Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Jurnal Bisnis Tani Edisi April 2017

Jurnal Bisnis Tani Edisi April 2017

Published by Irwandi Aw, 2017-06-14 20:05:20

Description: Jurnal BISNIS TANI Edisi April 2017

Search

Read the Text Version

b. Skim-II 50 % dana langsung dari DAFTAR PUSTAKApetani Rp. 17.500.000,- dan 50 Anonymous a, 2016, Mitos VS Fakta% dari kredit bank Rp. Industri Minyak Sawit Indonesia17.500.000,- bunga bank Dalam Isu Sosial, Ekonomi dananuitas selama masa konstruksi Lingkungan Global, Bogor, Palm12 % Rp. 6.917.656,-, maka total Oil Agribusiness Stategic Policykebutuhan dana peremajaan Institute (PASPI).Rp. 66.917.656,- per Ha. Anonymous b, 2016, Petunjukc. Skim-III dana petani 100 % dari Mendapatkan Dana Hibahkredit perbankan Rp. Peremajaan Perkebunan Kelapa35.000.000,- bunga bank Sawit Rakyat, Jakarta, Badananuitas selama masa konstruksi Pengelola Dana Perkebunan12 % Rp. 13.835.311,-, maka Kelapa Sawit (BPDP Sawit) –total kebutuhan dana Indonesia Estate Corp Fund forperemajaan Rp. 73.835.311,- Palm Oil / IECF Palm Oilper Ha. Dishutbun Aceh Barat, 2015, Data3. Ketiga pola skim pendanaan Pokok Tanaman Perkebunanmemiliki peluang yang sama untuk Kabupaten Aceh Barat,dilaksanakan tergantung pada Meulaboh, Dishutbun Acehkemampuan keuangan petani, Barat.namun pola skim-III yang paling Fahmi, Irham, 2014, Manajemenbesar biayanya. Keuangan Perusahaan dan4. Secara kelayakan proyek Pasar Modal, Jakarta, Mitraberdasarkan kreteria NPV, IRR, B/C Wacana Media.Ratio, Payback Period dan BEP Fitri, M, 2016, Peranan Dana PihakProduk ke tiga skim layak Ketiga dalam Kinerja Lembagadilaksanakan karena nilai – nilai Pembiayaan Syariah dan Faktorperhitungannya berada di dalam – faktor yangpada kreteria kelayakan proyek. Mempengaruhinya, Jurnal Economica Volume VII EdisiSaran 1/Mei 2016, Fakultas Ekonomi1. Agar program peremajaan kebun dan Bisnis Islam, UIN Walisongo Semarang kelapa sawit Kopermas Tuah Jumingan, 2011. Studi Kelayakan Bisnis. Meusapat dapat terrealisasi maka Bumi Aksara. Jakarta pihak Koperasi perlu lebih aktif dan Kashmir dan Jakfar. 2010. Studi intensif dalam pengurusan Kelayakan Bisnis. Kencana pendanaan baik pada BPDP Sawit Prenada Media. Grup. Jakarta maupun pihak perbankan yang Mulyana, A, 2007, Penetapan Harga ditunjuk sebagai bank pelasana. Tandan Buah Segar Kelapa2. Meskipun secara perhitungan Sawit di Sumatera Selatan dari kelayakan proyek layak dilaksanakan Prespektif Pasar Monopoli namun agar pelaksanaannya dapat Bilateral, Jurusan Sosial berlangsung dengan baik maka perlu Ekonomi Pertanian Fakultas perencanaan, pelaksanaan dan Pertanian dan Program pengawasan yang sesuai dengan Pascasarjana Universitas standar peremajaan kebun yang Sriwijaya, Palembang. baik. 36

Sholeh, MN, 2014, Peran Penjadwalan,dan Pengendalian dalamKesuksesan Proyek Konstruksi,Studi Kasus: ProyekPembangunan Gedung KuliahUtama Fakultas TeknikUniversitas Diponegoro,Manajemen KonstruksiMagister Teknik Sipil UniversitasDiponegoro, SemarangSutarta, E.S dan Rahutomo, S. 2010.New Standart for FFB Yield ofIOPRI’S Planting MaterialsBased on Land SuaitabilityClass. Medan. Indonesian OilPalm Research Institute (IOPRI).Tampubolon, M, 2005, ManajemenKeuangan, Edisi Pertama,Jakarta: Ghalia IndonesiaPrawita, Desi, 2015, Bea Keluar danPungutan Dana Perkebunanatas Ekspor Kelapa Sawit, CPOdan Produk Turunannya, WartaBea Cukai, Volume 47, Nomor 9September 2015.Warnaningsih, MK, 2011, AnalisisModernitas SikapKewirausahaan danHubungannya denganKeberhasilan Unit Usaha KecilTahu Serasi Bandungan,Departemen Agribisnis IPB,Bogor. 37

ANALISIS EFESIENSI PENGGUNAAN PUPUK DAN PESTISIDA PADA USAHA TANI SEMANGKA DI KECAMATAN MUTIARA TIMUR KABUPATEN PIDIE Mujiburrahmad 1) 1)Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Unsyiah ABSTRACTFarming is done by the aim to get high income and the amount of production cost is influenced byproduction factors such as seeds, fertilizer and labor. The Farmers can effectively cost productionin the use of production factors. This research was conducted with the aim to knowing efficiencyof Urea, SP-36, NPK and pesticide are used in watermelon farming. This study used survey methodwith cluster sampling sampling, sample size 50% of population (53 HH) or 27 HH. The dataanalysis method uses multiple linear regression production and efficiency test. The results showedthat the ratio between the marginal product value (NPM) and urea fertilizer production factorwas bigger than one (87.29), the SP-36 fertilizer was bigger than one (47,15), NPK fertilizer wasbigger and one (79), pesticide was bigger than one (43,14) so that the use of fertilizer andpesticide production factor not yet efficient, the efforts to increase profits can be done byincreasing the allocation of fertilizer and pesticide production factors in watermelon farming.Watermelon farmers can increase the use of inefficient production factors to increaseunoptimized productionKey Words: Fertilizer, Pesticide, Farming and WatermelonPENDAHULUAN Semangka mempunyai daya tarik khusus karena buahnya yang memilikiSektor pertanian mempunyai rasa segar dan mengandung air lebihperanan penting dalam perekonomian kurang 92 %, walaupun nilai gizinyanasional, di antaranya dalam termasuk rendah namun buah inimemperluas lapangan kerja, banyak diminati masyarakat (Kalie,meningkatkan pendapatan petani, serta 1996). Budidaya tanaman semangka dimeningkatkan pendapatan nasional tanah air masih terbatas untukmelalui penerimaan devisa. memenuhi pasaran dalam negeri meskiPembangunan pertanian di satu sisi tidak tertutup kemungkinan kitadituntut untuk menjamin pendapatan bersaing di pasaran internasional.yang layak bagi petani, sedangkan di sisi Faktor- faktor yang menjadi penyebablain harus mampu menyediakan hasil naik- turunnya harga semangka dipertanian dalam jumlah yang cukup dalam negeri adalah selalu terjadinyadengan harga terjangkau oleh panen serentak sehingga buah di pasarmasyarakat. Salah satu upaya yang dalam keadaan melimpah. Masuknyaditempuh untuk meningkatkan benih semangka impor juga mempunyaipendapatan petani adalah dengan daya tarik tersendiri, sehinggamengusahakan komoditas pertanian semangka mampu merebut pasar buah-yang mempunyai nilai ekonomis tinggi buahan yang sejajar dengan buah -serta mempunyai potensi pasar yang buahan impor jenis lain didatangkancukup besar, baik pasar dalam negeri dan luar negeri. Kenyataan demikianmaupun luar negeri seperti semangka. menjadikan permintaan pasar buahTanaman Semangka memiliki semangka semakin meningkat. Terlebihlama umur tanaman tumbuh sampai saat buah didatangkan pada daerah-buah masak pada kondisi lahan dan daerah penghasil buah yang relatifcuaca normal adalah 70 - 100 hari sejak sedikit, sehingga harganya dapatbibit ditanam (Wihardjo, 1993). 38

melonjak beberapa kali lipat (Wihardjo, METODOLOGI PENELITIAN1993). Penelitian ini akan dilaksanakan Kecamatan Mutiara Timur di Kecamatan Mutiara Timur Kabupatenmerupakan salah satu daerah penghasil Pidie. Penentuan lokasi dilakukansemangka di Kabupaten Pidie. Lahan di secara sengaja (Purposive) denganKecamatan Mutiara Timur sangat cocok pertimbangan bahwa Kecamatanuntuk menanam semangka sehingga Mutiara Timur merupakan daerahsemangka yang ditanam akan dihasilkan produsen semangka. Objek penelitianbuah yang bagus dan berkualitasnya adalah usahatani semangka disehingga dapat meningkatkan Kecamatan Mutiara Timur Kabupatenpendapatan petani. Petani semangka Pidie.yang konsisten menanam semangka diKecamatan Mutiara Timur secara umum Populasi penelitian ini adalahterlihat kesejahtraannya lebih baik petani semangka di Kecamatan Mutiaradibandingkan dengan petani semangka Timur Kabupaten Pidie. Pengambilanyang menanam hanya pada musim sampel penelitian dilakukan secaratertentu saja. Pada saat permintaan cluster sampling. Cluster samplingbuah semangka di pasar tinggi padahal adalah teknik memilih sebuah sampelyang menanam semangka hanya sedikit dan kelompok-kelompok unit-unit yangmaka otomatis harga buah semangka kecil (Nazir, 1983). Tahap pertamamenjadi naik, sehingga petani yang secara acak dipilih 15 % dari 28 desa dikonsisten menanam semangka akan Kecamatan Mutiara Timur yaitu 4 desamendapat keuntungan yang lebih tinggi. yang antara lain Desa Tiba Mesjid, Desa Tiba Raya, Desa Dayah Tanoh dan Desa Tanaman semangka mudah Mesjid Usi, pada 4 desa tersebut 27 KKdibudidayakan dan membutuhkan petani. Tahap selanjutnya memilihwaktu dari awal tanam sampai panen sampel secara random dan berimbang,hanya ± 90 hari. Perkembangan sampel fraction (f) yang digunakanteknologi seperti pupuk dan pestisida adalah 50 % dengan perkataan lain f2yang semakin maju dalam mengatasi 0,5. Untuk lebih jelasnya distribusimasalah pada budidaya semangka sampel dapat di lihat pada Tabel 1.menjadikan tanaman semangkamenjadi semakin diminati untuk Tabel 1. Jumlah Desa, Populasi dan Sampel didibudidayakan oleh petani di Daerah Penelitian Tahun 2015Kecamatan Mutiara Timur. No Desa Jumlah Jumlah Berdasarkan uraian diatas, maka Sampel Sampel*yang menjadi rumusan rnasalah dalam Pertamapenelitian ini adalah apakah (KK)penggunaan pupuk Urea, SP-36, NPK (KK)dan Pestisida pada usahatani Semangkadi Kecamatan Mutiara Timur sudah 1 Tiba Mesjid 9 4efesien? 2 Tiba Raya 53 3 Dayah Tanoh 7 4 Tujuan yang ingin dicapai dalam 4 Mesjid Usi 63penelitian ini adalah untuk mengetahuiefisiensi penggunaan pupuk Urea, SP- Jumlah 27 1436, NPK dan pestisida yang pakai petanidalam usahatani semangka. Keterangan: * Diambil 50% dan sampel tahappertama Sumber: Data primer yang diolah (2016) Metode Analisis Model yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara 39

produksi semangka dengan variabel NPMX = Px atau =1bebasnya dalam penelitian ini adalahmodel fungsi produksi Cobb Douglas. = Px atau =1Fungsi ini ditransformasikan ke dalambentuk linier logaritma natural sehingga Dimana:formulasi produksi usahatani semangka b = elastisitasdi Kecamatan Mutiara Timur dapat Y = Produksi (Kg)dituliskan sebagai berikut: Py = Harga produksi Y (Rp/Kg) X = Jumlah faktor produksi XLnY = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3 + P = Harga faktor produksi X (Rp)β4LnX4 + µ….. (Soekartawi, 2003)Dimana: Kriteria keputusan penelitian iniY = Jumlah produksi semangka adalah: yang dihasilkan sekali masa Jika > 1 maka penggunaan input X panen (Kg/MT). belum efisien. Untuk mencapai efisien,X1 = Jumlah pupuk Urea yang input X harus ditambah. digunakan sekali musim Jika < 1 maka penggunaan input X tidak tanam (Kg/MT). efisien. Untuk mencapai efisien input X perlu dikurangi.X2 = Jumlah pupuk SP-36 yang HASIL DAN PEMBAHASAN digunakan sekali musim tanam (Kg/MT). Karakteristik Responden di DaerahX3 = Jumlah pupuk KCL yang Penelitian digunakan sekali musim tanam Karakteristik petani adalah suatu (Kg/MT). keadaan atau gambaran petani sampelX4 = Jumlah pestisida yang yang terdapat di daerah penelitian yang digunakan dalam sekali meliputi umur, tingkat pendidikan, masa tanam pengalaman dan tanggungan keluarga. (ml/MT). Adapu kondisi rata-rata karakteristikβ0-β2 = Besaran yang akan diduga petani responden dapat dilihat padaµ = Kesalahan (disturbance Tabel 2 di bawah ini. term) Tabel 2. Rata-Rata Karakteristik Petani Responden PenelitianUji efisiensi digunakan untukmelihat apakah input atau faktor No Uraian Satuan Rata-Rataproduksi yang digunakan pada 1 Umur Tahun 40 2 Pendidikan Tahun 10usahatani semangka di KecamatanMutiara Timur, Kabupaten Pidie sudah 3 Pengalaman Tahun 10efisien atau belum. Efisiensi merupakan 4 Tanggungan Jiwa 4 Sumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016upaya penggunaan input sekekecil- Berdasarkan Tabel 2 karakteristikkecilnya untuk mendapatkan produksi petani responden rata-rata berumur 40yang sebesar-besarnya. Efesiensi tahun, masa pendidikan 10 tahun,tercapai apabila perbandingan antara pengalaman dibidang usahatani 10nilai produktivitas marginal (NPMX) tahun dan jumlah tanggungan 4 orang.sama dengan harga input tersebut (PX). Faktor umur sangat erat kaitannya(Nicholson, 1995). Secara matematis dengan kemampuan kerja, petani yangdapat dituliskan sebagai berikut: ebih muda dan sehat mempunyai 40

kemampuan fisik yang lebih kuat dalam dalam suatu bidang usaha maka akanmenjalankan usahatani maupun usaha lebih memahami bidangnya dan akansampingan, sehingga kemampuan kerja lebih rnudah mengatasi kesulitan-dipengaruhi oleh umur. kesulitan yang dihadapi, sehingga akan mempengaruhi pada peningkatan Peranan pendidikan sangatlah usahatani.penting dalam meningkatkan sumberdaya manusia karena pendidikan juga Luas Lahanmerupakan sarana penunjang dalam Luas lahan yang dikelola olehusaha meningkatkan pengetahuan responden dapat dilihat pada Tabel 3.tentang teknologi pertanian. Semakin Data luas lahan tersebut menjelaskantinggi tingkat pendidikan seseorang bahwa sebagian besar sampel memilikimaka semakin banyak mengetahui cara- lahan yang sempit yaitu 0,50 Ha.cara berusahatani yang lebih produktif, Dengan demikian petani semangka dikarena melalui pendidikan petani dapat Kecamatan Mutiara Timur Kabupatenmemperoleh informasi yang dapat Pidie dapat digolongkan sebagai petanimembantu permasalahan dalam yang berlahan sempit.meningkatkan produktivitas usahataninya. Tabel 3. Keadaan Sampel menurut Luas Lahan Besar kecilnya jumlah keluarga No Luas Lahan Jurnlah Persentasedan jumlah tanggungan akan (Ha) (Jiwa) (%)mengakibatkan tingkat keuntunganusaha berfluktuasi. Besarnya jumlah 1 <0.25 9 33,33tanggungan dalam keluarga dapatmembantu usaha tani yiatu 2 0.25 - 0.50 12 44,45meningkatkan pendapatan keluarga.Sebaliknya tanggungan keluarga 3 > 0.50 6 22,22berakibat terhadap peningkatankeuntungan keluarga atau pendapatan Jumlah 27 100,00yang diterima petani sebagai kepalakeluarga, dimana ini mengakibatkan Sumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016naiknya tingkat konsumsi keluarga danakhirnya berpengaruh terhadap Penggunaan Sarana Produksipendapatan bersih. Secara ringkas, penggunaan Begitu pula dengan pengalaman sarana produksi dapat dilihat padadalam menjalankan usahatani akan Tabel 4. Sarana produksi yangsangat menentukan hasil pendapatan digunakan dalam usahatani semangkayang diperoleh, dimana semakin meliputi benih, pupuk urea, SP 36, NPK,berpengalaman petani tentu banyak dan pestisida. Biaya saprodi sebesar Rpmengetahui cara-cara berusaha tani 4.905.215 per hektar. Pupuk merupakanbaik. Semakin lama seseorang bergerak jenis saprodi dengan biaya terbesar yaitu Rp 2.571.779 atau 52,43 persen kemudian pupuk sebesar 27,82 persen dan pestisida sebesar 19,75 persen dan total biaya produksi. 41

Tabel 4. Penggunaan Sarana Produksi pada Usahatani Semangka per Ha di Kecamatan Mutiara Timur, Tahun 2013Jenis Saprodi Kebutuhan Satuan Harga Jumlah Persentase per (Rp) (%) Satuan (Rp)Benih 1,71 Kg 800.000 1.364.417 27,82Pupuk 1.390 Kg 2.000 695.092 14,17Organik 237 Kg 2.500 474.847 9,68Urea 206 Kg 8.500 515.337SP 36 104 Kg 886.503 10,51NPK 18,07Pestisida 4,31 Liter 225.000 969.018 19,75 Jumlah 4.905.215 100,00Sumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016Tenaga Kerja menghitung nilai penyusutan. Nilai Tenaga kerja pada usahatani penyusutan dihitung dengansernangka terdiri dan tenaga kerja luar menggunakan metode garis lurus yaitukeluarga dan tenaga kerja dalam harga pembelian alat dibagi umurkeluarga. Tenaga kerja luar keluarga ekonomis dengan asumsi nilai akhir alatbiasanya digunakan untuk mengerjakan sama dengan nol.pekerjaan olah tanah dan penyiangan,sedangkan tenaga kerja dalam keluarga Bunga Modalbiasanya untuk mengerjakan Usahatani semangka mempenanaman, pemupukan, penyemprotan, biasanya menggunakan tenaga butuhkan sejumlah modal yangkerja dalam keluarga. Penggunaan digunakan untuk sarana produksi dantenaga kerja dapat dinyatakan sebagai membayar tenaga kerja. Jika modalcurahan tenaga kerja. Perhitungan yang digunakan adalah milik petanipenggunaan tenaga kerja di dasarkan maka harus dipertimbangkan balas jasapada HKP atau Hari Kerja Pria. Rata-rata dan modal tersebut pada alternatifpenggunaan tenaga kerja dalam penggunaan usaha yang lain. Kemudian,usahatani semangka di daerah jika modal berasal dan pihak luarpenelitian yaitu sebesar 68,31 HKP per (pinjaman) maka petani harushektar dimana upah yang berlaku di membayar sejumlah jasa (bunga) atasdaerah penelitian sebesar Rp 60.000 modal yang dipinjamnya. Sampel yangper HKP. meminjam pada kelompok SPP (simpan pinjam perempuan) harus membayarAlat-Alat Pertanian bunga sebesan 14 % per tahun. Dari Untuk menunjang kegiatan hasil perhitungan pada penelitian usahatani semangka harus membayarusahatani semangka diperlukan beban bunga sebesar Rp.1.082.890 persejumlah alat pertanian. Adapun alat musim tanam dari modal yangpertanian yang digunakan terdiri dan dipinjamnya.cangkul, parang, pagar (kawat berdunidan bronjong) dan hand sprayer. Biaya Usahatani SemangkaSeluruh sampel memiliki cangkul dan Biaya usahatani semangka terdiriparang serta pagar untuk kegiatan dan biaya benih, pupuk, pestisida,usahataninya. Namun, tidak seluruh tenaga kerja, sewa lahan, penyusutansampel memiliki hand sprayer. Biaya alat, pajak, dan bunga modal. Seluruhpemakaian alat-alat pertanian yang komponen biaya tersebutdimiliki diperoleh dengan cara dikelompokkan dalam biaya tetap dan 42

biaya variabel. Biaya variabel terdiri dan Tabel 6. Pendapatan Usahatani Semangka (perbenih, pupuk, pestisida dan tenaga I-Tektar) di Kecamatan Mutiarakerja. Sedangkan biaya tetap terdiri dan Timur Kabupaten Pidie, Tahun 2015.penyusutan alat dan bunga modal. No Komponen Satuan Per hektarTabel 5. Klasifikasi Biaya Usahatani Semangka 1 Produksi Kg 12.353 2 HargaJual Rp 1.400 (per Ha) di Kecamatan Mutiara Timur 3 Penerimaan Rp 17.294.724 Kabupaten Pidie, Tahun 2015 4 BiayaProduksi Rp 10.013.037 Jenis KomponeNo Biaya n Jumlah % 6 Pendapatan Rp 7.281.687 Bersih PenyusutI. Tetap an Alat 93.935 0,94 Sumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016 BungaMo 1.082.890 10,81 Dari data Tabel 6. diketahui dal bahwa rata-rata produksi Semangka di Kecamatan Mutiara Timur Jumlah Biaya Tetap 1.176.825 sebanyak sebesar 12.353 kg per hektar. Rata-rata harga adalah RpII. Varia Benih 1.364.417 15,28 1.400 per kg maka nilai produksi bel adalah Rp 17.294.724 per hektar. Rata-rata biaya usahatani yang Pupuk 2.571.779 28,80 dikeluarkan sebesar Rp 10.013.037 Pestisida 969.018 9,68 perhektar. Rata-rata pendapatan Tenaga yang diperoleh per hektar sebesar Kerja 4.024.933 40,20 Rp 7.281.687.Jumlah Biaya Variabel 8.930.148 Biaya Total 10.013.037 100.00Sumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016 Data pada tabel di atas terithat Pengaruh Penggunaan Faktor Produksibahwa biaya usahatani semangka per terhadap Total Produksi Semangkahektar sebesar Rp 10.013.037, terdiri Hubungan variabel input dandan biaya tetap sebesar Rp 1.176.825 output pada usahatani semangka dapatdan biaya variabel sebesar Rp 8.930.148 diketahui melalui uji-F. Adapunper hektar. Komponen tertinggi adalah kegunaan uji-F adalah untukupah tenaga kerja yaitu Rp 4.024.933,- mengetahui pengaruh secaraatau 40,20 persen dan biaya total. keseluruhan penggunaan input produksiKemudian, pupuk sebesar Rp (faktor produksi) terhadap output.2.571.779,- atau 28,80 persen, benih Berdasarkan perhitungan diketahui nilaisebesar Rp 1.364.417 atau 15,28 koefisien regresi (bi) atau nilaipersen, bunga modal sebesar Rp elastisitas dan masing-masing faktor1.082.890 atau 10,81 persen, pestisida produksi seperti pada Tabel 7 dansebesar Rp.969.018 atau 9,68 persendan penyusutan alat sebesar Rp 93.935atau 0,94 persen.Pendapatan Usahatani Semangka berdasarkan nilai elastisitas tersebut Tujuan akhir dan pengelolaan dapat pula dilihat skala ekonomi produksi semangka.suatu usahatani adalah mendapatkanpendapatan. Pendapatan usahatani Koefisien determinasi (R2) = 0,937merupakan selisih antara penerimaan Keterangan:dan biaya usahatani. Pendapatan F hitung = 81,561usahatani semangka di Kecamatan t tabel (0.05,29) = 1,71Mutiara Timur secara ringkas dapat Selanjutnya persamaan fungsi produksidilihat pada Tabel 6. usahatani semangka di Kecamatan Mutiara Timur sehagai berikut: 43

Y= 96,374 + 18,282 X1 + 79,250 X2 + Pupuk SP-36 (X2)35,387 X3 - 130,502 X4 Hasil uji t menunjukkan bahwaTabel 7. Nilai Koefisien Regresi dan Rata-Rata pupuk SP-36 berpengaruh secara nyatadan masing-masing Faktor Produksi karena t hitung lebih besar dan t tabelUsahatani Semangka di Kecamatan pada taraf kepercayaan 95 persen yaituMutiara Timur Kabupaten Pidie, 2,392 > 1,71. Namun besaranTahun 2015. elastisitasnya (b2) menunjukkan bahwa setiap penambahan pupuk SP-36 satuFaktor Produksi Koefisien t-hitung kilogram dapat meningkatkan produksi (Xi) Regresi (bi) sebesar 79,250 kilogram.Konstanta 96,374 0,380Pupuk Urea 18,282 1,058Pupuk SP-36 79,250 2,392PupukNPK 35,387 1,943 Pupuk NPK (X3)Pestisida -130,502 - 2,144 Berdasarkan hasil uji tSumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016 menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel pada taraf Berdasarkan hasil analisis data kepercayaan 95 persen yaitu 1,943>diperoleh koefisien determinasi (R2) 1,71. Artinya penggunaan pupuk NPKsebesar 0,937 yang berarti bahwa berpengaruh nyata terhadap produksivariabel tidak bebas (Y) pada model semangka. Besaran elastisitasnya (b4)dijelaskan oleh variabel bebas (Xi) menunjukkan bahwa penambahan 1 Kgsecara bersama-sama sebesar 93,70 % pupuk NPK akan memberikan tambahandan sisanya dijelaskan oleh variabel lain produksi sebesar 35,387 kilogram,yang tidak masuk dalam model. dengan demikian penggunaan pupukSelanjutnya diketahui bahwa nilai Fhitung NPK berpengaruh positif terhadap> Ftabel pada taraf kepercayáan 95 % produksi semangka.(81,561 > 4,31) yang berarti bahwavariabel bebas secara keseluruhan Pestisida (X4)berpengaruh nyata terhadap produksi Berdasarkan hasil uji t pada tarafsemangka. Sedangkan secara parsial kepercayaan 95 persen menunjukkanpengaruh penggunaan masing-masing bahwa penggunaan pestisidavariabel terhadap produksi semangka mempunyai pengaruh tidak nyata,berdasarkan nilai t-hitung dan koefisien karena t hitung lebih kecil dari t tabel (-regresi adalah sebagai berikut: 2,144 > 1,71). Besaran elastisitasnyaPupuk Urea (X1) (b4) menunjukkan bahwa penambahan Berdasarkan basil uji t pada taraf 1 liter pestisida dapat menurunkan produksi semangka sebesar 1826,502kepercayaan 95 % menunjukkan bahwa kilogram, dengan demikian penggunaanpenggunaan pupuk urea mempunyai pestisida berpengaruh negatif terhadappengaruh tidak nyata, karena t hitung produksi semangka.lebih kecil dan t label (1,058 > 1,71).Besaran elastisitasnya (bi) menunjukkan Skala Ekonomi Usaha (Return to Scale)bahwa penambahan satu hektar luas Return to scale perlu untuklahan dapat meningkatkan produksisemangka sebesar 18,282 kilogram. mengetahui apakah kegiatan dan suatuDengan demikian pupuk urea usaha yang diteliti tersebut mengikutiberpengaruh positif terhadap produksi kaidah increasing, constant, atausemangka. decreasing return to scale. Jumlah besaran elastisitas (bi) adalah lebih besar dari nol dan lebih kecil dan nol serta sama dengan satu. 44

Diketahui jumlah besaran belum mencapai titik optimum. Denganelastisitas bi = 2,417 yang berarti nilai demikian usaha untuk meningkatkantersebut lebih besar dan nol. Dengan keuntungan para petani semangka didemikian elastisitas penggunaan faktor Kecamatan Mutiara Timur hanya dapatproduksi berada dalam posisi increasing dilakukan dengan menambahreturn to scale. Artiiya bahwa proporsi pengalokasian faktor – produksi.dan penambahan faktor produksi akanmenghasilkan penambahan produksi KESIMPULANyang lebih besar atau penambahan satuunit faktor produksi akan meningkatkan Rasio antara nilai produkproduk lebih besar dari 2,417 kilogram marginal (NPM) dan faktor produksisemangka. pupuk urea adalah lebih besar dan satu (87,29), pupuk SP-36 lebih besar danEfisiensi Penggunaan Faktor Produksi satu (47,15), pupuk NPK adalah lebihUsahatani Semangka besar dan satu (79,17), faktor produksi pestisida lebih besar dan satu (43,14) Efisiensi dapat diartikan sebagai berarti faktor pupuk urea, SP-36, NPKupaya penggunaan input yang sekecil- dan pestisida belum efisien karenakecilnya untuk mendapatkan produksi pupuk dan pestisida yang digunakanyang sebesar-besarnya. Efisiensi belum mencapai titik optimum. Usahapenggunaan faktor produksi dapat meningkatkan keuntungan dapatdihitung dengan menggunakan efisiensi dilakukan dengan menambahharga yaitu nilai produk marginal input pengalokasian faktor produksi pupuk(NPMXi) sama dengan harga input (PXi) dan pestisida.(Soekartawi, 1993).Dengan kriteria penilaian: DAFTAR PUSTAKAJika NPMXi/Pxi = 1 penggunaan faktorproduksi efisien Anonymous, 2013. Pidie Dalam Angka.NPMXiJPXi > 1 penggunaan faktor BPS Kabupaten Pidie. Sigliproduksi belum efisien Amiruddin Syam. 2002. EfisiensiNPMXiJPXi < 1 penggunaan faktor Produksi Komoditas Lada diproduksi tidak efisien Propinsi Bangka Belitung. Journal.Tabel 8. Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Bangka Belitung. pada Usahatani Semangka di Kecamatan Mutiara Timur Anastasia. A. A. 2008. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Kabupaten Pidie, Tahun 2015 Produksi Faktor NPMX Keterangan Usahatani Tembakau RakyatProduksi i/Pxi Kabupaten Kendal (Studi Kasus diPupuk Urea 87,29 belum efisienPupuk SP-36 47,15 belum efisien DesaPupuk NPK 79,17 Belum efisien Picangrejo dan Poncorejo). SkripsiPestisida 43,14 Belum efisien Fakultas Pertanian UniversitasSumber : Data Primer (Diolah), Tahun 2016 Diponegoro. Semarang. Berdasarkan Tabel 8, diketahui Marhasan. 2005. Analisis Efisiensibahwa rasio antara nilai produk Ekonomi Usahatani Murbei danmarginal dan faktor produksi pupuk Kokon di Kabupaten Enrekang.urea lebih besar dan satu 87,29; pupuk Skripsi. Fakultas Pertamian IPB.SP-36 47,15; pupuk NPK adalah 79,17; Bogor.pestisida adalah 43,14 itu berarti Miller, R. L dan Meiners, R. E, 2000.seluruh faktor produksi yang digunakan Teori Mikro Ekonomi Intermediate. Penerjemah Haris 45

Munandar, PT. Raja Grafido Salvatore, D. Teori Mikro Ekonomi. Persada. Jakarta. Erlangga. Jakarta.Nazir, M 1983. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Soekartawi, 1993. Prinsip DasarNicholson, W. 2002. Mikro Ekonomi Ekonomi Pertanian - Teori dan Intermediate. Erlangga. Jakarta. Aplikasi. PT. Raja GrafindoRahim, A dan Diah, R. 2007. Ekonomika Persada. Jakarta. Pertanian. Penebar Swadaya. Jakarta. Syahbuddin, H dan Runtunuwu, E.,Rita Yunus, 2009. Analisis Efisiensi 2008. Pengaruh Pola Tanam dan Produksi Usaha Peternakan Ayam Iklim. Journal Agrisep. Ras Pedagang Pola Kemitraan dan Wihardjo, S. 1993. Bertanam Semangka. Mandiri di Kota Palu Provinsi Kanisius. Yogyakarta. Sulawesi Tengah. Skripsi. Fakultas Tutuarima, M. H. 2009. Analisis Efisiensi Pertanian Universitas Tadulako. Palu. Produksi: Pendekatan Frontier pada Usahatani Cabai di Desa Pengaradan Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang. 46

ANALISIS PENENTUAN KOMODITI UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN ACEH BARAT Liston Siringo ringo1), Agustiar2) 1,2)Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar email: [email protected], email: [email protected] Abstract This study aims to identify agricultural superior commodities and priorities for the developmentof the commodity each sub-district of West Aceh district. The methods used for reaching thesegoals are the analysis method Loqation Quatient (LQ) and Shift Share Analysis (SSA). The dataused are secondary data. The results showed that the leading commodity first developmentpriority is as follows: food crops sub-sector is the durian, langsium, orange, guava,water quava,banana and jackfruit. Subsector plantation crop is rubber. Livestock sub-sector is domestic poultry,cow and buffalo. Fishery sub-sector is tilapia and catfish.Keywords: Superior commodity, Agriculture sector, Loqation Quatient dan Shift Share AnalysisPENDAHULUAN pemerintahan yang baru dari sentralistik menjadi desentralistik yangPembangunan merupakan suatu ditandai dengan berlakunya Undang-proses muliti dimensi yang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentangmencerminkan perubahan stuktur Otonomi Daerah yang kemudianmasyarakat secara keseluruhan baik itu direvisi menjadi Undang-Undangstruktur nasional, sikap masyarakat Nomor 32 Tahun 2004. Perubahan sistem pemerintahan tersebut dinilaidan kelembagaan nasional.Perubahan lebih memberikan keleluasaan kepadatersebut bertujuan untuk mendorongpertumbuhan ekonomi, mengurangi kepala daerah dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahannyaketimpangan pendapatan dan untuk mempercepat terwujudnyamemberantas kemiskinan sehinggadiharapkan terwujudnya kondisi kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan,kehidupan yang lebih baik secara dan peran serta masyarakat, sertamaterial maupun spiritual (Todaro,2000). peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, Pembangunan ekonomi pemerataan, keadilan, keistimewaanbertujuan untuk menaikkan ProdukDomestik Bruto (PDB) suatu negara dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan RepublikArsyad (1999). Sektor pertanian adalah Indonesia (Undang-Undang Nomor 32salah satu sektor yang selama ini masihdiandalkan oleh negara karena sektor Tahun 2004) Struktur perekonomian untukpertanian memberikan banyak Provinsi Aceh dan khususnyakontribusi dalam pembangunanekonomi. Kabupaten Aceh Barat masih didominasi oleh sektor pertanian.Untuk mempercepat pem Kontribusi sektor pertanian terhadapbangunan daerah pada awal tahun2000 Indonesia mulai memasuki sistem Produk Domestik Regional Bruto 47

(PDRB) Kabupaten Aceh Barat pada 2011 kontribusi PDRB sektor pertaniankurun waktu tahun 2009-2012 semakin Kabupaten Aceh Barat sebesar 35.87meningkat yaitu 32.69 persen ditahun persen dan menduduki peringkat2009 menjadi 37.88 ditahun 2012 (BPS, pertama dari sembilan jenis lapangan2014). Kondisi ini menunjukkan peran usaha lainnya.pemerintah daerah sangat diperlukanagar potensi sektor pertanian dapat 2.3 Teknik dan Analisis Datalebih ditingkatkan agar pertumbuhan Untuk menentukan komoditasekonomi Kabupaten Aceh Barat dapatmeningkat ditahun-tahun mendatang. unggulan di Kabupaten Aceh Barat,Berdasarkan permasalahan yang dilakukan analisis untuk mencaritelah dikemukakan di atas, adapun komoditas yang diasumsikan potensialyang menjadi tujuan penelitian ini yang tergolong dalam komoditas basis,adalah (1) mengidentifikasi komoditi berdaya saing baik, pertumbuhannyapertanian yang menjadi unggulan di cepatm dan merupakan komoditaswilayah masing-masing kecamatan yang termasuk kelompok progresifKabupaten Aceh Barat, (2) atau maju. Dalam Analisis inimengidentifikasi prioritas menggunakan metode analisis Locationpengembangan komoditi pertanian di Quatient (LQ) dan Shift Share Analysiswilayah masing-masing kecamatan (SSA).Kabupaten Aceh Barat =METODE PENELITIAN …………………………………….(1) (Daryanto, A dan Y. Hafizrianda. 2010)2.1. Metode Pengumpulan Data Dimana: Jenis data yang digunakan dalam Vik =Nilai produksi komoditas i (pertanian) daerah studi kpenelitian ini adalah data sekunder, yaitu (kecamatan) dalam Nilaidata yang dicatat secara sistematis dan produksi daerah studi kdikutip secara langsung dari instansi (kecamatan)pemerintah atau lembaga yang terkait Vk = Nilai produksi total semuadengan penelitian ini. Data sekunder yang sektor pertanian di daerah kdigunakan dalam penelitian ini adalah (kecamatan)time series berupa data produksi komoditi Vip =Nilai produksi komoditas isektor pertanian Kabupaten Aceh Barat (pertanian) daerah referensi penam tahun (2009-2014).2.2 Metode Pemilihan Lokasi (Kabupaten) dalam pembentukkan Nilai produksiDaerah penelitian dipilih secara daerah referensi psengaja (purposive) yaitu pengambilandaerah penelitian dengan (Kabupaten) Vp = Nilai produksi total disemuamempertimbangkan alasan yang sektor pertanian daerahdiketahui dari daerah penelitiantersebut dan dalam penelitian ini referensi (kabupaten)adalah Kabupaten Aceh Barat Provinsi Struktur perumusan LQ memberikanAceh. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa nilai sebagai berikut :Kabupaten Aceh Barat dengan LQ > 1: berarti basis komoditas ipertimbangan Kabupaten Aceh Barat, (pertanian) di daerah studi ksesuai dengan Data BPS pada tahun 48

(kecamatan) adalah lebih besar bila yang baik di komoditas idibandingkan dengan laju dibandingkan denganpertumbuhan komoditas yang sama wilayah lain atau region jdalam perekonomian daerah referensi memiliki comparative(Kabupaten Aceh Barat). untuk advantage komoditas i dibandingkanLQ < 1: berarti basis komoditas i dengan wilayah lain.(pertanian) di daerah studi k PPW< 0 = komoditas i pada region j(kecamatan) adalah lebih kecil tidak dapat bersaingdibandingkan dengan basiskomoditas dengan baik apabilayang sama dalam perekonomian dibandingkan dengandaerah referensi (kabupaten). wilayah lain.LQ = 1 : berarti basis komoditas i PB = PP + PPW …………………………….(4)(pertanian) di daerah studi k(kecamatan) adalah sama dengan laju Dimana:pertumbuhan komoditas yang sama PB = 0 = pertumbuhan komoditas idalam perekonomian daerah referensip (kabupaten Aceh Barat). pada wilayah j termasuk kelompok progresif (maju).Shift Share Analysis (SSA) PB < 0 = pertumbuhan komoditas i pada wilayah j termasuk Adapun formula yang digunakan lamban.dalam analisis Shift Share adalah : HASIL PEMBAHASAN PPW = ri (ri’/ri – nt’/nt)……….......(2) PP = ri (nt’/nt – Nt’/Nt)..……….....(3) Identifikasi Komoditi Sektor Pertanian Basis di Wilayah Masing-masingDimana : Kecamatan Kabupaten Aceh BaratRi = Nilai produksi komoditas i Pengidentifikasian komoditi sektor kecamatan tahun awal pertanian unggulan di wilayah masing-ri’ = Nilai produksi komoditas i masing kecamatan Kabupaten Aceh Barat digunakan pendekatan Location kecamatan tahun akhir Quotient (LQ), yaitu menghitung nilaint = Nilai produksi komoditas i LQ dari setiap komoditi sektor pertanian yang dihasilkan di Kabupaten kabupaten tahun awal Aceh Barat. Kriteria komoditi sektornt’ = Nilai produksi komoditas i pertanian yang menjadi unggulan adalah komoditi yang mempunyai nilai kabupaten tahun akhir LQ > 1, sedangkan komoditi sektorNt = Nilai produksi total kabupaten pertanian yang termasuk non unggulan adalah komoditi dengan nilai LQ < 1 tahun awalNt’= Nilai produksi total kabupatentahun akhirKriteria: dan LQ = 1.PP > 0 = komoditas i pada region j Pengidentifikasian komoditi sektor pertanian yang diprioritaskan untuk pertumbuhannya cepat. dikembangkan masing-masingPP < 0 = komoditas i pada region j kecamatan di Kabupaten Aceh Barat difokuskan pada komoditi pertanian pertumbuhannya lambat. unggulan, selanjutnya komoditiPPW > 0 = region j memiliki daya saing 49

pertanian unggulan masing-masing 3 Kecamatan Padi sawah, Kedela, Jagung, Bubon Kacang Tanah, Ubi kayu,Ubikecamatan ini akan dianalisis jalar, Kacang panjang, Cabe,pertumbuhannya. Komoditi sektor Cabe rawit, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, Mangga,pertanian di wilayah masing-masing Rambutan, Jerukmanis,kecamatan Kabupaten Aceh Barattahun 2009-2014 dibagi dalam 4 Langsat, sawo, Jambu biji, Pisang, Pepaya, Semangka, Manggis, Nangka, Jambu Airsubsektor yaitu : subsektor tanamanpangan, subsektor tanaman 4 Kecamatan Padi sawah, Jagung, Kacang Arongan Hijau, Kacang panjang, Cabe,perkebunan, subektor peternakan, dan Lambalek Cabe rawit, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, sawo,subsektor perikanan. Pisang, , Semangka. 5 Kecamatan Padi sawah, Padi Ladang, Woyla Kedele, Jagung, Kacang tanah,Subsektor Tanaman Pangan Kacang Hijau, Ubi kayu, Kacang panjang, Cabe, Cabe rawit, Subsektor tanaman pangan Terong, Mentimun, Kangkung,biasanya diusahakan oleh rakyat. Bayam, Mangga,, Jerukmanis,Tanaman pangan yang yang paling sawo, durian, Jambu biji,banyak diusahakan oleh petani adalah Semangka, Jambu Airpadi sawah. Produksi padi sawah rata-rata periode 2009-2014 dikabupaten 6 Kecamatan Padi sawah,Padi lading, KedeleAceh Barat 61.907.33 Ton. Produksi Woyla Barat Jagung, Kacang Tanah ,Kacangpadi sawah terus meningkat pada Hijau, Ubi kayu,Ubi jalar,tahun 2009 hanya 52.120 ton menjadi Kacang panjang, Cabe, Cabe83.266 Ton pada tahun 2014. rawit, Terong, Mentimun,Berdasarkan analisis LQ rata-rata Kangkung, Bayam, Mangga,komoditas subsektor tanaman pangan Jerukmanis, Langsat, sawo,unggulan dari wilayah masing-masing durian, Pepaya, Semangka,kecamatan di Kabupaten Aceh barat Nangka, Jambu Airadalah sebagai berikut: 7 Kecamatan Padi sawah, Padi lading, Kedele, Woyla Jagung, Kacang Tanah, Kacang Timur Hijau, Ubi kayu,Ubi jalar, Kacang panjang, Cabe, Cabe rawit, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, Mangga, Jerukmanis, , sawo, durian,Tabel 1. Komoditi Subsektor Tanaman Pisang, Pepaya, Manggis, Nangka, Jambu Air Pangan Unggulan di Wilayah 8 Kecamatan Padi sawah, Kedele, Jagung, Masing-masing Kecamatan Kaway XVI Ubi kayu,Ubi jalar, Kacang panjang, Cabe rawit, Terong, Kabupaten Aceh Barat Tahun Mentimun, Kangkung, Bayam, 2009-2014No Kecamatan Komoditi Unggulan Mangga, Salak, Rambutan, Jerukmanis, Langsat, sawo,1 Kecamatan Padi sawah, Jagung, Kacang durian, Jambu biji, Pisang,Johan Hijau, Ubi kayu,Ubi jalar, Pepaya, Semangka, Manggis,Pahlawan Kacang panjang, Cabe, Cabe Nangka, Jambu Air rawit, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, Mangga, 9 Kecamatan Padi sawah,Kedele, Jagung, Meureubo Ubi kayu,Ubi jalar, Kacang Rambutan, Jerukmanis, panjang, Cabe, Cabe rawit, Langsat, sawo, durian, Jambu biji, Pisang, Pepaya, Semangka, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, Mangga, Jerukmanis, Manggis, Nangka, Jambu Air Langsat, sawo, durian, Jambu2 Kecamatan Padi sawah, Kedelai, Jagung, biji, Pisang, Pepaya, Semangka,Samatiga Kacang Hijau, Kacang panjang, Jambu Air Cabe, Cabe rawit, Terong, Mentimun, Kangkung, Bayam, 10 Kecamatan Padi sawah, kedele,, Kacang Mangga, Rambutan, Pante tanah, Kacang panjang, Cabe, Ceureumen Cabe rawit, Mentimun, Bayam, Jerukmanis, Langsat, sawo, Pisang, Pepaya, Semangka durian, Jambu biji, Pisang, Pepaya, Semangka, Manggis, 11 Kecamatan Padi sawah, Padiladang, Panton Reu Kedele, Jagung,Kacang Tanah, Nangka, Jambu Air Ubi jalar, Kacang panjang, Cabe, Cabe rawit, Terong, Mentimun, 50

Kangkung, Bayam, Mangga, Timur pisang, sawo Rambutan, sawo, Jambu biji, manggi 12 Kecamatan Pisang, Pepaya, Semangka, , Kaway XVI nagka Sawo, - Sungai Mas Nangka, Jambu Air Meureubo kedelai - Padi ladang,kedele, Kacang Pante Cabe rawit Pisang -Data diolah, 2016 tanah, Kacang Hijau, Ubi Ceureumen Nangka, caberawit, kayu,Ubi jalar, Kacang panjang, Panton Reu jambu air papaya Kacang Cabe, Cabe rawit, Terong, kacang tanh panjang, Mentimun, Kangkung, Bayam, Sungai Mas Nangka, Jerukmanis, ketimun Mangga, Rambutan, Jambu Biji durian, Jerukmanis, Langsat, sawo, papaya Mangga, durian, Jambu biji, Pisang, rambutan Pepaya, Nangka, Jambu Air ketimun Selanjutnya penentuan prioritas Dari Tabel 2 diatas terlihat bahwapengembangan komoditi unggulan Kecamatan Arongan Lambalek, Woyla Barat,tanaman pagan di wilayah masing-masing Kaway XVI, Meurebo hanya memilikikecamatan Kabupaten Aceh Barat dengan komoditas prioritas pengembangan kedua,menggunakan gabungan analisis Location sedangkan komoditi prioritas utama danQuotient, komponen Pertumbuhan ketiga tidak ada. Hal ini dilihat dari nilai shiftProporsional (PP) dan Pertumbuhan share (PP, PPW) dari masing-masing komoditi.Pangsa Wilayah (PPW). Komoditi yang Komoditi yang memiliki prioritas pememiliki prioritas pengembangan pertama ngembangan pertama adalah komoditi yangadalah komoditi yang pertumbuhannya pertumbuhannya cepat (nilai PP positif) dancepat (nilai PP positif) dan memiliki daya memiliki daya saing (nilai PPW positif).saing (nilai PPW positif). Subsektor Tanaman PerkebunanTabel 2. Penentuan Prioritas Pengembangan Subsektor perkebunan menurut Komoditi Tanaman Pangan di Wilayah Masing-Masing Kecamatan pengusahaannya dibedakan atas Kabupaten Aceh Barat Tahun 2009- 2014 Perkebunan Rakyat, dan perkebunanKecamatan Prioritas Pengembangan besar Swasta dan Perkebunan Besar Pertama Kedua KetigaJohan Sawo, Pisang Pepaya, - Negara. Dalam penelitian ini yangPahlawan manggis, nangka, Jambu air, dianalisis hanya Perkebunan Rakyat. bayam, kangkung Perkebunan rakyat adalah perkebunanSamatiga Jeruk manis, Jambu Air, - yang diusahakan sendiri oleh rakyat atau langsat,sawo Rambutan, pisang Mangga masyarakat, biasanya dalam skala kecil papayaBubon Jeruk Manis Pisang, - dan dengan teknologi budidaya yang jambu air, cabe rait sederhana. Keragaan penyebaranArongan Durian -Lambalek pisang, nangka, komoditas subsektor tanaman Jambu air perkebunan berdasarkan nilai LQWoyla Bayam, Kedelai, - Jeruk manis kajang hijau, cabe rawit, disajikan dalam tabel dibawah iniWoyla Kedelai, -Barat kacang hijauWoyla Durian, Bayam, - 51

Tabel 3. Komoditi Subsektor Tanaman Kelapa No Perkebunan Unggulan di Wilayah Hibrida Masing-masing Kecamatan - Karet, Kabupaten Aceh Barat Tahun 2009- Samatiga kelapa Kakao, 2014 Bubon Dalam, Pinang, Biji Kopi, lada Kecamatan Komoditi Unggulan Pala - Karet Kelapa1 Johan Pahlawan Kelapa dalam, Kelapa Dalam,2 Samatiga hibrida, Kakao, Pinang Arongan - Karet, Kakao, Karet, Kelapa dalam, Lambalek elapa Pinang3 Bubon Kakao, Pinang, Biji kopi, Dalam, Lada, Pala Woyla - Kelapa -4 Arongan Karet, Kelapa dalam, Hibrida, Lambalek Kelapa Hibrida, Kakao, Woyla - Kelapa Kakao, Pinang Barat Sawit, Pinang5 Woyla Karet, Kelapa sawit, Kelapa Biji Kopi,6 Woyla Barat dalam, Kelapa Hibrida, Woyla Karet Lada Pinang7 Woyla Timur Kakao, Pinang Timur - Karet,8 Kaway XVI Kelapa sawit, Kakao, Kaway XVI Kakao, Pinang,9 Meureubo Pinang, Biji Kopi, Lada, Pala Biji kopi, Pala10 Pante Karet, Kakao, Pinang, Biji Lada Kelapa Kopi, Lada Biji Kopi, Sawit, Ceureumen Karet, Pinang, Biji Kopi, Lada Kapuk11 Panton Reu Lada, Pala Kelapa Kelapa sawit, Kapuk - Sawit,12 Sungai Mas Kelap sawit, Kelapa hibrida, KelapaData diolah, 2016 Kakao, Pinang Meureubo - Kakao, Hibrida Kelapa dalam, Kakao, Biji Pinang Kelapa Kopi Dalam, Karet, Kelapa dalam, Pante -- Kakao, Kakao, Kapuk, Pinang, Biji Ceureumen Biji Kopi Kopi, Lada, Pala Kelapa Karet, Kakao, Kapuk, Dalam, Pinang, Biji Kopi, Pala Biji Kopi, Pala Dari Tabel 3 diatas menunjukkan kakao Panton Reu Karet Kakao, Kakao,merupakan komoditi basis atau ungggulan pada Kapuk, Pinang10 kecamatan, walaupun jumlah produksi kakao Pinang,Kabupatan Aceh Barat pada tahun 2014 hanya Sungai Mas Karet Lada193.45 Ton. Sedangkan Kelapa sawit hanya di Kapuk,wilayah 4 kecamatan merupakan sektor basis Biji Kopi,atau unggulan. Kelapa sawit memiliki produksi Palayang paling tinggi yaitu 64.722 ton pada tahun Data diolah, 20162014. Prioritas Pe Subsektor PeternakanTabel4.Penentuan Subsektor peternakan dalam ngembangan Komoditi Perkebunan penelitian ini adalah kegiatan beternak itu di Wilayah Masing-Masing sendiri dan pengusahaan hasil-hasilnya. Kecamatan Kabupaten Aceh Barat Subsektor ini mencakup produksi ternak- Tahun 2009 -2014. ternak besar, kecil dan unggas. Populasi ternak paling tinggi pada tahun 2014 adalahKecamatan Prioritas Pengembangan Pertama Kedua KetigaJohan - Kelapa Kakao,Pahlawan Dalam, Pinang 52

ayam buras mencapai 318 691 ekor, yang Samatiga Sapi Kerbau Ayam Rasterendah adalah kuda hanya 6 ekor. Bubon Sapi,Domba Ayam BurasKeragaan penyebaran komoditas subsektor Arongan Ayam Itik Kambingpeternakan diwilayah masing masing Lambalek ras,kecamatan Kabupaten Aceh Barat disajikan Woyla Sapi, Ayam Ayam Burasdalam Tabel 5 berikut ini: Woyla Kerbau Buras, Itik Domba Barat Sapi, KerbauTabel 5. Komoditi Subsektor Peternakan Unggulan di Woyla Ayam KambingWilayah Masing-masing Kecamatan Timur RasKabupaten Aceh Barat Tahun 2009-2014 Kaway XVI Kerbau Kerbau Kambing Domba, ItikNo Kecamatan Komoditi Unggulan Meureubo Ayam ras Domba Kerbau,1 Johan Kuda, Ayam ras dan Itik Pante kambing Pahlawan Ceureumen Sapi, Ayam ras, dan Burung Panton Reu Kambing Itik2 Samatiga Puyuh Sungai Mas Kerbau, Ayam Buras Kambing Domba, Itik3 Bubon Sapi, Kambing, Domba, itik, Kerbau, Itik,4 Arongan Burung puyuh domba itik Kambing Ayam buras Lambalek Domba, Ayam buras, Itik Data diolah, 20165 Woyla Kerbau, Kambing, Ayam ras6 Woyla Barat Sapi, Kerbau, Kambing, Subsektor Perikanan7 Woyla Timur Domba, Ayam ras, Itik Subsektor perikanan yang8 Kaway XVI Sapi, Kerbau, Kambing, dianalisis hanya meliputi perikanan Domba, Kelinci, Ayam ras, Itik perairan umum, sedangkan perikanan9 Meureubo Kerbau, Kambing, Itik, Burung laut tidak dianalisis karena Puyuh keterbatasan data. Keragaan10 Pante Kerbau, Kambing, Domba, Itik penyebaran komoditas subsektor Ceureumen Kerbau, Kambing, Domba, Itik, perikanan Kabupaten Aceh Barat pada Merpati masing-masing kecamatan menurut11 Panton Reu12 Sungai MasData diolah, 2016 nilai LQ disajikan dalam Tabel 7 berikut Dari Tabel 5 diatas dapat dijelaskan inibahwa itik merupakan komoditas subsektorpeternakan yang memiliki tingkat Tabel 7. Komoditi Subsektor Perikananpenyebaran yang paling tinggi yaitu di 8 Unggulan di Wilayah Masing-masing(delapan) kecamatan. Kambing dan kerbau Kecamatan Kabupaten Aceh Baratmasing-masing menyebar pada 7 (tujuh) Tahun 2009-2014.kecamatan. Sapi memiliki nilai LQ tertinggiyaitu sebesar 10.10 untuk wilayah No Kecamatan Komoditi Unggulankecamatan Arongan Lambalek. 1 Johan Pahlawan Mas, Nila 2 Samatiga Nila,Bandeng, Udang Windu 3 Bubon Nila, Lele,Tabel 6. Penentuan Prioritas Pengembangan 4 Arongan Mas, Lele LambalekKomoditi Subsektor Peternakan diWilayah Masing-Masing Kecamatan 5 Woyla Mas, LeleKabupaten Aceh Barat Tahun 2009-2014. 6 Woyla Barat LeleKecamatan Prioritas Pengembangan 7 Woyla Timur Mas, Nila, Lele Pertama Kedua Ketiga 8 Kaway XVI Mas, Lele Ayam - ItikJohan Ras 9 Meureubo LelePahlawan 10 Pante Ceureumen Mas 11 Panton Reu Nila 53

12 Sungai Mas Mas, Lele tertinggi adalah Kecamatan Bubon Produksi Ikan Nilai 5.95 Ton danData diolah, 2016 sedangkan kecamatan Woyla Timur sebesar 5.85 Ton. Komoditas sub sektor Tabel 7 diatas menunjukkan perikanan yang menjadi prioritasbahwa ikan lele merupakan komoditas pengembangan pertama adalah Ikansubsektor perikanan yang tingkat Nila untuk wilayah Kecamatan Bubonpenyebarannya paling tinggi yaitu di 8 dan Kecamatan Woyla Timur.(delapan) kecamatan, selanjutnya ikan Sedangkan Ikan Mas untuk wilayahMas pada 7 (tujuh) kecamatan dan Ikan Kecamatan Meurebo.Nila pada 5 (lima) kecamatan. Namunditunjau dari jumlah produksi paling KESIMPULANtinggi pada tahun 2014 adalah Komoditi unggulan dan prioritaskomoditas Ikan Nila mencapai 122.72 pengembangan sektor pertanianton, Ikan Lele 30 ton dan Ikan Mas masingmasin kecamatan di Kabupaten21.13 ton.Tabel 8. Penentuan Prioritas Pengembangan Aceh Barat adalah : a. Subsektor Tanaman PanganKomoditi Subsektor Perikanan di komoditi unggulan pengembanganWilayah Masing-Masing KecamatanKabupaten Aceh Barat Tahun 2009- perioritas pertama adalah: Durian2014 tersebar di 2 (dua) kecamatan,Kecamatan Prioritas Pengembangan Langsat tersebar di 3 (tiga) Pertama Kedua Ketiga kecamatan, Jeruk manis tersebarJohan - Mas, Nila - di 3 (tiga) kecamatan, Jambu bijiPahlawan - tersebar di 3 (tiga) kecamatan,Samatiga Nila, Jambu air di 4(empat) kecamatan Bandeng, - pisang di 3 (tiga) kecamatan,Bubon Udang nangka di 3 (tiga) kecamatan Windu b. Subsektor tanaman perkebunan Nila LeleArongan Mas, Lele - komoditi unggulan pengembanganLambalek Lele Mas prioritas pertama: Karet tersebarWoyla di 3 kecamatanWoyla Lele c. Subsektor Peternakan komoditiBarat Lele unggulan pengembangan prioritasWoyla Nila Mas, Lele Mas pertama adalah: Ayam rasTimurKaway XVI tersebar di 3 (tiga) kecamatan, Sapi tersebar di 3 (tiga)Meureubo Lele - - kecamatan dan kerbau tersebar diPante - Mas - 3 (tiga) kecamatan.Ceureumen - NilaPanton Reu d. Subsektor Perikanan komoditi unggulan pengembanganSungai Mas - Mas, Lele - perioritas pertama adalah: ikanData dolah, 2016 nila tersebar di dua kecamatan Jumlah produksi ikan nilai pada dan ikan lele terdapat padaKabupaten Aceh Barat tahun 2014 1(satu) kecamatan.mencapai 122.72 ton dan Ikan Lele30.93 Ton. Produksi kecamatan 54

DAFTAR KEPUSTAKAAN Ekonomi Daerah. IPB Press. Bogor.Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Todaro, Michael P. 2000. (Penerjemah :Perencanaan dan Drs. Haris Munandar).Pembangunan Ekonomi Daerah. Pembangunan Ekonomi diBPFE UGM. Yogyakarta. Dunia Ketiga Edisi Ketujuh. Jilid satu. Erlangga. Jakarta.BPS. 2014. Produk Domestik RegionalBruto Menurut Lapangan UCAPAN TERIMAKASIHUsaha.http://acehbaratkab.bps.go.id/i Ucapan terimakasih ditujukan kepadandex.php?r=artikel/view&id=62. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan[20 April 2015] Pengembangan, Kementerian Riset,Daryanto, A dan Y.Hafizrianda. 2010. Teknologi dan Pendidikan Tinggi MelaluiModel-model Kuantitatif untuk Hibah Dana Penelitian Dosen Pemula 2016.Perencanaan Pembangunan 55

PENGARUH PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN DI INDONESIA Yasrizal,Fakultas Ekonomi, Universitas Teuku Umar [email protected], ABSTRACT The purpose of this study was to determine the influence of GDP growth in the agriculturalsector to the distribution of income and employment opportunities in the agricultural sector ofIndonesia, in the period 1996-2014. This study uses secondary data time series (time series),obtained from the Central Statistics Agency (BPS), and related agencies as well as various datapublished through various scientific papers are considered to have a correlation and relevance to thisstudy. The results showed that the GDP data processing significant at α = 0.050 shown in the p-valueof 0.000 or significant at 100 percent confidence interval with a positive effect on employment.Where the coefficient of determination (R2) is 0.9943, meaning that GDP has an impact for 99percent of the agricultural labor opportunities in Indonesia. Meanwhile GDP is significant at α = 0.10on income distribution shown in the p-value of 0.000 or significant at 100 percent confidenceinterval with a positive impact on the Gini ratio. Where the coefficient of determination (R2) is0.99014, meaning that GDP has a 99 percent influence on income distribution in Indonesia.Keyword: Agricultural Sector, Employment, Income DisparityPENDAHULUAN diarahkan pada sektor industri dan jasa, Sektor pertanian menjadi sektor bahkan yang berbasis teknologi tinggi dan intensif capital. Namun padakunci dalam penyerapan tenaga kerja di tahun 1997/1998 krisis ekonomiIndonesia. Pada tahun 2000 menunjukkan bahwa sektor pertanianpenyerapan tenaga kerja sektor memiliki daya tahan yang cukup tinggipertanian mencapai 45 persen dari terhadap goncangan ekonomisembilan sektor yang ada, pada tahun dibandingkan sektor lain sehingga2015 turun menjadi 33 persen. Sektor dapat menyelamatkan pemerintahanpertanian memiliki peranan penting dan negara dari kebangkrutan.dalam perekonomian Indonesia, hal ini Kontribusi sektor pertanian pada saatdikarenakan sektor pertanian berfungsi krisis ekonomi dapat dilihat pada Tabel 1.sebagai basis atau landasan Kontribusi sektor pertanian terhadap PDBpembangunan ekonomi. Keadaan atas harga berlaku tahun 1996-1014seperti ini menuntut kebijakan dapat dilihat pada Tabel 1.pemerintah untuk menyesuaikan sektor Masalah ketenagakerjaan perlupertanian dengan keadaan dan mendapatkan perhatian dalamperkembangan yang terjadi di lapangan perencanaan pembangunan. Penyediaandalam mengatasi berbagai persoalan kesempatan kerja yang luas sangatyang menyangkut kesejahteraan bangsa diperlukan untuk mengimbangi laju(Tambunan dalam Setyabudi, 2005) pertumbuhan penduduk usia muda yang masuk ke pasar tenaga kerja dan Sejak tahun 1990, perhatian terciptanya pemerataan distribusipemerintah mulai diarahkan pada pendapatan. Sempitnya lapangan kerjasektor industri dan jasa seiring dengan yang tersedia akan menyebabkanterjadinya transformasi ekonomi dari terjadinya pengangguran dannegara agraris menjadi negara industri. ketimpangan distribusi pendapatan yangKondisi seperti ini yang menjadikan akan membawa masalah yang lebih besarperan sektor pertanian mulai menurun lagi.dalam struktur perekonomian. Fokuspembangunan ekonomi lebih banyak 56

PDRB sektor pertanian terus sektor pertanian sebesar 43.042.104 jiwamengalami pertumbuhan terjadi secara menjadi menjadi 38.973.033 jiwa padafluktuasi, pada saat terjadinya krisis tahun 2014, penurunan jumlahmoneter pada tahun 1998 penyerapan penyerapan tenaga kerja disebebkantenaga kerja sektor pertanian mengalami pertumbuhan sektor industri dan sektorpeningkatan sebesar 13 %, dikarnakan lainnya serta pemanfaatan teknologipengaruh dari pemutusan hubungan sektor pertanian yang lebih baik yangkerja dari sektor industri, penyerpan akhrinya lebih kepada mengintensifkantenaga kerja sektor pertanian dari tahun pemanfaatan modal dibandingkan1996-2014 mengalami penurunan pemanfaatan tenaga kerja. untuk lebihtercatat tahun 2003 jumlah tenaga kerja jelas bisa dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku, Gini Ratio, Dan Pertumbuan Kesempatan Kerja Sektor Pertanian Tahun 1996 – 2014Tahun PDB Sektor Pertumbuhan PDB Gini Ratio Pertumbuhan Pertanian (milyar Sektor Pertaniaan (%) Kesempatan Kerja Sektor Pertaniaan (%) Rupiah)1996 88043 0,27 -4,71997 100643 14,31 0,26 13,341998 172800 71,7 0,26 -1,961999 215657 24,8 0,242000 216831 0,54 0,26 5,992001 251727 0,25 -2,292002 281590 16,09 0,29 2,242003 305783 11,86 0,27 5,932004 329124 0,25 -5,662005 364169 8,59 0,26 1,732006 433223 7,63 0,27 -2,842007 541931 10,65 0,3 2,672008 716656 18,96 0,352009 857196 25,09 0,37 0,32010 985470 32,24 0,38 0,682011 1091447 19,61 0,41 -0,282012 1193452 14,96 0,41 -5,82013 1310427 10,75 0,41 1,282014 1446722 9,35 0,41 -0,93 -0,63 9,8 10,4Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) IndonesIa 2016Berbagai data kependudukan Kesempatan Kerja di Indonesia” denganmemperlihatkan bahwa Indonesia masih tujuan penelitian adalah untukmengalami berbagai masalah menganalisis pengaruh pertumbuhanketenagakerjaan. Permasalahan tersebut PDB sektor pertanian terhadapterutama bersumber dari banyaknya penyerapan tenaga kerja pertanian danpenerimaan (supply) tenaga kerja dan distribusi pendapatan di Indonesia.rendahnya kualitas sumber dayamanusia. Sebaliknya pertumbuhan Rumusan Masalah dalam peneliianekonomi yang dibutuhkan untuk ini adalah bagaimana pengaruh Permenyerap angkatan kerja tidaklah sebaik tumbuhan setor pertanian terhadapapa yang diharapkan, terutama pada distribusi pendapatan di Indonesia?sektor pertanian yang merupakan sektor Penelitian Sebelumnyayang menyerap tenaga kerja terbanyak.Atas dasar ini, penulis tertarik untuk Penelitian mengenai pembangunanmeneliti tentang “Pembangunan Sektor sektor pertanian terhadap penyerapanPertanian, Distribusi Pendapatan Dan tenaga kerja dan distribusi pendapatan pernah dilakukan peneliti sebelumnya 57

dengan mengunakan berbagai bruto sektor pertanian danpendekatan dan alat analisis yang hubungannya dengan kesempatanberbeda-beda yaitu: kerja serta distribusi pendapatan di1. Fakih (2009) melakukan penelitian Provinsi Sumatera Selatan selamaselama 1993-2007 tentang tahun 1985-2005 kesimpulannyapembangunan sektor pertanian adalah PDRB sub-sektor tanamanterhadap penyerapan tenaga kerja pangan, perkebunan, peternakan,dan distribusi pendapatan. kehutanan, dan perikanan memilikiKesimpulannya bahwa (1) ada pengaruh yang signifikan terhadappengaruh pembangunan sektor kesempatan kerja pada sektorpertanian terhadap penyerapan pertanian di Provinsi Sumateratenaga kerja di Provinsi Jawa Selatan. Dan Nilai indeks giniTengah, (2) tidak ada pengaruh berkisar antara 0,25 – 0,30 yangpembangunan sektor pertanian berarti ketimpangan pendapatanterhadap distribusi pendapatan di masih berada pada batas aman. NilaiProvinsi Jawa Tengah, (3) Ada Rasio modal berpengaruh secaraperbedaan pengaruh pembangunan signifikan pada taraf uji 30 persensektor pertanian terhadap terhadap distribusi pendapatan.kesempatan kerja di Provinsi Jawa 4. Rangkuti (2009) melakukan studiTengah sebelum dan sesudah tentang pengaruh investasi danrevitalisasi pertanian, (4) Tidak ada pertumbuhan di sektor pertanianperbedaan pengaruh pembangunan terhadap jumlah tenaga kerja sektorsektor pertanian terhadap distribusi pertanian hasilnya adalah investasipendapatan di Provinsi Jawa tengah dan pertumbuhan sebelumnya disebelum dan sesudah revitalisasi sektor pertanian berpengaruh secarapertanian positif terhadap pertumbuhan2. Yamin (2007) melakukan studi pertanian, sedangkan tenaga kerjatentang analisis pengaruh berpengaruh negatif terhadappembangunan sektor pertanian pertumbuhan sektor pertanian.terhadap distribusi pendapatan dan Hubungan negatif antarapeningkatan lapangan kerja di pertumbuhan sektor pertanian danSumatera Selatan pada tahun 1985- tenaga kerja sektor pertanian,2005. Kesimpulannya adalah bertentangan secara hipotesis dandistribusi pendapatan masyarakat teoritis dalam penelitian ini.Provinsi Sumatera Selatan relatif Pengaruh pertumbuhan danbaik dengan nilai indeks gini yang investasi terhadap tenaga kerja dijauh lebih rendah dari satu, sektor pertanian memiliki hubunganpengaruh PDRB masing-masing sub- yang positif, sehingga secarasektor dalam sektor pertanian implikasi dapat dikatakan untukterhadap distribusi pendapatan menaikkan jumlah tenaga kerja yangmasyarakat tidak berpengaruh bekerja di sektor pertanian mutlaknyata, dan PDRB sub-sektor tanaman diperlukan investasi danpangan, perkebunan, pertenakan pertumbuhan di sektor pertanian.kehutanan dan perikanan memiliki Sektor pertanian masih merupakanpengaruh signifikan terhadap sumber kesempatan kerja dankesempatan kerja pada sektor berburuh tani yang potensial. Upayapertanian di Provinsi Sumatera meningkatkan produktivitas danSelatan. kesejahteraan buruh tani perlu terus3. Rufaida (2006) meneliti tentang dilakukan antara lain melaluianalisis produk domestik regional perbaikan sistem sakap dan 58

pengupahan, mobilitas dan distribusi pendapatan mencerminkaninformasi tenaga kerja, serta ketimpangan atau meratanya hasilpengembangan agroindustri dan pembangunan suatu daerah atau negarakesempatan kerja di luar sektor baik yang diterima masing-masing orangpertanian. Selanjutnya tingkat upah ataupun dari kepemilikan faktor-faktorbergantung pada penawaran tenaga produksi dikalangan penduduknya.kerja, perkembangan mekanisasipertanian, dan pertumbuhan Salah satu indikator pentingkesempatan kerja di luar sektor untuk mengetahui kondisi ekonomi dipertanian.Walaupun indeks upah suatu negara dalam suatu periodeabsolut menigkat, harga kebutuhan tertentu adalah data Produk Domestikpokok meningkat lebih cepat Bruto. baik atas dasar harga berlakusehingga laju upah riil menjadi maupun atas dasar harga konstan. PDBsangat lambat. Pengembangan pada dasarnya merupakan jumlah nilaiinfrastruktur, pendidikan, dan tambah yang dihasilkan oleh seluruh unitpembinaan ketrampilan tenaga kerja usaha dalam suatu negara tertentu, atau(khususnya wanita) sangat penting merupakan jumlah nilai barang dan jasaagar dapat bekerja secara mandiri akhir yang dihasilkan oleh seluruh unitdan posisi tawarannya meningkat. ekonomi. PDB atas dasar harga berlakuKontribusi tenaga kerja dinilai menggambarkan nilai tambah barang danmenentukan kinerja usaha tani padi jasa yang dihitung menggunakan hargayang bersifat padat tenaga kerja. yang berlaku pada setiap tahun,Kelangkaan tenaga kerja dan sedangkan PDB atas dasar harga konstanpeningkatan upah secara tidak menunjukkan nilai tambah barang danterkendali perlu dicegah. jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahunDistribusi pendapatan nasional tertentu sebagai dasar.adalah mencerminkan merata atautimpangnya pembagian hasil PDB atas dasar harga berlakupembangunan suatu negara di kalangan dapat digunakan untuk melihatpenduduknya (Dumairy,1997). Distribusi pergeseran dari struktur ekonomi, sedangpendapatan dibedakan menjadi dua harga konstan digunakan untukukuran pokok yaitu; distribusi ukuran, mengetahui pertumbuhan ekonomi dariadalah besar atau kecilnya bagian tahun ke tahun. PDB adalah nilai barangpendapatan yang diterima masing-masing dan jasa dalam suatu negara yangorang dan distribusi fungsional atau diproduksikan oleh faktor-faktor produksidistribusi kepemilikan faktor-faktor milik warga Negara tersebut dan wargaproduksi (Todaro,2000). Dari dua definisi Negara asing dalam satu tahun tertentuini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa (Sukirno, 2004 ).Kerangka Pemikiran Distribusi Pendapatan PDB Sektor PertanianGambar 1. Hubungan Pertumbuhan PDB Sektor Pertanian Terhadap Distibusi Pendapatan 59

METODA PENELITIAN Model Analisis Dalam penelitian ini, penulis Hubungan antara Produkmengkaji analisi pengaruh pertumbuhan Domestik Bruto sektor pertanianproduk domestik bruto sektor pertanian dengan distribusi pendapatan dandan terhadap distribusi pendapatan. kesempatan kerja dapat dilihat denganProduk domestik bruto sebagai variable mencari nilai regresi antara sub-sektorbebas, distribusi pendapatan dan pertanian yang diwakili oleh Produkkesempatan kerja sebagai variable Domestik Bruto berdasarkan hargaterikat. konstan dengan distribusi pendapatanJenis Dan Sumber Data dan kesempatan kerja sektor pertanian yang ada di Indonesia. Penelitian ini menggunakan datasekunder berupa data seri waktu (time Gini Ratioseries), yang diperoleh melalui kantor Koefisien Gini didefinisikanBadan Pusat Statistik (BPS), penelaahkepustakaan referensi-referensi dan sebagai A/(A+B), dimana Adan B sepertisumber-sumber lain yang mendukung yang ditunjukkan pada grafik. Jika A= 0penelitian ini. Selama kurun waktu 19 koefisien Gini bernilai 0 yang berartitahun yaitu dari tahun 1996 sampai pemerataan sempurna, sedangkan jikatahun 2014 B=0 koefisien Gini akan bernilai 1 yang berarti ketimpangan sempurna. Koefisien Gini tidak sepenuhnya memuaskan.Relatif Pengeluaran %10050 A B 0 50 Relatif penduduk % 100Gambar 2. Koefisien Gini Menurut Kurva Lorenz Indikator yang digunakan untukData yang diperlukan dalam melihat pemerataan atau distribusipenghitungan gini ratio: pendapatan adalah dengan menggunakan nilai gini ratio sebagai  Jumlah rumah tangga atau berikut: penduduk G  1  k Pi (Qi  Qi1 )  Rata-rata pendapatan atau pengeluaran rumah tangga yang i1 10.000 sudah dikelompokkan menurut kelasnya. 60

dengan: Pi: persentase rumah tangga Xi= (variable independent)atau penduduk pada kelas ke-i ei= Error term Qi: kumulatif total pendapatan Model tersebut diformulasikan lagi atau pengeluaran sampai untuk menjadi model dalam penelitian kelas ke-i ini, sebagai berikut : GN = α + βPDBsektor pertanian+ eiNilai gini ratio berkisar antara 0 dan 1, HASIL DAN PEMBAHASANjika: Perkembangan PDB Sektor PertanianTerhadap DistribusiG < 0,3 → ke mpangan rendah Pendapatan di Indonesia, 1996-20140,3 ≤ G ≤ 0,5 → ke mpangan sedangG > 0,5 → ke mpangan nggi Perkembangan dan kemajuan ekonomi Indonesia dapat dilihat denganBank Dunia indikator ekonomi makro. Indikator Tingkat kemerataan menurut Bank ekonomi makro yang sering digunakan untuk melihat kemajuan ekonomi suatuDunia dilihat dari sebaran atau distribusi negara adalah Produk Domestik Bruto,pendapatan pada kelompok penduduk sedangkan untuk melihat tinggkanyang dibagi menjadi 3, yaitu: kesejangan distribusi pendapatan dalam masyarakat indikator yang sering di 40 persen pertama → kelompok gunakan adalah gini ratio. PDB dan gini kurang beruntung ratio merupakan indikator yang penulis gunakan dalam penelitian ini. 40 persen kedua → kelompok menengah Dari grafik 3 dapat dilihat bahwa produk domestik bruto (PDB) sektor 20 persen ketiga → kelompok pertanian dari tahun 1996-2014 kaya mengalami pertumbuhan yang stabil, Nilai gini ratio yang di peroleh pada tahun 1997, PDB mengalami pertumbuhan sebesar 14,31 persen. Padadari kedua model di atas dimasukan tahun-tahun berikutnya jumlah PDB jugakedalam model persamaan seperti terus tumbuh bahkan meningkat, padadibawah ini guna mengetahui seberapa tahun 1998 pertumbuhan PDBmencapaibesar pengaruh PDB subsektor pertanian 71,69 persen, tahun 1999 juga meningkatterhadap pemerataan distribusi sebesar 24,80 persen. Hal tersebutpendapatan. Untuk analisis model, menunjukkan bahwa sektor pertanianpenulis menggunakan persamaan regresi tidak terpengaruh oleh krisis ekonomilinear sederhana (Gujarati, 2001) sebagai yang melanda Indonesia padatahunberikut : 1998-1999.Y = α + βiXi + eiDimana :Y = (variable dependent)Α = Konstantaβi = Parameter 61

Pertumbuhan PDRB dan GN80.0060.0040.0020.000.00 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 Pertumbuhan PDB Sektor Pertaniaan Gini RatioSumber : Badan Pusat Statistik, 2016 (diolah)Gambar 3. Perkembangan PDB Atas Dasar Harga Berlaku Sektor Pertanian Dan Gini Ratio di Indonesia 1996-2014 Menurut data BPS perkembangan pertumbuhannya tidak stabil, tapinilai indeks gini pedesaaan dari tahun menunjukkan gambaran pertumbuhan1996 - 2014 berkisar antara 0,25 sampai PDB sektor pertanian yang baik dalamdengan 0,31. Nilai ini menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia.bahwa tidak terjadi ketimpangan Analisis Hasil Estimasi Pengaruh PDBpendapatan yang mengkhawatirkan di Sektor Pertanian Terhadap Distribusiindonesia selama kurun waktu 1996 - Pendapatan di Indonesia, 1996-20142008. Nilai gini ratio yang tinggiditunjukkan pada tahun 2007 yaitu Pengaruh PDB sektor pertaniansebesar 0,31 dan pada tahun 2002 terhadap distribusi pendapatan dapatsebesar 0,29. Nilai yang tinggi ini terjadi dilihat melalui uji korelasi antara keduaakibat adanya peningkatan jumlah variabel, dengan menggunakan analisapenduduk yang berpendapatan tinggi. Regresi linear sederhana, yaitu :Nilai indeks gini ini masih jauh dari nilaisatu, dengan kata lain distribusi GN = 0,3158 + 0.0000000725 PDBsectorpendapatan di Indonesia ini relatif baik.Selama periode 1996-2008, pertumbuhan pertanianrata-rata PDB sektor pertanian sebesar18,85 persen. Walaupun Analisa regresi ini menggunakan program Eviews Version 7,0. Adapun hasil estimasinya dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini :Tabel 2. Hasil Estimasi Pengaruh PDB Sektor pertanian Terhadap Gini Ratio di Indonesia 1996-2014 Variabel Koefisien Std. Error t-ratio p-value KeteranganKonstanta 0,3158 0,0077 41,2085 0,0000 SignifikanProduk domestic bruto 7,25 x 10-8 9,56 x 10-9 7,5836 0,0000(PDB)R² = 0,8156 DW = 1,7772Adj. R² = 0,8014Sumber : Hasil Penelitian, 20161. Konstanta (α) sebesar 0,3158, artinya 2. Koefisien regresi untuk PDB sektor apabila variabel PDB diasumsikan pertanian (βi) adalah 0.0000000725, sama dengan nol (0), maka gini rasio artinya apabila terjadi kenaikan PDB rata-rata sebesar 0,3158. sektor pertanian di Indonesia sebesar 1 rupiah, maka akan menyebabkan 62

meningkatnya nilai gini ratio sebesar modal lebih besar dibandingkan dengan 0.0000000725, dengan asumsi faktor penggunaan tenaga kerja, dampaknya lain dianggap tetap. penggunaan jam kerja dan jumlah tenaga3. Koefisien determinasi (R2) sebesar kerja lebih sedikit yang akhrinya beralih 0,8014, artinya PDB memiliki pendistribusian pendapatan untuk pengaruh sebesar 80,14 persen penggunaan modal yang seharusnya terhadap pemerataan distribusi diterima oleh tenaga kerja, pengaruh ini pendapatan (gini rasio) di Indonesia, sangat kecil. sedangkan sisanya 19,16 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di Hubungan Pertumbuhan Sektor luar penelitian ini. Pertanian Terhadap Kesempatan Kerja4. Secara umum Produk Domestik Bruto Dari hasil pengolahan data untuk mempunyai pengaruh yang signifikan menganalisa pengaruh produk domestik terhadap distribusi pendapatan. Hal bruto sektor pertanian terhadap ini terlihat dari hasil pengujian penyerapan tenaga kerja sektor hipotesis yang ditunjukkan p-value pertanian di Indonesia dalam kurun sebesar 0,000 atau signifikan pada waktu 1996-2014, menunjukkan bahwa confidence interval 100 persen produk domestik bruto sektor pertanian dengan pengaruh positif terhadap berpengaruh positif terhadap penyerapan tenga kerja sektor penyerapan tenaga kerja sektor pertania. pertanian. Semakin tinggi tingkat pertumbuh Produk Domestik BrutoHubungan Pertumbuhan Sektor sektor pertanian, maka semakin banyakPertanian Terhadap Distribusi tenaga kerja sektor pertanian yangPendapatan terserap. Penelitian ini sesuai denganPengaruh produk domestik bruto yang dilakukan oleh Yamin (2007) PDRBsektor pertanian terhadap distribusi sub-sektor tanaman pangan, perkebunan,pendapatan di Indonesia dalam kurun pertenakan kehutanan dan perikananwaktu 1996-2014, menunjukkan bahwa memiliki pengaruh signifikan terhadapdistribusi produk domestik bruto sektor kesempatan kerja pada sektorpertanian berpengaruh positif terhadap pertaniandi Provinsi Sumatera Selatan.distribusi penfapatan. Semakin tinggi Dari hasil penelitiantingkat pertumbuh Produk Domestik menunjukkan pertumbuhan sektorBruto sektor pertanian, maka pertanian berpengaruh positif terhadapkesenjangaan distribusi pendapatan akan penyerapan tenaga kerja. permasalahansemakin melebar. Hasil penelitian ini pengangguran dan pertumbuhantidak sesuai dengan hasil penelitian Fakri angkatan kerja yang terjadi di Indonesia(2009) yaitu tidak ada ada pengaruh salah satu solusi jawabannya adalahantara pertumbuhan sektor pertanian dengan meningkatkan pembangunantehadap distribusi pendapatan. namun sektor pertanian. di sisi lain juga sektormendukung penelitian yang dilakukan pertanian ini mempunyai ketangguhanoleh Rufaida (2009) bahwa Nilai Rasio dalam gonjang-ganjing ekonomi sepertimodal berpengaruh secara signifikan krisis moneter yang terjadi pada tahunpada taraf uji 30 persen terhadap 1997-1998 namun pertumbuhan PDRBdistribusi pendapatan. sektor pertanian dan penyerapan tenagaPengaruh yang positif terhadap kerja tetap tinggi dan tidak terpengaruhkesenjangan pendapatan disebabkan oleh situasi.telah adanya perubahan dalampenggunaan faktor produksi yang terjadidi sektor pertanian dengan pemanfaatan 63

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA 1. Nilai constanta gini ratio sebesar Badan Pusat Statistik. 2016. Statistik 0,316 yang artinya apabila variabel Indonesia Tahun 2016. Jakarta lain tetap maka tingkat Dumairy, 1996. Perekonomian Indonesia. ketimpangan distribusi pendapatan Penerbit Erlangga, Jakarta. masyarakat indonesia berada pada Fakih, Asrul. 2009 Pengaruh katagori ketimpangan sedang. Pembangunan Sektor Pertanian Selanjutnya PDB sektor pertanian Terhadap Kesempatan Kerja dan memberikan pengaruh positi dan Distribusi Pendapatan di Provinsi signifikan terhadap ditribusi Jawa Tengah. Skripsi, FE UNNES. pendapatan masyarakat, yang di Semarang tunjukkan oleh hasil regresi antara Sagir, Soeharsono. 1995. Sumber Daya PDB dengan gini rasio. PDB Manusia, Kesempatan Kerja, dan memberikan pengaruh sebesar Pembangunan Indonesia. LPFE-UI. 81,56 persen terhadap distribusi Jakarta. pendapatan di Indonesia. Setyabudi, Heru. 2005. Pengaruh 2. Apabila terjadi kenaikan PDB sektor PertumbuhanPDRB Terhadap pertanian di Indonesia sebesar 1 Elastisitas KesempatanKerja di rupiah, maka akan menyebabkan Sumatera Selatan. Tesis. Program meningkatnya nilai gini rasio sebesar Pascasarjana. UNSRI. Palembang. 0,0000000725, dengan asumsi Rufaida, Erlina. dan Sari, Dwi Wulan. faktor lain dianggap tetap.. 2006. Analisis Produk DomestikSARAN Regional Bruto Sektor Pertanian1. Alokasi modal disektor pertanian perlu dan Hubungannya dengan ditingkatkan untuk mendorong Kesempatan Kerja Serta Distribusi penyerapan tenaga kerja dan Pendapatan Di Provinsi Sumatera memperluas kesempatan kerja selain Selatan. Jurnal, Pascasarjana itu juga terpaan krisis moneter tidak Universitas Sriwijaya mempengarui pertumbuhan ekonomi Sukirno, Sadono. 2004. Makroekonomi, sektor pertanian dan penyerapan Teori Pengantar. PT. Raja Grafindo tenaga kerjanya, sehingga sangat Persada. Jakarta mendukung pembangunan ekonomi Yamin, M. 2007. Analisis Pengaruh jangka panjang. Pembangunan Sektor Pertanian2. Meningkatkan daya saing komoditi- Terhadap Distribusi Pendapatan komoditi pertanian sehingga mampu dan Peningkatan Lapangan Kerja di bersaing dalam pasar Masyarakat Provinsi Sumatera Selatan. Ekonomi Asean (MEA), melalui http://www.jurnal pembanguna teknologi produksi pertanian, manusia.co.id teknologi hasil pertanian.3. Perlu penelitian selanjutnya mengenai pembangunan sektor pertanian agar tersedia data dan informasi yang lebih luas menyangkut pengaruh pertumbuhan sektor pertanian terhadap perekonomian. 64

PERDAGANGAN KAKAO DAN PRODUK KAKAO INDONESIA DI PASAR ASEAN+6 Devi Agustia1 1) Staf Pengajar Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Uiversitas Teuku Umar [email protected] AbstractThis study aims to analyze the linkage of Indonesian cocoa trade with ASEAN + 6 countries.The analytical approach used in this study is a quantitative descriptive method. The data usedin this study is the secondary time series data for five years from 2009 to 2013. Among otherdata are production, volume and value of exports and processed cocoa products based ontheir respective countries and export value of all commodities of each country that iscomparable. The study results show that in terms of cocoa trade (HS-1801) and cocoaproducts (HS-1805 and HS-1086) in ASEAN + 6, Indonesia has two-way trade with Malaysiafor cocoa products (HS-1805) and cocoa beans (HS-1801), Japan (HS-1805), Thailand (HS-1806), Philippines (HS-1806), Vietnam (HS- 1806) and South Korea (HS-1806). This isindicated by the Indonesian IIT Index of those six countries greater than zero (0). The degreeof integration between Indonesia and the six countries is still relatively weak, except Malaysiawith HS-1805 which has a very strong degree of integration, but its trade balance is negativeKeyword: Cocoa, Trading, , Intra-Industry Trade Index (IIT Index)PENDAHULUAN penting dalam pertumbuhan ekonomi di setiap negara. Perdagangan Sektor pertanian berperan internasional telah mendorong suatupenting dalam pertumbuhan ekonomi negara untuk mencari keunggulansebagai kontributor PDB Indonesia dan komparatif pada suatu komoditi.penyerap tenaga kerja. Tahun 2013, Komoditi tersebut kemudian selanjutkontribusi sektor pertanian terhadap nya diproduksi dan diekspor sehinggaPDB sebesar 14,4 persen (BPS, 2014a) meningkatkan pertumbuhan ekonomidan menyerap tenaga kerja sebesar 38 negara tersebut. Alat ukur kemajuanjuta. Jumlah tersebut setara 34 persen suatu bangsa yang popular digunakanpenduduk Indonesia yang bekerja (BPS, adalah daya saing produk nasional2014b). negara tersebut dalam perdagangan internasional. Peningkatan daya saing Sebagai negara agraris, suatu negara dapat dilihat dariIndonesia secara alamiah memiliki peningkatan ekspor suatu komoditi.keunggulan komparatif dalam produksi Integrasi ekonomi dan terbukanya pasarpertanian. Apabila dikelola secara dunia membuat persaingan tidakoptimal, keunggulan ini menjadi terhindarkan. Di tengah persainganpondasi yang menopang perekonomian dengan negara agraris lain, produknasional. Seiring dengan terus pertanian Indonesia berpeluangbertambahnya penduduk dunia, menguasai pasar global.kebutuhan pangan akan terus Bagi produk pertanianmeningkat. Perdagangan internasional Indonesia, kondisi ini menawarkanterjadi karena keterbatasan suatu peluang sekaligus merupakannegara dalam memenuhi kebutuhan tantangan. Berdasarkan neracadomestik Todaro (2006) mengemukakanbahwa perdagangan menjadi faktor 65

perdagangan 2008 - 2012, subsektor menjadi unggulan ekspor adalah kelapaperkebunan dan perikanan menjadi sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi.pemberi surplus dalam perdagangan Namun demikian, dalam pemenuhaninternasional meskipun fluktuatif. Pada kebutuhan domestik, lebih banyaksubsektor perkebunan, komoditas yang impor (BPS, 2014b).Tabel 1. Neraca Perdagangan Pertanian Indonesia Tahun 2008-2012 (Ribu USD)Subsektor 2008 2009 2010 2011 2012 6.156,1Tanaman Pangan -3.178,1 2.416,6 3.416,1 6.439,1 1.308,9Hortikultura -492,2 697,7 902,2 1.194,8Perkebunan 22.833,4 17.632,5 24.674,7 31.846,0 27.960,4Peternakan -1.204,0 -1.377,9 -1.816,7 -1.445,7 -2.141,6Perikanan 2.432,0 2.165,9 2.472,0 3.032,7 3.441,3Sumber : BPS, 2014b Situasi perdagangan yang memanfaatkan peluang dansemakin liberal dapat dimanfaatkan menghadapi ancaman tergantung darisehingga kinerja produksi dan bagaimana Indonesia menggunakanperdagangan dari komoditas ekspor kemampuan untuk mendayagunakanIndonesia dapat bersaing dengan kekuatan yang dimiliki dan mengatasinegara-negara produsen utama lainnya. berbagai kelemahan sehingga dapatIndonesia harus mampu merebut akses mewujudkan daya saing yang semakinpasar dengan memenuhi persyaratan meningkat.yang ditentukan oleh negara tujuan. Pada era globalisasi saat ini,Penerimaan dari ekspor menjadi salah persaingan antar negara melaluisatu peranan pertanian sebagai perdagangan bebas menjadi isu utamapenghasil devisa negara. Dalam yang harus dihadapi. Globalisasi jugaperkembangannya, ekspor pertanian menjadikan batas antar negara dalammemiliki peranan yang penting dalam ekonomi semakin nisbi sehinggaperekonomian nasional. Rahman (2013) dikotomi antara pasar domestik danmenyatakan bahwa perdagangan bebas pasar dunia menjadi semakin tidakmemberikan peluang terbukanya ruang relevan. Fenomena ini memberikanyang lebih besar untuk memperluas sinyal bahwa Indonesia harus mampuvolume usaha pertanian. bersaing dengan negara-negara lain jika ingin tetap bertahan. Upaya yang harus Perdagangan internasional, dilakukan untuk dapat menghadapiseperti ekspor dan impor, membuka tantangan global tersebut adalahkesempatan bagi Indonesia untuk peningkatan dayasaing. Negara-negarabersaing baik di pasar internasional yang memiliki dayasaing yang kuat danmaupun di pasar domestik dan bersaing tangguh akan sanggup menghadapidengan sesama negara eksportir berbagai tantangan global. Indonesialainnya. Adanya arus globalisasi yang memiliki keunggulan komparatiftersebut menyebabkan produk yaitu kekayaaan sumber daya alampertanian dari berbagai negara tidak besar dan beragam perludapat dihindari untuk memasuki dan didayagunakan sehingga menjadimembanjiri pasar domestik. Globalisasi keunggulan bersaing.dapat menjadi peluang sekaligus Komoditas kakao merupakanancaman bagi pembangunan pertanian salah satu komoditas agroindustrimaupun bagi perdagangan nasional. unggulan di Indonesia, disampingBerhasil atau tidaknya Indonesia dalam 66

kelapa sawit, karet, dan kopi yang Kemudian untuk mengkaji keunggulanberperan penting dalam perekonomian kompetitif menggunakan informasi yangIndonesia. Fakta menunjukkan bahwa menyangkut potensi kakao di Indonesia.Indonesia merupakan produsenkomoditas kakao terbesar ketiga di Sumber data diperoleh daridunia, setelah Pantai Gading dan United Nation Commodity TradeGhana. Namun demikian, Indonesia Statistics Database (UN Comtrade) yangmasih dihadapkan pada berbagai ditelusuri melalu jaringan internet.masalah baik di sektor hulu (on-farm) Sumber informasi lainnya diperoleh darimaupun sektor hilir (industri). Dengan buku, jurnal, dan media masademikian penting untuk dikaji elektronik.bagaimana daya saing perdagangankomoditas kakao Indonesia di pasar Metode analisis yang digunakandunia, khususnya di kawasan ASEAN +6. dalam kajian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode analisis Oleh karenanya, berdasarkan latar yang digunakan yaitu Intra-Industrybelakang dan rumusan masalah yang telah Trade Index (IIT Indeks) untukdiuraikan sebelumnya maka tujuan dari menganalisis keterkaitan perdaganganpenelitian ini yaitu menganalisis daya saing kakao antara Indonesia dengan negara-kakao Indonesia di pasar ASEAN+6. negara yang terkait. Pengolahan dataMETODE PENELITIAN pada kajian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu 1) tahap pengumpulan data; Kajian ini melingkupi bahasan 2) pengelompokan data berdasarkanmengenai posisi perdagangan kakao tahun, negara dan jenis produk, dan 3)Indonesia di Pasar Internasional. Pasar tahap pengolahan data dalam modelInternasional dalam kajian ini terdiri analisis. Seluruh tahap pengolahan datadari 13 negara ASEAN+6, yaitu: menggunakan software Microsoft ExcelAustralia, Brunei Darusalam, Tiongkok, 2007.Filipina, India, Jepang, Korea Selatan,Malaysia, Myanmar, New Zealand, Intra-Industry Trade Index (IITThailand, dan Vietnam. Laos yang juga Indeks) menggambarkan keterkaitanmerupakan salah satu negara anggota perdagangan kedua negara. IIT IndeksASEAN tidak dimasukkan ke dalam digunakan untuk menganalisis tingkatpembahasan kajian ini karena tidak integrasi dalam suatu kawasan tertentu.ditemukan data perdagangan, baik Integrasi yang tinggi menunjukkanekspor maupun impor diantara kedekatan perdagangan di anataraIndonesia dengan Laos. negara-negara di kawasan tersebut. IIT Indeks yang umum digunakan adalah Data yang digunakan dalam Grubel-Lloyd Index dengan rumus:penulisan kajian ini adalah datasekunder yang berupa data time series IITi, jk =selama lima tahun dari tahun 2009sampai tahun 2013. Data yang , , | , , | x 100 atau 1 −digunakan dalam kajian adalah ( , , )produksi, volume dan nilai ekspor bijikakao dan produk olahannya | , , | x 100berdasarkan masing-masing negara dan , ,nilai ekspor semua komoditas masing-masing negara yang diperbandingkan. Dimana: Xi, jk = nilai ekspor komoditas i dari negara j ke negara k Mi, jk = nilai impor komoditas i dari negara j ke negara k 67

Nilai Grubel Llyod Index berkisar lain.antara 0 sampai 100. Jika jumlah yang Aliran dan Keterkaitan Perdagangandiekspor sama dengan jumlah yang Kakao Indonesia dan Malaysiadiimpor untuk suatu produk, makaindeksnya akan bernilai 100. Sebaliknya Aliran perdagangan dan Intra-apabila perdagangan suatu negara Industry Trade (IIT) antara Indonesiahanya melibatkan satu pihak saja dengan Malaysia tahun 2013(ekspor atau impor saja) maka nilai ditunjukkan pada Tabel 3. Produk bijiindeksnya adalah 0. Penjelasan teknis kakao (utuh atau hancur, mentah ataumengenai IIT Indeks sebagai indicator dipanggang) (HS-1801) memberikanintegrasi perdagangan dipresentasikan kontribusi ekspor paling besar kedalam Tabel 2. Malaysia yaitu sebesar US$ 302 juta. Selain itu juga terdapat aliranTabel 2. Klasifikasi Intra-Industry Trade Index perdagangan baik ekspor maupun impor antara Indonesia dengan(IIT Indeks) Malaysia. Hal ini terlihat dari nilai IIT sebesar 1,60. Nilai tersebutIntra- Klasifikasi menunjukkan aliran perdaganganIndustry Indonesia untuk produk cokelat danTrade Index makanan olahan lain yang mengandung kakao bersifat dua arah dengan derajat* Tidak terdapat aliran integrasi yang lemah dimana nilai perdagangan ekspor-impor sebesar US$ 302 juta dan US$ 2,4 juta.0.00 Tidak ada integrasi (perdagangan satu arah) Bubuk kakao yang tidak>0,00 – 24,99 Integrasi lemah mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya (HS-1805) terdapat25,00 – 49,99 Integrasi sedang aliran perdagangan baik ekspor maupun impor antara Indonesia dengan50,00 – 74,99 Integrasi kuat Malaysia. Hal ini terlihat dari nilai IIT sebesar 153,68. Nilai tersebut75,00 – 99,99 Integrasi sangat kuat menunjukkan aliran perdaganganSumber: Austria (2004) Indonesia untuk produk cokelat dan makanan olahan lain yang mengandungHASIL PEMBAHASAN kakao bersifat dua arah dengan derajat integrasi yang sangat kuat dimana nilaiAliran dan Keterkaitan Perdagangan ekspor-impor sebesar US$ 8,63 juta danKakao Indonesia dengan Pasar US$ 28,65 juta.ASEAN+6 Pola perdagangan antar negaradapat diidentifikasi dari aliran danketerkaitan perdagangan. Aliranperdagangan suatu negara dapatdiketahui dari nilai ekspor dan imporantara negara tersebut dengan negaraTabel 3. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Malaysia Tahun 2013 Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 1,60 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 302.161,63 2.434,92 153,68 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakaoSumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 8.636,54 28.653,86 0,00 2.918,45 0,00Aliran perdagangan cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung 68

kakao (HS-1806) antara Indonesia dan Bubuk kakao yang tidakMalaysia memberikan nilai ekspor yang mengandung tambahan gula ataulebih kecil jika dibandingkan ekspor pemanis lainnya (HS-1805) memberikanjenis kakao lainnya, yaitu hanya sebesar kontribusi ekspor terbesar kedua keUS$ 2,9 juta. Indonesia tidak Thailand sebesar US$ 11 juta, tanpamengimpor produk cokelat dan adanya impor. Hal ini menunjukkanmakanan olahan lain yang mengandung kontribusi Indonesia sebagai eksportirkakao dari Malaysia sehingga nilai IIT untuk produk bubuk kakao yang tidakuntuk produk ini adalah 0. Hal ini berarti mengandung tambahan gula atautidak terdapat integrasi antara kedua pemanis lainnya dengan nilai IIT adalahpasar, atau artinya perdagangan yang 0 artinya aliran perdagangan untukterjadi adalah perdagangan satu arah. produk ini adalah satu arah. BubukAliran dan Keterkaitan Perdagangan kakao yang tidak mengandungKakao Indonesia dan Thailand tambahan gula atau pemanis lainnya merupakan komoditas andalan ekspor Aliran perdagangan dan Intra- Indonesia ke Thailand.Industry Trade (IIT) antara Indonesiadengan Korea Selatan tahun 2013 Produk cokelat dan makananditunjukkan pada Tabel 4. Komoditas olahan lain yang mengandung kakaoHS-1801 yaitu biji kakao (utuh atau (HS-1806) terdapat aliran perdaganganhancur, mentah atau dipanggang) baik ekspor maupun impor antaramemberikan kontribusi ekspor paling Indonesia dengan Thailand. Hal inibesar ke Thailand, yaitu sebesar US$ 19 terlihat dari nilai IIT sebesar 8,69. Nilaijuta. Hal ini menunjukkan kontribusi tersebut menunjukkan aliranIndonesia sebagai eksportir untuk biji perdagangan Indonesia untuk produkkakao (utuh atau hancur, mentah atau cokelat dan makanan olahan lain yangdipanggang) dengan nilai IIT adalah 0 mengandung kakao bersifat dua arahartinya aliran perdagangan untuk dengan derajat integrasi yang lemahproduk ini adalah satu arah. Biji kakao dimana nilai ekspor-impor sebesar(utuh atau hancur, mentah atau US$ 9 juta dan US$ 432 ribu.dipanggang) merupakan komoditasandalan ekspor Indonesia ke Thailand.Tabel 4. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Thailand Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 19.404,59 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 11.809,88 0,00 8,69Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 9.507,71 432,04Aliran dan Keterkaitan Perdagangan kontribusi ekspor paling besar keKakao Indonesia dan Filipina Filipina, yaitu sebesar US$ 13 juta. Hal ini menunjukkan kontribusi Indonesia Aliran perdagangan dan Intra- sebagai eksportir untuk produk bubukIndustry Trade (IIT) antara Indonesia kakao yang tidak mengandungdengan Filipina tahun 2013 ditunjukkan tambahan gula atau pemanis lainnyapada Tabel 5. Bubuk kakao yang tidak dengan nilai IIT adalah 0 artinya aliranmengandung tambahan gula atau perdagangan untuk produk ini adalahpemanis lainnya (HS-1805) memberikan 69

satu arah. olahan lain yang mengandung kakao Komoditas HS-1801 yaitu biji (HS-1806) terdapat aliran perdagangan baik ekspor maupun impor antarakakao (utuh atau hancur, mentah atau Indonesia dengan Filipina. Hal inidipanggang) merupakan komoditas terlihat dari nilai IIT sebesar 5,79. Nilaiandalan ekspor Filipina ke Indonesia tersebut menunjukkan alirandengan nilai impor sebesar US$ 110 ribu perdagangan Indonesia untuk produkdan nilai IIT adalah 0. Hal ini cokelat dan makanan olahan lain yangmenunjukkan kontribusi Filipina mengandung kakao bersifat dua arahsebagai eksportir biji kakao (utuh atau dengan derajat integrasi yang lemahhancur, mentah atau dipanggang). dimana nilai ekspor-impor sebesarAliran perdagangan untuk komoditas ini US$ 7 juta dan US$ 215 ribu.adalah satu arah. Produk cokelat dan makananTabel 5. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Filipina Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0.00 110,21 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 5,79 13.795,28 215,21Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 7.223,50Aliran dan Keterkaitan Perdagangan Produk cokelat dan makananKakao Indonesia dan Brunei olahan lain yang mengandung kakaoDarussalam (HS-1806) merupakan produk kakao yang paling banyak diekspor oleh Aliran perdagangan dan Intra- Indonesia ke Brunei Darussalam denganIndustry Trade (IIT) antara Indonesia nilai ekspor sebesar US$ 491 ribu. Padadengan Brunei Darussalam tahun 2013 perdagangan cokelat dan makananditunjukkan pada Tabel 6. Produk Biji olahan lain yang mengandung kakaokakao (utuh atau hancur, mentah atau (HS-1806) tidak ada produk yangdipanggang) (HS-1801) dan Bubuk diimpor sehingga nilai impornya adalahkakao yang tidak mengandung nol. IIT untuk produk cokelat dantambahan gula atau pemanis lainnya makanan olahan lain yang mengandung(HS-1805) merupakan produk kakao dan kakao (HS-1806) adalah nol. Hal initurunannya yang tidak diperdagangkan berarti tidak terdapat integrasi antaraoleh Indonesia ke Brunei Darussalam. kedua pasar, atau artinya perdaganganHal ini ditunjukkan oleh nilai ekspor dan yang terjadi adalah perdagangan satunilai impor untuk kedua jenis produk arah.tersebut bernilai nol.Tabel 6. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Brunei Darussalam Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) * Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0.00 0.00 * Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0.00 0.00 0.00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 0.00 491.059 70

Aliran dan Keterkaitan Perdagangan Bubuk kakao yang tidakKakao Indonesia dan Vietnam mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya (HS-1805) memberikan Aliran perdagangan dan Intra- kontribusi ekspor ke Vietnam sebesarIndustry Trade (IIT) antara Indonesia US$ 154 ribu, tanpa adanya impor. Haldengan Vietnam tahun 2013 ini menunjukkan kontribusi Indonesiaditunjukkan pada Tabel 7. Produk sebagai eksportir untuk produk bubukcokelat dan makanan olahan lain yang kakao yang tidak mengandungmengandung kakao (HS-1806) tambahan gula atau pemanis lainnyamemberikan kontribusi ekspor paling dengan nilai IIT adalah 0 artinya aliranbesar ke Vietnam, yaitu sebesar perdagangan untuk produk ini adalahUS$ 2,42 juta. Hal ini menunjukkan satu arah. Bubuk kakao yang tidakkontribusi Indonesia sebagai eksportir mengandung tambahan gula atauuntuk produk cokelat dan makanan pemanis lainnya merupakan komoditasolahan lain yang mengandung kakao. andalan ekspor Indonesia ke Vietnam.Tabel 7. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Vietnam Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) * Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0,00 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 1,07Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 154,84 2.423,55 12,99 Aliran perdagangan biji kakao dengan Myanmar tahun 2013(utuh atau hancur, mentah atau ditunjukkan pada Tabel 9. Produk Bijidipanggang) antara Indonesia dan kakao (utuh atau hancur, mentah atauVietnam tidak ada. Hal ini ditunjukkan dipanggang) (HS-1801) dan Bubukdengan tidak adanya ekspor dan impor kakao yang tidak mengandungantar kedua negara. Produk cokelat dan tambahan gula atau pemanis lainnyamakanan olahan lain yang mengandung (HS-1805) merupakan produk kakao dankakao (HS-1806) terdapat aliran turunannya yang tidak diperdagangkanperdagangan baik ekspor maupun oleh Indonesia ke Myanmar. Hal iniimpor antara Indonesia dengan ditunjukkan oleh nilai ekspor dan nilaiVietnam. Hal ini terlihat dari nilai IIT impor untuk kedua jenis produksebesar 1,07. Nilai tersebut tersebut bernilai nol.menunjukkan aliran perdaganganIndonesia untuk produk cokelat dan Produk cokelat dan makananmakanan olahan lain yang mengandung olahan lain yang mengandung kakaokakao bersifat dua arah dengan derajat (HS-1806) merupakan produk kakaointegrasi yang lemah dimana nilai yang paling banyak diekspor olehekspor-impor sebesar US$ 2,42 juta dan Indonesia ke Myanmar dengan nilaiUS$ 12,99 ribu. ekspor sebesar US$ 9,4 juta. PadaAliran dan Keterkaitan Perdagangan perdagangan cokelat dan makananKakao Indonesia dan Myanmar olahan lain yang mengandung kakao (HS-1806) tidak ada produk yang Aliran perdagangan dan Intra- diimpor sehingga nilai impornya adalahIndustry Trade (IIT) antara Indonesia nol. IIT untuk produk cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung 71

kakao (HS-1806) adalah nol. Hal ini yang terjadi adalah perdagangan satuberarti tidak terdapat integrasi antara arah.kedua pasar, atau artinya perdaganganTabel 8. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Myanmar Tahun 2013Produk Produk Impor IIT * Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) * Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 0,00 0,00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 0,00 9407,493Aliran dan Keterkaitan Perdagangan Hal ini terlihat dari nilai IIT sebesarKakao Indonesia dan Jepang 18,69. Nilai tersebut menunjukkan aliran perdagangan Indonesia untuk Aliran perdagangan dan Intra- produk cokelat dan makanan olahanIndustry Trade (IIT) antara Indonesia lain yang mengandung kakao bersifatdengan Jepang tahun 2013 ditunjukkan dua arah dengan derajat integrasi yangpada Tabel 9. Komoditas HS-1801 yaitu lemah dimana nilai ekspor-imporbiji kakao (utuh atau hancur, mentah sebesar US$ 477 ribu dan US$ 49 ribu.atau dipanggang) memberikankontribusi ekspor paling besar ke Aliran perdagangan cokelat danJepang, yaitu sebesar US$ 560 ribu. Hal makanan olahan lain yang mengandungini menunjukkan kontribusi Indonesia kakao (HS-1806) antara Indonesia dansebagai eksportir untuk biji kakao (utuh Jepang memberikan nilai ekspor yangatau hancur, mentah atau dipanggang) lebih kecil jika dibandingkan ekspordengan nilai IIT adalah 0 artinya aliran jenis kakao lainnya, yaitu hanya sebesarperdagangan untuk produk ini adalah US$ 180 ribu. Indonesia tidaksatu arah. Biji kakao (utuh atau hancur, mengimpor produk cokelat danmentah atau dipanggang) merupakan makanan olahan lain yang mengandungkomoditas andalan ekspor Indonesia ke kakao dari Jepang sehingga nilai IITJepang. untuk produk ini adalah 0. Hal ini berarti tidak terdapat integrasi antara kedua Bubuk kakao yang tidak pasar, atau artinya perdagangan yangmengandung tambahan gula atau terjadi adalah perdagangan satu arah.pemanis lainnya (HS-1805) terdapataliran perdagangan baik ekspor maupunimpor antara Indonesia dengan Jepang.Tabel 9. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Jepang Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 560,139 0,00 18,69 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 477,416Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 180,457 49,21 0,00 0,00Aliran dan Keterkaitan Perdagangan Industry Trade (IIT) antara IndonesiaKakao Indonesia dan Korea Selatan dengan Korea Selatan tahun 2013 ditunjukkan pada Tabel 10. Produk Aliran perdagangan dan Intra- 72

cokelat dan makanan olahan lain yang merupakan komoditas andalan ekspormengandung kakao (HS-1806) Indonesia ke Korea Selatan.memberikan kontribusi ekspor paling Aliran perdagangan biji kakaobesar ke Korea Selatan, yaitu sebesar (utuh atau hancur, mentah atauUS$ 2,4 juta. Hal ini menunjukkan dipanggang) antara Indonesia dan Koreakontribusi Indonesia sebagai eksportir Selatan tidak ada. Hal ini ditunjukkanuntuk produk cokelat dan makanan dengan tidak adanya ekspor dan imporolahan lain yang mengandung kakao. antar kedua negara. Produk cokelat dan makanan Bubuk kakao yang tidak olahan lain yang mengandung kakaomengandung tambahan gula atau (HS-1806) terdapat aliran perdaganganpemanis lainnya (HS-1805) memberikan baik ekspor maupun impor antarakontribusi ekspor ke Korea Selatan Indonesia dengan Korea Selatan. Hal inisebesar US$ 154 ribu, tanpa adanya terlihat dari nilai IIT sebesar 1,07. Nilaiimpor. Hal ini menunjukkan kontribusi tersebut menunjukkan aliranIndonesia sebagai eksportir untuk perdagangan Indonesia untuk produkproduk bubuk kakao yang tidak cokelat dan makanan olahan lain yangmengandung tambahan gula atau mengandung kakao bersifat dua arahpemanis lainnya dengan nilai IIT adalah dengan derajat integrasi yang lemah0 artinya aliran perdagangan untuk dimana nilai ekspor-impor sebesarproduk ini adalah satu arah. Bubuk US$ 2,4 juta dan US$ 12 ribu.kakao yang tidak mengandungtambahan gula atau pemanis lainnyaTabel 10. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Korea Selatan Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) * Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0,00 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 1,07Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 154,84 2.423,55 12,99Aliran dan Keterkaitan Perdagangan perdagangan untuk produk ini adalahKakao Indonesia dan Australia satu arah. Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao Aliran perdagangan dan Intra- merupakan komoditas andalan eksporIndustry Trade (IIT) antara Indonesia Indonesia ke Australia.dengan Australia tahun 2013ditunjukkan pada Tabel 11. Produk Cokelat dan makanan olahanbubuk kakao yang tidak mengandung lain yang mengandung kakao (HS-1806)tambahan gula atau pemanis lainnya memberikan kontribusi ekspor ke(HS-1805) memberikan kontribusi Australia sebesar US$ 529 ribu, tanpaekspor paling besar untuk Indonesia adanya impor. Hal ini menunjukkandari Australia, yaitu sebesar US$ 5,9 kontribusi Indonesia sebagai eksportirjuta. Hal ini menunjukkan kontribusi untuk produk cokelat dan makananIndonesia sebagai eksportir untuk olahan lain yang mengandung kakaoproduk bubuk kakao yang tidak dengan nilai IIT adalah 0 artinya aliranmengandung tambahan gula atau perdagangan untuk produk ini adalahpemanis lainnya ke Australia dengan satu arah.nilai IIT adalah 0 artinya aliran 73

Aliran perdagangan biji kakao (utuh produk biji kakao (utuh atau hancur,atau hancur, mentah atau dipanggang) mentah atau dipanggang) dari Australia(HS-1801) antara Indonesia dan sehingga nilai IIT untuk produk iniAustralia memberikan nilai ekspor yang adalah 0. Hal ini berarti tidak terdapatlebih kecil jika dibandingkan ekspor integrasi antara kedua pasar, ataujenis kakao lainnya, yaitu hanya sebesar artinya perdagangan yang terjadi adalahUS$ 251. Indonesia tidak mengimpor perdagangan satu arah.Tabel 11. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Australia Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0,251 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 0,00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 5.920,274 0,00 529,817Aliran dan Keterkaitan Perdagangan Bubuk kakao yang tidakKakao Indonesia dan New Zealand mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya (HS-1805) merupakan Aliran perdagangan dan Intra- produk kakao dan turunannya yangIndustry Trade (IIT) antara Indonesia paling banyak diekspor oleh Indonesiadengan New Zealand tahun 2013 ke New Zealand dengan nilai eksporditunjukkan pada Tabel 12. Produk Biji sebesar US$ 483 ribu, tanpa adanyakakao (utuh atau hancur, mentah atau impor. Hal ini menunjukkan kontribusidipanggang) (HS-1801) merupakan Indonesia sebagai eksportir untukproduk kakao yang tidak produk cokelat dan makanan olahandiperdagangkan oleh Indonesia ke New lain yang mengandung kakao denganZealand. Hal ini ditunjukkan oleh nilai nilai IIT adalah 0 artinya aliranekspor dan nilai impor untuk jenis perdagangan untuk produk ini adalahproduk tersebut bernilai nol. satu arah.Tabel 12. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan New Zealand Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) * Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 0.00 0.00 0.00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0.00 0.00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 483.718 0.00 9407.493 Aliran perdagangan cokelat dan produk cokelat dan makanan olahanmakanan olahan lain yang mengandung lain yang mengandung kakao dari Newkakao (HS-1806) antara Indonesia dan Zealand sehingga nilai IIT untuk produkIndia memberikan nilai ekspor yang ini adalah 0. Hal ini berarti tidaklebih kecil jika dibandingkan ekspor terdapat integrasi antara kedua pasar,jenis kakao lainnya, yaitu hanya sebesar atau artinya perdagangan yang terjadiUS$ 25 ribu. Indonesia tidak mengimpor adalah perdagangan satu arah. 74

Aliran dan Keterkaitan Perdagangan atau hancur, mentah atau dipanggang)Kakao Indonesia dan India (HS-1801) memberikan kontribusi ekspor paling besar untuk Indonesia Aliran perdagangan dan Intra- dari India, yaitu sebesar US$ 13,62 juta.Industry Trade (IIT) antara Indonesia Hal ini menunjukkan kontribusidengan India tahun 2013 ditunjukkan Indonesiapada Tabel 13. Produk biji kakao (utuh adalah 0 artinya aliran perdagangan untuk produk ini adalah satu arah. sebagai eksportir untuk produkbiji kakao (utuh atau hancur, mentah Aliran perdagangan cokelat danatau dipanggang) ke India dengan nilai makanan olahan lain yang mengandungIIT adalah 0 artinya aliran perdagangan kakao (HS-1806) antara Indonesia danuntuk produk ini adalah satu arah. Biji India memberikan nilai ekspor yangkakao (utuh atau hancur, mentah atau lebih kecil jika dibandingkan ekspordipanggang) merupakan komoditas jenis kakao lainnya, yaitu hanya sebesarandalan ekspor Indonesia ke India. US$ 3,4 juta. Indonesia tidak mengimpor produk cokelat dan Bubuk kakao yang tidak makanan olahan lain yang mengandungmengandung tambahan gula atau kakao dari India sehingga nilai IIT untukpemanis lainnya (HS-1805) memberikan produk ini adalah 0. Hal ini berarti tidakkontribusi ekspor ke India sebesar terdapat integrasi antara kedua pasar,US$ 6,17 juta, tanpa adanya impor. Hal atau artinya perdagangan yang terjadiini menunjukkan kontribusi Indonesia adalah perdagangan satu arah.sebagai eksportir untuk produk cokelatdan makanan olahan lain yangmengandung kakao dengan nilai IITTabel 13. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan India Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 13.624,586 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 0,00 0,00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 6.176,156 0,00 3.480,384Aliran dan Keterkaitan Perdagangan artinya aliran perdagangan untukKakao Indonesia dan Tiongkok produk ini adalah satu arah. Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau Aliran perdagangan dan Intra- dipanggang) merupakan komoditasIndustry Trade (IIT) antara Indonesia andalan ekspor Indonesia ke Tiongkok.dengan Tiongkok tahun 2013ditunjukkan pada Tabel 14. Produk biji Bubuk kakao yang tidakkakao (utuh atau hancur, mentah atau mengandung tambahan gula ataudipanggang) (HS-1801) memberikan pemanis lainnya (HS-1805) memberikankontribusi ekspor paling besar untuk kontribusi ekspor ke Tiongkok sebesarIndonesia dari Tiongkok, yaitu sebesar US$ 16 juta, tanpa adanya impor. Hal iniUS$ 19 juta. Hal ini menunjukkan menunjukkan kontribusi Indonesiakontribusi Indonesia sebagai eksportir sebagai eksportir untuk produk cokelatuntuk produk biji kakao (utuh atau dan makanan olahan lain yanghancur, mentah atau dipanggang) ke mengandung kakao dengan nilai IITTiongkok dengan nilai IIT adalah 0 adalah 0 artinya aliran perdagangan untuk produk ini adalah satu arah. 75

Aliran perdagangan cokelat cokelat dan makanan olahan lain yangdan makanan olahan lain yang mengandung kakao dari Tiongkokmengandung kakao (HS-1806) antara sehingga nilai IIT untuk produk iniIndonesia dan Tiongkok memberikan adalah 0. Hal ini berarti tidak terdapatnilai ekspor yang lebih kecil jika integrasi antara kedua pasar, ataudibandingkan ekspor jenis kakao artinya perdagangan yang terjadi adalahlainnya, yaitu hanya sebesar US$ 927 perdagangan satu arah.ribu. Indonesia tidak mengimpor produkTabel 14. Aliran Perdagangan dan Intra-Industry Trade (IIT) antara Indonesia dan Tiongkok Tahun 2013Produk Produk Impor IIT Biji kakao (utuh atau hancur, mentah atau dipanggang) (000 US$) (000 US$) 0,00 Mengandung tambahan gula atau pemanis lainnya 19.200,451 0,00 0,00 Cokelat dan makanan olahan lain yang mengandung kakao 16.517,488 0,00 0.00Sumber: Dikalkulasi dari UN COMTRADE Database (2014) 0.00 927.604KESIMPULAN tetapi Indonesia juga mengimpor1) Dalam hal perdagangan kakao (HS- produk kakao HS-1805 yang sangat besar dari Malaysia. 1801) dan produk kakao (HS-1805 dan HS-1086) di ASEAN+6, Indonesia DAFTAR KEPUSTAKAAN melakukan kegiatan perdagangan Austria M. S. 2004. The Patterns of Intra dua arah dengan Malaysia untuk ASEAN Trade in The Priority produk kakao (HS-1805) dan biji Goods Sectors. [internet]. kakao (HS-1801), Jepang (HS-1805), [diunduh 2013 Maret]; REPSF Thailand (HS-1806), Filipina (HS- Project No. 03/006e: Final 1806), Vietnam (HS-1806) dan Korea Main Project. Tersedia pada: Selatan (HS-1806). Hal ini http://www.ausaid.gov.au/. [9 ditunjukkan dengan Indeks IIT November 2014]. Indonesia terhadap keenam negara Badan Pusat Statistik. 2014a. Produk tersebut yang lebih besar dari nol Domestik Bruto (PDB) (0). Derajat integrasi di antara Berdasarkan Lapangan Usaha. Indonesia dengan keenam negara Jakarta (ID): Badan Pusat tersebut masih tergolong lemah, Statistik (BPS). kecuali dengan Malaysia untuk HS- Badan Pusat Statistik. 2014b. Potensi 1805 yang memiliki derajat integrasi Pertanian Indonesia: Analisis yang sangat kuat, tetapi neraca Hasil Pencacahan Lengkap perdagangannya negatif. Sensus Pertanian 2013. Jakarta2) Kegiatan perdagangan kakao dan (ID): Badan Pusat Statistik produk kakao antara Indonesia (BPS). dengan negara ASEAN+6 lainnya Garelli, S. 2002. World Competitiveness menunjukkan tidak ada integrasi Yearbook 2002: atau perdagangan satu arah, bahkan Competitiveness of Nations tidak ada perdagangan. Dalam hal Fundamentals, IMD. perdagangan satu arah, Indonesia http://www02.imd.ch/wcy/fu berperan sebagai eksportir. ndamentals.3) Indonesia terutama mengekspor produk kakao HS-1806 dan HS-1801, 76

Oktaviani R, Novianti T. 2009. TeoriPerdagangan Internasionaldan Aplikasinya di Indonesia.Bogor (ID): IPB Pr.Oktaviani, R, Widyastutik., dan Novianti,T. 2008. Integrasi Perdagangandan Dinamika EksporIndonesia ke Timur Tengah(Studi Kasus: Turki, Tunisia,dan Maroko). Jurnal AgroEkonomi, Volume 26 No. 2 hal167-189.Porter ME. 1990. The CompetitiveAdvantage of Nations. NewYork (US): Free Pr..Rahman, R. Y. 2013. ProspekPerdagangan Gula Indonesiadalam Implementasi KerangkaPerjanjian Perdagangan BebasASEAN-China. [Tesis]. SekolahPascasarjana, InstitutPertanian Bogor, Bogor.Salvatore D. 1997. EkonomiInternasional. Ed ke-5. HarisMunandar, penerjemah.Jakarta (ID): Erlangga.Pramudito. 2004. Analisis Daya SaingMinyak Sawit Indonesia diPasar Cina serta StrategiPemasarannya [Skripsi].Fakultas Pertanian, InstitutPertanian Bogor, Bogor.Todaro MP, Smith SC. 2006.Pembangunan Ekonomi. Edke-9. Haris Munandar,penerjemah. Jakarta (ID) :Erlangga.www.wits.worldbank.org 77

PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT Muhammad Nursan Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Cordova [email protected] ABSTRACTWest Sumbawa regency is one of the regency in Indonesia where the food crops sub-sector is the mainlivelihood of the community. In the framework of increasing the competitiveness of the region andincreasing the production of food crops, the development of food crop commodities should bedetermined based on the region's superior commodities. This study aim to (1) determine thecommodity of food crop base, (2) determine the commodity of food crop. This research was conductedin West Sumbawa Regency. The data used in this study is cross section data were obtained fromexpert teams. The collected data were analyzed using Location Quotient (LQ), and Analytic HierarchyProcess (AHP) analysis method. The results showed that the commodity of food crop base in WestSumbawa Regency consisted of paddy which is the base commodity in 6 sub-districts, sweet potatoand peanut is the base commodity in 4 districts, soybean is the base commodity in 5 districts, cassavaand green beans are commodities Base on 3 sub-districts, and corn is a base commodity in 2 sub-districts. Superior commodity of food crops that become priority in West Sumbawa Regency is paddyis commodity with first priority with value 0,288, corn (0,285), soybean (0,158), green beans (0,150)and peanut (0,119).Keywords: Superior Commodity, Food Crops, LQ, AHP, West SumbawaPENDAHULUAN others sectors). Mengingat pentingnya peran sektor pertanian tersebut bagiIndonesia merupakan negara perekonomian, maka pembangunanagraris dimana sektor pertanian masih pertanian harus terus dikembangkanmerupakan sektor yang memberikan supaya dapat terciptanya sistemkontribusi terbesar terhadap pertanian yang unggul dan produkperekonomian. Kontribusi sektor pertanian yang memiliki daya saingpertanian terhadap Produk Domestik sehingga mampu meningkatkanBruto (PDB) pada tahun 2012 sebesar kesejahteraan hidup petani.14.44 persen (BPS Indonesia 2013).Menurut Daryanto (2009), sektor Salah satu subsektor pertanianpertanian memiliki peran sebagai sektor yang masih menjadi prioritasyang dapat menghasilkan pangan dan pembangunan sektor pertanian adalahbahan baku untuk menigkatkan sektor subsektor tanaman pangan. Hal tersebutindustri dan jasa, menghasilkan atau dapat dilihat dari besarnya kontribusimenghemat devisa yang berasal dari tanaman pangan terhadap Produkekspor atau substitusi impor, pasar yang Domestik Bruto (PDB) Indonesia padapotensial bagi produk-produk industri, tahun 2012 sebesar 8.08 persen (BPStransfer surplus tenaga kerja dari sektor Indonesia 2013). Kabupaten Sumbawapertanian ke sektor industri, dan sektor Barat merupakan salah satu kabupaten dipertanian mampu menyediakan modal Indonesia dimana sektor pertanianbagi pengembangan sektor-sektor lainnya tanamanan pangan merupakan bidang(a net outflow of capital for invesment in pencaharian utama dari mayoritas penduduknya sehingga sangat perlu 78

untuk dikembangkan dalam rangka METODE PENELITIANmeningkatkan pendapatan dan Penelitian ini dilaksanakan dikesejahteraan masyarakat. Produksitanaman pangan di Kabupaten Sumbawa Kabupaten Sumbawa Barat yang terdiriBarat Tahun 2015 sebesar 133. 063 ton atas 8 kecamatan yaitu Kecamatandengan luas panen sebesar 29.250 hektar Sekongkang, Maluk, Jereweh, Taliwang,(BPS Sumbawa Barat, 2016). Produksi Brang Ene, Brang Rea, Seteluk dan Pototanaman pangan di Kabupaten Sumbawa Tano selama 3 (tiga) bulan mulai AgustusBarat masih dapat ditingkatkan sampai Oktober 2016.mengingat potensi lahan dan dukungandari pemeritah daerah. Jenis data pada penelitian ini Dalam rangka pengembangan dan adalah data cross section yang berupapeningkatan produksi komoditas tanaman data kuantitatif dan kualitatif. Teknikpangan maka perlu diarahkan dan pengumpulan data meliputi studiditentukan komoditas unggulan dari dokumentasi untuk mendapatkan datamasing-masing wilayah di Kabupaten sekunder dari sejumlah instansi terkaitSumbawa Barat. Dimana menurut seperti Badan Perencanaan danMubyarto (2000), penentuan komoditas Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Badanunggulan pada suatu wilayah merupakan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawalangkah awal pembangunan pertanian Barat dan instansi lainnya. Sedangkanyang berpijak pada konsep efisiensi untuk untuk studi lapangan untuk mendapatkanmeraih keunggulan komparatif dan data primer dilakukan dengan melakukankompetitif dalam menghadapi pasar wawancara dengan sejumlah narasumberglobal. Pengembangan wilayah berbasis atau Tim Pakar Pertanian di Kabupatenkomoditas unggulan diharapkan akan Sumbawa Barat.memacu pertumbuhan suatu wilayah Metode Analisissehingga dapat meningkatkanpendapatan masyarakat. Pemanfaatan Metode analisis yang digunakanpotensi daerah unggulan dan potensial pada penelitian penentuan komoditassecara optimal dan terpadu merupakan unggulan tanaman pangan di Kabupatensyarat yang perlu diperhatikan agar Sumbawa Barat ini yaitu menggunakankesejahteraan dan kemakmuran metode Location Quotient (LQ), danmasyarakat dapat tercapai. Analytic Hierarchy Process (AHP). Oleh karena itu, berdasarkan Metode Location Quotient (LQ)uraian di atas maka tujuan penelitian iniadalah: Analisis LQ digunakan untuk1. Untuk menetukan komoditas basis menentukan komoditas basis dalamtanaman pangan di Kabupaten perekonomian wilayah sektor/subsektorSumbawa Barat unggulan yang berkembang dengan baik2. Untuk menentukan prioritas tentunya mempunyai pengaruh yangkomoditas unggulan di Kabupaten signifikan terhadap pertumbuhanSumbawa Barat. ekonomi daerah dan pendapatan daerah. Nilai LQ akan memberikan indikasi kemampuan suatu daerah dalam menghasilkan suatu komoditas. Metode perhitungan penentuan komoditas basis 79

menggunakan LQ mengacu pada formula berpasangan yang bergantung padasebagai berikut (Tarigan, 2004): penilaian para ahli dalam menentukan skala prioritas (Saaty, 2008). LQ = / / Adapun Langkah-langkah dalamDimana: metode AHP adalah sebagai berikutxi : total produksi komoditas i pada (Marimin dan magfiroh, 2010) :tingkat kecamatan 1. Menentukan tujuan, kriteria, danxt : total produksi subsektor t padatingkat kecamatan alternatif yang kemudian disusunXi : total produksi komoditas i pada dalam sebuah hirarki.tingkat kabupaten 2. Melakukan pembobotan terhadapXt : total produksi subsektor t pada kriteria dengan perbandingantingkat kabupaten berpasangan (pairwise comparison). Perhitungan LQ menghasilkan tiga Pembobotan dilakukan untuk setiapkriteria yaitu: tingkatan dalam hirarki. Bobot yangLQ > 1; artinya komoditas itu menjadi digunakan adalah skala yangbasis atau menjadi sumber pertumbuhan. dibangun oleh Saaty dengan nilai 1Komoditas memiliki keunggulan sampai dengan 9. Nilai bobotkomparatif, hasilnya tidak saja dapat menggambarkan tingkat kepentinganmemenuhi kebutuhan di wilayah masing-masing kriteria. Nilai 1bersangkutan akan tetapi juga dapat menggambarkan bahwa dua kriteriadiekspor ke luar wilayah. yang dibandingkan memiliki tingkatLQ = 1; komoditas itu tergolong non basis, kepentingan yang sama, sedangkantidak memiliki keunggulan komparatif. nilai 9 menggambarkan tingkatProduksinya hanya cukup untuk kepentingan yang mutlak. Berikutmemenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan disajikan tabel pembobotan untuktidak mampu untuk diekspor. setiap tingkat dalam hirarki.LQ < 1; komoditas ini juga termasuk nonbasis. Produksi komoditas di suatu Tabel 1. Nilai skala perbandingan berpasanganwilayah tidak dapat memenuhi Nilai Kriteriakebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan Bobotatau impor dari luar. 1 Faktor A sama penting dengan Faktor B 3 Faktor A lebih penting dari Faktor BAnalytic Hierarchy Process (AHP) 5 Faktor A jelas lebih penting dari Faktor Pemilihan prioritas komoditas Bunggulan tanaman pangan di Kabupaten 7 Faktor A sangat jelas lebih penting dariSumbawa Barat dilakukan dengan Far Aktor Bmenggunakan metode Analytic Hierarchy 9 Faktor A mutlak lebih penting dariProcess (AHP). Analysis Hierarchy Process Faktor B(AHP) merupakan suatu analisis yang 2, 4, Apabila ragu-ragu antara dua nilaidigunakan dalam pengambilan keputusan 6, 8 elemen yang berdekatandengan menggunakan pendekatan sistemuntuk membantu pengambilan 3. Menentukan prioritas unsurkeputusan. Pada analisis AHP dilakukan keputusan dan pengaruh setiap unsurpengukuran melalui perbandingan dalam tingkatan hirarki tertentu terhadap tujuan utama. 4. Konsistensi logis, menguji keabsahan nilai matriks berpasangan dengan menghitung nilai rasio konsistensi. 80

Pada umumnya nilai inkonsistensi kata lain komoditas x di suatu wilayah sebesar 10% masih dapat diterima, memiliki keunggulan komparatif meskipun pada beberapa kasus (produksinya melebihi kebutuhannya toleransinya lebih dari angka itu. sehingga dapat dijual ke luar wilayah); LQHASIL DAN PEMBAHASAN = 1 artinya sektor bukan basis; komoditasAnalisis Sektor Basis Tanaman Pangan x di suatu wilayah tidak memiliki keunggulan (produksi hanya cukup untuk Analisis Location Quotient (LQ) konsumsi sendiri); dan LQ < 1 artinyamenggambarkan bahwa aktivitas pangsa sektor bukan basis; komoditas x padaproduksi tanaman pangan suatu suatu wilayah tidak dapat memenuhikecamatan terhadap pangsa kabupaten. kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokanNilai LQ > 1 artinya sektor basis dengan dari luar wilayah. Adapun hasil analisis LQ untukkomoditas tanaman pangan di KSBdisajikan pada Tabel 2 di Bawah ini:Tabel 2. Hasil Analisis LQ Tanaman Pangan di KSB Tahun 2015Kecamatan Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Kacang Hijau TanahSekongkang 1.07 0.74 1.26 2.33 2.14 1.90 0.29 2.40 0.41 3.21Jereweh 1.20 0.26 1.21 3.25 8.87 1.35 1.39 0.67 0.40 1.16Maluk 0.79 1.51 1.89 0.00 0.00 0.15 2.49 0.37 0.15 0.88Taliwang 1.18 0.40 1.18 0.15 1.47 0.25 0.91 0.99 4.00 0.16Brang Ene 1.31 0.02 0.44 0.69Brang Rea 1.33 0.01 0.27 0.29Seteluk 1.06 0.77 1.35 0.99Poto Tano 0.12 3.91 1.27 2.56 Berdasarkan data pada Tabel 2 1. Kecamatan Sekongkang merupakantanaman padi merupakan komoditas basis sektor untuk komoditas padi,basis dengan jumlah kecamatan kedelai, ubi kayu, ubi jalar dan kacangterbanyak yaitu basis pada 6 kecamatan, hijausedangkan untuk komoditas lainnyaseperti jagung merupakan komoditas 2. Kecamatan Jereweh merupakan basisbasis pada 2 kecamatan, kedelai sektor untuk komoditas padi, ubimerupakan komoditas basis pada 5 kayu, ubi jalar, dan kacang tanahkecamatan ubi kayu dan kacang hijaumerupakan komoditas basis pada 3 3. Kecamatan Maluk merupakan basiskecamatan, ubi jalar dan kacang tanah sektor untuk komoditas jagung,merupakan komoditas basis pada 4 kedelai, ubi jalar, kacang hijau dankecamatan. kacang tanah Sedangkan berdasarkan hasil 4. Kecamatan Taliwang merupakan basisanalisis LQ tanaman pangan pada masing- sektor untuk komoditas padi, kedelaimasing kecamatan menunjukkan bahwa: dan kacang tanah 5. Kecamatan Brang Ene merupakan basis sektor untuk komoditas padi dan kacang tanah 81

6. Kecamatan Brang Rea merupakan diketahui bahwa kriteria kontribusi basis sektor untuk komoditas padi terhadap pendapatan masyarakat (KTM) menempati peringkat pertama dengan7. Kecamatan Seteluk merupakan basis nilai 0,137, diikuti oleh Penyerapan sektor untuk komoditas padi, kedelai Tenaga Kerja (PTK) dengan nilai 0.134, dan ubi jalar kebijakan pemerintah daerah (KPD) dengan nilai 0.131, kesesuaian lahan (KL)8. Kecamatan Poto Tano merupakan dengan nilai 0.128, peluang pasar (PP) basis sektor untuk komoditas jagung, dengan nilai 0.126, Peluang Investasi (PI) kedelai, ubi kayu dan kacang hijau dengan nilai 0.121, ketersediaan sarana produksi (KSP) dengan nilai 0.118 danPenentuan Prioritas Komoditas terakhir kontribusi terhadap PendapatanUnggulan Tanaman Pangan Asli Daerah (KPAD) dengan nilai 0.106. Penentuan prioritas komoditas Berdasarkan hasil analisis AHPunggulan tanaman pangan menggunakan dengan tujuan penentuan prioritasAHP disusun berdasarkan kriteria komoditas unggulan tanaman pangan dariKontribusi terhadap Pendapatan berbagai kriteria tersebut maka diperolehMasyarakat (KPM), kontribusi terhadap bahwa padi merupakan komoditasPendapatan Asli Daerah (KPAD), peluang dengan prioritas pertama dengan nilaipasar (PP), Peluang Investasi (PI), 0,288, kemudian diikuti dengankesesuaian lahan (KL) , ketersediaan komoditas jagung dengan nilai 0,285,sarana produksi (KSP), kebijakan kedelai dengan nilai 0.158, kacang hijaupemerintah daerah (KPD), Penyerapan dengan nilai 0.150 dan peringkat kelimaTenaga Kerja (PTK). Sedangkan alternatif kacang tanah dengan nilai 0.119. secarakomoditas yang dipilih adalah padi, rinci dapat dilihat pada Gambar 1.jagung, kedelai, kacang hijau dan kacangtanah. Dari hasil analisis AHP penentuankomoditas unggulan tanaman panganKacang Tanah 0.119Kacang Hijau 0.150Kedelai 0.158Jagung 0.285Padi 0.2880.000 0.050 0.100 0.150 0.200 0.250 0.300 0.350Gambar 1. Diagram Bobot Prioritas Komoditas Unggulan Tanaman Pangan Berdasarkan Seluruh Kriteria yang Dipertimbangkan 82

KESIMPULAN DAN SARAN disesuaikan dengan komoditas unggulan pada masing-masingKesimpulan wilayah. Berdasarkan hasil penelitian maka 2. Pemberian benih unggul tanaman pangan dan penyuluhan sertadapat disimpulkan bahwa: pelatihan kepada petani sangat1. Komoditas basis tanaman pangan di diperlu dalam mendukung usahatani tanaman pangan unggulan di Kabupaten Sumbawa Barat terdiri Kabupaten Sumbawa Barat. atas padi yang merupakan komoditas basis pada 6 kecamatan, ubi jalar dan DAFTAR PUSTAKA kacang tanah merupakan komoditas BPS. Badan Pusat Statistik Indonesia. basis pada 4 kecamatan, kedelai merupakan komoditas basis pada 5 2012. Statistika Indonesia. kecamatan, ubi kayu dan kacang Jakarta: BPS Indoneisa. hijau merupakan komoditas basis BPS. Badan Pusat Statistik Kabupaten pada 3 kecamatan, dan jagung Sumbawa Barat. 2016. Kabupaten merupakan komoditas basis pada 2 Sumbawa Barat dalam Angka kecamatan. 2016. Sumbawa Barat: BPS2. Komoditas unggulan tanaman Sumbawa Barat. pangan yang menjadi prioritas di Marimin., N. Maghfiroh. 2010. Aplikasi Kabupaten Sumbawa Barat yaitu Teknik Pengambilan Keputusan padi merupakan komoditas dengan dalam Manajemen Rantai Pasok. prioritas pertama dengan nilai 0,288, IPB Press. Bogor. komoditas jagung dengan nilai 0,285, Mubyarto. 2000. Pengembangan Wilayah kedelai dengan nilai 0.158, kacang Pembangunan Pedesaan dan hijau dengan nilai 0.150 dan kacang Otonomi Daerah. Direktorat tanah dengan nilai 0.119. Kebijaksanaan Teknologi Untuk Pengembangan Wilayah. BadanSaran Berdasarkan simpulan pada Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Jakarta.penelitian ini maka dapat disarankan Tarigan, R. 2004. Perencanaanbahwa: Pembangunan Wilayah. Jakarta:1. Pemerintah perlu menetapkan PT Bumi Aksara.kebijakan yang berkaitan denganpenentuan dan pengembangankomoditas unggulan harus 83

SIKAP KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN BANDENG DURI LUNAK DI TOKO BANDENG JUWANA KOTA SEMARANG Gary Yefta Herbeth Siagian1, Wiludjeng Roessali2 dan Tri Winarni Agustini3 1Mahasiswa Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro 2Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro 3Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Email : [email protected] ABSTRACTThe aims of this study were to analyze consumer attitude, to know the factors which influencesbuyer attitude toward decision of purchase of softbone milkfish, and to study on satisfactiontoward attribute’s of softbone milkfish at Juwana milkfish shop in Semarang City. The methods ofthis study were survey. The methods used were an accidental sampling of 100 respondents. Thedata were analyzed of using Fishbein, Important Performance Analisis (IPA), CustomerSatisfaction Index (CSI), and multiple linear regression. The result of this study showed thatattitude of customer assessing of milkfish production for TBJ is positive with a score of 19.52. Thismeans that consumer feels the attribute’s of milkfish a comply with customer. Need factors thatinfluence consumer attitudes towards purchasing decision in TBJ very significantly influenced bytheir job and income. The job status are government employees signicficantly buyer descision.Descision buyers average is on range Rp. 2.000.000-Rp.4.000.000 with average account thebuyers most of 4-8 kg/month. Another variable of gender, education level, and location had nosignificant effect to purchasing decision. The level of customer satisfaction in TBJ that is oncategories of satisfied with a value of 0,72. This means that the company's performance inproviding products are in accordance with customer expectations.Keywords : attitude, buying, satisfaction, attributes, milk fishPENDAHULUAN Indonesia. Selain dijadikan konsumsi, Komoditi perikanan tambak ikan bandeng juga dipakai sebagai ikan umpan hidup pada usaha penangkapanyang sangat berpotensi untuk ikan tuna (Syamsuddin, 2010).dikembangkan dalam industri olahan Komposisi nilai gizi ikan bandeng setiapadalah ikan bandeng. Jawa Tengah 100 gram mengandung 129 kkal energi,merupakan provinsi penghasil bandeng 20 g protein, 4,8 g lemak, 150 mgyang menempati urutan ke-empat di fosfor, 20 mg kalsium, 2 mg zatbesi, 150Indonesia. Pada tahun 2013 produksi SI vitamin A, dan 0,05 mg viamin B.bandeng Jawa Tengah mencapai 63.631 Berdasarkan komposisi gizi tersebutton (Kementrian Perikanan dan maka ikan bandeng digolongkan sebagaiKelautan, 2015). Kota Semarang ikan berprotein tinggi dan berlemakmerupakan salah satu kota di Jawa rendah (Saparinto, 2006).Tengah yang mengembangkan industriikan bandeng. Pada tahun 2015 Toko Bandeng Juwana (TBJ) adalahpengembangan industri ikan bandeng salah satu produsen penghasil bandengmengalami kenaikan sebesar 352,81 ton duri lunak yang juga menjadi riteilmenjadi 865,93 ton (Badan Pusat produk terletak di jalan Pandanaran,Statistik Kota Semarang, 2016). toko ini telah menjual bandeng duri lunak sejak tahun 1981. Rata-rata Ikan bandeng merupakan produksi olahan bandeng dari bulankomoditas perikanan yang memiliki Mei sampai dengan bulan September diprospek baik untuk dikembangkan dan Tahun 2015 sebesar 7.937 kg bandengsudah dikenal oleh masyarakat duri lunak, 1.960,8 kg bandeng vacuum, 84

dan 5914,8 kg varians jenis bandeng untuk Toko Bandeng Presto Rp.lainnya. Sedangkan rata-rata produksi 147.000/kg.olahan bandeng dari bulan Mei-September di Tahun 2016 sebesar Sikap merupakan evaluasi,7.791,2 kg, 2018,2 kg untuk bandeng perasaan, dan kecenderunganvacuum, dan 5231,8 kg varians jenis seseorang yang secara konsistenbandeng lainnya. Berdasarkan rata-rata menyukai atau tidak menyukai suatuproduksi penjualan bandeng duri lunak objek atau gagasan (Kotler dandari bulan Mei-September 2015-2016. Amstrong, 2008). Sikap (attitude)rata-rata pemintaan akan bandeng duri konsumen adalah faktor penting yanglunak menurun sebesar 1,8%, bandeng akan mempengaruhi keputusanvacuum sebesar 2,9%, sedangkan untuk pembelian konsumen. Konsep sikapbandeng olahan lainnya sebesar sangat terkait dengan konsep11,55%. Hal ini disebabkan karena kepercayaan (belief) dan perilakukurangnya lahan parkir di toko tersebut, (behavior). Kepercayaan konsumensehingga konsumen menjadi kurang adalah pengetahuan konsumennyaman dalam berbelanja. Usia dan mengenai suatu objek, atributnya, danpekerjaan seseorang juga manfaatnya (Mowen dan Minor, 1998).mempengaruhi pola konsumsinya Sikap konsumen akan menentukan(Yahya, 2011). Terdapat hubungan yang proses pengambilan keputusan dalamerat antara faktor pendapatan, pembelian mereka. Proses tersebutpendidikan, dan harga produk dengan merupakan sebuah pendekatankeputusan konsumen melakukan penyelesaian masalah pada kegiatanpembelian produk. Pendidikan secara manusia untuk membeli sebuah baranglangsung berkaitan dengan kemampuan atau jasa dalam memenuhi keinginanmembeli karena terdapat korelasi yang dan kebutuhannya (Kotler, 2007).kuat antara pendidikan dan Pemasar perlu merancang strategipendapatan. Pendidikan mempengaruhi pemasaran berdasarkan sikapkonsumen dalam membuat keputusan. konsumen mulai dari bagaimanaKonsumen yang pendidikannya tinggi kebutuhan akan suatu produkmempunyai pandangan yang berbeda dirasakan, apa yang dilakukan untukterhadap alternatif merek dan harga memenuhi kebutuhan tersebut,dibandingkan dengan konsumen bagaimana konsumen memutuskanberpendidikan yang lebih rendah. untuk membeli produk tersebut,Penetapan harga oleh penjual akan bagaimana konsumen mengkonsumsiberpengaruh terhadap sikap pembelian produk yang telah dibeli, sampaikonsumen, sebab harga yang dapat bagaimana konsumen menyingkirkandijangkau oleh konsumen akan produk tersebut serta apa saja yangcenderung membuat konsumen dilakukan setelah itu (Setiadi, 2003).melakukan pembelian terhadap produktersebut (Matital dan Parera, 2013). Tujuan penelitian ini adalahBerdasarkan kompetitor harga, TBJ untuk menganalisis sikap konsumen,merupakan salah satu riteil yang dan mengetahui faktor-faktor yangtergolong menjual dengan harga yang mempengaruhi sikap konsumen dalamcukup mahal di Jalan Pandanaran. Hal pengambilan keputusan pembelianini dapat dilihat bahwa harga di Toko bandeng duri lunak, serta mengkajiDjoe untuk bandeng duri lunak sebesaar tingkat kepuasan konsumen terhadapRp. Rp. 89.000/kg, untuk Toko Juwana atribut bandeng duri lunak di Tokosebesar Rp. 102.000/kg. Untuk Toko Bandeng Juwana Kota Semarang.Bonafide sebesar Rp. 85.000/kg, dan 85


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook