Sedotani Si Ratu Sampah John Frederic C. Bugayong Louie “Weng” N. Daguison
Campuran bau dari makanan basi, kulit sayuran busuk, bangkai binatang, dan sampah-sampah lain dari manusia mewarnai kehidupan di Kerajaan Calajunan. Di sini, kita bisa menemukan berbagai macam sampah dan ratu mereka, Sedotani. Sedotani, merah warnanya dengan panjang satu setengah tapak tangan, terbuat dari plastik. Dia sombong karena berasal dari kedai kopi yang terkenal di kota. 1
“Setelah manusia menggunakan kita, mereka mencampakkan kita di sini, tanpa tujuan dan terlupakan!” omel Ratu Sedotani. “Tetapi, Yang Mulia, sekarang ada orang yang mengumpulkan kita untuk didaur ulang,” jawab salah satu botol plastik. 2
“Ya, betul. Tetapi, masih banyak yang tidak tahu bagaimana memisahkan sampah mereka dan tidak mematuhi hukum dan peraturan,” ujar Ratu Sedotani. “Dari pengamatan saya, manusia lambat laun berubah, yang terhormat Ratu,” ujar seonggok remasan kertas. Sampah yang lain setuju dan menganggukkan kepala. 3
“Itu tidak benar! Aku akan membuktikan kepada kalian semua bahwa manusia belum berubah!” Ratu bersikeras. 4
“Apa yang akan engkau lakukan, yang terhormat Ratu?” tanya sekaleng sarden berkarat. “Aku akan membalas dendam agar manusia menyadari betapa tangguhnya kita!” seru Ratu Sedotani. Tawa jahatnya terdengar di seluruh penjuru wilayah Kerajaaan Calajunan. 5
Guna melaksanakan rencananya, Sedotani berangkat ke kota untuk membuktikan bahwa manusia masih belum berubah. Sedotani memulai dari tong sampah di dekat kedai kopi tempat dia berasal. Di sana, dia melihat sedotan-sedotan lain seperti dirinya. 6
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya sebuah sedotan putih. “Ikutlah denganku. Mari bersama-sama melawan manusia. Mereka masih tidak tahu cara memisahkan plastik dari sampah yang membusuk!” perintah Sedotani. 7
“Namun, kami tidak terbuat dari plastik. Kami terbuat dari kertas dan kertas bisa membusuk,” ujar sedotan putih yang lain. “Maksudmu manusia sudah tidak lagi menggunakan sedotan plastik seperti aku ini? ” tanya Sedotani keheranan. 8
“Iya. Sudah lumayan lama begitu. Lebih baik kamu pergi saja, karena semua yang ada di sini dapat membusuk,” tambah sedotan kertas yang lain. Sedotan yang lain mengusirnya pergi. Sedotani cuma tersenyum kepada mereka. Seulas senyum dari plastik, palsu. 9
Sedotani melanjutkan perjalanannya menyusuri kota. Ia melangkah menuju selokan. Ia tahu di situ biasanya sampah plastik akan terdampar dan menghalangi aliran air. “Kali ini aku yakin kawan-kawan plastikku ada di sini, lalu aku bisa membuktikan kalau manusia masih belum berubah,” kata Sedotani pada dirinya sendiri. 10
Wajah Sedotani pucat karena terkejut ketika melihat selokan itu sangat bersih. Air selokannya bersih dan mengalir lancar. Tidak ada satu pun sampah yang menyumbat atau mengambang di selokan. 11
Ketika Sedotani menengadah, ia melihat sebuah sebuah tanda peringatan yang digantung di tiang: “KOTA BEBAS PLASTIK.” Sedotani tersenyum kembali. Senyum dari plastik, palsu. 12
Badan plastik Sedotani terasa seperti meleleh atas apa yang ia temukan, tetapi ia tidak kehilangan harapan. Ia pergi ke pantai, tempat yang biasanya dipenuhi sampah. 13
Tiba-tiba, Sedotani menemukan sekumpulan anak-anak muda yang memunguti sampah di tepi pantai. Mereka tertawa dan berlomba-lomba untuk melihat siapa yang pertama kali memungut sampah. Mereka mengumpulkan botol dan kantong plastik, kaleng kecil, dan segala apa pun yang bisa digunakan kembali. Pada akhirnya, dengan marah, kecewa, dan sedih, Sedotani memutuskan untuk 14
mengakhiri perjalanannya dan kembali ke Calajunan. 15
Dalam perjalanannya kembali ke Calajunan, ia melewati sebuah tempat sedotan-sedotan plastik yang sudah digunakan sedang dicuci. Sedotan-sedotan yang baru saja dibersihkan berwarna warna-warni yang diubah menjadi tas-tas cantik, sandal, dan tikar. 16
Sedotani menghampiri mereka dan tersenyum. Seulas senyum yang tulus. 17
Buku ini dikembangkan sebagai bagian dari ABC+: Advancing Basic Education dalam proyek negara Filipina. ABC+ bekerja sama dengan USAID dan Department of Education, dilaksanakan oleh RTI International, bersama- sama dengan Asia Foundation, SIL LEAD, dan Florida State University. Lokakarya dan pengembangan profesional, bersamaan dengan penyuntingan dan desain buku ini, dilaksanakan dengan dukungan dari Hubon Manunulat, Kasingkasing Press, dan the Iloilo Museum of Contemporary Art. Buku ini ditinjau oleh Department of Education—Region VI sebagai jaminan kualitas. 18
Jika Anda menggandakan dan mendistribusikan karya ini secara keseluruhan, tanpa mengubah isi atau ilustrasi, mohon karya ini diberi keterangan seperti berikut: “Direproduksi dengan berdasar pada karya asli yang dikembangkan di bawah naungan ABC+: Advancing Basic Education dalam proyek negara Filipina dan menggunakan izin dari Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License.” Jika Anda melakukan penerjemahan atau adaptasi atas karya ini, mohon gunakan keterangan sebagai berikut: “Diadaptasi dari karya asli yang dikembangkan di bawah naungan ABC+: Advancing Basic Education dalam proyek negara Filipina dan menggunakan izin dari Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License.” 19
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, atau yang lebih dikenal dengan Badan Bahasa, adalah unit di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang ditugaskan untuk menangani masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia. Badan Bahasa memiliki misi untuk meningkatkan mutu kebahasaan dan pemakaiannya, meningkatkan keterlibatan 20
peran bahasa dan sastra dalam membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan, dan meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra, serta meningkatkan peran aktif diplomasi dalam internasionalisasi bahasa Indonesia. Badan Bahasa memiliki Unit Pelaksana Teknis di tiga puluh provinsi di Indonesia yang memiliki tugas dan fungsi melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra Indonesia. 21
Brought to you by Let’s Read is an initiative of The Asia Foundation’s Books for Asia program that fosters young readers in Asia and the Pacific. booksforasia.org To read more books like this and get further information about this book, visit letsreadasia.org
Original Story Sedotani Si Ratu Sampah. Author: John Frederic C. Bugayong. Illustrator: Louie “Weng” N. Daguison. Editor: Gil Montinola. Contributor: USAID’s ABC+: Advancing Basic Education in the Philippines. Published by The Asia Foundation - Let’s Read, © The Asia Foundation - Let’s Read. Released under CC-BY-NC-4.0. This work is a modified version of the original story. @ The Asia Foundation, 2021. Some rights reserved. Released under CC-BY-NC-4.0. For full terms of use and attribution, http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/ Contributing translators: Sekar Arum Fitrianing Titisari and Dhita Hapsarani
Search
Read the Text Version
- 1 - 24
Pages: