Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore 02 - Buku Informasi-4 (H.522900.014.01)

02 - Buku Informasi-4 (H.522900.014.01)

Published by Wahyu Fitrianda, 2023-06-12 05:45:38

Description: 02 - Buku Informasi-4 (H.522900.014.01)

Search

Read the Text Version

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 BUKU INFORMASI MENERAPKAN SISTEM OPERASIONAL PERGUDANGAN H.522900.014.01 PENYUSUN MODUL NAMA PROFESI MEILIZAR, ST, MT. Dosen Politeknik ATI Padang PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI POLITEKNIK ATI PADANG JL.BUNGO PASANG TABING - PADANG Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 1 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 DAFTAR ISI DAFTAR ISI -------------------------------------------------------------------------------------------- 2 BAB I PENDAHULUAN --------------------------------------------------------------------------- 4 A. Tujuan Umum --------------------------------------------------------------------------- 4 B. Tujuan Khusus -------------------------------------------------------------------------- 4 BAB II MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG ------------------------------------------ 5 A. Pengetahuan yang diperlukan dalam mempersiapkan data pendukung ------------------------------------------------------------------------ 5 1. Konsep tentang aktivitas penerimaan dan penyimpanan persediaan -------------------------------------------------------------------------- 5 2. Tugas dan fungsin personil di gudang -------------------------------------- 16 3. Jenis peralatan pendukung gudang komoditi agro ---------------------- 18 B. Keterampilan yang diperlukan dalam mempersiapkan data pendukung ----------------------------------------------------------------------- 19 C. Sikap Kerja dalam mempersiapkan data pendukung ------------------------- 19 BAB III MELAKSANAKAN KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG ------------------ A. Pengetahuan yang dibutuhkan dalam melaksanakan kegiatan operasional gudang ------------------------------------------------------------------------------------ 20 1. Konsep tentang inventarisasi persediaan ------------------------------ 27 2. Konsep penanganan dan penyimpanan bahan baku dan produk jadi 31 3. Konsep pengemasan komoditi agro --------------------------------------- 35 B. Keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan operasional gudang ------------------------------------------------------------------------------------ 47 C. Sikap kerja dalam melaksanakan kegiatan operasional gudang ---------- 47 BAB IV MELAKUKAN EVALUASI TERHADAP KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG A. Keterampilan yang diperlukan dalam melakukan evaluasi terhadap kegiatan operasional gudang ----------------------------------------- 48 B. Sikap kerja dalam melakukan evaluasi terhadap kegiatan operasional gudang ------------------------------------------------------------------- 48 Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 2 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 DAFTAR PUSTAKA----------------------------------------------------------------------------------- 49 DAFTAR PERALATAN------------------------------------------------------------------------------- 50 DAFTAR PENYUSUN MODUL-------------------------------------------------------------------- 51 Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 3 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 BAB I PENDAHULUAN A. TUJUAN UMUM Setelah mempelajari modul ini peserta latih diharapkan mampu menerapkan sistem operasional pergudangan B. TUJUAN KHUSUS Adapun tujuan mempelajari unit kompetensi melalui buku informasi menerapkan sistem operasional pergudangan ini guna memfasilitasi peserta didik sehingga pada akhir pembelajaran diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut: Mempersiapkan data pendukung, Melaksanakan kegiatan operasional gudang, Melakukan evaluasi terhadap kegiatan operasional gudang. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 4 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 BAB II MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG A. PENGETAHUAN YANG DIPERLUKAN DALAM MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG 1. Konsep Tentang Aktivitas Penerimaan dan Penyimpanan Persediaan 1.1. Kebijakan Penerimaan Persediaan Beberapa kebijakan penerimaan bahan baku di gudang, adalah sebagai berikut : 1. Tidak diperkenankan menerima barang tanpa disertai dengan bukti purchase order, dokumen pendukung dari Supplier, dan internal order yang sebelumnya telah diinformasikan ke lokasi. 2. Informasi purchase order dan Internal Order harus ada pada store keeper saat menerima barang. 3. Surat tanda terima barang adalah dokumen wajib dan dianggap sebagai bukti barang yang diterima. 4. Surat tanda terima barang dibuat oleh Store Keeper dan disetujui oleh Manager terkait. 5. Store keeper harus memastikan bahwa jumlah yang tercatat dalam surat tanda terima barang harus sesuai dengan jumlah barang yang diterima. Jika jumlahnya berbeda dengan surat jalan dari supplier, maka surat jalan dari supplier harus direvisi dan ditandatangani oleh kedua pihak. 6. Jika jumlah yang tertera dalam surat tanda terima barang lebih tinggi dari jumlah yang tertera didalam purchase order, store keeper harus mengambil keputusan untuk menolak. Informasi harus dikumpulkan dari supplier untuk menentukan apakah jumlah kelebihan akan diterima atau menyimpan barang-barang tersebut di gudang. Jika barang-barang disimpan di gudang maka barang-barang tersebut harus diperlakukan sebagai barang-barang FoC (Free of Charge). 7. Jika jumlah yang tertera dalam surat tanda terima barang lebih rendah dibanding dengan jumlah barang yang tertera dalam purchase order, Departemen terkait yang mengajukan surat tanda terima barang harus dikomunikasikan. Tindakan- Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 5 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 tindakan yang perlu harus diambil oleh Departemen purchasing untuk penggantian. 8. Surat tanda terima barang tidak dapat dikeluarkan oleh Bagian pergudangan sebelum verifikasi kualitas dilakukan oleh pihak-pihak internal yang berkopenten terhadap kwalitas persediaan. 9. Jika ditemukan adanya barang yang usang, rusak atau spesifikasinya salah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kualitas barang dibandingkan dengan purchase order, maka barang tersebut harus ditolak dan nota pengembalian pembelian harus dibuat dan dikirimkan kepada Supplier. Supplier harus menyetujui nota pengembalian pembelian dan mengambil barang dari gudang. Jika Supplier tidak mengambil barang-barang tersebut maka barang-barang tersebut dianggap sebagai FoC (Free of Charge) dan dicatat ke dalam kode persediaan yang berbeda. 10. Tembusan surat tanda terima barang (rangkap 4) harus dikirimkan ke Finance Dept untuk diverifikasi dengan purchase order dan Invoice, untuk proses pencatatan dan pembayaran. 11. Surat Tanda Terima Barang dapat dibuat lebih dari satu untuk satu nomor purchase order yang pengirimannya dilakukan bertahap. 12. Proses penerimaan barang harus mengikuti aspek-aspek pengawasan internal yang digambarkan dalam SOP. 1.2. Kebijakan Penyimpanan Persediaan Dalam penyimpanan barang di gudang, tentunya kita ingin agar barang tersebut nantinya tidak mengalami kerusakan saat diperlukan. Untuk itu, kita akan memerlukan suatu metode penyimpanan barang atau prosedur tertentu yang perlu diterapkan. Dalam penyimpanan barang di gudang, ada dua metode penyimpanan barang yang biasa digunakan. Metode atau prosedur penyimpanan tersebut adalah LIFO (Last in First Out) dan FIFO (First in First Out). Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 6 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 1.2.1. Metode LIFO dan FIFO Metode penyimpanan barang dengan prosedur LIFO atau last in first out adalah suatu sistem atau cara penyimbaran barang di dalam gudang yang dilakukan dengan konsep barang yang datang terakhir yang digunakan terlebih dahulu. Umumnya, sistem ini digunakan untuk barang - barang yang mampu bertahan lama atau barang yang aoabila disimpan lebih lama, maka kualitasnya akan lebih baik. Contohnya seperti kopi. Sistem FIFO atau First in First out adalah suatu sistem penyimpanan barang yang dilakukan dengan sistem barang yang masuk terlebih dahulu, yang juga dikeluarkan terlebih dahulu. Jadi, keluarnya barang ini dilakukan secara berurutan atau sesuai kronologis. Sistem FIFO umumnya digunakan untuk barang - barang yang kurang bisa bertahan lama atau bila disimpan dalam waktu lama makan akan rusak atau berkurang kualitasnya. Contohnya seperti gula, beras, dan sejenisnya. Untuk memilih sistem pemnyimpanan barang, apakah hendak menggunakan FIFO atau LIFO, hal ini dapat tergantung dari jenis barang yang hendak disimpan. Jika barang yang hendak disimpan mampu bertahan lama dan akan jadi lebih baik bila disimpan lebih lama, maka alangkah baiknya jika metode LIFO yang digunakan. Sebaliknya, metode FIFO sebaiknya digunakan apabila barang tersebut kurang mampu bertahan lama dan dikhawatirkan jika barang yang datang disimpan terlalu lama dapat merusak kualitas barang itu sendiri. Apabila diperhatikan, proses pemindahan barang yang disimpan secara LIFO dianggap lebih praktis dan cepat bila dibandingkan dengan metode FIFO. Sebab, barang yang baru saja masuk dapat langsung segear dikeluarkan. Akan tetapi, masing-masing sistem tersebut tentu memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. 1.2.2. Kelebihan sistem FIFO Penjelasan kali ini akan mengulas lebih banyak mengenai penyimpanan barang di gudang dengan metode atau sistem penyimpanan barang FIFO (First in First Out). Metode yang mengandalkan prinsip barang yang pertama masuk adalah yang pertama keluar ini memiliki beberapa kelebihan. a. Barang lebih terjaga kualitasnya Dengan sistem FIFO, diharapkan barang yang pertama kali masuklah yang juga pertama kali keluar. Artinya, barang - barang tidak akan terlalu lama tersimpan Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 7 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 dalam gudang. Jadi, barang dengan masa kadaluarsa yang paling awal juga akan keluar paling awal. Dengan begitu, kualitas barang dapat lebih terjamin serta mengantisipasi terjadinya kerusakan barang secara masal. Contohnya, bila gudang penyimpanan beras, beras tersebut disimpan terlalu lama dalam gudang, maka dikhawatirkan berasa akan rusak dan mengundang kutu. Jika ini terjadi, mkaa nantinya juga dapat berpengaruh terhadap kualitas beras lain yang mungkin juga akan terserang kutu. b. Pengendalian harga lebih terjamin Selain dapat menjaga kualitas barang, kelebihan sistem FIFO lainnya adalah adanya kestabilan harga dari barang-barang yang disimpan. Perlu diketahui bahwa tidak selamanya harga dapat selalu sama. Ada kalanya harga naik, dan ada pula kalanya harga tersebut turun. Dengan sistem FIFO, diharapkan barang yang pertama kali masuk dengan harga tertentu dapat terjual sama harganya (sesuai harapan) pada saat dikeluarkan nanti. Selain itu, terkait juga dengan kelebihan sebelumnya, yakni kualitas barang yang tetap terjamin, maka nantinya kekhawatiran bahwa harga barang akan anjlok pun dapat dihindari. Sederhananya, harga pembelian natinya tidak akan jadi lebih tinggi daripada harga penjualan. Jadi, tetap akan diperoleh keuntungan maksimal. Contohnya, di suatu gudang beras, terdapat beras pertama yang dibeli dengan harga beli Rp 7500/ kg. Lalu, masuk lagi barang kedua yang dibeli dengan harga beli Rp 7900/ kg. Lalu, ada permintaan pasar dan saat itu harga barang sedang mengalami kenaikan. Maka, harga beras yang di pasaran mengalami kenaikan tidak akan terjadi pada beras. Dengan kata lain, perusahaan akan mampu mengendalikan harga pasar. c. Pencatatan yang lebih sitematis Keuntungan sistem FIFO lainnya adalah pada saat pencatatan barang di gudang, yakni akan membuat petugas pencatatan barang masuk dan barang keluar jadi lebih mudah dalam melakukan kontrol. Hal dimungkinkan karena keluarnya barang dilakukan secara berurutan atau sesuai kronologis. Jadi petugas pencatatan biasanya tidak perlu melakukan pengecekan terhadap semua barang. Petugas biasanya hanya perlu mengecek jumlah barang yang keluar pada saat itu, apakah jumlahnya sudah sesuai dengan jumlah barang pada saat barang tersebut masuk. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 8 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 1.2.3. Kelemahan Sistem FIFO Metode penyimpanan barang dengan FIFO memang memiliki cukup banyak keuntungan. Akan tetapi, sistem FIFO ini juga tidak terlepas dari kelemahan - kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah sistem FIFO ini umumnya kurang efektif apabila pihak - pihak di bagian pergudangan tidak mampu menata letak barang - barang secara berurutan sesuai dengan tanggal atau waktu barang tersebut masuk. Sebab, penataan yang kurang tepat akan menyulitkan proses masuk dan keluarnya barang dari gudang. Jika demikian, proses atau waktu yang diperlukan dalam penataan, baik saat masuk atau mengeluarkan barang bisa lebih lama. Selain itu, ada kemungkinan bahwa konsumen atau pihak pemakai barang merasa kurang puas dengan kualitas barang yang diterima. Sebab, barang yang diterima tersebut merupakan barang lama sehingga konsumen mungkin beranggapan bahwa barang tersebut kualitasnya kurang baik. Akan tetapi, berbagai kelemahan tersebut tentu dapat dihindari. Caranya, pihak pengelola gudang harus mampu mengatur pemindahan barang - barang secara efisien dan efektif sesuai dengan sistem ini. Bila menggunakan sistem FIFO, sebaiknya penataan barang di gudang tidak ditumpuk melainkan dijajar sesuai dengan waktu barang tersebut masuk. Idealnya, gudang yang menggunakan sistem FIFO memiliki dua pintu. Pintu pertama adalah pintu masuk barang, dan pintu kedua adalah pintu khusus untuk keluar barang. Penataannya, barang yang masuk dapat diletakkan dekat dengan pintu keluar barang dan begitu seterusnya. Penataan ini dimaksudkan agar barang yang pertama kali masuk dapat dengan mudah keluar karena dekat dengan pintu keluar. Demikian pula dengan barang yang baru saja masuk, maka dapat dengan mudah masuk karena tidak terhalangi oleh barang - barang yang sebelumnya sudah masuk. 2. Sistem Pencatatan Persediaan Sistem pencatatan persediaan yang lazim digunakan ada dua macam yaitu: a. Sistem Fisik (Physical Inventory System) Sistem persediaan fisik atau periodik adalah sistem dimana harga pokok penjualan dihitung secara periodik dengan mengandalkan semata-mata pada perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 9 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Cara perhitungan harga pokok penjualan dilakukan seperti berikut ini: Persediaan barang dagang pada awal periode Rp. xxx Pembelian Rp. xxx Biaya angkut pembelian Rp. xxx Rp. xxx Retur & pot. Pembelian ( Rp. xxx ) Pembelian bersih Rp. xxx Barang tersedia untuk dijual Rp. xxx Persediaan akhir periode ( Rp. xxx ) Harga pokok penjualan Rp. Xxx Ciri-ciri sistem fisik atau periodik adalah sebagai berikut : Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak diperhitungkan dalam suatu catatan tertentu.  Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan persediaan barang.  Perhitungan persediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.  Sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk pengawasan persediaan, karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat dideteksi dan manajemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan setiap saat. b. Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System) Sistem persediaan perpetual adalah suatu sistem yang menyelenggarakan pencatatan terus-menerus yang menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan didukung dalam kartu-kartu pembantu persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi setiap jenis persediaan, memuat nama barang, tempat penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan (pengeluaran) dan sisa atau saldo persediaan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 10 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Ciri-ciri pengelolaan persediaan dengan sistem perpetual adalah sebagai berikut :  Setiap terjadi pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening persediaan barang.  Setiap terjadi pengeluaran barang (penjualan) dicatat mengkredit persediaan sejumlah harga pokok penjualan.  Setiap saat dapat diketahui jumlah kuantitas sisa atau saldo persediaan.  Sistem perpetual memudahkan dalam penyusunan neraca dan laporan perhitungan laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya tetapi perhitungan fisiknya tetap dilakukan untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang. Menurut system periodic terdapat beberapa cara,seperti berikut ini: 1. Metode Identifikasi Khusus (Speciafic identification method) Metode harga pokok yang didasarkan atas metode identifikasi khusus adalah suatu metode penilaian harga yang didasarkan atas nilai perolehan dari barang yang sesungguhnya. Penggunaan metode ini biasanya dipakai untuk barang yang tidak banyak unitnya (kuantitasnya) dan harganya pun cukup mahal. Contoh: PT. Angkasa Putra selama bulan Januari 2010 mempunyai data tentang persediaan sebagai berikut: Jan. 1 Persediaan 1.750 unit @ Rp. 6.000/unit Jan. 5 Pembelian 1.000 unit @ Rp. 6.200/unit Jan. 10 Pembelian 2.000 unit @ Rp. 6.250/unit Jan. 15 Pembelian 1.500 unit @ Rp. 6.400/unit Jan. 20 Pembelian 3.000 unit @ Rp. 6.250/unit Jan. 25 Pembelian 2.500 unit @ Rp. 6.500/unit Jan. 30 Pembelian 2.000 unit @ Rp. 6.400/unit Berdasarkan inventarisasi secara fisik, ternyata jumlah persediaan pada tanggal 30 Januari 2010 sebanyak 3.000 unit, terdiri dari : Pembelian tanggal 30 Januari 50 %, pembelian tanggal 25 Januari 25% dan selebihnya pembelian tanggal 5 Januari 2010. Tentukan nilai perediaan tanggal 31 Januari 2010 dengan metode tanda pengenal khusus! Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 11 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Jawab: Nilai persediaan pada tanggal 31 Januari 2010 adalah : 1.500 x Rp. 6.400 = Rp. 9.600.000 750 x Rp. 6.500 = Rp. 4.875.000 750 x Rp. 6.200 = Rp. 4.650.000 3.000 unit Rp.19.125.000 2. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out) Metode First In First Out (FIFO) adalah metode penilaian persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhana baik sistem fisik maupun sistem perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama. Metode FIFO yang didasarkan atas sistem fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada sistem perpetual. 3. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out) Metode Last In First Out (LIFO) adalah metode penilaian persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya. Metode LIFO secara sistem fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 12 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 4. Metode rata-rata a. Rata-rata sederhana Dalam metode ini harga per unit persediaan dihitung dengan cara: jumlah harga per unit setiap kali pembelian dibagi dengan jumlah atau frekwensi pembeliaannya. Biaya perunit = Total harga perunit pembelian Nilai persediaan akhir = Persediaan akhir x biaya perunit Harga pokok penjualan = Unit yang dikeluarkan x biaya perunit b. Rata-rata tertimbang Dalam metode ini harga per unit persediaan dihitung dengan cara: jumlah total nilai pembelian dibagi dengan total unit yang dibeli. Biaya perunit = Jumlah harga perunit x banyaknya unit Nilai persediaan akhir = Persediaan akhir x biaya perunit Harga pokok penjualan = Unit yang dikeluarkan x biaya perunit Contoh: PT. Angkasa Putra selama bulan Januari 2011 mempunyai data tentang persediaan sebagai berikut: Jan. 1 Persediaan 1.000 unit @ Rp. 500/unit Jan. 10 Pembelian 800 unit @ Rp. 550/unit Jan. 18 Penjualan 900 unit Jan. 20 Pembelian 700 unit @ Rp. 600/unit Jan. 27 Penjualan 500 unit Tentukan nilai persediaan tanggal 31 Januari 2011 apabila besarnya persediaan akhir adalah 1.100 unit. dengan metode FIFO, LIFO, Rata-rata sederhana, rata-rata tertimbang! Jawab: a. FIFO Jumlah persediaan 1.100 unit terdiri dari: Pembelian tgl 20 Januari 2011 = 700 x Rp. 600 = Rp. 420.000 Pembelian tgl 20 Januari 2011 = 400 x Rp. 550 = Rp. 220.000 Jumlah 1.100 Rp. 640.000 Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 13 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 b. LIFO Jumlah persediaan 1.100 unit terdiri dari: Persediaan tgl 1 Januari 2011 = 1.000 x Rp. 500 = Rp. 500.000 = Rp. 55.000 Pembelian tgl 10 Januari 2011 = 100 x Rp. 550 Rp. 555.000 Jumlah 1.100 c. Rata-Rata Sederhana Jumlah persediaan 1.100 unit Harga rata-rata per unit: ( Rp. 500 + Rp. 550 + Rp. 600 ) : 3 = Rp. 550 Jadi besarnya nilai/harga pokok persediaan akhir sebesar 1.100 unit adalah: 1.100 x Rp. 550 = Rp. 605.000 d. Rata-Rata Tertimbang Jumlah persediaan 1.100 unit Harga rata-rata per unit: (1.000 x Rp. 500) + (800 x Rp. 550) + (700 x Rp. 600) 1000 + 800 + 700 = (Rp. 500.000 + Rp. 440.000 + Rp. 420.000) : 2.500 = Rp. 544 Jadi besarnya nilai/harga pokok persediaan akhir sebesar 1.100 unit adalah: 1.100 x Rp. 544 = Rp. 598.400 Menurut System Perpetual Jika perusahaan menggunakan sistem perpetual, penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir dilakukan setiap perusahaan menjual barang. Untuk mempermudah pekerjaan menentukan harga pokok ini digunakan suatu kartu yang lazim disebut Kartu Persediaan. Satu jenis barang disediakan satu Kartu. Dengan demikian sistem ini baru cocok untuk persediaan yang nilainya tinggi. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 14 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Contoh: PT. Angkasa Putra selama bulan Januari 2011 mempunyai data tentang persediaan sebagai berikut: Jan. 1 Persediaan 1.000 unit @ Rp. 500/unit Jan. 10 Pembelian 800 unit @ Rp. 550/unit Jan. 18 Penjualan 900 unit Jan. 20 Pembelian 700 unit @ Rp. 600/unit Jan. 27 Penjualan 500 unit Tentukan nilai persediaan tanggal 31 Januari 2011 apabila besarnya persediaan akhir adalah 1.100 unit. dengan metode FIFO, LIFO, Rata-rata bergerak ! a. Metode FIFO Dalam metode ini diasumsikan bahwa harga pokok dari persediaan yang pertama kali masuk dari pembelian, dikeluarkan terlebih dahulu pada saat terjadi penjualan. Tgl Diterima Dikeluarkan Persediaan (saldo) Ket Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Jan 1 Persediaan 1000 500 500.000 10 Pembelian 800 550 440.000 1000 500 500.000 800 550 440.000 18 Dijual 900 500 450.000 100 500 50.000 800 550 440.000 20 Pembelian 700 600 420.000 100 500 50.000 800 550 440.000 420.000 700 600 220.000 27 Dijual 100 500 50.000 400 550 420.000 400 550 275.000 700 600 Dari kartu persediaan tersebut, besarnya nilai persediaan akhir adalah : 400 @ Rp. 550 = Rp. 220.000 700 @ Rp. 600 = Rp. 420.000 1.100 Rp. 640.000 Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 15 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 b. Metode LIFO Dalam metode ini diasumsikan bahwa harga pokok dari persediaan yang terakhir masuk dari pembelian, dikeluarkan terlebih dahulu pada saat terjadi penjualan. Tgl Ket Diterima Dikeluarkan Persediaan (saldo) Jan 1 Persediaan Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah 800 550 440.000 1000 500 500.000 10 Pembelian 800 550 440.000 1000 500 500.000 18 Dijual 700 600 420.000 100 500 50.000 800 550 440.000 20 Pembelian 900 500 450.000 500 600 300.000 27 Dijual 900 500 450.000 700 600 420.000 900 500 450.000 200 600 120.000 Dari kartu persediaan tersebut, besarnya nilai persediaan akhir adalah : 900 @ Rp. 500 = Rp. 450.000 200 @ Rp. 600 = Rp. 120.000 1.100 Rp. 570.000 2. Tugas dan Fungsi Personil di Gudang Semua personil di area penyimpanan harus diberikan pelatihan awal dan berkesinambungan yang berkaitan dengan cara distribusi dan penyimpanan yang baik, peraturan yang berkaitan, dan peraturan keselamatan. Catatan pelatihan harus disimpan untuk diperiksa bila diperlukan (United Arab Emirates Ministry of Health Drug Control Department, 2006). Semua anggota staf harus dilatih dan mempunyai tingkat kebersihan dan sanitasi yang tinggi. Petunjuk yang jelas tentang kebersihan pribadi harus didistribusikan dan diamati. Personil yang bekerja di area penyimpanan harus mengenakan pakaian pelindung atau pakaian kerja sesuai dengan aktivitas yang mereka lakukan. Manajemen gudang dilakukan oleh pengelola gudang yang ditunjuk berdasarkan peraturan yang berlaku dan sekurang-kurangnya terdiri dari: Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 16 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 1. Kepala gudang, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Mengelola penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian material dan peralatan. b. Melakukan perencanaan, pengendalian dan pelaporan pergudangan. c. Mengamankan pergudangan beserta isi dan lingkungannya dari segala sesuatu yang mengancam keberadaan gudang beserta isinya. d. Mendukung percepatan pendistribusian material. 2. Petugas perencanaan, pengendalian dan pelaporan, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Merencanakan, mengendalikan dan melaporkan setiap material dan peralatan yang masuk, disimpan dan didistribusikan setiap periode tertentu atau secara berkala. b. Merencanakan, mengendalikan dan melaporkan pengelolaan material dan peralatan. c. Merencanakan, mengendalikan dan melaporkan kegiatan manajemen pergudangan. d. Mendukung perencanaan, pengendalian, dan pelaporan dalam rangka percepatan pendistribusian material dan peralatan. 3. Petugas penerimaan, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Mengelola penerimaan material dan peralatan di gudang sesuai dengan peraturan yang berlaku. b. Melakukan penerimaan dan pengecekan kondisi material dan peralatan pada saat penerimaan sesuai dengan peraturan yang berlaku. c. Mengkoordinasikan proses penerimaan material dan peralatan. d. Mendukung percepatan dan akurasi penerimaan material dan peralatan. 4. Petugas penyimpanan dan pemeliharaan, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Mengelola penyimpanan dan pemeliharaan material dan peralatan. b. Melakukan penyimpanan dan pemeliharaan material dan peralatan di gudang sesuai dengan karakteristik material dan peralatan pada tempat yang sesuai. c. Mengamankan material dan peralatan dari ancaman kerusakan dengan cara menyimpan sesuai dengan ketentuan dan tempat yang disediakan. d. Mendukung percepatan penyimpanan dan pemeliharaan material dan peralatan agar tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 17 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 5. Petugas pendistribusian, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Mengelola pendistribusian material dan peralatan. b. Melakukan pendistribusian material dan peralatan sesuai dengan permintaan dan peraturan yang berlaku. c. Mengkoordinasikan proses pendistribusian material dan peralatan dari gudang ke penanggung jawab sesuai dengan peraturan yang berlaku. d. Mendukung percepatan pendistribusian material dan peralatan. 6. Petugas keamanan, mempunyai tugas pokok antara lain: a. Mengelola keamanan dan pengamanan gudang beserta isi dan petugas pengelola gudang. b. Melakukan pencegahan dan penanganan keamanan gudang beserta isi dan petugas pengelola gudang dan pelaporan kondisi keamanan gudang setiap saat atau setiap periode tertentu. c. Mengamankan seluruh isi, sistem, dan petugas pengelola pergudangan. d. Mendukung pengamanan semua proses aktivitas pergudangan mulai dari penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan sampai dengan pendistribusian material dan peralatan 3. Jenis Peralatan Pendukung Gudang Komoditi Agro. a. Pallet. b. Forklift. c. Rak. d. Pengatur udara (AC, ventilator, kipas angin). e. Timbangan. f. Kulkas/lemari pendingin. g. Troli. h. Pest control. i. Pengatur kelembaban. j. Termometer. k. Komputer. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 18 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 l. Generator. m. Lemari. n. Fire extinguisher (tabung pemadam kebakaran). o. Alarm kebakaran B. KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN DALAM MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG 1. Menentukan personil yang bertanggung jawab pada bagian penerimaan, penyimpanan, pengemasan, pengiriman dan penanganan bahan baku dan/atau produk jadi. 2. Mempersiapkan dokumen operasional pergudangan. 3. Menentukan jenis peralatan pendukung gudang komoditi agro. C. SIKAP KERJA DALAM MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG 1. Tepat dalam menentukan personil yang bertanggung jawab pada bagian penerimaan, penyimpanan, pengemasan, pengiriman dan penanganan bahan baku dan/atau produk jadi. 2. Cermat dan teliti dalam mempersiapkan dokumen operasional pergudangan. 3. Cermat dalam menentukan jenis peralatan pendukung gudang komoditi agro. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 19 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 BAB III MELAKSANAKAN KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG A. PENGETAHUAN YANG DIBUTUHKAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG 1. Konsep Tentang Inventarisasi Persediaan Enam fungsi penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman bahan baku atau barang yang dibutuhkan Perusahaan. 2. Menghilangkan resiko bila barang yang dipesan tidak baik atau rusak sehingga harus dikembalikan. 3. Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga atau inflasi. 4. Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan kesulitan bila bahan baku tersebut tidak tersedia dipasaran. 5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (quantity discount) 6. Memberikan pelayanan kepada pelangganan dengan tersedianya barang yang diperlukan. Fungsi persediaan dapat dikelompokkan kedalam 4 (empat) jenis yaitu: 1. Flucktuation Stock yaitu untuk menjaga fluktuasi permintaan yang tidak diperkirakan sebelumnya, dan untuk mengatasi bila terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam rencana penjualan, waktu produk atau pengiriman barang. 2. Anticipation Stock yaitu untuk menghadapi permintaan yang telah diramalkan, dan pada saat permintaan tinggi dan kapasitas produksi tidak sanggup memenuhinya. Atau karena kesulitan memperoleh bahan baku, sehingga proses produksi tetap berjalan. 3. Lot-size Inventory yaitu persediaan yang diadakan lebih besar dari pada kebutuhan saat itu, dan ini dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan dari potongan pembelian (discount quantity), karena dengan pembelian yang lebih Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 20 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 besar akan menghemat biaya pengangkutan per unit lebih rendah dan biaya administrasi lebih mudah. 4. Pipeline Inventory : persediaan yang dalam proses pengiriman dari tempat asal ketempat barang itu dipergunakan dan memakan waktu berminggu-minggu. 1.1. Kebijakan Umum Persediaan Beberapa kebijakan umum persediaan yang diberlaku di bagian gudang, adalah sebagai berikut : 1. Barang yang diterima dan keluar harus dicatat ke dalam sistem secara real time dan transaksi persediaan yang terjadi dalam periode berjalan harus ditutup pada akhir bulan. Saldo akhir dari periode berjalan akan menjadi saldo awal periode berikutnya. 2. Penilaian persediaan dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang. 3. Store keeper bertanggung jawab atas penerimaan, pengeluaran dan penyimpanan persediaan, perlindungan terhadap kehilangan dan kerusakan, pengawasan dan pelaporan dan juga pengelolaan identifikasi fisik persediaan untuk semua gudang yang berada didalam perusahaan. 4. Penambahan master dan kode barang disusun oleh Purchasing Departement. 5. Setiap persediaan didalam gudang memiliki kode persediaan yang unik (struktur kode yang sama dalam perusahaan) Store keeper tidak diperkenankan merubah, menambah ataupun mengurangi kode yang telah ada. 6. Store keeper bertanggung jawab untuk menindaklanjuti setiap masalah/ kerusakan/kehilangan di area gudang dan berkoordinasi aktif dengan pihak-pihak terkait untuk memecahkan masalah tersebut. 7. Penyimpanan persediaan diluar gudang harus memperoleh persetujuan dari Site Manager. 8. Persediaan harus dilindungi dengan asuransi terhadap resiko-resiko yang mungkin terjadi seperti kebakaran, banjir, pencurian, huru hara dan bahaya-bahaya lainnya. 9. Batas optimal persediaan harus dikelola dengan menyesuaikan permintaan- permintaan dari User Departemen terkait dan meminimalisasi biaya-biaya penyimpanan dan pemesanan. Batas-batas persediaan harus ditentukan sebelumnya dan dimasukkan kedalam sistem. Rencana kerja bulanan harus Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 21 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 digunakan sebagai dokumen penuntun dalam menentukan batas-batas persediaan berikut:  Batas pemesanan ulang atau jumlah pemesanan ekonomis  Batas minimum persediaan  Batas maksimum persediaan 1.2. Kebijakan Pelaporan Persediaan Adapun tahapan kebijakan dalam pelaporan persediaan barang digudang adalah sebagai berikut : 1. Laporan bulanan persediaan yang terdiri dari saldo, mutasi, analisa umur persediaan harus diserahkan tepat waktu dan menyajikan pengelolaan persediaan. 2. Pengawasan rutin atas batas-batas persediaan, verifikasi persediaan (pemeriksaan persediaan) berdasarkan sampel dan secara teratur harus dilakukan terutama pada barang-barang yang bernilai tinggi dan tindakan pencegahan harus diambil untuk meminimalisasi kerugian akibat keusangan, pencurian, kerusakan dll. 3. Pemeriksaan fisik persediaan secara sampling dilakukan setiap bulan, dengan nilai minimum 50% dari nilai total dari gudang-gudang terkait, sedangkan pemeriksan menyeluruh dilakukan setiap 6 bulan sekali. 4. Penyesuaian kelebihan jumlah persediaan setelah perhitungan fisik akan diupdate dalam modul persediaan, dengan persetujuan dari Financial Controller dan GM. 5. Kekurangan jumlah persediaan setelah perhitungan fisik harus dilaporkan ke BOD dan penyesuaian kepada sistem harus berdasarkan persetujuan BOD. 6. Untuk meminimalisasi dampak penghapusan (write off) yang tak terduga dan signifikan, maka kebijakan penyusutan sistematis diterapkan untuk barang-barang persediaan yang bergerak lambat, kecuali untuk semua barang-barang yang telah diasuransikan. 7. Perusahaan membuat penyisihan untuk persediaan barang yang usang, rusak, mengalami penyusutan, tidak sesuai spek, dan bergerak lambat untuk disetujui oleh BOD dan dinyatakan dalam laporan keuangan secara konservatif. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 22 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 1.3. Prosedure pelaksanaan Stock Opname Persediaan yang dilakukan stock fisik yaitu barang yang diperjualbelikan dalam operasi sehari-hari, baik bahan baku, bahan dalam proses ataupun barang jadi. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara menyeluruh (general phisical inventory stock taking) atau dengan cara sebagian persediaan (sampling persediaan), diadakan setiap akhir bulan di lokasi cabang yang volume persediaannya besar disesuaikan dengan aktifitas gudang dan paling lama setiap tiga bulan, dibagi dalam beberapa tahapan yaitu : 1. Tahap persiapan Meliputi pembagian tugas dan tanggung jawab, pembentukan team, group, persiapan Peralatan, persiapan administrasi baik manual maupun computer termasuk persiapan untuk berusaha tidak ada mutasi barang selama diadalannya stock fisik. 2. Tahapan pelaksanaan Meliputi poster pengumuman phisical inventory di pintu gudang, perhitungan physic dan di telly sesuai (code, nama barang dan merk, ukuran), penulisan label pada phisik barang, penyusunan/penyimpanan barang yang telah di telly dan menyerahkan hasil telly kepada petugas yang merekap hasil stock opname dan masing masing telly sheet ditanda tangan oleh yang melakukan stock phisik (petugas gudang, petugas acounting dan internal audit baik internal maupun external). 3. Tahap penyelesaian Membuat laporan hasil physic stock opname, merekonsiliasi antara hasil physic dengan catatan administrasi gudang, membuat berita acara hasil stock opname dan menanda tangani hasil stock phisic tersebut, diketahui dan disetujui oleh yang berwenang, memasukkan ke sistem administrasi gudang baik manual maupun computer dan melaporkan hasilnya ke manajemen perusahaan. Stock opname merupakan kegiatan perhitungan persediaan fisik (barang dagang) atau stock yang berada didalam toko atau gudang. Stock opname Bisa juga diartikan sebagai salah satu teknik pengendalian barang dalam bisnis usaha perdagangan untuk mengontrol kesesuaian antara jumlah barang fisik dengan catatan pembukuan atau data di mesin pencatat (komputer). Dan ini adalah kegiatan yang cukup menyita waktu Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 23 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 loh, karena kita benar-benar secara langsung mengecek keadaan dan kondisi persediaan barang perusahaan kita, apalagi jika jumlah persediaan barang beragam dan banyak. Untuk mengatasi persoalan yang demikian maka perusahaan harus mengatur se- efisien mungkin waktu yang digunakan saat ingin melakukan stock opname. Apalagi saat ini sudah didukung dengan teknologi canggih yang dapat mendukung kegiatan stock opname ini yaitu menggunakan bar code barang. Bar code adalah diagram batang dilengkapi dengan kode angka yang menandakan jenis dan harga barang tersebut. Meskipun ada barang yang sejenis namun pasti akan berbeda kode barcode setiap barang. Bar code diyakini dapat dengan mudah dan akurat dalam membantu mengurangi kesalahan pencatatan dan perhitungan barang. Tujuan dari stok opname adalah untuk mengetahui kebenaran catatan dalam pembukuan perusahaan, yang mana termasuk salah satu fungsi untuk Sistem Pengendalian Intern (SPI). Melalui kegiatan ini maka akan diketahui keadaan yang terjadi antara catatan pembukuan dan persediaan fisik yang ada. Apabila terjadi selisih antara catatan dan jumlah persediaan berarti terdapat kesalahan pencatatan atau bahkan terjadi kecurangan yang berkaitan dengan perusahaan. Perusahaan besar dengan pengendalian intern stock opname biasanya dilakukan oleh petugas khusus (petugas audit) tersendiri. Hal ini untuk menghindari terjadi manipulasi data oleh oknum tidak bertanggung jawab. Periode stock opname perusahaan umumnya diadakan setiap akhir tahun, atau bahkan setiap akhir bulan tergantung dengan kebijakan perusahaan. Lain lagi dengan perusahaan dengan SPI yang rapih biasanya stock opname dilakukan tiap triwulan dan caturwulan. Stock opname tidak hanya untuk persediaan, semestinya dilakukan juga untuk aktiva, kas, piutang, hutang. Jika ditemukan selisih antara catatan dengan jumlah persediaan yang tersedia biasanya akan disesuaikan dengan kebijakan pemilik, apakah harus mengecek kembali catatan serta pendukung lain bila kemungkinan ada transaksi yang belum dicatat atau dilakukan tindakan lain seperti : 1. Mencatatnya sebagai kehilangan/kerusakan sebagai kerugian. 2. Penyesuaian di pembukuan oleh bagian pembukuan. 3. Dibebankan kepada karyawan atau bagian terkait untuk mengganti atas kekurangan tersebut . Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 24 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 1.3.1. Proses stock opname secara sederhana Tidak semua perusahaan melakukan stock opname dengan prosedur yang sama, karena harus disesuaikan dengan keadaan besar/kecilnya perusahaan dan jumlah persediaan barang yang dimiliki. Proses stock opname secara sederhana dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Persiapan stock opname yaitu dengan menghentikan seluruh pergerakan barang. 2. Pembagian lokasi stock opname. 3. Pelaksanaan stock opname pastikan semua dokumen terkait dengan persediaan barang sudah selesai dicatat. 4. Lakukan perhitungan fisik barang. 5. Pengumpulan data stock opname. 6. Bandingkan data stock opname yaitu antara catatan (sistem) dengan persediaan yang tersedia. 7. Melaporkan hasil stock opname. 1.3.2. Proses stock opname pada perusahaan yang cukup besar. Proses stock opname yang lebih kompleks yang dilakukan pada perusahaan cukup besar sebagai berikut: 1. Persiapan Sebaiknya diberikan tempo beberapa hari untuk melakukan technical meeting sebelum melakukan dengan tujuan semua pihak yang terkait dalam melakukan stock opname bisa faham dan mengerti sejumlah prosedur dan aturan yang berlaku bahkan mungkin peralatan yang dibutuhkan seperti dokumen atau alat pembantu lainnya. Demikian persiapan yang dilakukan:  Pemberitahuan kepada supplyer supaya tidak mengirimkan barang selama stock opname.  Pemberitahuan kepada costumer sehingga tidak ada pergerakan barang saat berlangsung stock opname.  Team lapangan bertugas sebagai tema yang melakukan perhitungan fisik secara langsung. Petugas harus berasal dari gabungan karyawan gudang dan non gudang. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 25 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01  Team admin bertugas untuk menyiapkan dan mendistribusikan kecocokan count tag dari team lapangan dengan melakukan data entry.  Pembentukan 2 petugas/team stock opname yaitu sebagai koordinator dan team lapangan.  Pastikan semua dokumen penerimaan dan pengeluaran sudah selesai diinput kedalam sistem sebelum di patenkan menjadi data persediaan.  Count tag dibuat dua rangkap dan dipisahkan untuk masing-masing team di lapangan yaitu asli diserahkan ke team admin setelah diisi dan copynya ditempelkan di barang yang sudah dihitung. Count tag adalah dokumen untuk mencatat persediaan barang. Dokumen count tag berisi informasi tentang nama barang, tipe barang lokasi barang dan lokasi kosong untuk jumlah, jenis kemasan satuan, tanda tangan orang gudang non gudang dan auditor. Siapkan juga count tag kosong untuk mencatat barang temuan. Bagian gudang dapat memanfaatkan waktu sebelum stock opname untuk menyusun dan merapihkan posisi barang supaya memudahkan perhitungan. 2. Pelaksanaan  Team lapangan mengambil count tag.  Team lapangan melakukan perhitungan fisik. Count tag ditandatangani oleh minimal 2 orang yaitu team gudang dan non gudang serta auditor eksternal jika ada.  Count tag yang selesai di lengkapi (diisi) di kembalikan ke team admin.  Team admin mengecek kelengkapan pengisian dan perhitungan count tag. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 26 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01  Team admin melakukan data entry.  Coordinator stock opname melakukan follow up.  Team lapangan yang lain melakukan perhitungan fisik ulang terhadap barang yang selisih dengan dengan membawa count tag asli.  Hasil perhitungan dimasukkan kedalam sistem team admin.  Jika terjadi selisih lakukan kembali cara 6, 7, 8 sampai diketahui hasilnya. 3. Pencatatatan hasil stock opname  Ketika prosedur sudah selesai dan disetujui oleh Manajer/Direktur yang berenang maka hasilnya di masukkan (posting) ke sistem supaya catatan dan keadaan barang yang tersedia sama jumlahnya.  Dibuatkan berita acara sebagai bukti stock opname telah selesai dilaksanakan yang ditandatangani oleh bidang Finance/Accounting dan Gudang/Inventori Manager. 1.3.3. Dokumen Stock Opname Dokumen yang dimaksud adalah dokumen yang diperlukan saat perusahaan/entitas usaha melaksanakan stock opname. Dokumen tersebut diantaranya adalah: a. Kartu Barang/ Kartu Persediaan Dokumen ini memberikan informasi spesifik terkait pergerakan suatu barang sejenis. Dokumen ini diperlukan pada saat karyawan ingin melihat aktifitas suatu barang dengan mudah karena khusus menyediakan informasi tentang suatu barang tertentu. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 27 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 b. Bukti Barang Masuk Bukti barang masuk adalah catatan yang berisi informasi tentang supplier mana barang berasal, harga awal dan kategori lainnya yang dimiliki suatu barang dan dapat digunakan untuk mencocokkan data pembukuan dengan barang yang ada di gudang. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 28 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 c. Bukti Barang Keluar Bukti catatan barang keluar adalah catatan yang berisi informasi tentang tanggal, jumlah, harga dan kemana barang persediaan tersebut berpindah tangan alias dijual. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 29 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 d. Bukti Keluar Masuk Barang Sekarang ini sudah banyak tersedia berbagai macam aplikasi (software) computer untuk menunjang kemudahan dalam pencatatan, penyimpanan dan penghitungan transaksi akuntansi pada perusahaan. Gambar dibawah ini menunjukkan dokumen yang menggambarkan dan menyajikan informasi lengkap tentang keluar masuk barang pada suatu periode. Dokumen ini digunakan pada saat ingin melihat data pencatatan barang yang masuk atau keluar secara lengkap dibandingkan dengan kedua dokumen sebelumnya. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 30 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 e. Kartu Count Tag Dokumen ini merupakan dokumen yang digunakan pada saat terjadi pelaksanaan stock opname. Kartu ini akan menyediakan informasi tentang nama barang, tipe barang lokasi barang dan lokasi kosong untuk jumlah, jenis kemasan satuan, tanda tangan orang gudang non gudang dan auditor. Pada pelaksanaannya biasanya kartu count tag ini dibuat dua rangkap yaitu yang asli diberikan kepada team Admin dan yang copy di tempelkan di barang yang sudah dihitung. 2. Konsep Penanganan dan Penyimpanan Bahan Baku dan Produk Jadi 2.1. Definisi, Jenis dan Faktor yang Berperan dalam Penyimpanan Penyimpanan adalah tindakan pengamanan barang (bahan baku atau produk jadi) industri agro untuk beberapa waktu sebelum dijual, didistribusikan atau diproses lebih lanjut. Tujuan penyimpanan secara umum adalah untuk pengamanan baik dari pencurian maupun kerusakan oleh serangga, tikus, jasad renik dengan jalan menghindari, mengurangi atau menghilangkan berbagai faktor yang dapat mengurangi nilai komoditas. Tempat penyimpanan biasa terdiri dari : a. Gudang yaitu tempat penyimpanan yang memungkinkan orang dan barang leluasa bergerak didalamnya dan sering terkait dengan adanya sistem administrasi serta kegiatan perdagangan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 31 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 b. Lumbung yaitu tempat penyimpanan yang lebih mengarah pada system penyimpanan tradisional khususnya yang menyangkut tempat atau wadah baik berupa kotak, terumbu bambu ataupun berupa bangunan khusus tempat penyimpanan pangan. Dalam proses penyimpanan pada komoditas pertanian dapat terjadi kehilangan. Kehilangan tersebut dapat berupa kehilangan bobot atau susut berat, kehilangan rupa, kehilangan mutu, kehilangan nilai gizi, kehilangan keamanan, kehilangan harga, kehilangan hukum, kehilangan pasar, dan kehilangan kepercayaan. Peranan penyimpanan bagi bagi industri pengolahan adalah agar persediaan komoditas atau bahan baku tetap terjamin, kelancaran bisnis, jaminan untuk memperoleh kredit atau modal usaha, memperkuat posisi tawar menawar, memperoleh keuntungan yang lebih baik karena dapat mengatur produksi dan pemasaran, persediaan jika terjadi keadaan darurat atau gejolak ekonomi dan sosial tidak menentu, sebagai sarana pembentukan dan pengembangan modal. 2.2. Prinsip penyimpanan bahan baku dan produk jadi Fungsi dari penyimpanan adalah menyelenggarakan pengurusan bahan baku / produk jadi agar dapat memenuhi setiap permintaan dengan tepat waktu, cepat dan aman. Sesuai dengan jenis barang dalam suatu proses industri, terdapat empat jenis gudang yaitu gudang operasional, gudang perlengkapan, gudang barang jadi dan gudang musiman. Prinsip dasar dalam penyimpanan bahan makanan adalah: tepat tempat, tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah dan tepat nilai. Syarat penyimpanan bahan makanan secara umum antara lain: a) Adanya sistem penyimpanan barang b) Tersedianya fasilitas ruang penyimpanan bahan baku / produk jadi sesuai persyaratan. c) Tersedianya kartu stock/ buku catatan keluar masuknya bahan baku / produk jadi. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 32 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 2.3. Faktor penting dalam penyimpanan Agar penyimpanan komoditi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan maka dalam penyimpanan diperlukan pengetahuan terhadap beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyimpanan tersebut. Faktor-faktor tersebut meliputi suhu, kelembaban udara, Komposisi atmosfir (udara), dan kualitas bahan yang disimpan. a. Suhu Suhu dalam penyimpanan seharusnya dipertahankan agar tidak terjadi kenaikan dan penurunan. Biasanya dalam penyimpanan dingin, suhu dipertahankan berkisar antara 1 ℃ sampai dengan 2 ℃ . Penyimpanan yang mendekati titik beku mungkin saja diperlukan interval suhu yang lebih sempit. Suhu di bawah optimum akan menyebabkan pembekuan atau terjadinya chilling injury, sedangkan suhu di atas optimum akan menyebabkan umur simpan menjadi lebih singkat. Fluktuasi suhu yang luas dapat terjadi bilamana dalam penyimpanan terjadi kondensasi yang ditandai adanya air pada permukaan komoditi simpanan. Kondisi ini juga menandakan bahwa telah terjadi kehilangan air yang cepat pada komoditi bersangkutan. Persyaratan suhu penyimpanan untuk berbagai jenis komoditi sangat berlainan satu dengan lainnya. Suhu yang lebih rendah dari suhu optimum biasanya akan dapat mengakibatkan terjadinya pengembunan pada permukaan komoditi. Bilamana hal ini terjadi, maka dapat menyebabkan pengkeriputan dan berkurangnya kualitas akibat cepatnya proses penuaan. Bilamana terdapat berbedaan suhu yang terlalu besar dalam ruangan, maka keadaan tersebut dapat diatasi dengan menyertakan dinding penyekat atau dengan mempertahankan sirkulasi udara yang cukup di dalam ruang simpan. b. Kelembaban Untuk kebanyakan komoditi yang mudah rusak, kelembaban relatif dalam penyimpanan sebaiknya dipertahankan pada kisaran 90 sampai 95%. Kelembaban di bawah kisaran tersebut akan menyebabkan kehilangan kelembaban komoditi. Kondisi ini tidak diinginkan karena merugikan. Kelembaban yang mendekati 100% kemungkinan akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme lebih cepat dan juga menyebabkan permukaan komoditi pecah-pecah. Komoditi hortikultura setelah panen yang diletakkan dalam udara terbuka akan mengalami keseimbangan kadar air bahan dengan kelembaban udara di sekitarnya. Kadar air dalam keadaan seimbang ini disebut kadar air Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 33 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 keseimbangan atau Equilibrium Moisture Content. Setiap kelembaban relatif atau kelembaban nisbi atau sering disingkat sebagai RH, dalam suatu ruangan penyimpanan menghasilkan kadar air seimbang tertentu untuk suatu komoditi simpanan. Untuk tiap jenis komoditi memiliki kepekaan atau tanggapan yang berbeda-beda terhadap kelembaban relatif. Bagi komoditi hortikultura yang mudah rusak, maka penyimpanan sebaiknya memeiliki kelembaban relatif berkisar antara 80 sampai dengan 90 persen. Seperti diketahui bahwa kebanyakan buah-buahan dan sayuran maupun bunga potong mengandung air berkisar antara 85 sampai dengan 90 persen berat keseluruhan bahan. Komoditi tersebut akan mengalami kehilangan air secara terus menerus seiring dengan berjalannya waktu setelah panen. Kehilangan air yang berlebihan mengakibatkan komoditi akan layu, kisut/keriput, liat, dan tidak beraroma maupun berasa yang menarik. c. Komposisi atmosfir Komposisi udara atau atmosfir tempat atau ruangan penyimpanan sebaiknya dikendalikan agar komoditi yang disimpan tidak menghasilkan maupun mengonsumsi gas. Jenis gas yang tidak dikehendaki berada dalam konsentrasi yang tinggi dapat dibuang atau dikurangi dengan cara menyerapnya menggunakan air atau kapur. Etilen dan senyawa volatile lainnya dapat dibuang dari ruang simpan dengan menggunakan KmnO4, katalisator oksidasi atau cahaya UV. Oksigen dapat dibuang dengan menggunakan proses pembakaran atau penyaringan molekuler. d. Kualitas Bahan Agar penyimpanan memberikan arti bagi upaya memperpanjang masa kesegaran, maka hendaknya sayuran, buah-buahan maupun bunga potong yang akan disimpan terbebas dari luka atau lecet maupun kerusakan lainnya. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kehilangan air. Buah-buah yang telah memar dalam penyimpanannya akan mengalami susut bobot hingga empat kali lebih besar bila dibandingkan buah-buah yang utuh dan baik. Komoditi-komoditi tersebut juga sebaiknya dalam kondisi tingkat kematangan optimal, jangan yang terlalu muda (immature) maupun tua (over ripe). Tiap jenis komoditi memiliki sifat atau karakteristik penyimpanan tersendiri. Sifat-sifatnya selama dalam penyimpanan dapat juga dipengaruhi oleh varietas, iklim atau kondisi agronomi tempat tumbuh, cara budidaya maupun cara panenan. Jika komoditi yang akan disimpan memiliki kondisi tidak baik tentunya penyimpanan juga tidak mungkin Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 34 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 dapat memperbaiki kondisi komoditi yang telah jelek tersebut, bahkan upaya penyimpanan justru dapat menambah kerugian dalam penanganan pasca panennya. 3. Konsep pengemasan komoditi agro 3.1. Pengemasan bahan baku / produk jadi Pengemasan bahan hasil pertanian sangat erat hubungannya dengan tujuan yang diharapkan atau yang diinginkan. Selain itu pengemasan juga erat hubungannya dengan waktu atau kondisi bahan hasil pertanian yang akan dikemas. Beberapa tujuan pengemasan hasil pertanian antara lain untuk melindungi bahan hasil pertanian dari kerusakan, menangani sementara bahan hasil pertanian, mempermudah proses pemasaran. Fungsi sebuah kemasan pada awalnya hanya bertujuan untuk melindungi barang atau mempermudah transportasi barang. Kemasan digunakan lebih berorientasi untuk melindungi barang terhadap pengaruh cuaca atau proses alam lainnya yang dapat merusak barang dan sebagai wadah agar barang mudah dibawa selama dalam perjalanan. Namun, saat ini terjadi perkembangan fungsi dan tujuan pengemasan, diantaranya bertujuan untuk menambahkan nilai-nilai fungsional. Peranan kemasan dalam pemasaran merupakan salah satu kekuatan utama dalam persaingan pasar. Selain dari segi fungsi, jenis-jenis kemasan juga mengalami perkembangan, yaitu dari bahan-bahan kemasan yang terbuat dari kulit, kain, kayu, batu, keramik dan kaca hingga bentuk dan model kemasan yang sangat beragam. Hal ini terjadi karena kemasan dirasakan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemasaran. Kemasan dibuat agar mampu menarik perhatian dan dapat menggambarkan keistimewaan suatu produk. Kegiatan mengemas bahan hasil pertanian dan perikanan perlu memperhatikan beberapa faktor, baik bahan yang akan dikemas, bahan kemasan, serta tujuan pengemasan. Bahan yang akan dikemas perlu dipahami karakteristiknya terlebih dahulu agar dalam menentukan proses pengemasannya mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai contoh, apabila kita akan mengemas ikan bandeng pasti akan berbeda dengan mengemas tomat. Oleh karena itu perlu ditegaskan lagi bahwa karakteristik bahan atau komoditas yang akan dikemas perlu dipahami dengan baik. Pengetahuan bahan sangat diperlukan dalam memahami pengemasan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 35 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengemasan dan pembungkusan, yaitu: a) Kemasan harus memenuhi syarat keamanan dan kemanfaatan. Kemasan tidak boleh mengakibatkan kerusakan bahan baik secara fisik, kimia maupun biologis/mikrobiologis. Produk-produk yang dikemas diharapkan mampu mempertahankan dirinya dalam kondisi lebih bersih, menarik dan tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cuaca. Selain itu kemasan juga harus mampu melindungi produk dalam perjalanan dari produsen ke konsumen. Oleh karena itu diperlukan bahan kemasan dan desain kemasan sesuai dengan komoditas yang akan dikemas dan tujuan yang diinginkannya. b) Kemasan dapat melaksanakan program pemasaran. Melalui kemasan, identifikasi produk menjadi lebih efektif dan dengan sendirinya dapat mencegahpertukaran oleh produk pesaing. Kemasan merupakan satu-satunya caraperusahaan membedakan produknya. c) Kemasan merupakan suatu cara untuk meningkatkan laba perusahaan. Perusahaan harus membuat kemasan semenarik mungkin dengan harapan dapat memikat dan menarik perhatian konsumen. 3.2. Fungsi pengemasan Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Pendapat tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian RI No 44/Permentan/OT.140/10/2009 bahwa kemasan pengemasan dilakukan untuk melindungi produk dari gangguan faktor luar yang dapat mempengaruhi daya simpan. fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah: 1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak tercecer. Kegiatan mewadahi dapat dilakukan sejak di lahan pertanian untuk produk hasil tanaman atau dari kapal laut untuk hasil perikanan. Produk berupa cairan, pasta atau butiran sangat besar kemungkinan tercecer, sehingga sejak penanganan awal perlu dilakukan pewadahan dengan menggunakan wadah yang sesuai dengan karakteristik komoditas tersebut. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 36 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 2. Melindungi produk Produk hasil pertanian dan perikanan merupakan bahan bahan yang mudah rusak sehingga sangat perlu dilindungi dari berbagai faktor penyebab kerusakan, seperti seperti sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk. 3. Sebagai identitas produk Selain sebagai wadah dan pelindung bahan, kemasan juga berfungsi sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan. Oleh karena itu desain label pada kemasan perlu diperhatikan agar mampu memberikan informasi kepada konsumen dengan benar. 4. Meningkatkan efisiensi Kemasan juga diharapkan mampu memudahkan penghitungan, memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Oleh karena itu perlu diperhatikan jumlah bahan yang dikemas dalam satu kemasan (berisi 1 lusin, 1 gross dan sebagainya) agar mudah mengidentifikasinya. Kemasan merupakan salah satu cara membedakan suatu produk dari produk lainnya. Hal ini penting dalam pengelolaan persediaan maupun dalam pemasaran produk. 5. Melindungi pengaruh buruk dari produk itu sendiri Seringkali kita menemukan jenis bahan tidak boleh dibawa kedalam kendaraan (pesawat terbang, bus, dll), serta tempat tertentu dikarenakan memiliki karakteristik yang khas yang dapat mengganggu orang lain. 6. Meningkatkan pemasaran produk Kemasan dapat berfungsi sebagai identitas produk, sehingga proses identifikasi menjadi lebih efektif dan mencegah pertukaran oleh produk pesaing. Kemasan yang didesain secara baik diharapkan mampu meningkatkan daya tarik calon pembeli dan sekaligus menjadi sarana informasi dan iklan. Selain itu kemasan diharapkan juga mampu memberi kenyamanan bagi pemakai. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 37 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 3.3. Klasifikasi pengemasan Kemasan dapat diklasifikan yaitu : 1. Berdasarkan frekuensi pemakaian a. kemasan sekali pakai (disposable), contoh: bungkus permen. Kaleng hermetis. b. Kemasan yang dipakai berulang kali (multitrip), contoh : botol minuman (bir, botol kecap). c. Kemasan yang tidak dibuang, tapi digunakan kembali oleh konsumen untuk kepentingan lain (semi disposable). 2. Berdasarkan struktur sistem kemasan a. Kemasan Primer : kemasan yang langsung mewadahi bahan pangan, contoh : kaleng susu, botol minuman. b. Kemasan sekunder : kemasan yang berfungsi melindungi kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng. c. Kemasan tertier, kuarterner : kemasan setelah kemasan primer dan sekunder, yang berfungsi sebagai pelindung selama pengangkutan. 3. Berdasarkan sifat kekakuan bahan kemasan a. Kemasan fleksibel : bahan kemas yang mudah dilenturkan. Misalnya : plastik, kertas, foil. b. Kemasan kaku kemasan yang bersifat keras, kaku, tidak lentur dan patah bila dibengkokkan. Misal : kayu, gelas,logam. c. Kemasan semi fleksible : kemasan yang mempunyai sifat di antara kemasan fleksible dan kemasan kaku. Misal : botol plastik untuk kecap dan susu. 4. Berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan : a. Kemasan hermetis (tahan uap dan gas) : kemasan yang tidak dapat ilalui oleh gas atau uap air. b.Kemasan tahan cahaya : wadah yang tidak transparan, misalnya kemasan logam, kertas, foil. c. Kemasan tahan suhu tinggi : kemasan untuk bahan pangan yang memerlukan pemanasan, sterilisasi dan pasteurisasi. Misalnya : wadah logam dan gelas. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 38 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Bahan – bahan kemasan yang banyak beredar dipasaran dan umum digunakan dalam pengemasan produk-produk hasil pertanin dan bahan pangan olahan adalah gelas, kertas, logam dan plastik. Persyaratan Bahan Pengemas :  Memiliki permeabilitas (kemampuan melewatkan) udara yang sesuai dengan jenis bahan pangan yang akan dikemas.  Harus bersifat tidak beracun dan inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan).  Harus kedap air.  Tahan panas.  Mudah dikerjakan secara masinal dan harganya relatif murah. 3.4. Jenis-jenis Bahan Pengemas Untuk wadah utama (pengemas yang berhubungan langsung dengan bahan pangan) jenis kemasan yang digunakan adalah : Kaleng/logam, Botol/gelas, Plastik, Kertas, Kain, Kulit, daun, gerabah, bambu. Untuk wadah luar (pelindung wadah utama selama distribusi, penjualan, atau penyimpanan) jenis kemasan yang digunakan adalah : Kayu, Karton. 1. Gelas Sebagai bahan kemas gelas mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan seperti inert (tidak bereaksi) kuat, tahan terhadap kerusakan, sangat baik sebagai barier terhadap benda padat, cair dan gas. Sifat gelas yang transparan menguntungkan dari segi promosi disamping itu beberapajenis gelas seperti pyrex tahan terhadap suhu yang tinggi. Kelemahan kemasan gelas yaitu mudah pecah dan kurang baik bagi produk- produk yang peka terhadap penyinaran (ultra violet).  Terbuat dari campuran pasir C2O, soda abu, dan alumina.  Bersifat inert (tidak bereaksi dengan bahan pangan)  Kuat (tahan terhadap kerusakan akibat pengaruh waktu)  Transparan (bentuk dan warna bahan pangan dapat dilihat).  Kelemahannya adalah mudah pecah, tidak dapat digunakan untuk bahan pangan yang peka terhadap sinar.  Agar tidak mudah pecah sebaiknya bagian permukaan gelas dilapisi dengan lilin Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 39 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Kemasan gelas berkembang terus, mulai dari bejana sederhana hingga berbagai bentuk kemasan yang sangat menarik walaupun kemasan gelas terus bersaing dengan bahan kemasan lainnya. Dalam proses pengemasan dengan menggunakan kemasan gelas dalam bentuk botol, kegiatan menutup atau menyumbat botol merupakan satu bagian yang penting dan perlu mendapat perhatian. Bagian penutup atau tutup botol merupakan bagian yang terlemah dari sistem perlindungan terhadap gangguan atau pencemaran dari luar, karena cara penutupan dan jenis/bahan penutup yang kurang tepat dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan bahan yang dikemas. Bahan – bahan yang umum digunakan untuk menutup adalah logam (kaleng ), aluminium, gabus dan berbagai jenis plastik. 2.Kertas Selain untuk media komunikasi atau media cetak, kertas digunakan menjadi bahan pengemas. Pada abad ke 19 kertas menggantikan peranan kemasan dari tanah liat, gelas dan kaleng. Pada abad ke 19 itu pula karton mulai berkembang dalam bentuk kantong kertas dan kardus. Kotak kertas yang dibuat pada sekitar tahun 1840 membutuhkan banyak lem karena banyak potongan yang perlu direkat. Penggunaannya terbatas untuk barang-barang mewah. Jenis-jenis kertas kemudian lebih beragam mulai dari kertas karton, kertas tulis, kraft, kertas label, kertas tahan minyak (lemak), hingga berbagai jenis karton. Secara berangsur-angsur sebagai bahan kemas, kemasan kertas mendapat saingan dari bahan kemas lain terutama plastik. Kertas dan karton dapat dibuat lembaran-lembaran dan gulungan, karena itu memungkinkan untuk dilakukan proses laminasi sehingga kertas banyak dikombinasikan dengan bahan lain yang kedap udara dan tahan air.  Kertas “greaseproof” : dapat digunakan sebagai pengemas utama mentega, margarin, daging, kopi, dan gula-gula. Mirip kertas karton namun memiliki kekedapan terhadap perembesan lemak.  Kertas “glassine” : dibuat 80% dari kertas greaseproof namun memiliki ketahanan terhadap udara dan lemak yang kuat, permukaanya halus, serta mengkilat. Sering digunakan untuk mengemas roti yang berkadar lemak tinggi.  Kertas “kraft” : kertas yang dibuat dari bubur sulfat dan kayu kraft (yang berasal dari Swedia dan Jerman). Memiliki sifat yang lebih kuat dari kertas Glassine, Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 40 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 sehingga bahan pangan yang dibungkus dengan kertas ini akan tetap kering lebih-lebih bila permukaannya dilem dengan resin. Kertas ini biasanya digunakan untuk mengemas keju di Negara-negara eropah. Kantung kertas merupakan salah satu kemasan tertua yang masih tetap popular. Sedangkan amplop adalah kantung kertas yang mempunyai bentuk khusus, sangat umum digunakan untuk pembungkus surat. Kedua jenis pembungkus ini dinilai cukup murah, baik harganya maupun ongkos untuk pengangkutannya. Mempunyai rasio bobot (perbandingan antara berat kemasan dengan berat produk yang dikemas) yang rendah. Seperti juga amplop, kantung kertas dapat dibedakan atas beberapa jenis rempah dan berbagai jenis tepung. Karton lipat merupakan jenis pengemas yang popular karena mempunyai sifat praktis, murah dan mudah dilipat sehingga hanya memerlukan sedikit ruang dalam pengangkutan dan penyimpanan. Demikian pula dalam pencetakan dan penggrafiran dapat dilakukan untuk meningkatkan penampilan produk.Pemakaian yang luas dari jenis kemasan ini disebabkan oleh banyaknya variasi dalam hal model, bentuk dan ukuran dengan karakteristik yang khusus. Dalam perdagangan karton lipat dikenal dengan nama FC (Folding Carton) 3. Logam Beberapa keuntungan dari kemasan logam (kaleng) untuk makanan dan minuman yaitu mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi,mempunyai sifat sebagai barrier yang baik khususnya terhadap gas, uap air, jasad renik, debu dan kotoran sehingga cocok untuk kemasan hermitis. Disamping itu walaupun mempunyai resiko adanya pengikisan atau migrasi unsur-unsur logam, akan tetapi tosisitasnya relatif rendah, tahan terhadap perubahan atau keadaan suhu yang ekstrim dam mempunyai permukaan yang ideal untuk pemberian dekorasi dalam labeling.  Bahan yang sering dipakai : Kaleng (tin plate) dan almunium.  Tin plate adalah wadah yang terbuat dari baja yang dilapisi timah putih yang tipis, bagian dalamnya juga dilapisi dengan lapisan email. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 41 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01  Lapisan email tersusun atas senyawa oleoresin, fenolik, vinil, dan lilin. Fungsi email adalah untuk mencegah korosi dan mencegah kontak antara metal dengan bahan pangan. Misal email fenolik digunakan untuk melapisi kaleng pengemas bahan ikan dan daging. Kemasan kaleng, umumnya digunakan untuk berbagai produk yang mengalami proses sterilisasi termal. Pada mulanya kemasan kaleng dibuat dari plat timah (tin plate) yang terdiri dari lembaran dasar baja dilapisi timah putih dengan cara encelupan dalam timah cair panas (hot dipping) atau dengan proses elektrolisa yaitu menggunakan listrik galvanis sehingga menghasilkan lapisan timah yang lebih tipis standar, seperti misalnya kaleng baja bebas timah (tin free steel),kaleng tiga lapis (three piece cans), dan kaleng lapis ganda (two piece cans) Aluminium adalah logam yang lebih ringan dari baja, mempunyai daya korosif oleh atmosfir yang rendah, mudah dilekuk-lekukkan sehingga lebih mudah berubah bentuknya, tidak berbau, tidak berasa, tidak beracun dan dapat menahan masuknya gas. Aluminium lebih sukar disolder sehingga sambungan-sambungannya tidak dapat rapat. Kemasan yang dibuat dari alumiun dapat menyebabkan patahan-patahan jika terlipat,sehingga dapat menimbulkan lubang-lubang.  Aluminium memiliki keuntungan sebagai bahan pengemas, yaitu memiliki berat yang lebih ringan dibanding baja.  Aluminium juga mudah dibentuk sesuai keinginan.  Aluminium lebih tahan korosi karena bisa membentuk aluminium oksida.  Kelemahan aluminium adalah mudah berlubang dibanding baja dan lebih sukar disolder sehingga sambungan kemasan tidak benar-benar rapat. Pada umumnya penggunaan alumium secara komersial memerlukan sifat-sifat khusus yang mungkin tidak menguntungkan bila digunakan aluminium yang murni.Penambahan komponen campuran dapat memperbaiki sifat-sifatnya dan daya tahan korosi. Bahan –bahan yang umum digunakan sebagai campuran diantaranya adalah tembaga,magnesium,mangan khronium,seng,besi dan titanium. Sifat-sifat yang spesifik dari aluminium memungkinkan penmggunaan logam terbebut sebagai tutup kaleng kemasan berbagai jenis makanan dan minuman atau untuk tube logam lunak / collapsible tube. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 42 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 Foil adalah bahan kemasan dari logam , berupa lembaran aluminium ayng padat dan tipis dengan ketebalan kurang dari 0,15 mm. Mempunyai kekerasan yang berbeda- beda,yaitu dari mulai yang sangat lunak sampai yang keras. Foil mempunyai sifat yang hermetis,fleksibel,tidak tembus cahaya (cocok untuk kemasan margarin dan yoghurt).Pada umumnya digunakan sebagai bahan pelapis (laminan) yang dapat ditepatkan pada bagian dalam (lapisan dalam) atau lapisan tengah sebagai penguat yang dapat melindungi kemasan. 4. Plastik Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari jenis makanannya. Kelemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun. Penggunaan plastik sebagai kemasan dapat berupa kemas bentuk (flexible) atau sebagai kemas kaku. Makanan padat yang umumnya memiliki umur simpan pendek atau makanan yang tidak memerlukan perlindungan yang hebat dikemas dengan kemasan bentuk. Akan tetapi makan cair dan maka padat yang memerlukan perlindungan yang kuat perlu dikemas dengan kemasan kaku dalam bentuk botol, jerigen, kotak atau bentuk lainnya. Berbagai jenis kemasan bentuk muncul dengan pesat seperti polietilen, polipropilen, polyester nilon dan film vinil. Sebagai bahan pengemas, plastik dapat digunakan dalam bentuk tunggal, komposit atau berupa lapisan-lapisan (multi lapis) dengan bahan lain (kertas, aluminium foil ). Kombinasi tersebut dinamakan laminasi yang diproses baik dengan cara laminasi akstrusi maupun laminasi adhesif. Dengan demikian kombinasi dari berbagai ragam plastik dapat menghasilkan ratusan jenis kemasan. Berdasarkan sifat-sifatnya terhadap perubahan suhu maka plastik dapat dibagi dua,yaitu : 1. Termoplastik: meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu,dan mempunyai sifat dapat balik (reversible) kepada sifat aslinya,yaitu kembali mengeras bila didinginkan. 2. Termoset atau Termodursinable : tidak dapat mengikuti perubahan suhu, bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali (non reversible).Pemanasan yang tinggi tidak akan melunakkan termoset melainkan Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 43 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 akan membentuk arang dan terurai,karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,eperti jenis-jenis melamin. Penggunaan plastik untuk kemasan makanan cukup menarik karena sifat-sifatnya yang menguntungkan, seperti luwes (mudah dibentuk), mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap produk, tidak korosif seperti kemasan logam ,serta mudah dalam penanganannya. Di dalam perdagangan dikenal plastik untuk kemasan pangan (food grade) dan kemasan untuk bukan pangan (non food grade). Kemasan kaku yang terbuat dari plastik paling banyak digunakan untuk mengemas produk susu. Dua jenis bahan dari plastik yang terbaik yaitu LDPE (Low Density Polyethylene) dan HDPE (High Density Polyethylene). Bentuk-bentuk kemasan plastik kaku dapat dijumpai dengan mudah di pasaran dalam bentuk yang siap pakai seperti botol, jerigen, drum, gelas, mangkuk, ember, dan lain-lain. Penggunaan plastik dalam pengemasan sebenarnya sangat terbatas tergantung dari jenis makanannya. Kelemahan plastik adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik masih bisa ditembus udara melalui pori-pori plastik), dan mudah terjadi pengembunan uap air didalam kemasan ketika suhu turun. Jenis plastik yang digunakan dalam pengemasan antara lain : polietilen, cellophan, polivinilklorida (PVC), polivinil dienaklorida (PVDC), polipropilen, poliester, poliamida, dan polietilentereptalat (PET).  Polietilen : adalah jenis plastik yang harganya paling murah dan memiliki beberapa varian antara lain : Low Density Polyetilene (LDPE), High Density Polyetilene (HDPE), dan Polietelentereptalat (PET). Polietilen memiliki sifat kuat bergantung variannya, transparan, dan dapat direkatkan dengan panas sehingga mudah dibuat kantong plastik.  Cellophan : sebenarnya terbuat dari serat selulosa yang disulfatasi. Cellophan dapat dipergunakan untuk membungkus sayuran, daging, dan beberapa jenis roti. Cellophan yang dilapisi nitroselulosa mempunyai sifat yang tahan terhadap uap air, fleksibel, dan mudah direkatkan dengan pemanasan. Cellophan yang dilapisi PVDC tahan terhadap uap air dan kedap oksigen sehingga baik untuk mengemas makanan yang mengandung minyak atau lemak.  Polivinilklorida (PVC) : jenis plastik yang kuat, namun memiliki kelemahan yaitu dapat berkerut (Shrinkable) dan sering digunakan untuk mengemas daging atau keju. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 44 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01  Polivinildienaklorida (PVDC) : jenis plastik yang kuat, tahan terhadap uap air dan transmisi udara. Sering dugunakan dalam pengemasan keju dan buah-buahan yang dikeringkan. 5.Kain Blacu Digunakan untuk mengemas bahan pangan tepung, seperti tepung terigu atau tepung tapioka. Dibuat dalam bentuk kantung-kantung yang berkapasitas 10 – 50 kg. Kelebihannya adalah tidak mudah sobek/ kuat kainnya, flesibel, mudah dicetak dan murah harganya. Kelemahannya : memiliki permiabilitas udara yang jelek dan tidak kedap air. 6.Edible film Edible film adalah bahan pengemas organik yang dapat dimakan sekaligus dengan bahan pangan yang dikemasnya, biasa terbuat dari senyawa polisakarida dan turunan lemak. ahan yang digunakan antara lain polisakarida yang berasal dari rumput laut (agarose, karaginan, dan alginat), polisakarida pati, amilosa film, gelatin, gum arabik, dan turunan monogliserida. Contoh pengemasan edible film adalah pada sosis, permen, kapsul minyak ikan, sari buah dan lain-lain. 7. Karton Karton sebenarnya merupakan bagian dari kertas namun lebih sering berfungsi sebagai wadah luar atau sebagai penyokong wadah utama dalam pengemasan bahan pangan agar lebih kuat, dan rigid. arton memiliki kelebihan antara lain elastisitas lebih baik dibanding kayu, dapat dicetak pada permukaannya, dapat dikerjakan secara masinal, pemakaiannya mudah, dan dapat dilipat sehingga tidak memerlukan ruang luas. 8. Bahan Pengemas Tradisional Daun Digunakan secara luas, bersifat aman dan bio-degradable, yang biasanya berupa daun pisang, daun jati, daun bambu, daun jagung dan daun palem. Lebih aman digunakan dalam proses pemanasan dibanding plastik. Gerabah Digunakan sejak zaman dahulu, aman bagi bahan pangan asal tidak mengandung timbal. Gerabah yang diglasir bersifat kedap air, kedap udara, mampu menghambat Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 45 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 mikrobia, dan bersifat dingin sehingga cocok untuk mengemas bahan pangan seperti saus, madu, anggur, minyak, curd/dadih dll. Proses pengemasan bahan / produk olahan pangan yang dilakukan di industri – industri kecil dan menengah pada umumnya sangat sederhana dan mudah melaukannya, baik cara maupun peralatannya. Perbedaan untuk masing-masing produk hanya terletak ada proses sterilisasi, ada yang memerlukan dan ada yang tidak, ada yang dikemas terlebih dahulu, ada yang disterilisasi terlebih dahulu. Pengemasan mempunyai peran yang sangat penting baik dalam pengawetan maupun dalam mempertahankan mutu produk-produk pangan atau hasil pertanian. Dengan pengemasan dapat membantu mencegah dan melindungi produk dari kemungkinan kerusakan fisik dan pengaruh pencemaran. Saat ini pengemasan berkembang secara pesat seiring dengan pesatnya perkembangan industri yang menggunakannya dan berbagai macam bahan dan bentuk kemasan sudah banyak tersedia dan dengan mudah dapat diperoleh di pasaran sesuai dengan kebutuhan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 46 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 B. KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN DALAM MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG 1. Tepat dalam mengisi kartu perhitungan stok. 2. Menyusun laporan hasil inventarisasi persediaan (stock opname) 3. Membuat berita acara opname fisik (stock opname) persediaan. 4. Melakukan pengemasan secara manual. 5. Melakukan pengemasan secara semi mekanis. 6. Melakukan penanganan dan pemindahan bahan baku dan/atau produk jadi ke tempat penyimpanan. 7. Melakukan penataan bahan baku dan/atau produk jadi dilokasi penyimpanan. C. SIKAP KERJA DALAM MEMPERSIAPKAN DATA PENDUKUNG 1. Tepat dalam mengisi kartu perhitungan stok. 2. Cermat dan teliti dalam menyusun laporan hasil inventarisasi persediaan (stock opname) 3. Tepat dalam membuat berita acara opname fisik (stock opname) persediaan. 4. Cermat dan teliti dalam melakukan pengemasan secara manual. 5. Cermat dan teliti dalam melakukan pengemasan secara semi mekanis. 6. Cermat dan teliti dalam melakukan penanganan dan pemindahan bahan baku dan/atau produk jadi ke tempat penyimpanan 7. Cermat dan teliti dalam melakukan penataan bahan baku dan/atau produk jadi di lokasi penyimpanan. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 47 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 BAB IV MELAKUKAN EVALUASI TERHADAP KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG A. KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN DALAM MELAKUKAN EVALUASI TERHADAP KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG 1. Menganalisis seluruh kegiatan operasional gudang yang telah dilakukan. 2. Melakukan tindakan perbaikan kegiatan operasional gudang. 3. Mengumpulkan dan menyusun kembali data kegiatan operasional gudang yang telah diperbaiki. B. SIKAP KERJA DALAM MELAKUKAN EVALUASI TERHADAP KEGIATAN OPERASIONAL GUDANG 1. Cermat dan akurat dalam menganalisis seluruh kegiatan operasional gudang yang telah dilakukan. 2. Cermat dan teliti dalam melakukan tindakan perbaikan kegiatan operasional gudang. 3. Cermat dan teliti dalam mengumpulkan dan menyusun kembali data kegiatan operasional gudang yang telah diperbaiki. Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 48 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 DAFTAR PUSTAKA A. Buku Referensi 1. Nurani, D. 2011. “ Pengolahan Hasil Pertanian, Perikanan dan Kelautan”. LPLM Institut Teknologi Indonesia. 2. Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. “ Penanganan Bahan Hasil pertanian dan Perikanan. 2013. 3. Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Melakukan Pengemasan Secara Manual. 2003. 4. Rahmi. 2011. “Manajemen penerimaan dan Penyimpanan Bahan Makanan di umah Sakit Haji Jakarta”. Karya Tulis Akhir. Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Harmain. 2011. “Pengemasan Hasil Perikanan”. Bahan Ajar Universitas Sumatera Utara. 6. Mareta, D. 2011. “ Pengemasan Produk Sayuran dengan Bahan Kemas Plastik Pada Penyimpanan suhu ruang dan suhu dingin. Jurnal Ilmu Pertanian. 7. Julianti, E. 2001. “ Teknologi Pengemasan” Buku Ajar Universitas Sumatera Utara. 8. Rachman, O. 2001. “Pengeringan, pendinginan dan pengemasan komoditas pertanian”. Modul Dasar Bidang Keahlian Departemen Pendidikan Nasional. 9. Annisa. 2008. “ Manajemen persediaan Produk Ikan Segar pada Hipermarket Studi Kasus di Giant Hipermarket Mega Bekasi Hypermall Kota Bekasi. Skripsi Sarjana. Fakultas Pertanian - IPB. 10.Rangkuti, Freddy. Manajemen Persediaan Aplikasi dibidang Bisnis. Jakarta:Rajawali Pers, 2007. 11.Anonimus. 2007. Kemasan Fleksibel. Jakarta : Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Departemen Perindustrian. B. Majalah atau Buletin - C. Referensi Lain - Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 49 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017

Modul Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kode Modul Bidang Logistik Industri Agro H.522900.014.01 DAFTAR PERALATAN/MESIN DAN BAHAN A. Daftar Peralatan/Mesin No. Nama Peralatan/Mesin Keterangan 1. Laptop, infocus, laserpointer Untuk di ruang teori 2. Printer Untuk di ruang teori 3. Hand Pallet Stacker Untuk di ruang praktek 4. Pallet Untuk di ruang praktek 5. Timbangan Untuk di ruang praktek 6. Belt Conveyor Untuk di ruang praktek 7. Tangga Untuk di ruang praktek 8. Hand Sealer Untuk di ruang praktek 9. Strapping Machiner Untuk di ruang praktek 10. Helm Untuk di ruang praktek 11. Sepatu Untuk di ruang praktek 12. Sarung Tangan Untuk di ruang praktek 13. Rompi Untuk di ruang praktek B. Daftar Bahan No. Nama Bahan Keterangan Setiap peserta 1. Modul Pelatihan (buku informasi, buku kerja, buku penilaian) 2. Kertas HVS A4 3. Spidol whiteboard 4. Kertas chart (flip chart) 5. Tinta printer 6. Bahan Baku Hasil Pertanian 7. Bahan Baku Hasil Perikanan 8. Bahan Baku Hasil Perkebunan Judul Modul : Menerapkan Sistem Operasional Pergudangan Halaman: 50 dari 51 Buku Informasi Versi: 2017


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook