Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore @Buku Tahunan 2022

@Buku Tahunan 2022

Published by sendi febriansyah, 2022-05-12 01:50:51

Description: @Buku Tahunan 2022

Search

Read the Text Version

Pengalamanku Menghadapi Pandemi Ayla Kanza Adiva Assalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh H ai, namaku Ayla Kanza Adiva. Umurku sekarang 11 tahun. Aku lahir pada tanggal 28 juni 2010. Saat ini aku hidup di masa-masa terjadinya virus berba- haya yang bernama COVID-19. COVID-19 adalah virus berbahaya yang menular melalui pernafasan COVID-19 pertama kali muncul di Cina pada akhir Agustus 2019. Sekarang aku kelas 6 SD dan sekolah ku sedang menjalankan PJJ (Pembelajaran jarak jauh). Biasanya karena ada beberapa masalah aku jadi kesusahan belajar, masalah seperti koneksi internet, tidak paham pembelajaran karena tidak tatap muka secara langsung, terlambat karena kesusahan menemukan link untuk Zoom, dan tidak fokus dalam belajar karena ada beberapa gangguan di rumah. Bukan hanya sekolah, karena kematian disebabkan oleh COVID-19 semakin meningkat jadi anak-anak yang masih belum vaksin tidak bisa kemana-mana seperti ke mal, tempat bermain, semua ditutup. Jadi aku dan adikku yang bernama Ghazi jadi bosan di rumah terus, tapi kami menemukan beberapa solusi seperti bermain sepeda di komplek, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan olahraga, berkreasi di rumah. Karena tempat camping adalah wisata yang terbuka dan tidak di ruangan tertutup jadi keluargaku pergi camping bersama. Pada malam hari ketika camping ada hujan besar yang membuat tendaku bocor, walaupun tenda bocor, di sana masih seru, aku bisa melihat pemandangan yang cantik, pergi ke sungai, dan bisa jalan-jalan keluar bersama keluarga ku. Aku bisa jalan-jalan ke pantai bareng keluarga walaupun bisa nya di tempat yang dekat saja. Ahh, aku juga punya beberapa kenangan buruk selama berjalannya pandemi ini seperti saat teman terdekat ku positif, kita jadi tidak bisa bertemu dan bermain selama satu bulan. Karena pandemi, selama tujuh belasan tahun ini tidak ada lomba seperti tahun sebelumnya, dan juga yang tadinya keluarga ingin berlibur ke Bangka Belitung pada bulan Juni 2021, malah diundur sampai akhir Oktober itu pun belum pasti kalo COVID-19 tidak mereda ke Bangka nya harus diundur lagi. Setiap ada kenangan buruk pasti juga ada kenangan baik, dan akan ku ceritakan kenangan baik itu. Karena pandemi, aku jadi sering bosan di rumah, Teman-teman ku juga bosan jadi kami bisa main di luar bareng, tapi tetap pakai masker, yaaa. Nah, Belajar Saat Pandemi 86

aku jadi senang karena kami sudah lama tidak main. Aku juga punya lebih banyak waktu bersama Ayah karena sekarang Ayah ke kantornya dibatasi jadi bisa olahraga, main sepeda, main game seperti monopoli ataupun catur bareng. Ibuku juga jadi lebih sering bersama ku, kami bikin kue, berkreasi seperti melipat origami, melukis, dan salat Zuhur bareng karena saat masih sekolah, aku salat Zuhurnya di sekolah. Oke Teman-teman, itu saja yang ingin aku ceritakan tentang pengalamanku saat pandemi ini, dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama pandemi ini, seperti kita harus bersyukur selama ini kita bisa keluar bersenang-senang menghilangkan stress bersama teman-teman, dan juga jangan makan sesuatu yang aneh-aneh yaaa, makan itu harus sesuatu yang halal dan toyyib. Aku berharap semoga virus COVID-19 segera menghilang dari bumi ini dan semoga kita semua dapat bertemu dan teman teman kita, semoga kalian sehat semua yaaa. Wassalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh 87 Belajar Saat Pandemi

Petualang Pejeje Nibras Achmad W aktu menunjukkan pukul 07:30 dan aku masih asyik dengan sepiring nasi goreng panas buatan Ibu sambil menonton acara TV kesukaanku. Tiba-tiba dari kamar mandi samar-samar kudengar suara “merdu” Ibu yang mengingatkanku untuk segera sekolah. Bergegas kuambil baju seragam dengan celana seadanya, karena celana seragamku yang sudah tidak muat lagi. Segera kunyalakan komputer, pasang background, tak lupa mengambil sisa nasi goreng yang tadi belum selesai ku makan lalu duduk di depan komputer. Dan aku sudah siap sekolah. Itulah salah satu rutinitas sekolah PJJ ku di tahun kedua pandemi ini. Namun PJJ ku di awal pandemi tahun lalu tidak kalah seru dan penuh tantangan. Kegiatan PJJ ku tidak hanya dari rumah, kadang aku ikut ke kantor Ayah di Bandung, kadang sekolah dari kantor Ibu, dan kadang aku sekolah sambil duduk di atas motor dibonceng Ibu ke kantornya. Nah, mau tau apa saja tantangan dan keseruan PJJ ku selama pandemi? Simak petualangan PJJ-ku sampai selesai, ya! Pasti sebagian besar teman-teman tau kan apa itu COVID-19? COVID-19 adalah virus dari Wuhan yang menyebar dari daerah-daerah di Cina sampai ke negara- negara di dunia, sampai 90 persen negara di dunia penduduknya rata-rata terkena COVID-19. Saat COVID-19 mulai menyebar ke Indonesia, sekolah akhirnya ditutup dan kita harus sekolah dari rumah karena pandemi. Aku sangat merasa bosan karena tidak bisa keluar rumah dan tidak bisa ke sekolah. Sebelumnya saat di sekolah aku bisa bermain bersama teman-teman, belajar bersama Bapak/Ibu Guru, salat berjemaah di masjid sekolah, naik jemputan bersama adik atau kakak kelas, makan siang bersama di kelas, bermain petak umpet atau bermain Beyblade sambil menunggu jemputan datang dan masih banyak lagi. Walaupun sekolah ditutup tapi pembelajaran tetap berjalan lewat PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh. Selama PJJ aku menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet dan WhatsApp Video Call. Perangkat yang ku gunakan saat PJJ adalah laptop Ayah atau Ibu, HP Ayah atau Ibu dan komputer Ibu di kantor. Selama menjalani PJJ aku didampingi oleh Ibu, tapi kadang juga sendiri karena Ibu sedang kerja, menemani adikku PJJ juga atau mengasuh adikku yang paling kecil. Dengan adanya PJJ ini bagiku lumayan sulit untuk memahami pelajaran yang diterangkan Belajar Saat Pandemi 88

oleh Bapak Ibu guru yang sedang mengajar dan kadang tidak tau saat diberi pertanyaan oleh Bapak/Ibu guru. Terkadang saat PJJ aku malah main game. Saking asyik dan lamanya bermain game sampai lupa kalau ada PJJ, sampai-sampai pas mau masuk Zoom PJJnya sudah selesai. Itu adalah salah satu tantanganku saat PJJ. Tantangan selanjutnya masih berlanjut. Karena di rumah tidak ada wifi, jadi PJJ nya tethering pakai HP Ayah atau Ibu. Karena Ayah Ibu ada jadwal WFH-WFO, maka aku harus menyesuaikan jadwalnya. Misalnya saat Ayah WFO berarti PJJnya menggunakan HP Ibu, begitupun sebaliknya. Nah jika Ayah Ibu jadwal WFOnya bersamaan, berarti aku ikut Ibuku ke kantor. Terkadang jika tiba-tiba Ibu harus segera ke kantor padahal aku juga harus PJJ, terpaksa aku join Google Meet dulu dan mengikuti PJJ di atas motor dibonceng Ibu selama perjalanan ke kantor. Ada lagi tantangannya, aku dan adikku PJJ-nya menggunakan Zoom dan WhatsApp Video Call. Kalau Ayah WFO berarti di rumah hanya ada 1 laptop dan 1 HP Ibu. Jika jadwal Zoomnya berbarengan. Ibu harus instal aplikasi Zoom dulu di HPnya, padahal HP ibu kapasitasnya kecil jadi harus clear data baru bisa instal. Nah, jika jadwal video callnya berbarengan terpaksa aku mengalah setelah adik selesai video call. Walaupun ada banyak tantangan selama PJJ namun itu adalah keseruan tersendiri buatku. Misalnya saat aku harus ikut ke kantor Ayah di Bandung, aku anggap saja seperti berpetualang, jalan-jalan dan liburan. Atau saat aku sekolah dari kantor Ibu, aku dengan senang hati ikut dan memulai petualangan PJJ di kantor Ibu. Karena banyak hal yang bisa dilakukan di kantor Ibu, aku bisa main game Roblox bersama teman-temanku atau diskusi tentang pelajaran setelah selesai PJJ sampai-sampai aku ikut les Bahasa Inggris dan les membuat Game Scratch juga dari kantor Ibu sambil menunggu Ibu menyelesaikan pekerjaannya. Siang hari setelah aku selesai PJJ dan tidak ada kegiatan sekolah lagi, agar tidak merasa bosan, aku biasanya suka main PS. Kalau PS nya lagi dimainin adik, aku main komputer. Kadang aku suka main dan memberi makan ikan di saung bersama adik, Ayah atau bersama keluarga. Terkadang aku juga suka main HP Ayah. Itulah yang aku alami saat pandemi ada di muka bumi ini. Aku jadi tidak bisa jalan-jalan keluar rumah, cuma bisa di dalam rumah sambil main HP atau main PS. Waktu pertama kali ramai berita COVID-19 rasanya sangat bosan dan bingung mau bermain dengan siapa? 89 Belajar Saat Pandemi

Namun ada banyak hikmah yang aku ambil dari pandemi ini. Aku menjadi lebih dekat dengan Adik, Ibu dan Ayah atau bisa dibilang keluarga. Bisa salat berjemaah di rumah bersama keluarga, hidup lebih sehat karena jarang jajan di luar dan bisaberolahraga bersama di rumah. Semoga pandemi cepat berlalu dan tidak ada lagi di Indonesia dan corona tidak akan ada lagi di seluruh dunia. Saat aku menulis cerita ini, alhamdulillah aku masih bisa mengikuti PJJ menggunakan aplikasi Zoom. Menurutku aplikasi tersebut sudah banyak digunakan dan sangat bermanfaat sekali. Tapi sayangnya aplikasi tersebut bukan buatan Indonesia. Harapanku agar Indonesia dapat membuat aplikasi seperti Zoom dan jaringan dari aplikasi tersebut digratiskan untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Sehingga Teman-teman di seluruh pelosok Indonesia bisa melaksanakan PJJ dengan nyaman, jaringannya stabil dan tidak khawatir dengan biaya untuk kuota internet. Nah, bagaimana nih petualangan PJJ teman-teman? Belajar Saat Pandemi 90

Pembelajaran Jarak Jauh Membawa Berkah Siti Rabisah Hayatunufus Jundani K ondisi Pandemi yang dialami seluruh dunia termasuk bangsa Indonesia, kondisinya sangat memprihatinkan sehingga berdampak kepada kehidupan manusia salah satunya pendidikan. Virus Corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, akan pulih tanpa penangan khusus namun sebagian orang akan mengalami sakit parah dan memerlukan bantuan medis. Untuk menekan penyebaran Virus COVID-19, agar sistem pendidikan tetap berjalan maka pemerintah memberlakukan pembelajaran jarak jauh dilakukan kurang lebih setahun lebih. Kondisi seperti ini adalah pengalaman yang baru untuk saya dan teman-teman. Saya menjalaninya dengan perasaan campur aduk, satu sisi senang karena banyak hal yang dilakukan dengan keluarga di rumah. Waktu yang dipergunakan pun sangat banyak. Sisi yang lain nya ada hal yang menyedihkan karena tidak bisa ketemu dengan teman-teman bermain dan belajar bersama, tidak bisa langsung bercengkrama dengan Bapak/Ibu Guru di sekolah. Alhamdulillah kondisi sekarang semakin membaik dan sudah mulai simulasi tatap muka ke sekolah, walaupun saya belum bisa ikut bergabung dengan teman-teman dan Ibu Guru di sekolah karena saya masih berada di luar kota. Semoga kondisi bangsa kita tercinta ini semakin membaik dan tambah di berkahi Allah Swt., Aamiin. 91 Belajar Saat Pandemi

Effect Virus Corona Arloncy Keanu Rezaldi V irus corona adalah virus yang menular yang berasal pada awalnya berasal dari Wuhan, orang Indonesia bepergian membawa virus tersebut sehingga banyak yang terjangkit dari virus tersebut dan pemerintah menetapkan sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diawali dengan lockdown pada tanggal 16 Maret 2020. Saya sedih karena sekolah mulai ditutup. Semenjak ada virus corona saya tidak bisa kesekolah. Saya tidak bisa bertemu teman-teman san guru-guru. Saya juga tidak bisa pergi kemana-mana karena ada lockdown. Pada saat saya dan teman-teman ingin pergi ke Taman Mini untuk berwisata ilmiah yang akan dilaksanakan kegiatan di luar sekolah. Ternyata Taman Mini ditutup. Saya tidak bisa kesana karena sudah banyak orang yang terjangkit virus COVID-19. Sebelum virus corona masuk ke Indonesia saya sangat senang karena setiap hari ketemu teman, belajar dan main bersama. Sebelum virus ini datang kami tidak memakai masker kemana-mana, sekarang kami harus membiasakan diri untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Virus corona semakin merajalela, semakin hari semakin banyak yang terjangkit sehingga pemerintah memutuskan seluruh sekolah yang ada di Indonesia mulai dari tingkat TK, PAUD, SD, SMP, SMA dan Universitas melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Untuk melakukan PJJ, saya harus menyiapkan handphone agar bisa belajar secara daring bersama guru. Saya juga biasa memakai laptop, jika laptopnya tidak digunakan Bunda untuk bekerja. Alhamdulillah, walaupun penjelasan Bapak dan Ibu Guru melalui daring, saya bisa memahami pembelajaran setiap harinya. Akan tetapi pada awal PJJ saya belum memasang wifi sehingga saya jarang mengikuti PJJ. Setelah memasang wifi, saya tidak terganggu lagi untuk mengikuti pembelajaran. Karena sebelum memasang wifi saya sangat terganggu karena tidak ada kuota internet. Pada saat sekolah ditutup saya jarang di rumah, saya lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman di rumah. Saya mempunyai ide atau peluang usaha yaitu menjual layangan. Keuntungan menjual layangan saya tabungkan untuk membeli kebutuhan yang diperlukan dan tidak meminta uang jajan kepada orang tua. Hikmah dari virus corona ini saya dapat mengetahui bagaimana caranya berbisnis dengan baik dan dapat memanfaatkan waktu luang untuk hal yang bermanfaat. Belajar Saat Pandemi 92

Suka Duka Saat PJJ Aufa Qonita Shabrina V irus COVID-19 adalah virus berbahaya yang berpotensi mematikan. Virus ini awalnya ditemukan di kota Wuhan di negara China pada akhir tahun 2019, ke- mudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Saat virus ini masuk ke Indonesia dan menyebabkan berbagai perubahan, termasuk menjadikan sekolah dihentikan, perasaan saya menjadi sedih. Namun saya tahu bahwa saya harus bersabar, karena penanganan virus ini akan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu perubahan yang harus saya alami adalah, melaksanakan sekolah dari rumah, atau PJJ. Selama masa PJJ, alat yang saya gunakan adalah handphone. Saya mengikuti PJJ sendirian, jika ada materi yang sulit dipahami maka saya akan bertanya orang tua saya. PJJ ini tidak selalu berjalan baik. Saya seringkali merasa bosan dan pusing, terutama karena menatap layar terlalu lama. Untuk pemahaman materi, saya harus tetap fokus, karena kadang materi sulit dipahami. Begitu juga dengan penugasan. Tugas yang diberikan terkadang mudah untuk dijawab, namun kadang juga sulit untuk dijawab. Namun ada sisi positif yang saya rasakan saat PJJ, yaitu waktu berkumpul dengan keluarga menjadi lebih banyak. PJJ juga memungkinkan kami untuk belajar di mana saja. Saat bulan Februari lalu, Ayah pindah tugas ke Riau. Saya dan Bunda ikut menemani Ayah di Riau selama dua bulan. Selama dua bulan itu, kegiatan PJJ saya jalani dari Riau. Sudah lebih dari setahun kami menjalani PJJ. Pasti ada rasa bosan yang kadang saya alami. Untuk mengatasi kebosanan itu, saya membaca buku, bermain sendiri dan mengobrol bersama keluarga. Untuk menambah pemahaman, saya mengikuti pelajaran tambahan melalui kegiatan les di rumah. Saya senang menjalani kegiatan ini, karena selain guru les yang menyenangkan, saya juga dapat bertemu dan mengobrol dengan teman-teman. Ada satu kejadian sedih yang alami saat saya sedang menjalani PTS (Penilaian Tengah Semester). Saat itu, kami mendapat kabar duka bahwa Eyang meninggal dunia. Saya ikut sedih, setelah mendapat kabar duka itu, kami sekeluarga berangkat ke Semarang. 93 Belajar Saat Pandemi

Hikmah yang dapat saya ambil dari kondisi pandemi ini adalah, saya semakin sering mengingat kematian, karena umur adalah rahasia Allah. Saya juga semakin menyadari bahwa Allah Mahakuasa. Allah yang bisa menghentikan pandemi ini. Namun ikhtiar kami manusia, adalah mencegah agar tidak terkena penyakit. Oleh karena itu, selama pandemi, saya juga terlatih untuk menjaga kebersihan, sebagai bagian dari pencegahan agar tidak tertular. Meskipun saat ini, berbagai usaha sudah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk menghentikan penyebaran virus, namun status pandemi belum berakhir. Oleh karena itu, jika PJJ ini masih akan berlangsung, saya ingin mengusulkan kepada pemerintah agar dapat mengatur penyedia jaringan internet, sehingga koneksi jaringan dapat lebih kuat, dan PJJ bisa berlangsung lebih maksimal. Namun, tentu saja saya dan semua teman, sangat berharap COVID-19 segera reda dan kami dapat segera bersekolah offline kembali. Doa dan harapan saya semoga seluruh dunia segera terbebas dari pandemi ini. Saya juga mendoakan agar Indonesia lebih baik dari sebelumnya, dan diberikan pemimpin yang amanah dan bijak. COVID-19 pergi dari dunia dan sekolahnya OFFLINE. Belajar Saat Pandemi 94

Pandemi… Aisya Nayra P andemi COVID-19 sedang mewabah di dunia. Termasuk di Indonesia yaitu virus yang penularannya sangat cepat. Karena membuat ribuan manusia di dunia sakit karena tertular virus corona/COVID-19, maka kita harus menjaga diri dengan mematuhi protokol kesehatan, konsumsi makanan sehat dan minum vitamin. Aktivitas di dunia mulai berubah sejak ada pandemi COVID-19. Pembelajaran sekolah pun online atau kita sebut dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Aktivitas orang bekerja pun dibatasi juga kegiatan jual beli di mal. Yang awal nya hanya 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker, sekarang menjadi 5M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan karena kasus covid semakin bertambah. Sedih dan kecewa karena awal nya mau ada kegiatan ke Taman Mini dari sekolah yang akhirnya dibatalkan karena pemerintah sudah mengeluarkan pemberitahuan bahwa semua sekolah, tempat wisata, pasar, perkantoran dan mal ditutup. Kepala Sekolah pun mengeluarkan pemberitahuan bahwa SDIT QA Baitussalaam menjalani PJJ. Awalnya bosan karena belajarnya dari rumah, tidak bertemu guru-guru dan teman-teman. Tetapi kita harus tetap bersyukur dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini dan mengerjakan semua kegiatan dengan sebaik-baik nya. Alhamdulillah, aku ikut pelajaran terus walau sering ke hambat karena signal atau kuota. Ketika pembelajaran pun aku harus bergantian menggunakan laptop atau handphone dengan adik. Aku menjalani PJJ sendiri karena Mama Papa juga harus melakukan aktifitas lainnya. Untuk mengerjakan tugas matematika dibantu Mama karena menurut ku sedikit sulit. Untuk tugas yang lain bisa aku kerjakan sendiri. Materi biasanya sedikit sulit dipahami tapi biasanya setelah pembelajaran diulangi lewat tugas, aku pun sudah paham. Dinamika selama mengikuti PJJ, dimana aku harus bisa menguasai aplikasi Google Classroom, Google Meet, dan Zoom. Mama pun jadi belajar untuk membantuku menggunakan aplikasi tersebut agar aku dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Suka duka nya selama PJJ kalau sisi positif, aku lebih banyak waktu bersama keluarga, tidak capai pulang pergi ke sekolah dan banyak waktu untuk melakukan banyak hal dan tetap bisa ikut pembelajaran walau harus di rumah. Kalau Mama 95 Belajar Saat Pandemi

ada keperluan untuk pergi, aku bisa langsung ikut. Sisi negatif kalau lagi pembelajaran aku merasa badan pegal dan sekarang sepertinya mata ku sakit suka berair dan perih. Kegiatan di rumah bersama keluarga biasanya masak atau belajar matematika dan bermain bersama adik. Aku juga sekarang menambah kegiatan dengan ikut tahsin di daerah tempat tinggal. Kegiatan saat sendiri menulis diari, menggambar atau bermain HP. Sedih karena tidak bisa bermain di luar rumah bersama teman-teman. Saat Pandemi kami sekeluarga sakit terkonvirmasi positif COVID-19. Semua keluarga dari mama dan papa juga sakit pada awal bulan Agustus 2021. Dan yang paling sedih Mbah Kakung aku dari mama meninggal dunia karena covid. Aku sudah tidak bisa bertemu dengan Mbah Kakung ku lagi. Untuk pemerintah memberikan kuota untuk belajar sehingga kendala kehabisan kuota bisa tertangani. Untuk sekolah semua program nya sudah bagus tapi saya berharap juga sesekali ada pembelajaran offline. Atau kegiatan lain yang dilakukan secara bertemu langsung. Hikmah nya kita harus menerima semua takdir dengan ikhlas, selalu bersabar, selalu berdoa kepada Allah, dan meningkatkan ibadah agar kita mendapat pertolongan Allah agar pandemi ini segera berakhir, masyarakat mematuhi dan menjalani semua protokol kesehatan. Pemerintah bisa menangani pandemi ini dengan baik, agar pandemi segera berakhir. Semoga pandemi segera selesai agar kita semua bisa aktifitas normal seperti sebelum pandemi. Aamiin… Untuk pemerintah memberikan kuota untuk belajar sehingga kendala kehabisan kuota bisa tertangani. Untuk sekolah semua program nya sudah bagus tapi saya berharap juga sekali-sekali ada pembelajaran offline. Atau kegiatan lain yang dilakukan secara bertemu langsung. Belajar Saat Pandemi 96

Stay Happy on the Pandemic Raditya Bagas Abisena C OVID-19 sedang mewabah di seluruh dunia, karena itu kita harus melakukan aktivitas dari rumah termasuk bekerja, belajar, olahraga, dan juga bersosiali- sasi. Belajar dari rumah dibimbing oleh guru ditemani Ayah dan Bunda dengan menggunakan Zoom, Google Meet, Microsoft Word, disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Apa itu COVID-19? COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan CoronaVirus yang pertama kali mewabah di Wuhan (China). Dan akhirnya mewabah di seluruh dunia saat ini. Jika kita keluar rumah ada kemungkinan kita terkena virus tersebut. Virus COVID-19 ini sangatlah berbahaya bahkan bisa merenggut nyawa. Adanya PPKM disebabkan adanya COVID-19 ini, jadi kita harus tetap beraktivitas di dalam rumah dan patuh melaksanakan protokol kesehatan yaitu 5M. 5M yakni mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker saat keluar rumah, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas dan Interaksi. Semua kegiatan harus dilakukan di rumah termasuk belajar, dengan sistem pem- belajaran jarak jauh. Terkadang kita jadi bosan karena tidak ada teman saat istirahat, dan bisa saja kita merasa stress saat melakukan PJJ. Semoga suatu saat nanti pandemi COVID-19 ini segera berakhir, agar kita bisa bertemu dan bermain bersama lagi. Aku melaksanakan PJJ dengan agak santai karena tidak perlu melakukan kegiatan fisik yang bisa membuat lelah. Aku selalu menggunakan laptop untuk Zoom, mengerjakan Lembar Kerja (LK), dan berdiskusi soal tugas bersama teman pun selalu menggunakan laptop. Aku terbiasa melaksanakan PJJ sendiri, tapi tidak jarang juga aku dibantu oleh orang tua. Aku dibantu Ayah dan Ibu saat mengerjakan PR akhlak ataupun tugas lainnya yang terasa sulit. Tugas yang diberikan oleh guru- guru sih terasa agak sulit ya, karena penjelasannya terkadang tidak terdengar dengan jelas atau suaranya terputus-putus. Kalau soal memahami materi dari guru itu mudah dimengerti, kecuali kalau sinyalnya kurang bagus seperti yang kubilang tadi. Menurutku sisi positif dari PJJ, yaitu tidak ada kegiatan fisik yang membuat lelah dan bisa dibilang tugas-tugas rumah yang diberikan tidak terlalu sulit. Kalau sisi negatifnya itu karena aku tidak bisa bermain bersama teman dan terkadang terasa 97 Belajar Saat Pandemi

bosan juga saat tidak mengerjakan tugas bersama teman-teman. Saat sedang bosan karena sudah selesai mengerjakan tugas dari sekolah aku biasanya menggambar karakter-karakter fiksi di Instagram ku menggunakan aplikasi Ibis Paint X, PaintTool SAI, Pixellab dan FireAlpaca. Tidak jarang juga aku bermain video game bersama teman-teman atau bermain bola bersama adikku. Tidak ada pengalaman yang terasa terlalu menyedihkan selama pandemi. Tetapi karena selalu berada di depan layar laptop, mataku makin tambah banyak minusnya. Sebelum pandemi mataku sudah minus 3 dan 2½. Kini menjadi minus 5 dan 4¼. Ini disebabkan karena efek radiasi dari pancaran cahaya di laptop atau handphone. Namun walaupun itu semua terjadi, kita juga bisa mendapat hikmah dari pandemi ini. Di antaranya kita bisa jadi lebih dekat dengan keluarga yang ada di rumah, lebih sering berinteraksi jadi tidak berdiam diri saja saat ada di rumah. Orang-orang jadi lebih memperhatikan kesehatan diri dan juga orang lain. Aku berharap semoga pandemi ini berakhir dengan cepat agar kita semua bisa bermain bersama lagi, belajar bersama lagi. Dan semoga Indonesia jauh dari respon negatif orang-orang tentang tingkat kewaspadaan warga Indonesia terhadap COVID-19. Untuk mengatasi kebosanan PJJ, mungkin sesekali kelas mengadakan belajar bersama di sekolah tapi tidak sekaligus semua muridnya. Nanti bisa dibagi kelompok dengan waktu yang berbeda, agar protokol kesehatan tetap terjaga. Atau, belajar berkelompok dengan teman yang berada dalam satu lingkungan rumah dibimbing oleh guru yang datang ke rumah. Corona Virus juga makhluk ciptaan Allah Swt. dan tidak ada makhluk yang di- ciptakan tanpa tujuan. Kita tidak bisa terus merasa resah akan adanya virus tersebut walaupun semua kegiatan kita jadi terbatasi termasuk belajar di sekolah. Insyaa Allah ada hikmahnya dari kondisi pandemi ini. Isilah waktu dengan hobi yang bisa menghilangkan kebosanan karena di rumah saja. Belajar Saat Pandemi 98

Tentang COVID-19 Muhammad Raihan Kardi P ertama kali kita mendengar kata COVID-19 dari kota Wuhan, Cina. Karena percikan air liur seseorang yang menyebar dengan cepat sampai seluruh dunia Seseorang yang menderita ini akan bergejala batuk, pilek, sampai sesak nafas yang bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia dan menderita stres jadi bisa menyebabkan kematian dan kejang-kejang. Kehadiran COVID-19 ini membuat Pemerintah meminta semua sekolah, perkantoran, mal, tempat ibadah dan tempat wisata ditutup. Sekolah-sekolah pembelajarannya dilakukan secara online. Ada rasa senang ketika ada pengumuman bahwa sekolah akan dilaksanakan dari rumah karena bisa lebih santai di rumah. Tapi ada rasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan sekolah, teman dan para guru. Kalau di rumah agak terasa sedikit bosan dan kadang-kadang kangen liburan, hehehe. Tidak bisa bermain bola bersama teman-teman di sekolah. Kalaupun ke sekolah harus jaga jarak dari teman-teman, saudara dan kakek nenek. Selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saya menggunakan HP namun sering terkendala dengan sinyal yang tidak terlalu baik. Selama mengikuti PJJ pun saya tidak ditemani oleh Papah dan Mamah. Karena Papah kerja dan Mamah menemani adik-adikku yang online juga. Kesulitan sekolah online ituuuu, tidak terlalu mengerti materi yang disampaikan Bapak/Ibu Guru. Kadang-kadang sulit, tak jarang juga mudah. Menurut saya PJJ agak membosankan karena harus duduk lama di depan HP. Hal ini juga yang membuat mata saya cepat capek dan lelah. Di masa pandemi ini ribet banget dalam melakukan sesuatu seperti jalan-jalan dan bersilaturahmi ke rumah saudara atau kakek dan nenek. Saya jadi kangen bisa jalan- jalan dan bertamasya bersama keluarga seperti sebelum COVID-19 datang. Ada hal yang membuat saya malas mengerjakan tugas, yaitu tugas yang bertumpuk dan sulit. Terutama tugas-tugas yang diberikan oleh Bapak/Ibu Guru Kelas 6. Menurut saya tugasnya sudah seperti kelas SMP. Walaupun demikian, saya harus membuang rasa malas dan tetap mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan baik. Dari pada pusing dengan tugas dan bosan karena tidak bisa pergi kemana-mana. Biasanya saya menyiasatinya dengan bermain bersama adik-adik dan kucing peliharaan. Kadang-kadang saya juga suka bermain bola bersama teman-teman di 99 Belajar Saat Pandemi

lingkungan rumah. Sesekali ke rumah saudara dan pergi jalan-jalan untuk me- refresh otak dari belajar yang lumayan susah dan menyita pikiran. Tapi tetap dengan menjaga prokesnya yaa, yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Ternyata pandemi ini membawa efek positif terhadap lingkungan. Awan kembali bersih, polusi semakin berkurang karena jalanan sepi dari asap knalpot kendaraan. Saya pun menjadi banyak belajar aplikasi baru. Pemerintah pun berusaha untuk mengingatkan masyarakat untuk divaksin. Hal ini membantu meredakan peredaran COVID-19, insya Allah dunia bisa sembuh dan terbebas dari virus COVID-19. Nantinya bisa keluar rumah dengan nyaman dan bebas. Semoga Corona cepat usai, kita bisa bersekolah, bertemu dengan teman-teman dan bapak ibu guru. Saya pun bisa berpergian jauh dan bisa mudik, hehehe. Selain itu, bisa sesekali tatap muka atau offline. Pemerintah menyediakan kuota internet agar bisa mengeZoom agar lebih baik. Harus diperbaiki sinyal agar bisa ngeZoom agar tidak nge-lag. Hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah lebih bersabar dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena segala sesuatu yang terjadi di bumi ini atas izin Allah. Semoga Saya termasuk orang-orang yang dapat bersabar dan bersyukur, aamiin.. Belajar Saat Pandemi 100

Kenangan SD Bersama Pandemi Fitria Andini Rukmiati S ekitar bulan Maret 2020, di seluruh dunia termasuk Indonesia terjangkit wabah yang diakibatkan oleh virus. Ya, pandemi COVID-19, nama yang mendadak naik daun hingga saat ini. Lalu aku bertanya-tanya, apa, dan mengapa sampai demikian? Nah, berdasarkan informasi yang aku ketahui dari ayah, bunda maupun media, ternyata COVID-19 atau virus korona adalah sebuah virus yang dapat menular. Itulah sebabnya mengapa virus ini bisa sampai ke Indonesia, padahal awalnya ia berasal dari kota Wuhan di Cina. COVID-19 dapat menular karena adanya interaksi antara si penderita dengan orang yang awalnya sehat-sehat saja. Apalagi tanpa menggunakan protokol kesehatan, kemungkinan tertularnya akan lebih besar. Nah, berangkat dari hal tersebut maka diberlakukanlah lockdown sebagai upaya memutus rantai penularan virus corona. Hal itu membuat aktivitas manusia dibatasi. Dilarang keluar rumah, tak bisa berinteraksi secara langsung baik dengan saudara atau tetangga terdekat, apalagi dengan orang-orang yang jauh dari rumah. Parahnya hingga saat ini hanya dunia pendidikan khususnya sekolah-sekolah yang masih terdampak. Saat awal pandemi mulai menjalar di Indonesia, semua sekolah meliburkan siswanya, termasuk SDIT QA Baitussalaam, tempatku menimba ilmu. Aku sangat senang setelah mendengar kabar libur selama dua pekan. Akan tetapi usai libur panjang itu malah beralih menjadi sekolah secara daring atau yang biasa disebut PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Tak terasa PJJ sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Selama PJJ ini aku menggunakan handphone milik Ayah atau Ibu. Terkadang mereka juga menemaniku selama pembelajaran daring berlangsung. Bukan karena khawatir aku tidak mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Tapi kata Ayah dan Ibu, ada saja materi yang menarik menurut mereka yang semasa SD tidak didapatkannya. Selain itu, Ayah dan Ibu juga menjadi tempatku untuk bertanya jika ada materi atau tugas yang sulit dipahami. Menurutku, belajar daring lebih santai. Dapat dilakukan di mana saja, bisa sambil minum dan menikmati makanan ringan serta bermain bersama hewan peliharaan. Kalau Teman-teman bagaimana? Pernah juga kan melakukan hal tersebut saat PJJ? hehehe. Mulai sekarang, Yuk! Kita hindari kebiasaan itu. Alangkah baiknya jika kita fokus dulu dengan penjelasan materi dari Bapak dan Ibu Guru. 101 Belajar Saat Pandemi

Jika diberi waktu istirahat barulah kita nikmati cemilannya. Ini juga nasihat untuk- ku pribadi. Kita harus demikian agar tidak hanya pengetahuan yang kita dapatkan, tetapi kita juga akan merasakan berkah dari ilmu tersebut karena menjaga adab terhadap guru. Satu tahun lebih tidak bertemu teman-teman dan Bapak/Ibu Guru membuat aku semakin rindu dengan kenangan masa-masa sebelum pandemi. Biasanya sepulang sekolah aku bermain bersama teman-teman di pekarangan sekolah sambil menunggu dijemput Ayah. Sedih rasanya, sekarang kenangan manis itu hanya bisa kubayangkan. Memang ada sisi positifnya dari PJJ ini, misalnya lebih banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. Akan tetapi menurutku sisi negatifnya cenderung lebih kentara, terutama dalam proses belajar mengajar daring. Belajar secara daring kurang maksimal dibandingkan belajar secara tatap muka di sekolah. Kamera handphone atau laptop siswa dapat dimatikan sendiri sehingga Bapak/Ibu Guru tidak bisa melihat sikap belajar muridnya. Bisa saja kan jika aku atau teman- teman belajar daring sambil bermain, makan atau minum, hehehe. Terlalu lama berada di rumah membuatku bosan. Untuk mengatasi kebosanan saat di rumah, biasanya selepas salat Subuh aku bersama Ayah dan Kakak berjalan kaki mengelilingi kawasan sekitar tempat tinggal kami. Sudah beberapa kali kami berjalan kaki dari Kayu Manis ke komplek Bogor Raya Permai melewati kampung Bojong Neros, atau sesekali kami berjalan mengelilingi lapangan Bondol. Ya, hitung- hitung membakar lemak karena lebih sering mager saat di rumah. Selain kebiasaan tadi, aktivitas lain yang kulakukan adalah bermain dengan kucing peliharaan, main badminton dengan ayah dan kakak, bermain bola basket dan bersepeda. Semua itu dapat kami lakukan di luar rumah karena kebetulan tempat tinggal kami jaraknya cukup jauh dengan tetangga sekitar. Di bagian depan dan sebelah rumah kami ada kebun dan tanah waqaf yang cukup luas. Walaupun jarak rumahku dengan tetangga tidak begitu dekat, bukan berarti akses informasi menjadi terbatas. Banyak kabar yang menyedihkan selama pandemi, antara lain yang dialami oleh tetanggaku yang harus menjalani isolasi karena terpapar corona. Selain itu, ada juga yang terdampak ekonominya seperti di PHK dari perusahaan. Tetanggaku yang ayahnya berprofesi sebagai driver ojek online kesulitan mendapat penumpang disebabkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saat itu. Bebe- Belajar Saat Pandemi 102

rapa tetanggaku yang sudah berusia lanjut, keluarganya harus rela melepas kepergian sang kakek atau nenek. Tak sedikit dari mereka yang merasa panik dan stres karena mendengar dan melihat kabar yang berseliweran di situasi pandemi ini. Ditambah lagi, mereka mengidap penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, dan darah tinggi. Kabar duka juga datang dari salah satu guruku. Ya, Pak Jaka beserta keluarganya terpapar virus corona. Kabarnya mereka menjalani isolasi mandiri di rumah. Selain itu, Bapak-bapak marbot di masjid Baitussalaam juga demikian. Alhamdulillah, setelah lebih dari dua pekan mereka semuanya sudah sembuh dengan total. Di era COVID-19 ini memang banyak sekali hal yang tidak kita inginkan, contohnya seperti ceritaku tadi. Akan tetapi, kita perlu menggali hikmah atau pelajaran berharga dari pandemi ini. Diantaranya dengan diberlakukannya lockdown, PSBB, PPKM dan sebagainya, kita dapat rehat sejenak dari berkegiatan di luar dan memanfaatkan kesempatan itu untuk berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga. Bagi mereka yang pernah terpapar COVID-19, mungkin saat itu sedang Allah Swt. ingatkan akan pentingnya nikmat sehat. Bagi kita yang sampai saat ini masih diberi kesehatan, selayaknya bersyukur kepada Allah Swt. Aku juga bersyukur karena Ayah masih bisa menafkahi keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari walaupun penghasilannya tidak selancar sebelum pandemi. Aku selalu memanjatkan doa agar pandemi ini lekas berlalu. Setiap orang dapat beraktivitas dengan normal. Bebas bepergian untuk menunaikan semua urusannya seperti bekerja, bersilaturahmi dengan keluarga di kota lain, memenuhi berbagai undangan, dan bepergian untuk rekreasi. Semoga Allah Swt. selalu melindungiku bersama keluarga tersayang. Teruntuk Indonesiaku dan seluruh negeri di muka bumi ini, semoga lekas pulih dari wabah COVID-19 dan dapat kembali berwarna. Demikian cerita singkat yang ku tulis. Kelak dikemudian hari tulisan ini dapat menjadi kenangan bagiku dan mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca. 103 Belajar Saat Pandemi

Belajar Hidup Rukun dengan Corona Azka El Khairi C OVID-19. Ya, itulah sebuah istilah yang sangat terkenal selama 1 tahun terakhir ini. Tak heran, dimana-mana pasti kita selalu mendengar dan mem-. bacanya. Bahkan tak sedikit orang yang sudah bosan, salah satunya aku. Virus COVID-19 atau yang biasa kita sebut sebagai Virus Corona adalah sebuah wabah yang berasal dari Kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok (Cina). Virus ini mulai muncul pada akhir 2019 dan mulai masuk ke Indonesia pada bulan Januari 2020 kemarin. Menyerang sistem pernafasan manusia terutama paru-paru adalah ciri khas dari virus ini, bahkan dapat menyebabkan kematian. Di antara gejalanya adalah batuk kering, demam tinggi, kelelahan, hilangnya indera penciuman dan sebagainya. Hingga saat ini, sudah muncul berbagai varian baru dari COVID-19, diantaranya adalah varian Beta, Gamma, Delta, Alpha, Mu dan lain-lain. Sejak COVID-19 masuk ke Indonesia, hari demi hari kasus tersebut semakin bertambah dan menggila. Karena situasi yang tidak memungkinkan, pemerintah memutuskan untuk memberlakukan lockdown di sejumlah wilayah di Indonesia. Kami yang para pelajar mulai bersekolah secara online. Banyak hal yang tidak bisa ku lakukan seperti sebagaimana biasanya, misalnya bermain dengan teman-teman. Para pegawai kantor bekerja dari rumah bahkan tak sedikit yang terpaksa harus dirumahkan. Sebelum lockdown, awalnya sekolahku libur selama dua pekan. Kupikir, mungkin tujuan sekolah meliburkan siswanya karena ada suatu hal yang harus dipersiapkan. Libur selama dua pekan pun berlalu, aku sangat tak sabar untuk masuk sekolah lagi. Akan tetapi… siapa sangka, libur panjang yang membuatku rindu sekolah itu malah berlanjut menjadi belajar dari rumah sampai situasinya sudah memungkinkan. Selama ini, aku dan Teman-teman tak pernah membayangkan kalau sekolah akan dilakukan di rumah masing-masing. Sedih sekali saat mendengar hal itu, karena aku tak bisa bertemu dengan teman dan guru, tidak bisa bermain di sekolah, tidak bisa berbagi cerita dan bertukar informasi, serta tak bisa ngebolang lagi bersama teman-teman seusai sekolah. Ah, mungkin ini hanya akan berjalan dalam waktu sebulan saja. Tapi kenyataan- nya, satu tahun lebih sudah berlalu. Saat ini, kami sudah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tahun kedua. Bicara soal PJJ, aku menggunakan perangkat Belajar Saat Pandemi 104

handphone untuk sekolah daring, terkadang aku juga menggunakan laptop milik Ayah. Alhamdulillah, selama PJJ ini aku belum pernah mengalami kendala seperti sinyal yang lemot, karena aku memakai wifi yang memang sudah terpasang di rumah sejak lama. Mengenai tugas yang Bapak/Ibu Guru berikan, aku cukup kesulitan dalam mengerjakannya, karena aku kurang fokus saat belajar dari rumah. Beda dengan belajar saat tatap muka dulu. Sebenarnya, jumlah tugas selama PJJ ini jauh lebih sedikit yaitu hanya dua sampai tiga tugas, sedangkan saat tatap muka dulu bisa empat sampai lima tugas dalam sepekan. Walau begitu, aku tetap mengerjakan tugas tersebut dengan serius dan tenang. Selama PJJ ini, tentunya ada suka dan duka yang ku alami. Nah, salah satu suka yang aku rasakan adalah mudahnya mencari informasi dan materi di internet, terutama materi yang sulit ku temukan di buku paket. Sedangkan duka ku selama PJJ ini adalah sulitnya mengerjakan tugas yang membutuhkan pemahaman tingkat tinggi dan tentunya selalu membuatku bingung. Ada yang menarik seputar pengalamanku selama menjalani PJJ ini, lebih tepatnya satu hal yang membuatku geregetan, hehehe, yaitu dalam hal berkomunikasi dengan teman. Kalau ada soal yang sulit dimengerti, biasanya aku bertanya kepada teman- teman, tapi yang menjadi permasalahan adalah lamanya menunggu jawaban dari mereka. Mungkin saat itu mereka sedang meninggalkan handphonenya entah karena tidur, sedang di toilet atau sebab hal lainnya, sehingga mereka tak melihat notifikasi WhatsApp dariku. Karena hal ini, aku harus menunggu dalam waktu yang lama hingga berjam-jam. Mungkin kalian bertanya-tanya: “Apa nggak bosan belajar dari rumah terus?” Pastinya iya. Salah satu cara untuk mengurangi rasa bosan adalah membuat kegiatan yang bermanfaat. Hal pertama yang aku lakukan adalah membuat channel YouTube. Alhamdulillah, setelah satu tahun lebih lamanya, channel YouTubeku semakin lama semakin berkembang berkat dukungan dari Ayah, Bunda dan teman- teman. Nah, Kalau YouTube aku gunakan untuk mengunggah vlog yang berdurasi panjang. Selain itu, aku juga memakai aplikasi TikTok untuk Vlog-vlog pendek seperti tips, informasi kecil, momen unik dan sebagainya, tentunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Aku tak hanya membuat video saja, tapi juga melakukan kegiatan yang dapat menambah wawasan, seperti membuat artikel di WordPress dan Blogspot. 105 Belajar Saat Pandemi

Mengapa aku sebut dapat menambah wawasan? Ya, karena sebelum membuatnya, aku mengumpulkan berbagai informasi yang valid terlebih dahulu, agar artikel yang ku tulis sejalan dengan fakta yang ada. Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan browsing di internet atau dengan gemar membaca buku. Nah, selama lockdown ini, aku membaca berbagai buku, seperti buku tentang Inspirasi, sejarah, teknologi dan lain-lain. Semoga bisa menginspirasi Teman-teman ya, hehehe. Meskipun demikian, rasanya aku masih merasa bosan, penyebabnya adalah karena aku tidak bisa melakukan kegiatan yang sangat aku suka. Ya, traveling. Dulu sebelum pandemi, aku dan keluarga seringkali melakukan perjalanan ke luar kota, seperti mengunjungi tempat-tempat bersejarah, tempat yang penuh dengan suasana alam dan menyenangkan. Tak lupa kami mampir ke rumah saudara yang berada di kota tersebut. Kalau sekarang? Ya tidak bisa karena pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah. Pada masa pandemi ini kita tak bisa beraktifitas di luar, semuanya harus dilakukan di dalam rumah. Kita hanya bisa bersilaturahmi dengan keluarga lewat gadget. Kita tak bisa berbagi cerita secara leluasa dengan teman-teman dan guru di sekolah karena terhalang jarak dan kuota. Kita tak bisa bebas beraktifitas seperti dulu lagi. Walau begitu, kita tetap harus bersyukur kepada Allah Swt. karena masih diberikan kesehatan dan dilindungi dari wabah COVID-19 yang sedang merajalela hingga sekarang. Berapa banyak saudara kita diluar sana yang merasakan dampak yang luar biasa akibat corona, baik segi ekonomi atau pun kondisi fisik dan psikisnya. Di masa pandemi seperti ini, kita harus belajar untuk bisa hidup rukun dengan corona. Kita harus mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan situasi ini, karena wabah ini tak bisa selesai hanya dalam waktu satu hingga dua tahun saja, tapi bisa bertahun-tahun bahkan sampai kita dewasa, wallahualam. Aku berharap semoga Indonesia dapat menangani COVID-19 dengan cepat dan tepat agar kita semua dapat beraktifitas seperti dulu lagi. Tetap jaga kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan ya teman-teman! Yang terpenting adalah tetap jaga koneksi kita dengan Allah Swt. #salamliterasi #ingat5M Belajar Saat Pandemi 106

Aku dan Pandemi COVID-19 Azzura Nuha Shabira B anyak hal yang berubah di era pandemi ini. Semua orang mau tidak mau harus terbiasa dengan kebiasaan baru. Prokes (Protokol Kesehatan) selalu digembar -gemborkan ditambah pembatasan aktivitas manusia, menjadi pilihan pemerintah untuk menekan penyebaran virus yang kita kenal dengan nama COVID-19. Tak ada pengecualian, aku pun merasakan dinamikanya. Berbagai hal positif dan negatif dapat kurasakan secara beriringan di era pandemi ini. COVID-19 atau virus korona pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Desember 2019 lalu. Di Indonesia sendiri, virus tersebut mulai berkembang pada Maret 2020. Para lansia atau orang dengan imun yang lemah sangat mudah terpapar virus korona. Gejala virus tersebut beragam, seperti demam, batuk, flu, hilang penciuman dan rasa, nyeri sendi hingga sesak nafas. Namun demikian, ada juga yang tidak mengalami gejala-gejala diatas atau hanya mengalami gejala ringan. Biasanya hal itu dikarenakan imunitas yang baik. Untuk menghindari dan mengurangi potensi penularan COVID-19, maka masya- rakat wajib melakukan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. Mengingat jumlah pasien COVID-19 di Indonesia yang selalu bertambah setiap harinya, pemerintah berupaya sebaik mungkin untuk menangani pandemi ini dengan cara menyediakan rumah sakit khusus pasien COVID-19 tanpa memungut biaya, menutup sekolah, tempat ibadah dan berbagai fasilitas umum lainnya yang memungkinkan menimbulkan kerumunan. Sebab pandemi ini juga kita menjadi tidak asing dengan istilah WFO (Work From Office) dan WFH (Work From Home) serta pembatasan jam kerja bagi para karyawan, munculnya singkatan baru, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Alhamdulillah, pemerintah sudah menyiapkan vaksin juga untuk masyarakat Indonesia. Sangat tidak biasa. Aku tidak menyangka pandemi akan selama ini. Awalnya kupikir libur sekolah hanya berlangsung dua sampai tiga pekan saja. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka, akhirnya pemerintah memutuskan agar semua sekolah melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Senangnya bisa belajar dari rumah, tidak terburu-buru untuk berangkat ke sekolah, belajar pun jadi lebih santai. Lama-kelamaan, aku merasa tidak nyaman dengan PJJ. 107 Belajar Saat Pandemi

Bulan kedua setelah pemberlakuan PJJ, aku mulai merasa kesulitan dengan kondisi seperti ini. Pada malam hari, Bunda harus menemaniku dan adik belajar, men-charge HP agar esok hari dapat digunakan kembali dengan kondisi baterai penuh. Semuanya serba online, absennya juga menggunakan cara yang berbeda dan harus mengirim foto. Cara guru menyampaikan materi pembelajaran melalui video yang dibuat sendiri menjadi hiburan di tengah kesulitan yang kurasakan, sungguh pengalaman yang seru dan menyenangkan. Adakalanya aku tidak mengerti pada salah satu pelajaran, yaa... Matematika. Aku tidak bisa bertanya kepada guru secara leluasa ketika menemukan kesulitan pada mata pelajaran tersebut, karena tugasnya baru aku kerjakan setelah pembelajaran selesai atau pada malam hari. Satu hal lagi yang membuatku semakin kebingungan, cara Bunda menyelesaikan soal matematika berbeda dengan cara yang guru sampaikan. Selama PJJ waktu belajar bersama guru lebih sebentar. Banyak waktu tersisa yang dapat ku gunakan untuk bermain bersama adik dan bunda, yaa…, walaupun di rumah. Lama-lama, PJJ membuatku rindu dengan suasana belajar di sekolah bersama Teman-teman dan Guru tersayang. Terkadang aku teringat rutinitasku saat sebelum pandemi. Aku rindu salat berjemaah, rindu makan kudapan bersama, tahsin dan tahfiz bersama, rindu bermain dan tertawa bersama teman-teman dan guru. Bicara tentang PJJ, ada satu hal yang ku anggap paling menyebalkan. Orang tuaku harus menyediakan kuota yang cukup agar jaringan yang aku gunakan untuk belajar online bisa bersahabat, bukan malah menghambat. Terkadang jaringan yang kurang bagus membuat proses belajar menjadi tidak jelas bahkan terpaksa harus undur diri dari kelas Zoom sebelum pelajaran selesai. Teman-teman yang berisik, mengalahkan suara guru yang sedang menjelaskan, sehingga tidak terdengar jelas. Tapi aku bersyukur karena tak perlu rebutan handphone dengan adik yang juga belajar secara online. Di sisi lain, aku dapat menyaksikan luar biasanya guru-guruku di QA. Pembelajaran online dibuat menyenangkan dan semenarik mungkin. Dengan kondisi seperti ini, aku dan teman-teman bisa terus menerima pelajaran dengan baik dan terhindar dari penularan virus. Kalau kata bundaku, QA itu luar biasa, apalagi Bapak dan Ibu Gurunya dengan sistem pembelajaran yang kece. Waktu itu aku sempat berharap bisa belajar di sekolah kembali, minimal dua kali dalam sepekan. Terlebih sekarang Belajar Saat Pandemi 108

sudah Kelas 6, setiap pertemuan digunakan untuk mengulang pelajaran, terutama matematika. Jadi, tolong diatur yaa Bapak/Ibu Guru, bagaimana caranya agar kami bisa kembali ke sekolah. Hehehe. Selain belajar, hampir semua kegiatan hanya bisa dilakukan dari rumah. Rutinitas dan suasana lingkungan yang sama setiap hari membuatku cepat bosan. Bahkan kegiatan-kegiatan hari besar pun ditiadakan atau paling tidak hanya boleh dilakukan di rumah. Untuk mengurangi kebosanan itu biasanya aku melakukan olahraga pagi bersama keluarga, bermain di kebun bersama ayah, mendatangi tempat dengan pemandangan indah tapi sepi, atau hanya sekedar naik mobil bersama keluarga keliling Kota Bogor di malam hari. Seiring waktu, pandemi ini menjadi luar biasa menyedihkan bagiku dan keluarga karena pada bulan Desember 2020 kami harus kehilangan Kakek dan Nenek secara bersamaan. Mereka bukan meninggal karena COVID-19, melainkan karena kondisi yang sedang genting karena virus dan rumah sakit yang penuh dengan pasien COVID-19. Hal itu membuat pengobatan Kakek dan Nenek menjadi kurang maksimal. Selang satu hari setelah kepergian Kakek dan Nenek, Bunda harus dirawat di rumah sakit karena COVID-19, Ayah pun dinyatakan positif beberapa hari kemudian dan harus menjalani ISOMAN atau isolasi mandiri karena Ayah tidak bergejala seperti Bunda. Ayah mengontrak sebuah rumah yang tidak jauh dari tempat tinggal kami untuk isoman. Dan kami? Aku dan kedua adikku dirawat di rumah oleh Bude dan Om dari Jawa. Embu, kakak dari bunda yang selama ini selalu mengurus kami saat bunda ada perlu pun jatuh sakit. 18 hari Bunda menjalani pengobatan di rumah sakit, kami dirawat dengan baik oleh Bude. Alhamdulillah, saat malam tahun baru, aku, adik- adikku, Bunda dan Ayah bisa berkumpul lagi di rumah. Satu hal lagi yang menjadi kesedihan kami, terutama ayah adalah usaha rajang daun talas milik ayah tidak berjalan sesuai harapan, padahal ayah sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Banyak sekali hikmah yang kuambil dari pengalamanku ini. Pandemi mengingat- kan kita agar selalu hidup bersih serta menjaga kesehatan dengan makan makanan yang bergizi. Kita juga perlu meluangkan banyak waktu bersama keluarga, saling berempati dan peduli pada kondisi keluarga, tetangga dan masyarakat, berbagi dan membantu banyak orang, berhemat dan tidak menghambur-hamburkan uang hanya 109 Belajar Saat Pandemi

untuk kesenangan. Kita juga harus bisa menahan diri untuk tidak berkegiatan di luar jika tidak terlalu penting. Orang-orang juga menjadi lebih kreatif dan produktif untuk menyambung hidup. Dari semua itu, yang terpenting adalah kita harus bersabar dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang berkuasa atas segalanya. Kondisi alam seperti sedang diperbaiki secara manual karena banyak orang yang tetap di rumah saja. Sehingga mengurangi polusi, berbagai tumbuhan baik di hutan, kebun maupun taman kota tumbuh dengan baik. Laut menjadi bersih tanpa sampah, dan gunung, bukit serta tempat wisata alam lainnya menjadi lebih asri. Walaupun demikian, aku berharap semoga pandemi ini segera berakhir. Orang- orang yang sakit segera Allah sembuhkan, sekolah dan rumah ibadah segera dibuka lagi. Terutama tempat-tempat rekreasi ya, hehehe… Aku pun bisa ke sekolah seperti sedia kala, bertemu Teman-teman dan Bapak Ibu Guru. Usaha-usaha yang terpaksa harus tutup bisa dibuka kembali, sehingga bisa membantu orang-orang yang kehilangan pekerjaannya. Semoga Allah memberi keberkahan, kebahagiaan dan kejayaan kepada kita semua, kepada masyarakat Indonesia dan umat Islam di dunia. Belajar Saat Pandemi 110

PJJ ... OOO ... PJJ Jehan Naira ‘Ammar T eman-teman pastinya sudah tahu kan apa yang sedang melanda dunia terutama Indonesia saat ini? Pemerintah membuat kebijakan untuk lockdown tempat ibadah, sekolah, mal, pasar dan perkantoran. Kita diwajibkan memakai masker, menjaga jarak dan sering cuci tangan. Semua serba dibatasi. Ada apa dengan dunia? Ya betul! Dunia sedang dilanda penyebaran virus COVID-19. COVID-19 adalah sebuah penyakit atau wabah yang berasal dari kota Wuhan di negara Cina. Wabah tersebut menyebar ke negara-negara di dunia termasuk Indonesia sekitar bulan Maret tahun 2020, lalu muncul banyak varian dari berbagai negara. Varian terbaru yang masuk ke Indonesia adalah varian Delta yang berasal dari Inggris. Varian Delta termasuk varian yang paling cepat menyebar. Sejak tanggal 9 Maret 2020 sampai saat ini di bulan Agustus 2021, pemerintah sudah beberapa kali menyatakan lockdown, PPKM yang berlevel-level. Semua fasilitas umum seperti tempat ibadah, mal, pasar ditutup, begitu pula dengan sekolah. Hal ini dilakukan pemerintah agar mengurangi penyebaran virus COVID-19. Aku diwajibkan memakai masker, selalu mencuci tangan dan menjaga jarak jika berada di luar rumah. Aneh rasanya keluar rumah harus memakai masker, tidak dapat menghirup udara bebas lagi. Tapi hal tersebut adalah aturan yang harus aku ikuti agar terjaga dari penularan virus COVID-19. Di awal pandemi aku berada di Kelas 4 Semester 2. Pertama kali diberitahu libur, aku senang sekali. Aku bisa lebih santai, sering bertemu Bunda dan Daddy. Tidak merasakan suasana pagi yang terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Hanya dengan duduk di depan laptop, aku sudah bisa belajar bersama guru-guru. Terkadang aku juga suka malas mandi pagi lho!. Kalau aku malas mandi, Bunda suka menegurku. Kata Bunda, walaupun sekolah online tapi tetap harus mandi dan menggunakan seragam yang rapi. Hal tersebut salah satu adab terhadap guru. Siap laksanakan Bunda! Hehehe. Tapi lama kelamaan aku jadi bosan, ingin ke sekolah lagi. Rindu bermain, belajar dan mengaji bersama teman-teman dan guru. Suasana sekolah yang tidak aku dapatkan di rumah seperti sholat berjamaah di masjid, bergantian membawa kudapan, makan siang, ngobrol di teras depan kelas dan bermain dengan adik kelas. Rindu juga dengan kegiatan yang lain, seperti tampil di QA Perform, pawai obor, 111 Belajar Saat Pandemi

berbagi sembako ke warga di sekitar sekolah dan outbond. Kapan ya bisa ke sekolah lagi? Bersekolah secara online membuat aku harus tahu dan terbiasa dengan aplikasi Google Classroom, YouTube, dan Google Meet. Aku tidak langsung bisa menggunakannya, harus selalu didampingi oleh Mas Radhi, Mbak Sekar, Bunda ataupun Daddy. Selain itu aku juga tidak memiliki laptop sendiri sehingga harus berbagi waktu pemakaian dengan Bunda. Sewaktu di Kelas 4 Semester 2 awal sekolah ditutup, pembelajaran menggunakan Google Classroom. Kemudian di awal kelas 5 semester 1 materi pembelajaran disampaikan lewat YouTube. Saat di kelas 5, kalau sudah nonton materi di YouTube, aku suka iseng nonton film yang lain. Kata Bunda, \"Belajarnya sebentar, nonton-ya lama!\" Hahaha. Tapi setelah nonton aku langsung mengerjakan tugas yang diberikan sekolah. Ketika belajar aku harus selalu didampingi oleh Daddy dan Bunda karena beberapa tugas ada yang sulit untuk dimengerti. Setelah belajar di sekolah online, aku sering mengulang materinya bersama Bunda, kalau tidak menemukan jawaban biasanya mencari di Google. Boleh lah yaa sesekali mencari materi di \"Mbah Google\", hehehe. Alhamdulillah di kelas 5 semester 2, pembelajaran mulai menggunakan Zoom atau Google Meet, sehingga bisa langsung mendengarkan penjelasan dari Bapak/ Ibu Guru dan berdiskusi dengan teman-teman. Materi yang disampaikan Bapak/Ibu Guru menjadi lebih jelas dan mudah dipahami. Tapi, kelancaran sinyal sangat berpengaruh dengan kelancaran materi yang disampaikan Bapak/Ibu Guru di Zoom. Pokoknya Daddy dan Bunda selalu siap menemaniku untuk menjelaskan materi belajar yang tidak aku mengerti ketika mengerjakan tugas. Ada sisi negatif dan positif dari Pembelajaran Jarak Jauh yang aku jalani sekarang. Sisi positif dari Pembelajaran Jarak Jauh adalah aku jadi mengerti dan bisa menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, Google Classroom, YouTube dan WhatsApp. Mencari materi di Google dan belajar komputer seperti Word, Excel dan Canva. Sisi negatifnya, terkadang aku tidak mengerti pelajaran yang disampaikan oleh bapak atau ibu guru karena terkendala sinyal dan device. Ketika setoran tahsin dan tahfidz, aku harus menunggu bunda pulang kerja baru bisa pinjam handphone untuk video call dengan bu Yuni. Maaf ya bu Yuni karena harus menerima setoran ku di Belajar Saat Pandemi 112

waktu sore. Selain itu, tidak bisa bertemu langsung dengan guru dan teman-teman juga merupakan sisi negatif dari PJJ. Rutinitas selama pandemi yang serba dibatasi membuat aku bosan. Untuk mengusir kebosanan itu biasanya aku suka main bersama kucing-kucingku yang bernama Hasna, Satria, dan Renata. Membuat kreasi dari barang bekas seperti kardus, melukis, dan juga bermain di pinggi kolam sambil memberi makan ikan. Mas Radhi paling sering menemani aku main UNO, Binggo, pokoknya seru. Kalau sama Daddy, Bunda, dan Mbak Sekar, sering mencoba resep masakan atau kue. Kadang-kadang aku nonton Youtube setelah menyelesaikan tugas sekolah. Bahkan nonton sampai kebablasan pun pernah aku lakukan. Akibatnya tugas sekolah jadi tertunda. Benar nggak teman-teman? Hehehe. Selama pandemi, pemerintah membuat aturan yang melarang untuk kumpul- kumpul. Hal itu membuat aku tidak bisa bertemu teman, saudara, juga tidak bisa keluar rumah sembarangan. Aku dan keluarga selalu berusaha untuk menjaga kesehatan agar tidak tertular virus COVID-19 dengan mengonsumsi vitamin dan makanan bergizi, berjemur dan jalan pagi. Pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan tahun 2021, tanggal 3 Mei, aku dan Bunda mengantarkan Nenek berobat ke Rumah Sakit Primaya Bekasi. Qadarullah, selepas itu kami mengalami demam tinggi. Keesokan harinya, aku tidak berpuasa agar ada makanan yang masuk ke tubuhku. Aku dan Bunda pun kembali ke Bogor karena khawatir Nenek akan tertular. Pada hari Kamis sore, 6 Mei 2021 aku mendapat kabar kalau Nenek harus dirawat di ruang ICU karena terkonfirmasi positif COVID-19. Aku beserta keluarga harus segera menjalani isoman karena sebelumnya kami berinteraksi langsung dengan nenek, antar jemput nenek ke rumah sakit. Gejala COVID-19 kami alami secara bergantian, ke daddy, mas Radhi lalu mbak Sekar. Sepertinya aku sekeluarga terinfeksi COVID-19 varian Delta. Sedih rasanya selama isoman tidak bisa merayakan lebaran bersama nenek, hanya bisa bersilaturahmi lewat video call. Alhamdulillah setelah hampir tiga pekan, aku sekeluarga dinyatakan sembuh. Namun, kabar baik itu harus bercampur dengan duka karena kami mendapat kabar kalau nenek meninggal dunia di ICU Rumah Sakit Primaya Bekasi pada hari Ahad, 23 Mei 2021. Daddy, Bunda, Mas Radhi, Mbak Sekar dan aku langsung berangkat 113 Belajar Saat Pandemi

menuju rumah sakit untuk mengantarkan nenek ke pemakaman khusus covid di daerah Rorotan Jakarta. Semoga nenekku dimasukkan Allah ke surga-Nya, aamiin. Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari pandemi ini. Kita harus belajar bersabar, belajar memahami dengan baik dan senantiasa bersyukur. Seperti firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah ayat 286, \"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Aku selalu berdoa, semoga pandemi ini segera berakhir sehingga pembelajaran jarak jauh tidak diperpanjang lagi. Aku dan teman-teman bisa kembali ke sekolah, bermain bersama, dan beraktivitas dengan normal. Aku pun berharap ketika pemerintah membuat aturan sekolah ditutup dan harus belajar secara online, seharusnya sudah menyediakan perangkat yang memadai terutama bagi pelajar yang membutuhkan, seperti wifi gratis dan laptop atau handphone agar mempermudah siswa untuk belajar di rumah. Belajar Saat Pandemi 114

Tegar di Masa Pandemi Muhammad Raffael Vindiz H ampir dua tahun sudah berlalu sejak kehadiran pandemi COVID-19 di Indonesia. Aku harus melakukan pembelajaran online yang membosankan karena saking lamanya. Luar biasa ya, si COVID-19 ini. Padahal dia hanya seekor makhluk tak kasat mata bila dilihat dengan mata telanjang. Karenanya banyak yang terkena dampaknya baik yang dianggap menguntungkan maupun merugikan. Lalu bagaimana pengalamanku di masa pandemi tersebut? Yuk, Teman-teman simak ceritaku ini. Pandemi COVID-19 merupakan peristiwa penyebaran virus korona yang mulai merebak pada tahun 2019 lalu di seluruh dunia. Katanya virus Covid berasal dari kota Wuhan di Cina. Virus ini mulai muncul dan terkenal di Indonesia sejak Maret 2020. COVID-19 dapat menular melalui batuk atau droplet. Sebagai pencegahan penularan dan penyebaran, pemerintah menekankan masyarakat untuk melakukan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Selain itu, pemerintah Indonesia juga memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan isolasi mandiri bagi penderita ataupun orang yang berinteraksi langsung dengan penderita. Sebelum ada ketetapan PSBB, Indonesia ikut memberlakukan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara lain. Lockdown adalah situasi dimana orang-orang dilarang masuk atau keluar dari suatu daerah. Bahkan saat itu dilarang keluar dari rumah karena kondisi sedang darurat. Semua fasilitas umum harus ditutup. Di antaranya, Tempat-tempat hiburan atau rekreasi, pusat-pusat perbelanjaan, transportasi umum, pabrik, perkantoran bahkan sekolah juga tidak diperbolehkan beraktivitas. Saat awal diberlakukan lockdown, sekolah tempatku belajar meliburkan siswanya selama dua pekan. Awalnya aku sangat gembira karena aku jadi punya banyak waktu untuk bermain dan bersantai di rumah bersama keluarga. Pokoknya semua hal menyenangkan terlintas dalam pikiranku saat itu. Walaupun aku tidak dapat berkegiatan di luar rumah, setidaknya aku dapat istirahat sejenak dari tugas-tugas sekolah, hehehe. Aku pikir setelah dua pekan virus itu akan lenyap dan dapat bersekolah tetap masuk seperti biasa. Ternyata selanjutnya sekolah tidak diperkenankan melakukan 115 Belajar Saat Pandemi

pembelajaran tatap muka, melainkan dihimbau untuk melakukan pembelajaran online. Para pelajar cukup belajar dari rumah menggunakan gadget, begitupun Bapak dan Ibu Guru saat mengajar. Nah, belajar secara online tersebut saat ini terkenal dengan PJJ. Namun lama kelamaan, ada kegelisahan yang aku rasakan. Jangan-jangan aku akan melewati masa SD di era COVID-19 atau bahkan saat aku SMP, pandemi belum berlalu. Aku mulai beradaptasi dengan rutinitas baru. Aplikasi yang digunakan saat itu adalah Google Meet, Google Classroom, Zoom Meeting, YouTube. Aplikasi yang mendadak laku di khalayak umum terutama kaum pekerja kantoran, pegawai pemerintahan maupun pelajar karena dapat menghubungkan orang-orang yang posisinya saling berjauhan. Walaupun lumayan menguras kuota karena hampir setiap hari, tapi aku jadi mengerti cara menggunakannya. Belajar dari rumah tetap mengenakan seragam agar tetap merasakan nuansa sekolah. Kebiasaanku yang suka hadir terlambat masih belum berubah. Kalau dulu aku terlambat biasanya mendapat surat keterangan bahkan hingga disuruh pulang. Semenjak belajar daring, jika terlambat masuk ke ruang Zoom aku tidak diminta keluar oleh Bapak dan Ibu Guru. Kalau dikeluarkan nanti malah keenakan, hehehe. Selama PJJ aku menggunakan laptop atau HP milik orang tuaku namun tanpa pendampingan dari mereka. Terkadang aku sulit memahami penjelasan dari Bapak dan Ibu Guru. Sayangnya aku malu untuk bertanya. Jadi aku hanya menunggu teman-teman yang akan bertanya dengan persoalan yang sama. Sehingga materi tersebut dapat dijelaskan ulang. Nah, Teman-teman, jika kita menemukan kesulitan apapun, jangan malu untuk bertanya ya, hehehe. Teman-teman pasti sering dengar peribahasa “malu bertanya sesat di jalan”. Itu artinya jika kita segan bertanya nanti kita akan rugi karena persoalan yang dihadapi tidak ditemukan jalan keluarnya. Sebetulnya ini nasihat untukku, hehehe. Senang dan susah saat pandemi ini tentunya ada. Bagian yang menyenangkan menurutku jam belajar jadi lebih singkat durasinya, bahkan sebelum zuhur semua kegiatan sudah selesai. Belajar juga lebih santai karena posisinya sedang di rumah. Mengenai tugas, sebetulnya lebih sedikit jika dibandingkan saat sebelum pandemi. Mungkin karena aku kurang memahami materinya jadi merasa tugas tersebut banyak. Susahnya selama pandemi adalah aku terkadang tidak mengerti suatu pelajaran, sudah begitu tidak bisa bicara walaupun raise hand. Laptop ayah yang ku pakai untuk belajar terkadang error, kondisi tersebut sangat menghambat belajarku. Hal lainnya, aku tidak bisa main dengan teman-teman di sekolah, aku juga menjadi Belajar Saat Pandemi 116

takut bila harus salat di masjid. Setelah hampir satu tahun belajar dari rumah pastinya sangat membosankan. Betul nggak, Teman-teman? Alhamdulillah setelah sekian lama, sekolah menyiapkan kegiatan di sekolah dengan judul Green Therapy. Kegiatan ini dilakukan untuk mengatasi kejenuhan kami, para siswa dengan melakukan berbagai keseruan di alam terbuka, tepatnya di lingkungan sekolah. Aku mengikutinya dengan antusias. Betapa senangnya aku bisa kembali ke sekolah bertemu dengan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru. Aktivitasnya pun ringan, tidak membuat kepalaku pusing seperti saat mencerna penjelasan materi pelajaran, hehehe. Green therapy hanya dilakukan dua kali. Beberapa bulan berikutnya rutinitas kembali seperti semula. Rasa bosanku lagi-lagi meluap. Aku jadi semakin rindu saat sebelum pandemi. Ingin sekali bermain dengan bebas di luar rumah, belanja bersama keluarga dan pergi ke sekolah setiap hari. Kalau sekarang, beraktivitas di luar pun harus menggunakan masker, jadi pengap dan tidak nyaman. Nah, untuk mengusir kebosanan, aku suka bermain ayunan, main air di garasi rumah, bermain sepatu roda atau bersepeda. Tidak jauh, paling tidak bersepeda di jalanan sekitar rumahku. Lari pagi bersama keluarga juga menjadi alternatif bagiku untuk mengusir rasa bosan. Walaupun aku dan keluarga sudah berusaha melakukan pola hidup sehat, Allah Swt. berkehendak lain. Menjelang hari Raya Idul Adha tahun 1442 Hijriah, Papih, Mamih dan Kakang, panggilan untuk kakak pertamaku, terpapar COVID-19. Jadi, saat itu kami sekeluarga harus isolasi mandiri. Kami tak bisa merayakan Idul Adha dan pergi ke luar kota. Tapi aku bersyukur, saat itu banyak saudara, tetangga dan teman-teman Mamih yang mengirimkan makanan untuk bekal kami selama isolasi mandiri. Saat ini aku sudah duduk di bangku akhir sekolah dasar. Alhamdulillah kabar mengenai COVID-19 melandai sehingga sekolahku mulai melakukan simulasi untuk pembelajaran tatap muka. Walaupun tidak setiap hari, tapi bisa mengobati kerinduanku dengan suasana sekolah yang sesungguhnya. Belajar secara langsung menjadikan pelajaran lebih mudah ku pahami. Aku bisa mengobrol dengan teman- teman diluar jam pelajaran. Wah, asyik pokoknya! Teman-teman pasti mengalami lika-liku juga kan selama pandemi? Dari pengalaman itu kita dapat mengambil hikmah yang bermanfaat bagi kehidupan kita kedepannya. Di era pandemi ini ada dua hal yang betul-betul harus kita perhatikan. 117 Belajar Saat Pandemi

Pertama, kita harus senantiasa mendekatkan diri dan bersyukur kepada Allah Swt. dengan istiqomah menjalankan perintah-Nya. Berapa banyak di luar sana yang kehilangan mata pencaharian, kehilangan sanak saudara, dan sebagainya. Kedua, kita harus menjaga imunitas tubuh dengan pola hidup sehat dan disiplin protokol kesehatan. Kita tak pernah tau apakah nasib kita akan sama seperti mereka yang terpapar COVID-19 atau penyakit lainnya. Doaku semoga semua sehat dan COVID-19 segera berakhir. Aku ingin segera bersekolah secara normal. Jadi, kepada pemerintah, aku harap dapat mengatasi persoalan ini dengan bijaksana. Jika sekarang fasilitas umum sudah mulai dibuka kembali, mengapa hanya sekolah yang masih sangat sulit untuk bergerak. Belajar Saat Pandemi 118

Hari- hariku Setelah Ada Pandemi COVID-19 Airi Hasna Mahirah P andemi COVID-19 setahu saya adalah penyakit virus baru yg menyerang manusia di seluruh dunia dengan cepat, berbahaya, dapat mengakibatkan ke- matian dan belum ada obatnya, sehingga mengakibatkan berubahnya pola hidup di lingkungan disekitar kita. Manusia harus waspada dan selalu berhati-hati apabila keluar rumah dengan menerapkan 5 M. Sudah lebih dari satu tahun pandemi COVID- 19 ini tidak mereda sama sekali, selalu saja bertambah kasus COVID-19 setiap hari, ada yg peduli dengan pandemi ini, ada juga yang tidak peduli dengan ada nya Covid. Selama pandemi COVID-19 belum berakhir, aku di rumah saja tidak kemana-mana demi kesehatan kita semua. Selama di rumah, aku melakukan kegiatan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau Daring (Dalam Jaringan) dan hal-hal lainnya. Sebenarnya aku sangat bosan, tetapi jika kita mengisi waktu luang itu akan mengurangi kebosanan kita, seperti main game, melukis, bermain badminton, bersepeda dan olahraga lainnya. Pada awalnya COVID-19 di situlah Indonesia sudah banyak kasus COVID-19 dan sekolah pun ditutup sementara ini dan diliburkan lebih lama lagi. Awal nya aku senang ketika sekolah diliburkan, aku begitu sangat senang tetapi kemudian aku merasa sedih karena tidak bisa belajar lagi di sekolah dan tidak bisa bertemu teman-teman dan guru. Aku selalu berdoa agar COVID-19 segera menghilang dari dunia ini. Selama PJJ online, setiap Zoom pembelajaran aku tidak selalu ditemani Ayah dan Bunda. Alhamdulillah selama PJJ ini aku tidak terlalu kesulitan untuk memahami pelajaran tersebut walau terkadang terkendala koneksi jaringan internet yang mendadak buruk. Selama mengerjakan tugas terkadang suka bingung dengan soal tersebut tetapi, aku selalu meminta bantuan Ayah atau Bunda yang bisa membantu aku mengerjakan dan lebih memahaminya lagi. Ketika melaksanakan pembelajaran jarak jauh, tentu saja menyenangkan walau sedikit berbeda suasananya. Setiap Zoom aku selalu menggunakan handphone karena tidak terlalu sulit untuk digunakan. Hmm…. saat belajar online tidak selalu didampingi orang tua, terkadang didampingi oleh Bunda. Kalau tugas alhamdulillah tidak terlalu sulit bagiku. Pembelajaran yang paling sulit bagiku satu satu nya MTK alias Matematika jadi aku selalu minta tolong dijelaskan lagi oleh Bunda. Alhamdulillah untuk materi lainnya aku bisa fokus ketika Zoom. Jadi aku bisa 119 Belajar Saat Pandemi

mengerjakan soal latihannya sendiri tanpa bantuan Ayah atau Bunda, karena sudah diajari oleh Bapak/Ibu Guru. Tetapi kalau ada materi yang sulit aku pahami, aku pasti selalu bertanya ke Bunda karena terkadang penjelasan Ibu Guru terlalu singkat jadi aku belum terlalu paham pelajarannya. Hal yang aku hadapi ketika PJJ yaitu koneksi. Terkadang jaringan internet guru yang suka buruk seakan-akan membuang waktu, tugasnya suka ditunda sehingga jadi menumpuk. Selain itu aku kadang merasa pusing dan lemas saat Zoom karena terlalu lama di depan handphone jadi nya membuat aku malas. Terkadang aku mengalami koneksi jaringan yang buruk mengakibatkan aku telat masuk Zoom. Saat di ruang Zoom, aku suka tiba-tiba keluar dengan sendirinya. Jadi terputus-putus dan kamera Zoom tidak bergerak. Hal tersebut tidak menyenangkan. Tetapi ketika koneksi jaringan Bapak/Ibu Guru sedang baik, aku menerima penjelasan materinya pun menjadi tidak terputus-putus, sehingga yang dijelaskan Bapak/Ibu Guru mudah dipahami, tugas yang diberikan seringnya tidak begitu sulit. Hal yang menurutku sangat kurang menyenangkan disaat pandemi ini yaitu tidak bisa terlalu sering main dengan teman. Main hanya kadang-kadang, lebih sering chatan dan telponan saja. Tidak bisa masuk sekolah! Aku rindu banget sama kelasku dan sekolahku, tidak bisa bertemu guru, kawan-kawan, dan tidak bisa terlalu sering jalan-jalan bersama keluarga untuk keluar rumah. Kami jadi jarang ke rumah nenek karena kondisi kini sedang tidak baik dan keluarga akan keluar rumah pun terbatas dan lebih sering di rumah saja. Ketika harus berada lama di rumah aku sering merasa bosan. Untuk menghilangkan kebosanan dengan melakukan kegiatan seperti melakukan hobiku yaitu melukis. Kadang aku bermain handphone, selain itu ada juga bermain raket dan olahraga bersama Kakak dan Adik di depan rumah. Oiya aku juga suka bermain dengan saudara kembarku biar nggak terlalu bosan di rumah. Tidak bisa main keluar bareng teman di saat pandemi membuat aku sangat kangen dengan Teman- teman di sekolah. Sekarang jalan-jalannya bersama keluarga menjadi terbatas dan lebih sering di rumah saja. Dengan adanya pandemi ini aku jadi banyak waktu dengan keluarga, bisa mengurangi polusi udara juga karena mengurangi menggunakan kendaraan untuk keluar rumah, bisa istirahat lebih sering lagi, jadi lebih sabar, bisa membantu Bunda di rumah, ada waktu untuk main bersama kakak, adik, dan juga jadi bisa lebih sering Belajar Saat Pandemi 120

berkreasi. Di saat pandemi ini aku banyak menemukan hikmah yakni, kita jadi lebih sering mengisi waktu luang bersama keluarga, bisa lebih sering melakukan kegiatan yang aku sukai, menjadi lebih akrab dan main barenga kakak dan adik, dan lebih sering membantu Bunda melakukan segala hal. Berkurangnya polusi udara karena kendaraan kini tidak begitu aktif. Semoga virus ini cepat ditemukan obatnya agar COVID-19 selesai dan bumi bisa kembali sehat. Harapannya, aku ingin kasus COVID-19 menurun di Indonesia dan penyakit COVID-19 bisa segera menghilang dari bumi. Aku doakan semoga COVID- 19 ini bisa cepat berakhir dan bisa kembali seperti normal lagi dan bumi pun menjadi sehat kembali dan segera mungkin kasus covid di Indonesia dan di seluruh dunia menurun perlahan-lahan dan kita bisa melakukan kegiatan dengan normal lagi tanpa batas apapun. Agar kita tetap dalam lindungan Allah Swt., maka dari itu selalu berdoa kepada Allah dan selalu melaksanakan protokol kesehatan dengan cara 5M dan Insyaallah, pandemi COVID-19 akan segera musnah dan menemukan obat yang cocok. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Sekian sedikit kisah yang aku alami selama pandemi dan PJJ semoga cerita yang ku berikan bermanfaat dan berguna untuk kalian semua yaa. Jangan lupa tetap semangat walaupun kini kondisi nya sedang tidak baik. Semangaattt!!! 121 Belajar Saat Pandemi

Aku, Saksi Sejarah Dunia! Maydina Camilla Deva S. W uhan, sebuah kota yang berada di Tiongkok China, asal dari virus yang sekarang merajarela di dunia ini. Mulai merebak pada akhir tahun 2019. Virus ini di duga berasal dari kelelawar yang kemungkinan berpindah ke hewan lain sebelum menginfeksi manusia. Kemudian setelah infeksi di dunia mencapai ratusan ribu orang, WHO mengumumkan virus corona sebagai pandemi global. Virus ini menjalar cepat, memakan banyak korban jiwa dan menyebabkan masalah di setiap negara di dunia. Pada awal maret 2020, virus COVID-19 ini dinyatakan menjadi pandemi oleh WHO. Sehingga sekolah, tempat ibadah, kantor, restoran, mal, dan lain-lain, harus tutup sementara untuk memutus penyebaran virus. Aku ingat, saat presiden pertama kali mengumumkan pasien pertama yang terinfeksi covid di Indonesia, banyak masyarakat yang panik menyerbu supermarket untuk membeli persediaan bahan makanan seperti beras, gula, susu, dan bahan sembako lainnya. Mereka khawatir, Indonesia akan memberlakukan lockdown seperti Cina, lalu sekolah juga mulai meliburkan siswanya selama 2 minggu. Tentu saja aku senang saat itu. Tapi, siapa sangka libur 2 minggu berubah menjadi libur 2 tahun. Sejak hari itu, sekolah mulai memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kami semua belajar dari rumah. Awalnya aku masih bingung dan gaptek menggunakan aplikasi Google Classroom, Zoom dan Google Meet. Aku tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut, benar- benar tidak tahu cara menggunakannya, namun dengan dibantu oleh guru yang mengajar lama-kelamaan aku jadi mulai mengerti cara penggunaannya. Kerepotan di awal PJJ mungkin dikarenakan belum terbiasa. Ditambah jadwal online yang sama dengan anggota keluarga lain, membuat hari-hari awal PJJ ini terasa repot dan sibuk. Oleh karena nya, untuk menghindari kesibukan di pagi hari biasanya malam sebelumnya aku akan menyiapkan baju dan alat tulis yang akan di gunakan besok, tidak lupa men charge laptop dan HP untuk berjaga-jaga jika jadwal online saya berbarengan dengan anggota keluarga yang lain. Karena keluarga saya semuanya belajar dan bekerja lewat online, jadi semua laptop dan Hp akan terpakai setiap hari. Terkadang ada materi yang susah dimengerti, namun jika itu terjadi, saya akan bertanya pada Guru yang mengajar dan jika ternyata itu pun masih belum paham, Belajar Saat Pandemi 122

maka saya akan bertanya pada Mama. Mama biasanya memberi tips dan trik cara mengerjakan yang lebih mudah, juga memberi soal latihan untuk mengetahui sudah sejauh mana saya mengerti materi tersebut. Selain itu, saya juga menggunakan aplikasi yang membantu saya untuk memahami pembelajaran seperti YouTube dan Ruang Guru. PJJ selama pandemi ini membawa cerita suka dan duka. Sukanya, saya jadi bisa mengoperasikan aplikasi yang tidak pernah saya pakai sebelumnya, membuat pertemuan dengan teman walau hanya sebentar menjadi istimewa. Dan jadi sering berada di rumah bersama keluarga. Dukanya, saat melaksanakan PJJ, adalah ketika wifi bermasalah, internet mati padahal sedang ada materi yang menarik. Kadang ada beberapa gangguan kecil seperti kucing yang ingin diperhatikan saat sedang Zoom ataupun tukang jualan yang lewat. Dan juga saat tidak kebagian laptop karena sedang dipakai berbarengan anggota keluarga yg lain. Mari kita kesampingkan dulu suka duka saat PJJ ini. Bosan! Kadang ada rasa bosan selama diam di rumah seperti ini. Biasanya untuk melawan kebosanan, aku mencoba resep makanan yang ada di Instagram atau TikTok, mulai dari kopi dalgona, pancake, dan masakan yang lainnya. Aku juga pernah memelihara lele dalam ember dan menanam tanaman yang sedang tren. Menggambar, menonton film juga membaca novel berbahasa inggris untuk menambah vocabulary dan grammar. Atau tidur, karena saat tidur, aku bisa berimajinasi dengan mimpi. Sering kami sekeluarga menyusuri jalanan tanpa arah hanya untuk sekedar bisa melihat keadaan di luar, agar tidak bosan seharian di rumah saja. Tidak keluar dari mobil dan jika hari libur, kami akan berjalan ke pedesaan dan gunung yang masih segar udaranya dan sepi. Selain bosan, pandemi ini juga mencekam. Di mulai dari tetangga atau teman orang tua saya yang positif COVID-19. Kemudian, penutupan masjid untuk ibadah berjemaah dan banyak sekali kabar duka yang terdengar baik dari speaker masjid maupun WhatsApp grup. Mendengar hal tersebut, saya merasa sedih sekaligus merasa aneh. Sedih karena telah kehilangan beberapa orang yang ada di circle lingkungan saya. Aneh karena setelahnya, lingkungan rumah menjadi sepi dan ada perasaan khawatir dan ketakutan yang sangat. Kami jadi jarang bersilaturahmi langsung ke saudara, teman dan tetangga. Bahkan, sudah 2 tahun ini kami semua tidak mudik dan harus berlebaran di Bogor. 123 Belajar Saat Pandemi

Pandemi ini juga merubah semua ritme hidup. Biasanya sepulang sekolah aku akan sibuk les di luar setiap hari, tapi sekarang semua harus online dari rumah. Demikian juga saat belanja, jika memang harus belanja di luar, Mama akan melarang saya berlama-lama di dalam supermarket, harus segera menemukan barang yang diperlukan dan secepat mungkin membayar di kasir. Tidak ada lagi acara melihat- lihat. Semuanya diliputi rasa waswas yang berlebihan. Banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari pandemi ini, seperti saat melihat antrian orang mengisi oksigen, tidak pernah terpikir oleh saya bahwa bisa menghirup oksigen dengan leluasa tanpa ada rasa sakit maupun sesak itu ternyata adalah nikmat Allah yang tiada tara. Dan saya mulai belajar menghargai hal kecil yang selama ini kita lakukan ternyata bisa menjadi memori indah yang dirindukan ketika kita tidak bisa melakukan nya lagi, seperti berjalan kaki sepulang sekolah. Harapan saya semoga pandemi cepat berakhir dan kita bisa beraktifitas normal, tidak lagi mendengar kabar duka, dan hilang semua waswas di hati. Serta bisa melewati pandemi ini dengan sehat, baik rohani maupun jasmani bersama keluarga kita masing-masing. Mungkin pandemi akan berlangsung lama, untuk itu kita harus selalu belajar hidup berdampingan dengan virus covid dengan cara selalu mengikuti protokol kesehatan, dan ikut vaksin. Protokol adalah hal-hal yang harus kita biasakan agar terhindar dari virus COVID-19 ini yaitu, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencuci tangan, mengisolasi diri jika merasa sakit. Pemerintah juga sudah mengejar target vaksinasi untuk 12+, berharap pandemi ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas normal kembali. Terlepas dari itu semua, pandemi ini akan menjadi sejarah, dan kita juga akan menjadi saksi sejarah dunia. Belajar Saat Pandemi 124

Ceritaku Tentang Pandemi dan Pembelajaran Jarak Jauh Muhammad Athallah Ibnu Hakim K ali ini aku mau menceritakan tentang PJJ kepanjangan dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan juga tentang apa itu virus Corona. Nah, mungkin dari kalian sudah ada yang tau tentang COVID-19, kan? Jika ada yang belum tahu, akan aku kasih tahu apa itu COVID-19. COVID-19 itu adalah suatu virus atau wabah penyakit yang sedang melanda di bumi ini. Virus ini sangatlah berbahaya loh! Kenapa? Karena virus tersebut bisa membuat kita menjadi sakit dengan ciri-ciri demam, batuk-batuk, kelelahan, dan juga bisa membuat tubuh kita menjadi lemah. Kalau tubuh kita lemah kita bisa menjadi sakit dan dimasuki virus lainnya. Pandemi COVID-19 itu suatu virus yang sedang menyebar di dunia ini di tahun 2020-2021 di Indonesia maupun di luar negeri yang disebabkan ketidakdisiplinan manusia salah satunya adalah makan sembarangan. Banyaknya polusi udara pun bisa menyebabkan tubuh menjadi sakit, makan tidak teratur, jarang minum air putih, jarang olahraga dan juga jarang makan sayur bisa menyebabkan tubuh menjadi lemah. Jika tubuh menjadi lemah maka virus maupun bakteri akan gampang masuk kedalam tubuh kita. Maka dari itu kita harus peduli dengan kesehatan tubuh kita sendiri. Akhirnya sekolahku pun mengumumkan dan memutuskan PJJ selama pandemi. Pada awalnya aku merasa agak senang karena bisa agak bebas menurutku waktu itu ya, tapi sekarang aku menjadi bosan karena harus stay at home atau dengan kata lain di rumah aja agar menghindari virus COVID-19. Aku bosan karena kita jadi tidak bisa ketemuan dengan teman, tidak bisa bermain bersama secara offline ya bukan secara online. Sebelum adanya pandemi aku sering banget main ke rumah teman pada saat hari libur. Kadang-kadang juga aku pergi ke rumah temanku itu hari jumat. Nah kalau kalian bertanya “Siapa sih temannya Atha?” Jawabanya itu adalah Radit. Ya, aku sering ke rumah Radit. “Ngapain Atha main ke rumah Radit?” Hmmm, aku kalau ke rumah Radit biasanya kita sepedaan bareng, bermain bareng pokoknya apa aja deh. Aku juga malahan pernah menginap di rumahnya, hhmm, kalau nggak salah tiga kali. Aku akan menceritakan pertama kali aku menginap di rumahnya. Waktu itu aku maluuu bangeet, karena aku telat bangunnya sebenarnya Radit sudah berusaha bangunin aku, tapi aku nggak bangun-bangun. Jadinya kakaknya Radit deh yang 125 Belajar Saat Pandemi

bangunin. Tapi sekarang karena lagi ada pandemi aku jadi nggak bisa main ke rumah temen lagi deh. Pergi keluar atau jalan-jalan sebetulnya kurang aku sukai. Kenapa? Karena biasanya kalau pake motor aku kepanasan sedangkan kalau naik mobil lama-kelamaan aku merasa pusing. Tapi sekarang aku jadi rindu jalan-jalan, kadang-kadang aku diajak pergi atau jalan-jalan sama Andung dan juga Baboku (Andung=Nenek, Babo=Kakek sebutan orang Padang.) Kalau diajak pergi jalan-jalan biasanya pergi makan-makan, piknik, dan melihat tempat-tempat baru. PJJ menurutku tidak terlalu asik dan juga agak membosankan walaupun masih bisa bermain bersama teman secara online tetap saja aku masih ingin bermain bersama teman secara offline. Tapi terkadang seru juga sih main bareng teman secara online, tapi itupun tidak bisa sering-sering seperti sebelum adanya virus corona atau COVID-19. Semua kegiatan harus dilakukan di rumah termasuk belajar, dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Terkadang kita menjadi bosan karena tidak ada teman bermain saat istirahat atau saat bosan, dan bisa saja kita merasa stres saat melakukan PJJ. Selama melaksanakan PJJ alat yang aku gunakan adalah laptop. Kenapa? Karena aku merasa lebih mudah dibandingkan menggunakan handphone dan juga layarnya lebih besar. Ketika mengikuti PJJ, aku selalu sendiri karena orang tuaku sibuk. Ketika mengikuti pelajaran secara online, terkadang aku kesulitan untuk memahami, dan terkadang sangat mudah dipahami. Begitu juga dengan tugas yang Bapak/Ibu Guru berikan. Aku berharap tugas-tugas yang Bapak Ibu guru berikan dikurangi tingkat kesusahannya, dan juga perbanyak waktu pertemuannya walaupun melalui Zoom atau Google Meet. Bertemu secara offline atau dengan kata lain ketemuan secara langsung, sesekali sangat aku harapkan, tetapi tetap pakai protokol kesehatan yang ketat dan masing-masing menjaga diri. Pandemi ini sudah hampir memasuki dua tahun lamanya selama itu pula anak- anak mengikuti PJJ. Kalau kita melihat dari sisi positifnya selama pembelajaran di rumah kita sebagai anak-anak jadi mengenal cara menggunakan dunia digital atau dengan kata lain cara menggunakan laptop, handphone, dan lain-lain. Selain itu dengan pandemi ini kita jadi bisa lebih peduli lingkungan, jadi lebih dekat dengan keluarga. Sedangkan sisi negatifnya adalah kita jadi tidak bisa bertemu dengan Teman-teman yang lain, dan jadi bosan hanya di rumah saja, nggak bisa pergi jalan- jalan. Ketika aku mengalami kebosanan yang biasa aku lakukan yaitu menggambar atau nge-Zoom sama teman-teman, menonton video di YouTube, membaca buku komik atau novel. Biasanya novel yang sering aku baca itu novel tentang misteri. Belajar Saat Pandemi 126

Yaa, bisa dibilang kalau aku itu suka novel bertema misteri. Aku juga suka dengerin musik. Bermain games terkadang juga aku lakukan ketika libur. Membeli jajanan tentunya juga dapat menghilangkan kebosananku. Selama pandemi ini aku juga jadi sering ke rumah nenek karena rumahnya dekat, untuk pergi ke sana aku sering menggunakan sepeda. Selama pandemi ini pengalaman yang kurang enak atau sedih yang aku rasakan adalah kita jadi tidak bisa ke mana-mana, seperti pergi ke supermarket untuk belanja bulanan seperti kebutuhan sehari-hari, makanan, sabun, dan lain-lain. Aku sering membeli jajanan juga di sana. Di tempatku, masjid masih boleh dikunjungi dengan protokol yang ketat, tetapi saat ini aku tidak bisa pergi bersama teman- temanku, aku hanya pergi bersama Ayah. Hikmah dari pandemi ini menurutku adalah kita harus lebih disiplin dalam menjalankan prokes dan juga mengurangi polusi udara. Selain itu kita juga harus lebih prihatin dan peduli dengan lingkungan sekitar kita terutama kesehatan. Oya selain itu kita bisa menjadi lebih dekat dengan keluarga, lebih mengenal lingkungan sekitar, bisa lebih memperhatikan lagi tanaman, hewan yang ada di rumah. Aku selalu berdoa semoga pandemi ini segera berakhir agar kehidupan kembali normal seperti dulu. Yang kedua, aku mau manusia jadi lebih beradab lagi dan mentaati aturan seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok di tempat keramaian, dan juga mengurangi polusi udara. Aku pun berdoa untuk negaraku semoga Indonesia semakin lebih maju, makmur dan lebih baik. Aamiin. Semoga Allah Swt. mengabulkan doaku. Untuk Teman-teman yang dirumah atau dimanapun, semoga kalian sehat-sehat selalu yaa. Semoga semakin ceria, pintar, dan sehat selalu. Oh ya, dan juga kalau kalian tidak ingin terkena virus jangan lupa selalu ikuti protokol kesehatan. Oke sekian dari aku terima kasih telah membacanya sampai selesai dan semoga kalian suka ya dengan ceritaku. Kalau begitu aku pamit ya semangat. 127 Belajar Saat Pandemi

Positif yang Menakutkan Hanin Syifan Arief P andemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya Penyakit koronavirus 2019 (Bahasa Inggris: Coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19) di seluruh dunia untuk semua Negara. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Kasus positif COVID-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Pada tanggal 9 April, pandemi sudah menyebar ke 34 provinsi dengan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah sebagai provinsi paling terpapar SARS-CoV-2 di Indonesia. Sebagai tanggapan terhadap pandemi, beberapa wilayah telah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada tahun 2020. Kebijakan ini diganti dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada tahun 2021. Beberapa hari sebelum libur panjang yang sangat panjang banget, saya dan Ayah Bunda sering diskusi tentang apa dan kenapa ada virus COVID-19, bahkan Ayahku sudah pulang lebih awal dari jadwal biasanya pulang dari Jepang, juga katanya karena covid mulai banyak di Jepang. Apa lagi om saya yang berkebutuhan khusus tiba-tiba sakit aneh, tidak bisa jalan, yang sebelumnya tidak ada gejala apa apa, bingung kan? Nah saya tidak masuk sekolah karena om saya sakit, itu pas sehari sebelum diumumkan oleh pemerintah bahwa sekolah harus libur total karena pandemi, dan sejak itu aku tidak ke sekolah, hingga minggu berganti bulan, dan terus libur dan libur. Awal libur merasa asyik-asyik aja tuh bisa main full di rumah, apalagi Bunda dan Ayah juga libur, tidak kerja. Tapi kok liburnya lama banget ya, mulai tuh ada rasa kangen teman-teman, Bu Guru, kudapan, dan semuanya. Masa libur makin tak jelas kapan berakhir. Kata Bunda, \"Pokoknya selama masih pandemi, virus ada di mana-mana, maka semua sekolah libur.\" Dan makin nggak ngerti saat harus belajar dari rumah lewat Zoom, lucu, aneh tapi ya bagaimana lagi kata Bunda, “Semua sekolah juga begitu.” Ya udah deh terpaksa belajar walau gajebo dan susah paham. Belajar Saat Pandemi 128

Awal belajar via Zoom aku sih ya hadir tapi hanya sekedar ngeliat dan mendengar apa yang dijelaskan oleh Bu Guru. Alhamdulillah, Bundaku selalu membantuku dalam menjelaskan materi dari bu guru. Tiap minggu ada tugas, bete juga sih, apa lagi harus pakai seragam walau hanya duduk manis di depan komputer. Hmmm, pokoknya nggak asyik banget deh, tidak bisa main dengan teman-teman, tidak seru, nggak bisa salat bareng-bareng, dan tidak bisa renang deh. Selama PJJ aku belajarnya dengan menggunakan komputer, kadang juga sih pakai HP, tapi kalau ketahuan sama Bundaku kalo saya sering chat dengan teman-teman saat bu Guru nerangin, maka bundaku tidak bolehin pake HP harus menggunakan komputer. Ayah dan bundaku kerja, sehingga kadang gantian nemenin saat PJJ, tapi lebih sering sama Ayah, karena Ayah sering WFH. Kalau Bunda sering ke sekolah, tapi sore hari Bunda menemaniku belajar kembali apa yang dibahas tadi di Zoom, sekaligus diajarin juga mengerjakan tugas/PR, apa lagi dengan Matematika, Bundaku paling hebat ngajarin aku, tapi kalau aku lama belum ngerti juga, biasanya jam pegang HP dikurangi jatahnya, bahkan kadang HP saya diumpetin sama bundaku, jadi aku harus fokus saat bundaku ngejelasin soal matematika. PJJ itu asyiknya, bisa puas main di rumah, dan belajarnya cuman sebentar, belajar bisa sambil ngemil dan minum, trus kalau ada tugas yang aku tidak ngerti, maka bundaku pasti jelasin ulang sampai aku ngerti, tapi aku mudah lupa. Kata bundaku, \"Efek kebanyakan main.\" Iya juga sih. Tidak asyik tuh kalau Ayah Bunda WFO, sepi hanya ada bibi. Biasanya sambil nunggu bunda pulang, aku main HP bentar, karena kalau kelamaan, hihi HPku bisa disita deh, jd harus disiplin dan harus bisa menegur diri sendiri kata bundaku. Trus saya seringnya main slime, atau gambar. Ayahku membelikan alat melukis, termasuk Cat Acrylic, jadi asyik aja menggambar. Kadang juga Bunda ngajak ke Gramedia beli banyak buku cerita dan alat melukis dan bahan bahan membuat slime. Di tengah masa pandemi, aku dan Ayah Bunda harus mudik ke Makassar karena ponakan Bunda mau nikah. Walau ayah bundaku sempat galau antara mudik atau tidak, tapi bagi aku, setiap bahas rencana mau mudik, aku selalu senang karena akan ketemu sama saudara-saudaraku di kampung, sudah ngebayangin serunya main bareng, kangen pokoknya. Sehingga aku semangat untuk mudik, tapi aku takut kalau melihat berita tentang swab, takut dicolok hidungku. Senang tak terkira saat aku sudah tiba di Makassar, rame banget karena kakak sepupu yang mau nikah dua orang, adik kakak, dan keduanya dokter, pestanya ramai banget. Kata Bundaku, 129 Belajar Saat Pandemi

\"Ini adat Bugis, rangkaian pestanya beberapa hari.\" Tapi dibalik kemeriahan dan senangnya selama di Makassar, seketika runtuh dan ambiyaar semua dan sediiih bangeet saat ayahku dinyatakan positif COVID-19. Aku takut banget, sedih, bahkan sampai sekarang aku trauma ngga mau kemana-mana, sejak ayahku dinyatakan- positif. Bagiku ikata POSITIF itu amat menakutkan. Hikmahnya banyak banget. Kata ayah bundaku kita harus banyak bersyukur dengan kondisi kita dan apa yang kita miliki, bentuk syukur kita dengan menjaga kesehatan tertib protokol kesehatan, tidak keluar rumah jika tidak penting. Sebelum covid, aku paling hobi ke mal dan toko buku Gramedia beli buku dan mainan, atau hampir tiap hari ke Indomaret, tapi semenjak ayahku positif, nyaris tidak pernah ke mal atau ke Indomaret karena sangat takut dengan covid ada di mana-mana. Ayahku sangat tertib dalam protokol kesehatan, hand sanitizer ditaruh di depan pintu, setiap kali ada pesanan online apapun itu, pasti langsung disemprot dulu dan tidak boleh disentuh. Aku jadi sangat terbiasa sesering mungkin mencuci tangan. Sangat berharap pandemi ini cepat berakhir, agar bisa sekolah lagi, bisa ramai- ramai bersenda gurau dengan teman-teman, bisa renang, jalan-jalan, dan naik pesawat lagi, liburan ke Makassar ketemu banyak saudara. Sebaiknya pembelajaran PJJ dibuat semenarik mungkin agar semua siswa tidak bosan belajar dan bisa cepat mengerti. Dan untuk pemerintah sebaiknya buat aturan yang tegas, agar orang pada taat aturan dan covid cepat hilang. Belajar Saat Pandemi 130

Virus Baru, Pengalaman Baru Faid Hamizan Rahman \"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.\" (Q.S. Ali Imron : 191) V irus baru pengalaman baru. Lho kok gitu? Ya, banyak sekali pengalaman seru yang Saya alami dan dapat menjadi pelajaran hidup. Mau tau apa saja? Penasaran? Yuk simak sampai akhir! COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Penyakit yang sangat berbahaya ini muncul dari Wuhan, Cina. Gejala COVID-19 diantaranya adalah suhu badan lebih dari 37 derajat Celcius, sesak nafas, demam tinggi selama berhari- hari, dan beberapa gejala lainnya. COVID-19 pun dapat menyebabkan kematian. Untuk mencegahnya, kita perlu memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan menggunakan sabun. Diam di rumah saja juga termasuk salah satu upaya menghindari tertular COVID-19. Namun, hal tersebut menyebabkan aktivitas kita menjadi serba terbatas. Termasuk harus bekerja dan sekolah dari rumah. Sedih rasanya, karena dulu sebelum ada COVID-19, lingkungan sekolah selalu ramai. Tetapi sejak COVID-19 semakin merajalela, sekolah diliburkan. Walaupun Saya jauh, karena harus ikut ayah tugas di Ciamis semenjak awal pandemi, tapi Saya dapat membayangkan betapa sepinya sekolah. Sedih juga karena harus merasakan sekolah di rumah atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tapi alhamdulillah masih dapat belajar dari rumah meskipun dengan menggunakan laptop dan gawai. Saat Zoom atau Google Meet, saya belajar sendiri. Sedangkan saat mengerjakan tugas, saya dibantu oleh Bunda, Ayah atau Kakak. Tugas yang diberikan mudah, tetapi kadang saya sulit memahami maksud pertanyaannya. Biasanya, saya mengumpulkan tugas melalui surel dan aplikasi WhatsApp. Melaksanakan PTS dan PAS di rumah dengan diawasi Bunda, terasa aneh. Hal yang menyebalkan saat PJJ adalah jika harus mengalami mati lampu saat sedang Google Meet atau Zoom. Belum lagi kadang juga sinyal tidak bersahabat. Tapi bahagianya adalah saat sedang istirahat, karena Saya dapat menikmati kudapan atau sarapan kedua buatan Bunda. Menurut saya, sisi negatif PJJ adalah kita tidak langsung bertemu guru dan teman- teman. Sangat sulit untuk memahami pelajaran tanpa langsung melihat guru dan papan tulis. Saya merasa sulit untuk fokus jika hanya melihat layar saja, apalagi jika 131 Belajar Saat Pandemi

waktunya terlalu lama. Tapi Alhamdulillah jadi dapat belajar lebih sering dengan bunda di rumah. Biasanya saya langsung mengerjakan tugas pada siang hari setelah belajar dengan Bapak/Ibu guru. Matematika adalah pelajaran yang “penuh ujian”, karena saya paling sulit memahaminya. Hafalan Qur’an juga jadi tidak semangat karena yang biasanya di sekolah bersama-sama, sekarang harus sendiri- sendiri di rumah. Rindu saat menghafal dengan suara bersahutan di sekolah dengan teman-teman. Selama PJJ, saya sama sekali tidak pernah ke sekolah lagi, jadi saya tidak dapat bermain bersama teman-teman. Padahal biasanya sambil menunggu dijemput, kami bermain di area masjid. Selama pandemi juga Saya jadi jarang berolahraga. Tapi dipikir-pikir, pandemi ada enaknya. Eh, kalau kata Bunda mah bukan enak ya, tapi harusnya bilang Alhamdulillah alaa kulli haal. Enaknya, jadi boleh makan kudapan sambil KBM dan dapat menjelajah dunia maya lebih sering. Biasanya saya jarang sekali boleh membuka internet, kecuali saat diajak ayah ke kantor. Selama pandemi ini saya boleh memegang gawai lebih lama karena diperlukan untuk PJJ. Saya merasa tidak ada ide untuk PJJ karena sebenarnya ingin sekolah tatap muka. Tapi mau bagaimana lagi, kesehatan dan keselamatan lebih utama. Jadi, saya jalani saja PJJ ini dengan penuh syukur. Walaupun sering bad mood jika belajarnya kurang seru. Ini yang membuat saya akhirnya kurang dapat memahami pelajaran. Sebaiknya PJJ dibuat menarik, misalnya dengan belajar lewat permainan (games) dan diselingi membuat proyek. Misalkan presentasi tentang suatu hal yang menarik. Semua orang pun harus mau divaksin agar Indonesia “merdeka” dari COVID-19. Selain itu juga kita semua harus menjaga protokol kesehatan, karena percuma jika sudah vaksin tapi tidak menjaga protokol kesehatan. Kata Bunda, vaksin itu seperti orang pakai helm saat naik motor. Tetap bisa kecelakaan kan? Tetapi kondisi cederanya mungkin tidak terlalu parah. Baiknya, anak sekolah pun masih PJJ sampai kondisi memungkinkan untuk PTMT dan mulai beraktivitas seperti biasanya. Kalau kakak-kakak SMP dan SMA sudah coba masuk, dan mereka sehat setelahnya, baru deh kita bisa menyusul untuk PTMT juga. Di rumah terus, memangnya tidak bosan? Ya kalau bosan, Saya bermain game rancang bangun atau mobil. Kadang scrolling Tik Tok dan Instagram. Salah satu hobi baru saya adalah menonton masterchef di YouTube dan beberapa tayangan di channel YouTube yang berbau otomotif dan komedi. Pernah juga mencoba kuliner Belajar Saat Pandemi 132

secara online dan pergi ke hutan pinus yang sepi. Sesekali juga pergi berbelanja ke toko dengan protokol kesehatan ketat. Menurut Saya sih jadi agak ribet dibanding sebelum ada pandemi. Oiya, Saya juga sering bermain dengan hamster yang Saya beri nama Bolu Susu Lembang, panggilannya Bolu, hehe. Tanggal 22 Agustus kemarin, Bolu ulang tahun yang pertama lho! Tapi bukan satu tahun sejak lahir ya, melainkan satu tahun sejak dihadiahkan oleh tante kepada saya. Walaupun saya dapat mengatasi rasa bosan karena di rumah saja, saat pandemi ini ada beberapa peristiwa kurang menyenangkan yang keluarga saya alami. Pertama, kami tidak dapat mudik karena ada PPKM. Kedua, kami juga jarang liburan. Beberapa kali gagal saat akan liburan karena PPKM terus diperpanjang. Tapi tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Daripada liburan terus kena COVID- 19? Na’udzubillah. Ngomong-ngomong soal kena COVID-19, tante saya di Bekasi pernah terpapar dan saya sedih karena jauh dan hanya dapat membantu lewat telepon serta mendoakan. Adik sepupu saya di Solo juga terkena long COVID-19, sehingga gagal operasi tumor hingga saat ini. Mohon doanya ya para pembaca yang baik. Tidak selalu menyedihkan, ada banyak juga pengalaman baru yang saya peroleh saat pandemi COVID-19. Saya bercocok tanam lho, selama pandemi! Saya menanam sawi, sereh, bawang putih, bawang merah dan juga honje (kecombrang). Saya juga sempat memelihara ikan lele dumbo yang say beri nama Jumbo. Tetapi dia sudah mati karena kelamaan hidup tanpa oksigen di dalam ember saat kolam sedang ditambal. Saya juga pernah outing lho, di hutan pinus Ciamis bersama teman baru saya yang bernama Azzam. Saya juga melihat kehidupan Kakak-kakak santri di Pesantren Ibnu Siena Mulia. Kami sekeluarga juga pernah tersesat sepulang dari silaturahmi ke suatu daerah. Cukup menegangkan, mobil kami diikuti oleh 2 motor di hutan karet antah berantah. Pada saat itu kami berzikir Al-Ma’tsurat, menyembunyikan semua barang berharga di bawah jok mobil dan membuka sedikit kaca agar tidak mudah dipecahkan dari luar. Alhamdulillah, kami diselamatkan Allah setelah tersesat selama kurang lebih 2 jam lamanya. Saat pandemi ini juga, pertama kalinya aku menjadi panitia lamaran dan pernikahan. Saat itu aku mendapat tugas untuk tasmi’ Qur’an di acara lamaran tante. Semuanya dengan protokol kesehatan yang ketat dan tamu yang diundang pun hanya dari keluarga dekat saja. Setelah satu tahun lebih pandemi ini kita hadapi, ada beberapa hikmah yang saya dapatkan. Salah satunya adalah bahwa saya senang dapat bersama ayah di kota 133 Belajar Saat Pandemi

yang sama. Walaupun Ayah sering pergi kerja ke pondok daripada di rumah, setidaknya kami dapat bertemu dengan ayah setiap hari dan waktu untuk bersama keluarga lebih banyak karena semua dilaksanakan secara daring. Saya merasa lebih melek teknologi, karena akhirnya diperbolehkan mengotak-atik gawai dan internet lebih lama. Saya juga merasa lebih peduli terhadap kesehatan, karena harus sering cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak serta makan makanan yang bergizi. Ayah dan Bunda juga mengajarkan untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama yang terdampak COVID-19. Satu lagi, menulis buku ini pun pengalaman baru untuk saya. Semoga pandemi ini segera berakhir dan hilang dari muka bumi ini. Untuk itu, semua orang harus mau divaksin COVID-19 dan mau taat kepada protokol kesehatan. Sehingga hidup bersih dan sehat menjadi kebiasan baru kita, selamanya. Maasya Allah, banyak sekali hikmah dari pendemi ini. Saya juga belajar banyak pengalaman baru di luar pelajaran sekolah. Alhamdulillah, semoga kita senantiasa tetap bersyukur dengan setiap keadaan di masa pandemi COVID-19 ini, termasuk jika masih harus melaksanakan PJJ. Belajar Saat Pandemi 134

\"Sejauh apapun perpisahan sesibuk apapun kita nanti dan meski langkah kita berbeda waktu tidak akan dapat memisahkan gelar 'Sahabat' diantara kita.\" Nurul Natasha


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook