8 Seleksi Kasus untuk Perawatan Seleksi kasus yang tepat menghindari jebakan dalam endodontik yang lebih besar, tidak saja selama perawatan endodontik dan membantu men- untuk menyelamatkan gigi yang terlibat endodon- jamin sukses. Tidak tiap gigi merupakan calon co- tik, tetapi juga menggunakan gigi-gigi tersebut se-, cok untuk perawatan endodontik. Kesalahan se- bagai gigi pilar pada jembatan atau gigi tiruan se- leksi kasus, beberapa di antaranya dapat dihindari, bagian. Sayangnya usaha baik seorang dokter gigi merupakan 22% kegagalan dalam studi yang di- umum tidak cukup baik disebabkan karena diagno- pelopori oleh Ingle dan Beveridge 13 sis yang salah, misalnya waktu merawat saluran yang bengkok kurang mahir melakukan instrumen- Dalam kebanyakan hal, seleksi kasus ditentu- tasi atau mengisi saluran sampai ke apeks , sehingga kan oleh apa yang kita lihat pada radiograf. Apa menghasilkan daerah rarefaksi yang terus menerus. yang tidak dapat dilihat pada radiograf sering di- Sebaliknya, beberapa macam kasus tertentu <lulu hadapi pada waktu merawat saluran akar. Peme- diperkirakan merupakan kontraindikasi untuk pe- riksaan radiograf dapat menyingkap masalah- rawatan endodontik, misalnya suatu fistula yang di- masalah berikut: suatu lesi periapikal besar; suatu salurkan ke dalam sulkus gingival, sekarang dapat akar atau saluran akar tambahan; apeks akar yang dirawat dengan berhasil karena ke\"majuan dalam mengalami dilaserasi, bentuk bayonet, berkurva/ terapi endodontik dan periodontal. Mengandalkan bengkok, atau bentuk lain yang tidak serasi ; suatu perawatan saluran akar saja bagi semua kasus en- ujung akar yang mengalami resorpsi secara pato- dodontal akan menemui derajat tertentu kegagalan, logis; foramen apikal pada gigi muda yang flaring kecuali kalau perawatan tersebut digabung dengan (melebar pada ujung akarnya), membalik, lebar; prosedur endodontik lainnya, seperti apeksifikasi suatu saluran akar yang sebagian atau seluruhnya untuk menginduksi pembentukan barier mengapur mengalami kalsifikasi; suatu obstruksi pada salur- pada perforasi akar atau kuretase periapikal untuk an/kanal; suatu batu pulpa yang menempati hampir mengambil jaringan inflamatori kronis. Sebalik- seluruh kamar pulpa dan saluran akar; resorpsi inter- nya, reseksi sama sekali tidak diindikasikan karena naVekstemal; fraktur subgingival atau fraktur akar; adanya daerah rarefaksi. karies mahkota; dens in dente; atau taurodontisme. KONTRAINDIKASI LOKAL Seleksi kasus untuk perawatan endodontik te- lah banyak dibicarakan oleh banyak penulis, di Perawatan endodontik dapat dilakukan bila antar.anya Bender2, Grossman, dkk,g Healey,7 tidak dikontraindikasikan oleh kesehatan pasien, Luebke dkk, 15, Luks 16, Maurice, 17 Siskin21 dan asal saja seluruh perluasan saluran akar dapat di- Strindberg,22. instrumentasi, didisinfeksi dan diobturasi secara memuaskan (Gmb. 8.1). Lebih mudah untuk me- Empat faktor termasuk dalam ketentuan untuk nyebut satu demi satu kontraindikasi perawatan· melakukan atau tidak melakukan perawatan salur- saluran akar, karena jumlahnya sedikit daripada aii akar: (1) mudah dicapainya foramen apikal me- membuat daftar indikasi perawatannya. Pada kasus lalui saluran akar; (2) dapat direstorasinya gigi berikut, prosedur tambahan, seperti bedah peri- yang terlibat; (3) nilai strategik gigi yang terlibat; (4)·ketahanan umum pasien. Kini lebih banyak saluran akar yang dirawat daripada dulu karena perhatian dokter praktek\38
Seleksi Kasus untuk Perawatan 139Glrib. 8·1. Conteh gigi-gigi depan yang dianggap tidak cocok bahwa makin besar jumlah kerusakan tulang yanguntuk perawatan endodontik semata dan yang sebagai tam- rusak, makin kecil kemungkinan untuk diperbaiki.bahan dapat memerlukan reseksi akar/kuretase, A, Resorpsi Pada studi lanjutan selama 4 tahun terhadap 529akar dan daerah rarefaksi yang luas. 8, Daerah rarefaksi yang gigi, Strindberg menemukan bahwa: (1) angka ke-luas. C, Gabungan lesi periodontal dan endodontal dan peng- .· ' berhasilan pada kasus dengan daerah rarefaksi Je-isian saluran akar yang jelek, D, Pengisian saluran akar yang bih rendah dibandingkan pada kasus ektirpasi pul-jefek, f, lnstrumen patah dan daerah rarefaksi memberikan pa vital; dan (2) insidensi keberhasilan berkurangprognosis jelek. F, Kista. dengan naiknya ukuran daerah rarefaksi.22 Pada suatu evaluasi terhadap 800 gigi yang telah dirawatradikular, harus dipertimbangkan sebagai tambah- endodontik, Eggink menemukan bahwa makin be-an perawatan saluran akar untuk meningkatkan ke- sar lesi awal periapikal, makin kecil kemungkinansanggupan perbaikan jaringan. untuk menjadi baik.3 Hal demikian juga merupa- kan pengalaman kami dalam mengevaluasi 432 ka- 1. Bila dijumpai kerusakan luas jaringanperiapikal yang melibatkan lebih dari sepertiga sus, yang angka keberhasilannya lebih rendah bilapanjang akar. Pernyataan \"lebih dari sepertiga pan- terdapat daerah rarefaksi; beberapa kasus telahjang akar\" adalah sewenang-wenang, karena pada menjadi makin progresif alih-alih daripada meng-beberapa kasus, suatu daeriih rarefaksi seluas ini alami perbaikan sempurna pada waktu dievaluasi.8atau lebih, dapat menjadi baik. Kasus semacam ini Holland dkk, menyebut 17 studi yang menunjuk-adalah luar biasa, karena dalam pengamatan kami kan bahwa adanya suatu lesi periapikal mengurangi kemungkinan keberhasilan setelah perawatan en- dodontik.10 Pengalaman Horting-Hansen adalah bahwa lesi periapikal dengan diameter kurang dari 10 mm kemungkinan lebih banyak menunjukkan bukti perbaikan daripada lesi yang berdiameter lebih dari 10 mm. 11 Kerekes dan Tronstad mem- buat studi berlanjutan selama 3 sampai 5 tahun pa- da 501 akar, yang 50% di antaranya adalah nekrotik atau mempunyai daerah rarefaksi, dan menemukan bahwa akar dengan daerah rarefaksi kurang ber- hasil daripada yang tanpa rarefaksi. 14 Pada studi terhadap 299 pengisian saluran akar yang diikuti dari 2 sampai 30 tahun, Nelson menemukan bahwa adanya daerah rarefaksi mengurangi angka keber- hasilan, dan diagnosis serta Rerawatan awal me- naikkan angka keberhasilan. Tay dkk juga me- nemukan bahwa makin besar ukuran rarefaksi peri- apikal, makin kurang keberhasilannya.23 Meskipun demikian, Frank mengatakan bahwa lesi .besar sembuh sama mudahnya seperti lesi ke- cil, tetapi tidak ada data statistik yang memperkuat penemtian ini.4 Pada orang muda perbaikan suatu daerah luas rarefaksi terjadi Jebih cepat dibanding- kan pada orang tua. Bahkan bila angka perbaikan rendah, penyembuhan tetap mungkin tanpa pe- rawatan bedah. Gigi yang bersangkutan, bilamana dianggap mudah untuk berbuat demikian, harus di- rawat tanpa pembedahan dan dimonitor sampai ter- jadi perbaikan, atau pembedahan perlu dilakukan. 2. Bila saluran akar gigi t~npa pulpa dengan daerah radiolusen terhalang oleh akar berkurva/ bengkok, akar berliku-liku, dentin sekunder, b~tu
140 llmu Endodontik Dalam Praktekpulpa yang tidak dapat diambil atau dihindari, percha yang digulung dipersiapkan untuk peng-kanal yang mengapur atau sebagian mengapur, gigi isian saluran, bila rembesan dapat dikontrol olehmalformasi, atau suatu instrumen yang patah. Pada irigasi yang sesuai dan sesudahnya gigi terns dalamkasus semacam itu, bila tidak mungkin melakukan pengawasan.instrumentasi pada saluran akar atau mengisinyapaling tidak 3 sampai 4 mm ke arah apikal, progno- 4. Bila terdapat perforasi permukaan akarsisnya adalah jelek. Instrumentasi, disinfeksi, dan secara kebetulan atau patologik. Perforasi per-obturasi sepertiga koronal dan sepertiga tengah mukaan akar dapat terjadi secara kebetulan karenasaluran adalah tidak begitu penting, asal sepertiga arah bur yang salah waktu mencapai kamar pulpaapikal akar telah dibersihkan, didisinfeksi dan di- atau oleh rimer atau kikir yang digunakan secaraobturasi dengan tepat. Contoh baik situasi ini ada- manual atau yang digerakkan oleh mesin. Perforasilah pada waktu mempersiapkan saluran untuk pem- permukaan akar dapat juga disebabkan karenabuatan mahkota pin, yang selama persiapan ini resorpsi internal atau eksternal. Pada kasus resorpsisepertiga tengah dan sepertiga koronal dibiarkan harus diusahakan menginduksi perbaikan denganterbuka untuk dimasuki ludah selama berjam-jam, menggunakan kalsium hidroksida, atau daerah per-kadang-kadang tidak menunjukkan efek yang ti- forasi harus diberi dinding amalgam, kalau tidakdak diinginkan. Sepertiga apikal saluran akar ada- perdarahan akan berlanjut ke dalam saluran akar,lah kritis dan karena itu, harus didisinfeksi dan dan tidak mungkin untuk mendisinfeksi dan meng-diobturasi sehingga mikroorganisme tidak dapat isi saluran secara tepat. Pada beberapa kasus diper-mencapai jaringan periapikal untuk melanjutkan lukan suatu pendekatan bedah ekstemal untukperusakannya. Bila prosedur ini tidak dapat di- menutup perforasi:lakukan karena rintangan bagian apikal saluran,perbaikan tulang yang rusak tidak mungkin terjadi 5. Bila terdapat terlalu banyak eksudat peri-karena mikroorganisme masih dapat mencapai apikal yang persisten yang tidak dapat dikontrolstruktur periapikal melalui foramen apikal. Suatu sebelum pengisian saluran akar, atau jika tidak di-contoh adalah pada gigi dengan daerah rarefaksi peroleh biakan negatif. Kasus semacam itu kini su-yang pada waktu penggunaan rimer atau kikir de- dah jarang. Bila rembesan pada anak muda denganngan tidak sengaja patah di dalam saluran akar. gigi depan atas yang mengalami infeksi berat tidakMenurut suatu evaluasi yang dibuat oleh Gross- dapat dikontrol dengan larutan irigasi yang biasaman, perbaikan tulang periapikal pada kasus se- dipakai atau dengan penutupan dengan larutanmacam itu hanya terjadi pada 47% gigi, dibanding- iDdin atau pasta kalsium hidroksida, maka tindak-kan 84% pada gigi yang sejak semula tidak mem- an bedah diindikasikan.punyai daerah rarefaksi.6 Pada kasus semacam itu,dilakukan perawatan lengkap endodontik pada 6. Pada kasus perawatan ulang, bila suatu ben-bagian saluran akar yang terlihat dengan jelas dan da asing seperti misalnya pecahan guta-perca atausecara bedah diletakkan bahan tumpatan apikal bahan pengisi saluran akar, terletak padajaringanretrograd, misalnya amalgam, untuk menumpat periapikal gigi radiolusen. Adanya benda asingsisa saluran akar yang belum dirawat dan sukar menaikkan kesukaran menghilangkan infeksi de-untuk dicapai. ngan perawatan intrakanal saja. Kuretase peri- apikal harus dilakukan selain pengisian saluran 3. Bila terdapat perkembangan apeks akar akar, untuk membersihkan struktur periapikal dariyang tidak lengkap dengan matinya pulpa. Pada benda asing.kasus semacam ini saluran akar sukar atau tidakmungkin diisi secara memuaskan, tidak saja karena 7. Bila terjadi infeksi akut pada gigi tanpa pul-divergensi saluran pada waktu mendekati apeks, pa yang baru saja dirawat dan diisi, diindikasikantetapi juga karena rembesan basah yang terus-me- perawatan atau reseksi setelah gejala akut di-nerus. Apeksifikasi harus dicoba dan jika suatu kuasai. Pada beberapa kasus, pemberian antibio-penghentian apikal jaringan sementoid keras telah tika mengontrol tingkat akut infeksi, pada kasusberkembang, saluran akar harus diobturasi. Bila lain, diperlukan insisi dan drainase untuk mengu-apeksifikasi tidak berhasil, saluran akar harus diisi rangi rasa sakit. Perawatan ulang dapat dipertim-dari ujung apikal setelah apeks akar dihaluskan. bangkan, bila bahan pengisi saluran akar dapat di-Bila dinding saluran pararel, suatu kerucut guta- ambil setelah gejala akut reda. Kalau tidak, harus dilakukan reseksi dengan pengisian amalgam retro- grad, untuk menjamin suatu penutupan apikal yang tepat.
141 8. Bila ape/cs akar terkenafraktur ~pulpanya harus dila~ukan gingivektomi. Jangan mencoba mati. Fraktur akar sendiri bukan suatu .alasan untuk perawatan endodontik, dan reseksi dikontraindika- melakukan perawatan saluran akar kecuali kalau sikan bila pulpa masih vital dan gigi dapat distabil- kan. Jika fraktur terdapat pada sepertiga apikal dan mahkota dapat direstorasi dengan baik. pulpa mati, harus dilakukan,perawatan endodontik. Bila pecahan apikal tidak sebaris dengan saluran Pada semua kasus, harus diusahakan untuk me- utama, perawatan endodontik disempurnakan sam- pai segmen yang terkena fraktur. Ujung akar apikal nentµkan apakah giginya strategik. Penentuan ini yang tidak dirawat dan segmen akar yang dirawat dimonitor secara radiografis. Bila berkembang terutama penting jika pasien telah memakai gigi suatu daerah rarefaksi, pecahan akar harus diambil dengan reseksi akar, tiruan sebagian, atau bila telah direncanakan suatu Selain itu, pertimbangan khusus harus diberi- gigi tiruan sebagian bagi pasien, terutama jika ter- kan pada kasus tertentu, seperti misalnya kombi- nasi lesi periodontal-endodontal dengan gigi tanpa dapat suatu daerah rarefaks~ atau bila mahkota da- pulpa yang terkena infeksi akut berhubungan de- ngan sulkus gingival melalui fistula yang tidak da~ lam keadaan jelek. Ekstraksi gigi pada kasus se- pat dihilangkan. Meskipun pada kasus tersebut mungkin dapat menghilangkan infeksi dalam salur- macam itu akan mendapatbn pola gigi palsu yang an akar dengan perawatan periodontal simultan, dan meskipun daerah sulkus gingival menjadi sem- lebih baik, dapat menghemat waktu, dan tidak saja buh begitu perawatan endodontik selesai, perhati- an harus d~berikan pada perluasan lesi periodontal lebih ekonomis, tetapi juga lebih banyak kepuasan sebelum melakukan perawatan endodontik. Bila kerusakan ikatan periodontal sangat hebat, perbaik- dalam waktu panjang. Sebaliknya, meoyelamatkan an serabut periodontal mungkin tidak terjadi bah- kan setelah perawatan endodontik. sebuah gigi dengan perawatan endodontik dapat Suatu kasus khusus lain adalah bila resorpsi beraiti pertentangan antara pembwitan suatu jem- alveolus meluas dan melibatkan paling tidak se- paruh permukaan akar. Bila keterlibatan perio- batan dan suatu gigitiruan sebagian atau penuh. dontal parah dan gigi goyah, atau bila perbanding- an mahkota akar tidak menguntungkan, harus di- Bila terdapat lebih dari satu fokus infeksi di usahakan memperbaiki status periodontalnya ber- sama dengan terapi endodontik. Bila dijumpai tno- dalam rongga mulut, tiap fokus harus dianggap se----. bilitas kelas III, ekstraksi gigi lebih baik daripada perawatan saluran akar karena prognosisnya dilihat bagai suatu unit individual masalah yang sama dan dari segi periodontal jelek bahkan meskipun pe- rawatan endodontiknya berhasil. Namun pada be- dirawat terkoordinasi. Contohnya adalah sebagai berapa kasus, gigi mungkin kokoh_\Valaupun bukti radiografik . menunjukkan resorpsi tulang yang ~rikut: (I) bila terdapat 4ua gigi tilnpa pulpa yang amat luas. Pada kasus semacam ini, perawatan en- dodontik tidak dikontraindikasikan. berdekatan; (2) bila rarefaksi perlapikal dan pe- Pada kasus khusus .lain, kerusakan mahkota hyakit periodontal terdapat pada gigi yang sama; begitu luas sehingga tidak dapat dilakukan pe- rawatan · endodontik dalam kondisi aseptik. Me- dan (3) bila rarefaksi periapikal gigi posterior r:a- nurut pendapat kami, bila mahkota gigi dapat direstorasi, dan bila isolator karet dapat dipasang, hang atas dan keterlibatan sinus terdapat bersama- maka perawatan endO<;{ontik rutin dapat dikerjakan. Pada beberapa kasus i:nungkin diperlukan pema- sama. Pada kasus-kasus tersebut, prognosis untuk sangan ban baja-anti karat, dan pada kasus lain perawatan endodontik kurang baik, kecuali bila dilakukan perawatan terkoordinasi. · KEADAAN SISTEMIK Pada suatu waktu, perawatan gigi tanpa pulpa dipersoalkan. Alih- alih, gigi diekstraksi. Alasan ini didasarkan pada teori infeksi fokal, yang menyata- kan bahwa mikroorganisme dari daerah infeksi ter- batas, seperti misalnya suatu abses, masuk ke da- lam saluran darah dan saluran limfa dan memben- tuk kelompok mikroorganisme di lain tempat pada badan. Oleh karenanya; pengambilan fokus kronis semacam ini harus diikuti oleh pengurangan penya- kit dan gejala-gejalanya. Setelah teori infeksi-fokal diterima untuk lebih dari tiga dekade, bahkan pe- nganjumya yang sangat gigih mulai mempertanya- kan keabsahannya, pada dekade keempatnya teori itu ditinggalkan. Dalam menentukan apakah akan mempertahan- kan atau mencabut gigi tanpa pulpa, harus diingat bahwa: (I) gigi tanpa pulpa pada umumnya bukan penyebab atau menambah sebab penyakit sistemik; •
142 llmu Endoclontlk Dalam Pnlktek(2) pada pasien dengan penyakit sistemik yang Paget dan banyak gangguan sistemik lainnya, hi- dup pasien akan berjalan dengan baik bila dilaku-parah, seperti diabetes aktif, sifilis, tuberkulosis, kan prosedur endodontik daripada prosedur ekso- dontik. Kami tidak mengetahui adanya gangguananemia berat, gigi tanpa pulpa dan terinfeksi diser- sistemik yang meniadakan perawatan endodontik.tai dengan rarefaksi tidak mudah bereaksi terhadap Pada pasien dengan leukemia akut atau kronis, hemofilia, purpura hemoragika, penyakit jantungperawatan; perbaikan jaringan periapikal dapat ter- rematik, nekrosis radium, atau penyakit parah lain-tunda ~tau tidak terjadi karena kekuatan untuk per- nya, perawatan endodontik lebih baik dibanding- kan ekstraksi.baikan berkurang; dan (3) sebaliknya, pada kasus GIGI TANPA PULPA SEBAGAI GIGI PILARtertentu, ekstraksi dikontraindikasikan karena ada- Banyak dokter gigi percaya bahwa gigi tanpanya kondisi sistemik nyata pada pasien, seperti leu- pulpa dapat digunakan sebagai gigi pilar jembatan dengan memuaskan. Dari suatu analisis banyakkemia atau nekrosis radiasi. riwayat kasus, Tylman menemukan bahwa gigi tanpa pulpa merupakan gigi pilar jembatan yangSuatu riwayat medis singkat, berisi pertanyaan- memuaskan25 dan pada suatu studi in vitro Trabert . dkk., tidak menemukan perbedaan pada frakturpertanyaan yang hati-hati, harus diperoleh sedapat impak antara gigi yang tidak dirawat dengan gigi yang dirawat secara endodontik. 24mungkin. Pertanyaan-pertanyaan harus dibuat un- Gigi posterior tanpa pulpa yang telah diguna-tuk menyingkapkan adanya penyakit sistemik yang kan sebagai gigi pilar untukjembatan atau gigi tiru- an sebagian harus mempunyai penutupan oklusaldicurigai. Dalam keadaan tertentu, dokter yang me- yang sempuma. Bila mahkota sebuah gigi anterior adalah lemah dan seperti tergali karena adanyarawat pasien harus dimintai konsul. tumpatan mesial dan distal, dapat dikuatkan de- ngan menyemenkan Endopost (Kerr) atau KG En-Bila pasien mempunyai riwayat demam rema- dowel (Star) di dalam saluran akar dan memper- panjangkannya ke dalam mahkota. Pasak (post)tik dengan kerusakan jantung valvular, dokter yang tinggal dipasang ini mempunyai diameter dan keruncingan yang sama dengan alat-alat saluranumumnya menginginkan dilakukan perawatan en- akar yang telah dibakukan, yang dianjurkan oleh Gerstein dan Burnell.5 Bila harus dibuat suatu mah-dodontik daripada ekstraksi. Penyakit kardiovas- kota untuk gigi posterior yang patah, maka harus dibuat suatu inti/kor yang dukungannya diperolehkular-renal, hipertensi, dan arteriosklerosis sedang dari Endopost atau KG Endowel.meningkat, maka pada pasien-pasien tersebut harus Jenis gigi-gigi berikut dapat dipertahankan dan digunakan sebagai gigi pilar jembatan cekat ataudilakukan premedikasi dan merawatnya dengan sebagai gigi pilar untuk jembatan lepasan atau gigi tiruan yang dapat dilepas: (1) tiap gigi vital yangempati (ikut merasakan perasaan pasien) dan per- memerlukan ekstirpasi pulpa; (2) tiap gigi tanpa pulpa, tanpa suatu daerah rarefaksi; (3) tiap gigihatian. Perhatian khusus juga hams diberikan ke- tanpa pulpa dengan suatu daerah rarefaksi yang memerlukan reseksi akar, asal tertinggal dukunganpada mereka yang telah menjalani bedah jantung alveolar yang cukup; (4) tiap gigi tanpa pulpa de- ngan suatu daerah rarefaksi yang dianggap strategisterbuka atau kerusakan katup jantung yang diganti untuk retensi gigi tiruan, dan kesanggupan untuk perbaikan adalah bagus; dan (5) tiap gigi tanpadengan pengganti plastik. Pada semua kasus de-ngan risiko, perawatan endodontik, terutama in-strumentasi saluran akar, harus dilakukan setelahpemberian premedikasi antibiotika, sebagai beri-kut: 2 g penicillin V satu jam sebelurit operasi dan 1g enam jam setelah operasi; atau 1 g erythromicyn1 jam sebelum operasi dan 500 mg 6 jam setelahoperasi, sebagai yang dianjurkan oleh AmericanHeart Association. Sebagai tambahan, Benderdkk., telah menganjurkan penggunaan obat kumurdan aplikasi suatu antiseptik pada gusi sebelum me-masang jepitan (clamp) isolator karet, untuk meng-hit'ldari kemungkinan suatu bakteriemia transienyang disebarkan karena Iuka gingiva oleh jepitan/penJ.ep1.t. I ·Merupakan suatu konsensus di antara sejumlahbesar dokter bahwa gigi tanpa pulpa mungkin ber-peran sebagai sumber artritis rematoid, demam re-matik, tukak lambung, penyakit kandung kemihempedu, kolitis ulseratif, ;ileitis regional, dan pe-nyakit lain yang dulu dihubungkan dengatt infeksifokus.Bender dkk, berpendapat \"dengan adanya dis-krasia darah, hemofilia, hipertiroidisme, penyakit
Seleksl K11us untuk Perawatan 143 pulpa yang baru saja dirawat tanpa terlibatnya sa seseorang untuk menyimpulkan bahwa tidak ter- periapikal. Bila pengisian saluran akar tidak cukup, dapat perbedaan dalam derajat gerakan gigi tanpamaka saluran harus dirawat dan diisi kembali. memperhatikan apakah gigi yang digerakkan itu vital atau tanpa pulpa. Pada kenyataannya, Peskin Sebelum menentukan mengambil sebuah gigi dan Graber secara bedah menempatkan kembalitanpa pulpa yang dapat diselamatkan, harus diper- gigi untuk alasan ortodontik dan menemukan bah-timbangkan hubungan gigi yang bersangkutan·de- wa pu]J:>a tetap vital bila apeks gigi terluksasi se-ngan gigi lainnya pada lengkung. Haros hati-hati dikit.2 Ohzeki dan Takahashi melakukan osteo-untuk tidak menciptakan suatu masalah ortodontik tomi anterior rahang atas pada 7 anjing; mereka me-atau suatu masalah prostetik yang sukar dengan nemukan r:rubahan pulpal dari hiperemia sampaimengambil gigi tanpa memikirkan akibatnya. Gigi nelcrosis.1 Serabut saraf Kolinesterase-positif ter-molar pertama yang diambil, tetapi tidak diganti lihat pada minggu ke-6 dan mulai didistribusikansering menyebabkan oklusi terganggu pada anak- dalam ikatan/bundel di seluruh gigi, menunjukkananak muda dan pada orang dewasa menyebabkan regenerasi saraf.\"gigitan kolaps\". Gigi- gigi tertentu dianggap gigistrategis pada lengkung gigi, dilihat dari sudut Dianjurkan agar sebaiknya mengurangi atauprostetik. Sebagai contoh, tiap molar kedua ter- menghilangkan setiap ketegangan pada gigi yangakhir sukar untuk diganti. Pada kebanyakan kasus, disebabkan oleh alat ortodontik, sementara gigipenggantian tidak dapat dilakukan karena kesukar- dalam perawatan endodontik, untuk menghindarian teknis yang menjadi sifatnya. Selain itu, bila kebingungan mengenai apakah keadaan tidak enakmolar pertama tidak ada dan bila molar kedua me- berasal dari alat atau dari perawatan endodontik.merlukan perawatan, molar kedua dapat dianggap Alat hendaknya jangan dipasang seminggu atausebagai gigi strategis karena pengambilannya me- dua minggu setelah perawatan endodontik, untuknyebabkan kesukaran dalam .penggantian, bila memberikan cukup waktu untuk pulih kembalitidak ada gigi lain yang hilang pada lengkung. Ma- karena ligamen periodontal kadang-kadang teriri-salahnya sama, bila molar kedua sudah tidak ada tasi selama perawatan endodontik dan memerlukandan molar pertama memerlukan perawatan endo- istirahat untuk kesembuhan.dontik. Masalah prostetik lainnya mungkin terjadi.Sebagai contoh, bila gigi insisivus lateral dan ke- KEPUSTAKAANdua premolar tidak ada pada satu sisi dan gigi kani-nus pada sisi yang sama memerlukan perawatan l. Bender, I.B., et al. : J. Am. Dent. Assoc., 109:415,endodontik, pencabutan gigi kaninus akan mem- 1984.berikan suatu masalah dilihat dari sudut pembuatanjembatan baik cekat atau lepasan. Penggantian gigi 2. Bender,I.B.,etal.: OralSurg., 16:1102, 1963.anterior tunggal, terutama mandibular, oleh tiap je- 3. Eggink, C.O.: Results of Endodontic Treatmentnis alat lepasan atau jembatan cekat tidak selalumemuaskan. Bagaimanapun juga, tidak ada alasan Based on a Standardized Evaluation, Utrecht,untuk melakukan perawatan endodontik hanya Shotemus en Jens, 1964, p.208; dan Int. Endod.untuk keperluan strategik bagi gigi. J.,15:79, 1982. 4. Frank, A.L.: J. Am. Dent. Assoc., 96:202, 1978.GIGI TANPA PULPA DAN PERAWATAN 5. Gestein, H., dan Burnell, S.C.: J. Am. Dent. Assoc.,ORTODONTIK 68:787, 1964. 6. Grossman, L.I. : J. Br. Endod. Soc., 2:35, 1968. Apakah gigi tanpa pulpa bereaksi sebaik gigi 7. Grossman, L.I.: J. Can. Dent. Assoc., 18:181, 1952.vital terhadap perawatan ortodontik? Pertanyaan 8. Grossman, L.l.et al. : Oral Surg., 17:368, l 964.ini telah dijawab oleh Huettner dan Youn~ ber- 9. Healey, H.J.: J. Am. Dent. Assoc., 55:434, 1956.dasarkan penelitian eksperimental pada kera, 2 dan 10. Holland, R., et al.: Oral Surg., 55:191, 1983.observasi klinis pada manusia. Apakah gigi vital 11 .· Horting-Hansen, E.: Studies of Implantation of anatau gigi tanpa pulpa dirangsang untuk bergerak Organic Bone in Cystic Jaw Lesions. Copenhagen,oleh alat ortodontik, gambaran histologik adalah Munksgaard, 1970.sama. Observasi klinis pada banyak kasus memak- 12. Huettner, R.J., dan Young, R.W.; Oral Surg., 8:1879, 1955~ 13. Ingle, J.I., dan Beveridge, E.E.: Endodontics, 2nd Ed. Philadelphia, Lea & Febiger, 1976, p. 48. 14. Kerekes, K., dan Tomstad, L.: J. Endod., 5:83, 1979.
144 llmu Endodontlk Dalam Praktek ;15. Luebke,.G.,etal.: OralSurg., 18:97, 1964. 21. Siskin, M.: l Am. Dent. Assoc., 66:648, 1963.16. Luks, S.: N.Y. State Dent. J., 23:31, 1957. 22. Strinberg, L.Z.: Acta Odontol. Scand., 14 (Suppl.17. Maurice, C.G.: Den. Clin. North Am., Nov:161, 21):100, 1956. 1957. 23. Tay, W.M.,etal.:J. Br.Endod. Soc., 11:3, 1978.18. Nelson, F.A.: Int. Endod. J., 15:168, 1982. 24. Trabert,K.C.,etal.: J.Endod.,4:341, 1978.19. Ohzeki, H., dan Takahashi, S.: Bull. Tokyo Dent. 25. Tylman, S.: Theory and Practice of Crown and Coll.,21:21 , 1980. Bridge Prosthodontics. St. Louis, C.V. Mosby,20. Peskin, S., dan Graber, T.M.: J. Am. Dent. Assoc., 1970, p.68. 80:1320, 1970.
Search
Read the Text Version
- 1 - 7
Pages: