Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Antologi Puisi

Antologi Puisi

Published by BU EKA, 2022-01-31 11:45:06

Description: Antologi Puisi "Hujan Bulan Juni" Karya Sapardi Djoko Damono

Keywords: Hujan Bulan Juni

Search

Read the Text Version

Sapardi Djoko Damono PENGANTAR  Sajak-sajak dalam buku ini saya pilih dari sekian ratus sajak yang saya hasilkan selama 30 tahun, antara 1964 sampai dengan 1994. Sajak saya pertama kali dimuat diruangan kebudayaan sebuah tabloid di Semarang pada tahun 195, se!aktu saya masih menjadi murid S\"#$ namun, ini tidak berarti bah!a ratusan sajak yang ditulis selama 195-1964 tidak saya pertimbangkan untuk buku ini. Sajak-sajak itu untuk dikumpulkan di buku lain, yang suasananya % atau entah apanya % agak berbeda dari buku ini. &ni berarti bah!a ada juga sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku. Saya sendiri tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik atau tematik dalam puisi saya. Seorang penyair belajar dari banyak pihak' keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pemba(a, tetangga, masyarakat luas , koran, tele)isi, dan sebagainya. *ada dasarnya, penyair memang tidak suka diganggu, namun sebenarnya ia suka juga, mungkin se(ara sembunyi-sembunyi, nguping pendapat pemba(a. &tulah merupakan tanda bah!a puisi yang ditulis benar-benar ada. Sebagian besar sajak dalam buku ini pernah terbit dalam beberapa kumpulan sajak pernah dimuat di koran dan majalah, satu-dua sajak belum pernah dipublikasikan. +ampir dua tahun lamanya saya mempertimbangkan penerbitan buku ini, bukan karena sajak-sajak saya ber(e(eran dan sulit dila(ak, tetapi karena saya suka meragukan keuntungan yang mungkin bisa didapat oleh pemba(a maupun penerbit buku ini. #lam hal ini yang terakhir itu sudah selayaknya saya mengu(apkan terima kasih kepada Sdr. *amusuk neste dari *enerbit * rasindo yang tidak jemu-jemunya meyakinkan saya akan perlunya menerbitkan sepilihan sajak ini. erima kasih tentu saja saya sampaikan juga kepada siapa pun yang telah memberi dan merupakan ilham bagi sajak- sajak ini$ tentang apa lagi puisi kalau tidak tentang mereka, manusia. /akarta, /uni 1994 Sapardi joko amono



PADA SUATU MALAM +al.12 ia pun berjalan ke barat. selamat malam, solo, katanya sambil menunduk. seperti didengarnya sendiri suara sepatunya satu persatu.  barangkali lampu-lampu masih menyala buatku, pikirnya. kemudian sambil menarik naas panjang. ia sendiri saja, sahut-menyahut dengan malam, sedang dibayangkannya sebuah kapal di tengah lautan yang memberontak terhadap kesunyian. sunyi adalah minuman keras. beberapa orang memba!a  perempuan,  beberapa orang bergerombol, dan satu-dua orang menyindir diri sendiri$ kadang memang tak ada lelu(on lain.  barangkali sejuta mata itu memandang ke arahku, pikirnya$ ia pun berjalan ke barat, merapat ke masa lampau. selamat malam, gereja. hei, kaukah anak ke(il yang dahulu menangis di depan pintuku itu ia ingat ka!an-ka!annya pada suatu hari natal dalam gereja itu, dengan pakaian serba baru,  bernyanyi$ dan ia di luar pintu. ia pernah ingin sekali  bertemu esus, tapi ayahnya bilang esus itu anak jadah. ia tak pernah tahu apakah ia pernah sungguh-sungguh men(intai ayahnya. +al.2  barangkali malam ini esus men(ariku, pikirnya. tapi ia belum pernah berjanji kepada siapa pun untuk menemui atau ditemui$ ia ben(i kepada setiap keper(ayaan yang dipermainkan. ia berjalan sendiri di antara orang ramai. seperti didengarnya seorang anak berdoa$ ia tak pernah diajar doa ia pun suatu saat ingin meloloskan dirinya ke dalam doa, tetapi tak pernah mengetahui a!al dan akhir sebuah doa$ ia tak pernah tahu kenapa,  barangkali seluruh hidupku adalah sebuah dosa yang panjang, katanya sendiri$ ia merasa seperti tentram dengan ja!abannya sendiri' hidup adalah doa yang panjang.

 pagi tadi ia bertemu seseorang, ia sudah lupa namanya, lupa !ajahnya' berdoa sambil berjalan... ia ingin berdoa malam ini, tapi tak bisa mengakhiri, tak bisa menemukan kata penghabisan. ia selalu merasa sakit dan malu setiap kali berpikir tentang dosa$ ia selalu akan pingsan kalau berpikir tentang mati dan hidup abadi.  barangkali tuhan seperti kepala sekolah, pikirnya ketika dulu dia masih di sekolah rendah. 7arangkali tuhan akan mengeluarkan dan menghukum murid yang nakal, membiarkannya bergelandangan dimakan iblis.  barangkali tuhan sedang menga!asi aku dengan (uriga  pikirnya malam ini, menga!asi seorang yang selalu gagal  berdoa. apakah ia juga pernah berdoa, tanyanya ketika berpapasan dengan seorang perempuan. perempuan itu setangkai bunga$ apakah ia juga pernah bertemu esus, atau barangkali  pernah juga dikeluarkan dari sekolahnya dulu. +al.32 selamat malam, langit, apa kabar selama ini  barangkali bintang-bintang masih berkedip buatku, pikirnya ia pernah memben(i langit dahulu, ketika musim kapal terbang seperti burung menukik' dan kemudian ledakan-ledakan saat itu pulalah terdengar olehnya ibunya berdoa dan terba!a pula namanya sendiri 2 kadang ia ingin ke langit, kadang ia ingin mengembara saja ke tanah-tanah yang jauh$ pada suatu saat yang dingin ia ingin lekas ka!in, membangun tempat tinggal. ia pernah merasa seperti si pandir menghadapi angka-angka ... ia pun tak berani memandang dirinya sendiri ketika pada akhirnya tak ditemukannya kun(inya  pada suatu saat seorang gadis adalah bunga, tetapi di lain saat menjelma sejumlah angka yang sulit. ah, ia tak berani berkhayal tentang biara. ia takut membayangkan dirinya sendiri. ia pun ingin lolos dari lampu-lampu dan suara-suara malam hari, dan melepaskan genggamannya dari kenyataan$ tetapi disaksikannya' berjuta orang sedang berdoa,  para pengungsi yang bergerak ke kerajaan tuhan,

orang-orang sakit, orang-orang penjara, dan barisan panjang orang gila. ia terkejut dan berhenti, lon(eng kota bergun(ang seperti sedia kala rekaman senandung duka nestapa. seorang perempuan tua terta!a ngeri di depannya, mena!arkan sesuatu. ia menolaknya. ia tak tahu kenapa mesti menolaknya.  barangkali karena !ajah perempuan itu mengingatkannya kepada sebuah selokan, penuh dengan (a(ing$  barangkali karena mulut perempuan itu menyerupai penyakit lepra$ barangkali karena matanya seperti gula-gula yang dikerumuni beratus semut. dan ia telah menolaknya, ia bersyukur untuk itu. kepada siapa gerangan tuhan berpihak, gerutunya. +al. 42 ia menyaksikan orang-orang berjalan, seperti dirinya, sendiri$ atau memba!a perempuan, atau bergerombol, !ajah-!ajah yang belum ia kenal dan sudah ia kenal, !ajah-!ajah yang ia lupakan dan ia ingat sepanjang 8aman, !ajah-!ajah yang ia (inta dan ia kutuk, semua sama saja.  barangkali mereka mengangguk padaku, pikirnya$  barangkali mereka melambaikan tangan padaku setelah lama  berpisah atau setelah terlampau sering bertemu. ia berjalan ke barat. selamat malam. ia mengangguk, entah kepada siapa$  barangkali kepada dirinya sendiri. barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan (uriga$ ia pun bergegas.  barangkali hidup adalah doa yang...  barangkali sunyi adalah...  barangkali tuhan sedang menyaksikannya berjalan ke arah barat. 1964

TENTANG SEORANG PENJAGA KUBUR YANG MATI +al.52  bumi tak pernah membeda-bedakan. seperti ibu yang baik, diterimanya kembali anak-anaknya yang terku(il dan membusuk, seperti halnya bangkai binatang$ pada suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang, atau klerek - sama saja$ dan kalau hari ini si penjaga kubur, tak ada bedanya. ia seorang tua yang rajin membersihkan rumputan, menyapu nisan, mengumpulkan bangkai bunga dan daunan$ dan bumi pun akan menerimanya seperti ia telah menerima seorang laknat, atau pendeta, atau seorang yang a(uh tak a(uh kepada bumi, dirinya. toh akhirnya semua membusuk dan lenyap. yang mati tanpa genderang, si penjaga kubur ini, pernah berpikir' apakah balasan bagi jasaku kepada bumi yang telah kupelihara dengan baik$ barangkali sebuah sorga atau ampunan bagi dusta-dusta masa mudanya. tapi sorga  belum pernah terkubur dalam tanah. dan bumi tak pernah menbeda-bedakan, tak pernah men(inta atau memben(i$ bumi adalah pelukan yang dingin, tak pernah menolak atau menanti, tak akan  pernah membuat janji dengan langit. lelaki tua yang rajin itu mati hari ini$ sayang bah!a ia tak   bisa menjaga kuburnya sendiri. 1964 SAAT SEBELUM BERANGKAT +al.62 mengapa kita masih juga ber(akap hari hampir gelap menyekap beribu kata di antara karangan bunga di ruang semakin maya, dunia purnama

sampai tak ada yang sempat bertanya mengapa musim tiba-tiba reda kita di mana. aktu seorang bertahan di sini di luar para pengiring jena8ah menanti. 196 BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH  +al.2  berjalan di belakang jena8ah angin pun reda  jam mengerdip tak terduga betapa lekas siang menepi, melapangkan jalan dunia di samping' pohon demi pohon menundukkan kepala di atas' matahari kita, matahari itu juga  jam mengambang diantaranya tak terduga begitu kosong !aktu menghirupnya 1962 SEHABIS MENGANTAR JENAZAH+al. :2 masih adakah bayang akan kautanyakan tentang hal itu +ujan pun sudah selesai se!aktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya ber(akap di ba!ah bunga-bunga menua, matahari yang senja  pulanglah dengan payung di tangan, tertutup anak-anak kembali bermain di jalanan basah seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh  barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya masih adakah #langkah angkuhnya langit alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita seluruhnya, seluruhnya ke(uali kenangan  pada sebuah gua yang akan menjadi sepi tiba-tiba 196 LANSKAP +al.92 sepasang burung, jalur-jalur ka!at, langit semakin tua !aktu hari hampir lengkap, menunggu senja  putih, kita putih memandangnya setia sampai habis semua senja

196 HUJAN TURUN SEPANJANG JALAN  +al. 102 hujan turun sepanjang jalan hujan rinai !aktu musim berdesik-desik pelan kembali bernama sunyi kita pandang' pohon-pohon di luar basah kembali tak ada yang menolaknya. kita pun mengerti, tiba-tiba atas pesan yang rahasia tatkala angin basah tak ada bermuat debu tatkala tak ada yang merasa diburu-buru 196 KITA SAKSIKAN +al.112 kita saksikan burung-burung lintas di udara kita saksikan a!an-a!an ke(il di langit utara !aktu (ua(a pun senyap seketika sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya di antara hari buruk dan dunia maya kita pun kembali mengenalnya kumandang kekal, per(akapan tanpa kata-kata saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia. 196 DALAM SAKIT +al.12 !aktu lon(eng berbunyi  per(akapan merendah, kita kembali menanti-nanti kau berbisik' siapa lagi akan tiba siapa lagi menjemputmu berangkat berduka di ruangan ini kita gaib dalam gema. i luar malam hari mengendap, kekal dalam rahasia kita pun setia memulai per(akapan kembali seakan abadi, menanti-nanti lon(eng berbunyi

196 SONET HEI! JANGAN KAUPATAHKAN  +al.132 +ei; /angan kaupatahkan kuntum bunga itu ia sedang mengembang$ bergoyang-goyang dahan-dahannya yang tua yang telah mengenal baik, kau tahu, segala perubahan (ua(a. 7ayangkan' akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar  hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar  dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan dengan gaib, dari rahim #lam. /angan$ saksikan saja dengan teliti  bagaimana \"atahari memulasnya !arna-!arni, sambil diam-diam membunuhnya dengan hati-hati sekali dalam <asih-sayang, dalam rindu-dendam #lam$ lihat' ia pun terkulai pelahan-lahan dengan indah sekali, tanpa satu keluhan. 196 ZIARAH +al.14-152 <ita berjingkat le!at  jalan ke(il ini dengan kaki telanjang$ kita ber8iarah ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita /angan sampai terjaga mereka; <ita tak memba!a apa-apa. <ita tak memba!a kemenyan ataupun bunga ke(uali seberkas ren(ana-ren(ana ke(il yang senantiasa tertunda-tunda2 untuk  kita sombongkan kepada mereka. #pakah akan kita jumpai !ajah-!ajah bengis, atau tulang-belulang, atau sisa-sisa jasad mereka di sana idak, mereka hanya kenangan. +anya batang-batang (emara yang menusuk langit yang akar-akarnya pada bumi keras. Sebenarnya kita belum pernah mengenal mereka$

ibu-bapa kita yang mendongeng tentang tokoh-tokoh itu, nenek-moyang kita itu tanpa menyebut-nyebut nama. \"ereka hanyalah mimpi-mimpi kita, kenangan yang membuat kita merasa  pernah ada. <ita ber8iarah$ berjingkatlah sesampai di ujung jalan ke(il ini' sebuah lapangan terbuka  batang-batang (emara angin. ak ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga$ mereka telah tidur sejak abad pertama, semenjak +ari *ertama itu. ak ada tulang-belulang tak ada sisa-sisa  jasad mereka &bu-bapa kita sungguh bijaksana, terjebak  kita dalam dongengan nina-bobok. i tangan kita berkas-berkas ren(ana, di atas kepala sang Surya. 196 DALAM DOA II +al. 162 kupandang ke sana' &syarat-isyarat dalam (ahaya kupandang semesta ketika ngkau seketika memijar dalam <ata terbantun menjelma gema. \"alam sibuk di luar suara kemudian daun bertahan pada tangkainya ketika hujan tiba. <udengar bumi sediakala tiada apa pun di antara <ita' dingin semakin membara se!aktu berhembus angin 196:2 DALAM DOA II +al.12 saat tiada pun tiada aku berjalan tiada- gerakan, serasa

isyarat2 <ita pun bertemu sepasang iada tersuling tiada- gerakan, serasa nikmat2' Sepi meninggi 196:2 DALAM DOA III +al. 1:2  jejak-jejak 7unga selalu' betapa tergoda kita untuk berburu, terjun di antara raung !arna sebelum musim meninggalkan daun-daun akan tersesat di mana kita terbujuk jejak-jejak 7unga2 nantinya$ atau terjebak juga bayang-bayang =ahaya dalam nasu yang kita risau 196: KETIKA JARI\"JARI BUNGA TERBUKA  +al. 192 ketika jari-jari bunga terbuka mendadak terasa' betapa sengit (inta <ita (ahaya bagai kabut, kabut (ahaya$ di langit menyisih a!an hari ini$ di bumi meriap sepi yang purba$ ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagi di sayap kupu-kupu, di sayap !arna s!ara burung di ranting-ranting (ua(a,  bulu-bulu (ahaya$ betapa parah (inta <ita mabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah 196: SAJAK PERKA#INAN +al.02

(ahaya yang ini, Siapakah kelopak-kelopak malam  berguguran2 kaki langit yang kabur  dalam kamar, dalam *ersetubuhan  butir demi butir  <au dan aku, aku dan serbuk malam2 tergelin(ir  menyatu *erka!inan tak di mana pun, tak  kapan pun kelopak demi kelopak terbuka malam pun sempurna 196: GERIMIS KE$IL DI JALAN JAKARTA% MALANG  +al. 12 seperti engkau berbi(ara di ujung jalan !aktu dingin, sepi grimis tiba-tiba seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu untuk kembali berduka2 untuk kembali kepada rindu  panjang dan (emas seperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampu supaya menyahut, \"u 196: KUPANDANG KELAM YANG MERAPAT KE SISI KITA  +al. 2 kupandang kelam yang merapat ke sisi kita$ siapa itu disebelah sana, tanyamu tiba-tiba malam berkabut seketika2$ barangkali menjemputku  barangkali berkabar penghujan itu kita terdiam saja di pintu$ menunggu atau ditunggu, tanpa janji terlebih dahulu$ kenalkah ia padamu, desakmu kemudian sepi terbata-bata menghardik berulang kali2  bayang-bayangnya pun hadir sampai di sini$ jangan u(apkan selamat malam$ undurlah perlahan pastilah sudah gugur hujan

di hulu sungai itu2$ itulah Saat itu, bisikku kuke(up ujung jarimu$ kaupun menatapku'  bunuhlah ia, suamiku kutatap kelam itu  bayang-bayang yang hampir lengkap men(apaiku lalu kukatakan' mengapa <au tegak di situ2 196: BUNGA\"BUNGA DI HALAMAN +al. 32 ma!ar dan bunga rumput di halaman' gadis yang ke(il dunia ke(il, jari begitu ke(il2 menudingnya mengapakah perempuan suka menangis  bagai kelopak ma!ar$ sedang rumput liar semakin hijau s!aranya di ba!ah sepatu-sepatu mengapakah pelupuk ma!ar selalu  berka(a-ka((a$ sementara tangan-tangan lembut hampir men(apainya !ahai, meriap rumput di tubuh kita2 196: PERTEMUAN +al.42  perempuan mengirim air matanya ke tanah-tanah (ahaya, ke kutub-kutub bulan ke landasan (akra!ala$ kepalanya di atas bantal lembut bagai bianglala lelaki tak pernah menoleh dan di setiap jejaknya$ melebat hutan-hutan, hibuk pelabuhan-pelabuhan$ di pelupuknya sepasang matahari keras dan ana dan serbuk-serbuk hujan tiba dari arah mana saja (adar   bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh0 ketika mereka berjumpa. i ranjang ini

196: SONET& +al.52 siapa menggores di langit biru siapa meretas di a!an lalu siapa mengkristal di kabut itu siapa mengertap di bunga layu siapa (erna di !arna ungu siapa bernaas di detak !aktu siapa berkelebat setiap kubuka pintu siapa men(air di ba!ah pandangku siapa teru(ap di (elah kata-kataku siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku siapa tiba menjemputku berburu siapa tiba-tiba menyibak (adarku siapa meledak dalamku ' siapa #ku 196: SONET Y +al.62 !alau kita sering bertemu di antara orang-orang mele!at ke kubur itu di sela-sela suara biru  ben(ah-ben(ah kelabu dan ungu !alau kau sering kukenang di antara kata-kata yang lama tlah hilang terkun(i dalam bayang-bayang dendam remang !alau kau sering kusapa di setiap simpang (ua(a hijau menjelma merah menyala di pusing jantra 'ku tak tahu kenapa merindu tergagap gugup di ruang tunggu 196: JARAK +al. 2 dan #dam turun di hutan-hutan

mengabur dalam dongengan dan kita tiba-tiba di sini tengadah ke langit' kosong-sepi... 196: HUJAN DALAM KOMPOSISI ' +al. :2 >#pakah yang kautangkap dari s!ara hujan, dari daun-daun bugen)il basah yang teratur mengetuk jendela #pakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ri(ik air yang turun di selokan> &a membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membanyangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang. >ak ada. <e(uali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa di pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik air menggelin(ir dari daun dekat jendela itu. #tau memimpikan sema(am suku kata yang akan mengantarmu tidur.>  barangkali sudah terlalu sering dia mendegarnya dan tak lagi mengenalnya. 1969 HUJAN DALAM KOMPOSISI ( +al. 92 #pakah yang kita harapkan dari hujan \"ula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas$ lalu mengkristal dalam dingin$ kemudian melayang jatuh ketika ter(ium bau bumi$ dan menimpa pohon jambu itu$ tergelin(ir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah dan jatuh ke bumi. #pakah yang kita harapkan +ujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelin(ir masuk selokan ke(il, meri(ik s!aranya, menyusur selokan, terus meri(ik sejak sore, meri(ik juga di malam gelap ini, ber(akap tentang lautan. #pakah \"ungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan. Selamat tidur, 1969 HUJAN DALAM KOMPOSISI ) +al. 302 dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya terpisah dari hujan 1969 *ARIASI PADA SUATU PAGI  +al.312

i2 sebermula adalah kabut$ dan dalam kabut senandung lon(eng, ketika selembar daun luruh, setengah bermimpi, menepi ke bumi, luput kaudengarkah juga seperti Suara mengaduh2 ii2 dan (ahaya yang membasuhmu pertama-tama2  bernyanyi bagi (apung, kupu-kupu, dan bun ga$ =ahaya yang mena!arkan ki(au burung2 susut tiba-tiba  pada selembar daun tua, pelan terbakar, tanpa sisa iii2 menjelma bayang. 7ayang-bayang yang tiba-tiba tersentak  ketika seekor burung, menyambar (apung selamat pagi pertama bagi matahari2, risau bergerak-gerak  ketika sepasang kupu-kupu merendah ke bumi basah, bertarung 190 MALAM ITU KAMI DI SANA +al.32 ><enapa kauba!a aku ke mari, Saudara>$ sebuah stasiun di dasar malam. 7ayang-bayang putih di sudut peron menyusur bangku-bangku panjang$ jarum-jarum jam tak letihnya melon(at, merapat ke Sepi. 7arangkali saja kami sedang menanti kereta yang biasa tiba setiap kali tiada seorang pun siap memberi tanda-tanda$  barangkali saja kami sekedar ingin berada disini ketika tak ada yang bergegas, yang (emas, yang menanti-nanti$ hanya naas kami, menyusur batang-batang rel, mengeras tiba-tiba$ sinyal-sinyal kejang, lampu-lampu kuning yang menyusut di udara sementara bayang-bayang putih di seluruh ruangan, >etapi katakan dahulu, Saudara, kenapa kauba!a aku kemari> 190 DI BERANDA #AKTU HUJAN +al.332 <ausebut kenanganmu nyanyian dan bukan matahari yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan !arna-!arni bunga yang dirangkaikan2 yang menghapus  jejak-jejak kaki, yang senantiasa berulang dalam hujan. <au di beranda,

sendiri, ><e mana pula burung-burung itu yang bahkan tak pernah kaulihat, yang menjelma sema(am nyanyian, sema(am keheningan2 terbang$ ke mana pula siut daun yang berayun jatuh dalam setiap impian> an bukan kemarau yang membersihkan langit, yang pelahan mengendap di udara2 kausebut (intamu  penghujan panjang, yang tak habis-habisnya membersihkan debu, yang bernyanyi di halaman. i beranda kau duduk, sendiri, >i mana pula seka!anan kupu-kupu itu, menghindar dari pandangku$ di mana pula ah, tidak;2 rinduku yang dahulu> <au pun di beranda, mendengar dan tak mendengar kepada hujan, sendiri, >i manakah sorgaku itu' nyanyian yang pernah mereka ajarkan padaku dahulu, kata demi kata yang pernah kuhaal  bahkan dalam igauanku> an kausebut hidupmu sore hari dan bukan siang yang bernaas dengan sengit yang tiba-tiba mengeras di ba!ah matahari2 yang basah, yang meleleh dalam senandung hujan, yang larut. #min. 190 KARTU POS BERGAMBAR TAMAN UMUM% NE# YORK  +al.342 i sebuah taman kausapa ?e! ork yang memutih rambutnya duduk di bangku panjang, berkisah dengan beberapa ekor merpati. api tak disahutnya anggukmu$ tak dikenalnya sopan santun itu.  ?e! ork yang senjakala, yang +itam panggilannya, membayangkan dirinya turun dari kereta dari Selatan nun jauh. 7eberapa bunga (eri jatuh di atas koran hari ini. @on(eng menggoreskan akhir musim semi. 191 NE# YORK% '+,' +al.352

+aalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja dan semen yang mengatur langkah kita, lampu-lampu dan ka(a. @angit hanya dalam batin kita, tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku lahir, semakin biru dalam dahaga. +aalkan namamu. ikungan demi tikungan, !arna demi !arna tanda-tanda jalanan yang menunjuk  ke arah kita, yang kemudian menjanjikan arah yang kabur  ke tempat-tempat yang dulu pernah ada dalam mimpi kanak-kanak kita. 7erjalanlah merapat tembok  sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga orang-orang di sekitar kita, dan terasa bah!a sepenuhnya sendiri. <emudian bersiaplah dengan ja!aban-ja!aban itu. etapi kaudengarkah s!ara-s!ara itu 191 DALAM KERETA BA#AH TANAH% $HI$AGO  +al.362 >Siapakah namamu> 7arangkali aku setengah tertidur  !aktu kautanyakan itu lagi. 7angku-bangku yang separo kosong, beberapa !ajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela' siluet di atas dasar hitam. #ku pun tak pernah menja!abmu, bahkan ketika kautanyakan jam berapa saat kematianku, sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga 7aiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa sajalah. i saat lain barangkali ia menjadi milik seorang pahla!an, atau seorang budak, atau *ak uru yang mengajar anak-anak bernyanyi - tetapi manakah yang lebih deras denyutnya, jantung manusia atau arloji yang biasa menghitung naas kita2, ketika seorang membayangkan sepu(uk pestol tera(u ke arahnya #tau tak usah saja kita namakan apa-apa$ kau pun sibuk mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo terjaga.

Seandainya - 191 KARTU POS BERGAMBAR JEMBATAN -GOLDEN GATE- SAN .RAN$IS$O +al.32 kabut yang likat, dan kabut yang pupur  lekat dan grimis pada tiang-tiang jembatan matahari menggeliat dan kembali gugur  tak lagi di langit; berpusing di pedih lautan. 191 /0am1a2an  Hujan bulan juni  Datang lagi tanpa permisi menghujam kerontanya bumi membisiki jelaga hati absurd, katamu  sentimentil, paparku kabuti sembabku, malam tadi... JANGAN $ERITAKAN +al.3:2  bibir-bibir bunga yang pe(ah-pe(ah mengunyah matahari,  jangan (eritakan padaku tentang dingin yang melengking malam-malam - lalu mengembun 191 TULISAN DI BATU NISAN +al.392 tolong tebarkan atasku bayang-bayang hidup yang lindap kalau kau ber8iarah ke mari tak tahan rasanya terkubur, megap di ba!ah terik si matahari

191 MATA PISAU +al.402 mata pisau itu tak berkerjap menatapmu$ kau yang baru saja mengasahnya  berpikir' ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam$ ia berkilat terbayang olehnya urat lehermu. 191 TENTANG MATAHARI +al.412 \"atahari yang di atas kepalamu itu adalah balon gas yang terlepas dari tanganmu !alau kau ke(il, adalah bola lampu yang ada di atas meja ketika kau menja!ab surat-surat yang teratur kauterima dari sebuah #lamat, adalah jam !eker yang berdering saat kau bersetubuh, adalah gambar bulan yang dituding anak ke(il itu sambil berkata' >&ni matahari; &ni matahari;> - \"atahari itu &a memang di atas sana supaya selamanya kau menghela  bayang-bayangmu itu. 191 BERJALAN KE BARAT #AKTU PAGI HARI  +al.42 !aktu aku berjalan ke barat di !aktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah men(iptakan  bayang-bayang aku dan bayanng-bayang tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang harus  berjalan di depan 191

$AHAYA BULAN TENGAH MALAM +al. 432 aku terjaga di kursi ketika (ahaya bulan jatuh di !ajahku dari genting ka(a adakah hujan sudah reda sejak lama masih terbuka koran yang tadi belum selesai kuba(a terjatuh di lantai$ di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan ana 191 NAR$ISSUS +al. 442 seperti juga aku' namamu siapa, bukan  pandangmu bening di permukaan telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita ber(inta  jangan saja aku men(apaimu dan kau padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun dan jatuh di telaga' pandangmu berpendar, bukan (emaskah aku kalau nanti air hening kembali (emaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi 191 $ATATAN MASA KE$IL% ' +al. 452 &a menjenguk ke dalam sumur mati itu dan nampak garis-garis  patah dan berkas-berkas !arna perak dan kristal-kristal hitam yang pernah disaksikannya ketika ia sakit dan mengigau dan memanggil-manggil ibunya. \"ereka bilang ada ular menjaga di dasarnya. &a melemparkan batu ke dalam sumur mati itu dan mendengar suara yang pernah dikenalnya lama sebelum ia mendengar tangisnya sendiri yang pertama kali. \"ereka  bilang sumur mati itu tak pernah keluar airnya. &a men(oba menerka kenapa ibunya tidak pernah memper(ayai mereka. 191 $ATATAN MASA KE$IL% ( +al.462 &a mengambil jalan lintas dan jarum-jarum rumput  berguguran oleh langkah-langkahnya. @angit belum berubah

 juga. &a membayangkan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga lalu berpikir apakah burung yang tersentak dari ranting lamtara itu pernah menyaksikan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam-menerkam. @angit belum berubah juga. #ngin begitu ringan dan bisa melun(ur ke mana pun dan bisa menggoda laut sehabis menggoda bunga tetapi ia bukan angin dan ia kesal lalu menyepak sebutir kerikil. #da yang terpekik di  balik semak. &a tak mendengarkannya. #da yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalu tersangkut pada angin dan terba!a sampai ke laut tetapi ia tak mendengarkannya dan ia membayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir  hujan. &a sampai di tanggul sungai tetapi mereka yang  berjanji menemuinya ternyata tak ada. @angit sudah  berubah. &a memperhatikan ekor srigunting yang senantiasa  bergerak dan mereka yang berjanji mengajaknya ke seberang sungai belum juga tiba lalu menyaksikan butir-butir hujan mulai jatuh ke air dan ia memperhatikan lingkaran-lingkaran itu melebar dan ia membayangkan mereka tiba-tiba mengepungnya dan melemparkannya ke air. #da yang memperhatikannya dari seberang sungai tetapi ia tak melihatnya. #da. 191 $ATATAN MASA KE$IL%) +al.42 &a turun dari ranjang lalu bersujingkat dan membuka  jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan le!at memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam  jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata >biar kututup  jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya> 191

AKUARIUM +al.4:2 kau yang mengatakan' matanya ikan; kau yang mengatakan' matanya dan rambutnya dan  pundaknya ikan; kau yang mengatakan' matanya dan rambutnya dan  pundaknya dan lengannya dan dadanya dan pinggulnya dan pahanya ikan; >#ku adalah air,> teriakmu, >adalah ganggang adalah lumut adalah gelembung udara adalah ka(a adalah...> 19 SAJAK% '% +al.492 7egitulah, kami ber(akap sepanjang malam' berdiang pada suku kata yang gosok-menggosok dan membara. >/angan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain  putih panjang lalu mengun(i pintu kamar ini;> 7aiklah, kami pun ber(akap sepanjang malam' >etapi begitu (epat kata demi kata menjadi abu dan mulai  beterbangan dan menyesakkan udara dan...> 193 SAJAK% ( +al.502 elaga dan sungai itu kulipat dan kusimpan kembali dalam urat nadiku. +utan pun gundul. emikianlah maka ka!anan kijang itu tak mau lagi tinggal dalam sajak-sajakku sebab kata-kata di dalamnya berujud anak panah yang dilepas oleh Aama. emikianlah maka burung-burung tak betah lagi tinggal dalam sarang di sela-sela kalimat-kalimatku sebab sudah begitu rapat sehingga tak ada lagi tersisa ruang. inggal beberapa orang pemburu yang terpisah dari anjing mereka menyusur jejak darah, membalikkan dan menggeser setiap huru kata-kataku, men(ari binatang korban yang terluka pembuluh darahnya itu. 193

DI KEBUN BINATANG +al.512 Seorang !anita muda berdiri terpikat memandang ular  yang melilit sebatang pohon sambil menjulur-julurkan lidahnya$ katanya kepada suaminya, >#langkah indahnya kulit ular itu untuk tas dan sepatu;> @elaki muda itu seperti teringat sesuatu, (epat-(epat menarik lengan istrinya meninggalkan tempat terkutuk itu. 193 PER$AKAPAN MALAM HUJAN +al.52 +ujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan  payung, berdiri di samping tiang listrik. <atanya kepada lampu jalan, >utup matamu dan tidurlah. 7iar  kujaga malam.> ><au hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah$ asalmu dari laut, langit, dan bumi$ kembalilah, jangan menggodaku tidur. #ku sahabat manusia. &a suka terang.> 193 TELUR% ' +al.532 #da sebutir telur tepat di tengahtempat tidurmu yang putih rapih. <au, tentu saja, terkejut ketika pulang malam-malam dan melihatnya di situ. 7arangkali itulah telur yang kadang hilang kadang nampak di tangan tukang sulap yang kautonton sore tadi. 7arangkali telur itu sengaja ditaruh di situ oleh anak gadismu atau istrimu atau ibumu agar bisa tenteram tidurmu didalamnya. 193

TELUR% ( +al.542 dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap  burung semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari meme(ah udara dingin memun(ak ke lengkung langit menukik  melintas sungai merindukan telur  193 SEHABIS SUARA GEMURUH +al.552 sehabis suara gemuruh itu yang tampak olehku hanyalah tubuhmu telanjang dengan rambut terurai mengapung di permukaan air bening yang mengalir tenang - tak kau sahut panggilanku 193 MUARA +al.562 \"uara yang tak pernah pasti siatnya selalu mengajak laut  ber(akap. <alau kebetulan diba!anya air dari gunung, katanya, >&nilah lambang (inta sejati, sumber denyut kehidupan. ><alau hanya sampah dan kotoran yang dimuntahkan ia berkata, >entu saja bukan maksudku mengotori hubungan kita yang su(i, tentu saja aku tak menghendaki sisa-sisa ini untukmu. an ketika pada suatu hari ada bangkai manusia terapung di muara itu, di sana-sini timbul pusaran air, dan tepi-tepi muara itu tiba-tiba bersuara ribut, >idak; 7ukan aku yang memberinya isarat ketika ia tiba-tiba  berhenti di jembatan itu dan, tanpa memejamkan mata, membiarkan dirinya terlempar ke ba!ah dan, sungguh, aku tak berhak mengusutnya sebab bahkan lubuk-lubukku, dan juga lubuk-lubukmu, tidaklah sedalam...

193 SEPASANG SEPATU TUA +al.52 sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat  jalan berlumpur sehabis hujan - keduanya telah jatuh (inta kepada sepasang telapak kaki itu. yang kini menerka mungkin besok mereka diba!a ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat (inta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk  sampah itu dibuang dan dibiarkan membusuk bersama makanan sisa sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya  bisa mereka pahami berdua. 193 DI BANJAR TUNJUK% TABANAN +al.5:2  pemukul gendang itu membayangkan dirinya Aama yang mengiring Sita memasuki hutan  pemukul gendang itu membayangkan dirinya aruda yang men(engkeram Sita di antara kuku-kukunya  pemukul gendang itu membayangkan dirinya Aa!ana yang memperkosa Sita di aman Aaja ketika gong dipukul keras di tengah (erita ia tiba-tiba merasa beratus-ratus kera berlon(atan mengepungnya dan merobek-robek tubuhnya dan menguburkannya di  ba!ah tumpukan batu di dasar laut 193 SUNGAI% TABANAN +al.592 kami berhenti dan memandang ke arah sungai  para perempuan sedang menebarkan bibit-bibit kabut di arus yang ri(iknya terdengar dari kejauhan kami berteriak, >apa nama sungai itu>$ tetapi hanya ta!a mereka menyahut, berderai

dan ketika kami men(apai tepi sungai, para perempuan itu ternyata tak ada - dan kabut menutupi arus sungai sehingga kami tak tahu ia mengalir ke selatan atau utara KEPADA I GUSTI NGURAH BAGUS  +al.602 de!a telah men(iptakan butir-butir padi de!a telah men(iptakan bunga de!a telah men(iptakan gadis yang menjunjung untaian padi di kepala dan menyematkan bunga di telinga de!a akan berdiri di gerbang pura pada suatu hari nanti dan menegur perempuan yang berjalan le!at itu katanya'>perempuan tua, tumpuklah padimu di lumbung dan hanyutkan bunga itu di sungai$ biar  kuperintahkan orang-orang itu membuat api di tanah lapang agar terbakar sempurna jasadmu mengabu> 193 BOLA LAMPU +al.612 Sebuah bola lampu menyala tergantung dalam kamar. @elaki itu menyusun jari-jarinya dan bayang-bayangnya tampak bergerak didinding$ >&tu kijang,> katanya. >+ore;> teriak anak-anaknya, >sekarang harimau;> >&tu harimau.> +ore; &tu gajah, itu babi hutan, itu kera...> Sebuah bola lampu ingin memejamkan dirinya. &a merasa  berada di tengah hutan. &a bising mendengar hingar-bingar ka!anan binatang buas itu. &a tiba-tiba merasa asing dan tak diperhatikan. 193 PADA SUATU PAGI HARI  +al.62 \"aka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. &a ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa

 berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang  bertanya kenapa. &a tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk meme(ahkan (ermin membakar tempat tidur. &a hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. 193 BUNGA% ' +al.632 i2 7ahkan bunga rumput itu pun berdusta. &a rekah di tepi  padang !aktu hening pagi terbit$ siangnya (ua(a  berdenyut ketika nampak seka!anan gagak terbang  berputar-putar di atas padang itu$ malam harinya ia mendengar seru serigala. api katanya, >akut <ata itu milik kalian saja, para manusia. #ku ini si bunga rumput, pilihan de!ata;> ii2 7ahkan bunga rumput itu pun berdusta. &a kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bah!a tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan ter(ium bau sisa bangkai dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar  dan setelah api ... eriaknya, >&tu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia. #ku ini si bunga rumput' pilihan de!ata;> 195 BUNGA% ( +al.642 ma!ar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika

 pemiliknya memetiknya hari ini$ tak ada alasan kenapa ia ingin berkata jangan sebab toh !anita-!anita itu tak  mengenal isaratnya - tak ada alasan untuk memahami kenapa !anita yang selama ini rajin menyiramnya dan selalu menatapnya dengan pandangan (inta itu kini !ajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma pendar-pendar di permukaan kolam 195 BUNGA% ) hal.652 seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah ber!arna (oklat ketika ter(ium udara subuh dan terdengar  ketukan di pintu tak ada sahutan seuntai kuntum melati itu sudah kering$ !anginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu lalu terdengar seperti gema >hai siapa gerangan yang memba!a pergi jasadku> 195 PUISI $AT AIR UNTUK RIZKI +al.662 angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, >aku rindu, aku ingin mempermainkanmu.;> kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, >jangan  brisik, mengganggu hujan;> hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya, >lepaskan daun itu;> 195 LIRIK UNTUK LAGU POP +al.62  jangan pejamkan matamu' aku ingin tinggal di hutan yang gerimis - pandangmu adalah seru butir air tergelin(ir 

dari duri ma!ar begitu nyaring;2$ s!aramu adalah kertap bulu burung yang gugur begitu hening;2 aku pun akan meme(ahkan pelahan dan bertebaran dalam hutan$ berkilauan serbuk dalam kabut - naasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak begitu tajam;2 aku akan berhamburan dalam gerimis dalam seru butir air  dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek - ketika hutan mendadak gaib  jangan pejamkan matamu' 195 TIGA LEMBAR KARTU POS +al.6:2 B1B soalnya kau tak pernah tegas menjelaskan keadaanmu, tak pernah tegas mengakui bah!a harus menyelesaikan  perkaramu dengan-<u suratmu dulu itu entah di mana, tidak di antara  bintang-bintang, tidak di (elah a!an, tidak di sela-sela sayap malaikat masih <uingat benar' alamat-<u kautulis dengan sangat tergesa, <ubayangkan tanganmu gemetar, tanda bah!a ada yang lekas-lekas kausampaikan pada-<u BB kau di mana kini sebenarnya saja' pernahkah kautulis suara itu pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin ketika kaulihat bayang-bayang-<u yang tertinggal di kamarmu mungkin #ku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-<u, tak pernah ingat akan per(akapan <ita yang panjang perihal topeng yang tergantung di dinding itu  bagaimanapun #ku ingin tahu di mana kau kini B3B anakmu yang tinggal itu menulis surat, katanya antara lain, >...alamat-\"u kudapati di tong sampah, di antara surat-surat yang dibuang #yah$ hanya sekali ia pernah menyebut-nyebut nama-\"u, yakni ketika aku meraung

karena dihalanginya mengenakan topeng yang...> rupanya ia ingin mengajak-<u ber(akap tentang mengapa #ku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang tahunmu dulu itu siasatnya pasti siasatmu juga$ menatap tajam sambil menuduh bah!a kunayakun-<u sia-sia belaka 195 SANDI#ARA% ' +al.692 untuk Yudhis masih ada sebuah lampu panggung menyala$ jaga malam itu tertidur, lupa mematikannya enam ratus kursi kosong menonton sepi yang lebih perkasa dari (i(it kelela!ar   beberapa mikroon yang tergantung di panggung seperti mendengar kalimat yang tak boleh diu(apkan di tengah-tengah para tahanan yang berteriak-teriak itu, >#pakah sudah meyakinkan permainanku sebagai sipir   bisu ini, *aduka> seperti semakin lantang s!aranya - 196 SANDI#ARA% ( +al.02 untuk Putu Wijaya \"ula-mula adalah seorang lelaki tua di panggung, di atas kursi goyang. \"eja, kursi, kopi yang sudah dingin, lampu gantung, dan surat-surat bertebaran di lantai. 7ergoyang-goyang. &a bergoyang sambil mengutuk beberapa nama yang tak kita kenal, mengejek kursi dan surat-surat itu - dan kita keta!a \"endadak ia berdiri dan masuk - dari dalam ia memanggil-manggil nama, tanpa sahutan. <ursi masih  bergoyang-goyang. api kenapa kita keta!a

7ahkan ketika suaranya terdengar semakin serak dan lampu semakin redup - kursi itu tetap bergoyang. <ita,  penonton, harus pulang sebelum sempat lagi keta!a. 196 LIRIK UNTUK IMPRO*ISASI JAZZ +al.12 >Sayangku yang jauh, entah berapa kali telah kukelilingi taman kota ini$ telah tergolek di atas rumput, sobekan- sobekan kertas, embun, pe(ahan botol$ telah bermantel sinar bintang-bintang dan angin yang panjang naasnya$ aku tak pernah tidur, menunggumu. Si ua, yang suka le!at sambil meludah dan menanyakan !aktu itu, selalu mengatakan kau tak pernah mengingkari janjimu$ tapi anjing kampung yang matanya selalu mengantuk itu tak pernah menyahut siulanku;> &a merasa seperti menyusuri lingkaran tak menemukan bangku panjang. 19: YANG .ANA ADALAH #AKTU +al.2 ang ana adalah !aktu. <ita abadi' memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa >api, yang ana adalah !aktu, bukan> tanyamu. <ita abadi. 19: TUAN +al.32

uan uhan, bukan unggu sebentar, saya sedang keluar. 19:0 $ERMIN% ' +al.42 (ermin tak pernah berteriak$ ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terisak, meski apa pun jadi terbalik di dalamnya$  barangkali ia hanya bisa bertanya' mengapa kau seperti kehabisan suara 19:0 $ERMIN% ( +al.52 mendadak kau mengabut dalam kamar, men(ari-(ari dalam (ermin$ tapi (ermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di ka(a, kalau kau mendadak menetes dan teper(ik ke mana-mana$ dan (ermin menangkapmu sia-sia 19:0 DALAM DIRIKU +al.62  Because the sky is blue  It makes me cry (he Beatles! dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya$ dalam diriku menggenang telaga penuh darah, sukma namanya$ dalam diriku meriak gelombang sukma, hidup namanya; dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya. 19:0

KUHENTIKAN HUJAN +al.2 <uhentikan hujan. <ini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi pelahan - ada yang berdenyut dalam diriku' menembus tanah basah, dendam yang dihamilkan hujan dan (ahaya matahari. ak bisa kutolak matahari memaksaku men(iptakan bunga-bunga. 19:0 BENIH +al.:2 >=intaku padamu, #dinda,> kata Aama, >adalah laut yang  pernah bertahun memisahkan kita, adalah langit yang senantisa memayungi kita, adalah ka!anan kera yang di gua <iskenda. etapi...,> Sita yang hamil itu tetap diam sejak semula, >kau telah tinggal dalam sangkar  raja angkara itu bertahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya, kau bukan lagi rahasia baginya.> Sita yang hamil iru tetap diam' pesona. >etapi Aaksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang menjadikanmu, apakah ia juga yang membenihimu, apakah...> Sita yang hamil itu tetap diam, mn(oba menasirkan kehendak para de!a. 19:1 DI TANGAN ANAK\"ANAK +al.92 i tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk kepada gelombang, menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan$ di mulut anak-anak, kata menjelma <itab Su(i.

>uan, jangan kauganggu permainanku ini.> 19:1 DI ATAS BATU +al.:02 ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memer(ik ke sana ke mari ia pandang sekeliling' matahari yang hilang timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor (apung - ia ingin yakin ia benar-benar berada di sini 19:1 ANGIN% ) +al.:12 >Seandainya aku bukan ...> api kau angin; api kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar, menyusup di (elah-(elah jendela, bekelebat di pundak   bukit itu >Seandainya aku ...> api kau angin; ?aasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang  perselisihan antara (ahaya matahari dan !arna-!arna  bunga >Seandainya ...> api kau angin; /angan menjerit' semerbakmu memekakkanku. 19:1 $ARA MEMBUNUH BURUNG +al.:2  bagaimanakah (ara membunuh burung yang suka be rkukuk   bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak 

kita belum dilahirkan itu soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berki(au setiap pagi melon(at dari (ahaya ke (ahaya di sela-sela ranting pohon jambu ah dunia diantara bingkai  jendela;2 soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian soalnya ia baka 19:1 SIHIR HUJAN +al.:32 +ujan mengenal baik pohon, jalan dan selokan - s!aranya bisa di beda-bedakan$ kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela. \"eskipun sudah kaumatikan lampu. +ujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh !aktu menangkap !ahyu yang harus kaurahasiakan. 19:1 METAMOR.OSIS +al.:42 ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu mendudukkanmu di depan (ermin, dan membuatmu  bertanya, >tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini> ada yang sedang diam-diam menulis ri!ayat hidupmu, menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu - ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu 19:1 PERAHU KERTAS +al.:52

aktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kaulayarkan di tepi kali$ alirnya sangat tenang, dan  perahumu bergoyang menuju lautan. >&a akan singgah di bandar-bandar besar,> kata seorang lelaki tua. <au sangat gembira, pulang dengan  berbagai gambar !arna-!arni di kepala. sejak itu kau  pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu. #khirnya kau dengar juga pesan dari Si ua itu, ?uh, katanya, >elah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah  bukit.> 19:1 KAMI BERTIGA +al.:62 dalam kamar ini kami bertiga' aku, pisau, dan kata - kalian tahu, pisau barulah pisau kalu ada darah di matanya tak peduli darahku atau darah kata 19: TELINGA +al.:2 >\"asuklah ke telingaku,> bujuknya. ila' ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apapun se(ara terperin(i - setiap kata, setiap huru,  bahkan letupan dan desis yang men(iptakan suara. >\"asuklah,> bujuknya. ila; +anya agar bisa menasir sebaik-  baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada dirinya sendiri. 19:

TOPENG +al.::-:92 untuk Danarto B1B &a gemar membuat topeng. ikupasnya !ajahnya sendiri satu demi satu dan digantungkannya di dinding. >#ku ingin memainkannya,> kata seorang sutradara. \"alam hari, ketika lakon dimainkan, ia men(ari !ajahnya sendiri di antara topeng- topeng yang mendesah, yang berteriak, yang mengaduh' tapi tak ada. ernyata ia masih harus mengupas !ajahnya sendiri satu demi satu. BB >i mana topengku> tanyanya, entah kepada siapa. alam kamar rias' (ermin retak, pemerah  pipi, dan bedak ber(e(eran di mana-mana$ dan tak ada topeng. >imana topengku> tanyanya. egangan listrik yang rendah, sarang laba-laba di langit-langit, dan obat penenang di telapak tangan. ak ada topeng itu. \"ungkin maksud sutradara' Sang iran harus men(iptakan topeng dari !ajahnya sendiri B3B api topeng tak boleh menjelma manusia$ ia, tentu saja, haal sabda raja dan sekarat hulubalang. &a kenal benar sorot mata dan debar jantung penonton. &a, ya #llah, tak pernah ter(antum dalam buku a(ara, tak menerima upah, dan digantung saja di dinding  jika lakon usai. inggal berdua di belakang panggung yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya.

&a tak berhak menjelma manusia. 19:5 TOPENG +al.::-:92 untuk Danarto B1B &a gemar membuat topeng. ikupasnya !ajahnya sendiri satu demi satu dan digantungkannya di dinding. >#ku ingin memainkannya,> kata seorang sutradara. \"alam hari, ketika lakon dimainkan, ia men(ari !ajahnya sendiri di antara topeng- topeng yang mendesah, yang berteriak, yang mengaduh' tapi tak ada. ernyata ia masih harus mengupas !ajahnya sendiri satu demi satu. BB >i mana topengku> tanyanya, entah kepada siapa. alam kamar rias' (ermin retak, pemerah  pipi, dan bedak ber(e(eran di mana-mana$ dan tak ada topeng. >imana topengku> tanyanya. egangan listrik yang rendah, sarang laba-laba di langit-langit, dan obat penenang di telapak tangan. ak ada topeng itu. \"ungkin maksud sutradara' Sang iran harus men(iptakan topeng dari !ajahnya sendiri B3B api topeng tak boleh menjelma manusia$ ia, tentu saja, haal sabda raja dan sekarat hulubalang. &a kenal benar sorot mata dan debar jantung penonton. &a, ya #llah, tak pernah ter(antum dalam buku a(ara,

tak menerima upah, dan digantung saja di dinding  jika lakon usai. inggal berdua di belakang panggung yang ditinggalkan, sutradara tak juga menegurnya. &a tak berhak menjelma manusia. 19:5 HUJAN BULAN JUNI +al.902 tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak  dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih ari dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak teru(apkan diserap akar pohon bunga itu 19:9 AKU INGIN +al.912 aku ingin men(intaimu dengan sederhana' dengan kata yang tak sempat diu(apkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin men(intaimu dengan sederhana' dengan isyarat yang tak sempat disampaikan a!an kepada hujan yang menjadikannya tiada. 19:9 SAJAK\"SAJAK EMPAT SEUNTAI +al.92 B1B kukirim padamu beberapa patah kata

yang sudah langka -  jika suatu hari nanti mereka men(apaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku BB ruangan yang ada dalam sepatah kata ternyata mirip rumah kita' ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana - hanya saja kita diharamkan menasirkannya B3B  bagi yang masih per(aya pada kata' diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya - tapi kapan kita pernah memahami laut memahami api yang tak hendak surut B4B apakah yang kita dapatkan di luar kata' taman bunga ruang angkasa di taman, begitu banyak yang tak tersampaikan di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan B5B apa lagi yang bisa ditahan beberapa kata  bersikeras menerobos batas kenyataan - setelah men(apai seberang, masihkah bermakna,  bagimu, segala yang ingin kusampaikan B6B dalam setiap kata yang kauba(a selalu ada huru yang hilang - kelak kau pasti akan kembali menemukannya di sela-sela kenangan penuh ilalang 19:9 DI RESTORAN hal.932 <ita berdua saja duduk. #ku memesan ilalang panjang dan bunga rumput - kau entah memesan apa. #ku memesan  batu di tengah sungai terjal yang deras - kau entah memesan apa. api kita berdua saja, duduk. #ku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya,

memesan rasa lapar yang asing itu. 19:9 DALAM DOAKU +al.942 dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima (ahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pu(uk-pu(uk (emara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan  pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga  jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat pelahan dari nun di sana, bersinjingkat di jalan ke(il itu, menyusup di (elah-(elah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku aku men(intaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai keselamatanmu 19:9

PADA SUATU HARI NANTI +al.952  pada suatu hari nanti  jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri  pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati  pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huru sajak ini kau takkan letih-letihnya ku(ari 1991 SITA SIHIR +al.962 erbebas juga akhirnya aku - entah dari (akar aruda atau lengan asamuka Sendiri di menara tinggi, kusaksikan di atas' langit yang tak luntur dingin birunya$ dan di ba!ah' api yang disulut Aama -  berkobar bagai rindu abadi >erjunlah, Sita,> bentak-\"u, >agar udara,air, api, dan tanah, kembali murni.> api aku ingin juga terbebas dari sihir Aama. 1990

BATU +al.9-9:2 B1B #ku pun akhirnya berubah menjadi batu. <au pahatkan, >i sini istirah dengan tenteram sebongkah batu, yang jauh, berlabuh di bandar-  bandar besar, dan dikenal di delapan penjuru angin$ akhirnya ia pilih kutukan, ia pilih ketenteraman itu. i sini.> etapi kenapa kaupahat juga dan tidak kaubiarkan saja aku sendiri, sepenuhnya BB /angan kaudorong aku ke atas bukit itu kalau hanya untuk berguling kembali ke lembah ini. #ku tak mau terlibat dalam helaan naas, keringat, harapan, dan sia-siamu. /angan kau dorong aku ke bukit itu$ aku tak tahan digerakkan dari diamku ini. #ku batu, dikutuk untuk tenteram. B3B i lembah ini aku tinggal menghadap jurang, men(oba menasirkan rasa haus yang kekal' ketenteraman ini, sekarat ini. 1991

MAUT +al.992 maut dilahirkan !aktu ajar  ia hidup dari mata air$ itu sebabnya ia tak pernah mengungkapkan seluk-beluk karat yang telah mengajarinya bertarung mela!an hidup$ ia juga takkan mau menja!ab teka-teki senjakala yang telah mengnahbiskannya menjadi penjaga gerbang itu maut men(intai ajar  dan mata angin, dengan tulus 1991 HUJAN% JALAK% DAN DAUN JAMBU +al.1002 +ujan turun semalaman. *aginya  jalak berki(au dan daun jambu bersemi$ mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba tahu kapan harus berbuat sesuatu agar kita, manusia, merasa bahagia. \"ereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia. 199 AJARAN HIDUP +al.1012 hidup telah mendidikmu dengan keras agar bersikap sopan - misalnya buru-buru melepaskan topi atau sejenak menundukkan kepala -  jika ada jena8ah le!at


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook