghargaan otomatis terhadap iman keagamaan. Ini adalah alasan m engapa saya dengan sekuat tenaga m e m p e rin g a tk a n agar orang-orang melawan im annya sendiri, bukan hanya terhadap keim anan ‘ekstrim is’. Ajaran-ajaran agam a ‘m o d erat’, w alaupun tid ak ekstrim is pada dirinya, adalah undangan terbuka kepada ekstrimisme. M ungkin bisa dikatakan bahw a tidak ada yang khusus tentang iman keagam aan di sini. Cinta patriotis terhadap negara atau kelompok etnis juga dapat m em buat dunia ini am an bagi ekstrim ism e versinya sendiri, b u k ankah begitu? Ya itu bisa, sebagaimana dengan kamikaze di Jepang dan M acan Tamil di Sri Lanka. Tetapi im an keagam aan adalah peredam kalkulasi rasional yang ampuh, yang biasanya tam pak m engungguli semua hal lain. Saya curiga, ini kem ungkinan besar disebabkan oleh janji yang sederhana dan m enggoda bahw a kem atian

RICHARD DAWKINS 409 bukanlah sebuah akhir, dan bahwa surga seorang martir itu sangatlah agung. Tetapi ini juga sebagian karena agama, m enurut wataknya, m elemahkan pertanyaan. A gam a Kristen, sebagaimana halnya Islam, mengajarkan anak-anak bahwa iman yang tidak dipertanyakan adalah kesalehan. K am u tidak perlu mempersoalkan apa yang kam u percaya. Jik a seseorang m engungkapkan bahwa ini adalah bagian dari tman-ny-A, m asyarakat yang lain, entah dari keimanan yang sama, atau yang berbeda, atau tidak beriman, diwajibkan, m enurut kebiasaan yang telah berurat akar, u n tu k ‘m eng h arg ai’-nya tan p a pertanyaan; hargailah im an ini hingga hari ia m enjelm a dalam bentuk pem bantaian m engerikan seperti penghancuran W orld Trade Center, atau pem bom an kota London atau M adrid. Lalu muncul pernyataan- pernyataan tidak terkait dengan pelaku, ketika para pendeta dan ‘pem im pin-pem im pin kom u n itas’ (yang m em ilih mereka?) m em bentuk barisan dan menjelaskan bahwa ekstrimisme ini adalah penyim pangan dari keim anan ‘sejati’. Tetapi bagaim ana bisa terjadi penyim pangan keimanan, jika keimanan, yang tidak m em unyai justifikasi objektif, tidak memiliki standar yang bisa dibuktikan untuk disimpangkan? Sepuluh tahun lalu, Ibn W arraq, dalam bukunya yang bagus Why I Am. Not a M uslim, m en g u ngkapkan hal serupa dari titik tolak seorang sarjana ahli Islam. Sebenarnya, judul alternatif yang bagus un tu k buku W arraq adalah The Myth o f Moderate Islam, yang m erupakan judul dari sebuah artikel yang lebih baru dalam (London) Spectator (30 Ju li 2005) oleh sarjana lain, Patrick Sookhedo, d irek tu r Institute for the Study of Islam and Christianity. ‘Tidak diragukan lagi bahw a mayoritas M uslim dewasa ini menjalani hidup mereka tanpa menempuh jalan kekerasan, karena Q uran itu seperti kum pulan ayat-ayat pilihan yang bercampur. Jika anda ingin perdamaian, anda dapat m enem ukan ayat-ayat yang menentramkan. Jika anda

410 GOD DELUSION ingin perang, anda dapat m enem ukan ayat-ayat perm usuhan.’ Sookhedo selanjutnya menjelaskan bagaimana para sarjana Islam, supaya bisa m enangani banyak kontradiksi yang mereka tem ukan dalam Quran, m engem bangkan prinsip pem batalan (abrogation), yang d engan itu teks-teks belakangan m engungguli teks-teks sebelumnya. Sayangnya, surat-surat yang m enenteram kan dalam Q uran sebagian besar lebih dulu, berasal dari periode M uham m ad di Mekah. Ayat-ayat yang paling bermusuhan cenderung berasal dari periode kemudian, setelah M uham m ad hijrah ke M adinah. Hasilnya adalah bahwa m a n te ra ‘Islam ad alah d a m a i’ su d a h u sa n g h a m p ir 1400 ta h u n lalu. H a n y a sek itar 13 ta h u n Islam ad alah k ed a m a ia n d a n tid ak lain kecuali kedam aian ... Bagi orang-orang M uslim radikal saat ini— sebagaim ana bagi para ahli h u k u m abad perteng ah an yang m engem bangkan Islam klasik— adalah lebih tep at dikatakan b ah w a ‘Islam ad alah p e ra n g ’. Salah sa tu k e lo m p o k Islam p alin g radikal di Britania, al-G huraba, m em buat pernyataan tidak lam a sesudah dua pem bom an kota London, 'Siapa pu n orang M uslim yang m enyangkal bahw a teror itu adalah bagian dari Islam, adalah kafir.’ K afir adalah tidak percaya (yaitu, non-M uslim ), sebuah sebutan penghinaan yang kasar ... M ungkinkah anak-anak m uda yang m elakukan bunuh diri itu bukan salah satu faksi m asyarakat M uslim Britania, bukan pula m engikuti penafsiran eksentrik dan ekstrim atas keim anan m ereka, m elainkan bahw a m ereka berasal dari jantung sesungguhnya dari kom unitas M uslim dan dimotivasi oleh penafsiran Islam mainstream? Lebih um um lagi (dan ini tidak kurang berlakunya bagi Kristen dibandingkan Islam), apa yang benar-benar parah adalah perbuatan m engajarkan anak-anak bahwa im an itu sendiri adalah kesalehan. Im an adalah kejahatan, tepatnya karena ia tidak m ensyaratkan justifikasi dan tidak m engizinkan argumentasi. M engajarkan anak-anak bahwa keimanan tanpa pertanyaan adalah kesalehan, membekali mereka— m engingat bahan-bahan tertentu lain yang tidak sulit diperoleh— untuk

RICHARD DAWKINS 411 tum buh menjadi senjata-senjata m em atikan dalam jihad-jihad atau perang-perang salib di masa depan. Karena dikebalkan terhadap rasa tak u t oleh janji surga m artir, keim anan yang sejati m endapat kedudukan tinggi dalam sejarah persenjataan militer, di sam ping panah, kuda perang, tank dan bom serpih. Jika anak-anak diajarkan untuk m em pertanyakan dan memikirkan keim anan mereka, dan bukan diajarkan keutam aan iman yang tanpa pertanyaan, m ungkin mereka tidak menjadi para pem bom bunuh diri. Para pem bom bunuh diri melakukan apa yang mereka lakukan karena mereka benar-benar percaya pada apa yang telah diajarkan kepada mereka di sekolah- sekolah agama: bahwa kewajiban terhadap Tuhan melampaui semua prioritas lain, dan bahwa kem artiran yang dilakukannya akan diberi pahala di kebun-kebun Surga. D an m ereka diajari pelajaran itu tidak m esti oleh para fanatik ekstrim tetapi oleh pengajar-pengajar agam a yang baik, lem but, dan biasa, yang m em bariskan m ereka di m adrasah-m adrasah, duduk berjajar, m engangguk-anggukkan kepala m ereka yang kecil dan polos ke atas dan ke bawah m engikuti irama seraya mereka mempelajari setiap kata dalam kitab suci seperti burung-burung beo yang tidak punya pikiran. Im an dapat menjadi sangat sangat berbahaya, dan m enanam kannya dengan sengaja dalam pikiran rapuh seorang anak kecil yang polos adalah sebuah kesalahan serius. Tentang anak-anak, dan kekerasan terhadap anak oleh agama, kami akan membicarakannya di bab berikutnya.



RICHARD DAWKINS 413 9 Masa Kecil, Pelecehan Anak dan Lari Dari Agama D i setiap perkam pungan ada sebuah obor— guru: D an sebuah pem adam — pendeta. -V ictor H ugo Saya mulai dengan sebuah anekdot dari Italia abad sembilan belas. Saya tidak hendak m engatakan bahwa apa pun yang m irip cerita buruk ini terjadi hari ini. Tetapi sikap-sikap pikiran yang ia ungkapkan terjadi saat ini, w alaupun detail-detail dalam praktiknya tidak. Tragedi kemanusiaan abad sembilan belas menyinarkan pengertian kekejaman pada sikap-sikap keagam aan dewasa ini terhadap anak-anak. Tahun 1858 Edgardo M ortara, anak berusia enam tahun dari orang tua Yahudi yang tinggal di Bologna, secara sah direbut oleh polisi kepausan yang bertindak di bawah perintah pengadilan Inkuisisi. Edgardo dibawa paksa dari ibunya yang m enangis dan ayahnya yang p u tu s asa ke Catechumens (asrama untuk konversi Yahudi dan Muslim) di Roma, dan setelah itu dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma. Kecuali kunjungan singkat yang jarang di bawah pengawasan ketat pendeta, kedua orang tuanya tidak pernah lagi melihatnya. Cerita ini dikisahkan oleh D avid I. K ertzer dalam bukunya yang sangat bagus, The Kidnapping o f Edgardo Mortara.

414 GOD DELUSION Kisah Edgardo bukanlah hal aneh sama sekali di Italia w aktu itu, dan alasan penculikan oleh gereja selalu sama. Dalam setiap kasus, seorang anak dibaptis secara rahasia di usia dini, biasanya oleh seorang wanita pengasuh beragam a Katolik, dan pengadilan Inkuisisi nantinya m endengarkan pem baptisan tersebut. Adalah bagian utam a dari sistem-keyakinan Katolik Roma bahwa, ketika seorang anak telah dibaptis, betapa pun tidak resmi dan rahasianya, anak itu m au tidak m au sudah menjadi seorang Kristiani. D alam dunia m ental mereka, mem biarkan seorang 'anak K risten’tinggal dengan kedua orang tua Yahudi bukanlah pilihan, dan mereka m em pertahankan pendirian yang aneh dan kejam ini secara teguh, dan dengan ketulusan yang dalam, tidak peduli akan kem arahan di seluruh dunia. Kemarahan yang meluas itu ditepis oleh koran K atolik Civilita Cattolica sebagai disebabkan k ek u atan internasional orang-orang Yahudi kaya— terdengar akrab, bukan? Terlepas dari publisitas yang dim unculkannya, riwayat Edgardo M ortara sepenuhnya khas korban-korban lain. Dia suatu ketika diasuh oleh Anna Morisi, seorang perem puan Katolik buta huruf yang baru berusia em pat belas tahun. Edgardo jatuh sakit dan Anna takut kalau dia meninggal. Karena terdidik dalam kebingungan iman bahwa seorang anak yang meninggal tanpa dibaptis akan selamanya m enderita di neraka, dia m em inta nasihat kepada seorang tetangga K atolik yang m engatakan kepadanya cara m elakukan pem baptisan. Dia pergi kembali ke rumahnya, m emercikkan air dari em ber ke kepala Edgardo kecil sam bil berkata, ‘A ku m em b aptism u atas nam a Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Roh K udus.’ D an selesai sudah. Sejak saat itu dan seterusnya, Edgardo secara sah m enjadi seorang Kristen. Ketika para pendeta Inkuisisi m endengar peristiwa tersebut beberapa tahun kem udian, m ereka bertindak cepat dan pasti, tanpa mem ikirkan konsekuensi menyedihkan dari tindakan mereka.

RICHARD DAWKINS 415 Luar biasanya, untuk sebuah ritus yang m ungkin memiliki arti sangat besar bagi semua anggota keluarga, Gereja Katolik m engizinkan (dan masih m em bolehkan) siapa pun membaptis siapa pun. Si p em baptis tid ak perlu seorang pendeta. Anak, orang tua, atau siapa p u n tid ak perlu m em beri izin un tu k pem baptisan tersebut. Tidak ada yang perlu ditandatangani. Tidak ada kesaksian resmi. Yang diperlukan hanyalah percikan air, sedikti k ata-k ata, seorang anak ta k berdaya, dan pengasuh yang sudah dicuci otak dengan tahayul dan ajaran gereja. Sebenarnya, hanya yang terakhir saja yang diperlukan karena, seandainya anak itu m asih terlalu m uda untuk m enjadi saksi, siapakah yang harus tahu? Seorang rekan Amerika yang terdidik K atolik m enulis kepada saya sebagai berikut: ‘Kami dulu biasa m em baptis boneka-boneka kami. Saya tidak ingat kam i m em baptis tem an-tem an Protestan kami yang masih kecil tetapi tidak diragukan lagi itu sudah terjadi dan sedang terjadi saat ini. K am i m enjadikan boneka-boneka kam i katolik- katolik kecil, m em baw a m ereka ke gereja, memberi mereka Sakramen Suci dan lain-lain. Kami dicuci otak untuk menjadi ibu-ibu Katolik yang baik sejak awai.’ Jika gadis-gadis abad sembilan belas itu seperti tem an saya yang modern, m aka m engejutkan bahwa kasus-kasus seperti Edgardo M ortara tidak lebih lazim dibandingkan mereka. Cerita- cerita seperti itu sering terjadi di Italia abad sembilan belas, yang m em buat setiap orang bertanya-tanya. M engapa orang-orang Yahudi di w ilayah kekuasaan Paus (PapalStates) m em pekerjakan pelayan-pelayan K atolik, m engingat risiko m engkhawatirkan yang m ungkin m erupakan akibat dari m elakukan itu? M engapa m ereka tidak m em pekerjakan pem bantu-pem bantu Yahudi? Jaw abannya tidak memiliki kaitan apa pun dengan kecerdasan dan segalanya berkaitan dengan agama. Orang-orang Yahudi m em butuhkan pem bantu-pem bantu yang agamanya tidak m elarang m ereka bekerja di hari sabat. Seorang perawan Yahudi

416 GOD DELUSION m ungkin dipercaya tidak akan m em baptis anak anda menjadi seorang sebatang kara secara kejiwaan. Tetapi dia tidak bisa menyalakan api atau membersihkan rum ah pada hari sabtu. Inilah mengapa, di antara keluarga-keluarga Yahudi Bologna saat itu yang sanggup m em bayar pem bantu, kebanyakan mempekerjakan orang-orang Katolik. Dalam buku ini, saya sengaja m enahan diri untuk tidak mendetailkan horor-horor Perang Salib, pelancong-pelancong Spanyol (conquistadores) atau pengadilan Inkuisisi-nya. O rang- orang yang kejam dan jahat dapat ditem ukan di setiap abad dan dari setiap keyakinan. Tetapi cerita tentang Inkuisisi Italia dan sikapnya terhadap anak-anak ini sangat banyak m engungkapkan pemikiran keagamaan, dan kejahatan-kejahatan yang muncul khususnya karena ia bersifat keagam aan. Yang pertam a adalah persepsi pemikiran keagamaan bahwa sepercik air dan pembacaan jampi-jampi verbal yang singkat dapat m engubah total kehidupan seorang anak, m endahului persetujuan orang tua, persetujuan si anak sendiri, kebahagiaannya dan kebaikan psikologisnya ... melebihi apa pun yang m ungkin dipandang penting oleh pem aham an awam dan perasaan manusia. Kardinal Antonelli menjelaskannya saat itu dalam sebuah surat untuk Lionel Rothschild, seorang A nggota Parlem en Yahudi pertam a di Britania, yang telah m enuliskan protes tentang penculikan Edgardo. Kardinal itu menjawab bahwa dia tidak berdaya u n tu k ikut cam pur, dan m enam bahkan, ‘D i sini, adalah tep a t untuk m engam ati bahwa, jika suara alam itu kuat, m aka yang lebih k u at adalah kew ajiban suci ag am a.’ Ya, baik, bukankah itu kira-kira yang dikatakan? Kedua adalah fakta luar biasa bahwa para pendeta, kardinal dan Paus tam pak sungguh tidak m engerti betapa mengerikannya perbuatan mereka terhadap Edgardo M ortara yang malang. Ini melampaui semua pem aham an yang m asuk akal, tetapi mereka sungguh yakin bahwa m ereka menolongnya

RICHARD DAWKINS 417 dengan m enjauhkan dia dari orang tuanya dan memberikan dia pendidikan Kristiani. M ereka m erasa bertanggung jawab untuk m em berikan perlindungan! Sebuah koran Katolik di Amerika Serikat membela pendirian Paus dalam kasus Mortara, dengan dalih bahwa sulit dipercaya sebuah pemerintahan K ristiani ‘m em biarkan seorang anak K risten dibesarkan oleh seorang Yahudi’ dan m engutip prinsip kebebasan beragama, ‘kebebasan seorang anak m enjadi K ristiani dan tidak dipaksa menjadi Y ahudi... Perlindungan Bapak Suci atas anak tersebut, berhadapan dengan semua fanatisme buta dari kekafiran dan kepicikan, adalah fenomena moral paling mengesankan yang disaksikan oleh dunia selama berabad-abad.’ Apakah terdapat penyim pangan k ata-k ata seperti ‘dipaksa’, ‘b u ta ’, ‘fanatism e’, dan ‘kep icik an ? N a m u n sem ua ini m engindikasikan bahwa para pembela K atolik, mulai dari Paus ke bawah, percaya dengan tulus bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar: m utlak benar secara moral, dan benar untuk kebaikan anak tersebut. Itu adalah kekuasaan agama (yang mainstream dan ‘m o d era t’) u n tu k m endistorsi penilaian dan m enyelewengkan kebaikan orang-orang awam. K oran il Cattolico dengan terang- terangan merasa terganggu oleh kegagalan yang meluas dalam melihat betapa sebuah pemberian yang sangat pemurah dari Gereja kepada Edgardo M ortara ketika gereja menyelamatkan dia dari keluarga Yahudi-nya: Siapa p u n di antara kita yang sedikit serius m em ikirkan persoalan tersebut, m em bandingkan kondisi seorang Yahudi— tanpa G ereja sejati, tan p a seorang Raja, dan tan p a negara, tersebar dan selalu m enjadi orang asing di m ana pun m ereka hidup di m uka bum i, dan selain itu, m em iliki reputasi buruk karena cacat yang dengannya para pem bunuh Kristus ditandai ... akan segera m em aham i betapa besar keuntungan duniawi yang diperoleh Paus untuk M ortara.

418 GOD DELUSION Ketiga adalah keangkuhan yang dengannya orang-orang beragama tahu, tanpa bukti, bahwa keim anan yang mereka warisi adalah keimanan yang benar, sem entara sem ua keim anan lain adalah penyim pangan atau m utlak keliru. K utipan di atas mem berikan contoh yang jelas tentang sikap ini dari pihak agama Kristen. M ungkin tidak adil m enyam akan dua pihak tersebut dalam hal ini, tetapi ini adalah tem pat yang bagus untuk m engam ati bahwa keluarga M ortara bisa saja m endapatkan kembali Edgardo, jika m ereka m enerim a perm intaan para pendeta dan setuju untuk dibaptis. Edgardo dicuri terutam a karena sepercik air dan selusin kata-kata yang tidak berarti. Karena hal semacam itu merupakan ketidakcerdasan pikiran yang terdoktrin agama, m aka percikan air yang lain bisa untuk membalik proses tersebut. Bagi sebagian kita, penolakan kedua orang tua itu mengindikasikan keteguhan yang merugikan. Bagi sebagian lain, pendirian prinsipil m ereka m engangkat mereka dalam daftar panjang para m artir untuk semua agama dalam sejarah. ‘Semoga ketenteram an bagim u G u ru Ridley dan bersikaplah seperti laki-laki: hari ini, dengan bim bingan Tuhan kam i akan m enyalakan sebuah lilin di Inggris, karena aku percaya ia tidak akan pernah padam .’ Tak ayal lagi, ada beberapa sebab yang karenanya kem atian menjadi terhorm at. Tetapi bagaim ana bisa para m artir seperti Ridley, Latimer dan Cranm er m em biarkan dirinya dibakar, bukannya m engorbankan endianisme-Kecil Protestan mereka dan m engamini endianisme-Besar Katolik— apakah benar-benar menjadi persoalan dari ujung m ana kam u mengupas telur rebus? Adalah keyakinan keagamaan yang keras kepala— atau terhorm at, jika itu pandanganm u— bahwa keluarga M ortara tidak bisa m em aksa diri untuk m em anfaatkan kesempatan yang disediakan oleh ritus baptism e yang tak berarti. Tidak bisakah m ereka m emohon, atau m embisikkan ‘tid ak ’ dalam hati m ereka k etika m ereka dibaptis? Tidak,

RICHARD DAWKINS 419 m ereka tidak bisa, karena m ereka telah terdidik dalam agama (yang m oderat), dan karenanya m em andang serius semua om ong kosong yang konyol itu. Saya hanya memikirkan Edgardo kecil yang m alang— yang begitu saja terlahir dalam sebuah dunia yang didominasi oleh pandangan keagamaan, bernasib sial di tengah percekcokan, ham pir menjadi sebatang kara dalam sebuah tindakan yang bermaksud baik tetapi, bagi seorang anak kecil, m erupakan kekejaman yang mem usnahkan harapan. Keempat, m elanjutkan tem a yang sama, adalah asumsi bahwa anak berusia enam tahun dapat dikatakan telah memiliki agama, entah Yahudi atau Kristen atau apa pun. Dengan kata lain, gagasan bahw a m em baptis seorang anak kecil yang tidak m engerti dan tidak tahu apa-apa bisa m em buatnya berpindah dari satu agam a ke agama lain tam pak tidak masuk akal— tetapi ini tidak lebih absurd daripada melabelkan seorang anak kecil sebagai terutam a milik suatu agam a tertentu. Apa yang pen tin g bagi E dgardo bukanlah agam a-‘nya’ (dia terlalu m uda untuk memiliki pandangan keagamaan yang teliti) tetapi cinta dan kasih sayang orang tua dan keluarganya, dan dia direnggut dari sem ua itu oleh pendeta-pendeta selibat yang kekejamannya diperhalus oleh kemasabodohannya terhadap perasaan manusia normal— kemasabodohan yang m uncul dengan m udah dalam pikiran yang telah tersandra oleh iman keagamaan. B ahkan tan p a penculikan fisik sekalipun, tidakkah ini selalu m erupakan sebentuk pelecehan anak dengan melabeli anak-anak sebagai penganut keyakinan yang mereka terlalu m uda untuk m em pertim bangkannya? N am un praktiknya terus berlangsung hingga hari ini, yang ham pir seluruhnya tidak dipersolkan. M em persoalkannya adalah tujuan saya dalam bab ini.

420 GOD DELUSION P elecahan F isik d an M ental Perlakukan kasar para pendeta terhadap anak-anak sekarang ini diartikan sebagai pelecehan seksual, dan saya merasa bersyukur, sedari awai, telah m em aham i seluruh persoalan pelecehan seksual tersebut hingga taraf tertentu dan di kesem patan yang terpisah. Yang lain telah m encatat bahwa kita hidup di zaman histeria akan pedofilia, psikologi massa yang m engingatkan pada peristiwa penganiayaan para dukun Salem 1692. Juli 2000, News o f the World, yang secara luas diaklam asikan di tengah- tengah persaingan ketat sebagai koran paling m enyebalkan di Britania, m engorganisir kam panye ‘nam a dan hal m em alukan’, yang menghasut massa m engam uk untuk mengeroyok para pedofil. Rumah seorang dokter anak diserang oleh kaum fanatik yang tidak tahu perbedaan antara seorang dokter anak dan seorang pedofil. Histeria massa terhadap pedofilia telah mencapai level epidemis dan m em buat panik para orang tua. Today’s Just William, today’s Huck Finns, today’s Swallows dan Amazons tidak diperbolehkan berkeliaran, yang m erupakan salah satu keceriaan masa kecil di usia-usia awai (di m ana risiko pelecehan seksual yang sesungguhnya, dan bukan dugaan, mungkin tidak kurang besarnya). Supaya adil terhadap News o f the World, pada saat kampanyenya, kem arahan w aktu itu sudah dipicu oleh pem bunuhan yang sungguh mengerikan, berm otif seksual, terhadap seorang gadis berusia delapan tahun yang diculik di Sussex. N am un dem ikian, jelas tidak adil m encelakai sem ua pedofil dengan pembalasan yang layak untuk segelintir orang yang juga adalah para pem bunuh. K etiga sekolah asrama yang saya datangi, m em pekerjakan tiga orang guru yang perasaannya terhadap anak laki-laki melampaui batas kewajaran. Itu sungguh patu t dicela. N am un dem ikian jika mereka diancam oleh massa m engam uk atau para pengacara

RICHARD DAWKINS 421 karena dianggap tidak lebih baik dari pem bunuh-pem bunuh anak kecil, saya akan merasa terhorm at menghadiri pembelaan mereka, bahkan kalaupun sebagai korban salah seorang dari mereka (pengalam an m em alukan tetapi tidak ada ruginya). Gereja Katolik Roma m enanggung beban berat kehinaan masa lalu semacam itu. Karena berbagai alasan, saya tidak suka Gereja K atolik Roma. Tetapi saya lebih tidak suka lagi ketidakadilan, dan saya tidak bisa menahan heran apakah institusi ini pernah tercem ar nam a baiknya di seputar isu tersebut, terutam a di Irlandia dan Amerika. Saya menduga sebagian kebencian publik berasal dari kemunafikan para pendeta yang kehidupan profesionalnya sebagian besar diabdikan untuk m em bangkitkan perasaan bersalah akan ‘dosa’. Lalu te rd a p a t penyalahgunaan kepercayaan oleh figur yang memiliki otoritas, yang terhadapnya seorang anak dilatih sejak di pangkuan untuk m enghorm atinya. Kebencian- kebencian seperti itu sebaiknya m em buat kita lebih berhati- hati agar tidak terburu-buru m em buat penilaian. K ita harus sadar akan kekuatan besar pikiran dalam menciptakan ingatan- ingatan palsu, terutam a ketika dibantu oleh terapis-terapis bejat dan pengacara-pengacara m ata duitan. Psikolog Elizabeth Loftus pernah m enunjukkan keberanian yang sangat besar, di tengah kepentingan-kepentingan terselubung yang jahat, dalam m engungkapkan betapa m udahnya bagi seseorang untuk m enciptakan ingatan-ingatan yang sepenuhnya palsu tetapi, bagi si korban, p ad a setiap jengkal ingatannya tam pak nyata seperti ingatan yang sebenarnya. Ini begitu kontra- in tuitif sehingga para juri bisa dengan m udah terpengaruh oleh kesaksian para saksi yang tulus tapi palsu itu. D alam kasus Irlandia khususnya, bahkan tanpa pelecehan seksual sekalipun, k ebrutalan Christian Brothers, yang bertanggung jawab atas pendidikan sejumlah besar populasi pria di negeri tersebut, sudah legendaris. Dan hal yang sama

422 GOD DELUSION dapat dikatakan tentang para biarawati sadis yang m enjalankan banyak sekolah w anita di Irlandia. Asilum-asilum M agdalena yang bereputasi buruk, terna dalam film Peter M ullan The Magdalene Sisters, m asih b ertahan sam pai 1996 akhir. E m pat puluh tahun berlalu, adalah lebih sulit m endapat keringanan karena kritik pedas ketim bang karena belaian cabul, dan tidak akan kurang pengacara yang aktif m em inta agar korban menjadi terbiasa— jika tidak demikian mereka m ungkin sudah m engungkapkan masa lalunya yang buruk. Ada harta karun pada mereka di sana yang m erupakan kesalahan masa lalu di gudang gereja (vestry)— sebagian dari m ereka, kenyataannya, sudah lam a m enghilang sehingga si tersangka pelaku kejahatan kemungkinan besar sudah m ati dan tidak bisa memberikan penjelasan dari pihaknya. Gereja K atolik seluruh dunia telah menghabiskan uang lebih dari satu miliar dolar sebagai kompensasi. Anda m ungkin ham pir bersim pati kepada mereka, sampai anda teringat dari mana datangnya uang mereka. Suatu kali, dalam sebuah sesi tanya jaw ab usai ceram ah di Dublin, saya ditanya apakah saya m em ikirkan kasus-kasus pelecehan seksual oleh para pendeta K atolik yang tengah ramai di Irlandia. Saya menjawab bahwa, pelecehan seksual mengerikan itu pasti, [namun} kerusakannya m ungkin tidak sebanding dengan kerusakan psikologis jangka panjang akibat mendidik seorang anak sebagai Katolik. Itu adalah pengam atan sepintas yang dibuat saat situasi panas, dan saya terkejut bahwa pendapat ini m endapat sam butan antusias dari peserta Irlandia (yang terdiri dari intelektual-intelektual D ublin dan m ungkin tidak mewakili negeri tersebut secara luas). Tetapi saya kembali teringat peristiwa ketika saya m enerim a sebuah surat dari seorang wanita Amerika berusia em pat puluhan yang terdidik Katolik Roma. Pada saat berusia tujuh tahun, katanya pada saya, dua peristiwa tak m enyenangkan menimpanya. Dia pernah dilecehkan secara seksual oleh seorang pendeta lokal

RICHARD DAWKINS 423 di mobilnya. Dan, pada saat yang ham pir bersamaan, teman sekolahnya, yang m eninggal tragis, m asuk neraka karena dia seorang Protestan. Seperti itulah tem an saya ini dibuat percaya oleh doktrin resmi gereja orang tuanya saat itu. Pandangannya sebagai seorang dewasa adalah bahwa, di antara dua contoh pelecehan anak oleh K atolik Rom a ini, yang satu fisik dan satunya lagi m ental, yang kedua adalah yang paling buruk. Dia menulis: D ibelai seorang pendeta hanya m eninggalkan kesan m uak (dari sudut pandang anak tujuh tahun) sem entara m engenang tem anku yang m asuk neraka adalah ketakutan yang m em bekukan dan tak terungkapkan. Saya tidak pernah dicem askan oleh pendeta— tetapi saya m elewati banyak m alam dengan ketakutan bahwa orang yang saya cintai akan m asuk N eraka. Ini m em beriku m im pi buruk Tentu saja, perbuatan cabul yang m enim panya di mobil pendeta itu relatif ringan dibandingkan, katakanlah, penderitaan dan kem uakan seorang anak altar yang disodomi. Dan sekarang Gereja K atolik itu konon tidak terlalu jahat seperti dulu. Tetapi contoh tersebut m em perlihatkan bahwa m ungkin pelecehan psikologis terhadap anak itu lebih berbahaya dari pelecehan fisik. Pernah diceritakan, Alfred H itchock, sineas besar yang pakar dalam seni m enakuti orang, suatu kali mengemudi melewati Switzerland ketika dia tiba-tiba menunjuk ke luar jendela m obil dan berkata, ‘Itu adalah pem andangan yang paling m enakutkan yang pernah saya lihat.’ Yang dimaksud adalah seorang pendeta yang tengah bercakap-cakap dengan seorang bocah kecil, tangannya di pundak anak tersebut. H itchcock m em iringkan tubuhnya ke luar kaca mobil dan berteriak, ‘Lari, anak kecil! Lari dem i h idupm u!’ ‘T o n g k at-to n g k at dan bebatuan m ungkin bisa m em atahkan tulang-tulangku, tetapi kata-kata tidak pernah bisa m enyakitiku.’ Peribahasa ini benar selama anda tidak

424 GOD DELUSION sungguh-sunggh percaya pada k ata-kata. Tetapi jika sem ua latar belakang pendidikanm u, dan segala sesuatu yang kau dengar dari orang tua, guru-guru dan pendeta-pendeta, telah m em buatm u percaya, benar-benar percaya, d engan dalam dan sepenuhnya, bahwa para pendosa itu dibakar di neraka (atau beberapa doktrin lain yang kelewatan seperti bahwa perem puan itu adalah hak milik suaminya), m aka sangat m ungkin bahwa kata-kata dapat memiliki efek yang tahan lam a dan merusak ketim bang perbuatan. Saya yakin bahw a frase ‘pelecehan anak’ tidaklah berlebihan ketika digunakan untuk m enggam barkan apa yang dilakukan para guru dan pendeta terhadap anak-anak yang didorong untuk percaya pada sesuatu semisal hukum an atas dosa-dosa manusia yang tidak teram puni di dalam neraka abadi. D alam d okum enter televisi Root of A ll Evil? Yang sudah pernah saya sebutkan, saya mewawancara sejumlah pem im pin keagamaan dan saya dikritik karena terus-terusan m enyalahkan ekstrimis-ekstrimis Amerika, dan bukannya tokoh-tokoh arus utam a (mainstream) yang disegani seperti p ara U skup A gung. Itu terdengar seperti kritisisme yang adil— kecuali bahwa, di awai abad 21 A m erika, apa yang tam p ak ekstrim ke dunia luar sesungguhnya adalah yang mainstream. Salah satu yang saya wawancara, yang paling m engejutkan pemirsa televisi Britania, misalnya, Pastur Ted H aggard dari Colorado Springs. Tetapi, jauh dari ekstrim seperti di A m erika-nya Bush, ‘Pastur Ted’ adalah presiden tiga pulu h ju ta jem aat N ational Association of Evangelicals, dan dia m erasa istim ew a d engan berkonsultasi telepon dengan Presiden Bush setiap Senin. Jika saya ingin mewawancara ektrimis-ektrimis sesungguhnya m enurut standar Amerika m odem , maka saya sudah memilih para ‘Rekonstruksionis’ yang ‘Teologi D om inasi’-nya secara terbuka membela teokrasi Kristen di Amerika. Sebagaimana seorang rekan Amerika menulis kepada saya:

RICHARD DAWKINS 425 M asyarakat Eropa perlu tah u bahw a terdapat indikasi m enyebarnya sem angat teosentris yang m endukung diperkenalkannya kembali hukum Perjanjian Lam a— m em bunuh para hom oseks dan lain- lain— dan hak m em egang jabatan pem erintah, atau bahkan hak m em ilih, hanya u n tu k kaum Kristiani. Sebagian m asyarakat kelas m enengah m en d u k u n g retorika ini. Jik a kaum sekular tidak w aspada, para D om inionis dan Rekonstruksionis akan segera m enjadi m ainstream dalam teokrasi Amerika yang sebenarnya. Selain itu, tokoh lain yang saya wawancara di acara televisi itu adalah Pastur Keenan Roberts, yang juga dari negara bagian Kolorado seperti Pastur Ted. Ciri khas kegilaan Pastor Roberts m engam bil b en tu k berupa apa yang dia sebut Hell House. Hell House adalah te m p a t di m ana anak-anak dibawa, oleh orang tua atau sekolah-sekolah Kristen mereka, untuk ditakut-takuti tentang apa yang akan terjadi kepada mereka setelah mereka mati. Para aktor memainkan adegan-adegan m enakutkan te n tan g ‘dosa-dosa’ te rte n tu seperti aborsi dan hom oseksualitas, dengan sesosok iblis berbaju m erah terang yang m uncul dengan bangga. Sem ua ini adalah p em bukaan piece de resistance, N eraka Itu Sendiri, lengkap dengan bau belerang sungguhan yang dibakar dan jeritan-jeritan kesakitan para penghuni neraka. Setelah menyaksikan pertunjukan gladi resik, di mana iblis bertindak kejam sebagaimana seharusnya dengan gaya anggun seorang tokoh jahat dalam m elodram a Viktorian, saya mewawancara Pastur Roberts di tengah-tengah para pemainnya. D ia m engatakan kepada saya, usia maksimal seorang anak u n tu k b erk u n ju n g ke Hell House adalah dua belas tahun. Ini m em buat saya terkejut, dan saya bertanya kepadanya apakah akan m em buatnya khaw atir kalau seorang anak dua belas tahun bermimpi buruk menyusul satu dari pertunjukannya. D ia menjawab jujur: Saya ingin m em buat m ereka m engerti bahw a N eraka adalah tem p at yang tidak ingin m ereka datangi sam a sekali. Saya lebih

426 GOD DELUSION mem ilih m enyentuh m ereka dengan pesan itu di usia dua belas ketim bang tidak m enyentuh m ereka dengan pesan tersebut dan m em buat m ereka m enjalani hidup penuh dosa dan tidak pernah m enem ukan Tuhan Yesus. D an jika m im pi b u ru k m ereka berakhir, sebagai akibat dari m engalam i ini, saya pikir ada kebaikan yang lebih tinggi yang pada akhirnya akan dicapai dan dipenuhi dalam hidup m ereka ketim bang sekadar m im pi buruk. Saya kira, jika anda benar-benar percaya pada apa yang dikatakan Pastur Roberts tentang keyakinannya, m ungkin anda juga akan merasa benar mengintimidasi anak-anak. Kita tidak bisa m enganggap remeh Pastur Roberts sebagai seorang ekstrimis gila. Seperti Ted H aggard, dia adalah mainstream di A m erika saat ini. Saya terkejut kalau mereka bahkan menerima keyakinan para agamawan fanatik bahwa kamu dapat m endengar teriakan penghuni-penghuni neraka jika kam u m enguping di gunung-gunung berapi, dan bahwa cacing-cacing raksasa yang ditem ukan di kawah-kawah sam udera-dalam yang panas adalah pem uasan dari M ark 9■ 43-4: ‘D an jika tan g an m u m em b u atm u ta k nyam an, putuslah: adalah lebih baik bagim u menjalani kehidupan dengan cacat, daripada memiliki dua tangan memasuki neraka, ke dalam api yang tidak akan pernah padam: di m ana cacing-cacing di dalamnya tidak mati, dan api tidak padam .’ Apa pun keyakinan mereka tentang neraka yang sebenarnya, orang-orang yang antusias dengan api-neraka ini tam paknya merasa puas atas penderitaan orang lain dan bangga karena tahu bahwa dirinya termasuk orang-orang yang terselamatkan, yang diungkapkan dengan baik oleh seorang tokoh terkem uka di antara para teolog, St T hom as Aquinas, dalam Summa Tbeologica'. ‘Bahwa para santo akan menikmati kebahagiaan yang besar dan rahm at Tuhan yang lebih berlimpah, mereka diizinkan untuk melihat penghukum an para pendosa di neraka.’ Pria baik. K etakutan akan api-neraka bisa menjadi sangat nyata,

RICHARD DAWKINS 427 bahkan di antara orang-orang yang rasional. Setelah dokumenter televisi saya tentang agam a, di antara banyak surat yang saya terim a adalah sebagai berikut, dari seorang w anita yang jelas cemerlang dan jujur: Saya m asuk sekolah K atolik sejak usia lim a tahun, dan didoktrin oleh para biaraw ati yang m enggunakan tali pengikat, tongkat dan rotan. Selama usia belasan tahun saya m em baca D arw in, dan apa yang dia katakan tentang evolusi sangat m asuk akal untuk bagian logis dari pikiran saya. B agaim anapun, saya m engalam i penderitaan hidup yang penuh konflik dan ketakutan mendalam akan api neraka yang acap kali m eletup. Saya pernah m engikuti beberapa psikoterapi yang m em buat saya m am pu m enangani beberapa perm asalahan sebelum nya tetap i tam paknya tidak bisa m engatasi k etak u tan yang m endalam ini. Jadi, alasan saya m enulis surat kepada anda adalah hendak m em inta tolong un tu k m engirim kan kepada saya nam a dan alam at ahli terapi yang anda wawancara dalam program m inggu ini yang m enangani k etak u tan jenis ini. Saya tergerak oleh suratnya, dan (setelah menahan penyesalan yang sementara dan tidak patut bahwa tidak ada neraka yang dimasuki oleh para biarawati tersebut) menjawab bahwa dia sebaiknya percaya pada akalnya sebagai anugerah besar yang jelas dia m iliki—tid ak seperti orang lain yang kurang beruntung. Saya berpendapat bahwa kengerian neraka, sebagaim ana digam barkan oleh para pendeta dan biarawati, itu dilebih-lebihkan untuk m enutup-nutupi ketidakm asukakalannya. Jik a neraka itu m asuk akal, mungkin ia hanya perlu m enjadi sedikit angker supaya bisa m enakut- nakuti. Selama neraka itu tidak m ungkin benar [adanya], maka ia harus d iu m u m k an sebagai sangat sangat m enakutkan, untuk m engim bangi kem ustahilannya dan m em pertahankan nilai pencegahnya. Saya juga m enghubungkan dia dengan ahli terapi yang dia sebutkan, Jill M ytton, seorang wanita ceria dan sangat tulus yang pernah saya wawancara. Jill sendiri dibesarkan

428 GOD DELUSION dalam sebuah sekte yang luar biasa m enyebalkan bernam a Exclusive Brethren: beg itu m enjengkelkannya sehingga ada sebuah website, www.peebs.net, yang sepenuhnya dibuat untuk mengawasi orang-orang yang sudah keluar dari sekte tersebut. Jill M ytton sendiri dibesarkan untuk takut pada neraka, lari dari Kekristenan ketika dewasa, dan sekarang m em berikan counseling dan m em b an tu orang lain yang m engalam i traum a yang sama di masa kecil: Jik a saya m engingat kem bali masa kecil saya, m aka itu adalah masa kecil yang dikuasai ketakutan. Dan itu dulu adalah ketakutan akan penilaian buruk sem entara sekarang, tetapi juga ketakutan akan hukum an neraka. Dan bagi seorang anak kecil, gam baran-gam baran tentang api- neraka dan gertakan gigi itu benar-benar sangat nyata. Semua itu tidak metaforis sama sekali.’ Saya lalu m em intanya untuk menjelaskan apa yang pernah dikatakan kepadanya tentang neraka, saat masih kecil, dan jawabannya m engharukan seperti tampak pada wajahnya saat dia lama terdiam sebelum akhirnya menjawab: ‘A neh, bukan? Setelah selam a ini, ia m asih m em iliki kekuatan untuk ... memengaruhiku ... ketika kam u ... ketika menanyakan hal itu kepada saya. N eraka adalah tem pat yang menyeramkan. Ia adalah penolakan yang sem purna oleh Tuhan. Ia adalah hukum an yang sempurna, ada api sungguhan, ada penyiksaan sungguhan, penganiayaan sungguhan, dan itu berlangsung selamanya tanpa henti.’ Dia selanjutnya bercerita kepada saya tentang kelompok terapi yang dia jalankan untuk orang yang telah keluar dari masa kecil yang mirip dengan masa kecilnya, dan dia berbicara panjang lebar tentang betapa sulitnya hal tersebut bagi mereka: ‘Proses m eninggalkan sem ua itu adalah luar biasa sulit. Ah, kam u m elupakan semua hubungan sosial, seluruh sistem yang praktis di dalamnya kam u dibesarkan, kam u m elupakan sistem- keyakinan yang kam u peluk selama bertahun-tahun. Seringkali kamu meninggalkan keluarga dan tem an-tem an ... K am u tidak

RICHARD DAWKINS 429 lagi benar-benar ada bagi mereka. ’ Saya w aktu itu bisa menyela dengan pengalam an saya tentang surat-surat dari orang-orang di Amerika yang m engatakan bahwa mereka sudah membaca buku-buku saya dan akhirnya melepaskan agama mereka. Yang m em bingungkan, banyak dari mereka lalu berkata bahwa mereka tidak berani menceritakannya kepada keluarga mereka, atau bahwa m ereka telah menceritakan kepada keluarga m ereka dengan akibat buruk. Yang berikut ini um um terjadi. Penulisnya adalah seorang anak m uda mahasiswa kedokteran Amerika. Saya m erasa terp ak sa m enulis email kepad a anda karena saya sepakat dengan pandangan anda tentang agam a, sebuah pandangan yang, sebagaim ana saya y akin an d a m enyadarinya, tid ak jelas di A m erika. Saya tum buh di dalam keluarga Kristen dan walaupun gagasan agam a tid ak pernah cocok dengan saya, baru-baru ini saja saya m em beranikan diri m enceritakannya kepada seseorang. Seseorang itu adalah pacar saya yang ... m erasa ngeri. Saya sadar bahw a pengakuan ateisme m ungkin bisa m engejutkan tapi sekarang seakan-akan dia m em andang saya sebagai orang yang sam a sekali berbeda. D ia tidak bisa m em ercayai saya, katanya, karena m oral saya tidak berasal dari Tuhan. Saya tidak tahu apakah kam i akan m elew ati m asalah ini, dan saya terutam a tidak ingin m engungkapkan keyakinan saya kepada orang lain yang dekat dengan saya karena takut m endapatkan reaksi kebencian yang sam a ... Saya tidak m engharapkan tanggapan. Saya hanya m enulis un tu k anda karena saya berharap anda bersim pati dan ikut m erasakan kegelisahan saya. Bayangkan kehilangan orang yang kau cintai, dan yang m encintaim u, karena alasan agama. Kecuali pandangan dia bahw a saya sekarang adalah orang kafir tak ber-Tuhan, kam i sem purna satu sam a lain. Ini m engingatkan saya p ada pengam atan anda bahw a orang m elakukan hal-hal konyol atas nam a im an. Terima kasih sudah m endengarkan. Saya m engirim kan jawaban u n tu k anak m uda malang ini, m engatakan kepadanya bahwa, ketika pacarnya sudah menyadari sesuatu tentangnya, dia juga menyadari sesuatu tentang dirinya. Apakah perem puan itu cukup bagus untuknya? Saya ragu.

430 GOD DELUSION Saya pernah m enyebutkan aktor lucu Amerika Julia Sweeney dan perjuangannya yang humoris dan tabah dalam menem ukan beberapa ciri yang m eringankan dalam agam a dan dalam menyelamatkan Tuhan masa kecilnya dari keraguan masa dewasa yang terus tum buh. Akhirnya, pencariannya berakhir bahagia, dan sekarang dia menjadi teladan yang ،likagumi bagi ateis-ateis m uda di m ana-mana. Adegan terakhir m ungkin merupakan adegan paling m enyentuh dalam pertunjukannya Letting Go o f G o d .‫ اة؛دل‬telah m encoba sem uanya. D an akhirnya ... ketika aku berjalan dari kantorku di halam an belakang m enuju rum ah, aku sadar ada suara sayup-sayup berbisik di kepalaku. Aku tidak yakin sudah berapa lam a ia di situ, tetap i ia tib a-tiba saja m en jad i leb ih keras sa tu desibel. Ia berbisik, ‘T id a k ad a tu h a n .’ Lalu aku berusaha m engabaikannya. Tetapi ia m enjadi sedikit lebih keras lagi. ‘T id a k ad a tu h a n . T id a k ad a tu h a n . Ya tuhan, tidak ada tuhan.' ... Lalu aku gem etar. A ku m erasa sedang jatuh tergelincir dari rakit. Lalu ak u berpikir, ‘Tapi ak u tid ak bisa. A k u ‫ د س‬ta h u k alau aku tid ak bisa percaya Tuhan. A k u b u tu h T uhan. M ak su d k u , k ita punya sejarah’ ... ‘T etapi ak u tid a k ta h u b ag a im a n a u n tu k tid a k p ercay a T uhan. Aku tidak tahu bagaim ana kau m elakukannya. Bagaim ana kau tegak berdiri, bagaim ana kau m elew ati hari-harim u?’ A ku m erasa te rg u n c a n g ... A k u berp ik ir, ‘© K , te n a n g . C obalah m em a k a i kaca m a ta tidak -p ercay a-T u h an sejenak, se b e n ta r saja. P ak ailah k aca !٦٧٢;، itu dan lihatlah sekeliling lalu segera singkirkan kaca m ata itu .’ Lalu saya m em akainya dan m elihat sekeliling. Aku m alu m engatakan bahw a awainya saya m erasa bingung. A k u seb en arn y a p e rn ah berpikir, ‘B aik, b ag aim a n a k a h B u m i ini m elayang di angkasa? M aksudm u, kita hanya sedang m eluncur melewati ruang? Itu begitu rapuh!’ aku ingin m elepaskan dan m enangkap Bum i ketika ia jatuh dari ruang angkasa ke tanganku. Lalu a k u i n g a t , ‘٠ ya, g rav itasi d a n m o m e n tu m a n g u la r ak an m enjaga kita tetap berputar m engitari m ata hari untuk w aktu yang m ungkin sangat lam a.'

RICHARD DAWKINS 431 K etik a saya m enyaksikan p ertu n ju k an Letting Go of God di teater Los Angeles, saya sangat terharu oleh adegan ini. Terutama ketika Julia menceritakan kepada kami tentang reaksi kedua orang tuanya terhadap pem beritaan pers tentang penyembuhannya: Panggilan pertam aku dari ibuku adalah jeritan yang bertam bah keras. ‘A teisPA TEIS?!?‫’؛‬ A y ah k u m e m a n g g il d an b e rk a ta , ‘K a u sudah m en g k h ian ati keluargam u, sekolahm u, kotam u.’ Seolah-olah aku telah menjual rahasia ke orang Rusia. M ereka berdua berkata bahw a m ereka tidak akan berbicara denganku lagi. A yahku berkata, 'Aku bahkan tidak ingin kam u datang ke acara pem akam anku.’ Setelah a k u cem as, a k u b erp ikir, ‘C oba saja h e n tik a n a k u .’ Salah satu bakat Julia Sweeney adalah m em buatm u menangis dan tertaw a pada saat yang sama: Aku kira orang tuaku tidak terlalu kecewa ketika aku katakan aku tid ak percaya T uhan lagi, tetap i m enjadi seorang ateis adalah hal lain pada saat yang sama. Losing Faith in Faith: From Preacher to Atheist karya D an Barker adalah kisah tentang konversinya yang bertahap dari pendeta fundam entalis yang tulus dan pendeta keliling yang bersem angat ke ateis yang gigih dan percaya diri sebagaimana dia sekarang. Barker m elanjutkan kebiasaan mengkhotbahkan ajaran K risten u n tu k sem entara setelah dia menjadi ateis, karena itu adalah satu-satunya karir yang dia tahu dan dia m erasa terjebak dalam jejaring kew ajiban-kew ajiban sosial. Sekarang dia tahu bahwa banyak pendeta Amerika lain yang berada dalam posisi sama seperti dia, tetapi hanya mengatakan itu kepadanya saja, setelah m em baca bukunya. Mereka tidak berani m engakui ateisme mereka bahkan kepada keluarga m ereka sendiri, begitu m enakutkannya reaksi yang mungkin

432 GOD DELUSION muncul. Kisah Barker sendiri berakhir lebih bahagia. Awainya, kedua orang tuanya sangat terkejut dan risau. Tetapi m ereka mendengarkan argumennya yang tenang, dan akhirnya mereka sendiri menjadi ateis. Dua profesor dari sebuah universitas di Amerika masing- masing menulis kepada saya tentang orang tua mereka. Yang satu berkata bahwa ibunya terus-m enerus merasa sedih karena dia m engkhaw atirkan jiwa abadinya. Yang satunya lagi mengatakan bahwa bapaknya berharap seandainya dia tidak pernah dilahirkan, dia begitu yakin bahwa anaknya akan abadi di neraka. D ua orang ini adalah profesor universitas yang sangat terdidik, yakin pada kesarjanaan dan kem atangan mereka, yang mungkin sudah m eninggalkan orang tua mereka di belakang dalam semua hal yang terkait dengan intelek, bukan hanya agama. Bayangkan saja akan seperti apa kesulitan itu bagi orang-orang yang kurang m apan secara intelektual, kurang diperlengkapi dengan pendidikan dan keteram pilan retoris dibandingkan mereka, atau dibandingkan Julia Sweeney, untuk membuktikan sudut pandang mereka di hadapan anggota keluarga yang berhati batu. Barangkali itulah yang terjadi pada banyak pasien Jill M ytton. Di awai percakapan kam i (ditayangkan di televisi), Jill m enggam barkan jenis pendidikan keagam aan ini sebagai bentuk pelecehan m ental, dan saya kembali ke poin tersebut, sebagai berikut: ‘A nda m en g gunakan k a ta -k a ta kekerasan agam a (;religious abuse). Jik a anda harus m em b an d in g k an kekerasan dalam mendidik seorang anak untuk percaya pada neraka ... bagaimana m enurutm u kalau itu sebanding, dalam hal traum a, dengan pelecehan seksual (sexual abuse)?’ D ia m enjaw ab: ‘Itu adalah pertanyaan yang sangat su lit... Saya kira ada banyak persamaan sesungguhnya, karena ini m enyangkut kepercayaan (trust)\\ ini m enyangkut penyangkalan h ak anak u n tu k m erasa bebas dan terbuka dan m am pu berhubungan dengan dunia

RICHARD DAWKINS 433 secara normal ... ini adalah sebentuk peremehan; dalam kedua kasus tersebut, ini adalah sebentuk penyangkalan atas diri yang sesungguhnya.’ M e l in d u n g i A n a k -A n a k Rekan saya psikolog Nicholas H um phrey menggunakan peribahasa ‘to n g k a t-to n g k a t dan b eb atu an ’ dalam m engantar‫؛‬ Amnesty Lecture-ny& d i O xford p ad a 1997. H um phrey mem ulai ceramahnya dengan m em berikan alasan bahwa peribahasa tersebut tidak selalu benar, m engutip kasus para penganut Voodoo H aiti yang m ati, sepertinya akibat beberapa efek psikosomatik teror, dalam beberapa hari setelah dibacakan ‘m a n tra ’jahat kepada m ereka. D ia lalu bertanya apakah Am nesti Internasional, yang m engambil manfaat dari rangkaian ceramah tersebut di m ana H um phrey menjadi salah satu kontributornya, mengampanyekan penolakan terhadap perkataan-perkataan atau publikasi-publikasi yang menyakitkan dan merusak. Jaw abny a jelas tid ak u n tu k penyensoran dem ikian: ‘Kebebasan berbicara terlalu berisiko untuk dipersoalkan.’ Tetapi dia terus m engguncang jati diri liberalnya dengan membela satu pengecualian penting: bersikap setuju dengan penyensoran untuk kasus khusus yang terkait dengan anak-anak ... ... pendidikan moral dan keagam aan, dan terutam a pendidikan yang diperoleh anak di rum ah, di m ana orang tua diizinkan— bahkan diharapkan— untuk m enentukan bagi anak m ereka apa yang dianggap benar dan salah, tepat dan keliru. A nak-anak, m en u ru t hem at saya, m em iliki hak asasi un tu k tidak dilum puhkan pikirannya oleh pem ikiran-pem ikiran buruk orang la in -tid a k peduli siapa orang lain tersebut, ]dem ikian halnya, para orang tua tid a k m em ilik i lisensi d ari T u h an ٧١٦‫ ش آ‬m e n e ra p k a n p em biasaan- pem biasaan pada anak m ereka dengan cara apa pun yang mereka pilih secara pribadi: tidak ada hak un tu k m em batasi cakrawala pengetahuan anak-anak, un tu k m endidik m ereka dalam suasana d o g m a d an ta h a y u l, ‫ ؛ال؛ آ ا؛‬u n tu k m en ek an k an ag ar m ereka

434 GOD DELUSION m engikuti jalan keyakinan m ereka sendiri yang lurus dan sem pit. Singkatnya, anak-anak memiliki hak untuk tidak dikeruhkan pikirannya oleh om ong kosong, dan kita sebagai m asyarakat memiliki kewajiban u n tu k m elindungi m ereka darinya. K arena itu, kita sebaiknya tidak lebih m em biarkan para orang tua mengajarkan anak-anak m ereka untuk percaya, misalnya, pada kebenaran harfiah Bibel atau bahw a planet-planet m engendalikan hidup m ereka, ketim bang kita m em biarkan para orang tua m enghajar anak-anak m ereka atau m enyekapnya di penjara bawah tanah. Tentu saja, pernyataan keras di atas m em erlukan, dan menerima, banyak syarat. Bukankah ini soal opini tentang apa itu omong kosong? Apakah ikhtiar sains ortodoks belum cukup sering kecewa mendisiplinkan kita menjadi orang luar biasa? Para ilmuwan m ungkin berpikir, adalah om ong kosong mengajarkan astrologi dan kebenaran harfiah Bibel, tetapi ada orang lain yang berpikir sebaliknya, dan bukankah m ereka berhak mengajarkannya kepada anak-anak mereka? Bukankah sama arogannya menekankan bahwa anak-anak hendaknya diajari sains? Saya berterim a kasih kepada orang tua saya karena berpandangan bahwa anak-anak sebaiknya tidak terlalu banyak diaj ari apakah yang dipikirkan tetapi bagaimanakah berpikir. Jika, setelah cukup layak bersentuhan dengan sem ua bukti ilmiah, mereka tum buh dan m em utuskan bahwa Bibel itu secara harfiah benar atau bahwa pergerakan planet-planet mengendalikan hidup mereka, maka itu adalah hak mereka. H al terpenting di sini adalah bahw a itu m erupakan hak istim ew a m ereka u n tu k memutuskan apa yang akan mereka pikirkan, dan bukan hak orang tua m ereka u n tu k m em aksakannya. D an ini, ten tu saja, terutama penting ketika kita m erenungkan bahwa anak-anak kelak menjadi orang tua bagi generasi berikutnya, dalam posisi menyampaikan berbagai indoktrinisasi yang m ungkin sudah m em bentuk mereka sebelumnya.

RICHARD DAWKINS 435 H um phrey m engajurkan agar, selama anak-anak itu masih muda, rapuh dan butuh perlindungan, bimbingan m oral m em perlihatkan dirinya dalam sebuah upaya yang adil dalam m em perkirakan apa yang mungkin m ereka pilih untuk dirinya jika m ereka cukup dewasa untuk melakukannya. Dia m engutip sebuah contoh tentang gadis Inca, yang selama 500 tahun ditem ukan beku di pegunungan Peru pada 1995. Seorang antropolog yang m enem ukannya menulis bahwa gadis itu adalah korban ritual pengorbanan. M enurut penjelasan H um phrey, film d okum enter ten tan g ‘peraw an beku’ ini ditayangkan di televisi Amerika. Para penonton diajak untu k m engagum i kom itm en spiritual pendeta-pendeta Inca dan ikut m erasakan bersam a gadis itu, dalam perjalanan terakhirnya, keberanian dan kebahagiaan dia setelah terpilih m endapat kehorm atan besar untuk dikorbankan. A kibatnya, pesan dari program televisi tersebut adalah bahw a praktik pengorbanan m anusia dengan sendirinya m erupakan tem uan budaya yang gem ilang— p erm ata lain dalam m ah k o ta m ultikulturalism e, jika anda suka. H um phrey terkejut, dan begitu juga saya. N a m u n , b ag aim ana bisa orang berani m en gatak an ini? B etapa beraninya m ereka m engajak kita— di ruang-ruang santai kita, m enonton televisi— un tu k m erasa terinspirasi dengan m erenungkan sebuah tindakan ritual pem bunuhan: pem bunuhan seorang anak tak berdaya oleh sekelom pok orang tua tolol, yang sok tahu, percaya tahayul dan bodoh? Betapa beraninya mereka m engajak k ita m enem ukan kebaikan u n tu k diri kita dalam m eren u n g k an p erb u atan ta k berm oral terh adap orang lain? D i samping itu, pembaca liberal yang beradab mungkin sedikit merasa tak nyaman. Tentu saja tidak bermoral menurut standar kita, dan bodoh, tetapi bagaimana dengan standar suku Inca? Tentunya, m enurut masyarakat Inca, pengorbanan tersebut adalah tindakan bermoral dan jauh dari bodoh, yang direstui oleh

436 GOD DELUSION semua yang mereka anggap suci? Gadis kecil itu, tak diragukan lagi, adalah penganut setia agam a tersebut yang dengannya dia dibesarkan. Siapakah kita yang m enggunakan kata seperti ‘pem bunuhan’, menilai pendeta-pendeta Inca m en u rut standar kita dan bukannya standar mereka? M ungkin, gadis ini merasa bahagia dengan nasibnya: m ungkin, dia benar-benar percaya bahwa dia akan langsung menuju surga abadi, yang dihangatkan oleh pendam ping-pendam ping Dewa M atahari. Atau— yang lebih mungkin lagi— dia m enjerit ketakutan. Poin H um phrey— juga saya— adalah bahwa, terlepas apakah dia itu korban sukarela atau bukan, ada alasan kuat untuk m enganggap bahwa dia tidak akan bersedia jika dia betul- betul m engetahui kebenarannya. Misalnya, andaikan dia tahu bahwa matahari itu sebenarnya adalah bola hidrogen, panasnya di atas satu juta derajat Kelvin, yang berubah m enjadi helium melalui peleburan inti, dan bahwa ia awainya terbentuk dari kepingan gas yang dengannya sistem tata surya lain, term asuk bumi, juga mengalami pem adatan ... m aka dia m ungkin tidak akan m enyem bahnya sebagai sesosok dewa, dan hal ini mungkin akan mengubah perspektifnya tentang pengorbanan dalam rangka m em bujuk dewa. Pendeta-pendeta Inca tidak bisa disalahkan atas kebodohannya, dan m ungkin akan dianggap kasar menilai mereka tolol dan sok tahu. Tetapi m ereka bisa disalahkan karena memasukkan keyakinan mereka kepada seorang anak yang masih terlalu m uda untuk m em utuskan m enyem bah matahari atau tidak. Pandangan H um phrey yang lain adalah bahwa pem buat-pem buat film dokum enter sekarang, dan kita sebagai penontonnya, bisa disalahkan karena melihat keindahan dalam kem atian gadis kecil tersebut— ‘sesuatu yang memperkaya budaya kolektif kita . Kecenderungan yang sama pada keagungan dalam pesona kebiasaan keagamaan yang ganjil, dan dalam m em benarkan kekejam an atas

RICHARD DAWKINS 437 nam a kebiasaan itu, bermunculan dari waktu ke waktu. Ini m erupakan sum ber konflik internal yang menggelisahkan di dalam pikiran orang-orang liberal yang, di satu sisi, tidak bisa m entoleransi penderitaan dan kekejam an, tetapi di sisi lain telah dilatih oleh para posmodernis dan relativis untuk menghargai kebudayaan-kebudayaan lain sebagai tidak lebih rendah dari kebudayaan m ereka. Sunatan perem puan {female circumcision) ten tu saja m enyakitkan, hal itu m erenggut kenikm atan seksual pada w anita (barangkali itu adalah maksud sesungguhnya), dan separuh pem ikir liberal yang berabad ingin menghapus praktik tersebut. Separuhnya lagi, bagaim anapun, ‘m enghargai’ budaya-budaya etnis dan merasa bahwa kita sebaiknya tidak ik u t cam pur jika ‘m ereka’ ingin m em utilasi anak-anak gadis ‘m ereka’. Tentu saja, poinnya adalah bahw a anak-anak gadis ‘m ereka’ sesungguhnya adalah gadis-gadisnya para gadis ‘itu sendiri’, dan harapan m ereka sebaiknya tid ak diabaikan. Yang lebih sulit dijawab, bagaim ana jika seorang gadis mengatakan dia ingin disunat? Tetapi m ungkinkah, dengan perenungan seorang dewasa terpelajar atas masa lalunya, dia akan menyesal bahwa itu terjadi padanya? H um phrey menjelaskan bahwa tidak seorang pun w anita dewasa, yang luput disunat ketika masih kecil, rela dibedah (disunat) dalam usianya yang sekarang. Setelah membahas jemaat Protestan Amish, dan tentang hak m ereka u n tu k m endidik anak ‘m ereka sendiri’ dengan cara ‘m ereka sendiri’, H u m p h rey m en g k ritik pedas antusiasm e kita sebagai masyarakat karena m em pertahankan keragam an budaya. Baiklah, anda m ungkin ingin m engatakan, adalah sulit bagi seorang anak Am ish, Hasidim, atau Gipsi u n tu k dibuat m aju oleh orang tua m ereka dengan cara m ereka— tetap i setidaknya, hasilnya adalah bahw a tradisi-tradisi kebudayaan yang m em esona ini terus bertahan. Tidakkah seluruh peradaban kita akan term iskinkan jika sem ua itu dihilangkan? M ungkin m em alukan kalau beberapa individu harus dikorbankan dem i m em pertahankan keragam an tersebut. Tetapi begitulah: itu

438 GOD DELUSION adalah harga yang harus k ita bayar sebagai m asyarakat. Kecuali, saya m ungkin akan m erasa wajib m engingatkan anda, kita tidak m elunasinya, merekalah y an g m elunasinya. Isu tersebut menjadi perhatian publik pada 1972 ketika Pengadilan Tinggi AS m em pertim bangkan sebuah kasus hukum , Wisconsin versus Yoder, yang m em persoalkan hak orang tua menarik anak-anak mereka dari sekolah karena alasan agama. Orang-orang Amish tinggal di kom unitas-kom unitas tertutup di berbagai daerah di Amerika Serikat, sebagian besar berbicara dengan dialek Jerm an kuno yang disebut Jerm an Pennsylvania dan m enghindari listrik, mesin berbahan bakar bensin, tom bol-tom bol dan berbagai wujud lain dari kehidupan modem. Kenyataannya, ada sesuatu yang menarik dan kuno di sebuah pulau dari kehidupan abad tujuh belas, sebagai tontonan m enarik untuk orang-orang sekarang. A pakah ini perlu dipelihara, demi m emperkaya keragam an manusia? Dan satu-satunya cara merawatnya adalah m em biarkan orang- orang Amish mendidik anak-anak mereka sendiri dengan cara mereka sendiri, dan m elindungi m ereka dari pengaruh buruk modernitas. Tetapi, kita pasti ingin bertanya, tidakkah sebaiknya anak-anak itu sendiri memiliki hak bicara dalam soal tersebut? Pengadilan Tinggi dim inta untuk m em buat keputusan pada 1972, ketika beberapa orang tua dari kom unitas Amish di Wisconsin menarik anak-anak mereka dari sekolah lanjutan. Gagasan pendidikan di luar usia tertentu adalah bertentangan dengan nilai-nilai keagam aan Amish, terutam a pendidikan sains. N egara Bagian W iconsin m em baw a p ara orang tu a itu ke pengadilan, yang mengklaim bahwa anak-anak tersebut direnggut hak-haknya untuk mengenyam pendidikan. Setelah melewati beberapa pengadilan, kasus tersebut akhirnya sampai ke Pengadilan Tinggi Amerika Serikat, yang m enetapkan

RICHARD DAWKINS 439 keputusan (6:1) m endukung orang tua tersebut. Pendapat mayoritas, ditulis oleh H akim Ketua W arren Burger, mencakup sebagai berikut: ‘Sebagaim ana terlihat dalam catatan pengadilan, kewajiban m asuk sekolah untuk usia 16 bagi anak- anak kom unitas Amish menjadi ancaman sangat nyata dalam m elem ahkan kom unitas Amish dan praktik keagamaannya seperti yang ada sekarang; mereka harus menanggalkan keyakinan m ereka dan berbaur dengan masyarakat luas, atau, dipaksa untuk pindah ke tem pat lain yang lebih toleran.’ Pendapat minoritas H akim W illiam O. Douglas adalah bahwa anak-anak itu sendiri sebaiknya ditanya. Apakah mereka benar-benar ingin putus sekolah? Apakah mereka benar-benar ingin tetap m em eluk agama Amish? Nicholas Hum phrey bertanya lebih jauh. W alaupun anak-anak itu sudah ditanya dan m engatakan lebih memilih agam a Amish, bisakah kita beranggapan bahwa m ereka akan m elakukan itu jika mereka telah terdidik dan memiliki pengetahuan tentang alternatif- alternatif yang ada? Agar bisa diterima, tidakkah sebaiknya terdapat contoh tentang anak-anak m uda dari dunia luar yang memilih secara m andiri dan bersedia bergabung dengan kom unitas Amish? H akim Douglas bergerak lebih jauh dari arah yang agak berbeda. D ia tidak melihat alasan khusus untuk m em berikan status istimewa dalam pandangan-pandangan keagamaan orang tua dalam m em utuskan seberapa jauh m ereka sebaiknya diizinkan untuk melepaskan hak pendidikan anak mereka. Jika agama merupakan dasar bagi pembebasan kewajiban, tidak m ungkinkah di situ terdapat keyakinan sekular yang juga menentukan? Mayoritas di Pengadilan Tinggi m em buat persamaan dengan sebagian nilai-nilai positif tatanan kerahiban, yang kehadirannya di masyarakat kita m ungkin ikut memperkaya. Tetapi, sebagaimana dikem ukakan Humphrey, ada satu perbedaan krusial. Para rahib memilih kehidupan biara dengan

440 GOD DELUSION kehendak bebas mereka. Anak-anak Amish tidak pernah memilih untuk menjadi Amish; mereka terlahir di dalamnya dan mereka tidak punya pilihan. Ada sesuatu yang sangat merendahkan, sekaligus tidak manusiawi, tentang m engorbankan seseorang, terutam a anak- anak, di atas altar 'keragam an’dan keutam aan m em pertahankan keragaman tradisi-tradisi keagamaan. Sebagian dari kita bahagia dengan mobil-mobil dan kom puter-kom puternya, dengan vaksin dan antibiotiknya. Tapi kalian orang-orang kecil bergaya kuno dengan topi dan gagang bedilm u, kereta kudam u, dialek p u rb am u dan toilet ta n ah m u (earth-closet), kalian menyemarakkan hidup kami. Tentu saja kalian pasti diizinkan untuk menjebak anak-anak kalian bersam am u dalam distorsi w aktu abad tujuh belas: salah satu keragam an budaya manusia yang m enakjubkan. Sebagian kecil dari diriku dapat melihat sesuatu di dalamnya. Tetapi sebagian besar dari diriku sungguh dibuat muak. S kandal P e n d id ik a n Perdana M enteri di negara saya, Tony Blair, m engutip kata ‘keragam an’ (diversity) k etika d itan tan g di parlem en rendah (House o f Common) oleh Jen n y Tonge M P u n tu k m em berikan alasan subsidi pem erintah untuk sebuah sekolah di tim ur laut Inggris yang (nyaris unik di Britania) m engajarkan kreasionisme Bibel secara harfiah. Tuan Blair menjawab bahwa akan sayang sekali jika perhatian m engenai isu tersebut adalah untu k m enghalangi kam i m endirikan ‘sebuah sistem sekolah yang m enam pung keragam an sebisa kam i dengan cara sew ajarnya’. Sekolah yang dipersoalkan tersebut, Em m anuel College di G ateshead, adalah salah satu ‘akadem i k o ta ’ yang dibangun dengan inisiatif m engesankan dari pem erintahan Blair. Penyumbang-penyumbang kaya didorong untuk menyisihkan

RICHARD DAWKINS 441 sejumlah uang yang relatif kecil (dua juta poundsterling untuk pem bangunan Emm anuel), yang mem belanjakan lebih banyak lagi uang pem erintah (dua puluh juta poundsterling untuk sekolah tersebut, plus gaji dan ongkos pengelolaan yang terus menerus), dan juga memercayakan kepada penyumbang itu hak untuk m engendalikan etos sekolah tersebut, penunjukkan mayoritas pejabat-pejabat sekolah, kebijakan eksklusi dan inklusi m urid, dan banyak lainnya. Penyum bang 10 persen un tu k Em m anuel adalah Sir Peter Vardy, seorang saudagar mobil kaya dengan keinginan luhur untuk mem berikan anak-anak masa kini dengan pendidikan yang pernah dia angankan, dan hasrat yang kurang luhur untuk menerapkan keyakinan keagamaan pribadinya kepada mereka. Verdy sayangnya terlibat dengan sebuah kelompok ekslusif yang terdiri dari guru-guru fundamentalis terinspirasi- Amerika, yang dipimpin N igel M cQuoid, m antan kepala sekolah Em m anuel dan sekarang direktur seluruh konsorsium sekolah-sekolah Verdy. Taraf pem aham an ilm iah M cQuioid dapat dinilai dari keyakinannya bahwa dunia ini berusia kurang dari sepuluh ribu tahun, dan juga dari k u tip an berikut: ‘Tetapi m enganggap bahwa kita berevolusi dari sebuah ledakan, bahwa kita dulunya adalah monyet-monyet, itu tampak mustahil ketika anda melihat kompleksitas tubuh manusia ... Jika anda m engatakan kepada anak-anak tidak ada tujuan bagi hidup mereka— bahwa m ereka hanya sebuah mutasi kimiawi— maka itu tidak m em bangun penghargaan-diri.’ Tidak ada seorang pun ilmuwan pernah mengatakan bahw a seorang anak adalah ‘m utasi kim iaw i’. Penggunaan frase dalam konteks tersebut adalah omong kosong kampungan, sepadan d engan pernyataan ‘U sk u p ’ W ayne M alcolm, yang, m en u ru t Guardian 18 A pril 2006, ‘m endebat bukti ilmiah ten tan g evolusi’. Pem aham an M alcolm ten tan g bukti yang dia debat dapat diukur dari pernyataannya bahwa 'Jelas tidak

442 GOD DELUSION ditemukan pada rekam an fosil tentang tahap-tahap m enengah dalam perkem bangan. Jik a seekor kodok (frog) berubah m enjadi monyet (monkey), bukankah sebaiknya anda m em iliki banyak fronkies?’ Baik, sains bukanlah keahlian Tuan M cQ uoid, karena itu kita sebaiknya, supaya adil, beralih ke kepala sainsnya, Stephen Layfield. Pada 21 Septem ber 2001, Tuan Layfield pernah menyampaikan ceramah di Em m anuel College tentang ‘Ajaran Sains: Perspektif B ibel’. Teks ceram ahnya diposting di website K risten (w w w .christian.org.uk). Tapi anda tidak akan menemukannya di situ sekarang. Christian Institute menghapus teks ceramah tersebut tepat pada hari setelah saya m engulasnya dalam sebuah artikel di D aily Telegraph 18 M aret 2002, di m ana saya m enganalisanya secara kritis. Adalah sulit untuk m enghapus sesuatu secara perm anen dari jaringan file internet. Search engine m em iliki kecepatannya karena m enyim pan inform asi di m em ori cache, dan inform asi- informasi ini bertahan u n tu k sem entara bahkan setelah yang aslinya sudah dihapus. Seorang journalis Britis yang cekatan, Andrew Brown, koresponden pertam a untuk soal-soal agama di harian Independent, segera m enem ukan teks ceram ah Layfield, m endow nloadnya dari cache G oogle dan m em postingnya, am an tak terhapus, di websitenya sendiri, http://www.darwinwars. com/lunatic/liars/layfield.html. Anda m ungkin m em perhatikan bahwa kata-kata yang dipilih Brown un tu k URL-nya saja sudah menarik. K ata-kata tersebut, bagaim anapun, kehilangan daya tariknya kalau k ita m elihat isi teks ceram ah itu sendiri. Kebetulan, ketika seorang pem baca yang penasaran menulis ke Emmanuel College untuk m enanyakan m engapa ceramah tersebut dihapus dari website, dia m enerim a jawaban yang terkesan m engada-ada dari sekolah terseb u t—juga disimpan oleh Andrew Brown:

RICHARD DAWKINS 443 Em m anuel College sudah berada di pusat perdebatan m enyangkut ajaran penciptaan di sekolah-sekolah. Pada taraf praktis, Em m anuel College sudah m engadakan sejumlah besar w aw ancara pers. Ini m enyita banyak w aktu bagi Kepala Sekolah dan Pengurus-pengurus senior lem baga tersebut. O rang-orang ini punya pekerjaan lain u n tu k diselesaikan. Supaya tidak m erepotkan, kam i untuk sem entara m enghapus teks ceramah Stephen Layfield tersebut dari website kam i. Tentu saja, pejabat-pejabat sekolah m ungkin sudah terlalu sibuk menjelaskan kepada para wartawan pendirian mereka tentang pengajaran kreasionisme. Tetapi lantas kenapa mereka m enghapus dari w ebsite m ereka teks ceram ah yang secara jelas m enguraikan hal itu, dan dengannya para wartawan diberi penjelasan, sehingga m ereka bisa m enghem at waktu? Tidak, m ereka m enghapus teks ceram ah kepala bidang sains mereka karena mereka tahu bahwa mereka harus menyembunyikan sesuatu. Paragraf berikut adalah dari perm ulaan ceramahnya: M aka kita katakan sedari awai bahwa kita m enolak gagasan yang dipopulerkan, m ungkin dengan gegabah, oleh Francis Bacon p ad a abad k e -17 bahw a ada 'D u a K itab ’ (yaitu, K itab alam & K itab Suci) yang m asing-m asing dapat digali u n tu k m enem ukan kebenaran. Sebaliknya, kam i berpendirian teguh pada proposisi sederhana bahw a Tuhan telah berbicara dengan cara otoritatif d a n ta k terb an tah k an pada halam an-halam an K itab Suci. B etapapun m ungkin tam pak rapuh, kuno atau naifnya penegasan ini, teru tam a bagi yang tidak berim an, budaya m odern yang dim abuk-TY kam i yakin bahw a ini m erupakan fondasi kokoh yang bisa ditegakkan dan di atasnya kita m em bangun. A nda harus m enahan diri. A nda tidak sedang mimpi. Ini bukan segelintir pendeta di sebuah tenda di Alabama tetapi kepala sains sebuah sekolah yang kepadanya pem erintahan Britania m engucurkan uang, dan yang menjadi kebanggaan dan kepuasan Blair. Tuan Blair, juga seorang Kristiani saleh, pada 2004 m enyelenggarakan acara pem bukaan salah satu ruang


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook