“Kenalin ini band gua ada Tasya, Rhino sama Nanda. Jadi kita tuh lagi nyari gitaris buat Live Session di studio. Lu mau gak ikut kita buat Live Session. Urusan benefit mah gampang nanti udah manager gua yang atur.” Tawar Dika. “Coba nanti gua pikirin dulu ya bro”, jawab Lumiere. “Oke bro, gua berharap banget sama lu. Btw, Lu bisa hubungin gua ke nomer WA ini ya,” sahut Dika dengan memberikan kartu namanya. Malam itu Lumiere pulang ke kosannya dengan penuh kebingungan. Sesampainya di kosan, ia membersihkan segala peluh di tubuhnya dengan sumber kesegaran yaitu air yang kembali menghidupkan Lumiere menjadi manusia yang baru. Setelah mandi, Lumiere merebahkan diri di kasur nan empuk. Lumiere melemaskan badan dan jari jarinya yang seharian menari nari di fretboard gitar untuk memberikan kebahagiaan kecil pada pengunjung cafe. Pikirannya melayang-layang dengan lanturan lanturan dirinya di masa depan. Lumiere teringat dengan perjumpaannya tadi dengan anak-anak band Nitilive. Ia langsung mengambil kartu nama yang diberikan kepadanya. Tanpa pikir panjang lagi, Lumiere memutuskan untuk menghubungi Dika lewat nomor WA yang diberikannya. Ia mengambil telepon genggamnya dan menyimpan nomor itu. Ia memulai percakapannya dengan Dika di chat. 48 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Keeseokan harinya, bertemulah Lumiere dengan Dika dan personil Nitilive lainnya. “Selain manggung di Cafe, ada kesibukan lain ga Lum?” “Ya, gua sih nyambi kuliah ada kalo pagi. Jadi biar bisa ambil part time malam disini, gua ambil kelas pagi.” “Tapi aman kan kalo ditambahin sama jadwal kita?” “Aman bro, selaw aja” Masa Depan Belajar dari masa lalu 49
“Kalo gitu besok kita ke Tutsless Studio, Kemang jam 8 malem ya. Lu cari aja tempatnya di Maps, kalo bingung nanti kabarin gua aja. Oh iya, buat lagu yang dibawain di live session original dari Nitilive yak. Kulik langsung aja dari Youtube judulnya Undelivered - Nitilive” “Oke Dik, nanti gua kulik. Bisa sih kalo hari ini” “Oke mantab. Gak salah pilih emg kita. By the way, kalau lu mau nambahin aransemen aransemen part solo atau Fill in boleh banget Lum.” “Oke thank you Dik kesempatannya” Sesampainya dirumah, mulailah Lumiere mendengarkan dengan penuh perhatian lagu Undelivered. Dirinya mulai nyaman dengan suara Tasya sang vokalis, alunan piano dengan mode strings berpadu dengan pedal sustain, variasi nadabass yang tidak monoton, part solo gitar dan fill in yang membuat Lumiere bergairah mengulik lagu itu. Begitu banyak ide yang tersimpan dalam pikirannya. Mulai dengan pedal efek yang akan ia mainkan hingga variasi aransemen part solo gitarnya. Reverb berpadu dengan Clean Jazz dan Overdrive berpadu dengan Delay untuk part solo menjadi sebuah ide brilian. Mata Lumiere begitu berbinar binar setelah menemukan ilham. 50 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Angan-angan akan menjadi Session Player didepan mata Lumiere. Lumiere memutar lagu itu berulang ulang Weeks past by so quickly I didn’t even get a chance to see you One day feels like forever Only pictures of you help me through Spend my time only imagining My life would be, if I walk beside you Soon from now I hope I have all the courage to say to you Terbuai lantunan lagu membuat Lumiere tertidur pulas. *** Masa Depan Belajar dari masa lalu 51
“Kacau brooo, keren banget lo”, puji Dika “Lo semua juga keren banget mainnya. Gua suka banget sama suaranya Tasya tadi waktu high notesnya, Rhino juga main bassnya liar, Nanda chopping drumnya juga keren banget”, puji Lumiere pada band “Tadi kalo gak salah gua denger suara gitarnya jadi kayak akustik gitu. Lu pake efek apaan tadi?” Tanya Dika. “Cuma gua kasih Clean ditambah Reverb aja tadi. Karena gitar gua single coil Dik, mungkin jadi terdengar seperti akustik. Pick upnya kan tipis gitu.” Jelas Lumiere. “Oh iya benar juga,” jawab Dika. “Nongkrong dulu yuk,” ajak Rhino. “Kemana nih?” Tanya Tasya “Starling aja yang murah,” jawab Rhino “Yaelah miskin amat, udah ayok langsung aja Starbucks gua bayarin.” Sahut Dika. 52 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Wehhhh, kalo ada bos mah lancar urusan konsumsi,” timpal Rhino. “Emang paling bisa Rhino kalo ngode,” sahut Tasya. “Eh guys, gua kayaknya pulang duluan deh”, potong Lumiere. “Lho kenapa?” Tanya Tasya. “Wah parah banget sih. Masa langsung ninggalin gitu aja”, sahut Rhino. “Gak perlu gak enakan gitu.” Kata Dika. “Iya tuh, udah ikut aja”, pinta Tasya. “Yaudah deh gua ikut”, jawab Lumiere. “Oke, langsung gas aja Kemang”, sahut Dika. Mereka pun akhirnya nongkrong. Cerita-cerita tentang kehidupan ngeband dan dunia musik diceritakan oleh masing-masing personil band Nitilive. Cerita-cerita ini membuat Lumiere semakin tertarik untuk masuk lebih dalam ke dunia musik. Tidak sadar akan waktu yang semakin larut, perbincangan tak berujung pula. Lumiere lupa bahwa besok dia ada kelas pagi. Dia pun baru pulang larut dan tidur larut. Tidak ada yang membangunkannya sama sekali hingga mentari hampir mencapai puncak tertingginya barulah ia bangun. Masa Depan Belajar dari masa lalu 53
“Jam berapakah sekarang? Mengapa mentari begitu mencolok mata. Oh tidak ini jam 11.45, aku terlambat kelas sejak 2 jam yang lalu. Bodohnya aku.” gumam Lumiere sambil melonjak dari tempat tidurnya. Lumiere datang terlambat sekali ke kampus padahal hari ini ada Ujian oleh dosennya. Setelah ngebut seperti orang yang kerasukan akhirnya sampailah Lumiere di kampus. Sesampainya ia langsung berlari mencari dosennya. “Maaf pak saya terlambat ujian pada hari ini. Apakah saya boleh ikut ujian susulan?” Tanya Lumiere pada dosennya. “Maaf tapi kamu tidak disiplin waktu. Sebelumnya saya mau mengetahui alasan keterlambatan kehadiran kamu. Kalau masih masuk akal atau karena sesuatu yang urgent, mungkin saya berubah pikiran.” Jawab dosennya. “Maaf Pak, saya semalam tidur larut mengerjakan tugas.” Jawab Lumiere kembali. “Begitu penting kah? Kamu yang di semalam di Starbucks Kemang kan bersama teman-teman kamu? Sepertinya saya tidak bisa memberikan ujian untuk kamu karena keterlambatan dan kedustaan kamu.” Tukas dosennya. “Yah Pak, tolong saya pak.” pinta Lumiere. “Silahkan bersiap siap mengulang semester ini,” jawab dosennya. 54 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Kemuraman terlukis jelas di wajah Lumiere. Lumiere merasa begitu kesal dan menyesal. Kesal karena terlalu bodoh melupakan waktu dan menyesal tidak jujur memberi alasan. “Sial! Mengapa harus begini.” Tukas Lumiere. Pergilah Lumiere mencari tempat nongkrong lagi. Perjumpaan dengan dosennya begitu memedihkan hati. Mengulang semester ini sama artinya dengan lulus lebih lama lagi. Pikirannya merancau kemana-mana. Ketika itu pula notifikasi chat dari seseorang masuk kedalam telepon genggam milik Lumiere. Ternyata dari Dika yang mengajaknya main band malam nanti. Lumiere mengiyakan ajakan Dika tersebut. “Kebetulan sekali aku sedang penat hari ini. Aku butuh musik untuk menyegarkan jiwaku.” Begitulah kira kira gumam Lumiere dalam hatinya. Mainlah malam itu Lumiere ke Studio bersama dengan teman- teman bandnya itu. Tepat pukul 8 malam mereka bermain dan 10 lagu mereka mainkan. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu campur dari banyak musisi-musisi terkenal. Ngeband malam ini untuk hiburan bukan untuk latihan bagi Lumiere. “Lu lagi kenapa sih Lum?” Tanya Dika yang kebingungan melihat ekspresi dan tingkah Lumiere yang sedikit aneh hari ini. “Gua lagi bermasalah ama dosen,” jawab Lumiere to the point. Masa Depan Belajar dari masa lalu 55
“Yaelah kenapa emangnya?” Tanya Rhino. “Telat ujian gua.” Jawab Lumiere lesu. “Kita tau tempat yang bisa bikin lu gak stress kayak gini.” Sahut Nanda. “Mau kemana emangnya? Cafe? Yaelah males banget kesana lagi. Mendingan gua tidur aja dirumah.” Kata Lumiere. “Kalo cafe terus gua juga bosen kali.” Sahut Tasya. “Club aja udah. Lu aman kan kalo minum-minum dikit aja? Ya kalo nanti gak sengaja mabok gua anter pulang.” Tambah Dika. “Yaudah boleh lah.” Jawab Lumiere tanpa ragu. Bagi Lumiere sekali- sekali juga tidak apa-apa. “Yaudah Gas dah.” Mereka semua segera pergi ke BAR (Beer Alcoholic Restaurant). Sesampainya disana mereka memesan minuman-minuman yang beralkohol. Lumiere memesan Tequila. Teman teman juga terkejut karena Lumiere memesan minuman yang beralkohol cukup tinggi. Teman-teman yang lain hanya memesan Beer dan Wine saja. 56 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Lu aman minum ginian?” Tanya Dika memastikan kepada Lumiere. “Aman udah. Lu tenang aja. Gua lagi stress juga butuh yang nendang.” Jawab Lumiere. Malam itu Lumiere tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi. Ia minum cukup banyak hingga mabuk berat dan mulai melantur bicaranya. Dika dan teman-teman Nitilive lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lumiere. Akhirnya Lumiere pun diantarkan kos-kosannya. Lumiere pun langsung tertidur pulas akibat mabuk nya itu. Keesokan harinya Lumiere bangun dan baru ingat ia harus kembali kuliah lagi. Namun, ia merasa bahwa tidak ada gunanya lagi karena sama saja bahwa ia harus mengulang di semester depan. Kemudian Lumiere semakin meracau pikirannya. Dia rasanya tidak memiliki niat untuk masuk kuliah. Namun ia tetap masuk walau sebagai formalitas saja. Pada hari ini Lumiere ternyata juga punya janji untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di sebuah restoran untuk makan malam bersama. Pada malam harinya, Lumiere bergegas menuju restoran tempat bertemu mereka. Sesungguhnya Lumiere cukup deg-degan bertemu dengan orang tuanya. Ia merasa tidak tenang karena pasti akan ditanya tentang kuliahnya. Masa Depan Belajar dari masa lalu 57
Namun, Lumiere mengabaikannya saja. Ia tetap masuk saja ke restoran, jawaban masih bisa dirangkai untuk menjawab pertanyaan itu. “Halo anakku sayang,” sapa Dorothy. Dorothy adalah Ibu dari Lumiere. Ayah Lumiere hanya tersenyum melihat Lumiere. “Ayo sini duduk, Nak.” Kata Alfons, Ayah Lumiere. “Baik, Pak Bu.” Jawab Lumiere sambil menarik kursi untuk duduk. “Apa kabar, Nak?” Tanya Ibu, “Baik Bu Pak.” Jawab lumiere “Silahkan di pesan dulu Lumiere makanannya.” Tawar ayahnya. Lumiere memesan makanan kesukaannya yaitu Spaghetti Bolognese. Kedua orang tuanya memesan nasi Goreng . “Bagaimana kuliahmu, Nak?” Tanya Ayah Lumiere. Lumiere tersedak karena pertanyaan yang diajukan ayahnya itu. Sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu walaupun sudah diprediksinya. Lumiere mengunyah dan menelan terlebih dahulu makanan yang ia makan. 58 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Sepertinya lebih baik ngomongin soal kuliah aku dirumah saja, Pak.” tawar Lumiere. “Lho, memangnya kenapa?!” Tanya Alfons heran. Alfons merasa anaknya sedang tidak baik baik saja dalam pendidikannya. ”Sudah Pak dirumah saja.” Pinta Alfons bersikeras. “Yasudah setelah makan ini kamu ikut Bapak dan Ibu pulang kerumah.” Jawab Ibu. Setelah makan malam selesai, Lumiere segera pulang mengikuti orang tuanya. Sesampainya dirumah Lumiere sudah seperti disidang oleh orang tuanya. “Sekarang coba kamu jelasin gimana kuliah kamu?” tanya ayah seraya membuka topik itu kembali. “Sebelumnya Lumiere minta maaf Pak, Bu. Lumiere harus mengulang kuliah untuk semester depan karena tidak ikut ujian mata kuliah Fak Mayor.” “Lho kok bisa?!” Tanya Alfons bingung. “Aku selama ini di Jakarta juga cari kerja part time ngisi live music di cafe Pak, Bu.” Masa Depan Belajar dari masa lalu 59
“Kamu itu sudah dibiayai mahal mahal, masih saja membangkang ya. Memangnya kurang uang saku yang Bapak Ibumu kasih ke kamu?!” Kata Alfons yang mulai naik darah dengan Lumiere. “Yaampun nak, kamu ngapain sih perlu kerja di cafe isi live music. Kamu itu fokus saja sama kuliah. Gausah sok sok cari kerja dulu deh.” “Tapi itu Passion aku Bu, Pak.” “Silahkan saja kamu mengejar mimpi kamu di dunia musik. Kejar mimpi kamu sampai lupa keluarga. Kejar mimpi kamu sampai kamu lupa dunia kamu kamu, realitas kamu yang seharusnya. Coba kamu pikir sekarang, mau jadi apa kamu di dunia musik? Mau dikasih makan apa nanti kalau kamu punya anak?! Sudahlah apa susahnya sih selesaikan kuliah dulu?” “Ya aku kuliah juga bukan pilihan aku. Aku kuliah karena terpaksa. Ini bukan jurusan yang aku idam-idamkan.” “Mulai sekarang kamu berhenti mengisi live music di cafe atau apalah itu. KAMU CUKUP FOKUS KULIAH ! itu aja sudah bikin Bapak Ibu senang.” “Iya emang Bapak Ibu senang. Bapak Ibu pernah gak mikirin aku? Aku juga mau seneng, memangnya bapak ibu doang yang mau senang.” “Kamu itu dibilangin malah ngeyel. Seka…” 60 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Ahhhh sudahlah aku mau pulang ke kos-kosan saja” “Hey kembali Lumiere. TUnggu dulu. Bapak belum selesai bicara.” Lumiere pergi begitu saja meninggalkan rumahnya. Lumiere memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi menuju ke kos- kosannya. Sepanjang jalan ia merasa sakit hati atas apa yang dikatakan orang tuanya tersebut. Lumiere begitu merasa kecewa bahwa bakatnya tidak didukung oleh orang tuanya. Hari hari berlalu begitu saja. 1 purnama telah terlewati. Lumiere kembali mengingat-ingat kejadian malam itu. Ia menyadari bahwa dirinya tidak lebih bijaksana dari orang tuanya. Ia merasa semua hal yang dikatakan orang tuanya benar adanya. Lumiere pun memutuskan untuk kembali kerumahnya setelah 1 purnama tidak berhubungan sama sekali dengan orang tuanya. Pelan pelan ia masuk perangan rumahnya dan memarkirkan motor kebanggaanya itu. Lumiere masuk ke rumahnya dengan pelan pelan. Seketika ternyata disitu ada ibunya. Sontak Ibunya terkejut. “Kamu kok mau pulang tidak bicara terlebih dahulu?” “Eh Iya Ibu” “Pakkk, Lumiere pulang.” Teriak Dorothy kepada Alfons. Kemudian Alfons segera berlari menghampiri anaknya itu. Masa Depan Belajar dari masa lalu 61
Lumiere langsung memeluk Bapak dan Ibunya itu dengan erat. “Bu, Pak, Lumiere minta maaf ya tidak mau dengerin Bapak Ibu. Lumiere tau Lumiere salah dan tidak lebih bijaksana dari bapak ibu. Lumiere janji untuk tetap melanjutkan kuliah Lumiere.” “Tidak apa apa, Nak. Bapak Ibu sudah memaafkan kamu. Bapak Ibu juga minta maaf kalau terlalu memaksakan kamu ya..” “Yasudah berarti kamu selesaikan kuliahmu. Nanti setelah kamu kuliah kamu bebas mau masuk dunia musik atau entertainment atau apalah itu. Bapak Ibu tetap mendukung kamu.” “Serius Pak Bu?” “Nggak bapak ibu ga serius. INi bohongan. Ya serius lah. Kamu itu ada ada aja.” “Terimakasih ya Pak, Bu. aku sayang Bapak Ibu.” Mereka semua berpelukan dan saling terharu menangis. Dorothy dan Alfons terharu dan senang karena sebelumnya sangat dibuat cemas oleh Lumiere yang tidak ada kabar. Tidak mau dihubungi dan segala macam cara tidak bisa dipakai. Lumiere terharu karena ia kembali diperbolehkan untuk menjadi apa saja. Artinya mimpi yang ia gantungkan tinggi tinggi akan mampu tercapai dan terlampaui. 62 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Payback -Gerald Alesio Tacchinardi- Masa Depan Belajar dari masa lalu 63
“Aku tak menyangka bahwa tindakanku untuk bersuara mengungkapkan kebenaran akan menjadi gerakan terbesar di abad ini.” “Kriiing…Kriiing…Kriiing…” Jam weker di meja bundar tepat di sebelah kasur Racquel hampir saja menyenggol gelas kaca yang setengah terisi. Meski masih terasa berat, Racquel tetap memaksakan kedua matanya untuk melihat jalan menuju kamar mandi. “Aku harus semangat, jangan sampai aku telat,” pikir Racquel sembari meraih handuk di sebelah kiri pintu kamar mandi. Hari ini, anak majikan Racquel yang bernama Madison akan menjalani hari pertamanya di sekolah. Sebagai pengasuh anak, Racquel harus datang lebih awal untuk mempersiapkan kebutuhan Madison. Air yang dingin itu hanya berhasil membangunkan tubuhnya, namun tidak berhasil membangunkan mata Racquel yang sangat lelah itu seluruhnya. Meski begitu, Raquel masih bisa menangkap cahaya merah yang dihasilkan jam wekernya. “OH TIDAK … SEPULUH MENIT LAGI JEMPUTANKU DATANG.” Racquel segera memakai seragamnya dan dengan tergesa-gesa mengeluarkan roti dari rak makanan di dapur. “Seharusnya cukup untuk sarapan anak-anak,” pikirnya. 64 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Bagaimana harimu?” Tanya Racquel setelah memasukkan kunci rumahnya dan duduk di kursi depan. “Tak lebih dari seiris salami di atas piring, makanya jangan membuatku geram.” Racquel tersenyum kecil mendengar gerutuan Tuan Smith. Memang, hal itu yang ditunggunya setiap hari, gerutuan Tuan Smith yang sangat familiar di kupingnya, rasanya bukan Tuan Smith kalau tidak mengawali harinya dengan menggerutu. “Pukul empat seperti biasa Racquel, jangan sampai telat.” Teriak Tuan Smith kepada Racquel yang sudah setengah jalan memasuki rumah majikannya. “Tak usah mister, aku akan ke perpustakaan setelah kerja.” Balas Racquel kepada Tuan Smith. Meskipun Racquel tak bisa melanjutkan pendidikannya, ia masih giat mengejar ilmu yang pernah menghiasi masa kecilnya, yaitu astronomi. Setidaknya, sebanyak tiga kali dalam satu minggu, Racquel mengunjungi ruangan kecil yang terdapat di pojok terdalam perpustakaan milik pemerintah Los Angeles yang tak kalah besar dengan Istana Buckingham di London yang diberi label “Perpustakaan Orang Kulit Hitam.” Masa Depan Belajar dari masa lalu 65
“AAAAAAAAAHHH…. DIMANA BAJU YANG BARU KUBELI ITU.” Teriak Allison dari kamar anaknya. Racquel sudah tak kaget mendengar jeritan melengking majikannya setiap pagi. Terkadang, Racquel penasaran bagaimana mungkin Tuan Daniel bisa tahan dengan istrinya yang cerewet itu. “Di sebelah sini madam, saya menaruhnya di sini setelah menyetrikanya kemarin.” Ujar Racquel sembari menghampiri lemari pakaian yang sudah setengah kosong akibat diacak-acak Allison. “UGH… Untung kau datang, aku sudah tak sanggup mendengar tangisan anak itu,” keluh Allison. “Wajar madam, anak kecil yang akan menghadapi hari pertamanya di sekolah memang akan kesal dibangunkan pagi-pagi,” jawab Racquel. “Ya…ya… Apapun itu kau yang urus sekarang,” ujar Allison sambil mengibaskan tangannya yang baru di manicure kemarin ke hadapan Racquel. Racquel sebetulnya tak betah dengan majikannya, tapi ia tak punya pilihan lain. “Kau sudah membuat pie coklat kan Racquel?” Tanya Allison sembari memperbaiki bulu mata palsu yang dipakainya di depan kaca. “Sudah madam, sudah saya siapkan,” balas Racquel. 66 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Sudah madam, sudah saya siapkan,” balas Racquel. Selesai mengurus Madison, Racquel harus buru-buru mempersiapkan makanan dan minuman yang akan disuguhkan kepada para tamu berkulit putih yang akan datang ke rumah Allison untuk melakukan English Tea mingguan mereka. Meskipun melelahkan, setidaknya selama acara ini para majikan berkulit putih itu akan sibuk dengan gossip mereka masing-masing dan para pelayan bisa menikmati istirahat mereka sejenak sambil menikmati kue- kue yang para majikan ini sisakan di dapur. “BOOM….” Suara agak rendah milik Deshauna mengagetkan Racquel yang sedang menata deviled egg di piring berbentuk kerang yang akan disajikan pada acara nanti. “Apa itu, biarkan aku mencobanya,” ujar Deshauna penuh semangat. “JANGAN YANG ITU… Kau mau acara ini jadi pekerjaan terakhirmu?” Tegur Racquel sambil menepis tangan Deshauna yang hampir menyentuh deviled egg yang sedang ditatanya. “Baik missy, yang mana punyaku?” Balas Deshauna sambil memutar matanya keatas. Masa Depan Belajar dari masa lalu 67
“Baik missy, yang mana punyaku?” Balas Deshauna sambil memutar matanya keatas. “Hehehe… Tenang saja, sudah kusiapkan yang paling istimewa untuk kita,” jawab Racquel sambil membungkuk mengambil piring berisi deviled egg dari lemari di bawah kompor. “Ekstra mayonaise?” Tanya Racquel penuh semangat. “Pasti,” jelas Racquel dengan senyum isengnya. “Aku masih tak mengerti cara hidup orang-orang ini,” gumam Deshauna dengan mulut penuh dengan deviled egg yang diambilnya dari piring plastik yang disodorkan Racquel. “Jangan mulai shauny, aku masih ingin mempertahankan pekerjaanku,” ucap Racquel dengan penuh sarkasme dan usaha menahan tawa yang tak bertahan lama. Deshauna menyenggol lengan Racquel dengan sikunya dan mereka tertawa terbahak-bahak. “RACQUEEELLL….“ Teriakan melengking Allison menghentikan tawa mereka. “ARGH.. Ayo mulai bekerja,” keluh Racquel kepada Deshauna. 68 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Besok jangan telat yah…” Suara melengkin Allison mengingatkan Racquel. Sebetulnya Racquel tak pernah telat datang ke tempat kerjanya, malah ia selalu lebih awal karena ia orang kedua yang diantarkan oleh Tuan Smith setelah Barbara, namun sifat Allison yang suka mengatur tak lagi membuat Racquel sakit hati ketika ditegur seperti itu. “Ya madam,” balas Racquel singkat sebelum ia berlari keluar gerbang perumahan untuk bergegas menuju Perpustakaan. “Lagi Racquel? Terserahlah, kau hanya punya 30 menit.” Sapa Viola setelah Racquel mencapai meja resepsionis. “Kau tahu sendiri nyonya besar seperti apa,” balas Racquel dengan senyum kecut. “Ya…ya…ya…” Balas Viola dengan tawa kerasnya. “Tapi aku juga ingin pulang Racquel, anakku belum makan,” lanjut Viola. “Iya Vee, aku tahu, aku takkan lama.” Balas Racquel dengan tawa kecil sambil melambaikan tangan di depan Viola. Racquel berlari kecil menuju ruangan kecil di pojok Gedung berukuran 40.000 meter persegi itu. Masa Depan Belajar dari masa lalu 69
Meskipun perpustakaan itu sangat besar, area yang boleh dimasuki oleh orang berkulit hitam hanyalah ruangan berukuran 10 x 10 meter yang ada di pojok kanan terdalam dari perpustakaan itu. “Kriing….” Bunyi lonceng kecil yang tersenggol pintu membangunkan Tuan Williams, penjaga area perpustakaan itu yang sedang tertidur. “Hey Racquel, sudah selesai membaca buku yang kemarin?” Tanya Tuan Williams dengan nada akrab. Racquel mengedipkan satu mata “Ini, ku kembalikan buku yang kemarin,” kata Racquel sambil menyodorkan tiga buku astronomi yang sudah lusuh kepada Tuan Williams. “Ini, baru sampai tadi pagi, ambil saja untukmu, toh tak ada pembaca lain di sini selain dirimu,” kata Tuan Smith sambil menyodorkan sebuah buku lusuh karya Stephen Hawking yang sudah ada robekan di beberapa sisi. “SERIUS???? TERIMA KASIH TUAN WILLIAMS,” jawab Racquel penuh semangat sambil memeluk Tuan Smith. Sekalipun buku itu baru sampai ke perpustakaan itu, tapi kondisinya tidak baru sama sekali. Memang, perpustakaan untuk orang kulit hitam biasanya hanya menerima buku-buku bekas dari perpustakaan milik orang kulit putih, tapi hal ini tak menjadi masalah bagi Racquel. 70 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“13 menit, wow, ini rekor baru bagimu Racquel,” celetuk Viola ketika melihat Racquel yang baru keluar dari area perpustakaan menuju meja resepsionis. “Aku tak perlu memilih buku, Tuan Williams sudah memilihkannya untukku,” jawab Racquel sambil menunjukkan buku yang baru saja diberikan Tuan Williams dengan senyum yang lebar. “Ah, aku takkan pernah paham koneksi antara kalian, selalu saja ia membicarakan dirimu,” balas Viola. Sebetulnya tak banyak yang tahu bahwa Tuan Smith yang tua itu adalah teman baik ayah Racquel, mereka pernah menjadi pelayan di rumah makan yang sama ketika ayah Racquel masih hidup. “Kau sudah selesai kan? mau pulang bersama?” Ajak Racquel kepada Viola. “Ya, kurasa aku bisa pulang sekarang,” jawab Viola. Meskipun tidak tinggal di komplek yang sama, area tempat tinggal orang kulit hitam selalu berdekatan dan mereka harus melewati gerbang yang sama untuk pulang. “Mobil siapa itu Racquel?” Tanya Viola sambil menunjuk mobil Maserati berwarna merah di depan rumah Racquel. Masa Depan Belajar dari masa lalu 71
“Tak tahu,aku baru melihatnya,” jawab Racquel agak heran. Racquel turun dari bus meninggalkan Viola yang masih melanjutkan perjalanannya pulang dan berjalan ke pintu rumahnya secara perlahan. “Aku tak yakin dapat membantu, itu terlalu beresiko,” suara Deshauna samar-samar terdengar dari balik pintu. “Permisi….“ Sapa Racquel sambil memasuki rumahnya. Di ruang tamu, ia melihat ada Deshauna yang duduk di sebelah Davonna, anaknya yang paling besar. Di depan mereka duduk seorang wanita berambut pirang yang tak asing baginya. “Permisi Maam, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Racquel dengan nada bingung. Sebelum wanita itu sempat menjawab, Deshauna sudah nyerocos tak karuan. “Diam dulu shauny, biarkan dia menjelaskan maksud kedatangannya,” bantah Racquel kepada ocehan Deshauna. “Silahkan Maam, apakah ada yang bisa saya bantu?” “Perkenalkan, aku Emma. Sebetulnya kami sudah pernah bertemu di salah satu acara english tea milik Allison,” jelas Emma. 72 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Racquel mulai mengenali sosok yang duduk di depannya dalam memorinya. “Sebetulnya kedatanganku kesini adalah untuk mewawancaraimu dan beberapa temanmu mengenai kehidupan personal kalian termasuk lingkungan pekerjaan kalian,” lanjut Emma. “Pekerjaan kami? Maksudmu bagaimana majikan kami memperlakukan kami?” Tanya Racquel sedikit terkejut. “Termasuk itu, aku melihat bagaimana Allison memperlakukanmu. Maksudku, aku tak terlalu setuju dengan perilakunya, maka aku butuh mendengar dari sisimu,” jelas Emma. “Tidak… Tidak mungkin… Ini akan mengancam pekerjaanku,” jawab Racquel dengan sedikit gemetar. “Maaf maam, aku tak bisa membantumu dalam hal ini, terlalu beresiko untuk keluargaku,” lanjut Racquel setelah jeda beberapa detik. “Tak apa, aku mengerti, maaf harus mengorbankan pekerjaanmu,” balas Emma dengan suara menyesal. “Aku pamit, maaf merepotkan kalian, aku tak tahu apa yang kupikirkan,” kata Emma saat berjalan melewati pintu rumah Racquel menuju ke mobilnya. Masa Depan Belajar dari masa lalu 73
“Kurasa dia sudah kehilangan akal sehatnya,” celetuk Deshauna setelah mobil Maserati berwarna merah milik Emma melesat pergi melewati gerbang perumahan mereka. “Sudah, tak usah dipusingkan,” balas Racquel. Selama semalaman, Racquel tak bisa tidur memikirkan tawaran dari Emma untuk menceritakan keluh kesahnya terhadap majikannya itu. Tawaran yang menggiurkan mengingat Racquel sudah sangat jengkel dengan perilaku majikannya, Allison. Tetapi, Racquel tak bisa kehilangan pekerjaanya, tidak dengan kondisi anak-anaknya yang masih memerlukan makanan dari gajinya. “Dimana aku?” Gumam Racquel kagum. Pasir putih, lautan biru, langit biru dengan awan putih bersih terhampar di depannya. Racquel menutup matanya sejenak menikmati hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulit Racquel bersamaan dengan hembusan angin sejuk khas pulau tropis. “Kriiinggg… Oh tidak, aku hanya bermimpi,” keluh Racquel. Semalaman Racquel terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia pun tak menyadari kapan dirinya mulai tertidur. 74 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Racquel bergegas membangunkan Davonna, anak perempuannya yang paling besar untuk bersiap-siap. Hari ini Davonna akan ikut bekerja bersama Racquel menjadi pelayan rumah tangga. Memang sudah tradisi bagi anak perempuan berkulit hitam yang sudah berumur 16 tahun untuk berhenti dari sekolah dan mulai bekerja sebagai pelayan rumah tangga. “Bagun Davy… Aku tak mau harus diomeli Tuan Smith lagi karena telat,” ungkap Racquel sedikit mengagetkan Davonna. Seperti biasanya, Racquel bersiap-siap dan menyiapkan makanan untuk anaknya, hanya saja hari ini Racquel sedikit mengurangi lamunannya mengingat memang tak ada waktu untuk melamun. Tiga menit sebelum Tuan Smith datang, Racquel dan Davonna sudah duduk di teras rumah mereka menunggu Tuan Smith. “Kali ini kau yang telat, Tuan Smith,” canda Racquel. “Setidaknya sekarang kau tahu rasanya jadi diriku yang harus menunggu engkau bersiap-siap setiap hari,” balas Tuan Smith. “Bagaimana perasaanmu nona muda?” Tanya Tuan Smith kepada Davonna. “Nervous, tapi setidaknya aku beruntung mendapat majikan yang sama dengan mama,” balas Davonna. Masa Depan Belajar dari masa lalu 75
Karena Davonna sudah berusia 16 tahun, majikan Racquel mau mengambil Davonna untuk bekerja di rumahnya juga, sehingga Racquel bisa bekerja bersama anaknya. “Sampai… Nikmati harimu,” ucap Tuan Smith ketika mereka sampai di depan rumah Allison. “Terima kasih Tuan Smith,” balas Racquel dan Davonna. Ketika sampai di depan rumah Allison, Davonna sempat mengerjapkan mata beberapa kali. Ia tak pernah melihat rumah yang sebesar itu di komplek perumahan orang kulit hitam. “RACQUEEELLL… AYO CEPAT, ANAKKU BUANG AIR BESAR LAGIII…” Teriakan melengking Allison memenuhi gendang telinga Racquel seperti hari-hari lainnya. “Ya madam,” teriak Racquel membalas ucapan Allison. “Ayo kita masuk, sebelum nenek sihir itu berteriak lagi,” ucap Racquel kepada anaknya. Ketika Racquel masuk, ia mendengar tangisan Madison, putri kecil Allison yang sudah terduduk di kamar mandi selama hampir 15 menit karena ibunya tak mau mengotori manicure nya untuk membersihkan anaknya. Melihat itu, Racquel hanya menggeleng heran sambil membersihkan Madison. 76 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Ketika Racquel masuk, ia mendengar tangisan Madison, putri kecil Allison yang sudah terduduk di kamar mandi selama hampir 15 menit karena ibunya tak mau mengotori manicure nya untuk membersihkan anaknya. Melihat itu, Racquel hanya menggeleng heran sambil membersihkan Madison. “Cepat siapkan baju untuk Madison, aku akan memandikannya,” ucap Racquel kepada Davona sambil menunjuk ke arah lemari pakaian Madison. “Ya mom,” balas Davonna. Madison sebetulnya bukanlah anak yang rewel. Selama dimandikan oleh Racquel, Madison hanya tenang sambil mendengar cerita-cerita fabel yang dilontarkan oleh Racquel. “Selesai… Kau mau kubuatkan susu cokelat setelah ini?” Tanya Racquel kepada Madison. “Mmhmm…” Jawab Madison dengan kepala dianggukkan beberapa kali. Racquel sedang mengaduk susu cokelat yang hendak diberikannya kepada Madison ketika ia mendengar teriakan Allison. Masa Depan Belajar dari masa lalu 77
“CHANTAL… ATAU ENTAH SIAPALAH NAMAMU… SAMPAI KAPAN AKU HARUS MENUNGGU RUANG MAKANKU DIBERSIHKAN? AKU HARUS MENJADI TUAN RUMAH UNTUK ENGLISH TEA SIANG INI,” Teriak Allison kepada Davonna. “Ma-maaf madam akan kubersihkan,” balas Davonna sambil mengangguk patuh di depan Allison. Allison meninggalkan ruang makannya dengan muka geram. Seperginya Allison, Davonna mulai menyapu ruang makan sambil berusaha menahan tangis. Racquel hanya bisa mengelus dada menahan kekesalannya terhadap Allison. English tea berjalan lancar seperti biasa. Pie coklat buatan Racquel memang tak jarang mendapat pujian oleh para tamu undangan Allison, tak heran jika mereka sering memilih Allison sebagai tuan rumah english tea mereka. “AYO ANGKAT SEMUA ITU, CEPAT BERESKAN,” bentak Allison kepada Davonna. Davonna membawa nampan penuh cangkir dengan tangan gemetar dan tak sengaja menjatuhkan salah satu sendok yang ada di dalam cangkir itu. 78 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“APA-APAAN KAU, INI BUKAN SENDOK SEMBARANGAN YANG KAU JATUHKAN… HAH MELAKUKAN PEKERJAAN RINGAN SAJA TAK BECUS,” bentak Allison sambil memelototi Davonna. “Maaf madam,” balas Davonna dengan mata berkaca-kaca. Racquel tak sanggup menyaksikan anaknya diperlakukan dengan kasar oleh majikannya, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Racquel membantu Davonna membereskan ruangan yang tadinya dipenuhi oleh teman-teman Allison itu dan membawa semua perlengkapan minum ke dapur. “Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada anakmu,” sebuah suara yang cukup familiar mengagetkan Racquel. Di dekat kulkas berdiri Emma dengan tatapan iba sambil meraih tangan Racquel. “Aku langsung kabur kesini ketika mendengar teriakan Allison yang tinggi itu,” lanjut Emma. Racquel hanya membalas dengan senyum tipis dan mengabaikan Emma sambil mencuci peralatan bekas acara tadi. “Mungkin engkau tak percaya padaku, tapi aku bisa membantumu Racquel,” jelas Emma. Masa Depan Belajar dari masa lalu 79
Racquel tak menanggapi omongan Emma dan terus mencuci cangkir- cangkir di depannya. “Sampai kapan engkau ingin ditindas seperti ini oleh Allison?” lanjut Emma dengan nada membujuk. Racquel diam sejenak, tangisannya pecah tak terbendung lagi. Racquel menatap Emma dengan mata berlinang air mata. “kau bisa menjamin keselamatanku dan keluargaku?” Tanya Racquel tersendat-sendat akibat menangis. “Namamu akan ku buat anonymous, hanya kita yang akan tahu,” jelas Emma sambil mengelus lengan Racquel. Racquel diam sejenak, lalu mengangguk kecil setelah beberapa detik. “Biar kuantar kau dan Davonna pulang setelah ini,” balas Emma. Racquel hanya mengangguk kecil tanpa menatap Emma. “Kau boleh memulai saat sudah merasa tenang,” ungkap Emma saat Racquel sudah duduk di sebelahnya dalam mobil. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan ke rumah Racquel yang memakan sekitar 15 menit dengan mobil itu. 80 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Mari turun… Biar kuceritakan di dalam,” tawar Racquel dengan tatapan agak kosong. Emma mengikuti Racquel melewati pintu rumah Racquel. Emma dan Racquel duduk di sofa yang berhadapan sambil Davonna membawakan minum untuk mereka berdua. “Aku awalnya bekerja untuk Nyonya Wards, ibu dari Tuan Daniel,” ungkap Racquel memulai pembicaraan. “Ketika Tuan Daniel menikahi Allison, aku bekerja untuk rumah mereka,” lanjut Racquel. “Allison… dia memang selalu kejam, tapi aku tak pernah memikirkannya sebelumnya karena toh aku sadar akan situasiku,” jelas Racquel dengan sedikit terisak. “Aku pernah meminta pinjaman uang kepada Allison untuk membiayai sekolah anakku… Ia memaksaku lembur untuk bisa mendapatkan uang itu, tetapi ia pun tak pernah memberikannya dengan alasan kerjaku tak benar,” lanjut Racquel dengan penuh isak tangis mengingat pedihnya pengalaman itu. “A-aku…” Kata-kata Racquel terpotong akibat tangisannya yang tak terbendung lagi. Emma mengulurkan tangannya mengelus lengan Racquel. “Tak apa, engkau takkan lagi diperlakukan seperti itu,” ungkap Emma. Masa Depan Belajar dari masa lalu 81
Suara gonggongan anjing milik Deshauna sedikit menyadarkan mereka dari obrolan penuh tangis itu. “Terima kasih atas keterbukaanmu, aku akan menjaga identitasmu seperti aku menjaga hidupku sendiri.” Janji Emma sambil menutup buku catatan miliknya sebelum beranjak keluar menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Racquel. Setelah diam sejenak dengan tatapan yang sedikit kosong namun terasa lega, Racquel memberikan senyum tipis kepada Emma. “Aku sudah mengirim draft itu satu minggu yang lalu, bagaimana tanggapanmu?” Tanya Emma kepada Toulouse, editornya terkait tulisan yang ia buat tentang Racquel. “Beritamu bagus, namun aku tak tahu apakah ada yang sungguh peduli dengannya,” jawab Toulouse. “Ta-tapi..” Omongan Emma terhenti setelah Toulouse memotong perkataannya. “Kita punya customer untuk dipuaskan dear,” lanjut Toulouse sambil berjalan memasuki ruang kerjanya. Emma hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. 82 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Kami juga sudah tak tahan, tolong terbitkan juga cerita kami,” ujar sekumpulan asisten rumah tangga berkulit hitam yang berkerumun di teras rumah Racquel ketika Emma datang. “Aku tak… Baiklah, mari kita mulai satu persatu,” balas Emma kepada mereka setelah memutuskan untuk tidak mengungkapkan kondisi yang sebetulnya mengenai artikelnya yang ditolak. “Aku pernah dipukul oleh majikanku.” “Aku pernah diperkosa oleh majikanku.” “Aku baru saja difitnah oleh majikanku untuk menyelamatkan nama baiknya.” “Aku dituduh mencuri perhiasan majikanku.” Satu persatu Emma mendengarkan kisah-kisah mereka yang beragam. Tanpa disadari, pada akhir wawancaranya, Emma telah mengumpulkan empat belas kisah baru yang beragam dari para asisten rumah tangga itu. “Aku tak tahu harus berbuat apa, haruskah aku jujur?” ujar Emma kepada bartender yang melayani pesanannya. “Huft…” Desah Emma sambil mengacak-acak rambutnya. Masa Depan Belajar dari masa lalu 83
Tiba-tiba matanya berbinar karena ide cemerlang yang baru saja merasuki pikirannya. “Ini pasti berhasil, harus berhasil,” gumam Emma dalam benaknya. “Kau punya waktu? Aku tahu ini sudah larut, tapi coba dengarkan dulu. Aku punya kisah, maksudku kumpulan kisah yang sangat bagus. Kau bisa menerbitkannya?” Ujar Emma melalui telepon umum kepada Sophie, seorang aktivis rasisme yang bekerja di perusahaan penerbit terkenal milik ayahnya. “Mana bisa kujawab sekarang dear, kau pasti sedang mabuk, kau saja belum mengirimkan draft tulisanmu kepadaku,” balas Sophie yang sudah biasa menanggapi keteledoran Emma. Sophie adalah teman satu sorority Emma yang sudah tak jarang membopong tubuh Emma jika dia mabuk hingga tak sanggup berjalan. “Besok… Besok akan ku kirimkan, SECEPATNYA…” Balas Emma dengan penuh semangat. “Iya, besok itu cukup cepat bagiku, kau tak perlu mengatakan secepatnya lagi.” Balas Sophie. 84 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Hehehe….” Jawab Emma dengan menyengir lebar yang tentunya tak bisa dilihat oleh Sophie. Memarkir mobil, membuat kopi, lalu mengetik. Emma sama sekali tidak tidur untuk mengetik kisah-kisah yang baru di dapatnya hari ini. “Jam sebelas aku akan sampai, langsung baca oke?” Ujar Emma kepada Sophie di telepon. Selesai mengabarkan Sophie, Emma kembali mengetik kisah-kisah yang dikerjakannya dengan mesin ketik pemberian orang tuanya ketika Emma lulus dari kuliahnya. “Gosh dear, kantung matamu tak bisa bohong,” ujar Sophie setelah melihat Emma yang setengah berlari dengan sepatu heels dan blazer serta rok span berwarna hitam menuju meja resepsionis gedung kantornya. “Aku tahu, maka dari itu setidaknya bacalah kisah-kisah ini dengan teliti,” balas Emma sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari. “Ya…Ya… Akan kucoba,” balas Sophie. Emma melambaikan tangan kepada Sophie setelah menyerahkan berkas berisi kisah-kisah yang ditulisnya yang tebalnya tak kurang dari tujuh puluh halaman kertas berukuran A4. Masa Depan Belajar dari masa lalu 85
“Kriiinggg…” Telepon rumah Emma berdering yang kemudian diangkat oleh Quincy, asisten rumah tangga Emma. “Apakah aku bisa berbicara dengan Emma?” Ujar Sophie kepada Quincy. “Hmm… Miss Emma-” Kata-kata Quincy terputus ketika teriakan Emma dari lantai atas terdengar memenuhi koridor diiringi suara grasak-grusuk dan langkah kaki yang keras menggambarkan semangat Emma yang menggebu-gebu menanti telepon dari Sophie. “AKU SUDAH BANGUN, TUNGGU AKU…” Teriak Emma. “Jadi?” Tanya Emma tanpa basa-basi ketika ia meraih gagang telepon dari Quincy. “Kisahmu… Menarik,” Jawab Sophie singkat. “Tapi, aku tak bisa menerbitkan kisah yang penuh dengan kesalahan tulis Emma, jangan bercanda denganku! Tapi karena aku suka kisah-kisah ini maka kau kumaafkan,” omel Sophie sedikit bercanda seperti yang biasa mereka lakukan di masa lalu. Emma menghembuskan nafas lega, kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. 86 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“RACQUEL…. RACQUEL….” Teriak Emma sesaat ketika keluar dari mobilnya yang terparkir miring di depan Gereja khusus orang berkulit gelap. “Jesus Christ, kau mengagetkanku maam,” balas Racquel ketika Emma berhasil menjangkaunya yang sedang menuruni tangga Gereja. “BUKU KITA….” Ungkap Emma sambil mengeluarkan amplop cokelat dari tas Hermes nya. “Su-sudah jadi?” Tanya Racquel dengan tatapan penuh harap. Emma mengangguk dengan sangat cepat dan senyuman tersungging di bibirnya. “AAAAAA…. Kita harus rayakan ini,” ujar Emma sedikit berteriak. Racquel dan Emma langsung menuju rumah Racquel dengan menaiki mobil Emma. Seketika saja halaman rumah Racquel dipenuhi dengan tetangga- tetangganya yang juga menjadi narasumber untuk buku Emma. “CEPAT BUKA, CEPAT BUKA!” Seru Lalela, salah satu teman Racquel ketika melihat amplop cokelat yang dibawa Racquel. Masa Depan Belajar dari masa lalu 87
Gumaman-gumaman kecil bersatu padu di dalam kerumunan yang menanti-nantikan untuk melihat buku yang saat ini dipegang oleh Racquel. Buku bersampul biru keunguan dengan gambar sehelai pena bulu di tengahnya, tepat diatas tulisan “Payback” yang merupakan judul dari buku itu. “Indah sekali,” ujar Viola dengan mata berkaca-kaca saat melihat sampul dari buku itu. “Dan buku ini akan membawa pengaruh yang lebih indah, aku percaya.” Balas Emma dengan senyum tulus tersungging di bibirnya dan mata berkaca-kaca. Beberapa minggu setelah buku ini diterbitkan, komplek perumahan asisten rumah tangga berkulit hitam di seluruh state di Amerika Serikat mulai didatangi wartawan yang ingin mendengar langsung kisah dari seorang asisten rumah tangga berkulit hitam. Buku Emma mulai menjadi best seller dan Emma diundang ke berbagai negara untuk mempromosikan bukunya. “Surat…. Surat….” Teriak Harvey, tukang pos yang biasa mengantarkan tagihan untuk Racquel. 88 Masa Depan Belajar dari masa lalu
“Selamat Racquel, kali ini bukan tagihan yang kubawa untukmu,” ujar Harvey saat Racquel menghampirinya untuk mengambil suratnya. “Hahaha, aku suka spirit mu, selalu positif,” balas Racquel. Setelah Harvey pergi, Racquel segera membuka surat dari Emma yang baru saja diterimanya. Senyum lebar disertai air mata tak lagi mampu ditahan oleh Racquel, ia menutup mulutnya dan langsung berlari masuk ke rumahnya. Masa Depan Belajar dari masa lalu 89
Dear Racquel, Aku sungguh berterima kasih atas kebaikan hati kalian yang mempercayaiku untuk menulis kisah-kisah kalian dalam sebuah buku. Aku sendiri tak pernah menyangka bahwa buku ini akan menjadi suatu kesuksesan besar dan perlahan-lahan membuka mata dunia akan rasisme yang selama ini kalian alami. Bukan karena jasaku, melainkan hasil dari perjuangan kalian yang telah menderita selama bertahun-tahun ini. Aku mohon maaf karena tak bisa melakukan banyak untuk mengungkapkan rasa terima kasihku kepada kalian. Tetapi, yang paling sedikit yang bisa kulakukan untuk membalas jasa kalian sudah kutaruh bersamaan dengan surat ini. Ambillah uang ini, hak kalian, sebagai jalan keluar bagi kalian dari penderitaan yang telah merenggut kalian dan keluarga kalian selama bertahun-tahun. Tidak, ini bukanlah akhir, melainkan awal dari kemajuan besar, kesetaraan bagi seluruh ras manusia. Kalian… Kalian telah memulainya dengan sangat baik. Aku akan mengirimkan lagi hasil penjualan buku ini setelah aku menerimanya. Nikmatilah kebebasan kalian and never let anyone silence your voice :). Most sincere, Emma Parkinson -TAMAT- 90 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Malu-Malu Tapi Mau -Ignatius Imanuel Nugroho Suwandi- Masa Depan Belajar dari masa lalu 91
10 tahun yang lalu, Pejaten, Jakarta Selatan 20:00 PM. Seorang lelaki berusia sembilan belas tahun bernama Nicholas Xavier sedang berdiri di balkon rumah, di tengah kegelapan kota Jakarta Selatan (Jaksel). Nic sedang mengalami kejenuhan dan kebingungan. Setelah beberapa menit berdiri, tiba-tiba pandangan nich teralihkan dengan suara motor yang berada di depan pagar rumah. seketika Nic mulai bertanya dalam hati “Ngapain dia kesini ya, padahal udah malam banget.” Setelah beberapa menit, orang ini membuka helm dan jaket nya. seketika nich langsung mengenal siapa orang ini, ternyata orang ini adalah Peter Michael teman SMP dia dulu. Nic segera turun dan menanyakan keperluan apa datang ke rumah malam-malam. Nic membuka pintu dan segera menyapa Michael, “Woi ngapain lo kesini malam malam, kayak maling aja, untung aja gue masih bangun hadeh (sambil menggelengkan kepala)” Michael mengulurkan tangan dan sambil berkata “Apa kabar lu Nic, gue lagi bosen aja tadi pas night ride, terus sekalian aja mampir kerumah lu bentar hehehehe, gapapa kan?” 92 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Nic menjawab “Oiya gapapa masuk aja sini (sambil membuka pintu gerbang) parkir aja di dalam motornya!” Nic mengajak Michael untuk naik dan menuju ke balkon rumah. Nic membuatkan minuman hangat dan membawakan cemilan ringan untuk menemani obrolan malam yang pastinya sangat lama. Nic menghampiri michael yang sudah menunggu di balkon, dia duduk di samping Michael dan memberikan minuman dan cemilan yang sudah disediakan. Tak lama kemudian Michael memulai pembicaraan dengan raut wajah yang murung dan nada menahan tangis. Segera Nic bertanya kepada Michael dengan “eh kenapa lu mich?” mich langsung menjawab dengan nada yang tinggi “Gua abis putus sama pacar gua nic” pastinya michael mengalami perasaan yang sangat sedih setelah pengalaman pahit yang menimpa michael ini. Pastinya bukan hal yang mudah ketika mengalami putus cinta di masa- masa remaja, Dirasa yang paling menyedihkan dalam proses pencarian adalah tersesat. Bukan, ada yang lebih….. Berpisah dengan ia yang kita kira searah. (NKCTHI) Masa Depan Belajar dari masa lalu 93
Kutipan ini diambil dari buku yang Nic baca yang berjudul “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” dia merelasikan dengan kisah cinta michael ini dengan kutipan yang Nic juga merasakan hal yang sama ketika sedang putus cinta dengan mantan nya sedih, menangis dan kecewa. rasa-rasa nya seperti dunia ini sedang tidak baik-baik saja bagi setiap orang yang sedang putus cinta. Namun sebagai teman dia harus bisa menjadi pendengar yang baik ketika Michael ini sedang bercerita. Nic bertanya kepada Michael “Kenapa emang putus nya Mich?” spontan michael menjawab dengan ragu dan nada yang pelan “gua tuh mau kuliah diluar negeri Nic, sedangkan dia tuh ga mau LDR (Long Distance Relationship) ya gua udah ngasih dia harapan sebisa gue tapi tetap aja Nic dengan pendirian ga bisa LDR.” Ldr merupakan hubungan yang sulit bagi setiap orang yang tidak bisa bertahan akan kerinduan untuk bertemu. namun apa boleh buat Michael harus berpisah dengan keadaan seperti ini. Sakit tapi tidak berdarah pastinya yang dialami oleh michael. 94 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Nic mengajak michael untuk melihat ke arah langit dan Nic memulai bercerita dengan pembuka yang serius. “Mich lu tau ga sih sebenernya gue juga habis putus sama pacar gua, gua itu sudah di terima di Universitas di Roma” Michael langsung tercengang mendengarnya dan langsung bertanya “hah seriusan lu?? Di Roma!!!, wah gila gue kaget banget lu bisa sampe segitunya nich.” lantas dia tersenyum dan tertawa melihat tingkah michael yang begitu excited dengan omongan tadi. Nic langsung saja nyeltuk “Gaa deng gue bercanda hahahahaha.” seketika michael berubah raut wajahnya dengan menekuk kedua alis dan bola mata yang langsung mengarah kepada nich dan dengan nada yang tinggi “JADI LU BOONGIN GUE NIC?!!! WAH LU YA BENER BENER BUAT GUA NAIK DARAH AJA MALEM MALEM GINI!!” Nic masih tertawa ngakak dan sambil menepuk pundak michael “hadeh mich ya kali gue ke roma, gue cuman terlintas aja tadi kayak pepatah banyak jalan menuju roma, hehehe.” Masa Depan Belajar dari masa lalu 95
Nic melakukan hal ini guna menghibur michael yang sedang sedih. Ketika sedang asyik berbicara tiba-tiba satpam komplek rumah menyenteri kami yang ada di balkon dan mengingatkan kepada kami dengan nada marah kepada kami berdua “jangan berisik ya ini sudah malam, kasian orang lain yang mau istirahat.” Nic langsung menjawab dengan cara menganggukan kepala dan meminta maaf kepada satpam tersebut. Akhirnya Nic menyuruh Michael untuk bergegas pulang karena sudah sangat larut malam. Michael segera membantu Nic untuk membersihkan sampah cemilan dan gelas bekas minuman, setelah selesai membereskan semua Michael bergegas untuk siap-siap dan menyalakan motornya serta berpamitan dengan orangtua Nic terlebih dahulu. Nic membukakan pintu gerbang dan segeralah michael memundurkan motor nya dan perlahan menancap gas motornya. Setelah Michael pergi meninggalkan rumah, Nic menutup kembali pagar rumahnya dan segera naik ke kamarnya kembali. Setelah banyak topik obrolan bersama Michael, kini Nic kembali ke kamarnya dan langsung merebahkan badan ke kasur yang empuk dan mulai berpikir dalam bahasa gaulnya overthinking. “Ternyata kalau udah masuk dunia perkuliahan tuh berat juga ya, apalagi kuliah nya diluar, banyak juga yang harus dikorbankan.” 96 Masa Depan Belajar dari masa lalu
Tidak lama dari overthinking Nic mulai perlahan memejamkan mata nya dan beristirahat….. Pagi tiba, mentari menyinari sedikit celah cahaya jendela kamar Nic, beruntungnya hari ini libur, jadi Nic bisa bangun lebih siang sedikit dari yang biasanya. waktu telah menunjukkan 08:00 WIB alarm Nich berbunyi cukup keras sehingga membuat Nic terbangun dengan kaget. Nic perlahan menurun kaki ke bawah kasur dan melakukan peregangan otot-otot yang kaku. Nich segera turun dari kamarnya untuk ke dapur dan sarapan, tetapi mama dengan nada yang halus menyapa Nic “Selamat pagi Nic ganteng, nih mama udah nyiapin roti selai blueberry kesukaan Nic nih, yuk langsung dimakan aja nanti keburu mama yang makan hahahaha.” Nic yang masih setengah sadar “ya ma bentar lagi aku makan deh ini” mama tidak menjawab Nic karena sudah bertahun-tahun jawaban setiap kali bangun selalu sama saja hehehehe, begitulah anak muda kalau disuruh pasti juga jawaban nya “bentar lagi/nanti dulu” Jadwal Nic hari ini adalah mengikuti les untuk ujian nasional, karena sudah semakin dekat dengan ujian nasional jadi Nic harus mempersiapkan diri dengan baik dan mantap dalam tes kali ini, karena Nic mempunyai sebuah target untuk berkuliah di Harvard University. Masa Depan Belajar dari masa lalu 97
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148