Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore MODUL Citapaling

MODUL Citapaling

Published by Siti Nurjanah, 2023-08-12 07:15:44

Description: MODUL Citapaling

Search

Read the Text Version

MODUL

Tema PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) Topik : Gaya Hidup Berkelanjutan Koordinator : Membuat Ecobrick Wujud Cinta Kita Pada Lingkungan : Siti Nurjanah, S.Pd Tujuan, Alur, dan Target Pencapaian Projek HalYang Perlu Diperhatikan Dengan mengangkat topik “Membuat Ecobrick wujud Cinta Kita Pada Lingkungan (CiTaPaLing) dan mengacu Sebelum Memulai Projek kepada dimensi Profil Pelajar Pancasila, bertujuan untuk ● Komitmen seluruh warga sekolah membentuk siswa yang mempunyai kesadaran untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan dan untuk menjalankan aksi yang berkelanjutan. disepakati. Nilai atau inti Projek ini dimulai dengan tahap pengenalan, siswa mengeksplorasi dan memahami sumber permasalahan pembelajaran tidak akan sampah dan solusi yang dijalankan, termasuk program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sering dikampanyekan didapatkan bila siswa melihat dalam mengatasi masalah sampah. Setelah tahap pengenalan, siswa masuk dalam tahap bahwa sekolah tidak konsisten dan kontekstualisasi dengan melakukan riset dan menggunakan data untuk mengidentifikasi secara jelas berkomitmen membangun masalah sampah yang dihadapi sekolah. Setelah proses pembentukan pengetahuan (knowledge- kesadaran ini pada ekosistemnya. building) dan kesadaran (awareness), juga penyelidikan kritis (critical inquiry), siswa memasuki tahap aksi. Contoh: apakah divisi administrasi Di tahap ini, siswa bersama-sama menuangkan aksi nyata mereka dalam bentuk pembuatan ecobricks dimulai sudah siap untuk mengurangi dengan pengumpulan dan pemilahan sampah plastik, pengumpulan botol minum aqua ukuran 600ml, penggunaan kertas di sekolah? Apa alternatifnya? ● Apakah divisi sarpras sudah siap untuk menyiapkan tempat sampah untuk pemilahan? ● Apakah sekolah memiliki sarana untuk penggunaan kembali dan/ atau daur ulangsampah kertas? ● Membangun kesadaran seluruh warga sekolah mengenai pentingnya aksi 3R ● Kolaborasi dengan komunitas di luar sekolah untuk mengimplementasikan sistem. Contoh: jika di sekolah sudah disediakan tong sampah yg terpisah tetapi saat diangkut sampah tersebut masih dicampur oleh petugas maka tidak akan efektif memasukkan sampah plastic yang sudah digunting kecil-kecil ke dalam botol minum aqua 600 ml, bisa dibantu dengan menggunakan alat berupa ujung sendok atau kayu untuk memadatkan sampah plastic pada botol minum tersebut. Setelah padat botol yang sudah terisi sampah atau ecobricks dikumpulkan untuk dibentuk dan dibuat taman atau kursi taman, mempresentasikan ide aksi mereka dalam gelar karya, dan mendapatkan evaluasi dan menerima umpan balik dari guru dan pimpinan sekolah. Sebagai penutup, siswa bersama guru membahas langkah strategis untuk menjalankan pengelolaan sampah di sekolah. Melalui projek ini, siswa diharapkan telah mengembangkan secara spesifik tiga dimensi Profil Pelajar Pancasila, yakni Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia, Bergotong Royong dan Kreatif beserta sub-elemen terkait yang dijabarkan dibawahini:

Dimensi, Elemen, Sub Elemen Profil Pelajar Pancasila Kearifan Lokal Fase D Dimensi Profil Sub elemen Profil Target Pencapaian di akhir Fase D Aktivitas Pelajar Pancasila pelajar Pancasila Memahami konsep sebabakibat di antara terkait Akhlak kepada berbagai ciptaan Tuhan dan Dimensi 1 : alam, mengidentifikasi berbagai sebab yang Beriman, Bertakwa Memahami mempunyai dampak baik atau buruk, Keterhu-bungan langsung maupun tidak langsung, Kepada Tuhan Ekosistem Bumi terhadap alam semesta. Yang Maha Esa, Menjaga Mewujudkan rasa syukur dengan dan Berahlak Lingkungan Alam berinisiatif untuk menyelesaikan Mulia Sekitar permasalahan lingkungan alam sekitarnya dengan mengajukan alternatif Dimensi 2 : Kolaborasi, solusi dan mulai menerapkan solusi Gotong Royong kerjasama tersebut Mampu bekerja sama untuk Kepedulian : melaksanakan kegiatan dan mencapai tanggap terhadap tujuan kelompok di lingkungan sekitar, situasi sosial serta memberi semangat kepada orang lain untuk bekerja efektif dan mencapai tujuan bersama. Mengamati lingkungan sekitar dan mampu memecahkan permasalahan yang terjadi. Menghasilkan Menghubungkan gagasan yang ia miliki gagasan yang dengan informasi atau gagasan baru orisinal untuk menghasilkan kombinasi gagasan baru dan imajinatif untuk Dimensi 3 : Kreatif Menghasilkan mengekspresikan pikiran dan/atau karya dan perasaannya. tindakan yang Mengeksplorasi dan mengekspresikan Orisinal pikiran dan/atau perasaannya dalam bentuk karya dan/atau tindakan, serta Memiliki mengevaluasinya dan keluwesan mempertimbangkan dampaknya bagi berpikir dalam orang lain mencari alternatif solusi Menghasilkan solusi alternatif Dengan permasalahan mengadaptasi berbagai gagasan dan umpan balik untuk menghadapi situasi dan permasalahan Dimensi 4 : Memperoleh dan Mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi Bernalar kritis memproses dan interpretasi informasi, serta mencari informasi dan tahu penyebab dan konsekuensi dari gagasan informasi tersebut. Mengajukan pertanyaan

Dimensi Profil Sub elemen Profil Target Pencapaian di akhir Fase D Aktivitas Pelajar Pancasila pelajar Pancasila terkait Mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan Mengidentifikasi, menganalisis informasi yang relevan serta mengklarifikasi, dan memprioritaskan beberapa gagasan tertentu. mengolah informasi dan gagasan Tahapan dalam projek “CiTaPaLing” Tahap Pengenalan : Mengenali dan membangun kesadaran siswa terhadap isu pengelolaan sampah dan implikasinya terhadap perubahan iklim 1. Perkenalan: Perubahan 2. Ekspolasi Isu (3 3. Refleksi 4. Kunjungan ke 5. Diskusi Kritis JP) Awal lingkungan sekolah Masalah Iklim dan Masalah atau ke luar Sampah Pengelolaan Sampah sekolah Peduli Sampah Tahap Kontekstualisasi : mengkontekstualisasi masalah di lingkungan terdekat 6. Trash Talk: Sampah di 7. Menentukan Jenis Produk dan 8. Asesmen Formatif berupa Presentasi: Sekolahku Rencana Kegiatan Yang akan Sampah di sekolahku dilaksanakan Tahap aksi : bersama-sama mewujudkan pelajaran yang mereka dapat melalui aksi nyata 9. Aksi Nyata Sayangi 10. Aksi Nyata 11. Aksi Nyata 12. Aksi Nyata Sayangi sekolahku Eksplorasi Sayangi Sayangi sekolahku sekolahku membuat program pengolahan sekolahku membuat ecobricks ecobricks (menyusun sampah yang ada (memilah membuat (memasukkan ecobricks menjadi sampah kering dan sampah ecobricks sampah plastik yang bentuk \"LOVE\" untuk basah) (membersihkan sudah digunting taman sekolah) sampah plastik kecil-kecil ke dalam dari bakteri) botol aqua bekas 600 ml.) Tahap Refleksi dan Tindak Lanjut : Menggenapi proses dengan berbagi karya, evaluasi dan refleksi, serta menyusun langkah strategis 13. Asesmen Formatif Pameran Aksi Nyata Sayangi Sekolahku 14. Mari Beraksi Sambil Refleksi Mengelola Sampah di Sekolah Tahapan dalam projek “Cinta Kita Pada Lingkungan” Tahap Pengenalan. Mengenali dan membangun kesadaran siswa terhadap isu pengelolaan sampah dan implikasinya terhadap perubahan iklim. Tahap Pengenalan. Mengenali dan membangun kesadaran siswa terhadap isu pengelolaan sampah dan implikasinya terhadap perubahan iklim 1. Perkenalan: Perubahan Iklim dan Masalah Pengelolaan Sampah 2. Eksplorasi Isu 3. Refleksi Awal 4. Kunjungan ke lingkungan sekolah atau ke luar sekolah Peduli Sampah 5. Diskusi Kritis Masalah Sampah Tahap Kontekstualisasi. mengkontekstualisasi masalah di lingkungan terdekat 6. Trash Talk: Sampah di Sekolahku, Menggali informasi terkait limbah yang berasal dari plastic yang ada di sekitar 7. Pengorganisasian Data secara mandiri, memilih limbah plastic yang akan dijadikan projek 8. Asesmen Formatif berupa Presentasi: Sampah di sekolahku Tahap aksi. bersama-sama mewujudkan pelajaran yang mereka dapat melalui aksi nyata 9. Aksi Nyata Sayangi sekolahku Eksplorasi program pengolahan sampah yang ada (memilah sampah kering dan sampah basah) 10. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (membersihkan sampah plastik dari bakteri) 11. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (memasukkan sampah plastik yang

sudah digunting kecil-kecil ke dalam botol aqua bekas 600 ml.) 12. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (menyusun ecobricks menjadi bentuk \"LOVE\" untuk taman sekolah) Tahap Refleksi dan Tindak Lanjut. Menggenapi proses dengan berbagi karya, evaluasi dan refleksi, serta menyusun langkah strategis 13. Asesmen Sumatif: Pameran Aksi Nyata Sayangi Sekolahku 14. Mari Beraksi Sambil Refleksi Mengelola Sampah di Sekolah Cara Penggunaan Modul Projek Modul Proyek ini dirancang untuk guru SMP (Fase D) yang melaksanakan kegiatan ko- kurikuler yang mengusung tema Gaya Hidup Berkelanjutan. Di dalam Modul projek “Cinta Kita Pada Lingkungan” ini, ada 12 (tujuh belas) aktivitas yang saling berkaitan dan akan dilaksanakan pada semester pertama kelas VII. Aktivitas yang ditawarkan disusun dengan sedemikian rupa agar siswa tidak hanya mengetahui isu perubahan iklim secara teori saja, tetapi juga bisa mengubah cara berpikir dan gaya hidup yang lebih \"hijau\", ramah lingkungan dan berkelanjutan. Waktu yang direkomendasikan untuk pelaksanaan projek ini kurang lebih 40 jam. MEMBUAT ECOBRICKS SEBAGAI WUJUD CINTA KITA PADA LINGKUNGAN 1. Tahap Pengenalan. Mengenali dan membangun kesadaran siswa terhadap isu pengelolaan sampah dan implikasinya terhadap perubahan iklim Waktu : 1 jam Perkenalan : Perubahan Iklim dan Masalah Pengelolaan Sampah Bahan : Slide presentasi, artikel Peran Guru : Fasilitator Persiapan 1. Guru mengumpulkan 2 artikel yang membahas secara kritis isu perubahan iklim yang dihadapi di berbagai negara, termasuk Indonesia 2. Guru mengumpulkan 3 artikel koran yang membahas keterkaitan antara sampah dan masalah perubahan iklim Pelaksanaan 1. Guru memulai projek ini dengan menanyakan kepada siswa apa yang mereka tahu mengenai isu perubahan iklim. Beberapa pertanyaan pemantik yang bisa dipakai : a. Apa tanda-tanda terjadinya perubahan iklim yang pernah mereka dengar dan/atau mereka lihat dan rasakan? b. Apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan iklim? c. Apa dampak dari perubahan iklim ini terhadap bumi dan kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan? 2. Guru memperkenalkan tema projek dan menegaskan relevansi isu perubahan iklim saat ini terhadap siswa. 3. Siswa dibagi dalam kelompok (5 orang) dan menggunakan metode jigsaw, guru membagikan artikel 5 artikel kepada tiap kelompok untuk dibaca. Agar membentuk kelompok yang lebih inklusif, guru dapat mempertimbangkan latar belakang agama, etnis, jenis kelamin, juga tingkat kemampuan siswa dalam proses pembentukan kelompok. 4. Siswa di masing-masing kelompok secara bergantian saling memberikan ringkasan intisari artikel yang mereka baca. Tugas: Siswa diminta untuk melakukan riset mandiri mengenai masalah sampah di lingkungan sekolah dan luar sekolah

Artikel 1 : https://inswa.or.id/tahukah-kamu/ Sampah dan Perubahan Iklim • By admin in Uncategorized Setiap harinya manusia bisa menghasilkan sampah hingga mencapai 1kg. Menurut Data Kementrian Lingkungan Hidup, rata-rata orang diperkotaan di Indonesia pada tahun 1995 menghasilkan sampah 0,8 kg/hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang per hari adalah sebesar 2,1 kg. Sampah yang dibuang menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) dengan cara yang berbeda-beda, sedangkan kontribusinya pada efek pemanasan global mencapai 15%. Cara pertama adalah sampah organik yang dibuang di tempat pembuangan landfill terdekomposisi secara anaerob sehingga menghasilkan gas metan, yaitu emisi gas rumah kaca yang menurut Indeks Potensi Pemanasan Global, efeknya 21 kali lebih beracun daripada gas karbondioksida. Sedangkan Danny(2000) mengatakan bahwa metan yang dilepas ke atmosfer lebih banyak berasal dari aktifitas manusia (anthropogenic) daripada hasil dari proses alami. Yang kedua, pembakaran sampah juga menghasilkan karbondioksida, ditambah lagi dengan emisi gas yang dihasilkan oleh transport yang membawa sampah ke tempat pembuangan tersebut. Dan terakhir, dibuangnya barang-barang yang mengindikasikan bahwa barang-barang tersebut sudah diganti dengan yang baru, dimana dalam pembuatan barang baru juga seringkali menggunakan minyak bumi untuk merubah bahan mentah menjadi bahan jadi. Oleh karena itu sebagai penduduk bumi yang masih ingin terus menetap di bumi, ada beberapa perilaku yang harus mulai kita biasakan, yaitu: • Siapkan tas belanja lipat di tas sehari-hari kita, agar kita tidak memakai plastik-plastik belanjaan dari toko-toko retail • Pilahlah sampah mulai dari rumah kita sendiri, dan lakukan komposting dengan sampah organikmu, karena sampah organik lah yang menghasilkan metan. Jika sampah organik bisa kita olah sendiri untuk jadi pupuk ditaman, maka sampah anorganik bisa dengan tenang kita serahkan pada tukang sampah. • Sebisa mungkin, kurangilah sampah yang kamu hasilkan setiap harinya. Pakai kembali barang-barang yang bisa dipakai (seperti kardus-kardus bekas) dan daur ulang sampah mu menjadi barang yang bermanfaat (komposting) • Belilah plastik yang oxo-degradable atau bio-degradable agar lebih ramah pada lingkungan. • Sekecil-kecilnya sampah, buanglah sesuai tempatnya. Jika satu orang tetap membuang robekan bungkus permen sebebesar ujung kuku kelingking pada tempat sampah, bayangkan jika satu juta orang melakukan hal yang sama. “Jadilah perubahan seperti yang ingin anda lihat di dunia” –Mahatma Gandhi Salam Lestari! Artikel 2 : pu.go.id/berita/dampak-perubahan-iklim-telah-dirasakan- indonesia#:~:text=Banjir%2C%20kekeringan%20panjang%2C%20tanah%20longsor,terjadinya %20perubahan%20iklim%20di%20dunia. DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TELAH DIRASAKAN INDONESIA 11 Desember 2007 120467 Print DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TELAH DIRASAKAN INDONESIA Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami ancaman terhadap perubahan iklim. Banjir, kekeringan panjang, tanah longsor, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan terjadinya perubahan iklim di dunia. Hal tersebut diutarakan Dirjen SDA, Iwan Nursyirwan pada acara Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference 2007) di Nusa Dua, Bali.

Dalam Presentasi Dirjen SDA, Iwan Nursyirwan, pada kegiatan Paralel Events Konferensi Perubahan Iklim (UN Climate Change Conference 2007) disebutkan bahwa umumnya perubahan iklim yang terjadi di Indonesia berkisar pada penggundulan hutan secara besar-besaran, kebakaran hutan, kerusakan lahan rawa dan hilangnya serapan karbondioksida. Strategi yang dapat dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim adalah pengembangan dan perbaikan jaringan irigasi, manajemen pengelolaan bencana alam terpadu, membangun infrastruktur dan melindungi pantai dari potensi kerusakan akibat abrasi dan naiknya permukaan laut hingga kampanye publik. Perubahan iklim ini memiliki tantangan terhadap pembangunan dalam aspek lingkungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan serta terhadap pencapaian tujuan pembangunan Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut, kita perlu segera mengintegrasikan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam sistem perencanaan pembangunan sosial. Pemerintah melalui Ditjen SDA misalnya dari pengamanan mata air seperti konservasi sumber air yang ada agar jangan jebol dan rusak, sungai2 juga diamankan dan jaringan irigasinya diperbaiki untuk efisiensi pembagian air, setelah air ada di lapangan diadakan pengamanan terhadap pantai. Untuk konservasi, pemerintah bersama dengan masyarakat menjaga sumber air yang ada contohnya, di bali ada 4 danau yang dijaga bersama-sama karena dari danau tersebut muncul ratusan mata air, 500 mata air, dan sesuai dengan tata ruang. Pemberdayaan termasuk pemberdayaan SDA, air yang ada harus dijaga agar bisa bermanfaat sebaik-baiknya, antara irigasi dan non irigasi harus dijaga. Bali, dengan konsep Tri Hita Karana, mempercayai bahwa kebahagiaan dapt dipenuhi dengan adanya harmonisasi antara Tuhan, Manusia dan Alamnya, terkenal dengan sistem subaknya, yang berguna agar efisiensi penggunaan air dan itu merupakan antisipasi dalam mengatasi permasalahan global warming. Beliau berharap ini adalah suatu jalan supaya kita bersama-sama bisa mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah global warming itu dan partisipasi dari semua pihak dapat ditingkatkan karena bagaimana pun yang kita lakukan juga berpengaruh bagi kehidupan dunia karena Indonesia menjadi bagian dari dunia. Dalam konferensi tersebut peserta juga mengikuti kegiatan field trip ke daerah konservasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai Pakerisan dan Petanu (9/12/07). Kegiatan Field trip ini diikuti oleh 150 peserta yang merupakan delegasi dari konferensi perubahan iklim. Kunjungan yang dimulai dari Gunung Kawi, peserta diajak untuk melihat daerah konservasi sumber daya air dan pengelolaan jaringan irigasi subak, tampak siring dan terakhir mengunjungi istana ubud. Peserta terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan field trip ini, seperti yang diungkapkan salah satu peserta yang berasal dari India, mengatakan kunjungan ini merupakan kunjungan lapangan yang menarik dan sekaligue dapat melihat budaya Bali terutama dalam hal menjaga kelestarian lingkungan. (Humas SDA) Pusat Komunikasi Publik 111207 Artikel 3 : https://news.detik.com/berita/d-6815709/perubahan-iklim-pengertian-faktor- penyebab-dan-dampaknya Perubahan Iklim: Pengertian, Faktor Penyebab dan Dampaknya Widhia Arum Wibawana - detikNews Senin, 10 Jul 2023 18:00 WIB

Ilustrasi perubahan iklim (Foto: Getty Images/iStockphoto/FilippoBacci) Jakarta Perubahan iklim merupakan fenomena global yang menjadi perhatian masyarakat dunia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perubahan iklim merujuk pada peralihan cuaca yang mencolok yang terjadi di antara dua periode tertentu dari suatu wilayah iklim. Lantas apa yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim itu? Apa saja dampak yang ditimbulkan dari terjadinya perubahan iklim secara global bagi kehidupan? Simak penjelasan selengkapnya sebagai berikut: Apa Itu Perubahan Iklim? Mengutip dari situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Indonesia, perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Perubahan ini terjadi secara alami, seperti melalui variasi siklus matahari. Namun sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia juga telah menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yang melilit Bumi. Kondisi ini menghasilkan panas matahari dan menaikkan suhu. Contoh emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim yaitu termasuk karbon dioksida dan metana. Emisi gas rumah kaca ini berasal dari penggunaan bensin untuk mengendarai mobil atau batu bara untuk memanaskan gedung, misalnya. Selain itu, pembukaan lahan dan hutan berpengaruh mampu melepaskan karbon dioksida. Tempat pembuangan sampah merupakan sumber utama emisi metana. Energi, industri, transportasi, bangunan, pertanian dan tata guna lahan termasuk di antara penghasil emisi utama. Ilustrasi perubahan iklim (Foto: Getty Images/iStockphoto/TarikVision) Penyebab Perubahan Iklim Ada beberapa faktor penyebab perubahan iklim yang terjadi secara global.

Mengutip dari situs Indonesia Baik, berikut di antaranya: Pemanasan global Efek gas rumah kaca Kerusakan lapisan ozon Kerusakan fungsi hutan Penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol Gas buang industri. Selain faktor-faktor di atas, menurut situs PBB Indonesia, berikut hal-hal yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim: Pembuatan energi Manufaktur barang Penebangan hutan Penggunaan transportasi Produksi makanan Penyuplaian energi untuk bangunan Pemakaian berlebihan. Dampak Perubahan Iklim Menghimpun data dari situs PBB Indonesia, Indonesia Baik, dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), berikut ini dampak-dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global bagi kehidupan: Curah hujan tinggi Suhu Bumi lebih panas Musim kemarau yang berkepanjangan Peningkatan kekeringan Peningkatan volume air akibat mencairnya es di kutub Peningkatan suhu lautan akibat pemanasan global Terjadinya bencana alam angin puting beliung dan badai lebih parah Berkurangnya sumber air Kepunahan spesies Kekurangan makanan Peningkatan risiko kesehatan Kemiskinan dan pemindahan Peningkatan jumlah penyakit akibat nyamuk dan serangga Peningkatan kejadian cuaca ekstrem. Artikel 4 : https://www.mongabay.co.id/2023/01/06/perubahan-iklim-dan-dampaknya-pada- kehidupan-kita/ Perubahan Iklim dan Dampaknya pada Kehidupan Kita oleh Ahmad Supardi [Bengkulu] di 6 January 2023 • Perubahan iklim dan kelestarian keragaman hayati menjadi isu besar di dunia saat ini, selain bertambahnya populasi manusia. • Biodiversitas menyediakan makanan, pakaian, dan sumber pendapatan. Hidup kita hampir tidak mungkin tanpa dukungan keanekaragaman hayati. • Keseimbangan ekologi, manusia dan ekosistem di Bumi, sangat penting. Kesadaran setiap spesies memiliki hak untuk hidup, bahwa spesies saling tergantung satu sama lain, begitu juga manusia harus hidup di alam keterbatasan ekologi seperti spesies lainnya, harus selalu ada. • Dampak kenaikan suhu Bumi 1°C saja bisa mencairkan es di kutub dan membahayakan eksistensi sejumlah satwa. Sementara, kenaikan 2 derajat Celcius dapat melenyapkan 40% hutan hujan, yang berakibat pada menipisnya cadangan makanan hewan. Perubahan iklim dan kelestarian keragaman hayati menjadi isu besar di dunia saat ini, selain

polusi, sumber daya air, serta bertambahnya populasi manusia. Jatna Supriatna, Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia, menjelaskan Indonesia memiliki kado alam berupa cincin api [ring of fire] yang membuat negeri ini kaya sumber daya alam. Cincin api ini terbukti dengan 129 gunung berapi sebagai sumber sulfur kesuburan tanah dan geothermal dunia [40 persen cadangan dunia]. Namun demikian, kondisi ini membuat Indonesia rawan gempa naiknya permukaan air laut. “Tanah yang subur membuat keragaman hayati melimpah, ekosistem dan spesies beragam. Namun, kita harus sadar dan berusaha ramah pada bencana geo-ekologi,” kata Jatna pada webinar “Perubahan Iklim dan Keanekaragaman Hayati” pada Jumat [23/12/2022]. Jatna menjelaskan, Indonesia memiliki keragaman pisang tertinggi di dunia. Begitu juga potensi pangan dan obat. Ada 400 tanaman penghasil buah, 370 spesies sayuran, 60 spesies tanaman penyegar, 55 spesies tanaman rempah-rempah, dan 2500 jenis obat-obat. “Tapi semua potensi itu masih jarang sentuhan sains.” Sumber pangan laut Indonesia tak kalah banyak. Terbukti, Indonesia merupakan produsen ikan nomor tiga di dunia, setelah China dan Peru. Data FAO 2012 menunjukkan, kita memproduksi 6.7 juta ton ikan pada 2011. “Kalau saja ribuan kapal ikan ilegal dapat diatasi, kekayaan laut kita akan terjaga.” Artinya, biodiversitas memainkan peran penting dalam menyeimbangkan lingkungan. “Biodiversitas menyediakan makanan, pakaian, dan sumber pendapatan. Hidup kita hampir tidak mungkin tanpa dukungan keanekaragaman hayati,” tuturnya. Keseimbangan ekologi, manusia dan ekosistem di Bumi, kata Jatna, sangat penting. Kesadaran setiap spesies memiliki hak untuk hidup, bahwa spesies saling tergantung satu sama lain, begitu juga manusia harus hidup di alam keterbatasan ekologi seperti spesies lainnya, harus selalu ada. “Manusia harus bertanggung jawab sebagai penjaga dan pelindung Bumi. Caranya, menghargai kehidupan manusia yang sebanding dengan keanekaragaman hayati.” Perubahan iklim bagai “hantu” yang keberadaannya tidak terlihat namun dampaknya nyata. Foto: Shutterstock Perubahan iklim Moekti H. Soejachmoen, Direktur Indonesia Research Institute for Decarbonization, menjelaskan tentang perubahan iklim yang sudah di depan mata. “Laporan WMO [World Meteorological Organization] menunjukkan kecenderungan pemanasan global sejalan dengan peningkatan konsentrasi CO2, akhir 1980-an,” terangnya. Dampak perubahan iklim terlihat pada luas areal pertanian berkurang, produktivitas lahan turun, kepunahan spesies dan kerusakan habitat terjadi, sebagian pesisir dan pulau-pulau kecil tenggelam, serta penyakit berbasis lingkungan mewabah seperti demam berdarah dan COVID-19. “Tidak ketinggalan bencana meningkat, terutama bencana hidrometeorologi.” Guna menyelamatkan bumi, sejumlah negara menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi [KKT] seperti Protokol Kyoto, Amandemen Doha, Persetujuan Paris, hingga terbaru pada

November 2022, yaitu Sharm el-Sheikh Implemention Plan. KTT Iklim PBB COP27 tahun 2022 di Mesir itu, melibatkan hampir 200 negara untuk membahas masa depan aksi global terhadap perubahan iklim. Konferensi ini menghasilkan kesepakatan, yaitu dana bantuan untuk negara-negara miskin menghadapi bahaya yang disebabkan perubahan iklim, dana loss and damage. “Namun, perjanjian Sharm El-Sheikh gagal meningkatkan ambisi untuk mengurangi emisi. Meskipun ada upaya dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat [AS], India, dan Uni Eropa,” jelasnya. Perubahan iklim, permasalahan lingkungan meresahkan yang dihadapi masyarakat dunia. Foto: Rhett Butler/Mongabay Kegagalan ini membuat dunia gagal mengendalikan target pemanasan di bawah 1,5 derajat Celcius yang diabadikan dalam Perjanjian Paris 2015. Hal ini disebabkan, seruan untuk menghentikan semua bahan bakar fosil dan mencapai puncak global pada tahun 2025 ditolak banyak negara pengekspor minyak. Kondisi ini sangat berbahaya, sebab dampak kenaikan suhu Bumi 1°C saja bisa mencairkan es di kutub dan membahayakan eksistensi sejumlah satwa. Sementara, kenaikan 2 derajat Celcius dapat melenyapkan 40% hutan hujan, yang berakibat pada menipisnya cadangan makanan hewan. Bagaimana bila terjadi kenaikan 3 derajat? Pohon tidak sanggup lagi menahan carbondioxide dan kota besar dipenuhi polusi. Kenaikan 4°C dapat meningkatkan kebakaran hutan pada musim kemarau dan hutan hujan berubah menjadi padang pasir. Bila terjadi kenaikan 5°C maka berdampak pada kematian jutaan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta meningkatnya kadar racun di atmosfer. Andai terjadi kenaikan 6 derajat Celcius, maka Bumi bakal menjadi tidak layak huni. “Untuk itu, kawasan konservasi sebagai benteng terakhir harus kita jaga dan pertahankan sebaik mungkin,” ujarnya. Artikel 5 : https://www.mongabay.co.id/2023/07/23/melihat-jendela-dunia-dari-istana- sampah-ahmadun/ Melihat Jendela Dunia dari Istana Sampah Ahmadun oleh Yogi Eka Sahputra [Bintan] di 23 July 2023 • Ahmadun, seorang warga pesisir Pulau Bintan membersihkan pantai yang kotor akibat sampah laut. Selama 20 tahun belakangan, ia mengambil dan membawa sampah itu ke pekarangan tempat dirinya tinggal. • Tidak dibiarkan saja, sampah dibentuk menjadi sebuah karya instalasi sampah laut yang menarik. • Saat ini kawasan rumah Ahmadun ini disebut istana sampah laut atau istana jendela dunia. Rumah Ahmadun menjadi destinasi wisata sampah laut. • Sampah yang bermuara ke laut sangat berdampak kepada ekonomi, pariwisata dan sangat membahayakan kesehatan manusia. Langkah kecil Ahmadun bagian kecil mengurangi dampak tersebut.

Suara gemericik air sungai menyambut kedatangan pengunjung di Destinasi Wisata “Istana Jendela Dunia” Ahmadun. Batang sungai itu meliuk mengarah ke dalam istana. Membelah rumput Jepang yang hijau bak karpet merah. Meskipun disebut istana, tidak tampak rumah bertingkat dengan tiang-tiang besar ataupun mobil mengkilap yang berjejer. Hanya saja pondok kecil yang dikelilingi berbagai bentuk instalasi dari sampah laut. Berbagai bentuk instalasi dibuat Ahmadun dari sampah laut, mulai dari patung manusia, kendaraan roda dua, berbagai jenis hewan, hingga sebuah menara. Semua itu ditatanya di sekeliling rumah, tempat ini kemudian menjadi destinasi wisata menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Pengudang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Semua sampah laut diambil Ahmadun dari pesisir pantai yang tidak jauh dari rumahnya di pesisir utara Pulau Bintan. Ia hidup di pesisir Pulau Bintan ini sebatang kara. Pria yang akrap disapa Madun ini mengumpulkan sampah sudah 20 tahun lamanya. Sehingga sekarang, membentuk sebuah karya seni instalasi sampah laut yang menawan. Suasana istana sampah laut Ahmadun di Pesisir Bintan, Kepulauan Riau. Foto : Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia Istilah karya seni instalasi sampah laut muncul belakangan ini, mulai dari patung manusia, hewan, kendaraan, hingga sebuah bangunan rumah. Tidak hanya sampah laut, karya ini bisa dibuat dari bahan sampah daratan. Madun menamakan instalasi sampah di rumahnya sebagai ‘Istana jendela hidup’. Di bagian pintu masuk, pengunjung akan disambut patung manusia yang bahannya semua dari sampah, mulai dari tubuh, topi sampai mata. Ada juga instalasi hewan hingga tumpukan sampah berbentuk patung tokoh Malin Kundang. Tidak hanya membuat patung, ornamen rumah Ahmadun juga seluruhnya berasal dari sampah laut. Mulai dari dinding rumahnya dari papan bekas, atapnya dari atap bekas, meja ruang tamunya dari roda bekas. Semua sampah itu juga diambil dari laut. “Sofa ini saya dapatkan belum lama ini, tiba-tiba sudah tersandar di pesisir, ada yang robek saya tambal,” kata Ahmadun. Sambil duduk di sofanya itu, dia bercerita membuat semua karya seni sampah itu awalnya hanya ingin membersihkan pantai yang sangat kotor karena sampah laut, kemudian menyusunnya menjadi sebuah karya seni instalasi. Awalnya Ahmadun hanya memiliki pondok kecil. Setelah 20 tahun rutin mengambil sampah di laut dan membentuknya, sekarang semuanya itu menjadi istana sampah laut. “Setelah istana ini terbentuk, kemudian menarik perhatian orang, bahkan ada yang bilang saya seniman,” ujarnya. Meskipun memungut sampah, tetapi bagi Ahmadun pekerjaan ini sangat mulia. Ia hanya ingin pantainya bersih dari sampah laut. “Saya berharap kepada kita semua janganlah buang sampah ke laut, jangan saya saja yang membersihkan laut, kita semua harus berperan,” kata perantau asal Sulawesi itu.

Ahmadun dengan latar berbagai jenis sampah laut yang ia pungut dari pantai di Pesisir Bintan, Kepulauan Riau, pada pertengahan Juni 2023. Foto : Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia Lokasi istana sampah laut Ahmadun tepat berada di kawasan Desa Pengudang. Beberapa wisatawan yang berkunjung ke desa itu akan dibawa pemandu ke istana jendela dunia Ahmadun. Pengelola Desa Pengudang Iwan Winarto mengatakan, istana sampah laut ini menurut Iwan menjadi lokasi edukasi untuk wisatawan. “Sosok Pak Madun, menjadi contoh bagi kita semua, meskipun tindakannya kecil, tetapi dampaknya luar biasa,” katanya. Darurat Sampah Laut di Indonesia Sampah laut atau marine debris dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 disebut sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut. Data Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, ada 10 juta metrik ton sampah yang masuk ke laut. Data riset untuk Indonesia yang dilakukan oleh LIPI yang melibatkan kemitraan dari periset lain menunjukkan kebocoran sampah plastik ke laut 0,27 sampai 0,59 juta ton per tahun. Manajer Kampanye Pesisir dan Laut Eksekutif Naisonal Walhi Parid Ridwanuddin mengatakan, laut Indonesia terancam oleh masifnya sampah yang dibuang di daratan kemudian masuk ke laut. Bahkan sampah itu didominasi oleh sampah plastik. “Penelitian (J.R Jambeck dkk tahun 2015) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah Cina. Persoalan sampah ini perlu segera ditangani,” kata Parid. Pada Juni 2022, WALHI bersama sejumlah organisasi lingkungan hidup melakukan kegiatan brand audit di 11 titik pantai yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia. Temuannya menjelaskan, kemasan dari Unilever, Indofood dan Mayora Indah menjadi tiga besar penyumbang sampah kemasan plastik sekali pakai. Hasil audit juga menemukan, kemasan plastik yang terbanyak adalah kemasan plastik sekali pakai yaitu saset sebanyak 79,7 persen dari total temuan sampah plastik. “Produsen perlu bertanggung jawab terhadap sampah plastik dari produk kemasannya,” tambahnya. Salah satu patung manusia yang dibuat Ahmadun dari sampah laut di Pesisir Bintan, Kepulauan Riau. Foto : Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia

Pemerintah Indonesia sebetulnya telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut yang memuat Rencana Aksi Nasional Penangan Sampah Laut Tahun 2018-2025. Ironisnya, regulasi ini tidak mewajibkan menuntut pertanggungjawaban korporasi sebagai bagian penting dalam rencana aksinya. Dikutip dari situs resmi KKP, dampak sampah laut menimpa beberapa sektor mulai dari ekonomi, pariwisata dan mengganggu kehidupan biota laut dan ekosistem pesisir. Bahkan dampak yang paling banyak dibicarakan adalah kepada kesehatan manusia. Jika sampah plastik tidak dikelola dengan baik maka akan menciptakan pelapukan menjadi mikro dan nano plastik. Lebih parah lagi ketika sampah plastik itu masuk ke laut ia akan dimakan plankton atau ikan. Hasilnya produktivitas ikan menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk jejaring makanan (food chain) yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia. 2. Eksplorasi Isu Waktu : 2 jam Bahan : Slide presentasi, video Peran Guru : Narasumber dan Fasilitator Pelaksanaan 1. Guru mengulang kembali dampak sampah terhadap perubahan iklim dan masalah sampah yang dihadapi oleh Indonesia. Siswa diajak untuk turut menambahkan apa yang disampaikan oleh guru dari hasil riset mandiri mereka di aktivitas sebelumnya. 2. Guru memutar video yang meliput penyebab timbunan sampah di Indonesia juga dampaknya terhadap lingkungan. 3. Setelah menonton video ini, siswa diminta untuk berdiskusi dalam kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya. Adapun guru dapat memberikan beberapa pertanyaan untuk memandu siswa dalam diskusi. a. Apakah siswa melihat isu timbunan sampah sebagai salah satu isu serius di daerah mereka? b. Apakah mereka sering melihat pemandangan timbunan sampah? Jika iya, dimana dan bagaimana perasaan mereka? Apakah mereka menganggap ini hal yang sudah menjadi kebiasaan atau mereka pernah merasa tidak nyaman dengan ini? c. Siapakah yang bertanggung jawab terhadap timbunan sampah tersebut? d. Apa dampak limbah sampah terhadap kesehatan manusia? e. Apa dampak limbah sampah terhadap lingkungan dan perubahan iklim? f. Apakah solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi timbunan sampah yang ada? 3. Guru lalu memperkenalkan kampanye program 3R (Reduce, Reuse, Recycle), perkembangannya, serta kritik terhadap program ini. 4. Dalam penjelasan mengenai kampanye 3R ini, guru dapat menekankan pada pentingnya proses \"Reduce\" dan kaitannya terhadap usaha pengurangan volume sampah yang ada. 3 Refleksi Awal Waktu : 1 jam Bahan : Lembar Refleksi Peran Guru : Fasilitator Pelaksanaan 1. Dari hasil eksplorasi isu, ajak siswa merefleksikan gaya hidupnya terkait pengelolaan sampah. a. Pemahaman siswa bahwa sampah sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim b. Dalam keseharian, apakah siswa sudah melakukan tanggung jawab mengurus sampahnya? c. Apakah siswa mengetahui di mana sampah di rumahnya berakhir? d. Apakah siswa memahami Reduce, Reuse, Recycle dan sudah mulai menjalaninya? e. Apakah menurut siswa, mereka sudah mampu berkontribusi untuk menyelesaikan

masalah sampah di lingkungan terdekatnya (rumah dan sekolah)” 2. Setelah siswa mengisi lembar refleksi, guru dapat membaca dan mengidentifikasi pengetahuan dankemampuan yang sudah dimiliki saat ini. 3. Guru dapat mengajak siswa untuk berbagi hasil dari refleksi tersebut, seperti: a. Hal yang menarik untuk mereka tentang isu ini b. Hal yang bisa dilakukan remaja seusia mereka untuk berkontribusi c. Kendala yang biasa ditemui saat mereka mencoba gaya hidup yang ramah lingkungan Nama : Sangat Setuju Tidak Sangat Tidak Kelas : setuju ☐ Setuju Setuju Aku paham bahwa sampah sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim ☐ ☐ ☐ Dalam keseharian, aku sudah melakukan tanggung jawabku mengurus sampah ☐ ☐☐ ☐ Aku tahu di mana sampah di rumahku berakhir ☐ ☐☐ ☐ Aku paham tentang Reduce, Reuse, Recycle dan ☐ ☐☐ ☐ sudah mulai menjalaninya Menurutku, aku sudah mampu berkontribusi untuk menyelesaikan masalah sampah di lingkungan terdekatku (rumah dan sekolah) Hal yang sudah kuketahui tentang sampah dan Hal yang ingin kupelajari tentang sampah akibatnya terhadap perubahan iklim dan akibatnya terhadap perubahan iklim DI buat persentasenya dari hasil refleksi, Sangat Setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju 4. Kunjungan lingkungan sekolah Peduli Sampah Waktu : 3 jam (tergantung jarak lokasi dari sekolah) Bahan : buku dan alat tulis, kamera (HP) untuk dokumentasi Peran Guru : Pendamping dan Fasilitator Persiapan Sebelum Kunjungan 1. Persiapan Jadwal Kunjungan. Guru mempersiapkan jadwal kunjungan ke lingkungan sekolah atau luar lingkungan sekolah/masyarakat (dekat lingkungan rumah) 2. Siswa melakukan pengamatan di lingkungan sekitarnya mengenai pengolahan sampah : - Jenis sampah apa yang sering di temukan ? - Bagaimana pengolahan sampahnya ? Di bakar, di kubur atau di buang ke TPA ? - Apakah masyarakat sudah memisahkan sampah sesuai jenisnya ? - Dokumentasikan dalam bentuk foto atau video singkat yang menggambarkan kondisi pengolahan sampah di sekitar rumah 3. Tata Krama Kunjungan. Guru dan siswa menetapkan aturan bersama apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama masa kunjungan. 4. Siswa di ingatkan untuk mengumpulkan botol dan sampah plastic bersih dan kering Pelaksanaan 1. Observasi. Siswa mengobservasi dan melihat langsung isu lingkungan yang dihadapi 2. Wawancara. Siswa mewawancarai masyarakat sesuai dengan list pertanyaan yang sudah dikembangkan oleh siswa sebelumnya. 3. Taati aturan. Siswa diminta untuk menaati peraturan dari tempat yang dikunjungi.

4. Menulis laporan. Siswa diminta untuk membuat laporan kunjungan (500 kata). Siswa juga dapat memperkaya laporan ini dengan memasukkan foto kunjungan mereka. Tips untuk guru: Alternatif: Disarankan agar jadwal ini dapat dilakukan dengan Jika kunjungan tidak memungkinkan karena formatkombinasi guided tour (dimana siswa melihat- masalah logistik, sekolah dapat mengundang lihat dengan arahan dari pengurus dan menanyakan ke perwakilan TPA/komunitas untuk datang ke pengurus secaralangsung mengenai kegiatan sekolah atau kunjungan TPA secara virtual (guru TPA/komunitas) dan free time(dimana siswa diberi dapat membuat video kunjungan untuk waktu untuk mengeksplorasi area TPA, yang telah diperlihatkan ke siswa) disetujui dan dirasakan aman oleh pihakpengurus dan guru) 5. Diskusi Kritis Masalah Sampah Tips untuk guru 1. Guru perlu mendengarkan dan terlibat, bukan Waktu : 3 jam HANYA berkeliling tapi memancing pemikiran Bahan : Laptop, Proyektor, Buku, dan Alat Tulis dengan pertanyaan mengenai situasi yang dilihat saat kunjungan. Guru perlu melakukan Peran Guru : Fasilitator langkah demi langkah: Pelaksanaan ○ Mengamati: apa yang kamu lihat? apakah semua melihat hal yang sama? apa saja 1. Guru menunjukkan beberapa foto yang detail2 yang kamulihat di foto? diambil dari kunjungan. Foto2 tersebut ○ Memikirkan: apa yang terpikir saat melihat foto ini?apa yang kira-kira sedang dilakukan ditempel di dinding kelas atau ditaruh di orang2 di tempat pembuangan sampah ini? menurutmu mengapa tumpukan sampahnya meja ( 1 foto di 1 bidang) menjadi setinggi ini? Menurutmu apa yang terjadi? 2. Siswa diminta untuk berkeliling dan ○ Menanyakan: apa hal yang membuatmu mengamati foto2 tersebut, satu demi satu. heran? apapertanyaan yang muncul saat melihat foto ini? 3. Di setiap pos mereka diminta untuk mengisi 2. Jika siswa belum terbiasa melakukannya guru lembar kerja “See, Think, Wonder” bolehmemancing diskusi dengan menunjukkan detail tertentu yang ada di foto dan 4. Guru akan berkeliling dan memandu siswa mendiskusikan hal tersebut. mengisi lembar kerja tersebut, dengan bertanya langkah demi langkah Mengamati : apa yang kamu lihat dari foto ini? Memikirkan : apa yang terpikir pada saat melihat foto ini? Menanyakan : apa pertanyaan yang muncul saat melihat ini? 5. Presentasikan hasil diskusi setiap kelompok ! Tahap Kontekstualisasi. mengkontekstualisasi masalah di lingkungan terdekat 6. Trash Talk: Sampah di Sekolahku, Menggali informasi terkait limbah yang berasal dari plastic yang ada di sekitar Waktu : 2 jam Bahan : kertas dan alat tulis Peran Guru : Narasumber dan fasilitator Pelaksanaan 1. Pelaksanaan 2. Guru mengajak siswa untuk mengelilingi lingkungan sekolah dan mencari tahu permasalahan sampah di sekolah mereka. Adapun beberapa tempat yang bisa dikunjungi adalah: • Tempat penampungan sampah di sekolah • Kantin sekolah • Kelas • Koridor sekolah 3. Guru membagikan lembaran catatan observasi untuk diisi oleh para siswa. 4. Siswa mengamati pengolahan sampah yang ada di sekolah 5. Siswa mendeskripsikan kondisi hasil pengamatan pengolahan sampah di sekolah 6. Siswa mendeskripsikan kondisi hasil pengamatan pengolahan sampah di rumah

7. Siswa membandingkan pengolahan sampah di sekolah dan di rumah 7. Menentukan Jenis Produk dan Rencana Kegiatan Yang akan dilaksanakan Waktu : 2 jam Peran Guru : fasilitator, supervisi dan konsultasi Pelaksanaan 1. Guru menjelaskan tentang ecobricks sebagai salah satu solusi penanganan sampah. Mulai dari pengertian sampai pada tahapan pembuatannya. 2. Guru mengarahkan siswa pada setiap kelompok untuk membuat benda yang akan dibuat dari ecobricks, - Bentuk “LOVE” untuk taman - Kursi bulat - Meja bulat - Kursi persegi - Meja persegi 3. Guru mengarahkan siswa untuk menghitung jumlah botol yang diperlukan untuk membuat sebuah bentuk “LOVE” untuk taman, atau benda lain yang mereka pilih 4. Guru mengarahkan siswa membuat rencana kegiatan yang akan di laksanakan untuk membuat produk tersebut 5. Guru mengarahkan siswa untuk merancang dan Menyusun desain ecobrick 8. Asesmen Formatif berupa Presentasi: Sampah di sekolahku Waktu : 2 jam Bahan : Laptop, Proyektor Peran Guru : Moderator Pelaksanaan 1. Siswa secara kelompok bergantian mempresentasikan temuan mereka dan menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada mereka dalam sesi tanya jawab 2. Guru dapat memberikan feedback tertulis atas presentasi kelompok di akhir sesi sebagai bagian dari asesmen formatif (terlampir contoh feedback) 3. Guru sebagai moderator dapat meminta setiap kelompok untuk memberikan satu kesimpulan dari hasil presentasi yang ada di akhirpresentasi. 4. Guru menegaskan kembali keterkaitan antara isu sampah dengan isu perubahan iklim dan lingkungan lainnya, dan pentingnya peran aktif dari setiap individu untuk mengatasi masalah yang kompleks ini.

Poin penilaian presentasi Kejelasan ide dan • Menceritakan informasi, temuan, dan argumen dengan bukti pendukung informasi yang kuat. • Penjelasan mudah dimengerti • Memilih informasi, mengembangkan ide sesuai dengan kebutuhan. • Melengkapi alternatif solusi atau memberikan pandangan lain sebagai pelengkap. Pengaturan • Memenuhi semua informasi yang diminta (termasuk sumber referensi) informasi • Memberikan pendahuluan yang menarik, dan kesimpulan yang tajam • Bisa mengelola waktu presentasi dengan baik Gestur dan • Menjaga kontak mata dengan pendengar, penampilan • Menjaga gestur dengan baik • Percaya diri Penyampaian • Baju rapi • Bicara jelas, tidak terlalu cepat/lambat, dengan suara lantang, intonasi yang menarik pendengar, jarang menggunakan “err”, “emm” • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik Kelengkapan • Menggunakan media pelengkap untuk mempermudah atau memperkuat presentasi informasi/pemahaman serta menarik pendengar. Respon • Bisa menanggapi pertanyaan dengan jelas dan lengkap. Pertanyaan • Mengkonfirmasi pertanyaan dari peserta, mengakui kalau tidak tahu, atau pendengar menjelaskan bagaimana akan mencari jawabannya. Partisipasi dalam presentasi • Semua anggota berkontribusi dengan waktu/materi yang proporsional • Semua anggota bisa menjawab pertanyaan secara keseluruhan, tidak hanya bagian tertentu saja. Tahap aksi. bersama-sama mewujudkan pelajaran yang mereka dapat melalui aksi nyata 9. Aksi Nyata Sayangi sekolahku Eksplorasi program pengolahan sampah yang ada (memilah sampah kering dan sampah basah) Waktu : 4 jam Bahan : Sampah plastic, botol bekas minum AQUA 600 ml, trust bag Peran Guru : Fasilitator 1. Guru memulai sesi dengan mengingatkan siswa hubungan antara perubahan iklim dan masalah sampah dengan mengulang kembali intisari dan/atau menanyakan kepada siswa pelajaran yang sudah didapat dari aktivitas sebelumnya (terutama dari Aktivitas 4-5 mengenai kunjungan ke TPA dan Aktivitas 7-9 mengenai penelitian mengenai sampah di sekolah yang mereka lakukan) 2. Guru lalu meminta siswa untuk bekerja dengan kelompoknya masing-masing dan mulai melakukan tahapan pertama yaitu memisahkan sampah plastic yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Pilih salah satu sampah plastic yang sejenis untuk membuat ecobricks. Misalkan yang di ambil adalah sampah plastic bekas bungkus marimas, maka bungkus marimas itu harus dipisahkan dari sampah plastic yang lain. Dari berbagai rasa marimas bisa dikumpulkan sehingga menghasilkan warna yang beranekaragam. 3. Selain mengumpulkan sampah plastic yang akan dimasukkan, siswa juga memilah sampah plastic berupa botol bekas minum, yang dipilih adalah botol AQUA 600ml. Mengapa dipilih botol bekas minum AQUA ? karena yang banyak dijual disekolah adalah minuman kemasan AQUA 600ml. 4. Ketika memilah sampah plastic, pastinya yang diketemukan siswa tidak hanya sampah plastic marimas saja. Pasti ada sampah plastic yang lainnya. Nah ini bisa dikumpulkan dengan jenis yang sama. Misalkan sampah bekas bungkus bengbeng

atau makanan lainnya. Sampah-sampah ini dikumpulkan berdasarkan jenisnya. 10. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (membersihkan sampah plastik dari bakteri) Waktu : 1 jam Bahan : Sampah plastic, botol bekas minum AQUA 600 ml, trust bag Peran Guru : Fasilitator 1. Guru mendampingi siswa untuk melakukan tahapan berikutnya dalam pembuatan ecobricks, yaitu membersihkan sampah plastic dari bakteri. 2. Setelah semua sampah plastik terkumpul, cuci bersih semuanya dengan menggunakan sabun – bisa deterjen atau sabun pencuci piring. Setelah itu, jemur sampah plastik yang sudah dicuci ini di bawah sinar matahari sampai kering. 3. Hal ini dilakukan agar sampah plastic yang akan dibuat ecobricks bersih dari bakteri. Guru menjelaskan kenapa sampah plastic yang akan dibuat ecobricks harus bersih. 4. Apabila sampah plastic yang sudah terkumpul cukup banyak dan memerlukan ruang yang banyak untuk menjemurnya, maka untuk kegiatan ini bisa dilanjutkan di rumah lalu hasilnya yang sudah bersih bisa dibawa ke sekolah. 5. Botol bekas minum AQUA 600ml tidak perlu dicuci jika sudah dalam keadaan bersih. Namun, bagian dalam botol harus kering sebelum diisi dengan sampah plastik. 11. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (memasukkan sampah plastik yang sudah digunting kecil-kecil ke dalam botol aqua bekas 600 ml.) Waktu : 1 jam Bahan : Sampah plastic, botol bekas minum AQUA 600 ml, trust bag, timbangan Peran Guru : Fasilitator 1. Guru mendampingi siswa untuk melakukan tahapan berikutnya dalam pembuatan ecobricks yaitu memasukkan sampah plastic yang sudah dibersihkan pada botol AQUA 600ml. 2. Untuk memudahkan memasukkan sampah plastic tersebut bisa di gunting terlebih dahulu dengan ukuran yang lebih kecil. 3. Sebelum mulai memasukkan sampah plastik ke dalam botol, sediakan dulu tongkat yang panjangnya dua kali lipat panjang botol air mineral. Tongkat ini nantinya dipakai untuk mengemas sampah-sampah plastik agar muat dimasukkan ke dalam botol. 4. Setelah semua bahan yang di butuhkan tersedia, kini saatnya memasukkan sampah- sampah plastik yang sudah dibersihkan tadi ke dalam botol bekas air dari 200 gram, isi kembali botol dengan sampah plastik.mineral. Agar menghasilkan ecobrick yang cantik, masukkan plastik secara random agar tampak berwarna-warni. Isi botol dengan sampah plastik sampai semua bagian botol terisi penuh. 5. Ketika botol-botol bekas air mineral sudah terisi dengan sampah plastik, ambil tongkat yang tadi sudah disediakan untuk mendorong semua sampah plastik agar

padat di dalam botol. Jika masih tersisa rongga udara di dalam botol, isi kembali dengan sampah plastik sampai tidak ada rongga udara yang tersisa. Dorong kembali semua sampah plastik menggunakan tongkat. 6. Dalam membuat ecobrick kita tidak bisa asal-asalan memasukkan sampah plastik ke dalam botol bekas air mineral. Agar bisa menjadi “bata” yang nantinya disusun secara rapi, Anda wajib menimbang setiap botol yang sudah diisi sampah plastik. Standar ecobrick adalah 200 gram per botol air mineral berukuran 600ml. Kalau jumlahnya terlalu banyak, sisihkan sedikit sampah plastik di dalamnya. Sementara jika beratnya kurang 7. Sebelum semua ecobrick yang di buat terkumpul, simpan ecobrick yang sudah jadi di tempat yang teduh. Hindari paparan sinar matahari langsung agar botol-botol plastik ecobrick ini tidak menyusut. 12. Aksi Nyata Sayangi sekolahku membuat ecobricks (menyusun ecobricks menjadi bentuk \"LOVE\" untuk taman sekolah) Waktu : 4 jam Bahan : Ecobricks yang sudah jadi, lakban kuning, tali rafia, Peran Guru : Fasilitator 1. Guru mendampingi siswa untuk melakukan tahapan berikutnya, yaitu menyusun ecobricks menjadi bentuk “LOVE” untuk taman sekolah. 2. Bila ecobricks masih banyak, bisa dibentuk dengan pola yang lain, misalnya meja dan kursi, taman ecobricks. 3. Ecobricks di ikat dengan tali rafia dan direkatkan lagi dengan menggunakan lakban 4. Untuk membuat kursi dan meja, siswa membuat 2 pola lingkaran atau persegi, untuk atas dan bawah kursi, kemudian direkatkan lagi dengan lakban. 5. Bila ingin lebih nyaman bisa di tambahkan busa sesuai pola lalu direkatkan dengan menggunakan lakban, lalu di beri kain kiloan untuk lapisan dalam dan kain Oscar atau kain Rasfur untuk lapisan luar.

Rubrik Penilaian Ecobricks Iya Tidak 1. Pilah dan Siswa memilah sampah berdasarkan jenisnya. Bersihkan Sampah Setelah semua sampah plastik terkumpul, cuci Plastik bersih semuanya dengan menggunakan sabun – bisa deterjen atau sabun pencuci piring. Setelah itu, jemur sampah plastik yang sudah dicuci ini di bawah sinar matahari sampai kering 2. Sediakan Botol Botol tersebut tidak perlu dicuci jika sudah dalam Bekas Air Mineral keadaan bersih. Namun, bagian dalam botol harus dalam Jumlah kering sebelum diisi dengan sampah plastik Banyak 3. Gunakan Tongkat Tongkat ini nantinya dipakai untuk mengemas untuk sampah-sampah plastik agar muat dimasukkan ke Memasukkan dalam botol Plastik 4. Masukkan Sampah Saatnya memasukkan sampah-sampah plastik Plastik ke dalam yang sudah dibersihkan tadi ke dalam botol bekas Botol air mineral. Agar menghasilkan ecobrick yang cantik, masukkan plastik secara random agar tampak berwarna-warni. Isi botol dengan sampah plastik sampai semua bagian botol terisi penuh 5. Padatkan Sampah Ketika botol-botol bekas air mineral sudah terisi Plastik dengan sampah plastik, ambil tongkat yang tadi sudah disediakan untuk mendorong semua sampah plastik agar padat di dalam botol. Jika masih tersisa rongga udara di dalam botol, isi kembali dengan sampah plastik sampai tidak ada rongga udara yang tersisa. Dorong kembali semua sampah plastik menggunakan tongkat 6. Timbang Setiap Siswa wajib menimbang setiap botol yang sudah Ecobrick diisi sampah plastik. Standar ecobrick adalah 200 gram per botol air mineral berukuran 600ml. Kalau jumlahnya terlalu banyak, sisihkan sedikit sampah plastik di dalamnya. Sementara jika beratnya kurang dari 200 gram, isi kembali botol dengan sampah plastik. 7. Simpan Ecobrick di Sebelum semua ecobrick yang di buat terkumpul, Tempat yang simpan ecobrick yang sudah jadi di tempat yang Teduh teduh. Hindari paparan sinar matahari langsung agar botol-botol plastik ecobrick ini tidak menyusut

8. Susun Semua Apabila semua ecobrick sudah selesai dibuat, Ecobrick saatnya menyusun ecobrick ini menjadi sebuah benda atau bangunan. Ecobrick bisa dipakai untuk membuat bentuk “LOVE” untuk taman, membuat bentuk dinding (non-permanen), replika benda (gapura, pohon, dll), dan pagar mini Rubrik Asesmen Belum Mulai Berkembang Sangat Dimensi Berkembang berkembang sesuai harapan Berkembang Beriman, Terbiasa Mewujudkan Mewujudkan rasa Mewujudkan rasa Bertakwa memahami rasa syukur syukur dengan syukur dengan Kepada Tuhan tindakan- dengan terbiasa berinisiatif untuk membangun Yang Maha Esa, tindakan yang berperilaku menyelesaikan kesadaran peduli dan Berahlak ramah dan tidak ramah permasalahan lingkungan alam Mulia : Akhlak ramah lingkungan dan lingkungan alam dengan kepada alam, lingkungan serta memahami sekitarnya menciptakan dan membiasakan diri akibat dengan mengimplementa Beriman, untuk berperilaku perbuatan tidak mengajukan sikan solusi dari Bertakwa ramah ramah alternatif solusi permasalahan Kepada Tuhan lingkungan lingkungan dan mulai lingkungan yang Yang Maha Esa, dalam lingkup menerapkan ada. dan Berahlak kecil maupun solusi tersebut. Mulia : besar. Mengidentifikasi Memahami masalah Keterhu-bungan Memahami Memahami Memahami lingkungan hidup Ekosistem Bumi keterhubungan konsep harmoni konsep sebab- di tempat ia antara satu dan akibat di antara tinggal dan ciptaan dengan mengidentifikas berbagai ciptaan melakukan ciptaan Tuhan i adanya saling Tuhan dan langkah-langkah yang lainnya ketergantungan mengidentifikasi konkrit yang bisa antara berbagai berbagai sebab dilakukan untuk ciptaan Tuhan yang mempunyai menghindari dampak baik atau kerusakan dan buruk, langsung menjaga maupun tidak keharmonisan langsung, ekosistem yang terhadap alam ada di semesta lingkungannya.

Gotong Royong : Menampilkan Menunjukkan Menyelaraskan Membangun tim Kolaborasi, tindakan yang ekspetasi tindakan sendiri dan mengelola kerjasama sesuai dengan (harapan) dengan tindakan kerjasama untuk harapan dan positif kepada orang lain untuk mencapai tujuan Gotong Royong : tujuan kelompok orang lain melaksanakan bersama sesuai Kepedulian : dalam rangka kegiatan dan dengan target tanggap Tanggap mencapai mencapai tujuan yang sudah terhadap situasi terhadap tujuan kelompok di ditentukan sosial lingkungan sosial kelompok di lingkungan sesuai dengan lingkungan sekitar, serta Tanggap Kreatif : tuntutan peran sekitar (sekolah memberi terhadap Menghasilkan sosialnya dan rumah) semangat kepada lingkungan sosial gagasan yang orang lain untuk sesuai dengan orisinal Memunculkan Tanggap bekerja efektif tuntutan peran gagasan terhadap dan mencapai sosialnya dan imajinatif baru lingkungan tujuan bersama berkontribusi yang bermakna sosial sesuai sesuai dengan dari beberapa dengan Tanggap kebutuhan gagasan yang tuntutan peran terhadap masyarakat untuk berbeda sebagai sosialnya dan lingkungan sosial menghasilkan ekspresi pikiran menjaga sesuai dengan keadaan yang dan/atau keselarasan tuntutan peran lebih baik perasaannya. dalam berelasi sosialnya dan Menghasilkan dengan orang berkontribusi gagasan yang lain sesuai dengan beragam untuk kebutuhan mengekspresikan Mengembangka masyarakat pikiran dan/atau n gagasan yang perasaannya, ia miliki untuk Menghubungkan menilai membuat gagasan yang ia gagasannya, serta kombinasi hal miliki dengan memikirkan yang baru dan informasi atau segala risikonya imajinatif untuk gagasan baru dengan mengekspresika untuk mempertimbangk n pikiran menghasilkan an banyak dan/atau kombinasi perspektif seperti perasaannya. gagasan baru dan etika dan nilai imajinatif untuk kemanusiaan mengekspresikan ketika pikiran dan/atau gagasannya perasaannya. direalisasikan.

Kreatif : Memiliki gagasan Memiliki Mengeksplorasi Mengeksplorasi Menghasilkan dari sudut gagasan yang dan dan karya dan pandang orang menghasilkan mengekspresikan mengekspresikan tindakan yang lain karya atau pikiran dan/atau pikiran dan/atau Orisinal tindakan perasaannya perasaannya Memiliki gagasan dalam bentuk dalam bentuk Kreatif : dalam mencari Memiliki karya dan/atau karya dan/atau Memiliki solusi dari sudut berbagai tindakan tindakan, serta keluwesan pandang orang gagasan dalam mengevaluasinya berpikir dalam lain mencari solusi Menghasilkan dan mencari solusi alternatif mempertimbangk alternatif solusi Mengajukan Mengajukan dengan an dampaknya permasalahan pertanyaan untuk pertanyaan mengadaptasi bagi orang lain menjawab untuk berbagai gagasan Bernalar kritis : keingintahuannya membandingka Menghasilkan mengajukan dan untuk n berbagai Mengajukan solusi alternatif pertanyaan mengidentifikasi informasi dan pertanyaan untuk dengan suatu untuk klarifikasi dan mengadaptasi Bernalar kritis : permasalahan menambah interpretasi berbagai gagasan Mengidentifikasi mengenai dirinya pengetahuanny informasi, serta dan umpan balik , dan lingkungan a. mencari tahu untuk mengklarifikasi, sekitarnya. penyebab dan menghadapi dan mengolah Mengumpulkan konsekuensi dari situasi dan informasi Mengidentifikasi , informasi permasalahan dan mengolah mengklasifikasik tersebut. informasi dan an, Mengajukan gagasan membandingka Mengidentifika si, pertanyaan untuk n, dan memilih mengklarifikasi , menganalisis informasi dari dan menganalisis secara kritis berbagai informasi yang permasalahan sumber, serta relevan serta yang kompleks memperjelas memprioritask an dan abstrak. informasi beberapa dengan gagasan tertentu. Secara kritis bimbingan mengklarifikasi orang dewasa serta menganalisis gagasan dan informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaska n suatu gagasan yang paling relevan dari hasil klarifikasi dan analisis.

Rubrik asesmen sumatif projek Berkembang Sesuai Mulai Belum Sangat Berkembang Harapan Berkembang Berkembang Perencanaan yang Perencanaan Masih berupa Perencanaan Perencanaan yang jelas: tujuan dan lini memiliki tujuan curah Pelaksanaan jelas dan matang: masa yang realistis yang jelas pendapat dan tujuan, tahapan- ide-ide aksi Ketepatan tahapan penting Siswa Siswa yang belum Sasaran (milestones) serta mengidentifikasi mengidentifikasi beraturan lini masa yang realist satu jalur untuk satu jalur untuk is menjalankan menjalankan Siswa Siswa rencana. Mereka rencana. Mereka melaksanakan mengidentifikasi dapat melaksanakan dapat aktivitas- jalur yang berbeda rencana dengan melaksanakan aktivitas untuk menjalankan proses yang proses runtut dan secara rencana. Mereka terkoordinasi meminta bantuan sporadis dapat melaksanakan pada pihak-pihak rencana dengan Solusi/ aksi yang yang sesuai Masih dalam proses yang ditawarkan tahapan terkoordinasi, menyasar faktor- Solusi/aksi yang identifikasi bervariasi dan faktor yang terkait ditawarkan faktor yang bekerja secara dengan berupa ide yang menyebabkan adaptif permasalahan dan masih di permasalahan memberikan permukaan dan akibat Solusi/aksi yang dampak positif permasalahan yang ditawarkan sementara dan/atau kurang ditimbulkan menyasar inti realistis permasalahan, realistis dan memberikan dampak yang berkesinambungan 13. Mari Beraksi Sambil Refleksi Mengelola Sampah di Sekolah Waktu : 3 jam Bahan : Lembar refleksi Peran Guru : Fasilitator “Apa yang bisa kita lakukan agar aksi ini dapat berlanjut dan berkembang?” Pelaksanaan Kegiatan Pengayaan Siswa dalam kelompok kecil menjalankan aksi nyata yang sudah dipilih oleh warga sekolah. Aksi ini Pihak sekolah dapat mengundang dijalankan dengan melibatkan seluruh anggota komunitas lokal, pemerintah daerah, sekolah. Salah satu contoh nyata yang dapat atau pihak terkait lainnya yang dilakukan adalah pemisahan sampah. Misalnya, siswa mempunyai visi yang sama untuk dapat mengajak teman-teman seangkatannya untuk bekerja sama/kolaborasi untuk berkeliling sekolah mengumpulkan sampah dan memonitor implementasi program, membuang pada tempat yang sesuai, siswa menjaga keberlangsungan program dan mengajarkan adik-adik kelasnya untuk membuang men-scale up dampak program sampah di tempat yang sudah dipisah-pisahkan Selama proses aksi ini, siswa diajak untuk terus melakukan refleksi terhadap efektivitas dan dampak aksi yang dijalankan terhadap masalah sampah yang dihadapi juga kondisi perubahan iklim (terlampir contoh lembar refleksi yang bisa dipakai)

Lembar Refleksi Akhir Nama : Sangat Setuju Tidak Setuju Sangat tidak Kelas : setuju ☐ setuju Melalui projek ini, aku semakin memahami ☐ ☐ ☐☐ bahwa sampah sangat berpengaruh terhadap ☐ perubahan iklim ☐ ☐ ☐☐ Selama projek ini, aku melakukan tanggung ☐ ☐☐ jawabku mengurus sampahku lebih baik ☐ ☐☐ Aku lebih paham bagaimana sampah di sekolah dan di rumahku diolah Setelah projek ini, aku tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikan masalah sampah di lingkungan terdekatku (rumah dan sekolah) Hal yang sebelumnya ingin kupelajari tentang Hal yang ingin kupelajari lebih jauh tentang sampah dan akibatnya terhadap perubahan sampah dan akibatnya terhadap perubahan iklim dan terjawab melalui projek ini iklim setelah projek ini berakhir Lembar Refleksi dan Evaluasi Kelompok : [nama kelompok] A. [nama anggota kelompok] B. [nama anggota kelompok] C. [nama anggota kelompok] D.[nama anggota kelompok] Kontribusi. Selalu memberikan ide dan usaha terbaik dalam ☐ ☐ ☐ ☐ pekerjaan dan diskusi kelompok Solutif. Selalu berusaha mencari solusi permasalahan kelompok. ☐☐☐☐ Sikap diri. Mengatur diri dan memberikan suasana ☐ ☐ ☐ ☐ menyenangkan dalam bekerja, terbuka atas pendapat orang lain] Fokus. Selalu fokus dalam bekerja ☐☐☐☐ Kepemimpinan. Bisa mengajak teman-teman sekelompok untuk ☐ ☐ ☐ ☐ menuntaskan tanggung jawab kelompok

Pencapaian terbesarku selama proyek ini : ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… Siapakah teman yang paling menunjukkan perubahan sikap yang positif selama proyek ini? Perubahan apa yang terjadi? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… Siapakah teman yang menurutmu menghambat pekerjaan kelompok? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… Saran apa yang bisa kamu berikan pada orang tersebut supaya bisa bekerja lebih baik? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………………………………… Hal yang paling menyenangkan/berkesan di proyek ini adalah ... Hal tersebut aku hadapi dengan … Mengetahui Bandung Barat, 25 Juli 2023 Kepala SMPN 4 Cipatat Koordinator Projek HARTONO, S.Pd., M.M.Pd. SITI NURJANAH, S.Pd. NIP. 196901261994121003 NIP. 198101042014122002


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook