Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Mata Kuliah Kepemimpinan

Mata Kuliah Kepemimpinan

Published by gulf201074, 2019-05-12 15:52:23

Description: Mata Kuliah Kepemimpinan

Search

Read the Text Version

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 STT REAL BATAM Mata Kuliah : Kepemimpinan Kristen/ Kepemimpinan Rohani Bobot : 2 SKS Dosen Pengampu : Joni M P Gultom. I. Pengertian dan Lingkup Studi Kepemimpinan Setiap mahasiswa perlu memahami bahwa kepemimpinan adalah gejala universal yang dapat ditemukan di mana-mana. Kepemimpinan sebagai Ilmu, baru saja berkembang pada Abad ke XIX, tetapi sebagai seni, kepemimpinan telah dipraktekkan untuk waktu yang panjang, dimana dapat dikatakan bahwa sejak adanya manusia yang hidup sebagai suatu kelompok, sesungguhnya kepemimpinan telah ada. Dalam upaya memahami kepemimpinan, maka ada dua hal awal yang perlu diketahui oleh setiap mahasiswa , yaitu; A. Matra Dasar Kepemimpinan. Kepemimpinan umumnya memiliki matra-matra dasar yang sama, antara lain: a. Kepemimpinan mencakup interaksi individu (pemimpinan dan para bawahan) dan serangkaian variabel dalam situasi serta lokus (lokus sosio-budaya dan kerja) kepemimpinan di mana kepemimpinan diterapkan. b. Kepemimpinan berurusan dengan dinamika sistem, mekanisme, atau masinesasi sosial dan orientasi humanis dalam seluruh hakikat serta aspek kepemimpinan. c. Kepemimpinan berhubungan erat dengan orientasi teoritis dan riset empiris. Di sini kepemimpinan dilihat sebagai suatu ilmu dengan objek penelitian yang dapat diteliti karena adanya sampel yang dapat dievaluasi yang didasarkan atas varitas yang diketahui, dapat diobservasi dan dapat diukur. d. Kepemimpinan juga memiliki orientasi nilai (value orientation) dalam studi kepemimpinan dari segi social-behavioral. Orientasi ini berkaitan erat dengan “hubungan antar orang” yang adalah faktor dasar kepemimpinan yang sangat penting. e. Kepemimpinan secara utuh menyentuh fungsi- fungsi umum kepemimpinan atau manajemen dan administrasi (fungsi khusus) dalam seluruh kerangka kerja, serta semua bagian yang terdapat pada struktur keorganisasian formil. 1

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 f. Kepemimpinan bertalian erat dengan faktor kontekstual-historikal. Faktor mana sangat mempengaruhi pola masyarakat, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, dsb. Faktor-faktor ini sangat kuat mempengaruhi dan mewarnai kerangka serta pola kepemimpinan dalam setiap kepemimpinan. g. Kepemimpinan sangat berkepentingan dengan kerja/pekerjaan dalam segala esensi, sifat, unsur ekonomi, dan lingkungan (lokus) kerjanya. B. Lingkup Studi Kepemimpinan Lingkup studi kepemimpinan dapat dipelajari dengan melihat diagram di bawah ini, yang menjelaskan studi kepemimpinan yang mencakup tiga bidang penting, yaitu, Elemen Dasar Kepemimpnan; Doktrin Dasar Kepemimimpinan; dan Pekerjaan atau Tugas Dasar Kepemimpinan seperti di bawah ini: 2

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Lingkup Studi Kepemimpinan Bagan ini dikembangkan dari karya J. Robert Clinton yang hanya merinci tiga hal pertama, yaitu elemen, perlengkapan dan nilai dasar kepemimpinan dan kemudian dielaborasi dan dimodifikasi oleh Y. Tomatala seperti terlihat dalam diagram ini. Keterangan rinci dapat diperoleh dari buku Kepemimpinan yang Dinamis, karya Dr. Tomatala. 3

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Dalam upaya memahami studi kepemimpinan secara utuh dan lengkap, maka adalah penting bagi setiap pembelajar/ mahasiswa untuk mempelajari arti, lingkup studi kepemimpinan, serta matra-matranya seperti yang diuraikan pada diagram di atas, yang melingkupi: a. Ele men Dasar (Basal Element) Kepemimpinan, yang meliputi: Pemimpin, Orang yang di pimpin atau Bawahan, dan Situasi Kepemimpinan. b. Doktrin Dasar Kepemimpinan yang meliputi: Perlengkapan Dasar Kepemimpinan (Perilaku Pemimpin – leader behavior dan Alat Perlengkapan – resources) dan Nilai- Nilai Dasar Kepemimpinan (Nilai Teologis dan Nilai Filosofis). c. Pekerjaan atau Tugas Dasar Kepemimpinan yang meliputi: Esensi, Sifat, Unsur Ekonomi, dan Lingkungan Kerja Kepemimpinan. Melihat faktor-faktor dan matra-matra kepemimpinan yang pada dasarnya ada dan sama dalam semua kepemimpinan pada umumnya, maka setiap pembelajar dapat mengembangkan diri dengan mempelajari secara cermat matra- matra yang disinggung dalam lingkup studi kepemimpinan ini. Premis atau dalil dasar kepemimpinan Kristen adalah berlandaskan ajaran Alkitab. Secara khusus, premis mengenai pemimpin dalam kepemimpinan meliputi tiga hal penting, yaitu antara lain: 1. Panggilan Sebagai Pemimpin Kristen; Kepemimpinan Kristen didasarkan atas premis utama, yaitu bahwa Allah, oleh kehendak- Nya yang berdaulat, menetapkan serta memilih setiap pribadi dalam lingkup dan konteks pelayanan menjadi pemimpin Kristen. Pemimpin yang dipanggil oleh Allah ini adalah untuk pelayanan memimpin. Premis ini ditegaskan oleh Profesor Dr. J. Robert Clinton yang mengatakan: “Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah d ipanggil Allah sebagai PEMIMPIN yang ditandai oleh adanya: 1. Kapasitas memimpin dan 2. Tanggung jawab pemberian Allah untuk 3. Memimpin suatu kelompok umat Allah (gereja) 4. Mencapai tujuannya bagi, serta melalui kelompok ini” (Clinton 1989:2). 4

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Dari penegasan Profesor Clinton di atas, dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin Kristen ada sebagai pemimpin karena ia dipanggil oleh Allah. Dengan demikian, ia harus memiliki kesadaran diri sebagai pemimpin yang telah terpanggil dan meneguhkan kualifikasi dirinya sebagai pemimpin. Sikap ini perlu dipertegas dengan memperhatikan bahwa seorang pemimpin Kristen adalah seorang individu yang telah ditebus Allah, yang olehnya ia harus yakin bahwa Allah memanggilnya untuk memangku tanggung jawab kepemimpinan. Kebenaran ini pada sisi lain, menegaskan bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya kapasitas teguh untuk memimpin, sehingga ia dapat membuktikan diri sebagai pemimpin sejati (Lihat: Kejadia n 12:1- 3; Keluaran 2-7; dan 18, Roma 12:8, dsb.). 2. Dasar Teologi Kepemimpinan Kristen Dasar teologis-filosofis yang harus dipahami dan harus ada pada seorang pemimpinan Kristen ialah: a. Pemimpin Kristen harus memahami dasar kepemimpinan Kristen bahwa ia terpanggil sebagai – “pelayan-hamba” (Makus 10:42-45). Sebagai pelayan, pemimpin terpanggil kepada tugas yang olehnya ia menjadi pemimpin. Sebagai hamba, ia terpanggil dengan status menghamba kepada TUHAN, yang harus diwujudkan dalam sikap, sifat, kata, dan perbuatan. b. Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar kepemimpinan Kristen yaitu; Satu: “membina hubungan” dengan orang yang dipimpinnya dan orang lain pada umumnya (Markus 3:13-19; Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16). Dalam kaitan ini, perlulah disadari bahwa kadar hubunganlah yang menentukan keberhasilan seseorang sebagai pemimpin. Dua: “mengutamakan pengabdian” (Lukas 17:7- 10). Mengutamakan pengabdian menekankan bahwa “kerja” adalah fokus, prioritas, sikap serta tekanan utama, sehingga ia akan mengabdikan diri untuk melakonkan tugas kepemimpinan dengan sungguh-sungguh. c. Pemimpin Kristen harus memahami proses kepemimpinan serta ketrampilan memimpin, antara lain:  Ia harus mengetahui tujuan (tujuan Allah, tujuan organisasi, tujuan operasi kerja) dari institusi/organisasi yang dipimpinnya.  Ia perlu mengenal tanggung jawab serta tugas yang dipercayakan kepadanya. 5

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798  Ia harus memahami dan mengenal fungsi pengelolaan kerja (manajemen) – (Lukas 14:28-30).  Ia harus berupaya mengenal setiap orang yang dipimpinnya untuk mempermudah penggalangan serta pembinaan hubungan antara pemimpin- bawahan, sebagai dasar untuk melaksanakan kinerja kepemimpinan yang berkualitas. Kondisi hubungan baik antara pemimpin dengan para bawahan sangat menentukan pelaksanaan kerja yang dapat dilakukan dengan baik pula.  Ia harus mengerti dengan baik bagaimana caranya menciptakan hubungan, kondisi yang kondusif, serta pemenuhan kebutuhan dari bawahannya dalam upaya memperlancar upaya dan kinerja kepemimpinan. 3. Dasar Etika-Moral Kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Kristen memiliki dasar etika- moral yang Alkitabiah. Dalam kepemimpinan Kristen, presuposisi dasar etika- moral dilandaskan atas fakta dan dinamika “inkarnasi” Yesus Kristus (Yohanes 1:1-14, 18; Filipi 2:1-11). Konsep inkarnasi dalam kepemimpinan Kristen yang dibangun di atas fakta “inkarnasi Yesus Kristus” yang memiliki sisi kebenaran berikut: a. Dasar perilaku etika-moral kepemimpinan Kristen adalah pribadi Yesus Kristus, termasuk: kehidupan, karya, ajaran dan perilaku-Nya, di mana seluruh kerangka kepemimpinan Kristen dibangun di atas dasar ini (I Yohanes 2:6). b. Orientasi dan pendekatan etika-moral kepemimpinan Kristen bersifat partisipatif yang berlaku dalam penerapan kepemimpinan Kristen pada segala bidang hidup (Lukas 4:18-19). c. Dinamika etika- moral kepemimpinan Kristen terwujud oleh adanya transformasi hidup (individu/masyarakat) yang dibuktikan dengan pertobatan/ pembaharuan/pemulihan hidup dan semangat kerja (individu/korporasi; banding: Roma 12:1-2, 8, 9-21). d. Perwujudan dasar etik- moral kepemimpinan Kristen di atas haruslah dinyatakan dalam sikap hati, kata dan perbuatan serta bakti setiap pemimpin Kristen secara nyata dalam bidang hidup berikut:  Pemimpin Kristen harus membuktikan diri sebagai pemimpin bertanggung 6

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 jawab (Ibrani 13:17).  Pemimpin Kristen harus menemukan diri sebagai pemimpin yang bertumbuh (Kolose 2:6-7; 3:5-17).  Pemimpin Kristen harus menjadi pemimpin model dalam keteladanan hidup dan kinerja (Ibrani 13:7-8).  Pemimpin Kristen harus memiliki: motivasi dasar Pelayan-Hamba (Markus 10:42-45), yang senantiasa menyadari akan status dan perannya sebagai pemimpin. Motivasi dasar seseorang pemimpin seperti ini akan sangat menentukan sikap, perilaku, kata dan tindakan dari orang tersebut, baik terhadap diri, orang lain maupun pekerjaan. Karena itu, seorang pemimpin Kristen perlu memastikan apakah ia memiliki dasar etika- moral, orientasi dan motivasi yang sesuai dengan Firman Allah. RANGKUMAN Perlu dipertegas, bahwa pada dasarnya kepemimpinan Kristen memiliki faktor- faktor dan matra- matra dasar kepemimpinan yang sama dengan kepemimpinan umum lainnya. Pada sisi lain kenyataan yang membedakan antara Kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan lainnya ialah hakikat, dinamika, serta falsafah yang didasarkan pada Alkitab. Sebagai contoh, premis utama kepemimpinan Kristen ialah bahwa Allah yang berdaulat oleh kehendak-Nya yang kekal, telah menetapkan serta memilih setiap pemimpin Kristen kepada pelayanan memimpin. J. Robert Clinton mengatakan, “Allah memilih bagi dirinya seorang pemimpin, dan Allah mengembangkan pemimpin tersebut sepanjang kehidupannya.” Itulah sebabnya tatkala mendefinisikan tentang siapa pemimpin Kristen itu, Clinton menjelaskan: “Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai PEMIMPIN yang ditandai oleh: 1. Kapasitas memimpin 2. Tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin 3. Memimpin suatu kelompok umat Allah (Gereja) 4. Mencapai TUJUANNYA (bagi serta) melalui kelompok ini” 7

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Premis utama ini menyinggung hakikat kepemimpinan Kristen – bahwa Allah adalah segala-galanya bagi kepemimpinan Kristen, dimana Ia- lah yang mengawali, menopang, dan menghasilkan dalam seluruh proses kepemimpinan. Hal ini senada dengan pernyataan David Hocking yang mengatakan, “Tanpa bantuan Allah, tidak seorang pun di antara kita dapat mengharap menjadi apa yang Allah gambarkan sebagai seorang pemimpin rohani.” Melihat premis di atas, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan Kristen adalah “God Centered Leadership” dengan pemimpin sebagai God centered leader – di mana Allah adalah segala- galanya bagi pemimpin dan kepemimpinan itu. Indikator penting bahwa seseorang dipanggil Allah kepada tugas kepemimpinan ialah bahwa ia memiliki kapasitas lengkap sebagai pemimpin, dan ada tanggungjawab yang diuntukkan baginya guna menjalankan upaya memimpin. Pada pihak lain kepemimpinan Kristen meletakkan kedudukan pemimpin Kristen secara proposional, di mana “pemimpin Kristen adalah pemimpin yang berkarakter tinggi, berpengetahuan komprehensif dan khas lebih, serta berkecakapan sosial dan teknis yang andal. Pemimpin Kristen seperti ini akan terbukti sebagai pemimpin dengan ciri-ciri “efektivitas tinggi, efisiensi tinggi, dan hubungan sehat yang tinggi” – sehingga dapat mewujudkan kinerja optimal dengan produk unggul dalam kepemimpinan yang diembannya. Ciri-ciri di atas akan selalu terlihat dengan adanya kisi-kisi berikut: 1. Pemimpin mengabdi dengan komitmen yang tinggi kepada Allah, kepada organisasi (gereja) dan kepada tugas (misi Allah). 2. Pemimpin memiliki dan mempertahankan nilai efektivitas tinggi yang ditandai oleh sifat dan sikap pemimpin dengan gaya kepemimpinan berikut: a. Ia adalah pemimpin teladan-bertanggung jawab. b. Ia adalah pemimpin inspirator-komunikator. c. Ia adalah pemimpin pemersatu-dengan kerja sama yang tinggi. d. Ia adalah pemimpin pekerja-motivator ulung. e. Ia adalah pemimpin berwibawa-otokrator bijak. f. Ia adalah pemimpin strategos-terfokus yang selalu tepat arah dan pencapaian. g. Ia adalah pemimpin peduli-terpadu yang memiliki kepedulian tinggi atas kesejahteraan semua pihak dalam kepemimpinannya. 8

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Ciri khas pemimpin Kristen seperti inilah yang menempatkan kepemimpinan Kristen sebagai unik, dengan hakikat, dinamika, serta falsafah penuntunnya yang khas. Hal mana akan mewarnai “leader behavior, leadership style, dan leadership performance” – yang membawa “summum bonum” (kebaikan tertinggi) bagi diri (sebagai pemimpin), bawahan (orang yang dipimpin), organisasi dan masyarakat (lingkungan) di mana kepemimpinannya diaktualisasikan secara optimal. 9

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 II. Konsep Dasar Kepemimpinan Dalam tulisan ini pemahaman Kepemimpinan Kristen identik dengan Kepemimpinan Rohani. Patut diakui bila pengertiannya bisa saja tidak sama. Kepemimpinan Kristen bisa saja berbicara tentang Kepemimpinan dalam kumpulan orang-orang Kristen, atau Kepemimpinan dari orang Kristen, yang belum tentu menggambarkan suatu petunjuk yang rohani, namun tesis ini memahami secara ideal kalau pemimpin rohani adala h pemimpin Kristen dan pemimpin Kristen haruslah berarti pemimpin yang rohani. Bila ada ketidaksejajaran dalam praktek nya, hal itu tidak merusak definisi tetapi lebih dikatakan sebagai anomali yang perlu mendapat perbaikan. Kepemimpinan Kristen yang dipahami pula sebagai kepemimpinan rohani tidak hanya menunjuk pada pribadi seorang pemimpin yang beragama Kristen dan atau berada dalam lingkungan orang-orang Kristen tetapi memuat sarat nilai- nilai kerohanian Alkitabiah baik secara idealis maupun pragmatis. Secara idealis menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani itu memiliki prinsip-prinsip filosofis yang esensial dan dalam tataran pragmatis kepemimpinan itu diwujudkan dalam terang prinsip-prinsip filosofis yang bernuansa etis teologis. 1. Definisi Banyak definisi tentang pemimpin dan kepemimpinan dengan berbagai fokus dan penekanan. Berikut ini kita akan menelusuri beberapa definisi yang terkait dengan kepemimpinan dan aspek- aspek yang terkait dengan pokok tersebut. Kepemimpinan oleh A. J. Lindgreen didefinisikan sebagai: “Leadership is the process of influencing the actions and behaviour of persons and/or organization through complex interactions toward goal achievment.” Definisi singkat yang padat ini memuat beberapa aspek:  Kepemimpinan itu adalah proses, ia membutuhkan jangka waktu tertentu dan melalui tahapan tertentu.  Kepemimpinan itu memiliki kuasa untuk mempengaruhi.  Pengaruh kepemimpinan terarah pada tindakan dan sikap pribadi-pribadi dan atau organisasi. 10

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798  Pengaruh kepemimpinan melewati medium pengaruh timbal balik yang saling mempengaruhi antara yang memimpin dengan yang dipimpin.  Interaksi yang terjadi kemungkinan akan terasa begitu kompleks mengingat kepemimpinan menyangkut banyak komponen.  Kepemimpinan memiliki tujuan, arah, dan target. Berdasarkan uraian dari definisi Lindgreen maka telah sedikit tersingkap bila kepemimpinan bukan pekerjaan atau pokok pembicaraan yang mudah dan sederhana. Namun hal itu tidak berarti kalau kepemimpinan itu sendiri tidak dapat dikerjakan atau dipraktekkan oleh manusia. H. Siagian melihat kepemimpinan itu sebagai suatu cara atau teknik pimpinan atau manajer untuk mengarahkan dan menyuruh orang lain mau mengerjakan apa yang ditugaskan. Dalam pandangan Siagian kepemimpinan bukan lagi sebuah filosofis, teori, atau prinsip belaka tetapi lebih pada sebuah praxis. Kepemimpinan tanpa teknik maka ia hanyalah sebuah pemikiran. Dengan kata lain kepemimpinan bukan juga semata- mata menjalankan sebuah roda kepemimpinan tetapi ia memiliki tekniknya tersendiri yang mempertimbangkan faktor-faktor interdispliner. Lindgreen sendiri selain menentukan batas-batas definitif untuk kepemimpinan, ia juga menggambarkan luasnya kepemimpinan yang tidak hanya menyangkut diri pemimpin itu sendiri tetapi juga menyangkut orang yang dipimpin dalam upaya mencapai tujuan: “Leadership does not reside in the person of the leader alone. It involves accomplishing goals through persons. Leaders cannot function without the involvement of members.” Kemudian Lindgreen sendiri menyatakan bahwa tujuan dari kepemimpinan adalah mempengaruhi tingkah laku dan tindakan orang dan atau organisasi. Dari definisi Lindgreen semula maka tampaklah bila tujuan kepemimpinan itu memiliki dwi arah yakni: tujuan yang terkandung dalam sebuah kepemimpinan yakni bisa mempengaruhi orang lain atau organisasi dan tujuan yang dicapai bila seseorang atau organisasi sudah dapat dipengaruhi. Kepemimpinan adalah hal yang tidak mudah dikerjakan tetapi tidak pula dapat dihindari. Sehubungan dengan tidak mudahnya kepemimpinan dan tidak dapat dihindarinya kepemimpinan maka Eka Darmaputera menulis: 11

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Kepemimpinan yang baik merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan, kestabilan, dan kemajuan kelompok apa pun, tanpa kepemimpinan yang baik, kelompok apa pun di dunia ini akan rentan konflik serta rawan perpecahan, dan oleh sebab itu sulit bertumbuh atau berkembang. Kalaupun bergerak, geraknya pun sekadar maju- mundur, ke sana kemari, dan tanpa arah .,, Disamping vital, kepemimpinan adalah kenyataan yang tak terelakan bagi semua orang. Di mana ada kehidupan bersama, di mana pun di muka bumi ini orang cuma punya dua pilihan: dipimpin atau memimpin. Selanjutnya Eka memaparkan: Kepemimpinan dalam suatu kehidupan bersama memang tak terhindarkan. Ini sesuatu yang lumrah dan alamiah. Namun, kepemimpinan itu harus mengacu kepada mandat atau penugasan Allah, Sang Pemimpin satu-satunya: untuk mengembangkan kemungkinan saling menolong serta kesepadanan, kesetarafan atau kesetaraan ... mandat kepemimpinan yang diberikan oleh Allah kepada manusia bersumber pada kesegambaran antara manusia dengan Allah ... kepemimpinan manusia haruslah mencerminkan kepemimpinan Allah. Kepemimpinan yang menghidupkan dan menghidupi, bukan menindas. Kepemimpinan yang adil, bukan sewenang-wenang. Kepemimpinan yang kudus, tidak dikotori oleh hawa nafsu “kehendak berkuasa” (will to power) yang destruktif. Rupanya Eka menyadari benar bila kepemimp inan merupakan salah satu aspek Imago Dei dalam diri manusia. Allah adalah pemimpin yang memberikan mandat kepada manusia untuk memimpin (baca: berkuasa) semesta. Manusia tak hanya menerima mandat untuk memimpin tetapi juga dalam kepemimpinannya mencerminkan kepemimpinan Allah. Eka juga menegaskan bahwa kepemimpinan adalah natur ilahi dalam insani yang tak terhindarkan dari sebuah kesegambaran. Namun kesegambaran yang mendukung hadirnya kepemimpinan tidak serta merta tidak dapat terkontaminasi, faktanya sekalipun kepemimpinan adalah natur Imago Dei ia masih bisa diselewengkan dengan adanya “kehendak berkuasa” yang pada gilirannya tak lagi mencerminkan mandat dan kesegambaran itu. Selain karakteristik pengikut rupanya yang mempengaruhi keefektifan kepemimpina n adalah karakteristik dari pemimpin itu sendiri, karakteristik organisasi atau kelompok yang dipimpinnya, dan kondisi lingkungan tempat ia memimpin dalam berbagai faktornya. Namun tanpa menyepelekan 3 (tiga) faktor lainnya maka dalam penelitian ini fokus yang begitu disorot 12

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 adalah pada karakter pemimpin itu sendiri. Pertimbangannya adalah bahwa sekalipun ketiga komponen lain selain pemimpin itu sendiri turut menentukan tetapi faktor kunci adalah pemimpin itu sendiri. Pemimpinlah yang menentukan maju mundur nya sebuah perjalanan kelompok atau organisasi. Ada 3 (tiga) unsur penting menurut Sugiyanyo Wiryoputro dalam kepemimpinan: 1. Adanya orang lain yang bersedia mengikuti perintah 2. Adanya pengaruh pemimpin kepada orang lain yang selanjutnya menjadi pengikut 3. Adanya kuasa atau wewenang pemimpin kepada bawahan. Dalam pokok yang ketiga kuasa atau wewenang yang dimaksud adalah: 1. Kuasa memberikan balas jasa terhadap apa yang dihasilkan bawahan 2. Kuasa memaksa atau kuasa memberikan dukungan 3. Kuasa formal berdasarkan aturan atau hukum 4. Kuasa agar orang meniru pola perilaku atau kuasa panutan 5. Kuasa berdasarkan pengetahuan atau keahlian. Kepemimpinan tanpa kuasa atau wewenang tidak akan berjalan, atau bila berjalan pun itu dijalankan dengan memakai kuasa mempengaruhi orang lain secara tidak wajar. Kuasa atau wewenang tumbuh karena orang yang memimpin memiliki unsur-unsur yang dapat mengantar seseorang memperolehnya. Kuasa dapat didapat karena kesepakatan, karena kelebihan, karena kharisma, dll. 2. Kepemimpinan Rohani Pertama-tama persoalan muncul adalah dari perkataan Yesus sendiri dalam Matius 23:10: “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias ” Pengertian yang muncul setelah membaca nas ini adalah tidak mungkin ada pemimpin di dalam kekristenan. Namun di atas telah dibicarakan bahwa pemimpin dan kepemimpinan merupakan sesuatu yang tak dapat ditolak atau dielakkan. Ayat di atas rupanya tidak bermaksud untuk melarang esksistensi pemimpin dan kepemimpinan dalam kekristenan. Fakta biblis yang dipakai untuk mendukung pandangan ini adalah dengan memperhatikan I Tesalonika 5:12: 13

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 “Kami meminta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu.” Paulus ternyata secara tersirat mengatakan ada pemimpin dalam jemaat. Tetapi jenis kepemimpinan para pemimpin itu ditandai dan dibatasi dengan “memimpin … dalam Tuhan”. Kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan rohani. I Timotius 5:17 Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. Paulus juga secara tersirat menyatakan bahwa para pemimpin-pemimpin tersebut memiliki kegiatan khusus pula yakni berkhotbah dan mengajar. Atau dalam bagian lain Paulus menunjukkan pimpinan sebagai karunia: Roma 12:8 … siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukan dengan rajin; … I Korintus 12:28 Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk … memimpin … Yesus melarang adanya pemimpin dalam konteks banyak pemimpin di jaman itu yang tidak memberi teladan yang benar. Jadi yang dikritik oleh Yesus bukan hakikat atau eksistensi pemimpin dan kepemimpinan tetapi pada karakter pemimpin itu sendiri yang kemudian justru merusakan hakikat dan merendahkan wibawa eksistensi dari kepemimpinan. Ia sendiri akhirnya mengatakan Matius 23:10 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Lukas 22:26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Perkataan Yesus ini di satu sisi memiliki nuansa pemegang otoritas tetapi di sisi lain adalah pemimpin-hamba yang memiliki simplisitas (servant-leader). William D. Lawrence menulis: Christian leadership is different from other kinds of leadership because no Christian leader can assume the position of being “number one,” that is, the leader. This is true because those who 14

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 believe in Christ know there is only one “Number One,” namely, the Lord Jesus Christ. 3. Otoritas Pemimpin Adalah tepat jika memilih Yesus Kristus sebagai model kepemimpinan rohani yang berotoritas. Ia memiliki kekayaan teladan sebagai Gembala yang menggembalakan dan memimpin umat-Nya. Jerry C. Wofford menulis: Lebih dari pemimpin yang lain, Yesus mempunyai otoritas untuk memaksa para pengikut-Nya menaati perintah-Nya. Ia dapat menjalankan pengawasan mutlak, tetapi para murid-Nya mengikuti Yesus karena undangan-Nya. Ketika banyak pengikut-Nya meninggalkan Dia, Yesus menoleh kepada para murid-Nya dan dengan rendah hati bertanya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga” (Yoh 6:67). Bukannya menaklukan Israel, Yesus justru mengasihi dan menderita bagi Israel. Yesus memiliki kekuasaan untuk mendominasi tetapi Ia memilih untuk menghormati kehendak bebas dan pilihan-pilihan orang lain. Sebagai pemegang otoritas Yesus menggunakannya pada saat yang tepat. Tidak seperti kebanyakan pemimpin di jaman sekarang yang menjalankan kepemimpinannya dengan kekuatan otoritas kekuasaan. Otoritas kekuasaan bukan satu-satunya yang dipakai Yesus dalam memimpin murid-Nya. Tidak dipergunakannya tidak berarti Ia lemah, tetapi Ia tahu mene mpatkan pada situasi yang lebih tepat. Lawrence dalam kaitan dengan pokok otoritas mengaitkannya dengan keotentikan: Otoritas tetap dibutuhkan sekalipun seseorang telah menyebut dirinya seorang pemimpin yang melayani. Namun otoritas yang dimilikinya ditunjukkan dengan cara yang berbeda dengan otoritas para pemimpin sekuler. Lawrence merumuskannya sebagai berikut: Otoritas pada tataran praktek dapat menghancurkan atau menciptakan sesuatu. Otoritas yang menghancurkan menuntut adanya pengaruh yang menguasai, menuntut kendali yang menyeluruh, menghancurkan kepercayaan, menghancurkan dialog, dan menghancurkan integritas. Dibutuhkan otoritas yang membaharui memberi hidup, sukacita, dan damai sejahtera. Otoritas yang memperbaharui memulihkan hubungan dan memberik an karunia keutuhan kepada semua orang. Kuasa yang membaharui adalah otoritas rohani, otoritas yang berasal dari Allah. Kasih adalah ciri dari otoritas rohani. Kasih menuntut bahwa otoritas digunakan untuk kebaikan orang lain. Kerendahan hati adalah otoritas yang dikendalikan. 15

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 4. Pemimpin-Hamba Pemimpin- Hamba adalah suatu paradoks dan hadir secara sempurna dalam diri Yesus (Flp 2). Yesus adalah Allah dan Dia sendiri menyebut diri-Nya sebagai seorang Gembala (Yoh 10). Tetapi di sisi lain menyebut diri-Nya sebagai seorang pelayan karena “melayani” (Mark 10:45). Dalam kaitan dengan pembahasan ini Wofford menulis: Yesus adalah model pertama tentang pemimpin yang melayani. Dalam proses pengenalan gagasan tentang kepemimpinan yang melayani dalam Markus 10:42-45, Yesus berkata bahwa Ia datang untuk melayani dan memberikan kehidupan-Nya. Yesus datang sebagai hamba yang menderita yang akan “memikul kejahatan mereka” (Yes 53:11). Di setiap akhir hari yang panjang, kita melihat Yesus yang kelelahan karena memberikan sepenuh hidup-Nya untuk memberi makan bagi yang kelaparan, menyembuhkan yang sakit, dan mengajar domba-domba Israel yang terhilang. Walaupun begitu, pelayanan penting dan utuh yang Ia lakukan semasa hidup-Nya tidak dapat dibandingkan dengan pelayanan-Nya di dalam kematian-Nya. Dalam kematian-Nya sebagai korban di kayu salib. Wofford menegaskan karakter pemimpin- hamba yakni pemimpin yang mengesampingkan minat- minat pribadi mereka demi orang-orang yang dilayani. Teori Kenosis dalam Filipi 2 jelas menggambarkan bagaimana Ia mengorbankan diri-Nya demi keselamatan orang lain. Selanjutnya Wofford menulis tujuh daftar dari kepemimpinan di dalam kerajaan Allah:  Mereka yang akan menjadi pemimpin harus dipersiapkan untuk menderita (Mat 20:22; Mark 10:38).  Mereka memang akan menderita (Mat 20;23; Mark 10:39).  Kepemimpinan di antara orang-orang percaya tidak memakai pendekatan “menguasai” para pengikut maupun menggunakan jenis kekuasaan otoritas yang digunakan oleh pejabat pada masa itu (Mat 20:25-26; Mark 10:42-43; Luk 22:26).  Para pemimpin beriman Kristen harus menjadi hamba bagi mereka (Mat 20:26-27; Mark 10:43; Luk 22:26).  Yesus sendiri adalah model kepemimpinan yang melayani (Mat 20;28; Mark 10:45; Luk 22:27). 16

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798  Kerendahan hati adalah kualitas utama dari karakter pemimpin Kristen (Mark 9:36-37; Luk 22:26). Wofford membuat perbandingan antara pelayan dengan pemimpin yang melayani: Perbandingan Pelayan dan Pemimpin yang Melayani. a. Pelayan  Roh rendah hati  Melayani kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi  Lebih kepada membangun daripada meruntuhkan  Menderita dan berkorban untuk orang lain  Hubungan yang saling memperhatikan b. Pemimpin Yang Melayani  Menyadari dipanggil – Matius 20:23  Mengenal nilai- nilai yang dimiliki dalam kaitannya dengan Allah – Ibrani 11:26  Tidak memegahkan diri, tetap sabar – Yakobus 4:6; Roma 12:3-8; Ef 4:32  Mengetahui bahwa satu-satunya yang perlu adalah sikap merendahkan diri – Yohanes 13:14  Mengutamakan panggilan lebih dari diri sendiri – Kisah 20:24  Tidak gila status – Yakobus 1:9  Melayani orang lain di atas kepentingan pribadi  Nilai-nilai yang kuat untuk melayani orang lain – Roma 12:5-8  Visi terfokus pada pelayanan – Roma 1:9-10  Sikap dan tindakan murah hati – Roma 12:8  Pelayanan sebagai prioritas – Luk 22:26  Melayani kebutuhan yang sesungguhnya, bukan keinginan – Roma 12:13  Lebih kepada membangun daripada meruntuhkan  Memfasilitasi pertumbuhan rohani dan melayani orang lain – Efesus 4:12-16  Menginspirasi dan bukannya mengarahkan – Yohanes 13:15; I Kor 11:1; I Pet 2:21  Para pengikut menyamai sikap dan perilaku pelayanan pemimpin – Yoh 13:15 17

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798  Para pengikut menjadi lebih kuat, lebih bijak, lebih bermoral, dan lebih mampu – Efesus 4:12-16  Para pengikut tidak lagi di bawah perintah tetapi memiliki otonomi di bawah Allah – Matius 20:25-26  Menderita dan Berkorban untuk orang lain  Karisma tumbuh dari kasih yang dimanifestasikan dalam pelayanan dan hormat terhadap mereka yang memimpin – Matius 20:28; Efesus 5:1  Memperhatikan orang lain lebih dari diri sendiri – Filipi 2;4  Menyamai kepemimpinan yang melayani dari Yesus – Marius 20:28  Hubungan yang saling memperhatikan  Mengasihi mereka yang dilayani – Efesus 4:15-16  Membagi hidup, terbuka, saling mendukung – Efesus 5:19-21  Mendengarkan, memahami, berempati, bekerjasama – Yakobus 1:19. Wofford selanjutnya menulis bahwa pelayanan yang dikerjakan oleh pemimpin yang melayani adalah: melayani Allah dan melayani sesama manusia. Dan ciri dari pemimpin yang melayani adalah pengorbanan diri, berbelas kasih, memiliki kesediaan, memberi diri, dan ketekunan. Model dari pelayanan kehambaan adalah Yesus sendiri. Leighton Ford menyebutkan bahwa Yesus itu bukan cuma Tuhan tetapi Ia sendiri adalah contoh bagi kepemimpinan. Ia bukan hanya mengajarkan kepemimpinan tetapi juga menunjukkan caranya. 5. Simplisitas Hamba Simplisitas Hamba jauh dari otoritas gembala mengingat peran dan posisinya yang di bawah. Robert Borrong menyebutkan beberapa ciri yang menujukkan simplisitas hamba: 1. Rendah hati 2. Suka mendengar (dengar-dengaran) 3. Responsif atau taat 4. Berani dan penurut 5. Rela berkorban 6. Jujur 18

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 7. Kesetiaan dan tanggung jawab 8. Tidak ambisius 9. Murah hati (tidak materialistis dan tidak rakus) Kepribadian seorang pemimpin sangat menentukan pelaksanaan tugasnya karena kepribadian itu yang selalu mendapat perhatian bawahan baik diikuti maupun diteladani. Maka berbicara tentang karakter kepemimpinan yang bersahaja berbicara tentang pribadi para pemimpin. Kepemimpinan Kristiani juga sangat menekankan kepribadian sang pemimpin, terutama kehidupan rohaninya. Maka karakter seorang pemimpin Kristen terkait dengan kehidupan rohaninya sebagai pemimpin, yakni memiliki sikap seorang gembala yakni sederhana, penuh perhatian, mengayomi dan selalu siap berkorban untuk orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan Gereja selama ini terlalu mengandalkan pengetahuan dan keterampilan manajerial. Situasi ini harus dirubah. Para pemimpin harus lebih banyak mengandalkan kepribadiannya dan karena itu para pemimpin harus melatih diri untuk menjadi pemimpin yang ideal yang tidak mengandalkan pengetahuan dan keterampilan saja tetapi yang mengandalkan kemurahan dan kebaikan Tuhan di dalam hati, pikiran, dan karyanya. 19

III. Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Pola Pola Kepemimpinan A. Pengertian Pola Pola adalah model, cara kerja, atau system. Kepemimpinan adalah suatu proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan aturan atau sesuai dengan tujuan bersama. Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa. Sedangkan Mastuhu mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu seni memanfaatkan seluruh daya (dana, sarana, dan tenaga) untuk mencapai tujuan. ”Seni” memanfaatkan daya tersebut adalah cara menggerakkan dan mengarahkan unsur pelaku untuk berbuat sesuai dengan kehendak pemimpin dalam rangka mencapai tujuan. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa model kepemimpinan merupakan seni atau proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka mau berusaha mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok. Kepemimpinan telah didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda. Menurut Stoner sebagaimana yang dikutip oleh Hani Handoko dalam buku manajemen. Kepemimpinan tidak didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut: Pertama, kepemimpinan menyangkut orang lain, bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin, para anggota kelompok membantu menentukan status atau kedudukan pemimpin dan membuat proses kepemimpinan dapat berjalan. Kedua, kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara para pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan berbagai kegiatan para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak 20

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung, meskipun dapat juga melalui sejumlah cara secara tidak langsung. Ketiga, selain dapat memberikan pengarahan kepada para bawahan atau pengikut, pemimpin dapat juga mempergunakan pengaruh. Dengan kata lain, para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi dapat juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Menurut beberapa penelitian ada 5 (lima) praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul, yaitu; (1) Pemimpin yang menantang proses, (2) Memberikan inspirasi wawasan bersama, (3) Memungkinkan orang lain dapat bertindak dan berpartisipasi, (4) Mampu menjadi penunjuk jalan, dan (5) Memotivasi bawahan B. Kelenturan Dalam Pola-Pola Kepemimpinan Yang Muncul Banyak yang telah mengamati bahwa biasanya Tuhan membangkitkan gembala- gembala dan pelayan-pelayan di gereja- gereja baru, seperti yang telah dijanjikannya dalam Efesus 4:11-12. Pemula-pemula gereja baru (Perintis-perintis jemaah) harus melihat siapa pemimpin-pemimpinnya dan bekerja sama dengan Roh Kudus dalam mengukuhkan dan melatih pemimpin-pemimpin itu. Pendeta-pendeta dan pemula-pemula gereja yang mengikuti pola-pola tradisional yang kaku yang mengacu pada arahan-arahan dalam kitab Perjanjian Baru biasanya mendapatkan hasil yang tidak bagus. Pemula-pemula gereja seperti itu seringkali mengikuti aturan-aturan kuno secara otomatis, karena tidak mengetahui adanya pilihan lain. Secara umum cara memperbaikinya adalah dengan mengikuti arahan-arahan dalam kitab Perjanjian Baru yang lebih bebas mengenai kepemimpinan, yang menghindari pola-pola umum yang merusak. Daftar pola-pola umum yang merusak, juga dapat menawarkan perbaikan. 1. Ijinkan siapapun melayani sebagai gembala yang memenuhi syarat-syarat dalam Alkitab (Titus 1:5-9). 21

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Orang-orang yang baru percaya yang merupakan kepala keluarga harus segera mulai untuk menjadi gembala bagi keluarga-keluarga mereka, melakukan apa yang diperintahkan dalam Kitab Suci kepada para kepala keluarga. Sel keluarga seperti ini biasanya tumbuh cepat menjadi gereja kecil apabila diijinkan oleh pemerintah setempat. Paulus dan Titus menunjuk/melantik pemimpin-pemimpin di kota- kota di Kreta (Titus 1:5). Pada saat itu, mungkin pemimpin-pemimpin itu memimpin gereja- gereja rumah dan mengajar pemimpin-pemimpin baru pada satu atau beberapa gereja- gereja rumah. Yang penting adalah Titus memastikan bahwa pemimpin-pemimpin daerah mengarahkan apa yang perlu dikembangkan di daerah mereka. Mungkin gembala-gembala itu adalah orang-orang yang baru menjadi percaya yang belum memenuhi syarat untuk ditabiskan yang kadang-kadang disebut “pemimpin- pemimpin sementara” yang mungkin nantinya akan memenuhi syarat untuk melayani sebagai pemimpin-pemimpin yang ditabiskan. 2. Ijinkan siapapun mempunyai bakat pemberian Tuhan untuk memakainya, tanpa memaksakan aturan buatan manusia. Biarkan orang-orang beriman menguji bakat mereka dengan melayani dalam berbagai cara di gereja-gereja atau sel-sel baru di mana selalu banyak lowongan- lowongan terbuka bagi pekerja-pekerja baru. Kitab Perjanjian Baru mengijinkan pemimpin-pemimpin baru untuk membuat kesalahan-kesalahan; dan semua pemimpin membuat kesalahan. Cepat-cepat menuntut “kesempurnaan” dalam pelayanan dapat menghentikan pekerjaan Tuhan! Hati- hati dalam mengenali bakat menggembala anugerah Tuhan pada pekerja- pekerja baru. Beberapa tradisi dan kategori Barat hanya mengijinkan pejabat-pejabat gereja yang telah ditabiskan untuk memimpin gereja bersama dengan dewan pemimpin dan majelis penatua, imam- imam dan diakon-diakon. Pemimpin-pemimpin itu dapat dipilih atau ditunjuk oleh dewan lain, uskup atau pemungutan suara jemaat; jarang mereka muncul dari jemaat secara alkitabiah hanya dengan memperlihatkan anugerah spiritual dan memenangkan orang-orang lain untuk percaya. Banyak gereja- gereja model Barat yang secara hukum menentukan pemilihan pemimpin-pemimpin gereja untuk jangka waktu tertentu. Misalnya, suatu undang- undang gereja dapat mengeluarkan maklumat dewan yang beranggotakan tujuh orang 22

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 penatua, dipilih untuk jangkah waktu tiga tahun. Tetapi, Alkitab meminta penatua- penatua untuk melayani sebagai pendeta-pendeta (1 Petrus 5:1-4), suatu pelayanan berdasarkan anugerah, dan Tuhan akan memberikan anugerah untuk menjadi pendeta mungkin hanya kepada enam orang, atau delapan orang! Lebih lanjut, Tuhan tidak akan mengambil kembali anugerah itu setelah tiga tahun berlalu! Aturan-aturan yang dibuat manusia mengenai kepemimpinan seringkali salah tidak menghiraukan arahan-arahan Alkitab dan akhirnya membawa kesusahan. 3. Pemimpin-pemimpin daerah menyesuaikan diri dengan kebudayaan-kebudayaan setempat atau penguasa-penguasa yang memusuhi. Biarkan pola-pola kepemimpinan yang lentur dan bebas berkempang pada tingkat daerah. Dirikan organisasi gereja setempat maupun daerah di atas siapapun yang diberikan Tuhan sebagai pemimpin. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membangun persekutuan interaktif (hubungan dua arah) diantara gereja-gereja dan anggota-anggotanya, hindari pemilihan umum, aturan-aturan dan dokumen-dokumen yang akan merubah badan daerah menjadi badan politik. Alkitab PB membahas mengenai gugusan- gugusan gereja-gereja, menunjukkan bagaimana kitab Perjanjian Baru kadang-kadang memakai kata ‘gereja’ untuk beberapa gereja rumah. Pola Gereja Buku seringkali membatasi “gereja” sebagai jemaat setempat, gereja rumah atau sel dan Badan Kristus secara universal yang terdiri dari semua orang beriman, baik hidup maupun mati. Tetapi dalam gerakan-gerakan memulai gereja baru, penyelidikan telah membuktikan bahwa gugusan- gugusan Gereja seringkali bekerja sama dengan harmonis melaksanakan hubungan dua arah yang diperintahkan dalam kitab Perjanjian Baru, perintah ‘satu sama lain’ tidak hanya dilakukan antar jemaat tetapi juga dilaksanakan antar mereka. Gugusan-gugusan sel interaktif (saling berhubungan dua arah) atau gereja- gereja awal mempunyai ketergantungan satu sama lain, saling menguatkan dan mendukung moral, terus menerus terbukti sebagai kekuatan dinamis yang membuat gereja-gereja berlipat ganda dan pemimpin-pemimpin hidup suci. Sebaliknya, penyelidikan- penyelidikan menunjukkan bahwa jemaat-jemaat yang bekerja sendiri-sendiri akhirnya 23

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 berkembang ke arah yang salah dan terpaku pada aturan-aturan yang mereka buat untuk dirinya sendiri. 1. Mampu me njaga idealisme, cita-cita dan tujuan. ibarat memiliki sebuah pelita atau kompas, hanya dengan menjaga idealisme dan cita-cita yang dimiliki, kita akan melampaui segala kegelapan dan tidak akan pernah kehilangan arah dalam menitikarier. 2. Tidak sekedar me njalankan perintah, sekedar bekerja, apalagi asal-asalan, karena hal ini berarti akan sama dengan keletihan, hasil yang tidak optimal dan karier yang tidak pasti. Sedangkan bagi mereka yang menjalankan tugas dengan semangat untuk berbuat yang terbaik, maka meskipun lelah, meskipun harus banyak menga tasi rintangan, namun buahnya akan terasa manis dan indah. 3. Memiliki kemampuan, daya saing dan keunggulan, yang semuanya ditunjukan untuk meningkatkan kapabilitas diri pribadi, guna menjadi yang terbaik dan terdepan, dalam lingkup kompetisi yang sehat, ksatria dan mengedepankan norma serta aturan yang benar. 4. Senantiasa membangun kemampuan, keterampilan dan pengetahuan, karena hanya pemimpin yang terampil dan berpengetahuan luas yang akan berhasil dalam menjalankan tugasnya. 5. Senantiasa menjaga profesionalisme. 6. Penuh dedikasi dalam menjalankan tugas. 7. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi. 8. Tidak me milih-milih tugas maupun jabatan, karena bukan jabatan yang akan membuat seseorang menjadi besar, namun karena orang yang berhasil akan menjadikan jabatan tersebut sesuatu yang besar maknanya. 9. Tahan terhadap godaan, terutama terhadap tiga godaan duniawi yang paling sering menjatuhkan seseorang, yakni harta, tahta dan wanita, karena ketiga hal tersebut akan dapat menyebabkan seseorang menempuh segala cara demi mendapatkan yang diinginkan, tampa memperhatikan hukum, aturan dan norma yang berlaku. 10. Taqwa dan dekat kepada Tuhan Yeseus Sebagai Pe mimpin Sejati, karena tanpa adanya iman dan taqwa dalam hati seorang pemimpin, maka kehancuran menjadi sesuatu kepastian bagi organisasi yang dipimpinnya. 24

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Pola Kepemimpinan mencerminkan model kepemimpinan yang diterapkan dalam mengelola karyawan. Ada sekelompok pemimpin menerapkan praktek kepemimpinan yang berorientasi pada penyelesaian tugas (task oriented). Pada golongan pemimpin ini, aspek-aspek individual karyawan kurang mendapat perhatian. Pola ini menekankan, apapun yang dilakukan karyawan dan bagaimanapun kondisi yang terjadi pada karyawan tidak menjadi masalah. Asalkan tugas- tugas dapat diselesaikan. Pola-pola kepemimpiman demikian dapat berpengaruh pada penciptaan lingkungan kerja yang kurang baik bagi karyawan. Akibatnya ada perasaan tertekan pada karyawan. Lingkungan kerja yang tercipta penuh ketakutan mengarah ke frustasi. Jika ini berlangsung lama, maka yang terjadi adalah tingkat absensi karyawan tinggi, permintaan pindah antar unit kerja, bahkan puncaknya adalah permintaan keluar dari perusahaan dan pindah ke perusahaan yang lain. Pada sekelompok pemimpin lainnya menerapkan pola kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (human oriented). Pemimpin memusatkan perhatiannya pada kegiatan dan masalah kemanusiaan yang dihadapi, baik bagi dirinya maupun bagi karyawan. Kepemimpinan pada golongan ini lebih populis dibanding pola yang terdahulu, karena dipandang memperha tikan masalah- masalah riil yang dihadapi karyawan. Dari masalah anak sakit sampai dengan kondisi keluarga. Dari masalah stamina sampai dengan nonton bola. Akibatnya, lingkungan kerja dapat mengarah pada budaya gosip, tetapi mengesampingkan penyelesaian tugas dan standar kinerja. Pada pola yang ekstrim, kedua orientasi kepemimpinan di atas tidak ada yang efektif mengelola karyawan. Dengan kemampuan meramu dan menggabungkan keduanya, dalam banyak hal terbukti lebih efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi peningkatan kinerja karyawa C. Pola-pola pemimpin/kepemimpinan a. Tipologi menurut Max Weber : (dalam : The Theory of Social and Economic Organization). Dipandang dari sudut legitimasi atau syahnya pemimpin/kepemimpinan, Max Weber membedakan tiga macam pola pemimpin/kepemimpinan : i. Charismatis, ii. Tradisional, iii. Rasional 25

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Uraian i. Legitimasi dari pada kepemimpinan yang bersifat charismatis berdasarkan pengakuan terhadap kwalitas-kwalitas istimewa (kesaktian, kepahlawanan, kecakapan, dan sebagainya) yang dimiliki oleh pemimpin, yang dipercayai oleh para pengikutnya sebagai karunia khusus dari kekuatan supra-manusiawi. Dengan kata lain, kepemimpinannya itu dipercayai atas penunjukan dari dan pengukuhan oleh kekuatan supra-manusiawi (Tuhan). ii. Legitimasi daripada kepemimpinan yang bersifat tradisional berdasarkan pada pengakuan atas tradisi hak berkuasa secara turun-temurun yang dimiliki oleh pemimpin. Biasanya kepemimpinan tradisional itu bercampur dengan unsur-unsur charismatis. iii. Legitimasi kepemimpinan yang bersifat rasional itu dijumpai apabila pertunjukan dan pengakuan terhadap kepemimpinan tersebut melalui/berdasarkan proses terpenuhinya peraturan- peraturan dan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. b. Pembagian menurut Richard Schmidt (dalam : Encyclopedia of the Social Sciences). Richard Schmidt mendasarkan pembagiannya pada titik tolak pendapat bahwa semua kelompok kemasyarakatan itu baik yang terbentuk berdasarkan adat dan tradisi maupun yang secara sengaja diorganisir oleh para warganya selalu didasarkan pada minat, kepentingan dan kebutuhan bersama yang ingin dipenuhi. Berdasarkan asumsi ini Schmidt membedakan dua tipe kepemimpinan : i. Kepemimpinan sebagai wakil atau lambang kelompok (representative or symbolic leadership), dan ii. Kepemimpinan yang dinamis atau kreatif (dynamic or creative leadership). iii. Seorang pemimpin yang berperan sebagai wakil kelompok ialah pemimpin yang sanggup bertindak atas nama para pengikutnya dan dapat memuaskan/memenuhi harapan-harapan mereka. Pemimpin yang demikian dapat dikatakan pula merupakan tokoh yang menjadi model untuk dicontoh oleh para pengikutnya. iv. Kepemimpinan yang kreatif ialah kepemimpinan yang mampu melahirkan hal- hal serta pemikiran-pemikiran yang inovatif yang membaharui konsep-konsep maupun kebiasaan-kebiasaan yang lama; yang melahirkan program-program baru untuk menyempurnakan atau mengganti yang sudah tidak relevan lagi, 26

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 dan sebagainya; yang menggerakkan dan mengubah pemikiran dan keyakinan para penganutnya. c. Pembedaan menurut K. Lewin (dalam : Resolving Social Conflicts). Berdasarkan pengamatannya, Lewin membedakan tiga tipe kepemimpinan : i. Type laissez-faire, di mana si pemimpin sedikit sekali menerapkan kepemimpinannya sehingga segala sesuatu dibiarkannya berjalan sendiri-sendiri. ii. Type otokratis, yaitu bila segala keputusan dilakukan dan diambil sendiri oleh pemimpin tanpa mempedulikan pendapat dan suara yang dipimpin. iii. Type demokratis, yaitu kepemimpinan yang bekerja dan berembug dengan para pengikut sehingga pada dasarnya kelompoklah yang bekerja dan membuat keputusan. d. Klasifikasi menurut Eric Berne (dalam : The Structure and dynamics of organizations and groups). Bertitik tolak dari tinjauan terhadap struktur kelompok Berne mengklasifikasikan 3 macam kepemimpinan : i. Penanggung jawab (responsible leader), yaitu orang yang berperan sebagai pemuka, yang kepadanya dalam struktur organisasi kelompok segala tanggungjawab terakhir dipikulkan. ii. Pemimpin efektif (effective leader), ialah orang yang membuat/menentukan keputusan dalam struktur organisasi. Ia memiliki atau dapat juga tidak memiliki posisi tertentu. iii. Pemimpin psikologis (psychological leader) adalah orang yang secara psikologis amat berkuasa di kalangan para warganya. Sebagai contoh : Pemerintah Kerajaan Inggris. Di sana Perdana Menteri merupakan sekaligus penanggungjawab dan pemimpin efektif, sedangkan Sri Ratu merupakan pemimpin psikologis. Akhirnya ingin saya kutipkan di sini pendapat J. Firet (dalam : Ern dozijn is meer dan twaalf) mengenai pemimpin. “Pemimpin dengan demikian bukannya orang yang ditinggikan di atas yang lain, yang menangani semua persoalan bagi massa yang tidak aktif, melainkan awal 27

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 dari diferensiasi fungsional dari seluruh kelompok. Menjadi pemimpin tidak berarti pertama- tama mencari kuasa melainkan memikul tanggungjawab. Kekuasaan adalah satu aspek dari tanggungjawab, sehingga harus ditentukan, diawasi, diwarnai, oleh tanggungjawab itu. Di dalam kepemimpinan ‘fungsi’ (tanggungjawab) harus mendahului ‘posisi’.” Dari apa yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa bagaimanapun juga setiap pemimpin itu harus memenuhi kriteria atau persyaratan-persyaratan tertentu pula, apakah itu diperolehnya sebagai charisma maupun melalui usaha pencapaian pengetahuan dan kecakapan-kecakapan tertentu pula. Tanpa itu kepemimpinan seorang tidak akan efektif dan fungsionil, sehingga tidak akan dapat bermanfaat bagi golongan yang dipimpinnya. Selanjutnya menurut hemat/ pemikiran saya type-type kepemimpinan yang disebutkan tadi sedikit banyak dan dalam batas-batas tertentu masih berlaku pula bagi kepemimpinan Kristen dewasa ini. Dengan kata-kata lain untuk mencapai kepemimpinan Kristen yang efektif dan fungsional kita harus pula memperhatikan faktor-faktor dan aspek-aspek yagn dikemukakan dalam berbagai pola dan klasifikasi kepemimpinan yang disebutkan tadi. D. Empat Pilar Keberhasilan Kepemimpinan: 1. Kesadaran Diri/ Awareness Kesadaran diri sebagai dasar kepemimpinan.  Para pemimpin berkembang dengan memahami diri sendiri dan apa yang mereka anggap bernilai dengan benar.  Menjadi sadar akan titik-titik kelemahan yang tersembunyi atau kelemahan- kelemahan yang dapat membuat mereka menyimpang, dan dengan memelihara kebiasaan refleksi diri dan belajar tanpa henti. Pribadi yang tahu apa yang diinginkannya dapat dengan energik berupaya untuk mencapainya.  Tak seorang pun dapat membuat orang lain sadar diri, dengan demikian para pemimpin sebagian terbesar mesti membentuk diri sendiri. Hanya diri sendiri dapat mengerahkan kehendak, keberanian dan kejujuran untuk meneliti diri sendiri.  Dan fondasi kesadaran diri: mengalahkan diri sendiri dan mengatur hidup. 28

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 2. Kecerdasan Para pemimpin membuat diri mereka sendiri dan orang lain merasa nyaman di dunia yang berubah.  Mereka ingin sekali mengeksplorasi gagasan, pendekatan dan budaya baru dan bukannya secara defensif menarik diri dari apa yang diam-diam menghadang di tikungan hidup selanjutnya. Tertambat pada prinsip-prinsip dan nilai- nilai yang tak dapat ditawar- tawar,mereka memelihara”sikap lepas bebas”yang memungkinkan mereka beradaptas i dengan penuh keyakinan diri. Ingenuitas memicu Inovasi, Kreativitas dan Mentalitas Global  Kemampuan berinovasi, menyerap perpektif baru, merespons dengan cepat peluang atau ancaman dan melepaskan strategi yang tidak berfungsi untuk merangkul strategi baru. Fondasi Ingenuitas:Membuat diri kita lepas bebas 3. Cinta kasih Dengan Cintah kasih yang lebih besar daripada ketakutan  Pemimpin menghadapi dunia dengan pemahaman yang sehat dan yakin tentang diri sendiri yang dianugerahi bakat, harkat dan potensi untuk memimpin. Sifat-sifat yang sama ini juga mereka temukan dalam diri orang lain dan mereka dengan semangat yang berkobar berkomitmen untuk menghormati dan membuka tali kekang potensi yang ada dalam diri mereka sendiri dan diri orang lai. Mereka menciptakan lingkungan yang terikat dan disemangati oleh kesetiaan,afeksi dan sikap saling medukung.  Fondasi Cinta kasih:Digerakkan Menuju syukur yang Mendalam, Aku Menjadi Mampu Mencintai  Jangan Tolak Orang Berbakat,Juga Siapa pun yang berkualitas.Cinta menemukan Bakat dan mempersatukan Tim.  Secara Singkat, kepemimpinan yang didorong oleh cinta kasih ialah: Visi untuk melihat bakat, potensi dan harkat setiap pribadi  Keberanian, gairah dan komitmen untuk membuka kunci potensi tersebut.  Kesetiaan dan dukungan satu sama lain sebagai hasilnya,yang menyemangati dan mempersatukan tim. 29

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 4. Heroisme Membangkitkan hasrat yang besar.  Pemimpin membayangkan masa depan yang inspiratif dan berjuang untuk mewujudkannya ketimbang secara pasif menyaksikan masa depan terjadi di sekeliling mereka. Pahlawan mengeluarkan emas keluar dari peluang yang ada daripada menunggu peluang emas disodorkan kepada mereka.  Fondasi Heroisme:Semangat magis/lebih.  Para pemimpin heroik membayangkan yang tak mungkin dan melakukannya/Kehidupan yang tak pernah lepas dari perbuatan heroik. Langkah-langkah penting dalam model kepemimpinan ini: • Menerapkan strategi radikal • Memasuki Pintu Terbuka • Membidik Tinggi Sejak Awal • Melatih para calon untuk menghadapi Dunia yang berubah • Membuang keyakinan-keyakinan lama,merangkul kebenaran-kebenaran baru Pelajaran Kepemimpinan dari sumber-sumber yang tak terbayangkan: • Selalu mengajar dan belajar • Mengembleng para lelaki dan perempuan”cemerlang dan terkemuka • Bertekun • Menyemangati diri sendiri semata dengan hasrat menyala mewujudkan tujuan-tujuan heroik. • Berinovasi dengan mendekati tantangan-tantangan mereka dengan cara-cara yang tak pernah dibayangkan pendahulunya. • Mengabdikan diri demi mencapai keunggulan • Tetap terbuka pada ide-ide baru,pun pada usia tua • Menghormati kebenaran di atas ego mereka sendiri. • Mempengaruhi orang-orang lain dengan teladan, ide- ide mereka dan pelatihan mereka. 30

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 E. 10 Hukum Hukum Kepemimpinan Berikut adalah ringkasan dari 10 hukum kepemimpinan yang telah diterima dan dikembangkan oleh pelaku-pelaku bisnis dengan landasan yang cukup kuat sehingga memungkinkan seorang manajer “biasa” membuat satu lompatan besar menjadi seorang “pemimpin”. Hukum 1 – Pemimpin memiliki visi. Visi adalah kunci untuk memahami kepemimpinan. Seorang pemimpin sejati tidak pernah kehilangan kemampuan seperti yang dimiliki anak-anak: berimajinasi/ bermimpi. Dan ini mereka ujudkan dalam bentuk visi; yaitu impian tentang masa depan; atau seperti melihat sebuah lukisan besar yang mana pemimpin itu sendiri ikut melukis suatu bagiannya. Dengan demikian, visi menjadi sebuah tantangan dunia bagi setiap pemimpin untuk membuat jejak langkah di sana, melalui kekuatan ide, kepribadian, nilai- nilai diri, dan harapan. Bagi kepemimpinan dan pengikutnya, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan dan memotivasi orang daripada visi untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa. Maka, kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk meraih tujuan yang diminati oleh sebagian besar kelompok tersebut. Di lain pihak, tujuan tersebut menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu, visi bersama haruslah menjadi perasaan yang komperehensif tentang posisi, arah, dan cara hidup untuk meraih tujuan, dan apa yang akan dilakukan ketika tujuan itu teraih. Visi seperti api unggun di perkemahan, di mana orang-orang berkumpul mengelilinginya karena cahaya, energi, kehangatan, dan kebersamaan. Meski visi adalah impian, namun visi harus fokus dan khas. Visi yang terlalu luas akan membuat pemimpin seolah-olah berada di awang-awang dan kehilangan keberanian untuk mencoba. Visi anda harus berpijak pada kenyataan sehingga tujuan bisa diraih dengan sukses dan tidak mematahkan semangat anda dan orang-orang di sekitar anda. Hukum 2 – Pemimpin memiliki disiplin. Di dunia ini berlaku hukum tak tertulis, apakah kita akan mendisiplinkan diri sendiri atau yang akan didisiplinkan oleh orang lain. Keberhasilan yang berlangsung terus menerus tidak bisa 31

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 diraih tanpa disiplin, ketekunan, dan usaha. Disiplin merupakan mandat bagi pemimpin untuk meraih tujuan dan visi-visinya. Salah satu kesalahan besar generasi kita adalah tidak terlalu menghargai pentingnya kedisiplinan. Banyak orang terpengaruh oleh budaya superfisial yang cenderung menolak segala bentuk pengekangan, dan mengikuti dorongan alami diri kita untuk bersikap santai. Kita dengan mudah melupakan fakta bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak mungkin diraih tanpa disiplin. Sangat sering terjadi seorang pemimpin meraih sukses pada tingkat tertentu, dan kemudian berhenti dan kehilangan semangat bertarung. Mereka harus kembali pada titik start mereka. Ini dikarenakan mereka kehilangan milik mereka yang berharga, yaitu, kedisiplinan diri. Hukum 3 – Pemimpin memiliki kebijaksanaan. Pengetahuan dapat diingat, sedangkan kebijaksanaan menembus batas-batas fisik. Kebijaksanaan adalah sesuatu yang memudahkan kita untuk menggunakan pengetahuan secara benar. Kita hidup di jaman ledakan pengetahuan. Berbagai studi memperlihatkan bahwa setengah dari pengetahuan manusia telah ditemukan satu dekade yang lalu dan seterusnya. Lebih lanjut, pengetahuan kita akan berlipat ganda pada dekade terakhir. Pemimpin yang efektif selalu mengembangkan pengetahuannya dengan membaca. Mereka mengumpulkan fakta yang diperlukan sehingga tidak terbatasi dirinya dalam mengambil keputusan. Dengan berpengetahuan, seorang pemimpin tidak takut, ragu-ragu, atau khawatir dalam menyelesaikan pekerjaan, dan terbantu untuk mengatasi banyak masalah, sekaligus merupakan alat untuk berproses. Kebijaksanaan adalah bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki dengan sebaik-baiknya, dan mengembangkan kemampuan untuk menyatakan pendapat. Seorang pemimpin yang efektif memiliki penglihatan kebijaksanaan bukan dari matanya, namun dari dalam dirinya. Kebijaksanaan menuntun diri seorang pemimpin untuk mengenali suatu masalah terlebih dahulu sebelum masalah itu terlanjur menjadi besar. Hukum 4 – Pemimpin memiliki keberanian. Keberanian seringkali diungkapkan dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang menyatakannya dalam istilah: kegagahan, kepahlawanan, kecerdikan. Tetapi apapun namanya, keberanian tidak pernah dapat didefinisikan. Keberanian adalah suatu jalan untuk 32

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 mengekspresikan kekuatan di dalam diri kita, inti dari pikiran kita untuk melawan semua keganjilan, peneguhan bagi kita untuk tetap bertahan pada posisi tersebut. Tingginya gunung Himalaya menantang keberanian seorang pendaki. Kesulitan pekerjaan memotivasi seorang pemimpin, dan kebutuhan akan bersaing memberikan inspirasi bagi pemimpin. Kepemimpinan sejati adalah mengatakan “ya” untuk hidup, tidak menghindar ketika tugas memanggil. Keberanian adalah bertindak dalam ketakutan, bukan tanpa ketakutan. Keberanian adalah melakukan hal yang ditakutkan. Jika anda melakukan sesuatu tanpa takut, itu bukan keberanian. Kepemimpinan adalah perjuangan yang memerlukan keberanian. Memiliki keberanian berarti melakukan sesuatu yang diyakini benar, dan bersedia menanggung segala resikonya. Ada beberapa alasan untuk menciptakan keberanian: pemimpin sejati ingin hidup untuk sebuah alasan yang benar dan luhur. Pemimpin sejati sadar bahwa orang memperhitungkan mereka, organisasi dan tim mereka, bahkan keluarga mereka. Pemimpin sejati selalu menjaga visinya menyala dalam dirinya. Inilah yang menumbuhkan keberanian. Hukum 5 – Pemimpin memiliki Kebersahajaan. Kebersahajaan adalah karakter yang penting dalam kehidupan seorang pemimpin. Kebanyakan orang hanya memikirkan dirinya sendiri dan mengingkari bahwa keberhasilan yang mereka raih tak terlepas dari usaha orang lain. Kebersahajaan menghargai usaha- usaha orang lain. Itu pula mengapa kebersahajaan selalu dihargai orang lain pula. Kebersajahaan adalah sikap untuk tidak berpusat pada diri sendiri. Banyak frustasi, penderitaan, dan ketidakbahagiaan melanda seseorang karena mereka menjadikan diri mereka sebagai pusat kehidupan mereka. Mereka menuntut orang lain menghargai mereka dan menjadikannya sebagai motivasi hidup. Itu membuat hidup mereka sendiri di luar fokus. Salah satu bukti kebesaran seorang pemimpin adalah semangat rendah hati. Seseorang yang rendah hati tidak dapat dijatuhkan atau dipuji setinggi langit. Mereka tidak akan mengambil sikap yang berbeda untuk menghadapi situasi-situasi yang berbeda seperti itu. Mereka mengerti apa yang harus dilakukan dan menjalankan pekerjaannya dengan baik, namun mereka tidak mengharapkan penghargaan untuk setiap perolehan yang mereka capai. Pemimpin yang bersahaja tidak memperdulikan siapa yang menghargai mereka. Bahkan mereka akan 33

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 memberikan penghargaan mereka pada siapa pun tak peduli siapa yang melakukan pekerjaan baik itu. Sedangkan pemimpin yang tidak bersahaja, tidak bersikap rendah hati, menginginkan lebih banyak penghargaan. Bagi orang semacam ini penghargaan merupakan jaminan bagi nilai diri mereka. Memang secara alami, pemimpin cenderung bersikap arogan. Namun percayalah setiap orang selalu menilai diri kita. Kita selalu berada di dalam perubahan yang berlangsung terus-menerus, oleh karena itu pemimpin perlu menilai diri mereka secara terus-menerus pula. Hukum 6 – Pemimpin adalah pembuat keputusan. Seorang pemimpin adalah orang yang melakukan tindakan. Dan, untuk itu ia harus menguasai seni membuat keputusan. Pemimpin yang efektif bekerja secara konstan untuk mempermudah pengambilan keputusan. Ada beberapa pedoman yang mereka pegang dalam mengambil keputusan.  Pertama, mereka menjernihkan masalahnya terlebih dahulu. Mereka mengupas masalah hingga menjadi sederhana.  Kedua, mereka mengumpulkan fakta. Mereka tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum mengumpulkan cukup fakta. Pemimpin yang baik membuat keputusan dengan cepat, oleh karena itu mereka harus memiliki fakta sebanyak mungkin. Mereka tidak mengandalkan asumsi. Bila masalah telah jernih dan fakta terkumpulkan, maka keputusan akan datang dengan sendirinya.  Ketiga, mereka menghindari situasi yang menekan. Mereka tidak suka mengambil keputusan yang singkat. Cepat bukan berarti singkat. Oleh karena itu sekali membuat keputusan mereka tidak mudah untuk mengubah-ubahnya.  Keempat, mereka memperhitungkan resiko yang mungkin terjadi. Bagi mereka resiko bukan hanya sesuatu yang buruk, namun mungkin juga sesuatu yang baik. Oleh karena itu mereka memperhitungkan nilai sebuah resiko.  Kelima, mereka mempertimbangkan bagaimana keputusan yang mereka buat bisa mempengaruhi semua orang yang terlibat. Itu berarti mereka harus mengusahakan pemikiran dari anggota tim mereka.  Keenam, mereka memikirkan dampak dari keputusan mereka hingga lima tahun ke muka, atau bahkan sepuluh tahun ke depan. 34

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798  Terakhir, mereka mempertanyakan apakah keputusan mereka legal atau tidak, bermoral atau tidak, etis atau tidak. Apakah keputusan itu membuat hati menjadi damai atau tidak. Hukum 7 – Pemimpin mengembangkan persahabatan. Pemimpin sejati tahu bahwa hidup ini selalu tergantung pada semangat dan bantuan orang lain. Tak ada seorang pun mampu melakukan semuanya sendiri. Mereka berupaya dengan sungguh-sungguh membangun persahabatan. Mereka menghargai teman. Bagi mereka, teman adalah pulau dimana mereka menemukan rasa aman, dan komunikasi dapat dilakukan tanpa suara. Namun demikian, pemimpin sejati tidak memanfaatkan teman demi kepentingan mereka sendiri. Persahabatan selalu dibangun di atas penghargaan yang setara. Untuk mendapatkan teman, pemimpin tidak berusaha membuat orang lain tertarik pada mereka, namun mereka menumbuhkan minat pada orang lain. Mereka memilih teman bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari siapa teman-teman mereka. Mereka pun mampu menghargai keberhasilan teman tanpa ada rasa iri dan cemburu. Hukum 8 – Pemimpin itu melatih dan berdiplomasi. Pemimpin yang sukses berusaha membantu orang lain sukses dalam pekerjaannya. Mereka senantiasa melatih bawahannya untuk bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Mereka mendorong orang lain mampu meraih tujuannya. Ini membuat orang-orang merasa nyaman dengan diri dan pekerjaan mereka. Kepemimpinan itu bukan sekedar mengetahui arah perjalanan pemimpin, melainkan juga bagaimana bisa bekerja dengan orang lain secara efektif. Dalam bekerja dengan orang lain, seorang pemimpin membutuhkan kehangatan, antusiasme, dan sensitivitas. Ini semua akan menumbuhkan loyalitas dari orang-orang yang ada di sekitar pemimpin. Membangun loyalitas semacam ini membutuhkan waktu yang lama. Loyalitas hanya diberikan oleh orang-orang pada pemimpinnya, hanya bila mereka berpikir bahwa pemimpin itu cukup bernilai untuk mendapatkannya. Seorang bijak mengatakan, apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri akan mati bersama kita. Sedangkan apa yang kita lakukan untuk orang lain akan diingat oleh dunia dan abadi. 35

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Hukum 9 – Pemimpin mengembangkan kemampuan eksekutif. Para pemimpin yang sukses tahu bahwa mengembangkan ketrampilan kepemimpinan adalah usaha sepanjang hidup. Sebuah studi membuktikan bahwa hal yang membedakan seorang pemimpin dengan pengikutnya adalah bahwa para pemimpin mempunyai kapasitas untuk mengembangkan dan meningkatkan ketrampilan mereka. Studi itu menemukan bahwa seorang pemimpin adalah juga seorang pelajar. Orang yang sukses adalah mereka yang punya disiplin untuk mengembangkan diri mereka. Mereka tidak statis. Mereka memiliki keberanian untuk menemukan hasil- hasil dalam jangka pendek. Bahkan mereka menyadari bahwa menjadi pemimpin adalah sesuatu dan proses yang harus terus- menerus dipelajari. Namun demikian, pemimpin mengembangkan gayanya sendiri. Ini dikarenakan mereka mempunyai visi dan tujuannya sendiri. Ada beberapa saran untuk mengembangkan kemampuan eksekutif.  Pertama, pelajarilah tehnik-tehnik pemimpin yang sukses. Perhatikan bagaimana mereka mengartikulasikan visi dan memberikan inspirasi bagi orang lain.  Kedua, capailah keseimbangan hidup. Segala sesuatu ini adalah bagian dari hidup, karenanya lalui dengan penuh keseimbangan.  Ketiga, jagalah kepercayaan diri. Ada saat-saat di mana seorang pemimpin meragukan diri mereka sendiri, namun pemimpin yang berhasil selalu menjaga kepercayaan diri mereka.  Keempat, asahlah kreativitas. Selalulah bertanya pada diri sendiri, bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih baik.  Terakhir, motivasilah diri sendiri. Ini adalah kunci keberhasilan. Pemimpin selalu memotivasi diri untuk membuat tindakan positif dan berorientasi pada tujuan. Hukum 10 – Pemimpin memiliki kekuatan inspiratif. Beda seorang pemimpin yang sukses dengan pemimpin lainnya, adalah kemampuan untuk membangkitkan inspirasi bagi anak buahnya. Kunci menumbuhkan inspirasi adalah dengan bersikap antusias. Antusiasme selalu menarik perhatian orang lain dan menjaring pengikut, serta menciptakan kesenangan. Karenanya, pemimpin selalu adalah orang-orang yang antusias. 36

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 Antusiasme ditunjukkan melalui usaha keras, tidak menyerah sampai meraih sukses, dan menikmati setiap pekerjaan yang dilakukan. Dalam upaya menumbuhkan inspirasi bagi pengikut, pemimpin bertidak sebagai figur yang diteladani. Namun, jangan campuradukkan kepemimpinan dengan keinginan untuk dihormati. Kepemimpinan justru menarik orang untuk membuat komitmen yang paling tinggi dan memungkinkan mereka untuk bersaing 37

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 IV. Aspek Aspek Kepemimpinan Kepemimpinan memiliki banyak aspek yang terkait satu dengan yang lain. Untuk memahami kepemimpinan dengan baik, maka sapek-aspek berikut perlu diperhatikan, yaitu: a. Tujuan, b. Pendelegasian, c. Kewenangan, d. Motivasi, e. Komunikasi, f. Penyelesaian masalah, g. Pengambilan keputusan dan h. Disiplin kerja. Bila kita berpikir dan berbicara mengenai kepemimpinan Kristen, maka suatu persoalan dasar akan segera muncul: apa yang membuat/ menjadikan kepemimpinan Kristen itu Kristen? Dengan kata lain : ciri-ciri khusus apa dan kwalitas-kwalitas khusus apa yang terdapat pada kepemimpinan pada umumnya? Di pihak lain kita menyadari pula bahwa ada hal- hal tertentu pada kepemimpinan umum yang pasti dan harus terdapat pula pada kepemimpinan Kristen. Hal ini disebabkan karena subyek maupun obyek dari kepemimpinan Kristen itu merupakan unsur-unsur yang tidak dapat bebas sepenuhnya dari hal- hal umum yang berlaku bagi setiap manusia secara individual dan kelompok. Oleh karena itu kita perlu pula memperhatikan dan memperhitungkan hal- hal yang berlaku pada kepemimpinan umum bagi kepemimpinan Kristen. Kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam kepemimpinan Kristen selama ini mungkin timbul justru sebagai akibat kekurang-tahuan ataupun kekurang-pedulian terhadap hal- hal umum tersebut. Mengingat bahwa kepemimpinan Kristen dapat mempunyai cakupan wilayah permasalahan yang luas sekali, maka dalam uraian ini saya akan membatasi dan memusatkan pembahasan saya pada masalah-masalah tertentu saja, yaitu : 38

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 a. Sifat-sifat seorang pemimpin Dr. O. Notohamidjojo, Rektor pertama Universitas Kristen Satya Wacana, dalam pidato Dies Natalis Satya Wacana tahun 1958 merangkum 8 (delapan) sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin Kristen. Sifat-sifat tersebut dijelaskan beliau sebagai berikut : a. Kasih Perhubungan antar manusia itu harus dikuasai oleh hukum kasih yang difirmankan dalam Mat. 22-39 “Hendaklah engkau mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri.” Demikian pula hukum dasar dalam relasi antara pemimpin dan yang dipimpin adalah kasih. Hukum kasih ini yang menjamin perlakuan yang dipimpin sebagai subyek (seperti diri sendiri) dan bukan sebagai obyek. b. Pengabdi Sifat kedua daripada seorang pemimpin adalah sifat pengabdi. “Barang siapa di antara kamu yang hendak menduduki tempat yang pertama (artinya: hendak menjadi pemimpin) ia patut menjadi hamba atau abdi kepada sekalian” (Mark. 10 : 44). c. Pembawa Pesan Di samping kedua sifat pokok tersebut, I.W. Moomaw dalam bukunya “Deep furros” dalam pasal “Qualities of real leaderships”, menyebutkan suatu deretan sifat-sifat, diantaranya kami pilih : Pemimpin yang sesungguhnya harus mempunyai “message”. Lebih- lebih dalam masa dan keadaan orang-orang yang dipimpin dihinggapi rasa kekhawatiran, diombang-ambingkan oleh keraguan-raguan, di situ pemimpin harus melihat dengan jernih apakah rancangan, apakah ide, apakah messagenya dan ia harus sanggup menguraikan “wartanya” dengan sederhana serta mudah difahami. d. Memiliki wawasan (vision and insight) Pemimpin harus mempunyai vision and insight. Ia harus bisa melihat lebih jauh ke depan dari lain-lain dan harus bisa membedakan dengan jelas orang orang yang yang dipimpinnya. e. Berkeyakinan kuat dan percaya kepada diri sendiri (strong conviction and self- confidence). Pemimpin kerap kali berhadapan dan berlawanan dengan kenyataan yang harus diubahnya dan bersemuka dengan orang-orang yang harus diputar pandangan dan haluannya, harus 39

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 mempunyai strong convictions, keyakinan yang tak gentar, dan self confidence, kepercayaan kepada diri sendiri. f. Tekun, sabar dan selalu bersemangat (persistence, patience and enthusiasm) Pemimpin harus tahan uji, sabar dan mempunyai semangat yang tak kunjung padam. Ia harus mempunyai keteguhan jiwa dan kesetian untuk mewujudkan apa yang menjadi panggilan dan suruhannya. Di Indonesia pada masa sekarang, hampir di semua lapangan hidup, bertaburanlah rancangan-rancangan yang hebat dan mengagumkan, tetapi yang kandas di jalan karena kekurangan keteguhan jiwa dan kesabaran untuk menyelesaikan. g. Berkemauan untuk kerja keras (willingness to work hard) Orang lain, penganut bisa malas, tetapi seorang pemimpin tidak boleh malas. Ia harus bekerja keras dan harus mempunyai kecakapan menggiatkan orang lain untuk bekerja. h. Keinsyafan dan kewajiban dan disiplin pada diri sendiri Pemimpin harus bisa menguasai dan membatasi diri sendiri, ia harus bisa tunduk kepada peraturan. Baginya berlaku, bahwa dalam disiplin dan pembatasan diri sendiri nampaklah keunggulannya. Disiplin pada diri sendiri harus dibarengi oleh keinsyafan akan kewajiban. Ada sepuluh ciri khas penting mengenai kepemimpinan pelayan, sebagaimana hasil studi Larry Spears atas tulisan-tulisan Greenleaf, yaitu: 1. Mendengarkan Pemimpin pelayan mengembangkan kemampuan dan komitmen untuk mengenali serta memahami secara jelas kata-kata orang lain. Mereka berusaha mendengarkan secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mendengarkan juga melampaui upaya memahami suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Mendengarkan, dipadukan dengan perenungan yang teratur, mutlak penting bagi pertumbuhan pemimpin pelayan. 2. Empati Pemimpin pelayan berusaha keras memahami dan memberikan empati kepada orang lain. Orang perlu diterima dan diakui untuk jiwa mereka yang unik. Mereka akan menunjukkan itikad dan kerja baik jika diakui sebagai manusia. Pemimpin pelayan paling berhasil adalah mereka yang menjadi pendengar ahli penuh empati. 40

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 3. Menyembuhkan Salah satu kekuatan besar kepemimpinan pelayan adalah kemungkinan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Banyak orang yang patah semangat dan menderita akibat rasa sakit emosional. Maka belajar untuk menyembuhkan merupakan daya yang kuat untuk perubahan dan integrasi. Pemimpin pelayan mengakui bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk membantu pemberian kesehatan bagi orang-orang yang berhubungan dengan mereka. 4. Kesadaran Kesadaran, terutama kesadaran diri, memperkuat pemimpin pelayan. Kesadaran membantu memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai- nilai. Ini memungkinkan orang bisa melihat persoalan-persoalan dari posisi yang lebih terintegrasi. Menurut Greenleaf, \"Pemimpin pelayan senantiasa memiliki ketenangan batinnya sendiri.\" 5. Persuasif Ciri khas pemimpin pelayan lainnya adalah mengandalkan kemampuan membujuk, bukannya wewenang karena kedudukan, dalam membuat keputusan di dalam organisasi. Pemimpin pelayan berusaha meyakinkan orang lain, bukannya memaksakan kepatuhan. Ini merupakan ciri pembeda antara model wewenang tradisional dan model kepemimpinan pelayan. Kepemimpinan pelayan efektif dalam membangun konsensus kelompok. 6. Konseptualisasi Pemimpin pelayan berusaha menjaga kemampuan mereka untuk melihat suatu masalah dari perspektif yang melampaui realita dari hari ke hari. Banyak orang yang disibukkan oleh kebutuhan untuk meraih tujuan operasional jangka pendek. Pemimpin pelayan harus meregangkan pemikirannya hingga mencakup pemikiran konseptual yang mempunyai landasan yang lebih luas. Ini berarti pemimpin pelayan harus mengusahakan keseimbangan yang rumit antara konseptualisasi dan fokus operasional sehari-hari. 7. Kemampuan meramalkan Kemampuan untuk memperhitungkan sebelumnya, atau meramalkan hasil satu situasi sulit didefinsikan, tetapi mudah dikenali. Orang mengetahuinya bila mereka melihatnya. Kemampuan meramalkan adalah ciri khas yang memungkinkan pemimpin pelayan bisa memahami pelajaran dari masa lalu, realita masa sekarang, dan kemungkinan konsekuensi dari 41

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 keputusan untuk masa datang. Ini menanamkan akarnya sampai jauh ke wilayah intuitif. Ini juga berarti ciri khas ini merupakan bawaan sejak lahirnya pemimpin tersebut. 8. Kemampuan melayani Melayani, atau stewardship, menurut Peter Block, adalah \"memegang sesuatu dengan kepercayaan kepada orang lain.\" Kepemimpinan pelayan haruslah mempunyai kemampuan untuk melayani, dan terutama komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain. Ini juga menekankan penggunaan keterbukaan dan bujukan, bukannya pengendalian. Menurut Greenleaf, semua apa yang ada dalam sebuah organisasi memainkan peranan penting dalam menjalankan organisasi tersebut dengan kepercayaan kepada kebaikan masyarakat yang lebih besar. 9. Komitmen pada pertumbuhan manusia Pemimpin pelayan berkeyakinan bahwa manusia mempunyai nilai intrinsik melampaui sumbangan nyata mereka sebagai pekerja. Dalam hal ini, pemimpin pelayan sangat berkomitmen terhadap pertumbuhan pribadi, profesional, dan spiritual setiap individu dalam organisasi itu. b. Obyek atau sasaran kepemimpinan Kristen Yang dimaksud dengan kepemimpinan Kristen di sini menurut hemat saya mencakup pengertian :suatu kepemimpinan oleh pemimpin Kristen sehingga didasari dengan prinsip- prinsip kekristenan terhadap golongan/kelompok masyarakat, baik yang Kristen ataupun yang tidak Kristen. Dengan demikian kepemimpinan Kristen dimungkinkan tidak hanya terbatas dalam lingkungan Kristen saja. Hal ini perlu kita sadari dan yakini, justru kalau kita mengingat posisi orang-orang Kristen dalam konteks masyarakat Indonesia sekarang ini memberi peluang yang cukup untuk menjalankan tugas kepemimpinan dalam kehidupan masyarakat luas. Dalam kesempatan ini pembahasan saya terutama akan saya arahkan pada masalah- masalah di sekitar kepemimpinan Kristen dalam lingkungan Kristen. Dalam hubungan ini secara garis besar kita dapat membedakan dua macam lingkungan : a) lingkungan gereja sebagai institusi b) lingkungan yayasan/badan/organisasi Kristen a) Lingkungan Gereja Bagaimanapun, gereja merupakan juga suatu organisasi kemasyarakatan. Di pihak lain berdasarkan hakekat dan alasan keberadaan gereja. Gereja bukan juga sekedar organisasi 42

Prepared by: Manahan U Simanjuntak.,SPAK.,MA.,M.Pd.K Email: [email protected] Hp :081277017798 kemasyarakatan semata-mata. Dalam hubungan ini dapat muncul 2 kesalahan ekstrim. Kesalahan sering terjadi ialah : 1. Menganggap dan memperlakukan gereja sebagai sesuatu yang sama sekali “luar manusiawi” ataupun “luar duniawi”; sesuatu yang hidup dan berjalan dengan “hukum- hukum surgawi” yang mengatasi segala hukum, sehingga dianggap “kebal” terhadap hukum. 2. Menganggap dan memperlakukan gereja semata- mata sebagai organisasi sosial, sehingga dalam cara berpikir, cara kerja, cara pengelolaan dan penanganan masalah, semuanya dijalankan dan diberlakukan atas hidup di dalam kehidupan masyarakat. Dalam prakteknya seringkali kepemimpinan Kristen terombang-ambing dengan penuh keraguan di antara dua ekstrim tersebut. Bahkan seringkali terjadi bahwa untuk masalah-masalah yang jelas-jelas bersifat “duniawi” masih dicoba-coba dipecahkan secara “surgawi”, sedangkan untuk masalah- masalah yang bersifat “surgawi” dipaksakan pemecahannya secara “duniawi”. Tidak mengherankan bahwa berbagai ketidak tegasan dan ketidak jelasan yang meresahkan di dalam urusan-urusan kegerejaan dapat terjadi. Ini semua berarti bahwa para pemimpin gereja (pendeta, majelis, pejabat gereja lainnya) selain perlu memiliki bekal iman yang mantap, perlu pula memiliki kepekaan, pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas dan pelayanan mereka, baik mengenai soal-soal keimanan dan kegerejaan, maupun bidang-bidang lainnya. Hanya dengan cara ini para pemimpin gereja akan mampu memilah- milah masalah, sehingga cara pemecahannya yang tepat efektif dapat ditentukan dengan tepat pula. Dalam hubungan ini gereja mungkin perlu bergumul dan memikirkan cara, prosedur dan persyaratan-persyaratan dalam memilih cara. Prosedur dan persyaratan-persyaratan dalam memilih para pemimpin gereja. Jaman “pemain-pemain alam” (intuitif) sudah lewat; keadaan gereja dan masyarakat sudah begitu kompleks sehingga bakat dan “panggilan” saja belum cukup. b. Lingkungan Badan/Yayasan/Organisasi Kristen Pada umumnya setiap badan/yayasan/organisasi Kristen itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian persyaratan-persyaratan (termasuk job description) yang dikenakan terhadap para pemimpinnya juga dapat ditentukan dengan lebih jelas dan tegas, karena melalui kepemimpinan mereka diharapkan badan/yayasan/organisasi tersebut akan dapat mewujudkan dengan baik tujuan-tujuan yang dirumuskan. 43


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook