Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Edisi November 2016

Edisi November 2016

Published by Irwandi Aw, 2017-03-15 23:35:21

Description: Edisi November 2016

Search

Read the Text Version

Volume II Nomor 2, 2016BisnisJurnal Tani Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar

Penyunting/Editor DEWAN REDAKSIIr. Aswin Nasution, M.Si Penanggung JawabReviewer Ir. Rusdi Faizin, M.SiProf. Dr. Ir. Ketut SukiyonoDr. Putri Suci Astuti RedakturDr. Ir. Romano, MP Sri Handayani,SP.,M.SiDr. Ir. Safrida, M.Si Desain Grafis Teuku Muhammad Iqbal, SP Sekretariat Liston Siringo Ringo, SP., M.Si

DAFTAR ISIAnalisis Pengaruh Beberapa Faktor Terhadap Farmer Share Pada Sistem Pemasaran Kopi Arabika di KabupatenBener Meriah Provinsi Aceh 123-131Mustafa UsmanAnalisis Dampak Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) Terhadap Peningkatan PendapatanPetani 132-142Iim Mucharam, M.Muslich Mustadjab, Djoko KoestionoKeputusan Petani Tebu Dalam Penerapan Sistem Integrasi Tebu-Sapi Potong di Kabupaten Gorontalo ProvinsiGorontalo 143-148Sriyani Wahyuni Tangahu, Sri Hartoyo, dan Anna FariyantiKajian Tingkat Kemiskinan di Kawasan Irigasi Ulee Jalan Kabupaten Nagan Raya 149-154Dewi FithriaPerbedaan Harga Saham dan Aktifitas Volume Perdagangan Saham LQ-45 Sebelum dan Sesudah Teror BOMThamrin 155-165Doni Saputra, Dewi RahmayantiAnalisis Komoditi Unggulan Tanaman Pangan Dalam Rangka Perencanaan Kawasan Agropolitan di KotaPadang 166-170Ilham Martadona, Yeti Lis Purnamadewi, Mukhamad NajibAnalisis Permintaan Impor Gandum dan Tepung Terigu di Indonesia 171-181HastutiAnalisis Kelayakan Usaha dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Jagung Pada Lahan Keringdan Sawah di Kabupaten Sumbawa 182-188Muhammad NursanStruktur Biaya Perawatan Kebun Kelapa Sawit Rakyat di Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya 189-194Sri Handayani, Aswin Nasution, AmirDampak Perubahan Kebijakan Pemerintah Terhadap Permintaan dan Penawaran Pulp dan Kertas 195-202IndonesiaNovindra, Anggriani Oktavia Sitanggang

ANALISIS PENGARUH BEBERAPA FAKTOR TERHADAP “FARMER SHARE”PADA SISTEM PEMASARAN KOPI ARABIKA DI KABUPATEN BENER MERIAH PROVINSI ACEH Mustafa Usman1Staf Pengajar Prodi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unsyiah [email protected] AbstractThe purpose of this research is to know the size influence of sale volume, selling price, andmarketing margin to farmer’s share on the Coffee Arabica marketing system in Bener MeriahDistrict. The Decision of territory sample is done in purposive sampling method, namely BandarDistrict and Bukit District. The result of analysis shows us that sale volume and selling priceproduct give us the positive influence significant to farmer’s share, yet marketing margin givesthem negative influence to farmer’s share or profit margin Coffee Arabica farmer’s in BenerMeriah Ditrict. The selling price of product constitutes the most dominant factor that influencethe farmer’s share, then follows by selling volume and marketing margin. It is suggested to theCoffee Arabica farmer in order they are able to enlarge the scale of their farm and improve thequality and their productivity in order to increase the selling volume and selling price product, andthey could also squeeze the expenses of marketing through the system of choosing the marketingchannel that is more exact, so that they could enlarge the farmer’s share at Coffee Arabicafarmer’s in Bener Meriah District. To concrete this implication, we suggest the government togive our farmers some capitals and to guide, contribute and counsel them in order for them to bemore skillful and motivated in Coffee Arabica farming. Al last they can increase their income andwelfare sustainably.Key Words: The Influence of Factors, Farmer’s Share, Coffee Arabica, and Marketing SystemPENDAHULUAN Kopi arabika merupakan salah Provinsi Aceh (2013), luas areal perkebunan kopi di kedua Kabupaten inisatu jenis kopi yang paling diminati mencapai 80 persen (96 ribu hektar) dari total luas lahan di Provinsi Acehbanyak orang. Kopi tersebut memiliki (121 ribu hektar). Kabupaten Bener Meriah luas lahannya mencapai 45 ribukandungan caffein sebesar 0,8-1,4%. hektar yang terdiri atas tanaman menghasilkan 27 ribu hektar, tua/rusakSebagian besar pangsa pasar kopi dunia 11 ribu hektar, dan belum menghasilkan 7 ribu hektar dan sebesar 2 ribu hektartelah dikuasai oleh jenis kopi arabika potensi lahan yang dapat dikembangkan dengan tingkat produksidan harganya jauh lebih tinggi biji kopi rata-rata per tahun sebesar 19 ribu ton (Dishutbun Kabupaten Benerdibandingkan dengan harga kopi jenis Meriah, 2012).lainnya. Saat ini kopi arabika di DTG (Dataran Tinggi Gayo) ditanam di tiga Di Indonesia sebagian besar Kabupaten, yaitu Aceh Tengah seluas 48 ribu hektar, Bener Meriah seluas 45perkebunan kopi arabika terdapat di ribu hektar, dan seluas 4 ribu hektar di Gayo Lues (BPS Provinsi Aceh, 2012).Bali, Jawa, Sumatera Utara, Toraja danDataran Tinggi Gayo (Anonymous,2008). Dataran Tinggi Gayo (DTG)terutama Kabupaten Bener Meriah danKabupaten Aceh Tengah merupakandaerah centra produksi kopi arabika.Bahkan, Kopi Arabika Gayo yang berasaldari dua kabupaten tersebut layakmenjadi penghasil kopi arabika terbaikdi dunia. Menurut Dinas Perkebunan 123

Kopi Gayo merupakan komoditas Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan suatuekspor penting untuk menghasilkan penelitian ilmiah dengan judul “Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Terhadapdevisa bagi negara dan dapat “farmer’s share” pada Sistem Pemasaran Kopi Arabika di Kabupatenmeningkatkan pendapatan daerah dan Bener Meriah Provinsi Aceh.masyarakat di Provinsi Aceh, karena Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalammampu memberikan nilai tambah penelitian ini adalah: Apakah faktor volume penjualan, harga jual danmelalui ekspor dan kesempatan kerja marketing margin (biaya pemasaran) dapat mempengaruhi farmer’s shareyang begitu besar. Komoditas ini (profit margin petani) pada sistem pemasaran kopi arabika di Kabupatenmerupakan komoditi ekspor yang Bener Meriah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruhmemberikan konstribusi sebesar 24% volume penjualan, harga jual, dan marketing margin (biaya pemasaran)dari total volume ekspor komoditas terhadap farmer’s share (profit margin petani) pada sistem pemasaran kopipertanian potensial lainnya. Provinsi arabika di Kabupaten Bener Meriah.Aceh mempunyai kinerja ekspor yang METODE PENELITIAN Lokasi, Objek dan Ruang Lingkupyang relatif bagus. Data statistik Penelitianmemperlihatkan bahwa selama tahun Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bener Meriah. Penentuan2007 - 2012, perkembangan ekspor wilayah sampel dilakukan secara Purposive Sampling, yaitu Kecamatankopi arabika mengalami peningkatan Bandar dan Kecamatan Bukit. mengingat kedua kecamatan tersebutrata-rata sebesar 11,3 % per tahun, merupakan sentra produksi kopi arabika di Kabupaten Bener Meriah. Kemudiansedangkan nilai ekspor meningkat masing-masing kecamatan tersebut dipilih lagi sebanyak 2 desa sampelsebesar 43,44 % per tahun. Pada tahun sebagai lokasi penelitian yang merupakan desa yang memiliki paling2012 volume ekspor mencapai 28,32 % banyak petani kopi arabika di daerah penelitian, sehingga jumlah desadari 67 ribu ton total ekspor kopi sampel yang terpilih adalah sebanyak 4 desa, yaitu untuk Kecamatan Bandararabika Indonesia (Kementeriaan terdiri atas: 1) Desa Pondok Ulung, dan 2) Desa Bener Kelipah; sedangkan untukPertanian, 2013). Kecamatan Bukit terdiri atas: 3) Desa Blang Ara, dan 4) Desa Pondok Sayur.Upaya pengembangan Objek penelitian ini adalah petani yang bercocok tanam kopi arabika danusahatani kopi arabika di wilayah pedagang komoditi kopi arabika diKabupaten Bener Meriah mengalamiberbagai masalah, diantaranya adalahmasalah pemasaran. Sistem panen yangbersifat musiman menyebabkan hargaproduk yang sulit diprediksikan. Posisitawar petani lemah menyebabkanharga yang diterima petani rendah dansering merugikan petani. Kadang kalaharga yang di bayarkan konsumenrelatif tinggi, namun farmer’s share(bagian harga yang diterima petani)relatif rendah. Hal ini menyebabkankerugian di pihak petani.Tujuan akhir dari setiapkegiatan usahatani adalah untukmendapatkan pendapatan usahataninyayang tinggi. Pendapatan yang diterimapetani sering dipengaruhi oleh volumepenjualan, tingkat harga jual produk,dan biaya pemasaran yang dikeluarkandalam proses pemasarannya. Berartisistem pemasaran hasil usahatanisangat menentukan tingkat pendapatan(share) yang akan diterima petani. 124

Kabupaten Bener Meriah. Ruang random sampling, masing-masinglingkup penelitian terbatas pada sebesar 25% dan 50 % dari besarnyamasalah harga jual, marketing margin populasi. Metode survey adalahdan volume penjualan yang akan penyelidikan yang diadakan untukmempengaruhi farmer’s share pada memperoleh fakta-fakta dari gejala-sistem pemasaran kopi arabika di gejala yang ada dan mencaridaerah penelitian. keterangan-keterangan secara faktual baik tentang institusi sosial danMetode Pengambilan Sampel dan ekonomi dari suatu kelompok ataupunPengumpulan Data dari suatu daerah (Nazir 2005). Besarnya populasi dan sampel petani di Metode yang digunakan pada masing-masing lokasi penelitian yangpenelitian ini adalah metode survey. terpilih adalah seperti yang tertera padaPengambilan sampel petani dan sampel Tabel 1:pedagang dilakukan secara simpleTabel 1. Jumlah Populasi dan Sampel Petani Kopi Arabika Berdasarkan Desa Sampel di DaerahPenelitian, Tahun 2015No Nama Kecamatan Nama Desa Populasi (orang) Sampel (orang)*1 Kecamatan Bandar 1. Desa Pondok Ulung 32 8 2. Desa Bener Klipah 40 102 Kecamatan Bukit 1. Desa Blang Ara 28 7 2. Desa Pondok Sayur 36 9 Jumlah 136 34Sumber : Data Primer, diolah Tahun 2015Keterangan: * Besarnya sampel adalah 25 % dari besarnya populasi. Berdasarkan Tabel 1 di atas, Untuk mengetahui fenomenatotal populasi petani untuk kedua yang terjadi pada sistem pemasarankecamatan tersebut yaitu sebanyak 136 kopi arabika di daerah penelitian, makaorang petani. Dengan demikian diperlukan sampel pedagang sebagaibesarnya sampel petani adalah 34 responden dan sumber informasi dalamorang, yang terdiri dari Kecamatan penelitian ini. Adapun besarnyaBandar sebesar 18 orang dan populasi dan sampel pedagangKecamatan Bukit sebesar 16 orang. berdasarkan jenis lembaga pemasaran dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.Tabel 2. Besarnya Populasi dan Sampel Pedagang (Responden) Berdasarkan Jenis Lembaga Pemasarandi Daerah Penelitian, Tahun 2015No Jenis Lembaga Pemasaran Kecamatan Bandar Kecamatan Bukit Jumlah Populasi Sampel* Populasi Sampel* Populasi Sampel*1 Pedagang Pengumpul Desa 12 6 10 5 22 112 Pedagang Pengumpul 6 3 8 4 14 73 Kecamatan 4 2 6 3 10 54 Pedagang Besar antar 10 5 12 6 22 115 Kabupaten 4 2 6 3 10 5Pedagang PengecerHome IndustriJumlah 36 18 42 20 78 39Sumber : Data Primer, diolah Tahun 2015Keterangan: * Besarnya sampel adalah 50 % dari besarnya populasi. Berdasarkan Tabel 2 di atas, kopi arabika di dalam penelitian inijumlah populasi pedagang komoditi adalah sebesar 78 orang, yang terdiri 125

dari pedagang pengumpul desa 11 Farmer’s Share (profit margin petani),orang, pedagang pengumpul kecamatan yaitu harga jual petani produsen7 orang, pedagang besar antar dikurangi dengan biaya pemasaran yangkabupaten 5 orang, pedagang pengecer dikeluarkan petani dan dinyatakan11 orang dan Home Indutri 5 orang. dalam (Rp/Kg), f) Saluran pemasaran yang dilalui, yaitu banyaknya (jumlah) Berdasarkan sumbernya, data tipe dari pamasaran yang dilalui dalamdalam penelitian ini terdiri dari dua penyampaian kopi arabika darijenis, yaitu data primer dan data produsen ke konsumen yang dinyatakansekunder. Data primer diperoleh dalam unit (bilangan), g) Pedaganglangsung dari para petani yang Pengumpul desa adalah pedagang yangmengelola usahatani kopi arabika dan mengumpulkan hasil produksi kopipara pedagang yang melakukan arabika dari petani produsen di desa-kegiatan pemasaran kopi arabika di desa, kemudian menjualnya kembaliKabupaten Bener Meriah melalui teknik kepada pedagang pengumpulwawancara dengan menggunakan kecamatan atau lembaga pemasarandaftar kuesioner yang telah disiapkan lain, h) Pedagang Pengumpulsebelum ke lapangan, sedangkan data Kecamatan adalah pedagang yangsekunder diperoleh dari jurnal-jurnal bergerak sebagai pedagang penampungdan studi kepustakaan serta instansi- dengan menampung hasil penjualaninstansi pemerintah yang berkaitan para pedagang pengumpul desa ataudengan substansi penelitian ini. Data dari petani dengan membelinya diatasyang diperoleh di lapangan ditabulasi harga pedagang pengumpul kemudiankemudian diolah ke dalam bentuk menjual kembali kepada pedagangtabelaris sesuai dengan kebutuhan besar antar kabupaten atau luar daerah,analisis. i) Pedagang Besar antar Kabupaten adalah pedagang yang bergerak sebagaiBatasan Variabel pengumpul komoditi kopi arabika dalamBatasan variabel yang diteliti pada jumlah besar dan dibeli dari berbagaipenelitian ini adalah a) Harga Jual lembaga pemasaran dan dilakukanadalah nilai jual kopi arabika yang sejumlah fungsi pemasaran sepertiditerima petani dan dinyatakan dalam penyortiran, packing dan labeling,(Rp/Kg), b) Volume Penjualan yaitu kemudian dijual kembali ke luar daerahjumlah kopi arabika yang dijual oleh penelitian ini, j) Pedagang Pengecerpetani atau pedagang pada suatu adalah pedagang yang dalam sistemtingkat harga dan waktu tertentu, pemasaran adalah pedagang yangdinyatakan dalam (Kg/Bln), c) Biaya paling akhir dan tugasnya adalahPemasaran (Marketing Margin) adalah menjual langsung kopi arabika kepadaselisih harga pada tingkat lembaga konsumen dalam bentuk eceran.pemasaran yang paling akhir(konsumen) dengan harga yang Model dan Metode Analisisditerima oleh petani pada tiap-tiapsaluran pemasaran, dihitung dalam Hipotesis yang telahsatuan (Rp/Kg), d) Biaya Pemasaranterdiri dari keseluruhan biaya yang dirumuskan, diuji dengan menggunakandikeluarkan dalam proses penyampaiankopi arabika dari titik produsen ke Regresi Linear Berganda dengankonsumen termasuk keuntunganlembaga pemasaran yang meliputi biaya variabel dependen (Y) dan tiga variabelangkut, biaya pembelian pembungkus(goni), susut/rusak dan lain-lain, e) independen (X1, X2, X3) dengan persamaan sebagai berikut : Y = a0 + a1 X1 + a2 X2 + a3 X3 + e .........(1) Dimana: Y = Farmer’s Share; a0 = Intersep; X1 = Volume Penjualan; X2 = 126

Harga Jual; X3 = Marketing Margin b. Uji –t; Untuk mengetahui pengaruh(Biaya Pemasaran); a1,a2,a3 = Koefisien secara parsial variabel bebasRegresi (parameter yang dicari); e = terhadap variabel terikat makaStandar Error. digunakan uji t dengan model sebagai berikut: Penggunaan model tersebutdimaksudkan untuk menghitung dan t cari  ai ................................... (4)menganaisis besarnya pengaruh Saiperubahan volume penjualan (X1),harga jual (X2) dan marketing margin Dimana : ai = koefisien regresi variabel(X3) terhadap Farmer’s Share (Y). Xi; Sai = standar error variabel XiPengujian hipotesis dilakukan denganmenggunakan uji F dan uji t. Rumusan hipotesisnya secaraa. Uji –F; Untuk mengetahui pengaruh matematis adalah H0: ai = 0, artinya, volume penjualan, harga jual dan secara serempak antar variabel marketing margin tidak berpengaruh bebas (X1, X2, X3) terhadap variabel nyata terhadap Farmer’s Share ; Ha: ai terikat (Y) digunakan uji F dengan  0, artinya volume penjualan, harga rumus sebagai berikut : jual dan marketing margin berpengaruh nyata terhadap Farmer’s Share.F(cari) = JK (reg) / k Dengan ketentuan : Jika t cari < t tabel, ...................(2) pada taraf nyata (α) = 0.05, maka terima Ho dan tolak Ha; Jika t cari > t tabel, JK (S) /(n  k 1) pada taraf nyata (α) = 0,05, maka terima Ha dan tolak HoDimana: JK (reg) =jumlah kuadratuntuk regresi; JK(S) = jumlah kuadrat HASIL DAN PEMBAHASANsisa; k = banyaknya variabel bebas; n = Saluran Pemasaran Kopi Arabikabesarnya sampel yang diambil. Berdasarkan hasil penelitian Rumusan hipotesisnya secara diperoleh skema mata rantaimatematis adalah sebagai berikut ; pemasaran kopi arabika di daerahH0: ai = 0, artinya, volume penjualan, penelitian, yaitu seperti yang terdapatharga jual dan marketing margin tidak pada gambar 2 . Berdasarkan gambar 2berpengaruh nyata terhadap Farmer’s diatas dapat dilihat sebahagian besarShare; Ha: paling kurang salah satu ai petani Kopi Arabika (54%) yang menjual 0, artinya paling kurang salah satu produknya ke pedagang pengumpulvariabel berikut: (volume penjualan, kecamatan dan sebahagian petani lagiharga jual dan marketing margin) (46%) menjual produknya kepadaberpengaruh nyata terhadap Farmer’s pedagang pengumpul desa, kemudianShare. dari pedagang pengumpul desa iniDengan ketentuan : Jika F cari < F tabel, seluruhnya (100%) dijual kepadapada taraf nyata (α) = 0,05, maka pedagang pengumpul kecamatan.terima Ho dan tolak Ha; Jika F cari > F tabel, Kemudian seluruh Kopi Arabika yangpada taraf nyata (α) = 0,05, maka telah terkumpul di pedagangterima Ha dan tolak Ho pengumpul kecamatan ini dijual kembali kepada lembaga pemasaran Untuk mengetahui keeratan lainnya, dimana sebesar 20 % dari hasilhubungan antara variabel bebas dengan pembeliannya dijual kepada industryterikat, maka digunakan koefisien pengolah atau home industrydeterminasi (R2) dengan rumus sebagaiberikut :R2 = JK (reg)  y 2 ............................ (3) 127

54% PETANI 46 % PEDAGANG PENGUMPUL DESA 100%PEDAGANG PENGUMPUL KECAMATAN 20% 70% 10% INDUSTRI PENGOLAH/PEDAGANG BESAR PEDAGANG PENGECER HOM INDUTRIANTAR KABUPATEN 100% 100% EXPORTIR KONSUMEN AKHIRGambar 2. Skema Mata Rantai Pemasaran Kopi Arabika di Daerah Penelitian, 2015.sedangkan sebagian kecil dijual kepada 4. Petani --- Pedg. Pengumpulpedagang pengecer local, yang Kecamatan—Pedg. Pengecer—kemudian oleh pengecer lokal Konsumen Akhir.seluruhnya (100% ) disalurkan kepadakonsumen akhir (lokal). Adapun sebesar 5. Petani --- Pedg. Pengumpul70% lagi Kopi Arabika yang telah Kecamatan—Pedg. Besar Antarterkumpul pada pedagang pengumpul Kabupaten—Exportir.kecamatan di jual kepada pedagangbesar antar kabupaten, kemudian 6. Petani --- Pedg. Pengumpulseluruhnya (100%) dijual ke pedagang Kecamatan—Industriexporter. Gambar 2 tersebut diatas Pengolah/Home Industri.juga menunjukkan bahwa saluranpemasaran kopi arabika di daerah Pengaruh Volume Penjualan, Hargapenelitian terdapat 6 tipe, yaitu sbb: Jual dan Marketing Margin Terhadap Farmer’s Share1. Petani --- Pedg. Pengumpul Desa--- Pedg. Pengumpul Kecamatan— Penyampaian barang dan jasa Pedg. Pengecer—Konsumen Akhir. dari produsen ke konsumen yang berakhir dengan berpindah hak milik2. Petani --- Pedg. Pengumpul Desa--- atas barang, merupakan suatu transaksi Pedg. Pengumpul Kecamatan— atas dasar nilai tukar. Pada masyarakat Pedg. Besar Antar Kabupaten— modern nilai tukar suatu barang atau Exportir. jasa disebut harga. Secara sederhana harga dapat didefinisikan sebagai nilai3. Petani --- Pedg. Pengumpul Desa--- suatu barang yang diukur dengan Pedg. Pengumpul Kecamatan— jumlah uang (Nitisemito, 1981). Harga Industri Pengolah/Home Industri. adalah merupakan salah satu unsur terpenting di antara beberapa unsur 128

perangsang produksi, karena itu (keuntungan) yang diinginkan oleh lembaga atau badan yang terlibat dalamdiharapkan harga harus stabil dan dapat kegiatan pemasaran. Besar kecilnya biaya yang dikeluarkan tersebut akanmemberikan keuntungan bagi petani mempengaruhi besar kecilnya marketing margin. Volume penjualanprodusen namun harus dapat dijangkau dalam penelitian ini adalah banyaknya kopi arabika yang dijual oleh petanioleh konsumen. produsen. Besarnya volume penjualan petani sangatlah bervariasi, hal iniSoekartawi, (1993), disebabkan perbedaan modal yang dimiliki. Peningkatan keuntunganmengemukakan bahwa untuk produk- merupakan salah satu usaha petani menuju ke arah peningkatanproduk pertanian ada tiga subjek yang pendapatan dan kesejahteraan keluarganya sekaligus meningkatkanmelandasi pembentukan harga di pasar pendapatan nasional. Hasil analisis regresi tentang pengaruh volumeyaitu : 1. Produsen, dengan dasar biaya- penjualan, harga jual dan marketing margin terhadap farmer’s share dapatbiaya produksi yang dikeluarkan dilihat pada Tabel 5 berikut:sehingga produksi tersebut berwujuddan siap dipasarkan; 2. Konsumen,dengan daya beli dan dasar-dasarkebutuhannya; 3. Pemerintah, denganperaturan dan ketentuan-ketentuanharga tertentu sehingga menjadipengendali di pasar.Pada hakekatnya selain ketigaunsur di atas, harga yang terbentuk dipasar juga didasarkan atas biaya-biayayang dikeluarkan dan balas jasaTabel 5. Hasil Analisis Regresi Pengaruh Volume Penjualan, Harga Jual dan Marketing Margin terhadapFarmer’s Share Pada Sistem Pemasaran Kopi Arabika di Daerah Penelitian, 2015. Variabel Nama Variabel Koefisien Standar t cari ProbabilityIndependen Independen Regresi Errora0 Konstanta -3.632,407 1.315,117 -2,762 .010X1 Volume Penjualan 0,472 0,059 7,999 .000X2 Harga Jual 1,048 0,280 3,743 .001X3 Biaya Pemasaran 0,111 -2,460 .020 - 0,274Koefisien Determinasi (R2) = 0.821 F cari = 45,960; F tabel = 4,51Koefisien Korelasi (R) = 0.906 t tabel = 2,04 Berdasarkan Tabel 5 di atas sebesar Rp 0,472. Semakin besarnya dapat aplikasikan masing-masing volume penjualan semakin tinggi pula variabel kedalam persamaan berikut: profit margin yang diterima petani. Y = - 3.632,407 + 0,472 X1 + 1,048 X2 –  Nilai koefisien a2= 1,048 berarti bahwa, setiap peningkatan harga jual (X2) 0,274 X3 sebesar Rp 1 sementara variabel independen (X1,X3) lainnya dianggap Sesuai dengan persamaan tetap, maka besarnya farmer’s share di garis regresi yang diperoleh, maka daerah penelitian akan meningkat model regresi tersebut dapat di sebesar Rp. 1,048. Semakin tinggi harga interpretasikan sebagai berikut: jual maka semakin tinggi profit margin Nilai koefisien a1= 0,472 berarti bahwa, yang diterima petani. setiap peningkatan volume penjualan  Nilai koefisien a3= - 0,274 berarti (X1) sebesar 1 kg sementara variabel bahwa, setiap penambahan biaya independen lainnya (X2,X3) dianggap pemasaran (X3) sebesar Rp. 1 tetap, maka besarnya farmer’s share di sementara variabel independen (X1,X2) daerah penelitian akan bertambah 129

lainnya dianggapt tetap, maka besarnya Hasil pengujian secara parsialfarmer’s share di daerah penelitian akan (Uji t) menunjukkan bahwa nilai t carimenurun sebesar Rp 0,274. Hal ini untuk variabel volume penjualan (X1) =disebabkan semakin panjang saluran 7,999, harga jual (X2) = 3,743, biayapemasaran yang digunakan dalam pemasaran (X3) = - 2,460, sementara itupemasaran kopi arabika maka semakin untuk t tabel pada taraf(α/2) = 0,05/2tinggi biaya pemasaran yang diperlukan benilai = 2,04. Hasil pembuktian secaradan mengakibatkan semakin rendah statistik tentang keberartian koefisienprofit margin yang diterima petani. regresi pada persamaan regresi yang telah dilakukan menunjukkan semua Tingkat ketepatan suatu garis variabel independen (X1, X2, X3) memilikilinear dapat diketahui dari besar nilai tcari lebih besar dari ttabel, makakecilnya koefisien determinasi (R2). terima Ha dan tolak Ho.Berdasarkan hasil analisis yangdiperoleh menunjukkan bahwa nilai Dengan demikian pembuktiankoefisien R2 adalah 82,1 %. Hasil statistik baik secara simultan (Uji F)tersebut dapat di simpulkan bahwa, maupun secara parsial (Uji t) terhadapkemampuan variabel X1, X2, X3 (volume masing-masing variabel independen,penjualan, harga jual, dan marketing volume penjualan dan harga jualmargin) untuk menjelaskan variasi pada memberikan pengaruh positif yangvariabel Y (farmer’s share) adalah signifikan terhadap farmer’s share atausebesar 82,1 %, selebihnya 17,9 % di profit margin petani kopi arabika,jelaskan atau di pengaruhi oleh faktor namun marketing margin memberikanlain di luar model. pengaruh negatif yang signifikan terhadap farmer’s share atau profit Berdasarkan hasil pengujian margin petani kopi arabika dikeeratan hubungan antara variabel Kabupaten Bener Meriah. Diantara tigaterikat (Y) dengan variabel bebas (X1, X2, faktor tersebut di atas, maka harga jualX3,) yang menggunakan koefisien produk merupakan faktor yang palingkorelasi maka diperoleh nilai R (korelasi) dominan mempengaruhi farmer’ssebesar 0.906 yang berarti lebih besar share, kemudian diikuti oleh volumedari 0, dengan demikian dapat penjualan dan marketing margin.dinyatakan ada hubungan yang eratantara variabel X1, X2 dan X3 terhadap KESIMPULAN DAN SARANvariabel Y. Kesimpulan Selanjutnya untuk menguji Berdasarkan hasil analisiskoefisien korelasi tersebut, maka statistik baik secara simultan (Uji F)pengujian dapat dilakukan dengan maupun secara parsial (Uji t)menggunakan harga koefisien Fcari menunjukkan bahwa volume penjualandibandingkan dengan Ftabel pada tingkat dan harga jual memberikan pengaruhα = 0,05. Dari hasil analisis diperoleh positif yang signifikan terhadap farmer’snilai F cari sebesar 45,960 sedangkan F share atau profit margin petani kopitabel sebesar 4,51. Hal ini menunjukkan arabika, namun marketing marginbahwa F cari > F tabel, maka terima Ha dan memberikan pengaruh negatif yangTolak Ho dengan demikian dapat signifikan terhadap farmer’s share ataudisimpulkan bahwa secara signifikan profit margin petani kopi arabika didan positif terdapat adanya pengaruh Kabupaten Bener Meriah. Diantara tigavolume penjualan, harga jual dan biaya faktor tersebut di atas, maka harga jualpemasaran terhadap profit margin produk merupakan faktor yang palingpetani kopi arabika di Kabupaten Bener dominan mempengaruhi farmer’sMeriah. 130

share, kemudian diikuti oleh volume Indonesia, Fakultas Pertanianpenjualan dan marketing margin. Universitas Muhammadyah Jogya.Saran Anonymous, 2005. Manfaat Kopi Disarankan kepada petani agar Arabika. Internet, www.mampu memperbesar skala usahatani Manfaatkopi.com diakses (19kopi arabika disertai dengan Januari 2015)peningkatan kualitas dan Azzaino, Z., 2005. Pengantar Tataniagaproduktivitasnya agar dapat Pertanian. Departemen Sosialmeningkatkan volume penjualan dan Ilmu Ekonomi, Fakultasharga jual produk, juga harus dapat Pertanian IPB, Bogor.menekan biaya pemasaran melalui cara Mubyarto. 1977. Pengantar Ekonomimemilih saluran pemasaran yang lebih Pertanian. LP3ES, Jakarta.tepat (relatif pendek). Saran ini Nazir, M. 2005. Metode Penelitian.ditujukan agar dapat memperbesar Ghalia Indonesia, Jakarta.farmer’s share (profit margin petani) Nitisemito, SA. 1981. Marketing. Ghaliapada usahatani kopi arabika di Indonesia, JakartaKabupaten Bener Meriah. Untuk Saefuddin,A.M.1982.Tataniagamewujudkan implikasi ini maka perlu Pertanian. Institut Pertanianadanya motivasi dari lembaga/instansi Bogor, Bogor.pemerintah yang berkaitan dengan Soekartawi, 1993. Prinsip Dasarusahatani kopi arabika, yaitu berupa Ekonomi Pertanian. PT. Rajabantuan modal dan bimbingan Grasindo Persada, Jakarta.penyuluhan kepada para petani, Soekirno, Sadono. 1982. Teori Ekonomisehingga mereka akan lebih terampil Mikro. Bina Grafika, Jakarta.dan mudah dalam usaha meningkatkan Saroso, W. 1964. Pokok-pokok Ilmuproduktivitas usahatani kopi arabika Tataniaga. Pembangunan,yang berwawasan agribisnis serta Jakarta.ramah lingkungan, yang pada akhirnya Sudjana. 1992 Metodedapat meningkatkan pendapatan dan Statistika.Tarsito, Bandungkesejahteraan masyarakat tani secara Sutodjo, S. 1983. Kerangka Dasarberkesinambungan (sustainable). Manajemen Pemasaran. Pustaka Binaman Pressindo,DAFTAR PUSTAKA Jakarta Tomek, W. G. and K. L. Robinson, 1977.Anonymous. 2013. Bener Meriah Dalam Agricultural Product Price, Angka, Badan Pusat Statistik, Banda Aceh. Cornell University Press, IthacaAnonymous. 2013. Statistik Perkebunan and London. Indonesia, Produksi Kopi Robusta menurut Propinsi, Usman, Mustafa. 2001. Analisis Efisiensi Kementerian Pertanian RI, Jakarta. Produksi dan Sistem PemasaranAnonymous. 2012. Aceh Dalam Angka, Dalam Upaya Meningkatkan Badan Pusat Statistik, Banda Aceh Pendapatan Usaha Tani KedelaiAnonymous. 2008. Kandungan Mutu di Daerah Istimewa Aceh. Kopi Arabika di daerah (Disertasi, tidak dipublikasikan) Program Pascasarjana Universitas Padjajaran. Bandung. 131

ANALISIS DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PEDESAAN (PUAP) TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI Iim Mucharam1), M.Muslich Mustadjab2), Djoko Koestiono2) 1) Program Magister Ekonomi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang 2) Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang AbstractThis study is aimed to analyze the impact of Rural Agribusiness Development Program (PUAP) toincrease the income of Consolidated Farmers Group (Gapoktan) PUAP in Jember. This researchwas conducted by survey method with the farmer population under study is divided into two,namely the members Gapoktan PUAP receiver and not the recipient PUAP Gapoktanmembers. Analytical approach used is the with and without method using a cross section data ofPUAP Gapoktan members and non members. The method of analysis used is multiple regressionanalysis, the average of different test and Importance Performance Analysis. The resultsshowed that the PUAP program can increase farmers income.Keywords : PUAP Program, Gapoktan, Farmers IncomePENDAHULUAN Untuk mengatasi permasalahan menampung dan memfasilitasiketerbatasan modal yang dihadapi oleh kepentingan anggotanya karena adanyapetani, pemerintah mengambil inisiatif berbagai keterbatasan. Para petaniuntuk memberikan bantuan modal disinyalir belum benar-benardalam bentuk Bantuan Langsung merasakan manfaat keberadaanMasyarakat melalui program PUAP yang Gapoktan dan program PUAP didisalurkan melalui Gapoktan/kelompok lingkungan mereka. PUAP sebagaitani. PUAP sendiri merupakan bentuk program yang menggunakan Gapoktanfasilitas bantuan modal usaha untuk sebagai ujung tombak penyaluran danapetani anggota Gapoktan, baik petani BLM sudah berjalan tiga tahun, tetapipemilik, petani penggarap, buruh tani belum banyak kajian ilmiah yangmaupun rumah tangga tani yang dilakukan untuk menilai bagaimanamerupakan program terintegrasi dari dampaknya terhadap Gapoktan danKementerian Pertanian dengan petani yang menjadi sasaran tujuankementerian/lembaga lain di bawah program tersebut, oleh karena itupayung program PNPM Mandiri. dirasakan perlu dilakukan suatuDengan adanya Program PUAP penelitian untuk menganalisis sejauhdiharapkan petani mampu mana program PUAP telahmeningkatkan skala usaha dan meningkatkan pendapatan petani yangpendapatannya. Sesuai dengan menjadi sasaran utama darinamanya, Gapoktan merupakan pelaksanaan program ini.gabungan dari beberapa kelompok tani, Penelitian ini secara umumyang dengan adanya penggabungan ini bertujuan untuk menganalisis dampakmenyebabkan skala usaha menjadi lebih program PUAP terhadap peningkatanbesar sehingga lebih mudah dalam pendapatan anggota Gapoktan PUAP dimencapai tingkat efisiensi yang lebih daerah penelitian. Untuk itu tujuanbaik. penelitian secara rinci dirumuskan Namun demikian, kenyataan di sebagai berikut : 1) Menganalisislapangan saat ini masih banyak peningkatan produksi usahatani setelahGapoktan yang belum mampu dilaksanakan program PUAP, 2) 132

Menganalisis peningkatan kinerja dimana n = jumlah sampel minimalGapoktan setelah berjalannya programPUAP, dan 3) Menganalisis tingkat menurut statistik; N = jumlah total unitpendapatan petani PUAP dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengambilan contoh dalam populasi; Zpendapatan petani. = variabel normal; σ2 = varians populasi;METODE PENELITIAN d = kesalahan maksimum yang masih Penelitian ini dilakukan dengan bisa diterima.metode survey dengan populasi yang Karena keragaman populasi (σ2)terdiri dari petani anggota GapoktanPUAP dan anggota Gapoktan non PUAP. tidak diketahui nilainya maka dilakukan Pemilihan lokasi penelitian estimasi dengan menggunakan variansdilakukan secara purposive di mana sampel (s2) untuk menentukan nilai darilokasi penelitian dipilih desa yang telahikut program PUAP dan desa yang keragaman sampel, sehinggabelum ikut program PUAP. Penelitiandilakukan di Desa Sidomulyo dan Desa rumusannya menjadi :Garahan, Kecamatan Silo KabupatenJember, dengan pertimbangan bahwa n = ………………………………….(2)petani di Desa Sidomulyo telah ikutprogram PUAP sejak tahun 2008, di mana n = jumlah sampel minimalsedangkan Desa Garahan dipilih karena menurut statistik; N = jumlah total unitsampai saat ini belum menjadi bagian pengambilan contoh dalam populasi; Zdari program PUAP. = variabel normal; s2 = varians sample (penduga σ2) ; d = kesalahan maksimum Populasi petani yang diteliti yang masih bisa diterima (10%). Daridibedakan menjadi dua, yaitu petani hasil perhitungan rumus diperolehanggota Gapoktan PUAP dan petani sample minimal sebesar 87 responden.anggota Gapoktan Non PUAP. Metode Dalam penelitian ini ditetapkan jumlahdengan cara membandingkan keadaan sample sebesar 90 responden yangusahatani dengan PUAP dan tanpa terdiri dari 60 petani PUAP dan 30PUAP (with and without method) ini petani non PUAP.didasarkan pada pertimbangan, yaitumetode ini mampu membandingkan Metode Analisis Dataperkembangan usahatani dan data yang Metode analisis yang digunakandiperoleh akan lebih akurat, sebabpetani hanya mengingat data pola dalam penelitian ini disajikan untuktanam yang baru lewat. masing-masing tujuan. Tujuan penelitian pertama, yaitu menganalisis Pengambilan sampel dilakukan peningkatan produksi usahatanidengan metode Simple Random dilakukan dengan uji beda rata-rataSampling pada masing-masing produksi yang dicapai oleh petani PUAPkelompok populasi. Besar sampel dan non PUAP dengan menggunakan ujiditentukan atas dasar keragaman t. Rumus yang digunakan yaitu :sampel dengan menggunakan rumusParel, et.al. (1973) : …...(3)n = ………..............................(1) √( ) ( )√ ( ) dimana : n1 = Jumlah sampel petani non PUAP ; n2 = Jumlah sampel petani PUAP; x1 = rata-rata tingkat produksi petani non PUAP; x2 = rata-rata tingkat produksi petani PUAP; s12 = varians petani non PUAP; s22 = varians petani PUAP. 133

Hipotesis statistiknya adalah sebagai kerjasama/kemitraan denganberikut : pengusaha/eksportir, (13) waktuHo : µ1 = µ2 pengembalian dana pinjaman, dan (14)H1 : µ2 > µ1Dimana: µ1 = Rata-rata tingkat produksi tingkat perguliran dana pada anggota lain. Kemudian dihitung rata-rata bobotpetani non PUAP; µ2 = Rata-rata tingkat penilaian tingkat kinerja dan tingkatproduksi petani PUAP kepentingan diformulasikan ke dalamKriteria uji: H0 ditolak apabila t-hitung > diagram, tingkat kinerja pada sumbu Xt-tabel, db = n-1, α = 0,05; H0 diterima dan tingkat kepentingan pada sumbu Y.apabila t-hitung < t-tabel, db = n-1, α = Rentang skala Importance-0,05 Performance yang digunakan adalah Tujuan penelitian yang kedua, skala Likert, dengan nilai terendahyaitu analisis peningkatan kinerja adalah 1 (satu) dan nilai tertinggi adalahGapoktan, dianalisis dengan 5 (lima). Kriteria jawaban tingkatmenggunakan Importance Performance kepentingan terdiri atas: SP = sangatAnalysis (IPA) untuk memetakan penting (nilai 5), P = penting (nilai 4), CPhubungan antara kepentingan dan = cukup penting (nilai 3), KP = kurangkinerja dari masing-masing faktor yang penting (nilai 2), dan TP = tidak pentingada dalam program PUAP. IPA (nilai 1), sedangkan kriteria jawabanmempunyai fungsi utama untuk tingkat kinerja terdiri atas: SB = sangatmenampilkan informasi berkaitan baik (nilai 5), B = baik (nilai 4), CB =dengan faktor-faktor kinerja Gapoktan cukup baik (nilai 3), KB = kurang baikyang menurut petani sangat (nilai 2), dan TB = tidak baik (nilai 1).mempengaruhi kepuasan dan loyalitas Nilai rata-rata tingkatmereka, dan faktor-faktor kinerja kepentingan dan tingkat kinerja untukGapoktan yang menurut petani perlu keseluruhan faktor dihitung denganditingkatkan karena kondisi saat ini rumus sebagai berikut:belum memuaskan. Caranya adalahpertama, faktor-faktor kinerja Gapoktanyang diukur terdiri atas 14 poin,meliputi: (1) ketersediaan dana PUAP, .....................................(4)(2) kemudahan dalam persyaratanpenerima PUAP, (3) keberadaanpotongan-potongan/bunga/biaya lain,(4) keterlibatan petani dalam .....................................(5)perencanaan teknis, (5) kesesuaian Di mana: Ri = Nilai rata-rata kinerja faktordana yang diterima dengan kebutuhan Si = Nilai rata-rata kepentingan faktor a = jumlah faktorusahatani, (6) pelatihan dan Kemudian dibuat grafik IPApendampingan Penyelia Mitra Tani dan dengan menggunakan nilai rata-rata tingkat kinerja pada sumbu X danPenyuluh Pendamping, (7) Gapoktan tingkat kepentingan pada sumbu Y untuk mengetahui secara spesifik letakmenyediakan sarana produksi dan alat masing-masing faktor yang diukur (Gambar 2).mesin pertanian, (8) Gapoktanmeningkatkan produksi dan mutu kopimelalui kegiatan dan usaha bersama, (9)Gapoktan sebagai sumber informasi,(10) Bekerjasama dengan pihak terkaitdalam penyediaan modal kerja/bantuankredit, (11) Gapoktan membantuanggota memasarkan hasil produksikopi, (12) Gapoktam menjalin 134

Gambar 2. Pembagian Kuadran Importance - Performance Analysis Kuadran I merupakan prioritas Model regresi linear bergandautama atau attributes to improve. yang digunakan pada penelitian iniKuadran II merupakan kinerja yang dirumuskan sebagai berikut:harus dipertahankan atau maintainperformance, ini adalah wilayah yang Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 +memuat faktor-faktor yang dianggap β6X6 + +β7D1 + e……….........................(6)oleh petani sudah sesuai denganharapan sehingga tingkat kinerjanya Di mana :Y=Pendapatan usaha tanirelatif lebih tinggi. Kuadran III (Rp);α= Konstanta intersep; β1 - 7 =merupakan prioritas rendah atau low Koefisien parameter; X1 =Luas lahanpriority yang memuat faktor-faktor yang (Ha); X2 = Umur Tanaman (Tahun);X3=dianggap kurang penting oleh petani Pengalaman (Tahun);X4 =Biaya produksidan kinerjanya pun tidak terlalu (Rp);X5 = Jumlah produksi (Kg); X6=memuaskan. Kuadran IV memuat Harga jual (Rp); D1= Variabel dummyfaktor-faktor yang dianggap kurang berupa keikutsertaan dalam programpenting oleh petani dan kinerjanya PUAP=1; (petani peserta programsudah berada di atas rata-rata. PUAP)=0 (petani bukan peserta program PUAP); e= error term. Untuk membandingkan kinerjaantara Gapoktan PUAP dan Gapoktan HASIL DAN PEMBAHASANNon PUAP diuraikan secara deskriptif Untuk menjawab tujuankondisi Gapoktan PUAP dan GapoktanNon PUAP di daerah penelitian. penelitian, disajikan hasil analisis sesuai dengan masing-masing tujuan Tujuan penelitian yang ketiga penelitian.yaitu menganalisis tingkat pendapatanpetani dan faktor-faktor yang 1. Analisis tingkat produksi usahatanimempengaruhi pendapatan petani, petani PUAPdianalisis dengan uji beda rata-rata dan Hasil analisis uji beda rata-rataanalisis regresi berganda. Uji beda rata-rata tingkat pendapatan dilakukan tingkat produksi yang dicapai petaniseperti uji beda rata-rata produksi pada PUAP dan non PUAP ditampilkan padatujuan penelitian pertama. tabel 1. 135

Tabel 1. Hasil Uji t Produksi Antara Petani PUAP dengan Petani Non PUAP Produksi N Rata-rata Produksi Petani t Sig.(2-tailed) (kg/Ha)Petani PUAP 8.314 0.000Petani Non PUAP 60 1700,3 9.439 0.000 30 584.7 Dari Tabel 4 dapat disimpulkan yang memberikan kemudahan bagi parabahwa tingkat produksi petani PUAP petani anggota Gapoktan PUAP untuklebih besar daripada produksi petani mengakses sumber permodalan yangnon PUAP. Hal ini menunjukkan bahwa dilakukan dengan cara sebagai berikut :program PUAP dengan semua a) penyaluran BLM PUAP kepada pelakukomponen pendukungnya telah berhasil agribisnis melalui Gapoktan; b)meningkatkan produksi petani kopi di pembinaan teknis usaha agribisnis dandaerah penelitian yang terlihat dari alih teknologi; dan c) fasilitasiadanya perbedaan produksi antara pengembangan kemitraan denganpetani yang menjadi peserta PUAP sumber permodalan lainnya. Selain itudengan peserta yang tidak menjadi juga dilakukan penguatan kelembagaanpeserta PUAP. Peningkatan produksi ini Gapoktan melalui: a) pendampingandipengaruhi adanya beberapa faktor, Gapoktan oleh Penyuluh Pendamping,yaitu: 1) adanya kelembagaan Gapoktan b) pendampingan oleh Penyelia MitraPUAP yang solid sehingga Tani di setiap Kabupaten/Kota; dan c)mempermudah petani dalam fasilitasi peningkatan kapasitasmengakses sumber informasi khususnya Gapoktan menjadi lembaga ekonomitentang aspek teknis budidaya, 2) yang dimiliki dan dikelola petani.adanya bimbingan dari penyuluhpendamping sehingga petani bisa 2. Analisis Kinerja Gapoktanmengetahui teknologi-teknologi terbaruyang bisa diterapkan untuk Untuk mengukurmeningkatkan produksi kopi, 3)kemudahan dalam mendapatkan sarana perkembangan dari Gapoktan Usahaproduksi pertanian karena sudahdisediakan Gapoktan sehingga petani Jaya yang telah mendapatkan dana BLMbisa menghemat waktu dan biaya, 4)adanya kepastian harga karena PUAP sejak tahun 2008 dilakukanGapoktan sudah bekerjasama denganeksportir kopi dari Sidoarjo, 5) dengan metode Importancekemudahan untuk melakukanekstensifikasi pertanian karena adanya Performance Analysis. Penilaian tingkatkerjasama Gapoktan dengan Perhutaniuntuk memanfaatkan lahan tidur kepentingan dan kinerja GapoktanPerhutani untuk budidaya kopi, dan 6)kemudahan dalam mengakses sumber disajikan pada Tabel 2.permodalan karena Gapoktan telahmemiliki koperasi serba usaha yang Dari hasil analisis pada Tabel 2salah satu unit usahanya adalah unitsimpan pinjam. kemudian dibuat matriks tingkat Hal-hal tersebut sesuai dengan kepentingan dan tingkat kinerjastrategi operasional program PUAP, Gapoktan PUAP yang menghubungkan nilai tingkat kinerja pada sumbu X dan nilai tingkat kepentingan pada sumbu Y. Nilai rata-rata tingkat kepentingan dan tingkat kinerja program PUAP digunakan sebagai batas untuk menentukan kuadran I, II, III, dan IV. Posisi masing-masing faktor penentu kualitas kinerja Gapoktan PUAP dalam diagram Importance-Performance 136

Matrix disajikan pada Gambar 3. atas, kuadran ketiga di sebelah kiriKuadran pertama terletak di sebelah kiri bawah, dan kuadran keempat diatas, kuadran kedua di sebelah kanan sebelah kanan bawah.Tabel 2. Tingkat Kepentingan dan Tingkat Kinerja Gapoktan PUAP Faktor Indeks Indeks Performance (X) Importance (Y)Ketersediaan dana PUAP 4.23 4.37Kemudahan dalam persyaratan penerima PUAP 3.83 4.03Keberadaan potongan-potongan/bunga/biaya lain 2.43 1.77Keterlibatan petani dalam perencanaan teknis 3.60 3.57Pelatihan dan pendampingan oleh PMT dan Penyuluh 3.83 4.00Kesesuaian dana yang diterima dengan kebutuhan usahatani 3.90 3.87Penyediaan saprodi dan alsintan 3.90 3.97Peningkatan produksi dan mutu kopi melalui kegiatan dan usahabersama 3.90 3.97Sumber informasi 3.57 4.00Kerjasama dengan pihak terkait dalam penyediaan modalkerja/bantuan kredit 3.77 3.87Membantu anggota memasarkan hasil produksi kopi 3.73 3.90Menjalin kerjasama/kemitraan dengan pengusaha/eksportir 3.70 4.03Waktu pengembalian dana PUAP 3.87 3.93Tingkat perguliran dana pada anggota lain 3.90 4.00Nilai rata-rata 3.73 3.80Hasil analisis kepentingan dan sebagai sumber informasi, 2) Gapoktankinerja (Importance Performance membantu anggota memasarkan hasilAnalysis) Gapoktan PUAP pada Gambar produksi kopi, dan 3) Gapoktan3 menunjukkan bahwa atribut yang menjalin kerjasama/kemitraan denganberada di Kuadran I adalah: 1) Gapoktan pengusaha/eksportir. Importance Performance Analysis 5 4.5 1 4 10 56 28111731549 2 Importance 3.5 3 3 2.5 24 1.5 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 Performance Gambar 3. Diagram Importance Performance Analysis Kinerja Gapoktan PUAP Faktor-faktor yang berada di menjadi fokus perbaikan kinerjakuadran I menjadi prioritas utama yang Gapoktan PUAP karena atribut yang 137

berada di sini dianggap penting Gapoktan tetapi kinerja yang dirasakankeberadaannya oleh para anggota masih kurang.Tabel 3. Kondisi Gapoktan di Desa Sidomulyo dan Desa Garahan Jember Desa/Gapoktan Parameter Sidomulyo/Usaha Jaya (PUAP) Garahan/Garahan Jaya (Non PUAP)Kantor Sekretariat Gapoktan Bangunan sendiri Balai DesaBagan Struktur Organisasi Ada, dalam bentuk plang Tidak ada permanen dipasang di kantorInventaris Kantor Kursi, Meja, Lemari, Komputer + Belum ada PrinterPengurus, pengelola dan komite Berasal dari anggota Gapoktan Berasal dari anggota Gapoktanpengawas yang dipilih secara mufakat. yang dipilih secara mufakat. Ketua Gapoktan & Poktan sangat Ketua Poktan/Gapoktan cukup aktif aktifPertemuan Anggota Setiap bulan di kelompok tani Belum terjadwalKinerja PMT dan Penyuluh Berperan aktif dalam Belum didampingi PMT,Pendamping membimbing petani, serta sedangkan penyuluh pendamping membantu penyusunan RUA, hanya membimbing petani RUK, dan RUB, serta laporan rutin masalah teknis budidaya GapoktanLembaga Keuangan Mikro Sudah terbentuk berupa Koperasi Belum adaAgribisnis Serba UsahaParadigma Anggota terhadap Mengetahui betul, BLM tersebut Ada anggota yang menganggapBLM PUAP merupakan bantuan modal dan BLM seperti BLT, jadi tidak wajib harus dikembalikan dikembalikan.Kemitraan/kerjasama dengan Bank Jatim Belum adapihak ketigaPengembangan Usaha Usaha Pelayanan Jasa Alsintan, Usaha Saprodi Usaha Saprodi (kios saprodi), Usaha PemasaranUsaha Tani Petani anggota dalam Petani masih mempertahankan budidayanya menerapkan inovasi cara usaha tani konvensional teknologi Faktor-faktor yang berada di dipertahankan, karena atribut di dalamKuadran II cukup banyak, yaitu : 1)Ketersediaan dana PUAP, 2) kuadran ini diharapkan keberadaannyaKemudahan dalam persyaratanpenerima PUAP, 3) Pelatihan dan oleh anggota Gapoktan dan kinerjanyapendampingan oleh PMT dan Penyuluh,4) Kesesuaian dana yang diterima dipandang sudah bagus sesuai harapandengan kebutuhan usahatani, 5)Gapoktan menyediakan sarana produksi anggota. Faktor yang terletak padadan alat mesin pertanian, 6) Gapoktanmeningkatkan produksi dan mutu kopi kuadran II menjadi nilai lebih darimelalui kegiatan dan usaha bersama, 7)Gapoktan bekerjasama dengan pihak program PUAP. Program PUAP yangterkait dalam penyediaan modalkerja/bantuan kredit, 8) Waktu dilaksanakan oleh pemerintah dalampengembalian dana PUAP, dan 9)Tingkat perguliran dana pada anggota hal pembiayaan usahatani disambutlain. Atribut yang berada di kuadran IImerupakan atribut yang perlu dengan baik oleh petani. Semua petani sampel merasa bahwa adanya dana bantuan itu sangat diperlukan dan cukup membantu, meskipun berdasarkan kebutuhan masih kurang dan perlu dilakukan penambahan. Atribut yang berada di kuadran III adalah atribut yang memiliki prioritas rendah, di mana anggota Gapoktan tidak mengharapkan atribut-atribut 138

yang ada dalam kuadran ini dan program PUAP, yaitu meningkatkanmempersepsikan kinerja yang diberikan kemampuan petani, penguruskurang bagus. Atribut yang berada di Gapoktan, Penyuluh Pendamping dankuadran III, yaitu : Keberadaan Penyelia Mitra Tani, memberdayakanpotongan-potongan/bunga/biaya lain kelembagaan petani dan ekonomidan Keterlibatan petani dalam pedesaan untuk pengembanganperencanaan teknis. kegiatan usaha agribisnis, dan meningkatkan fungsi kelembagaan Pada penelitian ini tidak ekonomi petani menjadi jejaring atauditemukan adanya atribut yang masuk mitra lembaga keuangan dalam rangkapada kuadran IV, yaitu atribut yang memudahkan akses ke permodalan.dianggap berlebihan. Atribut dalamkuadran ini tidak terlalu diharapkan 3. Menganalisis tingkat pendapatanoleh petani namun memiliki kinerja petani PUAP dan faktor-faktoryang bagus. Sebagai gambaran yang mempengaruhi pendapatanperbandingan antara kondisi Gapoktan petani daerah penelitianPUAP dengan Gapoktan non PUAP didaerah penelitian diuraikan pada Tabel Hasil analisis perbedaan tingkat3. Dari Tabel 3, terlihat bahwa kondisiGapoktan PUAP, baik secara struktur pendapatan antara petani yang menjadikelembagaan, fasilitas infrastruktur dankegiatan usaha, lebih baik jika anggota Gapoktan PUAP dengan petanidibandingkan dengan Gapoktan NonPUAP. Hal ini sejalan dengan tujuan dari yang menjadi Gapoktan yang tidak mendapatkan bantuan PUAP ditampilkan pada tabel berikut ini.Tabel 4. Hasil Uji t Pendapatan Antara Usahatani Petani PUAP dengan Petani Non PUAP Responden N Rata-rata Pendapatan Petani t Sig.(2-tailed) (Rp)Petani PUAP 8.314 0.000Petani Non PUAP 60 14392168.3 9.439 0.000 30 6146250.01Dari hasil uji beda rata-rata pada Tabel Y = -30695768,059 + 15559258,389X1 +4, terlihat bahwa pendapatan anggota 202737,518X2 + 38538,738X3 -PUAP lebih besar daripada pendapatan 1,052X4 + 2266,662X5 + 977,990X6 +non anggota PUAP dengan nilai 11984559,936D1 + εsignifikansi t (0,000) < 0,05. Hal inimenunjukkan adanya perbedaan antara Berdasarkan hasil uji regresipendapatan petani yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhianggota Gapoktan PUAP dengan petani tingkat pendapatan petani diketahuiyang tidak menjadi anggota Gapoktan bahwa nilai R2 (koefisien determinasi)PUAP. yang diperoleh yaitu sebesar 0,825, artinya keragaman variabel bebas dapat Selanjutnya untuk mengetahui menjelaskan 82,5% keragaman totalfaktor-faktor yang mempengaruhi variabel terikat Y (Pendapatan),tingkat pendapatan petani dilakukan sedangkan sisanya sebesar 17,5%analisis regresi berganda, yang hasilnya dijelaskan oleh variabel lain yang tidakditampilkan pada Tabel 5. Sedangkan disertakan dalam penelitian ini danModel regresi yang didapatkan faktor error.berdasarkan Tabel 5 adalah sebagaiberikut : 139

Tabel 5. Estimasi Fungsi Pendapatan Usahatani Petani PUAP dan Petani Non PUAPVariabel Koefisien Regresi t hitung Significant tKonstanta -30695768,059 -1,346 0,182Luas Lahan (X1) 15559258,389*** 12,548 0,000Umur Tanaman (X2) 202737,518 1,092 0,278Pengalaman Bertani (X3) 38538,738 0,315 0,754Biaya Produksi (X4) -1,052* -1,814 0,073Jumlah Produksi(X5) 2266,662** 2,575 0,012Harga Kopi (X6) 977,990 0,656 0,514Dummy Anggota PUAP (D1) 11984559,936*** 3,515 0,001R Square 0,825F Test 55,222Signif F 0,0000Keterangan: ***) nyata pada taraf uji 1%; **) nyata pada taraf uji 5%; *) nyata pada taraf uji 10%. Pengujian hipotesis model jumlah sampel 90 dan jumlah variabel bebas 7, maka dapat diketahui :regresi secara simultan atau secara dl=1.4939, du=1.8275 dan 4-du=2.1725. Karena nilai du<dw<4–du atauserentak menggunakan uji F. Nilai F 1.8275<2,140<2.1725, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi nonhitung yang diperoleh pada uji F sebesar autokorelasi terpenuhi. Demikian juga untuk uji heterokedastisitas yang55,222 dan nilai F tabel pada taraf uji 5 menggunakan grafik scatterplot tidak menunjukkan adanya pola tertentupersen sebesar 2,192. Karena nilai F pada grafik scatterplot sehingga data yang digunakan dianggap tidak terkenahitung lebih besar daripada nilai F tabel heteroskedastisitas.maka variabel-variabel bebas dalam Pada Tabel 5 terlihat bahwa ada dua variabel yang koefisiennya berbedamodel regresi fungsi pendapatan secara nyata pada taraf uji 1 persen, yaitu luas lahan dan dummy keanggotaan PUAP.bersama-sama berpengaruh nyata Untuk nilai koefisien jumlah produksi nyata pada taraf uji 5 persen,terhadap variabel tak bebasnya, sedangkan variabel biaya produksi nilai koefisiennya nyata pada taraf uji 10sehingga model regresi dapat dipakai persen. Dari hasil analisis regresi berganda terlihat bahwa terdapatuntuk memprediksi perbedaan perbedaan yang signifikan antara pendapatan petani yang telah menjadipendapatan petani PUAP dan non anggota Gapoktan PUAP dengan petani yang tidak menjadi anggota GapoktanPUAP. PUAP. Hal ini ditunjukkan oleh koefisien variabel dummy keanggotaan PUAP Setelah dilakukan uji yang berbeda nyata pada taraf uji 1 persen . Perbedaan yang signifikan inimultikolinearitas pada variabel-variabelbebas dengan pengukuran terhadapVarian Inflation Factor (VIF) hasilnyamenunjukkan bahwa semua variabelbebas pada model yang diajukan, bebasdari multikolinearitas. Hal iniditunjukkan dengan nilai VIF yangberada di bawah 10, sehingga dapatdikatakan bahwa model regresi tidakmengandung multikolinearitas, Dari hasil uji autokorelasimenggunakan Durbin-Watson diperolehnilai DW yaitu sebesar 2,140.Selanjutnya dengan melihat TabelDurbin-Watson dengan menggunakan 140

disebabkan karena adanya kemudahan SARANbagi para petani anggota Gapoktan 1. Pemberian bantuan modal bagiPUAP untuk mengakses sumber petani melalui Gapoktan dirasakanpermodalan yang digunakan untuk sangat perlu, tetapi sebelummengembangkan usahataninya, diberikan bantuan perlu dilakukansehingga pada akhirnya pendapatan penguatan kelembagaan terlebihmereka bisa meningkat. Hal ini dahulu, sehingga modal yangdipertegas oleh ketua Gapoktan diberikan bisa berkembang sesuaiGarahan Jaya yang sampai saat ini harapan.belum mendapatkan bantuan dana 2. Untuk meningkatkan kinerjaPUAP, bahwa kesulitan petani Gapoktan PUAP, perlu diberikandidesanya adalah masalah permodalan, fokus perhatian pada atribut disehingga petani kesulitan kuadran I hasil analisis IPA, yaitumengembangkan usahanya sehingga Gapoktan berperan sebagai sumberpendapatan mereka pun tidak informasi, Gapoktan membantubertambah, bahkan semakin menurun anggota memasarkan hasil produksikarena semakin berkurangnya tingkat kopi, dan Gapoktan menjalinkesuburan lahan yang mereka kelola, kerjasama/kemitraan dengandan makin meningkatnya harga-harga pengusaha/eksportir.sarana produksi. 3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang mengkaji dampak programKESIMPULAN PUAP terhadap sektor off farm,1. Program PUAP dapat meningkatkan seperti pengolahan dan pemasaranproduksi petani karena adanya karena penelitian ini memilikibantuan modal yang diberikan keterbatasan hanya membahas padakepada petani anggota Gapoktan sektor on farm saja.PUAP, sehingga tingkat produksi 4. Perlu dilakukan penelitian denganusahatani penerima bantuan modal menggunakan data yang ada diPUAP lebih tinggi dibandingkan instansi pelaksana PUAP di tingkatpetani yang tidak ikut program Kabupaten, Provinsi dan tingkatPUAP. Pusat, baik sebelum dan sesudah2. Program PUAP mendorong pelaksanaan program PUAP agarperbaikan kinerja Gapoktan karena diperoleh hasil yang lebih akurat dariadanya pendampingan, pelatihan dampak pelaksanaan program PUAP.dan fasilitas yang diberikan kepadaGapoktan PUAP. Hal ini ditegaskan DAFTAR PUSTAKAoleh keberadaan Gapoktan UsahaJaya yang makin berkembang Ali, Yandri. 2010. Kebijakan Puap Berkelanjutan. PUAP Newsletterusahanya setelah mendapatkan Edisi Juni 2010.bantuan modal PUAP.3. Program PUAP bisa meningkatkan Erifyatno dan Fadjar Sofyar. 2007. Riset Kebijakan Metode Penelitianpendapatan petani. Hal ini didukung Untuk Pascasarjana. IPB Press. Bogor.hasil analisis regresi berganda yangmenegaskan bahwa pendapatanpetani dipengaruhi oleh Ghazali, I. 2009. Ekonometrika Teori,keanggotaan petani dalam Gapoktan Konsep dan Aplikasi denganPUAP. SPSS 17. Program Doktor Ilmu Ekonomi. Universitas Diponegoro. Semarang. 141

Gujarati, D.N. 2006. Dasar-dasar Sekolah Pascasarjama IPB. Ekonometrika. Edisi Ketiga. Bogor. Penerbit Erlangga. Jakarta. Mubyarto. 1995. Pengantar EkonomiHanani, Nuhfil AR, Ibrahim, Jabat Tarik, Pertanian. PT. Pustaka LP3ES Indonesia. JakartaPurnomo, Mangku. 2003.Strategi Pembangunan Rangkuti, F. 2006. Measuring Customer Satisfaction: Teknik MengukurPertanian. Lappera Pustaka dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan plusUtama. Yogyakarta. Analisis Kasus PLN-JP. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Hanel, Alfred. 1992. Basic Aspect of Co- operative Organization and Co- Riduan dan E.A. Kuncoro. 2008. Cara operative Self-Help Promotion Menggunakan dan Memaknai in Developing Countries. Analisis Jalur (Path Analysis). Marburg: Marburg Consult. Alfabeta. Bandung.Hernanto, 1991. Ilmu Usahatani. Penerbit Swadaya. JakartaIrianto, Bambang, Sudarmadi Purnomo, Riduan. 2009. Metode & Teknik Wigati Istuti, Yuwoko. 2010. Menyusun Tesis. Alfabeta. Balai Pengkajian Teknologi Bandung. Pertanian Jawa Timur. Malang Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani danKementerian Pertanian. 2010. Pedoman Penelitian untuk Umum Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Pengembangan Petani Kecil. UI Kementerian Pertanian. Jakarta. Press. Jakarta._______. 2010. Petunjuk Teknis Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi, dengan PokokPemeringkatan (Rating) Bahasan Analisis Fungsi Cobb- Douglas. Rajawali Pers. Jakarta.Gapoktan PUAP Menuju LKM-A.Kementerian Pertanian. Jakarta. Spillane, James J. 1990. Komoditi KopiKutsiyah, F, dkk. 2009. Analis Kinerja Peranannya Dalam Program Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat Melalui Perekonomian Indonesia. Lembaga Pesantren di Madura. Jurnal Agro Ekonomi, Volume 27 Kanisius. Yogyakarta. No.2, Oktober 2009: 109-134. Sudaryanto, T, dkk. 2009. PenentuanLlanto, Gilberto M (2007). Overcoming Lokasi dan Evaluasi Kinerja serta Obstacles to Agricultural Dampak Pengembangan Usaha Microfinance: Looking at Agribisnis Pedesaan (PUAP). Broader Issues. Asian Journal of Pusat Analisis Sosial Ekonomi Agriculture and Development, dan Kebijakan Pertanian Vol. 4, No 2: 23- 40. Departemen Pertanian. Bogor.Mariyah. 2008. Pengaruh Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat terhadap Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur. Tesis. 142

KEPUTUSAN PETANI TEBU DALAM PENERAPAN SISTEM INTEGRASI TEBU-SAPI POTONG DI KABUPATEN GORONTALO PROVINSI GORONTALO Sriyani Wahyuni Tangahu 1), Sri Hartoyo 2), dan Anna Fariyanti 2) 1)Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo 2) Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor [email protected] AbstractGorontalo district is one of the areas in the Gorontalo province who get the integrated farming systemof sugarcane-beef cattle program. The integrated farming system of sugarcane-beef cattle is oneform of technological innovation in agriculture. The purpose of this study is to analyze the factors thatinfluence the farmer’s decision to implement the integrated farming system of sugarcane-beef cattleand to known the factors that provide the greatest opportunities in the implementation of theintegrated farming system. This research was conducted with logit analysis, using cross section dataobtained from interviews to 59 cane farmers who have cattle. The results showed that the farmer'sdecision to implement the integrated farming system of sugarcane-beef cattle, significantly influencedpositively by a factor of the number of beef cattle, grass garden ownership, extension education,technological mastery of feed and fertilizer. The most factor that give opportunity for farmers toimplement the integrated farming system of sugarcane-beef cattle is the number of beef cattle. Thegovernment policy implication, related to the implementation of the integrated farming system ofsugarcane-beef cattle that is, the government needs to pay attention to the factors that significantlygive positive influence on the implementation of the integrated farming system of sugarcane-beefcattle. Therefore, needed the government policy to increase the number of beef cattle ownership,grass garden ownership, extension education, and technological mastery of feed and fertilizer forsugarcane farmers.Keyword: integrated farming system of sugarcane-beef cattle, farmer decisionPENDAHULUAN Sistem integrasi tanaman-ternak yaitu kegiatan mengintegrasikan tanamanPeningkatan produksi pertanian dengan ternak, dengan memanfaatkandapat dilakukan dengan kegiatan limbah dari satu produk pertanian untukekstensifikasi maupun intensifikasi. digunakan sebagai input bagi produkKegiatan ekstensifikasi dapat dilakukan pertanian yang lain. Dalam sistemjika kondisi lahan pertanian tersedia integrasi tanaman-ternak, berlaku prinsipsecara memadai, baik dari segi kuantitas zero waste dan zero cost (Devendra et al.maupun kualitas. Kondisi yang terjadi di 1997).Indonesia, sumberdaya lahan mengalami Sistem integrasi tanaman-ternakketerbatasan. Oleh karena itu, kegiatan dapat dilakukan denganekstensifikasi tidak dapat dilakukan, mengintegrasikan tanaman pangan,sehingga produksi pertanian dapat hortikultura, perkebunan dengan ternakditingkatkan dengan kegiatan sapi, kambing, domba, ayam, dan lainnya.intensifikasi. Salah satu kegiatan Sistem integrasi tanaman-ternak jugaintensifikasi yang dapat dilakukan yaitu telah banyak dilakukan di Indonesia, salahsistem integrasi tanaman-ternak. satunya di Provinsi Gorontalo, yaitu sistem integrasi tebu-sapi. 143

Kegiatan sistem integrasi tebu-sapi program dilakukan, dari sejumlah petani yang mendapatkan bantuan programmerupakan program dari pemerintah sistem integrasi tebu-sapi, terdapat 5 petani tebu yang tidak menerapkanProvinsi Gorontalo, yang bertujuan untuk sistem integrasi tebu-sapi tersebut, dengan demikian hanya 17 petani tebumeningkatkan pendapatan petani tebu yang menerapkan sistem integrasi tebu- sapi. Setelah program selesai, sampaidari hasil produksi tebu dan ternak sapi. sekarang terdapat 31 petani tebu yang menerapkan sistem integrasi tebu sapi,Peran pemerintah dalam program ini dimana 6 petani merupakan petani yang mendapatkan bantuan dan 25 petaniyaitu memfasilitasi penyediaan ternak lainnya adalah petani yang tidak mendapatkan bantuan tapi menerapkandan alat pengolah limbah, menyediakan sistem integrasi tebu-sapi. Kondisi tersebut terkait dengan keputusan petanipedoman teknis, serta melakukan tebu itu sendiri, memutuskan untuk menerapkan atau tidak menerapkanpembinaan. Petani yang menjadi sasaran sistem integrasi tebu-sapi. Keputusan petani tersebut dipengaruhi oleh faktordalam program ini yaitu petani tebu yang internal maupun eksternal. Faktor internal berupa faktor yang terkaittergabung dalam kelompok tani tebu, dengan kondisi usahatani tebu dan usaha sapi serta karakteristik petani. Faktordalam hal ini terpilih tiga kelompok tani eksternal berupa faktor informasi teknologi, seperti keikutsertaan petanidengan total petani sejumlah 22 petani. tebu dalam kelompok tani dan penyuluhan.Jika ditinjau dari peran pemerintah, untuk Berdasarkan uraian tersebut, makadapat mencapai tujuan dari program timbul pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1) faktor-faktor apa saja yangsistem integrasi tebu-sapi di Kabupaten mempengaruhi keputusan petani dalam penerapan sistem integrasi tebu-sapi danGorontalo, pemerintah belum (2) faktor apa yang memberikan peluang terbesar dalam penerapan sistemmelaksanakan perannya sebagaimana integrasi tebu-sapi. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian adalah : 1) untukmestinya. menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan petani dalamKondisi yang terjadi di lokasi penerapan sistem integrasi tebu-sapi dan (2) menganalisis faktor apa yangpenelitian, pemerintah hanya sebatas memberikan peluang terbesar dalam penerapan sistem integrasi tebu-sapimensosialisasikan program sistem potong.integrasi tebu-sapi tersebut kepadakelompok petani tebu terpilih dankemudian memberikan bantuan danauntuk pengadaan sapi. Berkaitan denganpenerapan teknis sistem integrasi tebu-sapi, pemerintah tidak melakukanbimbingan kepada petani tebu berupapraktik langsung ke lahan-lahan tebu milikpetani. Sehingga, dalam penerapansistem integrasi tebu-sapi, petani hanyamenerapkan sesuai dengan pengetahuanpetani tersebut, tanpa mengikutipanduan teknis sistem integrasi tebu-sapi.Sistem integrasi tebu-sapi yangmerupakan salah satu bentuk inovasiteknologi dalam bidang pertanian,sehingga penerapannya harus melaluisuatu proses yang dikenal dengan prosesadopsi teknologi. Adopsi teknologi sistemintegrasi tebu-sapi merupakan keputusanpetani tebu itu sendiri.Pada tahun pertama (tahun 2009) 144

METODE PENELITIAN yang dibangun dalam analisis ini yaitu sebagai berikut:Keputusan Petani untuk MengadopsiSistem Integrasi Tanaman-Ternak Y=α+β1X1+β2X2+β3X3+β4X4+β5X5+β6X6+β7X7 Secara umum, terdapat dua faktor β8X8+β9X9+β10X10yang mempengaruhi petani dalampengambilan keputusan, yaitu faktor dimana:endogen dan faktor eksogen. Faktorendogen berupa segala faktor produksi Y (Pi) =Peluang Menerapkan Sistemyang dikuasai yaitu lahan, modal, tenaga Integrasi Tebu-Sapi, Pi = 1 (jikakerja, dan kemampuan dalam menerapkan sistem integrasi),pengelolaan. Faktor eksogen berupa dan Pi = 0 (jika tidak menerapkansegala hal yang tidak bisa dikontrol oleh sistem integrasi)petani. X1 = Luas Lahan Tebu (ha) Secara khusus, faktor endogen X2 = Jumlah Sapi (ekor)yang dapat mempengaruhi keputusan X3 =Jumlah Tenaga Kerja dalampetani untuk menerapkan sistem integrasitanaman-ternak yaitu besarnya Keluarga (orang)pendapatan usaha sapi, pendidikan, X4 =Dummy Kepemilikan Kandang, 1pekerjaan, penggunaan kompos, jumlahsapi, tenaga kerja keluarga, keikutsertaan (jika ada) dan 0 (jika tidak ada)dalam organisasi tani, dan frekuensi X5 =Dummy Kepemilikan Kebunkontak penyuluh, umur, dan pengalamanbeternak sapi (Bulu et al. 2004, Hanafi et Rumput, 1 (jika ada) dan 0 (jikaal. 2004, Priyanti 2007, dan Handayani tidak ada)2009). X6 = Jumlah Kelompok Tani yang diikuti, selain kelompok tani tebu Pada penelitian ini, faktor yang (unit)diukur dan diduga memberikan pengaruh X7 =Frekuensi Mengikuti Penyuluhan,terhadap keputusan petani yaitu faktor yaitu penyuluhan mengenai tebuendogen. Faktor endogen tersebut dibagi dan sapi (kali)dalam tiga kategori yaitu faktor kondisi X8 =Dummy Penguasaan Teknologiusahatani tebu dan usaha sapi potong Pakan dan Pupuk, 1 (jikameliputi luas lahan tebu, jumlah sapi, mengetahui dan menerapkan) danjumlah tenaga kerja, kepemilikan 0 (jika tidak menerapkan)kandang, kepemilikan kebun rumput; X9 =Pengalaman Berusahatani Tebu,faktor informasi teknologi meliputi yaitu lamanya petani tebu dalamkelompok tani, penyuluhan, penguasaan berusahatani tani tebu (tahun)teknologi pakan dan pupuk; faktor X10 =Dummy Pendidikan, yaitu dummykarakteristik petani meliputi pendidikan jenjang pendidikan formal terakhirdan pengalaman berusahatani tebu. yang diperoleh petani tebu, 1 (jika SD) dan 0 (jika lainnya)Spesifikasi Model β1, …, β4 > 0, β5 dan β10 < 0, β6, …, β9 > 0 Analisis yang dilakukan pada HASIL DAN PEMBAHASANpenelitian ini yaitu analisis logit. Model Keputusan Petani dalam Penerapan Sistem Integrasi Tebu Sapi potong Keputusan petani dalam penerapan sistem integrasi tebu-sapi potong di suatu 145

Provinsi Gorontalo, dibuat dalam bentuk Pada model logit, diperhatikan tandamodel logit yang dipengaruhi oleh koefisien dan nilai odds ratio dari masing-berbagai faktor baik faktor kondisi masing variabel. Berikut disajikan tandausahatani tebu dan sapi, informasi koefisien dan nilai odds ratio dari masing-teknologi, maupun karakteristik petani. masing variabel.Tabel 1. Tanda Koefisien dan Nilai Odds Ratio dari masing-masing Variabel Nama Variabel Tanda koefisien Odds RatioLuas lahan tebu Faktor kondisi usahatani tebu dan usaha sapi potong 0,175Jumlah Sapi -*** 2,188 +** 1,502 5,189Tenaga kerja dalam keluarga + 0,027Kepemilikan kandang -*Kepemilikan kebun rumput +* 0,034 1,209 Faktor informasi teknologi 0,001Kelompok tani -*** 2,490Penyuluhan +** 0,985Penguasaan teknologi pakan dan pupuk +** Faktor karakteristik petaniPendidikan -Pengalaman berusahatani tebu - Pada faktor kondisi usahatani tebu yang akan digunakan untuk memupukdan usaha sapi potong, variabel yang luasan lahan tebu.secara signifikan mempengaruhikeputusan petani untuk menerapkan Jumlah sapi, jika dikaitkan dengansistem integrasi tebu-sapi potong yaitu kepemilikan kebun rumput, makavariabel jumlah sapi dan kepemilikan semakin besar jumlah sapi yang dimilikikebun rumput. Kedua variabel ini oleh petani maka semakin besar pulamempunyai tanda koefisien positif jumlah pakan yang dibutuhkan.sehingga dapat dikatakan bahwa kedua Kebutuhan pakan sebagian besar masihvariabel ini mempengaruhi keputusan dipasok dari ketersediaan pakan hijauanpetani untuk menerapkan sistem integrasi berupa rumput, sehingga kepemilikantebu-sapi potong. Diantara kedua variabel kebun rumput menjadi hal yang penting.tersebut, variabel yang memiliki nilai odds Peluang petani yang memiliki kebunratio paling besar yaitu variabel jumlah rumput untuk menerapkan sistemsapi yaitu sebesar 2,188 sehingga dapat integrasi tebu-sapi potong adalah 0,027dijelaskan bahwa variabel jumlah sapi kali lebih besar dibandingkan petani yangmemiliki peluang sebesar 2,188 kali tidak memiliki kebun rumput.mempengaruhi keputusan petani untuk Kepemilikan kebun rumput tersebut,menerapkan sistem integrasi tebu-sapi menjamin ketersediaan pakan ternakpotong (Tabel 1). Semakin banyak jumlah sapi.sapi yang dimiliki petani, maka semakinbesar peluang petani untuk menerapkan Pada faktor informasi teknologi,sistem integrasi tebu-sapi potong. Jumlah variabel yang secara signifikansapi yang semakin banyak memungkinkan mempengaruhi keputusan petani untukpetani untuk memperoleh pupuk kandang menerapkan sistem integrasi tebu-sapi potong yaitu penyuluhan dan penguasaan teknologi pakan dan pupuk. Di antara kedua variabel tersebut, variabel yang 146

memiliki peluang paling besar untuk Demikian juga dengan pengalaman berusahatani tebu, petani yang memilikimempengaruhi keputusan petani dalam pengalaman berusahatani tebu lebih lama, relatif tidak menerapkan sistempenerapan sistem integrasi tebu-sapi integrasi tebu-sapi potong, walaupun hasil ini tidak signifikan. Hal inipotong yaitu variabel penyuluhan, mengindikasikan bahwa petani yang sudah lebih lama berusahatani tebu,dengan nilai odds ratio sebesar 1,209 cenderung untuk memilih tetap berusahatani secara konvensional saja,(Tabel 1). Penyuluhan merupakan dalam hal ini, mengusahakan usahatani tebu secara terpisah dengan usaha ternakvariabel yang penting dalam menentukan sapi potong. Lain halnya dengan petani yang belum lama berusahatani tebu,keputusan penerapan sistem integrasi cenderung untuk mencoba suatu inovasi baru dengan cara menerapkan sistemtebu-sapi potong karena dengan adanya integrasi tebu-sapi potong.penyuluhan, petani mendapatkanpengetahuan tentang pentingnyapeningkatan produksi tebu dan produksisapi potong, dengan mengintegrasikantebu dan sapi potong. Priyanti (2007),Indraningsih (2011), dan Abdullah (2012),juga menyatakan bahwa penyuluhanberpengaruh positif terhadap keputusanpetani untuk menerapkan sistem integrasitanaman-ternak. KESIMPULAN DAN SARANDemikian juga dengan variabel Kesimpulanpenguasaan teknologi pakan dan pupuk, 1. Keputusan petani untuk menerapkanvariabel tersebut merupakan variabel sistem integrasi tebu-sapi potongyang penting, karena dalam penerapan dipengaruhi oleh jumlah sapi,sistem integrasi tebu-sapi potong, kepemilikan kebun rumput,diperlukan pengetahuan dan penyuluhan, dan penguasaanketerampilan dalam mengolah pucuk teknologi pakan dan pupuk.tebu menjadi pakan sapi dan kotoran sapi 2. Faktor yang memiliki peluang palingmenjadi pupuk. besar untuk menentukan keputusanPada faktor karakteristik petani, petani dalam penerapan sistembaik variabel pendidikan maupun integrasi tebu-sapi potong yaitupengalaman berusahatani, kedua variabel variabel jumlah sapi.tersebut berpengaruh negatif terhadap Sarankeputusan petani dalam penerapan 1. Bagi pemerintah, diharapkan dapatsistem integrasi tebu-sapi potong, namun membuat kebijakan secara khusushasil ini tidak signifikan. Walaupun mengenai penerapan sistem integrasidemikian, variabel pendidikan perlu tebu-sapi potong, terutama terkaitdipertimbangkan karena untuk dapat dengan faktor-faktor yangmenerima dan memahami informasi mempengaruhi petani untukmengenai teknologi baru, petani harus menerapkan sistem integrasi tebu-sapipunya bekal kemampuan baca tulis potong.(Sunanto dan Nasrullah 2012). Hasil ini 2. Bagi petani, diharapkan dapat terusberbeda dengan Sunding dan Zilberman meningkatkan usaha untuk(2000) menyatakan bahwa pendidikan menerapkan sistem integrasi tebu-sapiberpengaruh positif dan signifikan potong.terhadap adopsi teknologi. 147

DAFTAR PUSTAKAAbdullah A. 2012. Kinerja Penyuluh dalam Handayani S. 2009. Model Integrasi Tanaman-Ternak di KabupatenMeningkatkan Adopsi Teknologi Donggala Provinsi Sulawesi Tengah: Pendekatan OptimalisasiPakan Mendukung Program Linier [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.Pengembangan Sapi Potong.Prosiding Seminar NasionalPeternakan. Sumatera Utara (ID):Fakultas Pertanian Universitas Indraningsih KS. 2011. Pengaruh Penyuluhan terhadap KeputusanSumatera Utara. Petani dalam Adposi Inovasi Teknologi Usahatani Terpadu.Bulu YG, Puspadi K, Panjaitan TS, Jurnal Agro Ekonomi, 29(1): 1-24. Sasongko WR, dan Muzani A. 2004. Transfer dan Kendala Priyanti A. 2007. Dampak Program Sistem Adopsi Teknologi Produksi Sapi Bali Mendukung Usaha Agribisnis. Integrasi Tanaman-Ternak Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak, hlm 240-248. terhadap Alokasi Waktu Kerja, Pendapatan, dan PengeluaranDevendra C, Thomas D, Jabbar MA, Kudo Rumahtangga Petani [disertasi]. H. 1997. Improvement of Livestock Production in Crop- Bogor (ID): Institut Pertanian Animal Systems in Rainfed Agro- ecological Zones of South-East Bogor. Asia. Kenya: ILRI (International Livestock Research Institute), Sunanto dan Nasrullah. 2012. Kajian Nairobi. Model Pertanian Zero Waste dengan Pendekatan SistemHanafi H, Soeharsono, Supriadi. 2004. Integrasi Tanaman Jagung-Ternak Sapi di Sulawesi Selatan.Sikap Petani terhadap Inovasi Prosiding InSiNas, 2012 November 29-30. hlm 223-228.“Crop Livestock Systems” di Sunding D dan Zilberman D. 2000. The Agricultural Innovation Process:Lahan Kering Kabupaten Gunung Research and Technology Adoption in a ChangingKidul Daerah Istimewa Agricultural Sector. California (US): University of California atYogyakarta. Seminar Nasional Berkeley.Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Yogyakarta (ID), hlm 175-181. 148

KAJIAN TINGKAT KEMISKINAN DI KAWASAN IRIGASI ULEE JALAN KABUPATEN NAGAN RAYA Dewi Fithria1)1) Staf Pengajar Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, E-mail: [email protected] AbstractIn 2009 the production of rice plant in Nagan Raya district totaled 100.135 tons of grain. Thisfigure has risen by 57.99 percent compared to its 2008 production reached 63.382 tons of grain.This increase was caused by the increase of rice planting area of 14 097 hectares in 2008 becomebe as 20.027 hectares in 2009. However, the increase in rice production is not significant to theincome of farmers. The purpose of this study was to determine the level of income, incomedistribution and poverty levels of farm households, as well as the factors affecting the level ofpoverty. This research was conducted in the area of irrigation Ulee Jalan Nagan Raya which isdivided into three parts, namely the upstream, midstream and downstream. The results showedthat there were poor farming households in the upstream part of (36.52%), middle (33.33%), anddownstream (40.48%), and poverty are serious enough indicated by the headcount index of morethan 30%, poverty gap index respectively by 0.09, 0.13 and 0.10 indicating that farmerhouseholds still need additional substantial resources.The results of this study indicate land area,the outpouring of labor (employment) outside the farm, farm income, and sufficient supply ofirrigation water is the dominant factor in reducing household poor farmers in irrigated areas.Keywords: poverty, irrigation districtPENDAHULUAN Harga jual padi sawah tidak sebanding Kabupaten Nagan Raya dengan biaya yang dikeluarkan petani.merupakan salah satu daerah yangmenjadi sentra produksi berbagai jenis Hampir seluruh petani sawah dikomoditi pertanian, baik jenis tanamanpangan seperti padi, palawija, buah- Kabupaten Nagan Raya tidakbuahan, dan sayuran, maupun jenistanaman perkebunan seperti kelapa mempunyai lahan sawah sendiri,sawit, kelapa dalam dan karet. Disamping itu lahan yang tersedia untuk mereka membayar sewa lahanbudidaya pertanian masih cukup luas. disamping itu harga benih padi, pupuk Pada tahun 2009 produksi padisawah di Kabupaten Nagan Raya dan racun hama penyakit yang mahaltercatat sebesar 100,135 ton gabah.Angka ini mengalami peningkatan yaitu membuat petani harus mengeluarkansebesar 57,99 persen dibandingproduksi tahun 2008 yang mencapai biaya yang tidak sedikit. Petani63,382 ton gabah. Kenaikan inidisebabkan oleh bertambahnya luas cenderung hidup dalam kondisi miskin.tanam padi 14.097 hektar pada tahun2008 mnjadi 20.027 hektar pada tahun Penelitian ini bertujuan untuk2009. menelaah kesenjangan kemiskinan di Namun, kenaikan produksi padisawah tidak signifikan dengan daerah irigasi Ulee Jalan. Secara khususpendapatan petani. Kondisi petaniberada dalam kondisi yang kekurangan. tujuan yang henadak dicapai dalam penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui tingkat pendapatan dan kemiskinan di daerah irigasi Ule Jalan, 2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan rumahtangga petani di daerah irigasi Ule Jalan, 3) mengetahui distribusi pendapatan rumahtangga petani di daerah Ule Jalan 149

METODE PENELITIAN digunakan disesuaikan dengan hipotesis Pelaksanaan penelitian dilakukan yang diajukan. Proporsi rumahtanggamenggunakan metode deskriptifanalisis, yaitu suatu metode untuk yang hidup di bawah garis kemiskinanmeneliti status kelompok manusia,suatu obyek, suatu set kondisi, suatu (rumahtanggga miskin) dansistem pemikiran ataupun suatu kelasperistiwa pada saat sekarang. Penelitian rumahtangga yang berada di atas garisdiskriptif bertujuan untuk membuatgambaran secara sistematis, factual dan kemiskinan (tidak miskin) digunakanakurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifatserta hubungan antara fenomena yang analisis proporsi.diteliti, menguji hipotesis, membuatprediksi serta mendapatkan makna dan Analisis proporsi dihitung denganimplikasi dari suatu masalah yangdipecahkan (Nasir,1999). Head Count Index (HC), secara Pemecahan masalah dilakukan matematis diformulasikan : HC=q/ndengan mengumpulkan data, menyusundan menganalisisnya. Hasil akhir Keterangan :penelitian disajikan dalam bentukdekripsi, yang dilengkapi dengan table- q = jumlah rumah tangga miskintabel, dan variable-variabel yangdianalisis secara kuantitatif maupun n = jumlah sampelkualitatif. Faktor-faktor yang Pengumpulan data menggnakanteknis cluster sampling. Teknik ini mempengaruhi kemiskinandilakukan mengingat tidak terdapatnyadaftar petani untuk suatu daerah irigasi rumahtangga petani di daerah irigasisecara lengkap dan umumnya bataswilayah irigasi tidak identik dengan Ulee Jalan dianalisis dengan pendekatanbatas wilayah pemerintahan desa.Dengan demikian dilakukan tahapan- model logit. Analisis logit merupakantahapan kegiatan, yaitu: 1) melakukanpendaftaran petak-petak tersier sebagai salah satu cara untuk menyelesaikancluster, 2) membuat daftar petaniberdasarkan cluster tersebut, dan 3) persamaan dengan variable tak bebasmenentukan petani responden secaraacak proporsional (proportional random (dependent variable) yang bersifatsampling) dengan tabel random.Penentuan cluster berdasarkan pada kualitatif dan bersifat kemungkinanluas wilayah yang diairi oleh jaringanirigasi primer yang masing-masing (binary variable).mewakili bagian hulu, tengah dan hilir. Persamaan ini dikenal pula Analisis data merupakan salahsatu langkah yang penting dalam sebagai persamaan yang bersifatpenelitian, data-data yang telahterkumpul di tabulasi guna analisis lebih dikotomus pada variable tak bebasnya.lanjut. Analisis deskriptif menggunakantabel sedangkan uji statistik yang Nilai variable tak bebas dalam persamaan ditunjukan dengan nilai 1 dan 0 (Gurajati, 1999). Adapun model estimasi untuk faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan adalah sebagai berikut : Y = a0 + a1 X1 + …+ a9 X9 + a1 D1 +a1 D+ ei Y ; 1 = rumahtangga tani miskin; 0 = rumahtangga tani tidak miskin X1 = luas lahan (ha) X2 = curahan tenaga kerja (orang) X3 = curahan tenaga kerja di luar pertanian (orang) X4 = ketersediaan air (cukup =1, tidak cukup=0) X5 = ketepatan waktu pengairan (tepat=1, tidak tepat=0) X6 = Kecukupan air (cukup =1, tidak cukup=0) X7 = pendapatan usahatani (Rp/ha) X8 = nilai produksi (Rp/ha) D1 = dummy tengah (tengah = 1 lainnya = 0) 150

D2 = dummy hilir (hilir = 1 lainnya = 0) belum efisien.a = parameterei = distribusi random varibel dengan Pendapatan Rumahtangga mean 0 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan dari usaha taniHASIL DAN PEMBAHASAN tanaman pangan yang tertinggiAnalisis Usaha Tani diperoleh rumahtangga petani pada bagian tengah kawasan irigasi Ulee Bagian ini akan menguraikan Jalan, kemudian berturut-turut bagiankondisi usahatani mulai dari hulu dan hilir. Besarnya rata-ratapenguasaan lahan, pola tanam, biaya pendapatan uasahatani tanamanproduksi, dan produksi tanam. pangan per tahun mulai dari bagian1. Luas Lahan Garapan tengah, hulu dan hilir, masing-masing Rp. 4.352.192,-, Rp.2.925.098, - Luas lahan garapan erat ,Rp.2.243.990,-.kaitannya dengan tingkat pendapatanusahatani rumahtangga yang akan Pengeluaran Rumahtanggadiperoleh. Semakin luas lahan yangdiusahakan berkorelasi positif dengan Hasil penelitian menunjukkantingkat pendapatan rumahtangga. bahwa konsentrasi pengeluaran konsumsi rumahtangga di daerah Lahan garapan pada dasarnya penelitian tidak lagi terkonsentrasi padaberasal dari dua sumber yaitu lahan konsumsi makanan, dan dijumpaimilik dan lahan sewa. Namun hampir bahwa pengeluaran konsumsi nonkeseluruhan petani yang berada di makanan yang selama ini dipenuhikawasan irigasi Ulee Jalan harus adalah biaya pendidikan, kesehatan,membayar sewa lahan sawah karena dan perumahan.mereka tidak mempunyai lahan milik. Analisis Kemiskinan Hasil penelitian menunjukkanbahwa luas lahan garapan setiap Kajian lebih lanjut dalamrumahtangga petani cukup variatifantar wilayah maupun antar musim. penelitian ini adalah persentaseLuas lahan garapan untuk lahan yangberada pada bagian tengah di kawasan rumahtangga miskin relative besaririgasi Ulee Jalan relative lebih besar. terdapat pada kawasan hilir yakniBiaya Produksi Usaha Tani 40,48%, sedangkan rumahtangga tani Menelaah biaya yang dikeluarkanuntuk usahatani, komponen terbesar yang berada pada bagian tengahadalah untuk pupuk dan tenaga kerja.Pengeluaran yang dikeluarkan untuk pupuk memiliki proporsi yang paling kecildikarenakan pupuk merupakan unsurepenting dalam proses produksi, hal ini jumlah rumahtangga yang miskin. Halterkait dengan irigasi, artinya di lahan yangberirigasi biasanya penggunaan pupuk ini sejalan dengan kriteria yanglebih intensif dan sesuai dengan respontanaman yang berkorelasi positif dengan ditetapkan oleh Sajogjo, relatifpupuk dan ketersediaan air selama prosesproduksi. Dalam penelitian ini juga kecilnya rumahtangga miskin di bagianmengungkapkan bahwa alokasipenggunaan pupuk, pestisida, dan benih tengah dapat dijelaskan bahwa produktivitas lahan garapan di daerah tersebut relatif tinggi. Tingginya produktivitas lahan tersebut sangat erat dengan irigasi diamana ketersediaan air irigasi selalu mencukupi sepanjang tahun, kemudian didukung dengan 151

relatif lancarnya transportasi dan keluarganya untuk bekerja di lahandekatnya pasar serta bagian tengah terutama pada saat anggota keluargairigasi terletak pada pusat ibukota tersebut tidak memiliki pekerjaan lain.Kabupaten Nagan Raya sehingga polapikri masyarakat sudah relatif maju. untuk variabel ketersediaan air mempunyai arti bahwa semakinTingkat Kesenjangan Kemiskinan tersedia air untuk pertanaman akan mempunyai probabilitas mengurangiHasil penelitian menemukan jumlah rumahtangga tani miskin hal ini sangat terkait produktivitas lahan yangbahwa kesenjangan kemiskinan di pada akhirnya akan berkorelasi positif dengan pendapatan rumahtangga.kawasan irigasi Ulee Jalan pada semua Variabel tersebut walaupun secara parsial tidak signifikan, namun daribagian relatif kecil atau dalam arti koefisien arah menunjukkan bahwa peningkatan ketersediaan air terutamahanya perlu sedikit sumberdaya bagi pada musim kering I dan musim kering II akan mempunyai probabilitasrumahtangga petani untuk keluar dari mengurangi jumlah rumahtangga tani miskin di daerah irigasi. Peningkatanperangkap kemiskinan. Adapun ketersediaan air tersebut lebih diprioritaskan untuk bagian hulu danbesarnya pendapatan per kapita hilir. Arti dari ketersedian tersebut adalah tersedianya air guna mendukungrumahtangga miskin untuk masing- pertanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tidak berlebih.masing bagian berturut-turut dari hulu, Arti dari koefisien dummy hilirtengah dan hilir sebesar Rp. 49.450,-, adalah sebagian besar rumahtangga tani miskin berada pada bagian hilir kawasanRp. 50.870,-, 49.690,-. irigasi Ulee Jalan. hal itu sesuai dengan hasil analisis kemiskinan yangFaktor yang Mempengaruhi menemukan bahwa sebagian besarTingkat Kemiskinan rumahtangga tani miskin ditemukan di bagian hilir. Hasil penelitian menunjukkanbahwa secara umum faktor yang paling Koefisien dummy tengah secaraberpengaruh terhadap pengurangan statistik tidak berbeda nyata, tetapirumahtangga miskin adalah pendapatan dilihat dari nilai koefisiennnya yangusahatani, artinya usahatani yang bertanda negatif sema artinya bahwadilakukan di daerah penelitian masih jumlah rumahtangga tani miskin dimemberikan harapan bagi rumahtangga daerah tengah lebih rendahpetani untuk keluar dari kemiskinan. dibandingkan dengan bagian hulu, halNilai koefisien luas lahan sebesar - ini sesuai dengan bahasan sebelumnya1.4174 mempunyai arti bahwa yang menemukan bahwa padapenambahan luas panen 1 % bagian tengah persentase headcountmempunyai probabilitas mengurangi index lebih kecil dibandingkan bagianrumahtangga miskin sebesar 1,4174% hulu.pada kondisi cateris paribus. Sedang varaibel ketepatan Penambahan curahan tenaga waktu pengarian sangat eratsebesar 1% mempunyai probabilitas kaitannya dengan pengelolaan danmenambah jumlah rumahtangga miskin pendistribusian air yang dikelola olehsebesar 0,008954% cateris paribus.curahan tenaga kerja di sector pertanianmempunyai hubungan positif artinyapenambahan curahan tenaga kerja dipertanian akan meningkatkanprobabilitas rumahtangga miskinbertambah. Rumahtangga petanibiasanya mengerahkan seluruh anggota 152

keujruen blang di masing-masing pendapatan usahatani, dan kecukupanwilayah, dari hasil analisis menunjukkan pasokan air irigasi merupakan faktorbahwa perlu pengaturan yang tepat yang dominan dalam mereduksidalam pendistribusian air dengan musim rumahtangga petani miskin di daerahtanam, karena hasil pengamatan di irigasi. Hal ini menunjukkan bahwalapangan terkadang waktu performa irigasi yang ada sekarangpendistribusian air tidak tepat dengan tidak cukup untuk mengurangimasum tanam, sehingga tidak efisien rumahtangga petani miskin.dan malah menyebabkan penambahan Secara umum faktor yang palingjumlah rumahtangga petani miskin, berpengaruh secara statistik terhadapterutama untuk daerah tengah dan hilir. pengurangan rumahtangga miskinBagian hilir sangat perlu adalah pendapatan usahatani,diperhatikan dengan debit air selama artinya usahatani yang dilakukan dimusim hujan karena walupun air daerah penelitian masih memberikanirigasi didistribusikan tepat waktu harapan bagi rumahtangga tani untuksementara permukaan air tanah juga keluar dari kemiskinan.naik, maka malah menyebabkan Dengan demikian secara tidakkelebihan air, dan menurunkan produksi langsung keberadaan irigasi sangattanaman. bermanfaat guna peningkatan produktivitas lahan yang pada akhirnyaKESIMPULAN meningkatkan pendapatan keluarga. Hal ini terjadi karena di lahan yang Hasil penelitian ini memberikan berigasi teknis dan dikelola dengangambaran bahwa masalah kemiskinan didaerah irigasi cukup serius, karena manajemen yang baik akankemiskinan dijumpai di hulu, tengah,dan hilir. Hal ini diperjelas dengan rata- memberikan dampak bagirata dari pengukuran menggunakanhead count index ditemukan lebih dari kesejahteraan petani.30% rumahtangga tani di kawasan irigasihidup dibawah garis kemiskinan atau Kecukupan air signifikan dalamdapat dikatakan miskin. Kesenjanganantara pendapatan per kapita dengan mereduksi jumlah rumahtangga tanigaris kemiskinan (Poverty Gap Index danSquare Povery Gap Index) menunjukkan miskin, hal ini ditunjukkan olehbahwa rumahtangga petani masihmembutuhkan tambahan sumberdaya variabel kecukupan air yangyang cukup besar. berkorelasi negatif dengan tingkat Kemiskinan di kawasan irigasitidak hanya ditentukan oleh satu kemiskinan, yang menarik dari temuanparameter irigasi seperti ketersediaanair sepanjang musim pertanaman, penelitian ini adalah kecukupan airketepatan waktu pengairan, kecukupanpasokan air, dan lokasi usahatani dalam untuk bagian hilir tidak signifikan dansuatu daerah irigasi tetapi dipengaruhioleh banyak faktor. berkorelasi positif dengan tingkat Hasil penelitian ini menunjukkan kemiskinan.luas lahan, curahan tenaga kerja(kesempatan kerja) di luar usahatani, Hal ini berarti bahwa kecukupan air irigasi ditingkatkan akan memiliki probabilitas menambah rumahtangga petani miskin, hal ini dapat dijelaskan bahwa pada bagian hilir yang merupakan dataran rendah dan merupakan daerah buangan irigasi dari bagian hulu dan tengah, maka kecukupan air relatif tinggi belum lagi pasokan air hujan yang membuat debit air melampaui kebutuhan (banjir). Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa peningkatan 153

kecukupan air hanya baik Efisiensi Usahatani Sawah didiaplikasikan pada bagian hulu dantengah, sementara bagian hilir yang Daerah Irigasi Kalibawangdibutuhkan adalah mengurangipasokan air dengan cara memperbaiki dan Papah Kabupatensistem pembuangan air terutama padamusim hujan. Kulonprogo. SkripsiDAFTAR PUSTAKA Fakultas Pertanian UGM.Arsyad, L.1999. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta. STIE YKPN. Yogyakarta M. 1999. Metode Penelitian. GhaliaBakhit, I. 2001. Menggempur Akar-Akar Kemiskinan. Yakoma–PGI. Jakarta. Indonesia. Jakarta.BPS. 2010. Kabupaten Nagan Raya Sawada, Yasuyuki. (2000). Dynamic Dalam Angka. Poverty Problem and theIRRI. 1985. World Rice Statistic. Manila. Irwansyah, Muhamad. 2001. Role of Infrastructure”, JBIC Review No 3, December 2000 pp 20-40. 154

PERBEDAAN HARGA SAHAM DAN AKTIFITAS VOLUME PERDAGANGAN SAHAM LQ-45 SEBELUM DAN SESUDAH TEROR BOM THAMRIN Doni Saputra1), Dewi Rahmayanti 2) 1)Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bengkulu 2) Dosen Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bengkulu AbstractThis study examined the difference in stock price and trading volume activity pra-event day andpost-event day Thamrin terror bombings that occurred on January 14, 2016. Samples taken in thisstudy were 45 companies incorporated in the LQ-45 in the Indonesian Stock Exchange. Analysistechniques data used in statistical tests in this study using Paired Sample t-Test and the Wilcoxonsigned rank test. Overall the research stock prices at the beginning of the terror bombingsoccurred Thamrin there are significant differences in the share price LQ-45 pra and post the terrorbombing Thamrin. The stock price difference is significant shares occurred on 1 day, 2 days, 4days, and 6 days pra and post the terror bombing Thamrin. In trading volume activity there aresignificant differences in the activity of stock trading volume 1 day and 10 days pra and post theterror bombing Thamrin. Overall there are no significant differences in the trading volumeactivity in the shares of LQ-45 pra and post the terror bombing Thamrin.Keywords : Efficient Market Hypothesis, terror bombings, stock price, trading volume activityPENDAHULUANPasar modal memiliki peran politik dan keamanan, dalam hal ini pengaruh tersebut tidak dapatyang cukup besar dalam perekonomian dipisahkan dari aktivitas lantai bursa atau pasar modal. Peristiwa-peristiwasuatu negara. Hal ini dikarenakan pasar politik merupakan salah satu bagian dari lingkungan non ekonomi (kerusuhan,modal menjalankan dua fungsi politik, dan keamanan negara) yang dapat berpengaruh pada kondisi pasarsekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan modal, karena dinamika situasi politik pada dasarnya juga berkaitan denganfungsi keuangan. Disebut fungsi stabilitas perekonomian suatu negara (Alkaff, 2010).ekonomi karena pasar modal mampu Issue-issue tentang lingkunganmenyediakan fasilitas yang hidup, teroris, peristiwa-peristiwa politik kerap menjadi bumerang utamamempertemukan dua kepentingan, pemicu fluktuasi harga saham bursa efek. Selain itu peristiwa teror menjadiyaitu pihak yang kelebihan dana dan issu yang negatif yang mengancam stabilitas negara sehinga menimbulkanpihak yang memerlukan dana. Informasi gejolak di pasar modal sehingga juga dapat mengakibatkan kurangnyapublik digunakan investor untuk kepercayaan dari para investor. Salah satu peristiwa teror yang ingin di ujimengambil keputusan investasi, antara kandungan informasinya terhadap aktivitas pasar modal adalah peristiwalain informasi yang berkaitan dengan bom Thamrin. Peristiwa teror bom itu terjadi di Indonesia tepatnya padakondisi fundamental perusahaan sepertilaporan keuangan dan pengumumantindakan korporasi (corporate actionannouncement) serta faktormakroekonomi seperti tingkatpertumbuhan industri, tingkat inflasi,dan tingkat suku bunga. Dan peristiwanon makro ekonomi tidak dapatdipungkiri pula dapat berdampak padapasar modal. Pengaruh dari luarekonomi yang mungkin tidak terkaitsecara langsung dengan dinamika pasarmodal, yaitu pengaruh dari lingkungan 155

tanggal 14 januari 2016 sekitar pukul harga saham dan aktivitas volume perdagangan saham, dengan rumus :10:45 pagi di daerah pertokohan TVA = jumlah saham i yang diperdagangkan pd hari tSarinah Jalan M.H. Thamrin Jakarta Jumlah saham i yang beredar pada hari tPusat (Antarana News.com.). Kejadian Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah ata sekunder yangledakan di Thamrin pun berimbas terdiri dari harga saham penutupan harian selama periode penelitian untukterhadap pasar modal dan keuangan tiap saham yang termasuk dalam LQ-45, dan aktivitas volume perdaganganIndonesia. Nilai tukar rupiah dibuka saham harian selama periode penelitian untuk tiap saham yang termasuk daammelemah 22 poin ke level 13.857 per LQ-45.dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis Metode Penetapan Sampel Dalam penelitian ini metodepagi ini dari penutupan perdagangan penetapan sampel yang digunakansebelumnya rabu 13 Januari 2016 di adalah sampling jenuh.level 13.835 per dolar AS. Rupiah pun Periode Pengamatan Periode pengamatan disebutsemakin tertekan terhadap dolar AS juga jendela peristiwa (window event).pada pukul 10.50. Nilai tukar rupiah Tanggal suatu peristiwa dipublikasikan untuk pertama kali ditetapkan sebagaisempat berada di level 13.910 per dolar event day (t0), tanggal ini adalah hari selama proses peristiwa itu terjadi.AS padahal sebelumnya pukul 10.35, Apabila tanggal tersebut adalah hari libur bagi kegiatan perdagangan saham,rupiah masih bergerak di kisaran 13.837 maka tanggal perdagangan yang terdekat berikutnya ditetapkan sebagaiper dolar AS. Dolar AS pun makin event day.perkasa terhadap rupiah ke level Periode peristiwa (event period) sendiri dalam penelitian diambil13.981. Sepanjang hari ini, rupiah sepuluh hari sebelum terjadinya peristiwa (t-10) hingga sepuluh hariberada di kisaran 13.821-13.981 perdagangan saham setelah terjadinya peristiwa (t+10). Event period selama 20(Liputan6.com). hari bursa diambil dengan harapan reaksi pasar sudah dapat terlihat.Adapun tujuan dari penelitianini adalah 1) untuk mengetahuiperbedaan Harga Saham pada sahamLQ-45 sebelum dan sesudah peristiwaTeror Bom Thamrin; 2) mengetahuiperbedaan Aktivitas VolumePerdagangan Saham pada saham LQ-45sebelum dan sesudah peristiwa TerorBom Thamrin.METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalahpenelitian kuantitatif yaitu penelitianyang menekankan pada data-datanumerikal (angka) yang diolah denganmetode statistika (Azwar 2007).Variabel dalam penelitian ini adalah Pra-Event day Event day Post-Event day t-10 T 0 T+10 Gambar 1 Event period 156

Dalam penentuan periode Paired Sampling t-Test dan wilcoxonperistiwa memeng tidak ada patokan signed rank test dengan menggunakanatau standar yang pasti, baik dari buku- bantuan SPSS 16.0.buku maupun jurnal penelitian. Sepertiyang dikemukakan (Jogiyanto 2010) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANLamanya periode jendela atau periode Analisis Statistik Diskriptif Hargapengamatan tersebut tergantung dari Sahamjenis penelitianya. Jika peristiwa yangnilai ekonomisnya dapat ditentukan Dalam mendiskripsikan datadengan mudah oleh investor (misalnya harga saham sebelum dan sesudahpengumuman laba dan deviden) teror bom, dilakukan dengan melihatperiode pengamatanya dapat pendek nilai rata-rata(mean), standar deviasi,yang disebabkan oleh investor yang nilai minimum dan nilai maksimum.dapat beraksi cepat. Sebaliknya untuk Nilai standar deviasi merupakan tingkatperistiwa yang nilai ekonominya sulit simpangan baku data, jika nilai standarditentukan oleh investor, maka periode deviasi > 2, maka data memilikipengamatan dapat diperpanjang. perbedaan yang cukup besar antara nilai minimum dan nilai maksimum,Metode Analisis sebaliknya jika nilai standar deviasi < 2, maka perbedaan nilai minimum dan Penelitian ini merupakan event nilai maksimum tidak terlalu besar. Nilai minimum menunjukkan nilai terkecilstudy, yaitu penelitian yang mengamati pada data, sedangkan nilai maksimum menunjukkan nilai terbesar pada data.reaksi pasar terhadap suatu peristiwa Berikut ini adalah statistik deskriptif data rata-rata harga saham sebelumyang informasinya yang terjadi. Untuk dan sesudah teror bom Thamrin.dapat melihat perbedaan harga sahamdan volume perdagangan sahamsebelum dan sesudah teror bomthamrin dilakukan denganmenggunakan kolmogorov-smirnov,Tabel 2. Hasil Statistik Deskriptif Rata-Rata Harga Saham Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation 100593.767Hssebelum 45 3349 546975 70962.49 101649.519Hssesudah 45 3046 560600 70526.02Valid N (listwise) 45Sumber: Data diolah 2016 Hasil deskriptif variabel Harga maksimum sebesar Rp 546.975 yangsaham sebelum dan sesudah teror bom terjadi pada saham PT GGRM.Thamrin pada Tabel 2 dapat dijelaskan Perolehan nilai standar deviasi padasebagai berikut : harga saham sebelum teror boma. Harga saham sebelum teror bom Thamrin adalah sebesar Rp 100.593,767. Standar deviasi yang tinggi Thamrin tersebut karena adanya perbedaan yang Berdasarkan Tabel 2 dapat besar antara nilai minimum dan maksimum yaitu Rp 3.349 dan Rpdijelaskan bahwa harga saham pada 546.975 .saham Lq-45 sebelum terjadinya teror b. Harga saham sesudah teror bombom Thmarin memiliki jumlah data (N)45, mempuuyai rata-rata (mean) Thamrinsebesar Rp 70.962,49 dengan harga Berdasarkan Tabel 2 dapatsaham minimum sebesar Rp 3.349 yangteradi pada saham PT ASRI dan nilai dijelaskan bahwa harga saham pada 157

saham Lq-45 sesudah terjadinya teror sebaliknya jika nilai standar deviasi < 2,bom Thmarin memiliki jumlah data (N) maka perbedaan nilai minimum dan45, mempuuyai rata-rata (mean) nilai maksimum tidak terlalu besar. Nilaisebesar Rp 70.526.02 dengan harga minimum menunjukkan nilai terkecilsaham minimum sebesar Rp 3.046 yang pada data, sedangkan nilai maksimumteradi pada saham PT SRIL dan nilai menunjukkan nilai terbesar pada data.maksimum sebesar Rp 560.600 yang Berikut ini adalah statistik deskriptifterjadi pada saham PT GGRM. data aktivitas volume perdaganganPerolehan nilai standar deviasi pada saham sebelum dan sesudah teror bomharga saham sebelum teror bom Thamrin. Hasil deskriptif variabelThamrin adalah sebesar Rp aktivitas volume perdagangan saham101.649.519. Standar deviasi yang tinggi sebelum dan sesudah teror bomtersebut karena adanya perbedaan yang Thamrin dapat dilihat pada Tabel 3.besar antara nilai minimum dan Dimana aktivitas volume perdaganganmaksimum yaitu Rp 3.046 dan Rp saham pada saham Lq-45 sebelum560.600. terjadinya teror bom Thmarin memiliki jumlah data (N) 45, mempuuyai rata-Analisis Statistik Diskriptif Akivitas rata (mean) sebesar 0,017538 denganVolume Perdagangan Saham harga saham minimum sebesar 0,0028 yang teradi pada saham PT UNVR dan Dalam mendiskripsikan data nilai maksimum sebesar 0,1202 yangaktivitas volume perdagangan saham terjadi pada saham PT ADHI. Perolehansebelum dan sesudah teror bom, nilai standar deviasi pada harga sahamdilakukan dengan melihat nilai rata- sebelum teror bom Thamrin adalahrata(mean), standar deviasi, nilai sebesar 0,0219434. Standar deviasiminimum dan nilai maksimum. Nilai yang rendah tersebut karena tidakstandar deviasi merupakan tingkat adanya perbedaan yang besar antarasimpangan baku data, jika nilai standar nilai minimum dan maksimum yaitudeviasi > 2, maka data memiliki 0,0028 dan 0,1202.perbedaan yang cukup besar antaranilai minimum dan nilai maksimum,Tabel 3. Hasil Statistik Deskriptif Aktivitas Volume Perdagangan Saham Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. DeviationTVAsebelum 45 ,0028 ,1202 ,017538 ,0219434TVAsesudah 45 ,0023 ,0932 ,018456 ,0217803Valid N (listwise) 45Sumber: Data diolah 2016 Sedangkan aktivitas volume yang rendah tersebut karena tidakperdagangan saham sesudah teror bom adanya perbedaan yang besar antaraThamrin memiliki jumlah data (N) 45, nilai minimum dan maksimum yaitumempuuyai rata-rata (mean) sebesar 0,0023 dan 0,0932.0,018456 dengan harga sahamminimum sebesar 0,0023 yang terjadi Uji Beda Harga Sahampada saham PT UNVR dan nilai Uji beda Harga saham dilakukanmaksimum sebesar 0,0932 yang terjadipada saham PT ADHI. Perolehan nilai untuk mengetahui apakah terdapatstandar deviasi pada harga saham perbedaan yang signifikan antara hargasebelum teror bom Thamrin adalah saham sebelum dan sesudah peristiwasebesar 0,0217803. Standar deviasi teror bom thamrin pada saham yang tergabung dalam saham LQ-45. 158

Tabel 4 Uji Beda Harga Saham LQ-45 Sebelum dan Sesudah Teror Bom Thamrin Paired Samples Test Paired Differences Mean 95% Confidence Interval Sig.(2 Tailed) of the Difference T DF Lower UpperPair 1 Hsplus1 –Hsmin 1 -53.333 -106.433 -.234 -2.024 44 .049Pair 2 Hsplus2 –Hsmin 2 -73.467 -143.539 -3.394 -2.113 44 .040Pair 3 Hsplus3 –Hsmin 3 86.844 -7.553 181.242 1.854 44 .070Pair 4 Hsplus4 –Hsmin 4 -128.467 -247.407 -9.527 -2.177 44 .035Pair 5 Hsplus5–Hsmin 5 -138.111 -304.585 28.363 -1.672 44 .102Pair 6 Hsplus6–Hsmin 6 -203.578 -368.541 -38.615 -2.487 44 .017Pair 7 Hsplus7 –Hsmin 7 -4.000 -140.645 132.645 -.059 44 .953Pair 8 Hsplus8–Hsmin 8 -8.244 -202.377 185.888 -.086 44 .932Pair 9 Hsplus9 –Hsmin 9 21.911 -228.834 272.656 .176 44 .861Pair 10 Hsplus10 –Hsmin 10 63.978 -175.654 303.610 .538 44 .593Sumber : Hasil Uji BedaData yang di uji bedakan adalah Pada 2 hari sebelum dan 2 hariharga saham perusahaan sampel sesudah teror bom Thamrin nilaisebelum dan sesudah teror bom, signifikanya (0,040 < 0,05), dengandengan tingkat probabilitas sebesar demikian H1 diterima. Artinya, bahwa(α=0.05). Analisa data menggunakan uji secara pengujian stastistik terdapatbeda Paired Sample T-Test dengan perbedaan yang signifikan pada hargamenggunakan program SPSS 16. saham 2 hari sebelum dan 2 hariPengujian dilakukan atas harga saham sesudah teror bom Thamrin. Nilai tpada 45 saham perusahaan penelitian, hitung sebesar -2,113, ini menunjukanpenelitian dilakukan per hari selama 10 bahwa t hitung memiliki nilai negatif,hari sebelum (-10) dan 10 hari sesudah yang artinya bahwa rata-rata harga(+10) teror bom. saham 2 hari sesudah teror bomBerdasarkan Tabel 4 dapat mengalami penurunan. Rata-ratadilihat bahwa dari hasil pengujian harga penurunan harga saham dapat dilihatsaham sebelum dan sesudah peristiwa pada nilai mean, nilai mean sebesar -teror bom Thamrin terdapat 4 hari yang 73,467, ini menunjukan bahwa rata-ratanilai signifikansinya lebih kecil dari ( harga saham 2 hari sebelum dan 2 hari0,05), yaitu pada 1 hari sebelum dan 1 sesudah teror bom Thamrin mengalamihari sesudah teror bom Thamrin yang penurunan sebesar Rp 73,467,-.nilai signifikanya (0,049 < 0,05), dengan Pada 4 hari sebelum dan 4 haridemikian H1 diterima. Artinya, bahwa sesudah teror bom Thamrin nilaisecara pengujian stastistik terdapat signifikanya (0,035 < 0,05), denganperbedaan yang signifikan pada harga demikian H1 diterima. Artinya, bahwasaham 1 hari sebelum dan 1 hari secara pengujian stastistik terdapatsesudah teror bom Thamrin. Nilai t perbedaan yang signifikan pada hargahitung sebesar -2,024, ini menunjukan saham 4 hari sebelum dan 4 haribahwa t hitung memiliki nilai negatif, sesudah teror bom Thamrin. Nilai tyang artinya bahwa rata-rata harga hitung sebesar -2,177, ini menunjukansaham 1 hari sesudah teror bom bahwa t hitung memiliki nilai negatif,mengalami penurunan. Rata-rata yang artinya bahwa rata-rata hargapenurunan harga saham dapat dilihat saham 4 hari sesudah teror bompada nilai mean, nilai mean sebesar - mengalami penurunan. Rata-rata53,333, ini menunjukan bahwa rata-rata penurunan harga saham dapat dilihatharga saham 1 hari sebelum dan 1 hari pada nilai mean, nilai mean sebesar -sesudah teror bom Thamrin mengalami 128,467, ini menunjukan bahwa rata-penurunan sebesar Rp 53,333,.- rata harga saham 4 hari sebelum dan 4 159

hari sesudah teror bom Thamrin signifikanya (0,070 > 0,05), denganmengalami penurunan sebesar Rp demikian H1 ditolak. Artinya, bahwa128,467,-. secara pengujian statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada harga Pada 6 hari sebelum dan 6 hari saham 3 hari sebelum dan 3 harisesudah teror bom Thamrin nilai sesudah teror bom Thamrin. Pada 5 harisignifikanya (0,017 < 0,05) dengan sebelum dan 5 hari sesudah teror bomdemikian H1 diterima. Artinya, bahwa Thamrin yang nilai signifikanya (0,102 >secara pengujian stastistik terdapat 0,05), dengan demikian H1 ditolakperbedaan yang signifikan pada harga Artinya, bahwa secara pengujiansaham 6 hari sebelum dan 6 hari statistik tidak terdapat perbedaan yangsesudah teror bom Thamrin. Nilai t signifikan pada harga saham 5 harihitung sebesar -2,487, ini menunjukan sebelum dan 5 hari sesudah teror bombahwa t hitung memiliki nilai negatif, Thamrin. Sedangkan pada 7 hari keatas,yang artinya bahwa rata-rata harga yaitu pada 7 hari, 8 hari, 9 hari, dan 10saham 6 hari sesudah teror bom hari sebelum dan sesudah teror bommengalami penurunan. Rata-rata Thamrin harga saham mulai kembalipenurunan harga saham dapat dilihat normal, secara pengujian statistik hargapada nilai mean, nilai mean sebesar - saham 7 hari, 8 hari, 9 hari, dan 10 hari203,578, ini menunjukan bahwa rata- sebelum dan sesudah teror bomrata harga saham 6 hari sebelum dan 6 Thamrin tidak mengalami perbedaanhari sesudah teror bom Thamrin yang signifikan.mengalami penurunan sebesar Rp203,578,-. Adapun hasil penelitan secara keseluruhan (akumulatif) selama 10 hari Sebenranya harga saham sebelum (-10) dan 10 hari sesudah (+10)sebelum dan sesudah terjadinya teror teror bom Thamrin dapat dilihat padabom Thamrin mengalami fluktuasi, ini Tabel 5.terlihat pada 3 hari sebelum dan 3 harisesudah teror bom Thamrin yang nilaiTabel 5 Uji Beda Harga Saham LQ-45 Secara Keseluruhan Sebelum dan Sesudah Teror Bom Thamrin Paired Differences Mean 95% Confidence Interval Sig.(2 Tailed) of the Difference T DF Lower UpperPair 1 HS sesudah –HS -436.467 -1691.413 818.847 -.701 44 .487SebelumSumber : Hasil Uji beda Berdasarkan Tabel 5 dapat Uji Beda Aktivitas Volumedilihat bahwa dari hasil pengujian Perdaganagan Sahamsecara keseluruhan (akumulatif) hargasaham 10 hari sebelum dan 10 hari Uji beda volume perdagangansesudah peristiwa teror bom Thamrinnilai signifikansinya lebih besar dari saham dilakukan untuk mengetahui(0,05), yaitu (0,487 > 0,05), dengandemikian H1 ditolak. Artinya, bahwa apakah terdapat perbedaan yangsecara pengujian stastistik secarakeseluruhan (akumulatif) tidak terdapat signifikan antara harga saham sebelumperbedaan yang signifikan pada hargasaham 10 hari sebelum dan 10 hari dan sesudah peristiwa teror bomsesudah teror bom Thamrin. thamrin pada saham yang tergabung dalam saham LQ-45. Data yang diujibedakan adalah volume perdagangan saham perusahaan sampel sebelum dan sesudah teror bom, 160

dengan tingkat probabilitas sebesar volume perdagangan saham pada(α=0.05). Analisa data menggunakan uji sampel penelitian, selama 10 haribeda wilcoxon signed rank-test karena sebelum (-10) dan 10 hari sesudah (+10)data berdistribusi tidak normal. teror bom. Hasil pengujiannya adalahPengujian dilakukan pada aktivitas sebagai berikut :Tabel 6. Uji Beda Aktivitas Volume Perdagangan Saham LQ-45 Sebelum dan Sesudah Teror Bom Thamrin Test Statisticsc Tvaplus1 Tvaplus2 Tvaplus3 Tvaplus4 Tvaplus5 Tvaplus6 Tvaplus7 Tvaplus9 Tvaplus10 - - - - - - - Tvaplus8 - - - Tvamin1 Tvamin2 Tvamin3 Tvamin4 Tvamin5 Tvamin6 Tvamin7 Tvamin8 Tvamin9 Tvamin10Z -2.965a -1.339a -.841b -.960b -1.887b -.863a -1.014b -1.686b -.363b -4.964bAsymp. Sig. .003 .181 .400 .337 .059 .388 .311 .092 .717 .000(2-tailed)a) Based on negative ranks b). Based on positive ranks. c) Wilcoxon Signed Ranks TestSumber : Hasil Uji beda Berdasarkan Tabel 6 diatas aktivitas volume perdagangan saham 10dapat dilihat dari hasil pengujian hari sebelum dan 10 hari sesudah teroraktivitas volume perdagangan saham bom Thamrin. Nilai Z yang didapatsebelum dan sesudah peristiwa teror sebesar -4,964b, b disisni menunjukkanbom Thamrin hanya terdapat 2 hari positif, yang artinya bahwa rata-ratayang nilai signifikansinya lebih kecil dari aktivitas volume perdagangan 10 hari( 0,05), yaitu pada 1 hari sebelum dan 1 sebelum dan 10 hari sesudah teror bomhari sesudah teror bom Thamrin yang mengalami kenaikan, hal ini terjadinilai signifikanya (0,003 < 0,05), dengan karena pada 10 hari sebelum dan 10demikian H2 diterima. Artinya, bahwa hari sesudah teror bom, pasar sudahsecara pengujian stastistik terdapat tidak merespon lagi peristiwa teror bomperbedaan yang signifikan pada Thamrin. Secara keseluruhan tidakaktivitas volume perdagangan saham 1 terdapat perbedaan yang signifikanhari sebelum dan 1 hari sesudah teror pada aktivitas volume perdaganganbom Thamrin. Nilai Z yang didapat saham sebelum dan sesudah teror bomsebesar -2.965a, a disisni ini Thamrin karena hanya ada 2 hari yangmenunjukkan negatif, yang artinya nilai signifikannya lebih kecil dari 0,05bahwa rata-rata aktivitas volume dari 10 hari waktu pengamatan, danperdagangan 1 hari sebelum dan 1 hari hanya 1 hari sebelum dan 1 harisesudah teror bom mengalami sesudah teror aktivitas volumepenurunan. Penurunan aktivitas volume perdagangan saham merespon negatifperdagangan ini disebabkan oleh teror peristiwa teror bom Thamrin.bom merupakan peristiwa yang bersifat Adapun hasil penelitan secaranegatif membuat para investor tidak keseluruhan (akumulatif) selama 10 haribanyak melakukaan aksi jual beli sebelum (-10) dan 10 hari sesudah (+10)sehingga aktivitas volume perdagangan teror bom dapat dilihat pada Tabel 7 .menurun. Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat Pada 10 hari sebelum dan 10 bahwa dari hasil pengujian secarahari sesudah teror bom Thamrin nilai keseluruhan (akumulatif) aktivitassignifikanya (0,000 < 0,05), dengan volume perdagangan saham 10 haridemikian H2 diterima. Artinya, bahwa sebelum dan 10 hari sesudah peristiwasecara pengujian stastistik terdapat teror bom Thamrin nilai signifikansinyaperbedaan yang signifikan pada lebih besar dari ( 0,05), yaitu (0,990 > 161

0,05), dengan demikian H2 ditolak. statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada harga saham 3 dan 5Artinya, bahwa secara pengujian hari sebelum dan sesudah teror bom Thamrin. Sedangkan pada 7 hari keatas,stastistik secara keseluruhan yaitu pada 7 hari, 8 hari, 9 hari, dan 10 hari sebelum dan sesudah teror bom(akumulatif) tidak terdapat perbedaan Thamrin harga saham mulai kembali normal, secara pengujian statistik hargayang signifikan pada aktivitas volume saham 7 hari, 8 hari, 9 hari, dan 10 hari sebelum dan sesudah teror bomperdagangan saham 10 hari sebelum Thamrin tidak mengalami perbedaan yang signifikan.dan 10 hari sesudah teror bom Secara kesuluruhan diawalThamrin. terjadi teror bom Thamrin terdapat perbedaan yang signifikan pada hargaTabel 7. Uji Beda Aktivitas Volume Perdagangan saham sebelum dan sesudah teror bom,Saham LQ-45 Secara Keseluruhan Sebelum dan hal ini dapat dilihat dari hasil ujiSesudah Teror Bom Thamrin Test Statisticsb hipotesis pada harga saham 1 hari, 2 hari , 4 hari dan 6 hari sebelum dan TVAsebelum – sesudah teror bom Thamrin, Sedangkan TVAsesudah pada 7 hari keatas, yaitu pada 7 hari, 8 hari, 9 hari, dan 10 hari sebelum danZ -.013a sesudah teror bom Thamrin harga saham tidak mengalami perbedaanAsymp. Sig. (2-tailed) .990 yang signifikan.a. Based on positive ranks. Pasar Modal Efisien Bentuk Setengah Kuat (Fama 1998)b. Wilcoxon Signed Ranks Test menyatakan bahwa bentuk setengah kuat merupakan event study yangSumber : Hasil Uji beda dimana harga mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan secaraHarga Saham relevan. Artinya, harga pasar saham Berdasarkan hasil uji hipotesis yang dapat dibentuk sekarang ini telah berisikan informasi masa laluyang telah dilakukan dari hasil ditambahkan dengan semua informasipengujian harga saham sebelum dan publik. Pada bentuk pasar efisien inisesudah peristiwa teror bom Thamrin adanya return tidak normal di sekitardapat dilihat bahwa terdapat 4 hari peristiwa suatu peristiwa merupakanyang nilai signifikansinya lebih kecil dari representasi terhadap respon yang( 0,05), yaitu pada 1 hari sebelum dan 1 diberikan pasar dari peristiwa. Pasarhari sesudah teror bom Thamrin yang efisien dalam bentuk setengah kuatnilai signifikanya (0,049 < 0,05), pada 2 terjadi apabila semua informasi yanghari sebelum dan 2 hari sesudah teror ada dapat terserap atau dapat diresponbom Thamrin nilai signifikanya (0,040 < dengan cepat oleh pasar. Penelitian ini0,05), pada 4 hari sebelum dan 4 hari sejalan dengan teori tersebut, Padasesudah teror bom Thamrin nilai penelitian ini terdapat perbedaan hargasignifikanya (0,035 < 0,05), dan pada 6 saham sebelum dan sesudah teror bomhari sebelum dan 6 hari sesudah teror Thamrin. Hal ini terjadi karena pasarbom Thamrin nilai signifikanya (0,017 < merespon cepat peristiwa teror bom0,05) Artinya, bahwa secara pengujian Thamrin, dimana pasar meresponstastistik terdapat perbedaan yangsignifikan harga saham pada 1,2,4,6hari sebelum dan sesudah teror bomThamrin. Sebenranya harga sahamsebelum dan sesudah terjadinya terorbom Thamrin mengalami fluktuasi, initerlihat pada 3 hari sebelum dan 3 harisesudah teror bom Thamrin yang nilaisignifikanya (0,070 > 0,05), pada 5 harisebelum dan 5 hari sesudah teror bomThamrin yang nilai signifikanya (0,102 >0,05), Artinya, bahwa secara pengujian 162

negatif peristiwa teror bom Thamrin. Thamrin. Secara keseluruhan tidakKandungan informasi dalam peristiwateror bom Thamrin merupakan suatu terdapat perbedaan yang signifikanberita buruk (bad news) bagi pasarmodal. pada aktivitas volume perdagangan Penelitian ini sejalan dengan saham sebelum dan sesudah teror bompenelitian Nurwanto (2004) dimanaberdasarkan uji statistik terhadap rata- Thamrin karena hanya ada 2 hari nilairata abnormal return, ditemukanadanya rata-rata abnormal return pada signifikannya lebih kecil dari 0,05 dariketiga peristiwa pemboman, terlihatdari hari pengamatan didapat abnormal 10 hari waktu pengamatan, dan hanya 1return yang negatif. Hal ini tidak sejalandengan penelitian Gunistiyo (2003) hasil hari sebelum dan 1 hari sesudah terorpenelitiannya menemukan bahwaperistiwa teror bom Bali tidak aktivitas volume perdagangan sahammengakibatkan perbedaan harga sahamyang signifikan sebelum dan sesudah merespon negatif peristiwa teror bomterjadinya ledakan bom. Thamrin. Namun dari hasil pengujianharga saham secara keseluruhan Dari hasil uji hipotesis aktivitas(akumulatif) selama 10 hari sebelumdan 10 hari sesudah peristiwa teror volume perdagangan saham secarabom Thamrin nilai signifikansinya lebihbesar dari ( 0,05), yaitu (0,487 > 0,05), keseluruhan (akuulatif) selama 10 haridengan demikian H1 ditolak. Artinya,bahwa secara pengujian stastistik sebelum dan 10 hari sesudah peristiwasecara keseluruhan (akumulatif) tidakterdapat perbedaan yang signifikan teror bom Thamrin nilai signifikansinyapada harga saham secara keseluruhanselama 10 hari sebelum dan 10 hari lebih besar dari ( 0,05), yaitu (0,990 >sesudah teror bom Thamrin. 0,05), dengan demikian H2 ditolak.Aktivitas Volume Perdagangan Saham Berdasarkan hasil uji hipotesis Artinya, bahwa secara pengujiandapat dilihat dari aktivitas volume stastistik secara keseluruhanperdagangan saham sebelum dansesudah peristiwa teror bom Thamrin (akumulatif) tidak terdapat perbedaanhanya terdapat 2 hari yang nilaisignifikansinya lebih kecil dari ( 0,05), yang signifikan pada aktivitas volumeyaitu pada 1 hari sebelum dan 1 harisesudah teror bom Thamrin yang nilai perdagangan saham secara keseluruhansignifikanya (0,003 < 0,05), dan pada 10hari sebelum dan 10 hari sesudah teror selama 10 hari sebelum dan 10 haribom Thamrin nilai signifikanya (0,000 <0,05), artinya, secara pengujian sesudah teror bom Thamrinstastistik terdapat perbedaan yangsignifikan pada aktivitas volume Signalling Theory (Jogiyantoperdagangan saham selama 1 hari dan10 hari sebelum dan sesudah teror bom 2003), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik (good news) atau signal buruk (bad news). Dalam penelitian ini informasi yang terjdi adalah bad news. Karana peristiwa teror bom bukanlah signal yang baik bagi pelaku pasar. Teori tersebut tidak sejalan dengan penelitian ini, hal ini tercermin dari aktivitas volume perdagangan saham yang secara keseluruhan tidak mengalami perbedaan pada sebelum dan sesudah 163

teror bom Thamrin. Hal ini terjadi 3. Terdapat perbedaan yang signifikankarena investor tidak panik dan tidak pada aktivitas volume perdaganganmelakukan penjualan saham yang saham 1 hari sebelum dan 1 hariberlebihan, mereka cenderung sesudah dan 10 hari sebelum dan 10menahan (tidak melakukan penjualan hari sesudah peristiwa teror bomsaham) yang mereka milik. Selain itu Thamrin.saham LQ-45 merupakan saham yangmemiliki liquiditas yang tinggi, sehingga 4. Secara keseluruhan (akumulasi) dariperistiwa teror bom Thamrin tidak pengujian 10 hari sebelum dan 10mempengaruhi aktivitas volume hari sesudah teror bom Thamrinperdagangan saham. tidak terdapat perbedaan yang signifikan aktivitas volume Hasil penelitian ini perdagangan saham pada saham LQ-menunjukkan bahwa adanya peristiwa 45 sebelum dan sesudah teror bomteror bom Thamrin tidak Thamrin.mempengaruhi aktivitas volumeperdagangan saham pada perusahaan- Saranperusahaan yg tergabung dalam saham 1. Peristiwa teror bom ThamrinLQ-45. Penelitian ini sejalan denganpenelitian Gita (2003) yang menyatakan memiliki pengaruh negatif pada awalbahwa tidak ada pengaruh pristiwa bom terjadinya teror bom, namun diakhirjw marriot terhadap Aktivitas volume periode pengamatan peristiwa terorperdagangan, sebelum peristiwa tidak bom Thamrin, saham mulaiberbeda dengan sesudah peristiwa. Ini menunjukkan hal positif. Sehingaberarti informasi peledakan bom di JW diharapkan para investor tidakMarriott 5 Agustus 2003 tidak terburu-buru melakukan aksi jualmempengaruhi volume perdagangan dan lebih rasional dalam mengambilsaham di Bursa Efek Jakarta. keputusan. Bagi calon investor yang ingin membeli saham perusahaan,KESIMPULAN DAN SARAN dapat menjadi bahan pertimbanganKesimpulan yang diharapkan dapat menjadi sumber informasi sebelum1. Secara keseluruhan pada awal mengambil keputusan yang tepat terjadi teror bom Thamrin terdapat dalam investasi yang akan dilakukan. perbedaan yang signifikan harga 2. Bagi peneliti selanjutnya disarankan saham pada saham LQ-45 sebelum memperluas sampel penelitian, dan sesudah teror bom Thamrin. periode penelitiannya. Karena pada Perbedaan harga saham yang penelitian ini sampel yang diambil signifikan terjadi pada 1 hari adalah saham LQ-45 dan periode sebelum dan 1 hari sesudah, 2 hari penelitianya 10 hari, pada penelitian sebelum dan 2 hari sesudah, 4 hari selanjutnya peneliti diharapkan sebelum dan 4 hari sesudah, dan 6 dapat memperluas sampel penelitian hari sebelum dan 6 hari sesudah dengan mengambil sampel pada teror bom Thamrin. saham-saham yang lain dan periode yang lebih lama lagi hal ini bertujuan2. Namun dari hasil pengujian secara untuk melihat pengaruh yang lebih keseluruhan (akumulasi) 10 hari luas lagi dari dampak suatu peristiwa sebelum dan 10 hari sesudah teror yang akan diteliti. bom Thamrin tidak terdapat 3. Penelitian tentang event study yang perbedaan yang signifikan pada berkaitan dengan peristiwa non harga saham sebelum dan sesudah ekonomi seperti politik, teror, teror bom Thamrin. kerusuhan belum banyak dilakukan 164

untuk itu peneliti menyarankan agar Bisnis untuk Akuntansi danpenelitian yang dilakukanselanjutnya melakukan penelitian Manajemen, Edisi Pertama,yang berkaitan dengan peristiwapolitik yang banyak terjadi di BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta.Indonesia hal ini bertujuan untukmemperluas lagi penelitian tentang Jogiyanto. 2003. Teori Portofolio danevent study yang berkaitan denganperistiwa non ekonomi dan Analisis Investasi. Edisi Ketiga,mengetahui dampak-dampak dariperistiwa-peristiwa non ekonomi BPFE. Yogyakarta.yang banyak terjadi di Indonesia. __________. 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi . BPFE UGM. Yogyakarta Kabela, Krisdumar dan Hidayat, Taufik,2009. Pengaruh Peristiwa pemilu presisen dan wakil presiden 8 Juli 2009 DiDAFTAR PUSTAKA Indonesia Terhadap Abnormal Return Di Bursa Efek Jakarta.Alkaff, Maria Qiftahiyah . 2010. Skripsi. Jurnal Manajemen, Vol 5 (2).Pengaruh Pemilihan Presiden RI Kompas.com 17 Januari 2016. IniTahun 2009 Terhadap Harga Kronologi Teror Bom JakartaSaham dan Volume dari Detik ke DetikPerdagangan Saham Nurwanto 2004. Reaksi Pasar ModalPerusahaan Di Bursa Efek terhadap Bom Bali, BomIndonesia (Event Study pada Makassar dan BomSaham Anggota JII). Fakultas marriott(studi kasus di BEJEkonomi Universitas dengan produksi saham-sahamPembangunan Nasional Veteran Lq45). Universitas Diponorogo.Jawa Timur. SemarangArikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Primastono, Indra, 2006,“AnalisisPenelitian Suatu Pendekatan Perbandingan PeristiwaPraktek, Jakarta: Pengumuman Kabinet GotongPenerbit Rineka Cipta. Royong dan Kabinet IndonesiaAzwar, S. (2007). Metode Penelitian. Bersatu Terhadap Reaksi HargaYogyakarta: Pustaka Pelajar. Saham dan Likuiditas Saham:Fama, Eugene F., May, 1998. Efficient Studi Kasus Saham LQ 45 di PT.market. Long-term returs, and Bursa Efek Jakarta”, Tesisbehavioral finance. Journal Program Studi Magisterof Finance Economics. Manajemen UniversitasGita Danupranata dan Edy Wahyoto Diponegoro, Semarang.2003. Reaksi harga dan volume www.Antara news.com. kronologiperdagangan saham di bursa serangan dan ledakan terorefek jakarta terhadap peristiwa bom Thamrin. Di aksespeledakan bom di jw pada tanggal 15 februari 2016.marriott 5 agustus 2003. Jurnal www.idx.co.id. Saham Lq 45 periodepenelitian. agustus-januari 2016. DiaksesGunistiyo 2003 perilaku harga dan pada tanggal 15 februarivolume perdagangan saham 2016.(Studi Dampak Peledakan Bom www.liputan6.com dampak ledakandi Legian Kuta Bali Pada Saham disarinah terhadap ekonomi.LQ 45 di Bursa Efek Jakarta) Diakses 2 Mei 2016Indriantoro, dan Supomo,2002.Metodologi Penelitian 165

Analisis Komoditi Unggulan Tanaman Pangan Dalam Rangka Perencanaan Kawasan Agropolitan di Kota Padang Ilham Martadona1, Yeti Lis Purnamadewi2, Mukhamad Najib31)Mahasiswa Program Magister Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, IPB 2)Staf Pengajar Program Studi Ilmu Ekonomi, Departemen Ilmu Ekonomi, IPB 3)Staf Pengajar Departemen Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB [email protected] AbstractPadang has a potential natural resources and land to develop the agricultural commodities,especially food crops which has total area of 23,158 hectares or 69.30 percent of total agriculturalland. There are several types of food crops (rice, maize, cassava, sweet potatoes and peanuts)that cultivated in Padang and scattered in some producing regions. Based on the background ofthe study the purpose of this study are to analyze leading commodity of crops in order to developagropolitan in Padang. The analytical method is Location Quotient (LQ). Based on LQ analysisshows that crop become the leading commodity in Padang is paddy. Therefore paddy is the maincommodity in the development of agropolitan.Keywords: Agropolitan, maincommodity, regional developmentPENDAHULUAN Sektor pertanian memiliki Sebagian besar luas wilayahnya sangatperanan yang sangat penting dalamproses pembangunan. Peranan sektor potensial untuk budidaya pertanianpertanian selain meningkatkanpersediaan pangan juga dapat yaitu sebesar 23,158 hektar (ha) ataumeningkatkan pendapatan melaluikegiatan ekspor. Menurut Rustiadi et al 69.30 persen dari luas wilayahnya(2009) jika sektor pertanian dapatberperan sebagai leading sector maka sebesar 33,414.34 ha (Tabel 1). Dariakan mempunyai kaitan ke-depan(forward-linkage) dan kaitan ke- lima sub sektor pertanian yang adabelakang (backward-linkage). KotaPadang memiliki sumberdaya alam dan (tanaman pangan, perkebunan,lahan yang potensial untuk komoditiunggulannya yang bernilai komersial. perternakan, kehutanan, dan perikanan), yang memiliki andil terbesar dalam perekonomian Kota Padang adalah pertanian tanaman pangan dengan komoditasnya meliputi padi dan palawija, sayuran dan tanaman buah- buahan.Tabel 1 Luas lahan menurut jenis penggunaannya di Kota Padang tahun 2012Jenis Penggunaan Luas Lahan (Ha) Persentase (%) 20.67Perumahan 6,907.62 0.78 2.10Perusahaan 261.06 2.14 69.30Industri 702.25 0.08 4.51Jasa 715.32 0.04 0.35Pertanian 23,158.00 100.00Perternakan 26.83Semak 1,508.00Tanah Kosong 15.26Rawa 120.00Total 33,414.34Sumber : BPS Kota Padang 2013 166

Berdasarkan data BPS 2013 dalam ton pada tahun 2009 menjadi 79,197selang waktu 2008-2012, pertanian ton, yang diikuti peningkatan luastanaman pangan merupakan yang panen sebesar 3,862 ha menjadi 14,295terluas dan produksi yang terbesar ha. Sedangkan pada tahun 2012diantara tanaman lainnya (sayuran & merupakan yang terbesar selama limabuah-buahan). Produksi dan luas panen tahun terakhir (2008-2012) dengantanaman pangan di Kota Padang produksi sebesar 81,741 ton dengancenderung mengalami fluktuasi setiap luas panen sebesar 15,143 ha yangtahunnya. Pada tahun 2008 merupakan mengalami peningkatan produksiproduksi dan luas panen terkecil sebesar 21,018 ton pada tahun 2012,sebesar 60,723 ton dengan luas panen dengan peningkatan luas panen sebesarsebesar 10,433 ha, mengalami 4,710 ha menjadi 15,143 ha (Tabel 2).peningkatan produksi sebesar 18,474Tabel 2. Jenis-jenis tanaman di Kota Padang tahun 2008-2012Jenis tanaman 2008 2009 2010 2011 2012Tanaman Pangan 14,295 13,741 13,894 15,143 79,197 73,495 81,209 81,741Luas Panen (Ha) 10,433 1.256 907 1,185 1,288Produksi (Ton) 60,723 9,321 4,995 6,238 7,843Sayuran 1,055.93 812.83 612.26 773.64 13,647.61 7,974.60 8,492.40 7,570.10Luas Panen (Ha) 1,142Produksi (Ton) 5,258Buah-buahanLuas Panen (Ha) 1,115.32Produksi (Ton) 12,609.80Sumber : BPS Kota Padang 2013METODE PENELITIAN membandingkan antara kemampuan sektor yang sama pada wilayah yang Penelitian ini dilaksanakan di Kota lebih luas. Data yang digunakan dalamPadang, Provinsi Sumatera Barat yang analisis LQ adalah data luas panen darimencakup 11 kecamatan yaitu masing-masing komoditas tanamanKecamatan Bungus Teluk Kabung, Lubuk pangan yang dikeluarkan oleh BPS.Kilangan, Lubuk Begalung, Padang Komoditas tanaman pangan yangSelatan, Padang Timur, Padang Barat, dianalisis terdiri dari padi sawah,Padang Utara, Nanggalo, Kuranji, Pauh, jagung, ubi kayu, ubi jalar, dan kacangdan Koto Tangah. Lokasi penelitian tanah.dipilih secara sengaja (purposive)dengan pertimbangan Kota Padang Keterangan : Pi = luas panen komoditasakan mengembangkan program i pada tingkat kota; Pt = luas panenagropolitan. Penelitian dilaksanakan komoditas total kota; Pi = luas panenpada bulan Bulan Juni-Juli 2014. komoditas i pada tingkat provinsi; Pt =Penelitian ini hanya menggunakan data luas panen komoditas total provinsi.sekunder meliputi luas panen masing-masing komoditas tanaman pangan. Jika LQ > 1 berarti lajuAnalisis data yang digunakan adalah pertumbuhan komoditas i di daerah kanalisis Location Quotient (LQ), metode adalah lebih besar bila dibandingkanLQ digunakan untuk mengetahui dengan laju pertumbuhan komoditaspotensi dari suatu aktivitas ekonomi yang sama dalam perekonomian daerahyang merupakan indikasi sektor basis p. Maka, komoditas i adalah komoditasdan non basis, dengan cara 167

basis untuk dikembangkan lebih lanjut ubi jalar, dan kacang tanah.oleh daerah k. Berdasarkan hasil analisis LQ terhadap luas panen komoditas tanaman pangan Jika LQ < 1 berarti laju wilayah Kota Padang, didapati tanamanpertumbuhan komoditas i di daerah k padi dan ubi kayu mempunyai indikasiadalah lebih kecil dibandingkan dengan sebagai komoditi unggulan ataulaju pertumbuhan komoditas yang sama potensial di wilayah tersebut. Komoditidalam perekonomian daerah referensi tersebut memiliki nilai LQ lebih besarp. Maka, komoditas i bukan sector dari satu (LQ > 1). Sedangkan tanamanbasis. pangan lainnya yang diusahakan yaitu jagung, ubi jalar, dan kacang tanah Jika LQ = 1 berarti laju masih belum berpotensi untuk dijadikanpertumbuhan komoditas i di daerah k seagai komoditi unggulan sehinggaadalah sama dengan laju pertumbuhan belum mampu memenuhi kebutuhankomoditas yang sama dalam masyarakatnya sendiri sehingga harusperekonomian daerah p (Oksatriandhi mengimpor dari luar daerah (LQ < 0.75),2014; Baladina et al. 2013). untuk komoditas ubi kayu masih tergolong non basis karena nilai LQ yangHASIL DAN PEMBAHASAN didapatkan sama dengan satu (LQ=1). Tanaman pangan yangdiusahakan ialah padi, jagung, ubi kayu,Tabel 3. Hasil Analisis LQ Komoditi Tanaman Pangan Kota Padang Tahun 2012 Komoditi Nilai LQ Keterangan Padi 1.20 Basis Jagung 0.00 Ubi kayu 1.06 Non Basis Ubi jalar 0.19 Non Basis Kacang tanah 0.05 Non BasisSumber : BPS Kota Padang 2013 (data diolah) Non Basis Komoditi unggulan dapat trend luas panen. Semakin tinggi luasdiartikan sebagai komoditi yang panen suatu komoditas maka semakinmempunyai nilai tambah dan produksi tinggi pula aktivitas budidayayang besar sehingga dapat mendorong komoditas itu oleh petani. Trend luaspeningkatan pertumbuhan ekonomi panen dari tahun 2008 sampai dengandaerah; komoditi yang mempunyai tahun 2012 menunjukkan bahwamultiplier effect yang besar terhadap komoditas yang paling banyakkegiatan perekonomian lain dan dibudidayakan adalah padi denganpengembangan kawasan sekitarnya, luas panen pada tahun 2012 sebesarserta komoditi yang mempunyai 14,945 ha dan rata-rata luas panenpermintaan pasar yang tinggi sebesar 13,349 ha. Ubi kayu(Soekartawi, 2005). Nilai LQ juga menempati urutan kedua dengan luasmenunjukkan bahwa wilayah tersebut panen pada tahun 2012 sebesar 159menghasilkan produksi yang ha dan rata-rata luas panen sebesarmemungkinkan untuk diekspor ke 166 ha, diikuti oleh tanaman ubi jalarwilayah lain sehingga, diharapkan dengan luas panen pada tahun 2012mampu mendatangkan pendapatan sebesar 23 ha dan rata-rata luas panenwilayah. Tingkat aktivitas budidaya sebesar 39.4 ha.tanaman pangan dapat dilihat dari Tanaman padi merupakan 168

komoditas tanaman pangan paling Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2012 tentang Pangandominan yang dibudidayakan di Kota bahwa pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atasPadang, hampir semua kecamatan ketersediaan pangan di daerah dan pengembangan produksi pangan lokalmembudidayakannya kecuali di daerah dimana penyediaan pangan bertujuan untuk memenuhi kebutuhanKecamatan Padang Barat. Tahun 2012 dan konsumsi pangan bagi masyarakat, rumah tangga, danluas panen padi sawah sebesar 14,945 perseorangan secara berkelanjutan.ha dengan produksi 78,699 tonmengalami kenaikan jika dibandingkantahun 2011 dengan luas panen 13,687ha dengan produksi sebesar 74,566ton. Pengembangan komoditiunggulan padi sesuai dengan amanatGambar 1. Peta produksi wilayah sentra produksi padi di Kota Padang tahun 2012Wilayah-wilayah yang menjadi sentra berkerja sebagai petani sebanyakproduksi padi di Kota Padang, dimana 12,260 RTP.wilayah tersebut memiliki jumlahproduksi padi yang terbesar. Tiga KESIMPULANkecamatan yang menjadi sentraproduksi padi di Kota Padang adalah Berdasarkan hasil dan analisisKecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan yang telah dilakukan, maka kesimpulanPauh (Gambar 1). Sektor pertanian dari penelitian mengenai “Analisismerupakan mata pencaharian Komoditi Unggulan Tanaman Pangansebahagian masyarakat di Kecamatan Dalam Rangka Perencanaan KawasanKoto Tangah, Kuranji, dan Pauh. Sekor Agropolitan di Kota Padang” adalahpertanian baik sebagai sumber bahwa tanaman padi merupakankonsumsi masyarakat dan penghasilan komoditi unggulan untuk kemudianatau sebagai penyedia lapangan dijadikan komoditi utama dalampekerjaan. Jumlah rumah tangga di pengembangan kawasan agropolitan diketiga kecamatan tersebut yang Kota Padang. Hal ini terlihat dari nilai LQ 169


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook