http://ebook-keren.blogspot.com 324 MUHAMMAD nya begitu menghormatinya seperti cara para sahabat Muhammad menghormati anak ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib itu.” Seolah setiap napas ditahan ke luar dari dada orang-orang. Hal- hal baik mengenai dirimu telah mereka ketahui semenjak engkau ma- sih kanak-kanak. Namun, hari ini, mereka tidak berada dalam kondisi yang berminat mendengarkan hal-hal semacam itu. Toh, ‘Urwah masih juga membicarakan sikap para sahabat terha- dapmu. “Bila Muhammad memberikan perintah, mereka memenuhi- nya nyaris melampaui kata-katanya, saat Muhammad berwudu, me- reka berebut untuk mendapatkan bekas airnya. Jika ia berbicara, mereka merendahkan suara di hadapannya. Mereka juga menunduk- kan pandangan di hadapan Muhammad karena memuliakannya.” ‘Urwah memandangi semua orang di ruangan itu. “Ia telah me- nawarkan sebuah konsesi yang sangat bijaksana. Karena itu, terimalah tawaran itu.” Mati semua suara. Tidak ada komentar apa-apa. ‘Urwah kemu- dian mengulang apa pun yang ia saksikan dan apa pun yang engkau katakan. Tidak ditambah, tidak dikurangi. Hulais yang duduk tak jauh dari ‘Urwah mengangguk-angguk. Apa pun yang dikatakan ‘Urwah adalah konirmasi dari apa pun yang dia sampaikan sebelumnya. Sekarang, semua ditentukan oleh orang-orang Quraisy yang ge- lisah itu. Setiap mata para lelaki penyembah berhala itu menyorot dengan cara yang nyaris sama: curiga.
http://ebook-keren.blogspot.com 45. Orang-Orang Perbatasan Pegunungan Swat, hati yang menggantung. “Aku akan menyesali keputusan ini sampai mati.” Kashva masih tak berhasil memaafkan diri- nya sendiri karena dia menurut saja apa maunya Mashya. Sebelumnya, dia telah bertekad untuk kembali ke Gathas. Ingin tahu apa yang terjadi terhadap Astu. Tidak peduli apa pun itu. Tapi dalam sekejap, Mashya menggilas keinginan Kashva. Seketika, membuatnya diam dengan mulut ternganga. Mashya mempersilakan Kashva pergi, tetapi tanpa Xerxes. Ini tidak mungkin. Sekarang, bagi Kashva, lebih baik mati dari- pada berpisah dengan bocah itu. Setidaknya sampai kelak dia “mengembalikan” Xerxes kepada ibunya. Untuk memaksakan kehendaknya, Kashva harus membunuh Mashya. Sebab, lelaki raksasa itu siap menggadaikan nyawanya asalkan Xerxes tidak kembali ke Gathas. Lepas pagi, di atas kudanya masing-masing, Kashva dan Mashya membuat perjalanan mereka segontai mungkin. Kali ini, Xerxes duduk di pelana kuda Mashya. Demi keamanan, kata Mashya. Tentu dia tidak ingin Kashva kesetanan, melarikan Xerxes begitu saja. Keduanya kini menjadi teman seperjalanan yang saling mencurigai.
http://ebook-keren.blogspot.com 326 MUHAMMAD Setelah berletih-letih melewati gurun pasir yang menjadi batas akhir wilayah Persia, hamparan alam Perbatasan seharusnya sang- gup menghibur kemasygulan hati Kashva. Kenyataannya tidak. Pada- hal, keindahan alam sungguh seperti lukisan di sepanjang perjalanan menuju perkampungan penduduk. Hijau membentang di segala pen- juru. Suara burung berharmoni dengan angin malu-malu. Ladang gan- dum menghampar di kanan-kiri setapak. Langit seperti kanvas yang ditumpahi cat biru, diselingi arak-arakan awan semurni kapas. Sisa pagi masih cemerlang. “Astu akan baik-baik saja. Tugasmu sekarang menemui Guru Kore,” respons Mashya. Ada seseorang yang hendak Mashya perte- mukan dengan Kashva. Seorang kawan lama Yim. Seorang lelaki yang dihormati penduduk Perbatasan. Kashva tak melanjutkan omongannya. Mashya melirik sebentar lalu memeriksa keadaan Xerxes yang ia apit di punggung kuda. Bocah itu sadar, ada sesuatu tidak menyenangkan terjadi antara Kashva dan Mashya. Bibirnya cemberut. Dia kehilangan keceriwisannya yang bi- asa. Pandangannya sayu, lepas ke depan. Dia sadar sedang menjadi rebutan. Pandangan Xerxes melayang ke sebelah barat, ke arah gunung- gunung Celah Khyber. Sepanjang sejarah, jalur ini dipakai oleh siapa saja yang hendak menembus India. Alexander Agung membawa pasuk- annya melewati celah ini lalu menaklukkan tanah Hindustan. Berabad silam, para penyebar agama Buddha juga memakai rute itu ke luar ma- suk India. Terusan ini bersimpangan dengan jalur perdagangan bersejarah, Jalur Sutra. Rute itu begitu masyhur selama ratusan tahun sebagai jalan perdagangan sutra Cina ke berbagai negara. Jalur ini menjadi saksi ambruknya peradaban Lembah Indus pada pertengahan Abad Kedua. Tegak kemudian Peradaban Vedic, yang tersebar di sebagian besar Dataran India-Gangetic. Berestafet kekuasan satu kerajaan ke kerajaan penggantinya atas tanah ini. Dari kerajaan Persia sekitar abad ke-43 SM hingga Alexander Agung pada 326 M. Ratusan tahun lalu. Ini sudah setengah perjalanan mencapai perbatasan imperium
http://ebook-keren.blogspot.com 327ORANG-ORANG PERBATASAN Cina ke arah utara. Mashya dan rombongannya datang dari arah sebaliknya. “Lebih baik engkau berkonsentrasi untuk pengalamanmu yang baru.” Lebih dari kapan pun, Mashya tiba-tiba menjelma menjadi se- seorang yang tidak pelit bicara dan berkata-kata dengan titian nada yang terkesan bijaksana, “Kaum yang akan engkau datangi ini belum pernah engkau ketahui sebelumnya.” Ringkik kuda, ketipak tapal kaki-kakinya. “Orang India?” Kashva bersuara. “Orang Perbatasan,” Mashya mengoreksi. “Orang-orang itu hanya tahu cara membunuh dan cara untuk mati.” Kashva melirik curiga. “Kau hendak mengatakan seorang bi- jak bestari yang mengetahui kandungan Kuntap Sukt lahir dan besar dalam masyarakat barbar?” Ujung kanan bibir Mashya terangkat. “Balas dendam adalah kata yang lezat di telinga orang-orang Perbatasan,” Mashya terkesan sangat menikmati sensasi kata-katanya. “Mereka akan membalas penghinaan seringan apa pun yang engkau lakukan terhadap orang-orang itu.” Sedikit demi sedikit, Kashva menyimak juga apa yang keluar dari bibir Mashya. “Orang-orang itu lebih memilih mencuri atau merampok daripada mengemis,” lanjut Mashya. “Mereka lebih suka menghadapi kemur- kaan Tuhan daripada dipermalukan.” Ada yang berdesir di urat kepala Kashva. Monster macam apa orang-orang itu? Mashya menoleh. “Para wanita Perbatasan adalah jenis perem- puan yang paling pandai menyembunyikan air mata. Nomor satu se- dunia. Jika suaminya mati, dia akan membakar anak-anaknya dengan kisah pertarungan ayah mereka,” berpaling kemudian, menatap ham- paran gunung-gunung. “Kisah itu yang akan menciptakan pengulangan pertarungan-pertarungan balas dendam pada masa-masa selanjutnya.” Hening sesaat. Kecuali ringkik kuda, ketipak tapal kaki-kakinya, dan alam yang berharmoni. “Kau,” suara Kashva, menelan ludah, “kau benar-benar mengenal orang-orang itu atau sekadar mendengar do-
http://ebook-keren.blogspot.com 328 MUHAMMAD ngeng perangai mereka dari cerita orang lain?” Mashya tidak segera bereaksi. Kashva berkata-kata lagi, “Terkadang kabar burung lebih mengerikan dibanding kenyataannya.” Mashya mendongak. “Pokoknya, siapkan dirimu.” Kashva mendengus. “Apakah mereka kasar terhadap tamu?” Mashya menyeringai. “Omong kosong! Orang-orang Perbatasan adalah tuan rumah paling ramah sedunia.” Dahi Kashva mengerut, kulit jidatnya sedikit bertumpuk. “Mere- ka makhluk pendendam sedunia sekaligus tuan rumah paling ramah sedunia?” Mashya mengangguk mantap. “Mereka rela kehilangan nyawa un- tuk melindungi tamunya.” Kashva semakin kebingungan. Karakter orang-orang yang akan dia datangi sungguh tidak stabil. Sekarang dua keheranan itu mengge- buk benak Kashva. Pertama, rasa penasaran terhadap penduduk Per- batasan; kedua, sikap Mashya yang seketika tampak lebih manusiawi. Setidaknya dia berbincang dengan Kashva dengan kalimat panjang- panjang. Kashva mulai menyiapkan mentalnya untuk menghadapi fenomena paling tak lazim sepanjang hidupnya.
http://ebook-keren.blogspot.com 46. Letakkanlah Kehormatanmu Rumah-rumah berbentuk balok. Kotak-kotak tanpa genteng. Beberapa di antaranya memiliki dua lantai, berdiri dengan campuran kayu dan lempung. Kashva ti- dak berharap akan segera bertatap muka dengan siapa pun dari penduduk desa itu. Tapi itu sebuah pengharapan yang lebih ti- dak mungkin dibanding khayalan esok matahari tak akan terbit lagi. Suasana pedesaan yang ramai segera menggeret Kashva pada perasaan asing. Anak-anak berlarian tak jelas arah. Ber- main dengan ceria yang tak dibuat-buat. Orang-orang melaku- kan macam-macam hal di depan rumah mereka masing-masing. Dua perempuan bermata besar dan biru bercakap serius sembari menekuni alat tenun besar yang terbuat dari kayu po- hon poplar. Mungkin ibu dan anak. Keduanya mengenakan pakaian mirip pakaian perempuan India. Sekian detik pandang- an keduanya menghunjami Kashva dan rombongan kecilnya. Kashva buru-buru melompatkan pandangannya. Dia tidak tahu mana hal yang membuat orang-orang itu merasa terhina mana yang tidak. Tidak mau ambil risiko. Terlewati.
http://ebook-keren.blogspot.com 330 MUHAMMAD Beberapa langkah ke depan, duduk seorang tua berambut putih. Hidungnya besar, badannya pun besar. Hampir sama dengan Mashya. Kedua tangan pak tua perkasa itu berlepotan lumpur. Tembikar sete- ngah jadi di depan mukanya. Dia juga menatap rombongan yang le- wat. Mashya mengangguk sembari tersenyum, meski tampak betul dipaksakan jadinya. Pak tua itu membalas dengan bentuk senyum ti- dak kalah anehnya. Seperti sebuah seringai. Terlewati. “Tidak bisakah kita menyapa mereka?” Kahsva menginterupsi Mashya, “Berbasa-basilah sedikit.” Mashya tidak menjawab. Bisu lagi. “Apakah mereka tidak mengerti bahasa Persia atau Sanskerta?” “Di antara mereka ada yang paham bahasa Persia,” suara Mashya, “tetapi mereka tidak suka basa-basi.” Kashva habis kata-kata. Segera saja dia menjadi beo. Apa pun yang dilakukan Mashya, dia ikut saja. Ketika Mashya turun dari kuda, lalu menuntun tunggangan itu sementara Xerxes masih tetap berada di punggungnya, Kashva buru-buru melompat ke tanah. Dia lakukan juga apa yang Mashya lakukan. Ada gemetar di genggaman tangannya pada tali kekang kuda. Para lelaki desa mulai menampakkan diri. Seolah-olah muncul begitu saja dari perut bumi. Mereka bergerombol, ada yang hanya beberapa orang, dengan keperluan yang macam-macam. Barangkali hendak berburu, ke sawah, atau apa pun. Hanya, ketika Kashva dan rombongan kecilnya mendekat, serempak mereka menghentikan ke- giatannya. Mereka sama-sama melihat ke rombongan Kashva dan sama-sama menggenggam pedang panjang. Kebanyakan dari mereka tinggi besar. Mata biru dengan kelopak gelap. Sengaja dibuat gelap tampaknya. Sebatang mawar terselip di telinga beberapa di antara para laki-laki itu. Pakaian mereka miskin warna. Kebanyakan putih, krem, atau putih yang telah lapuk dan dan tampak seperti krem. Baju mereka semuanya berlengan panjang dan menjuntai hingga lutut. Celana mereka berkibaran oleh angin. Menggembung di atas dan sedikit mengerucut mendekati mata kaki.
http://ebook-keren.blogspot.com 331LETAKKANLAH KEHORMATANMU Sebagian dari mereka mengenakan tutup kepala berupa kain yang te- bal, panjang, dan dipelintir-pelintir begitu rupa. Mashya mengucap sesuatu. Entahlah apa maknanya. Suaranya se- olah berubah menjadi bunyi segenggam kerikil yang dimasukkan ke batang bambu lalu dikocok, bergulung-gulung eksotis. Orang-orang membalas sapaan Mashya dengan bahasa yang sama. Wajah mereka tampak sumringah. Meski menjadi demikian jang- gal dengan tampilan isik mereka yang angker dan seolah setiap saat siap berperang. Ini dia kontradiksi itu, pikir Kashva. Temuan baru, ba- tin Kashva. Mashya tidak sepandir yang kukira. Kahsva menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Setidaknya dia bisa berbicara dengan bahasa yang aneh ini. Terlewati. Lepas dari tatapan dan balasan sapaan orang-orang, Mashya mengarahkan rombongan kecilnya menuju salah satu rumah yang tampaknya menjadi pusat dari perkampungan penduduk itu. Sama- sama berbentuk kubus, hanya ukurannya lebih besar. Ada pohon pop- lar rindang di depannya. Pintu rumah tertutup, tetapi segera terbuka. Seorang pemilik rumah itu sudah mengetahui kedatangan Mashya dan Kashva. Berita cepat menyebar di lingkungan pedesaan yang tak berapa luas itu. Seorang lelaki raksasa lagi. Kashva mulai merasa dirinya tak di- lahirkan dengan kondisi optimal. Orang-orang yang dia temui seperti memiliki ukuran badan yang rata-rata. Rata-rata besar, menjulang, dan kukuh perkasa. Padahal sosok yang muncul di muka pintu itu pas- tilah sudah berumur lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya putih semua. Jidatnya lebar, janggut dan jambangnya putih rata. Dipadu dengan pakaiannya yang juga serbaputih, jadilah dia tampak seperti malaikat. Wajahnya berseri. Hidungnya besar dan mancung. Matanya lebar, dengan bulatan biru di dalamnya. Sungguh tegap badannya seperti tak akan roboh oleh serudukan banteng sekalipun. Senyumnya melintang. Teriakan kecil menyambut kedatangan Mahsya dan Kashva. Teriakan dengan bahasa bergulung-gulung. Hanya Mashya yang memahaminya.
http://ebook-keren.blogspot.com 332 MUHAMMAD Kashva mengerti pada jenak itu, Mashya tidak akan memikirkan Xerxes. Dia segera menghampiri kuda Mashya, lalu merentangkan kedua tangannya. “Kita sudah sampai, Kawan.” Kedua mata Xerxes mengerjap, mengangguk kemudian. “Kita akan tinggal di sini, Paman?” Tubuh mungil Xerxes melayang ke uda- ra, sebelum kedua sepatunya mendarat di permukaaan tanah. Kashva berjongkok, supaya pandangannya satu garis dengan ta- tapan Xerxes, “Sementara.” Tersenyum, tangannya mengelus kepala Xerxes. “Kamu akan punya banyak kawan di sini, Xerxes.” “Dia Tuan Kashva,” suara Mashya. Kashva segera menegakkan badan. Menatap tuan rumah budiman yang mendatanginya. Dua rak- sasa mendatanginya. “Apa kabar?” sang tuan rumah menyapa. Kahsva bersyukur lelaki tua itu benar-benar mengerti bahasa Persia. Awalnya dia sudah bersiap-siap untuk bekerja keras berbicara dalam dialog India jika Pak Tua nan tegap perkasa itu sama sekali tak mengerti bahasa Persia. Setidaknya itu masih lebih masuk akal dari- pada berbicara dengan bahasa “segenggam kerikil yang dikocok”. “Sangat baik,” jawab Kahsva. “Senang datang ke desa Anda. Desa Tuan sangat indah. Seperti lukisan.” Tuan rumah tersenyum menerima pujian itu. Dia lalu menggerak- kan tangannya seperti sedang mempersilakan kedua tamunya. Meng- ucapkan bahasa bergulung-gulung kepada Mashya lalu menatap lagi Kashva. “Bawa kemari kehormatan Anda.” Kashva tak bergerak. Dia tahu pasti arti kalimat itu, tapi benar- benar tidak paham maksudnya. Tuan rumah tersenyum lagi. “Bawa kemari kehormatan Anda.” Kashva masih belum menentukan apa yang hendak dia lakukan. Meraba-raba, menerka-nerka. Apa yang dia maksud dengan kehormat- anku? Di kepalanya berputar sebuah isu, orang-orang Perbatasan akan membalas semua bentuk penghinaan. Sekarang, dia tengah berusaha tahu, bagi tuan rumah apakah diam adalah tindakan menghinakan atau justru sebaliknya.
http://ebook-keren.blogspot.com 333LETAKKANLAH KEHORMATANMU “Guru Kore mempersilakanmu untuk masuk ke rumah,” sergah Mashya. Kashva mencari kesungguhan pada pancaran mata Mashya. Ini jarang terjadi, tetapi memang Kashva menemukan kesungguhan itu di sana. Dia lalu memindahkan pandangannya kepada tuan rumah yang oleh Mashya dipanggil “Guru Kore” itu. Anggukan tipis. Konirmasi yang mencukupi. Kashva tersenyum lalu mengangguk pula. Tangan- nya meraih pergelangan tangan Xerxes. Tiga tamu dari jauh itu segera memasuki rumah kubus Guru Kore. Rumah itu terdiri dari dua ruangan utama. Ruang umum dan keluarga. Kashva dan Mashya segera tahu di mana batas keberadaan mereka diperbolehkan oleh norma setempat. Lantai tanah dilembari tikar ilalang. Dinding batu yang bertum- puk rapi. Hampir tidak ada apa-apa. Di tengah tikar yang selembar, beberapa cangkir teh panas dibubuhi garam terhidang. Bulatan besar roti tipis lembek dan segar pun tersaji. Tuan rumah masih mempertahankan bahasa tubuhnya yang pe- nuh keramahan. Dia menatap Kashva sembari mempersilakan. “Tuan berdua, letakkanlah kehormatan Anda.” Kashva tersenyum dengan cara yang unik. Seperti seorang ayah yang gagal menemukan jawaban pertanyaan anaknya. Malu-malu te- tapi masih menjaga kebanggaannya. Wajahnya terangkat sedikit, ma- tanya mencari-cari Mashya. “Apakah itu berarti, Guru Kore memper- silakan kita untuk duduk?” Mashya mengangguk malas sembari mendahului Kashva duduk di atas tikar menghadapi makanan. Tampaknya dia sudah siap untuk membuang jauh kalimat basa-basi. “Pagi tadi di pinggir Sungai Swat kami baru saja sarapan.” Kalimat itu jelas menjauh dari kepalanya. Kashva duduk bersila lalu meraih Xerxes ke pangkuannya. “Maaf- kan kebodohan saya.” Kashva berupaya tersenyum sealami mungkin meminta pemakluman tuan rumah. Guru Kore menggeleng. “Anda akan segera terbiasa, Tuan Kashva. Anda tamu di desa kami. Anda akan cepat belajar dan terlindungi.”
http://ebook-keren.blogspot.com 334 MUHAMMAD Terlindungi? Sekelebatan pikiran aneh melintasi benak Kashva. Terlindungi dari apa? Apakah setelah segala basa-basi aneh ini, akan datang sesuatu yang lebih aneh lagi? Kahsva mengangguk sembari meng- ucapkan terima kasih. Lebih aneh sekaligus membahayakan nyawaku?
http://ebook-keren.blogspot.com 47. Tongkat dan Pedang Sekeras apa pun hati manusia, dia tidak tercipta dari batu. Kashva berusaha untuk memercayai teori itu. Segarang apa pun penduduk Perbatasan, mereka manusia juga. Bisa disentuh dengan empatik. Hati mereka bisa dibeli dengan hati. Setelah beberapa hari hanya asyik berleha-leha di rumah Guru Kore, hari itu dia putuskan ke luar rumah. Dia harus bersosialisa- si. Bertemu orang-orang. Kalaupun tidak sanggup membincangi mereka, setidaknya Kashva memiliki senyum yang simpatik. Lepas siang itu, sang Pemindai Surga melintasi jalan desa, melihat kesibukan orang-orang. Karena Guru Kore tokoh yang disegani oleh penduduk desa, orang-orang pun akan segan ter- hadap tamu Guru Kore. Seharusnya begitu, batin Kashva. Guru Kore sendiri yang mengatakan bahwa dirinya bukan hanya tamu keluarga Guru Kore melainkan juga tamu seluruh penduduk desa. Tidak ada alasan untuk khawatir. Kashva melintasi lapangan desa yang biasa menjadi pusat kegiatan penduduk. Banyak lelaki desa itu tengah sibuk dengan kerbau-kerbau dan kambing-kambing mereka. Satu per satu di- ikat leher hewan-hewan itu dikalungi tali yang diikatkan pada pasak-pasak menghunjam ke tanah. Kerbau-kerbau mulai ge-
http://ebook-keren.blogspot.com 336 MUHAMMAD lisah, bergerak liar, menyeruduk ke sana-sini, gaduh kaki-kaki mereka. Sebaliknya, kambing-kambing tetap santai memakan rumput segar yang disiapkan bagi mereka. Di tengah lapangan, sebuah lingkaran dibuat dari bunga-bungaan dan rumput segar. Dupa dibakar, menye- bar harum yang mistis. Beberapa lelaki menoleh ke arah Kashva hampir bersamaan, mengangguk tersenyum, kemudian melanjutkan keasyikan mereka. Ada yang mengasah pedang besar, menguatkan tali pada leher hewan- hewan, ada juga yang menambahkan rumput makanan hewan-hewan itu. Mereka mengenakan kostum “seragam” laki-laki desa. Pakaian serbabesar yang berkibar. Warnanya putih, krem, atau putih yang su- dah tua sehingga terlihat seperti berwarna krem. Kepala mereka ditutup lilitan kain berwana putih pula. Ujung lilitannya pendek, tampak kaku vertikal menunjuk ke langit. Kashva memperhatikan sekilas ke salah seorang lelaki di antara mereka. Ta- ngannya menggenggam pedang dengan cara tak sempurna. Jemarinya tidak lengkap. Telunjuknya raib. Jika Mashya serius dengan ceritanya, bisa jadi lelaki itu kehilangan jarinya akibat pertarungan. Menurut Mashya, para lelaki Perbatasan tidak terlalu peduli jika anggota tu- buhnya terpotong, luka permanen, atau berantakan. Harga diri di atas segala-galanya. “Selamat pagi!” Kashva mengulang latihan bahasa “segenggam kerikil kocok” ala Perbatasan yang ia pelajari dari Mashya sehari se- belumnya. Untuk misinya kali ini memang dia sama sekali tidak ingin melibatkan lelaki raksasa itu. Maka cukup dia menanyakan terjemahan beberapa kalimat dalam bahasa Perbatasan lalu meninggalkan Mashya di rumah Guru Kore. Xerxes masih lelap dalam tidur siangnya. Sekarang, Kashva betul-betul berupaya keras untuk mengucap- kan, “Selamat pagi,” dalam bahasa Perbatasan sefasih mungkin. Sebe- lum mengatakannya saja sudah membuat lidah Kashva tergulung rasanya. Belum lagi waswas karena curiga Mashya mengerjainya, mengajari bahasa yang salah atau mengada-ada. Dia baru belajar be- berapa frasa: “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat malam”, “apa kabar?”, “semoga Anda tidak kelelahan.”
http://ebook-keren.blogspot.com 337TONGKAT DAN PEDANG “Selamat pagi.” Ketiga laki-laki itu menjawab dengan kegelian yang nyata pada tawa kecil mereka. Tawa kecil, semacam sengalan. Menyeringai kemudian. Kashva memakluminya. Tentu di telinga mere- ka bahasa Perbatasan yang ia lisankan sungguh terdengar di luar ke- biasaan. Tidak apa-apa. Asal tidak dianggap menghina. Kashva berupaya tak peduli. “Gali?” Itu nama seseorang yang Kashva cari. Guru Kore memberi tahu, di antara para penduduk desa, hanya sedikit orang yang bisa berbahasa India, dan hanya dua orang yang mengusai bahasa Persia: Guru Kore sendiri dan seorang lelaki bernama Gali. Lelaki dengan telunjuk putus segera bereaksi. Dia menyerocos tanpa peduli Kashva mengerti atau tidak. Ia menunjuk ke bukit terjal di belakang desa. Kashva segera menangkap maksud lelaki itu. Lelaki bernama Gali itu sedang berada di bukit itu. Boleh jadi tengah berbu- ru atau sekadar mencari angin. Kashva “menggulung” lidahnya untuk mengatakan terima kasih kemudian beranjak dari persinggahan petu- alangannya siang itu. Gali. Kashva ingin betul menemui lelaki pemilik nama itu. Sebe- narnya tidak harus Gali. Siapa pun, asal dia penduduk perbatasan dan paham bahasa Persia, Kashva ingin menemuinya. Guru Kore masih terlalu sibuk dengan urusannya. Belum banyak perbincangan dengan Kashva. Belum ada obrolan mengenai keunikan daerah Perbatasan apalagi diskusi serius mengenai Kuntap Sukt. Padahal itu alasan utama Mashya membawa Kashva ke desa ini. Sementara ini, Kashva tidak memikirkannya dengan serius. Toh, dia tidak sedang terburu-buru. Masih banyak luang kesempatan sam- pai Guru Kore menyediakan waktu khusus untuk sebuah diskusi yang serius. Sambil menunggu kesempatan berlian itu, beramah-tamah dengan penduduk tidak ada salahnya. Gali, setidaknya bisa menjadi pemandu yang efektif. Atau setidaknya menjadi narasumber baginya untuk tahu lebih banyak perihal seluk-beluk desa-desa di Perbatasan. Kashva mendaki tanjakan menuju bukit yang sudutnya cukup ekstrem. Melangkahkan kaki-kaki, dia berhati-hati sekali. Setapak yang menanjak itu diapit oleh ilalang dan pohon-pohon sishim berse-
http://ebook-keren.blogspot.com 338 MUHAMMAD lang-seling dengan jajaran willow. Melihat alam begini, Kashva merasa tak terlalu jauh meninggalkan Persia. Jenis pohon dan kondisi alam di Perbatasan tak berapa beda dengan kampung halamannya. Sedikit bedanya hanyalah, di Persia dia tidak harus melakukan ini semua. Pendakian yang siang itu memaksa keringatnya meluber dari celah pori-pori. Napasnya menyusul ngos-ngosan kemudian. Kashva berhenti bergerak. Setelah latihan isik terakhir dengan Mashya di Sungai Swat, tulang-belulangnya sudah lupa bagaimana cara bekerja dengan efektif. Otot-otot tubuhnya menegang seketika. Melilit lam- bung kemudian. Dari bukit, meluncur kencang ke arah Kashva seorang pria sepuh dengan setumpuk kayu bertengger di atas kepalanya. Satu tangan me- nahan tumpukan kayu, tangan satunya menenteng pedang. Enteng sekali langkahnya. Meluncur turun dengan santai tetapi trengginas. Kashva menyingkir ke pinggir, memberi jalan kepada pembawa kayu itu agar lancar perjalanannya. Lelaki sepuh nan trengginas itu juga menghentikan jalannya begitu sadar orang yang hendak berpapasan dengannya bukan pen- duduk desa yang dia kenal. Pandangannya menyelidik. Matanya yang gelap seperti bercelak menukikkan tatapan investigasi. “Gali ...,” Kashva yakin kakek di depannya bukanlah Gali. Menu- rut gambaran Guru Kore, Gali tidak akan serenta ini. Namun, meng- hadapi situasi semacam itu, Kashva tidak mendapat kemungkinan lain kecuali menyebut nama. Berubah seketika wajah lelaki tua itu begitu mendengar nama Gali. Lidahnya bersuara ribut. Nadanya tinggi dan sedikit mengotot. Dia segera tahu lawan bicaranya tidak memahami bahasanya sama sekali. Maka isyarat tubuh yang mengambil alih komunikasi. Si kakek tua menujuk ke atas bukit dengan ujung pedangnya. “Gali,” katanya sembari mengayun pedang. “Gali!” Kashva menahan napas. Pemikiran buruk terlintas. Bagaimana jika tanpa alasan jelas, pedang yang menunjuk ke puncak bukit itu mengayun ke lehernya? Namun, itu tidak terjadi. Lelaki pencari kayu mengulang gerakannya, bertubi-tubi hingga Kashva memberi tanda
http://ebook-keren.blogspot.com 339TONGKAT DAN PEDANG bahwa dia telah mengerti. Mengangguk semantap mungkin, tapi me- lewatkan kata terima kasih. Bukan karena dia lupa, tapi memang dia kehilangan padanan ungkapan itu dalam bahasa Perbatasan yang dia hafal. Tapi itu sudah cukup. Pak Tua pembawa kayu di kepala itu ber- pamitan dengan caranya sendiri. Mendaki lagi. Kali ini lebih berhati-hati. Setapak menanjak itu semakin licin dan berliku. Pasir halus sepanjang tebing bukit setiap saat bisa menjadi mimpi buruk. Kashva sudah sampai pada ketinggian yang cukup menggigilkan. Kaki bukit semakin menjauh. Perkampung- an penduduk seperti kotak-kotak mainan bocah. Di utara, pegunung- an dirapati oleh rimbun hutan ribuan tahun, di dalamnya terdapat banyak air terjun. Di timur, sungai besar mengalir membelah India. Dari titik itu pula Kashva menyadari, barangkali dia sedang ber- diri di bagian terindah dari permukaan bumi. Gunung dan bukit ber- harmoni. Berjajar pada keseimbangan yang eksotis. Tak terhitung jum- lahnya. Berderet-deret dengan hamparan hijau seperti karpet yang mengerukupi tekstur alam yang oleh siapa pun tak akan sanggup di- perbandingkan. Titik-titik putih bertebaran di kaki-kaki bukit dan gunung-gu- nung itu. Perkampungan penduduk Perbatasan. Bagi Kashva, masih tak mudah untuk mengerti, alam yang begini indah melahirkan se- buah tradisi kekerasan yang mendarah daging. Sebuah suitan membuyarkan keasyikan Kashva. Seorang lelaki, seperti kebanyakan penduduk Perbatasan, berjalan tegap dan ber- suat-suit. Bukan kepada Kashva suitan itu bertujuan. Seorang bocah laki-laki yang tampaknya berusia di awal belasan muncul dari gerum- bulan semak. Anak yang gerak tubuhnya tampak kelewat aktif jika ti- dak ingin mengatainya liar. Kepalanya gundul, gerak-geriknya lincah penuh tenaga, tatapan matanya setajam serigala. Seperti lelaki yang bersuit tadi, bocah itu memakai baju lengan panjang dengan celana yang sama-sama lebar dan lecek. Dia men- datangi si lelaki yang berjalan berbekal tongkat kayu berujung baja di tangan kanan dan pedang besar terpanggul di bahu. Si bocah berjalan menjejeri seniornya. Lelaki itu sepenuhnya bertampang mengancam.
http://ebook-keren.blogspot.com 340 MUHAMMAD Dua mata menukik tajam. Bukan hanya karena celak yang melingkari mata, tetapi memang demikian sinar matanya memancar. Ada sesu- atu pada komposisi kelopak matanya yang membuat kesan seram dan angker memancar dari tatapannya. Tanpa mempertimbangkan itu semua, dia adalah seorang lelaki yang memancarkan wibawa. Cara jalannya, bahasa tubuhnya tampak penuh perhitungan. Dia mengenakan pakaian yang senada dengan kebanyakan lelaki desa. Serbaputih dan serbapudar. Kepalanya dililit kain tebal yang ujungnya menantang udara, sedangkan syal berbahan tak kurang tebal melin- dungi lehernya dari dingin dan barangkali dari serangan serangga. “Tuan Gali?” Kashva mendatangi lelaki yang berjalan membela- kanginya itu lalu memanggilnya dengan hati-hati. Proil lelaki itu pas dengan gambaran Guru Kore. Tinggi besar, rambutnya oranye, dan selalu didampingi seorang bocah lelaki berkepala plontos dengan ka- rung tercangklong di punggungnya. Itu anaknya. Gali menahan langkahnya lalu menoleh. Keningnya mengerut ke- mudian. Si Bocah berkacak pinggang. Seolah dengan cara itu dia me- nguatkan keangkeran bapaknya. Gali tampak berpikir sejenak.“Kau tamu Guru Kore itukah?” Cerah seketika perasaan Kashva. Tidak perlu repot lagi mem- perkenalkan diri. Kashva tersenyum dan berharap Gali menyambut- nya juga dengan senyum. Tapi tidak ada senyum. “Sedang apa kau di bukit ini? Lokasi ini berbahaya untuk orang asing.” Gali menurunkan pedang. Sebuah tanda bahwa dia menyiapkan sedikit waktu untuk se- buah perbincangan. “Saya,” gugup jadinya Kashva, “saya tidak tahu harus menemui siapa,” menjeda lagi. “Guru Kore masih sangat sibuk dengan banyak urusan, sedangkan saya ingin banyak tahu,” tertawa kecil, “itulah mengapa saya mencari Tuan Gali.” Tidak ada reaksi. Bibir Gali mengeluarkan desisan. Berjalan be- berapa langkah seperti tengah mencari tempat untuk duduk paling nyaman di dunia. Poplar besar yang daunnya keemasan. Gali memberi tanda kepada bocahnya untuk duduk di bawah pohon itu. Tongkat di- letakkan, begitu juga pedang. Dia menunggu.
http://ebook-keren.blogspot.com 341TONGKAT DAN PEDANG Si bocah sigap melakukan sesuatu yang membuat Gali menunggu: mengaduk isi karungnya dan mengeluarkan beberapa benda. Dia me- nyorongkan satu di antaranya. Semacam pipa berisi tembakau yang di- bakar pada ujungnya dan dinikmati asap yang menggumpal darinya. Gali menatap Kashva sekejap. “Apa yang kau tunggu? Kau ingin membawa pergi kehormatanmu?” Dia menyuruhku pergi? “Ah, tentu saja tidak, Tuan Gali.” “Kalau begitu, segera letakkan kehormatanmu.” Kashva baru saja merasa mendapatkan hak untuk mendekat. Dia lalu bergabung dengan bapak anak itu. Duduk di bawah poplar dan menjelajahkan pandangan dan pikiran seliar-liarnya. Setidaknya dia bisa melepas lelah akibat pendakian sebelumnya. “Aku pernah tinggal di Persia beberapa lama,” Gali mulai bicara. “Benarkah?” Kashva tertarik seketika. “Berapa lama?” Gali mengisap pipa lalu menyemburkan asap dari mulutnya. “Cu- kup lama.” Menoleh bocah di sampingnya. “Setelah anak ini lahir, aku kembali ke Perbatasan.” Kashva menangkap sebuah tanda. Dia lalu memperhatikan bocah plontos yang sedari tadi melakukan berbagai hal tanpa bicara itu. “Apakah dia mewarisi darah Persia?” Gali menyeringai. “Kau cukup jeli.” Tangan kirinya mengelus ke- pala plontos anaknya. “Ibunya seorang Persia tulen.” “Mengapa Anda meninggalkan Persia?” Kashva baru saja merasa telah bertanya lancang. “Ah ... Anda tidak harus menjawabnya.” Tidak ada suara beberapa lama. Daun-daun berisik oleh angin, suitan burung, embusan asap. “Penguasa Persia sangat ketat soal aga- ma rakyatnya.” Kasha mengangguk. Dia setuju. “Pernikahanku dengan ibu anak ini mendapat perhatian luar bi- asa,” cekikikan, “padahal kami ini siapa? Hanya karena istriku peng- ikut nabi Zardusht dan aku mengimani Weda.” Kashva menunggu saja. “Kami terus diburu selama berbulan-bulan. Hingga aku putuskan untuk meninggalkan Persia.”
http://ebook-keren.blogspot.com 342 MUHAMMAD “Istri Anda masih di Persia?” “Kami sempat tinggal di desa ini beberapa bulan, sampai tentara- tentara Khosrou datang.” “Apa?” “Mereka memaksa istriku untuk kembali ke Persia tapi menolak anak kami. Akhirnya kami terpaksa berpisah.” Berdehem, mengisap lagi dengan dua mata yang sedikit menyipit. “Ketika itu hampir terjadi pembantaian besar-besaran.” “Pembantaian?” “Kau tahu prinsip orang-orang Perbatasan? Mereka gemar berta- rung dan kasar, tetapi tidak akan pernah menyia-nyiakan tamu. Istri- ku adalah tamu bagi desa ini. Ketika tentara Khosrou datang, semua penduduk bersiap untuk angkat senjata.” Kashva menahan napasnya. “Beberapa lelaki tewas. Banyak lagi yang terluka. Akhirnya istri- ku, perempuan Persia itu, menghentikan pertempuran dengan keluar rumah dan menyerahkan diri kepada para tentara Khosrou.” Gali tampak menahan sesuatu pada dadanya. “Setengah mati aku menahan amarahku. Jika aku melawan, pengorbanan istriku akan sia- sia dan desa ini akan jadi neraka.” Diam sejenak. “Tapi suatu hari aku akan datang lagi ke Persia. Aku akan mencari istriku, ibu anak ini.” “Tunggu,” ada yang menyedak tenggorokan Kashva. Itu berasal dari pemikirannya. Matanya meliar. “Maksud Anda, Khosrou benar- benar melakukan semua itu hanya untuk memastikan tidak ada seorang rakyatnya pun yang berpindah keyakinan dari agama Zoroaster?” Gali tergelak luar biasa. Kashva sampai terhenyak karenanya. Terasa tawa itu tidak pada tempatnya. “Kau lebih tahu perihal itu. Bu- kankah engkau orang dekat Khosrou?” Kashva merasa seperti dicekik. “Anda tahu?” “Guru Kore mengatakannya kepadaku. Lagi pula, aku tahu sang Pemindai Surga sejak masih tinggal di Persia. Syair-syairmu kubaca beberapa. Sayang orang Perbatasan tidak menyukai sesuatu berbau sastra. Itulah mengapa di sini tidak banyak yang pernah mendengar sesuatu tentangmu.”
http://ebook-keren.blogspot.com 343TONGKAT DAN PEDANG Tertelanjangi rasanya Kashva. Tapi ada sesuatu kekhawatiran yang lebih penting dibanding rasa tertelanjangi itu. “Dan Anda tahu mengapa saya berada di tempat ini?” Gali mengangguk sembari merembeskan asap dari bibirnya yang tak terbuka sempurna. “Kurasa kau harus segera meninggalkan tem- pat ini.” Kashva mulai menemukan konirmasi keingintahuannya. “Khosrou pasti akan mengirim pasukannya. Mungkin berkali li- pat dari jumlah tentara yang pernah dia kirim untuk mengurusi aku.” Tertawa aneh. “Itu bisa jadi kiamat bagi desa ini.” Terkesiap Kashva jadinya. Berdenyar sesuatu yang kemudian rata di kepala. “Kau membuat permasalahan yang lebih serius dibanding aku, dan ini kali kedua Desa Perbatasan menjadi tempat pelarian orang Persia. Dua alasan itu sudah cukup bagi Khosrou untuk melumat Per- batasan.” Lemas Kashva seketika.
http://ebook-keren.blogspot.com 48. ‘Utsman Hudaibiyah, siang terik, 628 Masehi. Wahai Muhammad, Lelaki yang Teliti Perhitungan- nya, seperti apakah rasa hatimu ketika Khirasy sampai di kemahmu dan menceritakan penghinaan yang dilakukan ‘Ikrimah terhadap utusanmu itu? Sakit di tubuhnya akibat terpental dari unta tentu tak se- berapa dibanding sakitnya rasa hati oleh penghinaan yang begi- ni nyata. ‘Ikrimah begitu membencimu dan ingin melenyapkan segala hal yang terkait denganmu. Namun, memotong kaki unta utusan yang engkau kirim, bukankah itu sebuah sikap yang be- gitu merendahkan? “Wahai Rasulullah,” takzim Khirasy berkata. Kepalanya me- nunduk. “Utuslah orang yang lebih terlindungi dibandingkan aku.” Engkau tentu maklum dengan sistem yang berlaku di an- tara orang-orang Arab. Mereka yang tidak dijamin oleh suku tertentu akan hidup dalam bahaya luar biasa. Mengirim Khirasy ke Makkah sedangkan di sana tidak ada perlindungan dari suku Ka’b atau pun sekutunya membuat nyawa lelaki itu akan selalu berada di ujung pedang. Engkau mengangguk. Memahami dan mengerti posisi Khi- rasy. Engkau lantas meminta ‘Umar datang ke kemahmu. Untuk
http://ebook-keren.blogspot.com ‘UTSMAN 345 mengemban pesan darimu engkau butuh seseorang yang kuat dan ter- lindungi. Jika bukan ‘Umar, siapa lagi? ‘Umar datang ke kemahmu dengan sikap yang penuh hormat. Dia dulu yang ditakuti karena kekejiannya, kini disegani karena ketaatan- nya kepadamu. Engkau mempersilakan ‘Umar duduk lalu menyampai- kan rencanamu. Engkau ingin mengirim utusan lain yang lebih efektif untuk melakukan pembicaraan dengan orang-orang Makkah. Pilihan- mu jatuh kepada ‘Umar, sahabat sekaligus mertuamu itu. “Ya, Rasulullah, maafkan aku. Tapi, seperti engkau tahu, orang- orang Quraisy paham betul seberapa besar kebencianku kepada me- reka,” ‘Umar berkata tegas tetapi tak memudarkan sikap hormatnya yang penuh. “Lagi pula, ya, Rasul, tidak ada seorang pun dari sukuku, Bani ‘Adi, yang cukup kuat melindungiku.” Engkau menyimak kata-kata ‘Umar dengan ketajaman analisismu. Tidak ada satu kata pun dari apa yang diucapkan ‘Umar meleset dari kebenaran. Mengutus ‘Umar pun rupanya hanya akan menimbulkan permasalahan baru. “Tetapi akan aku tunjukkan kepadamu,” sergah ‘Umar, “orang yang lebih berkuasa di Makkah dibandingkan diriku, lebih kaya di ke- rabatnya, dan lebih terlindungi. Dia ‘Utsman bin ‘Afan.” ‘Utsman, menantumu itu. Tidakkah sejak semula terpikirkan olehmu betapa dia kompeten dalam hal ini, wahai Lelaki yang Gemar Bederma? Ataukah pikiranmu sedang dipenuhi oleh rencana-rencana? Atau justru sebuah memori yang menggelayut, hingga haru dadamu? Kerasnya sikap orang-orang Makkah ini, apakah membuatmu ter- ingat masa-masa sulit dulu ketika engkau masih tinggal di kota berde- bu itu? Dulu mereka begitu keras menentangmu dan kini pun masih seperti itu. Dulu mereka menghinakanmu dan sekarang pun tak juga berubah. Tidakkah engkau ingat tahun kesedihan di Makkah, setelah Kha- dijah istri tercintamu wafat, dan Abi halib, pamandamu, pelindung- mu, terbaring sakit dan kian mendekati napas terakhirnya? Tidakkah semua adegan itu kini mengambang di hadapan mata? e
http://ebook-keren.blogspot.com 346 MUHAMMAD Makkah, 619 Masehi, sebuah kamar berbau kematian. Engkau baru saja datang ke kamar Abi halib dan menyaksikan ke- adaan pamandamu tercinta itu begitu lemah dan memprihatinkan. Usianya telah melampaui masa kegagahannya. Rambutnya putih se- luruhnya. Kulitnya demikian berkerut, matanya menatap seperti se- buah rintihan. Engkau tak sendiri di ruangan itu. Para pemuka Quraisy ada di sana: ‘Utbah, Syaibah, Abu Sufyan, Umayyah al-Jummah, Abu Jahal, dan lainnya. Abi halib memanggilmu untuk sebuah keperluan. Itu berhubungan dengan kedatangan para petinggi Quraisy ke rumahnya dan dengan usianya yang semakin terlihat ujungnya. Rasanya, perjalanan ke Suriah baru kemarin kejadiannya. Eng- kau dan pamandamu itu mampir di biara pendeta bernama Bahira. Ramalan Bahira tentang dirimu, masa depanmu. Dan, masa depan itu adalah hari ini. Engkau baru saja kehilangan istrimu, sahabat dekatmu, penasi- hatmu, ibu seluruh keluargamu: Khadijah. Sesuatu yang meremukkan. Sekarang, engkau dihadapkan pada sebuah kondisi yang tampaknya akan memperparah rasa kehilangan itu. “Orang-orang itu,” kata Abi halib kepadamu dalam kalimat yang lirih, seolah hanya engkau saja yang boleh mendengarnya, “mereka menyuruhku mengatakan kepadamu agar engkau membuat sebuah kesepakatan antara engkau dan mereka. Mereka akan menuruti apa yang engkau minta, tetapi engkau juga harus menuruti apa yang me- reka minta. Mereka memintaku untuk menyuruhmu meninggalkan mereka dan agar engkau membiarkan agama mereka dalam keda- maian.” Selesai. Abi halib terbatuk-batuk. Untuk mengucapkan kalimat panjang itu pun dia seolah harus menguras seluruh tenaganya. Setiap kata disela oleh helaan napas yang menyesakkan dada. “Wahai, Anakku,” belum selesai rupanya. “Kehormatan ini berasal dari kaummu yang telah datang bersama. Terserah kepadamu, akan menerima atau menolaknya.”
http://ebook-keren.blogspot.com ‘UTSMAN 347 Tidakkah engkau merasakan kepiluan pada dadamu, wahai Al-Amin. Pada mata yang dulu engkau selalu menemukan perlindungan, kali ini engkau dapati sebuah keterkaparan. Pamandamu sungguh telah begini lemah dan tak bertenaga. Tidakkah engkau ingin menghiburnya? “Jadi demikian,” katamu. Engkau kemudian menghadapi para pe- mimpin Quraisy yang saat Abi halib membisikimu, mereka mengobrol satu sama lain di pojok kamar dalam suara yang berbisik. Engkau telah menyiapkan sebuah kesepakatan, seperti yang diingini Abi halib. “Ucapkanlah kepadaku sepatah kata. Sebuah kata yang dengan itu engkau akan memimpin orang Arab dan Persia,” katamu. Abu Jahal, lelaki yang membencimu itu membusungkan dada. “Ya, demi ayahmu,” suaranya keluar tanpa ragu. “Untuk itu akan kami ucapkan kepadamu satu kata, dan sepuluh kata lainnya.” “Ucapkan,” katamu. “Tidak ada tuhan selain Allah, dan tinggalkan apa yang engkau sembah selain Dia.” Abu Jahal seketika bertepuk tangan, diikuti mereka yang datang bersamanya. “Wahai, Muhammad. Apakah engkau ingin membuat tu- han-tuhan itu menjadi satu tuhan? Tawaranmu sungguh aneh!” Abu Jahal dan yang lain mulai berbisik-bisik lagi satu sama lain. Suara Abu Jahal yang paling sulit disembunyikan, “Orang ini tidak akan memenuhi apa pun yang kalian minta. Karena itu, lanjutkan cara kalian dan tetaplah pada agama leluhurmu sampai Tuhan memutus- kan antara kalian dan dia.” Semua mata sinis memandangmu. Mereka kemudian menatap Abi halib dengan pandangan meremehkan. Semuanya berpamitan dengan cara yang tidak sopan. Lebih terasa basa-basi. Mereka mening- galkan ruangan itu tanpa sesuatu yang mereka ingin dapatkan saat datang ke sana. “Wahai, anak saudaraku,” Abi halib berkata kepadamu. Lirih dan penuh perjuangan. “Seperti yang engkau saksikan, engkau tidak me- minta mereka sesuatu yang di luar kewajaran.” Alangkah kata-kata Abi halib itu menyegarkan jiwamu. Apakah engkau menangkap kesan bahwa pamandamu mendukungmu dalam hal ide monoteisme itu? Bukankah dia mengatakan bahwa engkau ti-
http://ebook-keren.blogspot.com 348 MUHAMMAD dak meminta kepada Abu Jahal dan kawan-kawannya sesuatu yang berada di luar kewajaran? Bukankah itu sebuah pertanda bahwa Abi halib mendukung tawaranmu itu? “Paman,” katamu kemudian, “ucapkanlah kalimat itu agar aku dapat memohonkan ampun pada hari kiamat.” Apakah itu harapan yang demikian berbinar di wajahmu, wahai cucu ‘Abdul Muththalib? Abi halib menatapmu. Tepat pada titik di pusat matamu. Cin- ta itu belum mati. Dia lelaki yang senantiasa menjadikanmu sebagai muara kasih sayang dan pengorbanan. Melindungimu sepanjang usia. Di saat engkau masih kanak-kanak hingga engkau dewasa. Di kala engkau menderita atau bahagia. “Anak saudaraku,” sungguh berat bagi pamanmu, bahkan untuk mengucapkan kata-kata. “Jika aku tidak takut orang-orang Quraisy akan berpikir bahwa aku mengucapkan kata-kata itu karena takut mati, maka aku akan mengucapkannya. Namun, aku tidak mengucap- kannya selain dengan tujuan untuk memuaskanmu.” Seperti apakah kepedihan yang engkau rasakan? Bahkan orang yang begitu mencintaimu, senantiasa melindungimu, tidak pernah menentangmu, tetapi tak sanggup untuk menjadi pengikutmu. Tak bisa meninggalkan berhala-berhala dan menyembah satu Tuhan saja. Tak lama setelah pembicaraan yang menyakitkan itu, pamanmu be- nar-benar meninggalkanmu. Dia meninggalkan kepedihan tidak hanya karena dia pamandamu, tetapi juga karena dia pemimpin Bani Hasyim. Perlindungannya sebagai kepala klan mengamankanmu selama ini. Setelah dia meninggal, siapakah yang akan menjamin keselamat- anmu di antara beringas orang-orang Makkah yang ingin menghabisi ajaranmu? Abu Lahab, pamanmu yang lain, menggantikan Abi halib sebagai pemimpin Bani Hasyim. Engkau tentu telah berhitung ke- mungkinan. Meski secara formal dia memberimu perlindungan klan, praktiknya dia tidak pernah menghalangi siapa pun yang hendak me- nyakitimu, membahayakan jiwamu. Kejadian-kejadian di Makkah kemudian sungguh menyakitkan. Engkau dan para sahabatmu diperlakukan begitu buruk. Abu Bakar sampai diikat tangan dan kakinya, dibiarkan tergeletak di tengah ja-
http://ebook-keren.blogspot.com ‘UTSMAN 349 lan, disaksikan banyak orang. Bahkan seorang Abu Bakar diperlaku- kan demikian. Padahal dia adalah seorang lelaki penuh kasih, lemah lembut, penyayang, dan tidak pernah menyalakan api permusuhan. Berbeda dengan ‘Umar yang oleh orang-orang Quraisy dianggap berbahaya, Abu Bakar tidak demikian adanya. Dia hanyalah seorang lelaki yang lemah lembut dan penuh kasih. Seorang lelaki semacam Abu Bakar pun menjadi objek serangan para pembencimu, bagaimana dengan dirimu? Hari itu, engkau kembali dari Ka‘bah dengan seluruh kepala dan wajahmu berbalur sesuatu yang tidak layak berada di situ. Kedatang- anmu disambut Fathimah yang berusaha menahan air matanya. Sung- guh remuk rasa hatinya, menyaksikan dirimu begitu dihinakan. Engkau baru saja mengagungkan nama Tuhan sembari menge- lilingi Ka‘bah ketika seorang pembencimu melemparkan kotorannya ke wajah dan seluruh kepalamu. Kotoran najis yang begitu meng- hinakan. Fathimah mengambil wadah berisi air dan berlembar kain untuk mengelap wajahmu. Perlahan, tangan kurusnya terulur, mem- bersihkan wajah muliamu, rambut sucimu. Tangan Fathimah mulai gemetaran. Terguncang oleh tangis yang mulai menyesaki dadanya. Isak tertahan menunggu tumpah. “Jangan menangis, Putriku,” engkau berupaya menenangkan hati putri kesayanganmu. Putri yang senantiasa mengingatkanmu kepada Khadijah, mendiang istrimu yang tidak pernah terganti. “Allah akan melindungi ayahmu.” Belakangan, para pembencimu itu demikian suka mengekspresikan kekesalan mereka lewat hal-hal menjijikkan. Bukankah belum lama berselang sebelum insiden yang membuat Fathimah menangis, eng- kau pun diserang dengan barang-barang menjijikkan? Seseorang melemparkan kotoran ke dalam wadah yang engkau pergunakan untuk memasak. Lain waktu, orang lain melemparkan tulang domba, darah, dan kotorannya ke arahmu sementara engkau sedang mendirikan shalat di serambi rumahmu. Engkau lalu membersihkan segala yang najis itu dari serambi rumahmu menggunakan tongkat. “Wahai anak Abdul Manaf, per-
http://ebook-keren.blogspot.com 350 MUHAMMAD lindungan semacam apa ini?” serumu. Engkau tahu, dia yang menye- rangmu adalah ‘Uqbah, ayah tiri ‘Utsman, menantumu. Suami dari anakmu, Ruqayyah. Sungguh sepeninggal Abi halib para pembencimu itu sesuka hati mereka memperlakukanmu. Sesuatu yang menyesakkan hatimu, membuatmu berpikir untuk mencari perlindungan lain. Tidakkah engkau berpikir untuk meninggalkan rumah, mencari dukungan dan perlindungan dari orang-orang di luar Makkah?
http://ebook-keren.blogspot.com 49. Pemuda Kristen Pembawa Anggur Thaif, hari yang meranggas, 619 Masehi. Engkau melakukannya, wahai Lelaki yang Di Hati dan Li- dahnya Tak Pernah Ada Dusta. Menaiki untamu, engkau mendaki haif sendirian. Engkau tahu, haif adalah sebuah kota perdagangan di atas bu- kit yang subur dan makmur. Orang-orang Quraisy yang kaya memiliki rumah-rumah musim panas di pusat keramaian yang dijuluki Kota Al-Lata itu. Orang-orang Quraisy yang tinggal di sana adalah barisan pertama penentang agamamu. Sekarang, engkau justru mendatangi kota penentangmu itu. Makkah benar-benar telah demikian mendesakmu untuk melakukan apa saja. Secuil kemungkinan apa saja. haif dike- lilingi tembok di atas bukit. Jalan dari Makkah melalui perbukit- an cadas yang memberi pilihan, tebing curam atau jurang. Langkah menuju ke sana saja sudah demikian menyiksa tu- buhmu. Menyeberangi gurun lalu mendaki perbukitan terjal dan berbahaya. Di bawah terik matahari Hijaz, seolah haif mem- peroleh keberkahan yang demikian spesial. Tanahnya subur, menjadi tempat bertumbuh berbagai buah-buahan dan jagung. Vila-vila musim panas bertebaran memberi sebuah pe- mandangan kontras antara bukit dan jurang. Engkau hendak
http://ebook-keren.blogspot.com 352 MUHAMMAD menemui para kepala suku Tsaqif yang berkuasa di haif. Tiga ber- saudara Tsaqif memiliki pengaruh di haif dan engkau berharap me- reka mau mengikuti ajakanmu untuk masuk Islam dan memberimu perlindungan supaya dakwahmu masih bisa bertahan. Agar serangan orang-orang terhadapmu terhenti sekarang juga. Engkau mendatangi orang pertama dari tiga pemimpin itu dengan harapan yang penuh. Engkau berikan senyummu lalu berkata dengan hati-hati dan penuh kesopanan. Engkau meyampaikan kabar gembira itu. Mengenai Tuhan dan ampunan-Nya yang begitu luas. Mengenai Islam dan kedalaman ajarannya yang membawa kedamaian. Tentang dirimu yang diutus untuk menyampaikan kabar gembira itu. “Jika Tuhan benar-benar mengutusmu, aku akan meruntuhkan Ka‘bah!” kata salah seorang dari tiga pemimpin Tsaqif itu setelah eng- kau menyelesaikan kalimatmu. Itu sebuah penolakan. Engkau pun tahu. Maka, dengan langkah yang masih digelayuti keyakinan akan pertolongan Allah, engkau meninggalkannya dan mendatangi pemimpin Tsaqif yang kedua. Ba- rangkali di sanalah peruntunganmu. Di sanalah Tuhan menurunkan malaikat-malaikatnya. Mereka yang akan membisikkan kebaikan ke telinga pemimpin Tsaqif kedua, sehingga mau menerima pesan-pesan keagamaan yang engkau bawa. “Apakah Tuhan tidak mendapatkan orang selain dirimu untuk menjadi rasul-Nya?” ejek pemimpin Tsaqif yang kedua. O, alangkah keras hati mereka. Engkau ditolak untuk kali kedua. Kata-katamu tak bersinar di hadapannya. Seolah engkau mengatakan hal yang sia-sia. Engkau meninggalkan pemimpin Tsaqif kedua dan menaruh harapan kepada lelaki terakhir dari tiga pemimpin kaum penguasa haif itu. Entah kepada siapa lagi hendak engkau mencari bantuan jika pemimpin yang ketiga pun menolakmu. Engkau mendatanginya dengan cara yang sama, tetapi dengan hati yang barangkali lebih siap untuk kemungkinan apa pun. Engkau bertamu lalu mengutarakan maksud kedatanganmu. “Kami tidak ingin berbicara denganmu!” kata lelaki terakhir pe- mimpin Tsaqif. Tidakkah itu menyedihkan hatimu? “Karena, seandai-
http://ebook-keren.blogspot.com 353PEMUDA KRISTEN PEMBAWA ANGGUR nya engkau utusan Tuhan seperti yang engkau katakan, engkau terlalu mulia bagiku, dan seandainya engkau berbohong, tidaklah pantas aku berbicara kepadamu.” Gagal. Kata-katamu yang senantiasa menembus hati pendengar- nya tak berhasil di sini. Tiga pemimpin Tsaqif itu menolakmu bahkan mengejek misimu. Di kota berbukit itu ke mana lagi hendak engkau langkahkan kaki? Toh, engkau tetap berjalan, wahai Lelaki Tegar Hati. Engkau tak menyerah dan yakin, pertolongan Tuhanmu akan turun secepat sam- baran kilat. Engkau baru saja hendak meninggalkan rumah pemimpin Tsaqif terakhir ketika teriakan-teriakan mengejarmu dari belakang. Engkau segera tahu apa yang sedang terjadi. Budak-budak itu di- suruh oleh tuannya untuk menyerangmu, mengusirmu dengan cara kasar dan tidak bermartabat. Engkau segera menaiki untamu dan melarikannya dengan kencang. Tidak hanya para budak, orang-orang yang tak tahu urusan pun bergabung mengejarmu, menghinakanmu. Mereka benar-benar hendak menyakitimu. Alangkah yang engkau alami ini begitu memilukan hatimu, wahai Lelaki Lembut Hati. Engkau buru-buru memasuki perkebunan yang agak jauh dari rumah penguasa Tsaqif tadi. Tahukah engkau bahwa kebun yang engkau masuki dimiliki oleh keluarga Quraisy? Itulah mengapa para pengejarmu bubar begitu engkau memasuki kebun subur yang segar dipandang itu. Mereka yang memiliki perkebunan itu adalah ‘Utbah dan Syaibah dari suku ‘Abd Syams. Keduanya bahkan menyaksikan hal yang bagi mereka sungguh memalukan. Seorang keturunan Quraisy sepertimu dikejar-kejar orang-orang Tsaqif. Mereka duduk-duduk di pinggir kebun sementara engkau meng- ikat untamu di batang pohon kurma lalu berlindung di bawah pohon anggur yang merambat rindang. Engkau duduk di bawah bayangan rindang pohon berbuah manis itu. Apakah engkau tengah menikmati keperihan hatimu? Tidak- kah engkau merasa hidupmu menjadi begitu susah? Engkau yang menawarkan cara hidup yang rapi, taat, dan lebih berarti dihinakan
http://ebook-keren.blogspot.com 354 MUHAMMAD seburuk ini. Dikejar-kejar seperti kriminal, diteriaki seolah engkau le- laki paling hina di muka bumi. Apakah engkau dalam diammu itu membayangkan masa-masa damai dulu? Ketika engkau hidup panjang bersama Khadijah dengan limpahan kebahagiaan. Dua puluh lima tahun penuh cinta dan suara anak-anak. Dukungan Khadijah yang senantiasa berlimpah. Jiwanya, hartanya, dan pengaruhnya menyatu dengan wibawamu. Menyantuni fakir miskin, bertindak penuh kehormatan, dan menjadi pasangan suami-istri yang terpandang. Alangkah dulu tak seorang pun berani merendahkanmu. Atau engkau sedang mengingat-ingat pamandamu, Abi halib? Dia yang senantiasa bisa mengusir segala bentuk bahaya dari sekeli- lingmu. Mengenyahkan ancaman apa pun yang mengintip hidupmu. Apa pun yang engkau pikirkan, tetapi engkau tampak tetap tabah dan terjaga. Sesedih apa pun hatimu, tampaknya engkau tetap memi- lih sahabat terbaik dalam kelapangan ataupun keterdesakan. Apakah engkau sedang mengajak-Nya berbicara sekarang? “Ya, Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidak- berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi. Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau hendak me- nyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan menga- lahkanku?” “Hal itu tidak akan aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepa- daku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri kepada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon ridho-Mu karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu.” Sementara engkau sedang membisiki Tuhanmu dengan kata-kata yang lemah lembut tetapi bertenaga, pasrah tetapi penuh keyakinan, dua orang Quraisy pemilik perkebunan itu berbincang mengenai di- rimu.
http://ebook-keren.blogspot.com 355PEMUDA KRISTEN PEMBAWA ANGGUR Mereka terakhir melihatmu saat pemakaman Abi halib. Bagai- manapun nyeri hati mereka melihat seorang keturunan Quraisy se- pertimu berada dalam kondisi itu. Sendirian tanpa perlindungan klan yang menjamin keamanan. ‘Utbah kemudian memanggil nama seseorang. Orang yang dipanggil dengan satu teriakan itu adalah seorang anak muda berambut keriting, tinggi, berbadan liat, dan tegap. Dia seorang budak bernama Addas. “Petiklah setangkai anggur, letakkan di nampan dan berikanlah kepada lelaki itu.” ‘Utbah menunjuk ke arahmu. “Persilakan dia memakannya.” Tak perlu disuruh dua kali, Addas tahu apa yang harus dia laku- kan. Dia segera mengambil nampan lalu memetik setangkai anggur paling baik, kemudian menghampirimu yang masih termangu dalam kesendirian dan kesepian. “Silakan makan, Tuan.” Addas menghampirimu dan tidak mengucapkan basa-basi apa pun. Tugasnya adalah memberimu setangkai anggur, maka itu yang dia laku- kan. Engkau tersenyum. Memberikan ekspresi terbaik untuk berterima kasih sekaligus memberikan pesan persahabatan yang dalam. Tanganmu mengulur, memetik sebutir anggur, lalu mendekat- kannya ke mulutmu. “Dengan nama Allah,” katamu sebelum mengu- nyah buah segar itu. Addas tampak terpesona. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ada sesuatu darimu yang membuatnya demikian takjub dan nyaris ke- hilangan kata-kata. “Kalimat itu tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini.” Apakah engkau segera menemukan sebuah keistimewaan pada diri pemuda di depanmu, wahai Lelaki yang Selalu Ingin Memberi? Tidak setiap hari ada orang memperhatikan caramu memulai sebuah santapan. “Dari negeri manakah engkau berasal dan apa agamamu?” Addas tampak sumringah. “Agamaku Kristen,” ucapnya. “Aku ber- asal dari Niniveh.” Engkau menatapnya semakin saksama. Addas memang istimewa. Apakah engkau merasa dia menjadi bagian dari rencana Tuhan untuk
http://ebook-keren.blogspot.com 356 MUHAMMAD menghibur hatimu? “Niniveh, kota tempat asal seorang hamba yang saleh, Yunus putra Matta.” Membeliak mata Addas. Bukan karena kemarahan, tetapi oleh ketakjuban, ketidakterdugaan. “Dari mana engkau mengenal Yunus putra Matta?” Engkau tersenyum, suaramu lembut dan menyejukkan. “Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.” Gemetaran tubuh Addas kemudian. Dia buru-buru meletakkan nampan anggurnya kemudian memelukmu dengan kuat. Seperti se- orang sahabat yang berpuluh tahun berpisah lalu bertemu dalam su- asana terbaik. Seperti seorang hamba sahaya yang ingin berterima ka- sih kepada majikannya yang baik budi. Addas melepaskan pelukannya lalu menciumi kepala, tangan, dan terakhir kedua kakimu. Di pinggir kebun, dua majikan Addas berseru penuh kekagetan. Mereka mengamati adegan itu sejak awal. Seruan mereka seperti dua orang yang baru saja menyaksikan adegan paling tidak masuk akal sepanjang sejarah. “Begitu besar perlakuan budakmu,” kata Syaibah. Keduanya tak sabar menunggu kembalinya Addas dari tempat- mu berteduh. Mereka menunggu beberapa lama sampai pemuda itu benar-benar ada di hadapan mereka. ‘Utbah buru-buru menghar- diknya, “Keterlaluan engkau, Addas! Apa yang membuatmu menciumi kepala, tangan, dan kaki lelaki itu?” Addas menundukkan kepalanya. Dia tahu, berkata jujur dan me- naati majikan bisa menjadi dua hal yang berbeda. “Tuan, tidak ada manusia yang lebih baik dibanding dirinya di muka bumi ini. Dia telah mengatakan kepadaku sesuatu yang hanya diketahui oleh seorang nabi.” ‘Utbah berkacak pinggang. “Keterlaluan engkau, Addas! Jangan sampai ia memengaruhi agamamu karena agamamu lebih baik dari- pada agamanya.” Addas tak menjawab. Dia menggerakkan kepalanya sedikit. Me- lihat ke jalan setapak yang mengantar siapa pun ke luar haif. Dua majikannya memandang arah yang sama, tetapi dengan cara berbeda. Addas berharap masih bisa melihat bayanganmu meski hanya titik hi-
http://ebook-keren.blogspot.com 357PEMUDA KRISTEN PEMBAWA ANGGUR tam yang bergerak meninggalkan haif, sementara kedua majikannya barangkali kebingungan karena di tengah ketidakberuntunganmu, engkau masih mampu membuat perubahan pada seseorang. Boleh jadi, dua majikan Addas itu seperti juga para Quraisy lain- nya, mulai khawatir, suatu saat, apa yang engkau lakukan bisa mem- bahayakan posisi mereka di haif.
http://ebook-keren.blogspot.com 50. Kami Kasar tapi Bukan Orang Kejam Waktu yang sama di Bukit hijau, wilayah Perbatasan. “Saya tak menyangka tentara Khosrou akan memburu Anda sampai Perbatasan.” Butuh jeda beberapa lama sebelum Kashva mene- mukan lagi momentum untuk berbicara. Gali mengangguk lega, “Dia ingin menjadi raja dunia. Tapi kekuasaannya akan runtuh tak lama lagi, kurasa.” Kashva menatap Gali serius. “Ramalan Zardusht itu?” Gali mengangguk lagi, berkali-kali. “Ramalan Zardusht dan karma. Dia sudah terlalu banyak berbuat semena-mena.” “Anda tahu sekali tentang ramalan Zardusht, rupanya?” “Guru Kore tahu banyak hal. Kami sering berdiskusi sem- bari merokok dan menyeruput kopi hijau.” Diam agak lama. “Mungkin Guru Kore akan menyarankanmu pergi ke Tibet,” lanjut Gali. “Tibet?” Gali mengangguk lagi. Rokoknya tuntas. “Tiongkok terlalu asing, India berbahaya, Tibet pilihan paling masuk akal. Di sana kehidupanmu terpisah dari dunia. Lagi pula engkau bisa belajar banyak hal kepada para lama. Mereka memiliki ramalan yang mirip dengan yang dikatakan Zardusht.”
http://ebook-keren.blogspot.com 359KAMI KASAR TAPI BUKAN ORANG KEJAM “Saya punya kenalan di Tibet.” Berbinar mata Kashva kemudian. “Dia seorang lama di biara kaki Gunung Anyemaqen. Tapi dia belum pernah menyebut-nyebut tentang hal itu.” “Aku pernah bertemu dengan orang-orang Tibet. Ramalan itu sangat populer di sana.” Kashva tampak begitu antusias, “Anda tahu seperti apa bunyinya?” Gali menggeleng. “Aku mengimani Weda. Tidak mengerti tentang ajaran Buddha. Tapi kurasa Guru Kore mengetahuinya.” Gali memberi tanda kepada anaknya untuk menyiapkan rokok baru baginya. “Kau pernah ke Tibet?” tanyanya kemudian. Kashva menggeleng. “Saya dan lama itu saling berkirim surat be- berapa tahun terakhir.” “Jika kau ke sana, kau yakin bisa sampai ke sana tanpa tersesat?” “Mashya akan mengantar saya.” “Mashya .... “Gali mengangguk-angguk tak jelas. “Iya ... dia akan menjadi pemandu yang baik.” “Anda mengenalnya?” Gali tergelak. “Bertahun-tahun dia tinggal di Perbatasan, berpin- dah-pindah, mengecoh para mata-mata Khosrou yang memburunya selepas kabur dari penjara Kerajaan Persia. Dia memang benar-benar licin.” “Pantas dia sangat memahami bahasa Perbatasan.” Tiba-tiba kepala Gali menyorong tajam. “Apa yang Mashya cerita- kan tentang penduduk Perbatasan?” Kashva terkesiap. Tidak buru-buru menjawab. Gali tergelak de- ngan cara yang berlebihan. Badannya terguncang-guncang. “Pasti Mashya sudah menakut-nakutimu, bukan?” Kashva menunggu sampai Gali menyelesaikan tawanya lalu meng- arahkan mata ke wajahnya. Kashva mengangguk. “Tidak persis seperti itu. Dia hanya mengatakan bahwa orang-orang Perbatasan adalah pe- tarung hebat.” “Hanya tahu cara membunuh dan cara untuk mati?” Kashva mengangguk lemah. Gali tergelak lagi. “Kami memang ti- dak suka basa-basi dan suka berkelahi. Tapi aku yakin Mashya sudah
http://ebook-keren.blogspot.com 360 MUHAMMAD melebih-lebihkan ceritanya.” Tawa Gali mereda. “Bukankah engkau di- perlakukan baik oleh Guru Kore dan penduduk desa?” “Tentu saja.” “Kami memang orang-orang kasar, tetapi tidak sembarangan.” “Mashya pernah mengatakan, bahkan para lelaki Perbatasan bisa bertarung dan saling bunuh hanya karena berebut makanan dalam se- buah pesta pernikahan?” Tawa Gali menjadi-jadi. “Dan Mashya menjadi salah satu di antara lelaki yang bertarung itu.” “Apa?” “Pertarungan itu sudah menjadi bagian hidup para lelaki Perba- tasan. Tanpa pertarungan, hidup seperti makanan tanpa bumbu. Kau jangan heran tentang itu.” Tawa Gali sampai memerahkan matanya. “Dulu Mashya selalu menantang duel siapa saja. Hanya aku yang sang- gup menandinginya.” Kashva menelan ludah. Ini pengetahuan baru tentang Mashya. “Anggap saja itu latihan isik yang menguatkan tubuh.” “Tak peduli jika badan terluka, tangan kehilangan jarinya?” Dua bahu Gali terangkat. “Dalam latihan pun ada yang celaka, bu- kan?” “Tetapi kudengar orang Perbatasan begitu pendendam. Tidak bisa menerima penghinaan sekecil apa pun, pilih mencuri daripada mengemis ....” “Apakah menurutmu mengemis tindakan mulia?” Gali memotong kalimat Kashva dengan beringas. “Ehm ... setidaknya jika dibandingkan mencuri ....” “Mencuri itu tidak masalah jika engkau mencuri dari orang kaya yang pelit,” kalimat Gali meninggi. “Itu hanya cara untuk mengambil hak orang miskin dari orang banyak harta yang tidak mau berbagi.” Kashva bisu mendadak. Gali meneruskan omongannya, “Berkelahi itu tidak berdosa. Men- curi dari orang pelit itu juga tidak dosa.” Pandangan Gali sekarang ber- pindah ke pucuk-pucuk gunung yang berwarna cokelat pucat. “Kalau
http://ebook-keren.blogspot.com 361KAMI KASAR TAPI BUKAN ORANG KEJAM kau dipukul dada kananmu, balaslah dengan memukul dada kiri orang yang memukulmu.” “Termasuk jika masalahnya hanya sepiring makanan dalam se- buah pesta pernikahan?” Gali mengangguk mantap. “Itu tidak apa-apa. Tidak mendapat dosa. Yang berdosa itu yang memancing pertarungan. Orang yang per- tama kali memukul.” Kashva melongo. Berupaya memaklumi kata-kata Gali meski tam- pak otaknya tak sanggup lagi. “Tadi saya lihat ada kesibukan di lapang- an desa,” Kashva mengalihkan tema pembicaraan. “Kerbau-kerbau dan kambing-kambing diikat, berkumpul di lapangan. Ada perayaan apakah?” Gali mengangkat alis. “Dasain. Mereka hendak menyembelih kerbau dan kambing jantan tengah malam nanti.” Tangan Gali meng- umpamakan gerakan pedang. “Sekali tebas, kepala hewan menggelin- ding.” Kashva keheranan, “Untuk apa?” “Untuk memuja Dewi Durga, istri Dewa Syiwa.” “O, ya?” “Pada hari-hari Dasain ini, Sri Rama mengalahkan Rahwana yang menculik Dewi Shinta di Pulau Lanka. Di hari-hari Dasain juga Dewi Durga berhasil menaklukkan Mahisasura, siluman berkepala kerbau.” Kashva berdehem, mengangguk-angguk penuh antusias. Selain diskusi dengan Guru Kore, dia baru menemukan alasan lain untuk tinggal lebih lama di desa Perbatasan ini.
http://ebook-keren.blogspot.com 51. Gemerlap Dinding Gunung Sambil memeluk kotak kayu bertuahnya, Kashva mening- galkan rumah Guru Kore. Ini pasti akan sangat menan- tang. Dalam hati, Kashva mengulang janji Guru Kore sehari sebelumnya. Dia akan mengajak diskusi Kashva perihal ayat-ayat Kuntap Sukt. Belajar langsung dari ahlinya. Setelah satu pekan berada di Desa Perbatasan, kemarin baru Guru Kore menyinggung perihal lembaran-lembaran Kuntap Sukt. “Kita sudah sama-sama maklum bahwa kedatangan Anda ke Perbatasan dan bertemu saya adalah untuk mencari tahu makna ayat-ayat Kuntap Sukt,” kata Guru Kore blak-blakan. “Sa- ya merasa waktu kita tak banyak lagi dan hal itu baiknya segera kita lakukan.” “Saya tidak memaksa jika Guru Kore keberatan. Ini sama sekali tidak mendesak,” kelit Kashva karena ketidakenakannya. “Apa yang saya katakan pun bukan garis akhir untuk pen- carian Anda, Tuan Kahsva.” Senyum melintang penuh teka-teki. “Perjalanan Anda masih panjang.” Akhirnya perbincangan itu diakhiri dengan kesepakatan tempat dan waktu untuk bertemu. Guru Kore menolak membin- cangkan isi Kuntap Sukt di rumahnya atau di salah satu rumah
http://ebook-keren.blogspot.com 363GEMERLAP DINDING GUNUNG di Desa Perbatasan. Dia ingin menemui Kahsva di luar pedesaan. Isi ayat-ayat suci itu terlalu rahasia. Kashva senang-senang saja. Tidak menjadi masalah di mana me- reka akan berbicara. Kesepakatan itu menjadi ujung kepenasarannya selama satu pekan. Baik Mashya, apalagi Kashva, tidak berani memu- lai obrolan mengenai ajaran kuno itu karena mereka sadar, Guru Kore tahu benar apa tujuan kedatangan keduanya. Kalau Guru Kore belum menyinggung mengenai hal itu, berarti memang dia belum merasa datang waktu untuk membincangkannya. Jadilah pekan pertama keberadaan Kashva di desa itu dia habis- kan untuk berkeliling desa. Seperti kata Guru Kore ketika kali pertama Kashva datang, lelaki Pemindai Surga itu segera berhasil beradaptasi dengan perilaku sosial dan tata krama penduduk setempat. Termasuk mengikuti upacara Dasain yang menggetarkan. Ketika kepala-kepala hewan kurban menggelinding dalam sekali tebasan, butuh ketegaan untuk menyaksikannya tanpa menutup mata. Selain hal baru itu, Kashva pun segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengelilingi kepalanya. Mengenai sikap mental orang-orang perbatasan dan prinsip-prinsip hidup yang mere- ka anut dan praktikkan. Orang-orang Perbatasan sangat tidak mudah jatuh cinta. Mereka membutuhkan waktu yang panjang untuk mengenal seseorang de- ngan baik dan menganggap orang itu sebagai sekutu. Mereka orang- orang berambisi besar, tidak sabaran, dan sangat suka bertarung. Oleh karena kebiasaan itulah banyak dari para lelaki Perbatasan yang mati muda. Namun, cukup satu pekan bagi Kashva untuk membuat simpulan, orang-orang Perbatasan ini bukanlah pembunuh kejam. Mereka cuma korban harga diri yang salah eksekusi. Kekasaran orang-orang itu di- sebabkan oleh harga diri yang selangit sekaligus kemiskinan yang me- nyesakkan. Ini perpaduan yang hanya terasa indah jika dilukiskan dalam pu- isi atau prosa para seniman. Sifat yang keras, isik yang kukuh, ber- baur dengan hati yang sensitif. Dalam kehidupan nyata, perpaduan
http://ebook-keren.blogspot.com 364 MUHAMMAD itu lebih banyak menumpahkan darah dibanding harmoni yang me- nyejukkan. Rupanya untuk itu Guru Kore membiarkan waktu satu pekan ba- gi Kashva untuk belajar banyak hal. Bagi Xerxes pun sungguh menye- nangkan. Dia segera mendapatkan kawan-kawan seusianya. Bermain ke sana kemari dan sejenak lupa akan kepenatan hidupnya di negeri orang. Toh, Kashva tidak pernah lewat untuk mengingatkan Xerxes setiap hari agar bocah itu menjaga kelakuannya. Jangan sampai mem- buat anak-anak Perbatasan merasa tersinggung atau terhina. Urusan- nya bisa sangat berbahaya. Anak-anak Perbatasan konon sudah bela- jar untuk membalas dendam sejak mereka lahir. Mashya tidak kesulitan untuk menemukan dunianya di wilayah Perbatasan itu. Sembari mengawasi perkembangan, dia mengaduk hari-harinya dengan berlatih isik bersama para laki-laki desa. En- tah mengadu senjata, ikut berburu, atau apa saja. Dia tidak kesulitan membauri mereka karena Mashya sempat bertahun-tahun tinggal di berbagai desa di wilayah Perbatasan. Sebuah episode setelah dia kabur dari penjara Khosrou bertahun-tahun silam. Pagi itu dingin betul. Seolah musim dingin datang lebih cepat dari waktu biasanya. Kashva keluar rumah buru-buru. Badannya berseli- mut. Menahan dingin sekaligus menutup kotak kayu yang ia peluk. Guru Kore bangun lebih dulu rupanya. Dia pasti sudah menung- gu di luar desa. Membincangkan Kuntap Sukt tak boleh sembarangan. Sembarang orang apalagi sembarang tempat. Guru Kore sudah memilih tempat pertemuan yang istimewa. Sebuah gua di atas dinding-dinding gunung yang gemerlap, sebelah utara desa. Pertama kali, Kashva mende- ngar tentang gunung yang dindingnya gemerlapan dari cerita Gali be- berapa hari lalu. Ketika Guru Kore mengulangnya, dia menjadi sedikit penasaran. Kashva yakin itu hanya dramatisasi belaka. Bagaimana bisa dinding-dinding gunung gemerlap seperti istana raja? Kashva menggegaskan langkahnya. Dia meninggalkan rumah ku- bus yang lembap oleh udara, sementara di dalamnya Mashya dan Xer- xes masih terlelap dikerukup selimut. Tidak apa. Kenikmatan tidur itu Kashva korbankan pagi ini untuk sesuatu yang lebih besar.
http://ebook-keren.blogspot.com 365GEMERLAP DINDING GUNUNG Dia segera sampai ke lembah dan meniti jalur hijau yang biasa menjadi tempat penduduk Perbatasan menggembalakan ternak mere- ka atau berburu. Udara menusuk-nusuk. Menyeberangi aliran sungai kecil pada waktu kabut bahkan masih bertengger di permukaan tanah sugguh menyakitkan. Dinginnya menembus tulang. Dia mulai mendaki. Ini bagian gunung yang berlawanan arah de- ngan bukit tempat Kashva bertemu dengan Gali. Jalur jalannya lebih licin dan tak mudah ditaklukkan. Kashva mesti menggunakan intu- isi terbaiknya untuk menghindari area yang rawan erosi, atau justru batu-batu besar yang menghalangi. Seharusnya sudah terlihat dari sini. Kashva menoleh ke setiap pen- juru. Mencari-cari. Seketika pandangannya diringkus takjub yang membekukan. Sebuah gunung menjulang dengan dinding-dinding gemerlapan. Sedikit saja sinar matahari yang mengintip memantulkan cahaya cemerlang pada permukaan dinding-dinding tatahan alam. Batu-batu yang menyusun dinding gunung itu sungguh cemer- lang. Jauh lebih gemerlapan dibanding istana Khosrou sekalipun. Per- paduan yang sulit dilukiskan. Atau setidaknya, kehalusan lukisan pun tak akan mampu memindahkannya dengan sempurna ke permukaan kanvas. Dinding-dinding gunung yang gemerlapan dan alam subur yang membentang tanpa habis. Seperti di negeri dongeng. Adakah surga pun diciptakan seindah ini? Pandangan Kashva kembali mencari-cari. Segera dia menemukan sebuah ceruk di atas lembah. Tidak terlihat jelas. Lubang hitamnya se- dikit mengintip di antara rimbun pepohonan. Tak salah, pasti. Kashva bergegas lagi. Banyak gerakan, semakin cepat, sedikit mengurangi dingin yang membungkus dirinya, menembus kain tebal yang dipin- jamkan oleh Guru Kore. Licin jalur menuju gua itu. Sesekali Kashva nyaris terpelanting menginjak ilalang yang tertimpa buliran embun. Ceruk gua itu sema- kin nyata. Semangat Kashva kian berlipat. Dia segera sampai di depan gua yang ternyata cukup lega. Bentuk lubangnya tak beraturan. Sedikit oval, tetapi tidak rapi. Stalagmit dan stalagtit di mana-mana. Bukan- nya hangat, semakin ke dalam udara tambah lembap dan mencekat.
http://ebook-keren.blogspot.com 366 MUHAMMAD “Guru Kore.” Menggema. Memantul dari dinding ke dinding. Tak ada balasan. Suara air menitik. Kashva masuk ke gua pelan-pelan. Menoleh ke sana kemari dengan hati-hati. “Sebarkanlah kebenaran, wahai engkau yang mengagungkan.” Suara menggaung. Terasa berwibawa dan menghangatkan. Kash- va mencari dari mana asal suara itu. “Sebarkan kebenaran, seperti seekor burung yang bernyanyi di atas pohon berbuah ranum. Bibir dan lidahmu bergerak laksana pe- dang yang tajam.” Jelas suara Guru Kore. Hanya saja terdengar lebih bertenaga dan sakral. Kashva tahu kalimat yang menggema itu bagian dari Kuntap Sukt yang mulai dihafalnya di kepala. Kashva masih mencari-cari. Ke- palanya tolah-toleh. Dia pun kemudian mengucapkan bunyi suci Kun- tap Sukt yang ia ingat, “Mereka yang berdoa berlari bak sekawanan banteng perkasa. Hanya anak-anak mereka yang menunggu di rumah, dan di rumah anak-anak itu menunggu induk sapi.” Suara Kashva memantul-mantul. Lengang kemudian. “Wahai engkau yang memuji Tuhan, pegang teguhlah kebijak- sanaan yang memberimu sapi dan kebaikan. Sebarkanlah ini kepada mereka-mereka yang mendapat tuntunan, seperti seorang pemanah mengarahkan mata panahnya.” Suara Guru Kore lagi. Kashva melangkah masuk gua lebih dalam. Sosok remang yang semakin jelas menghampirinya. Dia lelaki yang Kashva cari, berjalan dari kegelapan menuju ke mulut gua. Guru Kore menyambutnya dengan senyum melebar. “Bagaimana pendakianmu, Tuan Kashva?” “Cukup baik, Guru Kore. Banyak hal menarik.” Guru Kore tersenyum, seperti biasa. “Sudah siap untuk mendis- kusikan Kuntap Sukt?” Kashva menegakkan kepalanya. “Lebih dari kapan pun.” “Semangat yang bagus.” Guru Kore menggunakan telapak tangan- nya untuk mempersilakan Kashva bergabung dengannya. “Bawa ke- mari kehormatan Tuan.”
http://ebook-keren.blogspot.com 52. Serbuan “Yim terlalu berlebihan jika mengira aku tahu sangat banyak tentang makna Kuntap Sukt.” senyum Guru Kore mengambang gamang. “Ayat-ayat itu terlalu suci dan sulit ditembus. Kita hanya bisa membuat tafsiran-tafsiran.” Tuan rumah dan tamu pemburu ilmu itu duduk berhadapan kini. Guru Kore bersila dengan sikap tangan yang sama, Kashva mengikuti tetapi tanpa sikap meditasi. “Setidaknya Guru Kore telah menekuni ayat-ayat ini dalam waktu lama.” Guru Kore mengiyakan dengan anggukan kecil. “Kata kun- tap artinya penghapus kesengsaraan dan masalah. Kuntap ter- bangun dari dua kata: kuh yang artinya dosa dan kesengsaraan, sedangkan tap maknanya pembasmi. Kuntap bisa bermakna ‘pembasmi dosa dan kesengsaraan’. Semua ayat di dalam Kuntap Sukt menyebutkan perihal penghapus kesengsaraan dunia.” “Bukankah kata Kuntap juga bermakna ‘kelenjar yang ter- sembunyi di dalam perut’?” Kashva menyela. Dia benar-benar tak sanggup menahan banjir keingintahuannya. Guru Kore melepas sikap jemari di depan dadanya lalu me- letakkan dua kepalan tangannya di atas dua dengkulnya. “Ba- rangkali, karena makna sejati ayat-ayat itu memang tersembu-
http://ebook-keren.blogspot.com 368 MUHAMMAD nyi dan baru akan terungkap pada masa yang akan datang. Semua kitab paling kuno tidak ada yang lewat menyebut Kuntap Sukt. Aitreya Brahmana, Kaushitki Brahmana, Shankhayana Shraut Sutar, Ashvlayana Shraut Sutar, Vaitran Sutar, sampai Gopath Brahmana. Tetapi tetap saja menjadi misteri.” “Teka-teki yang tidak terpecahkan?” Guru Kore mengangguk. “Sampai waktunya tiba.” Kashva meletakkan kotak kayu legendarisnya di depannya persis. Membuka dan mengeluarkan manuskrip-manuskrip Kuntap Sukt yang diberikan Astu di Gathas. “Ayat pertama,” katanya, “saya menangkap ada nubuat hebat di dalamnya.” Manuskrip digelar, Kashva mulai membacanya, “Dengarkan, wahai Manusia! Pujian agung akan dilan- tunkan. Wahai, Kaurama, kita telah terima dari para Rushamas enam puluh ribu sembilan puluh.” Kashva mengadu pandangannya dengan Guru Kore. Sang Guru tampak serius dalam perenungannya. “Sepanjang sejarah India, bunyi ayat itu masih menjadi teka-teki. Bahkan terjemahannya pun ada be- berapa.” Kashva tampak sangat tertarik dengan kalimat terakhir Guru Kore, “Menurut Guru Kore, terjemahan saya tidak sepenuhnya benar?” Guru Kore tidak menjawab dengan kata ya atau tidak. “Wahai, Ma- nusia! Dengarkan ini dengan takzim! Manusia terpuji akan diagungkan. Wahai Raja yang Pengasih, kami menemukan enam puluh ribu sembilan puluh pria gagah berani menghancurkan musuh-musuh mereka.” “Agak berbeda,” komentar Kashva. “Maknanya kurang lebih sama,” sambung Guru Kore. “Aku cen- derung lebih sepakat dengan terjemahan Anda.” Kashva mengangguk. “Pemilihan kata astvishyate untuk menun- juk seseorang yang akan mendapatkan pujian agung pada terjemahan saya, atau manusia terpuji pada terjemahan Anda sungguh menarik. Bukankah kata itu merujuk pada sesuatu yang belum terjadi?” “Belum terjadi pada saat ayat ini diturunkan,” komentar Guru Kore, “ribuan tahun lalu.” Dijeda napas panjang. “Makna paling men- dekati, dia kelak terpuji.”
http://ebook-keren.blogspot.com SERBUAN 369 “Jelas ini sebuah nubuat.” “Tidak ada ayat di dalam empat Weda yang lain secara tegas mem- beri perintah kepada umat agar mendengarkan kata-kata dalam ayat ini dengan penuh hikmat dan khusyuk, selain ayat pertama Kuntap Sukt.” Kashva merasa takjub dengan apa yang dia yakini selama ini. Benar-benar tidak berbeda jauh dengan apa yang ditafsirkan Guru Kore. Di luar gua, pematang-pematang cahaya mulai terbentang. Mem- bawa terang dan kehangatan. Di dalam dada Kashva merekah energi pengetahuan yang memang selama ini menjadi sumber kekuatannya menempuhi hari-hari. “Rishi penerima Weda memberikan nama kepada orang terpuji yang dijanjikan itu Narashansah Astvishyate,” sambung Guru Kore. “Dia akan diagungkan. Tuhan akan mengagungkannya, demikian juga dengan manusia.” “Narashansah Astvishyate ...,” nama itu seperti puisi di telinga Kashva ketika mengulangnya dengan takzim. Guru Kore mengangguk. “Maknanya, yang terpuji dari kalangan bangsanya.” “Apakah benar ayat-ayat ini membicarakan kedatangan seorang penyelamat? Pangeran Kedamaian?” “Menurut Anda, Tuan Kashva?” “Hampir di semua tradisi agama berbagai bangsa, selalu ada nu- buat tentang seseorang yang dijanjikan. Kuntap Sukt menambah daf- tar itu.” Guru Kore memejamkan matanya. Seolah kalimat yang hendak dia katakan menuntut konsentrasi sempurna. “Lantunkanlah pujian bagi raja dunia yang serupa cahaya, laksana dewata dan terbaik di an- tara manusia. Dialah penuntun bagi semua manusia dan memberi perlindungan kepada semua.” Kashva takjub dengan cara Guru Kore melafalkan ayat-ayat itu, meski demikian sering dia membacanya sendiri. Kashva percaya, ke- imanan spiritual di balik dada Guru Kore yang menuntun kata-kata- nya menjadi terdengar begitu suci dan mulia. Dengan cara yang aneh, perbincangan ini seketika mengingatkan diskusi-diskusinya dengan
http://ebook-keren.blogspot.com 370 MUHAMMAD Astu di masa lalu. Ada yang menekan dada Kashva dengan semena- mena. Rasa ingin bertemu Astu. Memastikan dia baik-baik saja. Astu baik-baik saja. Parkhida menjaganya. Lagi pula aku tidak punya hak apa-apa. Buru-buru Kahsva menepis lamunan itu. “Raja Dunia, Cahaya, Penuntun Umat Manusia, Pelindung Semua Bangsa,” Kashva memeras sari pati kata-kata Guru Kore barusan. “Jika dia memang ada, alangkah sempurnanya sang Pangeran Kedamaian itu.” Guru Kore melanjutkan kalimatnya, “Dia memberi perlindungan kepada semua orang, membawa damai bagi dunia, semenjak dia ber- kuasa. Para pria di tanah Kuru membicarakan sang Pencipta Damai ini ketika membangun rumah mereka.” Kashva memeriksa dokumen suci miliknya. “Bunyi ayat itu tidak ada dalam teks yang saya miliki.” Mencari-cari. “Memang tidak ada.” “Yim memang hanya memiliki sebagian saja, Tuan Kashva. Seba- gian ada padaku. Sebagian lagi tersebar di seluruh India.” “Begitu jelas petunjuk pribadi Pangeran Kedamaian dalam Kuntap Sukt yang ada pada Anda.” Guru Kore menggeleng senyap. “Dimengerti kata-katanya, tetapi tetap misteri siapa yang dimaksudkan di dalamnya.” “Apakah memang kedatangan seorang Pangeran Kedamaian be- gitu dibutuhkan?” “Lebih dari kapan pun,” nada suara Guru Kore merendah sedikit, “dunia sudah begini kacau. Para penguasa di Barat dan Timur saling menghancurkan tanpa memikirkan nasib rakyat, agama diinjak-injak, diseret ke ranah kekuasaan.Terlalu menyedihkan.” Kashva bersikap sepi oleh karena rasa sepakatnya terhadap pen- dapat Guru Kore. Di tanah kelahirannya, agama pun telah menjadi alat kekuasaan. Tinggal remah-remahnya saja. Unsur-unsur yang diguna- kan Khosrou untuk mengendalikan kepala-kepala rakyatnya. Agama yang hanya ritual semata. Tak jelas lagi apa inti dan tujuannya. “Dan,” Kashva merasa perlu untuk berkomentar, “kita tidak per- nah tahu siapa itu Pangeran Kedamaian, kapan, dan di mana dia akan dibangkitkan?”
http://ebook-keren.blogspot.com SERBUAN 371 “Tepatnya kapan, kita tidak punya pengetahuan tentang itu. Na- mun, tanda-tanda kehadirannya akan terlalu nyata untuk ditampik.” “Maksud Anda?” “Kuntap Sukt secara gamblang menggambarkan suasana dunia ketika sang Pangeran Damai berkuasa. Dia disebut juga sebagai Raja Parikshit.” Guru Kore sejenak terdiam sebelum memulai lagi kata-kata, “Di tanah Ra- ja, yang memberi damai dan melindungi semua, seorang istri bertanya ke- pada suaminya, apakah dia perlu menghidangkan kepala susu atau arak?” “Artinya, para wanita memperoleh kebebasan?” Guru Kore mengangguk lemah. “Gandum ranum muncul dari re- kahan tanah dan menjulang ke angkasa. Penduduknya hidup makmur semasa kekuasaan sang Raja yang melindungi semua.” “Itu perumpamaan agama yang kukuh menghunjam di sanubari para penganutnya.” Seperti sajak bertaut. Keduanya kemudian saling membahas ayat- ayat Kuntap Sukt dan penafsirannya. “Sapi, kuda, dan manusia berkembang biak di sini karena di sini berkuasa dia yang sangat dermawan yang mendermakan dan mengor- bankan ribuan.” Kashva terdiam sekian detik. “Saya rasa,” berpikir lagi, “ayat itu menggambarkan pribadi Pangeran Kedamaian. Pribadi yang suka be- derma.” “Kami nyanyikan pujaan bagi pahlawan agung dan dengan lagu yang menyenangkannya. Terimalah pujaan ini dengan gembira wahai Pahlawan, sehingga kejahatan tidak akan menguasai kita.” “Pujian yang begitu rendah hati.” Kashva tak tahu harus berkomen- tar apa lagi. Guru Kore menatap Kashva sungguh-sungguh. “Itu ayat Kuntap Sukt terakhir yang kumengerti.” “Indah sekali,” Kahsva hampir habis kata-kata, kepalanya mengge- leng-geleng. “Beruntungnya saya bertemu dengan Anda, Guru Kore.” Guru Kore tersenyum lagi. “Ada sebuah penggambaran lain ten- tang Pangeran Kedamaian dalam Atharva Weda yang sampai hari ini membuatku demikian penasaran.”
http://ebook-keren.blogspot.com 372 MUHAMMAD Kashva tahu dia tidak perlu bertanya. Guru Kore tengah menyiap- kan kalimat penerusnya, “Sebuah penggambaran perang yang unik.” Diam sesaat. “Tuhan Yang Mahabenar! Minuman pembebas ini, tin- dakan penuh keberanian, dan kidung penuh inspirasi membahagia- kanmu di medan laga. Ketika engkau menampakkan diri, sepuluh ribu musuh bertekuk lutut bersama Yang Dipuja, wahai Yang Tersayang.” “Pertempuran unik?” “Kata-kata terakhir dari ayat ini berbunyi aprati ni barhayah, ke- kalahan diberikan kepada musuh tanpa adanya darah yang tertumpah. Secara langsung berarti, ‘engkau kalahkan mereka tanpa berjuang se- dikit pun’.” “Menang tanpa pertempuran?” “Perang yang dibantu oleh langit. Pertolongan Indra: dewa pe- nguasa petir dan topan badai,” Guru Kore menyiapkan energinya yang tampak terenggut sekerat demi sekerat setiap dia membaca ayat-ayat suci Weda. “Wahai Indra, kau telah buat sepuluh ribu musuh kabur dari medan perang tanpa bertarung sedikit pun.” Kashva mengangguk. “Menarik.” “Engkau terus berperang dengan berani menghancurkan berbagai benteng dengan keberanianmu, bersama temanmu yang memuja Tu- han, telah menghancurkan dari jauh Namiuchi yang licik dan peng- khianat.” “Namiuchi ....” Kashva buru-buru membuka teks pemberian Astu. “Saya pernah membahasnya dengan Astu.” Mendongak. “Saya kira ini masih bagian Kuntap Sukt.” “Astu? Bungsu Yim? Adik Mashya?” Dagu Guru Kore memantul- mantul. “Aku pernah bertemu dengannya ketika dia masih empat atau lima tahun. Dia memang terlihat cerdas sejak anak-anak.” “Cerdas dan sangat kritis,” kenang Kashva, sementara hatinya ber- desir ketika mengingat nama dan wajah perempuan itu. “Ayat itu ditulis berurutan dengan ayat tentang perang unik yang dicampuri oleh Indra.” Pandangan Guru Kore menegas. “Aku rasa bu- kan bagian langsung dari Kuntap Sukt, tetapi memang masih tercan- tum dalam Atharva Weda.”
http://ebook-keren.blogspot.com SERBUAN 373 “Perang melawan Namiuchi merupakan lanjutan dari perang unik yang dicampuri Indra?” “Bisa jadi begitu.” Guru Kore bersidekap. “Namya yat Indra sakya, bersama teman-temanmu yang bersujud kepada Tuhan, wahai Indra.” Terdiam beberapa lama. “Pangeran Kedamaian dan para sahabatnya digambarkan sebagai manusia yang bersujud, sedangkan Namiuchi disebut sebagai maynavt, berasal dari kata Sanskerta: maya. Makna- nya, sesuatu yang tampak indah tetapi tidak memiliki nilai sama seka- li. Seperti perak tak berguna.” “Kaum yang berusaha menggenggam hujan.” “Dalam bahasa Panini, Namiuchi memang bermakna demikian,” Guru Kore tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya terhadap pengetahuan Kashva. “Bisa juga bermakna ‘patut dihukum’.” “Saya meyakini siapa pun Pengeran Kedamaian itu, dialah Peng- genggam Hujan sejati.” “Penggenggam Hujan?” “Lelaki Penggenggam Hujan.” Alis Kashva terangkat. “Namiuchi berusaha menggenggam hujan padahal mereka tidak berhak akan itu dan tidak akan berhasil melakukan itu. Sebab, ada yang lebih berhak. Dia yang memang dipilih untuk menggenggam hujan, sang penggeng- gam hujan sejati: Lelaki Penggenggam Hujan.” “Lelaki Penggenggam Hujan.” Guru Kore melebarkan senyumnya, mengangguk kemudian. “Ya ... sang Penggenggam Hujan.” Tanpa disepakati, kedua laki-laki berbeda generasi itu saling tatap dan tampak seperti sedang menyelami hati dan pengetahuan mereka masing-masing. Atau setidaknya, sama-sama merenungkan kembali makna ayat-ayat suci yang baru saja mereka bincangkan dalam dis- kusi. Sahut-sahutan kalimat di antara keduanya tergantikan kemudian oleh bebunyian dalam gua yang terasa murni dan menenangkan. “Guru Kore,” Kashva teringat sesuatu. “Tuan Gali pernah menga- takan kepadaku tentang kepercayaan orang-orang Tibet terhadap ke- datangan seorang Buddha di masa depan yang akan menuntun manu- sia kepada cahaya.”
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190
- 191
- 192
- 193
- 194
- 195
- 196
- 197
- 198
- 199
- 200
- 201
- 202
- 203
- 204
- 205
- 206
- 207
- 208
- 209
- 210
- 211
- 212
- 213
- 214
- 215
- 216
- 217
- 218
- 219
- 220
- 221
- 222
- 223
- 224
- 225
- 226
- 227
- 228
- 229
- 230
- 231
- 232
- 233
- 234
- 235
- 236
- 237
- 238
- 239
- 240
- 241
- 242
- 243
- 244
- 245
- 246
- 247
- 248
- 249
- 250
- 251
- 252
- 253
- 254
- 255
- 256
- 257
- 258
- 259
- 260
- 261
- 262
- 263
- 264
- 265
- 266
- 267
- 268
- 269
- 270
- 271
- 272
- 273
- 274
- 275
- 276
- 277
- 278
- 279
- 280
- 281
- 282
- 283
- 284
- 285
- 286
- 287
- 288
- 289
- 290
- 291
- 292
- 293
- 294
- 295
- 296
- 297
- 298
- 299
- 300
- 301
- 302
- 303
- 304
- 305
- 306
- 307
- 308
- 309
- 310
- 311
- 312
- 313
- 314
- 315
- 316
- 317
- 318
- 319
- 320
- 321
- 322
- 323
- 324
- 325
- 326
- 327
- 328
- 329
- 330
- 331
- 332
- 333
- 334
- 335
- 336
- 337
- 338
- 339
- 340
- 341
- 342
- 343
- 344
- 345
- 346
- 347
- 348
- 349
- 350
- 351
- 352
- 353
- 354
- 355
- 356
- 357
- 358
- 359
- 360
- 361
- 362
- 363
- 364
- 365
- 366
- 367
- 368
- 369
- 370
- 371
- 372
- 373
- 374
- 375
- 376
- 377
- 378
- 379
- 380
- 381
- 382
- 383
- 384
- 385
- 386
- 387
- 388
- 389
- 390
- 391
- 392
- 393
- 394
- 395
- 396
- 397
- 398
- 399
- 400
- 401
- 402
- 403
- 404
- 405
- 406
- 407
- 408
- 409
- 410
- 411
- 412
- 413
- 414
- 415
- 416
- 417
- 418
- 419
- 420
- 421
- 422
- 423
- 424
- 425
- 426
- 427
- 428
- 429
- 430
- 431
- 432
- 433
- 434
- 435
- 436
- 437
- 438
- 439
- 440
- 441
- 442
- 443
- 444
- 445
- 446
- 447
- 448
- 449
- 450
- 451
- 452
- 453
- 454
- 455
- 456
- 457
- 458
- 459
- 460
- 461
- 462
- 463
- 464
- 465
- 466
- 467
- 468
- 469
- 470
- 471
- 472
- 473
- 474
- 475
- 476
- 477
- 478
- 479
- 480
- 481
- 482
- 483
- 484
- 485
- 486
- 487
- 488
- 489
- 490
- 491
- 492
- 493
- 494
- 495
- 496
- 497
- 498
- 499
- 500
- 501
- 502
- 503
- 504
- 505
- 506
- 507
- 508
- 509
- 510
- 511
- 512
- 513
- 514
- 515
- 516
- 517
- 518
- 519
- 520
- 521
- 522
- 523
- 524
- 525
- 526
- 527
- 528
- 529
- 530
- 531
- 532
- 533
- 534
- 535
- 536
- 537
- 538
- 539
- 540
- 541
- 542
- 543
- 544
- 545
- 546
- 547
- 548
- 549
- 550
- 551
- 552
- 553
- 554
- 555
- 556
- 557
- 558
- 559
- 560
- 561
- 562
- 563
- 564
- 565
- 566
- 567
- 568
- 569
- 570
- 571
- 572
- 573
- 574
- 575
- 576
- 577
- 1 - 50
- 51 - 100
- 101 - 150
- 151 - 200
- 201 - 250
- 251 - 300
- 301 - 350
- 351 - 400
- 401 - 450
- 451 - 500
- 501 - 550
- 551 - 577
Pages: