Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Bab 15 Sistem Pernapasan

Bab 15 Sistem Pernapasan

Published by haryahutamas, 2016-04-02 00:33:12

Description: Bab 15 Sistem Pernapasan

Search

Read the Text Version

Sistem PernapasanKomponen Sistem Pernapasan Sistem pernapasan terdiri atas paru dan banyak saluran udara dengan berbagai ukuran yang masuk dan keluar dari masing-masing paru. Selain itu, sistem terdiri atas bagian konduksi dan bagian respirasi. Bagian konduksi sistem pernapasan terdiri atas saluran pernapasan di luar (ekstrapulmonal) mau- pun di dalam (intrapulmonal) paru yang menghantarkan udara untuk pertukaran gas ke dan dari paru. Sebaliknya, bagian respiratorik terdiri dari saluran pernapasan di dalam paru yang tidak hanya meng- hantarkan udara, tetapi juga memungkinkan berlangsungnya respirasi atau pertukaran gas. Saluran pernapasan ekstrapulmonaf yang mencakup trakea, bronkus, dan bronkiolus besar, dilapisi oleh epitel bertingkat semu bersilia (epithelium pseudostratificatum ciliatum) yang mengandung banyak sel goblet. Sewaktu saluran ini masuk ke paru, bronkus membentuk banyak percabangan dan diameternya secara progresif mengecil. Demikian juga, tinggi epitel, jumlah silia, dan jumlah sel goblet berkurang secara bertahap di saluran ini. Bronkiolus merupakan bagian akhir dari saluran konduksi. Bronkiolus kemudian membentuk bronkiolus respiratorius (bronchiolus respiratorius), yaitu zona transisi antara bagian konduksi dan bagian respiratorik. Bagian respiratorik terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli. Pertukaran gas di paru-paru berlangsung di alveoli, yaitu kantung udara terminal pada sistem pernapasan. Di alveoli, sel goblet tidak ada dan epitelnya adalah epitel selapis gepeng.Epitel Olfaktorius Udara yang masuk ke paru-paru mula-mula melewati bagian atap atau superior rongga hidung. Di atap hidung terdapat epitel yang sangat khusus, yaitu epitel olfaktorius, yang mendeteksi dan meneruskan bau-bauan. Epitel ini terdiri dari tiga jenis sel: sel penyokong atau sustentakular (epitheliocytus suste- nans), sel basal (epitheliocytus basalis), dan sel olfaktorius (sensorik). Di bawah epitel di jaringan ikat terdapat kelenjar olfaktorius serosa. Sel olfaktorius (epitheliocytus sensorius) adalah neuron bipolar sensorik yang tersebar di antara sel penyokong di bagian yang lebih apikal dan sel basal epitel olfaktorius. Sel olfaktorius terentang di seluruh ketebalan epitel dan berakhir di permukaan epitel olfaktorius berupa bulbus bulat yang kecil yaitu vesikel olfaktorius. Silia olfaktorius nonmotil yang panjang dan terletak seiajar dengan per- mukaan epitel, terjulur dari setiap vesikel olfaktorius; silia nonmotil ini berfungsi sebagai reseptor bau. Berbeda dari epitel respiratorik (epithelium respiratorium), epitel olfaktorius tidak memiliki sel goblet atau silia motil. Di jaringan ikat tepat di bawah epitel olfaktorius terdapat saraf olfaktorius (nervi olfactorii) dan keleniar olfaktorius (glandula olfactoria). Kelenjar olfaktorius (Bowman) menghasilkan cairan serosa yang membasahi silia olfaktorius dan berfungsi sebagai pelarut molekul bau untuk dideteksi oleh sel olfaktorius. 34s

Bagian Konduksi Sistem PernapasanBagian konduksi sistem Pernapasan terdiri atas rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus ekstra-pulmonal, dan serangkaian bronkus dan bronkiolus intrapulmonal dengan diameter yang semakin kecilyang berakhir sebagai bronkiolus terminalis. Untuk menjamin agar saluran ,r\"p\", y\"rrg l\"bih besar se-lalu terbuka, maka saluran ini ditunjang oleh tulang rawan hialin (cartilago hyalina). trakea diling-kari oleh cincin tulang rawan hialin bentuk-C yang tidak utuh. Serat elastik dan otot polos, yang disebJtotot trakealis, menghubungkan ruang di antara ujung'ujung tulang rawan hialin. Cincin tulang rawantrakea menghadap ke posterior dan terletak berbatasan dengan esofagus. Setelah trakea bercabang menjadi bronkus yang lebih kecil dan bronkus kemudian masuk ke dalamparu-paru, maka cincin tulang rawan hialin diganti oleh lempeng tulang rawan hialin tidak beraturanyang mengelilingi bronkus. Sewaktu bronkus terus bercabang dan berkurang ukurannya, jumlah danukuran lempeng tulang rawan ini juga berkurang. Saat diameter bronkiolus mengecil kira-kira I mq lem-peng tpuelarnnagparasawnanyasneglutreurhkyeacilmaednaglahhilabnrgondkairoi lusaslutreanrmuidnaarlaisbadgeinagnankodnidaumkestie. rJaadnit,arbaag-0ia,5n-1k,o0nmdumk.sTi esar--lurandapaL20-25 generasi percabangan sebelum saluran pernapasan mencapai ukuran bronkiolus terminalis.Bronkiolus yang lebih besar dilapisi oleh epitel bertingkat semu bersilia, seperti pada trakea danbronkus. Seiring dengan berkurangnya ukuran saluran, epitel ini berangsur memendek sampal menjadiepitel selapis bersilia (epithelium simplex ciliatum). Epitel bronkiolus yang lebih besar jugamengandung banyak sel goblet. Jumlah sel ini berangsur berkurang seiring dengan berkurangnya ukuransaluran, dan sel goblet tidak terdapat di epitel bronkiolus terminalis. Bronkiolus yang lebih kecil hanya dilapisi oleh epitel selapis kuboid (epithelium simplexcuboideum). Pada bronkiolus terminalis dan bronkiolus respiratorius, terdapat jenis sel lainnya, peng-ganti sel goblet, yaitu sel Clara (exocrinocytus caliciformis). Sel Clara adalah sel kuboid tanpa siliayang jumlahnya bertambah seiring dengan berkurangnya sel-sel bersiria.Bagian Respiratorik Sistem PernapasanBagian respiratorik sistem pernapasan adalah lanjutan distal bagian konduksi dan dimulai dengan saluranPernaPasan tempat berlangsungnya pertukaran gas atau respirasi. Bronkiolus terminalis bercabangmenjadi bronkiolus respiratorius, yang ditandai oleh adanya kantung-kantung udara berdinding tipisyaitu alveoli, tempat berlangsungnya respirasi. Bronkiolus respiratorius adalah zona peralihan antarabagian konduksi dan bagian respirasi atau pertukaran gas. Respirasi hanya dapat berlangsung di dalam alveoli karena sawar antara udara yang masuk ke dalamalveoli dan darah vena dalam kapiler sangat tipis. Struktur intrapulmonal lainnya tempai berlangsungnyarespirasi adalah duktus alveolaris dan sakus alveolaris (sacculus alveolaris).Selain sel-sel di saluran pernapasan, terdapat jenis sel lainnya di dalam paru. Alveoli mengandungdua jenis sel. Sel yang paling banyak adalah sel alveolus gepeng atau pneumosit tipe I (pneumocytustypus I). Sel gepeng ini melapisi seluruh permukaan alveolus. Di antara sel-sel alveolis geplng ini terselippneumosit tipe II (pneumocytus dIiIt)embauikkatnundgigajal rminaguapnuinkadtaldamindkienlgomalpvoetoltu\"s.iaiUtaauksreopftaumg monosit darah, typusparu, berasal dari jugainteralveolaris (macrophagocytus alveolaris) dan di alveoli (set debu). Di dalam septum interalveolarisjuga terdapat banyak anyaman kapiler, arteri pulmonalis, vena pulmonalis, duktus limfe, dan saraf(Gambaran Umum 15).#GAMBAR 15.1 l\rtukssa Olfalstorius dan K*nk* $uperi*r {Pandangan fuienyeturuh}Mukosa olfaktorius terletak di atap rongga hidung, di kedua sisi septum hidung, dan di permukaan konka rongga hidung.superior (l), salah satu struktur bertulang di dalamEpitel olfaktorius (2, r) (hhat Gambar 15.2 dan 15.3) dikhususkan untuk menerima rangsangbau. Akibatnya, epitel ini berbeda dari epitel repiratorik. Epitel olfakto rias (2,6) adalah epitel bertingkatsemu silindris tinggi tanpa sel goblet dan tanpa silia motil, berbeda dari epitel respiratorik.

'',l.iiii.F,T Lamina propria di bawahnya mengandung kelenjar olfaktorius (nowman) (4, 5) tubuloasinarbercabang. Kelenjar ini menghasilkan sekret serosa, berbeda darl sekret campuran mukosa dan serosayang dihasilkan oleh kelenjar di bagian lainnya di rongga hidung. Saraf kecil yang terdapat di laminapropria, yaitu saraf olfaktorius (nervi olfactorii) (l,Z). Saraf olfaktorius (3, 7) menggambarkan kum-pulan akson aferen yang meninggalkan sel-sel olfaktorius dan berlanjut ke dalam rongga tengkorak,tempat saraf ini bersinaps dengan saraf olfaktorius (kranialis) .1 Tulang konka superior 5 Kelenjar olfaktorius (Bowman) 6 Epitel olfaktorius: bertingkat semu silindris2 Epitel olfaktorius 7 Saraf olfaktorius 3 Saraf olfaktorius 4 Kelenjar olfaktorius (Bowman)GAMBAR 15.1 Mukosa olfaktorius dan konka superior di rongga hidung (pandangan menyeluruh).Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

#GAMBAR 15.2 Mukosa Olfaktorius: Rincian Daerah Transisi Gambar ini memperlihatkan daerah transisi antara epitel olfaktorius (f ) dan epitel respiratorik (9). Di daerah transisi, perbedaan histologikkedua epitel ini tampak jelas. Epitel olfaktorius (l) adalah epitel bertingkat semu silindris tinggi, terdiri atas tiga jenis sel berbeda: sel penyokong, sel basal, dan sel olfaktorius neuroepitelial. Bentuk masing-masing sel sukar dibedakan pada sediaan histologik rutin; namun, lokasi dan bentuk inti menjadi petunjuk untuk mengidentifikasi jenis sei. Sel penyokong atau sel sustentakular (epitheliocytus sustenans) (S) memanjang, dengan inti lonjong yang terletak lebih apikal atau superfisial di epitel. Sel olfaktorius (epitheliocytus sensorius) (4) memiliki inti lonjong atau bulat yang terletak di antara inti sel penyokong (S) dan sel basal (epitheliocytus basalis) (S). Apeks dan basis sel olfaktorius (4) langsing. Permukaan apikalis sel olfak- torius (4) mengandung mikrovili nonmotil halus yang terjulur ke dalam mukus (z) yang menutupi permukaan epitel. Sel basal (5) adalah sel pendek yang terletak di basis epitel di antara sel penyokong (t) dan sel olfaktorius (4). Dari basis sel olfaktorius (4) terjulur akson yang berjalan ke dalam lamina propria (6) berupa berkas saraf olfaktorius tidak bermielin atau fila olfactoria (f +). Saraf olfaktorius (14) meninggalkan rongga hidung dan masuk ke dalam bulbus olfaktorius di dasar otak. Transisi dari epitel olfaktorius (1) menjadi epitel respiratorik (9) terjadi secara tiba-tiba. Epitel respiratorik (9) adalah epitel bertingkat semu silindris dengan silia (f O) dan banyak sel goblet (f f ). li daerah transisi, ketinggian epitei respiratorik (9) tampaknya sama dengan epitel olfaktorius (l). Di bagian saluran pernapasan lainnya, ketinggian epitel respiratorik (9) lebih rendah dibandingkan dengan epitel olfaktorius ( 1). Lamina propria (6) di bawahnya mengandung banyak kapiler, pembuluh limfe, arteriol (8), venula (rS) dan kelenjar olfaktorius (Bowman) (7) tubuloasinar serosayangbercabang. Kelenjar olfaktorius (7) mencurahkan sekretnya melalui duktus ( f z) eksretorius kecil yang menembus epitei olfaktorius ( I ). Sekret dari kelenjar olfaktorius (7) membasahi permukaan epitel, melarutkan molekul zatyangberbau, dan merangsang sel olfaktorius (4).GAMTBAR n5.s ffi Mukcsa Clfaktorius dalam Hidr:ng: Daerah riansisi Di bagian atas rongga hidung, epitel respiratorik tiba-tiba berubah menjadi epitel olfaktorius, seperti diperlihatkan di fotomikrograf pembesaran-kuat ini. Epitel respiratorik dilapisi oleh silia (r) motil dan mengandung sel goblet (z). fpltel olfaktorius tidak memiliki silia (1) dan sel goblet (2), tetapi memiliki inti sel penyokong (S) di dekat permukaan ePitel, inti sel olfaktorius (6) yang menerima rangsang bau, yang terletak di bagian tengah epitel, dan sel basal (7) yang berada di dekat membrana basalis (3). Di bawah epitel olfaktorius di jaringan ikat lamina propria (4) terdapat pembuluh darah (9), saraf olfaktorius (tO), dan keleniar olfaktorius (nowman) (S). Untuk mengenali bau, substansi bau harus dilarutkan lebih dahulu. Molekul bau yang terlarut berikatan dengan molekul reseptor bau di silia olfaktorius dan merangsang reseptor pengikat-bau di silia epitel olfaktorius untuk menghasilkan impuls. Akson aferen tidak bermielin sel-sel olfaktorius meninggalkan epitel olfaktorius dan membentuk banyak berkas saraf olfaktorius halus di lamina propria. lmpuls dari sel olfaktorius dihantarkan di dalam saraf yang berjalan menemtrus tulang etmoid di tengkorak dan bersinaps di bulbus olfaktorius otak. Bulbus olfaktorius terletak di ronggi tengkorak di atas rongga hidung. Dari sini, neuron-neuron menyebarkan informasi ke pusat ying lebih tinggi di korteks untuk interpretasi bau. Epitel olfaktorius selalu lembab oleh sekret cair yang dihasilkan oleh kelenjar olfaktorius (Bowman) tubuloasinar serosa yang terdapat tepat di bawah epitel di lamina profria. Sekret ini, dicurahkan melalui duktus, terus-menerus membasahi permukaan epitel olfaktorius. Dengan cara ini, molekul bau larut dalam cairan sekret dan terus menerus dibersihkan oleh cairan yang baru, sehingga sel reseptor dapat mendeteksi dan berespons terhadap bau yang baru.

Sel penyokong {epitheliocytus'sustenans) memberi:penuniang' pnslcnis':ufltuk se{':olfaktorius (epitheliocytus,sensorius), sementara gel bas4l (epitheliocytus basa!ir) berfuqgs!,sebaga!sel,rinduk' Sel'basal r,nenghasilkan sel olfaktorius dan sel penyokong yang btru di,epilel'olfaktorius:. ,1 Epitel olfaktorius 9 Epitel repiratorik2 Mukus permukaan ----ffifr*i*{ ;S$,&ffiTi 10 Silia 11 Sel goblet3 lnti sel penyokong4 lnti sel olfaktorius 12 Duktus kelenjar5 lnti sel basal olfaktorius (Bowman) Lamina propria 13 Venula Kelenjar olfaktorius 14 Saraf olfaktorius (Bowman) (fila olfactoria)8 ArteriolGAMBAR'l 5.3 Mukosa olfaktorius: rincian daerah transisi. Pulasan: hematoksilin dan eosin.Pembesaran kuat. Epitel respiratorik Epitel olfaktorius1 Silia 5 Sel penyokong2 Sel goblet 6 Sel olfaktorius 7 Sel basal3 Membrana basalis B Kelenjar olfaktorius (Bowman) I Pembuluh darah 10 Saraf olfaktorius4 Lamina propriaGAMFAfi 18.3 Mukosa olfaktorius dalam hidung: daerah transisi. Pulasan: Mallory-azan. 80 X

GAMBAR 15.4 ffi Epiglotis (Potongan Longitudinal) Epiglotis adalah bagian superior laring yang menonjol ke atas dari dinding anterior laring. Struktur ini memiliki permukaan lingualis dan laringeal. Kerangka epiglotis dibentuk oleh tulang rawan elastik epiglotis (3) di bagian tengah. Mukosa lingual (z) (sisi anterior) dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk (t). Lamina propria di bawahnya menyatu dengan jaringan ikat perikondrium (+) tulang rawan elastik epiglotis (:). Mukosa lingual (2) dengan epitel berlapis gepeng ( 1) melapisi apeks epiglotis dan sekitar separuh dari mukosa laringeal (Z) Gig posterior). Ke arah basis epiglotis di permukaan laringeal (Z), epitel berlapis gepeng (1) berubah menjadi epitel bertingkat semu silindris bersilia (s). Oi La*\"h epttet ai lamina propria (6) pada sisi laringeal (7) epiglotis terdapat keleniar seromukosa (6) tubuloasinar. Selain lidah, kuncup kecap (5) dan nodulus limfoid soliter mungkin terlihat di epitel lingualis (2) atau epitel laringeal (7).

1 Epitel bedapis gepeng tanpa lapisan tanduk ..:s: i: ?sI 5 Kuncup a ,'iX kecap di epitel2 Mukosa lingual 3 Tulang rawan 6 Kelenjar elastik epiglotis seromukosa di lamina propria 7 Mukosa laringeal 4 Perikondrium i..i:'i-.!\' a: ...:,re tulang rawan epiglotis ;o*'oi-:,'?-.:l.s.-;-l,s.l\"i;',*o,:'ars;'J.ir--dg{Jt}.n.Qlu6qt;{€-rl:';*dd*3l S;e se S h\"f,{.-%t1fi 8 Epitel bertingkat semu silindris ;&#::.:ri*: bersiliaGAMBAR 15.4 Epiglotis (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.Sisipan: pembesaran kuat.

GAMBAR 15.5 ffi Laring (Potongan Frontal) Gambar ini memperlihatkan potongan vertikal melalui separuh laring. Plikavokalispalsu (superior) (9), juga disebutpita suara, dilapisi olehmukosayangbersambungan dengan permukaan posterior epiglotis. Seperti di epiglotis, plika vokalis palsu (9) dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia (7) dengan sel goblet. Di lamina propria (3) terdapat banyak kelenjar campuran seromukosa (s). ouktus ekskretorius dari kelenjar campuran (s) ini bermudra di permukaan epitel (7). Banyak nodulus limfoid (2), pembuluh darah (r),ian seiadiposa (f ) yuga terletak di lamina propria (3) plika vokalis palsu (9). Ventrikulus (ro) adalahlekukan atauresesus dalamyangmemisahkanplikavokalispalsu (superior) (9) dari plika vokalis seiati (inferior) (rr-ra). Mukosa di dinding ventrikulus (to) mirip J\"r,g\"r, mukosa plika vokalis palsu (9). Nodulus limfoid (2) lebih banyak di daerah ini dan kadang-kadang disebut \"tonsil laringeal'l Lamina propria (3) menyatu dengan perikondrium (S) tulang rawan hialin tiroid (4). Submukosa tidak terlihat jelas. Dinding bawah ventrikulus (10) membuat peri'lihan menjadi plika vokalis sejati ( r l-13). Mukosa plika vokalis seiati ( 1 1- 13) dilapisi oleh epitel berlapis gepeng ( r f ) tanpa lapisan tanduk dan lamina propria padat yang tipis tanpa kelenjar, jaringan limfoid, atau pembuluh darah. Di apeks plika vokalis sejati yaitu ligamentum vokalis (rz) dengan serat elastik padat yang meluas ke dalam lamina propria dan otot rangka vokalis (13) di dekatnya. Otot rangka tiroaritenoid dan tulang rawan tiroid (4) membentuk bagian dinding lainnya. Epitel laring bagian bawah berubah menjadi epitel bertingkat semu silindris bersilia (f S), dan lamina propria mengandung kelenjar campuran seromukosa (f +). fuhng rawan hialin krikoid (6) adalah tulang rawan terbawah di laring.

1 Arteriol, venula, dan sel adiposa 8 Kelenjar seromukosa2 Nodulus limfoideus 9 Plika vokalis palsu3 Lamina propria ''*,9_.e, s&'* I 10 Ventrikulus lrl {..stei'c$6: 11 Epitel berlapis l;ltxo *o iowS.;' gepeng l>-o 12 Ligamentum llo- vokalis )l0-J. 13 Otot vokalis 14 Kelenjar seromukosa '15 Epitel bertingkat semu bersilia6 Tulang rawan krikoidGAMBAR 15.5 Potongan frontal laring. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

.:.GAMBAR 15.6 ffi Trakea (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) Dinding trakea terdiri dari mukosa, submukosa, tulang rawan hialin, dan adventisia. Trakea dijaga tetap terbuka oleh cincin tulang rawan hialin (3) bentuk-C. Tulang rawan hialin (A) dikelilingi oleh jaringan ikat padat perikondrium (9), yang menyatu dengan submukosa (4) di satu sisi dan adventisia (l) di sisi yang lain. Banyak saraf (6), pembuluh darah (8), dan jaringan adiposa (2) terletak di adventisia. Celah di antara ujung posterior tulang rawan hialin (3) terisi oleh otot polos trakealis (Z). Otot trakealis (7) terletak di jaringan ikat jauh di dalam membrana elastika (t+) mukosa. Sebagian besar serat otot trakealis (7) berinsersi di perikondrium (9) yang melapisi tulang rawan hialin (3). Lumen trakea dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia (f2) dengan sel goblet. Lamina propria (tl) ai bawahnya mengandung serat jaringan ikat halus, jaringan limfoid difus, dan kadangkala nodulus limfoid soliter.Jauh di dalam lamina propria (13) terdapat membrana elastika (14) longitudinalis yang dibentuk oleh serat elastik. Membrana elastika (14) memisahkan lamina propria ( t 3) dari submukosa (+) , yangmengandung jaringan ikat longgar mirip dengan yang terdapat di lamina propria (13). Di submukosa (4) ditemukan keleniar trakealis seromukosa (rO) tubuloasinar yang duktusekskretoriusnya (f f ) berjalanmenembuslaminapropra (te) kelumentrakea. Mukosa menunjukkan lipatan mukosa (5) di sepanjang dinding posterior trakea tempat tulang rawan hialin (3) tldak ada. Kelenjar trakealis seromukosa (10) yang terdapat di submukosa dapat meluas dan terlihat di adventisia ( 1 ).GAMBAR 15.7 ffi Dinding Trakea (Pandangan Seksional) Potongan dinding trakea di antaia tulang rawan hialin ( f ) dan epitel bertingkat semu silindris bersilia (8) dengan sel goblet (f o) dlgambarkan dengan pembesaran kuat. Epitel (8) dipisahkan dari lamina propria (rr) oleh membranabasalis (9) tipis. Di bawah lamina propria (11) yaltu jaringan ikat submukosa (6), tempat ditemukan keleniar trakealis seromukosa (3). Semiluna serosa (7) mengelilingi asinus mukosa kelenjar trakealis sero- mukosa (e). lutctus ekskretorius (5) kelenjar trakealis (3) dilaplsi oleh epitel selapis kuboid dan berjalan menembus lamina propria ( t t ) ke epitel permukaan (8). Tulang rawan hialin (i) dftelilingi oleh jaringan ikat perikondrium (z). Kondrosit besar dalam lakuna (+) ya\"g terletak di bagian dalam tulang rawan hialin (1) menjadi semakin gepeng ke arah perikondrium (2),yangmenyatu secara bertahap dengan jaringan ikat submukosa (6) di sekitarnya. Jaringan ikat submukosa (6) dan lamina propria ( t t ) mendapat pasokan darah dari arteriol dan venula (rz).

1 Adventisia B Pembuluh darah3 Tulang rawan hialin I Perikondrium4 Submukosa5 Lipatan mukosa 10 Kelenjar trakealis seromukosa 11 Duktus ekskretorius kelenjar trakealis seromukosa 12 Epitel bertingkat semu silindris bersilia 13 Lamina propria6 Saraf 14 Membrana elastika 7 Otot trakealis (polos)GAMBAR 15.6 Trakea (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.1 Tulang rawan hialin -€_--S $$tsr'!*I 4d €f $ u .'* 'i€ i- 7 Semiluna serosa2 Perikondrium a ;;'-*,, i,ffi-u *lrg]::l#nl*r 3 Kelenjar 6\"\ & r\"o r !;,i s:relm:ru silindris bersilia trakealis seromukosa o t'n\",, :+:- I Membrana basalis *s ,6 34 Kondrosit dalam $t\" \"';l,t, i,,- . \"J. ',1 lakuna :$,li,W'Y Ll-i.'\"r'g*C{ j'j :,ffi,,r ;;;; ;.,\"I{,,,,,,,,,,,,,,,,} : .\ 6ffS5 Dukius ekskretorius \od r ;f\'-'q \"@s@ kelenjar trakealis [ %ffr 11 Lamina propria seromukosa rr*.sr ur JJl,l& jr'WW:f - ,b€*it',lW',-.i / s'r ri 6 Submukosa 12 Arteriol dan venulaGAMBAR 15.7 Dinding trakea (pandangan seksional). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaransedang.

GAMBAR 15.8 ffi Paru (Pandangan Menyeluruh) Gambar ini menunjukkan struktur utama di dalam paru untuk hantaran udara dan pertukaran gas (respirasi). Histologi bronkus intrapulmonal mirip dengan histologi trakea dan bronkus ekstrapulmonal, kecuali bahwa di bronkus intrapulmonal, cincin tulang rawan trakea bentuk-C diganti dengan lempeng tulang rawan. Semua tulang rawan di trakea dan paru adalah tulang rawan hialin. Dinding bronkus intrapulmonal (S) diidentifikasi oleh adanya lempeng tulang rawan hialin (Z). Bronkus (S) luga dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia dengan sel goblet. Dinding bronkrfs intrapulmonal (5) terdiri dari lamina propria (+) yang tipis, lapisan tipis otot polos (3), submukosa (2) dengan kelenjar bronkialis (6), lempeng tulang rawan hialin (7), dan adventisia ( I ). Ketika bronkus intrapulmonal (5) bercabang menjadi bronkus yang lebih kecil dan bronkiolus, ketinggian epitel dan tulang rawan di sekitar bronkus berkurang, sampai kadangkala hanya ditemukan potongan kecil tulang rawan. Bronkus dengan diameter kurang dari 1 mm tidak memiliki tulang rawan. Di bronkiolus ( tZ), lumen dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia dengan adakalanya ditemukan sel goblet. Lumen menunjukkan lipatan mukosa (f S) akibat kontraksi lapisan otot polos (rl). Kelenlarbronkialis dan lempeng tulang rawan sudah tidak ada, dan bronkiolus (17) dikelilingi oleh adventisia (rf).lada gambar ini, suatu nodulus limfoid (rS) dan vena (tS) dekat adventisia (16) menyertai bronkiolus (17). Bronkiolus terminalis (S, fO) memperlihatkan lipatan mukosa (fO) dan dilapisi oleh epitel silindris bersilia tanpa sel goblet. Lapisan tipis lamina propria dan otot polos (f f ) serta adventisia mengelilingi bronkiolus terminalis (S, tO). Bronkiolus respiratorius (tZ, 22) dengan kantung-kantung alveoli berhubungan langsung dengan duktus alveolaris (tl,ZO) dan alveoli (Za). U bronkiolus respiratorius (tZ, ZZ), epitel yaitu silindris rendah atau kuboid dan mungkin bersilia di bagian proksimal saluran. Lapisan jaringan ikat tipis menyokong otot polos, serat elastik di lamina propria, dan pembuluh darah (Zf ) yang menyertai. Alveoli ( tZ) ai dinding bronkiolus respiratorius ( 12, 22) tampakberupa kantung atau evaginasi kecil. Setiap bronkiolus respiratorius (12, 22) bercabang menjadi'beberapa duktus alveolaris (ta, ZO). Dinding duktus alveolaris (tZ, zO) dilapisi oleh alveoli (21) yanglangsung bermuara ke dalam duktus alveolaris. Kelompok alveoli (ZZ) yangmengelilingi dan bermuara ke dalam duktus alveolaris (tf, zO) disebut sakus alveolaris (24). Pada gambar ini, bidang irisan melalui bronkiolus terminalis (S) hngga bronkiolus respiratorius dan masuk ke dalam duktus alveolaris (20). Vena pulmonalis (9) dan arteri pulmonalis (l) luga bercabang sewaktu menyertai bronkus dan bronkiolus ke dalam paru. Pembuluh darah kecil juga terlihat di jaringan ikat trabekula (ZS) yang membagi paru-paru menjadi berbagai segmen. Serosa (f +) atau pleura viscerale mengelilingi paru. Serosa (14) terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat (f 4a) pleura dan epitel selapis gepeng mesotelium (f 4b) pleura.

1 Adventisia 15 Nodulus2 Submukosa limfoideus dan vena3 Otot polos4 Lamina propria 16 Adventisia 17 Bronkiolus5 Bronkus 18 Lipatan mukosa intrapulmonal 19 Otot polos6 Kelenjar bronkial 20 Duktus alveolaris dengan duktus ekskretorius 21 Pembuluh darah7 Lempeng tulang 22 Bronkiolus rawan hialin respiratorius8 Bronkiolus terminalis 23 Alveolus bermuara ke dalam duktus9 Vena dan arteri alveolaris pulmonalis10 Bronkiolus terminalis dengan lipatan mukosa 11 Otot polos1 2 Bronkiolus respiratorius 24 Sakus alveolaris dengan alveoli13 Duktus alveolaris14 Serosa: 25 Trabekula dengan a. Jaringan ikat pembuluh darah b. MesoteliumGAMBAR 15.8 Paru (pandangan menyeluruh). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

GAMBAR 15.9 ffi Bronkus lntrapulmnnal Trakea bercabang di luar paru-paru dan membentukbronkus primer atau ekstrapulmonal. Ketika masuk ke paru, bronkus primer bercabang dan membentuk serangkaian bronkus intrapulmonal yang lebih kecil. Bronkus intrapulmonal dilapisi oleh epitel bronkus (6) bertingkat semu silindris bersilia yang ditunjang oleh lapisan tipis lamina propria (7) jaringan ikat halus dengan serat elastik (tidak tampak) dan beberapa limfosit. Selapis tipis otot polos (t0, 16) mengelilingi lamina propria (7) dan memi- sahkannya dari submukosa (S). Submukosa (8) mengandungbanyakkeleniarbronkialis seromukosa (S, rs). Sebuah duktus ekskretorius (ts) dari kelenjar bronkialis (S, tS) berjalan melalui lamina propria (7) untuk bermuara ke dalam lumen bronkus. Pada kelenjar bronkialis seromukosa (S, tS), semiluna serosa mungkin terlihat. Di paru, cincin tulang rawan hialin trakea diganti oleh lempeng tulang rawan hialin ( f f , t+) yang mengelilingi bronkus. Jaringan ikat perikondrium (12, 15) menutupi masing-masing lempeng tulang rawan (11, 14). Lempeng tulang rawan hialin (tt, t+) makin kecil dan terletak lebih berjauhan satu sama lain seiring dengan bercabangnya bronkus menjadi saluran yang lebih kecil. Di antara lempeng tulang rawan (11, 14), submukosa (s) menyatu dengan adventisia (3). Kelenlar bronkialis (S, tS) dan sel adiposa (2) terdapat di submukosa (8) bronkus yang lebih besar. Pembuluh darah bronkus (fe) dan arteriol bronkus (4) terlihat di jaringan ikat di sekitar bronkus. Bronkus juga disertai oleh vena (9) besar dan arteri (17). Bronkus intrapulmonal, jaringan ikatnya, dan lempeng tulang rawan hialin (t t, t+) dikelilingi oleh alveoli (t, t3) paru.GAMBAR 15.10 ffi Bronkiolus Terminalis {Pntongan Transversal) Bronkiolus bercabang menjadi bronkiolus terminalis yang lebih kecil, yang berdiameter sekitar I mm atau kurang. Bronkiolus terminalis dilapisi oleh epitel selapis silindris (a). li bronkiolus terkecil, epitelnya mungkin selapis kuboid. Bronkiolus terminalis tidak mengandung lempeng tulang rawan, kelenjar bronkialis, dan sel goblet. Bronkiolus terminalis merupakan saluran terkecil untuk menghan- tarkan udara. Karena adanya kontraksi otot polos, maka lipatan mukosa (7) lebih menonjol di bronkiolus. Lapisan otot polos (5) yang berkembang baik mengelilingi lamina propria (O) tlpis, yang selanjutnya dikelilingi oleh adventisia (s). Di dekat bronkiolus terdapat sebuah cabang kecil arteri pulmonalis (Z). Bronklolus terminalis dikelilingi oleh alveoli (f ) paru. Alveoli dikelilingi oleh septum interalveolare tipis dengan kapiler (+).

2 Sel adiposa 14 Lempeng tulang rawan hialin3 Adventisia4 Aderiol bronkus 15 Perikondrium5 Kelenjar 16 Otot polos bronkialis seromukosa 17 Arteri6 Epitel bronkus 18 Kelenjar bronkialis7 Lamina propria8 Submukosa seromukosa dengan9 Vena duktus ekskretorius10 Otot polos 19 Pembuluh darah bronkus'll Lempeng tulang dan eosin. rawan hialin12 PerikondriumGAMBAR 15.9 BronkusPembesaran lemah.1 Alveoli2 Arteri pulmonalis 5 Otot polos 6 Lamina propria3 Epitel selapis silindris kf|r::;:'tr ...'.,'31\"-.-,-',- \"2tu1.;r*-: 7 Lipatan mukosa $-*r.#:;t. *s\"'{k4 Septum interalveolare B Adventisia dengan kapiler $tf *t: \".to \.'{' at s;s,GAMBAR'15.10 Bronliiolus terminalis (potongan transversal).Pulasan: hematoksilin dan eosin.Pembesaran lemah.

GAMBAR 15.11 ffi Bronkiolus Respiratorius, Duktus Alveolaris, dan Alveoli Paru Bronkiolus terminalis membentuk bronkiolus respiratorius. Bronkiolus respiratorius (2) adalah zona transisi antara bagian konduksi dan respiratorik sistem pernapasan. Dinding bronkiolus respiratorius (2) dilapisi oleh epitel selapis kuboid (S). Oi dinding setiap bronkiolus respiratorius (2) terdapat kantung alveolus ( f , 6) tunggal. Silia mungkin dijumpai di epitel bagian proksimal bronkiolus respiratorius (2) namun menghilang di bagian distal. Selapis tipis otot polos (7) mengelilingi epitel. Suatu cabang kecil arteri pulmonalis (4) menyertai bronkiolus respiratorius (2) ke dalamparu. Setiap bronkiolus respiratorius (2) membentuk duktus alveolaris (9) dengan alveoli (8) bermuara ke dalamnya. Di lamina propria yang mengelilingi deretan alveoli (A) di duktus alveolaris (10) yaitu berkas otot polos (S). Berkas otot polos (5) tampak berupa tombol (knob) di antara alveoli yang berdektan.GAMBAR 15.12 ffi Dinding Alveolus dan Sel Alveolus Alveoli (3) adalah evaginasi atau kantung-luar bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan sakus alveolaris, ujung terminal duktus alveolaris. Alveoli (3) dilapisi oleh selapis tipis sel alveolus (Z) gepeng atau sel pneumosit tipe I. Alveoli (3) yang berdekatan dipisahkan oleh septum interalveolare (4) atau dinding alveolus. Septum interalveolare (4) terdiri dari sel alveolus (7) selapis gepengr serat jaringan ikat halus dan fibroblas, dan banyak kapiler (1) yang terletak di septum interalveolare (+) tlpis. Septum interalveolare (+) yang tipis menyebabkan kapiler (1) berdekatan dengan sel alveolus (7) gepeng di alveoli yang berdekatan. Selain itu, alveoli (S) Fga mengandung makrofag alveolaris (6) atau sel debu. Dalam keadaan normal, makrofag alveolaris (6) mengandung beberapa partikel karbon atau debu di sitoplasmanya. Di alveoli (a) luga ditemukan sel alveolus besar (2, 5) atau pneumosit tipe II. Sel alveolus besar (2, 5) terselip di antara sel alveolus selapis gepeng (6) di alveoli (3). Di ujung bebas septum interalveolare (4) dan di sekitar ujung terbuka alveoli (3) terdapat berkas tipis serat otot polos (S). Serat otot ini bersambungan dengan lapisan otot yang melapisi bronkiolus respiratorius.

1 Kantung alveolus 6 Kantung alveolus Vil;, -,i' 'ri lo' - -'\".t 7 Otot polos E-'rx,to' '*, -1'--t'\. )2 Bronkiolus respiratorius ]L;*,,i:,i-;--),1ii\"\*t .--*,\,-,r.,'\ r\"3 Epitel selapis ar kuboid4 Arteri pulmonalis :;3 il\ t<.4. 8 Alveoli bermuara \!-r, o' ke dalam duktus alveolaris5 Berkas otot polos */ '\' $i-.*rrl\"d---1f\{l t, \ r.T\;iito, 9 Duktus alveolaris ,,',i1.--'-r,1l!pr'd-z' \*?t-'li-i tt ' *----r* & S'*r ilh :.-*' $GAMBAR 15.11 Bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli paru. Pulasan: hematoksilin daneosin. Pembesaran lemah.1 Kapiler {@ Makrofag alveolus (sel debu)2 Sel alveolus besar I (pneumosit tipe ll)3 Alveoli Sel alveolus (pneumosit tipe l) ,*' ''l:i4 Septum interalveolare5 Sel alveolus besar 8 Serat otot polos (pneumosit tipe ll)GAMBAR 15.12 Dinding alveolus dan sel alveolus. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.

GAMBAR 15.13;# F:**ri-l; ffirr:c\":kir:lus T*rrnir:alis, ffironkiair\"rs H*splrat*riile, dar;Alv*E:!i Fotomikrograf paru ini memperlihatkan saluran konduksi paling kecil, yaitu bronkiolus terrninalis (7). Bronkiolus terminalis (7) membentuk bronkiolus respiratorius (3) yang lebih tipis, yang dindingnya ditandai oleh banyaknya alveoli (z). Setiap bronkiolus respiratorius (3) membentuk duktus alveolaris (r, +, s) yang berlanjut menjadi sakus alveolaris (5). Bronkiolus terrninalis (Z) da\" pernbuluh darah (f ) di dekatnya dikelilingi oleh alveoli (2). #agia* $da*nr{eck*i Sistem F*rmar,pas;*nr Bagian konduksi sistem pernapasan mengondisikan udara yang dihirup. Mukus secara terus menerus dihasilkan oleh sel goblet (exocrinocytus caliciformisl di epitei respiratorik bertingkat semu bersilia dan keleniar mukosa di lamina propria. Sekresi ini membentuk lapisan mukosa yang melapisi permukaan lumen sebagian besar saluran konduksi. Akibatnya, *uloru lembab padi bagian konduksi sistem pernapasan melembabkan udara. Mukus dan epitel bersilia juga menyaring dan membersihkan udara dari partikel renik, mikroorganisme infeksiosa, dan benda terbawa-udara lainnya. Selain itu, anyaman kapileryang banyakdi bJwah epitel pada jaiingrn ikat menghang;it;; udara yang dihirup sewaktu udara mengalir melalui bagian konduksi dan sebelum mencapai bagian respiratorik paru. 5l:$ iltara Sel Clara (exocrinocytus bronchiolaris) paling banyak ditemukan di bronkiolus terminalis. Sel ini merupakan jenis sel predominan di bagian paling distal bronkiolus respiratorius. Sel Clara memiliki beberapa fungsi penting. Sel ini mengeluarkan komponen lipoprotein surfaktan, yaitu bahan penurun-tegdngdn permukaan yang juga ditemukan di alveoli. Sel Clara juga dapat berfungsi sebagai sel induk untuk menggantikan sel epitel bronkus yang rusak atau cedera. Sel ini juga mengeluarkan protein ke dalam percabangan bronkus untuk melindungi paru dari bahan tokslk yang terhirup, polutan oksidatif, atau peradangan. $*l *liAEv**El Paru Alveoli paru mengandung banyak jenis sel. Sel alveolus tipe I , yang juga disebut pneumosit tipe I (pneumocytus typus l), adalah sel selapis gepeng yang sangat tipis yang melapisi alveoli di paru dan merupakan tempat utama pertukaran gas. Di antara alveoli yang berdekatan terdapat septum interalveolare tipis. Di dalam septum interalveolare, di antara serat-serat halus elastik dan retikular, terdapat anyaman kapiler. Sel alveolus tipe I berkontak erat dengan lapisan endotel kapiler, membentuk sawar darah-udara (claustrum aerosanguineum) yang sangat tipis, tempat pertukaran gas berlangsung. Sawar darah-udara terdiri dari lapisan permukaan dan sitoplasma pneumosit tipe l, penyatuan membrana basalis pneumosit dan sel endotel, dan sitoplasma endotel kapiler yang tipis. Sel alveolus tipe ll, yang juga disebut pneumosit tipe ll (pneumocytus typus ll) atau sel septalis (cellula septalis), jumlahnya lebih sedikit dan berbentuk kuboid. Sel ini ditemukan tunggal atau berkelompok di sekitar sel alveolus tipe I di dalam alveoli. Apeksnya yang bulat menonjol ke dalam alveoli di atas sel alveolus tipe l. Sel alveolus ini sekretorik dan mengandung corpusculum lamellare (lamellar body) terpulas-geiap di sitoplasma apikalisnya. Sel ini menyintesis dan mengeluarkan produk kaya-fosfolipid yaitu surfaktan paru. Ketika dikeluarkan ke dalam alveolus, surfaktan menyebar berupa lapisan tipis di atas permukaan sel alveolus tipe l, menurunkan tegangan permukaan alveolus. Berkurangnya tegangan permukaan di alveoli mengurangi gaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan alveoli sewaktu inspirasi. Karena itu, surfaktan menstabilkan diameter alveolus, mempermudah pengembangan alveolus, dan mencegah kolapsnya alveolus sewaktu respirasi dengan memperkecil gaya kolaps. Sewaktu perkembangan janin, sel alveolus besar mengeluarkan surfaktan dalarn jumlah memadai untuk respirasi pada usia 28 sampai 32 minggu gestasi. Selain menghasilkan surfaktan, sel alveolus besar dapat membelah diri dan berfungsi sebagai sel induk untuk sel alveolus gepeng tipe ldi alveoli. Surfaktan juga dianggap memiliki efek bakterisidal di alveoli untuk melawan patogen inhalan yang memiliki potensi berbahaya.

1 Duktus alveolaris 5 Sakus alveolaris2 Alveoli 6 Pembuluh dar\"ah3 Bronkiolus 7 Bronkiolus respiratorius terminalis4 Duktus 8 Duktus alveolarisGAMBAR 15.13 Paru: bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, alveoli, danpembulrih darah. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 40 X

BAB 15 RingkasanKomponen Sistem Pernapasano Bagian konduksi terdiri dari saluran pernapasan yang mengalirkan udara masuk dan keluar paruo Saluran pernapasan yang lebih besar dilapisi oleh epitel bertingkat semu bersilia dengan banyak sel gobleto Sewaktu saluran pernapasan bercabang, tinggi epitel dan ukuran saluran berkurango Bronkiolus terminalis merupakan bagian akhir dari bagian konduksio Bronkiolus respiratorius merupakan daerah transisi antara zona konduksi dan zona respiratorikBagian Konduksi Sistem Pernapasan: Ekstrapulmonal dan lntrapulmonalo Struktur ekstrapulmonal adalah hidung, faring, laring, trakea, dan bronkusr Mengondisikan udara dengan melembabkan, menghangatkan, dan menyaringnya karena adanya silia dan rnukus di saluran pernapasano Struktur intrapulmonal mencakup bronkus, bronkiolus, dan bronkiolus terminaliso Trakea dikelilingi dan dijaga tetap terbuka (paten) oleh cincin tulang rawan hialin bentuk-C yang tidak utuho Di paru, lempeng tulang rawan hialin menggantikan cincin C dan melingkari bronkus besaro Bronkiolus dengan diameter kurang dari 1 mm tidak memiliki tulang rawano Seiring dengan berkurangnya ukuran saluran, epitel berubah menjadi selapis bersilia dan sel goblet menghilangSel Clarao Menggantikan sel goblet dan menjadi sel predominan di bronkiolus terminalis dan bronkiolus respiratoriuso Adalah sel sekretorik tidak bersilia yang jumlahnya bertambah seiring dengan berkurangnya sel bersiliar Mengeluarkan komponen lipoprotein surfaktarl suatu bahan penurun tegangan permukaano Juga dapat berfungsi sebagai sel induk untuk mengganti sel epitel bronkus yang rusak atau cederao Dapat mengeluarkan protein ke dalam percabangan bronkus untuk melindungi paru dari peradangan atau polutan toksikBagian Respiratorik Sistem Pernapasanr Dimulai di saluran tempat terjadinya respirasi pertama kalio Bronkiolusterminalismembentukbronkiolusrespiratoriuso Bronkiolus respiratorius memperlihatkan alveoli berdinding-tipis, tempat respirasi berlangsungo Pertukaran gas hanya dapat terjadi jika terdapat alveolio Terdiri daribronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveolio Sel goblet tidak ditemukan di alveoli dan lapisan alveoli sangat tipis tempat terjadinya respirasiSel di Alveoli Paruo Sel alveolus tipe I (pneumosit tipe I)o Sangat tipis dan melapisi alveolus parur Bersama endotel kapiler membentuk sawar darah:udara yang tipiso Sel alveolus tipe II (pneumosit tipe II)o Terletakberdekatan dengan sel tipe Ir Adalah sel sekretorik, yang apeksnya menonjol di atas sel tipe Io Mengandung banyak corpusculum lamellare sekretoriko Menyintesis surfaktan fosfolipid untuk dikeluarkan ke dalam masing-masing alveolio Surfaktan menurunkan tegangan permukaan alveolus sehingga alveolus dapat mengembang dan mencegah kolapsMakrofag Alveolariso Adalah monosit yang masuk ke jaringan ikat paru dan alveoluso Membersihkan alveoli dari organisme yang masuk dan memfagosit partikel asing 364

Epitel Olf*ktoriusa Terletak di atap rongga hidung dan di kedua sisi konka superiora Mengandung sel penyokong, basal, dan olfaktorius, neuron bipolar sensorik, tanpa sel gobleta Sel olfaktorius terentang di seluruh ketebalan epitel dan tersebar di bagian tengah epitela Permukaan sel memperlihatkan vesikel olfaktorius bulat yang kecil dengan silia olfaktorius nonmotila Siiia olfaktorius mengandung reseptor pengikat-bau yang dirangsang oleh molekul baua Di bawah epitel terdapat kelenjar olfaktorius serosa yang membasahi silia olfaktorius dan merupakan pelarut molekul baua Saraf olfaktorius di lamina propria meninggalkan sel olfaktorius dan berlanjut ke dalam rongga tengkoraka Sel penyokong memberi penunjang mekanis; sel basal berfungsi sebagai sel induk untuk epitela Transisi dari epitel olfaktorius menjadi epitel respiratorik terjadi secara tiba-tibaEpiglotiso Bagian superior laring yang menonjol ke atas dari dinding laringo Bagian tengah epiglotis dibentuk oleh tulang rawan elastiko Epitel berlapis gepeng melapisi permukaan lingualis (anterior) dan sebagian permukaan laringeal (posterior)o Basis epiglotis dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersiliao Kuncup kecap mungkin terdapat di epitel lingualis atau laringealLaringo Plika vokalis palsu, seperti di epiglotis bagian posterior, dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersiliao Di lamina propria terdapat kelenjar campuran seromukosa, pembuluh darah, nodulus limfoid, dan sel adiposao Ventrikulus, suatu lekukan dalam, memisahkan plika vokalis palsu dari plika vokalis sejatio Plika vokalis sejati dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduko Ligamentum vokalis terletak di apeks plika vokalis sejati dan di dekatnya terdapat otot rangka vokaliso Laring ditunjang oleh tulang rawan hialin tiroid dan tulang rawan krikoid. Epitel di laring bagian bawah berubah kembali menjadi bertingkat semu silindris bersiliaTrakeao Dinding terdiri dari mukosa, submukosa, tulang rawan hialin, dan adventisiao Cincin tulang rawan C menjaga trakea tetap terbuka dengan celah di antara cincin terdapat otot trakealiso Trakea dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia dengan sel gobleto Submukosa mengandung kelenjar trakealis seromukosa dengan duktus bermuara ke dalam lumen trakea

Glandula suprarenalis HilumVena renalis Tubulus proximalis Tubulus distalis pars convoluia pars convoluta Polus urinarius Ductus Spatium capsulare colligens Capsula glomerularis (Bowman's capsule) Arteriola Polus vascularis Tubulus distalis pars convoluta Arteria arcuata Vena arcuata .ffia Vasa recta {ir-frl1ffi Ansa nephroni (ansa Henle) wrxffir?.Idl Ductus papillaris MS ffi Segmen tipis Segmen Vas capillare ansa tebal Henle ansa HenleGAMBARAN UMUM 16 lrisan sagital ginjal memperlihatkan korteks dan medula, dengan pembuluhdarah dan duktus ekskretorius, termasuk pelvis dan ureter dan perbandingan histologik pembuluhdarah, berbagai tubulus nefron. dan duktus koligens.366


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook