MACAM-MACAM MODEL KONSEP KURIKULUM (Kurikulum Subyek Akademis, Kurikulum humanistis, Kurikulum Rekontruksi Sosial, Kurikumlum Teknologis) OLEH AHMAD HADIIR NIM : 22190113249 MATA KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI DOSEN PENGAMPU Dr. Salmaini Yeli, M.pd PROGRAM PASCASARJANA PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2021
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan istilah kurikulum seakan menjadi kata yang wajib diketahui oleh seorang pendidik agar dapat menyampaikan informasi sesuai dengan ketentuan yang ada.kurikulum bukanlah acuan pokok seorang pendidik dalam mengajar, karena setiap kurikulum yang ada masih mengandung kekurangan yang perlu direnovasi oleh pendidik tersebut. Kurikulum juga perlu diterapkan diluar sekolah agar peserta didik lebih terarah. Dari masa kemasa perkembangan kurikulum di Indonesia mengalami inovasi-inovasi yang bertujuan untuk terciptanya sebuah kuikulum yang mendidik dan membentuk kerakter peserta didik. Dalam melakukan inovasi kurikulum dibutuhkan langkah-langkah tertentu agar tercapai tujuan yang hendak di capai. Namun tidak semua kurikulum dapat berfungsi sebagaimana yang kita inginkan. Pada makalah ini penulis akan membahas tentang Macam-macam Model Konsep Kurikulum yang meliputi Kurikulum Subjek Akademis, Kurikulum Humanistik, Kurikulum Rekontruksi Sosial, Kurikulum, Teknologis. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja macam-macam model konsep kurikulum? 2. Apa yang dimaksud dengan kurikulum subjek akademis? 3. Apa yang dimaksud dengan kurikulum humanistik? 4. Apa yang dimaksud dengan kurikulum rekontruksi sosial? 5. Apa yang dimaksud dengan kurikulum teknologis?
C. Tujuan Pembahasan Masalah Berdasarkan rumusan masalah yang diperoleh, adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui macam-macam model konsep kurikulum. 2. Mengetahui kurikulum subjek akademik 3. Mengetahui kurikulum humanistik 4. Mengetahui kurikulum rekontruksi sosial 5. Mengetahui kurikulum teknologis
BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Kurikulum Kurikulum pada mulanya berasal dari bahasa Yunani yaitu curire yamg berarti pelari dan curere yang berarti tempat berpacu.[1] Sedang dalam kamus webster pengertian kurikulum dalam bidang pendidikan muncul pada tahun 1955 yang memaknai kurikulum sebagai beberapa mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah[2] Dari pengertian tersebut beberapa tokoh dunia mulai mengembangkan tentang konsep dari definisi kurikulum, berikut merupakan pendapat para tokoh tentang definisi kurikulum. 1. John Dewey kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui susunan suatu pengetahuanyang terorganisasikan dengan baik. 2. Hilda Taba Dalam bukunya Curicculum Development Theory and Practice yang manyatakan bahwa kurikulum adalah pernyataan tentang tujuan – tujuan pendidikan yang bersifat umum dan khusus serta materinya dipilih dan diorganisasikan berdasarkan suatu polatertentu untuk kepentingan belajar mengajar.[3] 3. David partt Dalam bukunya Curicculum Design and Development mendefinisikan kurikulum secara sederhana yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat – pusat latihan. 4. Winarno Surahmat Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. 1 Binti maunah, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta:Teras, 2009), h. 1. 2 Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta:Teras, 2009), h. 1. 3 M. Ahmad, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 13-14.
5. Stratemayer “The curiculum is currently defined in three ways; courses and class activities in which children and you experiences of the learner”.[4] 6. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 19, kurikulum didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[5] 7. J. G Taylor dan William H. Alexander “The curiculum is the sum total of school‟s efforts to playground or out of school”, yakni segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk mempengaruhi belajar anak baik di dalam atau di luar kelas.[6] 8. Kamus Besar Bahasa Indonesia Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Berdasarkan definisi para ahli tersebut di atas menunujukkan bahwa kurikulum diartikan tidak secara sempit atau terbatas pada pada mata pada mata pelajaran saja, tetapi lebih luas dari pada itu. Tetapi mencakup segala komponen yang ada dalam proses belajar mengajar. Konsep kurikulum yang ada saat ini selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada masa lalu kurikulum dipandang sebagai sesuatu yang sangat sempit yaitu sejumlah mata pelajaran, kemudian dipandang sebagai sesuatu yang sangat luas yaitu seluruh pengalaman siswa, kemudian pada perkembangan selanjutnya kurikulum adalah rencana pembelajaran, disusul pendapat yang menyatakan bahwa kurikulum bukan hanya rencana (curriculum plan) tetapi juga pelaksanaannya (curriculum fungsional).[7] 4 Abdul Manab, Pengembangan Kurikulum Pendidikan, (Jakarta: Bina Ilmu, 2004), h. 14 -15. 5 Sri Minarti, Manajemen Sekolah, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2011), h. 90. 6 Maunah, Pengembangan Kurikulum, h. 2. 7 Zaini, Pengembangan Kurikulum, h. 7.
Konsep kurikulum ini harus dilaksanakan berdasarkan kondisi konsep pengembangan ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, sikap dan nilai moral, sehingga visi misi kurikulum yang dikembangkan dapat membentuk pribadi yang kuat dalam kondisi temporal dan spiritualnya. Karena kurikulum bersifat subjektif, maka ada kecenderungan bagi sebagian orang untuk mendefinisikan kata – kta yang sukar dipahami oleh umum. Kurikulum menunujukkan hasil pengajaran yang diinginkan karena itu penggunaan tes lah yang lebih jelas menunjukkan arti kurikulum dari pada daftar buku pelajaran atau bahan yang dibahas dalam pengajaran.[8] B. Macam-macam Model Konsep Kurikulum 1. Kurikulum Subjek Akademik Pengertian Kurikulum subjek akademik merupakan kurikulum model yang tertua dalam dunia pendidikan, model ini diambil dari pendidikan klasik yaitu perenialisme dan esensialisme yang berorientasi pada masa lalu, semua pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu.[9] Konsep kurikulum subyek akademik dapat dikelompokkan ke dalam dua konsep yang dikenal dengan konsep kurikulum perenialis dan konsep kurikulum. a. Konsep kurikulum perenialis. Kurikulum dengan konsep ini bercita-cita mengembangkan daya intelektual anak untuk mencapai kebenaran-kebenaran yang bersifat universal. Bidang studi klasik dan “sains” adalah dipandang sebagai sumber kebenaran. Mata pelajaran - mata pelajaran di ajarkan secara terpisah dan brdiri sendiri, dan hanya mata pelajran yang dianggap berat (sukar dipelajari) itulah yang dimasukkan ke dalam isi kurikulum. Orientasi kurikulum cenderung kemasa lampau sehingga sember-sumber bacaan siapapun dipropitaskan berasal dari sumber-sumber klasik, diutamakan karya besar dari pujangga-pujangga besar yang mereka hidup dimasa lalu. 8 Maunah, Pengembangan Kurikulum, h. 4. 9 Nana syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek (Bandung : PT Remaja Rosyda Karya, 2007), 81
b. Konsep kurikulum esensial. Kurikulum dengan konsep ini bercita-cita untuk menanamkan kedisiplinan diri, dan sumber kebenaran adalah agama (religi) karena dianggap mengajarkan nilai-nilai universal dan tidak dapat diubah-ubah. Guru dituntut menjadi panutan atau teladan yang setiap saat dapat dicontoh oleh murid. Menurut konsep ini belajar pada hakekkatnya adalah prosedur untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal yang dipeljari dan menjadikan sebagai sebuah kebenaran untuk dijadikan kriteria kebaikan. Dalam konsep kurikulum ini pengasaan- pengasaan mata pelajaran - mata pelajaran sebagia wadah ilmu diabadikan menjadi standar keadilan kebijaksanaan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Mata pelajaran- mata pelajaran diajarkan seperti halnya dengan perenialis. Adapun tokoh yang paling berpengaruh pada dua aliran ini adalah plato. Pendekatan Kurikulum Subjek Akademik Pendekatan subjek akademis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Setiap ilmu pengetahuan memiliki sistematisasi tertentu yang berbeda dengan sistematisasi ilmu lainnya. Pengembangan kurikulum subjek akademis dilakukan dengan cara menetapkan lebih dahulu mata pelajaran atau mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu.[10] Pendekatan-pendekatan kurikulum subjek akademik adalah sebagai berikut: a. Yang melanjutkan pendekatan struktur disiplin dengan menonjolkan proses penelitian ilmiah. Proses ini juga dikenakan pada masalah sosial,nilai-nilai, kebijaksanaan tokoh-tokoh pemerintahan. b. Pelajaran terpadu, untuk memahami masalah kompleks diperlukan bantuan berbagai disiplin ilmu. Satu disiplin saja tidak akan memadai. c. Pendidikan fundamental, aliran ini juga mementingkan isi atau materi di samping cara-cara atau proses berfikir. Untuk mempelajari sesuatu secara fundamental, siswa 10 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: Kencana, 2005), 140.
harus dihadapkan dengan tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu itu, yaitu mereka yang meletakkan dasar-dasarnya.[11] Karakteristik Kurikulum Subjek Akademik Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis ini adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum dengan pendekatan subjek akademik adalah metode ekspositori dan inkuiri.12[10] Ahli pendidikan menyebutkan beberapa pola organisasi kurikulum dengan subjek akademis: 1. Correlated Curriculum: pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya 2. Unified atau Concentrated Curriculum: pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai disiplin ilmu. 3. Integrated Curriculum,: tidak adanya warna disiplin ilmu. 4. Problem Solving curriculum; pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.13[11] 2. Kurikulum Humanistik Pengertian 11 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum (Bandung : PT Alumni, 1986),28
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan kegiatan pendidikan tertentu sedangkan humanistik berasal dari kata humanis yang secara etimologis adalah orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik. Humanis juga di definisikan sebagai faham yang menganut bahwa manusia adalah subjek terpenting lalu kaitannya dengan kurikulum, bahwa yang di maksud dengan kurikulum humanistik adalah kurikulum yang berorientasikan pada perkembangan keperibadian, sikap, emosi/perasaan peserta didik (Sanjaya, 2008 : 67) Karakteristik Kurikulum Humanistik Kurikulum humanistic memiliki beberapa karakteristik yang tidak lepas dari karakteristik pendidikan humanis, diantaranya adalah : 1. Tujuan Ahli humanis mempercayai fungsi kurikulum memberikan pengalaman secara interinsik tercapainya perkembangan dan kemerdekaan peribadi. Bagi mereka yaitu memandang tujuan pendidikan sebagai peroses dinamika peribadi yang berhubungan dengan integrasi dan otonomi peribadi yang ideal. 2. Metode Kurikulum humanistik menuntut hubungan emosional antara guru dan anak didik melalui suasana belajar yang menyenangkan. Guru mendorong para siswa untuk saling mempercayai dalam peroses belajar mengerjakan sesuatu yang mereka tidak ingin melakukan. 3. Organisasi Organisasi kurikulum humanistik terletak dalam integrasi. Bertujuan untuk mengatasi kurikulum teradisonal yang berorientasi pada materi yang gagal dalam menghubungkan psikologi anak. Karena itu kurikulum humanistik tidak selalu menekankan aspek sekuensial dalam organisasi materinya. 4. Evaluasi
Kurikulum humanistik lebih mengutamakan peroses dari pada hasil artinya apakah aktivitas belajar yang dapat membantu anak didik menjadi manusia yang lain terbuka dan mandiri. Dalam evalusi kurikulum humanistik berbeda dengan yang biasa kegiatan belajar yang baik adalah yang memberikan pengalaman yang akan membantu para sisiwa memperluas kesadaran akan dirinya dan orang lain dan dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya (Nasution,2008: 67). 3. Kurikulum Rekonstruksi Sosial Pengertian Kurikulum rekonstrusi sosial merupakan salah satu aliran pendidikan interaksionis yang keberadaannya dimulai sekitar tahun 1920-an dan diperkenalkan oleh Harrold Rug. Kurikulum ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam masyarakat. Dengan adanya kurikulum ini diharapkan siswa dapat menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, yang terjadi di lingkungan sosial. Salah satu model kurikulum yang perlu diketahui adalah kurikulum rekonstruksi sosial. Kurikulum rekonstruksi sosial dapat diartikan sebagai model kurikulum yang lebih memusatkan perhatian pada problem- problem yang dihadapi dalam masyarakat. Adanya kurikulum ini dimulai sekitar tahun 1920-an yang dikemukakan oleh Herold Rug. Kurikulum ini timbul karena Herold Rug memandang adanya kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Sebenarnya, kurikulum merupakan sesuatu yang hidup, dinamis, yang mengikuti perkembangan masyaraka. Oleh karena itu, kurikulum tidak boleh lepas dari masyarakat. Sehingga dengan adanya pengertian tersebut, maka keberadaan kurikulum harus dapat mengakomodasi semua problem yang dihadapi masyarakat, sehingga pada dasarnya kurikulum rekonstruksi sosial berpendapat bersama, interaksi, dan kerja sama. Adapun bentuk interaksi dan kerja sama bisa saja terjadi antara guru dengan murid, siswa dengan siswa, ataupun antara siswa dengan orang-orang di lingkungannya.
Kurikulum rekonstruksi sosial berharap dengan adanya kerja sama dan interaksi, siawa atau peserta didik dapat berusaha memecahkan masalah, baik masalah yang ada pada dirinya sendiri atau masalah-masalah sosial yang sehingga dapat membentuk dan menciptakan masyarakat yang baik. Komponen-komponen Kurikulum Rekonstruksi Sosial Komponen dapat diartikan bagian, sehingga komponen kurikulum rekonstruksi sosial dapat diartikan bagian-bagian yang ada di dalam kurikulum rekonstruksi sosial. Adapun komponen-komponen tersebut adalah: a. Tujuan dan isi kurikulum Adapun tujuan dan isi kurikulum adalah: 1. Mengadakan survey 2. Mengadakan studi tentang hubungan sebuah program 3. Mengadakan studi latar belakang 4. Mengkaji praktek program 5. Menetapkan rencana 6. Mengevaluasi semua rencana b. Metode Dalam proses pengajaran kurikulum rekonstruksi sosial, para pengembang kurikulum dan para pengajar berusaha mencari keselarasan antar tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa. Metode dapat juga disebut strategi dalam proses pembelajaran yang lebih identik pada peralatan atau alat peraga untuk menunjang prose mengajar. Tetapi pada hakikatnya, strategi pengajaran tidak tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan tentang strategi atau metode pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan mengatur kegiatan baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran. Dengan kata lain, strategi pengajaran mengatur seluruh komponen baik pokok maupun penunjang dalam sistem pengajaran. c. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dari penerapan kurikulum tersebut dalam proses belajar mengajar. Evaluasi tidak hanya menilai apa saja yang telah dikuasai dan difahami siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat. Tujuan Kurikulum Rekonstruksi Sosial Tujuan inti dari kurikulum rekonstruksi sosial adalah agar dapat merubah pandangan dan perilaku yang ada dimasyarakat menjadi lebih baik dan juga sebagai wahana belajar dalam berusaha mengatasi masalah – masalah yang ada di msyarakat. Keberadaan teknologi yang semakin maju merupakan hal yang sangat menggembirakan, tetapi perlu diingat bahwa segala sesuatu perubahan menimbulkan efek positif dan negatif. Jika efek positif akan membawa nilai lebih baik dan akan berdampak kemajuan, tetapi jika menimbulkan efek negatif akan menimbulkan nilai lebih buruk dan akan berdampak kemunduran sehingga menimbulkan masalah. Efek negatif yang menimbulkan masalah inilah yang menjadi bidang garapan dari kurikulum rekonstruksi sosial. Tetapi walaupun adanya kurikulum rekonstruksi sosial sangat penting tetapi kurikulum ini tidak menuntut untuk di buat sebagai bidang mata pelajaran tersendiri. Kurikulum rekonstruksi sosial ini dapat dimasukkan dalam bidang – bidang ilmu pelajaran sosial seperti IPS, sejarah, antropologi, hukum, dll. Karena bidang mata pelajaran sosial adalah interaksi dengan masyarakat, maka sangat cocok jika adanya kurikulum rekonstruksi sosial ini dimasukkan dalam mata pelajaran sosial. Sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa „kurikulum tidak boleh lepas dari masyarakat‟. 4. Kurikulum Teknologis a. Pengertian Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dibidang pendidikan, berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu
kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit atau khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum ada dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology). Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan efektivitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul. Pengajaran dengan bantuan komputer, dan lain-lain. Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program system yang ditunjang dengan alat dan media, dan bisa juga program sistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran. Pada bentuk pertama, pengajaran tidak membutuhkan alat dan media yang canggih, tetapi bahan ajar dan proses pembelajaran disusun secara sistem. Alat dan media digunakan sesuai dengan kondisi tetapi tidak terlalu dipentingkan. Pada bentuk kedua, pengajaran disusun secara system dan ditunjang dengan penggunaan alat dan media pembelajaran. Penggunaan alat dan media belum terintegrasi dengan program pembelajaran, bersifat \"on-off, yaitu bila digunakan alat dan media akan lebih baik, tetapi bila tidak menggunakan alat pun pengajaran masih tetap berjalan. Pada bentuk ketiga program pengajaran telah disusun secara terpadu antara bahan dan kegiatan pembelajaran dengan alat dan media. Bahan ajar telah disusun dalam kaset audio, video atau film, atau diprogramkan dalam komputer. Pembelajaran tidak bisa berjalan tanpa melibatkan penggunaan alat-alat dan program tersebut.
b. Karakteristik Kurikulum Teknologis Sukamadinata (2005:97) menyatakan bahwa kurikulum yang dikembangkan berdasarkan teknologi dalam bidang pendidikan memiliki 4 ciri khusus diantaranya : a. Tujuan, diarahkan pada penguasaan kemampuan akademik, kemampuan vokasional, atau kemampuan pribadi yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi. b. Metode, kegiatan pembelajaran dipandang sebagai proses mereaksi terhadap stimulus yang diberikan, bila terjadi respons sesuai harapan, maka respons tersebut diperkuat. Tujuan-tujuan pengajaran telah ditentukan sebelumnya. Pengajaran bersifat individual, tiap siswa menghadapi serentetan tugas yang harus dikerjakannya, dan maju sesuai kecepatan masing-masing. Pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Setiap siswa harus menguasai secara tuntas tujuan-tujuan program pengajaran. c. Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari berbagai disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi. Bahan ajar yang besar disusun dari bahan ajar yang lebih kecil dengan memerhatikan urutan-urutan penyajian materi dalam pengorganisasiannya. d. Evaluasi dilakukan setiap saat (pada akhir satuan pelajaran maupun semester).Fungsi dari evaluasi ini adalah sebagai umpan balik peserta didik dalam penyempurnaan penguasaan suatu satuan pelajaran, sebagai umpan balik bagi peserta didik pada akhir suatu program atau semester, juga dapat menjadi umpan balik bagi guru dan pengembangan kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum. c. Implementasi Kurikulum Teknologis Implementasi kurikulum teknologis dalam bidang teknologis mencakup dua hal sebagai berikut : a. Implementasi kurikulum yang menekankan pada teknologi alat. Dalam perencanaan penyelenggaraan pendidikan (kurikulumnya) lebih menekankan pada penggunaan alat-alat maupun media yang dapat membantu
menyelesaikan masalah pemahaman materi peserta didik maupun permasalahan administrasi. Penerapan kurikulum yang seperti ini membutuhkan kerja sama dengan para penyusun program, penerbit media elektronik dan media cetak. Membutuhkan biaya yang banyak untuk pembelian alat-alat maupun medianya dan juga untuk perawatannya. Perlu diperhatikan bahwa formulasi penggunaan alat-alat ataupun media yang digunakan dalam pembelajaran benar-benar diperlukan atau tidak, agar tidak mubadzir nantinya. Lebih jauh lagi perlu adanya spesifikasi alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat dari segi kegunaannya maupun ketepatan penggunaannya. b. Implementasi kurikulum yang menekankan pada teknologi sistem. Dalam perencanaan penyelenggaraan pendidikan (kurikulumnya) lebih menekan pada sistem dimana biaya dapat ditekan pengeluarannya, disamping memberi kesempatan kepada tenaga pendidik terutama guru-guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya. Sistem menjadi fokus utama yang berarti para tenaga pendidik mencari solusi alternatif atas permasalahan pendidikan dengan cara mencari metode yang tepat guna untuk memecahkannya. Model ini di Indonesia biasa dikenal dengan nama Satuan Pelajaran dalam Pendidikan Dasar dan Menengah maupun Satuan Acara Perkuliahan pada perguruan tinggi, sebagai bagian dari sistem instruksional atau desain instruksional.
BAB II PENUTUP A. KESIMPULAN Kurikulum subjek akademik merupakan kurikulum model yang tertua dalam dunia pendidikan, model ini diambil dari pendidikan klasik yaitu perenialisme dan esensialisme yang berorientasi pada masa lalu, semua pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Kurikulum humanistik merupakan kurikulum yang berorientasikan pada perkembangan keperibadian, sikap, emosi/perasaan peserta didik. Kurikulum humanistik terhadap pembelajaran dengan teori ini sangat cocok diterapkan untuk materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Kurikulum rekonstrusi sosial merupakan salah satu aliran pendidikan interaksionis yang keberadaannya dimulai sekitar tahun 1920-an dan diperkenalkan oleh Harrold Rug. Kurikulum ini bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam masyarakat. Dengan adanya kurikulum ini diharapkan siswa dapat menghadapi tantangan, ancaman, hambatan, yang terjadi di lingkungan sosial. Hendaknya kurikulum yang ada di sekolah tidak melepaskan adanya kontribusi dari masyarakat. Keberadaan kurikulum rekonstruksi sosial ini
merupakan salah satu bukti bahwa sekolah tidak dapat lepas dari peran serta masyarakat. Hal tersebut ada karena pada dasarnya sekolah merupakan salah satu tempatinteraksi sosial bagi peserta didik. Adapun komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial meliputi tujuan dan isi kurikulum, metode, dan evaluasi. Adapun ciri-ciri kurikulum rekonstruksi sosial yaitu adanya asumsi pemecahan masalah yang ada di masyarakat, adanya masalah-masalah sosial yang mendesak dan pola-pola organisasi. Model pengembangan kurikulum teknologis merupakan pengembangan kurikulum dengan teknologi sebagai sasaran penerapannya. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum ada dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology) yang implementasinya berupa media pembelajaran seperti film, video, mesin pembelajaran, komputer dan sebagainya. Sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology) dimana implementasinya berupa kurikulum itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA Drs. Nur. H. Gunawan. 1995. Landasan-landasan Kurikulum pada Masa Otonomi Daerah. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada Hamalik, Oemar, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2006. Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997. Langgunung, Hasan, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987 Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana. Nasution, S, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 1995. Nasution. 1986. Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Alumni, 1986. Olivia, Dea. 1992. PengembanganDasar-dasarKurikulum.Jakarta: PT BumiAksara Partanto. A, Pius, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 1994. Sanjaya, Wina, Kurikulum Dan Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2009. Subandijah, Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996. Sudjana, Nana. 1996. PengembanganKurikulum. Jakarta: Rajawali Press
Suryadi, Ace. 1993. Analisis-analisisKurikulum. Bandung: Rosdakarya Sutari Imam Barnadid. 2002. KurikulumdanPemikiranPendidikan. Jakarta: PT Rajawali Press syaodih sukmadinata, Nana. 2007. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosyda Karya, 2007 Syaodih, Nana. 1997. KurikulumdanPemikiranPendidikan. Jakarta: GaungPersada. Syukur, Fatah, Teknologi Pendidikan, Semarang: Rosail Media Group, 2008. T. Sam, Tuti, Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.
Search
Read the Text Version
- 1 - 19
Pages: