Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore dimensi mindful

dimensi mindful

Published by annisan0006, 2022-04-15 16:35:00

Description: dimensi mindful

Search

Read the Text Version

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/333076987 EKSPLORASI MINDFUL TEACHING SEBAGAI STRATEGI INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN BAGI GURU PAUD Article · November 2015 CITATIONS READS 0 777 6 authors, including: Ega Asnatasia Maharani Ahmad Dahlan University 13 PUBLICATIONS   4 CITATIONS    SEE PROFILE Some of the authors of this publication are also working on these related projects: Kesiapan Sekolah View project All content following this page was uploaded by Ega Asnatasia Maharani on 14 May 2019. The user has requested enhancement of the downloaded file.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 EKSPLORASI MINDFUL TEACHING SEBAGAI STRATEGI INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN BAGI GURU PAUD Ega Asnatasia Maharani Dosen, PGPAUD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta [email protected] Guru memiliki peranan yang sangat kritis dalam membentuk iklim pembelajaran dan mendukung keberhasilan belajar peserta didik. Berbagai metode dan strategi telah dikembangkan untuk membantu guru menerapkan pembelajaran kelas yang efektif, akan tetapi pada praktiknya guru masih kesulitan mengimplementasikan konsep-konsep pembelajaran inovatif sehingga masih terikat pada pola-pola konservatif. Pendekatan berbasis mindfulness diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi permasalahan ini karena praktik mindfulness sangat berfokus pada penggunaan sumberdaya internal individu. Mindfulness merupakan pendekatan psikologis yang telah banyak dikembangkan dalam berbagai setting klinis dan non-klinis untuk membantu individu mengatasi stres, kecemasan, meningkatkan harga diri, produktivitas kerja, hingga penyembuhan penyakit-penyakit kronis. Dewasa ini mindfulness juga dapat dikembangkan ke ranah pendidikan salah satunya melalui strategi mindful teaching. Melalui 5 komponen utamanya yaitu (1) mendengarkan dengan penuh perhatian, (2) penerimaan tanpa penilaian terhadap diri sendiri dan anak, (3) kesadaran akan kondisi emosi diri dan anak, (4) regulasi diri dalam hubungan guru-siswa, dan (5) kasih sayang terhadap diri sendiri dan anak, guru dapat lebih meningkatkan kualitas hubungan dengan siswa dan menggunakan strategi pembelajaran dengan lebih efektif. Penggunaan mindful teaching juga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan psikologis guru yang rentan mengalami stres karena beban kerja yang tergolong tinggi. Kata Kunci: mindfulness, mindful teaching, strategi inovatif, pembelajaran AUD PENDAHULUAN tinggi sehingga rentan mengalami stress, Guru memiliki peranan penting burnout (Jennings & Greenberg, 2009), serta regulasi emosi yang rendah (Roeser et al, dalam menciptakan iklim sekolah yang 2012). Penelitian oleh Bauer et al (2006) juga menyenangkan dan berkualitas. Dewasa ini menemukan bahwa di negara-negara tanggung jawab guru di sekolah tidak hanya berkembang guru merupakan profesi yang sebagai pendidik akademik namun juga memiliki tingkat kelelahan emosi (burnout) sebagai figur yang membentuk kepribadian yang tinggi. Kondisi penuh tekanan ini siswa. Hal ini juga diperkuat oleh pandangan disebabkan tingginya target yang harus bahwa pendidikan merupakan jalur utama dipenuhi guru baik dari orangtua murid, untuk membentuk individu yang kompeten, institusi tempatnya bekerja, hingga berkarakter, dan menjadi sumber daya yang pemerintah, namun tidak dibarengi siap memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan diri yang memadai. perkembangan dunia. Peranan yang demikian kompleks ini di sisi lain berhadapan dengan Tingginya tekanan tersebut pada kenyataan bahwa guru merupakan salah satu akhirnya membawa konsekuensi logis profesi yang memiliki tingkat tekanan cukup lainnya: guru kesulitan menerapkan 152

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 pembelajaran yang efektif, terganggunya dengan penerimaan, dan bukannya bereaksi, kesejahteraan psikologis, hingga pencapaian terhadap pengalaman yang dialami dari waktu akademik siswa yang tidak sesuai harapan. ke waktu. Kata mindfulness sendiri dapat Menyikapi hal ini, guru sebaiknya memiliki diartikan sebagai konstruk psikologis, proses kemampuan kontrol diri yang lebih psikologis (being mindful), bentuk berkualitas sehingga apapun masalah yang psikoterapi, atau bentuk latihan yang dapat terkait proses pembelajaran maupun membentuk kondisi mindfulness (seperti kesehatan mental pribadi dapat diatasi secara latihan meditasi). mandiri. Menurut definisi operasionalnya, Para ahli filosofi, spiritual, hingga mindfulness adalah kapasitas untuk: (a) psikologi telah sepakat menggarisbawahi observing: kemampuan observasi dan pentingnya faktor kesadaran (consciousness) menyadari adanya pikiran, perasaan, persepsi, terhadap kesejahteraan diri dan tercapainya dan sensasi, (b) describing: mendeskripsikan fungsi manusia yang optimal (dalam Brown dengan kata-kata, (c) acting with awareness: & Ryan, 2003). Salah satu atribut kesadaran bertindak dengan penuh kesadaran, (d) yang telah banyak mendapat perhatian untuk nonreactivity: bersikap non-reaktif terhadap didiskusikan dan diteliti adalah mindfulness, pengalaman pribadi, dan (e) nonjudge: dimana konsep dasar mindfulness sendiri bersikap tanpa penilaian terhadap pengalaman adalah tahapan dimana individu mampu pribadi (Baer et al. 2006). Kemampuan memberi perhatian dan menyadari apa yang observasi (observing) merepresentasikan sedang terjadi saat ini tanpa bersikap reaktif kondisi dimana individu mampu secara sadar terhadap keadaan tersebut. menyadari segala pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh tanpa ikut terseret arus pikiran Berangkat dengan pemahaman bahwa tersebut. Kemudian secara bersamaan setiap manusia sehat memiliki kapasitas atas individu dapat mendeskripsikan (describing) kesadaran dirinya, maka penulis memiliki pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh tersebut asumsi : (1) mindfulness dapat diterapkan dan memberinya label (seperti: marah, dalam hubungan guru-siswa dalam bentuk tertekan, bahagia, gemetar, dll). Proses mindful teaching, dan (2) dengan mindful observing dan labelling ini harus berjalan teaching guru dapat menerapkan tanpa disertai sikap reaktif (non-reactivity) pembelajaran dengan lebih efektif dan dan penuh penilaian (non-judgemental), mampu mengatasi berbagai situasi penuh sehingga diharapkan individu dapat menerima tekanan yang berkaitan dengan profesi setiap pengalaman yang terjadi dengan sikap keguruannya. netral dan pada akhirnya dapat merespon peristiwa tersebut dengan penuh kesadaran. PEMBAHASAN Sebagaimana Hupert & Johnson (2010) juga Mindfulness dan ‘Habits of Mind’ menjelaskan bahwa menjaga kesadaran secara sengaja pada apa yang sedang terjadi saat ini Konsep mindfulness berakar dari memberi kesempatan pada individu untuk filosofi Buddha namun saat ini telah melihat dan mengalami peristiwa berkembang baik secara praktis maupun ‘sebagaimana adanya’ dan memilih teoritis dalam ranah Psikologi modern. Kabat- bagaimana cara meresponnya. Zinn (2003, h.145) mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran yang muncul Pada kenyataannya, kita sebagai akibat memberi perhatian terhadap sebuah manusia hanya memberi sedikit perhatian pengalaman saat ini secara disengaja dan pada pengalaman yang sedang kita alami; tanpa penilaian agar mampu merespon 153

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 sementara kesadaran akan pikiran dan keseharian. Atribut positif ini oleh sebagian perasaan justru teralihkan pada pengalaman eksternal lain, interaksi dengan orang lain, literatur disebut sebagai ‘habits of mind’ pemikiran akan masa lalu, ataupun ketakutan pada masa depan. Sebagian waktu kita (Roeser et al, 2012 ; Costa & Kallinick, 2011; berjalan dalam mode autopilot, dimana kita terperangkap dalam pengalaman dan bereaksi Jennings & Greenberg, 2009), yaitu secara otomatis, terutama ketika kita berada dalam situasi penuh tekanan. Kondisi kemampuan mengaktifkan semua indera semacam ini yang kemudian oleh Langer (Germer, Siegel, & Fulton, 2005) dalam memperoleh informasi, mampu didefinisikan sebagai mindlessness, yaitu saat dimana pikiran terperangkap dalam pola yang menyadari dan merefleksikan pengalaman dangkal sehingga tidak mampu memahami konteks suatu peristiwa secara utuh dan hanya tanpa bersikap penuh penilaian, mampu terfokus pada penilaian baik-buruk peristiwa tersebut. Kondisi mindlessness menyebabkan bersikap fleksibel dalam penyelesaian individu kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri karena tidak menyadari reaksi-reaksi masalah, mampu meregulasi emosi dan fisik yang menjadi alarm penyesuaian diri.. bertahan ketika mengalami kesulitan, dan Profesi guru dalam pendidikan usia dini merupakan peran yang sangat mampu menghadapi orang lain dengan penuh menantang. Guru PAUD dituntut terlibat secara fisik dengan kegiatan peserta didik empati dan kasih sayang. Tanpa adanya sehingga membutuhkan kesiapan fisik yang ‘habits of mind’ guru bisa saja kesulitan matang. Sangat jarang dalam praktik mengajarnya guru PAUD memiliki mencapai potensi maksimalnya dalam kesempatan untuk duduk dan beristirahat karena kondisi kelas cenderng terus bergerak menciptakan iklim yang supportif untuk dinamis. Rutinitas semacam ini tanpa disadari dapat membuat guru berada pada tahap pembelajaran siswanya (Jennings & mindlessness, yang menyebabkan timbulnya perasaan kehilangan kontrol terhadap kondisi Greenberg, 2009) kelas dan perasaan frustasi menghadapi Kemampuan ‘habits of mind’ peserta didiknya. Sementara di sisi lain guru PAUD juga dituntut sehat secara mental dan tersebut dapat dicapai salah satunya melalui emosional karena secara simultan harus terus menjaga kewaspadaan serta mencari cara praktik mindfulness , yang sebagaimana baru dalam proses pembelajaran siswa. Kebutuhan guru akan kesiapan fisik, mental, disebutkan oleh Hupert & Johnson (2010) dan emosional baik untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif maupun sebagai memerlukan tiga karakteristik mental yaitu: sumberdaya dalam mengatasi stres menunjukkan bahwa guru memerlukan suatu 1) secara sengaja memberi perhatian pada atribut positif yang dapat digunakan dalam saat ini dan disini; 2) menerima pengalaman saat ini dengan tenang, jelas, dan tulus; serta 3) mengalami setiap peristiwa sebagaimana adanya, tanpa dibiaskan oleh sikap reaktif dan penilaian. Melalui mindfulness, guru dapat mengatasi stress yang mungkin dialami ketika berhadapan dengan anak didik, orangtua, meupun rekan kerja dengan lebih responsif. Kabat-Zinn (2003) menyebutkan kesadaran yang muncul pada kondisi mindful akan membantu seseorang melihat situasi yang menekan secara lebih jelas, sehingga muncul sudut pandang baru dalam melihat permasalahan maupun alternatif pemecahannya Kondisi mindful akan memberikan kesadaran pada individu bahwa ia memiliki kontrol terhadap pilihan- pilihannya sehingga mendorong munculnya sikap responsif, bukannya reaktif terhadap situasi di sekitarnya. 154

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 Ketrampilan mindfulness juga dapat Di ranah pendidikan, praktik membantu guru dalam membentuk mindfulness juga dapat dikembangkan dalam pembelajaran yang efektif karena mindfulness konteks hubungan guru-siswa melalui mindful memiliki beberapa kualitas positif yang teaching. Menggabungkan mindfulness ke muncul secara sadar antara lain: tanpa dalam interaksi guru-siswa memberikan penilaian, tanpa pemaksaan, penerimaan, kesempatan pada guru untuk melihat kesabaran, kepercayaan, keterbukaan, pengalaman saat ini dengan siswa sebagai kelembutan, empati, rasa syukur, dan kasih bentuk hubungan jangka panjang yang sayang (Synder & Lopez, 2006). Kualitas didalamnya ada pemahaman akan kebutuhan semacam ini sangat diperlukan ketika guru anak, pengembangan sikap regulasi diri, serta berinteraksi dengan peserta didik khususnya pembuatan keputusan yang bijak dan pada level anak usia dini. Kelas PAUD berorientasi pada anak (child-oriented). umumnya bergerak secara aktif, dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik Dalam level eksperimental, melalui yang berbeda-beda, serta memiliki kegiatan model mindful teaching, guru dapat: yang bervariasi dalam waktu yang bersamaan. menghindarkan diri dari sikap reaktif, Kondisi ini tentu memerlukan kemampuan mengutamakan kebutuhan anak dibanding guru memberi perhatian penuh pada kelas kebutuhan sendiri, menerima semua siswa yang dipimpinnya. Lebih lanjut Jennings & sebagaimana adanya tanpa penilaian ‘baik- Greenberg (2009) menyatakan dengan buruk’, dan mampu mengatasi perasaan memiliki kemampuan untuk memberi tertekan yang mungkin dialami dalam proses perhatian, guru akan mampu merespon pembelajaran. kebutuhan anak didik secara proaktif, dimana hal ini adalah faktor utama mencapai Model mindful teaching yang akan manajemen kelas yang efektif. dikembangkan ini berangkat dari konsep teoritis dan praktis mindfulness (Baer et al. Mindfulness dalam Konteks Pembelajaran. 2006; Brown and Ryan 2003), intervensi berbasis mindfulness (Kabat-Zinn, 2003), Berbagai penelitian telah kemudian digabungkan dengan konsep teoritis dan praktis proses pembelajaran menunjukkan bahwa mindfulness berkorelasi antara guru-siswa. Lima dimensi mindful teaching yang dihasilkan adalah: (1) dengan emosi positif (Brown & Ryan, mendengarkan dengan penuh perhatian, (2) penerimaan tanpa penilaian terhadap diri 20003); stress dan kesejahteraan emosi sendiri dan anak, (3) kesadaran akan kondisi emosi diri dan anak, (4) regulasi diri dalam (Weinstein, Brown, & Ryan, 2009); hubungan guru-siswa, serta (5) kasih sayang terhadap diri sendiri dan anak. Berikut akan peningkatan kemampuan regulasi emosi, dijelaskan mengenai masing-masing aspek tersebut: kesejahteraan diri, dan problem solving (1) Mendengarkan dengan penuh (Hupert & Johnson, 2010); serta komunikasi perhatian Perhatian penuh pada pengalaman saat orangtua-anak (Duncan, Coatsworth, & ini merupakan aspek utama mindfulness (Baer et al. 2006; Brown & Ryan, 2003). Greenberg, 2009). Berdasarkan hasil-hasil Model mindful teaching mengkombinasikan faktor perhatian dengan kemampuan penelitian tersebut, dewasa ini mindfulness telah banyak dikembangkan dalam berbagai setting kehidupan: mindful parenting, mindful birthing, mindful learning hingga mindful selling. Semua praktik mindfulness ini mengelaborasikan prinsip-prinsip dasar mindfulness ke dalam bentuk-bentuk yang lebih spesifik. 155

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 mendengarkan karena dengan cara inilah Penerimaan juga bukan berarti guru guru dapat benar-benar memahami anak. menyetujui setiap tindakan siswa bahkan Mendengarkan dengan penuh perhatian yang tidak pantas sekalipun. Justru dengan berbeda dengan sekedar mendengarkan, mindful teaching, guru dapat menerima sikap karena fokusnya betul-betul pada kata-kata anak sekaligus mampu menyediakan standar yang diucapkan anak, dan bukan pada sinyal dan harapan yang jelas, baik secara kultural, perilaku yang ditunjukkan anak. Dalam norma, maupun sesuai taraf perkembangan konteks hubungan guru-anak, perilaku yang anak. ditunjukkan oleh anak (misalnya menangis atau berteriak) seringkali justru mengambil (3) Kesadaran akan kondisi emosi diri fokus perhatian guru, dibanding kata-kata dan anak apa yang sebenarnya ingin disampaikan Emosi yang kuat dapat secara otomatis anak. memicu proses evaluasi (Weinstein, Brown, Guru yang mindful akan mampu sensitif & Ryan, 2009) dan pada akhirnya menuntun terhadap konteks pembicaraan dengan anak seseorang untuk berperilaku sesuai hasil sekaligus juga peka terhadap nada suara, evaluasi tersebut. Agar guru dapat ekspresi wajah, hingga bahasa tubuh. Fokus mendengarkan dengan penuh perhatian dan semacam ini akan memberikan pemahaman menerima tanpa penilaian, guru harus mampu yang mendalam akan kebutuhan anak serta mengidentifikasi secara akurat emosi yang makna-makna yang tersirat di dalamnya. dirasakan diri sendiri maupun emosi peserta (2) Penerimaan tanpa penilaian terhadap didiknya. Ketika guru mampu menyadari secara penuh emosi diri dan siswa , guru diri sendiri dan anak kemudian akan mampu membuat pilihan Pikiran manusia cenderung selalu sadar tentang bagaimana merespon siswa membuat penilaian-penilaian yang tidak (bersikap responsif), daripada bersikap reaktif disadari, dan persepsi terhadap orang lain pada pengalaman tersebut. Selain itu, mindful akan mempengaruhi pengharapan, nilai, teaching juga memberikan ruang pada guru hingga perilaku terhadap orang lain tersebut untuk decentering, yaitu kesadaran bahwa (Snyder & Lopez, 2007). Mindful teaching sebuah perasaan / emosi hanyalah perasaan, melibatkan adanya penerimaan tanpa dan tidak ikut larut di dalamnya (Baer et al, penilaian pada sikap, atribut, perilaku anak 2006). maupun kepada diri sendiri. Penerimaan di (4) Regulasi diri dalam hubungan guru- sini bukannya menghilangkan tanggungjawab memberi pengarahan dan pendisiplinan , siswa tetapi lebih pada penerimaan pada apa yang Mindful teaching sangat menekankan sedang terjadi saat ini dengan kesadaran pentingnya kemampuan guru mengatur penuh. Misalnya pada saat terjadi konflik perilaku mereka (self-regulation) dalam antara guru-siswa, guru akan mampu hubungan dengan siswa. Mindful teaching menerima bahwa menjadi guru memang bukan berarti guru tidak boleh merasakan sebuah profesi yang sangat menantang, dan berbagai emosi tidak menyenangkan seperti menerima bahwa menjadi anak juga memiliki kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan. faktor tantangannya sendiri. Penerimaan Mindful teaching justru memberikan ruang disini berarti menyadari tantangan apa saja bagi guru sebelum bereaksi, melalui regulasi yang dihadapi, dan bahwa setiap kesalahan diri yang lebih baik, dengan menyediakan yang terjadi akibat tantangan tersebut pilihan-pilihan bagaimana merespon siatuasi merupakan bagian dari proses belajar. yang tidak menyenangkan tersebut. 156

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 (5) Kasih sayang terhadap diri sendiri Diperlukan penelitian sebagai tindak dan anak lanjut untuk mengukur mindful teaching Salah satu kualitas posiftif yang muncul sebagai bentuk intervensi untuk peningkatan kualitas kerja dan kehidupan guru. Intervensi bersama mindfulness adalah kasih sayang berbasis mindfulness ini harus berfokus pada (Synder & Lopez, 2006). Melalui kasih implementasi kelima aspek tersebut dalam sayang terhadap anak, guru akan mampu hubungan guru-siswa. Diharapkan dengan memenuhi kebutuhan dasar anak dan adanya penelitian yang komprehensif, meredakan perasaan tidak menyenangkan protokol mindful teaching akan dapat yang mungkin dialami anak. Siswa yang dikembangkan dan diterapkan di lingkungan memiliki guru dengan kemampuan mindful pendidikan di Indonesia. teaching akan mampu merasakan afeksi positif dan adanya dukungan yang hangat dari DAFTAR PUSTAKA guru. Baer, R. A., Smith, G. T., Hopkins, J., Sementara itu, kasih sayang terhadap diri Krietemeyer, J., & Toney, L. .(2006). sendiri akan membantu guru memberikan Using self-report assessment methods to pemaafan dan tidak berlarut-larut explore facets of mindfulness. menyalahkan diri sendiri jika ada tujuan- Assessment, 13, 27-45. tujuan dalam pembelajaran yang belum tercapai. Bauer, J., Stamm, A., Virnich, K., Wissing, PENUTUP K., Muller, U., Wirsching, M., (2006). Mindful teaching merupakan Correlation Between Burnout Syndrome pengembangan konsep mindfulness dalam and Psychologycal and Psychosomatic ranah pendidikan dan dapat digunakan Symptomp Among Teachers. sebagai alternatif pendekatan dalam International Archives of Occupational meningkatkan kualitas pembelajaran and Environmental Health, 79, 199-204 khususnya di lingkungan PAUD. Melalui Brown, K. W., & Ryan, R. M., (2003). The Benefits of Being Present: Mindfulness lima aspek mindful teaching yaitu: (1) and It’s Role in Psychological Wellbeing. Journal of Personality and mendengarkan dengan penuh perhatian, (2) Social Psychology, 84, 822-848 penerimaan tanpa penilaian terhadap diri sendiri dan anak, (3) kesadaran akan kondisi emosi diri dan anak, (4) regulasi diri dalam Costa, A. I., & Kallinick. B. .2011. hubungan guru-siswa, serta (5) kasih sayang Describing 16 Habits of Mind. Diakses 2 terhadap diri sendiri dan anak, guru dapat Maret (2013), dari meningkatkan kesejahteraan psikologis, http://www.instituteforhabitsofmind.com mengatasi stress pekerjaan, membangun Duncan, L. G., Coatsworth, J. D., & hubungan positif dengan siswa, dan mampu Greenberg, M. T. (2009). A Model of melaksanakan pembelajaran secara lebih Mindful Parenting: Implications for Parent–Child Relationship and efektif. Mindfulness merupakan tahapan Prevention Research. Clinical Child (state) yang dapat dicapai dengan Family Psychology Rev, 12:255–270 menggunakan potensi sumber daya internal, sehingga praktik mindful teaching sebenarnya sangat mungkin dilakukan guru melalui Germer, C. K., Siegel, R. D., & Fulton, P. R. (2005). Mindfulness and Psychotherapy. tahapan latihan-latihan yang terstruktur. New York: The Guilford Press 157

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan” FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 7 November 2015 Hupert, F. A. & Johnson, D. M., .(2010). A Controlled Trial of Mindfulness In Schools: The Importance of Practice for an Impact on Well-Being. The Journal of Positive Psychology, 5 (4), 264-274 Jennings, P. A., & Greenberg, M. (2009). The Prosocial Classroom: Teacher Social and Emotional Competence in Relation to Child and Classroom Outcomes. Review of Educational Research, 79, 491-525 Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulnes-based Interventions in Context: Past, Present, and Future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10, 144-156 Roeser, R. W., Skinner, E., Beers, J., & Patricia, A. J., (2012). Mindfulness Training and Teacher’s Professional Development : An Emerging Area of Research and Practice. Child Development Perspectives, 6 (2), 167- 173 Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (2007). Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strength. London: Sage Publications Weinstein, N., Brown, K. W., & Ryan, R. M.,(2009). A multi-method Examinatiom of the Effects of Mindfulness on Stress Attribution, Coping, and Emotional Well Being. Journal of Research in Personality, 43, 374-385 158 View publication stats


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook