1|Kisah Putih Abu-Abu
Kata Pengantar Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas anugerah dan rahmat-Nya, kami bisa menyelesaikan cerita non-fiksi dengan judul utama “Kisah Putih Abu-Abu”. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Lusia Ely Rahmawati selaku guru pembimbing kami dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan cerita non-fiksi ini. Tujuan kami membuat kumpulan cerita non-fiksi berjudul “Kisah Putih Abu-Abu” adalah untuk memenuhi tugas sebagai Ujian Akhir Semester II. Selain itu, kami ingin mengembangkan imajinasi dan kreativitas dalam membuat cerita dengan penggunaan tata bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Kami sadar bahwa kumpulan cerita non-fiksi berjudul “Kisah Putih Abu-Abu” jauh dari kata sempurna. Maka, kami mohon maaf atas segala kekurangan dari kumpulan cerita ini. Kami juga meminta tanggapan dari pembaca berupa kritik dan saran yang membangun agar di kesempatan selanjutnya kami bisa semakin baik lagi dalam membuat cerita non-fiksi. Jakarta, 26 Mei 2022 Penulis I|Kisah Putih Abu-Abu
Daftar Isi Kata Pengantar.....................................................I Daftar Isi..............................................................II Putih Abu-Abu .....................................................1 Bangkit ................................................................8 Bumi dan Bulan ...................................................13 Midnight Visitor(s) ..............................................36 Cinta Yang Mengalah...........................................45 Do You Love Me ?...............................................59 Biodata Penulis ....................................................68 II | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Putih Abu-abu Oleh : Abraham Christian Bel tanda masuk berbunyi. Adi yang masih sekitar satu meter dari gerbang sekolah segera bergegas berjalan cepat memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka, namun akan segera ditutup oleh satpam penjaga pintu. “Terimakasih Pak masih membukakan gerbang buat saya. Hampir saja saya telat.” “Sama-sama Dek, lain kali berangkatnya agak lebih pagi saja supaya tidak ngepas begini, saya kasihan kamu kalo harus lari-lari mengejar waktu” “Iya Pak saya sudah berangkat lebih awal tapi hari ini kebetulan jalanan lebih macet dari biasanya makanya saya datang ngepas begini hehe” “Oke lah kalo begitu, segera masuk lah dek supaya tidak terlambat, selamat belajar ya” 1|Kisah Putih Abu-Abu
“Iya Pak terima kasih, mari saya duluan yah” Anak muda itu bernama Adi Winanto. Dia adalah anak SMK, bukan SMA. Usianya 17 tahun. Tepat tahun ini ia resmi mendapatkan KTP. Adi memilih untuk masuk SMK karena dia merasa bahwa ia mempunyai keahlian yang lebih baik jika dikembangkan di SMK ketimbang SMA. Dulu waktu Adi masih SMP, nilai-nilai di sekolahnya tidak jelek, tetapi tidak juga bagus, bisa dibilang pas- pasan saja. Maka dari itulah, Adi lebih mantap memilih SMK ketimbang SMA. SMK yang ia pilih pun tidak main-main. Tidak jelek, tetapi juga bukan yang paling bagus, namun SMK yang dipilihnya termasuk yang terbaik di bilangan Jakarta Timur. SMK Paramitha Jakarta, nama yang terpampang di atas gedung sekolah. Sekolah ini termasuk bagus. Punya relasi yang baik dengan beberapa perusahaan ternama, sehingga mereka yang hendak menjalani praktek kerja lapangan sudah terjamin dengan baik. 2|Kisah Putih Abu-Abu
Jurusan yang dipilih adalah Tata Boga. Adi tidak punya hobi memasak, tetapi ia suka makan, dan mempunyai harapan, bahwa kelak ia ingin menjadi seorang juru masak handal. Ia terinspirasi sang ayah yang dirumah selalu memasak untuk kebutuhan makan keluarganya, maka dari itu ia merasa ingin seperti sang ayah. Kebetulan ayah Adi adalah seorang juru masak di sebuah restoran, jadi memang ayahnya sudah terbiasa dengan lingkungan dapur. Tanggal 15 Mei 2021, Adi resmi diterima sebagai siswa SMK Paramitha dengan jurusan Tata Boga. Adi beruntung masih mendapat slot pendaftaran. Yang lebih beruntung lagi, ia mendapat slot terakhir sebelum slot ditutup. Pasca diterima Adi langsung diberikan berbagai macam kertas yang berisi ketentuan dan syarat untuk bersekolah di SMK Paramitha. Akhirnya dinyatakan secara resmi dalam surat, bahwa Adi akan memulai pendidikan di SMK Paramitha pada 16 Juli tahun 2018. 3|Kisah Putih Abu-Abu
Seperti biasa, tidak berbeda dengan siswa SMA pada umumnya, siswa SMK juga pasti akan melaksanakan kegiatan Masa Orientasi bagi siswa baru. Adi melaksanakan masa orientasi ini selama kurang lebih 1 minggu sebelum akhirnya proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Seminggu berlalu, kini proses pembelajaran di SMK Paramitha resmi dimulai. Sehari, seminggu, sebulan, tiga bulan pertama Adi jalani kegiatan pembelajaran di SMK Paramitha, jujur bagi Adi ini adalah pengalaman yang menyenangkan, sebab di SMK ini banyak sekali kegiatan menarik, pembelajarannya pun tidak membosankan karena guru-gurunya asik dalam menyampaikan materi pembelajaran. Kemudian menjelang semester dua, kegiatan di SMK Paramitha justru semakin menarik karena diselingi dengan berbagai macam kegiatan praktek secara langsung di dapur praktek sekolah. 4|Kisah Putih Abu-Abu
Lantas bagaimana pergaulan Adi?. Bisa dibilang cukup baik, meski memang Adi tak punya banyak teman, karena kebanyakan teman-temannya saling membuat kubu. Adi lebih memilih bersifat netral, ia tak mau ambil pusing dengan pertemanan di dalam kubu. Masa putih abu-abu juga identik dengan kisah cinta, tak hanya SMA, SMK pun juga pastinya diwarnai dengan kisah cinta ini. Pelan-pelan Adi dikagumi oleh para siswi, karena memang tampangnya cukup meyakinkan untuk mempunyai seorang kekasih. Aulia Fitri Setiani, itulah nama kekasih Adi, akrab dipanggil Fitri. Fitri adalah anak kelas Perhotelan, meski berbeda jurusan tetapi jurusan mereka tetap satu divisi. Adi dan Fitri mulai menjalin hubungan sejak memasuki semester dua. Kisah cinta mereka berjalan manis, semanis gula. 5|Kisah Putih Abu-Abu
Hari-hari Adi di SMK Paramitha sangatlah penuh warna dan membahagiakan. Tanpa terasa ternyata Adi sudah duduk di kelas dua. Kelas dua menjadi saat dimana Adi akan memulai praktek kerja lapangan. Di masa inilah Adi mulai mengalami pergulatan, antara fokus dengan praktek nya atau memperhatikan Fitri. pernah suatu kali Adi terlambat datang bekerja karena mengantar Fitri terlebih dahulu ke tempat kerjanya, padahal lokasi tempat mereka praktik sangatlah jauh. Adi mendapat surat peringatan karena terlambat, dan diancam akan dikeluarkan apabila terlambat lagi di lain waktu. Akhirnya Adi memutuskan untuk sedikit menjaga jarak dengan Fitri. Awalnya Fitri heran mengapa Adi menjauh darinya. hal ini sempat membuat hubungan mereka renggang, betul-betul renggang. Fitri pun sempat marah kepada Adi dan tak pernah berkontak hampir dua minggu lamanya. tetapi akhirnya Adi menjelaskan dengan baik-baik, dan akhirnya Fitri mau mengerti penjelasan Adi. 6|Kisah Putih Abu-Abu
Tanpa di rasa ternyata Adi sudah kelas tiga. Hubungan Adi dan Fitri yang semula agak renggang akhirnya kembali lagi. Kali ini tantangan Adi adalah ujian nasional dan ujian praktik. Semenjak di SMK ini, Adi ingin menjadi seorang koki handal di kemudian hari. Maka dari itu Adi sangat serius mempelajari berbagai macam teknik dan teori memasak supaya mendapat nilai tinggi, sehingga peluang untuk mendapat pekerjaan dan kuliah lanjutan lebih mudah. Benar saja, usaha Adi berbuah manis, hasil ujiannya sangat baik,bahkan nilainya tinggi. Adi lulus dengan nilai sempurna. Adi pun dipanggil ke ruang kepala sekolah, ternyata Adi mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah hotel ternama di pusat ibu kota. Adi langsung mengambil tawaran ini. Lalu bagaimana hubungan Adi dan Fitri?. Ya, semenjak lulus SMK, mereka masih berhubungan. Kini Adi telah menjadi seorang koki handal di sebuah hotel ternama, dan tentunya Adi sudah semakin siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Fitri. -Tamat- 7|Kisah Putih Abu-Abu
[bang·kit] Oleh : Dionisius Oktavian Jehasdi Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, baik itu kegagalan dalam pendidikan, percintaan, maupun pekerjaan. Ada yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Namun, untuk mencapai kesuksesan itu dibutuhkan kerja keras serta kita perlu bangkit dari kegagalan, hal itu sama halnya seperti yang dialami oleh seorang anak bernama Okta . Okta merupakan seorang anak tunggal, baginya menjadi anak tunggal tidak semenarik seperti yang dibayangkan seperti pasti akan hidup dimanja dan disayang-sayang secara berlebihan oleh orangtuanya. Kenyataannya ia sendiri sejak kecil ia sudah didik keras oleh ayahnya dan ditanamkan nilai kemandirian dan tanggung jawab, nilai- nilai itu yang selalu menjadi pegangan yang ia bawa hingga saat ini. Lalu inilah kisah pengalaman Okta untuk bangkit dari kegagalan yang pernah ia alami. 8|Kisah Putih Abu-Abu
Sejak TK-SMA Bagas sendiri bersekolah yang memiliki ciri menggunakan seragam kotak-kotak merah dan celana putih serta pilar yaitu Cc5. sejak masa SD adalah anak yang pemalu namun sejak kecil ia memiliki hobi dalam bernyanyi dan berolahraga terutama sepak bola. namun pada saat itu ia bisa dibilang adalah anak yang pemalu sehingga ia jarang menunjukkan bakat dan hobi yang ia miliki. Lalu 6 tahun pun berlalu dan saatnya ia memasuki jenjang baru yang dinamakan SMP, di masa ini bisa dibilang adalah masa pencarian jati diri, Okta sendiri sering melakukan kenakalan remaja sehingga tak heran ruang Bimbingan Konseling bahkan bisa dibilang adalah tempat yang sering dikunjunginya. Bahkan beberapa guru ada yang sudah merasa menyerah dengan tingkah laku yang dilakukan oleh Okta. Hingga suatu saat karena sang guru sudah lelah dengan tingkah laku Okta maka ia meluapkan kekesalannya dengan mengancam akan tidak meluluskan Okta dari SMP. 9|Kisah Putih Abu-Abu
Lalu berjalanlah waktu dan pada saat itu sudah kelas 9 SMP momen dimana anak-anak memilih untuk melanjutkan studi ke sekolah kejuruan (SMK) atau sekolah menengah atas (SMA). Pada saat itu ia karena memiliki ketertarikan untuk menjadi imam maka memilih untuk mendaftar ke seminari. Lalu ketika orang tuanya mendengar hal itu mereka kurang mendukung keinginan Okta, namun karena keinginan Okta masih sangat besar maka orang tuanya mengizinkannya. Lalu Okta pun melakukan tes di seminari, ia merasa sangat percaya diri ketika melaksanakan tes di seminari pada saat itu. Tes wawancara, fisik, dan akademi ia jalani selama kurang lebih 3 hari 2 malam. Setelah melaksanakan tes Okta merasa sangat percaya diri akan diterima. Hari-hari terus berlari lalu tiba-tiba ada sebuah surat dari seminari yang dikirimkan ke rumahnya. Lalu Okta pun mengambil surat itu lalu membukanya, dan ketika dibuka ternyata bertuliskan tidak lolos. Di saat itu pun okta merasa sangat kecewa karena ia merasa sudah berusaha 10 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
keras sebelum dan ketika melakukan tes. Ketika itu Okta pun merasakan kecewa yang amat dalam dan mulai merasa terpuruk. Ia pun merasakan malu akibat banyak orang yang membicarakannya. Setelah menerima pengumuman itu Okta pun memilih untuk melanjutkan studi di Sekolah Menengah Atas. Memasuki masa SMA Okta awalnya menjadi pribadi yang tertutup karena masih merasa malu ketika tidak diterima di seminari. Bahkan ia sampai merasa malas untuk bersekolah di SMA karena takut mendengar cerita yang buruk mengenainya. Ternyata kenyataanya tidak seperti itu, banyak orang disekitarnya baik itu teman- temannya, orang tua dan orang disekitar Okta berusaha untuk memberikan semangat dan dukungan kepada nya agar bisa bangkit dari keterpurukannya, Suatu saat Okta terpilih menjadi ketua kelas. ketika itu ia Awalnya ia kira jabatan itu hanya sekedar formalitas, namun ternyata ketika di SMA jabatan itu termasuk sebagai sebuah organisasi di sekolah. Okta pun mulai bangkit dan melupakan masa lalunya. 11 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Ia semakin aktif dalam pembelajaran dan berorganisasi. Ternyata dalam kinerjanya Okta dilihat oleh para guru bekerja dengan apik dan aktif di organisasi tersebut, maka Okta sering diminta bantuan oleh guru untuk menjadi panitia di event-event besar sekolah. Dari sinilah Okta bisa mulai untuk menjadi pribadi yang terbuka dan bisa lebih mengembangkan bakatnya. Terutama hobinya, yaitu bermain futsal banyak prestasi ia torehkan sepanjang masa SMA ini, hingga akhirnya ia pun bersyukur karena Tuhan selama ini mempunyai rencana yang begitu indah. Walaupun ia sempat mengalami kegagalan namun ternyata dibalik kegagalan itu bisa membuatnya belajar untuk bisa berjuang lebih keras lagi dan berani untuk bangkit dan tidak terus menerus berdiam diri di dalam keterpurukan. “Adalah baik untuk merayakan kesuksesan, tetapi adalah lebih penting untuk mengambil pelajaran dari kegagalan” – Bill Gates. 12 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Bumi dan Bulan Oleh : Gabriel Bagas Wicaksono “Mungkin kita perlu belajar dari Bumi dan Bulan yang bahagia walaupun tidak bisa berjalan bersama” Apa selanjutnya? Jalan mana yang akan Gabriel pilih? Bertahan dengan afeksi yang terlihat atau tidak terlihat? “Gimana kalau lu Gabriel, pernah pacaran gak?” Tanya Okta kepadaku. “Pernah dong, Masa nggak.” Jawabku. “Berapa kali tuh? Paling lama berapa tahun?” “Tiga kali sih, sama mantan gua yang terakhir sekitar 3 tahun 4 bulan lah” “Busettt… Lama juga” 13 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Percakapan dengan Okta membuatku teringat akan masa-masa SMA-ku. Okta adalah teman angkatanku di seminari. Aku Gabriel seorang seminaris dari Seminari Menengah di Jakarta. Ini adalah cerita masa SMA-ku diwarnai dengan kisah kasih dengannya. “Kamu tetap di gedung sebelah kan? Nanti aku di gedung sebelah kamunya yang pindah lagi.” Kata Eve cemas. “Iya, aku ga pindah kok. Nih liat.” Jelasku sambil menunjukan formulir pendaftaran gedung sebelah. Gedung sebelah adalah sebutan yang sudah biasa bagi anak-anak di SMP-ku untuk merujuk gedung di sebelahnya yaitu gedung SMAnya. Sekolahku bernama Mother of God dengan visi Care, Inovatif, dan Respect. Eve adalah pujaan hatiku pada masanya. Aku menjulukinya sebagai mantan terindah. Banyak yang bilang kalo mantan terindah ngapain putus. Bagiku kenangannyalah yang indah. Mengisi kekosongan dalam hatiku. Memenuhi afeksi yang aku butuhkan. Aku sangat menyayanginya dan berusaha untuk tidak menyakitinya. Aku pun rela tidak mendaftar ke 14 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
seminari karena hal itu.Aku pacaran dengan Eve sejak SMP kelas 8. Kini relasi yang telah kubangun sudah hampir 2 tahun tepatnya pada 10 Juni nanti hubunganku genap 2 tahun berpacaran. Sekolah adalah tempatku bertemu dan beradu kasih dengannya. Masa SMA dimulai dengan pembelajaran materi-materi untuk matrikulasi atau pemilihan jurusan. Aku punya perhatian yang sangat tinggi pada jurusan IPA. Alasanku masuk IPA adalah karena aku tidak suka pelajaran Ekonomi dan Akuntansi. Menghitung kok uang orang lain, menghitung ya uang sendiri lah. Itulah prinsipku untuk tidak memilih IPS sebagai pilihan studiku. Berbeda dengan kekasihku yang justru begitu mencintai ilmu sosial. Aku menyadari aku tidak akan pernah mungkin sekelas dengannya. Benar saja bahwa saat penjurusan aku masuk IPA dan dia masuk IPS. Memang tidak pernah bertemu dalam 1 kelas yang sama, namun pulang hampir bersama setiap hari. Aku dengan motorku yang kata orang orang motor legend. 15 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Astrea tahun 1994 adalah motor andalanku. Tidak bisa bersaing kecepatan memang, namun soal keantikannya tidak perlu diragukan. Antik sendiri di parkiran motor sekolahku. Disaat teman teman yang lain membanggakan roda 2 bermesin dengan Body yang besar, aku berbangga dengan keantikan motorku ini. Yang membuatku bangga kekasihku tidak malu untuk pulang bersamaku Kampanye ekskul pun dimulai. Berbagai aksi dari setiap ekskul begitu mengesankan. Dari awal aku telah jatuh hati untuk memilih ekskul band. Si senja hari ketika matahari sudah mau kembali ke peraduannya, Eve bertanya padaku. “Kamu jadinya ekskul apa?” Tanya Eve sambil menaruh dagunya di pundakku. “Hah? Ekskul? Aku mau pilih ekskul apa maksudnya?” 16 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Angin perjalanan membuat telingaku tidak mendengar dengan jelas suara Eve ditambah dengan Helm yang semakin menghambat pendengaranku. “Ohhhh. Aku sih maunya ngeband lah.” Jawabku bangga. “Ohhh.” “Kalo kamu maunya apa?” Tanyaku pada Eve. “Masih bingung sih. Tapi kemungkinan besar Tabog.” Jawab Eve. “Hah? Tabok? Kamu mau ditabok?” Godaku kepada Eve. “Ih apaan sih. Budeg cowok gue kalo dijalan. Udah nanti aja dirumah ngomongnya.” Gerutu Eve kesal. Aku hanya tersenyum karena berhasil menggodanya. Aku memperhatikan wajahnya yang begitu menggemaskan karena terlihat kesal melalui kaca spion motorku. Lalu sampailah kami dirumahnya. Aku memasukan motorku ke dalam parkiran. Aku menunggunya mengganti baju di teras sambil bermain dengan anjingnya. Kemudian datanglah Eve dan duduk 17 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
disebelahku. Aku membukanya percakapan melanjutkan topik yang tadi. “Jadi kamu maunya ekskul apa?” Tanyaku pada Eve. “Tata Boga.” Ucap Eve dengan ekspresi datar. “Oalahhhh, bilang dong bii.” “Dari Tadi aku kan udah bilang. Kamu aja yang budeg.” Aku tertawa melihat wajahnya yang mulai ia tekuk karena menggerutu. “Ihh kok kamu ketawa? Apa emangnya yang lucu?” “Kamu tau gak sih?” Tanyaku. “Nggak!” “Kamu itu lucu banget kalo lagi ngedumel gitu.” Ucapku sambil mencubit pipinya yang lama lama memerah. “Ihh gausah cubit cubit pipi aku. Mahal! Tuh liat aku jadi salting kan.” Protes Eve dengan pipinya yang memerah. 18 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Senyumku semakin melebar karenanya. Obrolanku berlanjut hingga matahari menghilang dari peradaban. Kemudian aku pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, aku terkena semprot oleh orang tuaku karena kembali terlambat tanpa ada kabar dan panggilan yang dijawab. “Kamu tuh dari mana aja sih?! Ibu telfonin gak diangkat-angkat. Gunanya ibu beliin kamu HP segitu pinternya buat apa kalo telpon aja gak diangkat?! Kalau mau kemana-mana dulu abis pulang sekolah tuh bilang biar Ibu gak nyariin dan biar ga ngomel kayak gini.” Oceh ibuku sambil menggelengkan kepala dan mengelus dada. “Iya, Bu,” jawabku menurut sambil menunduk. “Terus darimana kamu ini?” Tanya ibu. “Dari rumah Eve, “ jawabku datar. “Hadeuh. Pacaran mulu ya kamu sekarang. Ibu udah ngingetin ya. Ibu tidak setuju kalau kamu lanjut terus dan semakin serius sama dia. Kamu sama dia tidak seiman. Bukannya ibu gimana-gimana ya, dalam arti tidak toleransi atau menghargai perbedaan. Tapi ya memang kalau bisa dan lebih baik jodoh itu yang seiman. Ibu tidak menghendaki kelak dia pindah agama, bahkan sangat 19 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
tidak menghendaki kelak kalau kamu yang pindah agama. Pesan ibu, lebih baik jangan terlalu menjalin hubungan dengannya. Karena semakin lama maka akan semakin susah melepasnya. Semakin berat dan semakin susah juga kamu ngelupainnya.” Kemudian Ibu melanjutkan menyiapkan makan malam. Aku mendengar hal itu hanya bisa terdiam. Begitu panas telingaku mendengar ocehan Ibu. Rasa senangku setelah memiliki dunia hanya untuk berdua bersama Eve, berubah menjadi kekecewaan. Aku langsung mandi, makan malam dan segera masuk ke kamar. Perlahan aku memikirkan apa yang jadi ocehan sekaligus nasihat Ibu kepadaku. Aku memberikan sedikit logika pada sabda ibu. Rasa-rasanya memang benar sabda ibu tadi. Itu semua tidak mampu hatiku terima. Hatiku begitu terpaut pada Eve. Aku terlalu menyayangi Eve dan tidak mau melepaskannya begitu saja. Perkataan ibu begitu mengena bagiku. Aku perlu mencari waktu yang tepat untuk membuat kesepakatan serta membicarakan hal ini dengan baik-baik dengan Eve. *** 20 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Keesokan harinya di sekolah. Aku menghampiri Eve pada jam istirahat yang ke-2. Eve bertanya padaku. “Bii, besok nonton yukkk,” ajak Eve antusias. “Sama siapa? Berdua aja atau gimana?” Tanyaku. “Nggak berdua kok. Kita sama Fred dan Sephine.” “Jadinya double date nih? Mau kemana?” “Hehehe iya dong. Biasalah BX Mall.” “Okey. Besok yang berarti dirumah Fred nih tikumnya.” “Iya bii.” “Nanti pulang sama aku?” “Iya donggg. Gak ngerepotin kan?” “Dengan senang hati bii. Apa Sih yang nggak buat kamu.” “Dih gombal. Udah gih sana masuk kelas. Udah bel. Sampai nantiiii” *** 21 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Sabtu pagi aku langsung kerumah Fred karena Eve berangkat sendiri naik ojek online. Setelah kami berkumpul, kami berangkat naik mobil Fred. Sesampainya di bioskop, kami berdiskusi sebentar. “Hari ini nonton apa jadinya?” tanyaku kepada yang lain. “Glass aja.” Jawab Eve. “Bebas,” kata Fred. “Ngikut Eve,” sought Sephine. “Okey.” Jawabku. “Kita hari ini marathon film aja kali ya.” Usul Fred mendadak. “Setuju,” Jawab kami serempak. Film pertama pun selesai. Kami melanjutkan ke film yang ke-2. Kami memilih film “Milly dan Mamet : Ini Bukan Cinta dan Rangga”. Film ini merupakan film yang termasuk didalam Universe AADC (Ada Apa Dengan Cinta?). Film AADC yang mampu membuat banyak orang terbawa perasaan ketika menonton film tersebut. Cukup berbeda dengan film Milly dan Mamet. 22 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
AADC benar benar Drama dan Romansa sedangkan Milly dan Mamet adalah Drama dan Komedi. Film Garapan Ernest Prakasa ini berhasil membuatku terbawa perasaan sekaligus tertawa terbahak-bahak. Setelah Film selesai, kami pun pulang. Selama perjalanan di mobil, Eve menggenggam erat tanganku an bersandar di pundakku. Ia bersenandung salah satu soundtrack lagu dari Film Milly dan Mamet yaitu Jaz- Berdua Bersama. “Bii, jangan pernah berubah yaaa. Tetap jadi milikku dan tetap jadi Gabriel yang aku kenal.” Perkataannya yang spontan membuatku sontak terkejut. Aku terdiam sejenak. Aku merasa diriku meleleh dibuatnya namun aku juga berada di bawah tekanan mengingat sabda ibu. “Iya bii. Kamu juga yaaa.” Jawabku sambil mengelus-elus kepalanya. Sesampainya dirumah Fred, aku dan Eve langsung pulang. Aku mengantar Eve pulang terlebih dahulu. Hari 23 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
ini rasanya begitu menyenangkan sekaligus menyakitkan. Perkataan Ece terngiang-ngiang di kepalaku di bagian Lobus Temporal. Perkataan Eve membuatku semakin mencintainya. Namun, perasaan ini begitu menyakitkan karena mengingat bahwa aku tidak bisa bersama dengannya selamanya. Dalam perjalanan mengantarnya malam ini aku merasa aneh. Pelukannya menandakan bahwa dia punya feeling yang sama. Mungkin ia merasa bahwa hubungan ini tidak akan kekal abadi. *** 24 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Hubunganku sudah jalan 2 tahun 9 bulan. Aku semakin galau akan hal ini. Akhirnya aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk mampu membicarakan hal ini. Sebenarnya aku tidak mau, namun orang tua yang sering mengingatkanku membuatku tertekan pula. Bagaikan dua sisi mata koin. Sisi satu dan lainnya memiliki gambar yang berbeda. Sama halnya dengan diriku. Ada dua buah kehendak yang berbeda pula dalam hati dan logikaku. Kehendak satu mengatakan untuk tetap bertahan dan menyayangi Eve. Kehendak lain berkata untuk segera melepaskan sebelum tiba lara nestapa berkepanjangan. Pada akhirnya aku yang memulai pembicaraan. Aku sudah tahu ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi kami. Air mata Eve tak terbendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia sebelumnya juga sudah menyadari hal ini. Saat ini Eve semakin takut untuk melepas dan semakin takut untuk kehilanganku. Aku pun juga tidak kuasa tahan melihat Eve yang sebegitu sedihnya. Aku memeluknya. Mencoba menenangkan Eve. Setelah beberapa waktu Eve pun bisa tenang. Mulailah ia bicara kepadaku. 25 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Kalau misalkan kita udah gak bareng-bareng lagi, kayaknya aku gak akan membuka hatiku buat orang lain lagi deh. Lebih baik aku sendiri aja.” Kata Eve padaku. “Kenapa memangnya bii? Jangan begitu dong.” jawabku yang mulai cemas. “Aku gak tau sampai kapan bisa move on dari kamu kalau kita putus. Aku butuh waktu yang lama banget. Makanya mungkin aku tidak akan buka hati untuk siapapun.” “Plisss bii jangan begitu.” “Dari semua cowok yang pernah aku deket dan jadian, kamu paling spesial. Cuma sama kamu bisa sampai selama ini bertahan.” Aku dan dia hening beberapa menit. Tidak ada pembicaraan. Aku terdiam dan pikiranku kemana-mana. Tak mampu untuk berkata lagi. Namun kemudian dia melanjutkan dengan sebuah pertanyaan kepadaku. Pertanyaan yang rasanya sulit sekali untuk dijawab. “Kamu kalau udah gak bareng sama aku pasti jadian lagi ya sama yang lain?” 26 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Aku terdiam sejenak. Aku bingung sekali untuk menjawab pertanyaan ini. “Jawab bii. Jangan diam aja,” desaknya. “Gak tau bii, aku gak tau, aku juga perlu lama buat move on dari kamu dan mungkin gak bisa. Aku sayang banget sama kamu.” Kembali keheningan hadir diantara kami. Namun aku memecahkan keheningan itu dengan melanjutkan perkataanku pada Eve. “Mungkin aku bakal masuk seminari. Mungkin kamu jadi perempuan terakhir yang pacaran sama aku.” Tidak ada kata yang mampu diucapkan lagi oleh kami. Eve memeluk erat diriku dan aku juga membalas pelukannya. *** 27 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Dari kejadian itu kami berusaha untuk melupakannya. Aku berusaha tidak memikirkan terus menerus hal tersebut. Aku mengalir saja pada kehendak-Nya. Satu yang pasti aku minta adalah hubunganku berakhir secara baik-baik dan bermartabat. Di suatu siang pulang dari sekolah, aku sedang berleha-leha dikamarku. Tiba-tiba ada notifikasi panggilan masuk ke HPku. Ternyata Incoming Call dari Eve. Aku pun mengangkatnya dengan sedikit bingung karena jarang sekali dia menelponku terlebih dahulu. “Halo, Bii.” Sapanya. “Halo juga, Bii.” Sapaku. “Bii ayok temenin aku ke PIM.” Paksa Eve. “Naik apa? Berdua aja?” Tanyaku. “Iya berdua aja. Kita naik TJ. Kamu ke rumah aku dulu aja.” “Oke, aku berangkat 10 menit lagi yaaa.” “Cepetannn! Hati-hati di jalan ya bii.” Pesan Eve. “Oke. Dadah.” 28 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Ini sebenarnya kali pertama aku jalan berdua dengannya. Aku senang sekali akhirnya diperbolehkan untuk hangout berdua hanya dengan Eve. aku segera bersiap-siap dan berangkat. “Tumben banget kamu ngajak jalan berdua.” “Ihh kamu tuh yang tumben boleh jalan berdua ama aku.” “Hehehe, iya juga ya.” “Kita kan sekalian ngerayain 3 tahun anniversary bii. Kita kemarin kan belum ngerayain. Jadi sekalian aja aku ajak jalan. Kan kamu ngerti cewek kamu satu ini sukanya mendadak kalau ngajak jalan.” Itulah percakapanku ketika dalam perjalanan naik Trans Jakarta. 29 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Sesampainya di Pondok Indah Mall, Eve mengajakku berkeliling mall. Aku tahu sekali bahwa Eve kalau sudah ke Mall memang senang mencari-cari sesuatu. Selalu mampir sana dan sini. Tidak lupa yang terpenting adalah makan baginya. Eve sangat menyukai makan apalagi dunia per-junk-food-an. Semuanya telah ia coba. Diam-diam aku menjadi paparazi bagi dirinya. Aku upload di story Instagram dan tag dirinya. Langsung saja dia bereaksi. “Ihh bii, bilang-bilang kek kalo mau story.” “Gapapa biar candid.” “Bener-bener ya kamu.” Setelah itu kami menghabiskan makanan kami dan melanjutkan muter-muter PIM. Setelah itu kamipun pulang. Ya aku menciptakan kenangan baru lagi bersama dengannya. Trans Jakarta kini menjadi saksi bisu perjalanan cintaku dan kenangan yang aku tuliskan dalam hidupku. Trans Jakarta menjadi saksi bisu kisah cinta 2 remaja yang tahu bahwa mereka tidak akan bersama. *** 30 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Setelah hangout itu hubunganku tidak menjadi lebih baik. Aku merasa bukan semakin erat namun malah semakin renggang. Seperti senar gitar yang jarang di stem. Mengendur-mengendur sehingga menjadi tidak enak lagi dimainkan. Eve sudah semakin jarang ngechat diriku. Aku merasa Eve semakin menjauh dariku. Aku sedih sebenarnya, tidak siap untuk semakin merenggang hingga akhirnya putus. Sepertinya tanda-tanda yang ditunjukan Eve memanglah benar. Sinyal-sinyal sudah bukan lagi 3G namun 4G LTE yang ditujukan kepadaku. Aku menunggu dengan penuh pertanyaan apa yang akan terjadi jika hubunganku seperti ini terus dan tidak ada kejelasan. Aku tidak berani bicara duluan. Aku menunggu Eve yang berbicara. “Bii aku mau ngomongin sesuatu nanti. Ke cafe kakak aja ya.” “Oke. Aku juga mau ngomongin sesuatu sama kamu.” jawabku. Pikirku mungkin dia akan memberikan kejelasan akan hubungan ini. Aku menunggu Eve di cafe kakaknya. Ia tidak kunjung datang. Es di dalam teh yang kupesan sudah 31 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
mencair semua. Aku telpon tidak diangkat. Hingga kakaknya, yaitu Arnold bertanya padaku. “Nungguin siapa? Nungguin Eve? Kok gak dateng-dateng?” “Iya nih kak. Kayaknya gue balik duluan deh. Eve gak ada kabar juga.” “Yaudah nanti gua kabarin Eve juga kalo dia kesini.” “Makasih ya, Kak.” “Oke, Bri.” Keesokan harinya di sekolah aku menghampiri Eve dan bertanya kemana dirinya semalam. Ternyata ada urusan “mendadak”. Ya Sudahlah kupikir biarkan saja berlalu. “Nanti aja ya bii pulang sekolah. Kamu anterin aku sekalian ngomongnya dirumah aku aja.” “Oke bii.” Pulang sekolah aku langsung segera mengantarnya untuk segera berbicara. Langsung saja kami berbicara di teras rumah. Kebetulan orang tua Eve tidak ada dirumah. 32 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Bii aku mau ngomong.” “Kamu ngerasa ya aku jauhin selama ini?” Pertanyaan Eve membuatku semakin jelas mengerti bahwa hari ini menjadi hari terakhir hubungan kami. “Iya bii. Kamu beda selama ini.” Jawabku dengan nada sedikit datar. Aku ingin marah rasanya mengetahui bahwa hal itu sengaja ia lakukan. Aku benar benar selama ini merasa sepi dan kosong dalam hubungan ini. Hambar tanpa garam yang mengasinkannya. “Maafin aku ya bii. Aku sadar bahwa hubungan kita gak akan terus bisa bersama. Aku mau putus dari kamu, tapi aku gak bisa kalo aku harus mutusin kamu langsung. Aku pelan-pelan ngasih jarak ke kamu untuk membiasakan diri tanpa kamu. Untuk saat ini aku lebih nyaman buat kita sahabatan aja. Gimana kalau menurut kamu?” “Ya aku sadar bii, aku tau bahwa hubungan kita gak akan bersama terus. Aku capek sebenarnya ada di hubungan ini. Tapi aku sayang banget sama kamu. Kalau itu memang pilihan terbaik dan membahagiakan buat kamu ya aku harus rela. Kita sama-sama sakit dan semoga 33 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
dengan keputusan ini aku bisa melihat kamu lebih bahagia.” Air mata Eve begitu tidak terbendung. Menetes perlahan-lahan hingga mengalir deras. Aku pun juga begitu sedih namun aku tidak bisa meneteskan air mataku. Aku hanya berharap aku mampu terbiasa untuk hidup tanpanya. “Bii, makasih ya…” “Makasih buat segalanya. Makasih buat cerita kita selama ini. Maafin aku kalau belum bisa memberimu yang terbaik.” “Bii, makasih banyak untuk 3 tahun 4 bulannya. Maafin aku belum bisa jadi kekasih yang baik bagi kamu. Tapi, janji ya kita sahabatan?” “Iya bii, janjiii.” Ucapnya sambil memadukan kelingkingnya dengan kelingkingku. Setelah itu aku memeluknya erat dan mengecup kening dan kedua pipinya. Ini menjadi pelukan dan kecupan yang terakhir. Pelukan erat, hangat, dan lama. 34 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Seperti bumi dan bulan yang selalu bersama namun tidak pernah bisa bersatu. Jalan yang mereka miliki berbeda. Namun, aku perlu belajar dari mereka yang bisa tetap bahagia walau tidak bersama. Kisah kasihku di SMA menjadi kisah kasih penuh kenangan. Empat puluh purnama aku lewati dan 13 Oktober 2019 menjadi akhir dari kisahku bersama dengan dia. Membuka lembaran baru tanpa teringat dirinya bagiku adalah hal yang paling menyulitkan. Hidup harus terus berjalan dan kini aku telah menemukan cinta yang kekal. Sejak itu hidup kami masing-masing. Entah apa menyebutnya namun satu hal yang pasti. Dia telah mewarnai hari hariku. Dia yang mengisi kekosongan dalam hidupku. Dia yang terakhir dan terindah. Hidupnya kini sudah bersama cinta yang lain. Akupun juga sedang menjawab panggilan cinta kasih dari sang Sumber Cinta di seminari. THE END 35 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Midnight Visitor(s) Oleh : Gerald Alesio Tacchinardi “I hope it’s just a phase, I hope someday all of this suffering comes to an end, how beautiful it will be?” Alarmku berbunyi seperti biasa. Suara familiar yang sebetulnya tak terlalu nyaring, namun memiliki frekuensi getaran yang cukup untuk membangunkan alam sadarku mulai memenuhi indera pendengaranku. Sekali lagi aku harus bangun dengan tubuh yang kurang fit. Sebetulnya, aku tak pernah heran akan tubuhku yang tidak fit bahkan setelah bangun tidur, aku tahu jelas alasannya. Yang menjadi misteri bagiku adalah mengapa alasan ini kerap kali terjadi padaku, sudah tiga tahun aku mengalaminya. 36 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Sekolah takkan menunggu, dunia takkan menunggu,” tegur diriku sendiri dalam batinku. Mungkin, akan lebih mudah jika teguran ini dilontarkan oleh ibuku, setidaknya aku tak terkesan mengenaskan hingga harus menegur diriku sendiri. Dengan kaki yang masih lemas dan mata setengah tertutup aku memaksakan diriku meraih handuk. Aku selalu bangun jam 4 pagi, bukan karena tak butuh tidur, tetapi karena aku lebih baik memilih untuk tidak tidur untuk alasan yang sangat valid. Udara pagi yang sangat dingin membuatku memutuskan untuk duduk di kloset sebentar sambil membuka Ig. Hitung-hitung mempersiapkan diriku untuk menghadapi air dari shower yang sangat dingin itu. Mandi, memakai seragam, membuat sarapan dan bekal, lalu memesan ojek online untuk berangkat ke sekolah, tak ada yang berubah dari rutinitasku. Di sekolah? Tak begitu banyak yang bisa kulakukan, mungkin hanya sekedar menunggu teman datang karena biasanya aku orang pertama atau kedua yang sampai di sekolah, belajar, main handphone kalau pelajaran mulai membosankan, pulang, jajan gorengan, entahlah kurasa hanya itu yang kulakukan 37 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
di sekolah. Biasanya, aku menyempatkan diri pergi ke Gua Maria di Parokiku sebelum pergi ke gym dan pulang ke rumah. Kehidupanku di sekolah rasanya lancar-lancar saja, aku jarang ditegur karena main handphone di kelas yang dapat kupastikan alasannya adalah karena nilaiku yang selalu berada di jajaran atas membuat guru-guruku tak punya alasan yang cukup kuat untuk menegurku. Pukul 18.00. Pada jam inilah biasanya aku sampai di rumah. Tak ada yang aneh hingga saat-saat ini. Aku hanya memasak makan malam, belajar atau membuat pr jika sedang ingin atau bermain handphone jika tak ada niatan belajar. Semuanya tampak normal hingga tiba waktunya tidur. “Huft… Mari kita mulai petualangan hari ini,” ujarku dalam hati sebelum tidur. Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi kepadaku saat tidur, aku hanya akan mengetahuinya saat sudah memasuki alam tidur. 38 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Ya… sepertinya sudah dimulai,” ujarku kepada diriku saat menyadari badanku tak lagi bisa digerakkan sekalipun aku masih bisa melihat segala yang ada di sekelilingku. Hal ini terjadi padaku hampir setiap hari, ketika tidur aku selalu merasa setidaknya kepalaku (kalau bukan seluruh badan) keluar dari tubuhku dan aku bisa melihat segala yang ada di sekitarku, termasuk yang tak mampu kulihat saat sedang terjaga. Aku sudah mengalami kondisi ini sejak SMP, saat aku meminta kepada seorang Romo untuk mendoakanku supaya aku tak lagi dapat melihat makhluk-makhluk halus di sekitarku. Hasilnya, aku tak perlu lagi khawatir akan melihat mereka…saat masih terjaga, namun berbeda saat aku mulai tidur. “Mari kita lihat apa yang akan terjadi kali ini,” ujarku dalam benakku. Tinggi, mengerikan, jahat, itulah impresi pertama yang muncul dalam benakku saat melihat makhluk yang melayang sekitar 1.6 meter di depanku. 39 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Seluruh bagian tubuh yang terbuat dari asap yang sangat pekat sehingga terlihat seperti jubah yang menutupi tubuhnya, wajah setengah tengkorak dengan sebagian lainnya ditutupi oleh dagingnya yang membusuk dan berlumuran darah. Sebagai orang yang tak menyukai hal- hal berbau horor, tak mungkin hal ini adalah imajinasiku, mana mungkin aku mengimajinasikan hal yang tak pernah kulihat? Aku masih ingat bagaimana mulutnya membuka dengan sangat lebar seperti berteriak sesaat sebelum ia melayang dengan penuh kekuatan kearahku untuk menyerangku. Aku tak sanggup melihatnya, aku tak bisa melakukan apa-apa, tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan. Aku pasrah, apapun yang terjadi biarlah terjadi. Makhluk ini melayang sangat dekat denganku, mungkin wajahnya hanya berjarak sekitar 30 sentimeter dari wajahku, tapi ia berhenti disitu. 40 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Ia berusaha mendorong tubuhnya untuk melayang lebih jauh ke arahku tapi tak bisa, entah apa yang menahannya, seperti ada kaca cekung yang membatasi kami. “Aku masih punya kesempatan,”pikirku. Aku berdoa, segala macam doa yang bisa kupikirkan. Aku tak sempat memikirkan hal lain, yang kulakukan hanya berdoa tanpa henti karena memang hanya itu yang bisa kulakukan dalam kondisi tubuh yang tak bisa bergerak sama sekali. Ekor mataku menangkap suatu cahaya, cahaya putih kekuningan yang amat terang. Cahaya itu berasal dari sisiku, entah dari samping atau dari belakangku, aku tak terlalu yakin. Menyadari adanya cahaya ini, aku semakin menggiatkan doa-doaku. Dengan mataku sendiri, aku melihat makhluk itu perlahan-lahan terdorong oleh cahaya terang yang tadinya berada di dekatku. Makhluk itu memberontak, tapi sepertinya tak berdaya melawan cahaya itu. Aku mendapatkan kembali kemampuanku untuk menggerakkan tubuh. 41 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Lagi, aku harus terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Setidaknya, hal yang masih bisa ku syukuri adalah aku tak terluka atau sebagainya, dan setidaknya aku terbangun saat masih tengah malam. Setidaknya, aku masih bisa melanjutkan tidur dengan harapan bisa beristirahat dengan tenang tanpa terganggu lagi dengan makhluk apapun. Aku tak tahu makhluk apa itu, tapi satu hal yang kuyakini, dia bukan berasal dari dunia ini. “Sudah lama aku tak mendoakan koronka, mungkin aku harus mulai melakukannya lagi,” ujarku di tengah lamunanku keesokan harinya. Entah sejak kapan aku terakhir kali mendoakan koronka, tapi berlindung di balik Kerahiman Tuhan membuatku merasa nyaman. Aku masih ingat bagaimana dulu aku sedikit jarang mengalami peristiwa seperti yang terjadi tadi malam saat aku rajin mendaraskan koronka. Yang terburuk kalaupun aku merasa terjaga dalam tidurku dan mulai melihat apa yang ada di sekitarku, biasanya tak ada makhluk apapun yang muncul, yang kulihat hanya kamarku dengan segala perabotannya. 42 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Tak mudah menyimpan rahasia ini, rahasia besar yang tak memiliki saksi selain diriku sendiri. Aku tak menceritakannya kepada siapapun, buat apa? Aku selalu dipandang sebagai orang yang ceria dan tak punya beban apapun selain merasa bosan di tengah pelajaran yang pada dasarnya sudah ku kuasai. Empat tahun berlalu… Tepatnya tahun 2021, aku mulai terbuka menceritakan kisah ini kepada beberapa orang. Saat masuk seminari, aku juga tak menutupi kisah ini, beberapa temanku tahu terutama teman-temanku di KPA. Biasanya kisah ini akan keluar dari mulutku secara otomatis kalau ada yang bertanya kepadaku alasan aku memiliki devosi terhadap Kerahiman Ilahi atau alasan dibalik ketertarikanku kepada Santa Faustina. Mungkin, aku satu-satunya yang mengalami kisah ini diantara teman-temanku, entah di SMP, SMA, bahkan di Seminari, namun aku tak perlu lagi menutupi kisah ini. 43 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Kisah mengerikan yang pernah menjadi kelemahanku ini pada akhirnya menjadi kekuatanku dalam pewartaan dan kesaksian. I was saved, not only once, and I know that for sure. I’m so grateful for everything that I have been through and everything or everyone that helped me go through it. Cinta Yang Mengalah 44 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Oleh : Ignatius Imanuel Nugroho Suwandi “Meski kita tidak lengkap, Tuhan mencintai kita sepenuhnya. Meski kita tidak sempurna, Dia mengasihi kita dengan sempurna. Meski kita mungkin merasa tersesat dan tanpa kompas, kasih Tuhan meliputi kita sepenuhnya… Dia mengasihi kita semua, bahkan mereka yang cacat, ditolak, canggung, sedih, atau hancur” Dieter F. Uchtdorf Cinta? Pacaran? Selibat? pastinya harapan dari semua orang bukan, jadi mana yang akan difokuskan Ignatius? “Hmm, berat juga ya memilih melanjutkan Pacaran atau Selibat” kataku kepada Valensius “Kenapa berat sih No kan pilihan ada ditangan lu sendiri, lu yang menentukan gimana jalan hidup lu kok.” tegur Valensius kepadaku. 45 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Ya masalahnya lu tau kan gua orangnya suka ngalah terus sama cewek gua kalo ada masalah dikit, gua juga cape tau ngalah terus kalo kek gini.” “Tau kok gua tapi mau gimana lagi kan dia cewek lu juga loh lu kenal dia di awal baik, ya kalau bisa menjalani nya dengan baik juga dong.” Percakapan yang panjang ini membawaku mengingat kembali ketika pengalaman PDKT dengan Bey pada saat masa SMA. Aku Noel seorang seminaris Wacana Bhakti di Jakarta Selatan. Buku ini adalah cerita serta pengalaman nyata yang mewarnai kehidupanku semasa SMA. “Kamu masuk jurusan mana Bey?” tanyaku kepada Bey. “Aku masuk jurusan Ipa nih jadinya, di arahin sama kepala sekolah buat ke Ipa.” “Wihh pinter nih ya kamu bisa masuk Ipa.” 46 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
“Engga ih orang biasa aja aku ga pinter pinter amat sih yang penting mah aku bisa aja.” Pada saat itu angkatanku sedang pemilihan jurusan bersama dengan kepala sekolah dengan wawancara. Aku memilih untuk masuk ke jurusan IPS sejak awal karena memang aku sudah tertarik untuk belajar sosiologi. Nama sekolahku adalah Erenos, pastinya banyak orang yang belum mengenal sekolah ini, hehehe wajar kok sekolah ini masih baru apalagi tingkat SMA nya masih baru, aku saja masuk di dalam angkatan ke 3 di SMA ini. Sepulang dari penjurusan aku dan teman-teman angkatan mampir sebentar ke kantin sekolah untuk beli minuman dan makanan ringan. Lalu teman mengajakku untuk duduk dan memulai topik pembicaraan memilih masuk jurusan apa. 47 | K i s a h P u t i h A b u - A b u
Search