STREOTIPE GENDER DAN PILIHAN KAREER DI KALANGAN SISWI MADRASAH ALIYAH (MA) DINIYAH PUTERI PEKANBARU RIAU Riswani Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau Hermansyah Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Abstract: This study is a descriptive research in the form of a survey of 50 female students of Madrasah Aliyah. It disclosed is whether the students know that men and women can not be distinguished by the characters and roles, career what they would choose if already left school and what form career guidance given by the counseling teacher to reduce the attitude of gender stereotypes in students career choices. The results showed students know that men and women can not be distinguished by the character and role. Then, there are students who choose a job that is considered masculine and feminine as a future career. Student knows that men and women can not be distinguished by the character and role when they received material about gender in career information services provided by counseling teacher. The researchers concluded that gender stereotypes in students career choices can be minimized through the perspective of career guidance services. Researchers suggest there should be a gender perspective in the training of career guidance in Islamic schools. Keywords: gender stereotypes, career counseling, counseling teacher. Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian deskreptif dalam bentuk survey terhadap 50 orang siswi madrasah Aliyah. Hal yang diungkapkan adalah apakah siswa mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui karakter dan peran, karir apa yang akan mereka pilih jika sudah tamat sekolah dan bagaimana bentuk bimbingan karir yang diberikan oleh Guru BK/Konselor untuk mengurangi sikap stereotip gender dalam pilihan karir siswa. Hasil penelitian menunjukkan siswa mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui karakter dan peran. Kemudian, ada siswa yang memilih pekerjaan yang dianggap maskulin dan feminin sabagai karir dimasa depan. Siswi mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui karakter dan peran ketika mereka mendapat materi tentang gender dalam layanan informasi karir yang diberikan oleh Guru BK/Konselor. Peneliti menyimpulkan bahwa streotif gender di dalam pilihan karir siswa dapat diminimalisir melalui layanan bimbingan karir yang berperspektif. Peneliti menyarankan harus ada pelatihan bimbingan karir berperspektif gender di sekolah-sekolah Islam. Kata Kunci: Stereotip Gender, Bimbingn Karir, Guru BK/Konselor PENDAHULUAN ketika membuat keputusan pilihan karir dalam hidup mereka. Hal ini didukung Hasil penelitian yang dilakukan oleh Denga yang menyebutkan bahwa oleh Bandura et al1, Cherian,2 Isaac and memilih karir yang tepat adalah salah Nwalo3, Macgregor4, McMahon dan satu keputusan yang paling sulit yang Watson5, Watson et al6 menunjukkan dialami oleh seorang remaja laki-laki bahwa banyak siswa sekolah menengah maupun perempuan. Nada yang sama atas (SMA/MA) menghadapi dilema 225
juga dikatakan oleh Kinanee yang Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... menyebutkan bahwa remaja menghadapi masalah yang paling kompleks saat masa depan penuh dengan harapan9 terlibat dalam memilih kareer yang tepat Masa remaja juga merupakan dan realistis7. masa dimana individu sudah Siswa SMA/MA secara psikologis mempersiapkan diri untuk berkarir. sedang dalam perkembangan masa Namun pada kenyataannya banyak siswa remaja, yakni masa peralihan dari masa yang belum mencapai kematangan karir kanak-kanak menuju dewasa. Menurut dengan baik. Fenomena masa anak remaja Hurlock8 masa remaja merupakan masa sekarang ini masih banyak kita melihat yang sangat berhubungan pada banyak remaja menghabiskan waktunya penentuan kehidupan di masa depan, dalam hal-hal yang tidak bermanfaat bagi karena perilaku dan aktivitas yang dirinya dan bahkan melakukan hal-hal dilakukan pada masa remaja menjadi yang bisa merusak dirinya dan masa masa awal dalam mengukir kehidupan depannya. Seharusnya, ketika sudah yang lebih baik di masa depan mereka. duduk di bangku SMA/MA, remaja Jadi, jika masa remaja mencapai sudah mampu merencanakan dan perkembangan optimal maka bisa mempersiapkan masa depannya yang dipastikan masa depan seorang remaja lebih baik apa lagi di era globalisasi akan berjalan dengan baik pula. sekarang, dimana individu dituntut untuk lebih proaktif dalam merencanakan dan Masa remaja merupakan pencarian mempersiapkan masa depannya. Jika itu identitas diri. Ia harus mampu menjawab tidak dilakukan, maka reamaja maka akan “Siapa saya? Mau ke mana saya? tergilas oleh kejamnya zaman. Maka tidak Bagaimana saya? Apa yang harus saya mengherankan jika remaja sering perbuat untuk karir masa depan saya?. mengeluhkan akan masa depannya, Sejumlah pertanyaan identitas diri mereka tidak mengetahui mau jadi apa seyogyanya dapat dijawab dengan tepat dan pekerjaan apa yang cocok baginya. oleh remaja. Jika ia tidak dapat menjawabnya dengan tepat maka ia Yusuf10 menyebutkan bahwa cenderung bingung menghadapi hidup, terdapat permasalahan karir yang dialami termasuk pengambilan keputusan karir. oleh para remaja usia SMA, diantaranya: Tetapi jika sebaliknya, maka ia akan (1) kurang mengetahui cara memilih berkembang optimal dan tepat dalam program studi; (2) kurang memiliki mengambil keputusan karirnya sehingga motivasi untuk mencari informasi tentang karir; (3) bingung dalam memilih pekerjaan; dan (4) belum memiliki pilihan 226
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 perguruan tinggi tertentu jika setelah mengambil prasangka orang tua mereka lulus. Sedangkan Supriatna11 dan anggota masyarakat lainnya. mengemukakan masalah karir yang Misalnya, siswa yang orang tuanya dirasakan oleh siswa, antara lain sebagai mengatakan karir tertentu cocok untuk berikut: (a) siswa kurang memahami cara pria sementara yang lain hanya cocok memilih program studi yang cocok untuk wanita dapat mengadopsi sikap dengan kemampuan dan minat; (b) siswa seperti ini ke dalam diri mereka. Teori tipe tidak memiliki informasi tentang dunia kepribadian John Holland13 yang kerja yang cukup; (c) siswa masih dikembangkan pada tahun 1959 yang bingung untuk memilih pekerjaan; (d) bertumpu pada asumsi bahwa orang siswa masih kurang mampu memilih dapat dikategorikan dalam salah satu pekerjaan yang sesuai dengan jenis karir berikut: realistis, investigasif, kemampuan dan minat; (e) siswa merasa sosial, konvensional, giat dan artistik. cemas untuk mendapat pekerjaan setelah Lent, R.W.,Brown, S. D., & Hacket14 tamat sekolah; (f) siswa belum memiliki menemukan bahwa perempuan pilihan perguruan tinggi atau lanjutan cenderung memiliki skor tinggi dalam pendidikan tertentu, bila setelah tamat seni, sosial dan pekerjaan konvensional, tidak masuk dunia kerja; (g) siswa belum sedangkan pria lebih memungkinkan memiliki gambaran tentang karakteristik, untuk memilih pekerjaan yang realistis, persyaratan, kemampuan, dan investigasi dan giat. keterampilan yang dibutuhkan dalam Terlepas dari teori yang pekerjaan, serta prospek pekerjaan untuk digunakan untuk mengidentifikasi faktor- masa depan karirnya. faktor yang mempengaruhi pilihan karir, Beberapa teori pengembangan karir stereotipe gender merupakan faktor menyatakan bahwa stereotipe gender penting yang harus diteliti untuk adalah salah satu faktor yang mengurangi perbedaan dalam karir antara mempengaruhi pilihan karir. The Social laki-laki dan perempuan. Sebagaimana Cognitive Theory Karir (SCCT) yang yang diungkapkan oleh O'Reilly et al dikembangkan oleh BrownC. And M. bahwa kerjasama guru dan orang tua Corcoran12, pada tahun 1987 menjelaskan untuk mengurangi sikap dan perilaku bahwa pilihan karir dipengaruhi oleh yang mendukung perbedaan gender perkembangan keyakinan individu yang sangat dibutuhkan. diperoleh melalui proses pembelajaran. Pembahasan stereotip gender Melalui proses belajar, siswa dapat dalam pilihan karir di kalangan siswa 227
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... akan menjadi menarik ketika hal tersebut mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu berhubungan dengan sekolah/madrasah mengandalkan tenaga (fisik) melainkan khusus puteri (single sex school) karena pekerjaan yang membutuhkan beberapa pendapat cenderung ketelatenan, rasa dan halus budi. Karena mengatakan bahwa sekolah khusus puteri kontur fisik tersebut, secara psikologis, berkontribusi terhadap ketidaksetaraan perempuan ditempatkan sebagai sosok gender dalam pendidikan. Dukungan yang lebih mengedepankan rasa atau pendapat ini diperkuat oleh kenyataan emosi dalam bertindak, membutuhkan bahwa salah satu misi dari perlindungan, cenderung menghindar sekolah/madrasah khusus puteri adalah dari konfrontasi, dan serba lembut. Nilai- mempersiapkan puteri “sejati” dimana nilai di atas secara sengaja dijadikan kata “sejati” bisa diartikan sebagi sebuah konstruksi atau pola pikir mempersiapkan perempuan untuk yang dilembagakan dalam semua aspek mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kehidupan: hukum, politik, dan pranata konvensional. sosial15. Stereotip gender merupakan Sebagai sebuah konstruksi sosial, cerminan dari cara pandang masyarakat sangat sulit untuk tidak mengiyakan jika yang selalu menempatkan sebuah entitas cerminan bias gender sedemikian timpang dalah hirarki hubungan baik relasi secara dalam praktik keseharian. vertikal maupun horizontal (sintagmatik Ketidaksejajaran stereotip gender dapat dan paradigmatik). Representasi dilihat dalam perlakuan masyarakat perempuan dapat dilihat dari penempatan terhadap perempuan khususnya dalam perempuan dalam relasi sosial dengan pemilihan karir. Hal ini tercermin dalam kaum laki-laki, dimana perempuan selalu beberapa contoh. Misalnya perempuan menempati posisi subordinat laki-laki lebih emosional sehingga ia tidak cocok sebagai akibat dari budaya patriarki yang dengan bidang pekerjaan yang melingkupi masyarakat tersebut baik membutuhkan tenaga. Dalam buku ajar secara historis, kultural ataupun sosial. anak sekolah dasar masih sering dijumpai Stereotip gender dari kerangka kalimat yang secara tidak langsung historis, dapat dilihat dari tiga aspek, menunjukkan posisi dan peran yaitu biologis, psikologis, dan mitologis. perempuan di samping laki-laki. Kalimat Dari sisi biologis (fisik), perempuan secara Ibu sedang memasak di dapur dan Ayah fisik mempunyai kontur tubuh yang sedang membaca koran di halaman hanyalah membuat mereka lebih sesuai untuk sebagian kecil dari praktek streotipe 228
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 tersebut. Seakan kalimat tersebut ingin dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan tentang karirnya. Ketika mengatakan kaum laki-laki berkecimpung duduk di bangku sekolah menegah, siswa sudah harus diperluas pandangannya umtuk pekerjaan yang di depan, bahwa pengotakan karir berdasarkan streotipe gender adalah sebuah konstruksi sedangkan perempuan identik dengan budaya yang dapat ditubah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan belakang (subordinasi pendidikan dan pemahaman orientasi karir yang berspektif gender. Siswa diberi perempuan secara horisontal terhadap pemahaman bahwa kebudayaan sebuah masyarakat mempertalikan peran kepada laki-laki)16. perempuan dan laki-laki di luar fungsi biologis mereka yang telah ditetapkan, Nilai dan norma yang berlaku dan peran ini terkadang membatasi pilihan-pilihan pekerjaan dan pendidikan dalam masyarakat secara efektif seseorang.Siswa juga harus mendapat penjelasan bahwa aki-laki dan perempuan ditanamkan baik secara sadar atau tidak dapat dibedakan secara eksklusif oleh karakteristik yang berhubungan dengan oleh komunitas sekitar. Pintu masuk awal kegiatan reproduktif. Melahirkan atau menyusui adalah contoh-contoh kegiatan pemerolahan fitur yang melekat pada reproduktif yang hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan.Gender sebuah entitas berawal pada saat manusia berhubungan dengan karakteristik dan peran harus dianggap berasal dari untuk pertama kalinya berinteraksi seseorang oleh masyarakat/komunitas tertentu. Dalam masyarakat tradisional dengan komunitas sekitar terutama orang contohnya, perempuan diasosiasikan dengan kegiatan-kegiatan rumah tangga tua dan sekolah. Melalui orang tua dan seperti memasak, mengasuh anak, menyiapkan makanan, atau menyapu sekolah, anak mempelajari konsep yang rumah. Di sisi lain, laki-laki diasosiasikan dengan kegiatan kegiatan yang berkaitan bermakna positif dan negatif, yang harus 229 dianut dan tidak, dan yang disepakati oleh masyarakat sekeliling dan tidak.Pengenalan stereotip gender khususnya perempuan juga mendapatkan porsi yang sangat proporsional pada waktu anak mulai mengenal dunia sekitar melalui orang terdekat dan media pendukung lain. Stereotip yang terbangun akan demikian kuat melekat pada anak jika terjadi penguatan dan dukungan dari masyarakat sekeliling melalui nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat tersebut. Mengingat pentingnya masalah karir dalam kehidupan manusia, maka sejak dini seharusnya siswa sudah
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... dengan perlindungan keluarga dan karir yang diberikan oleh guru konseling untuk mengurangi sikap stereotip gender kebutuhan-kebutuhan ekonomi. Kegiatan- dalam pilihan karir siswa? Disamping untuk mengetahui apakah siswa kegiatan seperti bekerja untuk mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui mendapatkan uang atau membuat karakter dan peran dan karir apa yang akan mereka pilih jika sudah tamat keputusan lebih sering diasosiasikan sekolah, penelitian ini juga bertujuan untuk medeskripsikan bentuk bimbingan dengan laki-laki. Dalam dunia kerja, karir perspektif gender. Hasil penelitian Perianni dabreirGmuarnufaBaKt /Kuonntuseklorpdeanlgamembbiamnbgianngan dan konseli orang mungkin merasa dibatasi dalam bimbingan karir berperspektif gender di sekolah dan madrasah. pilihan-pilihan mereka karena peran/karakteristik gender dalam masyarakat yang yang telah ditugaskan kepada mereka. potensi, kesempatan pekerjaan dan jalur Stereotip Gender pendidikan yang bisa mereka ambil. Hal ini penting, mengingat remaja memiliki Nauly18 dalam menjelaskan streotip beberapa keterbatasan dalam pilihan mereka oleh a) gagasan yang ditanamkan gender mengutip pendapaat beberapa pakar oleh keluarga dan masyarakat akan apa yang dianggap sebagai pilihan pekerjaan antra lain (1) Wrightdmrn yang dan pendidikan yang tepat b) kenyataan ekonomi yang sangat buruk yang mendefinisikan stereotip merupakan konsep menghambat mereka dalam mengikuti pendidikan yang mereka pilih, c) kurang yang relatif kaku dan luas di mana setiap akses akan fasilitas pendidikan. Karena itu, penting bagi guru BK untuk individu di dalam suatu kelompok dicap menyadari adanya keterbatasan tersebut dan mengakui batasan keterlibatannya dengan karakter dari kelompok tersebut. (2) dalam proses pengambilan keputusan17. Jenkins dan Mc Donald sepakat bahwa Penelitian ini mengungkapkan: (1) Apakah siswa mengetahui bahwa laki- streotip peran gender merupakan generalisasi laki dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui karakter dan peran? (2) Karir apa pengharapan mengenai aktivitas, yang akan mereka pilih jika sudah tamat sekolah? (3) Bagaimana bentuk bimbingan kemampuan, atribut dan pilihan apa yang sesuai dengan jenis kelamin seseorang. (3) Hoyenga dan Hoyenga menjelaskan bahwa stereotip peran gender dihasilkan dari pengkategorisasian perempuan dan laki-laki, yang merupakan suatu representasi sosial yang ada dalam sturktur kognisi kita. Akhirnya stereotip gender digunakan untuk menggambarkan aspek aspek 230
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 tertentuk untuk perempuan serta menghambat perempuan mendapatkan sosiologis/antropologis/kultural dari ciri atau upah yang sama dalam pekerjaannya. sifat maskulin dan feminine. Namun, menurut (4) Vob Baeyer, Sherk dan Zanna stereotip Stereotip atau belief tentang gender pribadi yang dimiliki seseorang, dapat peran laki-laki dan perempuan bukanlah berbeda dari apa yang dimiliki atau merupakan prasangka. Stereotip ini bisa diterapkan oleh kebanyakan orang di jadi akurat, tidak akurat atau generalisasi budayanya. Mungkin saja ada ketidak- yang berlebihan, namun menurut Myers sesuaian antara perilaku seseorang dan peran- didasarkan atas setitik kebenaran.Studi peran stereotip yang digambarkan oleh lintas budaya tentang stereotip gender budayanya tentang gender. Pemahaman berdasar penelitian William & Best di 30 seseorang akan perbedaan ini dapat negara yang berbeda, menemukan laki- mempengaruhi bagaimana ia menampilkan laki cenderung dilihat lebih mandiri, lebih dan mengevaluasi dirinya. ekshibisionistik, lebih agresif, lebih dominan, lebih berorientasi sukses dan Selanjutnya Nauly juga mengutip lebih tekun sedangkan perempuan Baron dan Byrne bahwa stereotip gender dianggap lebih besar kebutuhannya untuk merupakan sifat-sifat yang dianggap menghargai orang lain, perasaan bersalah, benar-benar dimiliki oleh perempuan dan mendengarkan orang lain dan laki-laki, yang memisahkan ke dua berhubungan dengan lawan jenis19. gender.Dari berbagai hasil penelitian Baron dan Byrne lebih lanjut Dalam Kamus Besar Bahasa menyimpulkan bahwa memang ada Indonesiastereotip mempunyai makna (1) beberapa perbedaan perilaku sosial di bentuk tetap; bentuk klise,(2) konsepsi antara perempuan dan laki-laki, seperti mengenai sifat suatu golongan berdasar kemampuan memberi dan menerima prasangka yang subjektif dan tidak pesan-pesan nonverbal serta agresivitas, tepat20. Lips dalam Sex and Gender21 tetapi besar dan keluasan perbedaan ini menjelaskan bahwa teori stereotip gender jauh lebih kecil dari apa yang secara umum berusaha menjelaskan diungkapkan oleh stereotip. Sayangnya, perbedaan dan persamaan antara laki-laki apa yang dikatakan Baron dan Byrne dan perempuan. Adapun teori tersebut berbeda dari kenyataannya karena ada lima. Pertama, teori psikoanalisis atau kebanyakan dari stereotip tersebut tidak identifikasi (psichoanalytic/identification akurat, namun tetap memberikan efek theory) yang memfokuskan pada yang negatif, antara lain: mencegah pengembangan kepribadia (personality). perempuan mendapatkan pekerjaan- pekerjaan tertentu, mencegah promosi 231
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... Kedua, teori struktur sosial (social sesuai dengan harapan masyarakat structural theory). Teori ini berusaha mencari jawaban bagaimana hubungan tersebut. antara peran gender laki-laki dan perempuan dan stereotip di antara Dalam penelitian stereotip seks, keduanya dilihat dari struktur sosial dan kultural. Teori ketiga adalah sosiobiologi pada umumnya digunakan tiga yang berusaha menjelaskan isu-isu gender dengan mengacu pada evolusi spesies pendekatan yaitu psikodinamik, kognitif, manusia. Ketiga teori tersebut menekankan pada asal muasal jender, dan sosiokultural. Pendekatan mengapa jenis kelamin dibedakan. Sedangkan dua teori yang lain yaitu psikodinamik untuk mengkaji asal-usul pembelajaran sosial (social learning) dan pengembangan kognitif (cognitive lahirnya stereotip seks berdasar teori development) lebih memfokuskan pada bagaimana perbedaan gender muncul dan psikologi perkembangan. Sedangkan bagaiamana laki-laki dan perempuan mengadopsi kelakuan (behaving). penelitian kognitif dipergunakan untuk Kweldju sebagaimana yang mengkaji bagaimana manusia belajar dikutip oleh Oktiva Herry22 menjelaskan bahwa stereotip seks merupakan memperoleh stereotip seks sejak mulai seperangkat keyakinan yang telah terstruktur melalui penyederhanaan lahir serta bagaimana pengaruh stereotipe atribut pribadi laki-laki dan perempuan. Karena atribut ini merupakan seks tersebut berpengaruh terhadap penyederhanaan maka sering tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Atribut kemampuan kognitifnya. Sedangkan ini berupa ciri-ciri kepribadian, fisik, dan tingkah laku yang dikehendaki oleh pendekatan yang terakhir, sosiokultural, masyarakat.Karena stereotip merupakan sesuatu yang dikehendaki masyarakat, merupakan pendekatan yang biasa sedangkan masyarakat selalu berubah, maka stereotip pun bersifat dinamis dipergunakan dalam studi stereotip seks dalam bahasa. Stereotip terbentuk dari beberapa aspek yaitu sejarah, asal kelas dan kultur sebagaimana yang dikutip oleh Oktiva Hary dari Wijaya23. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan mempunyai ketergantungan terhadap laki-laki karena perempuan secara kontekstual ditempatkan pada karakteristik yang khas perempuan, seperti suka perlindungan laki-laki, rasa ketergantungan yang besar terhadap pihak lain, khususnya laki-laki. Perempuan yang berasal dari kelas sosial tertentu akan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dari karakteristik perempuan kelas sosial yang berbeda. Hal 232
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 Banyak dari penemuan-penemuan teoritis maupun praktis mengenai stereotip, ini merupakan latar belakang stereotip diperoleh dari kenyataan bahwa perempuan dari aspek asal kelas. Kultur kebanyakan dari kelompok yang menjadi laki-laki yang dominan di satu pihak, dan target stereotip negatif tertentu, juga perempauan di pihak tersubordinasi akan menjadi target prasangka dan perilaku membentuk stereotip perempuan yang diskriminasi, yang berkaitan dengan bersifat subordinat terhadap laki-laki. stereotip itu. Dapat dikatakan pada kasus- kasus seperti ini, stereotip negatif Adapun stereotip perempuan diekspresikan melalui prasangka dan yang bersifat positif diantaranya adalah perilaku diskriminasi24. Prasangka tidak suka menggunakan kata-kata kotor, terhadap kelompok ras tertentu disebut suka berbicara, berbicara pelan, mudah sebagai rasisme, sedangkan prasangka mengekspresikan perasaan dan lain-lain. terhadap jenis kelamin tertentu disebut Sedangkan stereotip perempuan yang seksisme. bersifat negatif adalah tergantung, tidak agresif, sangat emosional, sangat mudah Faktor Penguat Stereotip Gender dipengaruhi, berbelit-belit, tidak ambisius, tidak bebas berbicara seks dengan laki- Oktiva Herry25 menjelaskan laki, dan sebagainya. Namun, apabila stereotip perempuan yang bersifat positif bahwa konstruksi sosial yang terbangun dan negatif diperbandingkan, maka lebih banyak stereotip yang bersifat negatif. dalam masyarakat merupakan konstruksi Teori-teori tentang stereotip ini yang diwariskan pada generasi telah mengalami perubahan selama 20 tahunterakhir. Bila tadinya stereotip selanjutnya melalui mekanisme dianggap suatu bentuk patologi, kini dianggap sebagai konsekuensi inheren pemberian stimulan dan penguatan dari kecenderungan manusia untuk mengelompokkan sesuatu, melalui proses (reinforcement). Penguatan ini dilakukan kategorisasi. Stereotip ini meringkas dan mengorganisasikan apa yang telah dalam dua cara, yaitu langsung dan tidak dipelajari seseorang tentang kelompok- kelompok social. langsung. Penguatan dilakukan secara Streotip dapat bermuatan positif, sengaja jika secara sadar lingkungan negatif atau netral. Stereotip yang negatif dapat berubah menjadi prasangka. sekitar menanamkan strereotip gender tertentu pada anak. Dari hasil wawancara dan pengamatan, mekanisme penguatan ini dilakukan oleh orang di rumah, luar rumah, dan sekolah. Penguatan di rumah biasanya 233
dilakukan oleh anggota keluarga, seperti Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... ayah dan ibu, kakak atau adik, kakek dan nenek, dan saudara. Penguatan ini dua jenis kelamin ini. Anak laki-laki biasanya dilakukan dengan cara cenderung melakukan kegiatan yang pemberitahuan pada hal yang tepat bersifat outdoor, seperti bermain sepak terhadap perilaku tertentu. Misalnya, bola, layang-layang, mencari ikan, main seorang anak laki-laki, ditegur oleh kelereng, dan mereka sangat tidak suka ibunya karena tidak mau membantu jika harus bermain jenis permainan indoor, membetulkan sepeda kakaknya yang seperti bermain masak-masakan, sekolah- perempuan dengan mengatakan bahwa sekolahan, permainan yang dimainkan dia harus membetulkan sepeda itu karena anak perempuan adalah permainan khas dia laki-laki di rumah itu. Sebaliknya, anak-anak perempuan. Kadang terjadi anak perempuan pernah ditegur oleh anak perempuan menyuruh anak laki-laki ibunya untuk tidak memanjat pohon untuk tidak ikut dalam permainan mereka mangga yang ada di rumah tetangga, dengan menyebutkan kategori permainan karena memanjat pohon tidak baik untuk tersebut.Penguatan ini berlanjut pada dilakukan oleh kaum perempuan. anak usia remaja ketika akan memilih ekstrakurikuler, dan pada akhirnya ketika Penguatan sejenis juga terjadi di mereka akan memilih karir yang akan luar lingkungan keluarga. Teman mereka jadikan sebagai pekerjaan. sepermainan relatif dominan dalam proses penguatan ini. Teman-teman Media masa, terutama televisi, permainan baik di sekolah ataupun di juga ikut mempengaruhi konsep anak rumah sering kali memberikan terhadap pemilahan dunia laki-laki dan pernyataan yang secara tidak langsung perempuan. Tayangan iklan dalam membedakan beberapa kegiatan yang televisi, sebenarnya, dapat dikategorikan dapat dilakukan oleh seorang laki-laki ke dalam tiga kelompok besar, yaitu iklan dan perempuan. Mereka dengan yang mempertontonkan kegiatan yang sendirinya sudah memilah-milah kegiatan biasa dilakukan kaum perempuan, tersebut sesuai dengan konstruksi atau kegiatan yang biasa dilakukan oleh laki- konsep dari keluarga masing-masing. Bisa laki dan iklan yang berlaku untuk semua dipastikan semua anak mempunyai jenis kelamin. Produk rumah tangga atau konstruksi sosial yang sama. Jenis domestik seperti iklan sabun pewangi, permainan yang dikerjakan, misalnya, susu untuk ibu yang hamil dan beberapa sudah menunjukkan adanya pemilahan jenis ilkan lain mempertontonkan pada anak-anak adanya wilyah tertentu yang hanya bisa dan boleh dilakukan oleh 234
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 menyebutkan karir suatu suatu rangkaian kaum perempuan. Aspek visual yang pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan, dan ditampilkan juga sangat mendorong anak untuk berpikiran bahwa iklan itu hanya kedudukan yang mengarah pada ditujukan untuk kaum perempuan karena figur yang muncul dalam iklan tersebut kehidupan dalam dunia kerja26. Karir biasanya hanya kaum Ibu dan anak perempuannya. Di sudut lain, misalnya adalah semua pekerjaan atau jabatan yang dalam iklan susu Milo, anak laki-laki dengan jenis permainan sepak bola sangat ditangani atau dipegang selama memberi kesan iklan itu adalah untuk laki-laki, apalagi ditopang visual di mana kehidupan kerja seseorang27. Menurut sang Ibu mendukung sepenuhnya kegiatan tersebut dan ditempatkan pada Gibson dkk, karir adalah rangkaian sikap posisi sebagai orang yang harus menyediakan dan mempersiapkan susu dan perilaku yang berkaitan dengan pada anak laki-lakinya. Di sini, pemilahan Ibu sebagai orang yang bertanggung pengalaman dan aktivitas kerja selama jawab dalam penyediaan domestik untuk anaknya, dan anak laki-laki yang mesti rentang waktu kehidupan seseorang dan dilayani oleh Ibu yang merepresentasikan kaum perempuan berada pada penyedia rangkaian aktivitas kerja yang terus dan pelayan yang baik nampak jelas terlihat. Dampak yang dihasilkan adalah berkelanjutan28. persepsi anak pada dunia tertentu yang masuk tiga kategori di atas semakin Menurut Gould29 karir diasah dan semakin tajam. Internalisasi yang demikian ini sangat sering ditami merupakan urutan posisi yang terkait oleh-anak-anak mengingat media, baik cetak maupun tertulis, sangat akrab dengan pekerjaan yang diduduki dengan mereka. seseorang sepanjang hidupnya. Karir Karir adalah sebagai pola pengalaman Super dalam Dewa Ketut Sukardi berdasarkan pekerjaan (work-related experiences) yang merentang sepanjang perjalanan pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan secara luas dapat dirinci ke dalam obyective even. Greenhaus30 menyebutkan terdapat dua pendekatan untuk memahami makna karir, yaitu : pendekatan pertama memandang karir sebagai pemilikan (a property) dan/atau dari occupation atau organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir sebagai jalur mobilitas di dalam organisasi yang tunggal seperti jalur karir di dalam fungsi marketing, yaitu menjadi sales representative, manajer produk, 235
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... manajer marketing distrik, manajer memahami hakekat karir, karir dapat marketing regional, dan wakil presiden divisional marketing dengan berbagai ditinjau dari teori-teori perkembangan macam tugas dan fungsi pada setiap jabatan. Pendekatan kedua memandang karir yang dikemukakan oleh para ahli, karir sebagai suatu properti atau kualitas individual dan bukan occupation atau diantaranya Gibson dan Mitchell yang organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir merupakan perubahan- membagi kepada lima teori perubahan nilai, sikap, dan motivasi yang terjadi pada setiap individu/pegawai. perkembangan karir, yaitu : (1) teori Berdasarkan kedua pendekatan tersebut definisi karir adalah sebagai pola proses, (2) teori perkembangan, (3) teori pengalaman berdasarkan pekerjaan (work- related experiences) yang merentang kepribadian, (4) teori sosiologi, (5) teori sepanjang perjalanan pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan ekonomi, dan (6) teori lain. Selanjutnya secara luas dapat dirinci ke dalam obyective events. Salah satu contoh untuk Sunardi menjelaskan teori-teori tersebut menjelaskannya melalui serangkaian posisi jabatan/pekerjaan, tugas atau sebagai berikut: kegiatan pekerjaan, dan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan (workrelated Teori Proses decisions). Teori proses menyebutkan, Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karir adalah pilihan pekerjaan dan akhirnya masuk suatu status atau jenjang pekerjaan atau jabatan seseorang sebagai sumber nafkah dalam suatu pekerjaan tertentu sesuai apakah itu sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sambilan. pilihan adalah proses yang berisi tahapan- Teori-Teori Perkembangan Karir tahapan tertentu yang akan dilalui oleh Menurut Sunardi31 untuk lebih setiap individu. Salah satu tokoh teori proses adalah Ginzberg. Menurut Ginzberg, perkembangan karir terikat pada tiga eleman dasar, yaitu proses, iveribilitas, dan kompromi. Ditinjau dari elemen proses, pengambilan keputusan karir berlangsung melalui tiga periode, yaitu fantasi, tentatif, dan realistik. Pada periode fantasi pemilihan pekerjaan dilakukan tanpa memperhitungkan tuntutan realitas, asal-asalan. Periode tentatif terdiri fase: minat, kapasitas, nilai, dan transisi. Artinya pertama berdasar pada minat/kesukaannya, kemudian mulai mempertimbangkan kemampuannya, diikuti dengan 236
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 kehidupan dan berlangsung secara terus didasarkan tujuan dan nilai yang menerus secara kontinum sampai akhir mendasari, dan terakhir dilakukan dengan memperhitungkan realitas. hayatnya. Salah satu tokoh teori Sedangkan periode realistik terbagi atas fase eksplorasi, kristalisasi, dan perkembangan adalah Donald E. Super. spesifikasi. Artinya, setelah anak melakukan eksplorasi dan dengan Menurutnya, bekerja merupakan memadukan faktor-faktor internal dan eksternal, selanjutnya anak memasuki fase perwujudan konsep diri yang kristaliasi dengan mengambil keputusan, dan selanjutnya mengambil keputusan berlangsung sepanjang hayat, dimulai yang lebih spesifik. Berdasar teori ini maka semakin dewasa, proses pemilihan sejak awal kehidupan sampai akhir pekerjaan semakin meningkat ke arah yang lebih realistik. Sedangkan elemen kehidupan. Dalam kaitannya dengan iversibilitas merujuk pada pernyataan bahwa pilihan pekerjaan itu tidak dapat kerja, konsep diri tersebut berkembang diubah, dibatalkan, atau dibalikkan. Sedang elemen kompromi menyatakan melalui beberapa tahapan yang masing- bahwa pilihan pekerjaan merupakan kompromi dari faktor-faktor yang ada, masing tahap dituntut mampu menguasi antara kepentingan subyek dengan kepentingan nilai. tugas-tugas yang secara meningkat semakin sulit. Tahapan-tahapan tersebut adalah: (1) pertumbuhan (growth), tahap pembentukan konsep diri melalui identifikasi, (2) eksplorasi (exploration), tahap pembentukan konsep diri melalui kontak dengan orang lain dan lingkungannya, (3) Pemantapan (establisment), tahap penemuan konsep diri kerja secara mantap, sehingga tidak mungkin pindah tetapi justru ingin mengembangkannya, (4) Pembinaan (maintenance), pada tahap ini biasanya Teori Perkembangan sudah mencapai sukses, dan mulai memikirkan pensiun, dan (5) penurunan Teori ini memandang bahwa (decline), yaitu tahap pengurangan perencanaan karir merupakan kegiatan. perkembangan karir pada seseorang Pengaruh konsep diri terhadap sebagai aspek perkembangan totalitas pilihan pekerjaan, juga mengandung tiga pribadi. Sebagaimana aspek elemen dasar, yaitu (1) formasi, yaitu perkembangan yang lain, perkembangan pembentukan konsep diri yang jabatan berlangsung mulai sejak awal didalamnya terdapat eksplorasi, 237
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... deferensiasi diri, dan identifikasi diri, (2) perkembangannya, dan (3) interaksi translasi, yaitu penerjemahan konsep diri pribadi dan lingkungannya. Pilihan terhadap kerja berdasar tilikan diri dan pekerjaan merupakan perluasan arah jabatan, dan (3) implementasi, yaitu kepribadian dan merupakan usaha untuk penerapan konsep diri terhadap pekerjaan mengungkapkan diri dalam lingkungan melalui latihan. Jadi menurut Super, kerja. Pilihan pekerjaan sendiri pada pilihan kerja merupakan fungsi tahap hakekatnya merupakan hasil interaksi perkembangan yang berlangsung dalam antara diri dengan kekuatan-kekuatan rangka melaksanakan tugas-tugas lingkungan. perkembangan. Secara hirarkis tugas- Menurut Holland, pekerjaan di tugas perkembangan tersebut adalah masyarakat dapat dogolongkan menjadi preferensi pekerjaan, spefifikasi lingkungan realistik, intelektual, sosial, preferensi, implementasi, preferensi, dan konvensional. Sedangkan stabilisasi, dan konsolidasi. Untuk kepribadian terbagi dalam enam mendukung teorinya, selanjutnya Super golongan, yaitu intelektual, realistik, mengajukan dua belas proposisi yang sosial, konvensional, enterpise, dan berkaitan dengan pekerjaan yang artistik. Sementara aspek lingkungan berlangsung sepanjang hayat. dikuasai oleh pribadi terentu dan dicirikan berdasarkan orang-orang yang Teori Kepribadian ada di dalamnya. Lingkungan sekaligus menggambarkan orang-orang yang ada Dalam teori ini memandang didalamnya.Berdasarkan hal tersebut, bahwa pilihan jabatan/pekerjaan merupakan ekspresi dari kepribadian. orang cenderung mencari lingkungan Dinyatakan bahwa perilaku mencari pekerjaan hakekatnya adalah upaya yang memungkinkan ia dapat mencocokkan antara karakteristik individu dengan lapangan pekerjaan mewujudkan dirinya sesuai dengan khusus. kepribadiannya, kepribadian juga Salah satu tokoh dalam teori ini adalah Holland. Dalam teorinya, Holland sekaligus menggambarkan bagaimana berusaha menjelaskan pilihan kerja berdasarkan pada tiga sudut pandang, orang menyalurkan pilihan-pilihan yaitu: (1) lingkungan kerja, (2) pribadi dan pekerjaannya. Karena itu tingkah laku orang ditentukan oleh interaksi antara kepribadian dan lingkungan. Tokoh lain yang termasuk dalam teori ini adalah A. Roe. Teori A Roe dikembangkan atas dasar teori 238
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 kepribadian, dengan menempatkan faktor persyaratan-persyaratan dunia pekerjaan. Pencocokan ini tidak hanya berdasar pada kebutuhan sebagai faktor penentu atas semata-mata kemampuan, bakat dan minat (trait) seperti yang diungkap dari pilihan kerja. Orang memilih pekerjaan tes, tetapi juga harus mempertimbangkan kompleksitas nilai-nilai yang telah tertentu kalau pekerjaan tersebut dapat diinternalisasikan dalam dirinya. Pencocokan tersebut berangkat dari memberikan memuaskan kebutuhannya. asumsi bahwa ciri psikologis tertentu memiliki kecocokan dengan jenis Menurut A. Roe, sekalipun keputusan dan pekerjaan tertentu. pilihan jabatan ditentukan sesudah masa dewasa, tetapi sangat ditentukan oleh pengalamannya pada masa kecil dalam keluarga, terutama pola asuh dan iklim yang berkembang dalam keluarga. Dikatakan bahwa pengalaman masa kecil akan menghasilkan dua orientasi pilihan Teori Sosiologi pekerjaan, yaitu yang berkaitan dengan orang (misal jasa) dan bukan orang (misal Menurut Osipow teori ini secara teknik). Ada kecenderungan anak pola fundamental didasarkan kepada asuh yang memberikan kepuasan pemikiran bahwa elemen-elemen di luar psikologis akan menentukan pilihan individu memiliki pengaruh kuat pekerjaan yang berkaitan dengan orang, terhadap individu dalam sepanjang dan sebaliknya. hidupnya, termasuk pendidikan dan Disamping Holland dan A. Roe, keputusaan pekerjaan. Para pendukung termasuk tokoh dalam teori ini adalah teori ini juga berpandangan bahwa derajat Williamson. Dalam pandangan kebebasan individu dalam pilihan Williamson, setiap orang mempunyai pekerjaan/jabatan adalah jauh dari apa susunan sifat atau ciri psikologis pribadi yang semula diasumsikan dan harapan (trait) yang khas yang hampir tidak diri seseorang tidaklah bebas dari harapan mengalami perubahan, terutama sesudah masyarakatnya. Sebaliknya, masyarakat masa remaja dan dapat diprofilkan atau menyajikan peluang pekerjaan /jabatan dipetakan terutama berdasar tes, dalam suatu pola-pola yang berhubungan demikian juga dengan dunia kerja. dengan keanggotaan kelas sosial. Berdasar ini maka tugas konselor adalah Berkaitan dengan kelas social dan membantu membuat keputusan tentang perkembangan karir, Lipsett menyatakan pilihan pekerjaan dengan cara bahwa keanggotaan kelas social mencocokkan antara trait siswa dengan berpengaruh terhadap pilihhan karir 239
tertentu ketika ia mencapai usia remaja. Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... Sejalan dengan itu Sewell dan Shah juga dalam pilihan karir adalah : “Apa jenis pekerjaan yang dapat saya peroleh?”. menyatakan bahwa walaupun tahapan Pilihan karir terutama berdasar kepada pertimbangan apakah pekerjaan tersebut dalam pengambilan keputusan dapat memenuhi kebutuhan dasar diri sendiri dan keluarganya, keamanan pendidikan – karir secara mendasar tidak pekerjaan, keuntungan (khususnya asuransi kesehatan serta rencana pensiun) berbeda dari kelas ke kelas, namun waktu atau factor-faktor yang dianggap paling menguntungkan dan paling bernilai pada dan pilihannya tampaknya berbeda. Pada individu tersebut (tidak selalu dalam bentuk uang). remaja dari kelas social yang lebih rendah, Teori lain disamping pengambilan keputusan Termasuk dalam teori lain ini dilakukan pada usia yang lebih muda, adalah teori belajar social. Teori ini bermaksud menjawab pertanyaan pilihan karirnya juga berbeda, mengapa seseorang memasuki lapangan pekerjaan tertentu dan mengapa orang dibandingkan dengan kelas social yang memperlihatkan preferensi kerja tertentu. Salah satu tokoh dalam teori ini adalah lebih tinggi. Krumboltz yang mengembangkan teori karirnya berdasar atas teori belajar sosial Sedangkan menurut Gibson dan dari Bandura dan dikenal sebagai teori pengambilan keputusan. Menurutnya Mitchell bahwa pilihan karir lebih pribadi dan lingkungan merupakan faktor penting bagi penentuan keputusan karir berhubungan dengan kesempatan dari seseorang. Pengambilan keputusan karir juga tidak berlangsung secara kebetulan, pada sesuatu yang sengaja direncanakan. tetapi ditentukan pandangan dirinya sebagai hasil interaksi antara diri dan Kesempatan tersebut salah satunya lingkungan tersebut, melalui pengalaman, respon-respon kognitif dan perasaan, dipengaruhi oleh kelas social, disamping 240 factor-faktor lain seperti budaya, kondisi- kondisi yang dibawa sejak lahir atau muncul kemudian, kesempatan pendidikan, dan observasi terhadap model. Teori Ekonomi Menurut Gibson dan Mitchell teori ini menekankan pentingnya factor- faktor ekonomi dalam pilihan karir. Hal ini terutama terkait dengan tersedianya beberapa tipe pekerjaan versus tersedianya pekerja-pekerja yang qualified untuk pekerjaan tersebut. Faktor utama
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 keberhasilan dalam melaksanakan tugas- serta keterampilan dalam membuat tugas tertentu sesuai dengan tahapan keputusan. perkembangannya; (2) memahami Menurut Munandir faktor pribadi berkenaan dengan apa yang kebutuhan dasar manusia, termasuk sudah ada pada diri seseorang, seperti jenis kelamin, rupa, atau tampakan fisik kebutuhan khususnya dan hubungannya dan kemampuan-kemampuan yang mengandung unsur bawaan. Sedangkan dengan perkembangan karir dan termasuk dalam pengertian lingkungan, seperti lingkungan kerja, pasar kerja, pengambilan keputusan; (3) dapat syarat kerja, pengaturan dan undang- undang kerja, serta hal-hal lain di dalam melakukan assesmen dan masyarakat yang berpengaruh terhadap kehidupan kerja. menginterpretasikan sifat-sifat individual dan karakteristiknya, serta menerapkannya dalam relasi konseling yang bervariasi; (4) memahami dan mampu membantu klien dalam memahami bahwa faktor-faktor perubahan atau faktor-faktor yang tak Implikasi Teori terhadap Bimbingan dan terduga dapat mengubah perencanaan Konseling Karir karir; (5) memahami perubahan cepat yang terjadi dalam dunia kerja dan Menurut Sunardi32 pada kehidupan,sehingga memerlukan dasarnya teori perkembangan karir pengujian secara tetap serta perlunya tertentu berimplikasi pada tuntutan yang penggunaan teori dan riset-riset mutahir tertentu pula terhadap bagaimana dan sebagai dasar pelaksanaan konseling. apa yang harus dilakukan oleh konselor Selanjutnya, Sunardi menjelaskan dalam proses konseling karir. Secara lagi bahwa peran apa yang dapat umum, implikasi teori karir terhadap dilakukan pembimbing atau konselor bimbingan dan konseling karir dijelaskan karir sangat tergantung pada fokus Sunardi dengan mengutip pendapat bimbingan/konseling karir yang Gibson dan Mitchell dimana mereka dihadapinya. Secara garis besar peran menjelaskan beberapa implikasi teori karir tersebut adalah : (1) membantu membuat terhadap konseling karir, yaitu keputusan-keputusan karir dengan jalan pentingnya konselor untuk: (1) memberikan informasi yang diperlukan; memahami proses dan karakteristik (2) membantu membuat keputusan karir perkembangan manusia termasuk dengan jalan mengembangkan kesiapannya untuk belajar dan keterampilan membuat keputusan,; (3) 241
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... membantu membuat beberapa keputusan terhadap dunia pekerjaan yang terus karir (bukan satu) yang saling berkaitan, berubah dan berkembang secara cepat, dan (4) membantu memahami dan sehingga mampu mengambil keputusan mengembangkan sifat-sifat yang dimiliki yang tepat sesuai dengan keadaan diri untuk mencapai keputusan karir yang maupun tuntutan masyarakat. Infromasi telah dibuatnya. Dalam point ke empat jabatan yang diberikan seharusnya inilah pembimbing/konselor dapat menyangkut informasi yang bersifat memasukkan persepktif gender dalam kuantitatif maupun kualitatif secar utuh, pemilhan karir. dan agar betul-betul dapat digunakan Sejalan dengan peran sebagai dasar pengambilan keputusan pembimbing atau konselor di atas, maka karir. Untuk itu, informasi tersebut harus dalam konteks bimbingan dan konseling akurat, cermat, baru, luas, dan karir di sekolah, Sunardi menyarankan komprehensif dengan program bimbingan dan konseling karir mempertimbangkan ketersediaannya, seyogyanya menekankan pada: bebas prasangka, serta bersumber pada Pertama, kemampuan memahami yang berwenang. Misalnya dari Depnaker dan menerima diri terhadap dengan Klasifikasi Jabatan Indonesia yang kemampuan, bakat, minat, serta telah dikeluarkannya atau berdasar kemampuan dalam memahami dan Kamus Jabatan Nasional. Pemberian menyesuaikan diri dengan dunia kerja. informasi karir tersebut harus menjadi Untuk kepentingan ini diperlukan bagian terpadu dari bimbingan atau pengumpalan data dan keterangan diri konseling yang dilakukan menuju melalui layanan inventarisasi pribadi pengambilan keputusan karir, dan dengan berbagai teknik dan cara, baik dihindari kesan mengarahkan. Dengan melalui tes maupun nontes. demikian, siswa atau klien merasa Kedua, Tersedianya keragaman dilibatkan secara penuh, baik pikiran, dan keluasan informasi karir yang sejalan perasaan, maupun dalam memberikan dengan kemampuan, bakat, dan minat makna terhadap pekerjaan yang sengaja anak, persyaratan-persyaratan minimal dipilihnya, sehingga dapat lebih yang harus dipenuhi, tuntutan aktivitas bertanggungjawab atas keputusannya. suatu jabatan, dan nilai-nilai dari jabatan Ketiga, kemampuan anak secara tersebut. Keluasan informasi yang dini untuk sedini mungkin merencanakan diberikan melalui layanan informasi karir dan mempersiapkan diri dan terutama diperlukan untuk pemahaman memperjuangkannya secara sungguh- 242
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 dengan program pemberikan kesempatan perkembangan karir menuju tercapainya sungguh dan konsisten. Setelah anak putusan karir secara tepat, yaitu (1) siswa mengambil keputusan karir, maka saat itu harus diberi kesempatan untuk juga sudah harus mempersiapkan diri mengembangkan suatu yang tidak bias secara matang upaya-upaya untuk berdasarklan putusan karirnya; (2) sejak mencapainya. Berkaitan dengan ini, maka awal dan seterusnya, perlu dikembangkan pembuatan rencana kehidupan jangka sikap positif terhadap pendidikan; (3) pendek dan jangka panjang sangat siswa harus diajar untuk memandang diperlukan, terutama berkaitan dengan karir sebagai suatu jalan hidup dan bagaimana memperjuangkannya dan pendidikan sebagai persiapan untuk melalui jalur mana yang harus ditempuh, hidup4 (4) siswa harus dibantu untuk serta persiapan-persiapan diri apa yang menghubungkan antara perkembangan harus dikuasai. sosial pribadi dengan perencanaan karir; (5) semua tingkatan siswa harus diberi Keempat, kemampuan untuk pemahaman tentang hubungan antara merasa aman, puas, dan bahagia dengan pendidikan dan karir; (6) siswa dalam pilihan dan keputusan karir yang telah setiap jenjang pendidikannya harus ditetapkannya. Untuk itu, keputusan mengalami orientasi karir yang sesuai pilihan karir harus terus dimantapkan, dengan tingkat kesiapannya dan realistis; dibantu dalam memperjuangkannya,dan (g) siswa diberi kesempatan untuk terus dievaluasi kemajuannya. menguji konsep, keetrampilan, dan peran untuk mengembangkan nilai yang Untuk menunjang keberhasilan digunakan untuk menentukan karir masa pelaksanaan program bimbingan karir, depannya; (h) program bimbigan karir menurut Munandir, 1996 dalam (Sunardi dipusatkan di kelas, melalui koordinasi ) beberapa program kegiatan yang perlu dan konsultasi dengan konselor sekolah, dilakukan sekolah adalah adalah: (1) orang tua, sumber, dan masyarakat; (7) inventarisasi pribadi, melalui kegiatan program bimbingan/konseling karir di assesmen, (2) pemahaman dunia kerja, sekolah harus diintegrasikan dalam fungsi melalui layanan informasi karir, (3) bimbingan dan konseling dan program orientasi dunia kerja, melalui orientasi ke pendidikan secara utuh. lapangan, (4) konseling dan pengambilan keputusan karir, dan (4) penempatan, dan Secara teknis, pelaksanaan (6) tindak lanjut. (Munandir, 1996). bimbingan karir dapat dilakukan melalui Sementara itu, Gibson dan Mitchell Dalam (sunardi )megajukan beberapa prinsip 243 dalam bimbingan karir yang berkaitan
berbagai cara, mulai dari mengarang, Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... wawancara imajinatif dengan tokoh yang mampu membantu siswa untuk terus meluaskan ilmu pengetahuan atau dikagumi, sampai pada penggunaan wawasan dan kesadaran akan dunia kerja. Termasuk pengembangan pemahaman komputer. Berkaitan dengan pemanfaatan hubungan antara nilai, gaya hidup, dan karir; (4)eksplorasi karir (career komputer Gibson dan Mitchell maupun exploration). Agar eksplorasi karir dapat berjalan ke arah yang lebih sistematis, Milgram dalam Sunardi mencatat bahwa maka diperlukan perencanaan dan analisis karir sesuai dengan minatnya. Bila penggunaan komputer ternyata dilakukan melalui studi banding, pengetesan realita, dan sebagainya; memberikan sumbangan yang signifikan (5)perencanaan karir dan pembuatan keputusan (career planing and decision bagi perkembangan karir individu. making). Pada akhirnya pilihan karir siswa lebih terfokus, menyempit, atau Sedangkan settingnya dapat dilakukan terspesialisasi, dan perencanaan karir dimaksudkan untuk menguji secara kritis secara individual ataupun kelompok, keputusan yang diambilnya. menyesuaiakn dengan kebutuhan. Secara ABKIN dan ILO33 menyebutkan bahwa bimbingan karir di sekolah khusus Gibson dan Mitchell menjelaskan diberikan kepada peserta didik sebagai bagian dari proses yang partisipatif dan bahwa dalam pengembanagn karir, yang berpusat pada peserta didik. Peran dari guru BK adalah tidak untuk mendikte berakhir pada penempatan, maka pilihan peserta didik, namun memandu dan memfasilitasi mereka melalui proses konselor dapat menggunakan beberapa pengambilan keputusan dan memberikan ruang bagi mereka dalam melihat secara teknik, yaitu (1) kesadaran diri (self- kritis apa saja potensi, kesempatan pekerjaan dan jalur pendidikan yang bisa awareness). Sejak dini seseorang harus mereka ambil34.Proses pengambilan keputusan yang baik akan terjadi apa bila sadar dan menghargai keunikan dirinya pilihan karir tidak dibatasi terutama oleh sebagai manusia. Pemahaman tentang 244 bakat, minat, nilai, sifat pribadi, dsb sangat penting dalam perkembangan konsep yang berhubungan dirinya sendiri dan eksplorasi karir. Caranya dengan latihan klarifikasi, mengarang, penggunaan film, tes, dsb; (2) kesadaran pendidikan (educational awareness). Kesadaran hubungan antara diri sendiri, kesempatan pendidikan, dan dunia kerja sangat penting dalam perencanaan karir. Salah satu caranya dapat dengan menghadirkan alumni; (3)kesadaran karir (career awareness). Pada semua tingkatan pendidikan, konselor sekolah harus
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 perempuan dalam masyarakat, (2) karir yang sesuai untuk perempuan dan laki- pandangan streotip gender yang laki, dan wawancara pada Guru berkembang di tengah masyarakat BK/Konselor serta kepala madrasah dan dimana masyarakat masih melihat sebuah waka kurikulum mengenai pelaksanaan pekerjaan sesuai tidaknya berdasarkan bimbingan karir. gender. Dalam hal ini perpspektif gender harus ada dalam materi bimbingan dan PEMBAHASAN konseling karir terkait bias gender dalam pekerjaan. Pengetahuan siswa mengenai karakter dan peran laki-laki dan perempuan Selanjutnya ABKIN dan ILO menyebutkan dalam implementasi Hasil penelitian menunjukkan bimbingan dan konseling karir di sekolah, bahwa 60% dari total responden siswa harus diberi pemahaman bahwa mengatakan bahwa maskulin, emosional, bias gender itu ada di dalam masyarakat rasional, menarik, berani, hati-hati, modis, terkait dengan hukum alam dan peran kasar, kuat adalah karakter pria dan dengan cara memberikan kompetensi wanita. 100% dari total responden kepada siswa untuk dapat membedakan mengatakan bahwa menyusui dan antara karakter dan peran. Setelah siswa melahirkan adalah peran perempuan. memiliki kompetensi untuk membedakan Memasak, mengasuh anak, mencari antara karakter dan peran, siswa juga nafkah, memimpin keluarga, sekretaris, harus dibekali dengan kompetensi untuk mengelola uang bisa menjadi peran laki- menilai apakah sebuah pekerjaan itu laki dan perempuan, ditunjukkan oleh merupakan pekerjaan laki-laki atau 85% dari total responden. Ini berarti perempuan atau pekerjaan tersebut untuk bahwa responden tahu bahwa laki-laki laki-laki dan perempuan35 dan perempuan tidak bisa dibedakan melalui karakter dan peran. METODE Karir pilih siswa jika sudah tamat Subyek penelitian adalah 50 siswi sekolah di Madrasah Aliyah Dinyah Puteri Pekanbaru Riau, dua Guru BK/Konselor, 2% dari total responden kepala madrasah dan waka kurikulum. mengatakan karir yang mereka inginkan Pengumpulan data dengan kuesioner adalah karir yang dianggap sebagai karir tertutup yang terdiri dari pertanyaan: (1) karakter dan peran laki-laki dan 245
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... maskulin seperti penambang, operator melalui karakter dan peran ketika alat berat dan mekanik. 98% dari total mendapat materi tentang gender dalam responden menginkan karir yang layanan informasi karir yang diberikan dianggap sebagai feminin seperti perawat, oleh guru BK/Konselor. Hal ini juga bidan, desainer, stylist, guru, teller bank. didukung dari hasil wawancara dan Alasan untuk memilih karir yang anggap observasi yang dilakukan terhadap guru sebagai maskulin adalah saya suka karir BK/Konselor, waka kurikulum dan ini dan karir ini tepat untuk pria dan kepala madrasah dan implementasi wanita. Alasan memilih karir yang bimbingan daan konseling karir. anggap feminin adalah saya suka karir ini dan karir ini sesuai untuk laki-laki dan Menurut Guru BK/Konselor, perempuan. Ini berarti bahwa responden bimbingan dan konseling karir harus tidak berpandangan stereotipe gender mampu membantu peserta didik dalam mengenai karir yang akan mereka pilih. membuat keputusan yang menyangkut pendidikan dan pekerjaan yang sesuai Proses siswi mengetahui bahwa laki-laki dengan kemampuan, dan permintaan dan perempuan tidak bisa dibedakan pasar kerja. Kerangka kegiatan dan melalui karakter dan peran. rencana layanan harus mengarah pada proses pengambilan keputuan. Kerangka 70% dari total siswa menjawab ini mengacu pada Panduan Pelayanan mereka mengetahui bahwa laki-laki dan Bimbingan Karir, ABKIN, ILO, 2011 yang perempuan tidak dapat dibedakan ditunjukkan dalam lima fokus utama layanan yang dijabarkan dalam: Kesadaran diri Pembuatan Keputusan Apakah yang kumahu Bagaimana saya harus membuat Bagaimana saya keputusan Apakah kesempatan yang Faktor apa saja yang harus saya melaksanakan keputusan tersedia bagi saya dalam hal pertimbangkan ( atau tidak pekerjaan dan pendidikan pertimbangkan) dalam mebuat ini. Apa saja langkah awal keputusan pendidikan atau yang harus saya ambi dalam Kesadaran akan pekerjaan menuju pekerjaan yang saya kemampuan inginkan Pembelajaran transisional Panduan Pelayanan Bimbingan Karir, ABKIN, ILO, 2011 246
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 Dalam layanan pengenalan diri dan laki-laki di luar fungsi biologis ada delapan materi yang dibahas, yaitu mereka yang telah ditetapkan, dan peran kenali dirimu sendiri, mari cari tahu hal peran ini terkadang membatasi pilihan- yang penting bagimu, pertimbangkan pilihan pekerjaan dan pendidikan kemampuan akademismu, jenis seseorang. Hal ini perlu diatasi karena (a) keterampilan yang sesuai untukku, hal tersebut merupakan pembatasan kondisi kerja yang kusuka, dukungan terhadap hak-hak seseorang, dan (b) hal keluargaku, menyadari adanya bias tersebut menghalangi masyarakat untuk gender di masyarakat terkait dengan mempergunakan bakat-bakat anggotanya hukum alam dan pekerjaan laki-laki dan dengan sebaik mungkin. Lebih jauh, Guru perempuan. Tujuan materi menyadari BK/Konselor menjelaskan hal-hal berikut: adanya bias gender di masyarakat terkait Laki-laki dan perempuan dapat dengan hukum alam dan peran adalah dibedakan secara eksklusif oleh agar siswa memahami perbedaan / karakteristik yang berhubungan dengan pemisahan gender dalam keterampilan kegiatan reproduktif yang hanya dapat kerja. Dan tujuan materi pekerjaan laki- dilakukan oleh seorang perempuan. laki dan perempuan adalah agar siswa Gender berhubungan dengan memahami isu gender dalam pekerjaan. karakteristik dan peran yang dianggap Kedua materi ini diberikan dalam satu berasal dari sesorang oleh jam pembelajaran (45menit) dalam bentuk masyarakat/komunitas tertentu. Dalam kegiatan klasikal dan diskusi kelompok. masyarakat tradisional contohnya, Ada tiga tahapan kegiatan dalam perempuan perempuan diasosiasikan menyampaikan materi menyadari adanya dengan kegiatan-kegiatanrumah tangga bias gender di masyarakat terkait dengan seperti memasak, mengasuh anak, hukum alam peran serata pekerjaan laki- menyiapkan makanan, atau menyapu laki dan perempuan. Tahapan tersebut rumah. Di sisi lain, laki-laki diasosiasikan meliputi tahap pembukaan, utama dan dengan kegiatan kegiatan yang berkaitan penutup. dengan perlindungan keluarga dan Tahap pembukaan pada materi kebutuhan-kebutuhan ekonomi. Kegiatan- menyadari adanya bias gender di kegiatan seperti bekerja untuk masyarakat terkait dengan hukum alam mendapatkan uang atau membuat dan peran diawali dengan penjelasan keputusan lebih sering diasosiasikan bahwa kebudayaan sebuah masyarakat dengan laki-laki. Dalam dunia kerja, mempertalikan peran kepada perempuan orang mungkin merasa dibatasi dalam 247
pilihan-pilihan mereka karena Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... peran/karakteristik gender dalam kerja malam, keselamatan pekerjaan, dan perlindungan kesehatan), tapi hal itu masyarakat yang yang telah ditugaskan seharusnya tidak mengecilkan hati laki- laki untuk mengambil pekerjaan yang kepada mereka. dianggap cocok untuk perempuan, ataupun juga mengecilkan hati Tahapan utama, Guru perempuan untuk mengambil pekerjaan yang dianggap cocok untuk laki-laki. BK/Konselor membagi kelas ke dalam Guru BK/Konselor mengutip kelompok dan membagikan Lembar Kerja kasus dari beberapa anak perempuan yang belajar dan direkrut sebagai montir. kepada masing-masing kelompok. Pengusaha/majikan bahkan lebih menghargai keterampilan mereka Masing-masing kelompok diminta untuk daripada rekan-rekan kerja laki-laki mereka, karena mereka menunjukkan mengidentifikasi apakah pekerjaan yang keterampilan yang lebih baik dalam berurusan dengan pelanggan. Peserta ada di dalam Lembar Kerja sesuai untuk didik harus bercermin pada kasus ini dan membuat pilihan keterampilan yang laki-laki dan perempuan, serta BENAR-BENAR mereka inginkan. menjelaskan alasannya. Jawabannya Guru BK/Konselor kemudian mengakhiri kegiatan dengan bertanya kemudian dituliskan pada kertas flipchart. kepada peserta didik (a) apa yang mereka pikirkan tentang pembagian peran laki- Masing-masing kelompok memaparkan laki dan perempuan berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan, (b) apakah hasil diskusi mereka. mereka merasa dibatasi oleh peran-peran ini pada saat mereka membuat pilihan- Tahapan penutup: ketika semua pilihan pendidikan, (c) apa yang hendak mereka lakukan mengenai hal itu, (d) prasangka telah dikemukakan, Guru bantuan apa yang mereka butuhkan dari Guru BK/Konselor berkaitan dengan hal BK/Konselor menekankan bahwa: (1) ini. perempuan telah terbukti bahwa mereka Seperti penyampaian materi mampu menjadi pengemudi/mekanik 248 yang hebat, dan laki-laki telah menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi peñata rambut atau penjahit, sebagai contoh; (2) tidak ada kelompok gender yang apriori lebih cocok untuk suatu pekerjaan atau keterampilan dibandingkan dengan kelompok yang lain; (3) pilihan-pilihan kerja harus berdasarkan preferensi individual, kompetensi, dan peluang pasar, bukan berdasarkan jenis kelamin; (4) beberapa pekerjaan perlu diadaptasi untuk satu jenis kelamin atau yang lain (dalam hal
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 dengan partisipasi laki-laki dan perempuan di semua pekerjaan. Latihan menyadari adanya bias gender di ini harus mendorong peserta didik untuk masyarakat terkait denga hukum alam membuat keputusan tentang apa yang dan peran, penyampaian materi pekerjaan benar-benar mereka inginkan, bukan apa Laki-laki atau Perempuan? Juga diajarkan yang mereka rasa harus mereka lakukan dalam tiga tahapan, yaitu tahap sebagai perempuan atau laki-laki. Guru pembukaan, utama dan penutup. BK/Konselor mengakhiri kegiatan dengan bertanya kepada peserta didik (a) apa Tahapan pembukaan, Guru yang mereka pikirkan tentang pentingnya BK/Konselor akan melaksanakan partisipasi yang setara antara laki-laki dan kegiatan yang dapat meningkatkan perempuan dalam dunia kerja, (b) apakah kemampuan peserta didik untuk mereka merasa telah ada kemajuan dalam menentukan cita-cita mereka, terlepas dari masyarakat mereka menuju ke arah stereotip gender tentu saja kegiatan ini tersebut, (c) apa yang akan mereka dapat dilakukan setelah mendiskusikan lakukan untuk mempromosikannya, (d) pandangan-pandangan yang peserta didik bantuan apa yang mereka butuhkan dari miliki berkaitan dengan peran, gender, Guru BK/Konselor berkaitan dengan hal dan jenis pekerjaan, ini. Tahap utama, Guru BK/Konselor Dari hasil penelitian yang sudah membagikan Lembar Kerja 8 (Siapakah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa yang tepat melakukan pekerjaan di bawah dalam menyampaikan materi bimbingan ini). Sebelumnya siswa sudah membentuk dan konseling karir Guru BK/Konselor kelompok kecil dan setiap peserta didik menggunakan pendekatan layanan aktif mengidentifikasi pekerjaan mana yang dimana guru BK adalah tidak mendikte lebih cocok untuk masing-masing gender pilihan peserta didik, namun memandu dan alasan. Dengan menjawab ke-23 dan memfasilitasi mereka melalui proses pertanyaan tersebut dan mengadakan pengambilan keputusan dan memberikan diskusi terbuka tentang alasan-alasan di ruang bagi mereka dalam melihat secara balik jawaban mereka, mereka akan kritis apa saja potensi, kesempatan menyadari bahwa mungkin ada pekerjaan dan jalur pendidikan yang bisa pendapat-pendapat yang berbeda, dan mereka ambil tanpa membeda-bedakan bahwa beberapa alasan mungkin tidak antara pekerjaan laki-laki dan perempuan. sepenuhnya benar. Hal ini sangat mempengaruhi siswa Penutup: Guru BK/Konselor 249 memfasilitasi sebuah diskusi tentang manfaat dan tantangan yang terkait
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... dalam membuat pilihan karir mereka Mengingat pentingnya kedepan. Dengan demikian, dapat bimbingan dan konseling karir sebagai disimpulkan bahwa streotip gender pemberi arah sekaligus penerang jalan dalampilihan karir siswa dapat dikurangi hidup, maka dalam pelaksanaannya walaupun siswa belajar di sebuah hendaklah mampu membantu siswa lembaga pendidikanyang selalu dalam: (a) pemahaman secara tepat dikonotasikan dengan penyumbang bias tentang dirinya, dalam hal ini siswa gender dalam pendidikan. diperkenalkan dengan streotif gender dalam karir; (b) pengenalan terhadap KESIMPULAN DAN SARAN keragaman dunia kerja dan persyaratannya; (c) mempersiapkan diri Karir adalah suatu status atau secara matang dalam memasuki dunia jenjang pekerjaan atau jabatan seseorang sebagai sumber nafkah apakah itu sebagai kerja; (d) penempatan bidang-bidang pekerjaan utama maupun pekerjaan sambilan. Karena karir merupakan pekerjaan tertentu yang sesuai; (e) sumber nafkah maka ia selalu menjadi masalah yang kompleks, yang memecahkan berbagai persoalan khusus menyangkut berbagai aspek kehidupan, baik aspek perkembangan, kepribadian, berkaitan dengan pekerjaan dan pola-pola sosial, budaya, ekonomi, maupun belajar. kehidupan yang lain, dan (f) penghargaan Begitu kompleksnya masalah karir menyebabkan siswa yang duduk yang obyektif dan sehat terhadap dibangku SMA/MA banyak yang bingung dalam pemilihan karir mereka pekerjaan, jabatan, serta karir. setelah menamatkan pendidikan di jenjang SLTA. Faktor streotip gender Selanjutnya, mengingat semakin luasnya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan karir siswa. bidang pekerjaan saat ini, pelaksanaan Oleh karena itu, bimbingan dan konseling karir di sekolah/madrasah haruslah bimbingan/konseling karir dituntut memberi arah sekaligus penerang jalan hidup menuju keberhasilan dan kepuasan mampu merangsang tumbuh dan dalam mengarungi kehidupan. berkembangnya pemikiran-pemikiran di bidang pekerjaan yang sifatnya lebih kreatif, imajinatif, dan holistik, sehingga perkembangan, pola, atau pandangan karirnya tidak linier, namun lebih menyebar, terdeferensiasi, dan terspesifikasi sesuai dengan kebutuhan dan tantangan jaman.Untuk itu bimbingan dan konseling karir berperspektif gender sangat perlu diimplementasikan dan diperluas 250
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 cakupan implementasinya pada setiap Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : jenjang pendidikan, baik di sekolah Erlangga.hal 207 maupun madrasah. 9 Mamat Supriatna.2009, Layanan Bimbingan Karir di Sekolah Endnotes: Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan 1 Bandura, A., Barbaranelli, C., Caprara, G. Indonesia.hal 7 V., & Pastorelli, C. (2001). Self- efficacy 10 Yusuf LN, & Juntika Nurihsan, Beliefs as shapers of children’s aspirations and career trajectories. Child (2008), Landasan Bimbingan dan Konseling, Development, 72 (1), 187-206. Bandung :Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia & 2 Cherian VI 1991. Parental aspirations and Remaja Rosda Karya.hal 56 academic achievement of Xhosa children. Psychological Reports, 68: 547–553. 11 Yusuf LN, & Juntika Nurihsan, (2008), Landasan Bimbingan dan Konseling, 3 Issa AO, Nwalo KIN 2008. Factors Bandung :rogram Pasca Sarjana Affecting the Career Choice of Universitas Pendidikan Indonesia & Remaja Rosda Karya.hal 58 Undergraduates in Nigerian Library and Information Science Schools. African 12 Brown, C. And M. Corcoran. 1997. Sex Journalof Library, Archives and Based Deferences In School Content and The Male-Female Wage Gap.\" Journal Of Information Science. From Labor Economics 15 (3):431{465. http://findarticles.com/p/articles_7002_ 1_18/ai_n28539226/?tag= content; coll 4 Macgregor K 2007. South Africa: Student 13 Holland, J. L. (1997). Making Vocational Dropout Rates Alarming in SA Choices: A Theory of Vocational Universities. From http://www. universityworldnews.com/article.php? Personalities Work Environments. story= 200710251025102245380 (Retrieved Odessa, FL: Psychological Assessment on 23 November 2011). Resources, Inc.Page 234 5 McMahon M, Watson M 2005. 14 R.W.,Brown, S. D., & Hacket, G.(1996) Occupational information: What children “Career Development from Socio- want to know? Journal Of Career cognitive Perspective” in D., Brown & L., Development, 31: 239–249Savickas, M, & Brooks (eds) Career Choice and Lent, R. (1994). Convergence in Career Development (3rd ed.) San Francisco: Development; Theories. Palo Alto, Jossey –Bass.Page234 California: Consulting Psychologists press, Inc 15 Oktiva Herry Chandra prints. undip.ac.id/36914/ 6 Watson M, McMahon M, Foxcroft C, Els 16 Oktiva Herry Chandra eprints. C 2010. Occupational aspirations of low undip.ac.id/36914/ socio economic Black South African children. Journal of Career Development, 17 ABKIN dan ILO, Modul Panduan Pelayanan Bimbingan Karir, 2011, hal.22) 37(4): 717–734. doi:10.1177/089 48 45309359351 18 http://repository.usu.ac .id/bitstream 7 Kinanee, J. B. (2004). The youth and career /123456789/28459/2/Chapter%20III.pdf development. Port Harcourt; Kench 19 http://repository.usu.ac.id /bit stream/ Resources. Page. 86 23456789/28459/2/ Chapter%20III.pdf 8 Hurlock, E.B. (1990). Psikologi 20 http://kbbi.web.id/stereotip Perkembangan Suatu Pendekatan 251
Riswani, Stereotipe Gender dan Pilihan Kareer... 21 Lips, Hitary M. 1988. Sex and Gender: A 35 ABKIN dan ILO, Modul Panduan Pelayanan Bimbingan Karir, 2011, hal.22) lntroduction. Catifornia: Mayfietd Pubtishing Co.page 86 DAFTAR PUSTAKA 22 Oktiva Herry Chandra eprints. ABKIN dan ILO, Modul Panduan undip.ac.id /36914/ Pelayanan Bimbingan Karir, 2011 23 Oktiva Herry Chandra eprints. Bandura, A., Barbaranelli, C., Caprara, G. undip.ac.id /36914/ V., & Pastorelli, C. (2001). Self- efficacy Beliefs as shapers of 24 Oktiva Herry Chandra eprints.undip children’s aspirations and career .ac.id /36914/ trajectories. Child Development, 72 (1), 187-206 25 Oktiva Herry Chandra eprints.undip.ac.id /36914/ 26 Dewa Ketut Sukardi. 1987. Bimbingan Brown, C. And M. Corcoran. 1997. Sex karir di sekolah-sekolah : Jakarta : Ghalia Based Deferences In School Content Indonesia. Hal.69 and The Male-Female Wage Gap.\" Journal Of Labor Economics 15 27 Handoko, Hani T. 2000. Manajemen (3):431-465. Personalia dan Sumber Daya Manusia. Cherian VI 1991. Parental aspirations and Yogyakarta : BPFE.Hal.97 academic achievement of Xhosa children. Psychological Reports, 68: 28 Gibson, R. L. dan Mitchell, M.H. 1995. 547–553 Intoduction to Counseling and Guidance, Englewood Cliffs – New Jersey: Prentice- Dewa Ketut Sukardi. 1987. Bimbingan Hall Inc. Herr & Edwin.L, 1991. Career karir di sekolah-sekolah : Jakarta : Guidance and Counseling T.Page 65 Ghalia Indonesia 29 Gould, S. 1979, “Characteristics of Career Planners in Upwardly Mobile Occupations”, Academy of Management Journal, Vol. 22, pp. 539-50. Greenhaus, file.upi.edu/Direktori/FIP/...SUNARDI /.../HAKEKAT_KARIR.pdf J.H., Parasuraman, S.J. and Wor 30 Greenhaus, J.H., Parasuraman, S.J. and Wormley, W.M. 1990, “Effects of Race on Gibson, R. L. dan Mitchell, M.H. 1995. Intoduction to Counseling and Organizational Experiences, Job Guidance, Englewood Cliffs – New Jersey: Prentice-Hall Inc. Herr & Performance Evaluations, and Career Edwin.L, 1991. Career Guidance and Counseling Outcomes”, Academy of Management Journal, Vol. 33, pp. 64-86. 31 file.upi.edu/Direktori/FIP/...SUNARDI /.../HAKEKAT_KARIR.pdf 32 file.upi.edu/Direktori/FIP/...SUNARDI Gould, S. 1979, “Characteristics of Career /.../ HAKEKAT_KARIR.pdf Planners in Upwardly Mobile Occupations”, Academy of 33 ABKIN dan ILO, Modul Panduan Management Journal, Vol. 22, pp. Pelayanan Bimbingan Karir, 2011, hal.22) 539-50 34 ABKIN dan ILO, Modul Panduan Pelayanan Bimbingan Karir, 2011, hal. 252
marwah, Vol. XIV No. 2 Desember Th. 2015 Greenhaus, J.H., Parasuraman, S.J. and hp? story= 200710251025102245380 Wormley, W.M. 1990, “Effects of (Retrieved on 23 November 2011). Race on Organizational Experiences, Job Performance Evaluations, and McMahon M, Watson M 2005. Career Outcomes”, Academy of Occupational information: What Management Journal, Vol. 33, pp. children want to know? Journal Of 64-86. Career Development, 31: 239– Handoko, Hani T. 2000. Manajemen 249Savickas, M, & Lent, R. (1994). Personalia dan Sumber Daya Manusia. Convergence in Career Yogyakarta : BPFE. Development; Theories. Palo Alto, California: Consulting Psychologists Holland, J. L. (1997). Making Vocational press, Inc Choices: A Theory of Vocational Personalities Work Environments. Oktiva Herry Chandra eprints. Odessa, FL: Psychological undip.ac.id/36914/ Assessment Resources, Inc. Hurlock, E.B. (1990). Psikologi R.W.,Brown, S. D., & Hacket, G.(1996) Perkembangan Suatu Pendekatan “Career Development from Socio- Sepanjang Rentang Kehidupan. cognitive Perspective” in D., Brown Jakarta : Erlangga & L., Brooks (eds) Career Choice and Development (3rd ed.) San Francisco: Jossey –Bass.Page234 Issa AO, Nwalo KIN 2008. Factors Watson M, McMahon M, Foxcroft C, Els C Affecting the Career Choice of 2010. Occupational aspirations of Undergraduates in Nigerian Library low socio economic Black South and Information Science Schools. African children. Journal of Career African Journalof Library, Archives Development, 37(4): 717–734. and Information Science. From http://findarticles.com/p/articles_ doi:10.1177/089 48 45309359351 7002_ 1_18/ai_n28539226/?tag= content; coll Yusuf L.N., & Juntika Nurihsan, (2008), Landasan Bimbingan dan Kinanee, J. B. (2004). The youth and career Konseling, Bandung :rogram Pasca development. Port Harcourt; Kench Sarjana Universitas Pendidikan Resources Indonesia & Remaja Rosda Karya Mamat Supriatna.2009, Layanan Bimbingan http://repository.usu.ac .id/bitstream Karir di Sekolah /123456789/28459/2/Chapter%20II Menengah, Departemen Pendidikan I.pdf Nasional Universitas Pendidikan Indonesia Macgregor K 2007. South Africa: Student Dropout Rates Alarming in SA Universities. From http://www. universityworldnews.com/article.p 253
Search
Read the Text Version
- 1 - 29
Pages: