Untaian Kata di Akhir Tahun | i
Untaian Kata di Akhir Tahun (Kumpulan Puisi) Penulis: Safridah ISBN Editor: Khoen Eka Anthy S.A. Penata Letak: @timsenyum Desain Sampul: @kholidsenyum Copyright © Pustaka Media Guru, 2019 vi, 62 hlm, 14,8 x 21 cm Cetakan Pertama, Januari 2019 Diterbitkan oleh CV. Pustaka MediaGuru Anggota IKAPI Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya 60286 Website: www.mediaguru.id Dicetak dan Didistribusikan oleh Pustaka Media Guru Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah, akhirnya Allah SWT memberikan kemudahan untuk dapat menyelesaikan penulisan sebuah buku kumpulan puisi yang merupakan tindak lanjut dari hasil pelatihan Sagusabu Pekanbaru II. Saya merasakan manfaat luar biasa setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh tim Sagusabu Pekanbaru II, khususnya Bapak M. Ihsan dan Mas Eko Prasetyo, selaku narasumber; Ibu Wirda; dan Ibu Khoen Eka Anthy (editor MG), yang selalu melayani pertanyaan saya ketika proses penulisan buku ini berlangsung. Mereka telah mengarahkan saya sehingga dapat menuangkan pengalaman dan cerita yang saya alami dalam bentuk puisi. Selanjutnya, ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada ananda kesayangan kami: Memei dan Najma. Juga kepada suami tercinta yang memberikan inspirasi guna penyelesaian buku ini dengan membawa saya ke suatu tempat, di sanalah saya pertama kalinya mulai merangkai kata demi kata dan berhasil menyelesaikan 20 judul puisi dari momen yang saya pernah alami. Merekalah yang selalu menemani saya ketika saya sibuk mencari ide dalam menyelesaikan puisi‐ puisi ini satu persatu. Saya menyadari bahwa menulis puisi bukanlah hal mudah. Namun, kutipan yang berbunyi “Kiat menulis yang paling baik adalah memulainya”, adalah benar adanya. Untaian Kata di Akhir Tahun | iii
Setelah mencobanya, saya bahkan tidak bisa berhenti sehingga dapat menyelesaikan satu per satu puisi yang saya tulis. Setelah saya baca kembali, momen‐momen berkesan itu punya daya tarik sendiri dalam bentuk yang paling mudah dipahami makna dan isinya. Karenanya, saya berharap buku ini dapat dinikmati oleh seluruh pembaca. Semoga pembaca dapat mengambil pesan khusus dari dua puisi saya yang berjudul “Bumi dalam Perjalanan Usiaku” dan “Hampir Berhasil Sempurna.” Buku kumpulan puisi ini secara khusus saya selesaikan untuk menggali kemampuan saya dalam menulis dengan harapan menjadi motivasi untuk menulis buku lainnya setelah buku ini diterbitkan. Saya menyadari bahwa dalam buku ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca, sangat diharapkan demi perbaikan karya ini di masa mendatang. Salam literasi, Pekanbaru, 25 Desember 2018 Penulis iv | Safridah
Daftar Isi Kata Pengantar ......................................................................... iii Daftar Isi ..................................................................................... v Pantai Cerocok Jaman Old ...................................................... 1 Sungai Kosiok ......................................................................... 3 Seorang Bhayangkari ............................................................. 5 Pulo Simo Pemikat jiwa .......................................................... 7 Menjadi yang Terdepan ........................................................ 10 Harau oh… Harau ................................................................. 13 Bernama Pulau Setan ............................................................ 16 Sensasi Pulau Pagang ........................................................... 19 Tak Semua Hatinya Sama .................................................... 24 Di Balik Skenario itu .............................................................. 27 Happy Teacher’s Day ............................................................. 29 Kunjungan Bapak Negeri ...................................................... 31 Apakah ini Karmaku ............................................................. 33 Sepanjang Jalan ................................................................... 35 Mengapa di 22 Desember .....................................................37 Hamparan Hijau di Bunga Raya ........................................... 40 Sertifikat Juara Dua .............................................................. 42 Untaian Kata di Akhir Tahun | v
Bumi dalam Perjalanan Usiaku ............................................ 44 Hampir Berhasil Sempurna .................................................. 55 Target ................................................................................... 58 Profil Pengarang...................................................................... 60 vi | Safridah
Pantai Cerocok Jaman Old Kala itu belum mendunia namanya Namun masyarakat di sana sudah menjamahnya Membawa keluarga bertamasya tanpa biaya berlimpah Karena masuk di sana tidak ada penjaganya Pasir kotor menghiasi pantai sekelilingnya Sampah, kayu, dan dedaunan jatuh berserakan tanpa ada yang memungutnya Sampai berserakan di daratan pulaunya Menandakan belum ada yang mengelola Namun, beberapa penikmat wisata tidak begitu peduli sekelilingnya Kelihatan sekali malam tadi ada yang berada di sini Berkemah dan bernyanyi merayakan tahun baru Sepertinya beberapa muda‐mudi Sisa bakaran kayu masih baru Beberapa terompet tersangkut di tepian pantai Itulah suasana pertama kali menginjakkan kaki di sana Suasana yang tak indah tentunya Dengan keadaan alam di pulaunya Namun deburan ombak yang bersahabat Menghanyutkan prasangka ketidakindahannya Merabunkan penglihatan adanya sampah Untaian Kata di Akhir Tahun | 1
Angin sepoi‐sepoi pun menerbangkannya Jauh ke lautan sana Desiran tiupan di dedaunan kelapa Menggairahkan semarak suasana Derai tawa renyah, menambah indahnya Nada‐nada lagu tercipta Jeritan demi jeritan kesayangan‐kesayangan Beriring tanpa ada yang marah Kuhirup dalam‐dalam angin yang menari‐nari di sekelilingnya Hingga lupa terik mentari sudah berada di atas kepala Pantai Cerocok, 31 Desember 2011 2 | Safridah
Sungai Kosiok Tenang … Tak ada riak dan gelombang Namun tetap mengalir tanpa paksaan Dari hembusan angin di balik pohon bambu di ujung sungai Kelihatan seperti seseorang Yang diam tak bergeming Namun memberi kekuatan Untuk menghampiri dan menggapainya Di pemukaan Sungai Kosiok Terlihat pasir dan bebatuan Dihampiri binatang bersisip kecil Semakin tak diundang Segerombolan lain datang Mengelus kaki yang terendam Ketika dikejutkan Binatang bersisip berjauhan Namun tak tahan Tetap mengelus kaki yang terendam Tak puas hanya di pinggiran Berjalan menuju yang kelihatan dalam Tapi ternyata dia tidaklah dalam Mulailah berendam seperti sedang di atas dipan Ditemani arus yang begitu tenang Untaian Kata di Akhir Tahun | 3
namun mendalam Sedalam perasaan menikmati dan mensyukuri alam Sambil disirami percikan air dari keceriaan. Sungai Kosiok, Air Tiris, 10 Juli 2016 4 | Safridah
Seorang Bhayangkari Menjadi istri abdi negara Dengan sebutan bayangkari Terasa tidak lah sama Dengan istri‐istri lainnya Bersua sebentar saja Kemudian kembali menjadi milik negara Menjadi istri abdi negara Harus legowo dan menerima Karena selalu menjadi nomor dua Untuk urusan apa saja Inilah yang kurasa Selama mendampingi dirinya Harus bisa Melakukan apa saja Tanpa si dia di bayangan jiwa Tapi hebatnya jadi istri abdi negara Jadi berani melakukan apa saja Mungkin terpaksa atau memang tahu Karena si dia tak selalu di sampingnya Untaian Kata di Akhir Tahun | 5
Yang paling paling terasa mudah Ketika mengendera Menerobos lampu merah Karena mengkhayalkan si dia tanpa sengaja Cukup menunjukkan KTA (Kartu tanda Anggota) Di Lampu Merah, 15 Juli 2016 6 | Safridah
Pulo Simo Pemikat jiwa Bingung entah ke mana tujuan Sementara semua orang sedang menikmati liburan Akhirnya… Wisata air terjun Pulo Simo menjadi incaran Terletak di daerah Tanjung Alai Kecamatan Koto Kampar Sambil menghitung tangga Kuturun menuju lembah Bersama rombongan tercinta Kehati‐hatian selalu mendera Karena tidak ingin celaka Setelah sampai di bawah Mulailah dingin menyapa Tak menyurutkan langkah Berada di bawah curahan air terjun Pulo Simo Menikmati suasana alam Dan dinginnya udara di Lembah Pulo Simo Terperdaya oleh semangkuk Indomie kuah Bersama dalam dekapan alam dan gemerincing air terjun Diselingi derai tawa penikmat wisata di sana Untaian Kata di Akhir Tahun | 7
Hangatnya Indomie kuah Menambah indahnya rasa alam di Pulo Simo Aliran air menggoda agar segera menyapa Bergumul bersama di ujung sebelah sana Hingga aliran masuk ke pori‐pori rasa Dan menyegarkan tumpukan pikiran yang hampir melimpah Kejenuhan yang pernah ada Terobati sehari saja di wisata air terjun Pulo Simo Dari sela dedaunan yang menyelimuti lembah Matahari menyentuh kulit yang kecut akibat berendam Menandakan kini waktunya pulang Perlahan rombongan mengemas pakaian Beranjak dari pijakan Melewati bebatuan yang kokoh dan licin Sampai akhirnya kembali menaiki tangga menuju puncak jalan Satu per satu kuhitung Tak kuat kuat rasanya Berhenti sejenak menyusun melodi napas yang tak tentu arah Menghirup panjang sejenak Dan mengeluarkan lepas tanda bernapas 8 | Safridah
Dan sampai hitungan tangga entah ke berapa Terasa jantungku berhenti sejenak Kurasakan pengap seakan tercabut nyawa Namun alam Pulo Simo mengingatkan Bahwa aku masih di sana Dan kembali menyapa di liburan berikutnya. Air terjun Pulo Simo, 17 Juli 2016 Untaian Kata di Akhir Tahun | 9
Menjadi yang Terdepan Ingin mendapatkan tempat di muka Haruslah sedia dari mula Beranjak setelah fajar terkesima Oleh nyanyian dan kicauan burung di alam raya Sesampai di sana … Keramaian tak terhingga Tapi tempat di muka … Kelihatan masih ada Segera duduk bak ibu raja Dan yang lain berjejer di sampingnya Bak dayang‐dayang mengawak dirinya Sambil mengunyah jajanan yang ada Dipayungi terik mentari Tak beranjak sampai tradisi dimulai Barisan jalur berjejer Bak prajurit siap perang Menunggu aba‐aba sang komandan Untuk maju terdepan Memenangkan peperangan Kobar semangat mereka tak terkirakan Dalam tim yang saling membuhul dari bahu ke bahu Ditambah semarak baju berwarna‐warni Menunjukkan identitas sang pemenang 10 | Safridah
Yang menyilaukan sorak‐sorai di tepi sungai Sampai … Door… door … door … door Bunyi tembakan menggelegar Tanda persaingan sudah dimulai Tak terkatakan semangat perang Untuk memenang hadiah idaman Dari sponsor dan pemangku adat Yang mentradisikan sifat persatuan melalui tradisi adat pacu jalur Taluk Kuantan Yang bertahan turun‐temurun Tak lekang oleh zaman Tetap menjadi dambaan Untuk menjadi bagian dari perayaan Dari tua hingga muda dari miskin hingga kaya Dari pemangku hingga yang dipangku Nyatanya memang tetap menjadi tradisi Untuk selalu menghargai Dan menjaga tetap berseri Dari puncak tepian sungai … Penonton bersorak‐sorai Mulailah sampan jalur beriringan Mendahului sang lawan Ditaburi guruh gemurai dan sorak‐sorai Mengunggulkan sang juara Yang hampir menggapai impiannya Untaian Kata di Akhir Tahun | 11
Namun sorak‐sorai Tak segegap gempitanya lawan Mencoba mendahului yang di depan Sang pimpinan di ujung jalur Memberi kobaran api kepada pengayuh jalur Mengeluarkan energi mengguncang beriak sungai Mengalahkan sorak‐sorai Yang diunggulkan tidak menjadi yang terdepan Sorak‐sorai tetap bergema Sampai putaran demi putaran Saling melaju bergantian Dengan rasa persaingan Tetap patuhi segala aturan Sampai akhir putaran Gemuruh jantung semakin kencang Mengharap peserta idaman Nenjadi yang terdepan Taluk Kuantan, dalam acara tradisi Pacu Jalur, 28 Agustus 2016 12 | Safridah
Harau oh… Harau Harau … Namamu Harau Sebuah lembah yang indah dan penuh pesona Adamu menambah keindahan bumi ciptaan Sang Kuasa Adakah pengunjung sepertiku Yang begitu terpesona oleh cantik rupa wujud lembahmu Kau memberi nuansa yang tak bisa terkatakan oleh setiap pengunjung yang datang ke sana Harau… Dinding bukit yang terukir indah bak mahkota putri raja Yang menambah anggun dan kokoh melindungi lembah Rumah‐rumah kayu beratapkan daun Menghiasi lembah yang ada di sekelilingmu Di belakangnya dialiri kali kecil Bersumber dari perbukitan di balik sana Hewan liar berkaki dua Menambah ramai hiasan pernak‐pernikmu Seakan menyambut pengagummu Harau … Di pagi ini kuhirup dalam sekali… udara yang ada di lembahmu… Begitu nikmat Untaian Kata di Akhir Tahun | 13
Tak tanding nikmat Lebih nikmat dari secangkir white coffe kesukaanku Kulangkahkan kaki satu per satu Menelusi jalan setapak di lembahmu Semakin dalam rasa pesonamu Harau… Kukunjungi ornamen lain di lembahmu Sebuah tangga setinggi 6 meter dari tanah pijakanku Kunaiki satu per satu tangga kayu itu Sampailah aku di puncak tangga Semakin terasa bebas dan lepas pikiran di jiwaku Dialuni angin semilir merasuk dalam kalbuku di siang itu Memandang jauh sekeliling lembahmu Ingin rasanya alunan angin membawaku Namun kusadari aku berada di atas sebuah kayu Harau… Kupercikkan genangan air di wajahku Terasa dingin menusuk kalbu Menenangkan hati dan ragaku kini Kuberada di bawah air terjunmu Jatuh beriring mencipta sebuah melodi air terjun nan indah Kubawa kakiku ke tengah genangan air terjunmu 14 | Safridah
Oh, ingin kurendam seluruh tubuhku sehari saja di sana Agar aliran energi bukitmu Memberi aliran positif dalam tubuh ini Harau … Sore ini kutinggal dirimu Dengan rasa suka dan cita Sampai bertemu di lain waktu yang menjodohkanmu denganku Tetaplah kau lestari sepajang hayatmu Tetaplah kau utuh dalam sentuhan pengunjung barumu Sumbar, Lembah Harau, 25 Juni 2017 Untaian Kata di Akhir Tahun | 15
Bernama Pulau Setan Entah kenapa disebut Pulau Setan Apakah di sana banyak hantunya Atau bentuk pulau menyerupai makhluk halus berupa setan. Dengan rasa penasaran Kuminta si abang nelayan Untuk menyapa si Pulau Setan Melewati lautan yang tak begitu menyeramkan Tibalah kami di Pulau Setan Banyak pengunjung menikmati permainan Dipayungi rintik hujan rinai‐rinai Tak sabar si kecil Menjamah pasir putih di pantai Berlomba dengan si sulung membangun istana pasir Kemudian roboh oleh gulungan ombak bergantian Sesekali si kecil terbawa gulungan ombak Sambil tertawa kembali ke tepian Belaian ombak menambah keceriaan liburan Belarian si kecil menghindari kejaran 16 | Safridah
Kembali ombak membelai Tawa terpingkal berhamburan menyaksikan Mulanya aku hanya memperhatikan Menahan untuk tidak tergoda dalam belaian ombak Sampai hujanpun turun dengan lebatnya Kejaran dan deruan ombak menambah keinginan Untuk dibelai dalam gulungan ombak Untuk dinyanyikan dalam alunan Suara angin yang semakin kencang Ketika semua sudah menepi Kusapa lautan yang semakin garang Kurendam diri bersama belaian Diringi alunan Sensasi rasa berada dalam deruan ombak dan alunan nada angin Yang ditaburi curahan hujan yang semakin lebat Kesayanganku memandangku dari daratan Memintaku agar segera ke tepian karena tak seorangpun berada di lautan Namun kecemasan tak kunjung datang Tetap kunikmati nikmat alam ciptaan Tuhan Sampai aku bosan. Satu per satu pengunjung meninggalkan Pulau Setan Kami pun berlalu tidak ingin ketinggalan Sambil mengambil karang laut yang terdampar di tepian Untaian Kata di Akhir Tahun | 17
Kumelangkah kaki ke kapal nelayan Meninggalkan pulau yang namanya Setan Namun tak kulihat bersetan Dalam perjalanan menuju daratan masih kupikirkan Kenapa namanya Pulau Setan???? Pulau Setan, 7 Juli 2017 18 | Safridah
Sensasi Pulau Pagang Semangat petualang mengisi liburan ke Pulau Pagang Menyeberangi lautan menggunakan kapal nelayan Tanpa pelayanan seperti di travel perjalanan Semua kelihatan senang Kapal berlayar setengah kecepatan Melewati spot indah menuju pagang Pulau‐pulau kecil lain mengharap kedatangan pengunjung yang saling berganti. Kapal nelayan lewat dengan sapaan senang Angin semilir bernyanyi mengalunkan luapan senang Setiba di tepian Pagang Berasa jiwa petualang menghilang Pandangan ke lautan Pulau Pagang Luas jernih dan penuh pesona Pagang Di sini hati mulai mengagumi Untuk pencipta si Pulau Pagang Sungguh kuasa yang hebat Tentu dari‐Mu Sang Pencipta Menganugerahi pulau‐pulau lainnya Di pemukaan lautan lepas Terlihat sangat kecil dari pandangan Pagang Untaian Kata di Akhir Tahun | 19
Sunrise… menambah semangat petualang di Pagang Mulai kusentuh lautan perlahan Hingga batas di pinggang Berangsur ke tengah hingga air laut menjejal leher Kuselami sekujur tubuh di lautan pagang Sensasi hebat yang kurasakan Dikelilingi ikan‐ikan Pagang yang indah berwarna‐warni Menyentuh kulit tangan dan kakiku dalam rendaman Teriakan anakku di pinggiran Meminta ikut ke tengah lautan Kusambut keduanya dengan keceriaan Bertiga berdiri sampai sebatas pinggang Tertawa bahagia melihat ikan Pagang kembali datang Si kecil menangkap cepat ikan yang mendekat Namun ikan Pagang lebih gesit dari ayunan tangan si kecil Gelak tawa dan jeritan Menggemaskan tak terelakkan… Berangsur kami naik kedaratan Terlihat kulit mulai menghitam Tanpa peduli perawatan Yang sudah dilakukan berbulan‐bulan 20 | Safridah
Hanya demi kau si Pagang Mencoba sensasi lain di lautan Dengan menyewa permainan Diayun‐ayun di tengah lautan Jeritan anak‐anakku bersahutan menghiasai ayunan gelombang Di atas permainan Disambut sahutan Pengunjung tetangga Pulau Pagang dari seberang Sampai akhirnya dihempaskan ke tepian Berasa terhempas di tengah lautan Karena bantuan pelampung di badan Ternyata badan sudah di tepian Di Pulau Pagang berbaring di tepian Pasir putih menyentuh badan karena ayunan ombak yang bersahutan Menantang matahari yang mulai di atas kepala Sensasi hebat yang kurasakan Sentuhan pasir halus dan derai ombak menghampiri tubuh yang berbaring di tepian Sampai akhirnya bosan Memutuskan untuk kembali ke daratan Kapal nelayan meninggalkan Pagang Good bye Pagang Island Untaian Kata di Akhir Tahun | 21
Menuju daratan angin bertiup kencang Gemuruh ombak Mengayun‐ayun kapal nelayan Seakan terbalik di tengah lautan Namun terlihat abang nelayan tidak ketakutan Kami yang duduk dengan diam Merasa dingin karena angin semakin kencang dan kencang Kulihat anakku menggigil ketakukan Dalam pelukan adikku tersayang Ingin bertanya kepada abang nelayan Kenapa pelampung tidak dikenakan Namun menahan ketakutan Sehingga tak terucapkan permintaan Ombak kembali mengayun kapal nelayan Hampir membalik kapal penumpang Tak terbayangkan Kalau semua tercebur ke lautan Hanya itu yang ada dalam ingatan Selama 2 jam perjalanan Menuju daratan dengan kencang Tetap berjalan menuju ke tepian Ciut hati meraja diombang‐ambing air lautan Diiringi deru ombak bersahutan dan semakin garang Ditemani angin menderu semakin kencang Percikan air laut melekat di badan 22 | Safridah
Hampir membasahi seluruh badan selama 2 jam Tak terkatakan ingin cepat di daratan Oh Tuhan … Selamatkan sampai tujuan. Terinspirasi ketika perjalanan liburan di Pulau Pagang 31 Desember 2017 Untaian Kata di Akhir Tahun | 23
Tak Semua Hatinya Sama Angin dan hujan sudah memberi tanda Di beberapa minggu sebelumnya Namun karena belum ada kata yang singgah Tak kupedulikan apa yang akan menimpa Suasana hati terasa tak berjiwa Jika yang terjadi dikarenakan pengkhianatan Akan kubalas dalam mendendam Namun malaikat penjaga selalu berkata Jangan… Dan membelokkannya arah ke kanan Entah apa sebabnya Mereka berubah tak seperti yang kuharapkan Dari sindiran perkataan Yang tak pernah sebelumnya ada Atau ini hanya perasaan saja Tapi rasa lebih cenderung kepada logika Lewat sikap yang tidak bersahabat Kurasakan mereka menusukku dari belakang Seperti yang dikatakan orang Namun tak pernah kupercaya perkataan Tak usah berlebihan Itu yang selalu kukatakan 24 | Safridah
Untuk meredam hasutan Entah kenapa kuikuti sarannya Tak menyadari dirinya sama saja dengan mereka Di depan bak es doger Manisnya semanis hasutannya Di dalam tak dapat menebaknya Apa sebenarnya yang diinginkannya Apakah hasutan benar dari hatinya Atau murni menyarankan demi kebaikan Atau bermaksud menenggelamkan Tenggelam selama‐lamanya Dan muncul dalam keadaan koma Ah… sudahlah Rupanya pimpinan memberi penilaian Beberapa hari kemudian Penilaian yang tidak pernah kuharapkan Dikarenakan Terlanjur mengikuti saran Terlanjur tak mengolah kata Terlanjur bersikap garang Terlanjur memola rasa Yang tak seharusnya dipelihara Bahwa hati tidaklah sama dengan pemiliknya Untaian Kata di Akhir Tahun | 25
Kuturuni tangga dengan sebuah putusan Dengan setengah keikhlasan Kurangkai pikiran Pasti ada skenario lain Di balik cerita nyata yang kualami ini Terinspirasi ketika beberapa menit mendengar hasil putusan sang pimpinan, 31 Mei 2018 26 | Safridah
Di Balik Skenario itu Kucoba ‘ntuk bahagia Menjalani kehidupan nyata di madrasah Rupanya inilah rasanya Karena terlalu lama berkiprah Setelah jatuh dunia rasa tak ada dan rata oleh tanah Namun malaikat penjagaku Selalu menjadi topanganku ketika goyah Ia bertutur kata bahwa aku akan tetap berguna “Dan yakinlah gunamu lebih besar Dari apa yang engkau terima sekarang” Dan benar saja Beberapa bulan sesudahnya Kuterima berita Bahwa aku lulus fasda (fasilitator daerah) Untuk mulai berkiprah Kan kutunjukkan Kepada mereka Bahwa aku selalu berguna walau tidak di sana Tapi di sini Untaian Kata di Akhir Tahun | 27
Di antara rasa mampu dan tak mampu Kembali malaikat penjagaku berkata, “Kemampuan dan kepercayaan dirimu Harus berjalan beriringan Seperti iringan semut di dekat kakimu itu Bangunlah kepercayaan diri Yang luntur akibat kecewa” Kuikuti sarannya ‘Ntuk mulai berkiprah kembali Dalam dunia edukasiku Terinspirasi ketika menerima hasil seleksi Fasda Program Pintar, 14 Agustus 2018 28 | Safridah
Happy Teacher’s Day Kubaca statusmu Atikah Tentang memaknai hari ulang tahun kita Selalu hal sama Dari tahun ke tahun Hanya spanduk dan karangan bunga Yang selalu menghiasi “Hari H” Kemudian melakukan upacara Bertemakan hari guru yang ke sekian kalinya Setelah itu Bersama‐sama mengelilingi tumpeng Yang disediakan panitia Bergantian memotongnya Mulai dari kepala madrasah Dilanjutkan wakil kepala dan dihabiskan oleh semua anggota Setelah makan bersama di aula Bertukar kado anggaran sekian rupiah Dan selfie HUT guru muncul di mana‐mana Dengan pose bahagia menunjukkan wajah Di setiap sudut meja dipenuhi bunga Berwarna‐warni dari sang siswa Dilanjutkan dengan bermacam‐macam lomba Memang ini romantika bahagia Untaian Kata di Akhir Tahun | 29
Setiap guru di madrasah Tradisi ini hampir sama di penjuru Indonesia Atau aku salah Karena tidak membaca berita Kurang bermakna Itu kata Atikah Dalam hatiku setuju saja Namun tak bisa berbuat hal yang tak biasanya Sehingga akupun menikmati “Hari H” Menurut Atikah Hari guru diisi dengan hal bermakna Contohnya menunjukkan karya yang tidak biasa Atau mengadakan lomba yang menginovasi Dan memotivasi dengan edukasi itu sendiri Kegiatan yang mengembangkan kompetensi Para cikgu mulia Aku setuju sekali Tentang pendapat si Atikah Karena ia memang luar biasa Karena pemikirannya jauh beberapa langkah Akan kucoba sepertinya Tapi tidak di “Hari H” ini Insyaallah di “Hari H” tahun mendatang Happy Teacher’s Day Madrasahku memperingati hari guru, 26 November 2018 30 | Safridah
Kunjungan Bapak Negeri Kulewati jalan ini Jalan yang setiap hari Menjadi penyambung langkah Langkah pasti Tapi apakah bapak negeri yang ditunggu pasti Hari ini … Di depan Sudirman Square Katanya macet Bapak negeri akan ditemui Terlihat beberapa simpatisan partai Menunggu Bapak Negeri Apakah yang ditunggu Bakal bapak negeri di NKRI Jalanpun mulai ramai dilalui Kendaraan berbagai macam bodi Plat berwarna putih kuning dan hitam Memadati jalanan yang menjadi tempat turunnya Bapak Negeri Banyak polisi berseragam … gagah dan berani Ditambah satpol PP yang tak kalah jumlahnya dari polisi Simpatisan mulai bernyanyi Menyanyikan lagu kebanggaan untuk Bapak Negeri Telihat rombongan berseragam merah Untaian Kata di Akhir Tahun | 31
Menandakan pendukung nomor 1 Ahh… Itu kan pendukung Bapak Negeri Terlintas di pikiran partai PDI Yang identik dengan merah menyala Di sisi jalan lain terlihat simptisan lainnya Rupanya bukan pro Bapak Negeri Hari ini bukan hanya Bapak Negeri Yang ditunggu rakyat NKRI Partai pendukung rival simpatisan Bapak Negeri Juga menggelorakan gelanggang pertemuan Simpatisan merapatkan barisan menyambut Menunggu kedatangan pimpinan Namun … Lewati jalan ini pulang dan pergi Tak bertemu siapa yang dinanti Waktunya terlewati… Terinspirasi ketika Presiden Jokowi datang ke Pekanbaru, 15 Desember 2018 32 | Safridah
Apakah ini Karmaku Pedih …dan sakit… Inilah rasanya ibu … Itu dulu belasan tahun yang lalu Ketika pubertas menghampiri diriku saat itu Persis aku seperti putriku kini Melukai hati seorang ibu Kini terjadi padaku… Putriku … Menolak yang tak berpihak padanya … Yang baginya memusingkan kepala Pikirku… Inilah karma untukku Namun hati berontak menolak karma Ini bukan karma tapi adalah hikmah Kuganti kata yang lebih bermakna dan bisa diterima Luar biasa tantangan batin yang harus bertahan Menghadapi keegoan memuncak Tidak memandang kepada siapa ia bicara Ingat Nak… Aku ibumu… Engkau putriku… Kau milikku… Untaian Kata di Akhir Tahun | 33
Tak biar milikku dengan keangkuhan menentangku Tak kubiarkan kesombongan menguasaimu Protes yang kau teriakkan Selalu muncul menoreh hati ibumu Hanya air mata yang jatuh Ketika sadar akan sabar menghadapimu Menahan protes tak berujung Memberi nasehat tak berpangkal Harap jauh kau tetap milikku … Yang ada dalam hidup ibumu Inilah rupanya rasa hati seorang ibu Yang pernah kusakiti dulu Kini rasa itu Bermuara di jantungku Penuh lika‐liku mendamba mutiara yang indah Namun sulit membentuknya Menjadi mutiara sesungguhnya Curhat menghadapi putri sulungku di Pertengahan Desember 2018 34 | Safridah
Sepanjang Jalan Sepanjang jalan … Terlihat jejeran kendaraan pemakai jalan Yang singgah memarkirkan kendaraan Menepi di sisi parit yang dalam Dengan kail di tangan Jejeran pemakai jalan Tanpa peduli … Memperhatikan kail yang sudah dilemparkan Kedalam parit yang dalam Di sisi jalan Ibu‐ibu menjajakan ikan hasil tangkapan Pemakai jalan… Mencari kesempatan dalam macetnya arus Mencari ikan untuk dimakan Atau hanya sekadar melihat hasil tangkapan Sepanjang jalan Terlihat limpahan air menuju jalan Tak menghentikan keinginan pengguna jalan Turut memeriahkan suasana tak biasa di sepanjang jalan Sore itu … Irama klakson kendaraan mengeluarkan alunan nada yang beriringan Untaian Kata di Akhir Tahun | 35
Dihiasi beriakan derasnya air limpahan di jalan Anak‐anak kecil pun tak menghilangkan kesempatan Menikmati air limpahan Serasa di kali yang jernih dan dangkal Senyum ceria anak‐anak dan orang tua Menambah indahnya beriakan air di jalan Sementara mobil‐mobil sengaja berhenti dalam aliran Tak ingin kalah untuk dimandikan sang pemiliknya Banjir … itulah gambaran banjir di daerah pinggiran Yang terlihat gambar kebahagiaan Bukan kepanikan Banjir membawa berkah Bagi pengguna jalan dan penjaja ikan. Terinspirasi ketika banjir melanda daerah pinggiran pada Desember 2018 36 | Safridah
Mengapa di 22 Desember Hari ini … 22 Desember di Balai Serindit Kesekian kalinya kuperingati harimu, Ibu… Dengan memaknai dan mendalami Mengapa di tanggal ini Kenapa bukan di tanggal lainnya dalam kalender Kudengar sejarahnya Dari pidato ibu gubernur di podium utama Awalnya sebuah kongres Gerakan wanita Indonesia Terkenal sebutan nama KOWANI Eksistensi sudah dimulai sejak tahun 1912 Terinspirasi dari gerakan pejuang wanita Indonesia Menyatukan 30 organisai perempuan Dari 12 kota di Pulau Jawa dan Sumatra Di Jogyakarta di tahun 1928 Menyatukan pikiran semangat juang Memperbaiki nasib kaum perempuan Indonesia Dari berbagai aspek pembangunan bangsa Sebut saja satu namanya Kartini… Yang begitu mendunia lantunannya Tertular dari semangat Sumpah Pemuda Untaian Kata di Akhir Tahun | 37
Perempuan menggelora di abad 19 Tak mau kalah Dalam upaya memperbaiki kualitas bangsa Hari ini… Yang hadir di Balai Serindit Adalah penerus geloramu sang Kartini Penyambung jiwamu yang berada di alam sana Memberikan kado istimewa Kepada seluruh ibu di nusantara Atas dedikasi mendidik putra‐putri bangsa Apalah arti sebuah negara Tanpa seorang ibu sebagai penopang kokoh tegaknya Apalah arti sebuah negara Tanpa belaian kasih sayang Untuk jiwa‐jiwa muda penerus bangsa Yang akan menjadikan negara Tetap kuat dan berjaya Apalah arti sebuah negara Tanpa doa ibu yang selalu meminta ijabah Agar negara tetap terjaga Dari tangan anak‐anak yang dilahirkannya Untukmu negara 38 | Safridah
Hari ini Yang hadir di Balai Serindit Menjaga bakaran semangatmu Kartini Agar tetap menggelora dan membahana Di seluruh pelosok nusantara Mengucapkan dengan penuh rasa Happy Mother’s Day … Balai Serindit, 19 Desember 2018 Untaian Kata di Akhir Tahun | 39
Hamparan Hijau di Bunga Raya Hamparan hijau padi Membentang di pandangan mata… Memberi nuansa segar dan kemudaan jiwa Memberi rasa berpikir muda Menjadikan raga serasa bahagia Hamparan padi yang sedang berbuah … Dalam dahan dan tangkai yang sama Memberi makna kau berguna Dalam menikmati umur yang sudah tidak muda Jadikan engkau raga Melahirkan manuasia‐manusia muda mengalami masa yang sama dengan yang kau rasa Nantinya kan tetap menjaga hamparan anugerah yang indah Hamparan padi yang tak terhingga… Ibarat lautan yang tak ada tepinya Dengan warna yang sama di alun angin semilir Diiringi nyanyian indah kicauan burung‐burung pemangsa Seperti karpet hijau yang terbentang rata … rata 40 | Safridah
Seperti karpet yang lembut empuk duduk di sana… Bercengkerama dengan teman‐teman sebaya yang sudah tidak muda Mengulang hal‐hal indah dan pahit yang pernah ada Seindah rasa dan raga di tengah sawah Sepahit usaha untuk membangun sebuah hamparan hijau bumi ini Hamparan padi penggugah rasa … Menambah rasa syukur kepada Pencipta Yang memberi sedikit saja Ornamen pada kepingan bumi ciptaan‐Nya Sudah membuat manusia Terperdaya atas nikmat tak terhingga Bumi yang dihiasi oleh kemudaan, kesegaran, dan keindahan Yang dinikmati oleh semua dan siapa saja yang singgah Memberi arti bahwa anugerah harus tetap terjaga Sepanjang bumi masih ada Dan berputar semestinya dalam poros. Terinpirasi dalam perjalanan mengunjungi kesayangan di Polsek Bunga Raya 22 Desember 2018 jam 4 sore Untaian Kata di Akhir Tahun | 41
Sertifikat Juara Dua Hari ini Kubaca WA Dari Kakanda Maria “Hei Kamu Di mana Kenapa tak bersuara Namamu ada dalam daftar menerima Sertifikat juara Tak tahu juara berapa” Setengah tak percaya Kujawab, “Masa iya?” Kutanya sekali lagi, “Apa benar iya?” Kubaca kembali List daftar namanya Ternyata memang iya Dengan bahagia Aku sirami sekujur tubuh Dengan air mengalir dari shower Bersiap untuk tiba Di kantor Kementerian Agama Kota Mengambil sertifikat juara dua 42 | Safridah
Search