lmunitas yang berbahaya: skema umum lnfeksi mikroba EliminasiTransplantasi sLimulaEi TIFE V (ll) ,\" / *i',-:Wd:'\",' p 1A,=- '/ L\".---ffiJ \ \"' '';--' Komptenien * ,',n'ou')uuu,\" 1'r\"i,''.14$ll#lt\"iiiii'i' -1',, t t, r \, \ \ \\'l--J-r,rr,,@-. A i\kt\.,.,,..:,.,i t,'I,qNrrcrN_/ W ,-rlu, siioLoksieitae - -t?Etl -/ t -----.-\ .@\',.}Sejauh ini kita telah membahas sisi keberhasilan sistem imun 'akut', 'segera', atau 'tertunda' berdasarkan pada waktu yang- peran pertahanannya melawan infeksi mikroba (sisi atas). dibutuhkan untuk munculnya perubahan tersebut - sering kaliEfektivitas ini timbul akibat dua sifat utama: (1) jangkauan luas untuk menampilkannya dengan reaksi uji kulit ringan. Faktanya, 'imunitas berbahaya' dapat timbul sebagai akibat dari responsantigen yang dapat mengenali dan mengingat secara spesifik dan yang tidak sesuai atau respons berlebihan terhadap antigen asing (tidak membahayakan seperti dalam berbagai alergi umum dan(2) mekanisme nonspesifik kuat yang dapat dimobilisasi untuk transplantasi alogenik atau sebagai produk sampingan responsmengeliminasi infeksi mikroba. terhadap patogen) atau terhadap antigen diri sendiri (sef) (menimbulkan autoimunitas). Pada seluruh kasus ini, dasar Sayangnya, kedua kemampuan ini juga dapat bekerja melarvan mekanisme sering kali sama dan dapat digolongkan sesuai kegunaanpemiliknya: dalam skema menurut Gell dan Coombs (tipe I-IV; sisi kanan) yang sangat berpengaruh. Anehnya, defisiensi imun (lihat Gambar 41)I Spesiiisitas yang berjangkauan luas memerlukan mekanisme sering kali bermanifestasi sebagai'hipersensitivitas' karena sistem imun berupaya mengkompensasi defek tetap tersebut. Penyakitmenghindar yang efisien terhadap deteminan 'diri sendiri (sef)' granulomatosa kronis dan penyakit Crohn adalah contohnya.(masalah autoimunitas; sisi kiri bawah). Terdapat masalah dimana eliminasi benda asing (non-selfl mungkin tidak diharapkan Ta Sel T helper, dengan mengenali determinan karier memungkinkan(masalah penolakan transplantasi; sisi kiri atas). timbulnya respons antibodi oleh se1 B dan aktivasi makrofag. Sel T yang mengenali antigen diri sendiri (seff) mungkin terdapat pada2 Senjata nonspesifik kuat (misalnya komplemen, polimorf, setiap orang, tetapi biasanya diatur oleh berbagai jenis mekanisme (lihat Cambar 23 dan 3Rtmakrofag, dan agen inflamasi lain; sisi tengah) tidak selalu dapatdilatih untuk tepat menuju sasaran, tetapi dapat meiuas dan merusakjaringan di sekitarnya (masalah hipersensitivitas). Nomenklatur reaksi imunopatologis ini tidak pernah rapi.Dahulu setiap bukti adanya perubahan reaktivitas terhadap suatuantigen setelah sebelumnya pernah kontak disebut 'alergi',sedangkan'hipersensitivitas' didelinisikan sebagai suatu yang74 At a Glance lmunologi
B Limfosit B, sel pembentuk-antibodi potensial. Limfosit B yang baik nekrosis jaringan maupun pembentukan granuloma (lihatmengenali banyak, walaupun mungkin tidak semuanya, determinan Gambar 37). Kehadiran yang lebih lambat dari monosit dan'diri sendiri (seff)' ditemukan dalam hewan normal; sel ini dapat makrofag dalam kulit setelah suntikan antigen memunculkandinyalakan untuk membentuk autoantibodi oleh antigen 'sebagian nama'hipersensitivitas tertunda'. Perhatikan bahwa sejumlahdiri sendiri (part-selfl' (atau 'bereaksi-silang') jika sel T helper molekul mikroba dapat mengaktivasi makrofag sEcara langsung,dapat mengenali determinan 'asing (non-selfl' pada antigen yang misalnya endotoksin bakteri (LPS) menimbulkan pelepasan TNFsama (misalnya suatu obat atau virus; untuk penjelasan selanjutnya dan IL-1. Saat hal ini terjadi dalam skala besar, akan timbul kolapslihat Gambar 38). vaskular dan kerusakan beberapa organ. 'Syok endotoksin, (suatu jenis hipersensitivitas imunitas 'bawaan') ini adalah ciri infeksiZ{ Sel t sitotoksik terhadap sel 'diri sendiri (seff)' telah difunjukkan meningokokus dan bakteri Gram-negatif lain (lihat Gambar 29). LPS juga dapat mengaktivasi langsung komplemen (alternatif)pada beberapa penyakit autoimun (misalnya tiroiditis Hashimoto). dan jalur pembekuan.Sel mast Suatu sel jaringan dengan granul basofil yang mengandung Tipe hipersensitivitas (klasifikasiamin vasoaktif, dll., yang dapat dilepaskan setelah interaksi antigen menurut Gell dan Goombs)dengan antibodi permukaan yang didapat secara pasif (IgE), yang 1 Akut (alergi; anafilaktik; segera; reaginik): diperantarai o1&menyebabkan inflamasi cepat - lokal ('alergi') atau sistemik antibodi IgE bersama dengan sel mast (misalnya hay fever).('anafilaksis') (lihat Gambar 35). Juga dapat menimbulkan aktivasi eosinofil, terlihat pating jelas pada asma.Kompleks Kombinasi dengan antigen tentunya merupakan dasardari seluruh efek antibodi. Jika terdapat pembentukan kompleks 11 Diperantarai oleh antibodi (sitotoksik): diperantarai oleh IgGantibodi-antigen yang berlebihan, maka sebagian kompleks tersebut atau IgM bersama dengan komplemen atau sel fagosit (misalnyakeluar dari darah ke dalam dinding pembuluh darah (khususnya reaksi transfusi darah, demam rheuma, berbagai penyakit autoimun).pada kulit dan ginjal). Kerusakan jaringan lalu timbul akibat III Diperantarai oleh kompleks antigen-antibodi: inflamasiaktivasi komplemen, PMN, atau trombosit (lihat Gambar 36). melibatkan komplemen, polimorf, dll. (misalnya reaksi Arthus,Agregasi trombosit adalah ciri utama penolakan transplantasi ginjal.Alternatif lain, antibodi dapat membentuk kompleks dengan antigen serum sickness, lupus eritematosus sistemik, glomerulonefritis kronis).diri sendiri (selfl pada permukaan sel (hipersensitivitas tipe II), IV Diperantarai'oleh sel (tertunda; tipe tuberkulin): pengerahan selmengaktivasi komplemen, dan merusak jaringan. T dependen makrofag, eosinofil, dll. (misalnya tuberkel lepra, sirosis skistosomal, ruam kulit akibat virus, penolakan cangkok kulit).Komplemen bertanggung jawab atas berbagai efek merusak-jaringandari interaksi antigen-antibodi, serta fungsinya yang bermanfaat V Stimulatori: permintaan untuk memisahkan tipe ini dari tipedalam melawan mikroorganisme. Efek inflamasi tersebut sebagian II yang berupa antibodi langsung yang menstimulasi fungsi selbesar timbul akibat anafilatoksin (C3a dan C5a) yang bekerja padasel mast, sedangkan opsonisasi (oleh C3b) dan lisis (oleh C5-9) (misalnya stimulasi reseptor tiroid TSH pada tirotoksikosis).penting dalam penghancuran sel yang ditransplantasi dan (melalui Klasifikasi klasik Gell dan Coombs meliputi hipersensitivitasautoantibodi) autoantigen. yang melibatkan imunitas adaptif dalam suatu bentuk atau bentukPMN Leukosit polimorfonuklear cepat tertarik ke lokasi inflamasi lain. Akan tetapi, semakin jelas bahwa banyak penyakit degeneratifoieh kemotaksis yang diperantarai komplemen, lalu sel tersebut umum, seperti aterosklerosis dan penyakit Alzheimer, disebabkanmemfagosit kompleks antigen-antibodi; enzim lisosom sel inidapat menyebabkan destruksi jaringan, seperti halnya pada reaksi oleh aktivasi kronis imunitas bawaan, khususnya makrofag,klasik Arthus. walaupun mekanisme yang menimbulkan keadaan ini sebagianMAC Maktofag penting dalam fagositosis, tetapi juga dapat tertarikdan teraktivasi ke lokasi antigen yang menetap, menimbulkan besar belum diketahui. Jadi, klasifikasi yang dimodifikasi yang meliputi'hipersensitivitas bawaan' mungkin diperlukan.lmunitas yang berbahaya: skema umum Efek imunitas yang tidak diinginkan 7s
Alergi dan anafilaksis Uji kulit 10 menit ?emicu nonlaE noradrenalin ACH I r7^ Cba I al EI'M:IE@- l4L 1 \ .* ft:__ I N/EDIATOK\ ^ ?G,11 . )c.r /2 /d adrenalin sLeroid anf,ihisf,amin, \Sejauh ini bentuk hipersensitivitas yang paling umum adalah Ge}l satu alergen paling kuat, adanya bentuk respons imun yang tidak nyaman dan sesungguhnya tidak bermanfaat ini diduga telah adadan Coombs tipe I, yang mencakup kondisi alergi sehari-hari seperli sejak infeksi cacing menjadi ancaman serius berkenaan denganhay fever, eksema, dan urtikaria, tetapi juga reaksi anafilaktik evolusi. Inflamasi itu sendiri tentunya adalah suatu bagian berhargayang jarang dan menakutkan terhadap sengatan lebah, kacang, dari respons terhadap cedera dan infeksi, dan saat cedera ringan (misalnya cacing dalam saluran cerna), IgE memberikan pemicupenisilin, dll. Pada kedua kasus tersebut, mekanisme dasarnya segera dan spesifik untuk meningkatkan akses sel darah merah, d11., ke lokasi tersebut. Perhatikan bahwa istilah 'alergi' kadangadalah degranulasi sel mast (sisi tengah) tiba-tiba dengan pelepasan digunakan lebih luas untuk menggambarkan respons merugikan apa saja terhadap stimulus lingkungan, seperti alergi terhadapmediator inflamasi, dipicu oleh antibodi spesifik kelas IgE. Ini spora jamur yang dialami oleh beberapa petani, yang memiliki dasar imunoiogi berbeda, atau 'alergi' makanan, sebagian hal iniadalah suatu contoh inflamasi akut (seperti yang telah dijeiaskan sama sekali tidak melibatkan sistem imun.dalam Gambar 8) tetapi lebih dicetuskan oleh kehadiran suaftr Terdapat hubungan yang erat antara inflamasi dan emosi melaluiantigen teftentu bukan oleh cedera atau infeksi. Dengan pelepasan sistem saraf otonom, melalui pengaruh reseptor simpatis (o dan 9) dan parasimpatis (1) pada tingkat intraselular nukleotida siklik cAMPsistemik (anafilaksis), muncul bronkospasme, muntah, ruam kulit, dan cGMP, yang selanjutnya mengatur fungsi sel - dalam hal seledema hidung dan tenggorokan, dan kolaps vaskular, yang kadang mast, pelepasan mediator (lihat Gambar 26). Perhatikan juga bahwafatal, sedangkan jika pelepasan hanya bersifat setempat, maka degranulasi sel mast dapat dipicu langsung oleh cedera jaringansalah satu gejala ini akan mendominasi, tergantung pada lokasi (1ihat Gambar 8) dan aktivasi komplemen (lihat Gambar 7).paparan terhadap antigen. Hipersensitivitas tipe I juga menjadidasar dari sejumlah kasus asma, di mana pemicuan inflamasi IgE Antibodi reaginik kelas utama (sensitisasi kulit; homositotropik). Biasanya kurang dari 1/10.000 per keseluruhan Ig, kadarnya dapatlokal yang terus-menerus menimbulkan hipersensitivitas dindingparu dan mengakibatkan bronkokonstriksi berkepanjangan danobstruksi saluran napas. Antigen yang dapat memicu reaksi ini disebut 'alergen'.Orang yang menderita alergi biasanya memiliki peningkatankadar IgE dalam darah mereka dan disebut 'atopik', suatu ciriyang biasanya diwariskan. Karena antigen cacing adaiah salah76 At a Glance lmunologi
meningkat 30 kali lebih tinggi, dan kadar antibodi spesifik 100 kali infeksi virus, atau oleh alergen, debu, atau bahkan perubahan suhu lebih tinggi, pada pasien alergi atau terinfestasi cacing. Ikatan porsi udara), yang menyebabkan saluran napas menyempit, sehingga Fc ke reseptor (Fce) pada se1 mast dan basofil, diikuti oleh ikatan timbul obstruksi saluran napas dan sesak napas; kondisi ini dapat silang molekul terdekat oleh antigen, memicu degranulasi. Suntikan menjadi berat dan bahkan mematikan. Penyempitdn diperkirakan antigen ke dalam kulit individu yang alergi menimbulkan inflamasi awalnya dipicu oleh degranulasi sel mast (fase dinif. Mediator yang diiepaskan oleh sel mast mengaktivasi konstriksi otot dan sekresi -dalam hitungan menit 'respons kulit segera'. Kemampuan respons mukus, tetapi juga mengerahkan eosinofil ke dinding paru, yang antigen dapat dipindahkan ke marmot melalui senrm - tji passive selanjutnya berdegranulasi, menimbulkan episode tertunda kedua beberapa jam kemudian. Asma memilikj predisposisi genetik yang cutaneous anaphylaxis (PCA). Antibodi IgG, yang membuang kuat, dan telah dilakukan penelitian intensif untuk polimorfisme gen yang berhubungan dengan penyakit ini. Lebih dari 25 calon antigen secara gflsien, dapat mencegah degranulasi sel mast. Akan gen telah diidentifikasi, dan mungkin masih ada lebih banyak tetapi, beberapa subkelas IgG (pada manusia, IgG4) juga memiliki lagi. Terapi lebih banyak berupa simptomatik dengan memberikan efek reaginik sementara. bronkodilator, sering kali diberikan dengan ,inhaler,. ?E Sel T helper. Produksi IgE oteh sel B rergantung pada sitokin Mediator IL-4, dilepaskan oleh se1 Tm. Pada pasien atopik, alergen cenderung Sebagian besar mediator terlebih dahulu dibentuk dalam granulmencetuskan produksi sitokin IL-4 'tipe TH2', [-5, L-13, d11., sel mast, termasuk histamin, yang meningkatkan permeabilitas vaskular dan mempersempit bronkus, faktor kemotaktik untuk yang tidak seimbang, namun dengan sitokin THI seperti IFNy neutrofil dan eosinofil, dan faktor yang mengaktivasi trombosit dalam jumlah yang sangat sedikit yang menurunkan produksi untuk melepaskan mediatornya sendiri. Mediator lainnya baru IgE. Obat yang menginhibisi sitokin ini dapat memberi manfaat dibentuk setelah sel mast terpicu, seperti prostaglandin (pG) dan dalam terapi penyakit ini. leukotrien (LT; lihat Gambar 8 untuk penjelasan lebih lanjut), yang memiliki efek serupa seperti histamin tetapi bekerja lebih tambat. Sel mast dalam jaringan dan basofil darah secara umum hampir sama, tetapi terdapat perbedaan dalam kandungan mediator. lnhibitor Terdapat juga perbedaan penting antara sel mast dalam paru dan Natrium kromoglikat (DSCG; Intal) dan steroid (misalnyasaluran cerna ('mukosa') dan sel mast yang berada di sekitar betametason) diperkirakan menginhibisi pelepasan mediatorpembuluh darah di tempat lain (Jaringan ikat'). Sel mast diaturoleh limfosit T melalui produksi sitokin. dengan menstabilkan membran lisosom. Obat lain yang digunakan untuk alergi meliputi: antihistamin (walaupun demikian tidakEosinofil berperan penting dalam inflamasi di paru, yang dapat melawan efek mediator lain); adrenalin, isoprenalin, dll., yangmenimbulkan asma, dan kadang juga mengakibatkan penyakit menstimulasi reseptor B; antikolinergik (misalnya atropin), yang menghambat reseptor y; dan teofilin, yang meningkatkan kadarinflamasi saluran cerna, termasuk yang menyebabkan beberapa cAMP. Untungnya dokter dapat melihat farmakologi molekular alergi makanan. Serupa dengan sel mast, eosinofil melepas berbagai pengaturan sel sehingga dapat memastikan observasi empirisnyamediator inflamasi, dan eosinofil juga diatur oleh sitokin turunan mengenai pengendalian penyakit alergi.sel T. khususnya lL-5. Pemicu non-lgECa2+ Setelah ikatan silang reseptor IgE, perubahan lipid membranmenyebabkan masuknya kalsium, dan peningkatan adenilat siklase, Produk komplemen C3a dan C5a dapat menyebabkan degranulasiyang selanjutnya meningkatkan kadar cAMP. sel mast, begitu juga beberapa zat kimia dan toksin serangga. Reaksi yang diperantarai non-IgE disebut ,anafilaktoid,.cAMP, cGMP Adenosin/guanosin siklik 3' :5'-monofosfatase, kadarrelatif molekul ini mengatur aktivitas sel. Penurunan rasio cAMp/ Penyakit alergicGMP didukung oleh masuknya Ca2* dan aktivasi reseptor o dan1, dan menyebabkan degranulasi. Aktivasi reseptor B (misalnya Istilah 'alergi' sering kali digunakan untuk membahas berbagaioleh adrenalin) menimbulkan efek yang berlawanan; pasien penyakit. Awalnya istilah 'atopi' hanya merujuk ke hay fever danatopik mungkin memiliki defek parsial pada fungsi reseptor B, asma, yang biasanya timbul akibat 'alergen, tanaman atau hewanmemungkinkan pelepasan mediator secara berlebihan. di udara, seperti serbuk sari, jamur. dan tungau. Akan tetapi, alergen serupa juga dapat menyebabkan reaksi kulit (urtikaria),Atopi adalah suatu kondisi yang ditandai dengan tingginya kadar baik melalui kontak lokal ataupun setelah absorpsi. Urtikariaantibodi IgE dalam sirkulasi, yang menjadi predisposisi individu setelah makan kerang-kerangan, stroberi, susu sapi, dll. adalahuntuk berkembang menjadi alergi. Perkembangan atopi diatur suatu kasus nyata dengan lokasi masuk dan lokasi reaksi yangbaik oleh faktor genetik maupun faktor tingkungan, yang saat berbeda, akibat kemampuan antibodi IgE berlekatan dengan selini sedang diteliti dengan lebih intensif. Pengaturan genetik atopi mast di bagian tubuh mana saja.bersifat kompleks dan multigenik, melibatkan polimorfisme 20 lokus Sebagian alergi tidak disebabkan oleh hipersensitivitas tipe I.atau lebih, meliputi polimorfisme dalam reseptor Fce, tetapi juga Reaksi alergi beberapa petani terhadap jerumi (farmer's lung) ataukomponen non-imunologis seperti reseptor neurotransmiter 5HT. beberapa individu terhadap hewan peliharaan mereka (misalnyaMenariknya, prevalensi atopi telah meningkat pada dua dekade penyakit fancier burung dara) tampaknya rimbul akibat pembentukanterakhir. Hal ini telah dihubungkan dengan peningkatan kadar polutan kompleks imun (hipersensitivitas tipe III). Alergi terhadap glutendi lingkungan, atau yang lebih meyakinkan adalah menurunnya gandum (penyakit coeliac) mungkin diperantarai sebagian besarpaparan terhadap infeksi bakteri selama awal masa kanak-kanak, oleh sel T, sehingga digolongkan sebagai hipersensitivitas tipe IV.sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam perkembangan Beberapa 'alergi' makanan, misalnya terhadap susu, sama sekalikeseimbangan 1nt1H2 sistem imun (yaitu hipotesis higiene). tidak memiliki dasar imunologis dan lebih teparnya dinamakan 'intoleransi makanan'.Asma adalah suatu kondisi kronis yaitu saluran napas menebaldan hipersensitif terhadap stimulus lingkungan (misalnya selama Alergi dan anafilaksis Efek imunitas yang tidak diinginkan 77
KompleS<s imun, komplemen, dan penyakit anLibadi --( I yang eudah l-' '@ ada /r\" / r.. faqosllosia ,-{ ,@ L. v Antibadi ffi__--* @/:' ffietnbran basal se) epiNel /A / zv\cz(nun4 kompleke kecil permeabilitas .r./ vaskular degranulasi ?MN kerusakan endol.elSeluruh fungsi antibodi tergantung pada kemampuannya bergabung atas) maupun pada dinding pembuluh darah kecil (sisi kanan bawah), tergantung pada lokasi pembentukan. Pada kedua kasus,dengan antigen yang bersangkutan untuk membentuk suatu kerusakan timbul akibat aktivasi komplemen dan pelepasankompleks imun (lihatlah sekilas Gambar 21 untuk mengingat enzim oleh polimorf. Kapiler glomerulus ginjal sangat rentan,kembali yang membentuk ini). Akhir perjalanan kompleks ini dan penyakit kompleks imun adalah penyebab paling umum dariadalah fagositosis (sisi kiri bawah), yang sangat bertambah jika glomerulonefiitis kronis, yang merupakan penyebab gagal ginjal yang paling sering ditemukan.komplemen melekat pada kompleks tersebut; sehingga pembentukan Perhatikan bahwa peningkatan permeabilitas vaskular memilikikompleks merupakan awal yang penting untuk pembuangan antigen. peran dalam persiapan, baik penimbunan kompleks dalam pembuluh Akan tetapi, terdapat situasi yang menyebabkan proses tersebut maupun eksudasi komplemen dan PMN ke dalam jaringan,tidak terjadi, khususnya jika kompieks kecil (misalnya denganproporsi seperli Ag2:Ab1 atau Ag3:Ab2). Hal ini dapat terjadi jika menggarisbawahi hubungan yang erat antara hipersensitivitas tipeterdapat antigen berlebihan, seperti dalam infeksi dan autoimunitas I dan tipe IlI. Demikian juga, terdapat tumpang tindih denganberkepanjangan, di mana antibodi memiliki afinitas yang sangat tipe II, yang pada sebagian kasus glomerulonefritis timbul akibat antibodi melawan membran basal itu sendiri, tetapi menghasilkanrendah, atau jika terdapat defek pada sistem fagosit atau komplemen. kerusakan yang hampir identik. Jika tidak segera difagositosis, kompleks dapat mencetuskanperubahan inflamasi berat, baik dalam jaringan (sisi kanan78 At a Glance lmunologi
Kompleks yang berukuran kecil terbentuk dalam antigen yang DNA, RNA, dan protein yang berhubungan dengan DNA/RNA),berlebihan, seperti halnya timbul di awal respons antibodi terhadap dengan komplemen, di grnjal, kulit, sendi, otui, al. Terapinyadosis besar antigen, atau dengan paparan berkepanjangan terhadap adalah dengan imunosupresi, atau pada kasus berat dengan transfusiobat atau infeksi kronis (misalnya streptokokus, hepatitis, malaria), tukar (exchange transfusion) untuk mengurangi adto;ntibodi.atau berhubungan dengan autoantibodi.Makrofag yang melapisi hati (sel Kupffer) atau sinusoid limpa Poliarteritis nodosa Suatu penyakit inflamasi arteri kecil yangmembuang partikel dari darah, termasuk kompleks besar. mengenai sejumlah organ. Siagian kasus timbui akibat kompleks antigen hepatitis B dengan antibodi dan komplemen.PMN Leukosii polimorfonuklear, fagosit utama darah, dengan RA Rheumatoid arthritis (artritis reumatoid) menggambarkan baikgranul (lisosom) yang mengandung sejumlah enzim antibakteri. kerusakan lokal (mirip Arthus) permukaan sendi maupun vaskulitisJika PMN dilepaskan, maka sel di sekitarnya sering kali rusak. sistemik. Penyebabnya belum diketahui tetapi kompleks antaraHal ini cenderung terjadi terutama jika pMN berusaha memfagosit autoantibodi dan IgG (faktor reumatoid) adalah hal yang selalukompleks yang melekat ke jaringan iain. ditemukan. Hal yang menakjubkan, gejala RA pada banyak pasienC3 Komponen pusat komplemen, serangkaian protein serum yang berkurang dengan membuang se1 B yang bersirkulasi melaluiterlibat dalam inflamasi dan imunitas antibakteri. Jika kompleks pemberian antibodi terhadap penanda sel B CD20.mengikat C1, C4 dan C2, C3 dibelah menjadi fragmen kebil, Alveolitis timbul akibat Actinomyces spp. dan jamur lain (tihat Gambar 30) karena suatu reaksi mirip Arthus dalam paru (misalnyaC3a, yang mengaktivasi sel mast dan basofll, serta fragmen lebih farmer's lang). Reaksi penyakit kompleks imun yang serupabesar, C3b, yang memacu fagositosis dengan melekat pada reseptor timbul pada sejumlah individu yang memelihara burung daiaPMN dan makrofag. Komponen selanjutnya membangkitkan faktorkemotaktik yang menarik PMN ke lokasi. C3 juga dapat dibelah atau burung lain.melalui jalur 'altematif' yang diawali oteh endotoksin bakteri, dll.Komplemen juga berperan untuk mencegah pembentukan presipitat Tiroiditis, sindrom Goodpasture, dan penyakit autoimun lainnyabesar dan melarutkan presipitat begitu presipitat terbentuk (lihat dapat timbul akibat ikatan antibodi dengan antigen ,diri sendirijuga Gambar 7). (selfl' padajaringan ini (reaksi hipersensitivitas .tipe II,), sehinggaSel mast, basofil, dan trombosit berperan dalam peningkatan menyebabkan kerusakan pada organ. Dengan adanya perkembanganpermeabilitas vaskular dengan melepaskan histamin, dll. (lihat teknik untuk mendeteksi kompleks imun (saat ini terdapat lebihGambar 35). dari 20 metode yang berbeda; lihat Gambar 21), kemungkinan akan lebih banyak lagi penyakit yang bisa ditambahkan dalam daftar ini.Membran basal glomerulas (GBM), bersama dengan sel endotei Penyakit infeksius Ruam kulit, nyeri sendi, dan komplikasidan 'podosit' epitel eksternal, memisahkan darah dari urin. ginjal akibat beberapa infeksi dapat timbul akibat reaksi tipeKompleks imun biasanya terperangkap di sisi darah membran basal, III. Antibodi berkadar sangar tinggi (sebagian besar nonspesifik)kecuali jika antibodi ditujukan secara spesifik terhadap GBM itu juga dihubungkan dengan beberapa penyakit parasit sepertisendiri (seperti pada penyakit autoimun sindrom Goodpasture) tetapi malaria. Selain itu, aktivasi komplemen secara keseluruhan dapatkompleks kecil dapat melalui membran basal dan terakumulasidalam saluran kemih. Sel mesangium berproliferasi ke daiam timbul pada syok septik, dicetuskan oleh LpS dari bakteri Gram-ruang subendotel, diduga untuk mencoba membuang kompleks. negatif, dan pada syok hemoragik virus seperti dengue, keduanyaProliferasi endotel juga dapat terjadi, menyebabkan penebalan berhubungan dengan sitokin seperti TNF. Komplemen, neutrofil,glomerulus dan hilangnya fungsi. dan sitokin diperkirakan juga terlibat dalam kebocoran vaskular paru pada adult respiratory distress syndrome (ARDS) yang timbulPenyakit kompleks imun setelah trauma masif.Jenis klasik penyakit kompleks imun, yang saat ini jarang ditemukan Penyakit hemolitik pada bayi baru lahiradalah reaksi Arthus, yaitu antigen yang disuntikkan ke dalam Umumnya ibu toleran terhadap antigen yang dibawa oleh janinkulit hewan dengan antibodi berkadar tinggi mencetuskan nekrosis mereka. Akan tetapi, wanita yang tidak membawa antigen rhesusjaringan setempat (sisi kanan atas dalam gambar), dan serumsickness, yaitu serum yang disuntikkan secara pasif, misalnya D sel darah merah (Rh negatifl kadang menjadi terimunisasiantiserum kuda yang digunakan untuk menangani pneumonia,mencetuskan suatu respons antibodi, di awal perjalanan penyakit terhadap antigen ini oleh janin Rh-positif saat melahirkan, saat seldi mana kompleks kecil ditimbun di berbagai pembuluh darah, darah janin dapat masuk ke sirkulasi ibu akibat kerusakan plasenta.menyebabkan demam dengan gejala kulit dan sendi sekitar Antibodi yang dihasilkan lalu menembus plasenta pada kehamilan berikutnya dan menyebabkan anemia berat pada janin selamaseminggu setelahnya. Akan tetapi, penyakit tertentu pada dasarnya kehamilan selanjutnya. Bahaya ini dapat sangat dikurangi dengandiperkirakan mewakili jenis reaksi patologis yang sama. memberikan antibodi anti-Rh kepada ibu pada saat melahirkan, sehingga membuang sel darah merah yang bersirkulasi denganSLE Systemic lupus erythemaloszs (lupus eritematosus sistemik), cepat dari sirkuiasi ibu dan mencegah imunisasi.suatu penyakit yang belum diketahui asalnya, di mana terdapat Perhatikan bahwa hal ini bukanlah suatu penyakit kompleks imun sesungguhnya, tetapi dapat digolongkan sebagai tipe II Gelltimbunan autoantibodi terhadap antigen nuklear (yang meliputi dan Coombs (lihat Gambar 34).Kompleks imun, komplemen, dan penyakit Efek imunitas yang tidak diinginkan
lnflamasi kronis dan inflamasi yang diperantarai seloengiLiviLaekonfak. maLeri yanQ Nidak Lerdeqradaei--*@ laqoeil;osis \ N/AF ?erslgtenoi \ akLivasi \ r' %;,,,.0 C //\tr fa.## / qiant cell eel epfteloid,Setelah terjadi perubahan permeabilitas, aktivasi komplemen dan sel' (.ceLl-medittted immunity, CMI);jika berbahaya (seperti dalam sensitivitas kontak atau sirosis skistosomal) kita menyebutnyainfluks polimorf, yang terakhir hadir di lokasi inflamasi adalah 'sel 'hipersensitivitas tipe IV', dengan mekanisme dasar yang samamononuklear': limfosit dan monosit (sisi kiri bawah). Limfosit dan suatu perbedaan penekanan (bandingkan dengan Gambar 22). Secara membingungkan, pembunuhan langsung oleh sel T sitotoksikbiasanya menyerang secara spesifik, dan menyebabkan kerusakan juga disebut 'imunitas yang diperantarai sel', walaupun karena ini terutama mengenai sel yang mengandung virus, nama yang lebihhanya jika serangan tidak pada tempatnya (misalnya jika sasaran baik adalah 'autoimunitas yang diperantarai sel' atau dalam haladalah 'diri sendiri (selfl' atau suatu transplan), tetapi monosit transplantasi organ, 'penolakan transplan yang diperantarai se1'.dan makrofag memiliki enzim yang biasanya digunakan dalam Pada kasus lain, kerusakan jaringan tipe tefientu jarang terjadiproses membersihkan sel jaringan dan polimorf mati, yang juga sendirian, interaksi se1 dan kesamaan jalur biokimia menjadi ciribisa merusak sel sehat, termasuk makrofag lain. Saat stimulus mekanisme imun, baik bermanfaat maupun berbahaya.terjadi berkepanjangan, akan terjadi pertumbuhan massa makrofag, Imunitas yang diperantarai sel (CMI) Kontak antara sel T yang beresirkulasi dan antigen menyebabkan sekesi sitokin denganatau granuloma (sisi kanan bawah), suatu tanda inflamasi kronis. penarikan dan aktivasi monosit dan sel mieloid lain (lihat Gambar 22 untuk penjelasan selanjutnya). Jika antigen terus-menerus Perubahan ini dapat tedadi tanpa adanya respons imun spesifik ada, khususnya dengan inf'eksi intraselular seperti tuberkulosis,(misalnya reaksi terhadap benda asing; sisi kanan atas), tetapisering kali hal ini sangat ditingkatkan oleh aktivitas limfosit Tspesifik (sisi kiri), yang dengan mensekresi sitokin, menarik danmenghentikan monosit dan mengaktivasi makrofag. Saat prosesini sebagian besar bermanfaat (seperti dalam penyembuhantuberkulosis) kita menyebutnya'imunitas yang diperantarai80 At a Glance lmunologi
lepra, brucellosis, Ieishmaniasis, skistosomiasis (granuloma telur), Sel epitelioid adalah sel besar yang ditemukan pada palisade ditrikinosis, dan jamur seperti Histoplasma spp., maka dapat terjadi sekeliling area jaringan nekrotik. Sel ini diperkirakan berasal dariinflamasi kronis. Jenis sel utama yang berhubungan dengan CMI makrofag, yang khusus untuk sekresi enzim bukan fagositosis.telah lama diperkirakan berupa sel THl, melalui pelepasan IFNy, Terdapat beberapa bukti bahwa CMI mendukung'perkembangan sel ini.dan faktor pengaktivasi makrofag lain. Akan tetapi, baru-baruini perhatian difokuskan pada sel THIT llihat Gambar 22), yang Giant cell dibentuk oleh penggabungan makrofag; terutama sangattampaknya berperan penting dalam memperantarai kerusakan menonjol dalam granuloma 'benda asing'.jaringan pada beberapa penyakit infeksi dan autoimun, terutamamelalui penger4han granulosit. Eosinofil sering kali ditemukan dalam granuloma, mungkin tertarik oleh kompleks antigen-antibodi, tetapi juga di bawah pengaruh sel T.H ip e rs e n s itivitas tertun da ( de lay e d hyp e r s en s itiv i ty, DTH) S alahsatu ciri kunci CMI, memori spesifik antigen, dapat diuji secara in Fibrosis di sekitar granuloma menandakan usaha .penyembuhan'.vitro dengan mengukur proliferasi limfosit atau pelepasan sitokin Granuloma berkepanjangan, yaitu TB yang sudah sembuh, akhimyasepefti IFN1, atau secara in vivo dengan respons suntikan antigen berkalsifikasi, misalnya fokus Ghon yang sangat dikenal dalamke kulit. Respons DTH positif berupa bengkak kemerahan 2-3 foto sinar X paru sejumlah orang sehat.hari kemudian, uji Mantoux atau Heaf untuk tuberkulosis adalahcontoh umumnya. Walaupun DTH sering kali berhubungan dengan Penyakit granulomatosaimunitas protektif, hal ini bukan berarti tanpa kecuali. Kadang Granuloma ditemukan di berbagai penyakit, sebagian diketahui dan sebagian tidak diketahui etiologinya, menunjukkan asalnyalebih banyak ditemukan basofll, yang memunculkan respons lebih dari iritan atau proses imun. Beberapa yang telah diketahui akancepat yang disebut hipersensitivitas 'Jones Mote'. dibahas di bawah ini.Sensirtvilas kontakPada varian DTH ini, antigen (biasanya tanaman Sarkoidosis ditandai oleh granuloma dalam paru, kutit, mata, dll.atau molekul kimia) berlekatan dengan sel Langerhans penyaji Ciri menarik tetapi aneh adalah defisiensi berat imunitas yangantigen pada ku1it, yang direspons oleh sel TH. Akibatnya, timbul diperantarai sel T lainnya (misalnya hilangnya respons uji Mantoux)reaksi mirip eksema dengan edema dan infiltrasi sel mononukiear7-2 hart kemudian. dan sering kali terdapat peningkatan kadar Ig dan kemampuanInflamasi kronis non-imunologis Materi yang telah difagosit tetapi respons antibodi.tidak dapat didegradasi, atau bersifat toksik bagi makrofag, sepertibedak, silika, asbes, wol katun, beberapa logam dan garamnya sefia Penyakit Crohn (lleitis regional) hampir serupa denganproduk bakteri seperti peptidoglikan dinding sel streptokokus grupA, akan menimbulkan granuloma bahkan pada hewan tanpa sei T, sarkoidosis, tetapi biasanya terbatas pada usus. penyakit inisehingga dianggap mampu mengaktivasi (atau 'membuat marah') dihubungkan dengan infiltrasi jelas dari sel T ke dalam dindingmakrofag tanpa bantuan se1 T. Sejumlah penyakit degeneratif kronis usus, sehingga diperkirakan timbul akibat autoimunitas terhadappenting (misalnya penyakit Alzheimer pada otak dan penyakit protein saluran cerna, kemungkinan terstimutasi oleh bakteri yangaterosklerosis pada pembuluh) dihubungkan dengan respons bereaksi silang. Akan tetapi, penelitian terbaru menemukan bahwainflamasi makrofag independen-T, walaupun belum jelas apakah penyakit Crohn berhubungan dengan defek genetik pada proteinrespons inflamasi adalah penyebab utama penyakit, atau merupakan NOD pengindera bakteri (lihat Gambar 6), dan menunjukkanrespons sekunder patologi lain yang mendasarinya. penelitian bahwa penyakit ini tebih menyerupai penyakit granulomatosakontroversial yang menyatakan bahwa antioksidan meningkatkan kronis karena berasal dari kegagalan membersihkan infeksirentang usia mungkin timbul akibat kemampuannya mengurangi bakteri kronis sepenuhnya secara efektif dari saluran cerna.kerusakan j aringan yang diperantarai makrofag. Kolitis ulseratif mungkin memiliki kesamaan etiologi.Granuloma Arturirts tumporal adalah penyakit inflamasi kronis arteri, dengan granuloma yang terutama berisi giant cell.Granuloma, agregat makrofag, limfosit, dan berbagai jenis sellain, adalah suatu sifat penting beberapa infeksi kronis, terutama Sirosis bilier primer Pada penyakit autoimun yang jarang ditemukan ini (lihat juga Gambar 38), granuloma terbentuk di sekitar salurantuberkulosis. Granuloma diinisiasi dan dipertahankan terutama empedu. Penyakit diperkirakan muncul dari reaksi silang antara antigen bakteri dan 'antigen diri sendiri (seff)' mitokondria.dengan pengerahan makrofag oleh sel T di lokasi antigen ataumateri toksik yang terus-menerus ada. Kompleks imun jugamerupakan stimulus pembentukan granuloma.Kerusakan jaringan dalam granuloma disebabkan terutama oleh Granuloma eosinofilik Kadang jumlah eosinofil melebihi jumlahpelepasan enzim lisosom oleh makrofag, dan oleh spesies oksigen sel lain dalam granuloma; hal ini sangat tampak pada infeksireaktif yang dihasilkan oleh ledakan oksidasi (oxidative bursf)(lihat Gambar 10). Akibatnya, bagian tengah granuloma rua sering cacing dan kelainan tulang yang jarang ditemukan.kali berisi jaringan nekrotik (mati). Akan tetapi, saat granuloma Penyakit granulomatosa kronis (chronic granulomatous disease,tumbuh, sering kali merusak organ di sekelilingnya, misalnya CGD) Suatu penyakit imunodefisiensi, ditandai dengan defek fungsi granulosit, yang menyebabkan infeksi bakteri kronis danmenghalangi dan merobek pembuluh darah, atau saluran napas perkembangan granuloma (lihat Gambar 41).di paru pada TB.lnflamasi kronis dan inflamasi yang diperantarai sel Efek imunitas yang tidak diinginkan g1
Autoimunitas, infekei uir,us @'re @*'*EI vrl cacar, E3, dll lnl.raSelular obat, dll.. berlekaf,an effiB,re_*@*__ oedorrnid, ?enieilin malaria-e denqan EelvZ oilang strep.p grup A 1nLiq.?\"..b\"reaksi spirochaeXa, T cruzt (mimikri) banyak virusO idi,oNtpe bereaksi ? 9ttan4 antiqen yanTlambat lenea, sperma, mielin tiroid, pankreas5 berkamban7atau fnr aeinq (t er a a qu e slr a si)o^ ?enyaiian anl,iqen anomali7 akLivaai pzliklonaJ A Z F\ virus EB, mala?ia,8 deilsienei?en4aturan \{f7i8-01-- jejaetng (nett,orl,) lryp eano soma, adjuv an, GV /' anLridioLipe 7LE ?, RAAutoimunitas adalah gambaran cermin dari toleransi, merefleksikan 6). Sel B reaktif-diri sendiri dapat langsung distimulasi olehkehilangan toleransi terhadap 'diri sendiri (selfl', jadi sebelum 'aktivator poliklonal' yang menyingkirkan pemicu yang biasa (baris 7). Akhirnya, setiap pemecahan dalam sel regulatori (pengatur)kita lanjutkan, pembaca disarankan melihat kembali Gambar 23, dan jejaring (.network'1 pengatur anti-idiotipe (baris 8) cenderungyang merangkum mekanisme normai sistem imun yang menjaga memungkinkan reaksi autoimun terkumpul sampai titik yang dapatlimfosit dari reaktivitas-diri sendiri. menyebabkan penyakit. Mekanisme ini dapat diatasi dengan sejumlah cara, dan hanyalah Pemahaman mengenai autoimunitas telah diperoleh melaiuiangan-angan belaka jika mencari penyebab tunggal autoimunitas. percobaan pada hewan, khususnya:Pada gambar, ditunjukkan delapan kemungkinan cara, dan sering I induksi autoantibodi pada hewan normal dengan reaksi silangkali dua atau lebih cara dapat muncul bersamaan. Kadang suatu sel antigen ('sebagian-diri sendiri [przrtseff]'), diduga timbul akibat'diri sendiri (selfl' menunjukkan antigen 'asrng (.non-selfl' tanpa kerja sama antara sel B reaktif-diri sendiri dan sel T nonreaktif- diri sendiri (baris 3); danbisa dihindari akan dihancurkan dalam proses ellminasi penyusup(baris 1 dan 2; pada gambar, antigen asing ditunjukkan berwarna 2 penyakit autoimun spontan pada strain hewan inbred, terutamahitarn dan limfosit reaktif-diri sendiri berwarna merah atau birutua). Kadang (baris 3 dan 4) suatu organisme penginvasi yang tikus NZB, NOD, dan MRL, serta ayam OS, yang menunjukkan keragaman pengaruh genetik, pada tingkat sel B, subset sel T,memiliki kesamaan ciri dengan pejamu, memicu suatu respons apoptosis (bunuh diri se1), makrofag, jaringan sasaran, dan hormonantibodi terhadap 'diri sendiri (selfl' yang normal (S). Agar hal (autoimunitas jauh lebih sering dan lebih berat pada wanita).ini dapat terjadi, harus terdapat sebagian sel B reaktif-diri sendiri, Pencetusan reaktivitas-diri sendiriseperti yang dijelaskan dalam Gambar 23. Kenyataannya, eliminasiklon sel B dan sel T reaktif-diri sendiri tidak sepenuhnya selesai. Viras, khususnya virus yang tumbuh (bertunas) dari sel (lihat Gambar 22 dan 28), berhubungan dengan antigen MHC kelas IKadang suatu antigen 'diri sendiri (selfl' berkontak dengan sistem dan kombinasi tersebut dikenali oleh sel T sitotoksik. Virus lain seperti influenza dapal berlekatan dengan sel darah merah danimun hanya pada tahap akhir, saat antigen tersebut diperlakukansebagai 'benda asing (.non-selfl' (garis 5). menginduksi autoantibodi. Penyajian antigen oleh sel yang biasanya tidak dikhususkanuntuk peran ini akan memunculkan reaktivitas-diri sendiri (baris82 At a Glance lmunologi
Obat seing kali berikatan dengan sel darah, baik secara langsung Tiroiditis adalah salah satu kandidat terbaik untuk autoimunitas(misalnya sedormid dengan trombosit; penisilin dengan sel darah 'primer'. Kemungkinan terdapat stimulasi (tirotoksikosis) olehmerah) atau sebagai kompleks dengan antibodi (misalnya quinidin). antibodi terhadap reseptor TSH hipofisis, atau inhibisi (miksoedema)Kasus cx-metildopa berbeda karena antibodi melawan antigen sel, oleh perusakan sel, kemungkinan diperantarai oleh sel T sitotoksikbiasanya dari sistem golongan darah rhesus, di mana toleransi sel dan autoantibodi. Ekspresi anomali antigen DR aHLA kelas II)B sangat tidak stabil terhadap hat tersebut. dijumpai di sejumlah besar kasus.Antigen bereaksi silang yang sama antara mikroba dan pejamu Anemia pernisrosa timbul akibat defisiensi faktor intrinsik lambung, dapat menstimulasi bantuan sel T untuk sel B reaktif-diri sendiri pembawa normal vitamin B,r. Hal ini dapat timbul baik akibatyang seharusnya tidak terlibat - 'pintas sel T'. Kerusakan jantung perusakan autoimun sel parietai (gastritis atrofi) maupun akibatpada infeksi streptokokus dan penyakit Chagas tampaknya autoantibodi terhadap faktor intrinsik itu sendiri. merupakan contoh hal ini. Diabetes, penyakit Aildison (hipofungsi adrenal) dan penyakit endokrin lain sering kali ditemukan bersamaan pada pasienIdiotipe bereaksi silang lde ini berdasarkan demonstrasi (1) atau keluarga, menunjukkan adanya dasar predisposisi genetik.sel T helper spesifik-idiotipe dan (2) kesamaan idiotipe antara Kerusakan sesungguhnya terutama kemungkinan diperantarai ole'hantibodi dengan perbedaan spesifisitas. Hal ini dapat menjelaskan autoantibodi yang muncul selama infeksi (misalnya mycoplasma) sel T; penyakit diabetes terhadap sel B pankreas, dan penyakit yang tidak bereaksi dengan organisme tersebut. Addison terhadap korleks adrenal.Antigen lambat berkembang (misalnya sperma) atau terasing(tersequestrasi) (misalnya protein lensa) diduga tidak ,rerlihat' Myasthenia graul's, yaitu transmisi neuromuskular secara intermitenoleh limfosit sampai dilepaskan oleh kerusakan organ (misalnya terganggu, dihubungkan dengan autoantibodi dan perusakancedera mata, orkitis gondongan). terhadap reseptor asetilkolin pascasinapsis. Sering kati ditemukan kelainan abnormal timus dan dapat disembuhkan dengan timektomi,Penyajian antigen anomali dapat timbul, kemungkinan jika walaupun belum dapat dijelaskan alasannya.sebagai akibat infeksi virus, antigen kelas II diekspresikan pada Artritis reumatoid ditandai oleh, dan timbul akibat, autoantibodi terhadap IgG (faktor reumatoid). Kerusakan sendi sebagiansel jaringan normal. Tiroiditis dan diabetes merupakan contoh diperantarai oleh kompleks imun, tetapi aktivasi makrofagyang telah banyak diteliti sejauh ini, dan IFN1 diduga menjadi dependen-sel-T (hipersensitivitas tipe IV) juga turut berperan. padasalah satu faktor pemicu. kedua kasus, pelepasan TNFcr, dan IL-1 menyebabkan patologiAktivasi poliklonal Sejumlah besar produk mikroba (misalnya utama, dengan mengaktivasi degradasi kartilago.endotoksin, DNA) dapat menstimulasi sel B, termasuk sel reaktif-diri sendiri. Virus Epstein-Bar menginfeksi sel B.itu sendiri dan SZ,E Pada iupus eritematosus sistemik, autoantibodi melawan antigen nuklear, termasuk DNA, RNA dan protein berikatan-asam nukleat.dapat membuat sel tersebut berproliferasi telus-menerus. Timbunan kompleks imun tersebar di sistem vaskular, menyebabkan pola penyakit'nonspesifik-organ'. Seperti penyakit,spesifik-organ'Defisiensi peng(iluran mudah digambarkan tetapi sulit dibuktikan. (di atas), penyakit nonspesifik-organ cenderung timbul bersamaan.Namun demikian, defisiensi subpopulasi TREG telah ditemukan Belum diketahui mengapa kompleks yang berbeda merusak organdalam beberapa penyakit autoimun, termasuk diabetes, artritis yang berbeda; kemungkinan yang jelas adalah adanya suatu peranreumatoid, dan SLE. antigen setempat. Penyimpangan pengaturan interferon tipe I dapatGenetika autoimunitas Sebagian besar penyakit autoimun memiliki berperan menimbulkan penyakit ini.komponen genetik, dan penelitian sedang dipusatkan untukmengidentifikasi 'faktor risiko' genetik yang berhubungan dengan Penatalaksanaan autoimunitaspenyakit autoimun tertentu. Hubungan tererat adalah pada alel spesifik Belum ada obat untuk menyembuhkan sebagian besar penyakitgen MHC kelas II (regio HLA-D), memberikan bukti lebih lanjut autoimun, dan terapi hanya. simptomatis; misalnya obat anti_bahwa sel T CD4+ berperan penting dalam etiologi penyakit ini. inflamasi untuk artritis reumatoid, atau insulin untuk diabetes tipe L Jika penyebabnya adalah autoantibodi (misalnya pada myasrhenia),Akan tetapi, terdapat sekurangnya 20 lokus lain yang berkontribusi plasmaferesis dapat memberikan manfaat jangka pendek. pemulihandalam kecenderungan seorang individu menderita penyakit autoimun yang luar biasa pada pasien artritis reumatoid dan penyakit Crohntertentu. Sebagian tampaknya mengendalikan kadar sitokin, yang lain telah diperoleh dengan terapi antibodi berafinitas tinggi terhadapmempengaruhi jalur sinyal dalam sel imun, sedangkan yang lain TNFcr, atau dengan memberikan bentuk reseptor TNFc, mudahmempengaruhi langkah non-imunologis dalam kerusakan jaringan. larut, keduanya diduga menghambat kaskade inflamasi dalam jaringan yang terkena: hal ini tetap menjadi satu-satunya contohPenyakit autoimun keberhasilan terapi dengan antibodi antisitokin. Antibodi yang membuang sel B (misatnya dengan mengikar CD20) juga efektifAutoantibodi ditemukan pada setiap individu tetapi jarang pada sebagian pasien, walaupun penyakit muncul kembali setelahmenyebabkan penyakit. Pada beberapa penyakit, peningkatankadar autoantibodi jetas merupakan akibat bukan penyebab populasi sel B beregenerasi. Pendekatan imunomodulasi yang(misalnya antibodi kardiolipin pada sifllis). Akan tetapi, pada lebih spesilik-antigen yang saat ini sedang diuji adalah imunisasi terhadap kelompok reseptor sel T tertentu, pencetusan toleransibeberapa penyakit, autoantibodi adalah kelainan abnormal pertama,utama, atau satu-satunya yang ditemukan. Anemia hemolitik dan oral oleh pemberian makanan autoantigen (lihat Gambar 40), dantrombositopenia, walaupun dapat timbul akibat obat, sering kali berbagai usaha memperbanyak populasi TREG.idiopatik. Korelasi antara kadar autoantibodi dan perusakan sel tidak'selalu sangat dekat, menunjukkan adanya peran proses patologis lain. Autolmunitas Efek imunitas yang tidak diinginkan g3
Penolakan transplanDarah Organ A30 eeneilieagi ? peninqkaLan Rh, dilOrgan anLi-\,3, dll AnNigen M?tC (antiserum) AnLlqen DP (MLC)oleh anLibodi PENERIMA obal('penin4katan') anli-limfoid anLi-inlamaei anf,i-MlC anr;i-idiotipe AL? ? iradiasioleh anLigen ? drainase TD('toleranei') ?? timekromi bunuh diri ? sel supresorKeberhasilan transplantasi organ antara kembar identik Penolakan transplantasi dapat diperantarai oleli sel T dan/atau('syngeneic'*), dan penolakan pada seluruh kasus lain, merefleksikan sel B. dengan tambahan efektor biasa yeurg nonspesifik (komplemen,kekuatan besar dari pengenalan imunologis antigen permukaan se1 sel sitotoksik, makrofag, dll.), tergantung pada sasaran: antibodidaiam suatu spesies. Ini adalah hasii yang patut disayangkan (dan menghancurkan sel yang bebas dalam darah, dan bereaksi dengan endotel vaskular (misalnya pada organ transplan; sisi tengah)dalam evolusinya tidak terduga) dari spesialisasi se1 T dalammendeteksi perubahan antigen MHC, tempat bergantungnya untuk mengawali hipersensitivitas tipe lI atau III, sedangkan sel Tseluruh respons adaptif (lihat Gambar 20 dan 22 untuk mengingat menyerang jaringan padat secara langsung atau melalui makrofag (tipe IV). Kecuali jika penerima ielah tersensitisasi oleh antigenkembali peran utama sel T helper), ditambah sejumlah besarpolimorfisme MHC (antigen berbeda pada individu berbeda; donor, proses ini tidak akan memiliki efek selama satu minggulihat Gambar l2). Tampak bahwa, ketika dipertemukan dengan atau lebih, memastikan bahwa penolakan timbul akibat imunitasmolekul MHC 'asing (non-selfl', sel T tidak dapat membedakan'diri sendiri (selj) dan antigen', dan pada sejumlah besar kasus adaptif, bukan bawaan.mungkin 'diri sendiri (seLfl dan virus';beberapa contoh yang jelasmengenai hal ini telah ditemukan dalam percobaan menggunakan Keberhasilan transplantasi organ saat ini tergantung pada (sisi kiri atas) kecocokan antigen MHC donor dan penerimatikus. Hal ini mungkin suatu petunjuk bagi polimorfisme MHC itusendiri: semakin berbeda variasi 'diri sendiri (seff)' yang dimiliki (resipien) sejauh mungkin (keluarga dan khususnya saudara kandung cenderung memiliki kesamaan), dan (sisi kanan bawah)suatu spesies, semakin kecil kemungkinan suatu virus masuk tanpa menekan respons imun residu. Yang ideal adalah (sisi kiri bawah)diketahui dan mematikan se1uruh spesies. Perbedaan dalam antigen mencetuskan ketidakadaan respons antigen MHC secara spesi{ik,sel darah merah ('golongan darah') juga mempersulit transfusi tetapi semua ini masih dalam tahap percobaan (lihat Gambar 40).darah (sisi kanan atas) karena adanya antibodi; di sini alasan Penggolongan dan pencocokanpoiimorfisme tidak terlalu jelas, tetapi jauh lebih terbatas Qnisalnya Untuk transfusi darah, prinsipnya sederhana: antigen A dan/enam fenotipe ABO dibandingkan dengan lebih dari 1012 MHC). atau B dideteksi dengan aglutinasi oleh antiserum spesifik; halBaik antigen histokompatibiiitas 'minor' maupun golongan darah ini selalu diperlukan karena individu normal memiliki antiboditampaknya kurang polimorlik dan memiliki antigen lebih lemah. terhadap antigen yang tidak mereka miliki. Antigen Rh (rhesus)t'Terminologi: autr. individu yang sama; syngeneic, syngraft, antua individu yang secara genelil( juga digolongkan untuk mencegah sensitisasi wanita terhadapidcntik; allo, nor-identik, spesies yang sana; xeno, spesies berbeda. bayi yang dikandungnya jika ia hamil, karena inkompatibilitas Rh84 At a Glance lmunologi
dapat menimbulkan penyakit hemolitik berat pada janin. Antigen Kulit Congkok kulit ditolak sangat kuat oleh sel T, kemungkinanminor hanya memberi masalah pada pasien yang tersensitisasi oleh karena vaskularisasi yang 1uas. Untuk alasan ini, transplantasi kulittransfusi berulang. Konsekuensi transfusi darah lain yang mungkinterjadi adalah sensitisasi terhadap antigen MHC yang dibawa oleh biasanya autologus atau suatu transplan sementara yang digunakansel B, dan pada pasien defisiensi imun berat, reaksi GVH (gral- untuk melindungi jaringan dasar saat kulit pejam'u beregenerasiversus-host, transplan-vs-pejamu) oieh sel T yang ditransfusikan (misalnya setelah luka bakar yang tuas).terhadap antigen pejamu. Reaksi GVH adalah komplikasi utama Kornea dan kartilago, yang merupakan jaringan nonvaskular,transplantasi sumsum tulang. biasanya tidak mengimunisasi pejamu dan mendapat 'kesempatan, untuk bertahan hidup. Untuk transplantasi organ (misalnya ginjal), antigen MHC Janin normal tentunya merupakan suatu allograft, dan alasanharus digolongkan (seperti ABO). Hal ini dilakukan dengan mengapa tidak ditolak masih berupa misteri, walaupun terdapat bukti sejumlah kemungkinan mekanisme, termasuk sel supresor spesifik,menggunakan panel antisera spesifik, tetapi penggolongan antibodi penghambatan serum dan faktor imunosupresif, serla sifat khusus, baik plasenta (matemal) maupun trofoblast (janin).saat ini digantikan oleh penggolongan DNA, yaitu penentuan Xenograft Terdapat perhatian khusus terhadap kemungkina4haplotipe dengan PCR dan pasangan primer spesifik-alel. Satu menggunakan donor hewan untuk transplantasi organ karenakeuntungan besar sistem ini yaitu dapat ditakukan secara otomatis.Keberhasilan transplantasi ginjal berhubungan dengan besar derajat kurangnya persediaan organ manusia secara lerus-menerus. Babikecocokan, khususnya kelas II (DR), walaupun hasil yang lebih adalah spesies yang sesuai untuk ini karena ukurannya setarabaik dengan anggota keluarga menunjukkan bahwa terdapat lokus dengan manusia. Akan tetapi, xenograft babi ditolak oleh primatahistokompatibilitas'minor' Iain, yang masih diidentilikasi. dalam hitungan menit oleh suatu proses penolakan hiperakut. Hal ini timbul akibat kombinasi antibodi yang telah terbentuk terhadapPenolakan struktur karbohidrat yang ditemukan pada babi tetapi ridak padaPeristiwa awal adalah pengenalan antigen kelas II 'diri sendiri primata, dan kenyataan bahwa protein pengatur kompiemen dalam jaringan babi (misalnya DAF; lihat Gambar 7) tidak berinteraksi(selfl yang berubah' oleh sel T helper. Ha1 ini dapat terjadi, baik baik dengan komplemen manusia. Walaupun saat ini penelitimelalui kontak langsung dengan sel B donor atau sel penyaji antigen(APC berwama hijau pada gambar) maupun melalui pengambilan berusaha mencari solusi masalah tersebut dengan memasukkan genantigen donor mudah larut (lingkaran berwama cokelat) oleh APC manusia ke babi, timbul kekhawatiran bahwa babi dapat menjadi tempat perkembangbiakan reffovirus baru, yang dapat ,melompati'resipien sendiri. Setelah itu, sel B, sel T sitotoksik, dan makrofag penghalang spesies selama transplantasi dan menyebabkan epidemiseluruhnya dipicu untuk bekerja; di mana respons menghancurkan baru serupa dengan AIDS.organ congkok tergantung pada organ yang bersangkutan. Beberapa Klon organ Sebagai akibat kekurangan donor setiap waktu untukhal yang menarik dibahas di bawah ini. transplantasi organ, saat ini terdapat kemungkinan menumbuhkan organ 'ciptaan' dengan diferensiasi stem cell (embrionik atau non-Ginjal Penolakan transplantasi ginjal dapat timbul segera, akibat embrionik) dalam kultur. Pada model hewan didapatkan kemajuanketidakcocokan ABO atau adanya antibodi anti HLA, akut besar dalam mencapai kemahiran teknis yang mengagumkan ini.(beberapa minggu sampai bulan) akibat respons imun atau kronis Akan tetapi, saat stem cel/ embrionik umumnya beradal dari individu(beberapa bulan sampai tahun) akibat munculnya kembali penyakit yang berbeda dari penerima organ, masih tetap ada kemungkinanyang diperantarai kompleks imun. Transfusi darah sebelum penolakan imunologis. Respons imunologis terhadap stem cell belum diketahui dengan jelas.transplantasi secara mengejutkan dapat meningkatkan kelangsunganhidup, kemungkinan dengan mencetuskan antibodi penguatterhadap antigen kelas II donor. Imunosupresi telab meningkatkankeberhasilan transplantasi hingga lebih dari'7\Vo, terutama denganmenurunkan timbulnya penolakan akut. Berbeda dengan di atas,penyebab penolakan kronis tetap belum diketahui dengan jelas.Sumsum tulang mengandtng stem ceII hematopoietik, sehingga I mUnOSUpfeSi glhat Gambar40 unrukpenjelasan selanjutnya)diperlukan saat hams menggantikan sistem hematopoietik pejamu(misalnya pada beberapa imunodefisiensi atau setelah kemoterapi Nonspesifik Keberhasilan bedah transplantasi modern sebagiandosis tinggi). Faktor pertumbuhan G-CSF menyebabkan stem cell besar diperoleh dari pemberian siklosporin, dan kemudian K506,hematopoietik keluar dari sumsum tulang dan masuk ke dalamsirkulasi. Akibatnya, darah dapat digunakan setelah digantikan dua jenis obat yang menghambat aktivasi sel T secara selektifsumsum tulang, suatu tindakan yang disebut transplantasi s/erxcell perifer. Setiap congkok hematopoietik akan ditolak sangat pada jalur antigen nonspesiflk (lihat Gambar 13). Dua jenis obatkuat, dan memerlukan imunosupresi kuat. Selain itu, congkok ini, bersama dengan obat sitotoksik, digunakan dalam konsentrasihematopoietik dapat membunuh pejamu melalui reaksi GVH, tinggi pascaoperasi untuk menghambat penolakah akut awal,kecuali sel T telah dibuang dari sumsum donor. Pada beberapa kemudian pada dosis pemeliharaan yang rendah untuk menghambatkasus, GVH oleh congkok dapat membantu membunuh sel tumor penolakan kronis. Beberapa pendekatan yang lain diperlihatkanasli (GVT), tetapi menyeimbangkan GVT dan GVH tetap menjaditantangan klinis yang berat. pada Gambar 40.Hati Transplan hati tidak ditolak dengan kuat dan bahkan dapat Spesifik Supresi spesifik ditujukan baik kepada anrigen pencetusmencetuskan toleransi derajat rendah. Penggolongan HLA dianggap respons atau kepada reseptor pada sel yang membawanya. Jikatidak penting. dilakukan oleh antibodi, hal ini secara konvensional disebut peningkatan (enhancement) dan jika dilakukan oleh antigen, disebut toleransi. Supresi spesifik-antigen adalah tujuan ahli imunologi transplantasi, tetapi tetap harus didemonstrasikan pada manusia.Organ endokrin tanpa diduga dapat bertahan dengan baik jika' Bunuh diri sel T dan sei B spesifik dapat dicetuskan secara jndikultur atau diberi perlakuan lain untuk membuang sel minoritasyang mengekspresikan antigen kelas II. vitro dengan membiarkan sel-sel tersebut berikatan dengan antigen Ietal (misalnya radioaktif atau berpasangan dengan obat). Penolakan transplan Efek imunitas yang tidak diinglnkan 85
Search
Read the Text Version
- 1 - 12
Pages: