Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore 120040001-ULFI DANIA

120040001-ULFI DANIA

Published by ulfidaniadania, 2021-11-01 04:32:21

Description: 120040001-ULFI DANIA

Search

Read the Text Version

instrumen. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan rumus Alfa Cronbach karena datanya berupa data interval. Rumus koefisien reliabilitas Alfa Cronbach adalah sebagai berikut. ∑ = −1 1− Keterangan: r : koefisien reliabilitas yang dicari k : jumlah butir pernyataan 2 : varian butir-butir pernyataan 2 : varian skor pernyataan Pengujian Reabilitas instrumen antara lain: 1) Metode tes ulang (tes re-tes estimate reliabelity) Uji reliabilitas dengan metode tes ulang digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu pengukuran dapat diandalkan. Uji ini dilakukan sebanyak dua kali, pengukuran pertama dan ulangnya. Kedua pengukuran dapat dilakukan oleh orang yang sama atau berbeda. Dalam hal ini perlu diatur bahwa proses pengukuran kedua, keadaan yang diukur itu harus benar-benar sama. Selanjutnya hasil pengukuran yang pertama dan yang kedua dikorelasikan dan hasilnya menunjukkan reliabilitas dari tes ini. 43

2) Metode Bentuk Paralel (Equivalent) Tes paralel atau tes equivalent adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran dan susunan tetapi butir-butir soalnya berbeda, dalam istilah bahasa Inggris disebut alternate- forms method (parallel forms). 3) Metode Gabungan (paralel form and alternative form reliability estamete) Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrument yang ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama. 3.5.2 Uji Hipotesis Hipotesis merupakan pernyataan-pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antara dua variabel yang berkaitan dengan suatu kasus tertentu dan merupakan anggapan sementara yang perlu diuji benar atau tidak benar tentang dugaan dalam suatu penelitian serta memilki manfaat bagi proses penelitian agar efektif dan efisien. Hipotesis merupakan asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menelaskan hal tersebut dan dituntut untuk melakukan pengecekannya. Jika asumsi atau dugaan tersebut dikhususkan mengenai populasi, umunya mengenai nilai-nilai parameter populasi, maka hipotesis itu disebut dengan hipotesis statistik. 44

3.5.3 Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk memenuhi syarat analisis regresi linier, ada beberapa asumsi yang harus terpenuhi agar kesimpulan dari hasil pengujian tidak bias, salah satunya adalah uji normlitas.  Uji Normalitas Pengujian hipotesis dalam penelitian ini, mengunakan statistik parametris karena data yang akan diuji berbentuk ratio. Uji normalitas digunakan untuk mengkaji kenorrmalan variabel yang diteliti apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Hal tersebut penting karena bila data setiap variabel tidak normal, maka pengujian hipotesis tidak bisa menggunakan statistik parametik (Sugiyono, 2012:173). Sebelum pengujian dilakukan terlebih dahulu ditentukan taraf signifikan atau taraf nyata. Hal ini dilakukan untuk membuat suatu rencana pengujian agar dapat diketahui batas-batas untuk menentukan pilihan antara Ho dan Ha. Dalam penelitian ini, taraf nyata yang dipilih adalah 0,05 atau 5% karena dapat mewakili hubungan antara variabel yang diteliti dan merupakan suatu signifikansi. Menurut Stainslaus, Singgih Santoso (2012:393), uji normalitas data menggunakan statistik SPSS versi 17 dengan dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan probabilitas (asymptotic significancy), yaitu : 45

1) Jika probabilitas > 0,05 maka distibusi dari model regresi adalah normal. 2) Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi tidak normal. 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Penelitian ini bersifat kuantitatif dimana data yang dihasilkan akan berbentuk angka. Dari data yang dapat dilakukan analisis dengan menggunakan software SPSS. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis Penggunaan Strategi Untuk Mengatasi Language Anxiety ketika Berbicara. Dengan tujuan yang didasarkan, data dikumpulkan dengan kuesioner sebanyak 60 orang responden. Penelitian ini menggunakan kuesioner tertutup yaitu kuesioner dimana pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan telah disediakan jawaban pilihannya, sehingga responden tinggal memilih salah satu dari jawaban yang telah disediakan. Sedangkan berdasarkan siapa yang harus atau mengisi kuesioner ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner langsung, yaitu pengisian kuesioner diisi sendiri oleh subyek yang diteliti.Kuesioner yang dibuat dengan variabel yang diteliti memiliki rata 10 item pertanyaan. Adapun pengujian kualitasnya data dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : 4.1.1 Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Kuesioner dianggap valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuesioner tersebut. Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation 47

dan dihitung dengan menggunakan bantuan komputer Statistic Package for Sosial Science (SPSS). Item pertanyaan yang memiliki nilai korelasi signifikansi pada level dibawah 5%. Hasil pengujian validitas data disajikan pada tabel sebagai berikut: Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Pearson Signifikan Keterangan Correlation Pertanyaan 1 0,690 0,000 Valid Pertanyaan 2 1,052 0,691 Tidak Valid Pertanyaan 3 0,381 0,003 Valid Pertanyaan 4 0,670 0,000 Valid Pertanyaan 5 0,576 0,000 Valid Pertanyaan 6 0,599 0,000 Valid Pertanyaan 7 0,408 0,001 Valid Pertanyaan 8 0,783 0,000 Valid Pertanyaan 9 0,460 0,000 Valid Pertanyaan 10 0,511 0,000 Valid Keterangan: *. Correlation is significant at the 0,01 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed). Dari hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari 10 butir pertanyaan ada 1 butir pernyataan yang memiliki person correlation lebih besar sehingga signifikan nya lebih besar dari 0,05 yang di tunjukan pada nomor 2, sehingga nomor 2 dinyatakan tidak valid dan tidak digunakan dalam penelitian. 48

4.1.2 Uji Reliabilitas Uji reliabilitas yang digunakan yaitu teknik Cronbach’s Alpha yang dihitung dengan menggunakan bantuan komputer Statistic Package for Sosial Science (SPSS), dimana variabel atau konstruk dikatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha > 0.70. Semakin nilai alpanya mendekati satu maka nilai reliabilitas datanya semakin terpercaya untuk masing-masing variabel. Hasil pengujian reliabilitas data dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 4 Hasil Uji Reabiltas Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items N of Items ,696 ,675 10 Dari hasil uji reliabilitas pada tabel di atas dapat diketahui nilai Cronbach’s Alpha untuk semua variabel lebih besar dari 0,60 sehingga variabel instrumen penelitian dapat dinyatakan reliabel. 4.1.3 Uji Hipotesis Model statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis korelasi bivariate. Hasil pengujian untuk keempat hipotesis dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 5 Hasil Uji Hipotesis Variabel Pearson Signifikan Kesimpulan Correlation 49

Pertanyaan 1 0,690 0,000 Hipotesis Pertanyaan 2 1,052 0,691 Diterima Pertanyaan 3 0,381 0,003 Hipotesis Pertanyaan 4 0,670 0,000 Ditolak Pertanyaan 5 0,576 0,000 Hipotesis Pertanyaan 6 0,599 0,000 Diterima Pertanyaan 7 0,408 0,001 Hipotesis Pertanyaan 8 0,783 0,000 Diterima Pertanyaan 9 0,460 0,000 Hipotesis Pertanyaan 10 0,511 0,000 Diterima Hipotesis Diterima Hipotesis Diterima Hipotesis Diterima Hipotesis Diterima Hipotesis Diterima Korelasi antara variabel yang mempunyai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis tersebut dapat diterima. Sedangkan korelasi antara Variabel yang mempunyai signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu ada pada pertanyaan nomor 2 senilai 0,691, artinya bahwa untuk variabel ini tidak berkorelasi, hubungannya tidak signifikan karena mempunyai signifikansi >0,05 yang artinya hipotesis pada pertanyaan ke 4 ditolak. 50

4.1.4 Uji Normalitas Hasil pengujian normalitas data dengan uji One sampel kolmogorof Smirnov Test, menunjukan nilai Asymp. Sig (2-tailed) yang dihitung dengan menggunakan bantuan komputer Statistic Package for Sosial Science (SPSS), untuk variabel lebih besar dari 0,06. Hal ini menunjukan seluruh variabel terdistribusi secara normal. Hasil dari pengujian normalitas disajikan pada tabel sebagai berikut : Tabel 6 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test total N Mean 60 Normal Parametersa,b 36,5167 Std. Deviation 4,05677 Most Extreme Differences Absolute ,088 Positive ,067 Negative -,088 Test Statistic ,088 Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. Berdasarkan tabel terlihat bahwa seluruh nilai Asymp. Sig(2- Tailed) yaitu 0,200 artinya lebih besar dari nilai alpha 0,06. Dengan demikian data tersebut dapat di katakan normal. 51

4.2 Pembahasan 4.2.1 Faktor yang Mempengaruhi Para Mahasiswa Language Anxiety dalam Berbicara. Language anxiety merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses berbicara terutama pembicara pemula yang dalam konteks penelitian ini adalah mahasiswa di seluruh Universitas di Pulau Jawa. Semua mahasiswa baru mengalami gejala language anxiety yang bervariasi dari sangat ringan sampai sangat serius. 4.2.1.1 Faktor Individu Anxiety adalah salah satu konsep dalam psikologi yang berkaitan dengan suatu kondisi kejiwaan seseorang. Anxiety atau kecemasan adalah manifestasi dari kondisi psikologis yang terjadi pada seseorang. Anxiety diartikan sebagai suatu kondisi kejiwaan yang menunjukkan gejala ketakutan “palsu” terhadap suatu objek. Dengan kata lain anxiety terjadi dan terkait dengan person (individu). Sehingga tidak terhindarkan faktor penyebab language anxiety bersinggungan dengan self (kedirian). a. Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris. Hampir sebagian besar mahasiswa mengeluhkan kemampuan berbicara mereka dalam bahasa Inggris. Mereka merasa kemampuan bahasa mereka masih belum bagus untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. “I am sorry if I make mistakes” ungkapan ini sering di ucapkan oleh mahasiswa di akhir bahkan terkadang diawal ketika mereka mulai berbicara. 52

Kendala bahasa yang sebagaian besar mahasiswa alami adalah kosakata, grammar dan pelafalan. Mereka merasa kesulitan dengan tiga elemen bahasa Inggris ini. Jumlah kosakata siswa terkadang tidak cukup banyak untuk menjelaskan topic tertentu seperti; college life, gadget, technology dll. ketika mereka berbicara. Ide/gagasan yang hendak mereka sampaikan sering kali terputus karena ktidak mengetahui kosakata yang tepat. Grammar menjadi sumber ketidak mampuan mahasiswa untuk berani berbicara dalam bahasa Inggris karena mereka tidak menguasai tata bahasa bahasa Inggris dengan baik. Mereka memandang diri mereka kurang percaya diri untuk mampu berbicara dengan menyakinkan. Penguasaan pelafalan (pronunciation) seperti pembicara asli bahasa Inggris (Native speaker) adalah faktor penentu pengausaan bahasa Inggris. Pandangan ini menyebabkan mahasiswa, sedapat mungkin, melafalkan kata sebagaimana penutur asli berbicara dalam bahasa Inggris. Mahasiswa meniru bagaimana penutur asli melakukanya. Ketidakberhasilan pada elemen bahasa inilah (pelafalan) yang banyak menyebabkan mahasiswa merasa gagal dalam berbicara bahasa Inggris yang pada akhirnya pandang akan diri mereka menjadi rendah dan memicu timbulnya language anxiety. Topik yang telah ditentukan oleh dosen seringkali memyebabkan mahasiwa takut berbicara. Mereka mengeluhkan topik yang tidak sesuai dengan kemampuan bahasa mereka. Topik yang disajikan terlampau sulit 53

untuk dipahami secara comprehensive. Pengetahuan mahasiswa akan topic yang didiskusikan amat terbatas sehingga hanya bagian tertentu saja dari topic itu yang didiskusikan. Pembahasan yang monoton itulah yang menyebabkan tingkat ketertarikan menurun. b. Tingkat Kepercayaan Diri Mahasiswa merasa malu ketika berbicara bahasa Inggris, khususnya ketika berbicara di depan kelas. Hampir keseluruhan mahasiswa takut berbicara di depan teman-temanya di depan kelas karena malu. Mereka merasa menjadi pusat perhatian apabila sedang berada di depan kelas. Semua mata tertuju kepadanya. Keadaan ini membuat mereka nervous. Rasa malu menyampaikan ide di depan kelas diperparah lagi oleh perasaan takut salah. Sebagai pembelajar bicara pemula, mahasiswa merasa penguasaan bahasanya belum begitu bagus. Sehingga, rasa khawatir berbuat salah mengungkung mereka untuk menyampaikan ide dengan bebas. Bagi mereka berbicara bahasa Inggris haruslah seperti penutur asli dengan penguasaan kosakata yang memadai serta mampu mengunakan tata bahasa dengan tepat ketika menyampaikan idea di depan kelas. Rasa malu dan takut salah itulah yang kemudian berkembang menjadi language anxiety. c. Persepsi Negatif Terhadap Bahasa Inggris Dampak dari adanya persepsi adalah terbentuknya keyakinan (belief). Pembelajar sebagai subjek dari pembelajaran memiliki pandangan yang menyebabkan language axiety muncul. Sebagian besar mahasiswa merasa 54

berbicara dalam bahasa Inggris sulit. Mereka menyatakan bahwa belajar berbicara adalah skill yang paling sulit setelah mendengarakan (listening). Berbicara menjadi momok bagi mahasiswa. Mereka cenderung pasif daripada aktif di kelas. Hanya sebagian mahasiswa yang aktif berbicara dikelas. 4.2.1.2 Faktor Sosial Disamping faktor individu, faktor sosial juga memegang peran yang sangat berpengaruh terhadap munculnya language anxiety yang dialami mahasiswa. Jiak faktor psikologis berkaitan dengan sesuatu yang bersifat kedirian, faktor sosial lebih karena hubungan interaksi antar pembicara. a. Terbatasnya Kesempatan Berbicara Dikelas Mahasiswa mengalami kesulitan berbicara karena kurangnya exposure atau input bahasa di dalam kelas. Keterbatasan exposure dalam bahasa target juga menambah masalah tersendiri terhadap language anxiety mahasiswa. b. Perbedaan Status Sosial Mahasiswa merasa nervous atau anxiety ketika mereka bertemu/berhadapan dengan seseorang yang memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik. Mereka merasa rendah diri apabila berkomunikasi dengan mahasiswa lain yang memiliki kemampuan berbahasa lebih baik atau apabila berbicara /bertemu dengan dosenya. Mereka takut berkomunikasi karena kemampuan bahasa Inggris mereka masih rendah. 55

Seorang mahasiswa merasa nyaman berkomunikasi dengan teman sekelasnya. Dia mampu bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan penuh percaya diri. Ketika seorang dosen bahasa Inggris masuk, mahasiswa tersebut berhenti sepenuhnya dan hanya mampu mendengarkan apa yang disampaikan oleh dosen tersebut tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Baginya dosen tersebut adalah dosen yang paling smart. c. Perbedaan Gender Gender juga memicu anxiety dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan baik didalam maupun diluar kelas. Seorang mahasiswi mengakui bahwa dirinya merasa takut, nervous apabila berbicara dengan mahasiswa. Perbedaan sex diantara mereka menyebabkan mahasiswi ini seakan-akan berbicara dengan orang asing, meskipun yang bersangkutan adalah teman sekelasnya. d. Tidak Terbiasa Berbicara di Depan Umum Kegiatan berbicara di public kadang memicu terjadinya language anxiety. Mahasiswa merasa tegang dan tertekan ketika sedang belajar berbicara karena kegiatan belajar tertentu. Kegiatan-kegiatan berikut dapat membuat mahasiswa mengalami anxiety dalam berbicara: 1. Berbicara di Depan Kelas. Mahasiswa merasa kegiatan belajar dengan meminta/menyuruh mahasiswa berbicara di depan kelas merupakan tugas yang paling sulit untuk dilakukan. Mahasiswa merasa tidak percaya diri terhadap kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris yang mereka miliki. Mereka 56

merasa malu kepada teman-temanya karena pada dasarnya mereka jarang melakukannya. Sehingga ketika mereka harus maju ke depan kelas, baik karena disuruh dosenya ataupun karena gilirannya untuk menyampaikan pendapatnya, mereka melawan rasa takut yang menyelimuti perasaan mereka. Keterpaksaan ini menyebabkan tingkat anxiety mereka semakin tinggi. 2. Presentasi di Kelas Presentasi merupakan aktifitas belajar yang paling sering dilakukan oleh mahasiswa, terlebih lagi di kelas speaking. Mahasiswa merasakan bahwa presentasi dalam kondisi tertentu menyebabkan tingkat stres dan kecemasan mereka meningkat. Mahasiswa, baik dengan persiapan maupun tidak, merasa khawatir akan performance mereka. Mereka memiliki perasaan kawatir mereka tidak bisa tampil sempurna di depan teman-temanya. 3. Diskusi dalam Kelompok Besar. Diskusi dalam kelas besar adalah kegiatan yang menciptakan language anxiety. Bagi sebagian kecil mahasiswa diskusi dalam kelas besar menimbulkan ketakutan tersendiri. Mereka merasa minder akan kemampuan mereka sendiri dibandingkan kemampuan mahasiswa yang lainnya. Terlebih lagi ketika mahasiswa ditunjuk secara individu untuk menyakatan pendapatnya tentang topic yang didiskusikan 4.2.2 Manifestasi language anxiety dalam berbicara Bahasa Inggris Manifestasi dari language anxiety yang dihadapin mahasiswa berbentuk perilaku verbal dan non-verbal. Perilaku verbal nampak ketika 57

mereka berbicara. mahasiswa tidak begitu memperhatikan apa yang mereka ucapkan. Mereka sibuk dengan mengatasi masalah dalam diri mereka sehingga mereka kurang peduli dengan stress, dan intonasi dari kata/kalimat yang disampaikan. Perilaku non-verbal nampak dengan postur tubuh yang kaku, tidak menampakkan ekspresi wajah, menatap keatas/pojok ketika berbicara tidak berani menatap mata teman-temanya. 4.2.3 Strategi Yang Dipakai Oleh Mahasiswa Untuk Mengatasi Language Anxiety Dalam Berbicara. Langkah pertama untuk memecahkan kecemasan yang terjadi adalah mengidentifikasi penyebab language anxiety dan mengetahui manifestasi dari language anxiety yang dialami pemebelajar ketika berbicara. Mahasiswa yang menyadari mereka mengalami language anxiety, mereka melakukan banyak acara pemecahan masalah tersebut dengan: a. Mensugesti diri Language anxiety yang muncul kadang bersifat tiba-tiba. Perasaan itu mengemukakan seiring bagian untuk memberikan pendapat semakin mendekat. Dan apa bila sudah sampai pada bagiannya, hampir semua hafalan yang hendak disampaikan hilang begitu saja. Kebingungan kemauan menguasai diri. Ketika mahasiswa mengahadapi gejala tersebut, mereka mensugesti diri mereka dengan menyakinkan diri merka sendiri pasti mampu berbicara dengan baik. Mereka menumbuhkan ke keyakinan dari dalam untuk menyelesaikan perasaan cemas yang muncul. b. Menenangkan diri 58

Gejala dari language anxiety kadang sangat parah dan menyolok. Mahasiswa tidak saja berkerigat tetapi juga trembling (tubuh/bagian tubuh bergetar). Kecemasan mahasiswa sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Apabila hal ini terjadi, banyak mahasiswa yang menenangkan diri mereka di dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkanya dengan hati-hati, mahasiswa juga berusaha mengingat- ngingat apa yang mereka hafalkan. c. Meminta Bantuan Teman Mahasiswa meminta bantuan dari temannya untk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi apabila mereka tidak menemukan jalan kelurnya. Penyebab language anxiety dalam kasus ini adalah rendahnya kemampuan akademis (academic skill). Mahasiswa meminta penjelasan, panduan, diajari, oleh temannya agar memiliki keterampilan berkomunikasi. 59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Language anxiety yang dialami para mahasiswa disebabkan oleh faktor individu dan faktor sosial. Mereka merasa anxiety ketika mereka terlalu memperhatikan diri (self) mereka yang berakibat merasa malu dan takut salah. Kemampuan penguasaan bahasa dan materi yang rendah membuat mahasiswa mengalami language anxiety. Kepercayaan diri yang rendah serta persepsi bahwa bahasa Inggris sulit turut menyebabkan mahasiswa tegang dan jarang berkomunikasi. Sedangkan faktor sosial meliputi: terbatasnya kesempatan berbicara dikelas. Mahasiswa hanya mendengarkan ungkapan dari dosen dan temanya sehingga perkembangan bahasa mereka tidak optimal, status sosial membuat jarak antara dosen dengan mahasiswa menjadi kaku sehingga mereka menjadi sungkan untuk berkomunikasi, perbedaan gender juga mempengaruhi tingkat anxiety mahasiswa. Serta tidak terbiasa berbicara di depan umum. Manifestasi dari language anxiety yang dihadapin mahasiswa berbentuk perilaku verbal dan non-verbal. Perilaku verbal nampak ketika mereka berbicara. Mahasiswa tidak begitu memperhatikan apa yang mereka ucapkan seperti stress, dan intonasi dari kata/kalimat yang disampaikan. Perilaku non- verbal nampak dengan postur tubuh yang kaku, tidak menampakkan ekspresi wajah, menatap keatas/pojok ketika berbicara tidak berani menatap mata teman- temanya. Mahasiswa yang menyadari mereka mengalami langauge anxiety, 60

mereka melakukan banyak acara pemecahan masalah tersebut dengan mensugesti diri mereka dengan menyakinkan diri mereka sendiri pasti mampu berbicara dengan baik. Menarik nafas panjang dan mengeluarkanya dengan hati-hati dilakukan ketika rasa cemas sedemikian menguasai mereka, meminta bantuan temantemanya apabila anxiety itu muncul karena lemahnya penguasaan mereka di bidang akademis. Dari hasil temuan yang peneliti dapatkan, untuk mengurangi tingkat kecemasan (language anxiety) yang dialami mahasiswa kiranya dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: Dosen speaking harus lebih kreatif dalam mendesain kelas speaking. Kegiatan pembelajaran tidak monoton hanya pada memberikan tugas secara individu tetapi juga kegiatan kelompok seperti role-play, drama dan outdoor activity. Pemilihan topik seyogyanya didiskusikan dengan mahasiwa agar topik diskusi yang disajikan tidak terlalu sulit bagi mahasiswa. Di berbagai Universitas disarankan membuat English area agar mahasiswa terbiasa mendapatkan exposure dan berlatih mengungkapkan ide atau gagasannya dengan lebih percaya diri dan mendorong proses belajar khususnya belajar berbicara dengan menyiapkan sarana-sarana pendukung. 5.2 SARAN 1. Mahasiswa sebagai orang yang mengalami kecemasan di sini harus mampu menganalisis kurangnya mereka sendiri dalam kinerja berbicara. Dengan menyadari masalah yang mereka miliki, mahasiswa dapat menemukan cara untuk menghadapinya. Mereka dapat meminta umpan 61

balik dari mereka dosen dan teman tentang kinerja berbicara mereka. Umpan balik itu penting untuk membantu mahasiswa menganalisis kinerja mereka sendiri. 2. Dosen harus mampu memahami karakteristik siswa untuk dianalisis masalah mereka terkait kecemasan sebelum menemukan cara untuk menguranginya. Berbeda karakteristik mahasiswa membutuhkan perlakuan yang berbeda untuk menghadapinya. Dosen harus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menceritakan kesulitan yang mereka alami juga. Di Selain itu, dosen memiliki tanggung jawab untuk membangun ruang kelas yang nyaman lingkungan bagi mahasiswa untuk berbicara dengan nyaman dengan sedikit tekanan untuk mengurangi kegelisahan. 3. Uraian dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang kecemasan pada siswa berbicara kinerja di kelas bahasa Inggris. Dalam penelitian selanjutnya, harus ada beberapa metode untuk mengatasinya. Berbagai strategi perlu ditemukan untuk meningkatkan penampilan berbicara mahasiswa. Penting untuk mengetahui bagaimana berperilaku bagaimana interaksi yang tepat antara peserta kelas. Untuk mendukung upayamengurangi kecemasan, membangun lingkungan kelas yang sesuai juga penting. Itu peneliti selanjutnya harus dapat mengidentifikasi suasana kelas yang ideal untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar. 62

DAFTAR PUSTAKA Cohen, L., Manion, L., &Morrison, K. 2000. Research Method in Education.London: Routledge Falmer. Daly, J. 1991. „Understanding Communication Apprehension: An Introduction for Language Educator‟, in Horwitz, E. K. & Young, D. J.(Eds.) Langauge Anxienty: From Theory and Research to Classroom Implication. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Davidson, L. A. 2002. Grounded Theory. Essortment. Accessed from://az..essortment.com/groundedtheory_rmnf.htm. Harmer, J. 2001. The Practice of English Language Teaching. Malaysia: Longman Hatch, J. Amos . 2002. Doing Qualitaive Reasearch in Education Setting. New York: State University of New York. Horwitz, E. K. 2001. Language Anxiety and Achievement. Annual Review of Applied Linguistics, Vol. 21, pp. 112- 126. Horwitz, E. K., Horwitz, M. B., & Cope, J. A. 1986. Foreign Language Clasroom Anxiety. The Modern Language Journal, Vol. 70 (2), pp. 125-132. MacIntyre, P. & Gardner, R. C. 1994. The stable Effect of Language Anxiety on Cognitive Processing in the Second Language. Language Learning, Vol. 44 (2), pp. 283-305. Schovel, T. 1991. „The effect of Affect on Foreign Language Learning: A Review of the Anxiety Research, in Horwitz, E. K. & Young, D. J.(Eds.) Langauge Anxienty: From Theory and Research to Classroom Implication. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Young, D. J. 1990. An Investigation of Students‟ Prespective on Anxiety and Oral Foreign Language Profiiciency Ratings. in Horwitz, E. K. & Young, D. J.(Eds.) Langauge Anxienty: From Theory and Research to Classroom Implication. Englewood Cliffs: Prentice Hall. 63

Young, D. J. 1992. Language anxiety from the foreign language specialist‟ perspective: Interview with Krashen, Omaggio Hadley, Terrell, and Rardin, Foreign Language Annals, Vol. 25, pp. 157- 172. Ohata, K. 2005. Language Anxiety from Teacher‟s Perspective: Interview with Seven Experienced ESL/EFL Teachers, Journal of Language and Learning, Vol. 3 (1), pp. 133-155. Ummah, Sumihatul. 2011. Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Melalui Games pada mahasiswa Semester II Tadris Bahasa Inggris STAIN Pamekasan.Penelitian tidak dipublikasikan. P3M Pamekasan. Saraswati, Bakti Pengaruh Anxiety dalam Speaking Ativities September 2016. Vol. 05 No. 02. Asrida, Deni Strategi Mahasiswa Untuk Mengatasi Kecemasan Dalam Berbicara Bahasa Inggris, Juni 2017 Vol. 9, No.1 Saleh, Umniyah Memahami gangguan kecemasan: jenis-jenis, gejala, perspektif teoritis dan Penanganan, Mei 2015 64

LAMPIRAN 1 NO NAMA LENGKAP NAMA UNIVERSITAS JURUSAN P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 TOTAL 1 LUSIYANAWATI 3 3 2 3 3 3 4 2 3 4 30 2 DENI UGJ CIREBON AKUNTANSI 5 4 2 3 5 2 5 2 3 5 36 3 FEBRI SYIFA AZKHIYAH 5 4 3 3 5 4 5 4 4 5 42 4 GLADYS REGINA A UGJ CIREBON AKUNTANSI 3 5 3 3 4 4 5 4 3 3 37 5 PARIKESIT NURIL AZMI 5 4 4 5 5 3 5 5 5 5 46 6 FADHILAH PUTRI AKPER DHARMA H PERAWAT 4 4 4 3 5 3 5 3 4 3 38 7 ISNA NAFISATUL I 4 4 2 2 5 2 5 3 4 3 34 8 NURLISTI AZZAHRA UGJ CIREBON AKUNTANSI 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 33 9 PUTRI NOVIA R 4 3 3 3 4 4 4 4 3 4 36 10 KAREL MARCELLINO ITB BANDUNG OSEANOGRAFI 3 3 3 2 4 2 4 1 3 3 28 11 M. WISNU H 3 3 3 3 3 3 5 3 4 2 32 12 SUNARDI UGJ CIREBON AKUNTANSI 5 3 4 4 4 4 5 4 3 5 41 13 SHAFAA SEKAR P 3 4 3 4 3 2 4 2 3 2 30 14 TIARANI IAIN CIREBON KPI 3 4 3 2 4 2 4 2 3 3 30 15 NURKHAFIAH 4 4 3 2 5 2 5 2 4 5 36 16 RIZKI KURNIA PUTRI UGJ CIREBON AKUNTANSI 3 3 3 4 4 3 4 4 4 4 36 17 ANNISA IKA PUTRI 5 3 3 4 5 5 4 3 3 5 40 18 ALFI DAWA M UGJ CIREBON AKUNTANSI 5 1 5 4 5 5 5 5 4 5 44 19 DWI SINTIA WATI 4 4 3 3 5 3 5 4 4 5 40 20 MAELIN AGUSTINA H UGJ CIREBON AKUNTANSI 3 3 3 2 4 2 4 3 3 5 32 21 HINGGIS RAKHAEL N 3 3 4 3 4 4 3 4 4 4 36 22 SITI MIRATUS S UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 3 2 4 5 4 4 5 4 5 40 23 DYAH AYU KINASIH 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 37 24 RIZKIANTO STMIK IKMI TI 5 3 3 5 5 4 5 5 4 5 44 25 FATIMATUZ ZAHRO 3 3 3 3 4 2 5 3 4 5 35 26 CANTIKA UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 3 4 4 4 2 4 4 3 3 35 27 PUTRI ELOK KAMILAH 3 4 3 2 4 3 4 4 4 5 36 28 HOTMAULI R UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 3 3 2 4 4 5 3 3 4 35 29 KEN AGATSYA N.A 5 3 4 4 5 3 5 4 4 5 42 30 LILIS ROHAYATI UMC CIREBON PG-PAUD 4 3 4 4 4 4 5 4 3 4 39 31 FAUZAN FASHIHUL L 3 4 4 3 4 2 5 3 3 3 34 32 VIRA ZAHRA A. UMC CIREBON IK 3 3 4 2 5 2 5 3 3 5 35 33 AYU LESTARI 4 3 4 4 5 3 5 4 4 5 41 34 MAULIDIYAH RAHMAH IAIN CIREBON BKI 5 3 3 4 5 3 5 3 3 5 39 35 DINA SAFITRI 3 3 4 2 4 3 4 2 2 3 30 36 FASECH MALA'I UPI BANDUNG PST 3 4 3 3 4 3 4 3 4 3 34 37 RINDIANI 5 3 3 4 4 4 5 3 4 3 38 38 SUHERWAN UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 4 3 3 5 3 5 5 5 5 42 39 ELISA DAMAYANTI 3 3 3 4 5 3 5 3 4 4 37 40 RISKA MEILINDA IAIN CIREBON PERBANKAN 3 3 3 3 2 2 5 3 3 4 31 41 AI 5 3 3 3 5 3 5 3 4 4 38 42 HELIN SUPRIATIN POLTEKKES TASIK RMIK 4 4 3 3 4 4 4 3 3 3 35 43 BUNGA DELIANA PUTRI 3 3 4 3 4 3 5 3 4 3 35 44 SAFIRA NUR A UMC CIREBON TASAWUF 4 4 3 4 4 3 5 3 4 2 36 45 DEDE IIN INAYAH 4 4 4 4 5 2 5 2 4 5 39 46 CITRA NURDIANA UM MALANG PSIKOLOGI 4 2 4 2 4 2 4 2 4 4 32 47 LIA RISTIANTI 3 4 2 3 4 2 4 2 2 4 30 48 LATIFAH UGJ CIREBON AKUNTANSI 3 4 3 3 4 3 5 2 5 4 36 49 ARSELLA ZALIANTI 4 3 3 3 4 2 5 3 4 3 34 50 AMINI IAIN CIREBON HKI 3 3 4 5 5 3 5 4 3 5 40 51 DEVIRA OKTAVIANI 3 4 4 2 4 2 4 2 4 4 33 52 ANDINI PUSPITA DEWI UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 4 4 3 3 3 5 4 3 5 38 53 TIA INAYATUL AINI 3 4 3 2 4 2 2 1 3 5 29 54 RIQQOH HAFIDZAH IAIN SYEKH NURJATI C SPI 4 3 4 4 4 4 4 4 4 3 38 55 LISA NURHALISSA 5 2 4 2 5 5 4 5 1 4 37 56 FAISAL N UGJ CIREBON AKUNTANSI 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 57 RISKI 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 58 WAFA BILAH IAIN CIREBON ES 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 59 LISTIANA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 60 WAFIK UPI BANDUNG PTA 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 227 206 201 195 255 185 269 198 214 241 2191 TOTAL TELKOM BANDUNG SE UIN JKT PSIKOLOGI UIN BANDUNG TASAWUF UIN JAKARTA KIMIA UGJ CIREBON AKUNTANSI IAIN CIREBON BKI UGJ CIREBON AKUNTANSI UIN BANDUNG SPI IAIN CIREBON TBI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI UIN BANDUNG HKI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI IAIN CIREBON TBI UGJ CIREBON AKUNTANSI IAIN CIREBON HKI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI POLTEKKES TASIK GIZI UGJ CIREBON AKUNTANSI UGJ CIREBON AKUNTANSI IAIN CIREBON KPI IAIN CIREBON TBI IAIN CIREBON BKI UGJ CIREBON AKUNTANSI 65

LAMPIRAN 2 DIAGRAM DARI SETIAP KUESIONER 10% 66



Apakah anda tertarik untuk melawan rasa takut anda ketika berbicara menggunakan bahasa Inggris? Apakah anda percaya diri ketika berbicara di depan umum menggunakan bahasa Inggris? 68

Menurut anda pentingkah melawan rasa cemas ketika berbicara menggunakan bahasa inggris? Tertarikkah anda ketika diajak berdialog atau diminta berbicara di depan umum menggunakan bahasa Inggris?

Apakah metode berlatih berbicara depan cermin sebelum didepan umum dapat mengurangi rasa cemas? 70


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook