Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Persiapan Lahan Penanaman Tanaman Perkebunan(1)

Persiapan Lahan Penanaman Tanaman Perkebunan(1)

Published by km6 smks pertanian paba binjai, 2023-08-18 06:50:26

Description: Persiapan Lahan Penanaman Tanaman Perkebunan(1)

Search

Read the Text Version

2019 SMK/MAK jilid 1 Persiapan Lahan & Penanaman Tanaman Perkebunan bidang keahlian Agribisnis dan Agroteknologi Agribisnis Tanaman program keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan Agus Budiyanto Achmad Muzaila

PERSIAPAN LAHAN & REDAKSIONAL PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN Pengarah: Direktur Pembinaan SMK Kepala Sub Direktorat Kurikulum Kepala Seksi Penilaian Kepala Seksi Pembelajaran Penulis: Agus Budiyanto Achmad Muzaila Pengendali Mutu: Winih Wicaksono Penyunting: Rais Setiawan Erna Fauziah Editor: Radita Setyo Hardani Desain Sampul: Sonny Rasdianto Layout/Editing: Intan Sulistyani Widiarti Rifda Ayu Satriana AGRIBISNIS TANAMAN iii PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN KATA PENGANTAR Dalam menyediakan referensi materi pembelajaran bagi guru dan peserta didik di SMK, Direktorat Pembinaan SMK berupaya menyediakan bahan ajar kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di SMK pada mata pelajaran C2 dan CJ dari 142 kompetensi keahlian yang ada pada Perdirjen Dikdasmen Nomor 06/D.DS/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 tentang Spektrum Keahlian SMK/ MAK dan Struktur Kurikulum 2013 sesuai Perdirjen Dikdasmen Nomor 07/D. DS/KK/2018 tanggal 7 Juni 2018 ten tang Struktur Kurikulum SMK/MAK. Bah an ajar yang disusun pad a tahun anggaran 2019 diharapkan dapat rnenumbuhkan motivasi belajar bagi peserta didik maupun guru kejuruan di SMK. Karena bahan ajar yang telah disusun ini selain menyajikan materi secara tertulis, juga dilengkapi dengan beberapa materi yang bersifat interaktifdengan penggunaan tautan pencarian yang dapat mernperluas pernahaman individu yang menggunakannya. Bahan ajar kejuruan yang disusun pada tahun 2019 ini disusun oleh para guru kejuruan di SMK yang telah berpengalalaman menyelenggarakan proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi keahlian masing-rnasing. Oleh karena itu, diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru yang mengarnpu m a t a pelajaran yang sama pada program keahlian sejenis di SMK seluruh Indonesia. Kepada para guru penyusun bahan ajar kejuruan yang telah mendedikasikan waktu, kompetensi, clan perhatiannya, Direktorat Pembinaan SMK menyampaikan ucapan terimakasih. Diharapkan karya ini bukan merupakan karya terakhir, namun seterusnya akan dilanjutkan dengan karya-karya berikutnya, sehingga SMK rnempunyai guru-guru yang procluktif dan kreatif dalam menyumbangkan pemikiran, potensi dan kornpetensinya bagi pengembangan pernbelajaran di SMK. SMK Bisa! SMK Hebat! iv AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PRAKATA Sejak kurikulum 2013 diberlakukan, dalam perjalanannya sudah mengalami beberapa revisi penyempurnaan. Bahan ajar ini disusun berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor: 07/D.D5/KK/2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah menengah kejuruan tanggal 7 Juni 2018, Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP), Mata Pelajaran Persiapan Lahan, dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1. Mata Pelajaran Persiapan Lahan dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1 adalah kelompok pelajaran yang masuk pada Kompetensi Keahlian (C3) yang diajarkan pada kelas XI semester 3 (ganjil) dan semester 4 (genap). Mata pelajaran Persiapan Lahan dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1 akan mempelajarai tentang prinsip keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan hidup pada tanaman perkebunan, penentuan komoditas tanaman perkebunan, syarat tumbuh tanaman perkebunan, persiapan lahan tanaman perkebunan, dan teknik pengolahan tanah. Isi dalam buku ini sudah memenuhi kriteria kopetensi dan kompetensi materi bahan ajar, akan tetapi segala perbaikan tetap akan penulis lakukan demi peningkatan kualitas di masa yang akan datang. Untuk itu kritik dan saran senantiasa penulis harapkan. Penulis, Agus Budiyanto Achmad Muzaila AGRIBISNIS TANAMAN v PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................................................................................................. iv PRAKATA............................................................................................................... v DAFTAR ISI............................................................................................................ vi DAFTAR GAMBAR................................................................................................. vii DAFTAR TABEL...................................................................................................... ix PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU............................................................................. x PETA KONSEP BUKU.............................................................................................. xi APERSEPSI........................................................................................................... xii BAB I KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA, LINGKUNGAN HIDUP KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN........................................................................................ 1 A. Pengertian K3LH..................................................................................................... 2 B. Analisis Resiko Kecelakaan K3LH dalam Perkebunan................................ 10 C. Prosedur Penggunaan K3LH dalam Perkebunan......................................... 11 D. Jenis Peralatan Pelindungan Diri dalam Perkebunan................................. 13 E. Prosedur Kondisi Darurat ................................................................................. 16 BAB II PENENTUAN KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN.................................... 25 A. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas Tanaman Perkebunan................ 27 B. Produksi dan Potensi Pasar Komoditas Tanaman Perkebunan................. 31 C. Kesesuaian Tanah dan Iklim Komoditas Tanaman Perkebunan................ 33 D. Penetapan Komoditas Tanaman Berdasarkan Unsur Teknis Budi Daya.. 41 E. Pengenalan Gangguan Endemik yang Terjadi di Suatu Kawasan............ 44 F. Penentuan Komoditas dan Jenis Klon-klon Unggul.................................... 47 BAB III SYARAT TUMBUH TANAMAN PERKEBUNAN............................................... 69 A. Persyaratan Tumbuh Tanaman, Merumuskan Kondisi Tanah, Iklim, dan Lingkungan Mikro....................................................................................... 70 B. Merumuskan Kondisi Tanah, Iklim, dan Lingkungan Mikro........................ 83 C. Teknik Memodifikasi Kondisi Tanah dan Iklim dengan Teknik Budi Daya Perkebunan................................................................................................ 95 PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL..................................................................110 BAB IV PERSIAPAN LAHAN TANAMAN PERKEBUNAN...........................................116 A. Prosedur Persiapan Lahan Tanaman Baru................................................... 117 B. Prosedur Persiapan Lahan Areal Gambut.................................................... 135 C. Prosedur Persiapan Lahan Tanam Ulang (Replanting)............................. 140 D. Prosedur Pembuatan Kontur dan Tapak Kuda............................................ 145 E. Normalitas Kerja Persiapan Lahan................................................................ 150 BAB V TEKNIK PENGOLAHAN LAHAN PERKEBUNAN............................................159 A. Metode Pengolahan Tanah............................................................................. 160 B. Pemberian Perlakuan Awal Pengolahan Tanah.......................................... 169 C. Prosedur Pengolahan Tanah........................................................................... 170 D. Normalitas Kerja Pengolahan Tanah............................................................. 182 PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP..................................................................193 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................201 GLOSARIUM....................................................................................................... 204 BIODATA PENULIS..............................................................................................211 vi AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Ilustrasi Penggunaan Pestisida........................................................................... 2 Gambar 1.2 Lambang Organisas Kesehatan Dunia............................................................... 3 Gambar 1.3 Ilustrasi Pencemaran pada lingkungan Abiotik dan Biotik........................... 6 Gambar 1.4 Beragam Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja...............................14 Gambar 1.5 Kereta Lori Tebu di Kertasuara..........................................................................22 Gambar 1.6 Lambang K3LH......................................................................................................23 Gambar 2.1 Peta Posisi Giografis Indonesia.........................................................................26 Gambar 2.2 Peta Jalur Sutra Modern (One Belt One Road).................................................27 Gambar 2.3 Berbagai Komoditas Tanaman Perkebunan Indonesia................................28 Gambar 2.4 Peta Persebaran Hasil Bumi Pertanian Indonesia.........................................30 Gambar 2.5 Diagram Negara Produsen Hasil Perkebunan Dunia....................................33 Gambar 2.6 Lahan Sawit Baru Dibuka di Kab Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.............34 Gambar 2.7 Pembagian Iklim Dunia Menurut Koppen Hagen..........................................35 Gambar 2.8 Peta Sebaran Tanah di Indonesia......................................................................36 Gambar 2.9 Akses Jalan Perkebunan Sawit Riau.................................................................37 Gambar 2.10 Irigasi Permukaan pada Tanaman Tebu........................................................39 Gambar 2.11 Irigasi Curah pada Tanaman............................................................................40 Gambar 2.12 Saluran Selang Sistem Irigasi Tetas pada Tanaman...................................40 Gambar 2.13 Saluran Pipa dan Selang Irigasi Tetes pada Tanaman................................41 Gambar 2.14 Museum Perkebunan Indonesia (Musperin)................................................65 Gambar 2.15 Wisata Agro Kopi Banaran Semarang Jawa Tengah...................................67 Gambar 3.1 KlasifikasiI  klim Junghuhn untuk Menentukan Jenis Tanaman...................70 Gambar 3.2 Perkecambahan Hipogeal dan Epigeal..............................................................71 Gambar 3.3 Gambar Pertumbuhan Primer dan Sekunder pada Tumbuhan..................73 Gambar 3.4 Proses Fotosintesis..............................................................................................74 Gambar 3.5 Unsur Hara Penyusun Tanah..............................................................................78 Gambar 3.6 Lapisan Tanah........................................................................................................79 Gambar 3.7 Sistem Drainase Perkebunan Kelapa Sawit....................................................80 Gambar 3.8 Aerasi Tanah..........................................................................................................81 Gambar 3.9 Jenis-jenis Tanah..................................................................................................85 Gambar 3.10 Cara Penanaman Kelapa Sawit.......................................................................98 Gambar 3.11 Tanaman karet....................................................................................................99 Gambar 3.12. Green House (Rumah Kaca).......................................................................... 104 Gambar 3.13 Screen house (Rumah Paranet)..................................................................... 105 Gambar 3.14 Petani Kapas Sedang Melakukan Panen.................................................... 106 Gambar 4.1 Ilustrasi Lahan Perkebunan Indonesia......................................................... 117 Gambar 4.2 Alat Berat Melakukan Land Clearing di Semukut Merbau Riu................. 118 Gambar 4.3 Bulldozer Saat Melakukan Pembersihan Lahan.......................................... 119 Gambar 4.4 Pemotongan Kayu Bekas Membukaan Lahan ............................................ 120 Gambar 4.5 Pembakaran Sisa Hasil Pembersihan Lahan................................................ 121 Gambar 4.6 Pembukaan Lahan Perkebunan Sawit .......................................................... 122 Gambar 4.7 Drainase Lapangan (Field Drains).................................................................. 124 Gambar 4.8 Drainase Pengumpul (Collection Drains)....................................................... 125 Gambar 4.9 Drainase Pembuangan (Outlet Drains)........................................................... 125 AGRIBISNIS TANAMAN vii PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN DAFTAR GAMBAR Gambar 4.10 Jembatan yang Tidak Layak di Perkebunan Sawit ................................. 127 Gambar 4.11 Berbagai Jenis Tanaman Penutup Tanah Rendah Tanam Rapat .......... 129 Gambar 4.12 Berbagai Jenis Tanaman Penutup Tanah Rendah Tanam Barisan ....... 129 Gambar 4.13 Berbagai Jenis Tanaman Penutup Tanah Teras dan Saluran Air .......... 130 Gambar 4.14 Berbagai Jenis Tanaman Penutup Tanah Sedang/Perdu........................ 131 Gambar 4.15 Tanah Gambut Berwarna Kecoklatan (Gelap) dengan Tektur yang Lembek/Lunak................................................................................................................ 135 Gambar 4.16 Efek Aliran Sungai pada Garis Kontur........................................................ 145 Gambar 4.17 Ilustrasi Pembuatan Garis Kontur............................................................... 146 Gambar 4.18 Ilustrasi Korelasi antara Ketinggain Objek dengan Garis Kontur ....... 147 Gambar 4.19 Ilustrasi Punggungan (Ridge) Umumnya Memiliki Kontur U sedangkan Jurang V................................................................................................................ 147 Gambar 4.20 Logo Dinas Pertanian RI................................................................................ 156 Gambar 5.1 Pengolahan Lahan Pertanian di Indonesia.................................................. 160 Gambar 5.2 Bajak Singkal SatuB  ottom.................................................................................. 162 Gambar 5.3 Bajak Piring (Disk Plow)................................................................................... 163 Gambar 5.4 Bajak Berputar (Rotary Plow).......................................................................... 163 Gambar 5.5 Bajak Pahat/Chisel (Chisel Plow)...................................................................... 164 Gambar 5.6 Bajak Subsoil (Subsoil Plow)............................................................................. 165 Gambar 5.7 Bajak Raksasa (Giant Plow)............................................................................... 166 Gambar 5.8 Traktor Mesin Holt 75 (s/n 3580) Pertama di Dunia................................. 189 viii AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Jenis Klon Unggul Komoditas Tanaman Perkebunan.......................................64 Tabel 5.1 Pengelolaan Tanah untuk Mengurangi Kehilangan Unsur Hara.................. 176 AGRIBISNIS TANAMAN ix PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat- nya sehingga dapat menyelesaian buku ini. Buku dengan judul Persiapan Lahan dan Penanaman Tanaman Perkebunan ini diharapkan dapat menjadi panduan, memperkaya dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta didik. Mengingat pentingnya buku ini, disarankan mmemperhatikan hal-hal sebagai berikut. 1. Bacalah Tujuan pembelajaran terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang akan kamu capai dalam bab ini serta lihatlah peta konsep untuk megetahui pemetaan materi. 2. Bacalah buku ini dengan teliti dan seksama, serta bila ada yang kurang jelas bisa ditanyakan kepada guru. 3. Lakukan kegiatan literasi pada bagian cakrawala dan jelajah internet untuk memperluas wawasanmu. 4. Pada bagian akhir bab terdapat tes kompetensi yang dapat kalian gunakan untuk mengetahui apakah sudah menguasai materi dalam bab ini. Untuk membantu anda dalam menguasai kemampuan di atas, materi dalam buku ini dapat kamu cermati tahap demi tahap. Jangan memaksakan diri sebelum be- nar-benar menguasai bagian demi bagian dalam modul ini, karena masing-masing sa- ling berkaitan. Pada akhir bab dilegkapi dengan Penilaian Akhir Bab. Jika anda belum menguasai 75% dari setiap kegiatan, maka anda dapat mengulangi untuk mempe- lajari materi yang tersedia dalam buku ini. Apabila anda masih mengalami kesulitan memahami materi yang ada dalam bab ini, silahkan diskusikan dengan teman atau guru anda. Buku ini terdapat bagian-bagian untuk memperkaya dan menguji pengetahuan dan keterampilanmu. Adapun bagian-bagian tersebut adalah: Lembar Praktikum Lembar acuan yang digunakan untuk melatih keterampilan peserta didik sesuai kompetensi keahlianya. Contoh Soal Digunakan untuk memberikan gambaran soal yang akan dit- anyakan dan cara menyelesaikannya. Cakrawala Berisi tentang wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu yang sedang dipelajari. Jelajah Internet Fitur yang dapat digunakan peserta didik untuk menambah sumber belajar dan wawasan. Menampilkan link dan QR code sumber belajar. Rangkuman Berisi ringkasan pokok materi dalam satu bab. Tugas Mandiri Kegiatan yang bertujuan untuk melatih peserta didik da- lam memahami suatu materi dan dikerjakan secara individu maupun kelompok (diskusi). Penilaian Akhir Bab Digunakan untuk mengetahui sejauh mana kompetensi yang sudah dicapai peserta didik setelah mempelajari satu bab. Refleksi Kegiatan yang dapat dilakukan oleh peserta didik maupun guru di akhir kegiatan pembelajaran guna mengevaluasi dan memberikan umpan balik kegiatan belajar mengajar. Penilaian Akhir Digunakan untuk mengevaluasi kompetensi peserta didik Semester setelah mempelajari materi dalam satu semester. x AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PETA KONSEP BUKU PERSIAPAN LAHAN DAN BAB I KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN PENANAMAN TANAMAN LINGKUNGAN HIDUP (K3LH) PADA TANAMAN PERKEBUNAN PERKEBUNAN BAB II PENENTUAN KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN BAB III SYARAT TUMBUH TANAMAN PERKEBUNAN BAB IV PERSIAPAN LAHAN TANAMAN PERKEBUNAN BAB V TEKNIK PENGOLAHAN TANAH AGRIBISNIS TANAMAN xi PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN APERSEPSI Bahan ajar ini disusun berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 07/D.D5/ KK/2018 tentang Struktur Kurikulum Sekolah menengah kejuruan tanggal 7 juni 2018, Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP), Mata Pelajaran Persiapan Lahan, dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1. Mata Pelajaran Persiapan Lahan dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1 adalah kelompok pelajaran yang masuk pada Kompetensi Keahlian (C3) yang diajarkan pada kelas XI semester 3 (ganjil) dan semester 4 (genap). Mata pelajaran Persiapan Lahan dan Penanaman Tanaman Perkebunan Jilid 1 akan mempelajari tentang prinsip keselamatan, kesehatan kerja, lingkungan hidup pada tanaman perkebunan, penentuan komoditas tanaman perkebunan, syarat tumbuh tanaman perkebunan, persiapan lahan tanaman perkebunan, dan teknik pengolahan tanah. xii AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & BAB PENANAMAN TANAMAN I PERKEBUNAN KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA, LINGKUNGAN HIDUP KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN BAB I KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA, LINGKUNGAN HIDUP KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN TUJUAN PEMBELAJARAN Peserta didik dapat memahami tentang berbagai prinsip serta menerapkan Keselamtan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH) sesuai prosedur, bahan, dan alat pada komoditas tanaman perkebunan. PETA KONSEP C3 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN (ATP) Persiapan Lahan & Penanaman Tanaman Perkebunan (TP) K3LH Penentuan Syarat Persiapan Teknik Pengo- Tanaman Komoditas Tumbuh Lahan lahan Tanah Perkebunan Tanaman Tanaman Perkebunan Perkebunan Tanaman Tanaman Perkebunan Perkebunan 1. Pengertian K3LH 2. Analisis Resiko K3 3. Prosedur Penggunaan K3 4. Jenis-jenis APD 5. Prosedur kedaruratan K3LH, Analisis Resiko, Prosedur, APD, Kondisi Darurat KATA KUNCI 1 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PENDAHULUAN Gambar 1.1 Ilustrasi Penggunaan Pestisida Sumber: www.liputan6.com/read/3931551 Bedasarkan gambar di atas, rumuskan beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran Anda yang berkaitan dengan Keselamatan, Kesehatan Kerja, Lingkungan Hidup Komoditas Tanaman Perkebunan. 1. Apakah yang dimaksud dengan keselamatan kerja? 2. ____________________________________________________ 3. ____________________________________________________ 4. ____________________________________________________ 5. ____________________________________________________ Diskusikan rumusan pertanyaan tersebut dan temukan jawabannya berdasarkan pengetahuan Anda, kemudian hasilnya presentasikan di depan kelas! MATERI PEMBELAJARAN A. Pengertian K3LH 1. Pengertian K3 Kebutuhan manusia akan terpenuhi dengan cara bekerja. Dalam bekerja manusia dapat mengalami musibah. Musibah yang diakibatkan kerja merupakan resiko setiap pekerja. Guna mengatasi hilangnya sebagian ataupun seluruh penghasilan yang diakibatkan oleh adanya musibah sosial, seperti kematian atau cacat, karena kecelakaan kerja, baik kerugian fisik, dan kerugian mental, maka jaminan akan keselamatan dan kesehatan kerja sangat diperlukan. K3LH yang merupakan kependekan dari Keselamatan, Kesehatan Kerja, Lingkungan Hidup Komoditas Tanaman Perkebunan memiliki pengertian yang mencakup dua hal, yaitu, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dan Lingkungan Hidup (LH). 2 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Pertama, ilmu pengetahuan sekaligus dengan penerapannya dalam usaha mencegah terjadinya kecelakaan, penyakit, cacat, dan kerugian-kerugian lain akibat kerja merupakan pengertian dari keselamatan dan kesehatan kerja atau K3. Hal ini dikarenakan dalam keselamatan kerja yang menjadi topik pembahasannya adalah mempelajari lingkungan tempat bekerja dan teknis cara bekerja, sedangkan kesehatan kerja pembahasannya adalah kesehatan orang yang bekerja dan bersifat medis. Sedangkan suatu usaha yang dilaksanakan untuk memastikan keutuhan dan sempurnanya baik jasmani ataupun batin para pekerja, masyarakat umumnya pada hasil karya, dan budaya yang mengarah pada terbangunnya masyarakat adil makmur merupakan pengertian dari K3 secara filosofis. Gambar 1.2 Lambang Organisas Kesehatan Dunia Sumber: www.netralnews.com Menurut WHO arti dari K3, yakni suatu upaya yang memiliki tujuan untuk mengoptimalkan perlindungan kesehatan fisik, mental dan sosial tenaga kerja terhadap berbagai potensi gangguan kesehatan, serta terjadinya kecelakaan yang diakibatkan pada saat bekerja. Peraturan-peraturan yang mengatur perihal Keselamatan, Kesehatan Bekerja (K3) di Indonesia diatur antara lain dalam UU no 1 Tahun 1970, UU no 21 Tahun 2003, UU no 13 tahun 2003 dan Permen Tenaga Kerja RI no PER-5/MEN/19996. Kedua, Lingkungan Hidup (LH) atau disebut juga denagn istilah ekologi secara bahasa mempunyai arti suatu hubungan yang saling mempengaruhi antara berbagai makluk hidup dan keberadaan alam sekitarnya. Kegiatan pertanian atau perkebunan yang berkaitan erat dengan masalah lingkungan hidup. Kegiatan produksi perkebunan yang terdiri dari proses menyiapkan lahan, proses mengolah tanah, proses pembibitan dan proses menanam, pemeliharaan tanaman, proses memanen, serta proses usai pasca panen, semuanya akan terkait secara langsung dengan lingkungan. Contoh pada pembukaan persiapan lahan yang dilakukan dengan tidak hati-hati dan direncanakan dengan melakukan pembakaran, maka akan berakibat pada kerusakan lingkungan, kepunahan antara lain, sumber plasma nutfahnya, marga satwa, floran fauna, kabut asap yang membahayakan, kondisi cuaca yang ekstrim atau terjadi kemarau dahsyat serta banjir dan longsor akibat penghujan. Pola penanaman, apabila tidak mengindahkan pedoman dalam melestarikan lingkungan akan berdampak pada rusaknya alam berupa terjadinya erosi dan bencana. Serangan hama dan penyakit yang diakibatkan oleh pola tanaman monokultur, yaitu satu jenis tanaman pada hamparan lahan yang luas. AGRIBISNIS TANAMAN 3 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Dengan demikian, memberikan petunjuk bahwa orientasi untuk mengelola kegiatan lahan perkebunan selain wajib memenuhi kaidah-kaidah Keselamatan dan Kesehatan Kerja juga wajib memenuhi kaidah-kaidah keseimbangan pelestarian lingkungan hidup berupa unsur biotik dan abiotik. Manakala di alam terjadi kondisi tidak stabil, maka akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri, berupa bencana banjir, erosi, ekplosif hama, bajir, kemarau, dan lain sebagainya. 2. Tujuan K3 a. Perlindungan kesejahteraan dan penghasilan para pekerja. b. Meningkatkan produktifitas para pekerja secara personal. c. Meningkatkan perekonomian dan produksi secara nasional. d. Kondisi tempat kerja yang menjamin keselamatan para pekerja. e. Pengoprasian dan pemeliharaan sumber produksi yang efesien dan aman. 3. Cakupan K3 Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970 tentang ruang lingkup keselamatan kerja, antara lain, semua tempat bekerja di darat, air serta udara yang berada di wilayah Indonesia. Adapun cakupan pelaksanaan K3 terdiri dari tiga katagori, yaitu sebagai berikut. a. Tempat Kerja. Tempat kerja adalah setiap tempat baik terbuka atau tertutup, diam atau bergerak, sebagai tempat untuk para tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan atau usaha yang berpotensi sumber bahaya baik berada udara, darat, dan air di wilayah Indonesia. b. Tenaga Kerja. Tenaga Kerja adalah setiap individu yang berprofesi sebagai pekerja dalam perusahaan atau tempat kerja. c. Sumber Bahaya. Sumber Bahaya merupakan segala sesuatu yang memungkinkan memiliki potensi untuk menyakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja seperti, faktor-faktor biologi, kimia, fisik, fisiologi/ ergonomi, serta psikologis. Dari ke tiga unsur di atas berupa tempat kerja, tenaga kerja, dan sumber bahan kerja, menunjukkan cakupan K3 meliputi hal-hal berikut. a. Mampu melestarikan tempat kerja/lingkungan sehat. b. Mampu mengobati dan mencegak potensi kecelakaan dalam bekerja. c. Mampu mencegah serta mengobati keracunan akibat pekerjaan. d. Mampu memelihara moral, mencegah serta mengobati keracunan dalam bekerja. e. Mampu mengadaptasikan potensi yang dimiliki dengan bidang pekerjaan yang digeluti. f. Mampu melakukan rehabilitasi pekerja yang cedera atau sakit saat bekerja. Adapun ruang lingkup pekerjaan pada komoditas tanaman perkebunan antara lain sebagai berikut. a. Mempersiapkan lahan dan penanaman. b. Proses pembibitan dan kultur jaringan tanaman perkebunan. c. Proses pemeliharaan dan pengelolaan tanaman perkebunan. d. Proses panen dan pasca panen tanaman perkebunan. 4 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN e. Proses pemetaan tanaman perkebunan. 4. Fungsi K3 Fungsi dari Keselamatan, Kesehatan Kerja (K3) adalah sebagai berikut. a. Mengidentifikasi risiko/bahaya bagi tenaga kerja. b. Memberikan masukan pada saat perencanaan, penyusunan strategi pelaksanaan, proses kerja, dan penataan tempat kerja. c. Memberikan masukan, informasi, edukasi, dan survei tentang kesehatan kerja dan APD (Alat Pelindung Diri). d. Mengorganisir P3K dan tindakan darurat. e. Terlibat pada pelaksanaan rehabilitasi. 5. Pengertian Lingkungan Hidup Lingkungan tidak dapat dipisahlan dalam kehidupan manusia, baik alam maupun sosial. Udara untuk bernafas berasal dari lingkungan. Bahkan kebutuhan makan, minum, dan kesehatan terkait erat dengan lingkungan. Pengertian lingkungan adalah seluruh kondisi dan keadaan, baik langsung atau tidak langsung yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Hal itu antara lain, lingkungan biotik sesama mahluk hidup seperti, manusia, binatang, dan tumbuhan, dan lingkungan abiotik berupa benda mati seperti, udara, air, tanah, dan lainnya, serta lingkungan sosial sebagai pembentuk kepribadian. Secara bahasa, lestari mempunyai makna selalu, selamanya, tidak berubah sebagamana mestinya, melestarikan, menjadikan atau membiarkan segala sesuatu tetap seperti sediakala dengan serasi, cocok, dan sesuai. Sedangkan melestarikan, keserasian, dan keseimbangan linkungan mengandung makna, yaitu menetetapkan segala sesuatu tidak berubah dengan keserasian dan keseimbangan pada lingkungan. Pelestarian lingkungan hidup merupakan seluruh upaya yang berkesinambungan untuk melindungi daya kemampuan lingkungan hidup terhadap dampak penyebab perubahan yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan manusia agar tetap mampu mendukung kehidupan seluruh mahluk hidup. 6. Unsur-unsur Lingkungan Hidup a. Lingkungan Biotik Lingkungan biotik ialah seluruh kehidupan yang berada di bumi baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Lingkungan biotik berfungsi, antara lain sebagai berikut. 1) Kelompok Produsen, kelompok produsen merupakan segala organisme yang mampu mengubah organik menjadi anorganik dengan bantuan matahari seperti, proses fotosintesis pada tumbuhan yang menghasilkan zat hijau daun atau klorofil, proses ini disebut dengan aototrofik atau mampu menghasilkan makanan sendiri. 2) Kelompok konsumen, kelompok konsumen merupakan proses heterotrofik organisme yang hanya memanfaatkan hasil yang disediakan oleh organisme lain seperti, kelompok herbivora, karnivora dan omnivora. 3) Kelompok Pengurai, kelompok ini dapat berupa bakteri dan jamur yang berperan dalam menguraikan sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati dan menguraikannya menjadi berbagai mineral tanah, serta berbagai gas atmosfer. AGRIBISNIS TANAMAN 5 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN b. Lingkungan Abiotik Lingkungan abiotik adalah seluruh benda mati yang memiliki pengaruh terhadap kehidupn mahkluk hidup lainnya. Adapun kelompok abiotik, antara lain sebagai berikut. 1) Tanah, tanah dapat diibaratkan tubuh alam sebagai rumah makhluk hidup berikut segala aktivitasnya, hara, organik, serta air. 2) Atmosfer atau lapisan udara, atmosfer sebagai udara yang melapisi seluruh bumi yang terdiri dari berbagai macam gas serta oksigen yang dihirup manusia, hewan, dan tumbuhan untuk bernafas. 3) Air, air merupakan unsur utama untuk menunjang kehidupan, tanpa keberadaan air semua kehidupan mati. Lebih dari 70% permukaan bumi terdiri dari air, namun dari 70% besar volume air yang terdapat di bumi, hanya sebagian saja yang digunakan sebagai kebutuhan air segar. 4) Sinar Matahari, sebagai sumber energi utama bagi kehidupan. Sinar matahari berperan penting dalam proses fotosintesis. Proses ekosistem lingkungan hidup yang menyebabkan terjadinya hubungan antar komponen dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya, yang dalam hal ini disebut dengan ekologi. Ilmu ekologi adalah pengetahuan yang memberikan pelajaran perihal keterkaitan timbal balik antara unsur biotik serta abiotik pada ekosistem. Gambar 1.3 Ilustrasi Pencemaran pada lingkungan Abiotik dan Biotik Sumber: https://www.usgs.gov/ 6 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 7. Menurut UU Nomor 23 Tahun 1997 Konsep LH a. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia, serta makhluk hidup lainnya. b. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi, kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. c. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini, dan generasi masa depan. d. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam bentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas e. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. f. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. g. Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia, dan makhluk hidup lainnya. h. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. i. Pelestarian daya tampung lingkungan adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. j. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati, maupun non hayati. k. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. l. Pencemaran lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia, sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. m. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang ditenggang. n. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang AGRIBISNIS TANAMAN 7 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. o. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara, dan meningkatkan kualitas nilai, serta keanekaragamannya. p. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. q. Bahan berbahaya dan beracun, adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, serta makhluk hidup lain. r. Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia, serta makhluk hidup lain. s. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. t. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. u. Analisis mengenai dampak lingkungan adalah kajian mengenai dampak besar dan penting yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. v. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup. w. Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau instansi lainnya sesuai aturan, kebijakan dan standar perusahaan atau pimpinan. 8. Visi, Misi, Arah, serta Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Visi Pengelolaan SDA Indonesia adalah Terwujudnya Lingkungan Hidup yang handal dan proaktif, serta berperan dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, dengan menekankan pada ekonomi hijau. Misi Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia adalah sebagai berikut. a. Mewujudkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup terintegrasi, guna mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan, dengan menekankan pada ekonomi hijau. b. Melakukan koordinasi dan kemitraan dalam rantai nilai proses pembangunan untuk mewujudkan integrasi, sinkronisasi antara ekonomi dan ekologi dalam pembangunan berkelanjutan. c. Mewujudkan pencegahan kerusakan dan pengendalian pencemaran 8 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN sumberdaya alam dan lingkungan hidup dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. d. Melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik serta mengembangkan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara terintegrasi. Sasaran pembangunan untuk mewujudkan perbaikan fungsi lingkungan hidup dan pengelolaan sumberdaya alam mengutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan, meliputi hal-hal berikut. a. Pencemaran dan kerusakan lingkungan sungai, danau, pesisir, dan laut, serta air tanah dapat terkendali. b. Terlindunginya kelestarian fungsi lahan, keanekaragaman hayati, dan ekosistem hutan. c. Membaiknya kualitas udara, pengelolaan sampah, serta limbah bahan berbahaya, dan beracun (B3). d. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup terintegrasi. TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam arah kebijakan pengelolaan SDA adalah sebagai berikut. a. Melakukan kajian ulang terhadap berbagai peraturan UU yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dalam rangka sinkronisasi kebijakan antar sektor yang berdasarkan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 5 Ketetapan ini. b. Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai SDA melalui identifikasi, inventarisasi kualitas, kuantitas SDA, sebagai potensi dalam pembangunan nasional. c. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi sumber daya alam di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab sosial untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional. d. Memperhatikan sifat dan karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk SDA tersebut. e. Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan sumber daya alam yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik di masa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 5 Ketetapan ini. f. Menyusun strategi pemanfaatan sumber daya alam yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan kepentingan dan kondisi daerah maupun nasional. Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) bagi Pembangunaan Berkelanjutan dalam negara kesatuan repebulik Indonesia antara lain adalah sebagai berikut. a. Adanya rumusan parameter pengelolaan SDA yang memadai. b. Pendekatan ekosistem pengelola sumber daya alam dan linkungan hidup secara desentralisasi dan tidak hanya administratif semata. c. Peran serta masyarat dalam pengambilan keputusan, transparansi, dan kontrol sosial harus dilaksanakan. AGRIBISNIS TANAMAN 9 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN d. Pengelolaan sumber daya alam dengan pola menyeluruh, komprehensip secara utuh terkoordinasi dengan baik. e. Proses eksploitasi dan konservasi PSDA dan lingkungan hidup harus seimbang agar kualitas dan kelestariaan alam, dan lingkungan tetap terjaga. f. Tuntutan masyarakat akan keadilan, kesamaan dalam merasakan, memanfaatkan PSDA, dan lingkungan terbangun dengan baik. B. Analisis Resiko Kecelakaan K3LH dalam Perkebunan Dalam perkembangan teknis kejadiannya resiko kecelakaan yang terjadi dianggap sebagai suatu musibah yang menimpa, namun demikian sebenarnya suatu kecelakaan atau potensi kecelakaan dapat disebabkan oleh satu faktor yang berawal dari kesalahan/kegagalan baik secara person/mandiri maupun secara kolektif/bersama-sama. Proses usaha Keselamatan, Kesehatan Kerja dalam pelaksanaan secara mendasar terbagi menjadi dua tindakan, antara lain adalah sebagai berikut. 1. Tindakan Berbahaya yang Bersumber Dari Manusia a. Bekerja secara gegabah. b. Lalai dalam penggunaan Alat Pelindung Diri. c. Tidak patuh pada SOP yang telah ditetapkan. d. Tidak serius pada saat melakukan pekerjaan. 2. Keadaan Berbahaya yang Bersumber dari Lingkungan Kerja a. Perabotan, alat, dan mesin sudah tua/hampir rusak tanpa pelindung yang aman, bentuk tata letak beresiko serta menimbulkan kebisingan. b. Lingkungan tempatkerja memiliki sumber resiko, becek, licin, ventilasi kurang, penataan ruangan kerja, serta kebersihan yang tidak terjaga. Dalam menganalisis suatu kecelakaan yang beresiko timbul dan terjadi di tempat kerja, menilai besaran biaya garansi, dan perawatan bagi korban, maka berikut ini beberapa fungsi analisis kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. 1. Memperkirakan penyebab dan besarnya resiko kecelakaan. 2. Proses pencegahan utama yang dibutuhkan harus diidentifikasi sebelumnya. 3. Proses pencegahan yang dilakukan selalu dievaluasi efektifitasnya. 4. Melalukan pengawasan, peringatan dan kampanye akan dampak, resiko dan pentingnya keselamatan kerja. 5. Selalu mengupdate informasi terkait pencegahan dan pentingnya menjaga keselamatan kerja. Hasil pelaksanaan, evaluasi, serta data informasi yang telah didapat selanjutnya dilakukan analisis dalam rangka pencegahan selanjutnya, proses ini dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut. 1. Pada tempat pekerjaan berlangsung atau tempat kerja, diberikan petunjuk kewaspadaan dan peringatan di tempat yang berpotensi sering terjadi kecelakaan. 2. Dasar penyusunan peraturan, seluruh data yang diperoleh akan menjadi dasar untuk penyusunan peraturan, perundang-undangan dan aturan teknis untuk kemudian ditetapkan menjadi acuan pijakan dalam penerapan keselamatan kerja. 10 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 3. Dasar perkiraan dan penanganan besaran asuransi dan santunan yang nantinya akan disalurkan pada pekerja yang mendapatkan musibah dalam bekerja sesuai tingkat kecelakaan yang diderita. 4. Penyusunan pelaksanaan kegiatan program penanggulangan kecelakaan yang terjadi di tempat kerja oleh perusahaan atau industri, baik itu perundang- undangan, pendidikan, penelitian, pengawasan, dan pelatihan. Penyebab terjadinya kecelakaan tidak serta merta merupakan musibah sema-mata dan berlangsung secara kebetulan, tetapi dimulai oleh adanya sebab akibat, penyebab-penyebab inilah yang dianalisis dan diteliti untuk kemudian dijadikan pedoman dan aturan agar nantinya dapat dipedomani dan menjadi dasar dalam bekerja untuk mencegah potensi agar kecelakaan tidak terulang kembali. Sebab akibat terjadinya suatu kecelakaan terjadi dikarenakan ketimpangan berupa Manusia, Manajemen, Material, Materi dan Mesin atau biasa disebut Unsur 5 M. C. Prosedur Penggunaan K3LH dalam Perkebunan Peraturan pemerintah tentang prosedur keselamatan kesehatan kerja mengalami perubahan. yaitu sebagai berikut. 1. UUD 1945 Pasal 27 (2) menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan 2. Perundang-undangan yang mengatur tentang keselamatan kerja di segala macam tempat kerja di Wilayah Indonesia adalah UUKK nomor 1 tahun 1970, UU nomor 14 tahun 1969, bahwa modal utama serta pelaksanaan dari pembagunan adalah tenaga kerja. 3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.: Per.05/MEN/1996 perihal sistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja dalam pasal 2: Ayat (1) setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih, berpotensi berbahaya, karena karakteristik proses bahan produksi yang berakibat pada kecelakaan kerja seperti, peledakan, kebakaran, pencemaran, polusi, penyakit, dan akibat kerja wajib menerapkan sistem manajemen K3. Ayat (2) Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan pekerja wajib dilaksanakan oleh pengurus pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan. 4. Permentanker 50 Tahun 2012 perihal sistem manajemen keselamatan dan kesehatan Kerja pasal 1: Ayat (1) Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang selanjutnya singkat SMK3, SMK3 merupakan sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang terkait dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Ayat (2) Keselamatan dan kesehatan kerja atau disingkat K3 merupakan segala kegiatan untuk menjamin,melindungi keselamatan, dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja, dan penyakit dalam bekerja. Kesadaran penerapan prosedur K3 di Tempat Kerja terutama pada organisasi perusahaan yang bergerak pada komuditas pertanian, perkebunan saat ini semakin meningkat. Penerapan sistem manajemen mutu ISO 14000 sebagai bentuk pengakuan Standar Internasional merupakan hal yang tidak terelakan untuk dilaksanakan agar dapat diakui secara domistik dan global. AGRIBISNIS TANAMAN 11 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Prosedur K3 setiap perusahaan di Indonesia wajib melaksanakan ketentuan dengan menerapkan hal-hal berikut. 1. Menjamin komitmen terhadap penerapan dan manajemen kebijakan K3. 2. Adanya tujuan, sasaran dalam pemenuhan kebijakan penerapan K3. 3. Pengembangan mekanisme pendukung dalam mencapai penerapan kebijakan K 3 secara efektif. 4. Proses perbaikan dan pencegahan dilakukan dengan evaluasi, pemantauan, pengukuran secara berkala dan berkesinambungan. 5. Peningkatan kinerja pelaksanaan sistem K3 secara kontinu terus menerus serta berkelanjutan. Adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) atau Prosedur Operasi Standar (POS) disetiap usaha perkebunan akan dapat meningkatkan efektifitas, efesiensi dan produktifitas produksi serta kepuasan pelanggan semakin meningkat. Dengan adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilaksanakan dengan baik dan benar, maka komoditas hasil perkebunan yang memiliki tingkat metanolisme berubahan biologis, perubahan sifat, dan menurunan kualitas semenjak proses awal di kebun/lahan, pada proses panen maupun pada proses pasca panen sampai ke tangan konsumen tetap dapat terjaga akan kualitasnya. Kondisi cuaca dan kekeringan pada masa pertumbuhan tanaman perkebunan yang tidak memiliki dan mengikuti prosedur penanganan yang benar akan menyebabkan ganggunan fisiologi tanaman, kegagalan, dan kematian tanaman. Pada tahap penyimpanan hasil panen atau proses pasca panen yang apabila tidak dilakukan penanganan sesuai prosedur baik pada pengaturan suhu, dan kelembaban dalam ruang/gudang akan mengakibatkan kerusakan, karena infeksi fungi. Dengan menerapkan standar operasional prosedur dalam pengelolahan lahan perkebunan dengan baik dan benar, yakni dengan ditandai dengan adanya penyusunan pedoman kerja secara bertahap, dan terperinci yang mengatur seluruh jenis pekerjaan di kebun/lahan perkebunan serta pada proses pasca panen atau penyimpanan/pengolahan, penyusunan pedoman kerja ini harus selalu diawasi dalam proses pelaksanaannya serta dilakukan evaluasi secara berkala agar kualitas dan mutu hasilnya sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan. Pelaksanaan SOP pada proses pembudidayaan tanaman perkebunan dapat dikatagorikan pada beberapa tahapan pekerjaan, yaitu sebagai berikut. 1. Pada awal proses pembudidayaan tanaman, hal perkerjaan yang dilakukan antara lain, penyiapan lahan, pelaksanaan proses pembibitan, pekerjaan penanaman, pekerjaan pemeliharaan tanaman, serta proses pasca panen/usai panen dilakukan. 2. Standarisasi seluruh proses dan mekanisme budi daya tanaman meliputi, saat awal pembukaan lahan sampai pasca panen. 3. Kelengkapan sarana prasarana budi daya tanaman perkebunan yang mencakup sarana budi daya, pemeliharaan, pengangkutan dan pengolahan budi daya perkebunan. 12 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 4. Terlaksananya keseimbangan dan pelestarian lingkungan baik dari unsur bahan kimia dan dampak pengolahan tanah, air, dan udara serta seluruh ekosistem, unsur biotik, dan abiotik lahan perkebunan. 5. Kontinuitas pengawasan dan evaluasi secara berkala dan bertahap terhadap seluruh komponen, serta proses penanaman lahan perkebunan. Pada tahap proses pekerjaan pasca panen pada lahan perkebunan setiap komoditas tanaman perkebunan memiliki ciri khas dan perbedaan tersendiri, secara subtansial standar operasional prosedur penanganan tanaman perkebunan dapat dikelompokkan sebagai berikut. 1. Mutu hasil komoditas pekebunan. 2. Kualitas serta kuantitas hasil komoditas pekebunan. 3. Penanganan dan pengangkutan hasil komoditas pekebunan. 4. Efesiensi penanganan pasca panen komoditas pekebunan. 5. Daya saing hasil pasca panen komoditas pekebunan. 6. Nilai tambah yang diperoleh dari hasil pasca panen komoditas pekebunan. D. Jenis Peralatan Pelindungan Diri dalam Perkebunan Peralatan Pelindungan Diri atau biasa di sebut Alat Pelindung Diri merupakan seperangkat kelengkapan yang wajib digunakan pada saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja yang dilakukan baik untuk dirinya maupun orang lain. Alat Pelindung Diri (APB) sebagai seperangkat peralatan yang berfungsi sebagai peralatan untuk mengantisipasi, melindungi dan mencegah dari berbagai hal yang berpotensi membahayakan atau mnimbulkan bahaya, dan resiko kecelakaan pekerja diri sendiri dan sekitarnya pada saat melakukan aktifitas pekerjaan. Pemakaian APD wajib memenuhi kriteria dan standarisasi sesuai tingkat potensi bahaya dan resiko pekerjaan. Peraturan kewajiban alat pelindung diri di Indonesia sudah diatur melalui peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi nomor per 09/Men/VII/2010, dalam Permen ini pengusaha ataupun perusahaan wajib untuk menyediakan APD sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) bagai seluruh tenaga kerja yang diperkerjakan. Maka apabila pengusaha ataupun perusahan tidak melengkapi penyediaan APD, maka dapat diberlakukan sangsi hukum sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. AGRIBISNIS TANAMAN 13 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Gambar 1.4 Beragam Peralatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sumber: Diolah dari http://www.spks.or.id/publikasi/ Pada komoditas tanaman perkebunan Peralatan Perlindungan Diri yang digunakan, antara lain sebagai berikut. 1. APD pada tahap pembukaan lahan, antara lain, sepatu boot, helmet, sarung tangan, penutup telinga. 2. APD pada tahap pembibitan, yaitu caping, sarung-tangan, dan sepatu boot. 3. APD pada tahap penanaman, yaitu topi, kacamata, sarung-tangan, dan sepatu boot. 4. APD pada tahap pemeliharaan dan pengendalian gulma, yaitu, topi, sarung- tangan kain dan karet, sepatu AV, masker, apron/clemet. 5. APD pada tahap pemanenan, yaitu, topi/helm, kacamata, sarung-tangan, dan sepatu boot AV, sarung egrek, atau dodos. 6. APD pada tahap proses pemupukan, yaitu, topi, masker, apron atau clemet, sarung-tangan, dan sepatu AV. Fungsi Alat Pelindung Diri yang digunakan pada komuditas tanaman perkebunan, antara lain adalah sebagai berikut. 1. Penutup Kepala Penutup kepala atau disebut hemlet berfungsi melindungi kepala dan rambut pekerja dari percikan bahan-bahan atau benda-benda yang berat serta berbahaya pada saat pekerja sedang bekerja, antara lain pembersihan ranting, kayu, batu, tanah, TBS sebagai berikut. 14 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN a. Pekerjaan pembukaan lahan. b. Pekerjaan penanaman. c. Pekerjaan pemeliharaan. d. Pekerjaan pemanenan. e. Pekerjaan Pemupukan. 2. Pelindung Tangan Pelindung tangan atau sarung-tangan adalah berfungsi untuk mencegah resiko kontak tangan dengan berbagai benda tajam seperti, parang, ranting berduri, dahan berduri, TBS dan lain sebagainya. Selain itu untuk melindungi dan mencegah terjadinya kontak langsung dengan berbagai pestisida yang berbahaya. Berbagai jenis sarung-tangan dapat dipergunakan dengan menyesuaikan pada jenis pekerjaan yang sedang dilakukan baik pada saat pembukaan lahan manual, proses tanam, proses pemeliharaan, proses panen ataupun pada saat melakukan pemupukan dan pengobatan. Penggunaan sarung-tangan harus memenuhi tata cara yang benar, yaitu, mencuci tangan sebelum memakai sarung-tangan, sarung-tangan sesuai dengan postur tangan, tidak terlalu kecil, dan tidak terlalu besar, memasukkan jemari sesuai lubang pada sarung-tangan, dan dilakukan secara bergantian. Setelah selesai melakukan pekerjaan agar melepaskan sarung-tangan dan mencuci tangan kembali dengan air bersih dan mengalir, serta mencuci dan menempatkan sarung-tangan yang telah digunakan di tempat aman. 3. Pelindung Tubuh Pelindung tubuh dalam hal ini dapat berupa apron atau celemek, penggunaan apron atau celemek pada tubuh pekerja bertujuan untuk melindungi pakaian pekerja dari berbagai kemungkinan seperti, percikan pestisida yang berbahaya, di samping itu dapat memudahkan para pekerja untuk membersihkan pakaian yang digunakan. Pemilihan dan penggunaan pelindung tubuh apron harus dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur, yaitu apron menutupi seluruh pakaian yag digunakan, memasang seluruh kancing apron dan memastikan apron yang digunakan tidak mengalami kebocoran. 4. Pelindung wajah, mulut, dan hidung Pelindung wajah, mulut, dan hidung dapat berupa masker. Masker digunakan untuk melindungi bagian muka yang meliputi wajah, mulut, dan hidung dari berbagai bahan kimia, bau, ataupun percikan yang berbahaya bagi kesehatan pekerja. Pemilihan masker harus benar-benar menutupi hidup, dan mulut, serta memasang tali yang mengikat atau melingkar pada bagian belakang kepala, serta tidak menggunakan masker apabila sudah lembab dan tidak efektif agar segera dibersihkan/disterilkan. 5. Sepatu Pelindung Sepatu Pelindung atau safety berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan kaki para pekerja dari bebatuan tajam, batu kecil, duri, dan bekas penebangan, serta kemungkinan binatang berbisa yang beresiko dapat mencederai kaki perkeja. Penggunaan sepatu di perkebunan harus menutupi seluruh ujung kaki, mata kaki, sampai di bawah lutut serta tidak diperkenankan AGRIBISNIS TANAMAN 15 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN menggunakan alat kaki terbuka seperti, sandal atau sepatu sandal. Dalam penggunaan APD harus ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, yaitu sebagai berikut. a. Simulasi pemakaian yang sesuai prosedur. b. Penggunaan yang mudah, praktis, nyaman, dan modif. c. Memahami dalam penggunaan APD. d. Menekan tingkat resiko kecelakaan dan biaya yang diakibatkan. e. APD tidak bersifat individualias, tapi dapat diterima oleh pekerja lain. Persyaratan umum penyediaan Personal Protective Equipment at work Regulation 1992. Peralatan perlindung diri dikatakan efektif apabila sebagai berikut. a. Konsitensi, keserasian, dan kesesuian dengan resiko yang dihadapi. b. Bahan bakunya tahan terhadap bahaya yang akan dihadapi. c. Sesuai bagi pengguna. d. Penggunaannya mudah dan praktis tanpa menggagu kinerja. e. Bahan konstruksinya tahan dan tidak mudah rusak. f. Tidak menimbulkan masalah apabila digunakaan secara bersamaan dengan alat pelindung diri yang lain. g. Tidak berisiko pada pengguna APD. E. Prosedur Kondisi Darurat Lahan dan kondisi tanaman komuditas perkebunan yang berada di alam terbuka sangat memungkinkan terjadinya berbagai resiko dan kecelakaan bagi para pekerja perkebunan, kondisi lahan yang masih hutan atau semak belukar dapat berisiko tertusuk duri, dan gangguan binatang berbisa serta berbagai resiko lain yang harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kondisi lahan yang jauh dari pemukiman penduduk dan fasilitas kesehatan mewajibakan seluruh pekerja perkebunan dibekali kemampuan khusus agar dapat memberikan pertolongan dini apabila terjadi suatu kecelakaan pada saat bekerja. Kemampuan memberikan pertolongan dini dan pertama apabila terjadi suatu kecelakaan bagi para pekerja mutlak dilakukan agar resiko lebih jauh dan lebih parah dapat dilakukan sebelum melakukan perawatan tanaga medis yang sesuai bidangnya. Pemberian pertolongan pertama pada suatu kecelakaan akan lebih baik apabila sebagai berikut. 1. Secepatnya dilakukan sebelum pertolongan dan perawatan agar kondisinya lebih cepat dianalisa medis maupun non medis lebih lanjut. 2. Dilaksanakan dan dilakukan dengan tepat yang bertujuan untuk meringankan rasa sakit atau cidera lebih parah. Kondisi lahan perkebunan yang luas dan saling berjauhan antara beberapa orang yang dibagi secara berkelompok merupakan salah satu faktor yang menjadi keharusan setiap pekerja perkebunan harus dibekali dengan pelatihan untuk dapat melakukan pertolongan pertama pada suatu kecelakaan atau menanggulangi resiko yang diakibatkan dari suatu pekerjaan. Kemampuan dalam melakukan resusitasi jantung paru, untuk mengatasi korban tersedak, menangani korban dalam kondisi pendarahan, korban luka bakar, patah tulang, dan berbagai jenis cidera kecelakaan, yang mungkin berisiko terjadi di lahan perkebunan. Pemberian 16 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN pelatihan pada seluruh pekerja perkebunan tidak diberikan hanya satu kali tetapi harus dilakukan secara berkala maupun simultan dengan mekanisme dan pengaturan yang telah ditetapkan menjadi aturan baku yang dibukukan, hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh kemampuan pengetahuan dan keterampilan setiap pekerja perkebunan tetap berkualitas, produktif dan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Penguasaan seluruh medan areal perkebunan juga merupakan hal penting yang harus dikuasai, titik-titik yang dijadikan posko penyelematan atau pemberian pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan dapat diketahui secara pasti oleh seluruh pekerja perkebunan, termasuk kelengkapan obat-obatan pada kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelaakaan atau P3K. Pemeliharaan dan perawatan juga harus dilakukan secara berkala pada titik-titik pos kesehatan dan kotak P3K tersebut aman dari kotoran, pencemaran, maupun kondisi yang dapat merusak kotak P3K tersebut. Ada empat prinsip dasar yang harus dilakukan dalam upaya pemberian penanganan kedaruratan atau kecelakaan di lahan perkebunan, yaitu sebagai berikut. 1. Memastikan situasi kondisi tempat terjadinya kecelakaan sudah aman, dalam hal ini seorang penyelamat harus tetap fokus dan waspada agar ia tidak menjadi korban berikutnya, dikarenakan tempat terjadinya kecelakaan masih berisiko untuk dilakukan penyelamatan. 2. Memastikan terlebih dahulu dengan cepat teknis pertolongan pertama yang akan diterapkan agar dapat dilakukan dengan mudah dan efesien, tepat sasaran dan tidak malah semakin memperburuk kondisi korban. 3. Memaksimalkan dengan baik seluruh ketersediaan obat-obatan, peralatan kesehatan, dan kerjasama tim dalam usaha pertama dalam melakukan penyelamatan korban. 4. Merekomendasikan atau memberikan catatan perihal apa saja yang telah dilakukan dalam pertolongan pertama, antara lain, penyebab, tempat, dan waktu terjadinya kecelakaan serta indentitas korban, untuk kemudian dijadikan dasar dalam memberikan perawatan korban lebih lanjut. Secara umum teknis pemberian pertolongan pertama pada suatu kecelakaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1. Hindari kepanikan terutama bagi penolong korban. 2. Jangkau korban ke tempat yang mudah, aman, dan nyaman untuk dilakukan pertolongan. 3. Berikan keleluasaan bernafas dan memeriksa denyut jantung korban. 4. Lakukan penenangan bila terjadi tanda-tanda shock. 5. Lakukan pemindahan korban dengan baik dan tidak gegabah. 6. Secepatnya dilakukan rujukan pengobatan yang benar. Pertolongan pertama pada kecelakaan dapat dilakukan dengan beberapa contoh tindakan-tindakan berikut ini. 1. Penanganan Pingsan Pingsan biasanya disebabkan otak kekurangan oksigen, lapar, anime, dehidrasi, hiploglikemia, dengan mengalami beberapa gejala, yaitu, perasaan limbung, berkunang-kunang, nafas tersengal-sengal, pucat, biji mata melebar, lemas, nadi lambat, menguap berlebihan, keringat dingin. AGRIBISNIS TANAMAN 17 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Penanganan dapat dilakukan antara lain, baringkan korban dengan terlentang, tungkai lebih tinggi dari jantung, longgarkan pakaian dan yang menghambat pernafasan, berikan udara segar, selimuti, istirahatkan beberapa saat, periksa nadi, dan pernafasan segera rujuk ke fasilitas kesehatan. 2. Penanganan Dehidrasi Dehidrasi disebabkan oleh kehilangan cairan yang terlalu banyak, terlalu banyak mengeluarkan keringat karena udara panas atau aktifitas yang telalu berlebihan, dan kurang minum atau kurang cairan eloktrolit K, Na, Cl dan Ca. Adapun gejala dehidrasi adalah merasa haus yang sangat, nadi berdenyut lebih dari 90 x permenit, cairan elektrolit antara dalam tubuh 5% s.d 10% dari berat badan pada kondisi berat dehidrasi dapat berupa terjadinya hipotensi, mata cekung, kejang, dan nadi tidak terasa. Penanganan dehidrasi dapat dilakukan dengan menjaga asupan minum yang cukup, minum pengganti elektrolit, dan mengatasi komplikasi yang ditimbulkan. 3. Penanganan Asma. Asma biasanya disebabkan oleh terjadinya gangguan penyempitan saluran penafasan, terjadinya irama nafas tidak beraturan, meracau gelisah, kulit berubah warna, otot dileher membesar, susah melakukan tarisan nafas, dan terdengar dua suara bila bernafas. Asma dapat ditangani dengan menenangkan, mengatur ritme nafas, dudukkan ½ berbaring, berikan udara segar, dan oksigen bila penting. 4. Penanganan Memar Memar diakibatkan oleh benturan keras sehingga menyebabkan terjadinya pendarahan disekitar lapisan bawah kulit, hal ini ditandai dengan bengkak, nyeri, atau warna kulit menjadi kebiruan. Dengan mengompres menggunakan air dingin, memberi balutan, tekan dan meninggikan bagian yang memar dapat meringankan sakit akibat memar. 5. Penanganan Luka Luka atau terputusnya berupa kontinuitas jaringan tubuh secara tiba-tiba karena ketidak sengajaan/kecelakaan atau kekerasan, yang ditandai pendarahan, kulit/dagung tebuka dan rasa nyeri. Dengan melakukan penanganan berupa, membersihkan luka dengan anti septik, membalut atau menutup dengan kain kasa steril, dan melakukan perawatan sampai luka mengering. 6. Penanganan luka bakar Luka bakar terjadi karena sentuhan bagian tubuh dengan api atau benda sumber panas, listrik, dan zat yang bersifat membakar. Api dan sumber api dapat padam dengan menyetop sumber udara/oksigen atau menutup dengan cairan pemadam api. Penanganan luka bakar dapat dilakukan dengan menutup luka yang terbakar dan tidak melengket, jangan memberi zat yang tidak larut dalam air, dan berusaha luka bakar tidak tersentuh benda lain dan tetap streril. 7. Penanganan Gigitan Ular Tidak semua ular mengandung bisa racun, tetapi yang perlu dicermati adalah diagnosa yang tepat apakah gigitan ular tersebut beracun atau tidak, sifat racun ular dapat berupa hemat atoksin atau racun dalam, neurotosin racun 18 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN sistem syaraf, dan histaminik racun yang hanya menyebabkan alergi. Tindakan pada penderita gigitan ular, yaitu melentangkan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung, beri ketenangan pada penderita, cegah penyebaran bisa dengan ikatan kecil, dan tidak sampai menghambat aliran arteri, hindari luka bisa dengan larutan asam atau benda/suhu panas, renggangkan sesekali selama 30 detik, kompres dengan air dingin/es, lakukan pengeluaran bisa secepat mungkin, berikan minum kopi pahit, segera beri suntikan anti bodi. 8. Penanganan Gigitan Lipan Lipan memiliki tubuh pipih dan memiliki bentuk segmen menyerupai cacing namun memiliki kaki banyak, memiliki persendian dan pada bagian kepalanya memiliki racun yang disuntikkan melalui gigitan. Lipan yang memiliki warna merah adalah lipan yang sengat berbisa. Gigitannya akan menimbulkan luka dan terasa terbakar, pegal, dan sakit serta kesemutan. Gigitan Lipan apabila didiamkan dapat bertahan 4-5 untuk kemudian hilang dengan sendirinya. Melakukan kompres dengan air dingin dan mencuci dengan antiseptik akan cepat meringankan korban. 9. Gigitan Lintah dan Pacet Lintah merupakan hewan yang hidup dalam air, bentuk tubuhnya pipih bergelang hitam dan coklat tua, lintah mengisap darah melalui mulut yang berada diujung tubuhnya. Sementara pacet adalah binatang sekerabat dengan cacing tanah namun berwarna cokelat kekuning-kuningan sampai hitam, di bagian kepalanya terdapat lima pasang mata dan alat pengisap dan pada bagian belakang terdapat alat pelekat, berjalan seperti ulat jengkol, dan dapat mengecil sampai seukuran benang. Gigitan lintah biasanya akan menimbulkan pembengkakan, gatal dan kemerah-merahan. Penanganan pertama untuk dapat melepaskan dari tubuh dengan menggunakan air tembakau atau air garam, dan mengoleskan obat atau salep anti gatal sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut di fasilitas kesehatan. Dalam melakukan proses pertolongan pertama pada korban dalam kecelakaan kerja di perkebunan penolong harus memiliki kondisi fisik prima, memiliki kemampuan teknis penyelematan yang baik dan benar serta memiliki konsenterasi fokus dan tidak mudah panik. Pada sisi lain faktor medan, keadaan korban serta kelengkapan alat penyelamatan menjadi kunci kecepatan dan keberhasilan pertolongan pertama pada korban kecelakaan. Keberadaan jumlah orang dan alat pendukung pertolongan pertama dapat dilakukan dengan teknik berikut ini. 1. Penolong terdiri dari satu orang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Dipondong atau membawa korban dengan meletakkan di atas kedua belah lengan di depan dada, hal ini dilakukan jika korban anak kecil atau memiliki tubuh ringan. b. Digendong atau kondisi korban dalam keadaan sadar dan bukan patang tulang serta berat badan korban ringan. c. Dipapah, yaitu apabila korban kecelakaan tidak mengalami luka di atas bahu. d. Dan berbagai teknik lain seperti, dipanggul, atau dibawa dalam kondisi miring, dengan melihat kondisi korban AGRIBISNIS TANAMAN 19 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 2. Penolong terdiri dari dua orang dapat dilakukan dengan cara diangkut atau dibawa dengan menggunakan tandu, atau dipondong dengan menyatukan dua tangan saling berpegangan. 3. Kemudian alat yang dapat dijadikan sebagai pembantu dan pendukung dalam melaksanakan proses penyelamatan pertama pada kecelakaan dalam perkebunan antara lain, dapat berupa tali, kain keras, ponco, tandu darurat, baik permanen maupun portable, dan berbagai jenis peralatan pertolongan lainnya. LEMBAR PRAKTIKUM Tujuan LEMBAR KERJA 1 Alat dan Bahan DISKRIPSI KESELAMATAN dan KESEHATAN KERJA Tugas Dengan disedikan alat dan bahan peserta didik mampu mendiskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja. 1. Macam bahan Pestisida. 2. Alat-alat APD. 3. Alat-alat Kerja Perkebunan. Lakukan hal berikut ini. 1. Identifikasi unsur/bahan beresiko tinggi. 2. Identifikasi komponen keselamatan kerja. 3. Identifikasi resiko pekerjaan. 4. Identifikasi APD. 5. Identifikasi perlindungan bahaya fisik, suara, terik cahaya. Tujuan LEMBAR KERJA 2 Alat dan MELAKUKAN PROSEDUR DAN INTRUKSI KERJA Bahan Tugas Peserta didik mampu melakukan dan melaksakana Prosedur dan Intruksi Kerja. 1. Lahan yang akan diperlakukan. 2. Alat-alat APD. 3. Alat-alat Kerja Perkebunan. Lakukan hal berikut ini: 1. Cara menggunakan APD. 2. Ketelitian dan kehati-hatian dalam penggunaan alat dan bahan berbahaya. 20 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN LEMBAR PRAKTIKUM Tujuan LEMBAR KERJA 3 Alat dan MENERAPKAN PEKERJAAN SESUAI SOP Bahan Peserta didik mampu melakukan dan melaksakana sesuai SOP Tugas 1. Hand Sprayer. 2. Ember. 3. Timbangan. 4. Sarung Tangan. 5. Masker. 6. Gelas Ukur. 7. Kaca Penutup Mata. 8. Roundup. Lakukan hal berikut ini. 1. Cara menggunakan APD. 2. Ketelitian dan kehati-hatian dalam penggunaan alat dan bahan berbahaya. 3. Demonstrasi melaksanakan penyemprotan pengendalian gulma. Tujuan LEMBAR KERJA 4 Alat dan MELAKUKAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN Bahan Peserta didik mampu melakukan pertolongan Tugas pertama pada kecelakaan. 1. Air bersih/murni 2. Bethadin 3. Perban 4. Plester 5. Tandu Lakukan hal berikut ini. 1. Identifikasi obat yang diperlukan. 2. Prediksi jenis pertolongan pertama pada pekerjaan. 3. Penyiapan obat dan alat dalam kecelakaan. 4. Pelaksanaan pertolongan pertama pada kecelakaan. AGRIBISNIS TANAMAN 21 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN CAKRAWALA PENERAPAN K3LH PERTAMA KALI DI INDONESIA Tahukah kalian bahwa usaha K3 sudah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1847, yaitu ketika mesin uap dipergunakan dalam proses pengangkutan dan pengolahan pada industri perkebunan tebu atau pengolahan gula. Dengan Staatsblad nomor 20 pemerintah kolonial belanda mengatur keselamatan dalam Gambar 1.5 Kereta Lori Tebu di Kertasuara penggunaan pesawat uap dan secara Sumber: www.idntimes.com resmi diawasi oleh suatu lembaga bentukan belanda yang diberi nama lembaga Dienst Van Het Stoomwezen. Kemudian kolonial Belanda mengeluarkan undang-undang keselamatan kerja yang populer dengan undang-undang Veiligheid Regelement disingkat VR Stbl nomor 521 tahun 1905, selang beberapa puluh tahun kemudian pemerintah kolonial Belanda menyempurnakan dengan stbl 406 tahun 1930 dan menjadi landasan penerapan K3 di Indonesia. JELAJAH INTERNET Untuk menambah wawasan pengetahuan Anda tentang Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) pada komoditas Tanamaan Perkebunan, scan dan kunjungilah situ website di bawah ini, kemudian kemukakan hasil pendapat Anda tentang posisi Indonesia dalam hal penerpan K3LH dalam bentuk tulisan dan kumpulkan ke guru Anda! Sumber: https://nasional.tempo.co/read/1272378/asean-komitmen-perkuat- implementasi-k3 https://economy.okezone.com/read/2019/04/25/320/2047831/pentingnya- aspek-kesehatan-dan-keselamatan-kerja-di-era-4-0 22 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN RANGKUMAN Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) pada dasarnya adalah terpenuhinya prinsip-prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja baik jasmani, rohani, dan alat, bahan yang digunankan serta terpenuhinya keseimbangan pelestarian lingkungan hidup biotik dan abiotik. Dalam pelaksanaannya penerapan K3LH harus mengetahui, memahami dan menganalisis resiko dari unsur manusia itu sendiri serta lingkungan kerja atau disebut 5 M, yaitu, Manusia, Manajemen, Material, Materi dan Mesin. Prosedur K3LH harus mengarah kepada Standard Opersional Prosedur (SOP) sesuai manajemen dan tahapan dalam pekerjaan yang dilaksanakan secara bertahap awal pembukaan lahan, penanaman, pemeliharan, panen, dan pasca panen, hingga hasil produktifitas panen. Alat Pelindung Diri (APD) sebagai pelindung dari bahaya dan resiko kerja dapat efektif berfungsi apabila dilakukan dengan baik dan benar sesuai jenis dan resiko pekerjaan.Prosedur kondisi darurat apabila dilakukan sesuai prinsip yang telah ditetapkan baik pada penanganan pertama kali maupun pada proses evakuasi. TUGAS MANDIRI Coba Anda artikan dan maknai Lambang K3 seperti gambar di atas sebagaimana yang tertuang dalam Kepmenaker RI 1135/MEN/1987 prihal Bendera Keselamatan dan Kesehatan Kerja, kemudian Anda presentasikan di depan kelas. Gambar 1.6 Lambang K3LH Sumber:http://hima-k3.ppns.ac.id/ PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan Soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar! Soal Observasi 1. Lakukan observasi ke masyarakat (pengusaha) dalam kegiatan tentang melaksanakan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan hidup pada tanaman perkebunan tahunan! 2. Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat yang berbeda. 3. Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat tentang melaksanakan keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan hidup pada AGRIBISNIS TANAMAN 23 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PENILAIAN AKHIR BAB tanaman perkebunan tahunan. 4. Siapkanlah daftar pertanyaan yang mencakup tentang melaksanakan K3LH pada tanaman perkebunan tahunan! 5. Dengan menggunakan pertanyaan yang telah dibuat, kemudian lakukan observasi, mengumpulkan data dari fakta yang ada secara lengkap di lapangan! 6. Dari hasil observasi selanjutnya lakukan perumusan kegiatan apa yang dilakukan oleh masyarakat dan mampu memberikan kontribusi secara positif tapi belum ada pada konsef dasar dan mengidentifikasi apa yang ada pada konsep dasar tetapi belum dilakukan oleh masyarakat, dan bila dilakukan akan mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan produktifitas lahan! 7. Buatlah daftar kesenjangan/perbedaan yang Anda temukan dan ekspresikan baik secara lisan (diskusi) maupun tertulis (laporan)! Soal Uraian: 1. Jelaskan pengertian dari keselamatan kerja! 2. Jelaskan tujuan dari keselamatan kerja! 3. Sebutkan beberapa APD untuk bidang pekerjaan pertanian di lapangan! 4. Jelaskan penyebab kecelakaan yang ditimbulkan dari manusia sendiri! 5. Jelaskan tujuan yang ingin dicapai dari penerapan SOP penanganan pasca panen tanaman tebu! 6. Bagaimana cara menangani orang yang terkena gigitan ular? REFLEKSI Dari materi K3LH di atas, coba Anda renungkan apakah dalam keseharian masyarakat di sekeliling kita sudah memiliki kesadaran akan pentingnya K3LH dan bagaimana pula penerapannya di masyrakat sekeliling Anda? Diskripsikan pendapat Anda kemudian kemukakan di depan kelas berikut dengan argumentasi Anda! 24 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & BAB PENANAMAN TANAMAN II PERKEBUNAN PENENTUAN KOMODITAS TANAMAN PERKEBUNAN BAB II PENENTUAN KOMODITAS TANAMAN PERKEBU- NAN TUJUAN PEMBELAJARAN Dalam mempelajari bab ini diharapkan peserta didik dapat mengidentifikasi dan menentukan jenis komoditas tanaman perkebunan untuk dibudidayakan. PETA KONSEP C3 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN (ATP) Persiapan Lahan & Penanaman Tanaman Perkebunan (TP) K3LH Penentuan Syarat Persiapan Teknik Pengo- Tanaman Komoditas Tumbuh Lahan lahan Tanah Perkebunan Tanaman Tanaman Perkebunan Perkebunan Tanaman Tanaman Perkebunan Perkebunan 1. Kebijakan Pemerintah Pasar Komoditas TP 2. Produksi dan Potensi Pasar Komoditas TP 3. Kesesuaian Tanah Iklim Pasar Komoditas TP 4. Penetapan Komoditas berdasarkan unsur Teknik Budidaya 5. Pengenalan gangguan endemik yang terjadi di suatu kawasan 6. Penentuan komoditas dan jenis klon unggul KATA KUNCI Potensi Komoditas Perkebunan, Budi Daya Klon Unggul-Gangguan Endemik AGRIBISNIS TANAMAN 25 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN PENDAHULUAN Gambar 2.1 Peta Posisi Giografis Indonesia Sumber: http://maritimnews.com/ Perhatikan gambar Peta di atas! Setelah memperhatikan Peta Posisi Giografis Indonesia di atas, coba buatlah pertanyaan singkat berkaitan dengan Potensi Pasar dan Sumber Daya Alam dalam wilayah negara Indonesia di kawasan internasional. 1. ............................................................................................................ 2. ............................................................................................................ 3. ............................................................................................................ Diskusikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan temukan jawabannya berdasarkan pengetahuan Anda, kemudian hasilnya presentasikan di depan kelas! 26 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN A. Kebijakan Pemerintah pada Komoditas Tanaman Perkebunan Gambar 2.2 Peta Jalur Sutra Modern (One Belt One Road) Sumber: https://nasional.sindonews.com/ Indonesia secara geografis sangatlah strategis, karena menjadi jalur utama perjalanan lalu lintas perdagangan dunia, antara berbagai negara Asia Timur dengan berbagai negara di Eropa, serta berbagai negara di kawasan Afrika, dan Timur Tengah, serta India. Berbagai komoditas dari China, Jepang, dan negara lainnya melewati Indonesia menuju negara tujuan di Eropa. Indonesia juga dilewati jalur perdagangan dari Asia ke arah Benua Australia dan Selandia Baru. Jika dibandingkan dengan Australia dan Amerika Serikat ataupun Eropa, maka luas Indonesia secara keseluruhan adalah sebagai berikut. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km2 dan luar perairan Indonesia seluas 3.257.483 km2 yang jika ditotal luas seluruh negara kesatuan republik Indonesia + 5.180.053 km2, atau salah satu negara yang memiliki garis pantai sepanjang 99.030 km yang terdiri dan meliputi 13.466 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, atau berbatasan dengan samudra Hindia sebelah barat dan Samudra Pasifik sebelah timur. Kekayaan sumber daya alam Indonesia yang sudah diakui sejak awal zaman perjalanan Samudra oleh orang-orang Eropa, sumber daya alam berupa komoditas tanaman perkebunan seperti, cengkeh, kakao, kelapa sawit, tebu, dan berbagai jenis tanaman komoditas perkebunan telah menjadi komoditas unggulan yang diperebutkan oleh bangsa yang berada di kawasan Eropa, kawasan Asia Timur seperti, China serta berbagai negara Asia Selatan lainnya seperti Hindia. Kondisi kekayaan alam inilah yang menyebabkan Indonesia secara geografis menjadi salah satu jalur perdagangan yang sangat padat yang dilintasi oleh berbagai perlayaran AGRIBISNIS TANAMAN 27 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN dan pertemuan berbagai bangsa kawasan Eropa dan Asia yang saling melakukan perdagangan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan mereka, khususnya yang berada di kawasan sub tropis atau cuaca dingin. Petani sebagai profesi terbesar yang ditekuni oleh mayoritas penduduk Indonesia menyebabkan lebih kurang 82,71% luas lahan Indonesia merupakan lahan pertanian, jumlah luas inilah yang menjadikan Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris. Jenis pertanian di Indonesia dapat dikelompokkan kepada beberapa komoditas, antara lain komoditas tanaman pokok seperti, produk tanaman persawahan seperti, padi, produk tanaman ladang seperti, jagung, ubi, kacang tanah. dan kedelai, produk tanaman holtikultura seperti, sayur mayur, berbagai jenis bawang, kentang, kubis, dan wortel, serta buah-buahan seperti salak, pepaya, pisang, jeruk, durian, dan mangga. Sedangkan produksi tanaman perkebunan Indonesia terdiri dari dua jenis produk tanaman besar, yaitu kelompok tanaman perkebunan semusim seperti, jarak, serai wangi, tebu, nilam, tembakau, kapas, rami, dan produks komoditas tanaman perkebunan tahunan yang mendominasi jenis komoditas tanaman perkebunan, antara lain seperti, kelapa deres, aren, sagu, karet, kelapa, kopi, kelapa sawit, cengkeh, pala, kayu manis, panili, siwalan, nipah. kemiri, pinang, dan asam jawa. Gambar 2.3 Berbagai Komoditas Tanaman Perkebunan Indonesia Sumber: https://www.kompasiana.com/ 28 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Tanaman perkebunan semusim merupakan jenis tanaman yang memiliki siklus sekali panen setiap tahun. Sementara tanaman perkebunan tahunan adalah jenis tanaman yang membutuhkan waktu yang lama untuk berproduksi dan mampu berproduksi sampai puluhan tahun dan dapat dilakukan pemanenan sepanjang tahun atau terus menerus. Tidak dapat dipungkiri komoditas tanaman perkebunan sangatlah berperan penting dalam peningkatan pembangunan nasional, baik sebagai penyumbang sumber devisa negara, meningkatkan kesejahteraan rakyat serta penyedia lapangan pekerjaan yang sangat menjanjikan. Sebutan komoditas tanaman perkebunan sebagai tanaman industri/perdagangan membuktikan bahwa komoditas tanaman perkebunan memiliki peluang bisnis yang sangat besar dan menjanjikan serta dapat dengan mudah bersaing secara global internasional. Secara implementasi menurut perundang-undangan nomor 18 yang dikeluarkan pada 2004 tentang Perkebunnan, Direktorat Jenderal Perkebunan telah menetapkan visi misi Direktorat Jendral Perkebunan. Visi Direktorat Jenderal Perkebunan adalah terwujudnya peningkatan produksi, produktivitas, serta mutu tanaman perkebunan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkebunan. Misi Direktorat Jenderal Perkebunan Republik Indonesia, sebagai berikut. 1. Memfasilitasi peningkatan produkksi, produktivitas, dan mutu tanaman. 2. Memfasilitasi penyediaan benih unggul bermutu, serta sarana produksi. 3. Memfasilitasi perlindungan tanaman dan gangguan usaha perkebunan. 4. Memfasilitasi pengembangan usaha perkebunan serta pertumbuhan kemitraan yang sinergis antar pelaku usaha perkebunan berkelanjutan. 5. Mendorong penumbuhan dan pemberdayaan kelembagaan petani serta memfasilitasi peningkatan partisipasi masyarakat. Kemudian juga dijelaskan bahwa kriteria umum pengembangan kawasan berbasis komoditas perkebunan antara lain sebagai berikut. 1. Kawasan eksisting atau kawasan berpotensi dari masing-masing jenis budi daya tanaman perkebunan. 2. Jenis pengusahaan rakyat atau besar. 3. Pengusahaan dengan skala terintegrasi dengan unit pengolahannya. 4. Mitra dengan usaha perkebunan rakyat berkelanjutan. 5. Memiliki keterkaitan dengan pengolahan dan pemasaran hasil. 6. Dapat ditingkatkan produksi dan produktivitasnya. 7. Pengembangan pengolahan skala wilayah. 8. Pengembangan kebersamaan ekonomi petani melalui pemberdayaan. 9. Arah pengembangan menuju prinsip pembangunan berkelanjutan. 10. Sejalan dengan Renstra Kementan, Ditjenbun. 11. Dukungan dari Pemerintah Daerah dan swadaya masyarakat. Lebih lanjut menjelaskan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD.310/9/2006 pada tanggal 12.09.2006 tentang Jenis Komoditas Tanaman Binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, terdapat 127 komoditas binaan. Prioritas penanganan difokuskan pada 15 komoditas strategis yang menjadi unggulan nasional, yaitu sebagai berikut. AGRIBISNIS TANAMAN 29 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 1. Karet 2. Kelapa Sawit 3. Kelapa 4. Kemiri Sunan 5. Tebu 6. Kapas 7. Tembakau 8. Nilam 9. Kakao 10. Kopi 11. Lada 12. Jambu Mente 13. Teh 14. Cengkeh 15. Jarak Pagar Sedangkan untuk Pemerintahan di daerah didorong melakukan pembinaan pada berbagai komoditi spesifik dan potensial di wilayahnya. Gambar 2.4 Peta Persebaran Hasil Bumi Pertanian Indonesia Sumber: https://www.plengdut.com Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia 28 yang diterbitkan pada tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, maka komoditi Perkebunan yang terkait dengan pengembangan Industri Agro adalah kelapa, kopi tebu, tembakau, kelapa sawit, karet, dan kakao. Berikut provinsi utama penghasil komoditas strategis perkebunan, antara lain sebagai berikut. 1. Kelapa Sawit, sentra penghasilan adalah di pulau Sumatera Utara, Riau, Kalteng, Sumsel, Kalbar, Jambi, Kaltim, Sumbar, dan Kalsel. 30 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 2. Kelapa, Riau, Sulawesi Utara, Jateng, Jabar, dan Sulawesi Tengah. 3. Karet, Sumsel, Sumut, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. 4. Kopi, Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, Jatim, Bengkulu, Sumut, Sulsel, dan NTT. 5. Kakao, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. 6. Tebu, Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. 7. Tembakau, Jatim, Jateng, dan NTB. B. Produksi dan Potensi Pasar Komoditas Tanaman Perkebunan Jumlah penduduk Indonesia yang bertempat tinggal dan mendominasi di daerah pedesaan bekerja sebagai petani dan sejak dulu kala sudah dikenal dengan masyarakat agraris yang mengolah tanah secara tradisional dan bekerja secara gotong royong telah menjadi tradisi turun temurun dilakukan. Sampai dengan saat ini lebih dari 50% pekerjaan berada di sektor pertanian. Seharusnya karena faktor iklim, geologis, dan letak geografis yang strategis menjadikan peluang yang besar dalam mengembangkan usaha di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan sebagai sumber ketahanan pangan, sumber devisa bangsa, dan daya saing, serta sebagai produk eksport. Pada saat ini komoditas pertanian menggunakan 30% lahan di Indonesia, secara umum skala pertanian di Indonesai terdiri dari dua jenis, sebagai berikut. 1. Perkebunan besar, yaitu lahan pertanian dan perkebunan yang dimiliki atau dikelola oleh negara dan perusahaan swasta nasional dengan luas lahan yang besar, modal kuat, atau besar, penggunaan mesin berkapasitas besar/maju, pengelolaan modern. 2. Perkebunan kecil atau rakyat, yaitu lahan pertanian dan perkebunan yang dimiliki atau dikelola oleh perorangan atau petani tradisional dengan modal yang kecil, luas lahan relatif sempit, penggunaan alat tradisional, dan pengolahan hasil dengan cara konvensional. Atas asas kemanfaatan yang berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, berkeadilan, serta dilakukan secara keterbukaan haruslah dilaksanakan agar tujuan penyelenggaran perkebunan dapat tercapai. Kemudian untuk mencapai asas penyelenggaraan perkebunan, maka ditetapkanlah tujuan perkebunan di Indonesia, antara lain sebagai berikut. 1. Pendapatan masyarakat dapat meningkat. 2. Penerimaan negara terus mengalami peningkatan. 3. Penghasilan devisa negara meningkat. 4. Lapangan kerja dapat tersedia dengan mudah. 5. Produktivitas, nilai tambah, dan daya saing bangsa meningkat. 6. Bahan baku dan komsumsi industri dalam negeri terpenuhi. 7. Sumber daya alam secara berkelanjutan dapat dikelola secara optimal. Selaras dengan tujuan penyelenggaraan perkebunan, maka fungsi perkebunan di Indonesia antara lain mengarah kepada hal berikut ini. 1. Secara ekonomi adalah meningkatan kemakmuran, kesejahteraan rakyat serta penguatan struktur ekonomi wilayah, dan nasional. AGRIBISNIS TANAMAN 31 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN 2. Secara ekologi adalah peningkatan konservasi tanah, dan air, penyerap karbon, penyedia oksigen, dan penyangga kawasan lindung. 3. Secara sosial budaya adalah sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Dari asas, tujuan dan fungsi perkebunan di Indonesia dapatlah diambil kesimpulan,bahwa potensi komoditas tanaman perkebunan Indonesia sangatlah besar dan dipergunakan dalam rangka tercapainya kemakmuran rakyat dan keadilan sosial serta kelestarian SDA Indonesia. Tantangan dalam kawasan global atau internasional komoditi perkebunan Indonesia masih terus mengalami tekanan, namun demikian pengembangan Perkebunan berkelanjutan adalah hal yang mutlak terus dikembangkan. Tantangan Komoditi Perkebunan berkelanjutan antara lain sebagai berikut. 1. Indonesia baru memiliki ISPO atau Indonesian Sustainable Palm Oil sebagai pedoman penerapan Perkebunan Kelapa Sawit, di mana dari 700 Perusahaan Perkebunan baru 149 yang memiliki Sertifikat ISPO. 2. Aspek legalitas lahan menjadi kendala utama dalam pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO. 3. Tingkat kesadaran pelaku usaha perkebunan dan perusahaan terhadap penerapan prinsip pembangunan perkebunan berkelanjutan masih terbatas. 4. Masih terbatasnya infrastruktur pendukung penerapan perkebunan berkelanjutan, SDM pembina yang memahami prinsip dan kriteria perkebunan berkelanjutan, lembaga sertifikasi, auditor. 5. Masih terbatasnya metode yang menjadi acuan penerapan prinsip dan kriteria perkebunan berkelanjutan. 6. Penerapan Sertifikasi berbasis keberlanjutan antara lain, Komoditi Kelapa Sawit, yaitu, RSPO dan ISCC. Komoditi Kopi, yaitu, UTZ, Raiforest Alliance, 4C, Fair Trade, Coffe Practice, Organik. Komoditi Teh,yaitu, Ethical Tea, Organik, Teh Lestari. Komoditi Kakao, yaitu Organik, Sustainable Cocoa Partnership, Kakao Lestari. Komoditi Mete dan Pala, yaitu Organik. Komoditi Gula Aren, Semut, yaitu Organik. Dari data Kementrian Pertanian tahun 2015 disebutkan bahwa Indonesia adalah termasuk negara lima besar pemasok kebutuhan komoditas perkebunan dunia adalah sebagai berikut. 1. Negara Produsen Kelapa Sawit Dunia sebagai berikut, Indonesia 57%, Malaysia 35%, Thailand 4%, Kolombia 2% dan Nigeria 2% 2. Negara Produsen Karet Dunia sebagai berikut, Thailand 37%, Indonesia 34%, Malaysia 11%, India 10% dan Vietnam 8% 3. Negera Produsen Kakao Dunia sebagai berikut, Cote d’ivoire 39%, Ghana 23%, Indonesia 20%, Nigeria 11% dan Kamerun 7% 4. Negara Produsen Kopi Dunia sebagai berikut, Brazil 45%, Vietnam 27%, Kolombia 12%, Indonesia 9% dan Ethiophia 7%. 32 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Gambar 2.5 Diagram Negara Produsen Hasil Perkebunan Dunia Sumber: https://www.pertanian.go.id C. Kesesuaian Tanah dan Iklim Komoditas Tanaman Perkebunan Pemilihan berbagai jenis usaha-usaha agribisnis yang hendak dijalankan sebaiknya didasarkan pada analisis yang tepat. Pilihan jenis usaha juga disesuaikan dengan apa yang disukai dan tidak disukai. Sebelum menentukan suatu komoditas untuk diusahakan, perlu mencari informasi mengenai komoditas yang bersangkutan. Informasi tersebut bisa bersumber dari media massa, misalnya radio, televisi, koran, dan majalah. Selain itu, informasi juga dapat bersumber dari buku, pedagang komoditas pertanian, sesama petani, peternak, atau pejabat pemerintah. Informasi yang rasional merupakan informasi sesuai dengan kenyataaan yang ada dan berimbang, baik sisi positif maupun sisi negatifnya. Sikap kritis juga diperlukan dalam menyikapi informasi. Informasi yang layak dipercayai adalah informasi yang langsung berasal dari tangan pertani atau data primer, sebagai pekerja disektor pasar serta para pekerja di sektor budi daya dengan jumlah paling sedikit tiga orang. AGRIBISNIS TANAMAN 33 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Gambar 2.6 Lahan Sawit Baru Dibuka di Kab Kapuas Hulu, Kalimantan Barat https://www.republika.co.id/ Dalam kegiatan usaha perkebunan ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Penempatan Usaha Kelayakan tempat usaha adalah menjadi faktor yang pertama harus dianalisis dan dikaji dengan baik dan menyeluruh, karena kegagalan menganalisis dan mengkaji tempat usaha di tempatkan akan berdampak pada efesiensi, kemudahan, dan produktifitas usaha yang dilakukan, dan dikembangkan. Kemudahan tempat usaha untuk dijangkau dan dicari akan memberikan dampak positip kepada perkembangan dan peningkatan produktifitas serta layanan kepada konsumen. Keuntungan ketepatan pemilihan lokasi tempat usaha, antara lain adalah sebagai berikut. a. Kepuasan para konsumen tercapai. b. Pemilihan kualitas tenaga kerja mudah dan murah didapatkan. c. Sumber bahan baku melimpah sesuai kebutuhan. d. Pengembangan dan perluasan tempat usaha mudah dilakukan. e. Daya saing dan nilai jual selalu mengalami peningkatan sesuai perkembangan zaman f. Pemerataan kesejahteraan dapat dilakukan secara merata dengan menghidari konflik dan gesekan sosial. 2. Kondisi Lokal a. Iklim Indonesia secara astronomis adalah negara yang berada pada garis lintang equator bumi atau tepatnya 6° LU-11° LS, dan terletak pada garis 34 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN bujur timur bumi atau tepatnya 95° BT-141° BT. Kondisi wilayah inilah yang menunjukkan Indonesia memiliki iklim tropis dengan ciri-ciri sebagai berikut. 1) Curah hujan tinggi. 2) Terdapat hutan hujan tropis yang luas. 3) Sinar matahari sepanjang tahun. 4) Kelembaban udara yang tinggi. Gambar 2.7 Pembagian Iklim Dunia Menurut Koppen Hagen Sumber: https://sumberbelajar.belajar.kemendikbud.go.id Perubahan cuaca dan iklim memang secara langsung berdampak pada produk pertanian. Karena pada prinsipnya kehidupan tanaman itu tidak bisa terlepas dari kondisi cuaca, musim, maupun iklim di tempat tersebut atau kondisi lokal. Masalahnya, perubahan yang terjadi sekarang ini boleh dibilang sangat komplek. Di samping karena pengaruh aktivitas lokal tempat tersebut, juga karena ada sistem pergerakan udara secara global yang mempengaruhi semuanya. Perubahan cuaca dan iklim itu akan mempengaruhi beberapa aspek. Tentu saja yang paling terpengaruh adalah produksi atau kuantitas hasil produk komoditas pertanian yang diusahakan. Komoditas pertanian yang sangat tergantung pada kondisi cuaca dan iklim, hasilnya bisa dipastikan akan tidak maksimal. Sebenarnya pengaruh terhadap aktivitas tanaman ini bisa positif dan bisa juga negatif. Pengaruh positifnya adalah, meskipun dalam kondisi kemarau basah, apabila tanaman di manage dengan baik, maka tanaman akan diuntungkan. Karena kebutuhan air tanaman bisa tercukupi dengan baik, sementara sinar matahari juga masih optimal. Artinya, dua komponen utama pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu air dan sinar matahari, sudah bisa tercukupi, sehingga produksi tanaman bisa meningkat. Tapi dengan tidak menentunya hujan yang datang, bisa mengganggu proses penyerbukan dan pembuahan tanaman. AGRIBISNIS TANAMAN 35 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN b. Keadaan tanah Tanah adalah lapisan teratas bumi yang dapat diolah sesuai dengan kepentingannya, karena tanah tersebut dianggap sebagai alat untuk menghasilkan tanaman dan mampu menghasilkan berbagai tanaman. Setiap tanaman membutuhkan persyaratan yang optimal. Untuk alasan ini tanah diperlukan sesuai dengan desain spesies tanaman, ini tidak dapat dianggap ringan, sehingga data nyata seperti makro dan kandungan nutrisi mikro diperlukan. Contoh tanaman kopi mensyaratkan, bahwa tanah yang ada di dalamnya, kendur dan mengandung banyak humus berarti mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi. Untuk tanaman tebu dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asalkan persyaratan fisik dan kimia tanah yang mendukung pertumbuhan dan produksi tebu terpenuhi. Pada tanaman kopi keadaan tanah yang cocok adalah gembur, subur dan mempunyai kandungan humus tinggi tidak permeable, derajat keasaman pH 5,5-6,5 netral dan basa.Sementara pada tamana karet memiliki sifat tanah lebih baik dari sifat kimia yang terkandung di dalamnya, bertekstur remah, poreus seta mampu menahan air atau 35% tanah liat dan 30% tanah pasir, dengan pH 4,5-pH 6,5 Khusus tanaman tebu lebih cocok pada tanah lempung liat dan berpasir antara 30%-40% fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu, dengan pH 6-7,5 maksimal ketinggian 8 meter dan minimal 4 meter dengan kedalam 1 meter. Sementara tanah jenis podzolik, hidromorfik kelabu, aluvial, regosol dan latosol adalah cocok untuk tanaman kelapa sawit, dengan pH optimum 5,0- 5,5. Gambar 2.8 Peta Sebaran Tanah di Indonesia Sumber: https://www.gurugeografi.id/ 36 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN c. Ketersedian Sarana Prasarana Angkutan atau Transportasi Ketersediaan sarana prasarana angkutan menjadi hal pokok yang harus tersedia agar keberhasilan dan produktifitas usaha dapat berjalan lancar dan berkembang, walapun produk yang dihasilkan baik tetapi biaya untuk mencapai tempat usaha memakan waktu dan biaya lebih banyak, maka bisa dipastikan usaha yang dilakukan tidak akan lancar dan berkembang dengan pesat dan tidak akan mampu bersaing. Kondisi sarana prasarana transportasi yang harus terpenuhi dalam rangka memberikan kemudahan akses, baik pada pendistribusian dan pengangkutan barang maupun pada konsumen, antara lain adalah sebagai berikut. 1) Jika akses menggunakan jalan darat seperti perkebunan kelapa sawit, kakao, karet, kopi, dan lain sebagainya, maka kondisi jalan darat yang dapat dilalui roda dua maupun roda empat dengan mudah, nyaman, tidak berlumpur, atau berdebu, sudah dilakukan pengerasan tanah ataupun diaspal, lebar, dan mampu menahan beban berat. 2) Jika akses menggunakan rel kereta lori/api seperti, di perkebunan tebu, maka jaringan, kekuatan rel, dan bongkar muat serta pergudangan dapat diakses secara langsung. 3) Jika akses menggunakan angkutan air, maka jaringan jalur air harus lebar dan dalam, serta kapasitas dan kondisi dermaga baik. 4) Jika akses menggunakan udara, maka yang harus diperhatikan adalah kondisi kerasnya tanah dan panjang lapangan, serta kelayakan posisi lapangan untuk penerbangan. Gambar 2.9 Akses Jalan Perkebunan Sawit Riau Sumber: http://www.bumn.go.id/ AGRIBISNIS TANAMAN 37 PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN d. Pasokan Air Pasokan air adalah hal yang sangat berguna bagi kelangsungan mahluk hidup, begitu pula dengan tanaman. Tanaman pada dasarnya secara alami dapat memenuhi kebutuhan air dari hujan, tetapi pada kenyataannya di beberapa tempat dan pada waktu tertentu kebutuhan air bagi tanaman tidak mencukupi semisal pada musim kemarau. Sebagai sumber daya terbaharui air mengikuti siklus hidrologi, air selalu mengalami perubahan bentuk dan sifat, keadaannya tidak selalu sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki, apabila air muncul secara berlebihan akan mengakibatkan banjir, dan hal ini akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan mahluk hidup termasuk di dalamnya tanaman. Perencanaan pasokan sumber air sebagai sarana irigasi adalah permasalahan mendasar dalam rangka pertumbuhan dan produktifitas tanaman agar dapat optimal sesuai dengan yang diharapkan. Irigasi sebagai sistem pengelolaan pasokan air pada tanaman secara umum terdapat dua katagori, yaitu sebagai berikut. 1) Pengairan dengan irigasi pompa atau disebut lift irigation adalah sistem pengairan yang memanfaatkan mesin mekanik/pompa air atau manual/ tradisional yang dialirkan menuju tempat yang rendah dari tempat yang tinggi. 2) Pengairan dengan irigasi aliran atau flow irigation adalah sistem pengairan yang mengandalkan gravitasi bumi, mengalirkan air menuju tempat yang rendah pada lahan tanaman perkebunan. Keberadaan air yang terencana dengan sistem irigasi drainase pengelolaan yang baik sangat bermanfaat bagi tanaman, antara lain adalah sebagai berikut. 1) Mengatur intensitas kebutuhan air sesuai karakteristik tanah dan tanaman. 2) Membantu menyuburkan tanah perkebunan. 3) Membantu penyerapan unsur hara tanah perkebunan. 4) Mengisi cairan tubuh tanaman. 5) Membantu sistem metabolisme tanaman. 6) Membantu terpeliharanya suhu tanaman. Pada fase pertumbuhan tajuk mahkota daun kebutuhan air sangat besar, termasuk pada masa musim kemarau, di mana tumbuhan pada saat itu sedang mengalami penguapan yang besar melalui permukaan daun. Kekurangan air pada masa ini akan menyebabkan tumbuhan menjadi layu bahkan mati. Kondisi tanaman yang mengalami kekurangan air, akan menyebabkan tanaman menjadi layu. Air kapiler sebagai air yang tersedia dalam rongga pori-pori tanah yang diserap oleh akar tumbuhan harus seimbang atau air yang terletak antara titik layu tetap (batas bawah) dan kapasitas lapangan (batas atas). Sebaliknya air yang tidak tersedia bagi tanaman adalah air higroskopis (kurang dari titik layu tetap) dan air gravitasi (di atas kapasitas lapang). 38 AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN

PERSIAPAN LAHAN & PENANAMAN TANAMAN PERKEBUNAN MATERI PEMBELAJARAN Presentase kelembaban yang ditahan oleh tanah sesudah terjadinya drainase dan kecepatan gerakan air ke bawah menjadi sangat lambat, kondisi ini akan memberikan dampak baik pada imbangan antar pori mikro, hara tanaman sudah dalam bentuk terlarut dan proses difusi ion pada permukaan akar meluas dan terbesar. Kondisi air dalam kapasitas lapangan ditentukan dan dipilih berdasarkan kelembaban setelah tanah jenuh dibiarkan bebas drainase selama 2-3 hari. Air pada kondisi layu masih menunjukkan bahwa air tersebut adalah air higroskopis. Batas bawah air tersedia. Air pada kondisi layu masih dapat ditentukan dengan mengukur kelembaban saat tanaman indikator layu, dan tidak dapat disegarkan setelah dibiarkan semalam di air basah. Titik layu tetap bukanlah merupakan tetapan tanah, tetapi lebih merupakan tetapan tanaman. Titik layu tetap lebih tergantung pada tekanan turgor sel-sel tanaman. Tekanan turgor dipengaruhi oleh komponen osmotik daun, cuaca yang mempengaruhi transpirasi dan komponen yang mempengaruhi ketersediaan air tanah. Irigasi sebagai sistem pengelolaan pemberian air pada tanaman dalam implementasinya terdiri dari 3 sistem, antara lain adalah sebagai berikut. 1) Sistem Irigasi pada Permukaan Tanah Pada sistem ini pendistribusian air di lahan perkebunan sepenuhnya mengandalkan gravitasi bumi, yaitu mengalirkan air dari tempat tinggi ke tempat rendah, dengan pengaturan berupa pembuatan bedengan, penerapan sistem irigasi ini efektif pada tanah yang bertekstur halus sampai sedang, cara bedengan atau pembuatan alur ini paling banyak digunakan oleh para petani. Gambar 2.10 Irigasi Permukaan pada Tanaman Tebu 39 Sumber: http://www.cyber.pertanian.go.id AGRIBISNIS TANAMAN PERKEBUNAN


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook