Mencari Pulau Naga The Asia Foundation - Let’s Read Buth Sonrin
”Kriiing!” Mendengal ber berdering, Srey Lek mengambil buku berwarna kuning cerah dari tasnya lalu berlari ke pintu kelas. ”Srey Lek, main, yuk? Aku punya kejutan untukmu,” panggil Rachana, temannya. ”Maaf, aku harus pergi!” seru Srey Lek sambil berlari ke halaman sekolah. ”Aku punya tugas penting!” 1
”Harus ada, harus!” pikir Srey Lek sambil berlari melintasi halaman ke perpustakaan sekolah. Srey Lek baru saja selesai membaca Telur Naga, buku terbaru dalam seri favoritnya. Dia tidak bisa tidur semalam, bukunya sangat bagus. 2
Pak Phan berjanji akan memesankan buku lanjutannya, ”Pulau Naga”, yang baru terbit minggu lalu. Namun karena tidak ada pustakawan yang bekerja tetap dan Pak Phan adalah relawan yang hanya datang dua hari tiap minggunya, Srey Lek tidak begitu yakin. 3
Srey Lek menghambur masuk melewati pintu, terengah-engah. ”Pak Phan! Apa bukunya sudah ada? Tolong katakan Bapak sudah punya bukunya.” ”Kalau tidak salah, aku ingat memasukkan buku Pulau Naga ke rak,” kata Pak Phan sambil tersenyum. ”Bapak cari dulu, ya.” ”Sampulnya warna merah cerah!” seru Srey Lek. 4
Pak Phan memeriksa rak, membuka laci, dan mencari di antara tumpukan buku lainnya. Namun, Pulau Naga tidak juga ditemukan. 5
”Maaf,” kata Pak Phan. ”Pasti ada orang yang meminjamnya. Kau harus menunggu sampai buku itu dikembalikan.” ”Oh, tidak! Ini juga terjadi terakhir kali aku menginginkan sebuah buku.” kata Srey Lek. ”Siapa yang meminjamnya? Kapan dia mengembalikannya?” ”Maaf, tapi aku tidak tahu.” jawab Pak Phan. ”Kemarin aku tidak ada di sini dan tidak ada catatan tentang siapa yang meminjamnya.” 6
”Kita perlu sistem yang lebih baik,” ujar Srey Lek lalu mendesah sambil berbalik untuk pergi. 7
Perlahan, Srey Lek kembali melintasi halaman sekolah, dia tertunduk kecewa. ”Srey Lek, Ibu hampir menandaimu absen!” kata Bu Sida, lalu melihat air mukanya yang sedih. ”Oh, apa buku yang kauinginkan tidak ada di Pak Phan lagi?” ”Tidak,” jawab Srey Lek. ”Pak Phan bahkan tidak tahu siapa yang meminjamnya. Bagaimana kita bisa tidak tahu di mana buku- buku berada?” 8
”Mungkin kau bisa memikirkan cara untuk melacak buku-buku itu,” Bu Sida menyarankan. ”Kita harus menempelkan alat pelacak naga di tiap buku,” kata Srey Lek. ”Seperti yang dilakukan Danalle di dalam buku Telur Naga. ” ”Itu bisa dilakukan. Tapi mungkin akan sulit mengirimkan alat itu dari dunia naga ke sini, ” kata Bu Sida sambil mengedipkan sebelah 9
mata. 10
Bu Sida menunjukan cara-cara bagaimana untuk mengingat sesuatu di kelas mereka. Beliau mengingatkan Srey Lek pada tabel catatan kemajuan hafalan perkalian siswa di dinding kelas. Bu Sida juga menunjukkan daftar tugas siswa-siswa yang ditulis di papan tulis. Bahkan menunjukkan catatan di meja, tentang hal-hal yang harus Srey Lek lakukan. 11
”Jadi apa kita bisa menulis nama siswa dan buku-buku yang dipinjamnya?” tanya Srey Lek. ”Itu awal yang bagus, Srey Lek. Itu adalah pekerjaan yang dilakukan seorang manajer data!” 12
”Bukankah menulis data itu harus di komputer? Kita hanya menuliskan nama- nama,” balas Srey Lek. ”Ya, ada lagi yang harus dilakukan seorang manajer data, tapi idenya sama; menata banyak informasi agar dapat berguna bagi orang lain,” kata Bu Sida. 13
Srey Lek menjadi yakin. Dia kembali berjalan menuju perpustakaan dan mengajak Bu Sida untuk ikut bersamanya. 14
”Pak Phan,” ujar Srey Lek. ”Kita perlu sistem data. Kita harus tahu di mana buku ’Pulau Naga’ itu berada.” ”Itu bagus sekali,” kata Pak Phan sambil memandang berkeliling ke tumpukan- tumpukan buku. ”Tapi bagaimana caranya? Kita tidak punya komputer.” 15
”Kita tidak memerlukannya,” kata Srey Lek. Dia menunjuk ke arah dinding. ”Kita bisa menggunakan papan tulis untuk menulis nama peminjam dan bukunya. Setelah mereka mengembalikan buku, bapak bisa menghapus namanya.” Srey Lek mulai menulis ”Pulau Naga” pada papan tulis. ”Tapi bagaimana jika ada yang tidak sengaja menghapusnya?” tanya Bu Sida. 16
”Ya...” Srey Lek mulai berpikir. ”Kalau dalam buku catatan yang besar, bagaimana? Seperti yang ibu gunakan untuk absen kelas.” 17
”Itu ide yang bagus.” kata Pak Phan. ”Kita juga harus menambahkan kapan buku itu dipinjam, agar kita bisa tahu sudah berapa lama mereka meminjamnya.” ”Lalu aku juga jadi tahu, kapan buku ’Pulau Naga’ akan dikembalikan!” seru Srey Lek. ” Mereka harusnya bisa menyelesaikan buku itu dalam dua hari, mungkin paling lama tiga hari!” Ibu Sida tertawa. ”Mungkin sebaiknya kita 18
memberi waktu pinjam yang sedikit lebih lama.” ”Dan terakhir, kita harus menandai jika orang itu sudah mengembalikan bukunya.” kata Pak Phan. 19
Pak Phan mengambil buku catatan yang kosong lalu mulai menuliskan informasi- informasi dari atas ke bawah. ”Bagaimana cara kita mengelola sistem data ini?” tanya Bu Sida. ”Aku tidak mengerti apa yang Ibu maksud,” ujar Srey Lek kebingungan. ”Bagaimana caranya kita memastikan nama, buku, dan tanggal-tanggalnya tercatat?” jawab Bu Sida. 20
”Saat aku di sini,” kata Pak Phan. ”Aku bisa megajarkan semua orang untuk mencatat informasi, jadi sistemnya tetap berjalan saat aku tidak ada di sini.” ”Kita juga harus punya tempat untuk buku yang dikembalikan,” Srey Lek mengusulkan sambil menunjuk tumpukan buku yang berantakan. 21
Sore itu, Pak Phan selesai mengatur buku catatan, sementara Srey Lek menata buku- buku dan membuat tanda ”Pengembalian Buku”. ”Sekarang kita akan tahu di mana buku-buku itu berada!” kata Srey Lek. ”Tapi itu tidak akan membantuku untuk membaca buku ’Pulau Naga’ sekarang. Kurasa, aku harus bersabar. ” Tepat pada saat itu, teman Srey Lek, Rachana, datang ke perpustakaan. 22
”Halo, Bu Sida. Halo, Pak Phan. Kau sedang apa, Srey Lek?” ”Srey Lek membuat sistem data, agar kita bisa melacak siapa yang meminjam buku dari perpustakaan,” jawab Bu Sida. 23
”Oh, aku meminjam buku kemarin,” kata Rachana. ”Aku melihat ini di rak dan ingin meminjamkannya untukmu, Srey Lek.” Srey Lek terkesiap. ”Buku ’Pulau Naga’! Oh, terima kasih.” 24
”Ayo kita tulis namamu dalam daftar, agar semua orang tahu kau meminjam buku ’Pulau Naga’,” ujar Bu Sida. Srey Lek sudah tidak sabar untuk mulai membaca. Dia tahu awal cerita dimulai dengan, ”Kabut turun di seluruh pulau ....” 25
26
Didukung oleh Smart Axiata. 27
Brought to you by Let’s Read is an initiative of The Asia Foundation’s Books for Asia program that fosters young readers in the Asia-Pacific. booksforasia.org To read more books like this and get further information about this book, visit letsreadasia.org Original Story ដំេណរើ ែសងវ្ រកេកោះនាគរាជ, Illustrator: The Asia Foundation - Let’s Read Buth Sonrin. Published by The Asia Foundation - Let’s Read, https://www.letsreadasia.org © The Asia Foundation - Let’s Read. Released under CC BY-NC 4.0. This work is a modified version of the original story. © The Asia Foundation, 2020. Some rights reserved. Released under CC BY-NC 4.0. For full terms of use and attribution, http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/ Contributing translators: Dina Begum
Search
Read the Text Version
- 1 - 29
Pages: