Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Bab 7. Konjungtiva, kornea, dan sklera

Bab 7. Konjungtiva, kornea, dan sklera

Published by haryahutamas, 2016-08-24 05:25:39

Description: Bab 7. Konjungtiva, kornea, dan sklera

Search

Read the Text Version

Konjungtiva, kornea, dan sklera Untuk memahami: r Gejala, tanda, penyebab, dan terapi penyakit konjungtiva. o Gejala, tanda, penyebab, dan terapi penyakit kornea o Perbedaan antara episkleritis dan skleritis. Kelainan konjungtiva dan kornea sering menjadi penyebab timbulnya geiala mata. Permukaan mata secara regular terpajan lingl<ungan luar dan mudah mengalami trauma, infeksi, dan reaksi alergi yang merupakan sebagian besar penyakit pada jaringan ini. Sebagian kecil disebabkan oleh abnormalitas degeneratif dan struktural.Gejala Pasien dapat mengeluhkan: I Nyeri dan iritasi. Konjungtivitis larang dikaitkan dengan apapun selain sedikit rasa tidak nyaman. Nyeri menandal<an sesuatu yang lebih serius seperti cedera atau infeksi kornea. Gejala ini membantu membedal<an antara lconjungtivitis dengan penyakit kornea. 2 Kemerahan. Pada konjungtivitis seluruh permukaan koniungtiva ter- masuk yang melapisi lempeng tarsal ikut terlibat. Jika kemerahan ini terlo- lcalisasi pada injeksi siliar limbus siliaris, pertimbangkan hal berikut: (a) l<eratitis (suatu inflamasi kornea); (b) uveitis; (c) glaukoma akut. 3 Sekret. Sel<ret purulen menandal<an koniungtivitis bal<teri. Koniung- tivitis virus terutama dikaitkan dengan sel<ret berair. 4 Hilangnya penglihatan. Hal ini hanya terjadi jil<a kornea sentral terkena. Kehilangan penglihatan merupakan gejala penting dan membutuhkan tindakan segera. 5 Pasien dengan penyakit kornea juga dapat mengeluhkan fotofobia.

:li i: Bab 7: Koniungtiva, l<ornea, dan sl<lera Tanda Gambaran berikut dapat terlihat pada penyal<it konjungtiva: . Papila. Papila merupal<an lesi meninggi pada konjungtiva tarsal atas, dengan diameter sekitar I mm dan memililci inti vaskular sentral. Papila merupal<an tanda nonspesifil< inflamasi kronis. Papila disebabl<an oleh adanya septa fibrosa antara konjungtiva dan subkonjungtiva yang memungkinkan jaringan di antaranya membengkal< dengan infiltrat inflamasi. Papila raksasa, ditemukan pada penyal<it mata alergi, terbentul< al<ibat bersatunya papila (lihat Gambar 7.4).Gambar 7.1 Tamprlan klrnrs follkel o Folikel (Gambar 7. l). Folil<el merupakan lesi gelatinosa oval meninggi dengan diameter sel<itar I mm yang biasanya ditemukan pada l<onjungtiva tarsal bawah dan tepi tarsal atas, dan kadang pada limbus. Tiap folilcel merepresentasilcan kumpulan limfoid dengan pusat germinalnya sendiri. Tidak seperti papila, penyebab folil<el lebih spesifil< (misal infel<si virus dan l<lamidia). o Dilatasi pembuluh darah lconjungtiva (disebut 'injel<si'). . Perdarahan sublconjungtiva, seringkali berwarna merah terang karena terol<sigenisasi penuh oleh udara sel<eliling, melalui konjungtiva. Gambaran penyakit l<ornea berbeda, di antaranya: . Dapat terbentul< edema epitel dan stroma yang menyebabl<an l<eruhnya l<ornea. r lnfiltrat selular di stroma menyebabkan titil<-titik putih granular fol<al. o Deposit sel pada endotel kornea (dinamal<an presipitat keratik atau KP, biasanya limfosit atau rnakrofag, lihat hal. 86). . Keratitis kronis dapat menstimulasi pembentul<an pembuluh darah baru di superfisial, di bawah epitel (pannus; Gambar 7.2), atau lebih dalam di stroma. Edema stroma, yang menyebablcan pembengkakan dan memisah- kan lamela l<olagen, memfasilitasi invasi pembuluh darah. r Erosi epitel adalah hilangnya epitel berbentul< pungtata atau bercak yang lebih lebar yang paling baik didetel<si dengan menggunal<an pewarna fluoresein dan dilihat dengan cahaya biru.

KonjungtivaGambar 7.2 Par'nr-Ls Penyakit inflamasi konjungtivaKONJUNGTIVITIS BAKTERI Pasien datang dengan: . mata merah; o sekret mata; . iritasi mata. O rgan i s me penyebab te rseri ng adalah Stap hy I o c o s,c c Lt Str e pto to c c u s, Pneumococcus, dan Haemophilus. Kondisi ini biasanya sembuh sendiri mesl<i obat tetes mata antibiotik spel<trum luas akan memPercePat l<e- sembuhan. Apusan konjungtiva untul< l<ultur diindikasil<an bila l<eadaan ini tidal< menyembuh. Cftalmia neonatorum, yaitu l<oniungtivitis yang terjadi pada 28 hari pertama l<ehidupan neonatus, merupal<an penyalcit yang mudah dil<enali. Apusan untul< l<ultur harus dilal<ul<an. Selain itu penting untul< memeril<sa l<ornea untul< menyinglcirlcan ulserasi. Organisme penyebab tersering adalah: c Koniungtivitis bal<teri (biasanya Gram positif).Boks 7.1 Beberapa anirJlrotrk lrang lersedta untltk Seftazldinpenggunaan toprkal pada mata. Klotarrfcnikoi Kloramfenikolmerupakan arltibiotrk spektrum iuas yang '.fektlf, rlstk0 Srprofloksasinaplasra sumsun tulang yang trdak terlaiu besar masth Asam fusidat Gentamisindrperdebatkan. Neomisin Ofloksasin Tetrasiklin

64 Bab 7: Konjungtiva, kornea, dan sklera o Nersseria gonorrhoea. Pada kasus berat dapat menyebabkan perforasi kornea. Penisilin topikal dan sistemil< masing-masing diberikan untul< meng- obati penyal<it lokal dan sistemik. o Herpes simpleks, yang dapat menyebabkan parut kornea. Antivirus topil<al digunal<an untul< mengobati l<eadaan ini. r . Klamidia. Penyakit ini dapat menyebabkan konlungtivitis l<ronis dan parut l<ornea yang dapat mengancam penglihatan. Salep tetrasil<lin topikal dan eritromisin sistemik masing-masing digunakan untuk mengobati penyakit lokal dan sistemil<.KONJUNGTIVITIS VIRUS Konjungtivitis ini dibedakan dari konjungtivitis bakteri berdasarkan: r sekret berair dan purulen terbatas; r adanya folikel konjungtiva dan pembesaran l<elenjar getah bening preauril<ular; . selain itu mungkin juga terdapat edema kelopak dan lakrimasi berlebih. Konlungtivitis ini merupakan penyal<it yang sembuh sendiri namun sangat menular. Organisme penyebab tersering adalah adenovirus dan, yang lebih jarang, Coxsackie dan pikornavirus. Adenovirus juga dapat menyebabkan konjungtivitis yang berhubungan dengan pembentukan pseu- domembran pada konjungtiva. Serotipe adenovirus tertentu juga me- nyebabkan l<eratitis pungtata yang menyulitl<an. Terapi untul< konlungtivitis ini tidak diperlukan kecuali terdapat infel<si bal<teri sel<under. Pasien harus diberil<an instrul<si higiene untul< meminimalkan penyebaran infeksi (misal menggunakan handul< yang berbeda). Terapi keratitis masih kontroversial. Penggunaan steroid mengurangi gejala dan menyebablcan hilangnya opasitas kornea, namun inflamasi ulangan (rebound inflammation) sering terjadi l<etika steroid dihentikan.INFEKSI KLAMIDIA Berbagai serotipe Chlamydia trachomatis yang merupal<an organisme intra- selular obligat menyebabkan dua bentuk infeksi mata.Keratokonjungtivitis inklusi Penyakit ini merupakan penyakit yang ditularkan secara seksual dan dapat berlangsung l<ronis (hingga l8 bulan) kecuali diterapi dengan adekuat. Pasien datang dengan konjungtivitis folikular mukopurulen dan terjadi mikropanus (vaskularisasi dan parut l<ornea superfisial perifer) yang ber- hubungan dengan parut subepitel. Uretritis dan servisitis sering terjadi. Diagnosis dilconfirmasi dengan deteksi antigen klamidia, menggunakan imunofluoresensi atau dengan identifil<asi badan inl<lusi l<has dari apusan konjungtiva atau spesimen kerol<an dengan pewarnaan Giemsa. Konjungtivitis inklusi diobati dengan tetrasil<lin topikal dan sistemil<. Pasien harus dirulul< l<e klinik penyal<it menular seksual.

$ltql€lY\" - liTrakoma (Gambar 7.3) Trakoma merupakan penyebab infektif kebutaan tersering di dunia meski tidak sering terjadi di negara maiu. Lalat rumah merupakan vektor penyalcit ini dan penyal<it mudah berl<embang dengan higiene yang buruk dan penduduk yang padat di il<lim lcering dan panas. Tanda penting penyakit ini adalah fibrosis subkoniungtiva yang disebabkan oleh reinfeksi yang sering teriadi pada kondisi tidak higienis. Kebutaan dapat terjadi karena parut kornea akibat keratitis dan trikiasis berulang. Trakoma diobati dengan tetrasiklin atau eritromisin oral atau topikal. Azitromisin, sebagai alternatif, hanya memerlukan sekali pemakaian. Entropion dan trikiasis membutuhl<an koreksi bedah. Gambar 7.3 Parut pada (a) kelopak atas (dieverslkan) dan (b) kotnea pada trakomaKONJUNGTIVITIS ATERGI Konjungtivitis alergi dapat dibagi meniadi akut dan kronis: I Akut (l<onjungtivitis demam hay). Merupakan suatu bentuk reaksi akut yang diperantarai lgE terhadap alergen yang tersebar di udara (biasanya serbuk sari). Gejala dan tanda antara lain: (a) rasa gatal; (b) injeksi dan pembengkakan koniungtiva (kemosis); (c) lakrimasi. 2 Konjungtivitis vernal (kataral musim semi) juga diperantarai oleh lgE. Sering mengenai anak laki-laki dengan riwayat atopi. Dapat timbul sepanlang tahun. Gejala dan tanda antara lain: (a) rasa gatal; (b) fotofobia; (c) lakrimasi; (d) konjungtivitis papilar pada lempeng tarsal atas (papila dapat bersatu untuk membentuk cobblestone raksasa; Gambar 7.4); (e) folikel dan bintik putih limbus; (f) lesi pungtata pada epitel kornea; (g) plak oval opal< yang pada penyakit parah plak ini menggantikan zona bagian atas epitel l<ornea.

Bab 7: Konjungtiva, kornea, dan sl<leraGambar 7.4 1\"n'pil\"r pap l\" \"s\.:-:l:ii .1*\.raksasa (cobbJestone) padakoniunqtlvitis vernal. Terapi awal dengan antihistamin dan penstabil sel mast (misal natriuml<romoglikat; nedol<romil; lodoksamid). Steroid topil<al dibutuhlcan padal<asus-l<asus berat, namun pemakaian jangka panjang lil<a mungkin dihindarikarena dapat mengindul<si glaul<oma atau l<ataral<. Pengguna lensa l<ontal< dapat mengalami real<si alergi terhadap lensayang digunakan atau bahan pembersih lensa yang menyebabkan l<onjung-tivitis papilar raksasa (giant papillary conjunctivitr's, GPC) dengan sel<retmul<oid. Walaupun hal ini memberilcan respons terhadap terapi topikaldengan penstabil sel mast, seringkali penggunaan lensa kontak harus dihenti-kan sementara waktu atau permanen. Beberapa pasien tidal< bisa menerus-lcan penggunaan lensa kontal< l<arena l<ambuhnya gejala. Degenerasi konjungtiva Kista sering didapatl<an pada konjungtiva. Jarang menimbull<an masalah namun jil<a diperlukan dapat diangl<at. Pinguekula dan pterigia ditemul<an pada l<onjungtiva bulbi interpalpebra. Diduga terjadi akibat pajanan berlebih terhadap l<omponen ultraviolet sinar matahari yang dipantulkan atau secara langsung. Secara histologis, struktur l<olagen berubah. Pinguel<ula merupakan lesi kekuningan yang tidal< pernah mencapai kornea. Pterigia berbentuk sayap dan terletak di nasal, dengan apelcs mengarah l<e l<ornea di mana terjadi perluasan secara progresif (Gambar 7.5). Pterigia dapat menyebabkan iritasi dan, jil<a luas, dapat mencapat al<sis visual. Dapat diel<sisi namun bisa berulang kembali.TUMOR KONJUNGTIVA Tumor konjungtiva jarang terjadi. Tumor ini antara lain: o Karsinoma sel slcuamosa. Peninggian area konjungtiva iregular yang dapat menginvasi jaringan yang lebih dalam. r Melanoma maligna. Diagnosis banding dari lesi berpigmen jinak (misal nevus) mungkin sulit. Dibutuhkan peninjauan kembali untul< menilai apakah lesi ini ul<urannya membesar. Mungl<in diperlul<an biopsi untuk menegak- kan diagnosis pasti.

Kornea i:l Gambar 7.5 Tampilan khnis dari: (a) pinguekulum; (b) ptetigium Lesi kornea infelGifKERATITIS HERPES SIMPLEKS Herpes simplelcs (HSV) tipe I merupakan penyebab yang sering dan penting pada penyal<it mata. Herpes simpleks tipe 2 yang menyebabkan penyakit. l<elamin kadang dapat menyebabkan keratitis dan korioretinitis infantil. lnfel<si primer oleh HSV I biasanya didapatkan pada awal lcehidupan akibat lcontal< erat seperti berciuman. Biasanya disertai dengan: r demam; o lesi vesikular l<elopal< mata; r koniungtivitisfolikular; o limfadenopati preaurikular; r l<ebanyakan asimtomatil<. Kornea mungl<in tidak terl<ena meski dapat terlihat kerusakan epitel pungtata. lnfelcsi berulang terjadi akibat al<tivasi virus yang laten di ganglion trigerminal saraf l<ranialis lcelima. Mungkin tidak didapatkan riwayat klinis sebelumnya. Virus berjalan di dalam saraf menuju mata. Sering teriadi pada pasien debil (misal penyal<it psikiatri, penyal<it sistemik, imunosupresi). Ditandai oleh adanya ulkus dendritik pada kornea (Gambar 7.6). Ull<us ini biasanya menyembuh tanpa parut. Jika stroma .iuga terkena al<an teriadi edema yang mengakibatlcan hilangnya transparansi lcornea. Keterlibatan stroma dapat mengal<ibatkan parut permanen. Jil<a parut kornea berat, diperlulcan cangkol< kornea untul< mengembalikan penglihatan. Uveitis dan glaukoma dapat terjadi pada penyakit ini. Keratitis disiformis merupakan real<si imunogenik terhadap antigen herpes dalam stroma dan rnuncul sebagai kekeruhan stroma tanpa ulserasi, sering dikaitkan dengan iritis. Lesi dendritik diobati dengan antivirus topikal yang biasanya sembuh dalam 2 minggu. Steroid topikal tidal< boleh diberikan pada pasien dengan ull<us dendritik karena dapat menyebablcan ulserasi kornea luas. Pada pasien dengan l<eterlibatan stroma. (l<eratitis), steroid hanya digunakan dengan pengawasan dokter mata dan dengan perlindungan antivirus.

oo Bab 7: Konlungtiva, kornea, dan skleraGambar 7.6 Ulkus dendritik yangterdapat pada infeksi herpes simpieks.Boks 7.2 Beberapa obat Vidarabinantrvirus toplkal yang tersedia Trif luorotimidrnuntuk terapi mata. Asiklovir GansiklovirHERPES ZOSTER OFTALMIKA(OPHTHALMIC SHINGLES\ (Gambar 7.7\ Penyakit ini disebabkan oleh virus varisela-zoster yang menyebabkan cacar air, dan mengenai bagian oftalmika saraf trigeminus. Tidak sepertj infeksi herpes simpleks, pada herpes zoster biasanya terdapat periode prodromal dan pasien secara sistemik tidak sehat. Manifestasi okular biasanya didahului oleh munculnya vesikel pada distribusi bagian oftalmika saraf trigeminus. Besar kemungkinan terjadi masalah okular bila cabang nasosiliar dari saraf tersebut terkena (vesikel pada radiks hidung).Gambar 7-7 Tampilan klinis herpes zoster oftaimika

Kornea 69 Tanda-tandanya antara lain: o pembengkakan kelopal< mata (yang mungkin bilateral); o keratitis; o iritisi o glaukoma sekunder. Reaktivasi penyakit ini sering berkaitan dengan penyakit sistemik yang tidak berhubungan. Terapi antivirus oral (misal asiklovir dan famsiklovir) efektif dalam mengurangi neuralgia pascainfeksi (nyeri kronis berat di daerah ruam) jil<a diberikan dalam 3 hari sejak erupsi vesikel kulit. Penyakit okular mungkin memerlukan antivirus topikal dan steroid. Prognosis penyakit mata herpetik membaik sejak tersedianya terapi antivirus. Herpes simpleks maupun herpes zoster menyebabkan anestesia kornea. Ulkus indolen yang tidak menyembuh bisa terjadi setelah infeksi herpes simpleks dan sulit diterapi.KERATITIS SAKTER] Patogenesis Sejumlah bakteri dapat menginfeksi kornea.Boks 7.3 Beberapa bakteri yang o Staphylocaccus epidermidismenyebabkan rnfeksr kornea. o Staphylocaccus aureus . Sfteptococcuspneumoniae r Koliformrs o Pseudomonas c Haemophilus' Beberapa bakteri ditemukan di tepi kelopak sebagai bagian dari floranormal. Konjungtiva dan kornea mendapat perlindungan dari infeksi dengan:o kedipan mata;o pembersihan debris dengan aliran air mata;o penjeratan partikel asing oleh mukus;r sifat antibakteri dari air mata;. fungsi sawar epitel kornea (Nelsserla gonnorrhoea merupakan satu-satunya organisme yang dapat menembus epitel intak). Faktor predisposisi keratitis bakteri termasul<:r l<eratokoniungtivitis sika (mata kering);r robekan di epitel l<ornea (misal setelah trauma);. penggunaan lensa kontak;. penggunaan steroid topikal langka panjang.Gejala dan tandaAntara lain:. nyeri, biasanya berat kecuali bila kornea anestetik;. sekret purulen;

Bab 7: Koniungtiva, l<ornea, dan sl<leraGambar 7.8 Tampilan kllnis ulkuskornea. o injel<si siliar; . gangguan penglihatan (berat jil<a melibatkan al<sis visual); r kadan8 hipopion (suatu massa sel darah putih yang terkumpul di bilil< mata anterior; lihat hal. 86-87); . opasitas l<ornea berwarna putih yang sering dapat dilihat dengan mata telanjang (Gambar 7.8). Terapl Kerol<an diambil dari dasar ull<us untul< pewarnaan Gram dan kultur. Pasien kemudian diterapi dengan antibiotil< topil<al intensif, seringkali dengan terapi ganda (misal sefurol<sim untul< balcteri Gram positif dan gentamisin untul< bakteri Gram negatifl untul< mengatasi sebagian besar organisme. Penggunaan fluorol<uinolon (misal Siproflol<sasin, Ofloksasin) sebagai mono- terapi mulai populer. Tetes mata diberil<an setiap jam siang dan malam untul< beberapa hari pertama dan kemudian frel<uensinya dil<urangi bila terlihat perbaikan klinis. Pada penyal<it yang berat atau tidak responsif l<ornea dapat mengalami perforasi. Awalnya ini dapat diterapi dengan pelekat jaringan (lem sianoal<rilat) dan l<emudian cangkok kornea. Parut persisten mungl<in juga memerlukan cangl<ol< l<ornea untul< memulihkan penglihatan.KERATITIS AKANTAruIOEtsA (Gambar 7.9) Amoeba air tawar ini menyebabl<an l<eratitis infektif. lnfel<si ini menjadi lebih sering terjadi seiring dengan peningl<atan penggunaan lensa kontal< lunal<. Terjadi l<eratitis yang nyeri dengan tonjolan saraf l<ornea. Amoeba dapat diisolasi dari l<ornea (dan dari lensa l<ontal<) dengan l<erol<an dan dikultur pada media l<husus yang dipenuhi dengan Escherichia colr. Klor- heksidin topikal, polihel<sametilen biguanid (PHMB), dan propamidin diguna- kan untul< mengobati kondisi ini.KERP,STY'S JAMUR Jarang terjadi di lnggris namun lebih sering terjadi di iklim yang lebih hangat seperti bagian selatan Ameril<a Seril<at. Mencakup sekitar 30-50%

Kornea ffi eGambar 7.9 Tampilan kllnis keratitisakantamoeba. Panah menunjukkanneurokeratrtis. l<eratitis infel<tif di lndia. Penyakit ini harus dipikirkan pada: r tidal< adanya respons terhadap terapi antibiotil< pada ulserasi kornea; o kasus-l<asus trauma dengan bahan tumbuhan; o l<asus-kasus yang berkaitan dengan penggunaan steroid jangka panjang. Opasitas l<ornea terlihat halus dan bisa ditemukan lesi satelit. Diguna- kan media Sabaroud cair dan Padat untul< menumbuhkan iamur. lnkubasi mungkin memerlukan waktu lama. Terapi dengan tetes mata antiiamur topikal seperti pimarisin 5%.KERATITIS INTERSTISIAL Terminologi ini digunakan untuk setiap lceratitis yang mengenai stroma kornea tanpa l<eterlibatan epitel. Penyebab l<lasik tersering adalah sifilis, mengakibatkan parut stroma bagian tengah dengan gambaran pembuluh darah ('hantu'). Mungkin diperlukan cangkok l<ornea bila opasitas kornea bermakna dan taiam penglihatan berl<urang. Distrofi kornea (Gambar 7. l0) lni merupakan l<elainan turunan yang langka. Distrofi kornea mengenai lapisan-lapisan kornea dan seringkali mempengaruhi transparansi kornea. Dapat dibagi menjadi: Gambar 7.10 Contoh distrofi kornea (distrofi granular).

tt Bab 7: Konjungtiva, kornea, dan sklera o Distrofi anterior yang melibatkan epitel. Dapat timbul dengan erosi kornea berulang. o Distrofi stroma timbul dengan hilangnya penglihatan.Jika sangat anterior, dapat menyebabkan erosi kornea dan nyeri. o Distrofi posterior yang mengenai endotel dan menyebabkan hilangnya penglihatan secara perlahan-lahan karena edema. Juga dapat menyebabkan nyeri karena erosi epitel. Kelainan bentukKERATOKONUS Biasanya merupakan kelainan sporadis namun kadang diturunl<an. Penipisan bagian tengah kornea menyebabkan distorsi kornea konikal. Penglihatan terganggu namun tidak terdapat nyeri. Pada awalnya astigmatisme yant ditimbulkan dapat dil<oreksi dengan kacamata atau lensa kontal<. Pada kasus berat mungkin diperlukan cangkok kornea. Degenerasi kornea bagian tengahKERATOPATI PITA (Gambar 7.ll) Keratopati pita merupakan deposisi subepitel kalsium fosfat pada bagian kornea yang terpajan di mana hilangnya CO, dan peningkatan pH yang ditimbulkan membantu deposisinya. Penyakit ini didapatkan pada mata dengan uveitis atau glaukoma kronis dan dapat menyebabkan hilangnya penglihatan atau rasa tidak nyaman,bila erosi epitel terbentuk di atas pita. Jika simtomatik maka dapat dikerok dengan bantuan agen kelasi seperri natrium edetat. Laser excimer juga efektif dalam mengobati pasien-pasien ini dengan mengablasi kornea yang terkena. Keratopati pita iuga bisa merupakan tanda hiperkalsemia sistemik seperti pada hiperparatiroidisme atau gagal ginjal. Lesi ini kemungkinan besar terdapat di posisi jam 3 dan jam 9 pada kornea limbus.Gambar ?.11 Keraiopati pita

?j Degenerasi kornea periferPENIPTSAN KORNEA Penyebab yang jarang dari penipisan kornea perifer yang nyeri adalah ulkus Mooren, suatu kondisi dengan dasar imun. Penipisan atau pelunakan kornea juga didapatkan pada penyakit kolagen seperti artritis reumatoid dan granulomatosis Wegener. Terapi dapat sulit dan kedua set kelainan tersebut membutuhkan terapi imunosupresi sistemik dan topikal. Bila terdapat mata kering, penting untuk menjamin pembasahan kornea dan proteksi kornea yang adekuat (lihat hal. 55-56).ARKUS I,IPID lni merupakan deposit lipid putih di perifer yang berbentuk cincin, terpisah dari limbus dengan jelas. Paling sering terlihat pada manula normal (arkus senilrs) namun pada pasien muda dapat merupakan tanda adanya suatu hiperlipidemia. Tidak memerlukan terapi. Cangkok kornea (Gambar 7. l2) Jaringan kornea donor dapat dicangkokkan pada kornea pejamu untuk mengembalikan kejernihan kornea atau memperbaiki perforasi. Kornea donor dapat disimpan dan dimasukkan dalam bank sehingga cangkol<'l<ornea dapat dilakukan pada pembedahan rutin. Kornea pejamu yang avaskular berfungsi sebagai tempat khusus untuk cangkok, dengan tingkat lceberhasilan yang tinggi. Jaringan yang digunakan bisa bertipe HLA untuk cangkok kornea bervaskular dengan risiko tinggi penolakan imun meski nilainya masih belum jelas. Pasien menggunakan tetes mata steroid selama beberapa waktu setelah operasi untuk mencegah penolalcan cangkok. Komplil<asi seperti astigmatisme dapat ditangani dengan pembedahan atau penyesuaian jahitan. rc%Gembar 7.12 Suatu cangkok kornea, --#-#eperhattkan jahttan terputus dankontinu pada pertemuan cangkok danpelamu.

Bab 7: Koniungtiva, l<ornea, dan sl<leraPENOTAKAN CANGKOK Tiap pasien yang memiliki cangkok kornea dan yang mengeluhl<an mata merah, nyeri, atau hilangnya penglihatan harus ditangani dengan segera oleh spesialis mata, karena hal tersebut bisa menandal<an penolakan cang- kol<. Pemeril<saan memperlihatl<an edema cangl<ol<, iritis, dan garis sel T teralctivasi yang menyerang endotel cangkok. Aplil<asi steroid topikal intensif pada tahap dini dapat mengembalilcan l<ejernihan kornea.EPISKLERITIS lnflamasi lapisan superfisial sklera ini menyebabkan rasa tidal< nyaman ringan. Jarang berlcaitan dengan penyakit sistemik. Biasanya sembuh sendiri namun karena gejala mengganggu, dapat diberil<an terapi antiinflamasi topilcal. Pada penyakit berat yang jarang terjadi, terapi antiinflamasi non- steroid sistemik dapat membantu.SKLERITIS (Gambar 7.13) lni merupakan kondisi yang lebih serius dibandingkan dengan episkleritis dan mungl<in berhubungan dengan penyal<it kolagen-vasl<ular, paling sering artritis reumatoid. Merupal<an penyebab nyeri mata berat. Dapat timbul daerah inflamasi dan isl<emia pada sklera. Yang l<has adalah sklera yang terkena membengkal<. Hal-hal berikut dapat memperberat keadaan ini: o penipisan sl<lera (s/</eromalasia), kadang dengan perforasi; r l<eratitis; r uveitis; o pernbentul<an kataral<; r glaukoma. Terapi mungl<in memerlukan steroid sistemil< dosis tinggi atau pada l<asus berat dengan terapi sitotol<sil< dan pemeril<saan penunjang untuk menemukan penyakit sistemil< terl<ait. Sl<leritis yang mengenai bagian posterior bola mata dapat menyebabl<an efusi l<oroid atau menstimulasi tumor.Gambar 7.13 Tarnpilan sklentis

Sklera o Hindari penggunaan steroid topikal yalg tidak drawasi dalam mengobati kondisi mata kaJena komplikasinya bisa sedus. o Pada pengguna lensa kontak, mata merah yang terasa nyeri merupakan keadaan yang senus; hJ tersebul menandakan suatu keratitis infektif. .' Mata merah, nyeri, dan berkurangnya penglihatan pada pasien dengan cangkok kornea menandakan penolakan dan merupakan suatu kegawatdaruratan mata.Boks 7.4 Hal-hal pentlng pada penyakit kornea


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook