Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara

Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara

Published by Fiyyano e-Library, 2023-06-14 11:44:57

Description: Judul : Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara
Penulis : Tim Buku Tempo
Penerbit : Perpustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2015
Edisi : 3

Deskripsi :
Selama bertahun-tahun orang mengenalnya sebagai "orang jahat". Pria gugup dengan wajah dingin dan bibir yang selalu diolesi asap rokok. Ia adalah Dipa Nusantara Aidit yang dikenal lewat film Pengkhyanatan G30S/PKI. Di layar perak kita ngeri membayangkan sosoknya: seorang lelaki penuh tipu muslihat, dengan bibir bergetar memerintahkan pembunuhan massal 1965. Siapakah Aidit? Memimpin PKI di usia 31 tahun, ia hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk melambungkan partai tersebut ke dalam kategori empat partai besar di Indonesia pada Pemilu 1955. PKI diklaim memiliki 3,5 juta pendukung dan menjadi partai komunis terbesar di dunia. setelah Partai Komunis di Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Aidit memimpikan Indonesia tanpa kelas, namun hancur dalam badai tahun 1965. Setelah itu, seperti Peristiwa G30S, hal itu menjadi mitos belaka.

Search

Read the Text Version

tengah menginap di rumah saudaranya. Tetangga sekitar jarang ke rumah itu, takut terkena getah G30S. Karena tak ada yang mengurus, jenazah Abdullah membusuk tiga hari. Basri A i d it (Adik D.N. Aid itl J A D I TU KANG K E B U N DI BOGOR Nasib Basri memang paling apes. Peristiwa 30 September 1965 meletus cuma beberapa hari setelah dia pindah kerj a di kantor Central Comittee PKI di Kramat, Jakarta Pusat. Sebelumnya dia adalah pegawai rendahan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Tanah Abang. Bekerja di kantor PKI, Basri gampang dikenali. Sehari setelah pembunuhan para jenderal, ia dibekuk bersama sejumlah orang PKI lainnya. Ia ditahan di penjara Kramat, kemudian pada 1969 dibuang ke Pulau Buru. Selama sang ayah di pembuangan, anak-istrinya menjual habis barang di rumah untuk bertahan hidup. Setelah semuanya ludes, hidup keluarga ini amat bergantung pada bantuan saudara, kenalan, dan teman. Basri keluar dari Buru pada 19 80. Atas bantuan keluarganya di Belitung, dia bisa membeli sebuah rumah di Bogor, Jawa Barat. Di sana dia berkebun sambil mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak tetangga. Ketika meninggal dunia, dia cuma mewariskan uang Rp2,5 juta kepada anak cucunya. M u ra d A i d it (Ad i k o.N. Aid itl D I I SO L A S I DI U N IT 1 5 Seperti saudara-saudaranya yang lain, Murad datang ke Jakarta setelah tamat sekolah menengah zaman Belanda. Karena ikut D.N. Aidit sejak remaja, Murad banyak mengenal teman Aidit yang aktif di Menteng 31, asrama mahasiswa zaman itu. 1d11

LL 1 l 1 1sa 1 1 f a k u l ta s ekono m i M u rad Aidit dari U n i versitas Lumumba Moskow ini berkawan dengan banyak sastrawan. Penyair Chairil Anwar adalah sohib kentalnya. Akibat kurang gizi dan makan tak teratur selama ikut Tentara Pelajar, dia sem­ pat menderita TBC dan di­ opname enam tahun. Pada saat peristiwa 30 September 1965, Murad me­ nginap di rumah D.N. Aidit. Sebelum pergi dengan tiga orang tentara yang men­ jemputnya, Aidit cuma mem­ berikan pesan singkat kepada Murad, \"Matikan lampu depan.\" Esok harinya, ketika kembali ke rumahnya di Depok, Murad baru tahu bahwa sejumlah jenderal dibunuh dan PKI dituduh terlibat. Tapi dia tidak berusaha sembunyi. Di tengah kegentingan situasi Jakarta saat itu, dia sempat datang ke kantor PKI. Markas yang biasanya meriah itu sunyi senyap. Murad ditangkap beberapa hari kemudian. Sebagaimana anggota PKI lainnya, Murad dipenjara berpindah-pindah. Semula ditahan di Bogor, setelah itu di Bandung, lalu ke rumah tahanan khusus di Salemba Jakarta. Pada 1971 Murad dibuang ke Pulau Burn. Di pembuangan itu dia diisolasi di Unit 15. Ini unit khusus untuk menahan petinggi PKI dan mahasiswa yang pernah dikirim Sukarno belajar ke luar negeri. Murad bebas pada 1979. Istrinya, Noer Cahya, meninggal tak Jama 82

setelah bebas dari penjara wanita Pelantungan, Ke n d a l , Jawa Tengah. Murad kemudian menikah lagi dengan Lilik H artini. Sebelum meninggalnya, Murad tinggal di ,Depok dan hidup dari menerjemahkan buku. S o b ro n A i d it (ad i k tiri A i d it) H I N G G A WAFAT DI PA R I S Sejak remaja Sobron suka sastra. Kegemaran itu kian me­ nyala setelah dia datang ke Jakarta pada 1948 dan bertemu dengan Chairil Anwar. Kebetulan Chairil adalah teman Murad dan kerap bermalam di kos Murad di Gondangdia, Jakarta Pusat. Dari Chairil, juga sastrawan lain seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin, Sobron menimba banyak ilmu. Dibantu Chairil, puisi Sobron ketika itu muncul di Mimbar In donesia. Saat itu usia Sobron baru 13 tahun. Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil mentraktirnya makan­ makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan . rupa-rupa lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan adalah honor puisinya di Mimbar Indonesia. Ketika peristiwa G30S meletus, Sobron berada di Beijing untuk mengajar bahasa Indonesia. Tapi kontrak tak diperpanjang akibat peristiwa itu. Dia kemudian men­ jadi petani di negeri tirai bambu itu dan menikahi gadis setempat. Sempat menjadi penyiar dan redaktur Radio Beijing, pada 1981 ia pindah k e Paris. Bersama eksil lainnya, J.J. Kusni dan Umar Said, Sobron mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, di kawasan Luxembourg, Paris. Sobron meninggal pada Februari 2007 karena penyumbatan darah di otak. Buku terakhirnya, Razia Agustus, terbit pada November 2006. 88 O r, 1 1 1 q K i r i l n d o n < \",i .i : n . N . /\\ i d i t

Asa h a n A i d it (ad i k t i r i Aid it) J AT U H C I NTA PADA G A D I S V I E T N A M Saat peristiwa 30 September meletus, Asahan sedang di Moskow. Di ibu negeri beruang merah itu, Asahan sedang memperdalam studi filologi. Mendengar sanak familinya di Ind?nesia diuber-uber, Asahan enggan pulang. Dia kemudian pergi ke Cina. Dari sana Asahan pindah ke Vietnam dan meraih gelar doktor dalam bidang bahasa di sana. Dia menikahi gadis Vietnam. Asahan Aidit dan Sobron Aidit. Saat bersama di Amsterdam, Nove m ber 1983. K 1 • 1 l 1 , 1 1 q , 1 i l ( \" , d l /\\ i d i l 89

Pada 1 9 84 d i a mendapat uaka p o l i ti k di Belanda clan tinggal di sana hingga sekarang. Anak tunggalnya meninggal secara misterius dan dikuburkan di Inggris beberapa tahun lalu. Asahan termasuk dekat dengan Dipa Nusantara, abang­ nya. la, misalnya, satu-satunya adik Aidit yang pernah naik mobil dinas menteri koordinator bernomor B 13. Kalau Aidit harus bekerja hingga larut, Asahan yang \"disewa\" untuk memutar musik-musik klasik . Aidit biasanya minta diputarkan Symphony No. 3 Beethoven. Dokter Soetanti (lstri Aiditl M E NYA M A R JADI ISTRI O R A N G Malam 30 September 1965, Soetanti bertengkar keras dengan D.N. Aidit. Tanti ingin suaminya tetap tinggal di rumah dan tidak mengikuti kemauan para penjemputnya. Tetapi Aidit memilih pergi. Tiga hari setelah malam kelabu itu, Tanti menghilang dari rumah meninggalkan tiga anak lakinya yang masih kecil. Belakangan baru terungkap, Tanti menyusul suaminya ke Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang juga tokoh PKI. Tak lama di Boyolali, dia kembali ke Jakarta dengan cara menyamar. Tanti dan Pak Bupati itu pura-pura menjadi suami­ istri. Agar aksi penyamaran ini sukses, \"Dua orang bocah kemudian diambil sebagai anak angkat,\" kata Ilham Aidit. \"Suami-istri\" ini kemudian mengontrak sebuah rumah di Cirendeu, Jakarta. Sandiwara itu sukses berbulan-bulan, sampai akhirnya para tetangga curiga karena Pak Bupati ini selalu bilang \"injih-injih\" kepada istrinya. Sikap dua anak angkat juga mencurigakan. \"Mereka tidak pernah manja kepada dua orangtuanya,\" kata Ilham. Dari situ, keduanya ditangkap. Soetanti bukan wanita biasa. Kakeknya, Koesoemodikdo, adalah Bupati Tuban yang pertama. Menolak untuk me- 90 Orang K i r i I n d o n es i a : D . N . A i d i t

1 1 c n 1:�k; 1 1 1 j ; d 1a t a 1 1 Ha l l ,. ba p,1k, Dr. Soetanti ayah T,m l i , M oedigd o , m - (kiri) . Sete l a h rn i l i h m e rantau ke Medan. melah irkan Ibu Tanti, Siti Aminah, putra adalah keturunan ningrat kemba rnya, Minang dan teman sekolah l lham dan Sutan Sjahrir . l r f a n A i d it, M o skow, U n i Tanti rnasuk sekolah ke­ Soviet, 1 9 59 . dokteran di Semarang atas biaya R.M Soesalit, saudara sepupu ayahnya, yang juga putra tunggal R.A. Kartini. Setelah menikah dengan Aidit, Tanti memperdalam ilmu kedokterannya di Korea dan menj adi dokter ahli akupunktur yang pertama di Indonesia. Setelah ditangkap, Tanti berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya hingga 1980. D i antaranya tahanan Kodirn 66 dan Penjara Bukit Duri. Dalam sel ia kerap membuat baju untuk anaknya meski salah ukuran: dia selalu menduga anak-anaknya masih kecil. \" Begitu dipakai, bajunya kekecilan,\" kata Ilham. Sekitar 16 tahun Soetanti tidak berjumpa anaknya. Soal­ nya, paman yang memelihara bocah-bocah itu tak berani membawa mereka menjenguk ibunya di Bukit Duri. Lepas dari penjara Tanti masih sempat berpraktek sebagai dokter. Setelah sembilan tahun sakit-sakitan, Tanti wafat pada 1991. Keluarga Besar Aidit 91

lbarruri Aidit l ba rruri Putri Alam dan l lya Aidit (dua putri D.N. Aid it) M E M I L I H B E R LA B U H D I PA R I S Kedua nya terakhir bertemu sang ayah ketika berlibur ke Jakarta pada Mei-September 1965. Ada yang aneh dari liburan kali ini. Sang ayah, kata Ibarruri, kerap menatap anak s u l u n g nya i t u secara sembunyi­ sembunyi. \"Seperti ada sesuatu dal'am tatapannya itu,\" kata Iba. Bersama ibunya, Iba sudah meng­ injakkan kaki di Moskow, Rusia, pada 1958. Ketika itu masih remaja. Setahun kemudian Ilya yang barn berumur delapan tahun menyusul. Setelah peristiwa G30S, lama kedua remaja itu tak tahu keadaan keluarga. Di koran beredar informasi rupa-rupa: ada yang menulis Aidit telah mati. Ada yang bilang ayah kedua remaja melarikan diri ke Hong Kong dengan kapal selam. Belakangan, seorang utusan dari Partai Komunis Soviet menemui mereka dan mengabarkan bahwa sang ayah telah ditembak. Koran-koran mengabarkan Aidit ditembak mati di Boyolali, 23 November 1965. Dua gadis itu kemudian berkelana dari suatu negara ke negara lain. Pada 17 Februari 1970 mereka pindah ke Beijing, Cina. Dari situ mereka ke Burma, sebelum akhirnya menetap di Paris hingga sekarang. lwan A i d it d a n si Ke m b a r l l h a m d a n l rfan H A M P I R D I T E M BA K, D I SA PA SARWO E D H I E Setelah sang ayah pergi pada malam 3 0 September 1965, dan sang •ibu menghilang beberapa hari kemudian, Iwan Ilham dan Irfan dijaga Abdullah Aidit, kakeknya . Saat i t u

mereka bersekolah d i SD Cikini. Ilham dan Irfan kelas satu, sedangkan Iwan kelas enam. Tiga anak ini kemudian dijemput Om Bayi, adik lelaki Soetanti yang bekerja sebagai direktur perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd. Dari rumah pamannya di Kebayoran itu ketiga anak itu dipindahkan ke Bandung dan menetap di ru­ mah Paul Mulyana, saudara lain ibu mereka. Setelah Paul pindah ke Belanda untuk meneruskan kuliah, tiga bocah ini pindah ke rumah saudara Paul lainnya bernama Yohanes Mulyana. Sepuluh tahun mereka tinggal bersama keluarga itu. Mereka sekolah di SMP Aloysius, Bandung. Ihlam selalu teringat akan pengalaman menggetarkan ini. Ketika usianya 9 tahun, empat orang petugas datang ke rumah Yohanes dan bertanya betulkah dia memelihara anak-anak Aidit. Yohanes mengangguk. Tuan rumah ini mengajak petugas itu ke halaman di mana Hham dan Irfan tengah main kelereng. Mengetahui dua anak itu masih kecil-kecil, dua petugas itu menyarungkan pistol dan berlalu. \"Aku betul-betul gemetar,\" kenang Ilham. \"Kami selamat karena umur.\" Beruntung, Iwan yang sudah agak besar tidak di tempat. Ketika sekolah di SMA Kanisius, Ilham kerap berkelahi karena sering diejek sebagai anak D.N. Aidit. Seorang roha­ niwan Katolik, M.A. Brouwer, yang mengajar di sekolah, menasihatinya agar tabah. ''Yang penting sekolah setinggi mungkin. Itu membuat kehidupan lebih baik,\" kata Brouwer sebagaimana dikisahkan Ilham. Dari Brouwer dia tahu bahwa ada versi lain soal peristiwa 30 September itu. Irfan, sebaliknya, melewati hari-hari itu dalam diam. Ilham kemudian kuliah di Jurusan Arsitek Universitas Parahyangan, Bandung, Irfan di Fakultas Kedokteran Univer­ ita Indonesia, dan Iwan di Institut Teknologi Bandung .

llham Aidit Ilham gemar mendaki gunung dan menjadi anggota kelompok p ecinta alam Wanadri. Di situ dia mengenal Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, komandan pasukan khusus yang membasmi PKI pasca-G30S. Sarwo Edhie adalah anggota kehormatan Wanadri. Menurut Ilham, ia bertemu pertama kali dengan Sarwo Edhie pada 1981, se­ waktu dia dilantik menjadi anggota Wanadri. \"Alzu didekap sama dia. Tidak lama, hanya belasan detik,\" kata Ilham. Pertemuan kedua berlangsung pada 1983 dalam sebuah acara p elantikan anggota baru Wanadri di Kawah Upas, Tangkuban Perahu. Saat itu Ilham menjadi komandan operasi pendidikan dasar Wanadri. Sekitar pukul 6.30 pagi, Sarwo Edhie mendatanginya. \"Kamu sekarang jadi apa nib?\" tanya Sarwo. Ilham memberitahukan bahwa dia sudah jadi kepala operasi. \"Bagus,\" sahut Sarwo Edhie. Sarwo Edhie kemudian meminta waktu berbicara ber­ dua. Mereka menyingkir ke tebing Kawah Upas. Sarwo Edhie bertanya tentang kabar dan kuliah Ilham. \"Aku jawab I' 94 0 1 , 1 1 1 q K i r i l n d o 1 1 1 \" , i . i : [) N /\\ i d i 1

J anca r, .me ki sebenarnya tidak begitu J a ncar,\" tutur I l h a m sembari te1tawa. Sarwo Edhie lalu berkisah tentang peristiwa 30 Sep­ tember 1965 itu. \"Kamu bisa menerima ini kan?\" kata Sarwo. Sarwo, kata Ilham, tidak meminta maaf. Tapi Ilham lega. \"Ini bentuk rekonsiliasi yang lengkap, \" katanya. Lulus jadi arsitek pada 1987, persis ketika pemerintah gencar melakukan scre ening terhadap anak-anak mantan anggota PKI. Sang kakak, lwan, dikeluarkan dari sebuah perusaha�n ternama setelah diketahui anak PKI. Adapun Ilham selalu pindah kerja. \"Begitu mereka tahu aku anak Aidit, mereka membuat aku tidak betah supaya keluar.\" Sejak 1992, Ilham lalu membuka usaha sendiri di bidang arsitektur. Sejak 2005 Ilham menetap di Bandung setelah tinggal di Bali selama 10 tahun. Dia juga kerap bolak-balik ke Aceh, ikut serta dalam proses rekonstruksi Aceh pasca-tsunami. Irfan kini menetap di Cimahi, Jawa Barat, sedangkan Iwan menj adi warga negara Kanada dan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan. Pada 1980 ketiga anak laki-laki itu bertemu sang ibunda dan mendapat kontak dengan Iba dan Ilya di Paris. ■ • l u ,u u c 1 l.l \" . i r _ u J l t------ ---

Ai d it dan Sera n gan _ d i Pa g i B uta J u m at, d i n i h a r i , 3 0 S e p te m b e r 1 96 5 . R a n g k a i a n a d e g a n i t u m a s i h b e rg e ra k p e r l a h a n d i kepa l a m e r e k a . l t u l a h t e ra k h i r ka l i m e reka m e l i h a t aya h a n d a m a s i n g -m a s i n g : m e n i n g g a l ka n r u m a h , b e rsa m a p a s u k a n b e r s e ra g a m C a k ra b i rawa. MEREKA, anak-anak Pahlawan Revolusi, masih remaja. Tapi, empat puluh dua tahun berselang, trauma belum juga pergi. Mereka merasa D.N. Aidit bertanggung j awab atas kej adian berdarah di malam meng�rikan itu, tapi mereka sepakat tidak membalas dendam. Sebaliknya, mereka membentuk Forum Silaturahmi Anak Bangsa, guna mencari kebenaran di balik peristiwa itu. Berikut ini tanggapan anak-anak Pahlawan Revolusi tentang kejadian itu, j uga tentang D.N. Aidit. A m e l i a A c h m a d Ya n i Amelia, putri ketiga Letnan Jenderal Achmad Yani, masih berusia 16 tahun. Ia menyaksikan sejumlah tentara Cakrabirawa bersenjata lengkap menghabisi nyawa ayahnya pada pagi buta di rumah mereka di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat. Amelia, lahir 1949, semula t i d a k ta h u per .is s i apa d a l a n p m b u n u h a n aya h n y a . B l a l a n gn n , d i n t a h u p b l n n y;i

adalah G30S/PKI pimpinan Dipa Nusantara Aidit. \"Aidit Amelia ingin merebut kekuasaan dan menganggap Yani dan j enderal Achmad Yani. lainnya sebagai penghalang,\" kata Amelia, yang sekarang Putri ketiga j adi pengusaha di Yogyakarta. Let n a n J e n d r a l Ach m a d Ya n i . Perseteruan dengan Aidit, kata Amelia, bermula dari ketidaksetuj uan Yani dengan keinginan PKI mengganti i deologi Pancasila menjadi komunis. Hal ini telah disampaikan beberapa kali oleh Yani kepada Presiden S ukarno. Namun kedekatan Aidit dengan Sukarno menyebabkan PKI tidak bisa disingkirkan begitu saja. \"Mereka melihat Angkatan Darat sebagai penghalang mereka,\" uj ar Amelia. Maka diam-diam mereka melancar­ ka n era ngan propaganda untuk menghabisi TNI Angkatan D a r a t, terutama Yani dan j enderal-j enderal lain yang pernah b • r::; k o l a h d i A rn e r i k a . Oa l a m p i d ; 1 t o J i d · pa n ta r u n a TNI Angkatan Laut p a c l a 1 1 )(>1- , /\\ i d i l 1 1 1 1 · 1 1y · l m t j n d 1·; 1 1 l i i l 1 1 s; 1 n i\\ 111. r i k a ::; b a g; i i

jenderal Pentagon berkulit sawo matang yang berbahaya. Mereka diisukan akan berkhianat. Tidak hanya itu, kata Amelia, yang sering mendengar percakapan politik antarjenderal di rumahnya, PKJ juga menyebarkan isu Angkatan Darat telah membentuk Dewan Jenderal untuk melancarkan usaha kudetanya terhadap Presiden. Puncaknya, PKJ membunuh beberapa prajurit TNI di sejumlah daerah, di antaranya Pembantu Letnan Satu Sudjono di Bandar Betsi, Sumatera Utara. Amelia mengaku tidak banyak tahu soal Aidit. Ia hanya melihat Aidit sebagai ahli propaganda ulung yang sangat ber­ ambisi untuk berkuasa. \"Dia sudah hitung-hitungan siapa yang berkuasa jika Presiden Sukarno meninggal. Yang jelas, bapak saya tidak boleh hidup karena akan menghalanginya,\" ujar Amelia. \"Kekuatan PKJ saat itu luar biasa. Tukang jahit kami saja ikut baris-berbaris di siang bolong mengikuti rapat raksasa PKJ,\" ujar Amelia. Sayang, kata Amelia, PKJ tidak cerdik dalam strategi. \"Jadinya pontang-panting setelah pembunuhan itu, \" ujarnya. Dengan kekalahan dalam waktu singkat itu, Amelia menilai PKJ sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. \"Mereka hanya berlindung (di belakang Sukarno-Red.) dan menggunakan Sukarno,\" katanya. S a l o m o Pandj a ita n \"Suara tembakannya saja masih terngiang sampai sekarang, \" kata Salomo Pandjaitan, yang lahir pada 1952, putra ketiga Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan. Pembunuhan D.I. Pandjaitan memang paling tragis. Waktu itu Salomo masih 13 tahun. Pasukan Cakrabirawa, yang datang di pagi buta ke rumah mereka, melesakkan peluru ke kepala Pandjaitan saat jenderal bintang satu itu berdoa. Pandjaitan baru saja melipat tangan ketika · ndonesia: Y l N , Ai

senapan meletus. \"Bagaimana saya tidak benci dia? Di Salomo depan kepala saya, otak ayah saya berhamburan, dihantam Pandjaitan. peluru panas pasukan Cakrabirawa,\" kata Salomo. \"Ada 360 Putra ketiga peluru ditemukan di rumah kami, yang luasnya 700 meter persegi . \" Brigadir Jenderal Bagi pensiunan karyawan Badan Pengkajian dan Donald Ishak Penerapan Teknologi ini, \"Aidit adalah pengkhianat, yang P a n dj a it a n . ingin membelokkan ideologi negara. Salah satunya dengan mendekati dan mempengaruhi Presiden Sukarno.\" Aidit, di mata Salomo, adalah dalang Gerakan 30 September. Semua berawal dari perseteruan TNI Angkatan Darat dengan PKJ. Tidak mudah menyingkirkan kekuatan politik Angkatan Darat saat itu. Apalagi Achmad Yani, pemimpin Angkatan Darat, kesayangan Sukarno. Karena itu, cara ter­ baik adalah membunuh mereka. \"Satu-satunya cara, ya, dengan kekerasan,\" ujar Salomo. D.N. Aidit akhirnya berhasil menjalankan rencananya, \"Karena waktu itu PKJ merupakan partai paling kuat dengan 99

Rianto anggota yang sangat militan,\" kata Salomo. Dalam ingatan N u rh a d i Salomo, Aidit selalu mencari pengaruh, pandai mengobarkan H a rjono. Putra semangat anggota-anggotanya. Ia juga berpidato seperti ketiga Mayor Sukarno, selalu berapi-api. PKI juga kuat karena didukung Jenderal Mas Sukarno dan negara luar seperti Cina dan Rusia. Ti rtodarmo H a rjono. \"Waktu itu, saya belum merasakan pengaruh PKI pada diri saya. Justru pembunuhan terhadap para jenderal yang memacu saya jadi antikomunis.\" katanya. Meski begitu, Salomo membatasi kebenciannya hanya kepada Aidit, \"Bukan kepada anak atau keluarganya.\" R i a nto N u rh a d i H a rj o n o \"Saya trauma bahkan masuk rumah sakit selama empat hari setelah peristiwa itu,\" kenang Rianto Nurhadi, yang kini pengusaha. Saat itu Rianto Nurhadi, dipanggil Riri, baru sembilan tahun. Ia terbangun ketika mendengar tembakan meng­ hantam kamar ayahnya. Ia sempat mendatangi ayahnya, ( h J, . \\ d ll_ 1_

tapi an ,. ayah memberi kode agar ia berlindung bersama ibu dan saudaranya di kamar lain. Selang beberapa menit, ayahnya telah terkapar bersimbah darah dan diseret ke atas truk. Riri putra ketiga Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono. Walau orangtuanya menjadi korban, Riri tidak bisa memastikan apakah PKI satu-satunya dalang pembunuhan itu. Namun Riri mengakui peran politik PKI pada 1965 cukup besar, sehingga kelompok lain, di antaranya T N I Angkatan Darat, menjadi khawatir. Apalagi saat itu P K I hendak memaksakan sistem komunis di Indonesia. Inilah yang kemudian memicu perseteruan antara PKI dan T N I Angkatan Darat. Namun PKI di bawah pimpi�an Aidit saat itu sangat kuat. Ia dekat dengan Presiden Sukarno, sehingga tidak mudah dilumpuhkan. \"Aidit sosok yang berambisi besar untuk berkuasa,\" ujar Riri. Karena itu, Aidit berhasil menjalankan rencananya, membunuh para jenderal, agar bisa berkuasa. Sampai saat ini, \"Kebencian kepada Aidit dan PKI tetap ada,\" kata Riri. Namun ia tidak mau memendam kebencian itu, apalagi menyalahkan anak-anak dan keluarga Aidit. \"Kami tidak mau benci dan dendam itu berlarut-larut. Kami keluarga Pahlawan Revolusi dan keluarga PKI sama-sama jadi korban,\" ujarnya. Agus Widjojo Agus Widjojo sedang lelap tidur saat peristiwa berdarah itu terjadi. Ia terbangun setelah mendengar derap sepatu lars dan kegaduhan di rumahnya. Tidak ada suara tembakan, tapi beberapa menit kemudian ia melihat ayahnya dibawa segerombolan orang berbaret merah. Itulah terakhir kali ia m e l i h a t an aya h . --

'1c Di kemudian hari, ia baru tahu bahwa ayahnya diculik dan dibunuh PKI. Agus putra pertama Brigadir Jenderal �i5 Soetojo Siswomihardjo. \"Saat itu saya tidak tahu jelas per­ 0 seteruan politik antara TNI Angkatan Darat dan PKI dan kenapa ayah saya dibunuh,\" ujar Agus. Lama ia baru me­ Agus Widjojo. nyadari bahwa ayahnya menjadi salah satu sasaran PKI Putra Mayor karena dianggap sebagai batu penghalang PKI untuk ber­ Jenderal kuasa. Sutoj o. \"Saya tahu Aidit dalang pembunuhan itu setelah mencari tahu,\" kata pensiunan jenderal ini. Selama ini, ia memandang Aidit sebagai orang yang yakin betul pada ideologi yang diperjuangkannya. Menurut Agus, lahir 1947, perseteruan antara Angkatan Darat dan PKI bermula dari tersiarnya kabar bahwa Presiden Sukarno sakit keras. \"PKI berambisi ingin berkuasa, namun dihalangi Angkatan Darat,\" kata Agus. Walau merasa kehilangan setelah peristiwa itu, Agus tidak dendam kepada PKI, apalagi kepada anak-anak D.N. 0 WI

Aid i t . \" Kita kan harus tetap berjalan ke masa depan, tidak Ratna P u rwati hanya terpuruk dengan masa lalu,\" katanya. Untuk meng­ Soeprapto. hindari rasa dendam antara keluarga Pahlawan Revolusi Putri Mayor dan keluarga Aidit, ia bahkan memprakarsai pembentukan Jenderal R. Forum Silaturahmi Anak Bangsa. \"Kami mencoba mengambil Soeprapto. pelajaran dan berusaha mengungkap kebenaran, apa yang sebenarnya terjadi,\" ujarnya-walaupun, kata Agus, hal itu tidak mudah dilakukan. Agus menilai pembunuhan terhadap ayahnya lebih karena alasan politik, sehingga dia tidak merasa trauma. Ratna Pu rwati S o e p ra pto Ratna Purwati telah berumur 18 tahun ketika peristiwa yang merenggut nyawa ayahnya, Mayor Jenderal R. Soeprapto, terjadi. Saat penculikan itu, rmnahnya tidak dijaga oleh seorang prajurit pun, sehingga pasukan Cakrabirawa

bisa leluasa membawa ayahnya. \"Baru setelah Pak Umar Wirahadikusumah (Panglima Kodam V/Jaya waktu itu) datang ke rumah, kami tahu Ayah diculik gerombolan PKI,\" kata Ratna, pensiunan Pertamina. Meski tidak mengetahui pasti apakah PKI pelaku tunggal penculikan itu, Ratna, yang lahir pada 1947, melihat PKI dan Aidit tidak lebih dari sosok pengecut. \"Dia tidak berani datang sendiri, tapi menggunakan dan memperalat orang­ orang bawah untuk mencapai tujuannya,\" kata Ratna. Dia tidak bisa menyimpulkan PKI sebagai pelaku utamanya, \"Karena saat itu Aidit sangat dekat dengan Presiden Sukarno.\" Ratna kerap melihat Aidit berpidato di samping Sukarno. Tidak hanya itu, Sukarno bahkan merangkul PKI menjadi salah satu kekuatan dengan mengembangkan sistem Nasakom: Nasionalis, Agama, dan Komunis. Karena sejak awal mengetahui bahwa paham komunis tidak mengenal agama, Ratna tidak terlalu peduli dengan per­ tumbuhan pesat partai pimpinan Aidit itu. Apalagi melihat Aidit sebagai sosok yang heroik. \"Yang menyakitkan para jenderal dibunuh oleh bangsa sendiri, bukan oleh bangsa lain,\" ujarnya. ■

F i l m P,igkhianatan . G-30.0S/PKI, u nt u k,1:, Syu'bah Asa. . b e be ra. p a l a m a , m e nj a d i s u m be r v i s u a l isasi M em e r a n k a n' · /iif tenta n g sosok Aid it:il!M A i d it dalam film .1 Pengkhianatan G-30-S/f?KI. \\ ,{ ' \\Ad�W., BERONDONG� peluru Cakr;birawa merangs;k ke tubuh :;l:l)Jtnan · Jenderli1Achmad Yani > pada inalam Jumat PiIHrigi 3p0intSue,ptp�urtrbaenry' a?6m�!e� !1n• Syaaaktstikuabn�idPa�rii, terempas t; iembentur;\" ;A bawah meja setrika dengan wajah pasi. Jenazah Ya�i yang fuasih H'1gat' MntasTPl digeret keluar oleh para pelaku , memporehkan jejak darah yang berlimpah-ruah di permukaan ubin.

1 01 Malam Jumat Pahing. Sebutan i t u k l u a r d a ri m u l u t Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai Komu nis I n d o n e ia, saat ia menyebutkan hari-H dari sebuah operasi rahasia. \" Kita tak boleh terlambat,\" u jarnya kesal saat ada anggota Politbiro lain menyangsikan eksistensi Dewan Jenderal dan rencana mereka untuk melakukan kup terhadap Presiden Sukarno. Peristiwa malam Jumat Pahing yang kelak dikenal se­ bagai Gerakan 30 September itu direka ulang lewat film kolosal Pengkhianatan G-30-S/PKI (1982). Itulah pertama kalinya masyarakat bisa menyaksikan rekaan waj ah Aidit dengan jelas melalui interpretasi Syu'bali Asa. Bagaimana gayanya berbicara, bagaimana ekspresinya saat berpikir, termasuk caranya mengepulkan asap rokok. Ada saat Aidit hanya disorot dengan clos e-up pada gerak bibirnya, terutama ketika menunjukkan strategi yang tengah dirancang. Aidit hasil tafsiran sutradara Arifin C. Noer adalah Aidit yang penuh muslihat. Adalah .Syu'bah Asa, budayawan yang kala itu wartawan majalah Tempo, yang didapuk Arifin sebagai sang gembong PKI. \"Tadinya saya ingin memberikan perwatakan yang lebih utuh,\" ungkap mantan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini, \"tapi Arifin bilang tak perlu karena dia hanya butuh beberapa ekspresi saja.\" Maka, seperti tersaji di film berdurasi 271 menit itu, pada saat Aidit muncul di layar, yang tersodor adalah fragmen­ fragmen seperti mata yang mendelok-delok marah atau gaya merokok yang menderu-deru gelisah. \"Saya tidak merasa sukses memainkan peran itu,\" kata Syu'bah. Tapi ia tak kecewa karena sejak awal tahu bahwa sosok Aidit dibutuhkan hanya sebagai pengimbang, bukan tokoh utama yang menjadi alasan film itu dibuat. Belum lagi menyangkut akses untuk mempelajari karakter Aidit Oran�J K i r i l n d o n e \\ i a : D . N . A i d i t

yang sangat terbatas. Bahan riset minim, dan akses ke Sutradara keluarga almarhum saat itu tak ada. \"Waktu itu tidak Arifin C Nur mungkin menghubungi keluarga Aidit. Ada jurang besar d i Tempat yang tak terjembatani. Tidak seperti sekarang,\" ujar Syu'bah. Syuti ng. Tidak Maka, selain dengan penafsirannya sendiri atas skenario m e r e k o n st r u k s i yang ditulis Arifin, Syu'bah mendalami tokoh yang akan fakta, diperankannya melalui diskusi intens dengan Amarzan melainkan Ismail Hamid, penyair yang mengenal Aidit secara pribadi. menyodorkan Sepanjang malam mereka berdiskusi di Wisma Tempo diskusi pol itik. Sirnagalih, Megamendung, Jawa Barat. Apa saja informasi penting yang ia dapatkan? \"Amarzan bilang dia sudah bertemu pemimpin komunis dunia seperti Mao Zedong dan Ho Chi Minh. Semua karismatis di mata dia. Tapi Aidit tidak,\" ungkap Syu'bah. \"Dari informasi itulah saya tafsirkan ke dalam gerak wajah.\" Namun, ketika besoknya syuting dilakukan, Syu'bah sempat ketiduran. \"Kecapekan,\" tuturnya. Ketika film itu selesai, Syu'bah kembali mengunjungi Amarzan, menanyakan pendapatnya

t 1 1 t a n pcra n y a 1 1g ia n 1 a i 1 1 k a 1 1 . \" l \\ 1 1 r1 1 k , \" 1 1j 1 1 r s; 1 1 1g pl ' 1 1 : d , seperti diula ngi Syu 'bah . Amarzan, lahir pada 1 9 4 1, ya n cli l rn b u 1 1 g i wart a w n r r Tempo Arti Ekawati, me nyat a k a n meman f i tu b u k a n p ' rn 1 1 yang gampang. \"Sulit untuk menggam barkan o o l r._ 1 1 1 11 Aidit,\" katanya. \"Apalagi itu film propaga n da . 1 mun yang ada di dalamnya dibuat berdasarkan keingin a n a 1 1g pemesan.\" Di awal proses preproduksi, sebetulnya Amarza n sempat terlibat atas ajakan Arifin dan Danarto, yang menj a d i direktur artistik film. \"Saya memberikan masukan te n ta n , setting suasana rapat-rapat PKI dan suasana pada wak t u itu,\" tuturnya. Belakangan ia mengundurkan diri setelah sarannya tidak banyak didengar. Danarto pun tak bertahan lama dalam pembuata n film yang digarap selama dua tahun dengan melibatkan lebih dari 10 ribu pemain figuran itu. \"Setelah berbula n­ bulan melakukan riset, saya akhirnya juga mengundurkan diri sebagai art dir ector karena soal honor,\" Danarto menandaskan. Bujet film i n i sendiri tercatat Rp8oo juta, yang menjadikannya sebagai film termahal pada awal 1980-an. ••• EMBIE C. Noer, yang bertindak sebagai direktur musik film itu, ingat kata-kata Arifin saat mendeskripsikan film yang akan mereka buat dengan sangat singkat, \"Ini film horor, Mbi.\" Bagi Embie, frasa sependek itu cukup menjadi dasar baginya untuk mengembangkan tafsir bebunyian. \"Saya bukan cuma adiknya atau krunya, melainkan juga anaknya sekaligus muridnya sejak dia masih muda,\" tutur Embie. \"Karena itu, yang sama-sama kami pahami adalah Aidit ) o dqpesi�; D . N.. Aidit

s 1 · l 1. 1 g ; 1 i s� · b 1 1 a h d is ! 1 1:-:i pol i t i k k ·t i 1 1 1 ba 1 1g � bagai reko nstruksi Proses Syuting fa k t a y a 1 1 ' de/Jot obi .\" Film G-30- 'o n t o h kccil yang m e n unj u k ka n itu, antara lain, adegan S/PKI. F i l m A i d i t merokok ya n g dianggap menyimpang dari kebiasaan termahal pada A i d i t sebena rnya yang tidak merokok-seperti diyakini sang awa l 1 9 80-a n . a d i k, Murad Aidit. \"Adegan itu justru menegaskan Mas Ari i i n seclang tidak merekonstruksi fakta, melainkan menyo­ d o r ka n sebuah cliskusi politik,\" kata Embie. Ia prihatin meli­ h a t pelbagai diskusi yang muncul saat itu tentang pencitraan A i clit, clan film itu secara umumnya, yang hanya ditakar dari s i s i estetika, bukan secara substantif. \" Banyak yang gagal 1 n embaca film i ni,\" keluh Embie. Dalam wawancaranya dengan majalah ini 26 tahun silam, Arifin mengatakan bahwa niatnya membuat film ini adalah sebagai \"film pendidikan clan renungan tanpa menawarkan kebencian\" (Tempo edisi 6/14, 7 April 1984). Berkaitan dengan tugasnya untuk memberi tafsir musikal pada film itu, Embie berkeyakinan bahwa ranah politik

l n< l un •:-. i a , s ; 1 1 .1 1 1 a i d · t i k i 1 i l , ; 1 d : i l a l i k o 1 H•W p h 1 1 d : i 1 1 1 1 . 1 1 1 1 d nga n pa ra p i on i r ' 'P rt i R o 1 1µ; • o w; t rs i l ( ) 1 1 1 1 l 1 i k ,•: i .1 1 1·: 1 , l . 1 1 1 metafisika erta Raden aJch unt u l ::; t · l i ka.. \" M : 1 b : , 1 1 , 1 meramu suling bambu, tape dou.bl -cass u , kc,1 1,1 11 1 1 , I, dengan semangat budaya pseu.do-modern , \" uja rnyn. Perdebatan yang sempat m u n c u ] m en na i .-1 1 1, 1 1 1, Aidit dalam film itu, seingat Jajang C. Noer, t: a l ,1J: 1 1 1 q ,, i l menggelisahkan suaminya. \"Dia sangat exc il'ecl 1' , 1 1 k 1 1 melihat hasil akhirnya,\" tutur Jajang. Bagi Jajang, proses persiapan bahan untuk os k A d 1 1 adalah saat yang sibuk sekaligus mencemaska n . M • r , · i- 1 1 sibuk membuat kompilasi dari pelbagai bahan tertul i . 1 1 1 1 l . 1 I 1 yang diolah Arifin menjadi sebuah skenario. Yang m n d > 1 1 . 1 1 cemas, tim Arifin hanya memiliki satu foto Aidit, ketika ,•1 1 1 q •_ figur berada di sebuah acara di Istora. Rumitnya lag i , f o t o l I 1 1 pun tak begitu jelas. Persoalan menjadi sedikit lebih m w I n I 1 setelah mereka berhasil mendapatkan sebuah pasfot 1\\ i d 1 yang lebih jelas. \"Ternyata bentuk fisik Aidit tak yang kami bayangkan semula,\" ujar Jajang. \"Dari pa · 10 1 1 1 itulah Mas Arifin punya kesan bahwa Aidit terlihat m i r i p Syu'bah. Bukan pada kepersisan wajah, tapi pada wiba w : i , \" Jajang mencontohkan, pencarian pada \"kemiripan wiba w 1 1 '' ketimbang kemiripan wajah juga menjadi pertimba n fl 1 1 utama saat mencari pemeran Bung Karno, yang akh i rn 1 1 jatuh pada Umar Kayam. Sudah selesaikah persoalan? Ternyata belum. Jajani •. mengungkapkan, mereka masih kesulitan mendapatkan · i 1· 1 atau gestur khusus Aidit, meski sudah mencari informa::i i k e Soebandrio dan Sjam Kamaruzaman. \"Satu-sa t u n y : 1 tambahan informasi yang muncul adalah bahwa A i d i 1 itu dandy. Bukan dalam pengertian genit, tapi pada gayri busana. Dan di situlah repotnya, \" Jajang terkekeh sejena l , \"Syu'bah nggak bisa dibilang dan dy.\" 110

Arifin C. Noer, 1991. l hwal Aid.it yang merokok itu, Jajang punya jawaban lain. S; 1 ; 1 t i t u Arifin merasa merokok sebagai representasi dari Th e '/ 11i1 Lker. \"Secara visual terlihat lebih bagus penggambaran s1 '.seo rang yang berpikir keras itu lewat rokokny a , \" ulas , J aj ang. \"Itu sebabnya ada adegan di mana layar hanya d i pe n uhi asap rokok sebagai metafor sumpeknya suasana 1 >ol itik Indonesia. \" Dengan segala pro-kontra yang muncul akibat film l'eJLgkhianatan G-30-S/PKI, satu hal yang tak bisa disangkal a d a lah generasi yang lahir pada 1970-an dan sesudahnya 1 1 1 endapatkan satu-satunya gambaran tentang sosok Aidit secara jelas hanya dari film itu. Setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 1998, buku tentang Aidit kemudian hermunculan, termasuk yang ditulis oleh mereka yang mengenalnya lebih dekat. ■ S i n ema 111

.,,..�-..· , D. N . A i d it d a n Sastra 1 12 Saj a k Pa mfl et S a n g Ketua D. N . Aidi t berhas rat j uga menjadi penyai r. Tap i p u i s i nya pernah ditolak HR Minggu. TELEPON kantor Harian Rakjat di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Jakarta Pusat, meraung-raung pada suatu Sabtu malam, sekitar awal 1965. Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central PKI, mencari \"orang yang bertanggung jawab\" atas seleksi puisi di HR Minggu, lembar kebudayaan yang berbeda isi, bahkan logonya, dengan Harian Rakjat edisi reguler. Telepon ifu disambut Amarzan, redaktur yang memang ditugasi menyeleksi kiriman puisi. \"Apakah sajak-sajak saya sudah diterima?\" terdengar Aidit di seberang telepon. \"Sudah. \" \"Jadi, dimuat dalam edisi besok?\" Setelah berpikir sejenak, Amarzan menjawab, \"Tidak.\" \"Maksudnya?\" \"Ya, tidak dimuat.\" \"Mengapa tidak dimuat?\" \"Menurut saya, belum layak dimuat.\" Hening. Lalu brak ! Telepon dibanting: Amarzan, ketika itu 24 tahun, barn dua tahun menjadi

redaktur. Ia paham, menolak puisi Aidit bisa menjadi perkara Oey Hay Djoen besar. Sejam kemudian, telepon kantor kembali berdering, masih mencari Amarzan. Kali ini dari Njoto, Wakil Ketua II CC PKI sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Rakjat. Dengan nada kalem, Njoto bertanya apakah benar Amarzan menolak memuat sajak-sajak kiriman Aidit. Amarzan membenarkan. \"Bung yakin akan pendapat Bung?\" Njoto bertanya. \"Yakin.\" \"Tak ada hal-hal lain yang bisa dipertimbangkan?\" \"Tidak. \" \"Baik. Kalau begitu, saya mendukung keputusan Bung. \" Plong. Tadinya ia menyangka Njoto bakal memaksanya memuat sajak-sajak Aidit itu. \"Jika itu terjadi, saya akan ke­ luar,\" katanya mengenang \"insiden telepon\" itu, pertengahan September 2007. Ketika itu, gajinya Rp525 per bulan, cukup untuk makan dua pekan di masa beras sulit dan apa-apa hams mengantre. Menurut Amarzan, ia menolak puisi Aidit justru karena ingin menyelamatkan \"martabat\" sang Ketua. \"Puisinya sejenis puisi poster,\" katanya. Sayang, Amarzan lupa puisi Aidit mana yang ia tolak ketika itu. Aidit lumayan banyak menulis puisi, dari 1946 sampai 1965. Sajak-sajaknya hampir seluruhnya ber- isi puji-pujian kepada partai, atau anjuran revolusi, bahkan dalam sajak yang sangat personal sekalipun. Selain di Harian Rakjat itu, sajak Aidit kerap muncul di Suara Ibukota, sebuah koran politik Jakarta yang diasuh seorang aktivis PKI, Hasan Raid. Aidit menggunakan puisi sebagai media untuk berkomentar atas peristiwa aktual yang ia lihat dan dengar, dengan gaya m enyeru dan berpetuah. Sajak-sajak di k dua koran itu kemudian dikumpulkan

cla n d i terb i t k a n d a l a m a n : to l. ogi J,u m p i 1 1 · da 1 1 I idw , g . Baca, misalnya, sajaknya \" Raja N a i k Mali kota Keci l \" , yang ditulis pada 23 Juni 1962 untuk menyindir p engangkatan Letnan Jenderal Achmad Yani sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Udara hari ini cerah b enar p emuda nyanyi nasakom bersatu g elak ketawa gadis remaja m endengar si lalim naik takhta tap i konon mahkotanya kecil Sajak empat kuplet ini ditutup dengan stanza: Ayo, maju terus kawan-kawan/ Halau dia ke jaring dan jerat/ tangkap dia dan ikat erat/ hadapkan dia ke mahkamah rakyat! Atau baca: ''Yang Mati Hidup Kembali\", yang ditulisnya pada 14 Februari 1961, sebulan setelah Patrice Emery Lumumba, pemimpin gerilya rakyat Kongo, mati dibunuh agen rahasia Amerika, CIA. Butir-butir airmata m embasahi koran pagi/ Orang hitam b erhati p u tih itu/ dibunuh siputih berhati hitam ! Aidit sendiri pernah sekali menulis pada 1964 bahwa sastra itu harus bertanggung jawab, berkepribadian nasional, dan mengabdi kepada buruh dan rakyat. Kredo ini menjadi semacam tren yang dianut para penulis \"berhaluan kiri\". Amarzan, sebagai redaktur HR Minggu, secara pribadi meng­ anggap puisi tak selalu harus begitu. Ia sendiri, sebagai pe­ nyair, bisa saja menulis puisi tentang cinta, kebimbangan, bulan, dan laut. Tak hanya Amarzan yang menganggap puisi-puisi Aidit jelek. Oey Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI, juga berpendapat demikian.

B · k a H p ·ja l ,a l l ' K I i 1 1 1 1 1 1 ·ng · n a n ' , Amarzan i a ser i n � c l i l i ri 1 1 1 i Haj a k o l e h A i d it Loebis u ntuk d i m i n ta i pendapat. Tapi laki-laki itu, yang masih gesit di usia 78 tahun ketika diwawancarai Tempo pada 2007, dan meninggal dua tahun kemudian, mengaku tak pernah menggubrisnya. \"Buat apa? Jelek,\" katanya. Hay Djoen sendiri menulis prosa memikat dengan nama samaran Ira lramanto atau Samandjaja. Sobran Aidit-adik D.N. Aidit­ sekali walqu pernah bercerita bahwa abangnya sesungguhnya mengagumi sajak-sajak Chairil Anwar. Chairil dan Sobran pada 1949 pernah satu kos di Jalan Gondangdia Lama Nomor 2, Jakarta Pusat. Mengetahui adiknya berkawan dengan penyair terkemuka Indonesia itu, Aidit membual: \"Chairil itu, kalau masih hidup, pasti berpihak pada PKI, meski tak mau jadi PKI.\" Sobran sendiri saat itu kerap mengirim cerpen ke be­ berapa koran dan majalah sastra. Aidit kerap mengkritik cara adiknya itu menulis. \"Abangku ini ternyata banyak tahu soal-soal teori sastra mutakhir,\" tulis Sobran dalam Aidit: A bang, Sahabat, dan Guru di Masa Pergolakan (2003). Aidit

kemudian kerap meminjamkan buku-buku penulis Rusia seperti Tolstoi, Dostoyevsky, dan Anton Chekhov kepada Sobron. Barangkali menulis puisi, bagi Aidit, hanya semacam gaya seorang pemimpin partai. Sebab, banyak pemimpin partai komunis di Asia yang pandai menulis sajak. Mao. Zedong menulis sajak. Ho Chi Minh malah punya kumpulan sajak yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, Prison Diary. Para pemimpin PKI lainnya-Njoto, Sudisman, Alimin, dan M.H. Lukman-juga menulis sajak. Ketika tersebar kabar Aidit meninggal, 23 November 1965, Mao Zedong menulis sajak belasungkawa yang dimuat di sebuah koran Tiongkok, yang terjemahan Indonesianya kira-kira: Di jendela dingin berdiri reranting jarang beraneka bunga di depan semarak riang apa hendak dikata keg embiraan tiada b ertahan lama di m usim semi malahjatuh berguguran. ■

Buku-bulm Soal D. N . A i d it Setelah Kel u ar dari Lac'i Penu lis P u l u han b u ku menyaj i kan aneka versi tentang s o s o k D.N . Aidit. Ayah yang baik h i ngga p o l iti k u s oportu nis. \" D . N . AIDIT d a n PKI adalah kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.\" Murad Aidit menuangkan kesaksiannya terhadap sang kakak dalam buku Aidit Sang L e genda. I a meluk,iskan Achmad Aidit alias Dipa Nusantara Aidit sebagai aktivis yang habis-habisan membesarkan partai palu arit. Begitu sibuknya, Aidit kurang memperhatikan segala kesulitan yang ia hadapi. \"Bang Amat,\" begitu Murad memanggil Aidit, \"adalah kakak yang sungguh tak dapat diharapkan.\" I a mencontohkan saat mehlinta uang biaya pernikahan, ia sama sekali tak diberi. Tapi, pada saat yang lain, rasa kesal dan benci kepada Bang Amat tandas ketika Murad tergolek lemah akibat TBC. Dokter memberi Murad obat TBC terbaru dari Swiss, yang belum beredar di Indonesia, Ada l a h A i d i t yang tn n d a patkan obat i t u , m nganda l ka n

jaringan pertemanannya di luar negeri. Cerita pun mengalir. Aidit kali ini disebut sebagai kakak yang sempuma. Inilah sepenggal kisah haru-biru hubungan kakak-beradik yang ditulis dalam buku 264 halaman yang terbit pada 2005. Tak cuma Murad. Sobron Aidit, adik sepupu Aidit, juga menulis beberapa buku. Begitu pula Ibarruri, putri tertuanya. Iba menyebut sang ayah dalam buku Ibarruri Putri Alam: Anak Sulung D.N. Aidit yang terbit pada 2006 sebagai \"manusia yang paling kucintai\". Buku-buku dari lingkaran terdalam keluarga Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia itu tak mungkin bisa kita baca 13 tahun lalu. Kendati sudah mulai ditulis belasan tahun lalu, buku-buku itu hanya teronggok di laci penulis. Kini, di era reformasi, kata sejarawan Asvi Warman Adam, \"Kita bisa lebih mengenal sosok Aidit dari sudut pandang personal.\" Ketika mendengar berita kepastian tewasnya san& Ayah, misalnya, Iba me­ nuliskan, \"Di masa aku remaja, aku tiba­ tiba kehilangan manusia yang paling kucintai, kukagumi, yang menjadi teladan dalam cita-cita.\" Ibarruri adalah nama pemberian Aidit yang diambil dari nama pemimpin gerakan Komunis Intemasional asal Spanyol, Dolores Ibarruri. Dolores terkenal dengan aksi menentang diktator Spanyol, Jenderal Franco. Meski memuji setinggi langit sang ayah, Iba me­ nyebut Aidit sebagai ayah yang tak mengerti merawat anak. Suatu kali di masa kecil, ia pemah menangis. Aidit yang tak tahu kenapa anaknya menangis terns mem­ beri minum hingga perutnya kembung. l ,, x,c1 · L i_ . J r u j u u 1 · L) 1\\1 1 d i -1

jal o ·harto tumbang, buk u-buku yang ber­ usaha \"membersihkan\" sosok Aidit bebas beredar. Tak hanya tulisan saudara dan anak-yang jelas lebih banyak memunculkan sosok manusia Aidit dan dibumbui emosi karena kedekatan pada sang tokoh-tapi juga penulis atau peneliti yang tak ada hubungan apa pun dengan Aidit. Buku Me­ nolak Meny erah ; Menyingkap Tabir Keluarga Ai dit (2005) karya Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah boleh dikelompokkan dalam buku yang tak boleh terbit di masa Orde Baru. Dalam buku itu, tak ada kesan dalang pembunuhan kejam dan bengis-sifat yang tertanam pada sebagian besar benak orang Indonesia karena dijejali buku-buku sejarah yang memojokkan Aidit-pada sosok politisi yang dikenal dekat dengan Sukarno ini. Buku tersebut bahkan memuat informasi bahwa Aidit terkucilkan dari peristiwa besar G30S/PKI. \"Yang terjadi adalah peristiwa di luar skenario

Aidit,\" tul i s Budi dan Yani . \"Tc1:jadi pc 11y i 1 1gkiran ke Halim, yang m e ngakibatkan te rputusnya komunikasi.\" Kebanyakan buku yang terbit di era Orde Barn memperkenalkan Aidit sebagai sosok yang pantas dimusnahkan. Buku Pergolakan Politik Tentara Sebelum dan Sesudah G-30-S/PKI yang · ditulis Todiruan Dydo pada 1989 menyebut Aidit sebagai pemimpin partai licik dan oportunis yang khawatir Angkatan Darat akan berkuasa setelah Sukarno meninggal. Maka Aidit meniupkan isu adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta. Aidit pula yang memerintahkan penangkapan para jenderal. Buku ini menyebut Aidit sebagai sosok yang amat dekat dengan Sukarno, dan memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingannya sendiri. Aidit dituding sebagai orang yang selalu menjelek-jelekkan tentara di hadapan Sukarno. Ia bahkan dituding sebagai sosok yang menyaring informasi yang akan disampaikan kepada Presiden. Ketika itu, Presiden tidak bisa mengandalk�n informasi intelijen karena dalam kalangan tentara sendiri terjadi kesimpang-siuran akibat penyusupan orang-orang PKI. Aidit adalah dalang G30S/PKI. Demikian buku kontroversial Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai yang dikarang Soegiarso Soerojo pada 1988. Dituliskan bahwa Aidit sebenarnya barn akan merencanakan kudeta pada 1970. Namun dokumen yang berisi instruksi agar seluruh pimpinan PKI bersiap memuluskan rencana itu bocor. \"Seperti disambar geledek di siang bolong, D.N. Aidit yang ketahuan belangnya menjadi sangat marah,\" tulis Soegiarso. Inilah yang membuat Aidit mempercepat kudeta men jadi 1 965. _,_ r UJU L i udur I I J .A I J l',J Ll. 1 d i

Soct opo Soetanto dalam kumpulan tulisan Kewaspadaan Nas ional dan Bahaya Laten Kom unis menyebutkan kelihaian Aidit memanfaatkan tentara untuk membunuh para jenderalnya sendiri.\" Bahwa cara kerja PKI harus konspiratif, \" demikian buku ini mengutip konstitusi PKI yang merupakan ide Aidit. Pemiinpin Politbiro PKI ini pun memerintahkan infiltrasi ke tubuh militer. Para tentara yang sebelumnya memiliki latar belakang PKI didekati dan dipakai untuk melancarkan kudeta 1965. Dalam Rangkaian Peristiwa Pemberontakan Komunis di Indonesia, Aidit digambarkan sebagai sosok yang anti-Tuhan. Koran-koran berhaluan komunis memproklamasikan Pancasila tanpa sila pertama. \"Juga dalam kesempatan berpidato di depan peserta Pendidikan Kader Revolusi 1964, D.N. Aidit berkata bahwa sosialisme, kalau sudah tercapai di Indonesia, maka Pancasila tak lagi dibutuhkan sebagai alat pemersatu, \" begitu tertulis dalam buku keluaran Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan, Jakarta. Tribuana Said dan D.S. Moeljanto dalam Perla­ wanan Pers In donesia BPS Terhadap Gerakan PKI menceritakan buntut panjang pidato Aidit itu. Pers pun terbelah, berbagai golongan mengecam Aidit. Pro-kontra berakhir setelah Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh memerintahkan semua pihak menghentikan polemik pidato tersebut. Aidit pun sempat mengatakan bahwa pidatonya dipelintir harian R evolusioner, padahal ia tidak bermak ud mengatakan bahwa Pancasila tak lagi d i pe rlukan .

I n i tak jauh berbeda d ngan b u k u -b u k u pclaj a ra n e l . J a b yang memuat versi pemeri n tah Orde Baru. B u k u Seja rah Nasional Indonesia, misalnya, jel as-jelas men yebut PKC dan Aidit sebagai dalang tunggal peristiwa 1965. Buku yang antara lain dikarang oleh Nugroho Notosusanto itu menuai kontroversi karena menghujat Sukarno dan menyanjung Soeharto sebagai penyelamat bangsa. Di buku itu, juga buku­ buku pelajaran lain, digambarkan sosok Aidit yang kejam, bengis, dan tak percaya kepada Tuhan alias ateis. John Roosa, sejarawan University of British Columbia, Kanada, yang menulis Dalih Pembunuhan Massa[, meragukan Aidit dalang G30S. la justru memaparkan fakta bahwa Peristiwa 30 September 1965 itu sebagai upaya Soeharto dan jenderal AD memukul balik PKC. Isu Dewan Jenderal diembuskan sebagai provokasi agar PKC menyerang lebih <lulu. Sejumlah sumber rahasia John memberi kesaksian yang mendukung tesis itu. Dalam suatu kesempatan, Aidit mengemukakan prinsip dan pilihan hidupnya kepada Murad. \"Kau tahu, aku memang tidal< akan menjadi pahlawan keluarga. Pahlawan keluarga itu terlalu sederhana dan amat egois. Kita hams menjadi pahlawan bangsa.\" Kita tahu, ucapan Aidit ini tak berujung sebagaimana yang ia harapkan. la tak akan pernah tercatat sebagai pahlawan. ■ 1 22 0 1 < 1 1 1 1 1 K i r i l 1 1 d o 1 1 1 • • , i , 1 . D . N . /\\ 1 d i t

Ko l o m - ko l o m

1 24 Rahasia Aidit Hilmar Farid Sejarawan JUMAT, dini hari, 30 September 1965 . Rangkaian adc ron ii i t masih bergerak perlahan di kepala mereka. I t uJ a h t ra k l i l 1 kali mereka melihat ayahanda masing-masi ng: menin · , t l k:i 1 1 rumah, bersama pasukan berseragam Cakrabi rawa. Aidit memimpin PKl sejak Januari 1951. Baru b b r: 1 p: 1 bulan, partai yang baru dipukul secara politik d a n / i ,'4 Is menyusul peristiwa Maa.iun 1948 itu kemba l i berb a d a p: \\ 1 1 dengan represi. Pada pertengahan Agustus, ribuan pem irn 1 , 1 1 dan kader partai ditangkap di Medan dan Jaka rta. I u i t v 1· jadi setelah serangan terhadap sebuah k a n t o r p l i :-; i d 1 Tanjung Priok oleh gerombolan yang mengenaka n . i I I i i 11 i i palu arit. Sekalipun pemimpin partai membuat p rnya l : 1 : 1 1 1 tidak terlibat dalam serangan itu, pemerintal1 Suk i 1 1 1 a 1 1 I 1 1 : q , mengirim aparat untuk mengejar kaum komuni . L\\.id i l l w 1 sama Lukman dan Njoto lolos dari kej aran . Tepat empat tahun kemudian, Septem be r 1 955, P l I 1 1 1 1 • nempati urutan keempat dalam pemil. i l,a n umu , n d ' I I )', 1 1 1 6,1 juta suara atau meraih 16,4 persen d a r i t o t a l :-; 1 1 a ra . I > 1 1 . 1 tahun kemudian, d a l a m pemil i h a n d a ra h , j 1 1 1 1 1 1 : i h . ' 1 1 : 1 1 . , 0 1 , 1 1 1 q K i r i lndo1 1 1 \" , l d . D . N /\\ 1 d 1 1

1 1 1 1 1 1 1 k l ' K I 1 1 H · 1 1i1 1 • ka l h a 1 1 1 pir 40 pers 1 1 , ba h ka 1 1 d i b ·b •rapa d : 1 -ra h 1 1 1 -r ·ka 1 1 , a yo r i t a ·. Jum l a h a ng 1 o t anya yang mul a h : 1 1 1ya 4 . 00 onrng r: n cn i n rka t puluhan kali lipat. P a d a 1957 Aid i 'L d n r an ban 1a m e l a p o rkan bahwa jurnlah perempuan a 1 1g�ota partai udah. mencapai 100 ribu. Pada usia 31 tahun A i d i t :-;ud a h m njadi pemimpin salah satu kekuatan politik pa:-;ca - rcvolusi yang paling signifikan dan hidup. A p a ra h a ia Aid it mengubah partai yang semula terbelah k l ' d a l a m banyak faksi menjadi kekuatan politik yang solid da11 anclal? l .'e n g a m b i l a lihan partai dari apa yang disebut \"kalangan l 1 1 a \" o l c h Aidit, Lukman, dan Njoto, pada awal 1951 bukan­ l a h prose yang mudah. Perdebatan berlangsung di tingkat p i l l l pinan pu at sampai kader-kader daerah. Dalam berbagai k1 1sc 1 1 1 pa tan , Politbiro baru di bawah Aidit menggunakan t a 1 1 ga n besi. \" Pengadilan\" dibentuk untuk mendisiplinkan b d 1 · r yang berseberangan pandangan dengan pemimpin l ia rn . IJanyak dari mereka yang diadili ke- Pada 31 tah u n 1 1 1 1 1 < l i a n d it urunkan jabatan dan status A i d it s u d a h m e n j a d i k 1 ·: 1 1 t )-'J�ot aannya, bahkan dikeluarkan dari pem i m p i n salah satu p:1 rt a i . politi k p a sca revo l u s i y a n g S e t o l a h berhas i l melakukan konsolidasi pal i ng signifikan d a n d 1 • 1 1 ga 1 1 mcnyatukan unsur-unsur yang h id up. sd 1 1_ju p a d a garis kebijakan baru partai, l 'o l i t b i ro yang dipimpin Aidit muJai mem- ha 1 1 g 1 1 1 1 � t rukt u r organisasi yang ketat. < >ra n g yang b e rtanggung jawab melakukan tugas berat ini 1 1 d a l a h S 1 1 d i man. Se)eksi dan perekrutan anggota dirapikan. Sl ' l ia p c a l o n anggota melalui tahap pemeriksaan dan peng- 1 1 wasa 1 1 s • l a m a l i m a sampai enam bulan sebelum menjadi 1 1 1 1ggo t a p 'nuh d a n kemudian kader partai . Pada saat ber­ Na 1 1 1 ; 1 a n d i b r l a kukan ju a a a demokra i di mana kader l , i .,;a 1 1 1 1 : n 1 1 : i rn l a n p rb d a a n pcn d a pa t dan k rit i k h ing a K 1 1 l rn 1 1 1-.olor 1 1 1 25

t i d a l< terakumula ·i m c nj a d i fa, k�i s p · r t i 'I' 1j a d i p , 1 d ; 1 1 1 1 . i:i:1 sebelumnya. Pendidikan p o li t i k mendapat p rhatian k h u u� d a 11. 1 1 1 , · nurut Ruth McVey inilah kunci yang m m b u a t P K I' 1 1 1 1 · 1 1 1 pesona banyak orang. Di tengah s i stem p e n cbcl i k a n n n · i o w t l yang belum berkembang, jumlah sekola h d a n u r1 1 ; 1 1 1 J '. 1 26 ()1 , 1 1 1 < ] K i l l l 1 1 d 0 1 H \",ld [) N. /\\ 1 d 1 I

l l ' rl 1a t ; 1 �, k ·g i a t·a 1 1. [ ) > n c l i d i ka n y a n g I i · · l u n \" ' a ta k a n P K [ d i l w rb. i g a i 1 i ng k : .1 t · p r t i m e njad i j a l a n m m � j u mod r n ita . !\\ 1 1 a l i s i · M a r x i ·, t u d i k o n o m i pol i t i k , eja ra h masyarakat, y a n g c l i aj a rka n li ekola h dan kursus p o l i t i k m i l i k pa1tai 1 i d a k h a nya m nawa rk a n i i tapi juga cara \"berilmu\" baru. P r l u a an I e n d i d i ka n i n i dibarengi dengan berlipat

gandanya kegiatan pencrbi tan. l laria 1 1 U.ukja l' , y a n g sv 1 1 1 1 d 1 1 terbit terbatas untuk kader dan ang g o t a parta i, pada a w a l 1957 sudah menjadi harian dengan tiras 60 ribu k� rn pl: , r, Cabang-cabang partai mempunyai penerbitan end i r i scp, rt i Suara Ibukota di Jakarta, Suara Pe rsatuan d i s � m a ra 1 1 ) , Buletin PKI Djawa Tim u r di Surabaya, dan Lombok Ua.1 1 9 1 1 1 1 d i Mataram. Terjemahan karya asing k e clala rn b a b : \\ s 1 1 Indonesia banyak dilakukan. D i Jawa Barat, kader p,1 r 1 a i membaca karya Mao dalam bahasa Sunda. Namun elemen yang paling penting dalam kon oli. d : 1 s l partai adalah tumbuhnya komunitas yang berpu a t p a., h organisasi partai. Kantor partai adalah tempat yang h i d i l p dan para pengurusnya adalah orang yang aktif d a la 1 1 1 komunitas. Organisasi secara konkret membantu a n ggo1 a menghadapi masalah, mulai dari tekanan politik pihak lawa 1 1 sampai urusan sehari-hari seperti melahirkan dan kem:x 1 i a 1 1 , Menurut Donald Hindley, PKI berhasil mem b a n µ; , 1 1 1 komunitas-komunitas berbasis solidaritas dalam masya ra ka l yang penuh ketegangan dan pertentangan. Perkembangan pes.at ini hampir tidak men d a p : 1 1 hambatan berarti. Sejak 1951 Aidit menitikbera t l 1 1 1 1 perjuangan partai melalui jalan parlemen. Dengan t ra t � ' ) ', front nasional P K I berhasil menciptakan ruan , y :1 1 1 )', memudahkan konsolidasi partai . Sepanjang 1 95 0-: 1 1 1 PKI praktis tidak pernah \"bermain di luar jalur\" s p ' l'I halnya partai-partai yang bertualang dengan terhbat a k s l pemberontakan di daerah-daerah, usaha p u t: s ·h : 1. t : 1 1 1 persekongkolan untuk menyingkirkan pemimpin n as i 0 1 1 : d , Tidak mengherankan jika Sukarno meliha tnya H b a g n sekutu penting untuk mengimbangi te kanan p i h a l 1 1 1 i l i 1 r. Semua ini berubah pada awal 1 9 60-an. L\\ u g l a L 1 1 1 Darat dan kekuatan ant i komu n is k i n i m 1. i h a t P K I. s · b : l ) •,: i l ancaman nyata. A:ncaman b a h wa f :> K f al a 1 1 I > · rl 1 a 1-1 i l 1 1 1 1

1 1 g 1 1 a s : 1 i, p rn n n i n l a h u1 ·lalu i p o 1 1 1 i l i h a u 1 1 111. u m d a n pct:j u a n g­ a n p a rl c m n t 'r mcmbuat l a w a n p o l i t i l<nya d iam-diam 1 1 1c 1 1 sy 1 1 k uri Dcmokrasi Terpimpin. Ketegangan sosial dan pol i t i i . mcningkat kare,1a perekonomian me mburuk. Para a hl i. psych ological warfa re dalam maupun luar negeri scmo n t: ara itu meramaikan suasana politik dengan desas­ d e s u s , pcngacauan informasi, dan aksi subversi. l? K ( mulai memasuki gelanggang politik barn. Tekanan lil 'rbaga i p i bak membuat keputusan-keputusan penting se- 1 1 1 a k i n tcrpusat di tangan segelintir pimpinan. Jarak dengan n i assa mulai terasa . Komunitas yang tum­ Sem u a berubah h u b di sckcliling organisasi partai kini ter- pada awal 1960- p u s a 1· p a d a mobilisasi dan semakin banyak a n . A n g kata n Da rat p( ' r l i mbangan survival yang melandasi ke­ d a n kek u atan l i ij a kan pattai. Bmuh dilarang mogok, petani a nt i ko m u n i s k i n i d i n , inta m.enahan diri agar tidak mengambil mel i h at PKI seba g a i al i h la b an, jika sasarannya adalah sekutu a ncam a n nyata. d a l a n i . front nasional. . J arak pemimpin dengan massa semakin l ( ·rasa, sckalipun jumlah anggota partai semakin bertambah. l l u m c m b uat P K I seperti \"raksasa berkaki lempung\", 1 1 w 1 1 1 i 1 1jam i stilah sejarawan Jacques Leclerc. S ' m an Aidit untuk memperkuat barisan partai dengan 1 1 1 \\ ' n a m h a h jumlah anggota tidak hanya disambut oleh r a k y a l d i k a m p ung dan desa yang melihat PKI sebagai p i n l u m cnuju modernitas dan kemakmuran, tapi juga para pt·j a ha l dan mcreka yang dalam analisis sosial PKI disebut ka h i r alias k a p itali b i rokrat. Bagi mereka menjadi anggota parl a i ad al. a h jalan mengamankan posisi dalam birokrasi d a n 1 1 1 • m h a n u n pe rl indungan diri menghadapi pergulatan sos i a l y a n g kadang b e rlang ung ke ras clan penuh konflik . l ' l< I p 1 1 1 1 L 1 1 1 11 , h u h rn nj a d i tub u h besar yang lamban dan I i d : 1 1< la)..\\i l a 1 1 g k a s I l l n µ; h a d;: i p i p r u h a h a n .

Di tengah kea d a a n i n i A i d i t rn nd 1 1 1· a r I , ' r i l a 1 1 : n 1 a 1 1 1 ·. Dewan J e n deral yang b e r n c a n a m n · r 1 1 l i n, b u p c • merintahan Sukarno. PK I s e b a g a i p a rt a i u d a h t - r l n l 1 1 lamban untuk mengikuti d i n a m i k a y a n g be r l a n - u n ,. · p n I , Keadaan menuntut ketangkasa n polit i k . Ket i l a k pu l l 1 s n 1 1 menentukan harus diambil dalam hitungan h a r i d o n j ; l 1 1 1 , Aidit pun terkucil dari Comite Central dan k a wa n - kawa n 1 1 1 1 sendiri. Selama September 1965 tidak ada lagi rapat Pol i t b i rn Aidit bersama sej umlah pemimpin partai ter er t d a l n 1 1 1 gelap politik klandestin, agen ganda, dan tipu daya. Ada yang menyebutnya pengkhianatan. Ada j uga : 1 1 1 ) ', bilang petualangan. Bagi saya, kata yang l eb i h tepat ad a l 1 1 l 1 tragedi. ■

Aidit dalam B i n g ka i Nawa ksara Asvi Wa r m a n Ad a m Peneliti LIP/ l ' l •: l r l '/\\ N YL\\AN seberapa besar atau seberapa kecil peran /\\ i c I i i d a l a m Gerakan 30 September mengimplikasikan bahwa 1 1 1 l c • rl i b a t d a larn manuver politik tingkat tinggi tahun 1965. V c · rs i - v -r.si d a l aJ1g peristiwa tersebut yang selama ini bersifat l 1 1 1 1g)..',a l ( P K I , Angkatan Darat, Sukarno, Soeharto, CIA, d ,•; L ) L 1 k l u p u t dari k ritik. Peristiwa yang begitu kompleks I i c l 1 1 k 1 1 1 1 1 ngk i n d i l a kukan satu orang, satu kelompok, atau 1m l 1 1 g o l o n g a n aj a . Dalang peristiwa itu lebih dari satu, 1 w l i i 1 1 gga a n a 'li i B u n g Karno sebagaimana disampaikan d 1 1 l a 1 1 1 p i d a t o Nawaksara tahun 1967 dianggap lebih tepat. M c • 1 1 m 1 1 1 ' u ka r n o , peristiwa itu merupakan pertemuan tiga 1 i c · l i1 1 l i : k •bl i ngernya p impinan PKI, subversi Nekolim, dan 1 1 c l 1 1 1 1 ya o k n u m -ok n u m yang tidak benar. K . i l a 1 1 di • u n · , k a n matematika sederhana, andil masing- 1 1 1 1 1 ,-.; i 1 , ,._., p i h a k ya n g d isebut dalam pidato Nawaksara itu : 1 : 1 . : 1 : 1 1 w rs • 1 1 . ' f u l i .s a n i n i rnencoba m engelaborasi persentase l , • r.-.;, • l , 1 1 1 . M a 1 1a ya 1 F I b i h m e n e n t u k a n , p i h a k a i ng a t a u 1 1 1 1 : : i 1 r c l . i l ; l n t 1 1 · µ; r i ? 1'- o l rn t l l u l u 1 u------Ul'I

Pi m pi n a n P K I y a n g \"k bl i n g • r \" i t n ac h lalt B i ro Cl 1 1 1 :-: 1 1 . ' yang diketuai J a n g ung A i d i t d j mana 'j a m l(a n 1a rn za 1 1 1 a 1 1 b o l e h d i k a t a k a n d i rek t u r e k s k u ti fn y a . N c k l i rn (Neokolonialisme) tentu mengacu kepada A m c rika rika t (AS), sungguhpun arsip yang terbuka belakangan m � 1 1 1. p · r• lihatkan bahwa Inggris dan Australia juga mend u h l l l / ::, ·­ penuhnya gebrakan membasmi komunis. Na.m u n da l a 1 1 1 kategori pihak asing itu tentu tidak dapat diabaika n p r ; 1 1 1 Uni Soviet (termasuk Pakta Warsawa, konon agen a a l k, Ladislav Bittman, terlibat) dan RRC. Sebel um mel t u s 1 1y; 1 Gerakan 30 September, dokter-dokter Cina tela h k lua r­ masuk Istana Presiden. Arsip Jepang mengenai tah u n l - ( ) [j juga perlu diperiksa. Rumusan \"oknum yang tidak benar\" itu ko n o n p n g• halusan dari \"jenderal yang tidak benar\". Proses pe n u l i:;;; 1 1 1 pidato Nawaksara itu sendiri perlu diteliti karena Su karno meminta masukan dari beberapa tokoh. Apakah yang di t uj 1 1 Menjela n g peristiwa Sukarno adalah Soeharto (yang pad 1 1 itu, kekuasa a n masa awal beraliansi dengan Na uti .n ) · terpu sa t p a d a t i g a Atau ter:masuk juga Untung dan La.ti I'? p i h a k, y akni Soeka r n oE PK lr1adt.a n Angkata n \"Keblingernya\" Aidit dise bab b 1 1 Da situasi yang sangat meruncing a a t i' t 1 1 , Menjelang peristiwa itu, kekua a a n t I' pusat pada tiga pihak, yakni Suka r n o , PKI, dan Angkatan Darat (AD). A D 1 1 w nguasai senjata, sedangkan PKI mendominasi d u k u n gn 1 1 massa. Kalau saat itu diadakan pemilu, niscaya p ; \\ r t ; 1 i komunis akan menang. Sebab itu kekuatan ant ik o n 1 1 1 1 1 1 1, seperti Jenderal Suhardiman mengupayakan S u k a r n o menjadi presiden seumur hidup agar status q u o tetap t lj ; 1 ) ;: 1 , Bung Karno sendiri tidak pernah memberikan kcs 1 1 1 p. 1 t n 1 1 kepada elite komunis memimpin departe m e n k u a l i j ; 1 d 1 menteri negara. Sukarno juga me n olak u u b n p n 1 b 1 1 u a r; 1 1 1 1 32 0 1 , l l hJ K i 1 i l 1 1 d ( lll ( \\ \\ l d '. l) , N , /\\ 1 d i l

I l i 1 1 1 p 1 1 1 1 ; 1 1 1 M a l t ; 1 .., i::1w a l ::1 l a 1 1 1 ol. · I t 1 u alta:-: iswa k i ri. I < • k 1 1 ; 1 t·an S 1 1 ka rno � · k 1 i n dukun •an ma if dari rakyat j uga t c r l e t a J< pada k · 1 1 1 a 1 1 1 p 1 1a 1 1 m nja,,. a perim bangan politik. Ia akhirnya jatuh ka r · n a k :;; i m.bangan itu p a. t a b sete] a h mel etus Gerak a n 30 S · p l mb r. Kondisi perekonornian yang terpuruk, suasana politik yang kian panas karena konflik tanah dan kebudayaan, kon­ fro 1 1 t · 1 i dengan Malaysia dan agitasi terhadap pihak asing ( /\\S clan I nggri ·), selta beredarnya dokumen Gilchrist dan I ) ·wa n J e n d e ral, menyebabkan semua pihak bersiaga. AD dapat m ngkudeta Sukarno namun tidak akan didukung rakya t cl a n dunia internasional. PKI tidak punya senjata 1 1 1 1 l u k m a k a r. Dalam konteks ini, bila AD mengambil la ngkah lebih <lulu dan berhasil, Presiden akan terguling d : 1 1 1 s lanjutnya PKI akan dibasmi. Karena itu, manuver D e w a n J e n deral (yang keberadaannya dipercayai sang k · t ua ) h a m dicegah. Rapat antara motor Biro Chusus PKI, Sja m ( pi h a k sipil) dengan Untung dan Latief (unsur militer) 1 1 1 cmil i h cara yang \"lazim\" dalam sejarah revolusi Indonesia, yakni ·ulik. Para Jenderal itu akan diculik dan dihadapkan kepada B u ng Karno. Bila mereka dipecat atau dipermalukan, a 1 1 ca m a n k udeta tidak terjadi lagi dan selanjutnya pihak kiri l l ' 1 1 L 1 1 dapat merninta kursi pimpinan depaltemen kepada l ' resid cn . K o n ep culik sudah dipraktekkan sejak Desember 1 1>4s, kctika te1jadi penculikan dan pembunuhan terhadap M c n l • ri Negara Otto Iskandar di Nata. PM Sjahrir juga p n 1 1 a h diculik walaupun kemudian ia kembali dengan s1·l . 1 1 1 1a t . Bahkan Sukarno dan Hatta pada hakikatnya pernah d i c 1 1l i k o l c h pemuda sehari sebel u m Proklamasi. Pada 1980, Sol'har l o b ' rpidato bahwa ia tidak segan memerintahkan 1 1 1 1 1 1 1 k rn n · u l il< o ran a n ggota M P RS hila mereka men­ coh ; i m · ngu bah U D 1. 94 5 . Pidat o t r ebut m n d a p a t p - K o l ( 1 1 1 1 � o l rn 1 1 1 33

nentangan d a ri kelompok ya 1 1 , k n m d i a n d i l · 1 1 a l �1 1 1 >; 1 11: d Petisi 50. Sebe lu m a k h i r pem rin t a h a o o h a r t o , ; 1 1 1 g,�1 l l 1 komando khusus TNI AD te] a h mencu l i k bcb rap:t o r: 1 1 , , i aktivis. Karena misi utamanya hanya pen c u likan , rna k a . d : 1 p n l dipahami keanehan struktur Gerakan 3 0 September ya n g , 1 1 pimpin seorang letnan kolonel, tetapi membawahkan p -rw i r ; , \\ . \\ \\ \\ ' I 1 34 0 1 , 1 1 1q K i r r l 1 1dor H \"• ' \" D . N . /\\ r d r t

y: 1 1 1, • l 1 · l >il i l i 1 1 ggi p a 1 1 g k: 1 t 1 1ya . 0 · 1 1ga 1 1 , 1 l asa 1 1 n , · 1 1 c la m� 1 t k a 1 1 l ' n ·.s i d (: 1 1 , ' ra k : 1 n i t u d i p i m p i n o l h Ko m a n d a n B a t a l i o n < '1 1 k ra b i r: 1 wa . P r · i a pa n m i J i te r t id a k cl i J a k u ka n ecara b e a r ­ hv.s; 1 r; 1 1 1 ka r · n a 'l t y u a n n : y a bu kan menguasai ibu kota. N , 1 1 1 \\ u 1 1 t rnya. t a pen c u l ikan terhadap t uj u h orang j 1 · 1 1 d <..: ra l iL u a Y:Jl, k a rena hanya tiga orang yang masih hidup l(( • l i k a d i ba w a 1 Lub·mg B u aya. Ketika dilapori peristiwa i 1 1 i , S 1 1 lrn rn d i. pa n k a l a n AU Halim Perdanakusuma me- 1 1 1 v i : i n t a h l on agar m reka menghentikan gerakan. Terjadi ke­ k :t l 1 1 L a n I a rena ternyata di dalam gerakan itu tidak ada satu lw1 1 1 a 1 1 d . o yan d a pat mengambil keputusan tunggal. Sjam l t a 1 1ya k o o rd i o a to r antara Biro Chusus dan perwira militer. K h l i n g e r a n p e r t a m a dari Biro Chusus PKI adalah k l ' l t: r l i b a t a. n m e r e k a d a l a m perencanaan penculikan. l< l · l i l ing r'm k e d u a n ya adalah meneruskan gerakan dengan 1 1 H ' 1 1 y i a r kan d o k u men kedua (tentang pendemisioner kabinet l ) w i ko ra ) d a n d o k u m e n ketiga (penyesuaian pangkat militer k r l i 1 1 g , j menj a d j l etnan kolonel) setelah terjadi kevakuman 1 • 1 1 ; 1 1 1 \\ j a m p a d a tanggal 1 Oktober 1965. Padahal, dalam per­ n , 1 ); 1 ; 1 1 1 k u deta, satu men it pun sangat berharga. K a i . a u peri ntah Sukarn o untuk menghentikan Gerakan : 1 0 S · p t m be r i t u dipatuhi, mungkin korban yang jatuh t i d a k ba nya k . Kalan Soeharto yang membangkang perintah l ' n·sid ·n u n t u k datang ke Halim Perdanakusuma langsung d i pe('a t ol •h u k a rn o tentu sejarah Indonesia akan berbeda. l\\ v k 1 1 ra n g· 1 1 1 u t a m a Su karno adalah karena ia menganggap 1 · 1 1 1 l' 1 1 g s · o ra n ,· Mayor J enderal Soeharto. Siapa yang d i untungkan? 1 ', · r, 1 1 1 !;i !;i ora n g a t a u kelompok dalam s u atu kegiatan ber­ l >a 1 1 d i ng l u ru · dc 1van keunt u ngan yang (akan) diperolehnya. l >; t l a rn p • ri:;; t i.wa 1 6r.c i t u u ka r n o a d a l a h pihak y a n g d i ­ l ' l l g i k a 1 1 k a r� 1 1 a :,; l. t 1 y n l ny;t i.1 I hil, 1 ng. 1 n j a ba t::i n uy a , d a ng- 1 1 l u u 1 lu i l u , ,_,_______ ,__ n,..__


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook