Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Newsletter RSUP Persahabatan Edisi Juni 2021

Newsletter RSUP Persahabatan Edisi Juni 2021

Published by rsuppersahabatan, 2021-09-16 07:33:44

Description: Newsletter RSUP Persahabatan Edisi Juni 2021

Search

Read the Text Version

NEWS LETTER Edisi Juni 2021 REDAKSI Pengambilan Sumpah Jabatan Serta Pelantikan Jabatan Fungsional & Non Struktural Redaktur Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan telah menyelenggarakan Pengambilan Sumpah dr. Agung Heri Wahyudi, Sp. BS Jabatan Serta Pelantikan Jabatan Fungsional Dan Non Struktural di Lingkungan RSUP Persahabatan, Eryuniyanti, S.Sos Senin (21/6/2021). Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia KP.03.02/IV/9684- 9687/202, Tentang Pengangkatan Dalam Jabatan Fungsional, Terampil, Ahli Pertama & Ahli Muda. Editor & Grafis Layout Oleh Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan dr Agus Suryanto, SpPD-KP,MARS,MH. Ifa Nurul Utami,S.Sos Berikut nama-nama Pejabat Fungsional yang di lantik dan pengambilan sumpah di lingkungan Nur Indah Prihatini Kelean RSUP Persahabatan: Fotografer • drg. Andika Rahmat Pratama, Sp.KG sebagai Dokter Gigi Ahli Muda • drg. Arfan Badeges, Sp.BM, MARS sebagai Dokter Gigi Ahli Muda Fidhyantoro, S.Sos • drg. Kussulistyowati Putri W, Sp.ORT sebagai Dokter Gigi Ahli Muda Zulfikar Amd • dr. Febrini Agasani, Sp.A sebagai Dokter Ahli Pertama • dr. I Putu Kokohana Arisutawan, Sp.BTKV sebagai Dokter Ahli Pertama Nanda Rica Iriani, Amd • drg. Indah Kusuma Pertiwi, Sp.Perio sebagai Dokter Gigi Ahli Pertama Achmad Tanto Setiadi, S.Ikom • dr. Andari Perwira Putri sebagai Dokter Ahli Pertama Roro Rizqi Sriwulandari, S.Ikom • Putri Diah Sarimurti sebagai Fisioterapis Terampil • Soleha, S.I.Kom sebagai Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Pertama Novani Egi Pratomo, Amd Berikut nama-nama Pejabat Non Struktural yang dilantik di lingkungan RSUP Persahabatan: Kritik dan Saran ditujukan ke : • Masiste Sinaga, SE, MAP sebagai Kepala Satuan Pemeriksaan Internal • dr. Siti Chandra Widjanantie, Sp.RM sebagai Ketua Komite Medik Bagian HUKORMAS • Oon Rohanah, S.Kep, Ners sebagai Kepala Instalasi Instalasi Sterilisasi Sentral Dan Binatu RSUP Persahabatan • Fredi Frima Sati, A.Md sebagai Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana, Prasarana Rumah Sakit Jl. Persahabatan Raya No. 1 Rawamangun, Jakarta Timur 13230 Dan Kesehatan Lingkungan Call Center : Selamat kepada bapak dan ibu yang dilantik. Semoga bekerja lebih giat, lebih fokus untuk pelayanan (021) 4786 9945 di RSUP Persahabatan. Telp : Rsup Persahabatan rs_persahabatan rs_persahabatan RSUP Persahabatan 1 (021) 4891708 ext 605 Fax : (021) 4751741 Email : [email protected] Website : www.rsuppersahabatan.co.id www.rsuppersahabatan.co.id

Edukasi Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Catheter Associated Urinary Tract Infection Perawat Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan telah menyelengarakan Edukasi Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Catheter Associated Urinary Tract Infection Perawat RSUP Persahabatan,(22/6/2021). Acara dibuka oleh Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan & Penelitian dr. Rochman Arif, M. Kes. secara virtual melalui zoom. HAIS (Healthcare Associated Infections) merupakan merupakan suatu infeksi yang dialami oleh pasien selama dirawat di pelayanan kesehatan dan menunjukkan gejala infeksi baru dan bukan dalam masa inkubasi termasuk penyakit yang diderita karena pekerjaan. Kejadian HAIs banyak dihubungkan dengan pemasangan alat, seperti CAUTI (Catheter Associated Urinary Tract Infection), VAP (Ventilator Associated Pneumonia), CRBSI (Catheter (IV, Central) Related Blood Stream Infection) dan IDO (Infeksi Daerah Operasi) karena tindakan insisi serta plebitis. Catheter Associated Urinary Tract Infection (CAUTI) merupakan infeksi saluran kemih yang didapat di rumah sakit karena pemasangan kateter, dimana angka di dunia paling banyak mencapai 30-40%. Kateter indwelling/menetap merupakan komponen yang penting pada praktek perawatan pasien. Penggunaan kateter indwelling meningkatkan resiko terjadinya CAUTI. Upaya pencegahan dan pengendalian dapat dimulai dengan prosedur pemasangan yang aseptik, perawatan yang komprehensif selama pemasangan alat, serta pemantuan kemungkinan infeksi dengan melakukan identifikasi risiko melalui bundle prevention. Dalam melaksanakan kegiatan surveilans mengacu pada standar prosedur, panduan, dan alur pelaporan yang melibatkan semua perawat, kepala ruangan, IPCLN, IPCO, dan dokter yang merawat. Pelaporan yang berkualitas akan meningkatkan validitas dan reliabilitas data yang dikumpulkan sehingga hasil pelaporan akurat. Hal tersebut akan meningkatkan ketepatan dalam strategi perbaikan dan intervensi yang akan dilakukan, sehingga mampu meningkatkan keselamatan pasien selama dirawat di RSUP Persahabatan dengan menurunkan angka kejadian HAIs. Tujuan edukasi ini adalah Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bagi seluruh perawat RSUP Persahabatan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi pada pasien dengan kateter urine menetap. Hukormas Info Publik 2

Artikel Kesehatan Kenali Gagal Jantung: Diagnosa Awal dan Terapi Optimal dr. Nana Maya Suryana, SpJP- FIHA Gagal jantung diartikan sebagai suatu kondisi dimana jantung melemah dan tidak mampu menjalankan fungsinya untuk memompakan darah yang mengandung oksigen dan nutrisi secara optimal keseluruh tubuh. Pada masyarakat awam, istilah gagal jantung ini sering juga dikenal sebagai payah jantung, jantung lemah, dan jantung bengkak atau pembesaran jantung. Penyebab sangat beragam, karena kondisi gagal Jantung ini sebenarnya adalah sebagai kondisi akhir dari berbagai kelainan jantung ataupun Faktor resiko penyakit jantung yang tidak ditangani d engan baik. Di Indonesia Penderita gagal jantung cukup banyak berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas) kementrian Kesehatan Indonesia pada tahun 2018, prevalensi penyakit gagal jantung Indonesia berdasarkan diagnosis dokter diperkirakan sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar hampir 30.000 orang di seluruh Indonesia. Dari data yang ada saat ini di pokja gagal jantung PERKI ( di dapat dari 10 senter pelayanan jantung di Indonesia). Didapatkan proporsinya lebih banyak pada laki-laki yaitu 67%, dengan usia rata – rata 57 tahun, ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Negara- Negara lain di dunia, dimana usia rata- rata penderita gagal jantung diatas 60 tahun. Secara proporsi, kelompok usia terbanyak yaitu lebih dari 60 tahun (42%) dan 12% yang paling rendah usia dibawah 40 tahun, 17,2% gagal jantung meninggal saat perawatan di RS, 11,3% meninggal dalam 1 tahun setelah perawatan, 17% mengalami perawatan berulang. Oleh karena banyaknya penderita gagal jatung, dan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kita terhadap penyakit jantung, maka telah dicanangkan tanggal 3 Mei sebagai Hari Peduli Gagal Jantung Indonesia. Faktor Resiko gagal jantung: 1. Usia, semakin bertambahnya usia maka kemungkinan untuk menderita gagal jantung juga semakin meningkat, walaupun tidak menutup kemungkinan usia muda, dibawah usia 40 tahun juga bisa mengalami gagal jantung. 2. Memiliki riwayat penyakit jantung ( Koroner/ serangan jantung, Penyakit Jantung Bawaan, Kelainan irama jantung, kelainan katup jantung, dll. Hipertensi, Diabetes, Merokok, Konsumsi alcohol, Memiliki berat badan berlebihan ( metabolic syndrome), arang berolahraga ( cendrung sedentary life stile), 3. Tidak mengkonsumsi makanan gizi seimbang ( Hipertensi, DM, Obesitas). Jenis gagal jantung: • Berdasarkan waktu kejadian : Akut dan kronik • Berdasarkan bagian jantung yang terkena : gagal jantung kiri ( paling banyak) dan gagal jantung kanan • Gagal jantung sistolik (Pompa) dan diastolik ( gangguan relaksasi, misal pada kondisi hipertensi otot jantung menebal) • Tanda dan gejala penyakit jantung: • Kesulitan bernapas/ sesak napas/ napas pendek • Kelelahan berlebihan/ mudah lelah, terutama saat beraktivitas • Tidak bisa tidur dengan 1 bantal/ lebih nyaman tidur dengan posisi setengah duduk • Pembengkakan di beberapa bagia tubuh, terutama kaki dan perut • Denyut jantung cepat/ tidak teratur • Nafsu makan menurun, ini akibat dari adanya penumpukan cairan diperut, sehingga menjadi terasa begah, cepat kenyang • Menurun nya konsentrasi • Sering terbangun tengah malam karena sesak. Kapan seseorang memeriksakan diri kedokter (dibagi menjadi 3 kelompok/ zona: Merah, Kuning, Hijau) • Merah: kondisi akut, Harus saat itu juga ke Rumah sakit, kriteria: sesak memberat sampai kesulitan bernapas bahkan saat istirahat, gelisah, penurunan kesadaran, nyeri dada berat • Kuning: Kondisi pertengahan, harus ke dokter, namun tidak harus saat itu juga, kriterianya: mudah lelah/ sesak saat beraktivitas, adanya pembengkakan dikaki, perut, berat badan naik 2 kg dala 1 minggu, lemas, tidak napsu makan • Hijau: kondisi yang paling stabil pada pasien gagal jantung, dapat beraktivitas sehari- hari tanpa adanya keluhan, berat badan stabil, tidak adanya nyeri dada/ batuk, dapat tidur dengan 1 bantal. 3

Diagnosa awal penyakit gagal jantung: • Pemeriksaan darah: untuk melihat fungsi ginjal, hati dan kelenjar tiroid, karena gagal jantung ini juga terkait dengan berbagai kelainan organ tubuh lainy • Elektrokardiogram (EKG), untuk melihat adanya kelainan pada aktivitas listrik jantung • Ekokardiogram: USG untuk menilai fungsi pompa jantung, fungsi katup dan tekanan-tekanan ruang jantung • Pemeriksaan penunjang lainya: • Kateterisasi jantung: untuk menilai kondisi pembuluh darah koroner • MRI: untuk menilai proses inflamasi, menilai fungsi otot jantung lebih detai Penyakit gagal jantung apakah bisa disembuhkan? Tepatnya bukan sembuh, tapi terkontrol, karena jika sudah mengalami gagal jantung, penanganan yang bisa dilakukan hanyalah untuk mengurangi beban kerja jantung dan membantu penderitanya untuk melakukan aktivitas sehari-hari, sulit untuk mengembalikan fungsi jantung kembali normal, kecuali keadaan tertentu, terutama untuk gagal jantung akut/ppcm, infeksi/ myocarditis, deteksi dini dan tatalaksana cepat diharapkan bisa mengembalikan fungsi jantung. Penanganan dan pengobatan; sesuai dari dokter, acei/arb, BB, mra. Selain obat-obatan jangan lupa yang harus diperhatikan adalah asupan cairan dan asupan garam, aktivitas fisik serta rutin berolahraga. Pencegahan penyakit gagal jantung: Mengkonsumsi makanan sehat yang cukup mengandung zat besi, serta enghindari asupan garam yang berlebihan, menjaga berat badan, berhenti merokok, membatasi konsumsi minuman keras, berolahraga secara teratur dan menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah pada batas normal. Waspada Penyakit-Penyakit Yang Mengintai Pecandu Narkoba dr. Mayandra Mahendrasti Bahaya narkoba bukan hanya pada perilaku dan kondisi psikis penggunanya saja, ternyata narkoba juga bisa membahayakan kesehatan tubuh secara umum, karena beresiko menimbulkan penyakit- penyakit mematikan pada si pecandu. Narkoba (Nakotika dan Obat-obatan) sering juga disebut NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya). Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau dibuat secara sintesis dan dapat berefek menurunkan kesadaran, mengurangi nyeri, dan menyebabkan ketergantungan. Narkotika (heroin, morfin, kodein, ganja) memiliki tiga golongan berdasarkan tingkat ketergantungannya, di mana golongan dua dan tiga dapat dipakai sebagai terapi medis oleh dokter. Psikotropika (ekstasi, amfetamin, benzodiazepin) adalah zat atau obat dari bahan alami atau sintetis yang berefek memberikan pengaruh selektif pada system saraf pusat, menyebabkan perubahan perilaku dan aktifitas penggunanya. Beberapa jenis psikotropika juga dipakai dalam pengobatan medis, khususnya pada gangguan psikis. Zat adiktif lainnya merupakan zat yang dapat menyebabkan ketergantungan selain narkotika dan psikotropika, contohnya seperti alkohol dan nikotin pada rokok. (rs.unud.ac.id). Ciri-ciri orang yang merupakan seorang pecandu narkoba dapat terlihat tergantung dari jenis narkoba yang dikonsumsi; apakah narkoba tersebut memiliki efek depresan, stimulan, atau halusinogen. Kita juga bisa menandai seorang pecandu narkoba berdasarkan penyakit-penyakit yang muncul di tubuhnya. Penyakit-penyakit yang dapat ditemui pada pecandu narkoba: 1. Penyakit akibat dari zat atau senyawa yang dikonsumsi : Narkoba/NAPZA dapat mengubah neurotransmiter/zat kimia yang ada di otak, yang akan mengganggu fungsi kognitif, fungsi afek dan emosi, dan perilaku; akibatnya seorang pecandu narkoba dapat mengalami penurunan performa kerja dan belajar, memiliki perubahan mood/emosi yang tidak stabil, dan cenderung mengisolasi diri sendiri dari lingkungan. Selain itu, narkoba/NAPZA juga membuat penggunanya lama kelamaan menjadi ‘kebal’ atau toleran terhadap dosis yang sudah digunakan, sehingga dosis yang dikonsumsi harus terus ditambah dan akhirnya menyebabkan overdosis, yaitu kondisi dimana kadar zat yang dikonsumsi melebihi ambang toleransi toksisitas tubuh, dan dapat menyebabkan kerusakan orang seperti ginjal dan hati, dan juga dapat menyebabkan kematian. Zat-zat adiktif lain seperti alkohol oplosan juga dapat lebih berbahaya dibandingkan minuman beralkohol yang dijual di pasaran, 4karena sering dicampur dengan bahan-bahan beracun atau kadar alkoholnya terlalu tinggi. (Lasser, Ben)Waspada Penyakit- Penyakit Yang Mengintai Pecandu Narkoba

2. Penyakit yang dapat muncul akibat rute masuknya narkoba/NAPZA ke dalam tubuh: a. Narkoba/NAPZA yang dikonsumsi melalui jarum suntik merupakan cara yang paling berbahaya, karena obatnya langsung masuk ke pembuluh darah dan dalam diserap sempurna dalam waktu 15-30 detik. Hal ini berdampak efek toksisitas NAPZA yang dikonsumsi akan lebih tinggi, dan lebih gampang terjadinya overdosis. Jarum suntik yang tidak steril juga dapat menyebabkan infeksi kulit seperti abses, atau infeksi pembuluh darah, yang kemudian bisa menjadi tanda penyuntikan (injection marks); bakteri yang masuk bersamaan dengan jarum suntik juga dapat menyebabkan endokarditis (infeksi pada katup jantung) dan infeksi pada sendi atau tulang. Penggunaan jarum suntik bekas pakai juga dapat menyebabkan penularan penyakit infeksi menular seperti HIV-AIDS, Hepatitis B, dan Hepatitis C. Infeksi hepatitis B dan C yang kronik dapat menyebabkan kanker hati dan gagal hati (sirosis hepatis), sedangkan HIV-AIDS dapat menurunkan imunitas tubuh dan menyebabkan penderita rentan pada penyakit infeksi yang lain.(Lasser, Ben) b. Narkoba/NAPZA yang dihirup (snorting) atau nasal insufflation merupakan cara tercepat ke-dua untuk masuknya zat ke tubuh kita, efeknya bisa tiga sampai 5 menit. Penyakit yang dapat disebabkan meliputi penyakit saluran pernapasan, dari mulai radang di daerah hidung, tenggorokan, dan sinusitis; dapat merusak pembuluh darah di daerah hidung dan menyebabkan mimisan. Rokok, yang di dalamnya mengandung nikotin, dikonsumsi melalui cara inhalasi, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru, kanker mulut, kanker nasofaring, memperberat gejala pada orang yang mengidap asma, dan menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), di mana penderitanya akan terus-menerus merasa sesak dan tidak bisa lepas dari selang oksigen. (Crane, Marissa) c.Narkoba/NAPZA yang dikonsumsi secara oral (dimakan/diminum) dapat menyebabkan gangguan seperti plak gigi dan plak gusi, bau mulut, mulut kering, sampai infeksi jamur pada mulut. (Hill, Alyssa) 3. Pecandu narkoba juga akan rentan mengalami masalah dan gangguan jiwa seperti depresi, anxietas, dan delirium akibat intoksikasi zat. Pecandu narkoba juga sering mengalami masalah psikososial, di mana pecandu akan cenderung mengisolasi diri atau diisolasi oleh lingkungan sekitarnya, sehingga mereka hidup sebatang kara tanpa support dari orang lain. Pecandu narkoba juga rentan untuk menjadi pelaku tindak kriminal seperti mencuri. Menjadi pecandu narkoba bukanlah akhir dari segalanya. Kecanduan terhadap narkoba merupakan hal yang dapat diterapi. Langkah pertama adalah adanya niat untuk berhenti mengkonsumsi narkoba dan memiliki keyakinan bahwa kecanduan ini dapat diobati. Langkah selanjutnya adalahanmtieNmArinkotabapDearltaomlo-1n-gea1n59p8r2o3f7e4s3i2o5n8a3.lw, seebpperti dokter spesialis kejiwaan atau terapis ahli masalah adiksi. Di beberapa kota besar sudah bisa ditemukan panti rehabilitasi. Penghentian penggunaan narkoba, apalagi jika dosis yang biasa digunakan sudah tinggi, bisa berakibat fatal jika dilakukan secara tiba-tiba. Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat juga sangatlah penting. Keluarga dari pecandu narkoba juga dapat memperoleh bantuan dari terapi dan support group. Jika Anda harus mengkonsumsi obat-obatan yang termasuk dalam NAPZA karena indikasi medis, sebaiknya penggunaan obat tersebut harus dipantau ketat oleh dokter dan gunakan obat-obatan tersebut sesuai instruksi dokter. Pencegahan merupakan cara yang terbaik agar tidak terjerumus bahaya narkoba dan penyakit-penyakit yang menyertainya. Hindari dan jauhi penggunaan narkoba/NAPZA terlarang apapun alasannya, karena hanya akan memberikan kepuasaan dan kesenangan yang bersifat sementara, namun dapat berujung malapetaka dan kematian pada akhirnya. 5


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook