Sekedear Berbagi Ilmu & Buku Attention!!! Please respect the author’s copyrightand purchase a legal copy of this book AnesUlarNaga. BlogSpot. COM
MOCHTAR LUBISHARIMAU! HARIMAU! Yayasan Obor Indonesia Jakarta, 1993 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam I orbitan (KDT) LUBIS, Mochtar
Harimau-Harimau/Mochtar Lubis; ilusirasi, Ipong Purnama Sidhi. - Ed. 1. -Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992 vi + 214 hlm.: 17 cm. ISBN 979-461 -109-3. Judul. Judul: Mochtar Lubis, Harimau! Harimau! Copyright © Mochtar Lubis Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All rights reservedCetakan pertama sampai dengan keempat oleh P.T. Dunia Pustaka Jaya Diterbitkan ulang pertama kali oleh Yayasan Obor Indonesia, anggota IKAPI DKI Jakarta Edisi pertama : Mei 1992 Edisi kedua: September 1993 YOI:149.10.8.92 Desain Sampul: lpong Purnama Sidhi Alamat Penerbit: Jl. Plaju no.10 Jakarta 10230 Telp. 324488; 32697$ Fax. (021)324188
……..melintas ketakutan lewat sudut jalan-jalan dan tanah lapang meratap kengerian angin lalu ada yang tidur yang lainbangun hati berdebar cemas turunlah hujan semuanya teror dan sunyi sepi……
1 Hutan Raya terhampar di seluruh pulau, dari tepi pantaitempat ombak-ombak samudera yang terentang hingga keKutub Selatan menghempaskan diri setelah perjalanan yangamat jauhnya hingga ke puncak-puncak gunung yangmenjulang tinggi dan setiap hari diselimuti awan tebal. Hutanraya berubah-ubah wajahnya. Yang dekat pantai merupakanhutan-hutan kayu bakau, dan semakin jauh ke darat dansemakin tinggi letaknya, berubah pula kayu-kayu dantanaman di dalamnya, hingga tiba pada pohon-pohon besardan tinggi, sepanjang masa ditutup lumut, yang merupakanrenda-renda terurai dari cabang dan dahan. Sebagian terbesar bagian hutan raya tak pernah dijejakmanusia dan di dalam hutan raya hidup bernapas dengankuatnya. Berbagai margasatwa dan serangga penghuninyamempertahankan hidup di dalamnya. Demikian pula tanamandan bunga-bunga anggrek, yang banyak merupakan mahkotadi puncak-puncak pohon tinggi. Di bahagian atas hutan raya hidup siamang, beruk dansebangsanya dan burung-burung; dan di bawah, di atastanah, hidup harimau kumbang, gajah dan beruang; disepanjang sungai tapir, badak, ular, buaya, rusa, kancil danratusan makhluk lain. Dan di dalam tanah seranggaberkembang biak. Banyak bagian hutan raya yang menakutkan, yangpenuh dengan paya yang mengandung bahaya maut danhutanhutan gelap yang basah senantiasa dari abad ke abad.Akan tetapi pula ada bahagian yang indah dan amat menarikhati, tak ubahnya seakan hutan dalam cerita tentang duniaperi dan bidadari, hutan-hutan kecil yang dialasi oleh rumput
hijau yang rata, yang seakan selalu dipelihara dandibersihkan, dikelilingi oleh pohon-pohon cemara yang tinggidan langsing semampai dan yang menyebarkan wangi minyakcemara ke seluruh hutan. Di tengah hutan yang demikiansebuah anak sungai kecil, dengan airnya yang sejuk danbersih mengalir, menccraeah, menyanyi-nyanyi danberbisik-bisik, dan akan inginlah orang tinggal di sanaselama-lamanya. Di dalam hutan terdapat pula sumber-sumber nafkahhidup manusia, rotan dan damar dan berbagai bahan kayu.Manusia yang dahulu hidup di dalam hutan seperti binatang,dan kemudian meninggalkan hutan untuk membangun kotadan desa, kini pun selalu kembali ke dalam hutan untukberburu atau mencari nafkah. Mereka bertujuh telah seminggu lamanya tinggal didalam hutan mengumpulkan damar. Pak Haji Rakhmad, yangtertua di antara mereka. Pak Haji demikian panggilannyasehari-hari, telah berumur enam puluh tahun. Meskipunumurnya telah selanjut itu, akan tetapi badannya masih tetapsehat dan kuat, mata dan pendengarannya masih terang.Mendaki dan menuruni gunung membawa beban damar ataurotan yang berat, menghirup udara segar di alam terbukayang luas, menyebabkan orang tinggal sehat dan kuat. PakHaji selalu membanggakan diri, bahwa dia tak pernah sakitseumur hidupnya. Dia bangga benar tak pernah merasa sakitpinggang atau sakit kepala. Di waktu mudanya ketika dia berumur sembilan belastahun, dia pernah meninggalkan kampungnya, dan pergimengembara ke negeri-negeri lain. Ada lima tahun lamanyadia bekerja di kapal. Dia pernah tinggal dua tahun di India,belajar mengaji di sana. Pak Haji juga pernah mengembara kenegeri Jepang, ke negeri Cina, ke benua Afrika dan ke bandar-bandar orang kulit putih dengan kota-kotanya yang ramai.
Akan tetapi kampung halaman memanggilnya jugakembali. Dan setelah dua puluh tahun mengembara, akhirnyaPak Haji menunaikan ibadah haji, dan kemudian kembali kekampung. Dia kembali bekerja mencari damar, seperti yangdilakukan oleh ayahnya dahulu, dan yang telah dilakukannyapula sejak dia berumur tiga belas tahun mengikuti ayahnya. Pak Haji selalu berkata, setelah merasakan semuapengalamannya di dunia, dia lebih senang juga jadi orangpendamar. Wak Katok berumur lima puluh tahun. Perawakannyakukuh dan keras, rambutnya masih hitam, kumisnya panjangdan lebat, otot-otot tangan dan kakinya bergumpalan.Tampangnya masih serupa orang yang baru berumur empatpuluhan saja. Bibirnya penuh dan tebal, matanya bersinartajam. Dia juga ahli pencak dan dianggap dukun besar dikampung. Dia terkenal juga sebagai pemburu yang mahir. Yang muda-muda di antara mereka bertujuh, Sutan,berumur dua puluh dua tahun dan telah berkeluarga, Talibberumur dua puluh tujuh tahun dan telah beristri danberanak tiga, Sanip berumur dua puluh lima tahun, juga telahberistri dan punya empat anak, dan Buyung, yang termuda diantara mereka, baru berumur sembilan belas tahun.Anak-anak muda itu semuanya murid pencak Wak Katok.Mereka juga belajar ilmu sihir dan gaib padanya. Mereka melihat wak Katok merupakan salah seorangyang dituakan di kampung, yang dianggap seorang pemimpindan disegani orang banyak. Mereka tak pernah meragukankebenaran kata-kata dan perbuatannya. Secara tak resmi Wak Katoklah yang merupakanpemimpin rombongan pendamar itu. Anggota rombongan yangketujuh ialah Pak Balam yang sebaya dengan Wak Katok.Orangnya pendiam, badannya kurus, akan tetapi kuatbekerja. Dia pernah ditangkap pemerintah Belanda di waktuapa yang dinamakan pemberontakan komunis di tahun 1926,
dan dibuang oleh Belanda selama empat tahun ke TanahMerah. Dia tak punya anak. Isterinya, Khadijah, yangmengikutinya dahulu ke pembuangan, menderita penyakitmalaria ketika hamil di Tanah Merah, kandungannyakeguguran, dan sejak itu tak pernah lagi dapat beranak.Isterinya terus-menerus sakit, dan uangnya selalu habisuntuk membeli segala rupa obat. Mereka bertujuh selalu bersama-sama pergimengumpulkan damar, meskipun mereka sebenarnya takberkongsi, dan masing-masing menerima hasil penjualandamar yang dikumpulkannya sendiri. Akan tetapi denganberombongan tujuh orang bersama-sama, mereka merasalebih aman dan lebih dapat bantu-membantu melakukanpekerjaan. Mereka termasuk orang baik di mata orang sekampung.Wak Katok dihormati, disegani, dan malahan agak ditakuti,karena termashurahli pencak, dan mahir sebagai dukun.Menurut cerita, pernah seseorang yang tergila-gila padaseorang perempuan, minta pada Wak Katok dibuatkan guna-guna untuk merebut hati perempuan itu. Benar juga, siperempuan sampai minta cerai dari suaminya, meninggalkansuami dan anak-anaknya. Banyak cerita lain tentang kejagoanWak Katok. Diceritakan orang juga, bahwa dulu, sewaktu diamasih muda, dia pernah berpencak melawan seekor beruang,ketika beruang menghadangnya di hutan. Dan beruanglahyang kalah dan lari masuk hutan. Dan tentang ilmu sihirnya.... orang hanya beraniberbisikbisik saja tentang ini. Kata orang dia dapat bertemudengan hantu dan jin. Pak Balam juga dihormati orang.di kampung, yangmenganggapnya sebagai seorang pahlawan, yang telah beraniikut mengangkat senjata melawan Belanda. Orang kampungtahu, bahwa Pak Balam bukan seorang komunis. Dia seorangyang saleh beragama dan pasti bukan orang komunis. Karena
orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan, dan tidakpercaya pada agama. Pak Balam dan kawan-kawannya dahulubangkit melawan Belanda, karena Belanda terlalu menekanrakyat, memaksa rakyat membayar macam-macam pajakbaru, dan rakyat tidak lagi merasa hidup bebas dan merdeka. Pak Haji dihormati orang di kampung, karena umurnyadan hajinya. Akan tetapi orang kampung kurang mengerti dia.Sejak dia pulang dari pengembaraannya ke dunia luar, diaseakan mengasingkan diri, memencilkan diri di kampung. Diatak hendak menikah, meskipun dipaksa-paksa olehkeluarganya. Dia tak hendak jadi pemimpin di kampung, baikpemimpin agama maupun masyarakat. Mula-mula orangkampung mengatakan dia jadi angkuh karena telah lama diluar negeri, akan tetapi lama-lama orang biasa juga dengantingkahnya yang aneh, dan orang kampung pun tidak lagimengacuhkannya. Pak Haji kelihatannya senangdikesampingkan begitu. Sutan, Buyung, Talib dan Sanip juga termasuk anakmuda yang dianggap sopan dan baik di kampung. Mereka orang-orang wajar seperti sebagian terbesar orangdi kampung. Mereka baik dalam pergaulan, pergi sembahyangke mesjid, duduk mengobrol di kedai kopi seperti orang lain,mereka ikut bekerja besama-sama ketika ada orangmembangun rumah, memperbaiki jalan-jalan, bandar ataupun menyelenggarakan perhelatan. Mereka adalah ayah,suami, saudara dan kawan yang baik. Mereka tertawa, merekamenangis, mereka mimpi, mereka berharap, mereka marah,kesal, sedih seperti juga orang lain di kampung. Mereka takberbeda dari orang lain. Mereka adalah manusia biasa. Dan kini mereka bekerja di dalam hutan raya. Mencarinafkah untuk keluarga.
2 Wak Katok membawa senapan lantaknya. Biasanyajarang dia membawa senapan jika men-damar. Senapanhanya dipakainya jika berburu rusa atau babi. Tetapi sekaliini dia mengatakan, hendak mengajak mereka memburu rusa,yang dua bulan lalu acap datang memasuki huma Wak Hitam,tempat mereka bermalam di tengah hutan. Senapan lantaknyasudah amat tua, akan tetapi bagus sekali. Laras besinyapenuh dengan ukiran halus. Buyung amat senang dengansenapan itu. Dia senang menyandangnya, berganti-gantidengan Wak Katok. Senjata adalah perhiasan letaki. Pisaubelati, atau keris, atau parang di pinggang adalah pelengkappakaian letaki. Dan senapan di bahu lebih lagi memberi rasagagah dan perwira pada seorang letaki. Wak Katok suka juga meminjamkan senapannya kepadaBuyung, karena dia tahu Buyung senang pada senapan, danselalu menjaga dan membersihkannya baik-baik. Tiap kalisetelah Buyung meminjamnya, maka senapan selaludikembalikan jauh lebih bersih dan diminyaki pula. Buyungakan menggosok laras senapan berulang-ulang, beratus kali,hingga laras besi bersinar biru tua berkilauan ditimpa cahaya,dan gagangsenapan dari kayu mahoni cokelat kehitaman akankelihatan halus dan berkilau seperti beludru. Sekikis debupun atau bekas mesiu tak ada yang tertinggal. Buyung telahlama ingin mempunyai senapan sendiri. Telah dua tahunlamanya dia menyimpan uang untuk membeli sebuahsenapan. Tapi dia tak bermaksud membeli senapan lantakyang kuno. Senapan lantak terlalu lamban untuk dibawaberburu. Mula-mula harus dimasukkan tepung mesiu melaluilaras depan. Lalu mesiu dilantak dengan tongkatnya, supayapadat. Kemudian peluru dimasukkan, didorong lagi ke dalam.
Barulah senapan dapat ditembakkan. Dan sedang kitaberbuat demikian, rusa atau babi telah lama lari danmenghilang. Akan tetapi, senapan lantak memaksa orangharus mahir dan tepat membidik dan menembak. Sekali bidikdan sekali tembak, harus kena dengan tepat. Jika tidak makaakan hilanglah kesempatan menembak untuk kedua kalinya.Buyung bangga benar dengan kepandaiannya menembakkansenapan lantak. Jarang benar dia meleset. Hampir selalu kenasasarannya. Dia pernah membidik seekor babi yang sedang lari, yangdibidiknya tepat di belakang kupingnya, dan di sanalah pelurumengenai sang babi. Wak Katok sendiri pernah memujinya,ketika dalam berburu babi ramai-ramai dengan orangkampung, pelurunya menembus mata kiri seekor babi yangdatang menyerang. Wak Katok dalam kemarahan hatinyaketika itu mengatakan, bahwa dia sendiri pun tak dapatmemperbaiki tembakan Buyung. Sungguh sebuah pujianbesar datang dari Wak Katok. Buyung merasa amat banggadan namanya sebagai penembak yang mahir mulai termashurdi kampung. Pujian dari Wak Katok sebagai pemburu yang termahirdan penembak yang terpandai di seluruh kampung,merupakan semacam pengangkatan resmi juga untukBuyung. Karena menurut cerita orang di kampung, takseorang juga yang dapat menandingi Wak Katok perkaramenembak dan berburu. Wak Katok pandai membaca segalamacam jejak di hutan, dia mahir mencium kebiasaan danketakuan berbagai rupa mahkluk hutan. Sejak kecilnya Buyung telah mendengar cerita-ceritatentang kejagoan dana kebesaran Wak Katok. Karena itu diasungguh merasa beruntung dapat ikut mendamar dalamrombongan Wak Katok, dan malahan diterima pula menjadimurid pencak dan ilmu sihirnya.
Menurut cerita orang, jika bersilat, Wak Katok dapatmembunuh lawannya, tanpa tangan, kaki atau pisaumengenai lawannya. Cukup dengan gerak tangan atau kakisaja yang ditujukan ke arah kepala, perut atau ulu hati lawan,dan lawannya pasti akan jatuh, mati terhampar di tanah.Sebagai dukun dia terkenal ke kampung lain. Dia pandaimengobati penyakit biasa, akan tetapi juga dapat mengobatiperempuan atau letaki yang kena guna-guna; dia punya ilmuyang dapat membuat seseorang sakit perut sampai mati, diapandai membuat jimat yang ampuh, yang dapat mengelakkanbahaya ular, atau binatang buas yang lain, membuat orangjatuh sayang atau takut atau segan, membuat orangmenerima permintaan seseorang, dia punya ilmu pemanisuntuk orang muda, letaki atau perempuan, dia punyamantera dan jimat supaya orang selamat dalam perjalanan,jimat supaya kebal terhadap senjata, atau jimat supaya kebalterhadap racun ular, dia dapat membuat orang muntah darahsampai mati, dan dia punya mantera untuk menghilang,hingga tak dapat terlihat oleh orang lain. Buyung dan kawan-kawannya selalu bermimpi akandiberi pelajaran oleh Wak Katok ilmu sihir yang dahsyat. Diaterutama sekali ingin dapat belajar mantera pemikat hatigadis. Dia telah jatuh cinta benar pada si Zaitun, anak WakHamdani, Pak Lebai di kampung, akan tetapi sang gadisseakan acuh tak acuh saja. Kadang-kadang Zaitun tersenyumamat manis sekali kepadanya, jika mereka bertemu di jalanyang menuju pancuran. Dan mata Zaitun akan mencarimatanya, dan memancarkan cahaya yang penuh arti. Akantetapi kadang-kadang, jika melihat Buyung dari jauh datanghendak berpapasan dengan dia, maka dari jauh-jauh dia telahmembuang mukanya, pura-pura asyik bercakap-cakapdengan kawan-kawannya, dan seakan tak tahu bahwaBuyung lewat dekatnya. Tetapi Wak Katok belum hendak memberikan ilmu inikepadanya. Engkau masih terlalu muda, kata Wak Katok,
darah masih panas, nanti engkau buat tergila-gila padamusemua perempuan di kampung ini. Ilmu ini hanya untukmembela kehormatan letaki, kalau kita dihina perempuan,atau jika engkau sungguh cinta dan hendak memperistriseorang perempuan. Akan tetapi tak boleh engkau pakaiuntuk menggoda isteri orang. Buyung dan kawan-kawannya juga amat ingin mendapatilmu menghilang. Dia telah bermimpi tentang hal-hal yangdapat dilakukannya, jika dapat ilmu demikian, alangkahmudahnya dia mengintip Zaitun lagi tidur, atau lagi mandi ...darahnya berdebar teringat pada kemungkinan ini, danalangkah mudahnya dia menjadi kaya jika dia punya ilmuserupa itu .... Ayah Buyung bersahabat dengan ayah Zaitun, danBuyung pun sejak kecil berkawan dengan Zaitun. Ketikamereka masih kanak-kanak, mereka sering mainbersama-sama. Dan dia ingat sering menggangu Zaitun terlalusekali, sehingga Zaitun nienangis. Tetapi, tiba-tiba saja, ketikadia berumur dua belas tahun, Zaitun seakan menjauhkan diri,dan hampir-hampir mereka tak pernah bertemu lagi. Tiba-tibasaja Zaitun telah jadi seorang gadis, dan kini dia telah jadiseorang muda, dan mereka tak lagi dapat bergaul sebebasdahulu. Buyung tak tahu apa perasaan Zaitun yang sebenarnyaterhadap dirinya. Kadang-kadang Zaitun baik sekali. Jika diadisuruh ibunya ke rumah Buyung membawa kirimanmasakan, dan kebetulan Buyung ada di rumah, makaterkadang dia baik dan manis sekali pada Buyung dan akantersenyum manis pula dan dia kelihatan amat cantiknya, danmenyapa Buyung dengan \"kakak\" padahal. Buyung hanyasetahun saja lebih tua. Jika Zaitun demikian, maka Buyung merasa hatinyaseakan terlonjak, terlambaung ke langit yang ketujuh, dankakinya serasa tak berpijak lagi di lantai, dan sekelilingnya
terasa olehnya terang benderang, penuh bunyi suling danorang menyanyi. Tetapi kadang-kadang, jika Zaitun datang kerumahnya, maka jangankan dia menegur Buyung, melihatBuyung saja pun dia tak mau, dan jika Buyung mendekat,ketika Zaitun berbicara dengan ibunya, maka Zaitun berbuattak acuh sama sekali. Bagaimana hendak memikat hati gadis yang demikian,kalau tidak dengan mantera Wak Katok? Buyung bersediamelakukan apa saja, asal Wak Katok mengajarkan manterayang diperlukan. Buyung tahu bahwa orang tuanya, ayah dan ibunya,berkenan menerima Zaitun sebagai menantu. Buyung pernahmendengar mereka membicarakan hal ini, ketika ayah danibunya menyangka, bahwa dia tak ada di rumah. Ini terjadipada suatu petang, ketika Zaitun datang membawa makananuntuk ibu Buyung dan setelah Zaitun pergi, Buyungmendengar dari kamar di sebelah, ayahnya berkata : \"Si Tun sudah gadis benar. Kelihatannya baik takunya.\" \"Ya,\" sahut ibu Buyung, \"dia rajin bekerja di rumah. Diapandai pula menjahit, dan rajin sembahyang dan mengaji. Diapun sudah sekolah.\" \"Si Buyung pun sudah besar. Sudah sembilan belastahun umurnya. Dan dia pun sudah pandai bekerja,\" kataayahnya. \"Entahlah si Buyung itu,\" kata ibu Buyung. Di mataibunya, dia masih tetap saja seorang anak kecil yang belumdewasa. Sedang Buyung menganggap dirinya telah dewasa. Diatelah berumur sembilan belas tahun, dia telah tamat sekolahrakyat, dia telah tamat Qur'an sampai dua kali, dan dia punsudah pandai mencari nafkah sendiri. \"Sebenarnya sudah boleh kita kawinkan dia,\" terdengarsuara ayahnya. \"Kiranya Zaitun senang padanya?\"
\"Semua gadis kampung akan suka bersuamikanBuyung,\" terdengar olehnya suara ibunya berkata denganbangga. Ayahnya tertawa, dan berkata : \"Di matamu tak ada anak yang lebih gagah lagi darianakmu sendiri.\" Hati Buyung berdebar-debar. Tetapi ayah dan ibunyaberhenti membicarakan Zaitun. Dan tak juga terjawabpertanyaan, apakah Zaitun suka padanya. Susah juga hati Buyung sebentar ketika itu. Akan tetapihatinya terobat juga mengingat, bahwa ayah dan ibunyaternyata senang dan suka pada Zaitun. Buyung tahu, bahwa ayah Zaitun, Pak Lebai senangpadanya. Pak Lebai selalu bersikap baik padanya, dan diaselalu menanyakan keadaan Buyung, bagaimanapekerjaannya mencari damar, bagaimana pengajiannya, dansebagainya, tiap kali mereka berjumpa. Dan malahan PakLebai pernah meminta pikiran Buyung tentang bagaimanamelatih anjing untuk berburu, karena Pak Lebai amat sukaberburu. Buyung merasa amat bangga dalam hatinya. PakLebai punya empat ekor anjing berburu. Buyung hanya punyaseekor, tetapi anjingnya terkenal amat berani. Jika anjing lainhanya menyatak-nyatak saja bila mengerubungi babi, makaanjing Buyung biasanya yang pertama menyerang. Buyung dalam hati sebenarnya tak melihat sesuatuhalangan untuk menikah dengan Zaitun. Yang meragukanhanyalah bagaimana sebenarnya hati Zaitun sendiri terhadapdirinya. Cintakah Zaitun padanya, seperti dia cinta padaZaitun. Buyung merasa, bahwa jika Zaitun tak merasa sepertiyang dirasakannya, maka rasanya tak puas hatinya akankawin dengan Zaitun, meskipun kedua orang tua merekamenyetujui perkawinan itu. Buyung tahu, bahwa biasanyaorang kawin menurut pilihan yang dilakukan orang tua saja,
akan tetapi dia sendiri ingin memilih isteri, dan isterinyamemilih dia pula. Kadang-kadang serasa hilang akal Buyung memikirkanbagaimana dapat.... membuat Zaitun jatuh cinta padanya,supaya Zaitun setiap saat ingat padanya, rindu padanya, dansupaya dirinya selalu terbayang di depan matanya, seperti kinidia selalu membayangkan Zaitun. Alangkah cantiknya Zaitun.Buyung pernah mengintip Zaitun sedang mandi dengankawan-kawannya di pancuran. Rambut Zaitun panjang, danamat hitam warnanya, berombak-ombak, terurai sampai kebawah pinggang. Pinggangnya amat ramping, dan kakinya cantik sekali.Pergelangan kakinya ramping. Kulitnya kuning langsat, dangiginya putih dan teratur. Bibirnya merah, meskipun dia takmakan sirih. Buyung telah memutuskan dalam hatinya,bahwa jika nanti dia kawin dengan Zaitun, maka Zaitun tidakakan diizinkannya makan sirih dan kapur yangmenghitamkan gigi. Apalagi bersugi tembakau. Jangan sepertibibi Buyung, sugi tembakau bibinya bergerak di mana-mana,di bawah bantal, di atas meja, di dapur, di tangga, di ruangantamu. Dan pamannya tak berhenti-hentinya mengeluh tentangsugi bibinya ini. Dan sugi bibinya besar-besar, hampir sekepaltinju menurut cerita pamannya. Dan kalau dia berkelahidengan paman, maka dia suka lupa dan melempar pamandengan suginya yang besar. Pamannya selalu bertanya,mengapa bibi tak dapat membuang sugi dengan teratur ketempat ludah, seperti perempuan lain yang makan sirih danbersugi? Tetapi pamannya tak pernah berhasil melatih bibinyamenyimpan sugi demikian. Buyung tak hendak mengalami serupa ini dengan Zaitun.Suara Zaitun amat merdu. Di waktu mereka sama-samasekolah, Zaitun sekelas lebih rendah dari Buyung, dan Zaitunselalu jadi bintang penyanyi kelasnya. Suaranya amat halusdan merdu. Waktu mengaji pun suaranyalah yang palinglembut dan merayu. Ayat-ayat Kitab Suci, jika Zaitun yang
membacanya terdengar seratus kali lebih menarik dari jikadibacakan oleh Pak Lebai. Tetapi itu dahulu. Entahlah kini. Telah lama Buyung takmendengar Zaitun menyanyi. Pernah juga Buyung mendengarZaitun menyanyi di pancuran bersama dengan kawan-kawannya. Mereka menyanyikan lagu sedih, lagu seseorangyang rindu pada kekasihnya yang pergi jauh merantau,danbertanya-lanya apabitakah kekasihnya yang dirindukannyaakan pulang ke kampung. Hampir saja Buyung ke luar dari tempatpersembunyiannya, begitu inginnya dia hendakmendengarkan lagu Zaitun dari dekat. Akan letapi diamenahan dirinya kuatkuat, karena teringat apa kata orangsekampung, jika dia ketahuan mengintip gadis-gadis yangsedang mandi? Aduh, alangkah malunya .... dan dia akanditertawakan dan diolokolokkan oleh seluruh kampung. Dalam hatinya Buyung amat ingin lekas menjadi lebihdewasa dan letaki yang matang, seperti kawan-kawannya yanglain. Umpamanya Sutan, yang lebih pandai bersilat dari dia,meskipun mereka sama-sama murid Wak Katok, yang telahmenikah, dan amat pandainya bergaul dengan perempuan,tua atau muda, dan yang pandai pula bekerja mencari uang.Dia bersawah, berladang, mengambil rotan dan damar, dankadang-kadang dia berdagang pula, berjual beli kambing ataulembu. Yang paling senang kiranya orang seperti Sanip, pikirnya.Sanip penggembira sekali. Sanip selalu membawa sebuahdangung-dangung dalam saku bajunya. Dan setiap adakesempatan, maka keluarlah dangung-dangung, dipasangnyake mulutnya, dan dia pun memainkan segala macam lagu.Pandai benar dia memainkan dangung-dangung. Dapat sajadisuruhnya dangung-dangung menyanyi, sekali lagu gembira,sekali lagu sedih, dan merataplah dangung-dangung... Jikamereka sedang duduk di sekeliling api unggun di tengah
rimba, dan Sanip menyanyikan lagu-lagu sedihnya dengandangung-dangung, maka Talib biasanya tak dapat menahandirinya, dan ikutlah dia menyanyi, berpantun yangsedih-sedih. Buyung pun akan mengeluarkan sulingnya, danmereka bertiga akan meratap ber sama-sama. Bunyi dangung-dangung yang hilang-hilang timbul, bunyi suling yangmenangis, dan suara Talib menyampaikan ratap tangis orangyang kesepian, yang kerinduan, yang kehilangan, sedu-sedanratap hati manusia yang haus pada kebahagiaan. Dan merekabertujuh duduk di sekeliling api, masing-masing dengankenang-kenangan sendiri, hasrat-hasrat sendiri, dan disekeliling mereka tegak hutan rimba yang hitam dan besar. Wak Katok, orang yang bermuka dan berbadan keras,juga kelihatan terkesan oleh lagu-lagu demikian, dankelihatan seakan wajahnya jadi kosong, pikirannya melayangentah ke mana. Pak Haji akan duduk termenung, menutupmatanya, dan rokok daun enau yang terjepit antara jaritelunjuk dan ibu jarinya akan mati sendiri, terlupa. Sanip juga seorang pelawak. Jika timbul hatinya hendakbergembira, maka dangung-dangung disuruh menyanyigembira, dan ia pun akan ikut menyanyi dengan suaranyayang agak serak, dan dia akan berdiri dan menari, sehinggaanak-anak, muda yang lain tak dapat menahan diri, ikutberdiri, menari dan menyanyi. Dia suka melucu dan menceritakan kisah-kisah yanglucu. Banyak benar leluconnya tentang ketakuan lebai, yangmenimbulkan tertawa mereka terkekeh-kekeh. Cocok jugaperangainya yang periang ini dengan badannya yang pendekdan gemuk. Buyung juga suka merasa cemburu pada Sanip.Cemburu pada keriangannya, dan kemahirannya memainkandangungdangung. Dia ingin dapat semudah Sanip menyanyidan menari dan bercerita. Buyung juga cemburu melihatSanip yang dengan mudah menganggap segala apa yang
terjadi seperti soal yang ringan. Kalau umpamanya merekasedang menempuh hutan, dan turun hujan yang lebat, hinggajalan menjadi licin dan badan mereka basah kuyup, makaSanip dengan gembira akan berseru \"... jangan susah hati,habis hujan datanglah terang!\" Jika Sutan mengeluh karena beban yang didukungnyaamat berat, maka Sanip akan berkata \"... ah, tertawalah,ingatlah uang yang akan engkau dapat setelah damar terjualdi pasar.\" Ingin Buyung dapat bersikap demikian. Pernah sekali mereka pergi berburu, dan Buyungmembidik dan menembak rusa dengan senapan Wak Katok.Akan tetapi tembakannya tak kena. Rusa lari. Dan meskipunmereka buru sepanjang hari, tak lagi dapat mereka temukan.Buyung menyesali dirinya tak putus-putusnya, akan tetapiSanip enak saja berkata: \"Apa yang engkau susahkan Buyung, rusa itu akanberanak lagi, dan artinya akan lebih banyak rusa yang dapatengkau tembak di hutan.\" Sungguh kesal hati Buyung mendengarnya, dan diamembalas: \"Bagaimana engkau tahu dia akan beranak? Bagaimanakalau dia diterkam harimau?\" Cepat saja datang balasan Sanip: \"Oh rusa seekor dimakan harimau tidak akanmenghabiskan semua rusa di hutan. Yang penting.\" katanyasambil mengerdipkan matanya mengganggu Buyung, \"engkauharus lebih pandai membidik!\" Dan tiba-tiba Buyung merasa, betapa Sanip dan kawan-kawannya sebenarnya baik hati terhadap dirinya. Merekatelah sepanjang hari dibawanya mengejar rusa, karenapercaya akan kemahirannya menembak, dan karenakesalahannya maka semua susah payah mereka jadi percuma.
Buyung merasa dia harus minta maaf pada kawan-kawannya,dan dia tak berhak merasa kesal. Buyung tak mengerti bagaimana Sanip, yang telahberistri dan punya anak itu dapat berperangai seperti seorangmuda yang masih bujangan saja. Anaknya sudah empat.Biasanya orang yang demikian telah bersikap seperti orangtua. Talib seorang pendiam kurus dan jangkung, danberlainan sama sekali dengan Sanip, Dunia dan hidup inigelap saja terasa olehnya. Menurut cerita orang kampung, inikarena isterinya tak putus-putusnya mengomeli danmemarahinya. Menurut cerita si Rancak, adik Zaitun, diapernah mendengar SitiHasanah, isteri Talib, memarahi Talibdari pagi hingga petang, tak putus-putusnya, dan Talib diamsaja, tak menjawab dan tak membalas, yang menyebabkanmarah isterinya tambah lama tambah hebat. Istrinya hanyabaru berhenti karena kehabisan nafas dan keletihan. TetapiTalib dan Sanip bersahabat erat. Ke mana-mana merekaberduadua. Jika hujan turun sedang mereka bekerja di hulu hutan,mereka pergi berteduh di dalam pondok yang dibuat daridaun-daun pisang hutan dan keladi, dan Talib akan berkata: \"Aduh, hujan begini akan berhari-hari lamanya!\" Dan Sanip dengan suara gembira akan mengatakan: \"Untung hujan, kita sempat beristirahat.\" Dan mereka semua akan tertawa. Pada suatu kali mereka mengumpulkan damar amatbanyaknya. Beban damar yang harus mereka pikul pulangamat berat, dan Sanip berseru gembira: \"Aduh, ini dua kali lebih banyak dari yang biasa kitabawa pulang. Untung besar kita!\" Sedang Talib berkata dengan suara sayu:
\"Aduh, asal jangan hanyut saja kita nanti di sungai,menyeberang dengan beban seberat ini!\" Biarpun Talib pendiam, dan selalu memandang duniadengan mala yang gelap, akan tetapi dia seorang.yang beranijuga. Pernah kelika orang sekampung berburu babi, dananjing-anjing lelah mengepung babi, maka seorang pemburudatang mendekati babi hendak menombaknya. Dia melemparkan tombaknya, akan tetapi babi dapatmengetak, lalu balas menyerang, tanpa memperdulikananjing-anjing yang berkerumun mengelilinginya. Talib tanparagu-ragu menyerang babi dengan tombaknya, danmenyelamatkan pemburu itu. Sebentar kemudian babi punhancur dikoyak-koyak oleh anjing. Buyung pun merasa hormat pada Pak Haji yang tua.Badannya sedang, tak tinggi dan tak pendek. Meskipunrambutnya sudah putih, tetapi masih lebat. Dia masih kuatmendukung beban damar menandingi siapa pun juga diantara mereka. Dia sendiri tak banyak berbicara, akan tetapisuka mendengar percakapan orang lain, dan ikut pulatertawa. Ketika duduk dekat api unggun di malam hari, jikadipaksa maka dia maju juga menceritakan pengalamannyaselama merantau ke dunia luar. Dia pernah bercerita, bahwaketika dia baru berangkat meninggalkan kampung, makalama dia tertahan tak dapat meneruskan perjalanan diSingapura, karena kehabisan uang. Sampai dia harus bekerjajadi kuli, jadi tukang masak, dan malahan katanya pernah diaselama dua bulan bekerja jadi tukang kuda di istana SultanJohor. Dia pernah pula bercerita, pernah ikut jadi anggotasebuah rombongan sirkus. Dia bekerja menjadi tukang dansayang mengendarai sepeda. Dia mengembara dengan sirkuskecil kepunyaan seorang Cina, sampai ke negeri Siam. Dan diBangkok katanya dengan terburu-buru dia terpaksa
meninggalkan sirkus, karena suami seorang penyanyiperempuan Cina, cemburu padanya dan hendakmembunuhnya dengan pisau, \"Karena merasa bersalah,\" kataPak Haji dengan Jenakanya, \"maka saya pun melarikan diri.\" Kemudian dia bekerja sebagai tukang masak disebuahkapal yang berlayar antara negeri India dengan Jepang.Sungguh mengasyikkan ceritanya tentang kota-kota besarseperti Shanghai, Tokyo, bandar Manila, Penang, Rangoon,Kalkula. Ketika kapalnya singgah di Kalkuta dia turun ke darat,dan tak kembali ke kapal. Dia meneruskan perjalanan hinggaLahore. Di sana katanya dia belajar agama Islam pada seorangguru besar. Dari India lewat jalan darat bersama denganbeberapa puluh orang lain dia berjalan menuju negeri Arab. \"Berbulan-bulan kami di jalan,\" cerita Pak Haji.\"Banyaklah pelajaran yang aku dapat di perjalanan. Akupernah ikut jadi pembantu seorang tukang sunglap dantukang sihir. Seorang Afghanistan yang tinggi dan besar. Diadapat memotong lidah burung, dan kemudian menyambunglidah itu kembali. Pada suatu kali dia ditantang oleh seorangahli sihir lain di sebuah tempat yang kami lalui untukmengadu kepandaian. Sekali ini memotong lidah seorang anakkecil. Tukang sulapku tak hendak kalah. Dan mengatakan diapun sanggup. Waktu diundi dia yang harus memotong lidahanak itu lebih dahulu dan kemudian menyambungnyakembali. Sebelum dia mulai, dia berbisik padaku, menyuruhaku kembali ke tempat penginapan kami, dan menyiapkansemua barang kami. Sedang aku menyiapkan barang,tiba-tiba dia datang berlari masuk kamar, dengan cepatmengambil bungkusanbungkusan, dan memerintahkan akusupaya berlari mengikutinya. Aku tak mengerti apa yang terjadi, tetapi aku tahu bahwaada bahaya, dan aku pun membawa barang dan mengejarlarinya yang cepat dengan langkah-langkah besar. Jauh di
belakang kami, aku dengar teriakan orang banyak penuhamarah. Akan tetapi kami segera tiba di luar kota, dan berlari kebukit-bukit batu dan bersembunyi di bukit. Sampai malamorang kampung mencari kami. Kemudian aku tanyakan padanya apa yang terjadi. Diatertawa besar dan mengeluarkan uncang uangnya. \"Sebelumaku mulai, aku minta supaya orang banyak membayarterlebih dahulu,\" katanya. \"Kemudian setelah uang akukumpulkan, maka aku potong lidah anak itu, cepat sekali dansedikit ujungnya saja, hingga kurasa anak itu tak merasasakit. Kemudian aku suruh mereka menunggu, karena akukatakan aku hendak pergi mengambil obat. Tetapi aku terusberlari menuju tempat kita menginap.\" \"Tetapi mengapa engkau lari?\" tanyaku. \"Ha,\" katanya, \"karena aku tidak pandai menyambunglidahnya kembali.\" \"Tetapi bagaimana dengan lidah anak itu, siapa yangakan menyambungnya?\" tanyaku. \"Ah,\" katanya, \"bukankah ada tukang sihir lawanku, yangmengatakan dia pandai menyambungnya. Biarlah dicobanya.Kalau dia pandai, maka anak itu mendapat sambunganlidahnya kembali, jika dia tak pandai, maka orang kampungakan memukulinya...\" dan dia tertawa terbahak-bahak.Demikian cerita Pak Haji. Mereka tak dapat memastikan kebenaran cerita Pak Hajiini, akan tetapi siapa tahu, karena di jaman dahulu banyaksekali terjadi hal-hal yang gaib dan tak masuk akal kita. Setelah naik haji, Pak Haji bekerja di kapal yangberkunjung ke pelabuhan-pelabuhan di benua Afrika danEropah.
Ketika dia tiba di kampung, dia terus kembali bekerja kehutan mencari damar dan rotan. Katanya dia telah mencobasegala hidup di negeri orang lain, tetapi hatinya selalumenariknya kembali pulang ke kampung. Hidup jadipendamar dan perotan juga yang dapat memuaskan jiwanya.Sekali terlawan oleh hutan, katanya, maka selalu orang akanterikat padanya. Jadi anak kapal hampir serupa dengan orangyang bekerja di hutan, ceritanya. Di atas kita langit luas, dan di malam hari penuhbertaburan bintang, gelap malam lautan bercahaya disekeliling. Tetapi di sana tak ada pohon dan tanaman, dan takada makhluk hutan. Tak ada bunyi-bunyi hutan. Rasanyaseperti kosong di lengah laut. Tetapi di hutan, biar kita ditengah hulan belantara sekalipun, kita dikelilingi oleh pohondan tanaman, oleh margasatwa dan serangga, yang kelihaiandan tak kelihatan, yang terdengar dan yang tidak terdengar.Rasanya kita satu dengan hidup di bumi. Sungguh banyaklah cerita Pak Haji. Asyik sungguh hatimpndengarnya. Macam-macam saja pengalamanya. Ada yangdahsyat, ada yang lucu, ada yangsedih dan ada yang gembira. UNTUK pergi bersama ke rimba tempat merekamengumpulkan damar, mereka harus meninggalkankampung, Air Jernih, yang terletak di tepi Danau Bantau. Air Jernih terletak pula di tepi Sungai Air Putih yangbermuara ke danau. Di pinggir muara sungailah terletakkampung mereka. Mereka menuju hutan dengan menyusur pinggir sungai,memudikinya, memasuki hutan dan mendakigunung-gunung. Sungai tak dapat dilalui dengan perahu,karena penuh dengan batu besar dan karena sungai mengalirdengan derasnya turun dari gunung-gunung. Tetapi di banyaktempat yang datar, air sungai membuat lubuk-lubuk yangbesar dan dalam, dan di dalam lubuk-lubuk serupa inibanyaklah ikan besar. Di lubuklubuk yang dekat ke kampung
ikannya tak banyak dan tak besar-besar lagi, karena selaluditangkap orang, akan tetapi jauh ke dalam hutan, makamudahlah menangkap ikan, dipancing atau dijala. Merekaselalu membuat tempat bermalam dekat lubuk-lubukdemikian, dan mereka tak pernah kekurangan ikan selamadalam hutan. Sungguh sedap rasanya, setelah bekerja sehari penuhmengumpulkan damar, atau setelah berjalan sepanjang hariturun dan naik gunung, duduk di atas batu dan mencobamengail ikan. Bunyi air yang menderas di antara batu-batu,hembusan angin di daun, dan jauh di dalam hutan bunyisiamang yang mengimbau-imbau tak berhenti-hentinya,seakan bunyi orang bergendang, amat sangat menyenangkanperasaan. Dari Air Jernih ke hutan damar, ada seminggu jauhnyaberjalan kaki. Mereka membawa beras, cabai yang ditumbukdi dalam bambu, sedikit asam dan garam, dan panci tempatmenanak nasi dan memasak air, kopi dan gula. Merekamemasang lukah di sungai jika tak membawa jala ataupancing, yang mereka buat dari bambu dan diletakkan diantara batu-batu di sungai. Dan kalau mereka rajin dan adawaktu, mereka memasang jerat untuk menangkap burungbalam yang datang mencari makan di tepi sungai. Jika merekatak mendapat ikan atau burung yang jarang terjadi, barumereka panggang dendeng atau ikan kering yang dibawa.Sekali-kali Wak Katok membawa senapan lantaknya, danmereka mencoba menembak rusa, dan akan dapat membawadendeng rusa pulang. Biasanya setelah selesai mengumpulkandamar mereka berburu rusa. Mereka beruntung, karena tak berapa jauh dari hutandamar, ada sebuah huma kepunyaan Wak Hitam. Di sebuahpondok di ladang Wak Hitamlah mereka selalu bermalamselama berada di hutan damar.
Wak Hitam adalah seorang tua yang umurnya hampirtujuh puluh tahun. Malahan menurut cerita orang lebih lagi.Ada yang berani bersumpah dan mengatakan, bahwa umurWak Hitam lebih dari seratus tahun. Orangnya kurus,kulitnya amat hitam, seperti orang Keling, tetapi rambutnyamasih hitam. Dia selalu memakai celana hitam, baju hitam dan destarhitam. Melihatnya saja sudah menimbulkan rasa ngeri,karena semuanya yang serba hitam pada dirinya. Mengapa diasuka tinggal berbulan-bulan di humanya yang amat jauh, duahari perjalanan dari Batu Putih, kampungnya, macam-macampula cerita orang. Padahal rumahnya di Batu Putih besar, dandi kampungnya ada pula anak bininya. Bininya empat. Dan kala orang selama hidupnya diatelah kawin lebih dari seratus kali, dan setiap kawin selaludengan anak perawan. Anaknya berserak-serak di tiapkampung, dan menurut cerita orang dia sendiri pun tak ingatlagi pada semua anaknya. Pernah diceritakan ketika dia pulang ke rumahnya diBatu Putih, dia melihat seorang muda yang enak saja tinggaldi rumahnya seperti rumah sendiri, hingga Wak Hitammemarahi anak itu, dan berkata: \"Engkau siapa? Engkau berbual seperti rumah ini rumahayahmu saja!\" Dan orang itu menjawab: \"Benar, ini rumah bapakku. Aku anak Ibu Khadijah.\" Rupanya memang anaknya dari istrinya yang bernamaKhadijah. Karena hal-hal serupa ini barangkali, maka Wak Hitamlebih suka memencilkan dirinya jauh dari kampung, dan lebihsuka tinggal di ladangnya di Bukit Harimau, di tengah hutan.Selalu dia ke sana membawa salah seorang bininyaberganti-ganti. Orang-orang telah kenal baik dengan
istri-istrinya yang dibawanya ke huma. Tetapi yang tercantikadalah istrinya yang paling muda, Siti Rubiyah, yang barudikawininya selama dua tahun terakhir, dan Siti Rubiyahbelum lagi mendapat anak dari dia. Dan kenyataan ini membuat orang kampung bercerita,bahwa tenaga Wak Hitam sudah habis, karena biasanyasemua istrinya telah beranak dalam tahun pertama kawindengan dia. Malahan menurut Sanip, perempuan kalaubersalaman saja pun dengan Wak Hitam tentu akan bunting,begitu hebatnya dia dahulu. Cerita orang macam-macam tentang ilmu Wak Hitam.Wak Katok mengakui dia sebagai gurunya dalam ilmu silatdan ilmu gaib. Anak-anak muda, seperti Sutan. Talib, Sanip dan Buyungdalam hati takut padanya, meskipun tak pernah merekaperlihatkan. Karena ada cerita yang mengatakan, bahwa WakHitam bersekutu dengan iblis, setan dan jin, dan diamemelihara seekor harimau siluman. Kalau dia hendak kemana-mana, maka dia selalu mengendarai harimaunya. Kata orang dia berkali-kali pergi naik haji ke Mekkahterbang mengendarai harimau silumannya. Ilmunya banyakbenar. Menurut cerita dia kebal. Pernah ketikapemberontakan dahulu melawan Belanda di tahun 1926 WakHitam tertangkap oleh Belanda, dan dia hendak ditembakmati, akan tetapi peluru tak dapat menembus badannya, dandia berhasil melarikan diri. Diceritakan pula, pada suatu hariserdadu Belanda mengejarnya, dan Wak Hitam terkepung didalam sebuah kebun pisang. Kebun dijaga rapat sekali, seekortupaipun tak akan dapat ke luar lari. Lalu serdadu-serdadumelihat Wak Hitam berdiri bersandar pada sebuah pohonpisang. Serdadu melompat, mengayunkan kelewangnya, danmenebas kepala Wak Hitam. Akan tetapi yang putusbukannya leher Wak Hitam, akan tetapi pohon pisang, dan
Wak Hitam menghilang. Berjam-jam mereka mencari di kebunpisang, tak lagi mereka dapat menjumpai Wak Hitam. Dengan ilmunya selalu dia dapat meloloskan diri darikepungan tentara Belanda. Ketika pemberontakan dikalahkan, maka dikabarkanWak Hitam lama menghilang dari kampung, akan tetapitiba-tiba dia muncul kembali, dan dia pulang membawa harta.Dan kini dia termasuk orang terkaya di kampung. MengapaBelanda kemudian tak menangkapnya, tak seorang juga yangtahu. Kata orang, berkat ilmunya juga. Mengapa dia suka tinggal di huma yang jauh di dalamhutan, banyak pula ceritanya. Ada yang mengatakan dia kesana karena harus bertapa, cerita lain mengatakan itulahperangai orang yang bersekutu dengan setan dan jin, takboleh tinggal lama-lama dengan sesama manusia di kampung,akan tetapi harus menjauhi sesama manusia. Cerita lainmengatakan, bahwa Wak Hitam masih punya anak buah darijaman pemberontakan dahulu, yang bersembunyi di hutansampai kini, dan yang kini menjadi penyamun dan perampok.Cerita lain lagi berkata, bahwa Wak Hitam punya tambangemas rahasia di hutan, dan dia sendiri saja yang mengerjakantambang, supaya jangan ada orang lain yang tahu. Entahmana yang benar. Memang di Sungai Air Putih yang juga mengalir dekathuma Wak Hitam terdapat emas dalam pasirnya. Orangkampung, dalam musim kemarau, dan jika tak banyakpekerjaan di sawah atau di ladang ada juga yang suka pergi kemudik sungai, dan mencoba mendulang emas. Akan tetapipekerjaan ini berat, dan hasilnya tak menentu. Tergantungdari untung dan nasib juga. Konon ada orang kampung yangpernah mendapat sebutir emas sebesar kelingking, akan tetapitak seorang juga pernah melihatnya. Mereka bertujuh selalu berusaha untuk pulang ke ladangWak Hitam sebelum hari gelap. Akan tetapi jika damar banyak
dan mereka bekerja mengumpulkannya berjauh-jauhan,hingga terlambat untuk pulang ke ladang Wak Hitam, makamereka bermalam saja di hutan. Bermalam di rumah Wak Hitam di huma kadang-kadangmenyenangkan hati pula. Berbagai orang lain kadang-kadangikut menginap di sana. Rumah Wak Hitam di humanya itu didirikan di atastiangtiang yang tinggi. Bahagian depannya merupakan sebuahberanda yang besar dan panjang. Di sebuah sudut dekatjendela terletak dapur. Di atas lantai oleh Wak Hitamditimbun pasir yang dibatasi dengan papan kayu, dan di ataspasir dipasang dua buah tungku. Di sinilah istrinya memasak.Di atas tungku tergantung dendeng rusa, atau ikan sale,bawang, cabai dan berbagai rupa daun-daunan. Beranda ini dipisahkan oleh dinding bambu yangdianyam dari bahagian belakang rumah, yang terdiri dari duabuah kamar. Sebuah kamar tidur Wak Hitam dengan istrinya,dan sebuah kamar lagi tempat simpanan Wak Hitam. Di sanadia menyimpan damar, senapan berburunya, dan entah apalagi. Buyung pernah masuk ke sana, ketika disuruhnyamengambilkan senapan berburunya. Dilihatnya di dalamkamar ada pula dua buah kopor besar-besar terbuai dari kayuhitam, dan pinggirannya berlapis lembaga yang sudah tua danhijau warnanya. Sungguh ingin Buyung mengetahui apa isi kopor itu.Akan tetapi kedua kopor berkunci besar dari besi. Timbul jugasyak dalam hati Buyung, apakah mungkin di dalamnya emasyang diceritakan orang kampung? Akan tetapi alangkahbodohnya Wak Hitam menyimpan emas di dalam peti dihumanya. Bukankah amat mudah merampoknya, jika adaorang yang berniat jahat? Tetapi siapa yang berani berbuatdemikian? Mereka selalu tidur di beranda di atas lantai. Jika merekabermalam di sana, maka isteri Wak Hitam yang ikut dengan
dia selalu memasak nasi dan lauk pauk untuk mereka.Mereka berikan beras dan lauk pauk yang mereka bawa, danistri Wak Hitam menanaknya. Mereka senang makan di sana,karena lain juga rasanya dari makanan yang mereka masaksendiri. Semua istri Wak Hitam pandai memasak. Lagi pula diladangnya banyak ditanamn sayuran, dan selalu merekamendapat tambahan masakan dari sayuran di ladang. Yang paling mereka senangi ialah rebus jagung mudaatau ubi jalar, dan ubi singkong yang dibakar di atas barayang panas. Biasanya pagi-pagi sekali Buyung atau Saniptelah duduk di depan dapur membakar jagung atau ubi. Ataumalam-malam, ketika mereka belum tidur, dan salah seorangbercerita, maka mereka senang duduk dekat tungku, sambilmembakar jagung atau ubi. Dimakan panas-panas dengankopi hitam panas amat enak rasanya. Hilanglah segala penatdan letih satu hari bekerja di hutan. Dalam malam serupa itu, Sanip akan mengeluarkandangung-dangungnya dan menyanyikan lagu-lagunya. Sekali,ketika dia melagukan ratap tangis seorang perempuan mudayang ditinggalkan suaminya, maka Buyung melihat SitiRubiyah menghapus air matanya diam-diam. Mereka semua suka pada Siti Rubiyah. Dia masih mudabenar. Orangnya pun cantik. Jika Buyung tak tergila-gila padaZaitun, maka dia akan mudah jatuh cinta padanya. Akantetapi kini dia telah jadi bini orang, dan bukan orangsembarangan pula takinya, tetapi Wak Hitam, yang ditakutidan disegani. Karena itu selintas pun tak masuk dalam ingatanBuyung sesuatu pikiran tak baik terhadap perempuan itu.Meskipun Buyung harus mengakui, bahwa badannya langsingdan bagus bentuknya, buah dadanya, meskipun kecil tetapikuat dan cantik, dan parasnya dengan hidungnya yangmancung dan mulutnya yang terdiri dari dua buah bibir yang
penuh dan merah dan selalu basah, dan matanya yangbundar dan terang bercahaya, ditambah lagi denganrambutnya yang hitam, dan panjang hingga sampai ke ujungpantatnya. Sering Buyung melihat rambul nya terurai jatuh kebawah, tebal dan hitam, sedang dia bekerja di kebun dan jikadia sedang bekerja di kebun di siang hari, maka sinarmatahari yang terik memerahkan pipinya, dan semakin cantiksaja dia kelihaian. Talib dan Sanip sekali waktu tak dapat menahan diri.Ketika mereka yang muda-muda bersama-sama di hutan, danorang-orang tua tak ada dekat-dekat, maka Talib atau Buyungalau Sanip mulai berbicara tentang kecantikan Siti Rubiyah. \"Aduh, coba kalau takinya bukan Wak Hitam,\" kata Talib. \"Aduh, coba kalau dia belum kawin,\" tambah Buyung. \"Kemarin aku mimpikan dia,\" tambah Sanip. \"Engkau lihat bahagian alas buah dadanya, jika diamembungkuk meniup kayu di tungku? Tadi pagi aku tolongdia memasang api,\" kala Buyung. \"Engkau lihatkah mata Pak Haji memandang padanyapada suatu kali?\" tanya Sulan, sambil tertawa penuh arti. \"Pak Haji?\" tanya Talib takjub. \"Masa Pak Haji punyapikiran yang begitu?\" \"Ya, kan dia sudah tua?\" kata Buyung. Sanip tertawa. \"Dengarkan si Buyung berbicara,\" katanya. \"Lupakah engkau pepatah tua-tua kelapa ....?\" Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. \"Tetapi mata Pak Haji masih kalah dengan mata WakKatok,\" kata Sutan menambahkan. \"Aduh coba engkauperhatikan kalau dia melihat pada Siti Rubiyah dan WakHitam lagi tak ada. Seakan hendak ditelanjanginya saja Siti
Rubiyah, dan hendak ditelannya Siti Rubiyah hidup-hidup.Aku pun jadi cemburu dibuatnya.\" Mereka berpandangan. \"Engkau juga,\" kata Sanip, \"sama saja, orang tua atauorang muda, kalau sudah melihat perempuan cantik, lupadaratan. \"Ah, aku tidak,\" kata Buyung membantah, \"memang diacantik, tetapi aku tak berani merasa seperti kalian. Aku takutpada Wak Hitam.\" \"Ho-ho,\" Sutan dan Sanip dan Talib menertawakanBuyung, \"engkau kan masih bujang masih belum tahu, belumpunya pengalaman apa-apa, karena itu dapat berkatademikian. Kau belum tahu apa artinya itu.\" Dan mereka saling berpandangan dan tertawa,menertawakan Buyung yang tak berpengalaman. \"Coba kalau nanti kau sudah dipeluk si Zaitun, baru kautahu,\" Sutan mengangguk lagi. Aduh, merah padam muka Buyung malu. Mereka puntahu sudah tentang cintanya yang tak berbalas terhadapZaitun. Melihat muka Buyung merah padam karena malu,maka mereka tertawa lebih hebat lagi. \"Tapi sebelum dengan Zaitun, lebih baik kau belajar duludengan Siti Rubiyah,\" kata Talib. Dan mereka tertawa kembali. Kemudian mereka beralih kembali membicarakankemungkinan-kemungkinan Siti Rubiyah di tempat tidur.Atau tak usah di tempat tidur pun boleh tidur, sepertidikatakan oleh Sutan, yang menimbulkan tertawa merekayang hebat kembali. Mereka habis-habisan menghantam Wak Hitam yangsudah tua.
\"Entah apa gunanya baginya istri sampai empat,\" kataSutan, \"dia sudah tua, sebentar-sebentar sakit, mengapa diaharus berbini muda lagi seperti Siti Rubiyah?\" \"Itu kan adat manusia,\" kata Sanip, \"semakin tua seorangletaki, semakin dia ingin punya bini muda. Dan perempuantua ingin punya suami muda. Untuk menahan umurnyasendiri.\" \"Aduh, kalau orang tua seperti Wak Hitam kawin denganistri muda seperti Siti Rubiyah, bukannya dia menahanumurnya, akan tetapi hanya akan mempercepat dia masuklobang kubur saja,\" kata Sutan tertawa. Sejak percakapan mereka demikian, Buyung lebihmemperhatikan kawan-kawannya jika berdekatan dengan SitiRubiyah. Memang dia dapat merasakan sesuatu perubahandalam sikap mereka. Usaha mereka untuk bersikap danberbuat biasa terlalu kelihatan, hingga sebenarnya malahanmenunjukkan adanya perasaan lain dalam dirinya. Buyungsering merasa khawatir apakah Wak Hitam tak melihatnyapula. Akan tetapi dalam beberapa bulan terakhir Wak Hitamsering sakit-sakit. Dan lebih banyak tinggal di kamarnya saja.Pak Haji dan Wak Katok dan Pak Bakmi yang datangmengunjunginya ke kamar tidur. Yang muda-muda hanyadatang sebentar, dan kemudian segera pergi. Karena merekatak merasa sesuatu kegembiraan bercakap-cakap dengan WakHitamyang menyeramkan itu. Belakangan ini badannya bertambah kurus, dan diamasih selalu memakai pakaian hitam. Matanya cekungmendalam, kumis dan janggutnya telah banyak putihnya.Akan tetapi rambutnya masih lebat. Meskipun dia sakitdemikian, akan tetapi seluruh perawakannya masih tetapgarang dan menakutkan. Ada sesuatu dalam dirinya yangmenimbulkan rasa segan orang terhadap dirinya.
Tak obahnya dia seakan seekor harimau yang sakit, akantetapi yang jika dilanggar perasaannya, akan dapat melompatdan menerkam dengan cepat dan mematikan. Selain dari Siti Rubiyah yang menarik hati mereka untukbermalam di ladang Wak Hitam, maka sekali-sekali merekaberjumpa pula di sana dengan berbagai orangyang anehaneh.Sekali ketika mereka pulang dari hutan, mereka jumpai telahada enam orang lain yang terlebih dahulu tiba. Mereka semua berpakaian hitam dan membawa parangpanjang. Mereka sapa-menyapa. Akan tetapi mereka tak kenalpada mereka. Tak pernah mereka melihat orang-orang ituselama ini singgah di ladang Wak Hitam. Orang-orang itu puntak banyak bercerita, dan duduk berkumpul di antara mereka.Tak lama kemudian, mereka dipanggil masuk ke kamar WakHitam. Buyung lihat dua orang di antaranya membawa duabuah bungkusan, yang kelihatannya berat isinya. Tak lamakemudian mereka mendengar suara berbisik-bisik menembusdinding bambu yang tipis. Akan tetapi betapa juga Buyungmemasang telinganya tak dapat dia mengikuti pembicaraanmereka di dalam. Siti Rubiyah pun tidak berada di kamarlidur, akan tetapi tinggal duduk di dekat tungku, memasakkotak ubi jalar. Tak lama kemudian mereka ke luar, dan terus minla diri,dan mereka menghilang ke dalam hutan melalui ladang dalamgelap malam. Siapa mereka? Ke mana mereka? Macam-macam timbulpertanyaan dalam hati tetapi tak seorang pun juga yangberani menanyakan. Sutan sendiri pun terdiam, seakankehadiran orang-orang berbaju hitam yang penuh rahasia itumenekan perasaannya. Perasaan mereka bertambah tertekan,melihat sikap Siti Rubiyah yang seakan-akan tak acuh, danpura-pura tak tahu bahwa orang yang enam itu telah datangdan pergi. Dia hanya mengangguk saja ketika merekaberenam minta diri dan turun ke dalam gelap malam.
Buyung mengikuti mereka dengan pandangannya, betapamereka berjalan dalam gelap samar malam di ladang, dankemudian hilang dalam pelukan gelap hutan. Rasanya seakanmereka tak pernah ada. Sesuatu bayangan rahasia yangdilontarkan oleh gelap malam ke dalam rumah, dan kemudiandihelanya kembali ke luar dan hilang kembali ke dalam hutan. Esok harinya Sutan bercerita, bahwa esok paginya diabertanya kepada Siti Rubiyah siapakah keenam orang itu,akan tetapi Siti Rubiyah menjawab dengan singkat: \"Baiklah jangan ditanya.\" Semuanya ini menakutkan hati Buyung, akan tetapimembuatnya menjadi ingin tahu sekali. Macam-macamlahtimbul pikiran mereka untuk memecahkan rahasia ini. Sutan berkata: \"Jika mereka datang lagi, dan kita masih di sini, mari kitaikuti mereka dari jauh. Ke mana mereka pergi?\" \"Ya, barangkali mereka penjaga gua emas Wak Hitam,\"kata Talib, \"coba kalau kita tahu di mana letak gua itu, kankita tak usah lagi letih-letih mengumpulkan damar, akantetapi cukup kita mengambil emas banyak-banyak, danselanjutnya kita jadi orang kaya?\" Akan tetapi sekali-sekali mereka bertemu pula denganorang-orang lain yang menarik hati dan menyenangkanperasaan. Umpamanya beberapa bulan yang lalu, ketikamereka menginap di sana, kebetulan ikut pula menginapseorang tukang bercerita keliling. Dia seorang tua danmembawa sebuah gendang dan sebuah suling. Memangrupanya kesenangannya bercerita, karena tanpa terlalu susahpayah mengajaknya, maka dia pun berdiri di tengah-tengahberanda, dan mulai bercerita. Aduh alangkah pandainya dia bercerita. Ceritakanak-kanak yang diceritakannya, tentang permusuhan
antara seorang datuk yang memiliki kebun jagung denganseekor tupai amat menarik. Mereka semua terpesona melihat betapa pandainya diabercerita. Jika dia bertaku sebagai si datuk tua yang marahamat sangat, karena jagungnya yang muda dicuri tupai, makasungguh-sungguhlah dia berubah menjadi pemilik kebun yangmarah demikian. Dan kemudian tiba-tiba saja lalu diamenjadi tupai, seekor tupai nakal yang kesenanganmengganggu si pemilik kebun, dan dari atas dahan pohonyang tinggi dan aman, mengejek yang empunya kebun, sambilmemakan jagung muda dengan enaknya. Dan yang kelihatandi depan kita bukan seorang tukang cerita, tetapisungguh-sungguh seekor tupai. Asyiklah mereka dibuatnya dengan macam-macamceritanya. Hingga kemudian setelah dia selesai bercerita,maka mereka memberinya hadiah sedikit uang. Mula-mulanyatak hendak dia menerimanya, akan tetapi mereka paksa juga. Pada suatu malam lain, mereka berjumpa di sana denganseorang tua dan seorang anak letakinya yang sudah besar.Mereka hendak pergi ke kampung Aur Kuning, di seberanghutan, dan mengambil jalan singkat dengan memintas hutandan gunung, dan malam itu bermalam di ladang Wak Hitam. Setelah habis makan malam, ketika mereka bercakap-cakap, lalu orang tua itu memegang tangan Buyung sambilberkata : \"Anak kelihatannya yang termuda di sini. Mari aku bacatanganmu.\" Lalu dia memperhatikan garis-garis tangan Buyung. \"Anak akan banyak mengalami pengalaman yang hebat.Anak harus sabar dan tabah menghadapi percobaanpercobaanhidup,\" katanya, dan menambahkan, \"tetapi akhirnya anakakan mendapat juga apa yang anak inginkan sekali”
Di sini Sutan tertawa, disusul oleh yang lain-lain. MukaBuyung merah padam malu-malu. Tetapi dalam hati, Buyungsenang juga. Buyung teringat pada Zaitun. \"Anak panjang umur,\" katanya pula, \"dan anakmubanyak... tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.\" Sutan mulai lagi tertawa mengangggu Buyung. MukaBuyung tambah merah padam. \"Hanya satu harus anak hati-hati dalam hidup ini,\"katanya melanjutkan, \"jangan terlalu percaya pada orang,meski kawan sendiri pun. Nasib anak dalam hidup selaluakan dikhianati oleh orang-orang yang dekat dengan anak.Dan anak jangan lupa, tak boleh memakai pakaian yangterbalik. Rezeki anak baik, dan anak akan senang nanti dihari tua.\" Setelah dia membaca garis tangan Buyung, maka yanglain pun minta tangannya dibaca. Pada Sutan dia berkata, supaya Sutan hati-hati terhadaphatinya sendiri, karena dia mudah tergoda oleh perempuan.Dia tidak boleh menurut kala hatinya, akan tetapi selaluharus berpikir dahulu baik-baik sebelum dia berbuat sesuatuapa. Katanya, Sutan mudah berteman dengan orang, akantetapi mudah pula lepas. Selanjutnya dikatakannya pulabahwa Sutan akan kawin sampai enam kali. Dan Sutan bukannya malu mendengar itu, melainkanmukanya penuh bangga. Akan tetapi mendengar ucapannyakemudian, Sutan terdiam dan mukanyn agak pucat, karenaorang tua itu berkata: \"Orang muda mesti hati-hati sekali. Bahaya besarmenanti orang muda di waktu dekat yang datang. Janganlahturut nafsu hati.\" Buyung merasa seakan ini sindiran terhadap Sutansupaya jangan mengganggu Siti Rubiyah.
Kepada Wak Katok dia berkata aneh sekali. \"Maaf ya pak,\" katanya, setelah memperhatikan telapaktangan kiri dan kanan Wak Katok. \"Tak dapat saya membacasesuatu.\" \"Takutkah bapak mengatakan apa yang bapak baca?Saya tak takut.\" Mereka berpandangan mata sebentar, dan kemudianorang tua itu berkata : \"Gelap saja yang saya lihat, dan saya lihat banyak warnamerah. Entah apa artinya saya tak tahu.\" Wak Katok tertawa keras, akan tetapi suara tertawanyaagak tegang, seakan dia menekan perasaannya yangterganggu. Juga dia tak hendak membaca tangan Pak Haji dan PakBalam, dan mengatakan, bahwa dia tak dapat membacasesuatu di garis tangan mereka. Kepada Talib dan Sanip dia berkata, supaya mereka amatberhati-hati dalam hidup, karena bahaya selalumengancamnya. Malam itu mereka tidak berbicara dan mengobrolsegembira seperti biasa. Seakan ada sesuatu yang menekan diberanda rumah di ladang itu, sesuatu yang sejuk yang datangmelayang dari angkasa hitam di atas hutan, sesuatu rahasiayang gelap dan hitam yang memijit hati dengan jari-jarinyayang sejuk. Mereka juga berjumpa di sana dengan orang-orang yangpernah jauh merantau, dan bercerita tentang orang danpenghidupan di pulau-pulau lain. Sekali mereka bertemudengan seorang yang pernah bekerja di New Caledonia, pulaujajahan Perancis. Katanya di sana banyak orang Indonesiayang bekerja dan pandai berbahasa Perancis. Dia sudahberkeliling dunia, ada dua puluh tahun lebih dia mengembara
dari satu negeri ke negeri yang lain. Asyiklah mendengarceritanya, tentang negeri Cina, Jepang, sampai ke negeriAmerika, Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol, dan Portugis danBenua Afrika. Sampai jauh malam mereka mendengarceritanya gantiberganti dengan Pak Haji. 0oo0 WAK Katok duduk mencangkung di dalam semak-semakdi pinggir huma. Telah lama juga dia menunggu di sana. Diatahu Siti Rubiyah akan lewat jalan kecil itu untuk pergi kesungai mencuci. Di seluruh huma itu sunyi sepi. Hanyaterdengar bunyi burung berkicau-kicau mencari makan dikebun jagung. Wak Hitam, suami Siti Rubiyah tidur dipondok, menderita demam panas. Kawan-kawannya yang laindi hutan mengumpulkan rotan. Tiba-tiba Wak Katokmemasang telinganya. Dia mendengar bunyi telapak di tanah.Dan tak lama kelihatan datang dari kebun Siti Rubiyahmembawa sebungkus cucian, berjalan menuju ke sungai. WakKatok menahan napasnya ketika Siti Rubiyah lewat didepannya, dan kemudian setelah Siti Rubiyah menghilang dibelakang jalan di balik semak-semak dengan perlahan-lahandia berdiri, dan mengikuti jauh dari belakang. Wak Katokmengendap masuk ke dalam semak-semak.Merangkak-rangkak mendekati pinggir sungai, danbersembunyi di dalam belukar tebal yang tumbuh di pinggirsungai. Matanya tak putus-putusnya mengikuti gerak-gerik SitiRubiyah. Perempuan muda itu yang menyangka dirinyaseorang diri di pinggir sungai dengan tenang membukapakaiannya. Dia membuka kebaya tuanya dan meletakkan diatas batu besar. Dia tidak memakai kutang. Wak Katok menahan napasnya melihat badan SitiRuhiyah yang terbuka dengan tiba-tiba, menyala kuninglangsat ditimpa matahari. Buah dadanya tak besar, akantetapi bagus bentuknya. Kemudian Siti Rubiyah membuka
kainnya. Dia tak memakai celana dalam. Dan menyusunkainnya di atas kebayanya di atas batu. Sebentar dia berdiritelanjang bulat di pinggir sungai di atas batu, seluruhtubuhnya dicium oleh sinar matahari. Wak Katok menahan napasnya. Nafsunya datangmenyerang bergelombang-gelombang. Dadanya terasa sesak.Matanya panas dan seakan hendak meloncat ke luar darikepalanya. Selama ini dia hanya dapat membayangkan danmenerka tubuh Siti Rubiyah yang ditutupi baju dan kain tua.Akan tetapi kini dia dapat melihatnya sendiri. Seluruhtubuhnya kencang dan kaku. dan darahnya mengalir dipompa kuat-kuat oleh jantungnya yang bekerjaberdegup-degup amat cepatnya. Tetapi dia menahan dirinya.Siti Rubiyah cepat membungkuk dan memakai sebuah kaintua yang hendak dicucinya. Kemudian dia mengambilonggokan kain kolor dan merendamnya ke dalam air. Lalu diaduduk mencangkung di dalam air dan mulai menggosok kaindengan sabun. Coba aku air sungai yang mengalir itu, pikir Wak Katok.Kini dia agak tenang. Serangan nafsu berahi telah lewat, danyang tinggal ialah api birahi yang membakar kuat, tetapi yangdapat dikuasainya. Setengah jam kemudian Siti Rubiyah membuka kain yangdipakainya, dan mencuci kain. Dia membenamkan bahagianbadannya di bawah pinggangnya dalam air, dan yangkelihatan oleh Wak Katok hanya badannya bagian atas saja.Kemudian Siti Rubiyah mandi, dan setelah mengeringkanbadannya dengan sehelai kain, lalu memakai kebaya dankainnya. Dia mengumpulkan cuciannya, dan melangkahkembali ke jalan kecil menuju ladangnya. \"Aduh, terkejut aku, kusangka beruang atau apa,\"serunya, menjerit kecil. Wak Katok tertawa menentramkannya.
\"Aku kelupaan rokok di rumah, dan kembalimengambilnya. Bagaimana Wak Hitam?\" \"Masih panas sekalibadannya.\" \"Siti, aku bawakan Siti manik yang Siti mintadulu.\" \"Aduh, Wak, ada?\" \"Marilah,\" dan Wak Katokmemegang tangan Siti dan menariknya masuk ke dalambelukar.... 0oo0 MEREKA telah dua minggu bekerja mengumpulkandamar berpangkalan di huma Wak Hitam. Lusa pagi merekaakan kembali ke kampung. Banyak juga hasil mereka sekaliini, hingga tak terangkat oleh mereka semuanya sekali jalan.Yang tak dapal mereka angkut, akan mereka tinggalkan dirumah Wak Hitam. Dan Wak Hitam yang sakit telah berjanjiakan mengirimkannya ke Air Jernih dengan orang yang lewat. \"Bayar saja nanti mereka jika telah tiba di kampung,\"kata Wak Hitam. Sekali ini sakitnya kelihatan tambah berat. Badannyapanas, dan matanya kemerah-merahan hingga wajahnya lebihmenakutkan lagi. Tiap sebentar dia minta minum pada SitiRubiyah. Dia menyuruh Siti Rubiyah merebus obatnyasendiri, terbuat dari ramuan daun-daunan, kulit kayu danakar-akar. Pernah Buyung mencoba rasanya dari periuk di tungkuHuuuuhh, pahitnya! Hingga ketika Buyung meludahkannyakembali keluar melalui jendela, Siti Rubiyahmenertawakannya. Terobat juga lidahnya yang kepahitanmendengar tertawa Siti Rubiyah yang halus, dan melihatcahaya yang hinggap di mukanya dan memancar darimatanya. Siti Rubiyah jarang tertawa. Buyung mengerti.Terikat kawin pada orang tua seperti Wak Hitam dan tinggalberminggu-minggu di tengah hutan, jauh dan manusia yanglain, pasti terlalu berat bagi seorang perempuan muda sepertiSiti Rubiyah yang memerlukan pergaulan dengan perempuan-perempuan yang sebaya dengan dia. Sungguh kejam WakHitam!
Sejak hari pertama mereka tiba di ladang Wak Hitam,Buyung telah memasang sebuah perangkap kancil di pinggirladang dekat ke hutan. Buyung melihat bekas jejak kancil disana. Perangkap dibuatnya dari dahan-dahan kayu dan didalam perangkap dipasangnya buah jagung muda. Jika diadapat kancil atau anaknya, hendak diberikannya nanti padaZaitun. Demikianlah maksudnya. Setiap hari sebelumberangkat ke hutan mengumpulkan damar selalu dia pergi ketempat perangkap, memeriksa, dan mengganti umpan. Karenabeberapa kali pintu perangkap telah tertutup, akan tetapi didalamnya hanya ada tupai. Selalu tupai dilepaskannya karenadia tak suka membunuh binatang dengan tak berguna.Meskipun sebenarnya tupai banyak merusak kebun. Akantetapi entah mengapa dia tak sampai hati membunuh tupai. Binatangnya kecil dan kelihatannya lucu, dan jika diaingat cerita tupai dengan Pak Datuk yang kikir, makaperasaannya selalu berada di pihak sang tupai. Tiap petangpun, jika pulang dari hutan selalu dia memeriksaperangkapnya. 0oo0 DARI ladang Wak Hitam terbujur berbagai jalan kecilyang memintas ke hutan dan gunung. Sebuah di antaranyamenuju ke Sungai Air Putih yang mengalir di antara batu-batubesar dan kerikil dan pasir kira-kira setengah kilometer dariladang. Sebuah jalan yang menuju ke Utara adalah jalan yangmembawa mereka pulang ke kampung Air Jernih, yangmenyusuri Sungai Air Putih sebanyak mungkin, kecuali dibeberapa tempat, ketika jalan meninggalkan sungai danmemilih sendiri tempat-tempat yang mudah dilaluinya. Ke Selatan sebuah jalan kecil memintasi hutan menurunigunung, menuju kampung Wak Hitam, kampung Batu Putih,ada tiga hari berjalan kaki jauhnya. Jalannya kecil sekali, danhampir-hampir tak kelihatan. Kalau bukan orang perimba
pasti akan sesat jika mengikutinya, karena selalu sajatertutup kembali oleh semak dan pohon-pohon, dan tiapsebentar orang yang melaluinya harus membukanya kembalidengan parang. Mereka selalu mandi ke Sungai Air Putih. Jika pulangdari hutan di petang hari, maka mereka singgah dahulu disungai dan mandi di sana. Siti Rubiyah pun selalu mandi danmencuci pakaian di sana, dan meskipun di ladang ada sumur,akan tetapi, dia lebih suka mengambil air sungai yang airnyajernih dan sejuk. Dia mengambil air membawa tabung-tabungbambu. Sekali bawa sampai empat tabung. Sekali-sekali jikapagi hari Buyung bertemu dengan dia hendak mengambil air,maka Buyung menolongnya membawakan tabung bambuairnya. Dan kemudian di hutan Sutan pasti akan menggangguBuyung. Kata Sanip, Buyung mencoba-coba hendak menarikhati Siti Rubiyah. Tetapi Sutan sendiri suka mandi lebih lama dari kawan-kawannya yang lain, menunggu-nunggu Siti Rubiyah tiba.Dua hari sebelum mereka akan pulang, ketika Buyung pulangdari hutan menjelang tengah hari, untuk menjemputkeranjang besar tempat damar, buyung memintas jalan disungai, dan melihat Siti Rubiyah sedang bermain-main didalam air. Dia amat asyik dalam air, hingga tak terdengarolehnya Buyung datang. Buyung pun berjalan lebih hati-hatidari biasa. Siti Rubiyah sedang mencoba menangkapikan-ikan kecil di sungai dengan tangannya. Diamendekapkan kedua belah tangannya, membuat tangannyamenjadi semacam cabung yang bulat, dan memasangtangannya diam-diam di dalam air. Ditunggunya hinggaanak-anak ikan masuk berenang ke dalam tangannya, dankemudian dengan tiba-tiba tangannya diangkatnya ke atas.Akan tetapi ikan-ikan kecil yang jinak-jinak merpati amatcepat dapat melarikan diri, dan lepas dari tangkapan. SitiRubiyah pura-pura marah, dan menampar air beberapa kali,akan tetapi kemudian dia akan memasang tangannya kembali
dan menunggu ikan-ikan kecil masuk. Sinar mataharimenyiram mukanya dan kemudian menari nari di permukaanair, membuat mukanya yang kuning langsat seakan penuhdengan siraman cahaya yang berkilauan; terang mataharibersarang ke rambutnya yang tebal dan yang kelihatanbertambah hitam dan kini seakan memancarkan percikancahaya kecil-kecil, cahaya matahari yang datang dari langitdan dari permukaan air sungai membasuh seluruh mukanya,bahunya dan buah dadanya dengan terang dan bayangan,sungguh terpesona Buyung memandanginya. Jika dia bosanbermain demikian, maka dia menyanyi. Suaranya halus danlagunya sedih, lagu orang kesepian. Rupanya Buyung terlalukeras menatapinya, karena seakan terkejut dia mengangkatkepalanya, dan kemudian ketika dia melihat Buyung yangberdiri di bawah pohon di tepi sungai, sinar terkejutmeninggalkan matanya, dan senyum kecil yang amat manismenghiasi pula bibirnya, dan dia berseru: \"Engkau itu Buyung! Mengapa telah pulang kini?\" Muka Buyung merah padam, merasa malu, akan tetapiSiti Rubiyah tak memperlihatkan seakan dia melihat sesuatuyang ganjil dalam sikap Buyung. Sedang Buyung merasadarahnya tersirap, dan mengalir cepat sekali dalam badannyadan jantungnya berdebar-debar keras. Sungguh aneh sekaliperasannya. Dia merasa amat sangat tertarik pada SitiRubiyah, ingin dia mendekatinya dan memegangnya danmemeluknya, akan tetapi pada waktu yang bersamaan hatinyamerasa takut pula. Berbagai macam ketakutan yang timbuldalam hatinya. Takut pada perasaan hebat yang timbul dalamdirinya sendiri, takut karena ingat pada Wak Hitam, dan takutpada Siti Rubiyah sendiri, takut jika dia tahu apa yangdirasanya terhadap dirinya, maka Sili Rubiyah akan marah,dan mungkin tak mau lagi tertawa semanis itu padanya, dandia pun merasa takut berdosa, karena dia sadar, bahwaperasaannya yang demikian dilarang oleh ajaran agama.Tetapi meskipun demikian, Buyung tak dapat menahan
dirinya dari merasa demikian. Tak obahnya seakan sesuatutenaga yang lebih besar menguasai seluruh badan danjiwanya dan menghapuskan dari pikirannya, dari hatinya,cintanya kepada Zaitun, takutnya pada Wak Hitam, takutnyakepada Tuhan, takutnya kepada sikap Siti Rubiyah sendiri,dan takutnya pada perasaan ganjil yang dahsyat yangmenguasai dirinya. Buyung melangkah ke dalam sungai, mendekati SitiRubiyah yang duduk di dalam air. Siti Rubiyah memandangseraya mengangkat kepalanya kepada Buyung, dan tertawa,dan berkata: \"Aku coba menangkap ikan kecil. Tetapi mereka cepatlari. Seakan terasa saja padanya tangan kita akan bergerakuntuk mengangkatnya ke luar dari air.\" Dari ketinggian tempat Buyung berdiri, jelas sekalidilihatnya buah dada Siti Rubiyah yang separuh terbuka, yangkecil dan bundar akan tetapi membuat belahan pula di antarakeduanya, kulit dadanya halus, dan di rambutnya mutiara-mutiara air berkilauan, bibirnya merah. Suara Buyung terasa garau ketika berkata: \"Aku pulang hendak mengambil keranjang. Kami dapatbanyak damar.\" Tetapi kakinya tak hendak bergerak dari tempat itu, dandia berkata, melupakan semuanya: \"Marilah aku tolongengkau menangkap ikan.\" Buyung membungkuk dan kepala mereka amalberdekatan, badan mereka amat berdekatan, dan dengan sukacita Buyung lihat, bahwa Siti Rubiyah sama sekali takberusaha menjauhkan dirinya. Ketika itu Buyung merasaamat dekat sekali pada Siti Rubiyah, dan lupalah dia samasekali pada Zaitun. Mereka sebaya, dan mudah benar Buyungmerasa berkawan dengan dia.
Buyung tak tahu berapa lama keduanya mencari-cariikan. Siti Rubiyah banyak bercerita. Dia bercerita, bahwa diadipaksa kawin oleh orang tuanya dengan Wak Hitam, sedangsebenarnya dia tak hendak kawin dengan Wak Hitam. Hampirdia membunuh dirinya, kalanya, ketika dipaksa kawin denganWak Hitam. Akan tetapi karena menghormati dan takut padaayah dan ibunya, maka diturutinya juga kemauan ayah danibunya. Dia tak pernah merasa senang selama kawin denganWak Hitam, cerita Siti Rubiyah. Dia selalu ingin tinggal diKampung, dan ingin bergaul dengan kawan-kawan yangsebaya dengan dia. Akan tetapi Wak Hitam dalam bulan-bulanterakhir selalu saja membawa dia ke huma, dan istri-istrinyayang lain ditinggalkannya di kampung. Dia merasa amat kesepian di ladang, dan merasa takenak berdua-dua dengan Wak Hitam di tengah hutandemikian. Dia sebenarnya takut pada Wak Hitam, katanyamengaku. Wak Hitam mengawininya, hanya dengan maksuduntuk memperpanjang umurnya. Dia hendak memakaikemudaannya untuk mempermuda dirinya sendiri. Dan SitiRubiyah menarik air muka, seakan dia merasa jijik dan taksenang dengan Wak Hitam. Jatuh juga hati Buyungmelihatnya tak berdaya demikian. Sungguh kasihan dia,seorang perempuan muda demikian, dikawini dengan paksaoleh seorang tua, dan dipaksa pula tinggal bersama di tengahhutan. Pasti dia kesepian dan ingin berkawan denganorang-orang muda yang sebaya dengan dia. Segan benar Buyung sebenarnya meninggalkan SiliRubiyah, akan tetapi kemudian dia teringat tujuannya yangsebenarnya mengambil keranjang, dan dipaksanya dirinyameninggalkan suasana yang amat menggembirakan bercakap-cakap dengan Siti Rubiyah, dan dia bergegas ke rumahmengambil keranjang. Ketika dia tiba di atas beranda, didengarnya Wak Hitammemanggil, \"Siapa itu?\"
\"Buyung, Wak,\" sahutnya enggan, \"mengambil keranjang.Dapat banyak damar kami.\" \"Marilah sebentar ke mari. Di mana Siti Rubiyah?\" Tersirap darah Buyung sedikit. Tahukah Wak Hitam,bahwa dia tadi singgah dan lama berbicara dengan SitiRubiyah? Buyung ingat akan cerita-cerita tentang ilmunyayang hebat, dan bukan tak mungkin ilmu firasatnya begituhebat, hingga dia dapat mengetahui apa yang terjadi jauh daridirinya. Buyung menguatkan dirinya, dan membaca manterapenjaga diri yang diajarkan Wak Katok padanya dan diamelangkah dengan tenang ke dalam kamar tidur Wak Hitam.Wak Hitam terbaring di atas kasur di lantai, berselimut hitamtebal-tebal. Kepalanya memakai kupiah wol yang tebal yangbelang-belang merah, hitam dan putih. Ketika Buyung masukdia mengerang. Rupanya demamnya sedang naik. \"Aduh Buyung, tolong berikan aku air secangkir,\"katanya dengan suara yang lemah dan gemetar. Mendengarsuaranya dan melihat keadaannya yang demikian, hilang pularasa takut dan was-was dalam hatinya. Cerek tempat airterletak jauh dari kasurnya. Buyung mengisi semangkuk airteh dan membawa padanya. Wak Hitam mencoba duduk,tetapi tak kuat. Buyung mendorong punggungnya dengansebelah tangannya, dan tangan kanannya membawakancangkir ke bibir Wak Hitam. Wak Hitam memegang cangkirdengan kedua belah tangannya. Seluruh badannya gemetar,dan cangkir bergoyang karena getar kedua tangannya, dan airteh akan tumpah jika cangkir tak dipegang kuat-kuat olehBuyung. Dia minum dengan lahap, dan kemudianmerebahkan dirinya kembali. Buyung menyeka keningnyayang penuh keringat dengan sebuah lap kain merah yangterletak dekat bantalnya. \"Aduh, beginilah kalau sudah tua dan sakit-sakit, tak adalagi yang mengurus awak,\" keluhnya, \"di mana Siti Rubiyah?\" \"Di sungai, mencuci,\" sahut Buyung
\"Ohhhh,\" katanya, kehilangan perhatiannya, dankemudian timbul kembali kekesalannya dan iba hatinya padadirinya sendiri. \"Di sungai saja kerjanya. Beginilah Buyung,\"katanya kembali, \"kalau sudah tua dan sakit-sakit. Binisendiri pun tidak lagi memperdulikan kita, apalagi anak-anakatau keluarga yang lain. Mereka malahan menunggu danmendoakan supaya kita lekas saja mati, biar mereka dapatmembagi-bagi harta yang kita tinggalkan.\" Kemudian diam diam sebentar, dan kembali memandangpada Buyung, dan berkata: \"Bini yang tua dan bini yangmuda, sama saja, tak hendak mengurus kita dengan benar.\" Kemudian dia diam, lalu memandang pada Buyung, danberkata: \"Pergilah, Buyung, engkau masih harus bekerja.\" Hati Buyung lega disuruhnya pergi. Barangkali dia terlalubergegas berangkat, akan tetapi dia tak lahan rasanya tinggaldi dalam kamar yang panas dan gelap dengan Wak Hitamyang demam panas. Kamar terasa seakan sesak, udara dalamkamar berat dan panas dengan bau badan Wak Hitam yangsakit, dan dia seakan merasa tak dapat bernapas di dalamnya.Tiba di luar rumah, udara panas dihirupnya dan terasa amalsegar sekali. Di tengah jalan Buyung bertemu dengan SiliRubiyah yang hendak pulang. Dari jauh Siti Rubiyah telahtersenyum. Kali ini seakan senyumnya mengandung arti yanglebih dalam. Seakan dari pertemuan mereka, di sungai tadi,telah tumbuh sesuatu yang mendekatkan mereka. DanBuyung bukannya tak senang dengan perasaan ini. Buyung mengatakan padanya agar dia bergegas, karenaWak Hitam memanggil-manggilnya, dan panas demamnyakelihatannya lelah menjadi lebih tinggi. Siti Rubiyah terus pulang, dan Buyung bergegas kembalike hutan. Di tengah hutan ingatannya yang penuh gembiradapat berjumpa tadi dengan Siti Rubiyah tak terganggu olehketokan burung pelatuk yang mengisi hutan. Dia terkejut
ketika mendengar suara Talib mereka berdua bekerja bersamamengumpulkan damar. \"Aduh, senang benar hatimu, sampai menyanyi segala.\" Dengan tak disadarinya Buyung telah menyanyi rupanya,dan dia tak sadar telah tiba di tempat mereka bekerja, dankini Talib memajukan sebuah pertanyaan yang sukar pulauntuk menjawabnya: \"Mengapa engkau lama?\" Akan tetapi otaknya dengan cepat bekerja dan diamenjawab: \"Oh, aku memperbaiki perangkap kancilku sebentar.\" Dan dia takut Talib akan melihat betapa pipinyamemerah, karena harus berdusta demikian. Akan tetapi Talibterus berbalik meneruskan pekerjaannya. \"Aduh senang juga hatiku, esok kita akan pulang kekampung,\" kala Talib. \"Sudah terlalu lama....\" tiba-tiba diaberhenti berkata, dan menengok ke atas. Enam ekor burunggagak kelihatan terbang melintas di atas hutan tempat merekabekerja, berbunyi-bunyi: gaak-gaak-gaak! Talib agak berubah air mukanya Dia mengucapAstagafirullah...dan kemudian berkata: \"Aduh, alamat tak baikitu. Moga-moga Tuhan melindungi kita dan menyelamatkanperjalanan kita pulang.\" \"Ah, tahyul saja itu,\" kata Buyung, \"apalagi kita ini kan dihutan, bukan di kampung.\" \"Kalau di kampung ada burung gagak terbang melintasirumah, dan di rumah itu ada orang sakit, maka artinya sisakit akan mati,\" kata Talib. \"Itulah yang kumaksudkan,\" kala Buyung, \"jadi di hutantak ada artinya, karena hutan tempat burung gagak tinggal,bukan?\"
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177
- 178
- 179
- 180
- 181
- 182
- 183
- 184
- 185
- 186
- 187
- 188
- 189
- 190