Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Buku Panduan Basic Design

Buku Panduan Basic Design

Published by Yustina Salonde, 2022-11-09 06:51:56

Description: Buku Panduan Basic Design

Search

Read the Text Version

2022 BUKU PANDUAN PENYUSUNAN DOKUMEN BASIC DESIGN PADA PEKERJAAN TERINTEGRASI RANCANG DAN BANGUN DIREKTORAT BINA PENATAAN BANGUNAN


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 3 LANDASAN HUKUM 4 PEKERJAAN TERINTEGRASI RANCANG 5 DAN BANGUN 8 DOKUMEN BASIC DESIGN ANALISIS DAN KONSEP ARSITEKTUR 16 ANALISIS DAN KONSEP STRUKTUR 21 ANALISIS DAN KONSEP MEKANIKAL, 31 ELEKTRIKAL DAN PLUMBING 36 DAFTAR PUSTAKA 1


KPEANTAGANTAR Kebutuhan akan ketersediaan infrastruktur semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini karena Pembangunan Infrastruktur menjadi salah satu kunci yang mendorong Pertumbuhan Ekonomi. Kementerian PUPR menjadi perpanjangan tangan Pemerintah untuk membangun Infrastruktur di seluruh Indonesia. Pengadaan pekerjaan konstruksi salah satunya dapat dilakukan secara terintegrasi rancang dan bangun (design dan build), yang berarti penyedianya memiliki satu kesatuan tanggung jawab perancangan dan pelaksanaan. Pekerjaan konstruksi dapat dilakukan dengan metode design and build apabila pekerjaan tersebut memenuhi kriteria pekerjaan kompleks atau mendesak. Salah satu dokumen pengadaan yang disyaratkan untuk pekerjaan terintegrasi rancang dan bangun adalah dokumen basic design. Dokumen basic design adalah dokumen perencanaan awal yang mengikat untuk dikembangkan di tahap pendetailan Detail Engineering Design (DED). Dalam buku panduan ini akan dijelaskan secara singkat lingkup dokumen basic design yang disyaratkan dalam PERLEM LKPP NO.21 tahun 2021 dan persyaratan perencanaan teknis bangunan gedung yang disyaratkan dalam PP No. 16 tahun 2021. Harapannya buku panduan ini dapat meningkatkan pemahaman stakeholder dalam penyusunan dokumen basic design. 2


LANDASAN HUKUM Peraturan Lembaga Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Melalui Penyedia Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2021 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Bangunan Gedung Hijau Peraturan SNI atau lainnya yang terkait: a. Geoteknik b. Arsitektur c. Struktur d. MEP 3


PEKERJAAN TERINTEGRASI RANCANG DAN BANGUN


Panduan Penyusunan Basic Design Rancang dan Bangun RANCANG DAN BANGUN (Design and Build) adalah seluruh pekerjaan PERLEM LKPP No.12 Tahun 2021 yang berhubungan dengan Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pembangunan suatu melalui Penyedia, pada Lampiran III bangunan yang tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Pekerjaan Konstruksi penyedianya memiliki satu Terintegrasi Rancang dan Bangun kesatuan tanggung jawab melalui Penyedia, mendefinisikan: perancangan dan pelaksanaan KRITERIA RANCANG DAN Pekerjaan Kompleks BANGUN Pekerjaan kompleks merupakan Kriteria Pekerjaan pekerjaan yang memenuhi kriteria: Rancang dan Bangun, yaitu: a. mempunyai risiko tinggi 1. Pekerjaan Kompleks; b. menggunakan teknologi tinggi atau c. menggunakan peralatan yang 2. Pekerjaan Mendesak didesain khusus d. memiliki kesulitan untuk didefinisikan secara teknis terkait cara memenuhi kebutuhan dan tujuan pengadaan; dan/atau e. memiliki kondisi ketidakpastian (unforeseen condition) yang tinggi 5


Panduan Penyusunan Basic Design Pekerjaan Mendesak PENETAPAN PEKERJAAN RANCANG DAN BANGUN: Pekerjaan mendesak merupakan pekerjaan yang memenuhi kriteria: Pekerjaan konstruksi Terintegrasi Rancang dan a. secara ekonomi dan/atau sosial Bangun ditetapkan oleh: memberikan nilai manfaat kepada masyarakat a. Menteri/Kepala pada K/L berdasarkan usulan dari b. segera dimanfaatkan; dan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya jika dana c. pekerjaan perancangan dan bersumber APBN pekerjaan konstruksi tidak cukup waktu untuk dilaksanakan secara b. Gubernur atau terpisah Bupati/Walikota jikan dana bersumber dari APBD Persyaratan Pengadaan Rancang dan Bangun Penyelenggaraan pengadaan pekerjaan konstruksi Terintegrasi Rancang dan Bangun harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Tersedia Konsultan Manajemen Konstruksi atau Tim Teknis sejak Persiapan Pengadaan sampai dengan serah terima hasil pekerjaan b. Tersedia dokumen yang paling sedikit berupa: Dokumen rancangan awal (Basic Design) Tersedia dokumen usulan DIPA atau DPA dari Pengguna Anggaran c. Tersedia alokasi waktu yang cukup untuk peserta tender menyampaikan dokumen penawaran yang ditetapkan oleh PPK dan dituangkan dalam dokumen pemilihan 6


Panduan Penyusunan Basic Design DOKUMEN RANCANGAN AWAL (BASIC DESIGN) Dokumen rancangan awal (basic design) yang disyaratkan dalam PERLEM LKPP No.12 tahun 2021, yaitu: 1 2 Data peta geologi teknis Referensi data penyelidikan lokasi pekerjaan tanah/geoteknik untuk lokasi terdekat dengan pekerjaan 3 4 Identifikasi dan kebutuhan Identifikasi dan alokasi Risiko lahan Proyek 5 6 Penetapan lingkup pekerjaan Gambar dasar, gambar secara jelas dan terinci, kriteria skematik, gambar potongan, desain, standar pekerjaan yang gambar tipikal, dan gambar berkaitan, standar mutu, dan lainnya yang mendukung ketentuan teknis PPK lainnya lingkup pekerjaan 7


DOKUMEN BASIC DESIGN


Panduan Penyusunan Basic Design Dokumen Rancangan BASIC DESIGN (BD) Awal (Basic Design) Dokumen basic design berisi Dokumen rancangan awal (basic konsep rancangan awal design) adalah salah satu dokumen persyaratan yang disusun dalam perencanaan yang nantinya penyelenggaraan pengadaan pekerjaan akan dikembangkan dalam Konstruksi Terintegrasi Rancang dan Bangun. tahap pendetailan Detail Engineering Design (DED) oleh penyedia jasa rancang bangun terintegrasi Isi dokumen Basic Design (BD) Ketentuan isi dokumen BD berdasarkan PERLEM LKPP No. 12 tahun 2021 dapat diuraikan sebagai berikut: 01 Data Peta Geologi Teknis Penetapan lingkup 02 Data Penyelidikan Tanah pekerjaan pada poin 03 Identifikasi dan Kebutuhan Lahan 04 Identifikasi dan Alokasi Risiko Proyek 6 (Arsitektur, 05 Album Gambar Basic Design Struktur, MEP, Infrastruktur Penetapan lingkup pekerjaan secara jelas dan terinci, kriteria desain, Kawasan) 06 standar pekerjaan yang berkaitan, menyesuaikan standar mutu, dan ketentuan teknis dengan Lingkup PPK lainnya Pekerjaan yang akan di bangun 9


Panduan Penyusunan Basic Design Data Peta Geologi Teknis Data Peta Geologi Teknis pada Informasi Geologi teknis yang tahap Basic Design (BD) yaitu dimaksud antara lain: menjelaskan informasi geologi teknis a. Stratigrafi serta memberikan kesimpulan dan b. Struktur Geologi saran terkait kondisi geologi di lokasi c. Geomorfologi pembangunan. CONTOH Stratigrafi 01 Tim Penyusun BD menguraikan formasi lapisan batuan penyusun di lokasi pembangunan berdasarkan data peta geologi. Penyelidikan geologi harus dilakukan apabila belum ada peta geologi di lokasi pembangunan. Struktur Geologi 02 Gambar 01. Peta Geologi - Formasi Batuan (Sumber: Dok. BD BPB) Tim penyusun BD menguraikan struktur geologi terkait potensi sesar/ patahan di lokasi pembangunan. Perlu juga dilakukan pemetaan yang lebih rinci dan pemboran untuk memperoleh penampang geologi dan potensi bencana alam. Geomorfologi 03 Gambar 02. Peta Geologi - Struktur Geologi (Sumber: Dok. BD BPB) Tim Penyusun BD menguraikan bentuk permukaan bumi atau bentang alam di lokasi pembangunan. Kesimpulan dan Saran 04 Selanjutnya dibuat kesimpulan Gambar 03. Peta Geomorfologi terkait informasi geologi teknis dan (Sumber: Dok. BD BPB) memberikan saran terhadap kondisi geologi di lokasi pembangunan. 10


Panduan Penyusunan Basic Design Identifikasi dan kebutuhan Lahan Kegiatan Identifikasi Lahan adalah Tujuan utama dari kegiatan salah satu tahapan penting dalam identifikasi lahan ini supaya penyusunan dokumen Basic Design perencanaan menyesuaikan dengan (BD). Pada tahapan ini Tim perecana kondisi aktual di lapangan. dokumen BD melakukan survei ke lokasi pembangunan untuk mendapatkan gambaran yang utuh terkait kondisi lahan aktual di lapangan. Kegiatan Survei Lokasi 01 02 Hasil Pengukuran site dan Topografi Kegiatan survei untuk identifikasi Hasil survei lapangan dalam dilakukan pada lahan yang akan dokumen basic design memuat: dibangun dan kondisi eksisting di sekitarnya. Survei awal dilakukan a. Kondisi eksisting lokasi dengan metode pegamatan langsung b. Gambar dan ukuran lahan dan pegambilan gambar udara c. Profil lahan berupa data kontur, (drone). Survei lanjutan perlu dilakukan untuk memperoleh data analisis topografi kelandaian profil lahan, geologi dan geoteknik. lahan, gambar potogan melintang lahan. CONTOH c Gambar 04. Dokumentasi Survei Lapangan D Gambar 05. Kondisi lahan dengan foto udara Gambar 06. Profil Lahan: Kelandaian dan Kontur Sumber: Dok. BD BPB 11


Panduan Penyusunan Basic Design Referensi Data Penyelidikan Tanah/ Geoteknik Penyelidikan tanah dalam tahap Laporan hasil penyelidikan tanah penyusunan Basic Design (BD) dalam dokumen BD, antara lain adalah untuk memperoleh gambaran memuat: awal terkait kondisi geoteknik di a. Lokasi, jenis dan Jumlah lokasi pembangunan khususnya nilai daya dukung tanah. Penyelidikan Penyelidikan Tanah tanah lanjutan dilakukan di tahap b. Tahapan penyelidikan tanah pendetailan DED sesuai dengan c. Hasil pengujian dan penyelidikan ketentuan SNI 8460:2017 tentang Persyaratan Perancangan Geoteknik. tanah d. Saran dan Masukan e. Dokumentasi penyelidikan tanah Lokasi, Jenis dan Jumlah 01 Jumlah titik pengeboran CONTOH ditentukan dalam KAK BD dan lokasi titik bor dipilih yang mampu Gambar 07. Jumlah titik pengeboran geoteknik merepresentasikan kondisi di (Sumber: Dok. BD BPB) lapangan. Jenis penyelidikan tanah, yaitu: a. Pemboran geoteknik dan pengambilan sampel batuan b. Uji N-SPT dan Uji Sondir c. Analisa laboratorium Mekanika Tanah dan Batuan. Diambil sampel tanah asli (disturb dan undisturb sample) d. Pengamatan muka air tanah Tahapan Penyelidikan Tanah 02 Menguraikan tahapan penyelidikan tanah yang dilakukan dengan mengikuti ketentuan SNI dan peraturan lainnya yang terkait penyelidikan tanah. Gambar 08. Pelaksanaan penyelidikan tanah 12 (Sumber: Dok. BD BPB)


Panduan Penyusunan Basic Design Hasil Pengujian dan 03 Penyelidikan Tanah CONTOH Hasil pengujian dan penyelidikan tanah memberikan informasi Gambar 08. Foto Corebox Borehole kondisi geoteknik di lapangan, (Sumber: Dok. BD BPB) sehingga tim penyusun BD dapat memberikan rekomendasi terkait: a. Jenis pondasi yang digunakan b. Batasan galian dan timbunan yang diizinkan c. Kelas situs untuk menentukan kriteria desain seismik Namun, rekomendasi ini harus dilakukan penyelidikan tanah lanjutan di tahap DED Saran dan Masukan 04 Tim penyusun dokumen BD memberikan saran dan masukan terkait hasil penyelidikan tanah yang diperoleh di tahap BD, selanjutnya menjadi catatan dan perhatian untuk tim penyelidikan tanah di tahap DED. Dokumentasi 05 Berisi foto-foto saat melakukan kegiatan penyelidikan tanah dan hasil dari penyelidikan tanah. Gambar 09. Data Sampel Bor Log (Sumber: Dok. BD BPB) 13


Panduan Penyusunan Basic Design Identifikasi dan Alokasi Risiko Proyek A. Identifikasi dan Alokasi Risiko Bencana Alam Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam. Berdasarkan jenis penyebabnya bencana alam dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Bencana alam geologi, seperti: Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, longsor, liquifaksi, dan sejenisnya b. Bencana alam morfologi, seperti: Banjir, angin puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan, dan sejenisnya Dalam dokumen Basic Design, tim perencana menguraikan identifikasi risiko bencana alam yang memberikan dampak terhadap bangunan gedung. Selanjutnya tim perencana memberikan saran dan rekomendasi untuk mengatasi risiko bencana alam tersebut. B. Identifikasi dan Alokasi Risiko Proyek Panduan penyusunan Risiko Proyek mengikuti PERMEN PUPR No. 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi Dalam dokumen BD, tim perencana melakukan identifikasi Risiko Proyek di setiap tahapan pekerjaan (Persiapan, pek. tanah, pondasi, struktur, arsitektur dan finishing) yang mungkin akan terjadi. Selanjutnya tim perencana memberikan penetapan pengendalian terhadap risiko proyek tersebut. 14


Panduan Penyusunan Basic Design Gambar Jenis gambar yang dibuat antara lain: Gambar dasar, gambar Tim Penyusun dokumen Basic skematik, gambar potongan, gambar Design (BD) membuat gambar tipikal, dan gambar lainnya yang sesuai dengan lingkup pekerjaan di mendukung lingkup pekerjaan. dokumen BD (Arsitektur, Struktur, MEP dan Infrastruktur Kawasan) Gambar tersebut disusun dalam satu dokumen Album Gambar Basic Design sebagai bagian dari dokumen BD. Standar Pekerjaan dan Standar Mutu Standar pekerjaan dan standar mutu Peraturan dan standar, antara lain: dalam penyusunan dokumen basic a. Undang - Undang design maupun nantinya di tahap b. Peraturan Pemerintah pendetailan DED, mengacu pada c. Peraturan Presiden peraturan dan standar yang berlaku. d. Peraturan Menteri Dalam dokume BD, tim perencana e. Surat Edaran Menteri mencantumkan peraturan dan standar yang berkaitan dengan f. Standar Nasional Indonesia (SNI) semua lingkup pekerjaan (Arsitektur, serta peraturan dan standar lainnya Struktur, MEP dan Infrastruktur yang berkaitan dengan lingkup Kawasan) pekerjaan di dokumen BD Spesifikasi Teknis Tim peyusun dokumen BD membuat spesifikasi teknis untuk masing-masing item pekerjaan. Spesifikasi Teknis disusun dalam satu dokumen Spesifikasi Teknis sebagai bagian dari dokumen BD. Dokumen KPPK a. Lingkup dan Keluaran Pekerjaan b. Kriteria Perancangan Dokumen Ketentuan Pejabat c. Kriteria Pelaksanaan Konstruksi Pembuat Komitmen (KPPK) juga d. Kriteria Pengujian Konstruksi menjadi salah satu dokumen yang e. Kriteria Penerimaan Konstruksi harus dibuat oleh tim penyusun dokumen BD. Dokumen KPPK 15 disusun terpisah dengan dokumen BD. Dokumen KPPK berisi antara lain:


ANALISIS DAN KONSEP ARSITEKTUR


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep Arsitektur Desain perencanaan Arsitektur b. Harus mempertimbangkan fungsi Bangunan Gedung (BG) memerlukan ruang, arsitektur Bangunan ide dan konsep kreatif dari Tim Gedung, dan keandalan Bangunan Perencana Basic Design. Gedung. Dalam PP No.16 tahun 2021 c. Mempertimbangkan terciptanya disebutkan ketentuan arsitektur ruang luar Bangunan Gedung dan Bangunan Gedung, diantaranya: ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras a. Penampilan BG harus dirancang dengan lingkungannya. dengan mepertimbangkan kaidah estetika bentuk, Secara garis besar, isi dokumen Basic karakteristik arsitektur, dan Design terkait Konsep dan Analisis lingkungan Arsitektur sebagai berikut: Konsep dan Analisis Arsitektur 01 Site dan Lahan 03 Interior Bangunan 05 Desain Universal Menjelaskan tampilan dan Menjelaskan lokasi pemilihan material interior Menjelaskan penerapan pembangunan serta kondisi bangunan. eksisting lahan. Desain desain universal yang diterapkan pada BG untuk arsitektur yang dibuat harus memberikan kemudahan bagi selaras dengan lingkungan dan adaptif terhadap topografi penyandang disabilitas dan yang berkebutuhan khusus: kontur untuk mengurangi ibu hamil dan lansia, seperti pekerjaan galian dan timbunan rambu dan marka, parkir, ram, tangga, lift, toilet, dll. 02 Massa dan tata ruang 04 Tampilan Fasad 06 Penerapan BIM dan Menjelaskan terkait desain Bangunan BGH massa bangunan dan desain tata ruang, dimana desain Menjelaskan tampilan fasad Menjelaskan dengan bukti sudah mempertimbangkan dan pemilihan material fasad perhitungan bahwa bangunan fungsi ruang, arsitektur BG, BG. Hal ini kaitannya dengan yang di desain sudah serta aspek keandalan BG. Kondisi kenyamanan termal memenuhi ketentuan Prinsip yang harus dipenuhi dalam BGH. Selain itu desain ruang. Tampilan fasad juga Arsitektur di tahap BD juga berpengaruh pada pandangan sudah harus menerapkan BIM dari dan ke dalam bangunan. 17


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep Site dan Lahan Dalam dokumen BD, beberapa hal yang diuraikan terkait analisis dan konsep Site dan Lahan, yaitu: a. Lokasi Perencanaan b. Konsep Zonasi dan Intensitas c. Konsep Tata Letak Kawasan d. Analisis Tapak Kawasan (grading) Lokasi Perencanaan 01 Dijelaskan letak lokasi pekerjaan CONTOH pembangunan serta kondisi lahan eksisting Gambar. Intensitas Bangunan Gedung (Sumber: Dok. BD BPB) Zonasi dan Intensitas 02 Gambar. Konsep Tata Letak Massa Bangunan Setiap bangunan yang direncanakan (Sumber: Dok. BD BPB) memenuhi ketentuan terhadap: a. Kepadatan dan Ketinggian bangunan gedung: KDB, KLB, KBG, KDH, KTB b. Jarak bebas bangunan gedung: GSB, jarak batas dengan batas persil, jarak antar Bangunan Gedung. Ketentuan terkait peruntukan dan Intensitas BG termuat dalam KRK. KRK didasarkan pada RDTR dan/ atau RTBL. Tata Letak dan grading 03 Bangunan di desain tanggap terhadap kondisi kontur untuk mengurangi pekerjaan galian dan timbunan. Selain itu harus menyediakan ruang terbuka hijau min. 30% 18


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep Desain Universal Dalam PP No.16 tahun 2021 menyebutkan bahwa Bangunan Gedung Negara (BGN) yang berfungsi untuk pelayanan umum harus dilengkapi dengan fasilitas yang memberikan Kemudahan bagi Penyandang Disabilitas dan yang berkebutuhan khusus antara lain lansia dan Ibu hamil, seperti rambu dan marka, parkir, ram, tangga, lift, kamar mandi, jalur pemandu. Desain ini disebut dengan Desain Universal. Dalam dokumen BD, tim perencana menjelaskan terkait: a. Prinsip desain Universal b. Penerapan desain universal yang diterapkan pada perencanaan bangunan gedung. CONTOH Gambar. Contoh Panduan desain Ramp (Sumber: Dok. BD BPB) Gambar. Implementasi Aksesibilitas Penyandang Difabilitas 19 (Sumber: Dok. BD BPB)


Panduan Penyusunan Basic Design Bangunan Gedung Hijau (BGH) PERMEN PUPR No. 21 tahun 2021 Bangunan Gedung Negara mendefinisikan BGH adalah Bangunan (BGN) dengan luas di atas Gedung (BG) yang memenuhi standar teknis BG dan memiliki kinerja terukur 5.000 m2 wajib secara signifikan dalam penghematan menerapkan prinsip-prinsip energi, air, dan sumber daya lainnya melalui penerapan prinsip BGH BGH Dalam perencanaan basic design menerapkan prinsip BGH serta menghitung dan menetapkan peringkat BGH (Pratama/Madya/ Utama) sesuai dengan pemenuhan nilai capaian penilaian kinerja BGH Ketentuan BGH Tahap Perencanaan Teknis Pengelolaan Pengelolaan Tapak air limbah Efisiensi Pengelolaan Penggunaan sampah Energi Penggunaan material ramah Efisiensi lingkungan Penggunanaa 20 Air Kualitas Udara dalam Ruang


ANALISIS DAN KONSEP STRUKTUR


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep Struktur Dalam PP No.16 tahun 2021, standar Dalam dokumen BD, lingkup perencanaan dan Peracangan pembahasan konsep dan Analisis Bangunan Gedung (BG) salah satunya struktur antara lain: terkait Ketentuan Keandalan BG yaitu : a. Pembebanan Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan b. Spesifikasi Material dan Kemudahan. c. Sistem Struktur Pada aspek Keselamatan BG salah d. Elemen struktur atas : Balok, kolom, satu ketentuan yang disyaratkan adalah kemampuan BG terhadap plat beban muatan yang diatur dalam e. Struktur bawah (Pondasi) pemenuhan sistem struktur BG, pembebanan struktur BG, material struktur dan konstruksi, serta kelaikan fungsi bangunan gedung. Konsep Struktur 01 Pembebanan 03 Sistem Struktur 05 Jenis Pondasi Menjelaskan beban-beban apa Menjelaskan gambaran terkait Menjelaskan jenis pondasi yang saja yang nantinya akan sistem struktur penahan gaya direkomendasikan berdasarkan bekerja selama umur layan lateral yang akan digunakan. hasil penyelidikan tanah yang bangunan gedung. Beban Sistem struktur yang dimaksud diperoleh. Perhitungan dan tersebut terdiri atas beban antara yaitu: Sistem Rangka pendetailan sistem pondasi gravitasi (beban mati dan Pemikul Momen (SRPM); Sistem akan dikembangkan pada tahap beban hidup) serta beban dinding geser; atau sistem ganda pendetailan DED. lateral (beban gempa dan (gabungan SRPM dan dinding beban angin) geser) 02 Spesifikasi Material 04 Balok, Kolom, Pelat Menjelaskan jenis material Menjelaskan hal-hal yang perlu yang akan digunakan dengan memperhatikan ketersediaan ditinjau dalam perencanaan balok, kolom dan pelat. material di lokasi, jangka Misalnya, batasan dimensi waktu pengerjaan, kondisi lingkungan. Jenis material minimum, kekuatan perlu, pemeriksaan terhadap yang umum digunakan: Beton lendutan, dsb. (Konvensional maupun precast), Baja, Kayu. 22


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Pembebanan Struktur Analisis pembebanan struktur diawali dengan menguraikan beban apa saja yang bekerja pada bangunan dan dilanjutkan dengan melakukan perhitungan Kombinasi Pembebanan. 01 Acuan SNI CONTOH SNI 1727:2020 tetang Beban Gambar. Contoh data beban mati dan beban hidup Minimum untuk Perencanaan (Sumber: Dok. BD BPB) bangunan gedung dan struktur lain 23 SNI 1726:2019 tetang Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung 02 Spesifikasi Material Ditentukan jenis material yang digunakan (Beton bertulang, baja atau kayu) Ditentukan syarat minimun kekuatan dari properties material yang akan digunakan. Misalnya untuk beton bertulang ditentukan kuat tekan beton minimum (f'c), tegangan leleh minimum (fy) tulangan baja. 03 Beban Gravitasi Beban gravitasi yang bekerja pada struktur, yaitu: a. Beban mati (Selfweight-DL), adalah berat struktur itu sendiri b. Beban mati tambahan (superimposed dead load-SIDL) adalah semua beban mati tambahan yang melekat pada struktur seperti dinding penutup, plafond, ducting AC, dll.


Panduan Penyusunan Basic Design c. Beban Hidup (live load-LL) adalah beban yang diakibatkan oleh pengguna dan penghuni gedung yang disesuaikan dengan Fungsi Bangunan Gedung tersebut. 04 Beban Lateral Gambar. Peta MCEg (Sumber: http://rsa.ciptakarya.pu.go.id/2021/) Beban lateral yang bekerja pada struktur, yaitu: Parameter yang digunakan untuk menentukan beban gempa, yaitu: a. Beban Gempa, besaran gempa Kategori risiko struktur rencana yaitu gempa dengan bangunan Faktor keutamaan gempa (Ie) periode ulang 2500 tahun dan Kelas Situs kemungkinan terlampaui sebesar 2% selama umur Nilai percepatan periode pendek (SDS) bangunan yaitu 50 tahun. Nilai percepatan periode 1 detik (S1) b. Beban Angin (Wind Load) 05 Kombinasi Pembebanan Kombinasi beban untuk metode ultimit sesuai dengan SNI 1726:2019 pasal 4.2.2.1 dilakukan untuk pengecekan struktur, komponen elemen struktur maupun pondasi. 05 24


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Struktur Tahan Gempa Bangunan gedung direncanakan harus Dalam perencanaan BD, tim memiliki struktur tahan gempa. Dalam perencana memberikan rekomendasi perencanaan dokumen BD, tim sistem struktur tahan gempa yang perencana menentukan parameter akan digunakan dan nantinya akan desain seismik yang akan digunakan didetailkan di tahap DED. dalam tahap pendetailan struktur di tahap DED. 01 Acuan SNI CONTOH SNI 1726:2019 tentang Tata cara Gambar. Potongan Bangunan perencanaan ketahanan gempa (Sumber: Dok. BD BPB) untuk struktur bangunan gedung dan non gedung 04 02 Sistem Pemikul Gaya Seismik Gambar. Peta Gempe MCER Gaya gempa yang diterima oleh (Sumber: Dok. BD BPB) bangunan didisipasi oleh sistem pemikul gaya seismik yang didesain pada bangunan tersebut. Dalam dokumen BD, perencana merekomendasikan Sistem pemikul gaya seismik diantaranya: a. Sistem Rangka Pemikul Momen b. Sistem Dinding Geser c. Sistem struktur ganda Sistem struktur yang dipilih nantinya harus dilakukan perhitungan ulang dan didetailkan di tahap DED 25


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Struktur Bawah Dalam dokumen basic design, tim Tim Perencana menguraikan beberapa perencana menguraikan jenis hal dalam dokumen BD, diantaranya: pekerjaan struktur bawah apa saja yang akan dikerjakan dalam a. Dasar pertimbangan dalam perencanaan bangunan gedung. penentuan jenis struktur bawah Dalam tahap basic design, tim b. Rekomendasi jenis struktur bawah perencana memberikan rekomendasi jenis struktur bawah yang akan c. Spesifikasi material yang digunakan digunakan dan dilakukan analisis dan pemodelan dalam tahap pendetailan d. Persyaratan desain yang DED. disyaratkan untuk selanjutnya digunakan dalam tahap DED CONTOH 01 Acuan SNI SNI 8460:2017 Persyaratan Perancangan Geoteknik 02 Pertimbangan Pemilihan Sistem struktur Bawah Dalam pemilihan sistem struktur Gambar. Contoh Detail Pondasi Bored Pile bawah bangunan gedung harus (Sumber: Dok. BD BPB) mempertimbangkan : a. Beban bangunan gedung b. Karakteristik tanah c. Daya dukung tanah d. Penurunan tanah e. Kedalaman tanah keras f. Kedalaman muka air tanah g. Dampak lingkungan sekitar Gambar. Detail Skematik Pile Cap (Sumber: Dok. BD BPB) 26


ANALISIS DAN KONSEP MEKANIKAL ELEKTRIKAL & PLAMBING


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep MEP Dalam PP No.16 tahun 2021 c. Sistem Penghawaan BG dijelaskan aspek keselamatan d. Sistem Pencahayaan BG Bangunan Gedung (BG) e. Sistem Pengelolaan air BG Perencanaan Mekanikal, Elektrikal f. Sistem Pengelolaan sampah BG dan Plambing (MEP) dalam dokumen g. Kenyamanan Kondisi udara BD secara garis besar menjelaskan: a. Ketentuan dan Kemampuan BG dalam Ruang h. Kemudahan hubungan ke, dari terhadap bahaya kebakaran b. Ketentuan dan Kemampuan BG dan di dalam BG terhadap Bahaya Petir dan Bahaya Kelistrikan Konsep dan Analisis MEP 01 Sistem Air Bersih dan 03 Sistem Pencegahan bahaya Sistem transportasi Pengelolaan air hujan kebakaran dan Proteksi Petir 05 dalam gedung Menjelaskan jumlah kebutuhan Menjelaskan sistem pencegahan Menjelaskan sarana air bersih, sumbernya serta bahaya kebakaran yaitu sistem transportasi yang sistem distribusi air bersih. proteksi pasif dan aktif yang direncanakan baik sarana Kemudian menguraikan sistem direncanakan di bangunan horisontal maupun vertikal. pengelolaan air hujan gedung. Selanjutnya menjelaskan berdasarkan data curah hujan jenis dan sistem pencegahan di lokasi tersebut. Air hujan proteksi petir yang direncanakan sebagian diolah untuk sesuai dengan data petir di lokasi dimanfaatkan di BG, sisanya bangunan. dialirkan ke saluran drainase. 02 Sistem Sanitasi dan 04 Sistem Elektrikal dan 06 sistem tata udara dan Limbah sistem pencahayaan sistem penghawaan Menjelaskan estimasi volume Menjelaskan sumber listrik, Menjelaskan sistem tata udara air limbah berdasarkan fungsi jumlah kebutuhan listrik yang direncanakan dan sistem bangunan. Kemudian berdasarkan data penggunaan penghawaan pada bangunan menjelaskan sistem listrik di bangunan. gedung. pengelolaan air limbah sehingga memenuhi ketentuan baku mutu air limbah. 28


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Air Bersih Perencanaan Sistem Air bersih pada Acuan Perencanaan: tahap basic design yaitu dengan SNI 03-7063-2005 tentang Tata menghitung estimasi jumlah Cara Perencanaan Sistem Plambing kebutuhan air bersih, menentukan SNI 8153-2015 tentang Sistem sumber air bersih, menentukan Plambing pada Bangunan Gedung sistem distribusi dan membuat gambar skematik. Jumlah Kebutuhan 01 Menghitung estimasi jumlah volume 02 kebutuhan air bersih (....m3/hari) berdasarkan gambar arsitektur terkait titik sanitary fixture yang direncanakan. Kebutuhan pemakaian air bersih dihitung saat kondisi rata-rata dan puncak (peak) Sumber Air Bersih Menentukan sumber air bersih yang akan CONTOH digunakan. Beberapa alternatif sumber air bersih yang digunakan antara lain: Air Gambar. Skematik Sistem Air Bersih Permukaan, PDAM, Air Hujan olahan, Air Tanah. Sistem Distribusi 03 Menentukan sistem distribusi air dalam bangunan gedung, diantaranya: a. Sistem sambungan langsung b. Sistem tangki atap c. Sistem tanpa tangki (booster system) Setelah itu dibuatkan gambar skematik sistem air bersih. Hal lain yang harus disebutkan dalam dokumen BD, yaitu: Jika menggunakan tangki penyimpanan air, maka kapasitas tangkinya harus disebutkan (...m3) Pada sistem pemipaan distribusi air bersih disebutkan ketentuan nilai: a. Kriteria kecepatan air: .....m/det b. Tekanan di fixture: ......kg/cm2 c. Tekanan static maksimal dalam pipa: .....kg/cm2 29


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Sanitasi dan Limbah Perencanaan Sistem Sanitasi dan Acuan Perencanaan: Limbah pada tahap basic design a. Permen PUPR No. 04/PRT/M/2017 yaitu menghitung estimasi volume air limbah, menjelaskan sistem tentang Penyelenggaraan Sistem pemipaan serta menentukan sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik pengelolaan air limbah. Desain b. Permen LHK No. tersebut dituangkan dalam gambar P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 skematik. tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik Volume Air Limbah 01 Volume air limbah dihitung berdasarkan 02 penggunaan harian orang di bangunan. Volume air limbah bisa juga dihitung berdasarkan nilai 70%-90% dari kebutuhan air bersih. Sistem Pemipaan Sistem pemipaan air limbah dialirkan lewat 03 Gambar. Toilet umum (Sumber: Google.com) pipa vertikal dan pipa horisontal. Gambar. IPAL Biotech(Sumber: Dok. BD BPB) Kemiringan pipa horisontal minimal 1-2%. Pipa air limbah dipisahkan menjadi tiga, 30 yaitu: a. Air bekas (grey water) berasal dari floor drain, lavatory, shower, janitor. b. Pipa air kotor (black water) berasal dari water closet, urinoir c. Pipa air bekas dapur berasal dari sink dapur, dialirkan ke grease trap dulu sebelum dialirkan ke IPAL Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik sebelum dibuang ke badan air harus diolah terlebih dahulu agar memenuhi baku mutu sesuai dengan Permen LHK. Pengolahan air limbah bisa dilakukan dengan membuat: a. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPAL-D) b. IPAL Biotech


Panduan Penyusunan Basic Design Konsep dan Analisis Sistem Pencegahan Bahaya Kebakaran Dalam PP. 16 tahun 2021, Ketentuan Pada tahap penyusunan basic teknis terhadap bahaya kebakaran design (BD), diuraikan ketentuan meliputi: teknis pencegahan bahaya a. Sistem Proteksi Pasif kebakaran sesuai dengan PP. 16 b. Sistem Proteksi Aktif tahun 2021 c. Manajemen Kebakaran Sistem Pecegahan Kebakaran 01 Dalam dokumen BD dijelaskan 02 Gambar. Alat proteksi kebakaran desain dan ketentuan Sistem (Sumber: Dok. BD BPB) proteksi kebakaran aktif pada gedung terdiri dari fire alarm, sprinkler otomatis, pipa tegak hydrant, Alat pemadam api ringan (APAR), serta fire suppresion system untuk proteksi kebakaran pada ruang server dan pada panel listrik utama. Pemadam Kebakaran Dalam dokumen basic design diuraikan: a. Akses keluar masuk mobil pemadam kebakaran ke bangunan, perlu disediakan radius putar yang cukup. b. Dihitung volume kebutuhan air untuk hydrant, disebutkan kapasitas penampungan GWT, disebutkan kapasitas pompa pemadam kebakaran. Sarana Penyelamatan 03 Gambar. Diagram Skematik Sistem Pemadam Kebakaran Aktif (Sumber: Dok. BD BPB) Harus disediakan sarana penyelamatan saat terjadi 31 kebakaran, antara lain: Tangga darurat dan fireman lift.


Panduan Penyusunan Basic Design Konsep dan Analisis Sistem Drainase Perencanaan sistem drainase dalam dokumen BD, diawali dengan mengumpulkan data curah hujan, melakukan perhitungan analisis debit banjir dan dimensi penampang saluran drainase. Konsep Drainase 01 Konsep sistem drainase mengacu pada konsep manajemen dan konservasi air yaitu bentuk upaya pemanfaatan dan penghematan sumber daya yang ada dengan cara: a. Menampung dan mengolah air hujan yang dapat dimafaatkan sebagai sumber air bersih dan air kebutuhan hydrant. b. Meresapkan air hujan Data Perencanaan 02 Besarnya debit air yang akan dialirkan lewat saluran drainase, secara umum bergantung pada data: a. Karakteristik daerah pengaliran b. Data Curah Hujan c. Metode analisis yang digunakan Gambar. Drainase berwawasan lingkungan (Sumber:https://maria.co.id/drainase-berwawasan-lingkungan/) 32


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Transportasi dalam Gedung Sarana sistem transportasi dalam Pada tahap penyusunan basic gedung, antara lain: Tangga, ram, lif, design (BD), ditentukan sistem tangga berjalan (eskalator), lantai sarana transportasi yang digunakan berjalan (moving walk). Penentuan dalam gedung, dicantumkan jenis sistem transportasi dalam spesifikasi teknis dari sistem bangunan gedung harus transportasi yang dipilih serta mempertimbangkan: dibuatkan gambar skematiknya. a. Jenis, jumlah, ukuran dan konstruksi sarana hubungan vertikal b. Fungsi dan Luas bangunan c. Jumlah pengguna dan pengunjung d. Keselamatan pengguna dan pengunjung Elevator (Lif) 01 02 Eskalator Perencanaan elevator dalam Perencanaan eskalator dalam dokumen BD mencantumkan: dokumen BD perlu dicantumkan: a. Jumlah dan ukuran elevator a. Jenis eskalator yang digunakan dengan melakukan perhitungan dan mencantumkan data Traffic Analysis Calculation teknisnya: Rise, lebar eskalator, sudut step eskalator, finishing, b. Kapasitas, kecepatan lif, waktu spesifikasi eskalator tunggu, handling capacity serta spesifikasi lif lainnya c. Dimensi ruang luncur (hoistway), spesifikasi lif Gambar. Diagram Komponen Lif dalam perencanaan BD 33 (Sumber: Dok. BD BPB)


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis Sistem Proteksi Petir Sistem proteksi petir bertujuan Ketentuan teknis bangunan gedung untuk mengurangi risiko kerusakan terhadap bahaya petir, yaitu: Bangunan Gedung dan peralatan a. Sistem proteksi petir eksternal, yang ada di dalamnya, serta melindungi keselamatan manusia meliputi: Terminal udara, yang berada di dalam dan/atau konduktor turun, pembumian, sekitar Bangunan Gedung dari sistem pengawasan sambaran petir. b. Sistem proteksi petir internal, merupakan proteksi peralatan elektronik terhadap arus petir. Kebutuhan Proteksi Petir 01 Dalam dokumen BD ditentukan kebutuhan proteksi petir dengan cara klasifikasi area tempat bangunan atau dengan perhitungan menggunakan parameter hari guruh dengan koefisien Ng, Nd, dan Ne. Sistem Proteksi Petir 02 Dalam dokumen BD diuraikan sistem proteksi petir yang direncanakan baik eksternal maupun internal, yaitu dengan menyebutkan materialnya, lokasi pemasangan serta menjelaskan alur kerjanya dan membuat gambar skematik. Gambar. Beberapa jenis penangkal petir (Sumber: Dok. BD BPB) Gambar. Diagram sistem proteksi petir 34 (Sumber: Dok. BD BPB)


Panduan Penyusunan Basic Design Analisis dan Konsep Sistem Pentanahan/ Pembumian Sistem pentanahan berfungsi untuk pengaman (perlindungan) terhadap manusia dari kemungkinan adanya tegangan sentuh yang melebihi batas maksimal (≤ 50 Volt), tegangan tembus (break down) dari tranformator sebagai sumber daya listrik. 01 Sistem Pentanahan/ Pembumian Dalam dokumen BD Perencana b. menjelaskan hal terkait: sistem pentanahan/ pembumian persyaratan untuk sistem mencantumkan: tegangan netral, pembumian a. Jenis sistem pembumian yang (pentanahan) proteksi, ikatan ekuipotensial proteksi direncanakan Gambar. Pemasangan sistem grounding Gambar. Diagram sistem grounding 35 (Sumber: Dok. BD BPB) (Sumber: Dok. BD BPB)


Panduan Penyusunan Basic Design Daftar Pustaka Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. (2021): Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2021 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah melalui Penyedia Pemerintah Republik Indonesia. (2021): Peraturan Pemerintah RI Nomor 16 tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksana UU nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung Direktorat Bina Penataan Bangunan (2022): Dokumen Basic Design Pembangunan Gedung dan Kawasan Kantor Kementerian Koordinantor 1 36


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook