Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore !Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

!Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Published by Irwandi Aw, 2017-02-28 10:35:04

Description: Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Search

Read the Text Version

Jumlah Daun pada umur 14, 28, 42 dan 56 HST.Rata- Hasil uji F pada analisis ragam rata jumlah daun tanaman nilam pada berbagai konsentrasi Growtonepada umurmenunjukkan bahwa konsentrasi 14, 28, 42 dan 56 HST setelah diujiGrowtone berpengaruhsangat nyata BNT0,05 disajikan pada Tabel 6.terhadap jumlah daun tanaman nilamTabel 6. Rata-rata jumlah daun tanaman nilam pada berbagai konsentrasi Growtone umur 14, 28, 42 dan 56 HST Konsentrasi Growtone Jumlah Daun (helai) 28 HST 42 HSTSimbol (gr ml-1 air) 14 HST 56 HSTZ0 0 5.85 a 14.03 a 19.40 a 35.27 aZ1 3 6.59 b 14.81 b 20.15 a 37.85 bZ2 6 7.52 c 15.74 c 21.29 b 41.00 cZ3 9 6.66 b 15.04 b 20.18 a 38.15 b 0,53 BNT0,05 0,55 0,63 1,25Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf peluang 5% (BNT 0,05) Tabel 6 menunjukkan bahwa pernyataan Pamungkas et al. (2006) yang menyatakan bahwa penambahan auksinjumlah daun tanaman nilam terbanyak eksogen di akar akan meningkatkan tekanan turgor akar sehingga giberelinpada umur 14, 28, 42 dan 56 dan sitokinin endogen di akar akan diangkut ke atas/bagian tajuk tanaman.HSTdijumpai pada perlakuan konsentrasiGrowtone 6 gr ml-1 air (Z2) yang berbeda Panjang Tunasnyata dengan konsentrasi Growtone 0 gr Hasil uji F pada analisis ragamml-1 air(Z0), 3 gr ml-1 air(Z1) dan 9 gr ml-1air(Z3). Jumlah daun tanaman nilam menunjukkan bahwa konsentrasiakibat konsentrasi Growtone terbanyak di Growtone pengaruh sangat nyata terhadap panjang tunas tanaman nilamjumpai pada konsentrasi Growtone 6 gr pada umur 42 dan 56 HST danml-1 air(Z2).Hal ini diduga karena dengan berpengaruh nyata pada umur 14 dan 28permberian konsentrasi growtone HST.Rata-rata jumlah daun tanamansebanyak 6 gr ml-1 air(Z2) telah cukup nilam pada berbagai perlakuanoptimal untuk merangsang pertumbuhan konsentrasi Growtone pada umur 14, 28,42 dan 56 HST setelah diuji BNT0,05stek nilam. Pemberian zat pengatur disajikan pada Tabel 7.tumbuh dengan konsentrasi yangoptimum dapat meningkatkan sintesisprotein yang digunakan sebagai bahanpenyusun organ tanaman seperti akar,batang dan daun. Sesuai denganTabel 7. Rata-rata panjang tunas tanaman nilam pada berbagai perlakuan konsentrasi Growtone pada umur 14, 28, 42 dan 56 HSTKonsentrasi Growtone Panjang Tunas (cm)Simbol (gr ml-1air) 14 HST 28 HST 42 HST 56 HSTZ0 0 3.00 a 6.37 a 10.22 a 16.36 aZ1 3 3.19 a 6.77 a 10.96 ab 17.29 bZ2 6 4.03 b 7.55 b 11.96 b 18.36 bZ3 9 3.26 a 6.88 ab 11.07 b 17.32 b BNT0,05 0,68 0,69 0,73 0,83Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf peluang 5% (BNT 0,05)46 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Tabel 7 menunjukkan bahwa sehingga merangsang pembentukan akar tunas. Munculnya akar merupakanpanjang tunas tanaman nilam terpanjang indikator kemampuan stek untuk dapat bertahan hidup dan melakukan prosespada umur 14, 28, 42 dan 56 HST pertumbuhan dengan munculnya tunas- tunas baru. Putri dan Sudianta (2009)dijumpai pada perlakuan konsentrasi menyatakan stek tanaman yang diberiGrowtone 6 gr ml-1 air (Z2). Pada umur perlakuan ZPT akan membentuk akar28HST panjang tunas nilam berbeda lebih cepat dan mempunyai kualitas sistem perakaran yang lebih baiknyata dengan konsentrasi Growtone 0 gr daripada yang tanpa perlakuan ZPT.ml-1 air (Z0), konsentrasi Growtone 3 gr Auksin merupakan salah satu ZPT yangml-1 air (Z1) namun tidak berbeda nyata berperan penting pada prosesdengan konsentrasi Growtone 9 gr ml-1 pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman terutama bahagian tunas. Auksinair (Z3). Pada umur 42 HST panjang mampu meningkatkan tekanan sel dantunas nilam berbeda nyata dengan meningkatkan sintesis protein, sehinggakonsentrasi Growtone0 gr ml-1 air (Z0), sel-sel akan mengembang, memanjangnamun tidak berbeda nyata dengan dan menyerap air (Abidin, 1993).konsentrasi Growtone 3 gr ml-1 air (Z1) Persentase Stek Hidupdengan konsentrasi Growtone 9 gr ml-1 Hasil uji F pada analisis ragamair (Z3). Pada umur 14 HST dan 56 HST menunjukkan bahwa konsentrasipanjang tunas tanaman nilam berbeda Growtone berpengaruh tidak nyata terhadap persentase stek tanaman nilamdengan perlakuan dengan konsentrasi pada 56 HST. Rata-rata persentase stekGrowtone 0 gr ml-1 air (Z0), konsentrasi hidup tanaman nilam padaGrowtone 3 gr ml-1 air (Z1) dan berbagai konsentrasi Growtone padakonsentrasi Growtone 9 gr ml-1 air (Z3). umur 56 HST setelah diuji BNT0,05 disajikan pada Tabel 8. Panjang tunas tanaman nilamakibat konsentrasi Growtone terpanjangterdapat pada konsentrasi Growtone 6 grml-1 air (Z2). Hal ini dikarenakan padakonsentrasi tersebut terdapatnya zatpengatur tumbuh Growtone pada pangkalstek menyebabkan terakumulasinya zatpengatur tumbuh auksin dalam keadaantersedia pada pangkal pelukaan stekTabel 8. Rata-rata persentase stek hidup tanaman nilam pada berbagai konsentrasiGrowtone umur 56 HSTKonsentrasi Growtone Persentase Stek Hidup (%)Simbol (gr ml-1air)Z0 0 77.78Z1 3 88.89Z2 6 92.59Z3 9 88.89 Tabel 8 menunjukkan bahwa (Z3). Persentase stek hidup tanaman nilam akibat konsentrasi Growtonepersentase stek hidup tanaman nilam terbesar terdapat pada konsentrasitertinggi dijumpai pada perlakuan Growtone 6 gr ml-1 air (Z2). Hal inikonsentrasi Growtone 6 gr ml-1 air (Z2) dikarenakan pada konsentrasi tersebutnamun secara statistik menunjukkan auksin eksogen akan meningkatkanperbedaan yang tidak nyata dengan aktifitas auksinendogen yang sudah adakonsentrasi Growtone 0 gr ml-1 air (Z0),konsentrasi Growtone 3 gr ml-1 air (Z1) pada tanaman, sehingga mendorongdan konsentrasi Growtone 9 gr ml-1 air pembelahan sel dan menyebabkan tunas Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 47

muncul lebih awal. Santoso dan Heddy perkembangan akar. Apabila akar telah(2006) menambahkan bahwa auksin terbentuk dan berkembang dengan baiksebagai ZPT yang dapat berperan dalam maka tunas juga akan ikut terbentuk.pertumbuhan dan perkembangan tanamanyaitu mempengaruhi protein membran Jumlah Akarsehingga sintesis protein dan asam Hasil uji F pada analisis ragamnukleat dapat lebih cepat sehingga auksindapat mempengaruhi pembentukan akar menunjukkan bahwa konsentrasibaru, pembelahan sel dan pembentukan Growtone berpengaruh sangat nyatatunas. Hal ini juga sesuai dengan terhadap jumlah akar tanaman nilam padapernyataan Abidin (1990) yang 56 HST.Rata-rata jumlah akar tanamanmenyatakan bahwa waktu tumbuh mata nilam pada berbagai konsentrasitunas bibit stum mata tidur ada kaitannya Growtone pada umur 56 HST setelahdengan proses pembentukan dan diuji BNT0,05disajikan pada Tabel 9.Tabel 9. Rata-rata jumlah akar tanaman nilam pada berbagai konsentrasi Growtone padaumur 56 HSTKonsentrasi Growtone Jumlah Akar (helai)Simbol (gr ml-1 air)Z0 0 24.15 aZ1 3 26.89 abZ2 6 29.52 bZ3 9 27.11 b BNT0,05 2.20Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyatapada taraf peluang 5% (BNT 0,05) Tabel 9 menunjukkan bahwa akan mampu menstimulir pembentukanjumlah akar tanaman nilam terbanyak akar. Abidin (1991) menyatakan salahpada umur 56 HST dijumpai pada satu usaha pembentukan akar terjadiperlakuan konsentrasi Growtone 6 gr ml-1 karena adanya pergerakan auksin,air (Z2) yang berbeda nyata dengan karbohidrat, dan rooting cofactor (zat-zatkonsentrasi Growtone 0 gr ml-1 air (Z0), yang berinteraksi dengan auksin yangkonsentrasi Growtone3 gr ml-1 air (Z1) mengakibatkan perakaran) yangdan konsentrasi Growtone 9 gr ml-1 air mengumpul di dasar stek dan akan(Z3). menstimulisasi pertumbuhan akar. Jumlah akar tanaman nilam akibat PanjangAkarkonsentrasi Growtone terbanyak terdapat Hasil uji F pada analisis ragampada konsentrasi Growtone 6 gr ml-1 air(Z2). Hal ini disebabkan konsentrasin menunjukkan bahwa konsentrasiZPT yang tepatakan mempercepat Growtone berpengaruh sangat nyatamunculnya akar dan memaksimalkan terhadap panjang akar tanaman nilampertumbuhan akar. Adanya daun pada pada 56 HST.Rata-rata panjang akartunas juga berpengaruh terhadap tanaman nilam pada berbagai konsentrasipembentukan akar, karena karbohidrat Growtone pada umur 56 HST setelahyang dihasilkan oleh daun ditambah diuji BNT0,05disajikan pada Tabel 10.dengan karbohidrat yang ada dalam stek48 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Tabel 10. Rata-rata panjang akar tanaman nilam pada berbagai konsentrasi Growtone padaumur 56 HSTKonsentrasi Growtone Panjang Akar (cm)Simbol (gr ml-1air)Z0 0 24.71 aZ1 3 29.44 bZ2 6 34.51 cZ3 9 31.10 b BNT0,05 2.38Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyatapada taraf peluang 5% (BNT 0,05) Tabel 10 menunjukkan bahwa tidak nyata terhadap persentase stekpanjang akar tanaman nilam terpanjang hidup pada umur 56 HST. Daripada umur 56 HSTdijumpai pada berbagai jenis stek nilam yangperlakuan konsentrasi 6gr ml-1 air(Z2) dicobakan, pertumbuhan tanamanyang berbeda nyata dengan konsentrasi nilam terbaik di jumpai pada jenis stekGrowtone 0 gr ml-1 air(Z0), konsentrasi nilam pucuk.Growtone 3 gr ml-1 air(Z1) dan 2. Konsentrasi Growtone berpengaruhkonsentrasi Growtone 9 gr ml-1 air(Z3). sangat nyata terhadap jumlah daun tanaman nilam pada umur 14, 28, 42 Panjang akar tanaman nilam dan 56 HST, panjang tunas pada umurakibat konsentrasi Growtone terpanjang 42 dan 56 HST, jumlah akar danterdapat pada konsentrasi Growtone 6 gr panjang akar pada umur 56HST.ml-1 air(Z2). Hal ini dikarenakan pada Berpengaruh nyata terhadap panjangkonsentrasi tersebut ZPT Growtone telah tunas pada umur 14 dan 28 HST.mampu merangsang pertumbuhan Berpengaruh tidak nyata terhadapprimordial akar tanaman dan akan persentase stek hiduppada umur 56menambah kandungan auksin dalam stek. HST. Dari berbagai konsentrasiMenurut Hartman et al.(1997) growtone yang dicobakanpertumbuhanmenyatakan auksin berperan dalam tanaman nilam yang terbaik dijumpaiberbagai aktifitas tanamanseperti pada perlakuan dengan konsentrasipembentukan batang dan pembentukan growtone 6 gr ml-1air.akar adventif dan pembentukan daun 3. Terdapat interaksi yang tidak nyatasehingga dapat dikatakan bahwa auksin antara jenis stek dan konsentrasidapat meningkatkan pertumbuhan akar. growtone terhadap semua peubah yangSelanjutnya Wattimena (1988) diamati.menambahkan pemberian zat pengaturtumbuhakanmemberikan nilai perakaran Saranyang lebih tinggi dibandingkan dengan Jenis stek nilam yang berasal daritanpa pemberian zat pengatur tumbuh. pucuk tanaman dan konsentrasi6 gr ml-1 KESIMPULAN air dianjurkan untuk dapat digunakan agar memperoleh pertumbuhan vegetatifKesimpulan yang terbaik dalam usaha penanaman1. Jenis stek berpengaruh sangat nyata tanaman nilam. terhadap jumlah daun tanaman nilam DAFTAR PUSTAKA pada umur 14, 28, 42 dan 56 HST, panjang tunas pada umur 42 dan 56 Abidin, Z. 1990. Dasar-Dasar HST, jumlah akar dan panjang akar Pengetahuan tentang Zat Pengatur pada umur 56 HST. Berpengaruh Tumbuh. Penerbit Angkasa, nyata terhadap panjang tunas pada Bandung. 85 hal. umur 14 dan 28 HST. Berpengaruh Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 49

Anonymous. 2005. Evaluasi Hasil dan Muhammadiyah Malang, Malang. Pemantapan Program Penelitian 191 hlm. Tanaman Rempah dan Obat. Komisi Penelitian Bidang Sudaryani, T, dan E. Sugiharti. 1989. Perkebunan, Pusat Penelitian Budidaya dan Penyulingan Nilam. Tanaman Industri, Bogor. 37 hlm. Penebar Swadaya, Jakarta, 80 hlm.Anonymous. 2013. Petunjuk Pengunaan Suriyadi, A, Purwantoro, A. dan Growtone. Delta Agro, Jakarta Trisnowati, S. 2003. Penggandaan Tunas Abaca melalui KulturAshari, S. 2005. Hortikultura; Meristem. Ilmu Pertanian 10(2): 11–16.AspekBudidaya. UniversitasIndonesia, Jakarta. 283 hlm. Wahyuni, N. 1995. Perbanyakan Tanaman Melon (Cucumis melonHarjadi, S.S. 1991. Pengantar Agronomi L.) melalui Teknik Kultur Jaringan. Pertanian. Gramedia, Jakarta. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian UNEJ, Jember.Heddy, S. 2006. Hormon Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 98 Wattimena, G. A. 1988. Zat Pengatur hlm. Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas. Institut PertanianKusumo, S. 2001. Zat Pengatur Tumbuh. Bogor, Bogor.145 hlm. Yasaguna, Jakarta.Mangun, H. M. S. 2005. Nilam. Penebar Wattimena, G. A., L. W. Gunawan, N. A. Swadaya, Jakarta. 84 hlm. Mattjik, E. Syamsuddin, N. M. A.Mariska. I dan E. G. Lestari. 2003. Pemanfaatan Kultur In Vitro untuk Wieda dan A. Ernawati. 1992. Meningkatkan Keragaman Genetik Tanaman Nilam. Jurnal Penelitian Bioteknologi Tanaman. Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian, Bogor. 9 hlm. Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. DirektoratPurwanti, E. 2008. Pengaruh Dosis Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Pupuk Majemuk dan Konsentrasi EM-4 terhadap Pertumbuhan Bibit Antar Universitas Bioteknologi, Stek Tebu (Saccharum officinarum L.). Skripsi S1. Universitas Sebelas IPB, Bogor. 309 hlm. Maret, Surakarta. Weaver, J.W. 1972. Plant GrowthPutri, D.M.S. dan I.N. Sudianta. 2009. Substances in Agriculture. W.H. Freeman and Co,San Fransisco.585 pp.Aplikasi Penggunaan ZPT pada Widarto, 1996. Budidaya TanamanPerbanyakan Rhododendron Tropika. Penebar Swadaya,javanicum Benn. (Batukau, Bali) Jakarta. 465 hlm.secara Vegetatif (Stek Pucuk). Widiastuti, D. 1998. Media Tumbuh kultur Jaringan. Direktorat JenderalJurnal Biologi. 13(1):17–20. Tanaman dan Holtikutura, Jakarta. 60 hlm.Rochiman, K dan Harjadi.SS. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen Yelnititis, N. Bermawie dan Syafaruddin. Agronomi. Fakultas Pertanian. 1999. Perbanyakan Klon Lada Institut Pertanian Bogor, Bogor. Varietas Panniyur secara In Vitro. Jurnal Littri 5(3): 109 – 114.Santoso, H. B. 1990. Bertanam Nilam Bahan Industri Wewangian. Yusnita. 2004. Kultur Jaringan, Cara Kanisius, Yogyakarta. 92 hlm. Memperbanyak Tanaman secara Efisien. Agromedia Pustaka,Santoso, U dan F. Nursadi. 2003. Kultur Jakarta. 105 hlm. Jaringan Tanaman. Universitas50 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

PENGUJIAN ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG HIBRIDA SPESIFIK LOKASI DI KABUPATEN MAJALENGKATESTING ADAPTATION SOME HYBRID CORN VARIETIES SPECIFIC LOCATIONS IN MAJALENGKA Yati Haryati1*) dan Anna Sinaga1) BPTP Jawa Barat*)Email Korespondensi : [email protected] high yielding varieties of corn that has been released has wide adaptability, but thespecific agro-ecological conditions are still required testing to see the response of plants tothe specific agroecological conditions. Assessment conducted Farming Group SawahDatar, Talaga Kulon Village, Sub District Talaga, District Majalengka the Month fromJune to September, 2014.Implementation of activities involving farmers as implementingactivities. Treatment with implementing the technology components Integrated CropManagement (ICM) and non ICM. Objective assessment to determine the adaptation ofseveral new varieties of hybrid maize in the local area conditions (location specific) byapplying the Integrated Crop Management technology components that can improve theproductivity of maize.Observed data are agronomic data (plant height, number of leaves,stem diameter at the age of 30, 60 and 90 days after planting, flowering time of 50%, thenumber of cobs per plant, ear length (cm), diameter of cob, grain weight per ear (g) , 100grain weight (g), cob weight (g), dry seed weight (t ha-1), weight stover (t ha-1), corn cobweight (t ha-1)), farming and supporting data (characteristics region and precipitationduring the assessment).The performance of agronomic data were analyzed using t-testusing SPSS for Windows 20.0 and the data were analyzed using a corn farm financialanalysis and feasibility analysis of farming (R/C). The study showed that the productivityof hybrid corn varieties Bima-18 by applying the technology component Integrated CropManagement highest maize (9.24 t ha-1) than the Bima-19 (6.17 t ha-1) and the Bima-20(7.05 t ha-1) that is suitable to be developed in the region Majalengka. The results of theanalysis of the implementation of the components of PTT corn farming in hybrid cornvarieties Bima-18 gives the value of R/C of 3.01.Keywords: hybrid corn varieties, corn integrated crop management PENDAHULUAN unggul baru, pemupukan yangoptimum, Permasalahan dalam budidaya dan pengaturan populasi tanam. Faktor-jagungyaitu terdiri darifaktor biotis danabiotis, teknik budidaya yang masih faktor tersebut saling berkaitan sehinggatradisional, menggunakan varietas yangmempunyai potensi hasil rendah, dalam peningkatan produksi jagungpopulasi tanaman rendah, danpenggunaan pupuk yang belum optimal diperlukan pemahaman untuk(Sirappa dan Razak, 2010). Beberapafaktor penting yang perludiperhatikan mengelolanya agar bersinergis sehinggadalam upaya peningkatanproduksi jagungdiantaranya adalah penggunan varietas diperoleh hasil yang tinggi (Pesireron dan Senewe, 2011). Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi PTT jagung yang mempunyai peranan penting dalam peningkatan produksi dan produktivitas jagung. Pengembangan Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 51

jagung hibrida yang berdaya hasil tinggi METODE PENELITIANdan adaptif pada kondisi lingkungan Pengkajian dilaksanakan di Kelompok Tani Sawah Datar, Desatertentu dapat menunjang peningkatan Talaga Kulon, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka pada Juni-produktivitas nasional. September 2014. Pelaksanaan kegiatan melibatkan petani sebagai pelaksanaBalai Penelitian Serealia sebagai kegiatan. Pengujian beberapa varietas terdiri dari Bima-18, Bima-19 dan Bima-salah satu penyedia benih sumber sudah 20 (benih dari Balitserealia). Perlakuan yang digunakan yaitu penerapanmenghasilkan beberapa varietas unggul komponen teknologi PTT dan non PTT. Perlakuan PTT dengan menerapkanbaru jagung dengan keunggulan spesifik. komponen teknologi PTT jagung terdiri dari komponen teknologi dasar danDaya hasil jagung hibrida akan optimal pilihan yaitu: 1) Varietas unggul baru (Bima-18, Bima-19 dan Bima-20 benihapabila didukung pemupukan dilakukan dari Balai Penelitian Tanaman Serealia), benih dicampur dengan fungisida ridomildengan dosis, waktu dan cara yang tepat 2 g per kg benih jagung, 2) Benih bermutu dan berlabel (bersertifikat), 3)(Ningrum et al., 2013). Selanjutnya Populasi 66.000 - 75.000 tanaman per hektar, atau jarak tanam 75 x 40 cmmenurut Taufiket al. (2010), salah satu dengan 2 biji per lubang tanam, 4) Pemupukan berdasarkan kebutuhankarakteristik varietas jagung hibrida tanaman dan status hara tanah, dosis pupuk berdasarkan status hara danmempunyai sifat tanggap terhadap kebutuhan tanaman menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).pemupukan sehingga cocok ditanam di Pada lokasi kegiatan status hara tanah N (sedang), P (sedang), dan K (sedang)lahan subur seperti lahan sawah dengan sehingga dosis pupuk yang digunakan Urea 300 kg ha-1, SP-36 175 kg ha-1 danharapan produktivitasnya tinggi. KCl 75 kg ha-1, pupuk urea dan KCl diaplikasikan dua kali yaitu pada umur 7-Penggunaan pupuk anorganik yang 10 HST dan 28-30 HST, sedangkan pupuk SP-36 diaplikasikan seluruhnyaefektif dan efisien yaitu memberikan pada umur tanaman jagung 7-10 HST, 5) Pemberian pupuk organik (2 t ha-1),dosis pupuk dengan mempertimbangkan diaplikasikan pada saat tanam untuk menutup lubang tanam. Pupuk diberikankondisi pertumbuhan tanaman dan dengan cara ditugal di samping tanaman dengan jarak 10 cm dari tanaman jagung,lingkungan. Pada tanaman jagung, 6) Penyiapan lahan dengan minimum tillage, 7) Pembuatan saluran drainasepemberian pupuk dapat diberikan dengan untuk mengatur keluar masuknya air untuk mengairi tanaman jagung yangjenis pupuk organik dan pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, 8) Pembumbunan, dilakukan pada saatanorganik. Penggunaan pupuk anorganiksecara terus-menerus tanpamenambahkan pupuk organik dapatmenguras bahan organik tanah danmenyebabkan degradasi kesuburan hayatitanah.Beberapa varietas unggul jagungyang telah dilepas memiliki daya adaptasiluas, namun pada kondisi agroekologiyang spesifik masih diperlukan pengujianuntuk melihat respon tanaman padakondisi agroekologi spesifik tersebut.Mejaya et al. (2010), menyatakan bahwavarietas jagung yang dihasilkan melaluiperbaikan populasi perlu diuji padadaerah-daerah pertanaman yangmempunyai agroklimat yang berbedauntuk mengetahui tanggapannya terhadaplingkungan setempat. Oleh karena ituperlu dilakukan pengujian beberapavarietas unggul baru jagung hibrida yangdapat beradaptasi pada kondisi wilayahsetempat (spesifik lokasi) denganmenerapkan komponen teknologi PTTyang mampu meningkatkan produktivitasjagung.52 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

penyiangan kedua umur 25-30 HST usahatani jagung dianalisis menggunakan analisis finansial dan analisis kelayakandengan cara menimbun akar tanaman usahatani (R/C).jagung supaya tidak rebah, 9)Pengendalian gulma secara mekanis(manual) dan dilakukan dua kali yaitu HASIL DAN PEMBAHASANpada umur tanaman 10-15 HST dan 25-30 HST, 10) Pengendalian hama dan Pertumbuhan Tanaman Jagungpenyakit berdasarkan konsep PHT, Penampilan pertumbuhan tanamandilakukan monitoring secara terjadwal, jagung Bima-18 pada umur 30, 60 dan 90dan 11) Panen tepat waktu dan HST pada peubah tinggi tanamanpengeringan segera, yaitu dilakukan pada menunjukkan perbedaan yang nyatasaat masak fisiologis. Perlakuan non antara perlakuan penerapan komponenPTTyaitu 1) Menggunakan Varietas teknologi PTT dengan non PTT. TinggiBima-18, Bima-19 dan Bima-20, 2)Jarak tanaman varietas jagung hibrida Bima-18tanam yang digunakan 75 x 25 cm dengan menerapkan komponen teknologidengan 2 bibit per lubang, 3) Pupuk PTT lebih tinggi dibandingkan non PTT.anorganik sesuai dengan kebiasaan petani Di mana pengamatan tinggi tanamanyaitu dengan dosis Urea 900 kg ha-1danPhonska 600 kg ha-1, pupuk urea merupakan salah satu parameter utamadiaplikasikan tiga kali yaitu pada umur 7- untuk mengetahui tingkat adaptasi suatu10 HST, 20-30 HST dan 40-45 HST dan varietas pada setiap agroekosistem yangpupuk phonska diaplikasikan dua kali berbeda (Pesireron dan Senewe, 2011).yaitu pada umur 7-10 HST dan 28-30 Menurut Soehendi dan SyahriHST. Pupuk organik dengan dosis 4 t ha-1 (2013), bahwa tanaman yang tinggidiaplikasikan dengan cara disebarkan ke mampu menerima intensitaslahan yangdigunakan untuk menanam cahayamatahari secara penuh, sehinggajagung, 4) Penyiangan dilakukan hanya proses fotosintesis dapat berlangsungsatu kali yaitu pada umur 10-15 HST, optimal sehingga meningkatkan suplai5) Pengendalian hama dan penyakit tanpa bahan kering ke daun, batang dan bijidilakukan monitoring secara terjadwal, 6) yang memicu pertumbuhan dan biomasaPanen dilakukan pada saat daun sudah tanaman.Jumlah daun dan diametermengering dan 7) Pasca panen, biji batang tidak menunjukkan perbedaandipipil dengan mengguankan alat yang nyata pada semua varietas yangperontok dan dijemur dengan bantuan diuji antara penerapan PTT dan non PTT.sinar matahari selama 3-5 hari dengan Jumlah daun dipengaruhi oleh genotipekondisi panas terik.Data yang diamati dan lingkungan, jumlah daun yangyaitu data agronomis (tinggi tanaman, banyak diduga dapat memberikanjumlah daun, diameter batang pada umur kontribusi besar terhadap aktivitas30, 60 dan 90 HST, waktu berbunga fotosintesis tanaman karena daun50%, jumlah tongkol per pohon, panjang merupakan organ tanaman yang berfungsitongkol (cm), diameter tongkol, bobot sebagai tempat terjadinya prosesbiji per tongkol (g), bobot 100 butir (g), fotosintesis (Kartahadimaja, 2009).bobot tongkol (g), bobot pipilan kering (t Diameter batang varietas Bima-18,ha-1), berat brangkasan (tha-1), berattongkol jagung (t ha-1), usahatani dan 19 dan 20 dengan menerapkan komponen teknologi non PTT jagung lebih lebardata penunjang (karakteristik wilayah dan dibandingkan PTT. Hal ini didugacurah hujan selama pengkajian). Data dengan dosis pupuk yang tinggi pada penerapan non PTT yaitu Urea 900 kg ha-keragaan agronomi dianalisis 1dan Phonska 600 kg ha-1memacumenggunakan uji t dengan menggunakan pertumbuhan batang jagung. DosisSPSS for Windows 20.0 dan data pupuk urea yang tinggi menyebabkan Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 53

perkembangan diameter batang lebih besar dan lemah, kulit batang lebih tipis,lebar. Hal ini sesuai dengan hasil daun lebih lebar dan hijau sehinggapenelitian Zulaiha et al., (2012), bahwa memperpanjang masa vegetatifkelebihan unsur nitrogen menyebabkan mengakibatkan lambat dalam panen.pertumbuhan tanaman jagung menjadiTabel 1. Pertumbuhan Tanaman Jagung Hibrida pada Penerapan Komponen Teknologi PTT dan Non PTT Jagung di Kelompok Tani Sawah Datar, Desa Talaga Kulon, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka Varietas Jagung HibridaPeubah Bima-18 Bima-19 Bima-20 PTT Non PTT PTT Non PTT PTT Non PTTTinggi Tanaman (cm)30 HST 76,52a 95,78b 71,44a 59,44b 75,15a 66,52a60 HST 230,78a 201,26b 166,22b 174,56a 193,11b 197,07a90 HST 240,44a 222,85b 187,51b 189,40a 211,22a 207,92bJumlah Daun (helai)30 HST 7,52a 7,74a 7,56a 11,26b 7,26a 6,96a60 HST 13,04a 13,93a 12,29a 12,29a 12,67a 12,96a90 HST 14,96a 15,00a 14,33a 14,07a 14,33a 14,48aDiameter Batang (cm)30 HST 9,40b 12,70a 10,18a 8,56b 9,85a 8,63b60 HST 22,07a 23,65a 20,65b 22,83a 18,81b 23,24a90 HST 22,72a 23,52a 21,79b 23,06a 20,44b 23,53aKeterangan : Angka yang sama dalam baris yang sama tidak berbeda nyata pada Uji t-test pada taraf 0.05Umur Berbunga 50% pada non PTT, masa vegetatifnya lebih Penerapan komponen PTT jagung lama yang mengakibatkan keluar bunga jantan dan betina menjadi lebih lambat.pada jagung hibrida, baik bunga jantan Umur berbunga 50% dipengaruhi olehmaupun bunga betina umur berbunga faktor lingkungandan genetik.50% lebih cepat dibandingkan non PTT.Umur berbunga 50% tanaman jagungTabel 2. Umur Berbunga 50% Jagung Hibridapada Kegiatan Penerapan Komponen Teknologi PTT dan Non PTT di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. 2014Varietas Perlakuan 50% berbunga (HST) Jantan BetinaBima-18 PTT 53 60 Non PTT 55 62Bima-19 PTT 57 63 Non PTT 58 63Bima-20 PTT 56 62 Non PTT 59 64Sumber : diolah dari data primer Umur keluar malai dan rambut pengisian biji karena tanaman yangtongkol yang lebih cepat dapat berbunga lebih awal menyebabkan masameningkatkan hasil biji jagung, hal ini pengisian biji juga lebih lama. Hal inididuga berkaitan dengan lamanya periode sejalan dengan Wangiyana et al., (2013),54 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Pemberian pupuk P dan K yang sesuai Umur Panen Jagung Hibridakebutuhan tanaman dapat mempercepat Umur panen varietas jagung hibridaumur keluar malai maupun rambuttongkol. Percepatan umur keluar malai dengan menerapkan komponen teknologidan rambut tongkol dapat meningkatkan PTT jagung lebih cepat, sedangkanhasil biji jagung, hal ini didugaberkaitan dengan menerapkan non PTT umurdengan lamanya periode pengisian panennya lebih lama karena dengan dosisbijikarena tanaman yang berbunga lebih pupuk yang tinggi memacu fase vegetatifawal menyebabkanmasa pengisian biji yang lebih lama sehingga memperlambatlebih lama dan optimal. umur panen.Tabel 3. Umur Panen Jagung Hibrida pada Kegiatan Penerapan Komponen Teknologi PTT dan Non PTT di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. 2014Varietas Perlakuan Talaga Umur Panen (HST) Majalengka 110 Maja 110Bima-18 PTT 116 114 116 Non PTT 102 120 102 114 107 117Bima-19 PTT 110 112 110 Non PTT 115 115 114 120Bima-20 PTT Non PTTSumber : diolah dari data primer Kemampuan suatu varietas untuk lebih tinggi dibandingkan non PTT, halmenghasilkan waktu panen tidak sama, ini diduga dengan menggunakan jarakhal ini tergantung pada sifat genetik, tanam lebar (75 cm x 40 cm dengan 2lingkungan, intensitas cahaya matahari bibit per lubang) diperoleh populasi lebihdan suhu. Suatu tanaman yangditanam sedikit dibanding non PTT (70 x 25 cmpada daerah tertentu mempunyai dengan 2 bibit per lubang) sehinggaumurpanen lebih cepat, apabila ditanam tanaman mampu memanfaatkan faktordidaerah lain tidak selamanyamempunyai lingkungan secara optimal sehinggaumur yang sama, karena lingkungan tanaman dapat memperoleh unsur hara,tumbuhnya juga berbeda (Maruapey, air, sinar matahari yang cukup,2012). danmempunyai ruang gerak yang lebih luas untuk pertumbuhan danKomponen Hasil perkembangan akarnya. Komponen hasil dengan penerapan Di samping itu pemupukanPTT jagung pada varietas jagung hibrida berdasarkan status hara tanah danBima-18 menunjukkan panjang tongkol, menggunakan varietas unggul yangbobot 100 biji, bobot tongkol, bobot berdaya hasil tinggi dapat mendukungpipilan kering lebih tinggi dibanding non pertumbuhan tanaman dan meningkatkanPTT, sedangkan Bima-19, komponen kualitas panen (Haris Kuruseng danhasil yang menunjukkan lebih tinggi dari Askari Kuruseng, 2009).Selanjutnyanon PTT yaitu bobot biji per tongkol, menurut Hartatik dan Setyorini (2008),bobot tongkol dan bobot pipilan kering bahwa pemupukanberimbang dapatdan Bima-20, semua komponen hasil tercapai apabila memperhatikanstatus(jumlah tongkol, panjang tongkol, bobot hara tanah, dinamika hara tanah, danbiji per tongkol, bobot 100 biji, bobot kebutuhan tanaman untuk mencapaitongkol, bobot pipilan kering, jumlah produksi optimum.baris per tongkol dan diameter tongkol) Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 55

Penampilan suatu karakter akan lingkungan sedikit sehinggaoptimal jika tanaman tersebut beradapada lingkungan yang sesuai, sebaliknya penampilannya akan relatif tetap, tetapipenampilan tidak akan optimal jikaberada pada lingkungan yang tidak karakter yangheritabilitasnya rendahsesuai. Penampilan suatu karakter yangheritabilitasnya tinggi memiliki pengaruh memiliki pengaruh lingkungan yang besar sehinggapenampilannya mudah berubah (Soehendi dan Syahri, 2013).Tabel 4. Komponen Hasil Jagung Hibrida Pada Penerapan Komponen Teknologi PTTdan Non PTT di Kelompoktani Sawah Datar, Desa Talaga Kulon, KecamatanTalaga, Kabupaten Majalengka VarietasPeubah Bima-18 Bima-19 Bima-20 PTT Non PTT PTT Non PTT PTT Non PTTJumlah Tongkol (buah) 1,52a 1,44a 1,44a 1,37a 1,82a 1,44bPanjang Tongkol (cm) 19,35a 18,76b 16,61a 16,65a 17,46a 15,76bBobot biji per tongkol (g) 243,70a 228,89a 170,74a 165,93b 189,26a 167,59bBobot 100 biji (g) 32,44a 30,11b 23,89a 22,67a 23,78a 22,07bBobot tongkol (g) 50,18a 47,41b 71,85a 43,52b 51,67a 48,15bBobot pipilan biji kering (g) 196,29a 178,71b 122,41a 98,89b 137,59a 119,44bJumlah baris per tongkol (buah) 13,11a 12,96a 13,07a 13,41a 13,26a 12,89aDiameter tongkol (mm) 49,63a 49,59a 43,85a 43,22a 44,37a 41,26bKeterangan : Angka yang sama dalam baris yang sama tidak berbeda nyata pada Uji t-test padataraf 0.05 Hasil penelitian Suwardi dan Roy menunjukkan produktivitas yang lebih(2009), bahwa pemberian pupuk nitrogen tinggi dibandingkan dengan non PTT.dua kali sudah memberikan hasil lebih Bima-18 menunjukkan produktivitastinggi dengan takaran 100 kg Urea ha-1. paling tinggi dengan menerapkanPemberian hara N yang sesuai kebutuhan komponen PTT jagung dibanding Bima-tanaman baik jumlah dan waktu yang 19 dan Bima-20, hal ini diduga bahwatepat menyebabkan pupuk N yang Varietas Bima-18 lebih responsifdiberikan langsung diserap oleh tanaman terhadap pemupukan N, P dan K dansehingga berpengaruh terhadap proses dapat beradaptasi dengan kondisipengisian biji jagung. lingkungan setempat. Menurut Taufik et al., (2010), Genotipe yang berbeda akanbahwa unsur hara yang diserap akan memberikan tanggapan yang berbedadiakumulasi di daun menjadi protein meskipun di lingkungan yang sama.yang dapat membentuk biji, dengan Penggunaan varietas unggul baru yangterpenuhinya kebutuhan hara tanaman dikombinasikan dengan penggunaanmenyebabkan metabolisme berjalan pupuk yang tepat memberikan kontribusisecara optimal sehingga pembentukan dalam peningkatan produksi jagungprotein, karbohidrat dan pati tidak (Sirrapa dan Nurdin, 2010).Pengisianterhambat, akibatnya akumulasi bahan tongkol jagung dipengaruhi oleh suplaihasil metabolisme pada pembentukan biji hara untuk membentuk asimilat selamaakan meningkat menyebabkan biji yang periode pertumbuhan dan pengisianterbentuk memiliki ukuran dan berat yang tongkol. Dengan persediaan asimilatmaksimal. cukup, pertumbuhan tongkol dan pengisian biji optimal sehingga dapatProduktivitas Jagung Hibrida meningkatkan produktivitas jagung. Penerapan komponen PTT jagungpada jagung hibrida Bima-18, 19 dan 2056 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Tabel 5. Produktivitas Display Beberapa Varietas Jagung Hibrida di Kelompok tani Sawah Datar, Desa Talaga Kulon, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. Varietas Peubah Bima-18 Bima-19 Bima-20Berat basah Brangkasan + jagung (t/ha) PTT Non PTT PTT Non PTT PTT Non PTTBerat basah tongkol + biji (t/ha)Berat biji pipilan kering (t/ha) 27,61a 23,24b 20,00a 18,66b 23,58a 19,91bBerat kering tongkol (t/ha) 14,33a 11,91b 10,14a 8,61b 11,69a 9,94b 9,24a 5,97b 6,17a 5,49a 7,05a 6,14a 2,86a 2,19a 2,08a 1,75a 2,53a 2,05aKeterangan : Angka yang sama dalam baris yang sama tidak berbeda nyata pada Uji t-test pada taraf 0.05 KESIMPULAN Maruapey, A. 2012. Pengaruh Dosis Produktivitas Varietas jagung Pemupukan Kalium Terhadaphibrida Bima-18 dengan menerapkankomponen teknologi PTT jagung paling PertumbuhanDan Produksitinggi (9,24 t ha-1) dibandingkan Bima-19(6,17 t ha-1) dan Bima-20 (7,05 t ha-1), Berbagai Asal Jagung Pulut (Zeasehingga sesuai untuk dikembangkan diwilayah Kabupaten Majalengka. mays ceratina. L). Jurnal DAFTAR PUSTAKA Agroforestri, VII (1) : 33-41.Agustian, A. dan Hartoyo, S. 2012. Mejaya, M.J., M.Azrai, dan R.N. Pendugaan Elastisitas Penawaran Iriany.2010. Pembentukan varietas Output dan Permintaan Input unggul jagung bersari bebas. Usahatani Jagung. Jurnal Ekonomi Dalam Jagung; Teknik Produksi Pembangunan, 13 (2): dan Pengembangannya. Badan 247-259. Litbang Pertanian.Erawati, B.Tri Ratna., Herawati, N., Ningrum, G.A., Hikam, S., dan Timotiwu, Widiastuti, E. 2013. Peran PTT P. B. 2013. Evaluasi Viabilitas Jagung Dalam Peningkatan Benih, Ketahanan dan Pemulihan Produksi Dan Finansial: Kasus Di Tanaman Empat Pedigri Inbred Desa Donggobolo Kecamatan Jagung Yang Disimpan Lebih Dari Woha Kabupaten Bima NTB. Dua Belas Bulan. Jurnal Agrotek Seminar Nasional Serealia: 267- Tropika, 1 (1) : 14-19. 278. Pesireron dan Senewe. 2011. KeragaanHaris Kuruseng dan Askari Kuruseng, M. 10 Varietas/Galur Jagung Komposit 2009. Pertumbuhan Dan Produksi Dan Hibrida Pada Agroekosistem Berbagai Varietas Tanaman Jagung Lahan Kering Di Maluku. Jurnal Pada Dua Dosis Pupuk Urea. Jurnal Budidaya Pertanian, 7 (2): 53-59. Agrisistem, 4 (1): 26-36. Rusastra, I.W., T.A. Napitupulu, A.M.Kartahadimaja, J. 2009. Potensi Hasil Oka, M.F. Kasim, 2006. Tiga Belas Galur Jagung Hibrida Pengembangan Agribisnis Berbasis Silang Tunggal Rakitan Politeknik Palawija di Indonesia: Perannya Negeri Lampung. Jurnal Penelitian dalam Peningkatan Ketahanan Pertanian Terapan, 10 (1): 17-22. Pangan dan Pengentasan Kemiskinan. Prosiding Seminar Nasional Bogor, 13 Juli 2006. Sirrapa, M., P., dan Nurdin, M. 2010. Tanggapan Varietas Jagung Hibrida Dan Komposit Pada Pemberian Pupuk Tunggal N, P, K Dan Pupuk Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 57

Kandang Di Lahan Kering. Jurnal Jagung Hibrida di Lahan Ultisol Agrotropika, 15(2): 49-55. dengan Input Rendah. Akta Agrosia, 13 (1): 70-76.Soehendi, R. dan Syahri. 2013. Potensi Pengembangan Jagung di Sumatera Wangiyana, W.,Ngawit, I.K., Hanan, M. Selatan. Jurnal Lahan Suboptimal, 2013.Peningkatan Hasil Jagung 2 (1): 81-92. Hibrida Var. Bisi-2 Dengan Aplikasi Pupuk Kandang Sapi DanSuwardi dan Roy Efendi. 2009. Efisiensi Peningkatan Frekuensi Pemberian PenggunaanPupuk N pada Jagung Urea Dan Campuran SP-36 Dan KompositMenggunakan Bagan KCl. Jurnal Agroteknologi, 1(2): Warna Daun. BalaiPenelitian 56-75. Tanaman Serelia. 115 hlm. Zulaiha, S., Suprapto, dan Apriyanto, D.Taufik Mohammad, Af Aziez, Tyas Soemarah. 2010. Pengaruh Dosis 2012. Investasi Beberapa Hama dan Cara Penempatan Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan dan Hasil Penting Terhadap Jagung Hibrida Jagung Hibrid (Zea mays. L). Agrineca. 10 (2): 197-207. Pengembangan dari jagung LokalTaufik, M., Suprapto dan Widiyono, H. Bengkulu pada Kondisi Input 2010. Uji Daya Hasil Pendahuluan Rendah di Dataran Tinggi Andisol. Jurnal Penelitian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 1 (1) : 15 - 28.58 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

KAJIAN LIMBAH CANGKANG KERANG SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AMELIORAN DI LAHAN GAMBUT THE STUDY OF SHELL CLAMS AS AN ALTERNATIVE AMELIORANT MATERIAL IN PEATLANDS Mita Setyowati1*), Chairudin1)1Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh 23615 *)Email Korespondensi : [email protected] ABSTRACTPeat soil has a high acidity levels, causing low fertility rate, but can be lowered byamelioration. Ameliorant materials that are widely used today are dolomite and limestonewhich contains calcium carbonate (CaCO3). All material containing Ca compounds can beused as ameliorant material to neutralize the soil acidity that basically adding Ca and lowerAl. Waste shells also have the main ingredients in Ca compounds in the form of calciumcarbonate (CaCO3) at higher levels when compared limestone, egg shells and othermaterials, seen from the level of violence kerang.The aim of this research to assess theutilization of waste shells as an alternative ameliorant material on peatland. Researchconducted at the Faculty of Agriculture, University of Teuku Umar, Meulaboh in June2014 to December 2014. Analysis of the chemical constituents shells held in BaristandIndustry Banda Aceh, parameters observed were peat soil pH before and after being givenameliorant waste shells, Ca compound, Na, P, and Mg and micro nutrients (Fe, Cu, Ni, B,Zn and Si) in 100 grams of waste shells. This study was followed by the application ofwaste shells on spinach crops as an indicator of plant growth and production parameterswere observed. The result of this research shows that the content of Ca as a constituentCaCO3 in mussel shells higher than dolomite. Giving flour shells can raise the pH soils.The giving of 1.9 ton ha-1 shell clams flour showed the growth and yield of spinach werenot significantly different from shell clams flour showed or dolomite flour at a dose of 3.8ton ha-1. Shell clams flour can be used as an alternative material ameliorant replacementdolomite.Keywords: peat, ameliorant, shells PENDAHULUAN menjadi kahat.Tanaman yang kekurangan Ca, Mg dan P pertumbuhan dan hasilnyaKeterbatasan lahan produktif rendah.Hal itu menjadi faktor utama penyebab terhambatnya pertumbuhan danmenjadi salah satu hal yang produksi tanaman (Noor, 2000). Kekurangan Ca akan mengakibatkanmenyebabkan rendahnya produktivitas terhambatnya pertumbuhan sistem perakaran, sedangkan apabila kekurangankomoditas pertanian saat Mg kerja enzim dalam siklus asam sitrat yang penting untuk respirasi terhambatini.Ekstensifikasi budidaya komoditas dan kekurangan P dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan akar danpertanian saat ini telah mengarah pada pertumbuhan generatif (Anonim, 2012). Oleh karena itu diperlukan inputlahan marjinal seperti lahan amelioran untuk memperbaiki kondisi tanah gambut tersebut agar menjadigambut.Kendala yang dijumpai padalahan gambut terutama berkaitan dengansifat fisik dan kimia tanah yangdisebabkan oleh kemasaman tinggi dankejenuhan basa yang rendah.Kondisi pHtanah yang rendahsecara tidak langsungmengakibatkan beberapa unsur hara Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 59

optimal bagi pertumbuhan dan air dapat mengendapkan kandungan logam (Anonim, 2012). Cangkang kerangperkembangan tanaman yang juga mengandung mineral lain selain Cayang bermanfaat bagi tanaman, yaitudibudidayakan. Na, P, Mgsebagai hara makro dan Fe, Cu, Ni, B, Zn dan Si sebagai hara mikro.Bahan amelioran yang telah Kalsium karbonat (CaCO3) yangbanyak digunakan adalah Dolomit. Kapur terkandung dalam cangkang kerang dapat berfungsi sebagai pupuk alternatifDolomit mengandung 45,6% MgCO3 penetralisir keasaman tanah pada tanah gambut.(Junaidi, 2013). Pupuk Dolomit adalah Dengan demikian selain dapatpupuk tunggal yang mengandung unsur memberi nilai tambah terhadap limbah kulit kerang tersebut sebagai bahanhara Magnesium (Mg) dan unsur amelioran, optimalisasi pemanfaatan limbah kulit kerang ini diharapkan jugakalsium berbentuk tepung (Ca), dengan dapat mengurangi limbah yang mencemari lingkungan.rumus kimia CaMg (CO3)2. DimanaMagnesium sangat dibutuhkan olehtanaman sebagai penyusun Klorofil danberperan dalam respirasi tanaman,maupun pengaktifan enzim.KekuranganMagnesium (Mg) pada umumnya dapatmenyebabkan daun tua berwarna hijaukekuningan pada sisi yang terkena sinarmatahari, kuning kecoklatan lalu kering.Pemberian dolomit dapat menambah METODE PENELITIANketersediaan Ca dan Mg dalam tanah,dengan meningkatnya Ca dan Mg Rancangan penelitian yangmemacu turgol sel dan pembentukan digunakan pada uji lapangan adalahkhlorofil sehingga proses fotosintesis Rancangan Acak Kelompok (RAK) polamenjadi lebih meningkat, produk dari Non Faktorial dengan satu faktorfotosintesis juga meningkat, hasil dan perlakuan yaitu faktor pemberian tepungproses fotosintesis ini sebagian cangkang kerang (A), yang terdiri dari 3digunakan oleh bakteri bintil akar untuk taraf yaitu A1(kontrol dengan pemberian dolomit 3,8 ton ha-1), A2 (pemberianpertumbuhannya, sehingga pemberian tepung cangkang kerang 3,8 ton ha-1)dolomit semakin banyak jugameningkatkan pembentukan jumlah bintil danA3 (pemberian tepung cangkang kerang 1,9ton ha-1). Setiap perlakuanakar. Dosis pengapuran bergantungkisaran angka pH-nya, umumnya antara terdiri dari 3 ulangan.Data yang diperoleh1-2 ton kapur per hektar (Anonim, 2012). dianalisis sidik ragam.Apabila hasilSelain Dolomit, beberapa mineral analisis tersebut memperlihatkan hasilatau bahan yang mengandung senyawa berbeda nyata, dilanjutkan dengan BNTCa dapat digunakan sebagai amelioran pada taraf 5%.untuk menetralkan pH tanah gambut, Penelitian dilaksanakan dalam 2salah satunya adalah cangkang tahap, yaitu uji laboratorium dan ujikerang.Cangkang kerang mengandung lapangan. Masing-masing tahap terdirikalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar dari beberapa tahapan kegiatan sebagaiyang lebih tinggi bila dibandingkan berikut:dengan batu gamping, cangkang telur, Tahap I. Uji Laboratoriumkeramik, atau bahan lainnya. Hal ini Bahan limbah cangkang kerangterlihat dari tingkat kekerasan cangkang yang akan diuji kandungan senyawakerang.Semakin keras cangkang, maka kimianya di laboratorium harus melaluisemakin tinggi kandungan kalsium proses penghancuran hingga menjadikarbonat (CaCO3) nya.Maka jika bentuk tepung. Selanjutnya, dianalisisdireaksikan dengan asam kuat seperti kandungan unsur Calsium(Ca),HCl dan ion logam yang terlarut dalam Natrium(Na),Phospor (P),Magnesium60 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

(Mg),Tembaga (Cu),Nikel (Ni),Seng Pengamatan pengaruh tepung(Zn),Selenium (Si),Boron (B) danBesi cangkang kerang terhadap pertumbuahn(Fe). tanaman indikator dengan parameterTahap II. Uji Lapangan tinggi tanaman (cm), diameter batang (mm), jumlah daun dan bobot basah Pengukuran kemasaman tanah (gram).sebelum aplikasi amelioran cangkangkerang. Sampel tanah diambil secara acak HASIL DAN PEMBAHASANkomposit dan ditera menggunakan pHmeter. Aplikasi tepung cangkang kerang Kandungan Senyawa Kimia Cangkangpada lahan gambut sesuai perlakuan (3,8 Kerangdan 1,9 ton ha-1) dan dolomit sebagaikontrol (3,8 ton ha-1), selanjutnya tanah Kandungan senyawa kimia padadibiarkan selama 2 minggu. Pengukuran cangkang kerang berdasarkan hasilpH tanah setelah aplikasi amelioran analisis di Baristand Industri Bandamenggunakan pH meter. Penanaman Aceh (13 Oktober 2014) disajikan padatanaman indikator. Sebagai tanaman Tabel 1.indikator digunakan tanaman bayam.Tabel 1. Kandungan senyawa kimia cangkang kerangNo Parameter Uji Satuan Metode Uji Hasil AAS 53.051 Calsium, (Ca) % AAS 0.08 0.052 Natrium, (Na) % Spektrofotometri 0.05 AAS 16.363 Phospor, (P) % AAS <0.0001* AAS 15.764 Magnesium, (Mg) % AAS 0.1 <0.0001*5 Tembaga, (Cu) ppm Gravimetri 0.02 AAS6 Nikel, (Ni) ppm AAS7 Seng, (Zn) ppm8 Selenium, (Si) %9 Boron, (B) ppm10 Besi, (Fe) % Berdasarkan hasil analisis di atas, tepung cangkang kerang dapattepung cangkang kerang memiliki meningkatkan pH tanah gambut padakandungan Ca (53,05%) lebih tinggi lokasi percobaan menjadi netral, sehinggadibandingkan pada dolomit (45,6%). menjadi lebih sesuai untukKandungan Ca sebagai penyusun CaCO3 budidayatanaman sayuran seperti bayampada tepung cangkang kerang tersebut yang secara umum menghendaki pH tanah yang netral.Tingkat Kemasaman Tanah(pH)Sebelum dan SetelahAmeliorasi Pengaruh Tepung Cangkang Kerang terhadap Pertumbuhan Tanaman Hasil pengukuran pH tanah Bayamsebelum pemberian tepung cangkangkerang dengan menggunakan alat pH Hasil analisis sidik ragammeter menunjukkan pH tanah sebesar5,2. (Lampiran 2, 3, 4 dan 5) menunjukkanTanah dengan pH 5,2 mengindikasikan bahwa tinggi tanaman, diameter batang,bahwa tanah tersebut tergolong tanah jumlah daun dan bobot basah tanamanmasam. bayam pada pemberian amelioran 1,9 ton ha-1cangkang kerangtidak berbeda nyata Setelah aplikasi amelioran tepung dibandingkan dengan pemberian 3,8 toncangkang kerang di tanah gambut, hasil ha-1cangkang kerang dan pemberian 3,8pengukuran menunjukkan pH 6-6,8. Hal ton ha-1dolomit.itu menunjukkan bahwa pemberian Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 61

Tabel 2. Pengaruh Pemberian Tepung Cangkang Kerang Terhadap Tinggi Tanaman BayamUmur 7, 14 dan 21 HSTPerlakuan 7 HST Tinggi Tanaman (cm) 21 HST(ton ha-1) 14 HSTDolomit 3,8 (A1) 15,19 36,67 61,11Cangkang kerang 3,8 (A2) 20,38 47,22 68,00Cangkang kerang 1,9 (A3) 16,44 38,89 66,61 Berdasarkan data tinggi tanaman kerang dan dolomit pada dua kali dosis tersebut. Oleh sebab itu, pemberianpada Tabel 2 menunjukkan bahwa tinggi amelioran tepung cangkang kerang dapat menjadi alternatif pengganti dolomit dantanaman bayam umur 7, 14 dan 21 HST lebih efisien karena dengan dosispada pemberian 1,9 ton ha-1 tepung separuhnya sudah dapat menghasilkan pertumbuhan yang sama.Hal yang samacangkang kerang lebih rendah juga ditunjukkan oleh data diameter batang (Tabel 3), jumlah daun(Tabel 4)dibandingkan perlakuan lainnya, tetapi dan bobot basah (Tabel 5) tanaman bayam.tidak berbeda nyata secara analisis sidikragam. Hal itu menunjukkan bahwapemberian amelioran tepung cangkangkerang pada dosis 1,9 ton ha-1menghasilkan tinggi tanaman yang samadengan perlakuan tepung cangkangTabel 3. Pengaruh Pemberian Tepung Cangkang Kerang TerhadapDiameter BatangTanaman Bayam Umur 7, 14 dan 21 HSTPerlakuan 7 HST Diameter Batang (mm) 21 HST(ton ha-1) 14 HSTdolomit 3,8 (A1) 1,26 3,13 5,29cangkang kerang 3,8 (A2) 1,79 3,92 6,00cangkang kerang 1,9 (A3) 1,53 3,11 5,71Tabel 4. Pengaruh Pemberian Tepung Cangkang Kerang TerhadapJumlah DaunTanaman Bayam Umur 14 dan 21 HSTPerlakuan Jumlah Daun ton ha-1 14 HST 21 HSTdolomit 3,8 (A1) 5,37 8,33cangkang kerang 3,8 (A2) 7,48 9,04cangkang kerang 1,9 (A3) 4,44 6,15Tabel 5. Pengaruh Pemberian Tepung Cangkang Kerang TerhadapBobot Basah Tanaman Bayam Umur 21 HST Bobot Basah (gram) Perlakuan 50,78 ton ha-1 75,11 61,11 dolomit 3,8 (A1) cangkang kerang 3,8 (A2) cangkang kerang 1,9 (A3) Pengaruh yang tidak nyata dari tanaman bayam yaitu 5,2 sedangkan pHperlakuan yang diberikan terhadap ideal untuk tanaman bayam berkisarpertumbuhan tanaman bayam pada tanah antara 5,5 - 6,8.Hasil dari pengukuran pHGambut disebabkan oleh faktor lain yang tanah setelah diinkubasi, diketahui bahwamempengaruhinya, seperti keadaan tanah pemberian tepung cangkang kerangyang digunakan sebagai media tumbuh. dengan berbagai dosis dapat menaikkanKeadaan yang dimaksud adalah pH tanah pH tanah gambut. Menurut Kamprathyang sebelum diberi perlakuan sudah (1971), bahwa pH tanah berhubunganmendekati pH yang diingikan oleh erat dengan kejenuhan basa. Jika62 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

kejenuhan basa kurang dari 100% maka program Penelitian Kompetensi Inovasidengan meningkatnya pH tanah tersebut dan Pengembangan Teknologidapat meningkatkan jumlah Ca dan Mg Pemerintah Aceh Tahun 2014.dalam tanah, sebab Ca dan Mgmerupakan basa-basa yang dapat ditukar DAFTAR PUSTAKAsecara dominan. Pemberian tepungcangkang kerang dapat meningkatkan pH Anonymous. 1996. Tomat:tanah, hal ini terbukti dari dari hasilpenelitian yang menunjukkan bahwa Pembudidayaan Secara Komersil.pemberian tepung cangkang kerangdengan dosis 1,9ton ha-1 menunjukkan Penebar Swadaya. Jakarta. 123 hlm.hasil yang sama terhadap semua variabelyang diamati pada tanaman bayam Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspekdibandingkan dengan pemberian tepungcangkang kerang dan dolomite pada dosis Budidaya. UI-Press. Jakarta. 484 hal3,8ton ha-1. Hal ini diduga karena tepungcangkang kerang yang diberikan selain Budiyanto, G. 2000. Potensi Produksimengandung unsur Ca dan Mg juga Budidaya Cabai Merah Padamengandung unsur lain seperti seng dan Berbagai Tingkat Pemupukan NPKbesi yang tersedia dalam tanah untuk di Lahan Pantai Buget Kulon Progotanaman setelah pH tanah meningkat DIY.Agr.UMY.Vol V/1.6 halmenjadi tidak masam, sehingga dapatmempengaruhi pertumbuhan tanaman Jailani, M. 1986. Pedoman Tehnisbayam. Budidaya Cokelat. Akademi Pertanian Iskandar Muda. Banda Aceh. 96 Halaman.KESIMPULAN Kusandriani, Y. 1996. Botani Tanaman Cabai dan Tekanan Produksi Cabai1. Kandungan Ca sebagai penyusun Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. BPPP hal : 25CaCO3 pada cangkang kerang lebih Kusumo. 1984. Usaha Budidaya, Pemamfaatan Hasil dan Aspektinggi dibandingkan dolomit. Pemasaran. Penebar Swadaya. Jakarta. 217 Halaman.2. Pemberian tepung cangkang kerangdapat meningkatkan pH tanah gambut. ha-1tepung Lingga, P dan Marsono. 2004. Petunjuk3. Pemberian 1,9 ton Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta. 150 Halaman.cangkang kerangmeunjukkanpertumbuhan tanaman bayam Lingga, P dan Marsono. 2005. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebaryangtidak berbeda nyata dengan Swadaya. Jakarta. 150 hal.pemberian tepung cangkang kerangmaupun dolomit pada dosis 3,8 ton Marsono dan Paulus, S. 2001. Pupukha-1. Akar Jenis dan Aplikasinya. Penebar Swadaya. Jakarta. 96 hlm.4. Tepung cangkang kerang dapatdijadikan alternatif bahan amelioranpengganti dolomit. Rinsenma, W.T. 1986. Pupuk dan Cara Pemupukan ( Terjemahan H.UCAPAN TERIMA KASIH M.Saleh ). Bharata Karya Aksara, Jakarta. 235 hal. Atas terlaksananya penelitian ini,Peneliti mengucapkan terimakasih Santika, A. 2004.Agribisnis Cabai.kepada LPSDM Aceh yang telah Penebar Swadaya. Jakarta. 183 hal.memberikan bantuan dana melalui Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 63

Sarief, E, S. 1986. Kesuburan dan Sutarta, E.S., Winarna, dan Pemupukan Tanah Pertanian. Darmosarkoro, W. 2003. Efektivitas Pustaka Buana. Bandung. 150 hlm. Aplikasi Pupuk Majemuk Lambat Tersedia Pada Pembibitan. Medan.Setiadi. 2006. Bertanam Cabai. Penebar 156 Hal. Swadaya. 183 hal.64 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

PENGARUH JENIS MULSA DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe) THE EFFECT OF MULCH AND DOSE OF NPK FERTILIZERTOWARDS GROWTH AND PRODUCTION OF RED GINGER (Zinggiber officinale) Muhammad Jalil1*), Irvan Subandar1), Nurkiswa2)1Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh 23615 2Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar *)Email Korespondensi : [email protected] ABSTRACTThis research aims to know the effect of mulch and NPK dose towards growth andproduction of red ginger and the interaction of both factors. This research usedRandomized Block Design (RBD) with three replications, the first factor is kinds of mulchthat consist of three levels: without mulch, straw mulch, and spadix palm mulch. Thesecond factor is dose of NPK fertilizer that consist of three levels: 75, 100 and 125kg/Ha.This research was conducted at experimental farm, Faculty of Agriculture Teuku UmarUniversity, Meulaboh West Aceh, from 4 February until June 2013. The research showedthat kind of mulch influenced significantly on plant height, aged 90 and 120 after planting.The number of tillers/plant aged of 30 after planting, significant effect on plant height,aged 60 after planting, heavy of rhizomes and production per hectare, but the effect wasnot significant on high plant, aged 30 after planting and the number of tillers aged 60, 90and 120 after planting. The best Growth and production of red ginger found in spadix palmmulching and straw mulching. Dose of NPK fertilizer significantly affected the rhizomeweight per clump and production per hectare, but was not significant on high plant, numberof tillers/plant aged 30, 60, 90 and 120 after planting. The best production of ginger foundin NPK dose of 125 kg/Ha. There was no significant interaction between mulch and NPKtreatment against any observed variables.Keywords: red gingger, mulch, npk PENDAHULUAN tangga yang digunakan untuk penyedap masakan dan lain-lain (Rostiana et al., Jahe merah (Zingiber officinale 2005).Rosc) merupakan salah satu komoditasekspor rempah-rempah Indonesia yang Jahe segar di Indonesia diekspormemberikan peranan cukup berarti dalam ke berbagai negara antara lain Amerikapenerimaan devisa negara. Jahe banyak Sarikat, Jepang, Hongkong, Singapuradigunakan sebagai bahan obat-obatan, dan Pakistan. Tanaman jahe telah lamaminuman, makanan dan juga sebagai dibudidayakan sebagai komoditi ekspor,rempah-rempah. Tanaman jahe berasal namun pengembangan jahe skala luasdari Asia Tropik yang tersebar dari India belum didukung dengan sistem budidayasampai Cina. Jahe merupakan salah satu yang optimum dan berkesinambungantanaman sumber bahan baku industri sehingga produktivitas dan mutunyajamu tradisional dan industri rumah rendah. Luas areal pertanaman jahe di Indonesia pada tahun 2006 mencapai Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 65

177.138 ton dan produktivitas rata-rata Haris (2000) menyatakan bahwa1,77 ton ha-1 dengan area panen berkisar pemberian mulsa dimaksudkan untuk89.041.808 ha. Pada tahun 2007 memperkecil kompetisi tanaman denganproduktivitas tanaman jahe meningkat gulma, menekan pertumbuhan gulma,mencapai 178.503 ton dan produktivitas mengurangi penguapan, mencegah erosi,rata-rata 2,66 ton ha-1 dengan luas area serta mempertahankan struktur, suhu danpanen berkisar 99.652.007 ha. Pada tahun kelembaban tanah. Bahan-bahan yangselanjutnya Indonesia mengalami dapat digunakan sebagai mulsa antarapenurunan nilai ekspor jahe berkisar lain serbuk gergaji, jerami, rumput alang-163.967.426 kg yang menempatkan alang serta janjang kelapa sawitIndonesia pada urutan ke-14 pengekspor (Adisarwanto dan Wudianto,1999 dalamjahe sedunia (Anonymous, 2009). Mariano, 2003) Dalam beberapa tahun terakhir, Mulsa pada umumnya disebarpermintaan jahe cenderung terus secara merata di permukaan tanah. Tetapimeningkat. Indonesia memiliki peluang mulsa vertikal adalah mulsa sisa tanamanyang cukup besar untuk dikembangkan, yang di tanamkan ke dalam tanah untukkarena selain iklim, kondisi tanah dan mengisi retak-retak dan rengkah padaletak geografis yang cocok bagi penampang tanah. Mulsa vertikal cocokpembudidayaannya. Oleh karena itu, untuk tanah yang sering mengalamikomoditas jahe layak dijadikan salah satu kering dimusim kemarau, seperti tanahkomoditas ungulan (Rukmana, 2000). vertisols (Grumosol) yang banyak dijumpai pada daerah beriklim kering Melihat prospek pasar komoditas (Ruijter dan Agus, 2004).jahe maka perlu dilakukan usahapengembangan dan peningkatan Mulsa jerami padi dan janjangproduksinya. Salah satu usaha yang dapat sawit akan menjaga kelembaban tanahdilakukan untuk meningkatan produksi dan memungkinkan penyerapan air untukkomoditas ini adalah dengan cara memasuki tanah lebih cepat, dapatintensifikasi lahan. Peningkatan menghambat pertumbuhan gulma. Mulsaproduktivitas tanaman jahe secara jerami padi dan janjang sawit cenderungintensifikasi sangat memungkinkan untuk untuk menekan gulma karena terjadinyadilakukan, salah satu cara intensifikasi proses pelapukan atau terdekomposisiadalah dengan penggunaan mulsa dan oleh mikroorganisme. Mulsa jerami danpemupukan yang berimbang. dan janjang sawit bekerja seperti jarum pinus karena perlahan-lahan mereka Penggunaan mulsa pada budidaya terurai dan menjaga nutrisi dalamkomoditas ini sangat diperlukan antara permukaan tanah (Anonymous, 2001).untuk menghindari percikan hujansehingga dapat menghindari tanah dari Dari aspek pengendalian erosi,erosi (Kalie, 2004). Menurut peran langsung bahan mulsa adalahPurwowidodo (1983), mulsa dapat melindungi permukaan tanah dari terpaanberperan positif terhadap tanah dan butir-butir hujan, mempertahankantanaman yaitu melindungi agregat- kelembaban tanah, mencegah tumbuhnyaagregat tanah dari daya rusak butir hujan, tanaman pengganggu, sedangkanmeningkatkan penyerapan air oleh tanah, perannya yang tidak langsung adalahmengurangi volume dan kecepatan aliran memperbaiki struktur tanah. Penggunaanpermukaan, memelihara temperatur dan mulsa umumnya dilakukan di daerah-kelembaban tanah, memelihara daerah yang sering mengalamikandungan bahan organik tanah dan kekeringan dan rentan terhadapmengendalikan pertumbuhan gulma pertumbuhan gulma. Pemilihan bahan-sehingga dapat meningkatkan produksi bahan yang digunakan sebagai mulsatanaman baik kualitas maupun kuantitas.66 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

tergantung ketersediaan bahan ditempat kimia yang mengandung senyawa hara makro dan mikro yang digunakan untuktersebut (Fithriadi et al., 1997). memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Anonymous, 2011).Penggunaan mulsa secara umum Pemupukan anorganik dengandapat menekan kehilangan air dari dalam maksud untuk menggantikan kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuantanah karena mengurangi evaporasi. Hasil untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor lingkungan yangpenelitian Suganda et al. (1993) baik dengan memperhitungkan generasi mendatang, maka pemupukan anorganikmemperlihatkan bahwa penggunaan harus berimbang sehingga dapatmulsa jerami padi 6 ton ha-1 dapat meningkatkan produksi tanaman. Dosis anjuran pupuk NPK untuk tanaman jahemenekan jumlah penggunaan air hujan adalah 100-125 kg (Anonymous, 2009).maupuan air irigasi sehingga menjadi Dari permasalahan yang telah diuraikan di atas maka perlu dilakukanlebih hemat dengan efisiensi penggunaan penelitian untuk mengetahui jenis mulsa dan dosis pupuk NPK yang tepat agarair terhadap produksi biji lebih dari 6.13 diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman jahe merah yang optimum.kg/ha/mm air. Hal ini sejalan dengan Penelitian ini bertujuan untukpenelitian Kemper et al. (1994) bahwa mengetahui pengaruh jenis mulsa dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhanpenggunaan mulsa janjang sawit dengan dan produksi tanaman jahe merah serta nyata tidaknya interaksi kedua faktorketebalan 5 cm dapat meningkatkan tersebut.jumlah air di dalam tanah sekitar 80 BAHAN DAN METODE PENELITIANsampai 85 % dari curah hujan tahunan. Waktu Dan Tempat PenelitianSelain penggunaan mulsa Penelitian ini dilakukan di Kebunpeningkatan produktivitas tanaman dapat Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar Meulaboh Aceh Barat.dilakukan pemupukan sebagai sumber Mulai dari tanggal 4 Februari sampai dengan 20 Juni 2013.hara. Ketersediaan unsur hara bagi Bahan Dan Alattanaman selama pertumbuhan sangat Bahan yang digunakan dalamdiperlukan, karena ketersediaan unsur penelitian ini adalah sebagai berikut : Benih/rimpang jahe merah, pupukhara merupakan syarat utama dalam organik kotoran sapi, pupuk NPK Mutiara (16: 16: 16), kapur dolomit,meningkatkan produksi tanaman. jerami padi, janjang sawit, dan pestisida. Sedangkan alat yang digunakan adalahPenambahan unsur hara ini akan cangkul, garu, parang, hand spayer, meteran, gembor, ember, timbangan,memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah pamplet nama, tali, dan alat tulis menulis.yang menunjang pertumbuhan tanaman.Kekurangan unsur nitrogenmengakibatkan daun berwrna hijau pucatdan terjadi pengeringan dari bawah keatas, kekurangan unsur fosformenyebabkan warna hijau tua pada tepidaun, cabang serta batangnya mengering,sedangkan kekurangan unsur kaliummenyebabkan daun mengeriting tidakmerata dan timbul bercak merah coklat(Lingga dan Marsono, 2001). PupukNPK adalah salah satu jenis pupukmajemuk yang mudah ditemukan dansudah umum dipakai petani. Dikatakanpupuk majemuk karena dalam satu paketatau bentuk pupuk terdapat langsung tigaunsur hara (N, P, K), pupuk inimempunyai sifat higrokospis tinggimudah diserap oleh tanaman, dan praktispenggunaannya. Pupuk NPK merupakanrekayasa formula pupuk yangmenghasilkan formula pupuk secara Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 67

Rancangan Percobaan yang disiapkan dilakukan pemilahan atau Penelitian ini menggunakan pemilihan rimpang yang baik untuk digunakan sebagai benih. UkuranRancangan Acak Kelompok (RAK) pola rimpang yang digunakan dalam penelitianfaktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor adalah 3 cm atau dengan 4 mata tunas.yang diteliti adalah faktor jenis mulsa Benih disemai terlebih dahulu selamayang terdiri dari tiga taraf, yaitu: tanpa 2 bulan atau mata tunas sudah mencapaimulsa, mulsa jerami dan janjang sawit. 3-5 cm.Faktor dosis pupuk NPK yang terdiri dari Pemupukan NPKtiga taraf, yaitu: 75, 100 dan 125 kg ha-1. Pemupukan dilakukan sehariPelaksanaan Penelitian sebelum tanam. Pupuk yang digunakanPengolahan Tanah sebagai perlakuan adalah pupuk NPK diberikan satu kali dengan dosis sesuai Pengolahan tanah dilakukan dengan perlakuan yang dicobakan yaitudengan menggunakan cangkul, tanah 75 kg ha-1 (22,5 g plot-1), 100 kg ha-1yang diolah hanya bagian atas (Top Soil) (30,0 g plot-1) dan 125 kg ha-1 (37,5 gdengan kedalaman ± 20 cm. Pembuatan plot-1).plot dilakukan setelah pengolahan tanah Penanamankedua dengan luas plot berukuran 200cm x 150 cm. Penanaman dilakukan dengan 1 rimpang per lubang tanam, dengan jarakPengapuran tanam 30 cm x 50 cm, dengan kedalaman Pengapuran dilakukan dengan 5 cm. Penanaman dilakukan pada sore hari dengan 20 tanaman per unitmemberikan kapur dolomit yang perlakuan.bertujuan menetralisir pH tanah,pemberian kapur dolomit dilakukan 2 Pemeliharaanminggu sebelum tanam dengan cara Penyiramanmenabur kapur dolomit diatas permukaantanah dengan dosis 2,5 ton ha-1 atau Penyiraman dilakukan setiap harisetara 750 g plot-1. pada saat pagi dan sore hari, tergantung juga pada kondisi lingkungan setempat.Aplikasian Pupuk Dasar Jahe merah menghendaki kondisi tanah Pupuk dasar yang digunakan dalam yang lembab tetapi tidak becek. Penyulamanpenelitian ini adalah pupuk kandang sapiyang sudah terdekomposisi sempurna Penyulaman dilakukan apabilayang diberikan dengan cara ditebarkan terdapat tanaman dalam keadaan tidaksecara merata di atas permukaan plot dan tumbuh atau mati. Penyulaman inidiaduk secara merata. Pupuk dasar dilakukan saat tanaman berumur 10 haridiberikan 2 minggu sebelum tanam setelah tanam.dengan dosis 4 kg plot-1. Penyiangan dan PembumbunanPemberian Mulsa Penyiangan ke-1 pada tanaman Pemberian mulsa dilakukan jahe merah dilakukan pada umur 3 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2setelah pemberian pupuk dasar, mulsa dilakukan pada saat tanaman berumuryang diberikan adalah mulsa organik sekitar 7 minggu setelah tanam.berupa jerami padi dan janjang sawit. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaanPemberian mulsa dilakukan sesuai dengan pembubunan. Pembumbunanperlakuan yang dicobakan dengan dilakukan dengan cara mengikis gulmaketebalan 5 cm. yang tumbuh menggunakan tangan atauPerlakuan Benih kuret secara hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran Benih atau rimpang yang tanaman.digunakan dalam penelitian ini adalahbenih jahe merah varietas lokal. Benih68 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Pengendalian Hama dan Penyakit HASIL DAN PEMBAHASAN Pengendalian penyakit Pengaruh Jenis Mulsa Tinggi Tanamandikendalikan dengan penyemprotan Hasil uji F pada analisis ragaminsektisida yang berupa Antracol. menunjukkan bahwa jenis mulsa berpengaruh nyata terhadap tinggiPenyemprotan insektisida dilakukan pada tanaman umur 60 HST dan berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanamanwaktu yang berbeda-beda tergantung pola umur 90 dan 120 HST. Namun berpengaruh tidak nyata terhadap tinggipenyerangannya. tanaman umur 30 HST. Rata-rata tinggi tanaman jahe merah pada berbagai jenisPemanenan mulsa umur 30, 60, 90 dan 120 HST Pemanenan harus dilakukan setelah diuji dengan BNJ0,05 dapat dilihat pada Tabel 2.dengan hati-hati, rimpang digali dengancangkul tidak boleh terluka karena akanmerusak kualitasnya. Pemanenandilakukan pada umur 120 HST.Pengamatan Peubah yang diamati adalahtinggi tanaman dan jumlah anakan perrumpun umur 30, 60, 90 dan 120 HST,berat rimpang per rumpun dan produksiper hektar.Tabel 2. Rata-rata Tinggi Tanaman Jahe Merah pada Berbagai Jenis Mulsa Umur 30, 60, 90 dan 120 HST Jenis Mulsa Tinggi Tanaman (cm) 30 HST 60 HST 90 HST 120 HSTM0 Tanpa Mulsa 26,91 32,80 a 41,31 a 48,26 aM1 Jerami Padi 26,94 38,63 ab 53,22 b 65,30 bM2 Janjang Sawit 28,05 41,32 b 60,31 b 75,64 b BNJ 0,05 - 6,62 11,58 13,09Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% (uji BNJ) Hasil penelitian menunjukkan Sarief (1986) dalam Mulyanabahwa pemberian mulsa janjang sawit (2000) menambahkan bahwa mulsa dapatdan jerami padi menghasilkan tinggi menjaga kelembaban tanah, mendorongtanaman jahe merah umur 60, 90 dan 120 kehidupan jasad renik, menaikkan dayaHST yang berbeda nyata dengan menahan air, sehingga air tanahperlakuan tanpa mulsa. Hal ini mengandung bahan-bahan mudah larutdisebabkan karena mulsa ini dapat akan mudah diserap oleh bulu akar.mempertahankan kelembaban serta Mulsa juga berperan dalam mempertinggikesuburan tanah sebagai akibat dari humus, dimana humus dapat menjagapenggunaan mulsa yang dapat menekan atau mempertahankan struktur tanah,laju evaporasi sehingga kandungan air sehingga mudah diolah dan berisi banyaktanah cukup bagi pertumbuhan tanaman. oksigen.Umboh (2002) menyatakan bahwapenggunaan mulsa yang tepat dapat Jumlah Anakan per Rumpunmengurangi penguapan dalam kurun Hasil uji F pada analisis ragamwaktu yang lama dan dapat menambahbahan organik tanah sehingga dapat menunjukkan bahwa jenis mulsameningkatkan kemampuan tanah berpengaruh sangat nyata terhadapmenahan air. jumlah anakan per rumpun umur 30 HST Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 69

namun berpengaruh tidak nyata terhadap berbagai jenis mulsa umur 30, 60, 90 danjumlah anakan per rumpun umur 60, 90 120 HST setelah diuji dengan BNJ0,05dan 120 HST. Rata-rata jumlah anakan dapat dilihat pada Tabel 3.per rumpun tanaman jahe merah padaTabel 3. Rata-rata Jumlah Anakan Per Rumpun Tanaman Jahe Merah pada Berbagai Jenis Mulsa Umur 30, 60, 90 dan 120 HST Jenis Mulsa Jumlah Anakan per Rumpun (anakan) 30 HST 60 HST 90 HST 120 HSTM0 Tanpa Mulsa 1,52 a 4,81 8,26 14,04M1 Jerami Padi 2,52 b 5,67 11,30 19,13M2 Janjang Sawit 2,48 b 5,28 10,09 17,31 BNJ0,05 0,57 - - -Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% (uji BNJ) Hasil penelitian menunjukkan Kandungan N, P, dan K pada mulsajumlah anakan per rumpun tanaman jahe jerami lebih tinggi dibanding mulsamerah terbanyak umur 30 HST dijumpai sekam. Selain sebagai mulsa, jerami danpada jerami padi dan janjang sawit. sekam juga dapat digunakan sebagaiMeningkatnya jumlah anakan per rumpun penambah bahan organik. Kandungantanaman jahe merah pada perlakuan unsur hara jerami yang lebih tinggi, sertajerami padi dan janjang sawit karena kemampuan menyerap dan menyimpanmulsa ini mampu mengendalikan iklim air yang lebih lama menyebabkanmikro terutama temperatur dan pertumbuhan dan perkembangan tanamankelembaban tanah. Mulsa jerami bersifat lebih optimal dibanding mulsa lainnya.sarang dan dapat mempertahankan Hal ini akan memudahkan perakarantemperatur dan kelembaban tanah, tanaman jahe dalam menyerap haramemperkecil penguapan air tanah tersebut karena jahe secara ekologisehingga sehingga kondisi ini dapat tergolong surface feeder. Winarna et al.merangsang pertumbuhan tunas tanaman (2003) menyatakan bahwa aplikasijahe. Hal ini sesuai dengan pendapat janjang sawit sebagai mulsa secaraSudiarto dan Gusmaini (2004) yang umum akan meningkatkan kadar N, P, K,menyatakan bahwa akumulasi panas Ca, Mg, C-organik dan KTK tanah.sebagai efek dekomposisi segera akandapat ditranslokasikan ke udara, sehingga Berat Rimpang per Rumpun danakumulasi panas di bawah mulsa dapat Produksi per Hektarteratasi (stabil). Kelembaban tanah dibawah mulsa umumnya lebih rendah Hasil uji F pada analisis ragamdaripada kelembaban tanah di bawahmulsa yang bersifat padat. menunjukkan bahwa jenis mulsa Menurut Kasli (2008) jerami padi berpengaruh nyata terhadap beratmemiliki kandungan hara yakni bahanorganik 40,87 %, N 1,01%, P 0,15%, dan rimpang per rumpun dan produksi perK 1,75%. Sedangkan kandungan unsurhara pada sekam padi: C-organik hektar. Rata-rata berat rimpang per(45,06%), N-total (0,31%), Ptotal(0,07%), K-total (O,28%), Ca (0,06 rumpun dan produksi per hektar tanamancmol(+).kg -1) dan Mg (0,04 cmol-1). jahe merah pada berbagai jenis mulsa setelah diuji dengan BNJ0,05 dapat dilihat pada Tabel 4.70 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Tabel 4. Rata-rata Berat Rimpang per Rumpun Tanaman Jahe Merah pada Berbagai JenisMulsaJenis Mulsa Berat Rimpang Per Rumpun Produksi Per Hektar (g) (ton)M0 Tanpa Mulsa 153,59 a 10,24 aM1 Jerami Padi 218,52 ab 14,57 abM2 Janjang Sawit 223,33 b 14,89 bBNJ0,05 68,22 4,55Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyatapada taraf 5% (uji BNJ) Hasil penelitian menunjukkan memungkinkan peningkatan kadar bahanbahwa berat rimpang per rumpuntanaman jahe merah tertinggi dijumpai organik dalam tanah.pada perlakuan mulsa janjang sawit dantidak berbeda nyata dengan mulsa jerami Sudiarto dan Gusmaini (2004)padi. Hal ini diduga karena mulsa janjangsawit dan jerami padi dapat yang mengemukakan bahwa bahanmempertahankan iklim mikro dalamtanah sehingga suhu tanah tetap stabil. organik dari janjang sawit yangHal ini sesuai dengan pendapatPurwowidodo (1983), mulsa dapat merupakan limbah dapat dimanfaatkanberperan positif terhadap tanah dantanaman yaitu melindungi agregat- sebagai mulsa dalam tanaman.agregat tanah dari daya rusak butir hujan,meningkatkan penyerapan air oleh tanah, Penggunaan mulsa pada pertanaman jahemengurangi volume dan kecepatan aliranpermukaan, memelihara temperatur dan monokultur dapat meningkatkankelembaban tanah, memeliharakandungan bahan organik tanah dan produktivitas rimpang segar lebih tinggimengendalikan pertumbuhan gulmasehingga dapat meningkatkan hasil dari hasil tanpa pemberian mulsa. Selaintanaman baik mutu maupun jumlahnya. itu pemberian mulsa juga dapat Produksi per hektar tanaman jahemerah tertinggi dijumpai pada perlakuan membentuk lapisan yang relatif padatmulsa janjang sawit dan tidak berbedanyata dengan jerami padi. Hal ini diduga sehingga efektif mencegahkarena mulsa janjang sawit dan jeramipadi dapat mempertahankan atau perkecambahan biji gulma ataumemperbaiki sifat fisik tanah sepertibobot isi, kadar air, memperkecil proses menghalangi perkembangan awal selamadispersi, meningkatkan stabilitas agregattanah, dan memperbaiki struktur tanah 100 hari. Hara yang dihasilkan darisehingga dapat mempercepat lajuinfiltrasi. Brown dan Dicky (1970) pelapukan mulsa bervariasi, bergantungmenyatakan bahwa bobot mulsa yangmemungkinkan untuk menurunkan bobot pada jenis tanaman dan umur panen. Padaisi, meningkatkan permeabilitas,porositas, ruang pori total, dan umumnya, makin tua umur tanaman yang dipanen makin tinggi pula hara yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik. Pengaruh Dosis Pupuk NPK Tinggi Tanaman (cm) Hasil uji F pada analisis ragam menunjukkan bahwa dosis pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman umur 30, 60, 90 dan 120 HST. Rata-rata tinggi tanaman jahe merah pada berbagai jenis mulsa umur 30, 60, 90 dan 120 HST dapat dilihat pada Tabel 6. Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 71

Tabel 6. Rata-rata Tinggi Tanaman Jahe Merah pada Berbagai Dosis NPK umur 30, 60, 90 dan 120 HSTDosis Pupuk NPK Tinggi Tanaman (cm)Simbol kg ha-1 30 HST 60 HST 90 HST 120 HSTN1 75 27,23 37,69 51,03 62,32N2 100 26,57 36,14 51,54 62,26N3 125 28,09 38,93 52,28 64,61 Pemakaian pupuk majemuk NPK pertumbuhan tanaman terhambatakan memberikan suplay unsur N yang (Mulyana, 2000).lebih kecil jika dibandingkan denganpupuk tunggal N. Sedangkan nitrogen Jumlah Anakan per Rumpun (anakan)merupakan penyusun dari semua protein Hasil uji F pada analisis ragamdan asam nukleat dengan demikianmerupakan penyusun protoplasma secara menunjukkan bahwa dosis pupuk NPKkeseluruhan. Protoplasma adalah tempat berpengaruh tidak nyata terhadap jumlahdimana berlangsungnya pembelahan sel. anakan per rumpun umur 30, 60, 90 danOleh karena kondisi nitrogen yang 120 HST. Rata-rata jumlah anakan perkurang tercukupi, maka proses rumpun tanaman jahe merah padapembelahan sel pun terganggu, sehingga berbagai jenis mulsa umur 30, 60, 90 dan 120 HST dapat dilihat pada Tabel 7.Tabel 7. Rata-rata Jumlah Anakan per Rumpun Tanaman Jahe Merah pada Berbagai Dosis Pupuk NPK umur 30, 60, 90 dan 120 HST.Dosis Pupuk NPK Jumlah AnakanSimbol kg ha-1 30 HST 60 HST 90 HST 120 HSTN1 75 2,02 4,94 9,52 16,77N2 100N3 125 2,15 5,28 9,28 15,19 2,35 5,54 10,85 18,52Berat Rimpang per Rumpun dan hektar. Rata-rata berat rimpang perProduksi per Hektar rumpun dan produksi per hektar tanaman jahe merah pada berbagai dosis pupuk Hasil uji F pada analisis ragam NPK setelah diuji dengan BNJ0,05 dapatmenunjukkan bahwa dosis pupuk NPK dilihat pada Tabel 7.berpengaruh nyata terhadap beratrimpang per rumpun dan produksi perTabel 7. Rata-rata Berat Rimpang per Rumpun dan Produksi per Hektar Tanaman Jahe Merah pada Berbagai Dosis Pupuk NPKDosis Pupuk NPK Berat Rimpang Per Rumpun Produksi per Hektar (g) (ton)Simbol kg ha-1N1 75 171,93 a 11,46 aN2 100 174,44 a 11,63 aN3 125 249,07 b 16,60 b BNJ0,05 68,22 4,55Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5% (uji BNJ) Hasil penelitian menujukkan hal ini diduga karena unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam pembentukanbahwa berat rimpang per rumpun rimpang terpenuhi dalam keadaan seimbang salah satunya unsur hara fosfattanaman jahe merah tertinggi dijumpaipada dosis pupuk NPK 125 kg ha-1 (N3),72 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

dan kalium. Hal ini sesuai dengan tinggi tanaman umur 30 HST danpandapat Marsono dan Sigit (2001) yang jumlah anakan per rumpun umur 60,mengemukakan bahwa pemupukan NPK 90 dan 120 HST. Pertumbuhan danpada tanaman jahe dalam keadaan cukup produksi tanaman jahe merah terbaikdapat berperan dalam meningkatkan dijumpai pada mulsa janjang sawitkesehatan tanaman. Pupuk fosfat dan dan mulsa jerami.kalium dapat membantu perkembangan 2. Dosis pupuk NPK berpengaruh nyataakar, membantu pembentukan protein terhadap berat rimpang per rumpundan karbohidrat dan meningkatkan daya dan produksi per hektar. Namuntahan tanaman terhadap penyakit. berpengaruh tidak nyata terhadapUmumnya tanaman yang kekurangan tinggi tanaman dan jumlah anakanunsur kalium, komponen ketahanannya per rumpun umur 30, 60, 90 dan 120akan tergannggu sehingga akan HST. Produksi tanaman jahe merahmemudahkan pathogen untuk penetrasi. terbaik dijumpai pada dosis pupuk NPK 125 kg ha-1. Produksi per hektar tanaman jahe 3. Tidak terdapat interaksi yang nyatamerah tertinggi dijumpai pada dosis antara jenis mulsa dan dosis pupukpupuk NPK 125 kg ha-1 (N3), hal ini NPK terhadap setiap peubah yangdiduga karena pada dosis yang diberikan diamati.mampu menyediakan unsur hara yangseimbang bagi pertumbuhan tanaman. SaranHal ini seiring dengan pendapat Rinsema Perlu dilakukan penelitian lebih(1993) menjelaskan bahwa, untukmendukung pertumbuhan tanaman yang lanjut tentang berbagai jenis mulsa danlebih baik suplai hara yang dibutuhkan dosis pupuk NPK terhadap berbagaioleh tanaman harus cukup tersedia dalam varietas tanaman jahe.jumlah yang optimal dan dalam keadaanseimbang. DAFTAR PUSTAKAPengaruh Interaksi Anonymous. 2001. Macam-macam Hasil uji F pada analisis ragam Mulsa Organik. Penebar Swadaya, Jakarta.menunjukkan bahwa tidak ada interaksiantara jenis mulsa dan dosis pupuk NPK Anonymous. 2005. Badan Pusat Statistikterhadap semua peubah pertumbuhan dan Indonesia. BPS Riau, Pekanbaru.hasil tanaman jahe merah yang diamati. Balai Pengkajian TeknologiHal ini bermakna bahwa perbedaan Pertanian (BPTP).pertumbuhan dan hasil tanaman jahemerah akibat perbedaan jenis mulsa tidak Anonymous. 2009. Tim Bina Karya Tani.tergantung pada dosis pupuk NPK “Budidaya Tanaman Jahe”. Yramaataupun sebaliknya. Widya, Bandung. KESIMPULAN DAN SARAN Anonymous. 2011. Badan Penelitian dan Perkembangan Pertanian, “ sinar1. Jenis mulsa berpengaruh sangat nyata tani.” Agustus 2011. terhadap tinggi tanaman umur 90 dan 120 HST, jumlah anakan per rumpun Buckman, H. O. And N. C. Brady, 1992. umur 30 HST. Berpengaruh nyata Ilmu Tanah (Terjemahan ole terhadap tinggi tanaman umur 60 Soegiman). Brarata karya Aksara, HST, berat rimpang per rumpun dan Jakarta. produksi per hektar. Namun berpengaruh tidak nyata terhadap Dwijoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta. 232 hlm. Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 73

Eduardo. 1980. Pengaruh Mulsa dan Cara mulches. Soil Sci. Soc. Am. J. 58 ; Pemberian Air terhadap 56-63 Pertumbuhan dan Produksi Sayuran. Skripsi Fakultas Pertanian Lakitan, B. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Institut Pertanian Bogor, Bogor, 73 Tumbuhan. Rajawali Press, Jakarta. Hlm. 203 hlm.Fithriadi, R. 1997. Pengelolaan Lingga P. dan Marsono. 2001. Petunjuk Sumberdaya Lahan Kering di Penggunaan Pupuk. Penebar Indonesia; Kumpulan Informasi, Swadaya, Jakarta. Jakarta. Lingga, P. 1998. Petunjuk PenggunaanHakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, Pupuk. Penebar Swadaya, Jakarta. S. G. Nugroho, M. R. Soul, M. A. 163 hlm. Diha, Go Ban Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Marsono dan Sigit. 2001. Pupuk Akar, Tanah. Universitas Lampung, Jenis Dan Aplikasi. Penebar Bandar Lampung. 488 hlm. Swadaya, Jakarta.Harnzah, 1985. lImu Tanah Hutan. Pusat Musnawar, E. I. 2003. Pupuk Organik. Penelitian Kehutanan Cepu, Cepu. Penebar Swadaya, Jakarta. 77 hlmHasibuan.B.E. 2006. Pupuk dan Paramitasari, D. R. 2011. Panduan Pemupukan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Praktis, Lengkap, dan Medan. Menguntungkan Budi Dayahttp://id.hicow.com/mulsa/tanah/kebun- 2070354.html diakses pada tanggal Rimpang. Jahe, Kunyit, kencur dan 26-01-2012 Temulawak. Yogyakarta. Cahayahttp://www.worldagroforestry.org/diakse s pada tanggal 26-01-2012. Atma.Indranada, H.K. 1986. Pengelolaan Purwowidodo . 1983 . Teknologi Mulsa. Kesuburan Tanah. Bina Aksara, Dewa Ruci Prees, Jakarta. Jakarta. 192 hlm. Rinsema, 1993. Pupuk dan CaraJanuwati, M., 1999. Optimalisasi Usaha Pemupukan. Bhatara, Jakarta. 235 Tani Tanaman Jahe. Makalah hlm. Disampaikan pada Semi Orasi di Balai Penelitian Tanaman Rempah Rinsema, W.T. 1986. Pupuk dan Cara dan Obat Bogor, 23 Juni 1999. 31 hlm. Pemupukan. (TerjemahanKasli. 2008. Pembuatan Beberapa Pupuk H.M.Saleh). Bharata Karya Aksara, Hayati Hasil Dekomposisi. http://www.lp.unand.ac.id/?pModul Jakarta. 235 hlm. e=penelitian&pSub=penelitian&pA ct=detail&id137&bi=20. Diakses Rosmarkum A. dan N.W.Yuwono. 2002. tanggal 2 Februari 2012. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.Kemper, W. D., A. D. Nicks, and A. T. Corey. 1994. Accumulation of Ruijter, J. dan Agus, F. 2004. Mulsa water in soil gravel and sand Organik. Penebar Swadaya, Jakarta. Santoso, H.B. 1994. Jahe Gajah. Yogyakarta, Kanisius. Sarief E.S. 1985. Koservasi Tanah dan air. Pustaka Buana, Bandung.182 hlm. Sarief , E.S. 1986. Kesuburan dan PemupukanTanah. Pustaka Buana, Bandung.74 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Soegianto, S. 1976. Pengawetan Tanah pengelolaan tanah, mulsa jerami dan Mulsa. (Dalam majah Tubus 74 dan irigasi terhadap sifat fisik (VII). Yayasan social Tani tanah, pertumbuhan dan produksi Menbangun, Jakarta. kacang hijau. Risalah Hasil penelitian Tanah dan Agroklimat.Soeharjo, M., A. Syukur, dan Subowo. Badan Litbang pertanian, Pusat 1997. Peranan jenis tanaman legum Penelitian Tanah dan Agroklimat. dalam mem- perbaiki sifat fisik dan Bogor. Hal 58-64. kimia tanah pada tanah marginal (Typic Plinthudults) Lam- pung Sutanto. R. 2002. Penerapan Pertanian Tengah. Prosiding Kongres Organik. Kanisius, Yogyakarta. Nasional VI HITI, Jakarta 12 _ 15 Desember 1995. Buku 1: 375-382. Sutedjo, M. M. 2002. Pupuk dan Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.Sudiarto, B. Irwan, Syarif, dan W. Wargono. 1991. Beberapa aspek Sutedjo, M.M dan Kartasapoetra.1987. usaha tani jahe gajah. Makalah Pupuk dan Pemupukan. Rineka Disajikan pada Seminar Budi Daya Cipta, Jakarta. dan Peluang Pasar Jahe, Kebun Pembibitan Trubus Cimanggis, Umboh, H.A. 2002. Petunjuk Bogor. 26 Januari 1991. 17 hlm. Penggunaan Mulsa. Penebar Swadaya, Jakarta.Suganda, H., Abas, A., dan H. Suwardjo. 1993. Pengaruh kombinasi Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 75

76 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

PENGARUH AMELIORAN ABU JANJANG SAWIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL AKSESI PADI LOKAL (Oryza sativa L.) PADA LAHAN GAMBUTTHE INFLUENCE OF AMELIORAN ASH SPADIX PALM TO GROWTH AND RESULTS OF LOCAL RICE ACCESSIONS (Oryza sativa L.) ON PEAT Safrida1*), Suparman2), Parman2) 1Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh 23615 2Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar *)Email Korespondensi : [email protected] study aims to determine the influence of amelioran ash of spadix palm to accessionsthe local rice as well as real whether the interaction of these two factors on the cultivationoccurring in the peat. This research was compiled in a separate Swath Design Split plotwith 2 and 4 treatment groups, consisting of 4 local rice accessions, namely: Pandrah, BohSirutoh, Pinlago and IR-36. Factors amelioran the ash of spedix palm consists of: A0, A1 =control = 15 ton ha-1 (3.38 kg plot-1). The results showed that the real effect of accessiontowards high plant age 30, age 45 HST and very real effect at age 60 HST, influential realaccession number of saplings against age 60 HST, but has no effect on real at the age of 30and 45 HST. Accessions take effect against the number of saplings of real productive andvery influential real against the weight of grain per plot. Pandrah accessions (V1) has theability level of the rate of growth at a high level of crop, the amount of the child, thenumber of saplings of productive and heavy grain keringper plot. Treatment of theamelioran ash of spedix of palm on peat, was able to increase the growth of plants at highlevels, the number of chicks, the number of saplings of productive but the effect is not realagainst the weight of dried grain per plot.Keywords: ash of spadix palm ameliorant, rice accessions PENDAHULUAN bencana alam sehingga dipandang perlu memberdayakan lahan lahan marjinal Padi (Oryza sativa L.) merupakan yang belum berproduktif optimal.Salahbahan pangan pokok yang dominan satu lahan yang belum optimal dalamdikonsumsi sebagian besar masyarakat pemanfaatannya adalah lahan gambutIndonesia, namun ketersediaan padi (Utama dan Harjoko, 2009).masih tergolong rendah untuk mencukupikebutuhan penduduk Indonesia yang Produktivitas lahan gambut untukberjumlah tidak kurang dari 200 juta tanaman padi dan tanaman panganpenduduk dengan konsumsi beras rata- lainnya sangat rendah. Kendala kimiarata 133 kg kapita tahun-1, sehingga total yang membatasi produksivitas tersebutkebutuhan beras 26,6 juta ton tahun ha- adalah rendahnya ketersediaan hara dan1(Husodo, 2007).Alih fungsi lahan sawah tingginya kandungan asam-asam organikke non sawah merupakan salah satu yang beracun bagi tanaman seperti asampenyebab berkurangnya luas sawah di fenolat. Ditinjau dari sifat fisikokimiaIndonesia.Keadaan ini berlangsung terus tanah, masalah yang paling umumsejalan dengan pertumbuhan penduduk, dijumpai antara lain disebabkan pHkegiatan industri, perhubungan dan rendah, kejenuhan basa rendah, KTK tinggi, rasio C/N tinggi, serta Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 77

ketersediaan unsur hara makro dan mikro agar mendapatkan pertumbuhan sertarendah. Penerapan teknologi drainase dan produksi yang maksimal. Penelitian iniameliorasi yang tepat, pemilihan varietas, bertujuan untuk mengetahui bagaimanaserta perbaikan kultur teknis, gambut pengaruh amelioran abu janjang sawitdapat dijadikan lahan usaha tani yang terhadap aksesi padi lokal serta nyataproduktif (Taher et al., 1991).Salampak tidaknya interaksi kedua faktor tersebut(2001) telah melakukan penelitian pada pada penanamannya di lahan gambut.gambut dengan hasil penelitianmenunjukkan kegagalan pengisian biji METODE PENELITIANpada padi varietas IR-64 dan varietas Penelitian ini dilaksanakan dilokal. Hal ini disebabkan karenaterjadinya gangguan pada proses kebun percobaan Fakultas Pertanianasimilasi karbohidrat dan proses Universitas Teuku Umar Meulabohpengangkutan hasil asimilasi setelah Kabupaten Aceh Barat, mulai bulantanam. Januari - Juli 2016. Penelitian Laboratorium yang dilaksanakan Perlakuan amelioran diharapkan dilaboratorium tanah dan tanaman BPTPdapat memperbaiki pH tanah, Banda Aceh. Penelitian ini disusun dalammeningkatkan ketersediaan hara dan Rancangan Petak Terpisah Splitmeningkatkan kemampuan absorpsi plotdengan 2 perlakuan dan 4 kelompok,tanah. Penggunaan abu sebagai bahan yang terdiridari 4 aksesi padi lokal yaitu :amelioran selain dapat mengurangi V1 = Pandrah, V2 = Boh Sirutoh, V3 =degradasi hara juga dapat menyuplai Pinlago dan V4 = IR-36. Faktor amelioranhara. Abu memiliki komposisi yang lebih abu janjang sawit terdiri atas :A0 =lengkap daripada kapur, mengandung Kontrol, A1 = 15 ton ha-1 (3,38 kg plot-1).unsur hara makro dan mikro, memilikidaya penetralan terhadap kemasaman Bibit ditanam umur 15hari setelah40% setara dengan kapur atau CaCO3 persemaian dan 15 hari setelah aplikasi(Subiksa et al., 1995). Aceh merupakan amelioran abu janjang sawit dengan jarakpropinsi yang sangat kaya akan tanam 25 x 25 cm dan jumlah bibit 1keanekaragaman varietas lokal padi yang batang/rumpun. Pupuk yang digunakanperlu dilestarikan dan dimanfaatkan adalah Urea 200 kg/ha, SP-36 150kg/hauntuk pembangunan berkelanjutan. Hasil dan KCl 100 kg/ha. Penyiangan dilakukanpenelitian Bakhtiar et al. (2011) dengan memperhatikan tingkat populasimenunjukkan beberapa hasil eksplorasi gulma yang tumbuh. Untuk mencegahplasma nutfah padi lokal Aceh pada tanah serangan hama orong-orong, benihmasam telah diperoleh sebanyak 26 dicampur dengan insektisida sepertiaksesi diantaranya Cut Krusek, Bo Furadan sebanyak 1 g untuk 1 m2Santeut, Ramos Tihion, Sigupai, Cantek persemaian. Pengamatan yang dilakukanWangi, Cantek Puteh, Rangan dan lain – adalah analisis tanah, pertumbuhan danlain. Aksesi-aksesi padi lokal Aceh hasil.masih banyak digunakan oleh petani diberbagai kabupaten di Propinsi Aceh, HASIL DAN PEMBAHASANtetapi dalam jumlah yang relatif sedikithal ini disebabkan karena semakin Hasil analisis sifat kimia tanahmeluasnya penggunaan varietas unggul gambut yang belum diberikan amelioran abunasional (Silitonga, 2008). janjang sawit yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1, memperlihatkan Dari permasalahan tersebut maka bahwa tanah bereaksi agak masam denganperlu dilakukan penelitian untuk pH 4,13, N rendah, P dan K rendah.mengetahui pengaruh abu janjang sawitdan aksesi padi lokal pada lahan gambut78 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Tabel 1. Hasil analisis sifat kimia tanah gambut lahan penelitianNo Sifat Kimia Satuan Kadar Unsur1 C-Organik % 9,112 pH Tanah - 4,133 N – Total % 0,234 Bahan organic 15,715 C/N Ratio 36,616 P – tersedia ppm 0,197 Kation – kation Basa FlamephotometerK – dd ml 0,21Na – dd ml 0,47Ca – dd ml 5,18Mg – dd ml 0,338 KTK ml 97,209 KB % 6,36Keterangan: Hasil analisa tanah pada laboratorium BPTP Banda Aceh, 2016 Tanah gambut pada penelitian ini sawit analisis yang dilakukan adalah pH,mengandung hara yang sangat rendah C-organik, N-total, P total, dan K-totalkhususnya C-organik, pH, N-total, P- dengan perlakuan yang sama dengantersedia, dan kation-kation basa ( Tabel analisis sifat kimia tanah (Tabel 2).1). Sedangkan untuk abu janjang kelapaTabel 2. Hasil Analisis Sifat Kimia Amelioran Abu janjang SawitNo Komponen Analisis Kadar Unsur1. pH Abu Janjang Sawit (1 ;2,5) 8,782. N- Total/ total N (Kjeldal) (%) 1,123. C organik 11,774. P2O5 total/Total phosphate(%) 1,525. K2O total/ total potassium (%) 2,95Keterangan: Hasil analisa abu janjang sawit pada laboratorium Tanah FP Unsyiah, 2016Respon Aksesi perbedaan susunan genetik merupakanTinggi Tanaman salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman dalam hal tinggi Tanaman tertinggi pada umur 30, tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat45 dan 60 HST di jumpai pada aksesi Mildaerizanti, (2008) bahwa perbedaanPandrah (Tabel 3). Penelitian ini tinggi tanaman lebih ditentukan olehmenunjukkan bahwa aksesi Pandrah (V1) faktor genetik. Disamping dipengaruhimemiliki kemampuan tingkat laju oleh faktor genetik, juga dipengaruhi olehpertumbuhan pada tingkat tinggi kondisi lingkungan tumbuh tanaman.tanaman. Hal ini disebabkan adanyaTabel 3. Rata-rata tinggi tanaman padi lokal pada berbagai aksesi umur 30, 45 dan 60 HST Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)Simbol Aksesi 30 HST 45 HST 60 HSTV1 Pandrah 61,10 b 76,52 b 111.28 bV2 Boh sirutoh 63,62 b 74,48 b 107,58 bV3 Pin lago 60,82 b 72,76 b 100,17 bV4 IR-36 50,76 a 58,91 a 78,13 a Apabila lingkungan tumbuh suatu tempat ke tempat lain dansesuai bagi pertumbuhan tanaman maka kebutuhan tanaman akan keadaandapat meningkatkan produksi tanaman. lingkungan yang khusus akanKeadaan lingkungan yang bervariasi dari mengakibatkan keragaman pertumbuhan Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 79

tanaman. Selanjutnya Vaughan (1994) anakan selain dipenarhi oleh faktormenambahkan bahwa karakter tinggitanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik juga sangat ditentukan olehlingkungan. ruang/jarak tanam dan tingkat kesuburanJumlah Anakan Hasil pengamatan jumlah anakan tanah.Apabila benih disemai secara rapatmenunjukkan bahwa aksesi Pandrah (V1) hingga tanamannya sangat rapat, makayang memiliki jumlah anakan terbanyak(Tabel 4). Setiap aksesi bervariasi dalam jumlah anakan maksimum menjadijumlah anakan, dan juga sama halnyadengan kecepatan dan vigor anakan rendah (1-3 anakan per rumpun).Apabilaadalah berbeda-beda tergantung kepadaaksesi. Beberapa aksesi menghasilkan densi-tasnya rendah, maka jumlahanakan sangat cepat dan banyak, sebagianlainnya lambat dan sedikit.Pembentukan anakandapat meningkat 10 kali lipat (10- 30 anakan per rumpun). Tetapi hal ini dapat menyebabkan perkembangan sebagai anakan menjadi gagal dalam menghasilkan malai sehingga pembentukan anakan yang banyak menjadi tidak efektif (Nemoto et al. 1995, Counce et al. 2000).Tabel 4. Rata-rata jumlah anakan tanaman padi lokal pada berbagai aksesi umur 30, 45 dan 60 HST Perlakuan Jumlah AnakanSimbol Aksesi 30 HST 45 HST 60 HSTV1 Pandrah 16,71 30,00 32,33 bV2 Boh sirutoh 13,47 20,50 22,60 aV3 Pin lago 14,67 19,67 22,17 aV4 IR-36 15,31 24,88 27,38 abKeterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT)Jumlah Anakan Produktif anakan perumpun berkaitan erat dengan Jumlah anakan produktif kemampuan tanaman menghasilkan anakan dan kemampuan mempertahankanterbanyak di jumpai pada aksesi Pandrah fungsi fisiologi tanaman.Kegiatandan IR-36 (Tabel 5).Penelitian ini fisiologis tanaman yang terkait denganmenunjukkan bahwa aksesi Pandrah dan jumlah anakan adalah fotosintesis,IR-36 yang memiliki jumlah anakan transportasi hara dan hasil metabolisme,terbanyak.Hal ini disebabkan bahwa regulasi pertumbuhan dan perkembanganaksesi Pandrah dan IR-36 memiliki daya dan mekanisme respons terhadapadaptasi yang cukup baik sehingga dapat rangsangan lingkungan.Sesuai denganmemperoleh jumlah anakan yang lebih pendapat krismawati et al, (2011) bahwabanyak dibandingkan dengan aksesi jumlah anakan berbeda dari setiap aksesilainnya.Setiap varietas memiliki ciri dan dan daya adaptasi dari setiap aksesi yangsifat khusus yang berbeda satu sama lain berbeda dimana ditentukan oleh interaksiserta menunjukan keragaman morfologi antar genotif dan lingkungan.yang berbeda pula. Perolehan jumlahTabel 5. Rata-rata jumlah anakan produktif tanaman padi lokal pada berbagai aksesiPerlakuan Jumlah Anakan Produktif BNT0,05 Simbol Aksesi Jumlah Anakan V1 Pandrah 21,62 b V2 V3 Bo sirutoh 13,41 a 3,85 V4 Pin lago 14,39 abKeterangan : IR-36 18,60 b Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT)80 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Berat Gabah Kering per Plot (g) disebabkan oleh perbedaan sifat (genetik) Tabel 6 menunjukkan bahwa berat dari masing-masing galur serta keadaangabah kering per plot terbanyak di jumpaipada varietas Pandrah (V1) yang berbeda lingkungan tempat tumbuhnya.Karaktersangat nyata dengan varietas Boh sirutoh(V2), Pin lago (V3) dan IR-36 (V4). hasil merupakan karakter yang kompleksVarietas Pandrah memilki daya adaptasiyang sesuai dengan lingkungan dan yang dikendalikan oleh sejumlah besarmempunyai kemampuan dalam halmemaksimal penyerapan hara yang gen-gen kumulatif, duplikat, dantersedia dalam tanah. Suryatna (1990)menjelaskan produksi per satuan luas dominan yang sangat dipengaruhi olehsangat dipengaruhi oleh varietas, umur,kesuburan tanah, dan keadaan air. lingkungan. Sesuai pendapatMenurut Satoto dan Suprihatno (1998),Perbedaan pertumbuhan dan hasil (Dwidjoseputro, 1983) suatu tanaman akan tumbuh subur apabila segala unsur hara yang dibutuhkan cukup tersedia dan dalam bentuk yang sesuai untuk diserap tanaman, sehaingga dapat menigkatkan hasil produksi salah satunya berat gabah kering pada tanaman.Tabel 6. Rata-rata berat gabah kering per plot pada berbagai aksesi padi localPerlakuan Berat Gabah Kering Per plot BNT0,05 Simbol Varietas Gabah Kering V1 Pandrah 51,75 b V2 V3 Boh sirutoh 25,07 a 17,26 V4 Pin lago 15,85 aKeterangan : IR-36 31,77 a Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT)Respon AmelioranTinggi TanamanRata – rata tinggi tanaman padi lokal pada umur 30, 45 dan 60 HST dapat dilihatpada Tabel 7.Tabel 7. Rata-rata Tinggi Tanaman Umur 30 dan 45 dan 60 HST Pada Berbagai DosisAmelioran Abu Janjang SawitJenis Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)Simbol Perlakuan 30 HST 45 HST 60 HSTA0 Kontrol 82,29 96,88 130,06A1 Amelioran 94,93 115,13 167,01 Berdasarkan Tabel 7 di atas Jumlah Anakanbahwa tanaman tertinggi pada umur 60 Tabel 8 Menunjukkan bahwaHST di jumpai pada perlakuan Amelioran(A1). Penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah anakan tanaman terbanyak umurdengan adanya perlakuan Amelioran abu 30 HST di jumpai pada perlakuanjanjang sawit pada lahan gambut, Amelioran (A1) yang berbeda nyatamampu meningkatkan pertumbuhan pada dengan perlakuan Kontrol (A0)tingkat tinggi tanaman padi lokal, sedangkan jumlah anakan tanaman umurMenurut Hardjowigeno (2001) pH tanah 45 HST dan 60 HST secara statistikmenentukan mudah tidaknya unsur-unsur amelioran menunjukkan perbedaan yanghara baik makro maupun mikro diserap tidak nyata terhadap jumlah anakanoleh akar tanaman. Kecukupan unsur hara tanaman lainnya.mempengaruhi pertumbuhan tanamansalah satunya tinggi tanaman. Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 81

Tabel 8. Rata-rata jumlah anakan tanaman Umur 30 dan 45 dan 60 HST Pada BerbagaiDosis Amelioran Abu Janjang SawitJenis Perlakuan Jumlah AnakanSimbol Perlakuan 30 HST 45 HST 60 HSTA0 Kontrol 16,40 28,97 32,20A1 Amelioran 28,71 42,32 46,16Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT) Hal ini menunjukkan bahwa dapat meningkatkan aktifitas asam-asamdengan adanya perlakuan amelioran abujanjang sawit pada lahan gambut mampu organik sehingga terjadi pelarutanmeningkatkan pertumbuhan tanamanpadi. Jumlah anakan maksimum mineral–mineral yang berasal dari abudipengaruhi oleh proses metabolismepada tanaman padi yang didukung oleh janjang sawit sehingga ketersediaan haraketersediaan unsure hara didalam tanah.Selain itu Menurut Winarso (2005), tanah meningkat (Intan Sari, 2011).pemberian dan peningkatan dosis abujanjang sawit meningkatkan pH tanah Jumlah Anakan Produktifgambut. pH tanah mempunyai pengaruh Jumlah anakan produktifyang kuat pada ketersediaan unsure haramikro. Ketersediaan unsure hara mikro terbanyak di jumpai pada perlakuanmenurun apabila pH tanah meningkat. Amelioran (Tabel 9). Penelitian inipeningkatan jumlah anakan varietas padi menunjukkan bahwa dengan adanyaini dapat terjadi karena amelioran abu perlakuan amelioran abu janjang sawitjanjang sawit dapat mengurangi kadar pada lahan gambut, mampuasam siringat, ferulat dan kumarat dalam meningkatkan pertumbuhan jumlahlarutan tanah sawah gambut, serta anakan produktif pada tanaman padipeningkatan jumlah anakan dengan lokal, sebagaimana yang dinyatakanpemberian abu janjang sawit menunjukan Sutanto (2005) bahwa kemampuan tanahbahwa adanya sumbangan hara terutama sebagai habitat tanaman untukkalium. Penambahan abu janjang sawit menghasilkan bahan yang dapat dipanen sangat ditentukan oleh tingkat kesuburannya. Kesuburan tanah (Dikti, 1991) adalah kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara dalam jumlah yang berimbang untuk pertumbuhan dan produksi tanaman.Tabel 9. Rata-rata jumlah anakan Produktif aksesi padi lokal pada berbagai dosis amelioran abu janjang sawitJenis Perlakuan Jumlah Anakan Produktif BNT0,05Simbol PerlakuanA0 Kontrol 22,52 a 2,51A1 Amelioran 28,95 bKeterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT) Menurut hasil analisis kandungan Pospor Berfungsi untuk pengangkutantanah gambut pada lahan penelitian yaituC-organik (9.11%), BO (15,71%), N- energi hasil metabolisme dalam tanaman.Total (0,23%), P (0,91%), Ca (5,18%),Mg (0,33%), K (0,21%) dan Na (0,47%). Merangsang pembungaan dan pembuahan. Merangsang pertumbuhan akar. Merangsang pembentukan biji.82 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

Merangsang pembelahan sel tanaman dan Berat Gabah Kering per Plot (g)memperbesar jaringan sel. Kekurangan Berat gabah kering perunsur P Pembentukan buah/dan bijiberkurang, kerdil, daun berwarna plottanaman terbanyak dijumpai padakeunguan atau kemerahan (kurang sehat) perlakuan Amelioran (Tabel 10)(Albert, 2011). meskipun secara statistik berbeda tidak nyata dengan perlakuan Kontrol (A0).Tabel 10. Rata-rata berat gabah per plot tanaman padi local pada berbagai perlakuan ameliorant abu janjang sawit Jenis Perlakuan Berat Gabah Kering Per Plot (kg)Simbol PerlakuanA0 Kontrol 108,69A1 Amelioran 140,17Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% (uji BNT)Hal ini disebabkan oleh sifat menyebabkan penyerapan unsur Ca, Mg dan Na turun. Unsur yang mempunyaikimia tanah gambut yang didominasi oleh pengaruh saling berlawanan dan satu sama lain saling mengusir disebutasam asam organik yang bersifat toksik antagonis.bagi tanaman, sehingga berpengaruh KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan yangterhadap produksi tanaman.Hal ini sesuai telah dilakukan dapat diambil kesimpulan,pendapat Soepardi (1979) dalam bahwa Aksesi Padi Pandrah memiliki adaptasi pertumbuhan danproduksi terbaikMawardi et al, (2001), secara umum sifat apabila ditanam pada lahan gambut dengan hasil berat gabah kering per plotkimia tanah gambut didominasi oleh mencapai 140,17 kg plot-1.asam-asam organik yangmerupakan suatu DAFTAR PUSTAKAhasil akumulasi sisa-sisa tanaman. Asam Bakhtiar. Kesumawati E., T. Hidayat dan M. Rahmawati. 2011. Karakteristikorganik yangdihasilkan selama proses Plasmanutfah Padi Lokal Aceh untuk Perakitan Varietas Adaptifdekomposisi tersebut merupakan bahan pada Tanah Masam. Jurnal Agrista. Fakultas Pertanian Universitasyang bersifattoksik bagi tanaman, Syiah Kuala. Banda Acehsehingga mengganggu proses Intan Sari. 2011. Studi Ketersediaan dan serapan hara Mikro serta Hasilmetabolisme tanaman yangakan berakibat beberapa Varietas kedelai pada Tanah Gambut yang di ameliorasi.langsung terhadap produktifitasnya. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Indragiri.Riau.Sementara itu secara fisiktanah gambut Krismawati, A. dan Z. Arifin. 2011.bersifat lebih berpori, hal iniakan Stabilitas Hasil Beberapa Varietas Padi Lahan Sawah. Pengkajian danmengakibatkan cepatnya pergerakan air Perkembangan Teknologi (2): 84- 92pada gambut yang belumterdekomposisidengan sempurna sehingga jumlah airyang tersedia bagi tanamansangatterbatas.Meskipun hasil dari amelioranlebih tinggi namun tidak menunjukanpengaruh yang nyata pada kontrol, hal inibesar kemungkinan akibat pemberianamelioran yang terlalu tinggi yaitu 15 tonha-1 yang menyebabkan peningkatanunsur kalium terlalu tinggi sehinggamempengaruhi penyerapan unsur haralain yang berdampak terhadap beratgabah kering tanaman. Roesmarkam danYuwono (2002) menyatakan bahwaumumnya penyerapan K tinggi Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016 | 83

Mawardi, E. Azwar dan Tambidjo. A. International Symposiumon2001. Potensi dan Peluang Biodiversity, EnvironmentalPemanfaatan Herzeburgite sebagai Importance and Sustainability ofAmelioran Lahan tropical peats and peatlands.Gambut.Prosiding Seminar Palangkaraya, 4 – 8 Septembernasional Memantapkan Rekayasa 1995.paket Teknologi Pertanian dan Sutoto dan B. Suprihatno. 1998.Ketahanan Pangan dalam Era Heterosis dan Stabilitas HasilEkonomi Daerah.Bengkulu. Hibrida- Hibrida PadiSalampak.1999. Peningkatan TurunanGalur Mandul JantanProduktivitas Tanah Gambut yang IR62829A dan IR58025A. BalaiDisawahkan dengan pemberian Penelitian Pertanian TanamanBahan Amelioran Tanah Mineral Pangan.Berkadar Besi Tinggi.Disertasi Taher, A., Yusuf Z. Hamzah, dan Z. Zaini. 1991. Sumberdaya RawaS3.Program Pasca Sarjana Institut Indonesia dalam Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan.BadanPertanian Bogor. Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BPTP, Sukarami.Silitonga. 2008. Konversi dan Pengembangan Sumber Daya Utama, M. Z dan W. Harjoko.2009. Genetik Padi untuk Kesejahteraan Pengujian Empat Varietas Padi Petani. Makalah disampaikan pada Unggul Padi Sawah Gambut Pekan Budaya Padi di Subang. Bukaan Baru di Kabupaten Padang Jawa Barat. Pariaman.Jurnal Akta Agrosia Vol.12 No. 1 hlm 56-61 Jan - JunSubiksa, I. G. M., Nugroho K. Sholeh. 2009.dan Widjaja Adhil. P.G. 1995. TheEffect of Ameliorants on thechemical Properties andproductipity of peat soil. In Rieley Winarso. 2005. Pengertian dan Sifat Kimia Tanah. Universitas Gajahand Page (Eds) Biodiversity and Mada. Yogyakarta.Sustainability of TropicalPeatland.Proceedings of the84 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 1, April 2016

AGARIAGROTEK LESTARI Email : [email protected]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook