MASUKNYA JEPANG KE INDONESIA Sebelum Indonesia merdeka, Indonesia sempat mengalami penyerangan dari berbagai negara asing, salah satunya adalah Jepang. Penyerangan yang dilakukan bangsa asing terhadap Indonesia tentu dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu. Sejarah mencatat, Jepang resmi mengambil-alih Indonesia dari Belanda setelah penandatanganan Perjanjian Kalijati. Lantas, kapan tepatnya kedatangan Dai Nippon ke Nusantara, apa tujuannya, dan bagaimana kronologinya? Perjanjian Kalijati yang diteken tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat. merupakan tanda resmi menyerahnya Belanda kepada Jepang dalam Perang Asia Timur Raya atau yang menjadi rangkaian dari Perang Dunia II. Lantaran Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, maka kekuasaan atas wilayah koloni mereka yakni Hindia Belanda alias Nusantara atau Indonesia diserahkan kepada pemerintah militer Dai Nippon.
Latar Belakang Masuknya Jepang ke Indonesia Salah satu latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia adalah menguasai sumber daya alam yang ada di Indonesia. Hal ini selaras dengan yang dijelaskan dalam buku berjudul IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) untuk Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama yang ditulis oleh Nana Supriatna, Mamat Ruhimat, dan Kosim (2006: 230). Dalam buku tersebut tertulis bahwa tujuan Jepang menduduki wilayah Indonesia adalah Jepang ingin menjadikan Indonesia sebagai tempat mencari bahan baku industri. Jepang ingin menguasai wilayah yang memiliki sumber daya alam serta memiliki pasokan bahan mentah yang melimpah. Kekayaan alam Indonesia sangat menguntungkan Jepang karena Jepang merupakan negara industri. Lebih lanjut, pembahasan mengenai latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia dijelaskan dalam buku berjudul Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI yang disusun oleh Dr. Abdurakhman, S.S., M.Hum.; Arif Pradono, S.S., M.I.Kom., Friska Indah Kartika, S.Hum. (2019: 134).
Disebutkan dalam buku tersebut bahwa latar belakang kedatangan Jepang ke Indonesia berkaitan dengan ideologi Hakko Ichiu yang dianut Pemerintah Jepang. Ideologi Hakko Ichiu tersebut berarti delapan arah mata angin di bawah satu atap kekuasaan Kemaharajaan Jepang. Berdasarkan ideologi tersebut, Jepang bercita-cita untuk membentuk lingkungan kemakmuran bersama yang didominasi oleh Jepang dan meliputi sebagian besar dunia. Ideologi Hakko Ichiu ini menjadi alat propaganda untuk memperluas kekuasaan Jepang hingga ke Indonesia. Jepang datang ke Indonesia karena Indonesia dianggap memiliki lokasi yang sangat strategis. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang melimpah seperti bahan tambang dan hasil pertanian. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia tersebut dibutuhkan oleh Jepang untuk memaksimalkan pengembangan kegiatan industri yang ada di Jepang. Wilayah pertama yang dijadikan sasaran pertama oleh Jepang adalah Tarakan, Kalimantan Timur.
Hal tersebut karena Tarakan memiliki sumber daya minyak yang sangat melimpah. Setelah Tarakan, kemudian Jepang mulai menyerang Balikpapan, Pontianak, Samarinda lalu meluas hingga Pulau Jawa. (DAP)
Penyebab Kedatangan Jepang ke Indonesia Sebenarnya, orang-orang Jepang memasuki Indonesia sebelum menyerahnya Belanda tahun 1942. Tahun 1937 sedang terjadi krisis ekonomi yang melanda dunia. Jepang ternyata berhasil mengantisipasi dampak buruk yang diakibatkan oleh resesi global tersebut. Onghokham dalam Runtuhnya Hindia Belanda (1987:30) menyebutkan bahwa Jepang termasuk salah satu negara yang mampu selamat dari krisis moneter dunia. Hal ini berbeda dengan Hindia Belanda (Indonesia di bawah penjajah kolonial Belanda). Maka, ketika krisis ekonomi melanda dunia, Jepang mampu bertahan berkat strategi perekonomian mereka. Sebaliknya, perekonomian Hindia Belanda kian terpuruk. Inilah yang menjadi jalan masuk awal Jepang ke wilayah Indonesia. Pada 1938-1939, orang-orang Jepang masuk ke Indonesia untuk berinvestasi kepada pemerintah Hindia Belanda. Selain itu, Jepang juga menjadi salah satu negara utama tujuan ekspor komoditas dari Hindia Belanda yang didapat dari kekayaan alam Nusantara.
Jepang pada waktu itu menjadi pesaing negara-negara Eropa dalam perebutan pasar ekonomi. Situasi demikian, membuat mereka mampu masuk ke Indonesia pada tahun 1938-1939 untuk berinvestasi kepada pemerintah Hindia Belanda. Tujuan Jepang Ingin Menguasai Indonesia Pada 1 September 1939, Perang Dunia II dimulai. Jepang dan Belanda berada di kubu yang saling berhadapan: Jepang di blok fasisme bersama Jerman dan Italia, sedangkan Belanda menjadi bagian dari Sekutu yang dimotori Amerika Serikat dan Inggris. Situasi ini tentunya merugikan Jepang yang telah menanamkan investasi di Indonesia serta mengimpor berbagai komoditas hasil alam dari Hindia Belanda. Atas hal itulah Jepang kemudian mengincar Indonesia. Dengan demikian, tujuan awal Jepang atas penguasaan terhadap Hindia Belanda adalah ingin menguasai kekayaan alam Nusantara untuk kebutuhan perang dan industri.
Jepang menjadi salah satu kekuatan penting dalam Perang Dunia II. Bahkan, pada 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii. Dikutip dari Sejarah Nasional Indonesia VI (1984) karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, pemerintah kolonial Hindia Belanda melalui Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. Jepang merespons tantangan tersebut dengan mengirimkan pasukannya ke wilayah Tarakan, Kalimantan Timur, pada 11 Januari 1942. Keesokan harinya, wilayah Tarakan berhasil diduduki Jepang yang segera merembet ke wilayah- wilayah Indonesia lainnya, termasuk Maluku di kawasan timur.
Kronologi Masuknya Jepang ke Indonesia Keberhasilan Jepang menduduki Tarakan kemudian diikuti dengan didudukinya wilayah-wilayah lainnya. Balikpapan dan Pontianak, misalnya, masing-masing berhasil dikuasai Jepang tanggal 24 Januari 1942 dan 29 Januari 1942. Berikutnya, berturut-turut pada 3 Februari 1942 dan 10 Februari 1942, giliran Samarinda dan Banjarmasin yang direbut Jepang dari Belanda. Setelah menguasai Kalimantan dan Maluku, pasukan Dai Nippon melanjutkan ekspansi ke wilayah Sumatera. Tanggal 14 Februari 1942, Jepang mengerahkan pasukan payung untuk menduduki Sumatera. Dua hari kemudian, tepatnya tanggal 16 Februari 1942, Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Keberhasilan tersebut membuat Jepang semakin bertekad menguasai Jawa. Jepang menduduki wilayah Teluk Banten di Jawa Barat dan Kragan di Jawa Tengah pada awal Maret 1942. Akhirnya, Batavia (Jakarta) yang menjadi pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda direbut pada 5 Maret 1942 menyusul kemudian Bandung yang diambil-alih dua hari berselang.
Belanda yang semakin terdesak terpaksa menyetujui untuk diadakan perundingan. Tanggal 8 Maret 1942, di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat, kedua belah pihak bertemu. Dalam perundingan yang dikenal dengan nama Perjanjian Kalijati itu, diputuskan bahwa Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.
Tanda-tanda kekalahan Jepang Tanda-tanda kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik mulai terlihat pada tahun 1944. Amerika Serikat mampu mendesak angkatan laut Jepang di kawasan samudera Pasifik. Kondisi tersebut membuat Jenderal Kuniaki Koiso memberikan janji kemerdekaan kepada rakyat Indonesia pada bulan September 1944. Rakyat Indonesia diperbolehkan untuk mengibarkan bendera merah putih di samping bendera Jepang. Selain itu, rakyat Indonesia juga diperbolehkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah lagu kebangsaan Jepang. Tindakan tersebut dilakukan oleh Jepang agar rakyat Indonesia bersedia membantu mempertahankan posisi militer Jepang atas serangan Sekutu. Dalam buku Perang Pasifik (2001) karya PK Ojong, pada bulan Maret 1945, kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik sudah di depan mata. Letjen Kumakici Harada memutuskan untuk membentuk Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
BPUPKI mempunyai 60 anggota dari tokoh nasional Indonesia dan 7 perwakilan Jepang. BPUPKI diketuai oleh Dr. Radjiman Wedyodiningrat dan Raden Panji Soeroso sebagai wakil ketua. BPUPKI dibentuk dengan tujuan untuk menyelidiki dan mengumpulkan bahan- bahan penting dalam bidang konstitusi, ekonomi dan politik untuk kepentingan kemerdekaan Indonesia. Untuk mencapai tujuannya, BPUPKI melaksanakan 2 kali sidang pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 dan 10-16 Juli 1945. Setelah berhasil menjalankan tugas-tugasnya, BPUPKI dibubarkan pada 7 Agustus 1945 dan tugasnya dilanjutkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI memiliki 21 anggota yang merupakan perwakilan dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, etnis Tionghoa dan pihak Jepang. PPKI mengemban tugas BPUPKI untuk melanjutkan persiapan kemerdekaan Indonesia. Jepang menyerah
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Ledakan bom atom menyebabkan kota Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan kota industri militer luluh lantah, sehingga Jepang tidak lagi mampu untuk berperang. Dalam jurnal Jepang dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (2007) karya Yasmis, Jepang secara resmi menyerah tanpa syarat pada 15 Agustus 1945. Kekalahan Jepang diumumkan secara langsung oleh Kaisar Hirohito melalui siaran radio nasional. Berikut faktor penyebab kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik : 1. Teknologi persenjataan Jepang kalah modern dibandingkan dengan Amerika Serikat. 2. Amerika Serikat mampu menyadap komunikasi militer Jepang dalam pertempuran pasifik. 3. Jepang mengalami pemberontakan dari masyarakat di wilayah pendudukannya.
4. Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik menyebabkan Indonesia mengalami situasi kekosongan kekuasaan. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang dan melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Golongan Muda mendesak Soekarno dan Moh. Hatta untuk segera melakukan proklamasi kemerdekaan. Pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda menculik Soekarno dan Hatta menuju Rengasdengklok untuk membahas rencana proklamasi kemerdekaan dan mengamankan mereka dari pengaruh Jepang. Ahmad Subarjo menyusul Soekarno dan Hatta menuju Rengasdengklok karena khawatir dengan keselamatan mereka. Selanjutnya terjadi perdebatan sengit antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Perdebatan antara golongan tua dan golongan muda berakhir ketika golongan tua bersedia untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Search
Read the Text Version
- 1 - 13
Pages: