Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore BOOKLET

BOOKLET

Published by muhammad.sajidannor842002, 2023-07-18 15:38:05

Description: BOOKLET

Search

Read the Text Version

BOOKLET NURSING INTERVENTION BAGI MASYARAKAT YANG TERDAMPAK BANJIR DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT Penyusun: Bernadetta Germia Aridamayanti Rahimul Yakin Nathasya Nisvia Nor Asiah M. Aditya Putra Yulin Lathiifa Rosyifa Adela. SB Muhammad Lathif Ghifari Penerbit: Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

BOOKLET NURSING INTERVENTION BAGI MASYARAKAT YANG TERDAMPAK BANJIR DENGAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT Penyusun: Bernadetta Germia Aridamayanti Rahimul Yakin Nathasya Nisvia Nor Asiah M. Aditya Putra Yulin Lathiifa Rosyifa Adela. SB Muhammad Lathif Ghifari Editor: Bernadetta Germia Aridamayanti ISBN: Desain Cover: Nathasya Nisvia Hak Cipta @ 2023, Pada Pada Penerbit Hak publikasi pada Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Dilarang menerbitkan atau menyebarluaskan sebagaian atau seluruh isi booklet ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanis termasuk melakukan fotokopi, merekam atau sistem penyimpanan dan pengambilan informasi tanpa seijin tertulis penerbit. Penerbit Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani Km. 36,00 Banjarbaru 70714 Kalsel. Telp./Fax (0511) 4772745 Website: www.keperawatan.ulm.ac.id

IDENTITAS DIRI Nama : …………………………………………………………………………….. Alamat : …………………………………………………………………………….. …………………………………………………………………………….. No. Handphone : ……………………………………………………………………………..

KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji dan sytukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkatnya sehingga Booklet Nursing Intervention Bagi Masyarakat yang Terdampak Banjir dengan Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit ini dapat terselesaikan. Booklet ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan merupakan polisi study bagi perawat yang bekerja di instansi pelayanan kesehatan terfokus pada lahan basah. Booklet ini disusun berdasarkan teori dan penelitian Program Dosen Wajib Meneliti (PDWM) Universitas Lambung Mangkurat dengan judul Nursing Intervention Bagi Masyarakat yang Terdampak Banjir dengan Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit di Desa Sungai Rangas Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Booklet ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu segala kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan. Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang membantu dan mendukung penyusunan booklet ini, semoga booklet ini dapat bermanfaar bagi pembaca terutama bagi perawat yang bekerja di instansi dekat dengan lahan basah. Banjarbaru, Juli 2023 Penyusun

DAFTAR ISI SAMPUL LEMBAR BALIK IDENTITAS DIRI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DESKRIPSI BOOKLET PENDAHULUAN MATERI 1. KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT A. Masalah Kesehatan Kulit yang Berhubungan dengan Banjir B. Penyakit Kulit Akibat Banjir C. Diagnosis Keperawatan D. Diagnosisi Keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit E. Proses Keperawatan: Nursing Intervention MATERI 2. STUDI KASUS RANGKUMAN EVALUASI INSTRUMEN PENILAIAN SCREENING DAFTAR PUSTAKA

DESKRIPSI BOOKLET Booklet Nursing Intervention Bagi Masyarakat yang Terdampak Banjir dengan Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit ini merupakan salah satu output atau luaran penelitian Program Dosen Wajib Meneliti (PDWM) Universitas Lambung Mangkurat dengan judul Nursing Intervention Bagi Masyarakat yang Terdampak Banjir dengan Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit di Desa Sungai Rangas Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Booklet ini diharapkan dapat menjadi pedoman atau panduan untuk penatalaksanaan dan pembelajaran bagi perawat pelaksana yang bekerja di lingkungan lahan basah. Booklet ini disusun berdasarkan referensi- referensi mengenai permasalahan penyakit kulit yang terdampak oleh banjir. Modul ini juga mengambil langsung permasalahan yang terjadi paska banjir di Desa Sungai Rangas, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Booklet ini diperuntukan bagi perawat yang bekerja di puskesmas terutama daerah lahan basah yang terdampak banjir. Terdapat 2 materi besar yang akan diulas pada booklet ini untuk menyamakan persepsi, pengetahuan dan pengalaman setiap perawat tentang permasalahan dan pemilihan intervensi yang tepat pada Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit terutama yang terdampak banjir pada lingkungan lahan basah. A. Materi Booklet Materi yang akan dipaparkan dalam booklet ini, yaitu; 1) Kerusakan Integritas Kulit 2) Studi Kasus B. Tujuan Booklet Tujuan penulisan booklet ini adalah: 1) Merupakan output atau luaran penelitian Program Dosen Wajib Meneliti (PDWM) Universitas Lambung Mangkurat dengan judul Nursing Intervention Bagi Masyarakat yang Terdampak Banjir dengan Diagnosis Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit di Desa Sungai Rangas Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. 2) Merangkum hasil identifikasi batasan karakteristik, faktor berhubungan dari diagnosis keperawatan Kerusakan Integritas Kulit serta bentuk pedoman nursing intervention terkait masalah kesehatan penyakit kulit yang terjadi pada masyarakat terdampak banjir. 3) Pedoman bagi perawat untuk dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan dalam upaya promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative pada kondisi yang lebih berisiko terkait kesehatan masyarakat.

C. Manfaat Booklet Materi ini diharapkan menjadi pedoman bagi perawat untuk dapat mengimplementasikan tindakan keperawatan dalam upaya promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative pada kondisi yang lebih berisiko terkait kesehatan masyarakat. D. Sasaran Booklet Materi ini ditujukaan kepada mahasiswa dan perawat yang berada di instansi lingkungan lahan basah terutama yang memegang program promotive, preventif, kuratif dan rehabilitatif masyarakat terdampak banjir. E. Petunjuk Penggunaan Booklet Penggunaan booklet ini adalah sebagi berikut; 1) Bacalah dan pahami materi dalam booklet ini hingga selesai. 2) Kerjakan setiap soal yang terdapat pada akhir evaluasi. 3) Gunakan modul ini sebagai panduan pada saat melakukan intervensi kerusakan integritas kulit pada pasien yang terdampak banjir.

PENDAHULUAN Banjir merupakan peristiwa atau keadaan suatu daerah atau dataran terendam karena peningkatan volume air (Setiawati et al., 2020). Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjabarkan bahwa sebanyak 17.257 unit rumah yang mencakup 19.428 kepala keluarga, 99 desa dan berdampak kepada 65.784 jiwa dalam di tujuh kecamatan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan terendam banjir sejak Januari 2023 (BPBD Kalimantan Selatan, 2021). Dari 13 desa yang berada di kecamatan ini, keadaan terparah di dapati banjir di Desa Sungai Rangas yaitu sebanyak 2.227 rumah rerendam banjir lebih dari 60 cm. Bahkan warga terpaksa mendirikan apar-apar dengan papan kayu, agar dapat mengamankan barang berharga di dalam rumah. Banjir yang terjadi cukup menganggu aktivitas warga. Jalan lintas provinsi terendam sehingga mengganggu aktivitas ekonomi. Jembatan di Jalan Ahmad Yani km 55, Mataraman, Banjar, terputus akibat terjangan banjir. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kab. Banjar pada 05 Maret 2023 menjelaskan bahwa jumlah warga terdampak banjir adalah sebanyak 349 orang mengalami luka ringan dan rawat jalan (Dinkes Kabupaten Banjar, 2023). Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2023, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 3.383 kejadian bencana melanda tanah air yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem (BNPB, 2023). Curah hujan yang terjadi secara terus menerus menyebabkan Kalimantan Selatan menjadi rentan Banjir, ditambah dengan faktor penyerta seperti deforestasi hutan untuk sawit dan pertambangan, kontur wilayah yang beragam, mulai dari kontur perbukitan di bagian pinggir sampai dataran rendah seperti di Martapura Barat, Kalimantan Selatan. Hal tersebut menyebabkan aliran sungai terlebih dahulu menuju ke wilayah pusat kota sebelum berakhir di laut (Setiawan et al., 2015). Masalah yang dihadapi oleh warga Provinsi Kalimantan Selatan yaitu manajemen sampah pasca banjir yang masih belum tertangani dengan baik. Sampah domestik masih menggunung di pinggir jalan dan belum sepenuhnya

terangkut. Sampah dan air kotor pasca banjir yang tidak tertangani tersebut berpotensi besar mencemari air tanah. Hal tersebut terbukti dari kondisi air tanah yang berasa dan berbau tidak sedap sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Selain itu, kondisi sungai terlihat telah terokupasi oleh pemukiman masyarakat bantaran sungai. Pada bibir sungai sudah dibangun tembok batu sehingga ekosistem sekitar sungai mati (BPBD Kalimantan Selatan, 2021). Banjir menjadi salah satu bahaya yang mengancam keselamatan bagi masyarakat, baik keselamatan jiwa, kesehatan, maupun ekonomi. Dari segi keselamatan jiwa, banjir dapat menyebabkan barang- barang yang terkena air banjir menjadi mudah lapuk dan mencelakakan pemiliki rumah karena mudah roboh dan adanya instalasi listrik dan gas yang lupa diamankan pada saat banjir dapat membahayakan keselamatan jiwa. Air banjir yang masih menggenang dapat menghantarkan aliran listrik. Apabila tidak dimatikan alirannya pada saat banjir akan sangat berbahaya karena dapat tersengat listrik (Nurullita et al., 2021). Banjir juga menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasca banjir yang rawan menjadi faktor pemicu munculnya penyakit seperti berkembangnya vektor berupa hewan seperti tikus dan nyamuk, persediaan makanan yang terkontaminasi, tercemarnya sumber air, menggenangnya sampah berserakan, fasilitas kakus yang kurang, minimnya persediaan air bersih, dan fasilitas pengungsian yang buruk serta tidak sehat. Akibat dari kondisi lingkungan yang buruk tersebut adalah munculnya berbagai penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), Diare, Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA), Leptospirosis, dan berbagai jenis penyakit kulit (Yuwansyah, 2021). Dari aspek penyakit kulit, banjir biasanya membawa kotoran seperti sampah, air kotor, dan limpasan septic tank yang dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Bahaya bakteri e-coli dan leptospira cenderung meningkat setelah banjir. Hal ini menimbulkan penyakit kulit yang mengancam kesehatan para korban banjir seperti Scabies dan Pruritus (Nurullita et al., 2021). Berdasarkan data dari Puskesmas Martapura Barat, Pruritus dan Scabies menjadi masalah utama dan masuk dalam 10 besar penyakit pada bulan Januari-Februari 2023 pada masyarakat terdampak Banjir di Martapura Barat (Barat, 2023b, 2023a). Masalah keperawatan

penyakit kulit, termasuk Pruritus dan Scabies dapat ditemukan dalam NANDA: International Nursing Diagnosis dengan diagnosis Kerusakan Integritas Kulit (Herdman et al., 2021). Intervensi dengan diagnosis keperawatan Kerusakan Integritas Kulit juga tertuang dalam Nursing Intervention Outcome (NIC) dengan label Pruritus Management, Teaching: Foot Care, Foot Care, Medication Administration: Skin, Infection Control, dan Infection Protection (McCloskey & Bulechek, 2008). Namun, hingga saat ini masih belum ada penelitian keperawatan tentang intervensi keperawatan berdasarkan diagnosis Kerusakan Integritas Kulit pada masyarakat terdampak banjir. Penelitian sebelumnya telah berhasil mengidentifikasi diagnosis yang muncul pada masyarakat pasca banjir di Kalimantan Selatan pada tahun 2021 hingga 2022 salah satunya adalah diagnosis Kerusakan Integritas Kulit (Agianto et al., 2022), sehingga perlu dilakukan penelitian tindak lanjut dari tahun sebelumnya dengan penelitian ini guna mengidentifikasi dan mengimplementasikan intervensi yang sesuai dengan diagnosis Kerusakan Integritas Kulit pada masyarakat terdampak banjir. Penelitian ini mendukung Rencana Induk Penelitian Universitas Lambung Mangkurat dalam Road Map Kemandirian dan Ketahanan Pangan dan Kesehatan, pada rentang waktu 2020-2024 termasuk dalam kategori penguatan riset dasar yaitu kajian peningkatan mutu kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Hal ini sangat bersesuaian dengan rencana penelitian yaitu dengan ditelitinya nursing intervention bagi masyarakat yang terdampak banjir dengan diagnosis keperawatan Kerusakan Integritas Kulit di Desa Sungai Rangas Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu perawat lebih cepat menentukan intervensi dan mengimplementasikannya kepada masyarakat yang terdampak banjir.

MATERI 1 KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT A. Masalah Kesehatan Kulit yang Berhubungan dengan Banjir Banjir adalah bencana alam yang sering terjadi di dunia termasuk di Indonesia. Banjir dapat mengakibatkan masalah kesehatan tubuh terutama kulit. Penyakit kulit yang terjadi akibat banjir dibagi dalam empat kategori, yakni dermatitis kontak iritan, infeksi kulit (bakteri dan jamur), penyakit kulit akibat trauma, dan penyakit kulit lainnya (Khasanah & Nurrahima, 2019). Pertama, dermatitis kontak iritan. Dermatitis kontak iritan terjadi akibat masuknya zat kimia atau bahan iritan ke dalam kulit yang menyebabkan kerusakan dan peradangan kulit. Bahan iritan ini dapat meliputi deterjen, pestisida, dan zat kimia lain yang terbawa air saat banjir. Dermatitis kontak iritan sering terjadi pada bagian kaki dan tangan yang ditandai dengan bercak kemerahan pada area yang terpajan bahan iritan disertai rasa panas, terbakar, dan gatal. Berat ringannya dermatitis kontak ini juga dipengaruhi lamanya kulit terendam dalam air. Semakin lama terendam, maka kerusakan kulit semakin berat. Bila tidak ditangani dengan baik, keadaan ini dapat menyebabkan masuknya infeksi bakteri atau jamur. Menghindari pajanan terhadap bahan iritasi adalah pencegahan yang utama. Gunakanlah pakaian yang dapat menutup kulit dengan baik dan jaga kulit untuk tetap kering. Penggunaan salep kortikosteroid dan penanganan infeksi sekunder menjadi pilihan terapi untuk mengatasi dermatitis kontak iritan ini (Village et al., 2021). Kedua, infeksi kulit. Lamanya kulit terendam air dapat menyebabkan infeksi jamur terutama pada sela-sela jari kaki yang ditandai dengan hadangan bercak kemerahan, maserasi, dan rasa gatal. Untuk menghindari infeksi jamur, selalu jaga kondisi kulit untuk tetap kering. Pemberian obat antijamur harus diberikan secara tepat mengingat indikasi obat anti jamur yang berbeda-beda. Selain itu, infeksi bakteri dapat terjadi yang ditandai dengan luka bernanah disertai kemerahan di sekitarnya. Bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi kulit ini adalah kuman Streptococcal pyogenes dan Staphylococcal aureus. Perawatan luka infeksi harus dilakukan secara tepat dengan antibiotik terutama pada pasien dengan gangguan sistem imun, seperti diabetes mellitus, keganasan, usia bayi dan usia lanjut (Findayani Aprilia, 2018). Ketiga, penyakit kulit akibat trauma. Saat banjir banyak benda yang terhanyut dan melukai tubuh seseorang. Trauma/luka yang terjadi dapat berupa luka lecet, luka tusuk, dan luka memar. Penanganan trauma yang tepat harus dilakukan dengan tepat dan sesegera mungkin untuk menghindari infeksi sekunder yang sering terjadi (Kurniawan Marsha, Ling Michael Sie Shun, 2020). Keempat, penyakit kulit lainnya. Penyakit kulit lainnya yang sering muncul biasanya disebabkan gigitan serangga yang ditandai dengan bintik kemerahan gatal

di bagian tubuh terutama lengan, tungkai bawah, dan kaki. Gigitan serangga yang sering dilaporkan adalah gigitan nyamuk, semut, ataupun lipan. Pencegahan dengan menggunakan repellan nyamuk dapat dilakukan untuk meminimalkan gigitan nyamuk. Banjir sering kali menyebabkan kecemasan dan stres tersendiri sehingga dapat memicu atau memperberat penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya. Penyakit kulit terkait psiko-emosi seperti dermatitis atopik, psoriasis, neurodermatitis, alopecia areata dan vitiligo dapat muncul setelah bencana banjir dan mengganggu kualitas hidup (Tarikci et al., 2015). B. Penyakit Kulit Akibat Banjir 1) Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis Kontak Iritan merupakan reaksi peradangan pada kulit yang disebabkan efek langsung racun dari agen bahan iritasi dengan kulit, bahan kimia atau fisik tanpa menghasilkan antibodi (Zamrodah, 2019). a. Definisi Dermatitis Kontak Iritan (DKI) bersifat nonspesifik yang bisa terjadi pada semua manusia dan tidak membutuhkan sensitisasi. Respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimi langsung yang melepas mediator- mediator inflamasi yang sebagian besar dari sel epidermis. Dermatitis Kontak Iritan merupakan penyakit kulit akibat kerja yang banyak terjadi pada pekerja (Hidayati, 2019b). Gambar 1. Dermatitis Kontak Iritan (DKI) b. Manifestasi Klinis Penyakit ini memiliki gejala seperti edema, panas, nyeri, eritema munculvesikula, papula, serta pustule, kulit menjadi radang, kemerahan dan dapat berkembang menjadi vasikel atau papul dan mengeluarkan cairan bila terkelupas. Reaksi iritasi pada Dermatitis Kontak Iritan dapat berkembang menjadi dermatitis kumulatif, hal ini sering terjadi pada pekerja yang bekerja di lingkungan yang lembab (Hidayati, 2019b). c. Klasifikasi Dermatitis Kontak Iritan Dermatitis kontak iritan dibagi menjadi 3 macam, yaitu (Hidayati, 2019b) :

1. Dermatitis akut Dermatitis akut merupakan Dermatitis Kontak Iritan yang terjadi setelah pemaran pertama kali dan biasanya disebabkan oleh iritan yang kuat seperti asam kuat. 2. Dermatitis akut lambat Dermatitis kontak iritan yang gejalanya muncul 8 – 24 jam atau lebih setelah kontak. Bahan iritan yang dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan akut lambat adalah podofilin, antralin, etilen oksida dan asam hidrofluorat. 3. Dermatitis kontak iritan kumulatif Biasanya sering disebut dermatitis iritan kronik, dermatitis ini paling sering terjadi. Penyebabnya adalah kontak yang berulang-ulang dengan iritan lemah semisal detergen, sabun dan pelarut. Dermatitis Kontak Iritan kumulatif sering berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu lebih banyak ditemukan di tangan dibandingkan dengan di bagian tubuh lainnya. d. Patogenesis Dermatitis Kontak Iritan Kelainan kulit timbul karena kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan epidermis, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak laposan epidermis dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyakan bahan iritan merusak membaran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat menembus sel dan merusak lisosom, mitokondria dan komplemen inti (Hidayati, 2019b). 2) Folikulitis a. Definisi Infeksi kulit karena bakteri yang disebut pioderma terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus sp. Folikulitis merupakan pioderma di folikel rambut terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Folikulitis diklasifikasikan menurut kedalamam invasi Staphylococcus aureus (folikulitis superfisial dan deep folliculitis), dan menurut etiologi. Biasanya mengenai folikel rambut pada kelopak mata, aksila, pubis, dan paha (Hidayati, 2019a). b. Epidemiologi Sekitar 20% individu terdapat kolonisasi S. aureus, sedangkan karier S. aureus ditemukan pada 60% individu sehat. Hal tersebut merupakan sumber utama terjadinya infeksi. Folikulitis sering dijumpai di daerah dengan iklim tropis dan higiene buruk (Hidayati, 2019a). c. Etiologi Folikulitis terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, walaupun bisa disebabkan Streptococcus sp. dengan frekuensi yang lebih jarang (Hidayati, 2019a). d. Patofisiologi

Folikulitis merupakan peradangan pada folikel rambut. Hal tersebut disebabkan oleh infeksi terutama Staphylococcus aureus. Folikulitis muncul ditunjang adanya faktor predisposisi, antara lain iklim tropis, higiene buruk, kondisi imunokompromais, atau keradangan kulit yang sudah ada sebelumnya. Beberapa kondisi tersebut menyebabkan kerusakan folikel rambut sehingga memudahkan terjadinya infeksi akibat Staphylococcus aureus. Secara umum, hampir 20% populasi manusia membawa bakteri Staphylococcus aureus di permukaan tubuh, terutama di hidung, aksila, dan perineum. Staphylococcus aureus memproduksi beberapa toksin yang dapat meningkatkan kemungkinan untuk invasi dan membantu mempertahankan kehidupan Staphylococcus di jaringan. Toksin tersebut menyebabkan berbagai efek pada sistem kekebalan tubuh pasien. Produkproduk yang dihasilkan pada dinding sel ini adalah asam teichoic, peptidoglycan, dan protein A. Protein A membantu perlekatan bakteri pada sel pejamu yang selanjutnya terjadi suatu infeksi (Hidayati, 2019a). e. Folikulitis Superfisial Folikulitis superfisal disebut juga impetigo folikular atau impetigo Bockhart, merupakan pustula kecil, fragil, berbentuk kubah, berwarna putih kekuningan, yang terjadi di infundibulum (ostium) folikel rambut, sering terjadi di skalp pada anak-anak, kadang di perioral; sedangkan pada dewasa sering terjadi di daerah dagu, aksila, ekstremitas, dan pantat. Folikulitis superfisialis terjadi dalam beberapa hari. Keluhan biasanya nyeri, dapat disertai rasa gatal walaupun tidak parah (Hidayati, 2019a). Gambar 2. Folikulitis superfisial yang menunjukkan gambaran pustula kecil, fragil, berbentuk kubah, berwarna putih kekuningan, di infundibulum (ostium) folikel rambut area pubis pada pasien dewasa.

Gambar 3. Folikulitis superfisial yang menunjukkan gambaran beberapa pustula kecil, berbentuk kubah, berwarna putih kekuningan, di infundibulum (ostium) folikel rambut di punggung pasien C. Diganosis Keperawatan Diagnosis keperawatan merupakan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain (Capernito, 1992). The North American Nursing Diagnosis Association International (NANDA-I, 2021) mendefinisikan diagnosis keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan. Dalam membuat diagnosis keperawatan dibutuhkan keterampilan klinik yang baik, mencakup proses diagnosis keperawatan dan perumusan dalam pembuatan pernyataan keperawatan (Herdman et al., 2021). Data terkait masalah keperawatan yang paling dominan muncul pada masyarakat pasca banjir di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilihat dari hasil penelitian Agianto et al. (2022) berikut (Agianto et al., 2022):

Tabel 1. Data Masalah Keperawatan yang Muncul pada Masyarakat Pasca Banjir di Provinsi Kalimantan Selatan (Agianto et al., 2022) No. Masalah Keperawatan Rata-rata Nilai 1 Hambatan religiositas – 00169 252,67 2 Ketakutan – 00148 228,50 3 Hambatan rasa nyaman – 00214 203,33 4 Risiko jatuh – 00155 169,00 5 Ketidakefektifan manajemen kesehatan 148,50 keluarga – 00080 6 Kontaminasi – 00181 126,75 7 Risiko infeksi – 00004 126,25 8 Ansietas – 00146 125,23 9 Ketidakefektifan koping – 00069 118,75 10 Kerusakan integritas kulit – 00046 99,33 11 Diare – 00013 75,40 12 Penurunan koping keluarga – 00074 59,00 13 Hipotermia – 00006 48,20 14 Distres spritual – 00066 29,50 D. Diagnosis Keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit 1) Definisi Diagnosis keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit dapat didefinisikan sebagai perubahan epidermis dan/atau dermis (Herdman et al., 2021). Gangguan integritas kulit adalah dimana keadaan yang mengalami kerusakan jaringan epidermis dan dermis pada lapisan kulit (Capernito, 1992). Kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen) adalah gangguan integritas kulit (PPNI, 2019). 2) Batasan Karakteristik dan Faktor Berhubungan Berdasarkan NANDA-I (2021) batasan karakteristik dari diagnosis keperawatan Kerusakan Integritas Kulit adalah abses, nyeri akut, perubahan warna kulit, perubahan turgor berdarah, deskuamasi, kulit kering, ekskoriasi, hematoma, kulit yang mengalami dimaserasi, mengupas, scabies dan pruritus. Faktor yang berhubungan antara lain dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan yang kotor dengan sanitasi yang buruk, faktor internal, berada di tempat dengan populasi yang berisiko serta kondisi penyerta dengan penyakit.

E. Proses Keperawatan: Nursing Intervention 1) Definisi Intervensi keperawatan merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan. Intervensi keperawatan dapat diartikan sebagai tindakan untuk mencapai luaran yang telah ditetapkan sebelumnya menyelesaikan masalah keperawatan yang ada (McCloskey & Bulechek, 2008). 2) Penetapan Intervensi Keperawatan Penetapan intervensi keperawatan yang memperhatikan standar intervensi yang komprehensif berdasarkan riset atau mengedepankan evidence-based practice dan evidence-based nursing practice. Klasifikasi Nursing Intervention Classification (NIC) meliputi intervensi yang dilakukan baik tindakan keperawatan langsung dan tidak langsung, mandiri dan kolaborasi. Dalam NIC (edisi 4) terdapat 542 tindakan. NIC Proyek yang dikembangkan oleh University of IOWA (McCloskey & Bulechek, 2008). Menggunakan Nursing Intervention Classification (NIC) sebagai referensi haruslah memahami teknik penggunaanya guna mensinkronkan antara masalah keperawatan yang diangkat sebagai diagnosis keperawatan menggunakan referensi NANDA. Selanjutnya dilakukan dengan cara membuka bagian “PART SIX – NIC Interventions Linked to NANDA International Diagnosis”, setelah membuka “bagian enam” ini, perawat dapat memilih label intervention yang mungkin bersesuaian dengan kondisi klinis pasien. Setelah memilih label intervention tertentu maka dilanjutkan dengan membuka “PART THREE – The Classification”, setelah membuka “bagian tiga” maka perawat dapat memilih aktivitas keperawatan apa saja yang akan mencapai terpenuhinya outcome sesuai kondisi klinis pasien yang telah ditentukan. Outcome yang dicapai akan merepresentasikan pencapaian pengentasan masalah keperawatan yang ada di bagian akhir proses keperawatan yaitu evaluasi keperawatan. Jika outcome yang ditetapkan tercapai semua maka dapat diartikan intervensi yang dijalankan berhasil

dengan baik melalui aktivitas keperawatan sesuai label intervensi (McCloskey & Bulechek, 2008). 3) Intervensi Keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit Pada pelaksanaan pemilihan intervensi keperawatan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan anatara lain (McCloskey, J. C. & Bulechek, G. M., 2008) karakteristik diagnosis keperawatan, hasil yang diharapkan, dasar riset, kemungkinan untuk dikerjakan (interaksi, biaya, waktu), penerimaan klien, dan kompetensi perawat. Beberapa label intervensi keperawatan dari diagnosis Kerusakan Integritas Kuit yang dapat diterapkan pada masyarakat terdampak banjir antara lain Pruritus Management, Teaching: Foot Care, Foot Care, Medication Administration: Skin, Infection Control, dan Infection Protection (Ersek, 2003).

MATERI 2 STUDI KASUS TEMUAN LAPANGAN Laki-laki berumur 45 tahun ditemui di rumahnya, Desa X pada tanggal 15 Juli 2023. Pasien bekerja sebagai petani, beragama Islam, sudah menikah. Pasien mengeluh gatal dan kulit mengelupas pada jari kaki kiri dan kanan sejak 3 bulan sebelumnya bersamaan dengan terjadinya banjir di Desa X. Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit sekarang, pasien mengalami kulit terkelupas, gatal dan nyeri (derajat 3) pada jari tangan kanan dan kiri sejak 3 bulan yang lalu. Pada awalnya ibu jari kaki kiri muncul bintik berair dan keluar nanah, kemudian pecah lalu menyebar ke jari kaki kanan. Pasien mendapatkan pengobabtan sebelumnya berupa obat oral dan krim topikal (jenis obat tidak diketahui). Setelah mendapatkan pengobatan kondisi jari pasien mulai membaik. Ditemukan riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga pasien, yaitu anak pasien yang berusia 8 tahun dan sennag berenang saat banjir terjadi. Pasien tidak memiliki riwayat alergi, penyakit penyerta, riwayat operasi, dan riwayat transfusi. Status internus pasien dalam batas normal, pada status dermatologis ditemukan kelainan pada jari-jari tangan kanan dan kiri. Ditemukan makula hiperpigmentasi dengan batas tegas, bentuk geografika, ukuran 3x4 cm dan 2x3 cm, terdapat skuama putih di atas makula dan fisura. Pasien tidak terdapat pytiriasi alba, ikhtiosis, keratosis, hiperemi, rambut rontok, pitting nail, hyperhidrosis, anhidrosis, pembesaran kelenjar getah bening, pelebaran saraf perifer parestesi, makula anestesi. Pasien di bawa ke Puskesmas terdekat dan mendapatkan pemeriksaan penunjang sementara. Pemeriksaan penunjang diagnosis kerja pada pasien ini dilakukan pemeriksaan KOH pada jari tangan, namun tidak ditemukannya adanya spora maupun hifa. Diagnosis kerja pada pasien ini berupa dermatitis kontak iritan kronis (kumulatif) dengan diagnosis kerawatan Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan Kelembaban yang Berlebihan dan Infeksi ditandai dengan Deskuanasi, Permukaan Kulit Terganggu, Kulit Kering, Ekskoriasi dan Mengupas. Intervensi keperawatan yang diberikan adalah Teaching: Foot Care (5603) diantaranya tentukan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan perawatan kaki dan merekomendasikan untuk mengeringkan kaki secara menyeluruh setelah mencucinya, khususnya di antara jari kaki. Intervensi keperawatan kedua yang diberikan adalah Medication Administration: Skin (2316) diantaranya mencatat riwayat medis pasien dan riwayat alergi dan menerapkan agen topikal sesuai resep berupa desoxymetason 0,025% krim dikombinasikan dengan chloramphenicol 2x/hari serta mebhydrolin napadisilat 2x50 gr/hari secara oral.

RANGKUMAN Banjir menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat. Banjir biasanya membawa kotoran seperti sampah, air kotor, dan limpasan septic tank yang dapat membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Bahaya bakteri e-coli dan leptospira cenderung meningkat setelah banjir. Hal ini menimbulkan penyakit kulit yang mengancam kesehatan para korban banjir seperti Scabies dan Pruritus. Masalah keperawatan penyakit kulit, termasuk Pruritus dan Scabies dapat ditemukan dalam NANDA: International Nursing Diagnosis dengan diagnosis Kerusakan Integritas Kulit. Intervensi dengan diagnosis keperawatan Kerusakan Integritas Kulit juga tertuang dalam Nursing Intervention Outcome (NIC) dengan label Pruritus Management, Teaching: Foot Care, Foot Care, Medication Administration: Skin, Infection Control, dan Infection Protection.

EVALUASI 1) Sebutkan masalah kesehatan kulit yang berhubungan dengan banjir! 2) Sebutkan manifestasi klinis dari Dermatitis Kontak Iritan (DKI)! 3) Sebutkan definisi dari Folikulitis Superfisial! 4) Sebutkan definisi dari diagnosis keperawatan! 5) Sebutkan definisi dari diagnosis keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit! 6) Sebutkan minimal 5 batasan karakteristik dari diagnosis keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit! 7) Sebutkan minimal 5 faktor berhubungan pada diagnosis keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit! 8) Apa yang dimaksud dengan nursing intervention? 9) Bagaimana bentuk intervensi dari Teaching: Foot Care (5603)? 10)Bagaimana bentuk intervensi dari Infection Protection (6650)?

INSTRUMEN PENILAIAN SCREENING Petunjuk pengisian: Berilah tanda check list (√) pada kolom “Ada” atau “Tidak Ada” sesuai dengan item yang dikaji! DIAGNOSIS KEPERAWATAN: KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT – 00046 DEFINISI: Perubahan epidermis dan/atau dermis. BATASAN KARAKTERISTIK Ada Tidak Ada Tidak Ada Abses Nyeri akut Perubahan warna kulit Perubahan turgor Berdarah Lepuh Deskuamasi Permukaan kulit terganggu Kulit kering Ekskoriasi Benda asing menusuk kulit Hematoma Area lokal yang panas untuk disentuh Kulit yang dimaserasi Mengupas Pruritus FAKTOR BERHUBUNGAN Ada Faktor Eksternal Kelembaban yang berlebihan Ekskresi Kelembaban Hipertermia Hipotermia Pengetahuan pengasuh yang tidak memadai tentang menjaga integritas jaringan Penggunaan bahan kimia yang tidak memadai Tekanan pada penonjolan tulang Agitasi psikomotor Sekresi Kekuatan geser Gesekan permukaan Penggunaan linen dengan kelembapan

Faktor Internal yang tidak memadai properti jahat Populasi berisiko Indeks massa tubuh di atas normal Kondisi terkait rentang usia dan jenis kelamin Pengetahuan yang tidak memadai tentang mempertahankan integritas jaringan Indeks massa tubuh di bawah normal rentang usia dan jenis kelamin Pengetahuan yang tidak memadai tentang melindungi integritas jaringan Penurunan aktivitas fisik Penurunan mobilitas fisik Malnutrisi Faktor psikogenik Edema Ketidakpatuhan terhadap inkontinensia rejimen pengobatan Mutilasi diri Merokok Penyalahgunaan zat Ketidakseimbangan air-elektrolit Individu pada usia ekstrim Individu di unit perawatan intensif Individu dalam perawatan jangka panjang fasilitas Individu dalam perawatan paliatif pengaturan Individu yang menerima rumahan peduli Perubahan pigmentasi Anemia Imunodefisiensi Gangguan metabolisme Infeksi Penyakit kardiovaskular Penurunan tingkat kesadaran Penurunan oksigenasi jaringan Penurunan perfusi jaringan Diabetes mellitus Perubahan hormon Imobilisasi Alat kesehatan Neoplasma

Neuropati perifer Sediaan farmasi Tusukan Gangguan sensasi NURSING INTERVENTION CLASSIFICATION: KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT KERUSAKAN INTEGRITAS KULIT – 00046 Ada Tidak Pruritus Management (3550) Ada Tentukan penyebab pruritus (yaitu, dermatitis kontak gangguan sistemik, dan obat-obatan) Lakukan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi gangguan kulit (yaitu, lesi, lecet, bisul, dan lecet) Oleskan krim obat dan losion yang sesuai Berikan antipruritus, sesuai indikasi Oleskan krim antihistamin sesuai kebutuhan Teaching: Foot Care (5603) Tentukan tingkat pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan perawatan kaki Sediakan panduan perawatan kaki tertulis Merekomendasikan mencuci kaki setiap hari menggunakan air bersih hangat dan sabun secara lembut Merekomendasikan untuk mengeringkan kaki secara menyeluruh setelah mencucinya, khususnya di antara jari kaki Jelaskan perlunya alas kaki yang sesuai Foot Care (1660) Periksa kulit untuk iritasi, retak, lesi, jagung, kapalan, deformitas, atau edema Keringkan dengan hati-hati di antara jari kaki Oleskan losion Membersihkan kuku Instruksikan pasien/keluarga tentang pentingnya perawatan kaki Tawarkan umpan balik positif tentang aktivitas kaki perawatan diri Pantau tingkat hidrasi kaki Ajari pasien cara menyiapkan dan memotong kuku Medication Administration: Skin (2316) Catat riwayat medis pasien dan riwayat alergi

Menentukan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang pengobatan dari metode administrasi Tentukan kondisi kulit pasien pada area yang akan dioleskan obat Hapus dosis obat sebelumnya dan bersihkan kulit Terapkan agen topikal sesuai resep Oleskan tambalan transdermal dan obat topikal pada area kulit yang tidak berbulu, jika perlu Oleskan obat secara merata pada kulit, jika perlu Pantau efek lokal, sistemik, dan merugikan dari pengobatan Mendokumentasikan pemberian obat dan respon pasien, sesuai protokol instansi Infection Control (6540) Instruksikan pasien tentang teknik mencuci tangan yang benar Gunakan sabun antimikroba untuk mencuci tangan, sebagaimana mestinya Gosok kulit pasien dengan zat antibakteri yang sesuai Berikan terapi antibiotik, sesuai kebutuhan Ajari pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke penyedia layanan kesehatan Infection Protection (6650) Pantau tanda dan gejala sistemik dan lokal dari infeksi Pantau kerentanan terhadap infeksi Berikan perawatan kulit yang tepat pada area edema Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas ekstrem, atau drainase Pantau perubahan tingkat energi atau malaise Ajari pasien dan keluarga pasien tentang perbedaan antara infeksi virus dan bakteri Ajari pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke penyedia layanan kesehatan Ajari pasien dan anggota keluarga cara menghindari infeksi

DAFTAR PUSTAKA Agianto, Herry Setiawan, & Nasri, N. M. (2022). Identifikasi Diagnosis Keperawatan dan Etiologi Pasca Banjir Pada Masyarakat Kalimantan Selatan. Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan, 10(1), 51–63. https://doi.org/10.20527/jdk.v10i1.104 Barat, P. M. (2023a). Sepuluh Penyakit Terbanyak di UPTD. Puskesmas Martapura Barat Bulan Februari 2023. Barat, P. M. (2023b). Sepuluh Penyakit Terbanyak di UPTD. Puskesmas Martapura Barat Bulan Januari. BNPB. (2023). Risiko Bencana Indonesia “Memahami Risiko Sistematik di Indonesia.” BPBD Kalimantan Selatan. (2021). Renstra Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan 2016-2021. 2021. Capernito, L. J. (1992). Nursing Diagnosis: Application to Clinical Practice, 4th Edition. In Home Healthcare Nurse: The Journal for the Home Care and Hospice Professional (Vol. 10, Issue 2). https://doi.org/10.1097/00004045- 199203000-00012 Dinkes Kabupaten Banjar. (2023). Laporan Kejadian Banjir di Kabupaten Banjar. Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Ersek, M. (2003). Nursing Interventions Classification (NIC), 3rd edition. In Journal of Hospice & Palliative Nursing (Vol. 5, Issue 1). https://doi.org/10.1097/00129191- 200301000-00011 Findayani Aprilia. (2018). Kesiap Siagaan Masyarakat Dalam Penanggulangan Banjir. Jurnal Media Infromasi Pengembangan Ilmu Dan Profesi Kegeografian, 12(1), 102–114. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/view/8019 Herdman, H., Kamitsuru, S., & Lopes, C. T. (2021). Nursing Diagnoses Definitions and Classification 2021-2023 Twelfth Edition. Hidayati, A. (2019a). Infeksi Bakteri di Kulit. In Infeksi Bakteri Di Kulit. Hidayati, A. (2019b). Seri Dermatologi dan Venerologi Infeksi Bakteri Kulit : Infeksi Bakteri Di Kulit. In Infeksi Bakteri Di Kulit (p. 99). Khasanah, N., & Nurrahima, A. (2019). Upaya Pemeliharaan Kesehatan Pada Korban Banjir Rob. Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas, 2(2), 15. https://doi.org/10.32584/jikk.v2i2.410 Kurniawan Marsha, Ling Michael Sie Shun, F. (2020). Diagnosis dan Terapi Skabies. Cermin Dunia Kedokteran, 47(2), 104. McCloskey, J. C., & Bulechek, G. M. (2008). The Nursing Intervention Classification. Journal of Nursing Care Quality, 12(5), 9–20. https://doi.org/10.1097/00001786- 199806000-00005 Nurullita, U., Ritonga, G. M., & Mifbakhuddin, M. (2021). Pengetahuan Warga tentang Bahaya Keselamatan dan Bahaya Kesehatan yang Terjadi pada Banjir (Studi di Daerah Rawan Banjir di Bandarharjo Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 16(3), 154. https://doi.org/10.26714/jkmi.16.3.2021.154- 159

PPNI. (2019). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Setiawan, E. B., Yusran, F. H., Razie, F., & Mustika, R. (2015). Zonasi Kerentanan Banjir di Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. 11, 136–142. Setiawati, I., Utami, G. T., & Sabrian, F. (2020). Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang Kesiapsiagaan Pelayanan Kesehatan Dalam Menghadapi Jurnal Ners Indonesia, 10(2), Bencana Banjir. 158. https://doi.org/10.31258/jni.10.2.158-169 Tarikci, N., Kocatürk, E., Güngör, Ş., Topal, I. O., Can, P. Ü., & Singer, R. (2015). Pruritus in Systemic Diseases: A Review of Etiological Factors and New Scientific World Journal, 2015. Treatment Modalities. https://doi.org/10.1155/2015/803752 Village, G., District, K., Regency, L., Saputra, M. G., & Ummah, F. (2021). Kesiapan Masyarakat Dalam Menghadapi Penyakit Pasca Banjir Di Dusun Lohgawe Desa Gawerejo Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan. Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia, 7(2), 54–62. https://doi.org/10.7454/arsi.v7i2.3983 Yuwansyah, Y. (2021). Penyuluhan Penyakit Kulit Dampak Banjir Di Desa Liang Julang Blok Dukuh Domba. BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(3), 685–688. https://doi.org/10.31949/jb.v2i3.1149 Zamrodah, Y. (2019). Diagnosis Penyakit Kulit dan untuk Melakukan Penanganan Terapeutik. 15(2), 1–23. https://www.mendeley.com/catalogue/4ebc8b20-cd79- 3a7e-afb2- 784ffcbc8826/?utm_source=desktop&utm_medium=1.19.8&utm_campaign=ope n_catalog&userDocumentId=%7Bc9faecac-f372-4731-9447-05b7692fdc62%7D


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook