Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Kelas X_SMK_kriya_kulit_i_wayan_suardana

Kelas X_SMK_kriya_kulit_i_wayan_suardana

Published by haryahutamas, 2016-06-01 19:21:38

Description: Kelas X_SMK_kriya_kulit_i_wayan_suardana

Search

Read the Text Version

Bidang I, II, III masing-masing berpotongan pada suatu garis yangdisebut SUMBU-SUMBU PROYEKSI yaitu:- sumbu O-X, adalah perpotongan antara Bidang I dan Bidang II- sumbu O-Y, adalah perpotongan antara Bidang II dan Bidang III- sumbu O_Z, adalah perpotongan antara Bidang I dan Bidang III Titik 0 adalah pertemuan antara ke tiga sumbu tersebut.Proyeksi titikUntuk memperjelas teori proyeksi, berikut akan dijelaskan bidangproyeksi titik terlebih dahulu. Ini berarti kita mencari dimana letak titikpada ruang itu dan bagaimana penggambaran proyeksinya pada bidangI, II dan III Gb.28.Titik pada ruang Dari gambar di atas tampak P adalah titik yang terletak pada ruang P 1 proyeksi titik P di bidang I P 2 proyeksi titik P di bidang II P 3 proyeksi titik P di bidang IIIKemudian bidang diatas dibentangkan datar untuk dapat tergambarproyeksi titik tersebut dalam bidang datar. Sehingga terlihat sepertigambar berikut ini. 43

Gb.29. Titik dalam bidang proyeksiPERSPEKTIF Perspektif berasal dari kata bahasa italic \"Prospettiva yang berartigambar pandangan. Konstruksi perspektif memungkinkan kita untukmenggambarkan sebuah benda , obyek, atau ruang secara nyata diatassebuah bidang datar (bidang gambar). Dan dalam mempelajari ilmuperspektif tentu tidak lepas dari penggambaran dalam bidang datar. IlmuPerspektif dikenal juga dengan ilmu melihat (doorizh kunde), sehinggapenggambaran perspektif pada dasarnya merupakan sebuah cara untukmenginterpretasikan dunia visual diatas bidang linier/datar.KEGUNAAN ILMU PERSPEKTIF Gambar perspektif menjadi sesuatu yang penting dalam semuabidang ilmu yang menggunakan gambar sebagai media. Dalam bidangarsitektur dan interior ilmu Perspektif menjadi hal yang harus -dikuasaiuntuk dapat memberikan gambar dan ide dalam visualisasi perencanaankerja yang jelas. Pada Pendidikan di tingkat Menengah, ilmu ini juga dipelajaridalam bidang ilmu Matematika dalam pembahasan bangun dan ruang,tentu ini sangat bermanfaat untuk mempelajari interpretasi terhadapsebuah bentuk ruang dan dari sudut mana bentuk itu dipandang. Padaawalnya buku pelajaran pertama mengenai perspektif dutulis oleh Pierodefli Franceschi (1420-1492) oleh seorang pelukis dan ahli matematikayang kemudian dilanjutkan oleh Leonardo Da Vinci (1499) denganbukunya De Devina Proportione. Hal tersebut juga membuktikan bahwailmu perspektif bukanlah ilmu teknis semata, akan tetapi menjadi acuanawal bagi pelukis-pelukis kenamaan di dunia semenjak Renaisance,Rokoko sampai sekarang. Bahkan Leonardo Da Vinci pada sebuahtulisannya I menyebutkan \" Perspective is of such a nature thai it makeswhat is flat appear in relief, and-what is ini relief appear flat\". \ Kenapaperspektif juga penting bagi bidang seni rupa khususnya kriya kulit,karena ilmu ini akan bermanfaat dalam kemampuan dasar menangkapobyek untuk seorang calon perupa/pengrajin. Perspektif juga penting 44

dalam kriya kulit, dalam kriya kulit perspektif berguna untuk menentukanbesar kecil, kemudian menentukan pemilihan bentuk kerajinan yangsesusai dengan rencana, juga mengenai warna (kekaburannya), inibanyak berguna bagi lukisan realis dan naturalis. Untuk dekoratifterkadang perspektif diterapkan dengan penggambaran keatas, posisiyang jauh ada di atasnya tanpa membuat perbedaan besar bentuklukisannya. (dalam lukisan Bali tradisional, wayang beber dsb).Hal tersebut menunjukkan bahwa perspektif menjadi hal yang ingindiungkapkan dalam karya lukisan meskipun tidak terukur dengan detail.MENGGAMBAR PERSPEKTIFPerspektif dalam hal ini dibagi menjadi 2 hal yang mendasar, (1) gambarperspektif terukur (2) perspektif tidak terukur/ gambar tangan(1) Perspektif terukur digunakan dalam gambar kerja yang membutuhkan ketepatan ukuran untuk dipakaidalam mengartikan suatu bentuk benda atau obyek yang akurat. Untuk itu diperlukan alat-alat gambar, skala-skala ukuran yang diambil langsung dari gambar rencana.(biasanya dari gambar proyeksi).(2) Perspektif tidak terukur/gambar tangan biasanya dipakai untuk menjelaskan gambar. Kedudukan obyek biasanya didapat dari system kira-kira atau tebak dengan perkiraan yang hampir tepat sehingga tetap terbaca dengan jelas meski tidak dengan ukuran yang tepat dan akurat. Menggambar Perspektif pada dasarnya mengambar apa yang kita lihat dengan benar, dan hasil gambar itu bisa mengkomunikasikan bentuk yang sama dengan seperti apa yang dilihat oleh mata kita. Ketika kita melihat pada suatu obyek, rnaka kita akan menangkapbanyak hal dari obyek tersebut, dari bentuknya, warna, ukuran danbanyak hal. Akan tetapi kita tidak dapat menginformasikannya secarakeseluruhan obyek dalam satu gambar saja. Sebuah obyek yang sama.akan terlihat berbeda tergantung dari sudut mana obyek itu dilihat.Perhatikan ilustrasi dibawah ini. 45

Gb.30. Sudut Pandang berbeda Dari apa yang tergambar diatas dapat dilihat bahwa bentuk obyekdalam penggambaran akan berbeda tergantung dari sudut mana obyektersebut dilihat. Dilihat dari sudutnya sudut dimana sebuah obyekdipandang melalui bidang gambar merupakan factor yang sangat pentingdalam menentukan metode penggambaran pandangan perspektif 46

Lampiran A DAFTAR PUSTAKAAller Doris, Sunset Leather Craft Book. Lone Publishing Co, Menlo Park, California.Anonimous, 1962, Penggunaan dari Kulit Tersamak. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet, dan Plastik, Yogyakarta..Balai Penelitian Kulit Yogyakarta, 1980, Teknik-Teknik Menyamak Nabati Kulit Sol, Balai Penelitian Kulit Yogyakarta, IndonesiaCalifornia: Lane Books1993/1994. Desain Kerajinan Kulit.Dahar Prize, Kerajinan Kulit, Penerbit Effhar O’ffset, SemarangDepartemen Pendidikan Nasional, 2005, Membuat Potongan Komponen Kulit Dengan Tangan, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jendral manajemen Pendidikan Dasar dan MenengahDome David. Easy-To-Do Leathercraft Projects, with Full-size Templates. Dover Publication, Inc. New York. 1976Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 1979, Pengetahuan TeknologiDwi Asdono Basuki. 1991. Tekitologi Sepatu II. Yogyakarta AkademiTeknologi Kulit. Yogyakarta.Eddy Purnomo,2002, Penyamakan Kulit Ikan Pari, Kanisius, YogyakartaFred W. Zimmerman. 1975Gunarto G. Sugiyono, 1979, Pengetahuan Teknologi Kerajinan Kulit. Direktorat Menengah Kejuruan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Haryanto,S, 1991, Seni Kriya Wayang Kulit “Seni Rupa Tatahan dan Sunggingan, Penerbit PT.Pustaka Utama GrafitiLattief Abdul, Iswari Diah,2005 Membuat Sandal dan Sepatu Santai Untuk Wirausaha, puspa Swara JakartaLaszlo Vass & Magda Molnar, Herrenschuhe Handgearbeitet, Konemann A1

Lampiran AMaria M. di Valentin, Leathercraft, Collier Books, Division Of Macmillan Publishing Co, Inc, New YorkMulyono Jodoamodjojo, 1984,Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan, Penerbit Angkasa Bandung.Meilach Dona Z, 1979, Contenporary Leather, Art and Accessories Tools and Tekniques, Henry Regnery Company, Chicago.Osborne Richard, 1985 ,Kerajinnn Kulit, Ketrampilan Membuat Barang Kulit. Dahara Prize, Semarang.Prasidha Adhikriya PT, 1995,Desain Kerajinan Kulit, Petunjuk Ketrampilan Industri Kerajinan Kulit. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Proyek peningkatan Pendidikan Kejuruan Non Teknis II, Jakarta.Pusat Pelayanan Promosi, 1980.Pengawetan Kulit Mentah untuk IndustriRumah Tangga. BIPIK, Bagian Proyek Sandang dan Kulit,Direktorat industri kecil, Departemen PerindustrianRichard Osborne,Things To Make With Leather Techniques & Projects, Lane Books. Menlo Park, CaliforniaSaraswati, 1986, Seni Mengempa Kulit, Penerbit Bhatara Karya Aksara, JakartaSagio, Samsugi, 1991,Wayang kulit gagrag Yogyakarta, Morfologi, Tatahan, Sung- gingan dan Teknik Pembuatannya. CV Haji Masagung, JakartaSoedjono,2000, Berkreasi Dengan Kulit, Penerbit PT.Remaja Rosdakarya BandungSoejoto R, . 1959, Buku Penuntun tentang Penyainakan Kulit. Balai Penyidikan Kulit, Yogyakarta.Soehatmanto RM. Memperhatikan Wayang Kulit Purwa, sebagai bagian Sent Rupa Indonesia. Pidato Dies Sekolah Tinggi Seni Rupa In- donesia \"ASRI\" XX, Yogyakarta. 1970.Soemitro Djojowidagdo. Aspek Teknologis Penggunaan Kulit Hewan dan Proses Pembuatan Wayang Kulit. Lembaga Javanologi \"Panung- galan\", Yogyakarta. 1986.Suardana I Wayan, 2004, Kerajinan Kulit,1 dan 2, Diktat Pend,Seni Rupa FBS UNYSurya Alam, 2001, Ketrampilan Kulit Tersamak, Aneka Ilmu,Semarang A2

Lampiran ASunarto. Wayang Kulit PurwaGaya Yogyakarta. Balai Pustaka, Jakarta. 1989.————-. Mengenal Tatah Sungging Kulit. Departemen Pendidikan dan Ke-budayaan, Proyek Peningkatan Pengembangan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. 1986.—————. Pengantar Pengetahuan Bahan dan Teknik Kriya Minat Utama Kriya Kulit. Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. 1996.Sukimin. Edy Sutandur, 2005, Kesenian Seni Rupa dan Desain, PT.Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, SoloSylvia Grainger, Leatherwork, J.B. Lippincott Company/ Philadelphia And New YorkTim Bengkel Kulit,1999/2000, Program Keahlian Kria Kulit, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru KesenianW.A. Attwater, 1981, The Technique Of Leathercraft, B.T. Batsford Ltd, LondonWiyono Ign, Soedjono, 1983, Kerajinan Kulit, Penerbit Nur Cahaya YogyakartaWillcox Donald. Modem Leather Design. Wistson-Guptill Publication, New York, Pitman Publishing, London. 1975.Riikn Katalog Mesin Persepatuan. \ 990/1 991. Yogyakarta. BBKKP A3

Lampiran ABiodata PenulisI Wayan Suardana, Lahir di Bali, 31 Desember 1961, Lulus SarjanaFSRD ISI Yogyakarta Tahun 1988. Lulus Magister Seni Murni ITBBandung Tahun 2001. Sampai sekarang sebagai Staf Pengajar JurusanSeni Rupa Fakultas Bahasa Dan Seni UNY A4

Lampiran B Daftar Istilah/ GlossaryAAcuan, Cetakan kaki, Las: Cetakan tiga dimensi menyerupai bentukkaki yang dijadikan acuan/ cetakan dalam pembuatan alas kaki.Atasan, bagian atas alas Kaki: Seluruh bagian atas alas kaki yangbiasanya terdiri dari beberapa bentuk pola yang disatukan.BBalesi: yaitu garis hitam untuk menghias bentuk sunggingan pada tepiwarna dan menhias bludiran.CCacat Material Kulit : Kerusakan yang terjadi pada material kulit dalamsegala jenis dan bentuknya.Corekan: berfungsi untuk nyorek yaitu menggambar diatas kulitperkamen dengan cara menguratkan coretan tersebut.DDaftar Bundel kerja: Daftar bahan-bahan yang akan diproduksi,bersama spesifikasi dan jumlahnya, yang diberikan kepada operator yangbersangkutan.Drenjem: Proses pembuatan titik-titik atau garis titik-titik pada ornamenpatran atau mas-masanFFatliquoring: Obat penyamakan chrome dengan sabun dan minyak agarkulit menjadi lemas atau lentur/elastis dan kuat.GGanden: Palu kayu sebagai alat pemukul yang digunakan dalam prosespemahatan kulit.Gapit: Benda yang terbuat dari tanduk binatang sebagai pegangan padawayang kulit yang di bentuk disesuaikan dengan bentuk wayang.KKulit : Material kulit alami yang diambil dari berbagai jenis kulit binatang.Konstruksi alas kaki, sepatu/sandal: Pilihan jenis struktur/konstruksiyang memperkuat dan membentuk sebuah alas kaki.MMalam: Bahan yang degunakan untuk melicinkan mata pahat sebelumdigunakan memahat agar mata pahat mudah dicabut dari kulit B1

Lampiran BManual dengan Tangan: Proses produksi sederhana dengan alattangan (tidak menggunakan mesin-mesin berat).Masinal dengan Mesin: Proses produksi yang menggunakan alat Bantumesin-mesin berat bertenaga listrik.Melubang: Melubang merupakan proses pemberian lubang pada bagianyang dijahit yaitu menggunakan proses pemberian lubang pada bagianyang dijahit yaitu menggunakan jahit tangan atau menggunakan mesinjahit (tanpa melubangi).Membentuk Sepatu(alas kaki): Membentuk bagian atas dan midsolealas kaki menggunakan cetakan khusus kaki (last)Mencawi: yaitu menghias warna-warna sunggingan.Mengerok: Proses pembersihan kulit dari daging yang masih tersisasampai kulit kelihatan bersih dan transparan.Menjahit: Proses menyatukan dua bidang komponen lunakmenggunakanbenang dan jarum.Menyeset, Menyisit: Proses menipiskan bidang pinggir material kulityang dilakukan sebelum kulit dilipat dan atau disambungkan.Mencetak: Proses membentuk sebuah permukaan menjadi bentuktertentu dengan alat bantu cetakan dan mesin cetak.NNyaweni (cawen): yaitu proses garis sejajar rapi mengikuti bentukpahatanPPanduk: Sering juga dinamakan pandukan yaitu alat yang fungsinyasebagai alas atau landasan pada waktu memahat.Penthengan: Alat ini terbuat dari kayu bulat berbentuk segi empat dapatjuga dari bambu. Fungsinya untuk merentangkan kulit dalam prosespengeringanPenyelesaian: Proses akhir dalam produksi ditujukan untukmenyempurnakan bentuk yang dibuat.Perkamen: Kulit mentah yang sudah dalam keadaan kering dandigunakan untuk pembuatan wayang, kap lampu, penyekat, kipas, bedug,dsb.Pethel: Adalah kapak kecil yang digunakan untuk menipiskan(mengerok) kulitPola Dasar: Pola dalam bentuk terentu yang dijadikan acuan dalampemotongan bagian-bagian material kulit dan sejenisnya.Produk Alas Kaki Kulit: Produk yang digunakan sebagai alas kaki danterbuat sebagian atau seluruhnya dari kulit, dan tidak terbatas padasendal dan sepatu.Produk Kulit non Alas Kaki, non busana: Produk pakai yang terbuatdari kulit namum tidak termasuk produk alas kaki dan busana (baju dancelamna) termasuk dan tidak terbatas pada tas dan dompet. B2

Lampiran BPrototip, sample: Produk contoh pertama dalam industri kulit biasanyadibuat oleh seorang sample maker dan desainer.SSplit: Kulit jadi dari sapi, kuda, kerbau, domba, kambing yang dibelahdengan mesin belah yang menghasilkan 2 bagian atau lebih.Standar Nasional Indonesia (SNI): Standar kerja atau produksi yangsecara resmi teklah disetujui dan mendapat sertifikasi SNISurat Perintah Kerja: Surat perintah pengerjaan yang biasanyadisertakan bersama bundle pekerjaan dan diserahkan kepada operatoryang bersangkutan.Sungging: Proses memperindah bentuk-bentuk tatahan pada suatukarya kulit perkamen. Menyungging ini merupakan pemberian warna dariwarna muda hingga warna tua atau warna gradasi.TTindhih: Alat ini biasanya berupa besi fungsinya utuk menindih kulit agarpermukaannya menenpel pada panduk.UUncek: Sebagai pelubang kulit sekaligus sebagai alat gambar dalamproses pengerjaan kulit. B3

Lampiran C DAFTAR GAMBARDAFTAR GAMBARBAB Gambar 1. KeteranganI Gambar 2. Penampang Kulit Sketsa bagian-bagian kulit Gambar 1 Model huruf Gambar 2. Perbandingan huruf Gambar 3. Monogram Gambar 4. Tas Gambar 5 . Sepatu Gambar 6. Plora Gambar 7. Kambing Gambar 8. Kerbau Gamhar 9. Manusia laki-laki Gambar 10. Manusia Gambar 11. Nirmana 3 demensi Gambar 12. Bidang geometris Gambar 13. Bidang nongiometris Gambar 14. Trimatra Gambar 15. Bentuk pola dan barang jadi kulit Gambar 16 . Memola bentuk yang dimaksud Gambar 17. Menggunting pola Gambar 18. Menatah pola Cambar 19. Menghaluskan bidang kulit. Gambar 20. Memberi isian pada tiap sunggingan dan bentuk bagian muka wayang Gambar 21 . Memasang bagian tangan yang dapat digerakan Gambar 22. Memasang tangkai bagian tangan Gamb ar24 . Barang yang telah selesai dibuat Gambar 25. Bidbentuk perspektif bidang-bidang proyeksi dalam dalam bentuk perspektif Gambar 26. Gambar titik pada ruang Gambar 27. Gambar titik dalam bidang proyeksi Gambar 28. Sudut pandang berbeda Gambar 1. Model sepatu Gambar 2. Kulit samak krom Gambar 3. Kulit buaya Gambar 4. Atasan sepatu Gambar 5. Kulit sapi C1

Lampiran CGambar 6. Strutur kulitGambar 7. Lem kentangGambar 8. Tang zwickenGambar 9. Paku pembentukan sepatuGambar 10. CatutGambar 11. Pukul besiGambar 12. Bahan untuk sol dalam dan penguat sepatuGambar 13. Pisau potong dan alat penajam pisauGambar 14. Memola bahan sol bagian dalamGambar 15. Memotong bahan sol bagian dalamGambar 17. Meratakan bahan sol dalam dengan pecahan kacaGambar 18. Menempel bahan sol dalam pada acuan sepatuGambar 19. Memotong sol dalam sesuai acuan.Gambar 20. Sepatu model derbyGambar 21. Bagian vamp sepatuGambar 18. Sesetan miringGambar 21. Sesetan datarGambar 22. Sesetan cekungGambar 23. Sesetan miring tipisGambar 24. Bagian quarterGambar 25. Bagian seset miring/tipis dan rata untuk lipatanGambar 26. Bagian seset miring /tebalGambar 27. Bagian seset miring/tebal bagian belakangGambar 28. Bagian seset miring/tebal pencetakan bagian atas sepatuGambar 29. Seset miring/tipis melipat dibagian quarterGambar 30. Penguat sepatuGambar 31. Cetakan penguat sepatuGambar 32. Menyeset bahan penguat belakangGambar 33. Mengeringkan penguat sepatuGambar 34. Cetakan penguat belakang sepatuGambar 35. Penguat/pengeras yang telah tercetakGambar 36. Atasan sepatuGambar 37. Memasang sol dalamGambar 38. Memasang atasan sepatuGambar 39. Memasang penguat belakangGambar 40. Menaburi bedakGambar 42. Zwicken dasar awalGambar 43. Zwicken dasar lanjutanGambar 44. Zwicken lanjutan C2

Lampiran CGambar 45. Memasang sisa lipatanGambar 46. Membengkokan paku dengan palu besiGambar 47. Mengopen lapis depanGambar 48. Memasang penguat depanGambar 49. Memplastiskan bentukGambar 50. Pita dipotong dengan sudut 45 derajat bahan-bahan yang dijahityaitu atasan solGambar 54. Pita (rahmen)Gambar 55. Alat pelubang jahit pita (tengah)Gambar 56. Benang pechdrahtGambar 57. Melapisi benang dengan lilin/malamGambar 58. Bahan pembuat lilin/malamGambar 59. Tatah kulit perkamenGambar 60. Benang jahit pitaGambar 61. Jahit pita (rahmen) mulai dari batas hak depanGambar 62. Menarik jarum dengan catutGambar 63. Menjahit pita sepatuGambar 64. Meratakan material dari atasan dan pitaGambar 65. Memukul permukaan insol, pita dan benang jahitanGambar 66. Meluruskan pita dengan tang zwichenGambar 67. Memadatkan pita dengan pisau tulangGambar 68. CorekanGambar 69. Pahat bubukan putren Pahat bubukan bambanganGambar 70. Pahat bubukan gagahanGambar 71. Paku pasak/nagelGambar 72. Membuat lubang pasakGambar 73. Memotong kelebhan pitaGambar 74. Memaku pasak lanjutanGambar 75. Kulit untuk hiasan sepatuGambar 76. Proses merapikan potongan kulitGambar 77. Potongan kulit untuk hiasanGambar 78. Memotong kulit dengan alat potong hiasGambar 79. Membuat lubang variasiGambar 80. Potongan kulit yang sudah di sesetGambar 81. Perakitan, mengukur dan melubangiGambar 82. MenjahitGambar 83. Posisi tangan saat menjahitGambar 84. Posisi jarum mesin jahit saat menjahitGambar 85. Menjahit bagian pinggir Mengontrol bagian dalam kulit C3

Lampiran CGambar 86. Pembuatan lu hiasanGambar 87. Bagian atas sepatuGambar 88. Pembuatan alas bawahGambar 89. Melubangi bagian bawah untuk di pakuGambar 90. Melubangi, memberi pasak dan menyeset/meratakanGambar 91. Merapikan bagian bawah sepatuGambar 92. Pemberian warna bagian bawah sepatuGambar 93. Proses menghaluskan bagian bawah sepatuGambar 94. Penempatan acuan untuk mencari ukuranGambar 95. AcuanGambar 96. Meratakan bagian dalam sepatuGambar 1 Jenis-jenis sesetanGambar 2. Seset tradisionalGambar 3. Pisau seset biasaGambar 4 Pisau seset modernGambar 5 Pisau seset safety beveler atau skifeGambar 6 Pisau seset berbentuk ketamGambar 7 Penyesetan dengan pisau seset biasaGambar 8 Penyesetan dengan skifeGambar 9. Penyesetan dengan skife (pisau ditarik ke arah tubuh)Gambar 10 Seset lurusGambar 11 Seset datarGambar 12 Seset miringGambar 13 Seset cekungGambar Mesin sesetGambar 14 Sesetan datarGambar 15 Sesetan miringGambar 16 Sesetan alurGambar 17 Penjepit atau kuda-kudaGambar 18 Rader atau plongGambar 19 Penggaris dan jangkaGambar 20 Memberi tanda tusukanGambar 21 Melubangi kulit mengikuti tanda tusukanGambar 22 Memasukan benang pada jarumGambar 23 Posisi benang pada jarumGambar 24 Uncek pipihGambar 25 Posisi uncekGambar 26 Posisi benangGambar 27 Posisi lubangGambar 28 Posisi jarum dengan benangGambar 29 Posisi benang seimbang C4

Lampiran C Posisi tegak lurus Posisi arah jahitan Gambar Posisi mengunci benang Gambar Contoh penjahitan manual Gambar Mencorek lurus dan melingkar. Gambar Langgat lurus calon srunen Gambar Memahat inten srunen Gambar Penegasan Garis pola Gambar Pemahatan Wayang Gambar Pemahatan dengan pahat diisi malam Gambar Aneka pahatan Gambar Aneka ukiran untuk asesoris Gambar Tokoh wayang tatahan belum belum Gambar diwarna Gambar Gunungan tatahan perkamen Sket tokoh wayang 1 Gambar Sket tokoh wayang 2 Gambar Proses 1,2,3,4,5 teknik sungging motif Gambar tlacapan Gambar Proses 1,2,3,4 teknik sungging motif Sawutan Gambar Mewarna dasar Mewarna Emas Gambar Mewarna putih Gambar Gradasi Merah Gambar Mewarna gradasi hijau Gambar Mewarna gradasi jingga Gambar Mewarna gradasi warna biru Gambar Mewarna gradasi warna violet Gambar Menempel kuwil mas Gambar Mengolesi perekat kuwil mas Gambar Menempel kuwil mas Gambar Mengedus bludiran Gambar Balesi dan mencawi Gambar Bayu mangsi Gambar Motif Sunggingan Tlacapan Gambar motif Sunggingan Tlacapan pada wayang Gambar . sketsa Penyekat Ruang (Sketsel Gambar sketsa Jam Dinding Gambar sketsa Lampu Gantung Gambar Pemindahan Pola dari Kertas Karton ke Gambar Kertas Kalkir Gambar Pola pada Kulit Perkamen Gambar C5

Lampiran C Peralatan Sungging. Peralatan Finishing Akhi Gambar Proses Penghalusan kulit perkamen Gambar Proses Finishing Akhir Gambar Tanduk Kerbau Gambar Macam alat pembuat tangkai Gambar gergaji gawangan Gambar pisau penyisik dan penyerut Gambar Patar grigi Gambar Bu Erek Gambar Tanduk yang sudah dibelah Gambar patar cembung Gambar penyerut gapit Gambar Kompor pelurus gapit Gambar Amplas kain dan Daun amplas Gambar Air pendingin gapit Gambar Suasana penyertiran tanduk Gambar Tanduk Gambar Gapit Gambar Gambar 187. Potongan-potongan gapit Gambar diikat yang nantinya digunakan untuk Gambar asesoris yang kecil-kecil Gambar 188. Gapit, sudah siap untuk di Gambar gunakan, ada gapit berwarna hitam, putih, coklat, tergantung jenis sapi/kerbau yang Gambar digunakan. Gambar 189. Penghaluskan Gapit, dengan Gambar cara dilap berkali-kali, kemudian dipanaskan lagi dan seterusnya. Gambar Gambar 190. Gapit, dengan warna kecoklatan ditengah-tengahnya terdapat Gambar garis kehitam-hitaman. Gambar 191. Gapit yang sudah dibelah, Gambar biasanya disesuaikan dengan tokoh yang diharapkan, masing-masing tokoh wayang Gambar berbeda-beda. Gambar 192. Ujung pentolan gapit, gunanya untuk gapit wayang dan memudahkan untuk mengikatnya. Pemanasan apit dengan menggunakan lampu, untuk melemaskan gapit supaya dengan mudah untuk dibentuk menggunakan tanduk. Membentuk gapit dengan menyesuaikan C6

Lampiran C bentuk dan karakter wayang Gambar Melubangi bagian gapit, guna proses Gambar perakitan Memberi tali pada gapit yang kemudian Gambar disesuaikan dengan wayang/tokoh yang dikehendaki Gambar Pemasangan gapit pada wayang, dilakukan Gambar dengan sangat hati-hati, sebab kadang- kadang gapit sangat kaku dan sulit untuk Gambar diolah. Pemanasan gapit dilakukan untuk Gambar membentuk posisi wayang yang akan diisi gapit, supaya sesuai dengan tokoh yang Gambar dikehendaki. Gambar Perakitan, wayang dengan gapit secara ber Gambar ulang-ulang dipanasi untuk mendapatkan Gambar hasil sesuai dengan bentuk wayang, kater Gambar jarum dengan benangnya digunakan untuk Gambar merangkai supaya bisa kuat. Gambar pisau kater, benang lengkap dengan jarum, Gambar juga lem untuk merekatkan Gambar Gambar Posisi tangan pada saat merakit, gapit Gambar dimasukan pada wayang mulai dari bawah Gambar ke atas sampai di atas baru diikat, juga Gambar disisipkan benang untuk penguat. Menggapit tangan wayang, sesuai dengan tokoh yang dikehendaki. Kap Lampu Duduk Kap Lampu Tempat Lilin Tempat Lilin dan Kap Lampu Pembatas Buku Wayang Kulit Belum di Warnai Wayang Kulit Sudah di sungging Hiasan Dinding Mahkota Untuk Tarian Bali Tampak Depan Mahkota Untuk Tarian Bali Tampak Samping Sabuk Busana Tarian Bali Asisoris Tarian Bali C7

Lampiran C CA


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook