E-MODUL PENGELOLAAN LIMBAH ORGANIK TOPIK BIOTEKNOLOGI LINGKUNGAN-PERTANIAN PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA KELAS X Oleh: Nur Susinta Erviani, Nofirman Furry, dan Rianti Gultom PPG Prajabatan Gelombang 2 Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia 2023
E-MODUL Berbasis Problem Based Learning Untuk SMA/MA Kelas X Semester II Penulis :Nur Susinta Erviani S.Pd. Nofirman Furry, S.Pd. Rianti Gultom, S.Pd. Validator: FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2023 E-Modul Berbasis Problem Based Learning 1
PENDAHULUAN Sampah adalah permasalahan yang sangat umum terjadi di masyarakat global namun sering dipandang sebelah mata. Terlebih lagi sampah organik yang tidak memiliki nilai jual seperti sampah anorganik. Sampah merupakan material sisa aktivitas manusia yang dibuang sebagai hasil dari proses produksi, baik itu dari industri maupun rumah tangga. Berdasarkan data SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup, kota-kota besar di Indonesia setiap harinya menghasilkan ratusan bahkan ribuan ton sampah. Produksi sampah per hari yang cukup tinggi di Pulau Jawa antara lain Jakarta (8,527.07 ton/hari), Bandung (1,594.18 ton/hari), Malang (764.79 ton/hari) dan Semarang (529.92 ton/hari). Sampah-sampah tersebut itu diangkut oleh truk-truk khusus dan dibuang atau ditumpuk begitu saja hingga menjadi gunung sampah seperti yang sering kita lihat. Sampah yang menumpuk itu tentu saja akan mengganggu penduduk di sekitarnya. Selain baunya yang tidak sedap, sampah juga dapat mendatangkan wabah penyakit. Seringkali kita lihat bahwa sampah juga banyak menumpuk di saluran air sehingga mengakibatkan aliran air menjadi tidak lancar dan berpotensi mengakibatkan banjir. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, sampah juga secara langsung akan mencemari udara, tanah, dan ekosistem lainnya. Hal ini tentu harus mendapat perhatian kita dan tidak boleh dibiarkan terus menerus. Lalu, apakah solusi yang harus dilakukan? Dalam e-Modul Bioteknologi Lingkungan-Pertanian ini kita akan menganalisis permasalahan sampah organik yang terjadi saat ini dan merancang solusi untuk mengatasinya serta dapat membuat produk berdasarkan solusi yang diajukan. e-Modul ini juga menyajikan berbagai solusi dari Para ahli Biologi seperti Pupuk Organik Cair (POC) dan Eco Enzyme (EE) yang sangat bermanfaat dan dapat menguraikan sampah organik serta memiliki nilai ekonomi. Melalui e-Modul ini kita tidak hanya mengkaji permasalahan sampah secara saintifik, melainkan juga dalam aspek sosial dan ekonomi. Sehingga diharapkan e-Modul ini dapat membantu peserta didik dan guru untuk berinovasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Ayo Cosplay jadi apapun yang Anda inginkan dan berinovasi untuk mencapai SDGs !!! 2
DAFTAR ISI COVER………………………………………………………………………………………………………1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………….2 DAFATAR ISI…………………………………………………………………………………………….3 CAPAIAN PEMBELAJARAN………………………………………………………………………4 MATERI AJAR………………………………………………………………………………………….5 Pertanyaan Pemantik.………………………………………………………………………….11 Aktifitas 1.…………………………………………………………………………………………….12 Aktifitas 2.…………………………………………………………………………………………….13 Aktifitas 3.…………………………………………………………………………………………….16 Aktifitas 4.…………………………………………………………………………………………….18 Glossarium…………………………………………………………………………………………….22 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………23 3
CAPAIAN PEMBELAJARAN FASE E Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan untuk responsif terhadap isu-isu global dan berperan aktif dalam memberikan penyelesaian masalah. Kemampuan tersebut antara lain mengamati, mempertanyakan dan memprediksi, merencanakan dan melakukan penelitian, memproses dan menganalisis data dan informasi, mengevaluasi dan merefleksi, serta mengkomunikasikan dalam bentuk projek sederhana atau simulasi visual menggunakan aplikasi teknologi yang tersedia terkait dengan energi alternatif, pemanasan global, pencemaran lingkungan, nano teknologi, bioteknologi, kimia dalam kehidupan sehari-hari, pemanfaatan limbah dan bahan alam, pandemi akibat infeksi virus. Semua upaya tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan (SDGs). Melalui keterampilan proses juga dibangun sikap ilmiah dan profil pelajar pancasila. Elemen Capaian Pembelajaran Pemahaman Biologi Pada akhir fase E, peserta didik memiliki Keterampilan Proses Sains kemampuan untuk menciptakan solusi atas permasalahan-permasalahan berdasarkan isu lokal, nasional, atau global terkait pemahaman keanekaragaman makhluk hidup dan peranannya, virus dan peranannya, inovasi teknologi biologi, komponen ekosistem, dan interaksi antar komponen serta perubahan lingkungan. ● Mengamati ● Mempertanyakan dan Memprediksi ● Memproses, menganalisis data dan informasi ● Mengevaluasi dan merefleksi Tujuan Pembelajaran: ● Mengidentifikasi berbagai jenis bioteknologi pertanian ● Memahami nilai penting inovasi teknologi bagi kehidupan ● Menentukan solusi untuk mengatasi permasalahan limbah organik berdasarkan prinsip bioteknologi ● Merancang produk dari limbah organik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan 4
MATERI AJAR Limbah merupakan bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Berdasarkan sifatnya limbah dibedakan menjadi 2, yaitu limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik merupakan limbah yang dapat diuraikan secara sempurna melalui proses biologi baik aerob maupun anaerob. Limbah organik yang dapat diurai melalui proses biologi mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, potongan kayu, daun-daun kering, dan sebagainya. Limbah organik dapat mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan kecil dan berbau. 1. Sumber Limbah Organik a. Limbah Pertanian dan Peternakan Limbah pertanian diartikan sebagai bahan yang dibuang di sektor pertanian seperti jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, kotoran ternak, sabut dan tempurung kelapa, dedak padi, dan yang sejenisnya. Limbah pertanian dapat berbentuk bahan buangan tidak terpakai dan bahan sisa dari hasil pengolahan. Gambar 1. Timbulan Limbah Organik Limbah yang berasal dari pengolahan hasil pertanian secara umum ditandai dengan tingginya kandungan protein, tingginya kandungan karbohidrat tapi rendah protein, dan tingginya kandungan pati dengan kandungan serat yang rendah. Limbah pertanian dan perkebunan dapat bersifat amba (bulky), berserat (fibrous), kecernaan rendah (low digestibility), dan rendahnya kandungan protein (low protein). Limbah Pertanian sebagai Sumber Bahan Organik dan hara Tanah, limbah pertanian termasuk di dalamnya perkebunan dan peternakan seperti jerami, sisa tanaman atau semak, kotoran binatang peliharaan dan yang sejenisnya merupakan sumber bahan organik dan hara tanaman. Limbah tersebut dapat langsung ditempatkan di atas lahan 5
pertanian atau dibenam. Untuk hasil lebih efektif, sebaiknya dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu. b. Limbah Rumah Tangga Aktifitas dalam rumah tangga selalu menghasilkan sampah organik dengan jumlah yang tidak sedikit setiap harinya. Misalnya, sisa daun dan batang sayur yang tidak terpakai, kulit buah, daun pohon yang berjatuhan di halaman rumah, sisa-sisa makanan basi, dan lain sebagainya. Jenis sampah ini termasuk sampah yang bisa diurai. Gambar 2. Limbah organik yang berasal dari sampah rumah tangga 2. Macam-macam Produk Bioteknologi Lingkungan-Pertanian a. Mikro Organisme Lokal (MOL) Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah makhluk hidup berukuran sangat kecil yang dimanfaatkan sebagai starter/activator dalam pembuatan pupuk organik kompos atau pupuk organik cair (POC) yang dibuat melalui bahan-bahan sederhana/lokal. Karena dapat digunakan sebagai bahan aktivator atau starter maka secara umum kandungan MOL yaitu; bakteri fotosintesis, Ragi (yeast), Bakteri pengurai (Lactobacillus sp.) dan lain-lain. Unsur bahan umum pembuatan MOL adalah molase atau gula dan sumber mikro organisme dari bahan organik seperti nasi basi, bekas tape singkong, mol batang atau bonggol pisang. MOL merupakan cairan yang berbahan dari berbagai sumber daya alam yang tersedia setempat. MOL mengandung unsur hara makro (N, P, K) dan mikro, serta mengandung mikroba yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agen pengendali hama penyakit tanaman. Berdasarkan kandungan yang terdapat dalam MOL tersebut, maka MOL dapat digunakan sebagai pendekomposer, pupuk hayati, dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida (Suhastyo, 2011). Para petani memformulasi MOL berdasarkan pengalaman atau pelatihan-pelatihan. Berbagai larutan MOL dapat dibuat dari berbagai bahan yang tersedia disekitar kita. Beberapa contoh larutan MOL yang dibuat para petani antara lain: MOL buah-buahan, MOL daun gamal, MOL bonggol pisang, MOL sayuran, MOL rebung, MOL limbah dapur, 6
MOL protein dan lain-lain (Suhastyo, 2011). Keunggulan penggunaan larutan MOL yang paling utama adalah murah. Bahan-bahan yang ada disekitar kita seperti buah-buahan busuk, rebung, daun gamal, keong, urin sapi, urin kelinci serta sisa makanan dapat digunakan sebagai bahan pembuat MOL. Bahan-bahan ini menentukan unsur-unsur hara yang akan terkandung di dalam MOL. Maka semakin tinggi kandungan unsur hara pada bahan pembuatan MOL, akan semakin tinggi pula unsur hara yang dikandung oleh MOL, dan akan semakin baik ketika digunakan. MOL yang dihasilkan diharapkan memiliki unsur hara yang cukup dan mampu menggantikan penggunaan pupuk kimia sebagai sumber unsur hara buatan yang ternyata memiliki dampak buruk terhadap kelangsungan pertanian, lingkungan, dan kesehatan. Hasil ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pupuk kimia, dan mampu diterapkan dengan mudah oleh para petani sehingga meningkatkan kemandirian mereka mencukupi kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. b. Kompos Kompos merupakan pupuk organik buatan manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan makhluk hidup (tanaman maupun hewan). Kompos tidak hanya menambah unsur hara, tetapi juga menjaga fungsi tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Yuwono,D., 2005). Penggunaan kompos sebagai sumber nutrisi tanaman merupakan salah satu program bebas bahan kimia, walaupun kompos tergolong miskin unsur hara jika dibandingkan dengan pupuk kimia. Namun, karena bahan-bahan penyusun kompos cukup melimpah maka potensi kompos sebagai penyedia unsur hara kemungkinan dapat menggantikan posisi pupuk kimia, meskipun dosis pemberian kompos menjadi lebih besar dari pada pupuk kimia, sebagai penyetaraan terhadap dosis pupuk kimia (Santi, 2006). Pupuk kompos berasal dari penguraian sampah organik seperti dedaunan. Dalam publikasi di balittanah.litbang.pertanian.go.id, kompos disebut juga sebagai pupuk yang terdiri atas daun, jerami, alang-alang, rumput, dedak padi, batang jagung, sulur, dan bahan organik lain. Pengomposan sebenarnya bisa terjadi secara alami. Namun ketika ada tindakan dari manusia seperti penambahan mikroorganisme pengurai, pengomposan terjadi lebih cepat. Kemudahan cara pembuatan dan kandungan hara yang terdapat dalam kompos membuat banyak petani mulai tertarik menggunakan pupuk organik ini. Kompos berguna untuk meningkatkan daya ikat tanah terhadap air sehingga dapat menyimpan air tanah lebih lama. Ketersediaan air di dalam tanah dapat mencegah lapisan kering pada tanah, serta memperbaiki struktur tanah yang semula padat 7
menjadi lebih gembur. Penggunaan kompos juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan akar serta membuat akar tanaman mudah tumbuh. Selain itu, kompos mengandung humus yang sangat dibutuhkan untuk peningkatan hara makro dan mikro pada tanah dan meningkatkan aktivitas mikroba tanah. Dari sekian banyak produk pupuk kompos, beberapa diantaranya merupakan produk bioteknologi, karena melibatkan prinsip fermentasi dalam pembuatannya. Berikut merupakan macam-macam pupuk kompos yang termasuk ke dalam produk bioteknologi, diantaranya: 1) Pupuk Bokashi Pupuk bokashi merupakan salah satu tipe pupuk anaerob yang paling terkenal. Ciri khas pupuk bokashi terletak pada jenis inokulan yang digunakan sebagai starter-nya, yaitu efektif mikroorganisme (EM4) . Inokulan ini terdiri dari campuran berbagai macam mikroorganisme pilihan yang bisa mendekomposisi bahan organik dengan cepat dan efektif. 2) Pupuk Organik Cair (POC) Adapun Pupuk Organik Cair itu adalah larutan dari hasil pembusukan bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, limbah agroindustri, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang memiliki kandungan lebih dari satu unsur hara. Pupuk organik cair dibuat dengan cara pengomposan basah. Prosesnya bisa berlangsung aerob ataupun anaerob. Pupuk organik cair dibuat karena lebih mudah diserap oleh tanaman. Dari beberapa praktek, pupuk organik cair lebih efektif diberikan pada daun dibanding pada akar (kecuali pada sistem hidroponik). Penyemprotan pupuk organik cair pada daun harus menggunakan takaran atau dosis yang tepat. Pemberian dosis yang berlebihan akan menyebabkan kelayuan daun dengan cepat. Untuk mengetahui cara membuatnya silahkan baca cara membuat pupuk organik cair. POC juga dapat meningkatkan mikroorganisme tanah yang baik untuk budidaya tanaman dan juga dapat membuat beberapa jenis tanaman menjadi lebih kebal terhadap penyakit. POC juga sangat ramah lingkungan, karena tidak mengandung bahan kimia. 3) Eco enzim Eco enzim merupakan hasil dari fermentasi limbah dapur organik, seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Eco enzim yang juga memiliki sejuta manfaat, baik pada keperluan rumah tangga ataupun kepada lingkungan. Pada kegiatan rumah tangga, Eco enzim dapat digunakan sebagai pengharum ruangan, deterjen (pencuci pakaian, piring, toilet, dan lantai), serta untuk membersihkan minyak membandel. Eco enzim juga dapat digunakan untuk menghilangkan gatal, mengeringkan luka, obat kumur, cairan relaksasi untuk 8
merendam kaki, sebagai filter udara, asap, air dan bahkan dapat membersihkan sumber air yang pada awalnya kotor menjadi bersih dan bening kembali. Dalam bidang pertanian eco enzim dapat digunakan sebagai insektisida alami atau sebagai pengganti insektisida yang beberapa di antaranya dibuat dari bahan kimia dan sebagai pupuk organik. Pada pembuatan eco enzim, prinsip fermentasi yang terjadi adalah fermentasi yang terjadi pada lingkungan anaerob pada substrat (biji-bijian dan buah-buahan) dengan menggunakan strain ragi seperti Saccharomyces cerevisiae sebagai penghasil etanol, dan bakteri seperti Lactobacillus sp. dan Acetobacter sp., yang menghasilkan berbagai asam organik. Fermentasi yang dilakukan pada wadah tertutup atau fermentasi anaerobik merupakan fermentasi yang tidak membutuhkan oksigen. Pemberian gula aren berguna untuk nutrisi selama proses fermentasi agar mikro-organisme/bakteri dapat terfermentasi dengan baik. Pada bulan pertama, eco-enzyme diproduksi dan menghasilkan alkohol. Pada bulan kedua eco-enzyme akan menghasilkan cuka, dan pada bulan ketiga akan dihasilkan enzim. Warna yang didapat tergantung dari gula arennya. Eco-enzyme yang bagus memiliki pH < 4 atau = 4. Semakin asam pH, semakin baik eco-enzyme yang dihasilkan. Kelemahan utama enzim ramah lingkungan ini adalah membutuhkan banyak lahan untuk fermentasi seperti yang terlibat dalam pembuatan kompos, serta hasilnya tidak terlalu membutuhkan jenis atau bak komposter. Botol bekas dimanfaatkan dapat dimanfaatkan secara efektif sebagai bahan fermentasi. Diharapkan dengan sampah yang selama ini dianggap tidak berguna dan akan selalu ada, setelah diberikan perlakuan dengan metode di atas dapat menimbulkan berbagai manfaat. Seperti, menjadi deterjen sehingga masyarakat tidak perlu lagi membeli berbagai macam kebutuhan pembersih. Lingkungan pun juga akan menjadi lebih baik karena tidak lagi mendapatkan paparan bahan kimia. Perbedaan Eco Enzim dengan POC yaitu: ● Eco enzim menggunakan bahan organik yang masih segar/tidak busuk, sedangkan POC dapat menggunakan bahan busuk. ● Eco Enzim biasanya hanya dibuat dari sayuran dan buah-buahan sedangkan POC bisa berasal buah, sayur, limbah rumah tangga dan juga kotoran ternak. ● Eco enzim hanya menggunakan air gula sebagai bahan fermentasi. Sedangkan POC menggunakan bakteri activator EM atau MOL. ● Eco enzym menggunakan perbandingan bahan dengan air (3:10) sedangkan POC bisa dari (1:1) atau perbandingan lainnya. 9
● Eco enzim karena hanya menggunakan bahan gula maka membutuhkan waktu fermentasi minimal 3 bulan sedangkan POC lebih cepat 2-3 minggu. ● Eco enzim menggunakan bahan terkontrol sehingga penggunaannya lebih luas bahkan untuk keperluan rumah tangga sedangkan POC hanya untuk tanah dan tanaman. 10
Sudah siapkah Anda untuk belajar? Untuk merangsang proses berpikir, jawablah pertanyaan pemantik di bawah ini, sebagai pengantar untuk memahami permasalahan mengenai pengelolaan limbah organik menggunakan prinsip bioteknologi! 1. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita, di rumah, sekolah, pasar, dan tempat lainnya. Berapa banyak sampah organik yang dihasilkan di tempat-tempat tersebut setiap harinya? 2. Apakah sampah organik tersebut bercampur dengan sampah anorganik? 3. Berakhir dimanakah sampah-sampah tersebut? Apakah diolah, dibuang ke tempat penampungan sampah, atau dibuang sembarangan di lingkungan sekitar seperti di sungai? 4. Apakah yang akan terjadi jika sampah-sampah tersebut semakin menumpuk dan tidak dikelola dengan baik? 5. Apakah anda setuju jika di sekolah terdapat tempat dan waktu khusus untuk mengelola limbah organik? Pilihan: *Setuju *Tidak Setuju *Umpan Balik Jika menjawab “Setuju” = Muncul tulisan apresiasi “Selamat kamu adalah salah satu agen pembawa perubahan menuju masa depan Indonesia yang lebih lestari dan sehat.” Jika menjawab “Tidak Setuju” = Muncul tulisan “Ayo tingkatkan lagi kecintaanmu terhadap lingkungan dengan mau mengelola sampah di sekitarmu!” - Kesadaran Berkelanjutan Pemborosan pangan di planet yang memiliki sumber daya serba terbatas ini adalah sebuah perbuatan yang tidak senonoh. Mari jangan menyia-nyiakan makanan, awali dari kita sendiri. 11
Aktifitas 1 : Memahami Masalah Sebelum kita mempelajari lebih lanjut mengenai permasalahan tentang timbulan limbah organik di sekitar kita, simaklah terlebih dahulu video berikut! https://www.youtube.com/watch?v=gXD9FqbZZtc Video food loss and waste yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals: SDG’s 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab/Resposible Consumption and Production. Kotak info SDG’s 12 Sustainable Development Goals atau SDG’s memiliki 17 tujuan. Tujuan nomor 12 SDG’s adalah konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab yaitu menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Mencapai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan berarti harus menyadari pentingnya pengurangan jejak ekologi dengan mengubah cara produksi, konsumsi makanan, dan sumber daya lainnya. Food loss sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran,buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja. Food waste Makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. 12
Ayo Berlatih! Setelah menyimak video di atas, jawablah pertanyaan berikut ini! 1. Apa yang harus dilakukan untuk mengurangi food loss? a. Merawat tanaman dengan menggunakan insektisida dan pestisida b. Makanlah sesuai dengan porsi makanmu c. Tidak menyimpan sayur dan buah terlalu lama di gudang d. Tidak menyimpan makanan untuk waktu yang lama e. Membeli makanan secukupnya saja *Kunci jawaban: C 2. Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi food waste ? a. Memasak bahan makanan dengan benar b. Mengolah bahan makanan dengan benar, memakannya secara tuntas c. Merendam bahan makanan di dalam air garam sampai seluruh kuman mati d. Memanfaatkan sayuran sisa panen untuk pakan ternak e. Membeli dan memasak makanan yang tidak disukai *Kunci jawaban: B Ketentuan: - Isilah dengan baik dan benar. - Silahkan anda cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban yang diberikan oleh guru. - Setiap soal bernilai 5 jika jawaban benar. - Jika anda sudah memperoleh nilai minimal 5, maka lanjutkanlah ke aktivitas 2. - Jika anda belum memperoleh nilai minimal 5, silahkan cermati kembali video yang disajikan dan jawab kembali pertanyaannya. Apabila anda sudah bisa menjawab, silahkan lanjutkan ke aktivitas 2. 13
Aktifitas 2. Mengidentifikasi Masalah 1 Untuk lebih memahami tentang permasalahan akan timbulan limbah organik yang dihasilkan dari food loss and waste, simaklah video dan bacalah wacana di bawah ini: Simaklah video berikut! https://www.youtube.com/watch?v=0E0NYCo11aM KASUS 1 Kearifan lokal “Ngaruat Bumi” merupakan tradisi masyarakat Cikareumbi Lembang. Dalam tradisinya, terdapat suatu kegiatan yang unik, yaitu perang tomat dengan melibatkan warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Awal mula tradisi ini adalah, melimpahnya tomat di pasaran sehingga harga tomat menjadi murah. Pada akhirnya petani merugi bahkan tidak dapat menjual hasil panen mereka. Sehingga tomat berserakan di kebun. Tradisi unik ini bernama “Rempug Tarung Adu Tomat”. Tradisi Rempug Tarung Adu Tomat atau bisa disebut sebagai perang tomat ini telah berlangsung sejak tahun 2012 lalu hingga saat ini. Dalam pelaksanaannya, warga Cikareumbi di desa Cikidang akan menyediakan ribuan tomat busuk yang disebar ke sejumlah titik. Beberapa perlengkapan lain seperti topeng dan tameng pun disiapkan untuk menambah keseruan peperangan. Tradisi perang tomat akan diadakan setiap minggu terakhir bulan Oktober. Tujuan dari acaranya sendiri adalah sebagai bentuk rasa syukur dan sebagai ungkapan membuang hal-hal buruk di masyarakat maupun penyakit yang melanda tanaman mereka. Oleh karena itu, tomat yang digunakan untuk perang tomat ini pun merupakan tomat yang dinilai tidak bisa dimakan atau tidak bisa dijual oleh petani sekitar (Jabarnews Bandung). 14
Renungkanlah! Kita perlu bangga dan mengapresiasi kearifan lokal “Ngaruat Bumi” warga Cikareumbi Lembang. Namun, sebagai peserta didik yang peduli terhadap lingkungan, kita perlu memikirkan solusi dalam pengelolaan limbah tomat yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Faktanya, timbulan limbah organik bukan hanya dihasilkan dari kegiatan perang tomat saja, tapi juga dihasilkan dari food loss and waste konsumsi masyarakat sehari-hari. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan limbah organik juga berkontribusi dalam peningkatan limbah ini. Padahal jika ditangani dengan tepat limbah organik ini dapat dimanfaatkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Ayo Berlatih! Setalah membaca wacana dan video kasus 1, jawablah pertanyaan di bawah ini: No. Pertanyaan Jawaban Benar Salah 1 Masyarakat Cikareumbi Lembang menggunakan tomat segar untuk melaksanakan tradisi “Rempug Tarung Adu Tomat” 2 Tomat dengan kondisi yang masih layak dapat diolah menjadi produk bioteknologi yaitu eco-enzim. 3 Eco enzim tidak dapat dibuat dari kulit buah, tetapi hanya dapat dibuat dari daging buah saja 4 Tomat busuk pun dapat diolah menjadi eco-enzim. 5 PCO yang dibuat dari tomat busuk dan dicampur dengan bahan lain dapat menyuburkan tanaman *Kunci Jawaban: 1. Salah; 2. Benar; 3. Salah; 4. Salah; 5. Benar Ketentuan: - Setiap soal yang anda jawab benar memiliki nilai 1 jika benar dan 0 jika jawaban kurang tepat - Jumlahkan poin yang anda dapatkan - Anda telah mengidentifikasi teknologi biologi yang berkaitan dengan pengelolaan limbah organik. - Jika pada evaluasi ini anda sudah memperoleh nilai minimal 3, silahkan lanjutkan ke aktivitas 3. - Jika anda nilai yang anda peroleh masih dibawah 3, silahkan pelajari kembali materi ajar yang sudah disediakan. Lalu kerjakan kembali evaluasi ini hingga memperoleh nilai minimal 3. Setelah itu anda boleh melanjutkan ke aktivitas 3. 15
Aktifitas 3. Mengidentifikasi Masalah 2 KASUS 2 Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan (food loss and waste) terbesar di dunia, selain Arab Saudi dan Amerika Serikat. Menurut kajian Kementerian PPN/Bappenas, sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara 115-184 kilogram per kapita per tahun. Besarnya makanan yang terbuang menjadi sampah juga berdampak pada kerugian ekonomi yang mencapai Rp 213-551 triliun per tahun atau setara dengan 4-5% PDB Indonesia. Sedangkan dampak dari sisi sosial adalah kehilangan kandungan energi yang setara dengan porsi makan 61 hingga 125 juta orang atau 29-47% populasi Indonesia. Ironisnya, tingkat kelaparan Indonesia dalam Global Hunger Index 2021 berada di peringkat ketiga di Asia Tenggara. Berdasarkan sebuah survei, sayuran merupakan jenis makanan yang paling banyak dibuang yakni sebesar 31%. Diikuti nasi (20%), daging (11%), produk susu (10%), dan ikan (10%). Masalahnya, limbah makanan akan semakin menambah akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Hal ini dikarenakan sampah organik atau sampah makanan yang terbuang di tanah menyumbang 50-55% gas metana dan 40-45% gas CO2. Pembuangan sampah makanan dapat diminimalisir dengan cara memasak atau membeli produk makanan sesuai dengan porsi makan per individu atau keluarga agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Mengolah kembali makanan yang masih layak juga dapat mengurangi kemungkinan dihasilkannya sampah makanan (Rizaty, 2021). Untuk lebih memahami data mengenai jumlah sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia, dapat diperhatikan melalui infografis di bawah ini: 16
Renungkanlah! 1. Bagaimana meyakinkan orang lain untuk mengurangi limbah makanan atau limbah organik? 2. Apakah dampak yang terjadi jika manusia tidak memiliki kesadaran dalam mengurangi dan mengelola limbah tersebut? Latihan Soal Setelah membaca wacana dan infografis pada kasus 2, jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar: No. Pertanyaan Jawaban Benar Salah 1 Limbah organik yang dibuang di tanah dapat menyumbangkan emisi rumah kaca. 2 Limbah organik yang dibuang di tanah dapat menghasilkan gas metan yang jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah gas CO2. 3 Berdasarkan hasil survey sayuran merupakan jenis makanan yang paling banyak dibuang dengan persentase sebesar 13% 4 Gas metan yang dihasilkan dari limbah organik bermanfaat bagi lingkungan 5 Mengelola makanan yang masih layak merupakan salah satu upaya mengurangi limbah organik. *Kunci Jawaban: 1. Benar; 2. Salah; 3. Salah; 4. Salah; 5. Benar Ketentuan: - Setiap soal yang anda jawab benar memiliki nilai 1 jika benar dan 0 jika jawaban kurang tepat - Jumlahkan poin yang anda dapatkan - Anda telah mengidentifikasi teknologi biologi yang berkaitan dengan pengelolaan limbah organik. - Jika pada evaluasi ini anda sudah memperoleh nilai minimal 3, silahkan lanjutkan ke aktivitas 4. - Jika anda nilai yang anda peroleh masih dibawah 3, silahkan pelajari kembali materi ajar yang sudah disediakan. Lalu kerjakan kembali evaluasi ini hingga memperoleh nilai minimal 3. Setelah itu anda boleh melanjutkan ke aktivitas 4. 17
Aktifitas 4. Mengajukan Ide/Solusi ● Berdasarkan studi kasus yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya, apakah Anda sudah memahami pentingnya mengurangi dan mengelola limbah organik? ● Tujuan akhir dari pembelajaran pada modul ini adalah membuat produk bioteknologi yang bermanfaat bagi lingkungan dan pertanian sebagai salah satu upaya untuk mencapai tujuan SDG’s 12. ● Untuk lebih memahami bagaimana perhatikan beberapa tayangan video di bawah ini: Video 1. Membuat ekoenzim tanpa ledakan https://www.youtube.com/watch?v=YU9AzKf2ZFA&t=7s Video 2. Cara membuat pupuk organik cair https://www.youtube.com/watch?v=-NgP65zcChQ&t=13 Ayo Berlatih! 1. Diantara pilihan di bawah ini, manakah yang merupakan produk yang menggunakan prinsip bioteknologi dalam pembuatannya? (Anda dapat memilih lebih dari satu jawaban) Pupuk Organik Cair Pupuk Kandang Kompos Bokashi Pupuk NPK Eko ezim Pupuk Urea 18
2. Solusi-solusi untuk pengelolaan limbah organik harus dilakukan secara efektif dan efisien dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain seperti aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial! Berdasarkan hal tersebut, pilihlah pernyataan yang benar di bawah ini! (Anda dapat memilih lebih dari satu jawaban) Selain bermanfaat bagi lingkungan, membuat eko enzim dapat juga dilakukan sebagai peluang usaha dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Kelemahan dalam memproduksi eko enzim dan pupuk organik cair memerlukan penggunaan wadah/botol yang banyak. Ekoenzim tidak baik digunakan sebagai disinfektan, karena enzim yang terkandung di dalamnya bersifat polutan. Kompos Bokashi menggunakan EM4 dalam pembuatannya. EM4 mengandung mikroba yang digunakan dalam proses fermentasi pada pembuatan kompos bokashi. Kunci jawaban: pilihan 1,2, dan 3 benar Ketentuan: - Setiap soal yang anda jawab benar memiliki nilai 50 jika benar dan 0 jika jawaban kurang tepat - Jumlahkan poin yang anda dapatkan - Anda telah mengidentifikasi teknologi biologi yang berkaitan dengan pengelolaan limbah organik. 19
Penilaian Diri Petunjuk pengisian: ● Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan teliti dan jujur. ● Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai dengan kriteria sebagai berikut: Keterangan: TS: Tidak Setuju RR: Ragu-ragu S: Setuju SS: Sangat Setuju No. Pertanyaan Pilihan Jawaban TS RR S SS 1 Saya sudah memahami permasalahan mengenai timbulan limbah organik yang diakibatkan oleh food loss and waste. 2 Saya sudah memikirkan lebih dari dua solusi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. 3 Solusi yang saya buat sudah memperhatikan prinsip bioteknologi dan memberikan kebermanfaatan dalam bidang pertanian 4 Saya mampu menjelaskan dampak timbulan limbah organik terhadap lingkungan 5 Saya mampu menjelaskan manfaat pengelolaan limbah organik yang tepat dengan memperhatikan aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Hore! Anda telah menyelesaikan modul ini hingga aktivitas 4. hitunglah perolehan nilai anda dengan cara sebagai berikut: Nilai = Total nilai yang diperoleh/Nilai maksimal x 100 Keterangan: Nilai maksimal 20 Konversi tingkat penguasaan: 90 – 100 = baik sekali 80 – 89 = baik 70 – 79 = cukup < 70 = kurang Bagaimana teman-teman, apakah nilai anda mencapai 80 ? SELAMAT, artinya anda sudah memiliki pengetahuan yang baik pada materi ini. Apabila nilai anda masih dibawah 80, Tetap Semangat untuk mengulangi aktivitas yang belum anda pahami dengan baik pada modul ini. 20
21
Kata GLOSARIUM Bioteknologi: Pengertian Ilmu pengetahuan alam dan ilmu rekayasa yang bertujuan untuk meningkatkan aplikasi organisme hidup, sel, bagian dari organisme hidup, dan/atau analog molekuler untuk menghasilkan barang dan jasa. Limbah Organik Limbah organik merupakan limbah yang dapat diuraikan secara sempurna melalui proses biologi baik aerob maupun anaerob. Limbah organik yang dapat diurai melalui proses biologi mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, potongan kayu, daun-daun kering, dan sebagainya Bokashi: Pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik semisal kompos dan pupuk kandang dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme pengurai seperti mikroba Fermentasi: atau jamur fermentasi. Food loss Food waste Proses produksi energi dalam sel dengan keadaan anaerob (tanpa oksigen) yang MOL menghasilkan perubahan biokimia organik melalui aksi enzim. POC Hilangnya sejumlah pangan pada tahap produksi, pasca panen dan penyimpanan, serta pemrosesan dan pengemasan. Zero Waste Eco Enzim Pangan yang dibuang pada tahap distribusi dan retail, serta tahap konsumsi. sDG Mikro Organisme Lokal adalah makhluk hidup berukuran sangat kecil yang dimanfaatkan sebagai starter/activator dalam pembuatan pupuk organik kompos atau pupuk organik cair (POC) yang dibuat melalui bahan-bahan sederhana/lokal. Larutan dari hasil pembusukan bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, limbah agroindustri, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang memiliki kandungan lebih dari satu unsur hara. Gaya hidup meminimalisir sampah yang berangkat dari kesadaran untuk mengurangi penggunaan benda-benda sekali pakai. hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Sustainable development goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan adalah agenda dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat di dunia · 22
DAFTAR PUSTAKA Pisang Aditya, Candra. (2017). Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Bonggol Melalui Proses Fermentasi. Diakses pada: https://core.ac.uk/download/pdf/291465296.pdf Jabarnews. (2021). Keunikan Tradisi Perang Tomat di Desa Cikidang Bandung Barat. Diakses pada: https://www.jabarnews.com/sajabar/keunikan-tradisi-perang-tomat-di-desa-cikidang- bandung-barat/. Juragan. (2021). Fungsi dan Perbedaan POC, Eco Enzym, Bio Enzym, MOL, EM dan Air Lindi. Diakses pada: https://www.idnfarmers.com/2021/10/fungsi-dan-perbedaan-poc-eco-enzym-bio.html Mairawita. (2021). Pupuk Organik Cair dan Eco Enzyme Selamatkan Bumi. Tersedia pada: https://padek.jawapos.com/opini/03/12/2021/pupuk-organik-cair-dan-eco-enzyme-se lamatkan-bumi/. Pristiandaru, Danur. (2023). Mengenal Tujuan 12 SDGs: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Diakses pada: https://lestari.kompas.com/read/2023/05/19/080000086/mengenal-tujuan-12-sdgs--k onsumsi-dan-produksi-yang-bertanggung-jawab. Rizaty, Monavia. (2021). Indonesia Kebanjiran Sampah Makanan. DIakses pada: https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/61cd12d75181b/indonesia-kebanjiran-sam pah-makanan Suhastyo, A. A. (2011). Studi Mikrobiologi dan Sifat Kimia Mikroorganisme Lokal (MOL) yang Digunakan Pada Budidaya Padi Metode SRI. Bogor: Bogor Agricultural University. Santi T. Kartika, 2006. Pengaruh pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman tomat (lycopersicum esculentum mill). Jurnal Ilmiah PROGRESSIF, Vol.3 No.9, Desember 2006. Septiani, Ulfia,. Najmi & Rina Oktavia. (2021). Eco Enzyme: Pengolahan Sampah Rumah Tangga Menjadi Produk Serbaguna di Yayasan Khazanah Kebajikan. Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat LPPM UMJ. Sibakul. (2020). Manfaat Penggunaan Kompos Untuk Tanaman. Tersedia pada: https://sibakuljogja.jogjaprov.go.id/blog/pupuk-organik-topdwe/pupuk-kompos-penge rtian-jenis-dan-manfaatnya/. Sitanggang, Delima & Margianti. (2021). Edukasi Pembuatan Kompos Bokashi dari Kotoran Hewan dan Limbah Tanaman. Diakses pada: http://kkn.undip.ac.id/?p=259233. Udin, Abay. (2020). Aplikasi Bioteknologi dalam Dunia Pertanian. Diakses pada: https://www.swadayaonline.com/artikel/6421/Aplikasi-Bioteknologi-dalam-Dunia-Pert anian/. Yuwono Dipo. 2005. Kompas. Penebar swadaya. Jakarta. 23
Search
Read the Text Version
- 1 - 24
Pages: