VOLUME IV 18 AGUSTUS 2023 BERITA Agenda Ina HRS Hari Ini TERKINI Hari kedua pergelaran InaHRS 2023 pada Jumat, 18 Agustus 2023 tidak hanya diisi dengan simposium saja, melainkan juga berbagai DAFTAR ISI workshop, ECG Championship Final, serta acara Bring your ECG yang meningkatkan antusias para peserta. Agenda InaHRS hari ini Halaman 1 Workshop 1 - Anticoagulation in Atrial Fibrillation with Comorbidities Temuan Mutakhir Berbagai ilmu terhadap tatalaksana seputar fibrilasi atrium Manajemen Fibrilasi Atrium dan Antiaritmia Workshop 2 - Fit to Work Recommendations for Patients with Halaman 2 Arrhythmia Pilihan Terbaik untuk Mempelajari penerapan rekomendasi kebugaran untuk pasien aritmia Pasien Bradikardi dan Brady-Tachy Syndrome Pre-Symposium 1 - Antiarrhythmic Drugs for Everyday Usage Halaman 2 Mengintip serba-serbi pengobatan antikoagulasi untuk pasien dengan Kualitas Hidup Pasien fibrilasi atrium dalam berbagai kondisi Aritmia: Pemberian Antikoagulan dan Upaya Pre-Symposium 2: Current AF Management Technology Kembali Fit to Work Menelaah penerapan teknologi pada manajemen fibrilasi atrium oleh Halaman 3 narasumber internasional Belajar Penanganan Fibrilasi Atrium dari Join Symposium 1 - Device and Intervention Therapies for Heart Pakarnya Failure Halaman 3 Mengupas terapi-terapi yang saat ini banyak digunakan untuk Mengulik Terapi penatalaksanaan gagal jantung Kombinasi Melawan Gagal Jantung dan Join Symposium 2 - Atrial Fibrillation in Different Perspectives Fibrilasi Atrium Mengetahui berbagai pandangan perihal fibrilasi atrium oleh para Halaman 4 narasumber ECG Championship Halaman 5 Plenary Lecture - Atrial Fibrillation Management Investigasi EKG: Membedah Kasus-Kasus Opening Ceremony Menarik dari Berbagai Perayaan pembukaan rangkaian acara InaHRS 2023 Penjuru Indonesia Halaman 6 Symposium 1 - Bradycardia Mempelajari berbagai metode dan alat tatalaksana bradikardia Symposium 2 - Debate Session (Brady-Tachy Syndrome: Which One to Tackle First) Mendengarkan diskusi menarik terhadap penanganan pasien brady- tachy syndrome ECG Championship Final Menonton perlombaan babak final ECG Championship dalam membuka satu dekade dedikasi manajemen ritme jantung Bring Your ECG Menginvestigasi kasus EKG luar biasa bersama Halaman 1
Temuan Mutakhir Manajemen Fibrilasi Atrium dan Antiaritmia Kegiatan Pre-Symposium 1 & 2 Rangkaian kegiatan simposium The 10th Annual Scientific Meeting InaHRS dimulai pada hari kedua luring yang jatuh pada tanggal 18 Agustus 2023. Dua tema terkait kegiatan praktik klinis kardiologi dibagi dalam sesi Morning Symposium 1 dan 2. Masing-masing sesi mencakup 3 topik menarik yang dibawakan oleh pembicara ahli pada bidangnya. Morning symposium 1 membahas mengenai penggunaan antiaritmia terkini dalam praktik sehari-hari. Sesi ini dimulai dengan tema mengenali peranan calcium channel blocker (CCB) pada hipertensi dan aritmia dalam praktik sehari-hari oleh Doni Friadi, MD. Melanjutkan topik sebelumnya, Haryadi, MD menjelaskan tentang serba-serbi amiodaron secara umum. Materi kedua tersebut mencakup indikasi, cara kerja, manajemen, efek samping, hingga pembaruan dari obat tersebut pada berbagai jenis kasus. Terakhir, dibawakan materi pengenalan jenis-jenis, manajemen penggunaan, dan informasi terbaru perihal beta blocker oleh Ignatius Yansen, MD. Pada saat yang sama, berlangsung pula kegiatan Morning Symposium 2 yang dibawakan dalam bahasa Inggris. Morning Symposium 2 mengangkat tema teknologi manajemen fibrilasi atrium masa kini. Materi pertama dibawakan oleh pembicara asal Thailand, Tachapong Ngarmukos, MD, mengenai aritmia, strategi mutakhir ablasi fibrilasi atrium, serta metode untuk mengidentifikasi gap serta penerapan di Thailand. Agenda dilanjutkan dengan topik indikasi, prosedur, hingga komplikasi dari penutupan left atrium apendicular (LAA) pada berbagai subtipenya menggunakan metode terbaru oleh Muhammad Munawar, MD, PhD. Sesi ini diakhiri dengan topik eksplorasi berbagai perangkat elektronik yang dapat diberdayakan untuk skrining dini atrium fibrilasi masa kini dengan bantuan artificial intelligence serta kondisinya di Indonesia oleh Alexander Edo Tondos, MD. Tak lupa untuk mengikutsertakan dan memenuhi rasa ingin tahu peserta, kedua sesi morning symposium ini diakhiri dengan sesi diskusi tanya jawab sebelum berlanjut ke sesi join symposium berikutnya. Pilihan Terbaik untuk Pasien Bradikardi dan Brady-Tachy Syndrome Menilik lebih lanjut mengenai kasus bradikardia yang masih cukup sering dijumpai di masyarakat, para peserta antusias berpartisipasi dalam dua simposium yang diadakan secara paralel pada hari kedua luring InaHRS 2023. Kedua simposium dengan durasi selama kurang lebih 80 menit ini dibawakan oleh beberapa pakar kardiologi dari berbagai daerah di Indonesia Simposium pertama dengan tema bradikardi yang dimoderatori Chaerul Achmad, MD, PhD memberikan oleh Hermawan, MD dan Irnizarifka, MD menyuguhkan tiga pemaparan pada sesi debat simposium kedua presentasi dengan berbagai topik menarik. Topik pertama mengenai konsiderasi penggunaan MRI untuk pasien dengan alat pacu jantung oleh Abdul Raqib bin Abdul Ghani, MD. Presentasi kedua oleh Erika Maharani, MD membahas utilisasi ladder diagram terkait EKG untuk mengidentifikasi elektrofisiologi jantung pada pasien bradikardi dalam kasus sinus node dysfunction dan AV node dysfunction. Topik ketiga yang tak kalah menarik mengenai pacemaker-induced cardiomyopathy, konsep CRT untuk resinkronisasi pacu jantung, dan perkembangan berbagai sistem pacu jantung yang memberi banyak manfaat bagi pasien oleh I Made Putra Swi Antara, MD. Setelah presentasi, simposium ditutup dengan sesi tanya jawab. Simposium kedua menyuguhkan sesi debat mengenai variasi penanganan pasien Brady-Tachy Syndrome yang dimoderatori oleh Mohammad Iqbal, MD, PhD dan Anggia C. Lubis, MD. Sesi ini berlangsung cukup seru dan panas. Sesi pemaparan pertama oleh Muhammad Yamin, MD, PhD membeberkan penjelasan mengenai keunggulan ablasi kateter sebagai terapi lini pertama untuk pasien Brady-Tachy Syndrome yang juga menyebut bahwa pemasangan alat pacu jantung tidak menjamin pasien terbebas dari fibrilasi atrium. Di sisi lain, Chaerul Achmad, MD, PhD sebagai presenter kedua, memaparkan bahwa pemasangan alat pacu jantung masih menjadi opsi pertama dalam kasus Brady-Tachy Syndrome. Agenda berikutnya dilanjutkan dengan sesi sanggahan yang cukup sengit dari kedua pihak dan diskusi tanya jawab dari audiens. Terakhir, simposium ditutup dengan kesimpulan dari moderator yang menyebutkan bahwa pemasangan alat pacu jantung masih menjadi pilihan pertama berdasarkan guideline, tetapi penerapan ablasi kateter untuk pasien dengan Brady-Tachy Syndrome masih masuk akal dan dapat dipertimbangkan untuk pasien tertentu. Halaman 2
Kualitas Hidup Pasien Aritmia: Pemberian Antikoagulan dan Upaya Kembali Fit to Work Melanjutkan hari pertama kegiatan workshop yang dilaksanakan Pembukaan Workshop Upaya Kembali sehari sebelumnya, hari kedua workshop The 10th Annual Scientific Fit to work untuk Pasien Aritmia Meeting InaHRS dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2023 membawa dua tema dengan total 12 pakar sebagai pembicara yang ikut memeriahkan acara ini. Workshop 1 mengangkat tema pemberian antikoagulan pada pasien atrial fibrillation (AF) dengan komorbiditas. Sesi workshop ini dilengkapi dengan lima subtopik antara lain penjelasan mengenai skrining dan tatalaksana AF setelah stroke atau TIA akibat penyebab yang tidak diketahui menurut guideline ESO oleh Indah Aprianti Putri, MD; metode modern untuk diagnosis, penurunan stratifikasi risiko, dan tatalaksana modifikasi individu bagi pasien AF oleh Muzakir, MD, PhD; antikoagulan untuk pencegahan stroke pada pasien AF oleh Anggia C. Lubis, MD; peran penutupan apendiks sebagai pencegahan stroke bagi pasien AF oleh Agus Harsoyo, MD; dan hipoksemia akibat tidur pada pasien AF oleh Hauda El Rasyid, MD. Dilaksanakan pada waktu yang bersamaan, workshop 2 membahas mengenai rekomendasi standar bugar untuk kembali produktif bekerja bagi pasien aritmia. Kegiatan workshop ini terdiri dari 7 subtopik, yaitu hal-hal yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan bagi pasien aritmia oleh Ragil Nur Rosyadi, MD serta bagi pasien dengan Cardiac Implantable Electronic Devices (CIED) oleh Haikal, MD; prosedur rehabilitasi untuk kembali bekerja bagi pasien aritmia oleh Mega Febrianora, MD; rekomendasi untuk pekerja profesi risiko tinggi yang berfokus pada tenaga militer dengan kondisi aritmia oleh Adhantoro Rahadyan, MD; rekomendasi aeromedical untuk pasien aritmia oleh Yuliana, MD; mengupas berbagai jenis pekerjaan spesifik dengan kondisi aritmia oleh Raymos Parlindungan Hutapea, MD; dan rekomendasi bagi profesi atlet dengan kondisi aritmia oleh Inarota Laily, MD. Selama kegiatan berlangsung dilakukan dua kali sesi tanya jawab untuk menjawab pertanyaan dari peserta workshop dan satu kali sesi istirahat. Pada akhir kedua workshop, dilakukan sesi penutupan untuk seluruh rangkaian kegiatan workshop The 10th Annual Scientific Meeting InaHRS. Belajar Penanganan Fibrilasi Atrium dari Pakarnya Setelah mengisi tenaga di sesi lunch, rangkaian acara the 10th Annual Pemaparan Materi Fibrilasi Atrium oleh Scientific Meeting Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) 2023 hari Prof. Yoga Yuniadi, MD,PhD Jumat dilanjutkan dengan plenary session yang membahas mengenai manajemen fibrilasi atrium. Dalam sesi ini, Muhammad Munawar, MD, PhD dan Pipin Ardhianto, MD hadir sebagai moderator yang memandu pleno. Prof. Jan Steffel, MD, PhD diundang menjadi pemateri yang membuka sesi tersebut dengan membawakan topik mengenai edoxaban, yaitu sebuah obat golongan novel oral anticoagulant (NOAC). Edoxaban diketahui memiliki profil kemanjuran dan keamanan yang sangat baik. Kendati demikian, tidak ada satu jenis NOAC yang dapat menyelesaikan semua masalah, sehingga perlu banyak aspek yang dipertimbangkan untuk menggunakannya. Sesi pleno dilanjutkan dengan pemaparan topik oleh Prof. Jong-Il Choi, MD, PhD yang membahas tentang penanganan fibrilasi atrium pada pasien di Asia. Dalam materinya, beliau turut memaparkan bahwa edoxaban adalah pilihan optimal dari praktik klinis rutin untuk pencegahan stroke pada pasien Asia dengan fibrilasi atrium. Topik mengenai perkembangan kondisi fibrilasi atrium di Indonesia yang dibawakan oleh Prof. Yoga Yuniadi, MD, PhD menjadi penutup sesi pleno. Berdasarkan data yang disuguhkan, pasien fibrilasi atrium di Indonesia cenderung berusia lebih muda dibandingkan negara lain dengan risiko stroke sedang dan risiko perdarahan rendah. Seusai sesi pleno, rangkaian acara berikutnya, yaitu opening ceremony pun dimulai. Opening ceremony yang telah dipersiapkan dengan matang menjadi salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang berlangsung dengan syahdu. Acara dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan oleh Pipin Ardhianto, MD selaku Ketua Penyelenggara the 10th Annual Scientific Meeting InaHRS 2023, Sunu B. Rahardjo, MD, PhD selaku Ketua InaHRS, serta Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia (PERKI), yaitu Radityo Prakoso, MD. Terakhir, sambutan turut diberikan oleh Tachapong Ngarmukos, MD, yaitu Representative President APHRS. Acara pembuka tersebut semakin memukau dengan penampilan video yang mengajak para peserta untuk turut berinteraksi mengikuti jalan cerita yang disuguhkan. Berakhirnya video tersebut menjadikan acara the 10th Annual Scientific Meeting InaHRS 2023 resmi dibuka. Halaman 3
Mengulik Terapi Pemaparan materi oleh Muhammad Yamin, MD, PhD Kombinasi Melawan Gagal Jantung dan Fibrilasi Atrium Join Symposium 1 & 2 menghadirkan enam narasumber yang membawakan berbagai materi menarik. Ruangan pertama dipandu oleh moderator Chaerul Achmad, MD, PhD dan Muhammad Muqsith, MD dengan tema “Device & Intervention Therapies for Heart Failure.” Narasumber pertama, Muhammad Yamin, MD, PhD membawakan materi mengenai progres ICD/CRTD di Indonesia untuk 10 tahun kebelakang. Beliau menjelaskan perihal masalah penerapan teknik ICD/CRTD di Indonesia dari aspek biaya, sistem asuransi kesehatan, isu kurangnya pelatihan, dan kurangnya pusat implantasi secara merata. Walaupun demikian, CRT dan ICD telah dibuktikan efektif menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Sesi dilanjutkan dengan materi “Patient Selection in Implantable Cardioverter Defibrillator” oleh Beny Hartono, MD. Pemateri menjelaskan kepentingan terapi ICD di masyarakat untuk mengurangi mortalitas SCD. Pada pasien gagal jantung, ICD menjadi prevensi sekunder melalui polymorphic VT syncope dengan etiologi VT/VF yang diduga tinggi. Di sisi lain, seleksi pasien untuk prevensi primer menggunakan terapi ICD masih sulit dilaksanakan dengan adanya risiko dibalik keuntungan yang didapatkan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman lebih lanjut melalui pemeriksaan genetik, EP testing, dan cMRI untuk menelaah manfaat ICD. Narasumber terakhir di ruangan pertama, Giky Karwiky, MD, membawakan materi seputar resinkronisasi jantung. Disimfoni elektrik jantung banyak berasal dari blok cabang bundel yang paling lambat mengaktivasi bagian basal jantung. CRT merupakan tatalaksana yang efektif untuk pasien gagal jantung dengan disfungsi sistolik maupun keterlambatan konduksi listrik ventrikel. Namun, CRT bergantung dengan anatomy CS yang terkadang tidak memiliki pembuluh darah serta cabang yang akut sehingga tertendang. Dengan itu, banyak bermunculan metode implan terbaru seperti telescoping sheath. Simposium di ruangan kedua membahas “Atrial Fibrillation in Different Perspectives” dengan Ardian Rizal, MD dan Sumarni, MD sebagai moderator. Narasumber pertama adalah Antonia A. Lukito, MD, PhD yang membawakan materi berjudul “Unlocking Safety and Efficacy: Anticoagulant Strategies for Patients with Kidney Failure.” Materi dilanjutkan oleh Penayangan Pertanyaan Kasus ECG Championship Agung Fabian C., MD yang menjelaskan mengapa pasien dengan AF tidak direkomendasikan untuk melaksanakan terapi OAC. Beliau memaparkmaneldaeksfiannisi dan klasifikasi dari AF, sekaligus faktor risiko dan etiologi AF & stroke yang berasal dari virchow’s triad. Narasumber juga membahas mengenai perkembangan obat antikoagulan dari tahun 1992 hingga 2013 yang masing-masing memiliki profil keamanan berbeda-beda untuk tiap pasien. Narasumber terakhir, Budi Baktijasa Dharmadjati, MD, PhD, membawakan materi perbedaan terapi antitrombotik ganda dan rangkap tiga pada pasien penyakit arteri koroner (CAD) dengan fibrilasi atrium (AF). Sebagai konklusi, oral anticoagulant-OAC ditambah dengan single anti platelet lebih efektif dalam menyembuhkan pasien CAD dengan AF, dibandingkan dengan oral anticoagulant dan dual antiplatelet. Obat tersebut direkomendasikan untuk tidak dikonsumsi selama lebih dari 30 hari, dengan dosis aspirin kurang dari 100 mg setiap harinya. Halaman 4
Penayangan Skor Babak final ECG Championship menjadi salah satu agenda ECG Championship yang paling dinanti dalam rangkaian acara the 10th ASM Peserta ECG Championship InaHRS 2023 di hari Jumat ini. Babak final menyuguhkan Penayangan Pertanyaan persaingan sengit nan hangat dari para finalis. Fera Hidayati, ECG Championship MD dan Dian A. Munawar, MD, selaku pembawa acara dengan piawai mencairkan suasana babak final ECG Championship dengan riuh canda di sela-sela pertandingan yang diikuti oleh kelompok Allied Professional, sebelum diikuti kelompok General Practitioner dan Resident. Soal demi soal disuguhkan pada kelompok yang terus bersaing, dilengkapi klarifikasi dari panelis: Dony Yugo Hermanto, MD dan Haikal, MD. Antusiasme berseri dari seantero ruangan; riuh sorakan dan tepukan tangan meramaikan dinamisnya peringkat kelompok yang ditampilkan seusai tiap kelompok menjawab soal. Sebanyak 15 kasus ditampilkan kepada para finalis dari seluruh kategori: Allied Professional, General Practitioner, dan Resident. Ketatnya persaingan Allied Professional akhirnya dimenangkan oleh tim Overdrive dari Bandung yang berhasil menang dengan 597 poin, diikuti tim Arie-Weny-Bintang dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita dengan 573 poin. Pun dari sisi audiens, Jery menjadi pemenang dengan meraih 669 poin. Beralih ke kategori selanjutnya, finalis General Practitioner berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tim Fontaine yang telah unggul sedari awal memenangkan babak final dengan 917 poin, diikuti tim Delta dengan 885 poin. Sementara itu, Yoko dari audiens berhak mendapat hadiah dengan raihan 1026 poin. Tingkat kesulitan makin bertambah seiring berlanjutnya babak menuju kategori Resident. Alih-alih terdiri dari 3 tim layaknya kedua kategori sebelumnya, kategori ini diramaikan enam tim. Persaingan yang bertambah sengit membuat para finalis kian terpacu. Kemenangan tim UGM B dengan 773 poin dan tim Willis, Filemon, Stella dengan 769 poin pun menutup malam pertandingan. Babak final ECG Championship sukses menjadi suguhan yang berkesan bagi para finalis maupun audiens. Para panelis menerangkan tiap kasus secara komprehensif dengan bahasa yang mudah dimengerti, terbukti dari tingginya partisipasi audiens yang terus menimpali. Para peserta bahkan beramai-ramai berdiri demi mengikuti babak final ECG Championship ini. Dengan begitu, tak heran jika kompetisi ini menjadi agenda yang patut untuk dinantikan kembali di tahun-tahun yang akan datang. ECG Championship Halaman 5
BRING YOUR ECG! Investigasi EKG: Membedah Kasus-Kasus Menarik dari Berbagai Penjuru Indonesia Tidak terasa, mata acara Bring Your ECG telah sampai di Penayangan Pertanyaan Kasus ECG rangkaian acara terakhirnya. Sesuai namanya, para peserta Championship sebelumnya diajak untuk mengajukan kasus-kasus EKG menarik untuk dieksplorasi bersama panelis berpengalaman dan audiens TIM PENYUSUN lainnya. Seri terakhir ini diselenggarakan secara luring pada hari kedua The 10th Annual Scientific Meeting InaHRS, Jumat, 18 Chief Editor: Agustus 2023. Kasus-kasus terbaik dipilih dengan pertimbangan Taris Zahratul Afifah hati-hati dari kumpulan 56 kasus yang telah berhasil diajukan. Executive Producer: Setelah melewati pemilahan, terpilih 11 kasus untuk dibahas Keisha Annabel Garnette secara daring di dua sesi sebelumnya, Sabtu, 15 Juli dan Jumat, 28 Juli 2023. Hari ini tersisa empat kasus terbaik yang sudah siap Medical Writer: disuguhkan kepada audiens yang hadir langsung secara luring. Adinda Cattleya Azzahra Investigasi menyeluruh terhadap empat kasus elektrokardiogram Ariestiana Ayu Ananda Latifa diberikan, dengan tujuan menerangkan karakteristik individu Keisha Annabel Garnette masing-masing kasus dan konsekuensi diagnostik dari sifat-sifat Muhammad Rosyidan Rohman tersebut. Di bawah panduan Ragil Nur Rosyadi, MD yang kembali berperan sebagai moderator, diskusi berlangsung dinamis Savira Wijaya antara para panelis dan peserta yang antusias. Para pakar Viona Titania Riskikallail elektrofisiologi terkemuka yang terlibat sebagai panelis adalah Graphic Designer: Giky Karwiky, MD, Haikal, MD, dan Sumarni, MD. Aisha Putri Chairani Alifa Rahma Rizqina Bring Your ECG diawali oleh Chandra Kurniawan, MD yang Athira Marsya Khairina menyampaikan studi kasus EKG menarik mengenai pasien Ayu Saraswati wanita lansia berusia 86 tahun berjudul \"Never Underestimate Nabilla Luthfia Salwani Systematic ECG Analysis, When Benign Findings Leads to Lethal Arrhythmia\". Selanjutnya, Cynthia Yosephine Silitonga, MD naik panggung sebagai presenter kedua untuk membagikan studi kasusnya yang berjudul \"AV Dissociation with Preexcitation QRS Complex\". Kasus yang disampaikan mengenai seorang pasien dengan hipertiroid dan klinis bola mata protrusi. Setelah diskusi bersama panelis, tiba waktunya untuk presentasi ketiga tentang pasien wanita hipertensi berusia 71 tahun yang berjudul “Unusual EP Phenomena: Narrowing with Prematurity, What Is The Mechanism?” yang dilanjutkan dengan pembahasan dinamis antara presentan, Wingga Chrisna Aji, MD, dan panelis serta para peserta lainnya. Terakhir, rangkaian Bring Your ECG ditutup dengan dengan presentasi “Accelerated Idioventricular Rhythm with Isorhythmic AV Dissociation or Precipitation?” oleh Iswandi Darwis, MD tentang pasien laki- laki 54 tahun dengan Penayangan Pertanyaan Kasus ECG Championship riwayat NSTEMI. Halaman 6
Search
Read the Text Version
- 1 - 6
Pages: