Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Warta 22 Desember 2019

Warta 22 Desember 2019

Published by Joni Gultom, 2019-12-22 21:03:11

Description: Warta 22 Desember 2019

Search

Read the Text Version

Warta Sepekan, 22 Desember 2019 Gereja yang Berdoa, Menyembah, Bersaksi dan Melayani BETHANY CHURCH PERAK MALAYSIA 73A, Jln Perempuan Mazwin, Roundabout, Silibin; 64A, Jln Pengkalan Indah 1, Bandar Pengkalan (05-3212812); 67A, Jalan Laluan Klebang Restu 3, Medan Klebang Restu, Ipoh ; No 51A, 1st floor,Persiaran PM 2/3, Pusat Perniagaan seksyen 2 Sri Manjong, Sitiawan-: Desa Merbau Air Tawar. Pastor in charge : Ps. Robert James (email : [email protected]) Pahamilah Natal yang kemudian dipersatukan dalam perayaan Na- sesungguhnya tal yang kini umum di seluruh dunia: 1. Seorang sejarahwan Roma, namanya Sex- Dalam kita tus Julius Africanus, telah mengemukakan merayakan suatu peristiwa yang mulia, yaitu teorinya pada abad Ke-2 M bahwa tanggal kelahiran Yesus, di mana Allah telah menjadi penciptaan langit dan bumi adalah 25 manusia, kadang-kadang kita diperhadapkan Maret. Ini adalah berdasarkan tanggal itu dengan tuduhan bahwa Natal adalah perayaan dianggap Winter Solstice, yaitu hari di mana kafir. Apakah hal itu benar dan apakah kita ha- siangnya terpendek dan malamnya ter- rus meniadakan perayaan Natal dan pohon ter- panjang dalam setahun. Itu terjadi pada ang dan hal-hal lain berkaitan dengan Natal itu? musim dingin di belahan utara bumi. Sextus Dalam artikel ini, pertama, saya mau menjelas- Julius Africanus juga mengemukan teori kan sedikit tentang latar belakang historis per- bahwa tanggal 25 Maret adalah tanggal di ayaan Natal dan kedua, tentang makna Natal mana terjadi pembuahan Yesus dalam kan- bagi kita dimasa kini. dungan Maria. Maka sembilan bulan Latar Belakang Historis Perayaan Natal kemudian adalah 25 Desember. Maka Sex- Ada tiga sumber asalnya perayaan Natal yang tus Julius Africanus menentukan tanggal 25 Desember itu sebagai tanggal kelahiran Ye- sus. 2. Sumber kedua adalah kebiasaan merayakan Sol Invictus (Matahari yang tak terkalahkan) dalam Kerajaan Roma sampai Abad ke-4 yang telah dirayakan pada tang- gal 25 Desember. Sekaligus di minggu sebe- lumnya ada perayaan Saturnalia 17-25 Desember, ketika masyarakat berpesta dan saling menukar hadiah. Mereka telah mem- ilih satu orang untuk menjadi korban yang sangat disiksa dan dihina selama minggu itu

lalu diakhiri dengan pengorbanannya pada tanggal 25 Desember. Selama minggu itu tak ada yang dilakukan orang yang dianggap sebagai dosa sehingga semua orang boleh berpesta pora – mabuk, jalan telanjang di jalan, mencuri, memperkosa, dan segala jenis dosa lainnya dan tidak akan dihakimi. Umat Kristen telah mengemukakan bahwa Yesus adalah ―Matahari yang tak terkalahkan‖ itu yang sudah dinubuatkan dalam Maleakhi 4:2, ―Tetapi kamu yang takut akan na- ma-Ku, bagimu akan terbit Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.‖ 3. Tanggal 25 Desember juga adalah tanggal lahir dewa Indo-Eropa, yaitu, Mithra, ilah terang, dan adalah populer antara para laskar Roma. Umat Kristen kemudian menerangkan bahwa Ye- sus adalah Terang Dunia yang sejati sehingga dijelaskan bahwa kelahiran Yesus membawa terang Allah ke dalam dunia yang gelap. Maka, tanggal itu dikristenkan seperti hal-hal yang di atas. Gabungan dari ketiga sumber itu yang semuanya jatuh pada tanggal 25 Desember telah menjadi dasar pemberitaan Injil dan kelahiran Yesus ke dalam dunia. Setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen pada tahun 332 M, Kekristenan menjadi agama resmi Kerajaan Roma, maka tanggal 25 Desember diambil sebagai tanggal perayaan kelahiran Yesus mulai tahun 336 M. Namun tanggal itu tidak diterima dari semua kalangan Kristen menjadi perayaan umum Natal hingga Abad Ke-9. Akhirnya, Umat Kristen telah mengadopsi dan mengubah pesta-pesta kafir sebagai usaha me- menangkan bangsa-bangsa kafir menjadi Kristen. Di abad-abad awal orang-orang Kristen sudah tahu itu bukan tanggal lahir Yesus, hanya tanggal perayaannya sebagai usaha memenangkan dunia kafir, sehingga pesta kafir menjelma (metamorphosis) menjadi Hari Natal. Masa kini, se- baliknya, kebanyakan Umat Kristen beranggapan bahwa itu adalah tanggal sesungguhnya Yesus lahir. Professor Joseph A Fitzmyer, Profesor Emeritus Penyelidikan Alkitab Universitas Katolik Ameri- ca setelah menyelidiki semua catatan sejarah dan Alkitab telah mengambil kesimpulan yang kini diterima secara umum oleh para ahli sejarah dan Alkitab bahwa Yesus telah lahir pada tanggal 11 September sekitar tahun 3 atau 4 sM. Kejahatan dalam Perayaan Natal dalam Sejarah Pada tahun 1466, Paus Paulus Ke-2, untuk menyenangkan masyarakat Roma telah menghidupkan kembali tradisi Perayaan Saturnalia, pesta kafir itu, tetapi secara khusus untuk menghina masyarakat Yahudi yang harus lari telanjang di jalan raya di depan Kota Vatikan. Orang-orang Yahudi itu dipaksa makan banyak sekali makanan sebelum lari sehingga mereka sangat kesakitan lalu masyarakat, termasuk Paus, mengejek mereka dan ketawa dengan gembira waktu melihat orang-orang Yahudi dihina dan jatuh kesakitan. Hal ini dilanjutkan oleh Gereja Katolik pada Abad Ke-18 sampai Abad Ke-19 di mana para Rabi Yahudi harus mengenakan pakaian seorang badut dan mereka diejek, dilempari dan disiksa. Pa- da tahun 1836, masyarakat Yahudi mengirim surat yang meminta Paus menghentikan praktek itu, tetapi dia menolak permintaan mereka. Pada tahun 1881, di Polandia, 12 orang Yahudi dibunuh dalam penghinaan acara Natal dan banyak sekali rumah dan toko Yahudi dibakar. Secara khusus, penghinaan terhadap masyarakat Yahudi telah berhenti di Eropa setelah Hitler membunuh enam juta orang Yahudi pada waktu Perang Dunia Ke-2. Asalnya Pohon Natal dan Pemberian Hadiah Pohon Natal berasal dari penyembahan berhala kultus Asheira, di mana masyarakat Eropa telah mengambil pohon pinus kecil dan membawanya ke dalam rumah mereka untuk menyembahnya sebagai dewa. Mereka telah menghiasinya untuk membuat pohon mereka lebih indah. Pada wak- tu suku-suku itu diinjili, tradisi mereka dikristenkan pula dan dijadikan gambaran kehidupan ba- ru dan dihiasi dengan lampu-lampu untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah pohon terang yang menyinari seluruh bumi. Pemberian hadiah seperti di perayaan Saturnalia dikristenkan karena Santo Nikolaus (270-345 M) telah punya tradisi memberi hadiah. Dia dikuduskan sebagai Santo pada Abad Ke-19 dan ini

asalnya Santo Nikolaus atau Santa Claus. Lalu, hadiah-hadiah yang mau diberikan biasanya dile- takkan di bawah pohon Natal lalu dibagikan pada pagi hari pada tanggal 25 Desember itu. Perayaan Natal yang Sejati Walaupun Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember dan tanggal itu adalah gabungan berbagai perayaan kafir, tanggal tersebut dan perayaan Natal bisa saja kita terima sebagai tanggal per- ayaan di seluruh dunia untuk merayakan kedatangan Juruselamat ke dalam dunia. Pada waktu bulan Desember kita memiliki kesempatan luar biasa menjadi saksi Yesus dan untuk member- itakan Injil. Tanggalnya tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah kesempatan dan kebebasan pemberitaan Injil itu. Kita melihat dalam pelayanan Rasul Paulus di Athena, ia menggunakan prinsip yang sama. Da- lam Kisah 17:23, Paulus berkata kepada masyarakat Yunani, ―ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuber- itakan kepada kamu.‖ Paulus menggunakan kata ―theos‖ yang adalah kata untuk ―dewa‖ dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah ―theos‖ (dewa atau ilah) yang benar. Dengan demikian, Paulus membawa bangsa Yunani yang percaya kepada satu Allah, bukan ratu- san dewa sehingga mereka menjadi percaya kepada Yesus. Dalam cara yang sama, kita merayakan Natal, bukan sebagai tanggal yang sesungguhnya, tetapi sebagai tanggal perayaan agar dunia mengenal kasih Allah. Bahwa Sang Juruselamat telah lahir ke dalam dunia yang gelap dengan membawa kasih dan terang Allah kepada semua manusia. Ye- sus adalah hadiah Allah kepada kita. Jadi, mari kita merayakannya dengan sukacita, kasih dan semangat membagikan kasih-Nya kepada semua manusia. Shalom, dan selamat Natal! (Oleh DR. Jeff Hammond, Penatua Jemaat Abbalove Ministries)

VIETNAM Nama Negara : Vietnam Populasi : 96,4 juta jiwa Agama : Mayoritas pemeluk kepercayaan tradisi Pokok doa 1. Bersyukur kepada Tuhan, jika gereja-gereja di Vietnam sedang mengalami pertumbuhan yang pesat. Berdoa revival kembali melanda gereja-gereja evangelical di Vietnam seperti 100 tahun yang lalu. Menara-menara doa dibangun dan para hamba Tuhan merendahkan hati dalam kesatuan, berdoa bagi lawatan Tuhan atas negeri ini. 2. Berdoa agar setiap penghalang (komunisme dan kepercayaan tradisi) yang menghalangi bangsa Vietnam datang kepada Tuhan dipatahkan. Terang Tuhan akan menyinari pikiran bangsa Vietnam yang telah dibutakan oleh ilah jaman ini, sehingga mereka melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4 : 4). 3. Bersyukur sudah ada sekolah-sekolah alkitab yang legal di Vietnam, berdoa agar melalui sekolah-sekolah ini, akan banyak dilahirkan hamba-hamba Tuhan yang siap untuk melayani pekerjaan Tuhan di negeri yang berjumlah 96,4 juta jiwa ini. 4. Berdoa untuk cabang gereja kita di Vietnam. Tuhan memperlengkapi dan memperdaya misionari dan para pengerja di sana. Ada penambahan jiwa-jiwa baik orang Indonesia mau- pun orang lokal di BIC Vietnam. Amin.

Milenium dan Alkitab: 'Bukan apa yang Anda pikirkan' Oleh John Stonestreet dan David Carlson | Selasa, 13 Agustus 2019 Ada begitu banyak pembicaraan hari ini tentang apa yang disebut \"Milenium.\" Milenium adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 dan 2000. Mereka adalah \"penduduk asli digital,\" dan per- istiwa yang menentukan dalam hidup mereka termasuk pemboman Kota Oklahoma, 9/11, Perang tentang Teror, Harry Potter, Resesi Hebat, dan kelahiran media sosial. Oh, dan omong-omong, mereka suka roti alpukat. Mereka juga merupakan generasi ―terbesar‖: Sekitar 78 juta orang kuat. Dalam lima atau enam tahun ke depan, mereka akan terdiri dari 75 persen dari tenaga kerja Amerika. Secara keseluruhan, Millennial cenderung skeptis terhadap hal-hal yang absolut, dan siapa pun atau apa pun yang mengaku sebagai otoritas atas kehidupan dan dunia. Karena itu, mereka cenderung skeptis tentang Alkitab. Hanya 9 persen dari kaum Millenial mengklaim membaca Al- kitab setiap hari, dan hanya 30 persen percaya bahwa Perjanjian Lama dan Baru adalah Firman Tuhan. Semua ini mengarah pada tantangan akut bagi banyak orang di generasi yang lebih tua: Bagaimana menularkan iman kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka. Saya senang memberi tahu Anda ada buku baru yang benar-benar dapat membantu. Dua pemimpin pemikir Kristen Millenial, Michael dan Lauren Green McAfee, yang berupaya mengatasi keraguan rekan-rekan mereka tentang Alkitab, telah menulis sebuah buku yang baru dan menarik, ―Bukan Apa yang Anda Pikirkan: Mengapa Alkitab Mungkin Bukan Apa-Apa Yang Kita Inginkan tetapi Segala yang Kita Butuhkan . \" Michael adalah direktur inisiatif komunitas di Museum of the Bible. Istrinya Lauren, yang sekarang bekerja di kantor-kantor perusahaan Hobby Lobby, membantu membangun dan men- jalankan museum. Jadi, mereka berdua memiliki hasrat yang dalam dan tulus untuk mem- bagikan kasih mereka kepada Alkitab. Bagian pertama dari ―Not What You Think‖ dikhususkan untuk menjelaskan dengan tepat siapa Millenial: demografi, aspirasi, preferensi, dll. Salah satu karakteristik utama yang harus kita pa- hami adalah bahwa Millenial memiliki usia pada masa ketika gagasan tentang kebenaran, paling tidak kabur. ―Era kita adalah era di mana kebenaran telah berubah dari realitas objektif ke respons pribadi,‖ tulis mereka. \"Generasi kita umumnya ragu-ragu untuk menerima kebenaran di luar pengalaman dan pendapat pribadi.\" Ini adalah hambatan besar pertama untuk mendekati Millenial dengan permintaan maaf Kristen tradisional, yang bergantung pada klaim Kebenaran yang absolut dan objektif yang diungkapkan dalam Alkitab. Namun, di sinilah para penulis milenium ini berhasil ketika mereka mengundang rekan-rekan milenium mereka untuk menggunakan Alkitab. Sementara bersikap terbuka dan ju- jur tentang klaim kebenaran dari Alkitab, mereka membuat kasus bahwa Perjanjian Lama dan Baru, tidak seperti buku-buku dan teks-teks suci agama lainnya, pada dasarnya bukan seperangkat aturan. Sebagai gantinya, mereka menyajikan Kisah besar yang dijalin bersama oleh Allah melalui berbagai penulis selama satu setengah milenium. Ini adalah kisah yang Allah un- dang kita semua untuk bergabung. Di sepanjang buku mereka, McAfees berdebat dengan meyakinkan — dan secara terperinci —

bahwa kedua Perjanjian, dari Kejadian sampai Wahyu, menunjuk ke Tuhan-Manusia, Yesus. Jadi, Alkitab tidak hanya mengundang kita ke dalam drama kosmik Allah, tetapi juga mengundang kita ke dalam hubungan dengan Pencipta alam semesta. ―Bagaimana jika,‖ tulis mereka, ―kebenaran bukan hanya sudut pandang. . . bukan hanya daftar aturan — milik Anda, milik kita, atau orang lain? Bagaimana jika kebenaran bukanlah konsensus yang terus berubah dari kerumunan, tetapi sebaliknya adalah seseorang yang Anda kenal dan yang mengenal Anda. Kisah orang ini diceritakan dalam Alkitab. Namanya adalah Yesus. \" Ini persis jenis buku yang tidak hanya akan membantu Anda mengomunikasikan pentingnya Kitab Suci kepada generasi muda, itu adalah buku yang sebenarnya dapat Anda berikan kepada generasi muda. Dan, ini adalah sumber yang bagus untuk kelas Sekolah Minggu dan kelompok kecil untuk belajar lebih banyak tentang generasi ―terbesar‖, sambil juga belajar tentang bagaimana menjangkau mereka dengan lebih baik. HUMOR BERGAMBAR

Generasi Z Sebuah studi baru yang menonjol dari alumni Biola dan Talbot mena- warkan temuan kunci tentang generasi berikutnya Octavio Esqueda - 14 November 2018 Anda telah mendengar semua tentang milenial. Tetapi bagaimana dengan generasi yang datang tepat di belakang mereka? Gen Z, yang lahir antara tahun 1999 dan 2015, mulai mencapai perguruan tinggi dan sekolah menengah, dan dalam banyak hal, mereka sangat berbeda dari para pendahulu milenium mereka - kurang religius, lebih berorientasi pada kesuksesan, lebih be- ragam, lebih terpikat oleh teknologi dan lebih banyak cenderung merangkul pandangan berbeda tentang identitas seksual. Apakah gereja Anda siap membantu mereka berkembang dalam lan- skap budaya baru ini? Sebuah studi Barna Group baru yang dipelopori oleh dua alumni Biola dan Talbot menawarkan wawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya ke generasi ini, dan memberi banyak pemimpin Kristen, orang tua dan pekerja muda banyak untuk dipikirkan. Studi ini ditugaskan oleh Impact 360 Institute, dipimpin oleh Talbot alumnus Jonathan Morrow yang berfungsi sebagai anggota fakultas tambahan di Biola dan merupakan direktur budaya keterlibatan dan pencelupan di Im- pact 360, di mana banyak anggota fakultas Talbot adalah dosen tamu. Studi ini dilakukan oleh Barna Group, yang presidennya adalah David Kinnaman Proyek penting ini berfokus terutama pada remaja usia 13 hingga 18 tahun di Amerika Serikat. Itu juga termasuk orang dewasa yang berusia 19 tahun ke atas untuk perbandingan dan orang tua Kristen serta pendeta muda yang berkomitmen untuk wawasan tentang bagaimana mereka mela- yani generasi ini. Tujuan dari proyek penelitian ini adalah untuk menentukan perspektif Gen Z tentang identitas, pandangan dunia, motivasi dan pandangan tentang iman dan gereja. Setiap penelitian memiliki beberapa keterbatasan dan masih ada kebutuhan untuk pekerjaan tambahan tentang generasi ini. Misalnya, penting untuk melakukan studi longitudinal untuk melihat apakah perspektif Gen Z berubah seiring waktu. Akan sangat membantu untuk membandingkan hasil penelitian ini dengan yang serupa dalam konteks internasional dan untuk mengeksplorasi lebih jauh keanekaragaman etnis yang besar dari generasi ini. Namun, studi tonggak sejarah Bar- na ini memberikan wawasan besar bagi gereja-gereja dan para pemimpin Kristen di Amerika Serikat tentang Gen Z yang baru muncul dan memiliki implikasi signifikan mengenai bagaimana cara melayani mereka dengan lebih baik. Gen Z Karakteristik dan Implikasinya bagi Pelayanan Gen Z akan segera menjadi generasi Amerika terbesar. Mereka remaja dan anak-anak saat ini berusia 18 tahun ke bawah (lahir antara tahun 1999 hingga 2015). Milenial dilahirkan antara ta- hun 1984 hingga 1998; Gen X lahir antara tahun 1965 hingga 1983; Boomer lahir antara tahun 1946 hingga 1964; dan Penatua dilahirkan sebelum tahun 1946. Menurut laporan Gen Z Barna, enam kekuatan utama menentukan generasi ini: teknologi, pandangan dunia, identitas, orang tua, keamanan, dan keanekaragaman. Kategori-kategori luas ini menggambarkan - secara umum - Kejadian Z, dan memberi gereja, pemimpin Kristen, dan orang tua tantangan dan peluang pent- ing. Teknologi Morrow mendefinisikan generasi ini sebagai \"layar-agers.\" Mereka selalu hidup dengan internet dan smartphone. Teknologi adalah elemen sentral dari identitas Gen Z, Morrow mengatakan da- lam wawancaranya di podcast Talbot ―Think Biblically‖ pada 7 Juni 2018.

ilustrasi seorang pria dengan topi baseball di teleponnya dengan earbud di \"Lebih dari setengah remaja menggunakan media layar empat jam atau lebih per hari,\" kata Morrow. \"Itu sekitar 57 persen. Sekitar 26 persen menggunakan media layar delapan atau lebih jam per hari. Mereka ju- ga merupakan generasi pertama yang dibesarkan oleh orang tua yang ada di layar, dan itu adalah salah satu hal yang membuat mereka berbeda dari milenium. \"Teknologi memang merupakan pengaruh besar bagi generasi ini. Koneksi yang tidak terbatas dan konstan ke internet menumbuhkan tantangan besar bagi Gen Z. Pornografi internet merajalela dan tersedia setiap saat di ujung jari mereka. Mereka juga secara konstan menghadapi limpahan informasi dari semua jenis sumber yang menyulitkan mereka un- tuk menganalisis, membedakan, dan mempercayai. Generasi ini hidup terbenam dalam jaringan ide dan moralitas yang berbeda tanpa waktu dan kematangan yang diperlukan untuk me- renungkannya dan merespons dengan tepat. Gereja dan orang tua perlu menerima kenyataan ini dan membimbing Gen Z untuk lebih memahami dan menavigasi dunia teknologi baru ini. Teknologi dapat membuat orang lebih dekat dengan orang yang jauh, tetapi pada saat yang sama dapat mendorong jarak dengan orang-orang di sekitar mereka. Studi terbaru mengeksplorasi hubungan antara media sosial dan isolasi, kesulitan belajar dan bahkan depresi. Untuk generasi ini, cyberbullying adalah fenomena umum dan konstan. Juga, di media sosial, orang menghadapi ketegangan untuk menggambarkan diri mereka bahagia, cantik, dan sukses. Dengan kata lain, berpura-pura menjadi orang lain. Situasi ini merupakan tantangan bagi kita semua, tetapi men- jadi sangat problematis dan merusak bagi anak-anak dan remaja yang sedang dalam proses mengembangkan identitas mereka. Para pemimpin Kristen di hadapan mereka memiliki kesem- patan yang sangat penting untuk mengajar semua orang percaya, terutama Gen Z, tentang identi- tas mereka dalam Kristus dan nilai intrinsik dan martabat mereka sebagai pembawa gambar Al- lah. Karena teknologi merupakan pengaruh besar bagi Gen Z, perjuangan konstan untuk orang tua, gereja dan pendidik adalah membatasi dan menegakkan waktu layar untuk anak-anak dan rema- ja. Sangat penting bahwa gereja mendorong percakapan ini dan memberikan dukungan kepada orang tua yang membutuhkan bimbingan dalam membesarkan anak-anak mereka dalam realitas baru ini. Para pemimpin Gereja juga perlu merenungkan lebih baik tentang bagaimana teknologi membentuk pelayanan mereka dan bagaimana mereka menjadi semakin bergantung padanya. Sebagai contoh, akan sangat membantu jika pertemuan-pertemuan pelayanan kaum muda akan bertemu dari waktu ke waktu tanpa layar atau media dan lebih fokus pada interaksi pribadi. Gereja juga dapat mendorong keluarga untuk memprioritaskan waktu bersama. Keluarga akan mendapat manfaat besar jika mereka menikmati makan malam bersama dan melakukan percakapan tanpa teknologi di sekitar mereka. Sayangnya, dalam konteks baru ini, jamuan keluarga seperti ini perlu direncanakan dan dipromosikan dengan sengaja. Bagi keluarga dan gereja, tidak ada pengganti untuk interaksi tatap muka. Morrow memberikan saran yang bagus untuk orang tua yang membesarkan Gen Z: \"Saya akan mendorong orang tua untuk sangat ber- hati-hati sebelum Anda pada dasarnya memberi anak laki-laki atau perempuan Anda sebuah smartphone dan pada dasarnya memberi mereka akses tidak langsung ke semua apa yang terjadi tanpa Anda di sana untuk jenis narasi dan bantu proses dengan mereka di tengah-tengah itu. ‖Anak-anak dan remaja membutuhkan bimbingan dari orang tua mereka dan orang tua membu- tuhkan bimbingan dari gereja mereka. Worldview Gen Z dilahirkan dalam konteks di mana agama pada umumnya, dan kekristenan pada khu- susnya, tidak lagi menjadi pengaruh besar dalam budaya Amerika. Sekularisasi masyarakat telah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir, terutama di dunia Barat, dan Jenderal Z tumbuh

dalam konteks sosial baru ini. Bahkan, menurut penelitian Barna, remaja 13 hingga 18 dua kali lebih mungkin daripada orang dewasa untuk mengatakan bahwa mereka ateis. Konteks \"pasca- Kristen\" ini membawa peluang besar bagi pengikut Kristus untuk bersinar di tengah masyarakat yang sangat membutuhkan terang Kristus. Injil tidak lagi diterima sebagai pesan utama, tetapi sekarang orang percaya dapat mengkomunikasikan kabar baik Kristus dengan kehidupan dan kasih mereka satu sama lain sebagaimana yang Yesus maksudkan (Yohanes 13:35). Gereja perlu membagikan Injil, mengajarkan dasar-dasar iman, dan menjadi teladan bagi semua orang, tetapi terutama untuk Kejadian Z. Proyek Barna melaporkan bahwa Gen Z cenderung inklusif untuk semua orang, praktik, dan per- spektif. Mereka berpikiran terbuka dan peka terhadap perasaan dan pendapat orang lain. Di sisi positif, mereka merangkul perspektif yang berbeda dan lebih inklusif daripada generasi sebe- lumnya. Mereka merasa nyaman dengan orang-orang yang berbeda dari mereka dan cenderung kurang menghakimi karena perbedaan-perbedaan itu. Di sisi negatif, mereka cenderung waspada menyatakan bahwa beberapa tindakan secara moral salah atau hanya salah. Mereka tampaknya memiliki kompas moral yang fleksibel yang menuntun mereka ke jalan yang tidak jelas dan mencegah mereka membuat keputusan atau penilaian sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan yang kuat. Gereja dapat membantu Jenderal Z dengan mengembangkan pandangan dunia Kris- ten yang mencontohkan kebajikan Kristen yang menopang belas kasih dan kepedulian mereka terhadap orang lain. Gen Z dapat mengajar orang dewasa tentang pentingnya mencintai mereka yang berbeda dari mereka dan orang dewasa dapat mengajar Gen Z tentang bagaimana cinta Kristen yang sejati berakar pada Allah kebenaran (Ul 32: 4; Yohanes 14: 6; Yohanes 16: 13). Individualisme adalah tanda kunci tidak hanya untuk generasi ini, tetapi untuk generasi sebelum mereka di Amerika Serikat dan di dunia Barat. Remaja Gen Z, seperti halnya kebanyakan orang dewasa, cenderung berfokus terutama pada kesuksesan dan kesejahteraan mereka sendiri. Na- mun, agama Kristen bersifat komunal dan tidak individualistis. Bahkan, Alkitab menggunakan gambar tubuh untuk menggambarkan gereja Allah yang hidup. Kita adalah bagian dari tubuh, tetapi pada saat yang sama kita adalah anggota dengan karunia individu. Kami bukan individu yang kebetulan juga milik tubuh. Sebagai orang percaya kita perlu saling menguatkan karena kita saling membutuhkan untuk bertumbuh dalam Kristus. Gereja-gereja harus menjadikan pengaja- ran Alkitab yang penting ini sebagai pusat pesan mereka. Juga, karena individualisme terutama merupakan karakteristik budaya Barat dan etnis lain cenderung lebih komunal sebagaimana dikuatkan dalam penelitian ini, interaksi beragam etnis dalam budaya dan gereja kita dapat men- jadi hadiah bagi semua untuk membantu kita perlahan-lahan menjauh dari individualisme yang tidak sehat dan lebih ke arah komunitas alkitabiah. Identitas Sepertiga remaja dalam studi penelitian ini menunjukkan bahwa gender adalah bagaimana perasaan seseorang di dalam dan bukan kelahiran seks. Tujuh dari 10 percaya bahwa dapat diterima untuk dilahirkan sebagai jenis kelamin dan merasa seperti jenis kelamin lainnya (69%). Oleh karena itu, terbukti bahwa kebingungan seksual dan gender dalam budaya kita sekarang di- perbesar dengan Kejadian Z. Adalah penting bahwa gereja-gereja menawarkan panduan tentang seksualitas sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Teologi seksualitas secara tradisional telah menjadi elemen yang hilang dalam pelatihan seminari dan pendidikan gereja, tetapi situasi ini perlu diubah. Gereja memiliki peluang besar dan tepat waktu untuk menjadi pemberita seksuali- tas yang sehat sesuai dengan rancangan Tuhan. Kelompok fokus dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Gen Z mungkin memiliki kecender- ungan untuk mengekspresikan pandangan yang berkembang tentang seksualitas mereka karena keinginan besar untuk berempati dengan kelompok yang terpinggirkan. Mereka cenderung

mengekspresikan solidaritas dengan orang-orang dengan perspektif berbeda tentang masalah gender. Bagi banyak dari mereka, empati adalah perhatian utama dalam hubungan mereka. Para pemimpin dan orang tua Gereja dapat belajar dari Perhatian Gen Z untuk orang lain dan pada saat yang sama mengajarkan bahwa ketidaksetujuan atas keyakinan Alkitab adalah normal dan juga melibatkan amal Kristen. Menariknya, setengah dari Gen Z dalam penelitian ini mengang- gap bahwa gender terlalu ditekankan dalam masyarakat saat ini. Orangtua Orang tua adalah orang yang paling penting dan pengaruh terbesar bagi anak-anak. Menurut penelitian ini, Gen Z mengagumi orang tua mereka, tetapi pada saat yang sama mereka tidak me- rasa hubungan keluarga adalah pusat perasaan diri mereka. Mereka mencintai orang tua mereka, tetapi masih merindukan panutan yang baik. Sayangnya, generasi ini menderita akibat banyak keluarga yang hancur dan orang tua yang jauh yang tidak memiliki waktu, sumber daya atau en- ergi untuk membesarkan mereka. Gereja-gereja lokal dan para pemimpin Kristen memiliki peluang besar di bidang ini. Mereka dapat melatih dan memberdayakan orang tua yang biasanya, dan itu dikonfirmasi dalam penelitian ini, tidak merasa siap untuk mengatasi masalah sulit dengan anak-anak mereka. Seringkali, para pemimpin Kristen memberi tahu orang tua, terutama para ayah, untuk mening- katkan dan melatih anak-anak mereka sesuai dengan cita-cita Allah. Namun, orang tua perlu ara- han tentang bagaimana melakukannya daripada sekadar menerima panggilan untuk mematuhi peran pengasuhan yang diberikan Tuhan. Raymond Wlodkowski dalam buku klasiknya tentang motivasi orang dewasa (Meningkatkan Mo- tivasi Orang Dewasa untuk Belajar: Sebuah Panduan Komprehensif untuk Mengajar Semua Orang Dewasa) menyatakan, ―Agar pelajar dewasa mengalami motivasi intrinsik, mereka perlu menghubungkan siapa mereka dengan apa yang mereka pelajari. ... Dalam pandangan ini, kom- petensi adalah kebutuhan orang dewasa yang menonjol. ‖Orang dewasa perlu merasa kompeten untuk bertindak di luar zona nyaman mereka. Orang tua mencintai anak-anak mereka dan ingin menjadi pengaruh yang baik bagi mereka, tetapi mereka perlu dilatih, didorong dan dibimbing. Untungnya, bagi mereka, anak-anak mereka juga mencintai mereka, memandang mereka dan berhasrat untuk belajar dari mereka. Saat ini, pengasuhan anak dan pelatihan keluarga harus menjadi prioritas utama bagi gereja-gereja lokal dan pendidikan pelayanan. Gereja juga memiliki kesempatan untuk menyediakan model keluarga yang baik untuk semua. Jemaat lokal dapat dan memang harus menjadi sebuah keluarga untuk semua, terutama bagi mereka yang merindukan cinta dan keamanan yang dibawa oleh keluarga yang sehat. Kehidupan Kristen dirancang untuk hidup dalam komunitas di mana para anggota saling mendukung dan mendorong. Jenderal Z menghormati keinginan orang tua dan orang tua mereka untuk melakukan pekerjaan yang baik dalam membesarkan anak-anak mereka, tetapi mereka semua membutuhkan teladan yang baik. Kesempatan yang luar biasa bagi gereja untuk memenuhi kebutuhan penting ini! Keamanan Tujuan Gen Z fokus terutama pada kesuksesan profesional dan keamanan finansial. Dalam penelitian ini, sebagian besar Gen Z mengindikasikan bahwa tujuan akhir mereka dalam hidup adalah \"menjadi bahagia,\" dan mereka mendefinisikan kebahagiaan sebagai kesuksesan finan- sial. Prestasi pribadi adalah pusat identitas Gen Z lebih dari keluarga, latar belakang dan agama. Gen Z mencari model peran, tetapi mereka terutama melakukannya dalam kaitannya dengan ka- rier atau kesuksesan finansial. Temuan ini tidak mengejutkan dan tampaknya mencerminkan pandangan hidup materialistis dan individualistis yang meresap ke masyarakat kita.

Ini adalah area di mana sikap Gen Z mengikuti tujuan dan nilai orang tua dan kakek-nenek mere- ka. Budaya kami yang berorientasi pada uang cenderung mengukur keberhasilan dalam hal fi- nansial dan Gen Z tampaknya membayangi cita-cita ini dengan lebih antusias daripada generasi sebelumnya. Mungkin Gen Z melihat bisnis orang tua mereka dengan pekerjaan dan pekerjaan lain dan secara sadar atau tidak sadar ingin meniru mereka. Karena itu, gereja perlu menekankan perspektif Alkitab tentang uang dan harta benda. Dengan cara yang sama, mereka juga perlu mengajarkan tentang pentingnya istirahat, tidur, dan bersantai sebagai elemen penting untuk ga- ya hidup sehat. Sebagai orang percaya, kita perlu terus-menerus diingatkan bahwa keamanan kita berasal dari Tuhan dan bukan dari kekuasaan atau uang (Mzm. 20: 7) dan bahwa hidup kita tidak bergantung pada harta benda (Lukas 12:15). Yesus menawarkan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10) dan semua generasi perlu mendengar dan menerima tawaran rahmatnya yang benar-benar memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Perbedaan Gen Z sekarang, dan akan terus tumbuh sebagai, generasi yang paling beragam secara etnis da- lam sejarah Amerika. Keragaman itu baik dan sehat dan kita semua membutuhkan perspektif yang berbeda untuk tumbuh dalam iman kita. Misalnya, dalam penelitian Barna ini, remaja berkulit hitam dan Latin menekankan pentingnya keluarga dan gambar-gambar komunal untuk mewakili gereja lokal dan, dalam melakukan hal itu, mereka lebih dekat dengan cita-cita alkitabi- ah daripada kelompok lain. Sayangnya, ketegangan rasial masih merajalela di masyarakat kita, tetapi Jenderal Z dapat menjadi agen rekonsiliasi untuk gereja dan masyarakat secara kese- luruhan. Mereka bisa menjadi pemimpin yang baik bagi kita semua dan kita sebaiknya meniru hasrat mereka untuk inklusi dan penerimaan. Jemaat multietnis akan lebih menarik bagi gen- erasi ini yang memahami, lebih dari generasi sebelumnya, pentingnya persatuan dan keragaman. ilustrasi seorang pria dengan kulit terang dan seorang wanita dengan kulit gelap berjabat tangan Amerika Serikat adalah negara yang beragam dan situasi ini membawa peluang besar ke gereja- gereja untuk lebih mencerminkan cita-cita Tuhan untuk membawa orang-orang dari semua latar belakang ke dalam satu tubuh Kristus. Di masa lalu banyak gereja dan lembaga-lembaga Kristen menganggap pelayanan multietnis sebagai tujuan yang ideal untuk dikejar, tetapi itu akan men- jadi hal yang esensial untuk mencapai Kejadian Z. Jemaat lokal di bawah Ketuhanan Kristus, kuasa Roh Kudus dan otoritas Kitab Suci perlu secara sengaja menjangkau semua orang dengan kabar baik tentang rekonsiliasi penuh dalam Kristus. Para pemimpin Kristen, terlepas dari latar belakang budaya mereka, akan mendidik diri mereka sendiri tentang sejarah, warisan, dan kontribusi kelompok etnis lain. Dengan cara ini, kita semua dapat memiliki perspektif yang lebih baik tentang pekerjaan besar yang sedang dilakukan Tuhan di tengah-tengah kita di antara saudara dan saudari kita. Misalnya, Latin adalah segmen dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Protestan Latin meningkat pada saat yang sama ketika banyak negara Amerika Latin mengalami kebangunan rohani. Ini adalah dua sumber utama un- tuk memahami Protestan Latin di Amerika Serikat: Kisah Protestan Latin di Amerika Serikat oleh Juan Martinez (Eerdmans, 2018) dan Protestan Latin di Amerika: Berkembang dan Be- ragam oleh Mark T. Mulder (Rowman dan Littlefield Penerbit, 2017). Dengan cara yang sama, kita semua bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk mengenal orang-orang yang tidak mirip kita. Kita dapat belajar dari Gen Z bahwa kedekatan dapat menyebabkan empati, tetapi ja- rak membawa kecurigaan. Panggilan untuk Hidup Sebagai Pengikut Kristus di Dunia Paska-Kristen Gen Z adalah kelompok yang baru muncul dan masih banyak hal yang perlu kita ketahui tentang mereka. Studi Barna yang signifikan ini memberikan pandangan umum yang sangat baik tentang generasi ini dan ini jelas merupakan sumber daya yang diperlukan untuk gereja, orang tua dan

pemimpin Kristen. Namun, tidak ada pengganti untuk waktu dan investasi pribadi dengan Jen- deral Z. Morrow memberikan nasihat yang sangat baik kepada orangtua Gen Z bahwa kita semua dapat mengikuti: \"Salah satu hadiah terbesar yang dapat Anda berikan kepada Jenderal Z-er An- da di rumah tangga adalah tempat yang aman bagi mereka untuk mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan keraguan, dan memproses apa yang mereka berinteraksi dengan, karena se- luruh pengalaman mereka diceritakan oleh budaya, oleh media, oleh Netflix, segala sesuatu yang lain. ‖Kita perlu lebih memperhatikan tantangan yang dihadapi Gen. Z menghadapi dan belajar berjalan lebih baik dengan mereka. Temuan yang tidak mengejutkan dalam penelitian ini adalah bahwa remaja Kristen yang bertu- nangan sama mungkin dengan orang dewasa untuk mengatakan bahwa mereka yakin akan iman dan keyakinan Kristen mereka. Kristen Nominal menghilang dalam budaya ini dan ini adalah hal yang baik untuk Injil. Saat ini ada kebutuhan untuk pemuridan radikal di mana pengikut Kristus menjalani hidup mereka menyerah kepada Roh Kudus dalam kepatuhan penuh kepada Tuhan mereka. Dalam banyak contoh, orang muda tidak menolak Kristus, tetapi menolak interpretasi sosiologis dan politis tentang agama Kristen yang mereka lihat pada orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka dan yang tidak serta merta mencerminkan nilai-nilai alkitabiah. Konteks pasca- Kristen memaksa orang percaya untuk menjadi pengikut Kristus yang sepenuhnya berkomitmen. Pendidik Kristen terkenal Howard Hendricks biasa mengatakan bahwa \"salah satu masalah di gereja-gereja kita adalah bahwa kita menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan siapa pun dan kita gagal menjawab pertanyaan yang diajukan orang.\" Masih banyak yang perlu diketahui ten- tang Jenderal Z, tetapi penelitian ini adalah panduan bermanfaat untuk membantu kita menja- wab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan generasi ini. Selamat Natal dalam berbagai bahasa daerah di seluruh penjuru Nusantara:  Ambon: Salamat Natal voor tamang2 & basudara samua. Semoga Damai Natal Tuhan Yesus memberkati katong samua.  Batak Karo: Selamat memperingeti ketubuhen Tuhan Yesus  Batak Toba: Selamat Ari Natal Tu Hamu Saluhutna. Marhite hita di natal on, dapotan pasu-pasu sian Debata na di ginjang.. Amen.  Batak: Horas Selamat Natal ma di hita sasude na. dame natal ma dihita saluhutna.  Betawi: Met natal ye buat kite semuanye, moge-moge ni natal bawa damai dah.  Bhs Arab: Marhaban ya Natalir!  Dayak Ma'anyan: Salamat anrau barasis...Tuhan nyindrah takam katantuluh ni.  Dayak Ngaju: Salamat Pesta Alem Barasih, Tuhan Yesus Mamberkat Itah Sining Katika.  Jawa: Kula haturaken slamet dinten Natal  Jawa: Sugeng Natal, Gusti Merkahi Kita Sedoyo  Jawa: Wilujeng wiyosan Gusti Yesus.  Karo: Selamat Wari Natal  Manado: Selamat ne bacara hari natal Tuhan so lahir.  Manggarai Flores: Tabe Natal agu ntaung weru.  Nias: YA'AHOWU wanunu fandru.  Selamat Ari Natal Tu Hamu Saluhutna. Marhite hita di natal on, dapotan pasu-pasu sian Debata na di gin- jang.. Amen.  Slamat hari basar. Sanang da riki hari basar. Pakatuan wo paka lawiren. (Manado/Minahasa)  Sumba Barat: Salamat natal...mori Yezu na pamaringi pamalala nda  Toraja: Salama' allo kadadianna puangta puang yesu  Toraja: Salama' natal lako mintu siulu ku sola nasang...  Toraja: Salamak allo kadadianna PUANG YESUS Toudano, Minahasa: Selamat nari katouan ni mapiara, pakatuan wo pakalowiren kita imbaya

Daftar Community Of Love (COoL) Daftar Community Of LoVe (COoL) BCM PENGKALAN BCM SILIBIN Kord A/Shift : Cassie Ratih 2 Kordinator Asmur dan Meru : Esterlina Hutasoit 0116153704 1. COoL Filadelfia : Vivi L 2. COoL Alfa&Omega : Kiki 1. COoL Keluarga 1 ; Ibu Kezia Sri 3. COoL Gloria : Natalia Sembiring 2. COoL Taman Meru : Dorcas Dewi 4. COoL Immanuel ; Joan Butar Butar 3. Taman Meru AA : 5. COoL Sangkakala A : Evelyn 4. Taman Meru BB 2 : Laura Elfrida 6. COoL Faith : Rina Ambarita 5. Asrama Murni AA1 : Marissa Hillary 7. COoL Rajawali ; Rinta 6. Asrama Murni AA2 : Sari Zega 8. COoL Anak Baru ; Cassie Ratih 7. Asrama Murni AA3 : Esterlina Hutasoit 8. Asmur BB1– Victory : Othniela Evi Kord B/Shift : Nia Suardina 9. Asmur BB3- : Ester Nellly 10. Asmur BB4 —Glory : Sarmiani Damanik 1. COoL Sangkakala B : Sartika Napitu 11. Asmur CC1-Grace : Ruth Ira 2. COoL Bethesda : Betaria Lumban Batu 12. Asmur CC2-Alena : Ika Alexandra Saragi 3. COoL Wanita Bijak : Helty Samosir 13. Asmur CC3-Helsa : Rina Tambunan 4. COOL Ekklesia ; Ibu Lydia Ginting 14. COOl Mapa : Eninta Florentina 5. COoL Anugerah : Rebecca Situmorang 6. COoL Glory ; Annaria Sihombing Kord C/Shift : Ibu Roma Aritonang Daftar Community Of Love (COoL) Sitiawan 1. COoL Maranatha :Siska Telambanua 2. COoL Haleluya1: Martha Indri 1. Keluarga Sitiawan ; Ibu Novi Simanjuntak 3. COoL Haleluya2: Ibu Roma Aritonang 2. COoL Cengkat jering ; 4. COoL Putri Sion : Naomi Triana 3. COoL Kampung Baru ; 5. COoL Igrea : Lindy Tetty R 6. COoL Grace : Helmi Sihite 7. COoL Yobel : Tabitha Helmi 8. COoL Boru Ni Raja: Renia Sihombing 9. COoL Sangkakala C : Riwani Kord Panorama dan Pinji : Yenida Sinaga No HP Kordinator Lainnya 1. COoL Eirene : Yenida Kordi Ibadah Sitiawan ; Ibu Novi 01131741224 2. COoL Agape : Agustria Tamborine : Amelia Bestaria 89530694 3. COoL Hebron : Ibu Saut Dancer : Joan Romantika 0165274396 4. COoL Batsyeba : Firma Tiang Doa : Naomi Triana 0184628027 5. COoL Faith ; Meiria Purba Sek Minggu Silibin: Dorcas Dewi 01136139590 6. COoL Agatha : Melidar Simbolon 7. COoL Emmanuel ; Given Unisem A/S ; Cassie Ratih 011114210060 8. COoL Talent : Arlina Unisem B/S : Nia Suardina 01137882528 9. COoL Joy : Novita Unisem C/S : Ibu Roma 01137810720 10. COoL Gift : Lela Manik Panorama & Salutica ; Yenida 0102912209 11. COoL Atarah : Risda Manik 12. COoL Betsaida 1: Susiwanti 13. COoL Betsaida 2: Asri Manurung 14. COoL Liora : Juwita 15. COoL Grace : Astri Hutapea 16. COoL Angela 1 ; Ivana 17. COoL Angela 2 : Fitri Eka 18. COoL Alpha : Irawati 19. COoL Wanita Teladan : Uli Ulina P 20.COoL CC3 : Samot 21. COoL Pinji Anak Baru: Elma Theana 22.COoL Anak Bar 2 ; Meisi Simbolon

Daftar Community Of Love (COoL) No HP Kordinator KLEBANG RESTU 1. Finisar Q/S : Mida Sagala 0142381370 Kord Finisar S/Shift : Lena Veronica 1. Wing Onn S ; 2. Finisar R/ S : Hilda Neni 01151937101 2. Putri Sion 1 : Elisabateh 3. Putri Sion 2 ; Tirza Manalu 2 3. Finisar S/S : Veronica Lena 01136138864 4. Putri Sion 4 ; Cornelia 5. Putri Sion 5 : Hanna Sirait 4. Yamaha ; Irma Hariyati —0123439536 Kord Kamaya X : Lamria Nababan 5. Kamaya 1 : Lamria — 0 11116393061 1. COoL Kemenangan: Irma Aritonang 2. COoL Kasih : Fitry Simatupang 6. Kamaya 2 : Christina —01139529821 3. COoL Yehovah Shalom: Lamria N 4. COoL Yehovah Jireh : Yohana 7. MMC ; Saurma Sinaga—01139520436 Kord Kamaya Y: Christina 1. COoL Tehilah : Mery Aritonang Kord Yamaha ; Irma Hariyati Napitupulu 2. COoL Kelbang Ria : Dina Sihombing 1. COoL Gab Yamaha ; Siska Maria 3. COoL Immanuel ; Risma Kord Finisar R/Shift: Adriel 4. Putri Sion : Nurhayati 1. Cool Wing Onn : Aramintha 5. Filadelfia : Christina 2. COoL Anugrah 1 : Rokaya Simanjuntak 3. COoL Anugrah 2 : Hilda Kord Finisar Q /Shift : Helmida Sagala 4. COoL Anugrah 3; Roindah Tamba 1. Wing Onn 1 : Zelda 5. COoL Anugrah 4 : Satriani 2. Wing Onn 2 : Eti Rachel 3. Khantan Immanuel 1 : Rini Sinaga Kata Bijak Untuk Para Pemimpin dan Gembala 4. Khantan Immanuel 2 : Mastinar S 5. Khantan Immanuel 3 : Martha S “Seorang pemimpin mampu menyen- 6. Khantan Immanuel 4 : Winda N tuh hati orang lain sebelum meminta Kord MMC; Saurma Sinaga mereka melakukan sesuatu.” 1. COoL Eklesia : Romaito 2. COoL Eliezer : Debora Purba – John Maxwell 3. COoL Putri Sion : Yemima Bakara 4. MMC Gefira (Klebang Restu 1); Evelyn Kamu harus menjadi pribadi yang baik. 5. MMC Talitakum (Klebang 2) : Yusnita Kamu harus mampu mendekati orang lain se- 6. MMC Gloria (Klebang Ria) : Selfrida hingga mereka bisa menyukaimu. Apabila hal ini sudah kamu lakukan, meminta mereka un- Imperial Tambun & Klebang tuk melakukan sesuatu akan sangat mudah Kord : Tamara Esti bagimu. Hasil yang diberikan pun tentunya 1. Blok Unshakeable Woman ; Emelia akan lebih baik karena mereka ikhlas dan se- Sinaga mangat dalam menjalankannya. 2. Blok A Tambun : Evi Sialagan 3. Blok F Tambun : Mai Santa Clara “Seorang pemimpin adalah seorang 4. Imperial Kasih : Tamara penjual harapan.“ 5. Imperial Hosana : Debora Hutasoit 6. Imperial YES ; Mida Manurung – Napoleon Bonaparte 7. Imperial Blok H ; Romma Haloho 8. Ibu Ibu Bijaksana ; Ibu Dewi S Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang bisa menumbuhkan sebuah harapan pada pengikutnya. Dengan adanya harapan yang tumbuh di hati, akan tergerak untuk melakukan suatu tindakan nyata demi mereal- isasikan suatu harapan tersebut menjadi ken- yataan.

Hadirilah Natal bersama BCM Ipoh– Perak , Rabu 25 Desember 2019, Jam 5.30 pm—selesai di Hall Anglican – Buntong. Bus akan jemput jemat di masing masing titik jam 4.15 pm . Tema pakaian atasan bebas dan bawahan jeans Daftar penanggung jawab bus Cassie (APPU), Fitri Eka (Panorama+Pinji), Marissa (Silibin dan Meru),Tamara (Tasek + Tambun), Selprida (Yamaha, MMC, Kamaya) dan Winda (Khantan + wing onn) 1. Terimakasih untuk pelayanan Ps Andry Siallagan dari BCM ALORA Pulau Pineng, Tuhan member- kati. Seluruh pelayanan firman Tuhan minggu 29 Desember 2019 akan dilayani oleh kordinator gembala COoL yang ada. 2. Ibadah Doa Puasa terakhir Sabtu, 28 Desember di buat di kediaman (rumah) masing masing atau bersifat pribadi masing masing. Dan doa puasa bersama akan di buka perdana Sabtu 4 Januari 2020. 3. Ibadah Tutup tahun akan di buat di masing masing hostel, rumah doa atau gereja pada hari Rabu 31 Januari 2019 dimulai pukul 10 pm-selesai. Acara Tutup tahun dimeriahkan dengan TUKAR KADO bersama seharga RM 25/ orang. Ditutup dengan kertas Koran. Syarat hadiah bukan berbentuk makanan , deterjen, peralatan make up wanita . TUHAN MEMBERKATI. Pelayanan Umum / STT Real Ipoh : Ps Joni Gultom : 0165120731 / +62895603721262 Pelayanan Baptisan : Ps Kristiana - 016-5635082 Kordinator Sitiawan dan Pos PI : Ps Sarce - 019-5698350 Pelayanan Ipoh dan sekitarnya Pelayanan Praise And Worship ; Ps Kristiana - 016-5635082 : Doni (0165959012) dan Mida Sagala (0142381370) No Jadwal Ibadah Hari Jam Tempat 1 Ibadah Raya Pengkalan 1 Ahad/ 08.30-10.30am Pengkalan Ibadah Raya Pengkalan 2 Minggu 10.45—12.45 pm Ibadah Raya Pengkalan 3 08.30—10.30 pm Ibadah Raya Silibin 1 08.30– 10.30pm Silibin Ibadah Raya Silibin 2 08.30-10.30pm Klebang Restu Ibadah Raya Klebang 1 08.45-10.45 am Ibadah Raya Klebang 2 08.45-10.45 pm Tambun Ibadah Raya Tambun 03.00-05.00 pm Sitiawan Ibadah Raya Sitiawan 09.00-11.00 am Taiping Ibadah Raya Kamunting 01.00-03.00pm POS PI Cengkat Jering Sabtu 07.00-08.30pm POS PI Kampung Baru 07.00-08.30 pm 2 Ibadah Community Of Senin– Pagi dan malam Hostel, rumah Love Jumat doa, gereja 3 Doa Puasa Sabtu 08.30-10.00am Semua Cabang 4 Doa Persiapan Pengkalan, Sabtu 08.00-09.00pm Gereja dan ru- S P, Silibin, Sitiawan dan mah doa Klebang Restu

MO T I V A S I & ART I KE L NILAI NILAI DALAM PELAYANAN  Dasar Pelayanan bukan Kemampuan tetapi Karakter Karakter adalah Dasar kompetensi dari bangunan rohani kita.  Sifat Pelayanan bukan dilYayani, tetapi Melayani. Melayani tanpa mengharapkan pengembalian atau balas jasa dari aktif itas yang kita laksanakan  Motivasi pelayanan bukan Kekuasaan, tetapi Kasih. Tujuan kita Melayani bukan agar berkuasa atas mereka, tetapi karean dorongan kasih.  Ukuran Pelayanan bukan Kesuksesan, tetapi Pengorbanan. Sukses yang sejati ialaha membawa jiwa jiwa semakin serupa dengan Kristus dan memuliakan Nama Yesus di dalam kehidupan kita.  Otoritas pelayanan bukan dengan memilih Jabatan, tetapi Ketaatan. Cari fungsi masing masing, bukan posisi!  Tujuan Pelayanan bukan Popularitas, tetapi Kemuliaan Tu- han Motivasi yang tidak murni, adalah sebuah kejahatan rohani.  Alat Pelayanan bukan Fasilitas, tetapi Firman allah dan Doa. Firman Allah dan Doa, menarik urapan Allah turun atas pelayanan kita. Dampak pengurapan adalah keberhasilan pelayanan. Bukan fasilitas yang mendatangkan urapan, tetapi urapanlah yang men datangkan fasilitas.  Hasil pelayanan bukan Kuantitas , tetapi Kualitas (Mutu). Kuantitas belum tentu akan diikuti dengan kualitas, tetapi kualitas sudah pasti akan diikuti dengan kuantitas.  Kuasa Pelayanan bukan Hikmat Dunia atau Manusia, teta- pi Roh Kudus. Belajarlah, dan persiapkanlah diri dengan sebaik baiknya, tetapi andal kan Roh Kudus agar kedua hal itu disertai dengan Kuasa allah  Modal utama dalam Pelayanan bukan Tokoh Utama, Pem- bicara Terkenal, Para Pemimpin, tetapi Tuhan Yesus Kristus. Keberhasilan menjadikan Kristus sebagai teladan, akan membuat mereka berhasil dalam pelayanan.


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook