Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Buku_Menelusuri Kekayaan Alam dan Budaya Kampung Naga dari Kacamata Etnopedagogi

Buku_Menelusuri Kekayaan Alam dan Budaya Kampung Naga dari Kacamata Etnopedagogi

Published by anisalsyabilaa, 2023-08-12 07:28:10

Description: Buku_Menelusuri Kekayaan Alam dan Budaya Kampung Naga dari Kacamata Etnopedagogi

Search

Read the Text Version

["ekspektoran, sehingga membantu meredakan peradangan dan memperlancar saluran pernapasan. 6 Kingdom : Plantae Daun sidagori Division : Magnoliophyta mengandung Class : Magnoliopsida senyawa-senyawa Ordo : Violales aktif yang Family : Turneraceae memiliki sifat Gambar 37. Genus : Turnera antiinflamasi dan Tanaman Species : Turnera antioksidan, Sidagori subulata sehingga Sumber : bermanfaat dalam meredakan Dokumentasi peradangan dan Pribadi meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, sidagori juga digunakan sebagai obat penurun demam dan diuretik alami. 7 Kingdom : Plantae Ekstrak dari Division : Magnoliophyta bunga kitajam Class : diketahui Ordo Magnoliopsida memiliki sifat Family : Sapindales antioksidan, Gambar 38. Genus : Meliaceae antiinflamasi, dan Tanaman Species : Azadirachta antimikroba, yang Kitajam : Azadirachta dapat membantu Sumber : indica melawan radikal bebas, meredakan Dokumentasi peradangan, dan Pribadi melindungi tubuh 44","dari infeksi. Selain itu, daun kitajam juga digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati sakit perut, masalah pencernaan, dan mengurangi gejala demam. 8 Kingdom : Plantae Kacapiring Division : Magnoliophyta memiliki Class : Magnoliopsida kandungan Ordo : Rubiales senyawa aktif Family : Rubiaceae yang memiliki Genus : Gardenia sifat antiseptik, Gambar 39. Species : Gardenia antiinflamasi, dan Tanaman jasminoides analgesik. Oleh karena itu, daun Kaca Piring dan bunga Sumber : kacapiring digunakan untuk Dokumentasi mengobati Pribadi berbagai gangguan kesehatan, seperti luka, sariawan, dan peradangan pada kulit. Selain itu, kacapiring juga memiliki manfaat dalam pengobatan masalah pernapasan, seperti batuk dan pilek. Ekstrak kacapiring diketahui 45","memiliki sifat ekspektoran yang membantu mengencerkan dahak dan meredakan gejala pernapasan yang tidak nyaman. 9 Kingdom : Plantae Dalam Division : Magnoliophyta pengobatan Class : tradisional, bunga Ordo Magnoliopsida telang digunakan Family : Fabales sebagai Genus : Fabaceae antiinflamasi, Gambar 40. Species : Clitoria diuretik, dan Bunga : Clitoria Telang ternatea antidepresan Sumber : alami. Ekstrak Dokumentasi bunga telang Pribadi diketahui memiliki sifat penurun panas, membantu mengatasi gangguan pencernaan, serta meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi stres. 10 Kingdom : Plantae Di masyarakat Division : Magnoliophyta Dalam Class : Magnoliopsida pengobatan Gambar 41. Ordo : Rosales tradisional, cocor Tanaman Family : Crassulaceae bebek digunakan Cocor Bebek Genus : Kalanchoe sebagai diuretik Sumber : Species : Kalanchoe alami yang efektif, Dokumentasi blossfeldiana membantu Pribadi meningkatkan produksi dan 46","aliran urin dalam tubuh. Hal ini bermanfaat dalam mengatasi masalah ginjal, batu ginjal, dan infeksi saluran kemih. Tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Naga berdasarkan organ yang dimanfaatkan dan cara pengolahannya secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Tumbuhan Obat yang Dimanfaatkan oleh Masyarakat Kampung Naga N Nama Organ Cara Manfaa Sumber o Tumbuhan yang Pengolahan t Diperol dan Nama Dimanfa atkan eh Lokal 1 Babadotan Daun Digosok- Menghe Pekaran \/Bandotan gosok pakai ntikan gan dan tangan lalu pendara kebun ditempelkan ke bagian han yang luka 2 Kecombrang Bunga Direbus Antioksi Pekaran \/ Honje dan gan, Hutan, dan kebun 3 Kumis Daun Direbus Darah Pekaran kucing tinggi gan dan kebun 4 Jawer kotok Daun Direbus Darah Pekaran tinggi gan 5 Walang Daun Digosok- Menghil 47","sangit gosok angkan bau 6 Sidagori Daun Digosok- badan Pekaran Daun gosok pakai gan, 7 Kitajam Daun tangan lalu Penyem hutan, Daun ditempelkan buhan dan 8 Singkong \/ Daun ke bagian luka kebun Sampeu Daun yang luka Daun Hematur Pekaran 9 Jambu biji Direbus ia gan Daun 1 Kaca piring Direbus Darah Pekaran 0 Daun rendah gan dan Direbus kebun 1 Telang\/ Sakit Pekaran 1 Telang Direbus perut gan dan kebun 1 Cocor bebek\/ Direbus Panas Pekaran 2 Buntiris Dihaluskan dalam gan dan Panas kebun 1 Durian\/Kadu lalu dalam Pekaran 3 ditempelkan Bisul gan 1 Sirih\/seureuh ke sekitar 4 bisul Menghe Pekaran ntikan gan dan Ditempelkan pendara kebun ke area yang han, panas Pekaran luka dalam gan dan Bau kebun Direbus badan dan anti Pekaran oksidan gan, hutan, dan kebun 48","Masyarakat Kampung Naga memanfaatkan tumbuhan obat ini secara tradisional dengan mengolahnya menjadi ramuan atau minuman herbal. Mereka melestarikan pengetahuan dan praktik ini untuk menjaga kesehatan masyarakat secara alami dan berkelanjutan. Penting untuk mencatat bahwa penggunaan tumbuhan obat harus didasarkan pada pengetahuan yang baik dan berkonsultasi dengan ahli atau praktisi pengobatan herbal yang berpengalaman. F. TANAMAN BAHAN BANGUNAN MASYARAKAT KAMPUNG NAGA Masyarakat desa ini menggunakan berbagai jenis tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan tradisional. Beberapa contoh tumbuhan penghasil bahan bangunan di Kampung Naga antara lain sebagai berikut. Tabel 7. Tumbuhan Bahan Bangunan Masyarakat Kampung Naga N Foto Klasifikasi Keterangan o Tanaman bambu 1 Kingdom : Plantae memiliki manfaat yang sangat Division : Tracheophyta berarti sebagai bahan bangunan Class : Liliopsida dalam masyarakat Kampung Naga, Ordo : Poales sebuah kampung adat di Indonesia. Gambar 42. Family : Poaceae Bambu telah lama Tanaman Genus : Bambusa menjadi sumber Bambu Species : Bambusa daya alam yang Sumber : amahussana tak ternilai dalam konstruksi Dokumentasi Pribadi 49","tradisional di kampung ini. Kekuatan, kelenturan, dan keberlanjutan alami bambu menjadikannya pilihan utama untuk berbagai struktur bangunan seperti rumah tradisional, jembatan, dan pagar. 2 Kingdom : Plantae Tanaman kayu Division : Magnoliophyta albasiah, atau Class : Albizia falcataria, Gambar 43. Ordo Magnoliopsida memiliki manfaat Tanaman Family : Fabales yang sangat Kayu Genus : Fabaceae berarti sebagai Albasiah Species : Falcataria bahan bangunan Sumber : : Falcataria dalam masyarakat moluccana Kampung Naga, Dokumentasi sebuah kampung Pribadi adat di Indonesia. Kayu albasiah terkenal akan kekuatan dan kelenturannya, serta ketersediaannya yang melimpah di sekitar kampung. Masyarakat Kampung Naga telah menggunakan kayu albasiah selama berabad- 50","abad dalam membangun rumah tradisional, perabotan, dan alat-alat lainnya. 3 Kingdom : Plantae Ijuk sering Division : Tracheophyta digunakan sebagai Class : Liliopsida bahan untuk Gambar 44. Ordo : Arecales menutup atap Tanaman Family : Arecaceae bangunan Pohon Aren Genus : Arenga tradisional. Serat Sumber : Species : Arenga ijuk yang kuat dan Dokumentasi pinnata tahan air dapat Pribadi membentuk lapisan penutup yang efektif untuk melindungi bangunan dari cuaca eksternal seperti hujan, sinar matahari, dan angin. G. TANAMAN KEPERLUAN RITUAL ADAT DI KAMPUNG NAGA Tumbuhan memainkan peran yang sangat penting dalam pelaksanaan ritual adat di Kampung Naga. Setiap tahapan upacara adat, mulai dari persiapan hingga penutupan, melibatkan penggunaan tumbuhan dengan makna simbolis yang mendalam. Contoh tumbuhan yang sering digunakan meliputi kayu sengon, daun pandan, bambu, daun pisang, dan bunga kemuning. Kayu sengon digunakan sebagai bahan pembuatan altar dan tempat persembahan yang dianggap sakral. Daun pandan digunakan 51","sebagai simbol kesuburan dan kesucian, serta memberikan aroma khas pada prosesi ritual. Bambu digunakan sebagai alat musik tradisional dan wadah persembahan. Daun pisang digunakan sebagai alas atau wadah penyajian makanan dalam upacara adat. Bunga kemuning digunakan sebagai hiasan dan persembahan, melambangkan keindahan dan spiritualitas. Masyarakat Kampung Naga menjaga pengetahuan tentang penggunaan tumbuhan ini dengan penuh kehormatan dan menganggapnya sebagai cara untuk terhubung dengan alam, leluhur, dan warisan budaya mereka yang kaya. H. NILAI \u2013 NILAI DALAM ETNOBOTANI KAMPUNG NAGA Kajian etnobotani dalam pemanfaatan tumbuhan di Kampung Naga mengandung berbagai nilai-nilai sebagai berikut. 1. Nilai Spiritual a. Menghayati anugerah akal pemikiran yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga manusia mampu meneliti, mengolah, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam memanfaatkan tumbuhan demi keberlangsungan hidup masyarakat di Kampung Naga. b. Memberikan penjelasan bahwa yang memberikan anugerah kesejahteraan dan kesehatan bagi manusia itu pada dasarnya bukan berawal dari tumbuhan yang memiliki banyak kegunaan, namun tetap berasal dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. 2. Nilai Pendidikan a. Menggali dan mengkaji informasi penting tentang bagaimana masyarakat di Kampung Naga dalam memanfaatkan tumbuhan. 52","b. Menghargai ilmu pengetahuan yang diperoleh dari penggunaan berbagai jenis tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup, salah satunya seperti pengobatan tradisional masyarakat Kampung Naga. c. Memenuhi kebutuhan terhadap perkembangan penelitian ilmiah yang mengangkat potensi lokal daerah Kampung Naga. d. Memberikan pengaruh yang baik pada siswa agar memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dalam melakukan kegiatan eksplorasi untuk mengidentifikasi kegunaan berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di lingkungan sekitar Kampung Naga. 3. Nilai Konservasi Alam a. Aktivitas masyarakat di Kampung Naga yang terkait dengan kesadarannya untuk memanfaatkan dan menggunakan alam sesuai dengan fungsi sosial dan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka. Mereka tidak mengeksploitasi alam tetapi justru melindungi dan menjaga keberlangsungan alam sebagai sumber kehidupannya. b. Memberikan ajaran etika dan moral dalam tuntunan melestarikan sumber daya alam dengan baik dan teratur sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan. c. Memberikan pembelajaran akan arti tanggung jawab sebagai seorang manusia yang memiliki sikap sadar terhadap lingkungan. 4. Nilai Kesehatan a. Mengetahui berbagai jenis tumbuhan yang bernilai gizi baik sebagai sumber pangan. 53","b. Mengetahui metode pengobatan tradisional dengan menggunakan tumbuhan sebagai bahan herbal yang memiliki sedikit efek samping jika digunakan untuk menjaga kesehatan tubuh. c. Memberikan kontribusi bagi tenaga kefarmasian tentang tawaran gagasan jenis tanaman berkhasiat obat guna untuk diekstrak ke dalam berbagai macam bentuk obat, seperti serbuk, tablet, pil, kapsul, kaplet, larutan, dan salep. 5. Nilai Ekonomi a. Mengembangkan keahlian masyarakat dalam membudidayakan dan mengolah tumbuhan hingga memperoleh nilai daya jual untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. b. Memberikan peluang tambahan terhadap mata pencaharian masyarakat daerah dalam pembuatan obat jamu tradisional. c. Memanfaatkan alam untuk mencukupi kebutuhan hidup hingga mampu menghemat pengeluaran keuangan, seperti halnya dalam memenuhi sumber pangan dan material bahan bangunan untuk rumah. 6. Nilai Sosial a. Memperat tali silaturahmi dan hubungan kekeluargaan dari masyarakat yang tinggal di Kampung Naga. b. Memberikan pembelajaran mengenai pentingnya untuk selalu memiliki rasa kepedulian sosial dalam membantu sesama yang sedang membutuhkan bantuan, seperti mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan dan dalam keadaan sakit. 54","7. Nilai Budaya a. Memberikan gambaran untuk mampu menjaga dan melestarikan keunggulan dari akar budaya sunda dalam hal pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan di Kampung Naga. b. Mengembangkan budaya lokal mengenai pemanfaatan tumbuhan di kampung Naga agar tidak semakin tergerus oleh budaya global. c. Menyelami untuk menghargai hasil akal, rasa, karsa, dan cipta dari masyarakat adat leluhur (indigenous people). 55","BAB V KONSERVASI HUTAN DI KAMPUNG NAGA Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk hutan-hutan yang menjadi habitat berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kerusakanhutan yang terjadi di Indonesia menjadi salah satu isu lingkungan yang mengkhawatirkan. Deforestasi, perambahan hutan, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan telah mengancam keberlanjutan ekosistem hutan. Di tengah kekhawatiran tersebut, masyarakat adat dan komunitas lokal memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan. Salah satu contohnya adalah masyarakat-masyarakat yang masih menerapkan kearifan lokal tertentu yang bertujuan untuk menjalankan praktik konservasi berkelanjutan. Kearifan lokal yang dianut dan masih bertahan dari satu generasi ke generasi lainnya di suatu masyarakat sejatinya berguna untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Salah satu kearifan lokal tersebut berupa larangan-larangan memasuki kawasan hutan. Hal tersebut pada hakikatnya bertujuan untuk konservasi hutan. Adapun konservasi hutan merupakan pengelolaan hutan yang dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan melestarikan keanekaragaman dan nilainya (Cristanto, 2014). Salah satu masyarakat yang masih memegang teguh kearifan lokal terkait konservasi hutan adalah masyarakat Kampung Naga. Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Masyarakat 56","Kampung Naga telah mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya mereka selamaberabad-abad, termasuk upaya konservasi hutan yang berkelanjutan. Adapun kawasan konservasi pada prinsipnya adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Kawasan Konservasi atau kawasan yang dilindungi ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya. Tiap negara mempunyai kategori sendiri untuk penetapan kawasan yang dilindungi, dimana masing- masing negara memiliki tujuan dan perlakuan yang mungkin berbeda- beda. Namun, di tingkat internasionaldinaungi oleh WCPA (World Commission on Protected Areas) yang dulunya bernama CNPPA(Commision on National Parks and Protected Areas)yaitu sebuahkomisi dibawah IUCN (The Worlf Conservation Union) yang memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan konservasi di dunia, baik untuk kawasan darat maupunperairan (Cristanto, 2014). Pembelajaran yang berbasis pada budaya, dengan artian mengangkat konteks kearifan lokal masyarakat di lingkungan sendiri merupakan teknik didaktik yang secara langsung mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran tersebut (Garc\u00eda et al., 2020). Peserta didik belajar lebih efektif ketika menggunakan metodeaktif melalui konten yang mirip dengan kehidupan dan minat mereka sehari-hari (Ilhami, 2019). Dan juga pengetahuan tradisional dapat diterapkan sebagai suatu objek pembelajaran, bahkan mampu berkontribusi untuk meningkatkan rasa cinta akan \\\"budaya sendiri\\\" 57","dengan mengenali kekayaan bangsa agar tidak dieksploitasi oleh bangsa lain di masa yang akan datang (Sriyati et al., 2021) A. KONSERVASI HUTAN DI KAMPUNG NAGA Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Meskipun berada di dekat jalan raya yang menghubungkan kota Garut dan kota Tasikmalaya, kampung ini masih mempertahankan gaya hidup tradisional yang kental dengan budaya Sunda. Kampung Naga terletak di lembah yang subur dan dikelilingi oleh hutan, perkebunan warga dan juga sungai yang airnya tak pernahsurut. Berdasarkan penyataan dari narasumber bernama Ruki (2023), awalnya Kampung Naga ini berupa tebing (nagawir), maka dari itu akhirnya disebutlah dengan Kampung Naga (Gambar 1). Gambar 44. Kampung Naga (Sumber: www.mongabay.co.id) Kampung Naga merupakan sebuah komunitas masyarakat adat yang telah mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya mereka selama beberapa generasi. Masyarakat Kampung Naga memiliki hubungan erat dengan alam sekitarnya, termasuk hutan yang ada di sana. Pada kampung ini terdapat sebuah hutan konservasi yang tidak dapat dijamah sembarangan oleh orang lain maupun masyarakat setempat. Hutan konservasi di kampung ini ada dua, yaitu di sebelah 58","barat terdapat Hutan Keramat dan di sebelah timur terdapat Hutan Larangan (Gambar 2) Gambar 45. Letak Geografis Hutan Konservasi di Kampung Naga (Sumber: https:\/\/maps.google.co.id) Hutan konservasi di Kampung Naga, Tasikmalaya telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Meskipun tidak ada data yang spesifik tentang tanggal pasti berdirinya hutan konservasi di Kampung Naga, praktik konservasi alam yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga dapat dikatakan telah berlangsung sejak lama. Masyarakat Kampung Naga secara tradisional memiliki pengetahuanlokal serta aturan tentang pengelolaan sumber daya alam, termasuk hutan, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat Kampung Naga memiliki sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan berdasarkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal mereka. Mereka menghormati dan menjaga kelestarian hutan sebagai bagian integral dari kehidupan dan keberlanjutan masyarakat mereka. Berdasarkan keterangan dari narasumber yang bernama Irja, Kampung Naga juga telah menjadi sorotan untuk penelitian dan perhatian para ahli dan peneliti dalam beberapa dekade terakhir. Peneliti tersebut berasal dari kota-kota besar dan telah menyelidiki 59","praktik konservasi hutan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut, sumber daya alam yang ada di Kampung Naga dan tentang sumber air yang ada di kampung tersebut. B. HUTAN KERAMAT DAN HUTAN LARANGAN DI KAMPUNG NAGA 1. Hutan Keramat Kampung Naga memiliki sebuah hutan keramat yang menjadi tempat pemakaman leluhur masyarakat setempat. Hutan ini dianggap sangat suci dan dijaga dengan penuh kepatuhan oleh penduduk Kampung Naga. Hanya kepala adat beserta rombongannya yang diizinkan memasuki hutan ini dan itu pun hanyapada waktu-waktu tertentu yang memiliki makna religius. Kepala adat dan rombongan yang memasuki hutan tersebut melakukan kunjungan dengan tujuan untuk melakukan ritual, persembahan, dan menghormati leluhur mereka. Masyarakat setempat berusaha menjaga keramat dan keberkahan yang terkandung di dalam hutan ini dengan mematuhi waktu-waktu yang ditentukan dan melakukan tindakan yang sesuai dengan adat dan tradisi yang telah diturunkansecara turun-temurun. Larangan untuk memasuki hutan keramat ini menggarisbawahi pentingnya menjaga dan menghormati tempat-tempat suci serta hubungan spiritual yang diwariskan oleh leluhur. Hal ini menunjukkan adanya kekayaan budaya dan kepercayaan yang sangat kuat di dalam masyarakat Kampung Naga, yang terus diteruskan dari generasi ke generasi. 60","2. Hutan Larangan Kampung Naga juga memiliki hutan larangan yang memiliki reputasi kuatdi kalangan warga setempat. Hutan ini dianggap sangat suci dan dijaga dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat Kampung Naga. Warga setempat meyakini bahwa hutan larangan ini memiliki kekuatan gaib dan mengandung ancaman malapetaka bagi siapa pun yang melanggar larangan untuk masuk ke dalamnya. Mereka percaya bahwa mengambil atau mengganggu apa pun di dalam hutan ini, bahkan sekecil ranting yang jatuh terus diambil oleh warga, hal ini dipercaya olehwarga akan menarik bencana atau kemalangan bagi pelakunya. Ketakutan dan keyakinan akan malapetaka ini telah membangun rasa hormat dan ketundukan terhadap larangan tersebut di kalangan penduduk Kampung Naga. Masyarakat memahami pentingnya menjaga kelestarian hutan larangan dan mematuhi aturan yang berlaku, menghormati kepercayaan dan tradisi yang melingkupi hutan tersebut. Dengan demikian, hutan larangan di sebelah timur Kampung Naga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat. Masyarakat di Kampung Naga memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai keanekaragaman hayati yang ada di hutan- hutan tersebut. C. PERATURAN YANG DIBERLAKUKAN DI HUTAN KONSERVASI Hutan konservasi merupakan kawasan yang dilindungi oleh warga setempat dengan tujuan dan perlakuan yang berbeda antara kawasan satu dengan lainnya, sama halnya dengan hutan konservasi 61","yang ada di Kampung Naga Tasikmalaya ini. Hutan konservasi di kampung ini tidak diperbolehkan untuk dimasuki secara bebas. Namun, bukan berarti hutan tersebut tidak boleh dimasuki sama sekali olehwarga setempat. Masyarakat Kampung Naga memiliki sebuah falsafah yang berbunyi, \u201cLeuweung teh lain rusakeun tapi rumbateun jeng jagaeun\u201d dengan arti \u201cAlam itubukan untuk dirusak tetapi untuk diurus dan dijaga\u201d. Falsafah ini dipatuhi oleh masyarakat setempat. Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari narasumber Irja, hutan konservasi ini tetap boleh dimasuki oleh masyarakat di hari-haritertentu saja. Dalam setahun, masyarakat dapat memasuki hutan ini sebanyak 6 kali yaitu pada hari-hari perayaan umat muslim seperti, Maulid Nabi MuhammadSAW, Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Idul Fitri, Nisfu Sya\u2019ban, Muharam dan Jumadil Akhir. Pada hari-hari tersebut masyarakat pun hanya sekedar berziarah dan berdoa tanpa boleh mengambil apapun yang ada di hutan tersebut. Pada kegiatan ini pun, tidak semua masyarakat ikut masuk ke dalam hutan, melainkan hanya perwakilan saja. Hutan konservasi yang bernama Hutan Larangan memiliki beberapa peraturan dan larangan yang wajib ditaati oleh masyarakat setempat. Masyarakattidak diperbolehkan untuk mengambil apapun dan sekecil apapun itu dari hutan tersebut. Narasumber pun mengatakan bahwan ranting dan daun yang jatuh dari pohon pun tidak boleh diambil oleh masyarakat. Masyarakat setempat percaya bahwa, jika ada seseorang yang berani melanggar aturan tersebut, maka seseorangtersebut akan celaka. Namun sampai saat ini memang belum 62","diketahui pasti apa yang akan terjadi pada orang yang melanggar, karena masyarakat memang sangattaat dan tidak berani melanggar aturan tersebut. D. SUMBER DAYA ALAM DI HUTAN KONSERVASI Hutan konservasi yang ada di Kampung Naga tentu memiliki beragam sumber daya alam di dalamnya. Namun, berdasarkan keterangan dari Narasumber bernama Irja, Ruki dan Cucu (2023), tidak diketahui dengan detail sumber daya alam apa saja yang ada di dalamnya, karena masyarakat pun tidak diperbolehkan mengakses hutan tersebut dengan bebas. Berdasarkan yang narasumber tahu, terdapat beberapa sumber daya alam yang memang dapat dilihat dari kejauhan, seperti jati (Tectona grandis). Selain itu, narasumber juga mengaku pernah mendengar suara berbagai macam burung dan melihat keberadaan monyet di dalam hutan. Mereka juga menyebutkan bahwa mereka pernah melihat biawak (Varanus sp.) dan ular (Ophiophagus sp.) di Sungai Ciwulan yang berbatasan langsung dengan hutan larangan (Gambar 3). Gambar 46. Sungai Ciwulan (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kehidupan sehari-hari tentu tidak berasal dari hutan 63","konservasi, melainkan dari hutan garapan dan juga lingkungan Kampung Naga. Hampir semua masyarakat kampung naga menanam padi dan juga memelihara ikan mas koi (Cyprinus rubrofuscus) dan ayam (Gallus sp.) (Gambar 4). Gambar 47. Kandang Ayam di Bagian Bawah Rumah (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Sepanjang jalan di Kampung Naga dipenuhi oleh sawah. Kolam ikan berada tepat di sebelah sungai. Pada kolamtersebut juga disediakan fasilitas untuk memberi makan ikan yang dibandrol dengan harga Rp 1.000 per bungkus makanannya (Gambar 5). Hampir di setiap bagian bawah rumah warga juga terdapat kandang ayam tempat mereka memelihara ayam tersebut. Semua ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gambar 48. Kolam Ikan Milik Masyarakat (Sumber: Dokumentasi Pribadi) 64","E. PERAN HUTAN KONSERVASI BAGI MASYARAKAT Walaupun hutan konservasi di Kampung Naga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung sumber daya alamnya, namun keberadaan hutan ini membuat Kampung Naga terlihat asri dan sejuk. Selain itu, keberadaan pohon-pohon rimbundi hutan juga membantu menanggulangi bencana alam yang mungkin terjadi. Maka dari itu, berdasarkan pernyataan dari narasumber bernama Irja (2023), sangat jarangterjadi banjir ataupun tanah longsor di Kampung Naga. Banjir pernah terjadi satu sekali namun sudah dulu sekali. Akar pohon dan sistem perakaran hutan membantu mengikat tanah secara erat, mencegah erosi dan penurunan tingkat tanah longsor. Hutan yang memiliki vegetasi yang rapat dan perakaran yang dalam dapat memperkuat stabilitas lereng dan mengurangi risiko tanah longsor yang sering terjadi saat hujan lebat atau gempabumi. Hutan berperan sebagai penyimpan air alami dan menyerap kelebihan air. Hutan dengan sistem akar dan vegetasi yang kuat dapat menyerap air hujan denganbaik, mencegah aliran permukaan yang terlalu cepat dan meminimalkan risiko banjir. Hutan yang terawat dengan baik dapat menjadi \\\"spons alami\\\" yang menyerap air dan mengendalikan aliran sungai. Hutan juga Hutan berperan dalam siklus karbon dan pengendalian perubahan iklim. Hutan menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa dan tanah. Hal ini membantu mengurangi jumlah CO2 di atmosfer dan memperlambat proses pemanasan global yang dapat menyebabkan perubahan iklim yang ekstrim. 65","Peran lain hutan konservasi bagi masyarakat khususnya Hutan Keramat adalah sebagai tempat keramat untuk pelaksanaan ritual adat rutin mereka. Perwakilan masyarakat datang ke hutan untuk berziarah, melakukan ritual, persembahan dalam menghormati leluhur mereka. Hutan konservasi yang ada di sana juga tentu menjadi kearifan lokal dan kekayaan alam bagi masyarakat Kampung Naga. Jadi, jika disimpulkan tujuan dari hutan konservasi yang ada di Kampung Naga ini sebagai berikut. 1. Pelestarian Keanekaragaman Hayati Hutan konservasi di Kampung Naga bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang ada di daerah tersebut. Hutan-hutan ini mungkinmenjadi tempat perlindungan bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewanlangka atau endemik yang memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi. 2. Pemeliharaan Sumber Daya Air Hutan konservasi juga berperan penting dalam menjaga ketersediaan air di wilayah tersebut. Pohon-pohon yang ada dapat berfungsi sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kualitas dan jumlah air tanah, mengurangi erosi tanah, serta mengatur aliran air di sungai-sungai yang mengalir melalui kawasan tersebut. 3. Pemeliharaan Budaya dan Tradisi Kampung Naga memiliki nilai budaya dan tradisi yang kaya. Hutan konservasi seperti hutan larangan dan hutan keramat dianggap sebagai tempat yang sakraldan dihormati secara spiritual oleh masyarakat setempat. Tujuan dari hutan- 66","hutan ini adalah untuk menjaga keberlanjutan tradisi dan praktik keagamaan yang terkait dengan hutan tersebut. 4. Pendidikan dan Kesadaran Lingkungan Hutan konservasi juga dapat berperan sebagai pusat pendidikan dan kesadaran lingkungan bagi masyarakat setempat maupun pengunjung. Melalui pengenalan terhadap keanekaragaman hayati, pentingnya pelestarian alam, dan praktik-praktik berkelanjutan, hutan konservasi di Kampung Naga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. F. NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM KONSERVASI HUTAN DI KAMPUNG NAG 1. Nilai Budaya Masyarakat Kampung Naga memiliki warisan kebudayaan dari masa lalu yangdiwariskan secara turun menurun hingga saat ini. Salah satunya falsafah kehidupan yang dipegang oleh masyarakat Kampung Naga adalah bahwa manusia harus hidupselaras dengan alam. Alam ini bukanlah suatu objek yang dieksploitasi dengan semena-mena, tetapi alam adalah teman manusia. Dua hutan yang terdapat di Kampung Naga tidak boleh dimasuki, selain leuweung keramat (hutan keramat). Leuweung keramat pun hanya boleh dimasuki enam kali dalam setahun pada saat acara besar umat Islam. Hutan larangan benar-benar tidak boleh dimasuki (Gambar 6). Bahkan jika memaksa pun dengan ketentuan satu kaki di air dan satu kaki bolehmenapak, yang berarti tidak mungkin untuk dapat dilakukan. 67","Gambar 49. Hutan Larangan (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Masyarakat Kampung Naga sangat memahami dan menghormati makna dari kata pamali (dalam bahasa Sunda memiliki arti tabu atau tidak boleh). Walaupun aturan ini tidak tertulis, tetapi seluruh masyarakat Kampung Naga sangat patuh akan larangan tersebut. Mereka sangat percaya jika larangan tersebut dilanggar, maka hukuman akan segera datang kepada pelanggar. Bahkan hukuman tidak berasal dari pengurus adat, tetapi dari Yang Maha Kuasa. Alasan utama mengapa tidak boleh dimasuki adalah agar hutan dapat tetap lestari tanpa adanya ancaman kerusakan dari manusia. Hal ini merupakan salah satubentuk dari nilai kebudayaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Naga dari generasi ke generasi. 2. Nilai Ekonomi Banyak masyarakat Kampung Naga yang membuat dan menjual barang dengan bahan baku dari alam, seperti bambu. Produk yang dihasilkan berupa nampan bambu, tampah bambu, berbagai hiasan kerajinan tangan, dan masih banyak lagi (Gambar 7). Produk-produk 68","tersebut dijual keluar wilayah Kampung Naga. Uniknya, bahan baku tersebut tidak diambil dari leuweung keramat maupun leuweung larangan, tetapi diambil dari kebun warga. Alasan mengapa semua bahan baku tersebut diambildari kebun tentunya agar wilayah hutan tetap dalam keadaan yang tidak boleh disentuh warga untuk menjaga kelestariannya. Sebagai informasi, bahwa jika ada pohon pada hutan yang tumbang sekalipun, pohon tersebut tidak boleh dipergunakan. Pohon dibiarkan begitu saja. Gambar 50. Proses Pembuatan Nampan Bambu (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan kolam ikan yang mereka punya sebagai salah satu objek wisata untuk kegiatan memberi makanikan (Gambar 8). 69","Gambar 51. Kegiatan Memberi Makan Ikan(Sumber: Dokumentasi Pribadi) 3. Nilai Konservasi Kampung Naga memiliki nilai konservasi hutan yang tinggi. Salah satunya adalah dengan upaya yang kuat dalam melestarikan flora dan fauna serta menjaga kelestarian ekosistem. Masyarakat Kampung Naga memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alam sehingga mereka melindungi flora dan fauna asli dengan tidak melakukan perburuan liar. Selain itu, masyarakat juga membentuk timpengawasan dan penegakkan hukum yang bertugas mengawasi kegiatan ilegal di hutan larangan dan keramat yang ada di Kampung Naga serta memberlakukan sanksi yang tegas bagi pelanggaran yang dilakukan. Dengan adanya nilai-nilai ini, Kampung Naga menjadi contoh yang baik dalam upaya pelestarian flora dan fauna serta menjaga kelestarian ekosistem yang berkontribusi positif dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mempertahankan keindahan alam di sekitarnya. 4. Nilai Sejarah Terdapat amanat, wasiat, dan akibat apabila membahas mengenai hutan di Kampung Naga. Hal tersebut sudah lama hidup dan menetap di hati masyarakat dantentunya dianggap sangat penting dan sakral dalam kehidupan masyarakat KampungNaga. Amanat, wasiat, dan akibat mengenai leuweung keramat dan leuweung larangan Kampung Naga tak luput dari nilai sejarah yang menempuh pengembaraan panjang, baik secara tertulis maupun tersirat, yang diwariskan dan dipatuhi dari generasi ke generasi. Contoh dari 70","kehidupan masyarakat Kampung Naga tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya masyarakat Indonesia. Dengan memahami dan menghormati sesuatu, maka akan terbentuk masyarakat yangmemiliki kesadaran yang tinggi akan nilai sejarah alam yang berdampak adanya rasatanggung jawab untuk melestarikan ciptaan Sang Pencipta. 5. Nilai Religius Masyarakat Kampung Naga mengembangkan sikap yang penuh rasahormat dan tanggung jawab terhadap alam. Mereka melihat hutan sebagai tempatyang suci dan tempat menguatkan hubungan spiritual mereka dengan Sang Pencipta. Dalam menjaga hutan konservasi, masyarakat Kampung Naga juga melakukan kegiatan keagamaan di hutan keramat seperti berdoa ataupun ritual spiritual di hutankeramat yang merupakan bagian dari hutan konservasi (Gambar 9). Mereka meyakini bahwa dengan melibatkan dimensi spiritual dalam upaya konservasi hutan, mereka mendapatkan berkah dan perlindungan dari Sang Pencipta. 6. Nilai Pendidikan Pendidikan dapat menciptakan seseorang berkualitas sehingga dapat menerapkan ilmunya di mana saja dalam berbagai kondisi. Pendidikan memberikanharapan untuk masa depan yang lebih baik di masa. Kondisi alam di Kampung Naga dapat digunakan sebagai pembelajaran berbasis kearifan lokal, yaitu pada materi ekosistem maupun keanekaragaman hayati. Materi pembelajaran tersebut dapat diterapkan pada Kurikulum 2013 pada Kompetensi Dasar 3.2 (menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia 71","beserta ancaman dan pelestariannya) dan 4.2 (menyajikan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia dan usulan upaya pelestariannya) untuk materi keanekaragaman hayati di kelas 10. Di sisi lain, untuk materi ekosistem ada pada Kompetensi Dasar 3.10 (menganalisis komponen-komponen ekosistem dan interaksi antar komponen tersebut dan 4.10 (menyajikan karya yang menunjukkan interaksi antar komponen ekosistem (jaring- jaring makanan, siklus biogeokimia) di kelas 10. 72","DAFTAR PUSTAKA Christanto, J. (2014). Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta:Universitas Terbuka Press. Garc\u00eda, G. (2021). Cultural Sustainability in Ethnobotanical Research with Studentsup to K-12. Sustainability. 15(14): 1\u201315. Ilhami, A, & Riandi. (2019). A Profile of Biology and Science Teacher\u2019S Knowledge About Local Wisdom Ikan Larangan in West Sumatera. Pupil:International Journal of Teaching, Education and Learning 3(1): 173\u201380. Indrawan, M., Prabowo, R. E., & Ardianto, R. D. (2019). Traditional knowledge for sustainable forest management: a case study of Kampung Naga, West Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 20(2), 423-430. Panula, Y. (2018). Teaching Methods in Biology Promoting BiodiversityEducation. Sustainability (Switzerland) 10(10): 1\u201318. Sriyati, S. (2021). Pengembangan Sumber Belajar Biologi Berbasis Potensi LokalDadiah untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia. 9(2): 168\u201380. Sulistyawati, E., & Haryanto, B. (2018). The Existence of Traditional Village inSupporting Sustainable Tourism: A Case Study of Kampung Naga. International Journal of Scientific and Research Publications. 8(6): 358- 363.Suyatna, A., Suryadi, T., & Alamsyah, Z. (2020). Community-Based Ecotourism Development Model: A Case Study in Kampung Naga. West Java. ThePalmore Journal, 3(1): 47-56. Sukandarrumidi, R., & Nugroho, B. (2021). Forest Management System of Kampung Naga: A Case Study of Indigenous People Empowerment in WestJava, Indonesia. Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan). 5(1): 13-24. 73",""]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook