BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kenyataan yang terjadi, motivasi dalam proses pembelajaran dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli, bagi Siswa Kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang masih sangat rendah. Siswa masih kesulitan dalam melakukan pasing atas terutama dalam membentuk sikap jari tangan yang benar dan sikap lengan bahu. Khusus pada siswa putri, merasakan kekhawatiran yang berlebihan saat melakukan kegiatan pasing atas. Hal ini lebih diperparah dengan adanya motivasi yang rendah dalam proses pembelajaran. Para siswa lebih banyak mencari alternatif permainan lain dari pada melakukan pasing atas. Para siswa putra misalnya secara berkelompok menggunakan bola voli yang dibawa untuk bermain sepak bola. Siswa putri lebih memilih berteduh di bawah pohon dari pada melakukan pasing atas. Maka tidak mengherankan apabila kemampuan pasing atas siswa tersebut sangat buruk. Pada saat tes diadakan, lebih dari separo siswa memiliki kemampuan pasing atas rendah dan tidak tuntas pada pokok bahasan pasing atas. Guru Mata Pelajaran Penjasorkes sebagai penulis dalam penelitian ini menyadari masih belum menemukan dan melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran pasing atas yang inovatif. Guru penjasorkes sebelum penelitihan ini, masih menggunakan pembelajaran konvensional. Proses pembelajaran dalam pembelajaran sebelum diadakan penelitihan 1
2 ini, siswa diminta mengambil dan menggunakan bola voli sesuai instruksi, setelah guru memberikan contoh dengan mendemonstrasikan pasing atas individu, selanjutnya siswa diminta menirukan gerakan yang telah dicontohkan. Setelah proses kegiatan pasing yang dilakukan siswa berlangsung 5 (lima) menit, para siswa sudah melakukan kegiatan lain daripada tetap belajar pasing atas sesuai yang diinstruksikan. Para siswa putri lebih memilih duduk-duduk di bawah pohon atau teras-teras kelas. Sedang para siswa putra melakukan kegiatan sepak bola dengan menggunakan bola voli. Hal ini tentu menyebabkan pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli kurang seperti yang diharapkan. SMP Negeri 21 Semarang pada umumnya dan kelas IX D khususnya, melalui model pembelajaran pasing atas, diharapkan dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran dan meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Mata Pelajaran Penjasorkes di SMP, permainan bola voli adalah salah satu permainan bola besar pada aspek permainan dan olahraga. Permainan bola voli di SMP Negeri 21 Semarang pada masa yang akan datang diharapkan menjadi olahraga permainan andalan di sekolah. Permainan bola voli memiliki 4 (empat) teknik dasar yaitu: 1) servis, yang terdiri dari servis bawah dan servis atas. 2) pasing, terdiri dari pasing bawah dan pasing atas. 3) smash yaitu pukulan yang keras dan menukik tajam ke arah lapangan lawan. 4) dan tipuan, yang dalam permainan bola voli sering disebut dink. Pasing atas sering juga disebut mengumpan merupakan teknik dasar dalam
3 permainan bola voli yang sangat penting, karena dengan umpan yang baik akan menjadikan spiker lebih agresif dalam memukul bola. Mengumpan adalah sebuah operan overhead yang dilakukan untuk menempatkan bola pada suatu posisi kepada penyerang (Barbara L. Viera dalam Monti, 2004: 51). Berdasarkan kondisi awal siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran bola voli khususnya pasing atas, dan kemampuan pasing atas siswa rendah, diharapkan guru melakukan inovasi dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Dalam penelitian tindakan ini guru melaksanakan proses pembelajaran bola voli pada materi pasing atas dengan menggunakan model latihan pasing atas. Pengalaman peneliti sebagai seorang guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, menemui kendala setiap mengajarkan kemampuan pasing atas. Padahal pasing atas dalam permainan bola voli, merupakan teknik dasar yang sangat penting, karena hasil dari pasing atas ini apabila dilakukan dengan benar akan menghasilkan lambungan bola yang akurasinya lebih baik daripada pasing bawah. Pasing atas yang baik dan benar, jika digunakan sebagai umpan kepada pemain yang melakukan smash, akan mendapatkan hasil smash yang lebih baik daripada jika menggunakanumpan dengan pasing bawah. Berdasarkan observasi peneliti yang juga sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan saat mengajar, dan juga dari teman-teman guru saat mengajar pasing atas dalam permainan bola voli dapat diketahui
4 bahwa kesulitan yang dialami siswa dalam melakukan pasing atas dalam permainan bola voli, sehingga menjadikan para siswa kurang aktif pada pembelajaran dan kemampuan dalam melakukan pasing atas jelek, dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) yaitu kesulitan melakukan sikap jari- jari tangan, kesulitan melakukan sikap lengan dan bahu, dan kesulitan melakukan sikap tungkai. Ditambah kesulitan non teknis yaitu rasa takut atau khawatir kejatuhan benda yang besar dan berat saat melakukan latihan pasing atas. Pertanyaannya, bagaimanakah cara meningkatkan motivasi dan kemampuan pasing atas pada siswa? Demikian juga guru yang belum menggunakan model latihan pasing atas diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran dengan model tersebut untuk meningkatkan motivasi dalam pembelajaran dan sekaligus meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Sebagai guru penjasorkes, telah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan cara latihan agar kondisi siswa dalam menerima pembelajaran pasing atas mengalami kemajuan. Keadaan kurangnya motivasi dan prestasi pasing atas dalam permainan bola voli hampir dipastikan karena guru belum menemukan dan melaksanankan model- model latihan pasing atas dari tingkat latihan yang sederhana atau mudah menuju tingatan latihan yang sebenarnya. Guru merasakan bahwa sebenarnya siswa memiliki keinginan yang cukup tinggi untuk memiliki kompetensi pasing atas dalam permainan bola voli. Ini semua terlihat dari keluhan para siswa merasa sangat kurang dalam melakukan latihan pasing
5 atas dalam permainan bola voli. Padahal siswa berharap agar mampu melakukan pasing atas dalam permainan bola voli dengan baik dan benar. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan model latihan pasing atas. Sebagai tingkatan tindakan model latihan pasing adalah, 1) melalukan pasing ke lantai dengan sikap jari-jari tangan seperti pasing atas yang sebenarnya. 2) melakukan pasing atas dengan dipantulkan ke tembok. B. Identifikasi Masalah Telah diketahui bahwa masalah yang dihadapi siswa Kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang, adalah rendahnya motivasi dalam pembelajaran dan kemampuan melakukan pasing atas dalam permainan bola voli. Hal ini disebabkan karena selama pembelajaran masih menggunakan model- model yang belum tepat sehingga menyebabkan motivasi siswa dalam pembelajaran rendah dan tidak adanya peningkatan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Kompetensi pasing atas dalam permainan bola voli perlu ditingkatkan karena kemampuan pasing atas sangat penting di dalam permainan bola voli. Pasing atas apabila dilakukan dengan teknik yang benar akan menghasilkan lambungan bola yang sangat akurat sehingga diharapkan akan mudah diantisipasi pemain dalam satu regu. 90% lebih set upper (pemain pengumpan) menggunakan pasing atas dalam memberikan umpan pada smasher (pemain penyerang), sehingga semakin akurat pasing atas yang dilakukan pemain maka akan mengasilkan serangan yang sangat baik pula.
6 Identifikasi masalah dalam penelitian ini diantaranya sebagai berikut: 1) mengapa motivasi dalam pembelajaran pasing atas di SMP Negeri 21 rendah? 2) mengapa kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli rendah? 3) mengapa motivasi dalam pembelajaran pasing atas perlu ditingkatkan? 4) mengapa kemampuan pasing atas dalam pembelajaran pasing atas perlu ditingkatkan? 5) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan motivasi dalam pembelajaran dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli rendah? C. Pembatasan Masalah Dalam penelitian tindakan ini peneliti ingin meneliti model-model latihan pasing atas dalam permainan bola voli yaitu: 1) dengan memantulkan bola ke lantai. 2) dengan memantulkan bola ke tembok. Variabel tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Pasing atas adalah salah satu teknik dasar dalam permainan bola voli, yang dilakukan dengan membentuk jari-jari tangan seperti mangkuk di atas kepala, dan pada saat bola datang bola didorong oleh ruas-ruas jari tangan ke depan atas kepala. Pasing atas ini berguna untuk memberikan umpan kepada pemain penyerang (smaher) yang akan melakukan serangan ke lapangan lawan dengan pukulan bola sekeras mungkin hingga lawan tidak mampu mengembalikan bola lagi. Dengan adanya 3 (tiga) permasalahan pokok, tentang rendahnya motivasi dalam pembelajaran siswa, rendahnya kemampuan pasing atas
7 siswa dalam permainan bola voli, dan guru belum melakukan proses pembelajaran dengan model-model latihan pasing atas, maka penelitihan ini memiliki beberapa batasan yang perlu dikembangkan agar subtansi penelitihan ini tidak melebar dan agar dapatmemperoleh kesepahaman penafsiran tentang subtansi yang ada dalam penelitihan ini. Batasan- batasan masalah tersebut adalah sebagai berikut: 1) penelitihan ini hanya menitikberatkan pada bagaimana meningkatkan motivasi pembelajaran dan kemampuan pasing atas siswa dalam permainan bola voli bagi siswa kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang pada Semester I 2017. 2) Penelitihan ini menerapkan model-model latihan pasing atas bola voli dalam pembelajaran pada pendidikan jasmani yang dilakukan oleh guru (peneliti) dalam upaya meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli bagi siswa kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang pada Semester I 2017. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah tersebut di atas, maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1) apakah melalui model-model latihan pasing atas, dapat meningkatkan motivasi dalam pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli bagi siswa kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang pada Semester I Tahun 2017? 2) apakah melalui model-model latihan pasing atas dapat meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli bagi kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang pada Semester I Tahun 2017?
8 E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk meningkatkan motivasi dalam pembelajaran dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli, sehingga dapat digunakan sebagai umpan yang akurat untuk lebih mempertajam serangan ke daerah lawan. 2. Tujuan khusus Untuk meningkatkan motivasi dalam pembelajaran pasing atas dan kemampuan pasing atas melalui model-model latihan pasing atas bola voli dalam permainan secara khusus bagi kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang Semester I 2017. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis: a. Menemukan teori atau pengetahuan baru tentang upaya meningkatkan motivasi dalam pembelajaran dan kemampuan pasing atas melalui model-model latihan pasing atas dalam permainan bola voli. b. Sebagai dasar untuk melakukan penelitihan selanjutnya. 2. Manfaat Praktis: a. Manfaat bagi guru 1) Mendapatkan kredit poin berkaitan dengan prestasinya menghasilkan sebuah karya ilmiah.
9 2) Memudahkan proses pembelajaran permainan bola voli khususnya materi pasing atas. 3) Memberikan sumbangan pada guru lain untuk ikut mempraktikan model-model latihan pasing atas dalam permainan bola voli. b. Manfaat bagi sekolah 1) Adanya kesempatan sekolah memiliki atlit dari cabang permainan bola voli. 2) Sekolah memiliki guru profesional dibidangnya. 3) Untuk mengkader atlit bola voli sejak usia dini. c. Manfaat bagi perpustakaan sekolah 1) Memperoleh referensi baru dari cabang pembinaan olahraga khususnya cabang bola voli. 2) Sebagai bahan pembanding bagi para pembaca jika akan melakukan penelitian serupa.
10 BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Kajian Teori 1. Motivasi Dalam Pembelajaran a. Pengertian Motivasi Dalam pembelajaran Suatu kehidupan seseorang akan ditemukan adanya reaksi yang berbeda terhadap berbagai tugas dan tanggung jawabnya, misalnya orang tua tertarik dengan anaknya agar sekolah yang setinggi-tingginya, siswa tertarik pada mata pelajaran tertentu sehingga motivasi dalam pembelajaran siswa tersebut lebih tinggi dibanding dengan jika mengikuti mata pelajaran lain. Beberapa pengertian motivasi diantaranya sebagai berikut. Menurut Luthans (dalam Thoha, 2007:207), motivasi terdiri tiga unsur, yakni kebutuhan (need), dorongan (drive), dan tujuan (goals). Motivasi, kadang-kadang istilah ini dipakai silih berganti dengan istilah-istilah lainnya, seperti misalnya kebutuhan (need), keinginan (want),dorongan (drive), atau impuls. Motif adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang; setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai (Hasibuan, 2007: 95). Motivasi dalam pembelajaran yang telah diuaraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi dalam pembelajaran merupakan suatu usaha yang mendorong seseorang untuk bersaing dengan standar keunggulan, dimana standar keunggulan ini dapat berupa kesempurnaan tugas, dapat diri sendiri
11 atau prestasi orang lain. Siswa yang mempunyai motivasi dalam pembelajaran tinggi nampaknya akan memperoleh prestasi yang lebih tinggi. b. Faktor-faktor Motivasi dalam Pembelajaran Motivasi dalam pembelajaran sangat penting bagi siswa untuk memperoleh informasi secara lengkap dari guru yang mengajar. Pada kenyataannya, ada siswa yang motif berprestasinya lebih bersifat intrinsik sedangkan pada orang lain bersifat ekstrinsik hal ini karena adanya: 1) Faktor Individual. Siswa-siswa ini lebih menyukai tugas-tugas yang menantang dan selalu berusaha mencari kesempatan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Sebaliknya, pada siswa dengan persepsi diri yang rendah, lebih menyukai tugas- tugas yang mudah dan sangat tergantung pada pengarahan guru. Yang termasuk faktor individual antara lain pengarahan orang tua. 2) Faktor Situasional. Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Motivasi berprestasi seseorang akan tercermin pada perilaku. Ada beberapa ciri yang menjadi indikator orang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Individu yang motif berprestasi tinggi akan menampakkantingkah laku dengan ciri-ciri menyenangkan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut tangung jawab pribadi, memilih pekerjaan yang resikonya sedang (moderat ), mempunyai dorongan sebagai umpan balik (feed back)
12 tentang perebutannya dan berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara kreatif. Dapat disimpulkan bahwa terdapat empat buah karakteristik yang membedakan antara seseorang yang motivasi berprestasinya rendah dengan orang yang yang motivasi berprestasinya tinggi. Keempat karakteristik itu ialah a) Kemauan untuk melakukan aktivitas yang menunjukkan suatu prestasi orang yang motivasi berprestasinya tinggi akan mempunyai anggapan bahwa keberhasilan disebabkan oleh kemampuan dan usaha yang sungguh-sungguh. Anggapan seperti ini akan menyebabkan orang tersebut bangga apabila dapat menyelesaikan suatu pekerjaan. Rasa bangga ini menyebabkan bertambahnya keinginan untuk melakukan aktifitas yang lain. b) Kegigihan berusaha. Usaha adalah faktor yang tidak stabil karena bertangung pada kemampuan seseorang, orang yang motivasi berprestasi tinggi akan cenderung bekerja keras sesudah mengalami kegagalan untuk mecapai sukses pada waktu-waktu selanjutnya, ia akan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang sebelumnya gagal di capai. Sebaliknya orang yang motivasi berprestasi rendah menganggap kegagalan disebabkan oleh ketidakmampuan. Kemampuan adalah faktor yang stabil, tidak dapat di ubah oleh kemampuan semata-semata. Oleh karena itu, dalam anggapannya kegagalan akan diikuti oleh rentetan kegagalan pula. Pada individu yang rendah motivasi berprestasinya, usahanya untuk berprestasi juga lemah dan mudah menyerah. Motivasi berpangkal dari kata \"motif\" yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
13 tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). 2. Upaya Peningkatan Kemampuan Pasing Atas Bola Voli a. Hakekat Bola Voli Bola voli merupakan salah satu permainan dan olahraga yang sangat digemari masyarakat karena kemudahan cara bermainnya, dibandingkan dengan cabang permainan dan olahraga lainnya misalnya bola basket. Seperti yang di ungkapkan ( Monti, 2004: 1), bahwa pada tahun 1895, William C. Morgan, seorang direktur YMCA di Holyoke, Massachusetts, menemukan sebuah permainan bernama mintonnete dalam usahannya memenuhi keinginan para pengusaha lokal yang menganggap permainan bola basket terlalu menghabiskan tenaga dan kurang menyenangkan. Permainan ini cepat menarik perhatian karena hanya membutuhkan sedikit ketrampilan dasar, mudah dikuasai dalam jangka waktu latihan yang singkat, dan dapat dilakukan oleh pemainan dengan berbagai tingkat kebugaran. Nama bola voli lebih sesuai menjadi nama permainan ini mengingat ciri permainannya yang dimainkan dengan melambungkan bola sebelum bola tersebut menyentuh tanah. Permainan bola voli sekarang dikenal tidak hanya sebagai olahraga yang memerlukan banyak tenaga, tetapi juga sebagai kegitan rekreasi, karena sangat mudah di modifikasi. Seperti dalam buku ( Monti, 2004: 1), bola voli menjadi permainan yang menyenangkan karena alasan-alasan: Olahraga ini dapat
14 beradaptasi terhadap berbagai kondisi yang mungkin timbul di dalamnya, olahraga ini dapat dimainkan berapapun jumlah pemainnya, dari yang berjumlah dua orang, yang sangat terkenal dalam bola voli pantai, sampai enam orang, jumlah pemain yang biasa digunakan dalam pertandingan. Permainan bola voli dari kemudahan awal, sekarang telah berkembang pesat menjadi olahraga prestasi dan juga rekreasi, seperti yang disampaikan Agus Mahendra (2007), Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya. Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. Ketika menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
15 b. Hakikat Pasing Atas Pasing atas merupakan salah satu tehnik dasar dalam permainan bola voli, disamping servis, pasing bawah, smash dan tipuan ( dink ). Tehnik melakukan pasing atas memerlukan sikap permulaan, gerakan pelaksanaan dan gerakan lanjutan. Sikap permulaan seperti yang diungkapkan (Slamet Supardiyono dkk, 1994: 60) yaitu berdiri dengan salah satu kaki ke depan selebar dada, berat badan menumpu pada telapak kaki bagian depan, dan lutut ditekuk dengan badan merendah. Tempatkan badan secepat mungkin di bawah bola. Selanjunya kedua tangan diangkat lebih tinggi dari dahi, dan jari-jari tangan terbuka lebar membentuk cekungan, seperti setengah lingkaran bola. Gerakan pelaksanaan seperti dalam buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan ( Slamet Supriyono dkk, 1994: 60), yaitu saat bola berada di atas dan sedikit di depan dahi, lengan diluruskan dengan gerakan agak kuat untuk mendorong bola. Perkenaan bola pada jari-jari ruas pertama dan kedua, dan yang dominan mendorong bola adalah ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Pada waktu perkenaan dengan bola jari-jari ditegangkan, kemudian dikuti dengan gerakan pergelangan tangan agar bola dapat memantul dengan baik. c. Hakikat Peningkatan Kemampuan Peningkatan berasal dari kata dasar tingkat,menurut kamus besar bahasa indonesia berarti: 1) Susunan yang berlapis-lapis atau berlenggek- lenggek seperti lenggek rumah, tumpuan pada tangga (jenjang): rumah tiga tingkat. 2) Tinggi rendah martabat (kedudukan, jabatan, kemajuan, peradapan dan sebagainnya); pangkat; derajat; taraf; kelas: duta besar sama tingkatnya dengan menteri; pangkatnya lebih tinggi dua tingkat dari pada sersan, tidak memandang tingkat dan golongan. 3) Batas waktu (masa); sempadan suatu peristiwa (proses, kejadian dan sebagainnya); babak(an); tahap: perundingan
16 sudah sampai tingkat terakhir. Tingkat yang menyatakan kualitas atau keadaan yang sangat dipandang dari titik tertentu, bentuk tingkat perbandingan yang mencakup tingkat komparatif dan superlatif, tingkat yang menyatakan suatu kualitas atau keadaan lebih tinggi atau lebih rendah dalam hubungan dengan titik tertentu, klasifikasi atas adjektiva dan adverbia yang menandai tingkat dalam proses, sifat, ukuran, hubungan dan sebagainya, dan tingkat yang menyatakan kualitas atau keadaan yang paling tinggi atau paling rendah dipandang dari sudut tertentu. Sedangkan peningkatan menurut kamus besar bahasa indonesia adalah proses, cara, perbuatan meningkatkan ( usaha, kegiatan dan sebagainya). Kemampuan berasal dari kata dasar mampu, menurut kamus besar bahasa indonesia berarti: 1) kuasa ( bisa, sanggup) melakukan sesuatu; dapat. 2) berada; kaya; mempunyai harta berlebih. Sedangkan kemampuan, menurut kamus besar bahasa indonesia berarti: 1) kesanggupan; kecakapan; kekuatan. 2) kekayaan. Jadi peningkatan kemampuan berarti proses meningkatkan kesanggupan, kecakapan dan kekuatan. Namun demikian untuk bisa meningkatkan kemampuan siswa guru harus mengerti hakikat pendidikan jasmani. Seperti yang diungkapkan Agus Mahendra (2007) Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total,
17 daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia. Definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar- benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung ( Agus Mahendra: 2007). Peningkatan kemampuan tidak terlepas motivasi, seperti yang diungkapkan Drs Herry Sondjaja ( 2007), Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tervcapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
18 Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang di kemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, di tandai dengan adanya feeling, dan dirangsang dengan adanya tujuan. Namun pada intinya motivasi merupakan kondisi pskikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya dan penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga di harapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab sesedorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar. Motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. 1) Motivasi Intrinsik Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tapi atas dasar kemauan sendiri. 2) Motivasi ektrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu. Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitar, kurang
19 dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga siswa mau melakukan belajar. d. Hakekat Upaya Upaya merupakan sinonim dari kata usaha, menurut kamus besar bahasa Indonesia upaya memiliki arti usaha, ikhtiar ( untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainnya); daya upaya. Dalam melakukan upaya juga tidak terlepas dari motivasi seseorang tersebut. Seperti yang disampaikan Mc Donald dalam Hery Sondjaja (2007) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang di kemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, di tandai dengan adanya feeling, dan dirangsang dengan adanya tujuan. 3. Model –model Pembelajaran Pasing a. Hakekat Pembelajaran Pembelajaran berasal dari kata dasar ajar yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Belajar artinya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sedangkan mengajar artinya memberi
20 pelajaran, melatih, memarahi ( menghukum, memukuli dan sebagainya) supaya jera. Sehingga pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pemelajaran merupakan serangkaian pengalaman belajar yang berwujud aktivitas-aktivitas belajar dalam upaya mengejar penguasaan kompetensi dasar dan indikator pemelajaran. Pengalaman belajar dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, bahkan di luar sekolah sesuai dengan kompetensi dasar dan materi pemelajaran serta kemampuan siswa yang melakukan kegiatan. Selain itu, pengalaman belajar harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan. Bentuk pengalaman belajar dapat berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan dan keahlian. Mengajar merupakan salah satu unsur dari pembelajaran. Menurut pandangan Moore mengajar adalah sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya (Moore, 2001: 5). Guru harus merancang strategi sebelum dan dalam proses pembelajaran. Rancangan strategi sebelum proses pembelajaran harus memperhatikan pengalaman- pengalaman interaksi guru dengan siswa dalam pelajaran yang sama, kelas yang sama dan jam yang sama. Sedangkan rancangan dalam proses pembelajaran harus memperhatikan kondisi aktual dan kenyataan riil dari siswa saat proses pembelajaran itu berjalan. Strategi harus disesuaikan dengan kebutuhan- kebutuahn siswa yang sangat dipengaruhi oleh tingkat penguasaan bahan ajar,
21 emosi, citra diri dan harga diri yang selalu ingin dijunjung tinggi (Moore, 2001:5, and Hunt,1999: 6). b. Hakekat Pasing Pasing merupakan salah satu tehnik dasar dalam permainan bola voli disamping servis, smash, membendung bola ( blok) dan tipuan (dink). Pasing dalam permainan bola voli terdiri dari pasing bawah dan pasing atas. Pasing bawah biasa digunakan untuk menerima bola- bola keras dari lawan seperti servis dan smash. Sedang pasing atas sering digunakan untuk memberikan bola kepada teman satu regu untuk diteruskan sebagai suatu serangan pada lawan. Pasing atas juga disebut umpan ( set up). Umpan dilakukan untuk memberikan bola pada teman dalam satu regu. Seperti yang diungkapkan oleh Slamet Supadiyono dkk (1994) dalam buku Pendidikan Jasmani dan kesehatan, bahwa pasing atas atau sering disebut umpan ( set up) adalah menyajikan bola kepada teman dalam satu regu kemudian diharapkan bola tersebut diserangkan ke daerah lawan dalam bentuk smash. Tehnik mengumpan pada dasarnya sama dengan tehnik pasing atas. Perbedaannya terletak pada tujuan dan jalannya bola. Umpan yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: 1) bola harus melambung dengan tenang di daerah serang di lapangan sendiri. 2) bola harus di atas jaring dengan ketinggian yang cukup agar dapat di smash oleh smasher.3) Jarak umpan dengan net sesuai dengan tipe serangan yang diinginkan.
22 Cara melakukan umpan dapat dilakukan sebagai berikut: Segeralah menempatkan badan di bawah bola sejajar dengan net/ jaring dan kedua tangan siap di depan dada, posisi bola pada waktu bersentuhan dengan tangan relatif lebih tinggi di atas dahi agar jalannya bola lebih parabol, dorongkan bola sambil menggunakan gerakan pergelangan tangan. Oleh Ayi Supriyatna (1994), Pengertian umpan adalah usaha mengoperkan bola kepada teman untuk dilanjutkan menjadi suatu serangan kepada pihak lawan. Tehnik dasar umpan adalah sebagai berikut:1) Sikap Awal: a. Berdiri dengan kaki dibuka selebar dada dan agak serong depan belakang, berat badan menumpu pada kedua kaki, dan lutut ditekuk dengan badan merendah. Tempatkan badan secepat mungkin ke bawah bola. b. Kedua tangan diangkat lebih tinggi dari dahi dan jari-jari tangan terbuka lebar membentuk cekungan, seperti setengah lingkaran bola. 2) Sikap Pelaksanaan: a. Saat bola berada di atas dan sedikit di depan dahi, lengan diluruskan dengan gerakan agak kuat untuk mendorong bola. b. Perkenaan bola pada jari – jari ruas pertama dan kedua, dan yang dominan mendorong bola adalah ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Pada waktu perkenaan dengan bola jari –jari ditegangkan, kemudian diikuti dengan gerakan pergelangan tangan agar bola dapat memantul dengan baik. 3. Gerakan lanjutan. Setelah bola memantul dengan baik, lanjutkan dengan meluruskan lengan ke depan atas sebagai gerak lanjutan, diikuti dengan memindahkan berat badan ke depan dengan memindahkan kaki belakang ke depan dan segera mengambil sikap siap kembali.
23 Untuk meningkatkan kompetensi pasing atas dalam permainan bola voli siswa tersebut dilakukan dengan mengembangan model-model latihan pasing atas dalam permainan bola voli. Seperti yang dikemukan oleh Edy Suparman dan kawan-kawan (1994) pasing atas yang baik dan benar yaitu: tempatkan badan di bawah bola, kedua kaki ditekuk sehingga posisi badan setengah berjongkok, siku dibengkokkan jari – jari tangan direnggangkan dan letaknya di atas dahi, sikap tangan seperti mangkuk, pandangan ke arah datangnya bola. Pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli merupakan pembelajaran gerak motorik (motor learning). Keterampilan pasing atas berkait erat dengan kemampuan bermain bola voli, sebab pasing atas merupakan salah satu tehnik dasar permainan bola voli. Sedangkan prinsip – prinsip pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli sebagai berikut: 1) Apabila siswa mampu melakukan sikap lengan dengan benar. 2) Siswa mampu membuka jari- jari tangan hingga menyerupai setengah lingkaran bola. 3) Siswa mampu membuka kedua kaki selebar bahu dan agak serong depan belakang. 4) Siswa mampu menempatkan diri secepat mungkin di bawah bola. 5) Saat bola datang siswa mampu mendorong bola ke depan atas kepala menggunakan jari- jari tangan pada ruas pertama dan kedua. 6) Siswa mampu mempasing bola hingga bola melambung parabola. Dan 7) Siswa mampu melakukan gerak ikutan setelah melakukan pasing atas. Dalam prinsip- prinsip pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli disebutkan merupakan belajar gerak ( motor learning), meskipun siswa mampu secara tehnik belum tentu langsung bisa mengaplikasikan tehnik
24 tersebut. Harus melalui proses yang panjang, hingga siswa benar – benar mampu melakukan pasing atas dalam permainan bola voli. d. Hakekat Model Pengertian model menurut kamus besar bahasa indonesia adalah pola (contoh, acuan, ragam dan sebagainnya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Bisa orang yang dipakai sebagai contoh. Model yang dimaksud dalam penelitihan ini adalah pola, contoh, acuan, ragam latihan pasing dalam permainan bola voli untuk meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli pada siswa kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang. B. Kerangka Berpikir Kondisi awal ketika guru belum menggunakan metode latihan pasing atas dalam permainan bola voli, motivasi dalam proses bembelajaran Kelas IX D SMP Negeri Semester I Tahun 2017 rendah. Kondisi awal sebelum guru menggunakan model latihan pasing atas dalam permainan bola voli kemampuan pasing atas siswa Kela IX D SMP Negeri 21 Semarang Semester I 2017 rendah.
25 Dengan adanya tindakan guru menggunakan model latihan pasing atas dalam permainan bola voli yaitu dengan mempasing bola ke lantai pada siklus I dan model latihan pasing atas dengan mempasing bola ke tembok pada siklus ke II. Selanjutnya diduga melalui model latihan pasing atas dalam permainan bola voli, dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Dapat digambarkan dalam kerangka berpikir upaya peningkatan motivasi dalam pembelajaran dan kemampuan pasing atas bola voli melalui model-model latihan pasing pada siswa kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang sebagai berikut: KONDISI Guru/peneliti belum Siswa Kelas IX D AWAL menggunakan SMP N 21 model-model latihan Semarang pasing Motivasi dan Kemampuan pasing atasnya rendah
26 TINDAKAN Memanfaatkan SIKLUS I KONDISI AKHIR Model-model latihan Memanfaatkan pasing Model latihan pasing Dribel dua Diduga melalui tangan ke lantai model-model latihan pasing dapat SIKLUS II meningkatkan Memanfaatkan motivasi dalam Model latihan pembelajaran pasing Dribel dua dankemampuan tangan ke tembok pasing atas bagi siswa Kelas IX D SMP N 21 Semarang pada Smt I tahun 2017 Gambar 1 Skema Kerangka Berpikir C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut diatas, diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: 1) Melalui model- model latihan pasing dapat meningkatan motivasi dalam pembelajaran bagi siswa kelas IX D, SMP
27 Negeri 21 Semarang Semester I 2017. Dan 2) Melalui model- model latihan pasing atas dapat meningkatkan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli bagi siswa kelas IX D, SMP Negeri 21 Semarang Semester I 2017.
28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini penulis lakukan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan. Penulisan penelitian ini diawali dengan penulisan pengajuan proposal penelitian yang penulis laksanakan pada bulan pertama yaitu Bulan Agustus 2017. Pada bulan berikutnya penulis menyusun instrumen penelitian tindakan yaitu pada Bulan September 2017. Dilanjutkan dengan pengumpulan data yang merupakan tindakan dari penelitian ini yang penulis laksanakan pada bulan ketiga dari penelitian ini yaitu Bulan Oktober 2017. Setelah proses pengumpulan data selesai, penulis lanjutkan dengan analisis data yang penulis laksanakan pada Bulan November 2017. Pada bulan kelima penulisan penelitihan ini akan membahas tentang pembahasan/ diskusi. Dan yang terakhir penelitihan ini akan menguraikan laporan hasil dari penelitihan tindakan kelas ( PTK), yang dilaksanakan pada bulan keenam yaitu Bulan Desember 2017. Untuk lebih menjelaskan uraian jadwal di atas, akan penulis perlihatkan tabel di bawah ini.
29 Tabel 1 Alokasi Waktu Penelitihan BULAN Des NO URAIAN Agust Sep Okt Nop 1 Menulis Proposal Penelitihan Tindakan 2 Menyusun Instrumen Penelitihan Tindakan 3 Pengumpulan Data dengan Penelitihan Tindakan a. Siklus I b. Siklus II 4 Analisis Data 5 Pembahasan dan Penulisan Laporan PTH Alasan mengapa penelitihan tindakan kelas khususnya dalam pengumpulan data dengan penelitihan tindakan dilakukan pada waktu
30 tersebut diatas karena: 1. Bukan merupakan hari libur. 2. Materi yang yang diajarkan sesuai dengan program semester yang ada. 2. Tempat Penelitihan Tempat diadakannya penelitian tindakan ini adalah SMP Negeri 21 Semarang. Sekolah yang terletak di Jalan Karangrejo Raya No 12 Kelurahan Srondol Wetan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang ini sudah sangat terkenal. Ini semua berkat prestasi yang pernah diraih oleh sekolah ini. Misalnya juara II tingkat nasional kemah budaya di Pulau Bali, juara II tingkat nasional LT V di Cibubur, juara I lomba sekolah sehat (LSS) tingkat Propinsi Jawa Tengah dan berhak maju lomba sekolah sehat tingkat nasional. Namun penulis akui sebagai guru mata pelajaran penjasorkes SMP Negeri 21 Semarang, belum pernah mendapat predikat juara dibidang olahraga bola voli walau hanya di tingkat kota (kabupaten). Subyek penelitihan tindakan pada penelitian ini adalah Siswa Kelas IX D, Semester I 2017. Alasan di adakannya penelitihan di kelas dan sekolah ini adalah: 1. SMP Negeri 21 Semarang sebagai tempat mengajar penulis. 2. Sesuai dengan pembagian mengajar penulis sebagai guru di kelas tersebut. 3. Kelas IX D secara rata-rata memiliki kemampuan berolahraga khususnya pelajaran pasing atas dalam permainan bola voli sangat rendah. Sehingga kelas ini yang memiliki potensi permasalahan dalam permainan bola voli.
31 B. Subyek Penelitian Guru dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai peneliti. Sebagai seorang guru pendidikan jasmani olahraga dan keshatan, maka peneliti mengadakan penelitian tentang permainan olahraga bola besar yaitu permainan bola voli. Sedangkan sub pokok bahasannya adalah pasing atas. Sebagai subyek penelitihan penulis dalam penelitihan ini adalah siswa kelas IX D, SMP Negeri 21 Semarang Semester I Tahun 2017. Kelas IX D ini memiliki jumlah keseluruhan 30 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Siswa-siswi SMP Negeri 21 Semarang pada umumnya termasuk kelas IX D ini rata-rata sebagai anak orang-orang kaya di sekitar Banyumanik. Sebab banyak diantara siswa yang orang tuanya tinggal di perumahan elit. Misalnya perumahan Graha Estetika, perumahan Bukit Regensi, perumahan Duta dan lain-lain. Banyak siswa yang merupakan anak pejabat di Kodam IV Diponegoro. Sehingga tidak diragukan lagi para siswa yang sekolah di SMP Negeri 21 Semarang ini sebagian besar adalah anak-anak orang kaya. Kondisi sekolah sudah tidak perlu diragukan lagi. Pada Tahun 2005 SMP Negeri 21 Semarang memiliki predikat Sekolah Standar Nasional (SNN), dan selama kurang dari tiga tahun, tepatnya di Bulan Juni 2008, SMP Negeri 21 Semarang sudah ganti predikat menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional
32 (RSBI). Untuk itu pada Tahun 2008 ini SMP Negeri 21 Semarang telah menerima siswa RSBI sebanyak 72 siswa, dan pada Tahun Pelajaran berikutnya yaitu Tahun Pelajaran 2009/2010 menerima siswa RSBI sebanyak 178 siswa. Pelaksanaan pendaftaran RSBI lebih dulu dibanding dengan pelaksanaan pendaftaran sekolah non RSBI, dan berlangsung sampai dengan akhir Tahun 2012. Namun sesuai keputusan MK, pada tanggal 8 Januari 2013 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dihapus. Pengapusan RSBI ini adalah dengan cara menghapus Undang-undang Sisdiknas pasal 50 ayat 3. Dengan adanya keputusan ini sekolah eks RSBI kembali sebagai sekolah standar nasional (SSN). C. Sumber Data Data yang berasal dari subyek disebut data primer. Data dalam penelitian berasal dari kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang yang berjumlah 30 siswa, yang terdiri 12 siswa putra dan 18 siswa putri. Letak Kelas IX D ini terletak pada lantai 2 (dua) Gedung A SMP Negeri 21 Semarang. Kelas IX D berada di penghujung Gedung A di sebelah kiri Ruang Kepala Sekolah. Sedangkan data selain dari subyek disebut data skunder. Data skunder ini misalnya orang tua siswa, pekerjaan orang tua dan tujuan orang tua terhadap anaknya kelak jika dewasa. Hampir 90 % orang tua kelas IX D ini adalah mampu. Hal ini terlihat dari data pekerjaan orang tua siswa dan penghasilannya perbulan yang dicatat wali kelas. Informasi ini bisa didapat pada saat wawancara non formal dengan siswa. Ada yang pengusaha, pejabat di pemerintahan daerah, pejabat di TNI dan lain-lain. Data skunder lain yang tidak kalah pentingnya
33 adalah data hasil pengamatan yang dilakukan teman sejawat. Perlu diketahui bahwa di SMP Negeri 21 Semarang terdapat 3 (tiga) orang guru olahraga, sehingga sangat efektif jika salah satu gurunya melakukan penelitian tindakan. Hasil pengamatan teman sejawat yaitu Bapak Agus Pramono, S. Pd., sama yang dirasakan peneliti yaitu siswa memiliki kecenderungan malas melakukan kegiatan olahraga khususnya melakukan kegiatan pasing atas dalam permainan bola voli. Siswa putri lebih banyak duduk-duduk dan berteduh, sedang siswa putra menggunakan bolanya untuk bermain sepak bola. Hal ini terbukti ketika Bapak Agus berhasil mengabadikan penyimpangan kegiatan olahraga siswa tersebut saat ditugasi menunggu Kelas IX D saat berolahraga bola voli. Rata-rata anak kelas IX D tidak memiliki motivasi yang baik pada kegiatan olahraga khususnya bola voli. Tidak ada satupun siswa yang memilih kegiatan ekstra bola voli. Ini bisa dilihat dari resume kegiatan ekstrakurikuler Kelas IX D. Siswa Kelas IX D ini hanya memilih jenis ekstrakurikuler KIR, Komputer, PASKIBRA. Hal ini yang menjadi salah satu alasan penulis melakukan penelitian tindakan di kelas ini. Adapun sumber data yang dimaksud dalam penelitian tindakan ini adalah hasil ulangan harian siswa Kelas IX D, sebelum dilakukan tindakan. Data yang yang diperoleh memiliki rata-rata nilai yang sangat rendah, untuk nilai kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli. Data yang dimaksud berada dalam daftar nilai penulis sebelum melakukan tindakan dengan melaksanakan model pasing atas dalam permainan bola voli.
34 Teknik yang digunakan dalam memperoleh data awal, sebelum dilakukan tindakan pada penelitihan tindakan ini menggunakan teknik dokumentasi. Alat atau instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan dokumentasi daftar nilai. Sedangkan tes yang digunakan adalah unjuk kerja dengan alat atau instrument perintah melakukan unjuk kerja. D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Terdapat dua teknik pengumpulan data yaitu a) Tes: Baik tes tertulis, tes lisan ataupun tes perbuatan. b) Non tes: misalnya pengamatan wawancara, check list dan lain-lain. Jenis tes yang akan digunakan peneliti dalam penelitian tindakan ini adalah jenis tes perbuatan, dengan melakukan pasing atas individu selama satu menit, dihitung jumlah pasing yang benar, yaitu yang ketinggian bola minimal 0,5 M dari tangan, sebagai data awal sebelum dilakukan tindakan. Selain hasil pasing juga memperhatikan sikap tangan, kaki, dan badan. Data proses pembelajaran yang berkaitan dengan motivasi belajar, diambil dari pengamatan peneliti dan teman sejawat. 2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data disesuaikan dengan teknik pengumpulan data yang dipakai peneliti. Karena teknik tes yang digunakan adalah teknik tes perbuatan, maka alat yang digunakan adalah pedoman dan lembar tes perbuatan.
35 Data proses pembelajaran yang terkait dengan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dan melakukan kegiatan, diperoleh dari lembar observasi yaitu dengan cara Trianggulasi sumber dengan kolaborasi teman sejawat. Sedang data hasil yaitu kemampuan pasing atas menggunakan alat dokumentasi daftar nilai, yang isinya merupakan data awal atau kemampuan pasing awal sebelum dilakukan tindakan. Pada siklus I dan II, alat yang digunakan peneliti untuk memperoleh data proses pembelajaran sama, yaitu dengan trianggulasi sumber atau kolaborasi teman sejawat. Sedangkan hasil yaitu kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli, dengan menggunakan tes unjuk kerja. Alat atau instrumen yang digunakan dalam unjuk kerja ini adalah perintah. Dalam hal ini perintah yang dimaksud adalah lakukan pasing individu dalam waktu 1 (satu) menit dengan memperhatikan sikap tangan, badan dan kaki. Hal ini dilakukan setelah siswa telah selesai melaksanakan model latihan pasing dengan memantulkan bola ke lantai pada siklus I dan memantulkan bola ke tembok pada siklus kedua. E. Validasi Data Agar alat pengumpulan data dan data yang diperoleh valid maka perlu divalidasi. Validitas yang digunakan perlu sesuai dengan data yang dikumpulkan. Untuk data kualitatif (berbentuk angka) umumnya yang divalidasi adalah instrument atau alatnya. Cara memvalidasi disesuaikan dengan alat maupun data yang diperlukan, misalnya: tes tertulis harus divalidasi butir soalnya melalui pembuatan kisi-kisi, wawancara/observasi yang divalidasi datanya melalui
36 triangulasi (sumber / metode), agar terpenuhi validitas teoretik, khususnya content validity. Dalam penelitian ini, data proses pembelajaran (motivasi), diperoleh melalui observasi dan wawancara, yang dapat divalidasi dengan trianggulasi sumber yang berasal dari beberapa sumber, melalui kolaborasi teman sejawat. Sedangkan hasil belajar ( kemampuan pasing atas), peneliti menggunakan teknik tes perbuatan maka, harus divaliditasi dengan kisi-kisi tes perbuatannya. F. Analisis Data Teknik analisis data disesuaikan dengan datanya. Analisis yang digunakan disesuaikan dengan metode dan jenis data yang dikumpulkan. Pada penelitian tindakan kelas, data yang dikumpulkan dapat berbentuk kualitatif maupun kuantitatif. Pada penelitian tindakan kelas juga tidak menggunakan uji statistik, tetapi dengan deskriptif. Hal ini terjadi pada data awal, siklus I dan siklus II pada proses pembelajaran (motivasi). Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara yang menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi, menunjukan bahwa lebih banyak siswa yang memilih duduk- duduk di bawah pohon dibanding dengan siswa yang melakukan aktifitas pasing atas, pada kondisi awal sebelum dilakukan tindakan dengan melakukan model latihan pasing dipantulkan ke lantai. Pada siklus I siswa yang motivasinya rendah (duduk-duduk dibawah pohon) menjadi berkurang setelah dilakukan tindakan pada siklus I tersebut. Demikian juga pada siklus ke II motivasi siswa lebih baik dibanding dengan siklus I.
37 Jadi pada kondisi awal, motivasi dalam proses pembelajaran dalam permainan bola voli, bagi Siswa Kelas IX D SMP Negeri 21 Semarang masih sangat rendah. Para siswa lebih banyak mencari alternatif permainan lain. Para siswa putra misalnya secara berkelompok menggunakan bola voli yang dibawa untuk bermain sepak bola. Sedang para siswa putri lebih memilih berteduh dibanding melakukan pasing atas dalam permainan bola voli. Motivasi pembelajaran pada Siklus I, terjadi peningkatan motivasi. Para siswa cenderung melakukan kegiatan pasing dengan memantulkan bola ke lantai sesuai dengan perintah. Pasing dengan memantulkan bola ke lantai lebih mudah dilakukan. Sedang siswa dalam kelompok lain mengamati. Pada siklus II, siswa terlihat lebih termotivasi didalam melakukan model pasing dengan memantukan bola ke tembok, dibanding pada siklus I. Model pasing pada siklus II ini sudah menyerupai pasing atas individu yang sebenarnya. Siswa pada kelompok lain juga semakin antusias mengamati kelompok yang melakukan pasing ke arah tembok. Jika pada siklus I masih terdapat beberapa siswa yang bermain sendiri, pada siklus II ini hampir tidak ada siswa yang melakukan permainan sendiri. Ketika proses pembelajaran pada kondisi awal, sebelum dilaksanakan tindakan dengan model latihan pasing, motivasi siswa sungguh masih sangat rendah. Siswa lebih banyak yang melakukan kegiatan lain. Ketika model latihan pasing dilakukan pada siklus II, hampir tidak ada siswa yang melakukan kegiatan lain. Jadi, dengan adanya penerapan model latihan pasing pada siklus I maupun II, ternyata meningkatkan motivasi dalam pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli. Maka hal ini perlu diadakan tindak lanjut.
38 Bila datanya berbentuk bilangan/kuantitatif dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan data kuantitatif dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Bila datanya berbentuk kategori/kualitatif dianalisis dengan analisis kualitatif berdasarkan hasil wawancara/observasi dan refleksi dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus II. Dalam penelitian tindakan ini penulis memperoleh data berbentuk bilangan/kuantitatif, maka harus dianalisis dengan deskriptif komparatif yaitu membandingkan data kuantitatif dari kondisi awal, dengan kondisi pada siklus I dan kondisi hasil pada siklus II, dan selanjutnya diadakan refleksi. Kemampuan pasing atas pada kondisi awal, masih sangat rendah. Dari 26 siswa, pencapaian nilai tertinggi hanya 75 dan nilai terendahnya 40. Rata-rata nilai siswa Kelas IX D ini pada kondisi awal ini sebesar 62,6. Dibanding dengan yang terjadi pada siklus I, hasil kemampuan pasing atas siswa kelas IX D sebagai berikut. Nilai tertinggi sudah meningkat menjadi 87 dan nilai terendahnya meningkat 0,5 yaitu menjadi 50. Sedangkan rata-ratanya sudah tentu meningkat yaitu menjadi 75,80. Selanjutnya pada siklus II juga ada peningkatan meskipun tidak seberapa. Hasil penilaian dengan unjuk kerja setelah dilakukan tindakan dengan melakukan model latihan pasing dengan memantulkan bola ke tembok menunjukan hasil (kemampuan pasing) sebagai berikut. Nilai tertinggi sebesar 90 (meningkat 3 pada siklus I), dan pada nilai terendahnya pada siklus II yaitu 74, tetapi secara rata- rata mengalami peningkatan yaitu menjadi 81,50. Refleksi yang dapat dilakukan peneliti, menyimpulkan bahwa ada peningkatan pada proses pembelajaran (motivasi) maupun hasil yaitu
39 kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli setelah dilakukan tindakan dengan metode latihan pasing. Berdasarkan deskriptif komparatif di atas untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli dapat menggunakan metode latihan pasing atas, maka penelitian tindakan ini perlu adanya tindak lanjut. G. Prosedur Penelitian Langkah awal menentukan metode penelitian yaitu metode penelitian tindakan kelas. Langkah selanjutnya menentukan tindakan yang dilakukan pada tiap-tiap siklus. Menentukan tahapan tiap siklus baik siklus I maupuan siklus II yang terdiri dari planning, acting, observing, dan reflecting. Untuk lebih jelasnya dalam melakukan tahapan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Planing Planing Reflecting Acting Reflecting Acting
40 Siklus I Siklus II Gambar 2 Pelaksanaan Tindakan dalam dua siklus Siklus I Perencanaan Tindakan yang terdiri dari : apersepsi, kegiatan inti, dan penutup. Apersepsi terhadap siswa kelas IX D ini setelah ketua kelas menyiapkan teman-temannya dengan tertib membentuk barisan 3 (tiga bershaf, dilanjutkan dengan guru mengajak berdoa bersama agar jalannya kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, dilanjutkan dengan memotivasi agar para siswa mau melaksanakan kegiatan dengan sungguh-sungguh. Pertemuan pertama dari empat pertemuan yang direncanakan, penulis yang merupakan guru penjasorkes Kelas IX D pada Semester I Tahun pelajaran 2017/2018, menerangkan bahwa: “ sesuai dengan program semester, mulai pertemuan ini, materi pelajarannya adalah bola voli khususnya untuk teknik dasar pasing atas, seperti yang telah saya sampaikan pertemuan minggu lalu sebagai awal dari kegiatan pembelajaran pada Semester I. Bersamaan dengan itu bapak akan melakukan penelitian tindakan pada kelas kalian. Para siswa saya minta serius dalam mengikuti kegiatan ini”.
41 Selanjutnya siswa diminta melakukan pemanasan yang sesuai dengan permainan bola voli. Diantaranya berlari kecil, streching dan senam dasar yang memperbanyak gerakan lengan. Pemanasan diakhiri dengan lari sprint bolak- balik. Kegiatan selanjutnya siswa diberi kesempatan pemanasan bola, yaitu melakukan lempar tangkap bola voli. Pada pelaksanaan tindakan yaitu pada kegiatan inti dalam pertemuan ini siswa dibagi menjadi 2 (dua) kelompok. Kelompok I melakukan pasing kelantai dengan posisi jari-jari tangan seperti melakukan pasing atas yang sebenarnya. Waktu yang diperlukan adalah satu menit untuk sesi dan repetisi sebanyak 5 (lima) kali. Dalam pelaksanaannya dilakukan bergantian dengan kelompok lain yaitu kelompok II, hingga masing- masing kelompok melakukan model latihan pasing dipantulkan kelantai ini sebanyak 5 (lima) kali. Pengamatan terhadap proses pembelajaran yaitu motivasi para siswa yang sedang melakukan aktifitas, terhadap siswa putri yang duduk-duduk dibawah pohon sudah hampir tidak ada. Demikian pula siswa laki-laki yang bermain sepak bola sudah tida terlihat. Pada saat kelompok lain melakukan mereka cenderung melakukan pengamatan. Pada akhir pertemuan pertama pada kegiatan inti pembelajaran setelah masing-masing kelompok merasakan model latihan pasing ke lantai, sebanyak 5 (lima) kali satu menit, dilanjutkan dengan tes unjuk kerja yaitu melakukan pasing atas individu dengan memperhatikan hasil (jumlah pasing), posisi jari-jari tangan, sikap badan dan kaki, selama satu menit. Hasil pasing atas individu ini dihitung oleh kelompok II. Selanjutnya dilaporkan pada sekretaris kelas untuk
42 dimasukan dalam daftar nilai. Demikian sebaliknya pada saat kelompok II melakukan pasing atas individu, kelompokI melakukan hal yang sama yaitu menghitung jumlah pasing yang benar, dan selanjutnya dilaporkan pada sekretaris kelas. Kegiatan penutup pada pertemuan I, ini adalah dilakukan penenangan dan diadakan evaluasi sekaligus pemberian motivasi pada mereka yang masih belum maksimal dalam beraktivitas. Pada pertemuan ke 2 masih melakukan kegiatan siklus I. Pada pertemuan ke 2 siklus I kegiatan hampir sama dengan pertemuan ke 1. Siklus I pertemuan 2 ini Perencanaan Tindakan yang terdiri dari : apersepsi, kegiatan inti, dan penutup. Apersepsi terhadap siswa kelas IX D ini setelah ketua kelas menyiapkan teman-temannya dengan tertib membentuk barisan 3 (tiga bershaf, dilanjutkan dengan guru mengajak berdoa bersama agar jalannya kegiatan pembelajaran berlangsung lancar, dilanjutkan dengan memotivasi agar para siswa mau melaksanakan kegiatan dengan lebih bersungguh-sungguh. Pertemuan kedua dari empat pertemuan yang direncanakan, penulis yang merupakan guru penjasorkes Kelas IX D pada Semester I Tahun pelajaran 2017/2018, menyampaikan hal-hal sebagai berikut: “ selamat pagi anak-anak, saya sampaikan terima kasih pada pertemuan pertama minggu kemarin proses pembelajaran sudah berlangsung tertib. Untuk itu di pertemuan kedua ini tolong ditingkatkan. Selanjutnya kalian akan melakukan kegiatan yang sama dengan kegiatan minggu lalu, yaitu mempasing bola voli ke lantai tiap-tiap kelompok 1 (satu) menit. Kalian akan melakukan sebanyak 5 (lima) kali secara bergantian. Diharapkan kalian semakin terbiasa merasakan perkenaan jari-jari tangan kalian pada bola, sehingga pada
43 pelaksanaan tes nanti kalian akan lebih mampu. Pertemuan ini akan diakhiri dengan tes pasing atas individu selama 1 (satu) menit untuk masing-masing siswa. Bersamaan dengan itu bapak akan mengevaluasi jalannya pertemuan ini sekaligus menyampaikan langkah-langkah kegiatan pada pertemuan ke 3 (tiga) yaitu kegiatan siklus II”. Selanjutnya siswa diminta melakukan pemanasan yang sesuai dengan permainan bola voli. Diantaranya berlari kecil, streching dan senam dasar yang memperbanyak gerakan lengan. Pemanasan diakhiri dengan lari sprint bolak- balik. Kegiatan selanjutnya siswa diberi kesempatan pemanasan bola, yaitu melakukan lempar tangkap bola voli. Pada pelaksanaan tindakan yaitu pada kegiatan inti dalam pertemuan ini siswa dibagi menjadi 2 (dua) kelompok. Kelompok I melakukan pasing kelantai dengan posisi jari-jari tangan seperti melakukan pasing atas yang sebenarnya. Waktu yang diperlukan adalah satu menit untuk sesi dan repetisi sebanyak 5 (lima) kali. Dalam pelaksanaannya dilakukan bergantian dengan kelompok lain yaitu kelompok II, hingga masing- masing kelompok melakukan model latihan pasing dipantulkan kelantai ini sebanyak 5 (lima) kali. Pengamatan terhadap proses pembelajaran yaitu motivasi para siswa yang sedang melakukan aktifitas, terhadap siswa putri yang duduk-duduk dibawah pohon sudah hampir tidak ada. Demikian pula siswa laki-laki yang bermain sepak bola sudah tida terlihat. Hal ini terjadi kerena masing-masing siswa memiliki tugas. Pada saat kelompok lain melakukan, mereka harus menghitung dan mengamati pelaksanaannya.
44 Pada akhir pertemuan pertama pada kegiatan inti pembelajaran setelah masing-masing kelompok merasakan model latihan pasing ke lantai, sebanyak 5 (lima) kali satu menit, dilanjutkan dengan tes unjuk kerja yaitu melakukan pasing atas individu dengan memperhatikan hasil (jumlah pasing), posisi jari-jari tangan, sikap badan dan kaki, selama satu menit. Hasil pasing atas individu ini dihitung oleh kelompok II. Selanjutnya dilaporkan pada sekretaris kelas untuk dimasukan dalam daftar nilai. Demikian sebaliknya pada saat kelompok II melakukan pasing atas individu, kelompokI melakukan hal yang sama yaitu menghitung jumlah pasing yang benar, dan selanjutnya dilaporkan pada sekretaris kelas. Kegiatan penutup pada pertemuan I, ini adalah dilakukan penenangan dan diadakan evaluasi sekaligus pemberian motivasi pada mereka yang masih belum maksimal dalam beraktivitas. Siklus II, pada kegiatan pendahuluan, seperti biasanya siswa membentuk barisan 3 (tiga) bersaf, setelah barisan rapi, ketua kelas memimpin berdoa. Ketua kelas atau pemimpin barisan selanjutnya mengistirahatkan. Guru yang merupakan penulis PTK ini, memberikan pengarahan secukupnya mengingat ini merupakan pertemuan ketiga dari 4 (empat) pertemuan yang direncanakan. Pengarahan guru sebagai peeliti sebagai berikut: “ selamat pagi anak-anak, saya sampaikan terima kasih pada pertemuan pertama minggu kemarin proses pembelajaran sudah berlangsung tertib. Untuk itu di pertemuan kedua ini tolong ditingkatkan. Pertemuan pagi ini kalian akan melakukan kegiatan yang berbeda dengan kegiatan minggu lalu, yaitu mempasing bola voli tembok tiap-tiap kelompok 1 (satu) menit. Kalian akan melakukan sebanyak 5 (lima) kali secara bergantian. Diharapkan kalian semakin
45 dapat merasakan perkenaan jari-jari tangan kalian pada bola, sehingga pada pelaksanaan tes nanti kalian akan lebih mampu karena model latihan pasing ini merupakan kelanjutan dari model sebelumnya. Model latihan pasing ini lebih menyerupai pasing atas yang sebenarnya. Pertemuan ini akan diakhiri dengan tes pasing atas individu selama 1 (satu) menit untuk masing-masing siswa. Bersamaan dengan itu bapak akan mengevaluasi jalannya pertemuan ini”. Pada kegiatan inti pembelajaran setelah warming up, 30 siswa dibagi menjadi 2 (dua) kelompok masing-masing 15 (lima belas) siswa disesuaikan dengan jumlah bola. Siswa memegang bola pada ruas jari-jari pertama dan kedua, kedua tangan membentuk mangkuk. Selanjutnya bola dorong (dipantulkan) ke tembok (ke depan atas kepala) selama 1(satu) menit. Tiap kelompok repetisi 5 kali. Pada pelaksanaan kegiatan dipertemuan ketiga ini, siswa terlihat lebih antusias. Hal ini disebabkan karena para siswa lebih tertantang melakukan pasing dengan pasangan benda mati yaitu tembok. Para siswa bersemangat untuk tidak menjatuhkan bola selama satu menit. Siswa yang tergabung dalam kelompok lain selain mengamati juga member semangat. Ini menunjukan bahwa proses pembelajaran (motivasi siswa) lebih baik. Siswa yang malas melakukan kegiatan sama sekali sudah tidak terlihat lagi. Hasil pembelajaran yaitu peningkatan kemampuan pasing atas seperti yang tertulis pada analisis penelitian terdapat peningkatan yang signifikan. Nilai tertinggi siswa mencapai 87 dan terendahnya 40 namun secara rata-rata mengalami peningkatan dari pada siklus I. Repleksi pada akhir dari penerapan model latihan pasing atas, menunjukan adanya kemajuan yang sangat berarti. Hal ini ditunjukan dengan
46 adanya peningkatan motivasi siswa dan hasil yaitu peningkatan kemampuan pasing atas dalam permainan bola voli, dengan membandingkan kondisi awal motivasi siswa dan kemampuan pasing atas dengan motivasi dan kemampuan pasing atas pada siklus I dan motivasi juga kemampuan pasing atas pada siklus II.
47 BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal 1. Deskripsi Proses Pembelajaran Guru Mata Pelajaran Penjasorkes sebagai penulis dalam penelitian tindakan ini menyadari belum melakukan pembelajaran dengan model pembelajaran pasing atas. Guru Mata Pelajaran Penjasorkes sebelum penelitian ini, masih menggunakan pembelajaran dengan cara konvensional. Untuk proses pembelajaran pasing atas dalam permainan bola voli ini, siswa diminta mengambil dan menggunakan bola voli sesuai dengan instruksi, yaitu diminta melakukan latihan pasing atas individu selama beberapa menit. Siswa diminta berusaha agar bola tidak jatuh. Setelah guru memberikan instruksi dilanjutkan memberikan contoh dengan mendemonstrasikan kegiatan yaitu pasing atas individu di depan para siswa. Selanjutnya siswa diminta menyebar ke lapangan, untuk melakukan kegiatan yang telah diinstruksikan yaitu pasing atas individu. Setelah proses berlangsung kurang lebih 5 (lima) menit terlihat pemandangan yang tidak semestinya terjadi. Para siswa banyak sekali yang melakukan kegiatan lain dari pada yang melakukan pasing atas. Siswa- siswa putri misalnya memilih duduk-duduk dibawah pohon atau di teras-teras kelas. Sedangkan siswa putra lebih memilih kegiatan sepak bola dengan menggunakan bola voli. Sedang siswa yang tetap pasing atas mengalami kesulitan, yaitu tidak dapat mengasilkan pasing yang baik. Hal ini bisa dilihat dari foto-foto di bawah ini:
48 Gambar 3 Kondisi Awal Proses Pembelajaran Siswa Putri Gambar 4 Kondisi Awal Proses Pembelajaran Siswa Putra Pada akhir pertemuan para siswa diminta kumpul kembali, untuk diberitahukakan diadakan tes pasing atas individu. Nomor absen 1 sampai dengan 5 melakukan pasing sedang nomor absen 6 sampai
49 dengan 10 menghitung jumlah pasing yang benar. Demikian seterusnya hingga semua siswa melakukan penilaian. 2. Deskripsi Hasil Pembelajaran Kemampuan pasing atas pada kondisi awal, masih sangat rendah. Hasil tes dengan meng hitung jumlah pasing atas individu siswa yang benar kemudian di konfirmasikan ketabel penghitungan skor diperoleh nilai. Dari 26 siswa, pencapaian nilai tertinggi hanya 75 dan nilai terendahnya 40. Rata-rata nilai siswa Kelas VII D ini pada kondisi awal ini sebesar 60,46. Untuk lebih jelasnya, hasil belajar siswa pada kondisi awal, dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2 Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal NO URAIAN ULANGAN HARIAN 1 01 Nilai terendah 40 02 Nilai tertinggi 75 03 Nilai rata-rata 60,45 04 Rentang Nilai 35 B. Deskripsi Hasil Siklus I
50 1. Perencanaan Tindakan Kegiatan pendahuluan penelitian tindakan pada siklus I tidak ada yang istimewa. Para siswa membentuk barisan 3 (tiga) bershaf yang dipimpin oleh ketua kelas. Setelah barisan rapi ketua kelas melanjutkan aba-aba berhitung. Dari 26 siswa pada waktu itu hadir semua. Ketua kelas menganjak berdoa bersama, dan setelah itu ketua kelas mengistirahatkan barisan. Guru sebagai peneliti memberikan ucapan salam, dan terima kasih telah datang tepat waktu dan semua mengenakan seragam lengkap. Selanjutnya guru memberikan pengarahan bahwa melihat kondisi nilai pasing atas bola voli yang sangat rendah pada pertemuam minggu lalu, maka perlu adanya tindakan pada Kelas VII D dengan melakukan model latihan pasing atas. Untuk pertemuan hari ini dan minngu depan merupakan pertemuan untuk siklus I. Model pasing yang dilakukan adalah dengan memantulkan bola ke lantai. Namun demikian posisi jari-jari tangan dan sikap kaki sama seperti posisi pasing atas yang sebenarnya. Hari ini merupakan pertemuan pertama pada siklus I dari dua pertemuan yang direncanakan. Para siswa diminta untuk serius melakukan kegiatan. Setelah para siswa cukup mengerti kegiatan dilanjutkan dengan pemanasan yaitu: 1) Lari keliling lapangan sebanyak 5 (lima) putaran. 2) Membentuk lingkaran besar untuk melakukan senam dan penguluran (stretching). 3) Latihan kekuatan (strength) dengan
Search