Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore TEKNOLOGI PENGOLAHAN TELUR

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TELUR

Published by Rissa Fauziyah, 2022-03-27 08:02:21

Description: TEKNOLOGI PENGOLAHAN TELUR

Search

Read the Text Version

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TELUR Rissa Fauziyah 2102217

Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya sehingga e-modul yang berjudul “Teknologi Pengolahan Telur” dapat terselesaikan dengan baik. Tak ada gading yang tak retak karenanya saya selaku penulis menyadari dalam penulisan e-modul ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari sisi materi maupun penulisannya. Saya mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari seluruh pembaca. Bandung, 27 Maret 2022 Penulis i

Daftar Isi Kata Pengantar.................................................. i Daftar Isi............................................................ ii Pendahuluan...................................................... 1 Definisi Telur..................................................... 2 Jenis-Jenis Telur................................................3 Struktur Telur.................................................... 5 Komposisi Kimia Telur.......................................8 Sifat-Sifat Telur.................................................12 Kualitas Telur.................................................... 13 Mutu Telur......................................................... 14 Pengawetan Telur Segar...................................16 Pengeringan Telur............................................. 21 Pengolahan Telur Asin...................................... 27 Rangkuman.........................................................29 Latihan Soal....................................................... 30 Kunci Jawaban................................................... 31 Glosarium...........................................................32 Daftar Pustaka................................................... 33 ii

PENDAHULUAN Telur merupakan salah satu bahan pangan yang paling praktis digunakan, tidak memerlukan pengolahan yang sulit. Kegunaannya paling banyak untuk lauk-pauk, namun seringkali untuk obat-obatan tradisional. Sebagai bahan pangan, telur mempunyai nilai yang penting karena merupakan sumber protein dan lemak yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. 1

DEFINISI TELUR Menurut Haryoto (1995), telur merupakan alat dan cara berkembangbiak unggas dan sebagian hewan, secara alami telur telah disiapkan oleh induknya untuk menunjang kehidupan dan perkembangan embrio secara sempurna. Telur merupakan bahan pangan hasil ternak unggas yang kaya sumber protein hewani, memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. 2

JENIS — JENIS TELUR 1. Telur Ayam Negeri (Ras) Telur ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan telur ayam kampung. Memiliki berat dengan rata-rata 55-65 gram. Kulit telur berwarna coklat dan putih. Seekor ayam negeri dapat bertelur rata- rata 250-260 butir telur/tahun. 2. Telur Ayam Kampung (Buras) Telur ini berukuran lebih kecil dibandingkan dengan telur ayam negeri. Memiliki berat dengan rata- rata 45-50 gram. Kulit telur berwarna coklat dan putih. Seekor induk ayam kampung tidak dapat bertelur banyak, rata-rata 200 butir telur/tahun. Harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan telur ayam negeri. 3

3. Telur Bebek atau Itik Telur ini berukuran besar. Terdapat dua jenis, yaitu warna kulit telur biru dan putih. Telur tersebut dihasilkan oleh jenis bebek yang berbeda. Telur ini banyak digunakan untuk telur asin. 4. Telur Burung Puyuh Telur berukuran kecil, jauh lebih kecil dari telur ayam kampung. Memiliki berat rata-rata 15-20 gram. Kulit telur berwarna coklat berbintik- bintik hitam atau biru berbintik-bintik coklat pekat. 4

STRUKTUR TELUR Kulit Telur (egg shell) Telur unggas memiliki kulit yang keras, halus, dan dilapisi kapur serta terikat kuat pada bagian luar lapisan membran. Kulit keras karena hampir sebagian besar tersusun dari garam-garam anorganik. Pada bagian kulit terdapat beberapa ribu pori-pori yang berguna dalam pertukaran gas terutama untuk memenuhi kebutuhan embrio dalam telur. Pori-pori sangat sempit, berukuran 0,01- 1,07 mm dan tersebar di seluruh permukaan kulit telur, jumlahnya bervariasi antara 100-200 lubang/cm². Pada bagian yang tumpul, pori-pori per satuan luas lebih besar dibandingkan dengan bagian yang lain. Pada telur yang masih baru, pori-pori masih dilapisi oleh lapisan tipis kutikula yang terdiri dari 90% protein dan sedikit lemak. 5

Putih Telur (albumen) Putih telur mengandung lapisan putih telur encer 40% dan sisanya 60% lapisan putih kental. Lapisan ini mengelilingi seluruh kuning telur, dari lapisan ini keluar jonjot-jonjot yang berpilin disebut kalaza yang befungsi untuk mempertahankan letak kuning telur agar tetap di tenga-tengah telur. Putih telur terdeposisi pada saat kuning telur sewaktu berada di magnum. Magnum adalah bagian terpanjang dari saluran telur. Warna putih telur adalah bening homogen, namun apabila dicermati sesungguhnya berserat dan berlapis-lapis. Fungsi putih telur adalah sebagai sumber nutrisi embrio untuk berkembang, sebagai bantal untuk melindungi kuning telur terhadap kerusakan secara mekanis, sebagai bekterisidal untuk mencegah infeksi dan sebagai cikal-bakal untuk pengendapan membran cangkang. Pada penyimpanan telur, bagian putih telur merupakan bagian yang paling mudah rusak karena putih telur merupakan bagian yang paling banyak mengandung air Kerusakan terjadi terutama disebabkan keluarnya air dari jala-jala ovomusin yang membentuk struktur putih telur. 6

Kuning Telur (yolk) Kuning telur dibungkus oleh selaput yang disebut membran vitelin yang tebalnya sekitar 0,024 mm. Membran vitelin terdiri atas tiga lapisan. Lapisan yang di tengah terdiri atas keratin dengan ketebalan yang sama dengan dua lapisan lainnya. Dua lapisan tersebut terdiri dari mucin. Kuning telur sendiri terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan tipis yang berwarna putih dan lapisan tebal yang berwarna kuning gelap. Bagian kuning telur merupakan bagian yang paling penting bagi isi telur karena pada bagian ini terdapat dan tumbuh embrio hewan, khususnya pada bagian telur yang sudah dibuahi. Pada bagian ini paling banyak tersimpan zat-zat gizi yang sangat menunjang perkembangan embrio. Kuning telur berbentuk hampir bulat, berwarna kuning sampai jingga, letaknya persis di tengah-tengah telur, bila telurnya baik dan normal. Telur yang sudah lama disimpan akan mempunyai bentuk dan posisi kuning telur yang menyimpang. 7

KOMPOSISI KIMIATELUR Menurut Soeparno dkk. (2011), kualitas telur diartikan sebagai mutu telur. Terkait dengan mutu telur tersebut, sumber yang sama membatasinya dengan kualitas telur bagian luar dan dalam. Bagian luar telur berupa kerabang atau cangkang telur sedangkan bagian dalam telur terdiri atas putih telur dan kuning telur. Menurut Yuwanta (2010), telur merupakan bahan pangan yang mengandung protein cukup tinggi dengan susunan asam amino lengkap. Selain itu, telur juga mengandung lemak tak jenuh, vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh dan sangat mudah dicerna. Menurut Soeparno dkk. (2011), telur mengandung hampir semua zat makanan yang diperlukan manusia seperti lemak, protein, vitamin, dan mineral. Telur juga mengandung 10 macam asam amino esensial dari 18 macam asam amino esensial yang ada (Kusnadi, 2007). 8

Air Menurut Soekarto (2013), air merupakan komponen terbesar dalam telur, dan dari segi gizi, kandungan air dalam telur dianggap kurang berarti. Namun, sebagai komponen dari produk pangan hewani segar, kandungan air memiliki peranan sangat penting terutama pada sifat- sifat fungsional dan peranannya pada beberapa senyawa bioaktif dalam isi telur. Berbagai sifat dan fungsional isi telur hanya dapat diekspresikan beserta kandungan airnya atau adanya cukup lingkungan air. Pada putih telur mengandung air dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan kuning telur. Hal ini menyebabkan isi telur berbentuk cair dan dapat mengalir pada waktu masih mentah. Lapisan kental pada bagian kuning telur juga mengandung air sangat tinggi (Soeparno dkk., 2011). Senyawa protein ovomusin yang berbentuk serat yang menentukan tingkat kekentalannya dan mampu menyerap air sangat banyak. Bagian kuning telur juga mengandung air cukup tinggi, dan berperan dalam pembentukan struktur emulsi bagian kuning telur, yang juga menentukan kekentalan lapisan kuning telur (Yuwanta, 2010). 9

Protein Sebutir telur berisi 6-7 gram protein. Protein telur mempunyai kualitas yang tinggi untuk pangan manusia. Protein telur berisi semua asam amino esensial yang berkualitas baik, sehingga dipakai di standar untuk mengevaluasi protein pangan lain. Protein terdapat pada bagian kuning dan putih telur. Protein dalam telur terbagi 2 kelas yaitu protein sederhana dan protein terkonjugasi (protein berkombinasi dengan karbohidrat dan fosfor). Protein pada yolk adalah ovolitelin dan ovovitelin dengan perbandingan 4 : 4. Ovovitelin termasuk fosfoprotein atau protein yang mengandung fosfor dalam yolk, sedangkan ovolitelin mengandung sedikit fosfor, tetapi mengandung sulfur agak tinggi yaitu sepertiga dalam yolk (Saleh dkk., 2012). Protein putih telur terdiri dari protein serabut, yaitu ovomusin dan protein globular, yaitu ovalbumin, conalbumin, ovomucoid, lizosim, flavoprotein, ovoglobulin, ovoinhibitor, dan avidin. Protein pada kuning telur umumnya berikatan dengan lemak secara kompleks, kecuali livetin dan posvitin. 10

Lemak Telur mangandung 6 gram lemak yang mudah dicerna. Jumlah asam lemak tidak jenuh lebih tinggi dibandingkan dengan yang terdapat pada produk hewani yang lain. Ada terutama pada kuning telur. Lemak tersusun oleh 65,5% trigliserida, 28,3% fosfolipid, dan 5,2% kolesterol. Fosfolipid berfungsi sebagai elmusifier. Karbohidrat Pada telur, karbohidrat terdapat dalam keadaan bebas yaitu glukosa. Sedangkan pada kuning telur, karbohidrat yang terdiri dari glukosa dan berikatan dengan manosa- glukosamin. Kadar Abu Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur mineral juga dikenal sebagai zat organik atau kadar abu. Kadar abu tersebut dapat menunjukan total mineral dalam suatu bahan pangan (Astuti, 2011). 11

SIFAT - SIFAT TELUR Telur tidak dapat diperlakukan secara kasar pada suatu wadah karena kulit telur sangat mudah pecah, retak, dan tidak dapat menahan tekanan mekanisme yang besar. Telur tidak mempunyai bentuk ukuran yang sama besar karena bentuk elipsnya memberikan masalah untuk penanganan secara mekanis dalam suatu sistem yang kontinyu. Udara kelembapan relatif dan suhu dapat mempengaruhi mutunya terutama kuning telur dan putih telurnya dan menyebabkan perubahan-perubahan secara khemis dan bakteriologis. Mutu isi bagaimanapun baiknya, tetapi kenampakan luar biasa berpengaruh dalam penjualan telur terutama mempengaruhi harganya. 12

KUALITAS TELUR Kualitas pangan dapat mengacu pada beberapa faktor di antaranya adalah evaluasi organoleptik (warna, tekrtur, aroma, flavor, keseluruhan penerimaan), keamanan pangan dari mkroba patogen, nutrisi pangan, residu, dan racun yang termasuk ke dalam toksikologi dan lain sebagainya. Telur sebagai sumber protein merupakan salah satu bahan pangan yang kualitasnya ditentukan berdasarkan hal tersebut. Secara umum kualitas telur dapat ditentukan berdasarkan kualitas internal dan eksternal telur. Kualitas eksternal dapat dilihat dari berat, warna kerabang atau cangkang telur, bentuk dan kebersihan telur. Kualitas internal dapat ditentukan berdasarkan isi telur yang meliputi bagian dalam telur (putih, kuning, dan kedalaman rongga udara). 13

MUTU TELUR Penentuan mutu telur sebenarnya sangat penting, terutama untuk isi telur. Terdapat beberapa cara penentuan mutu telur, yaitu : 1. Berdasarkan kebersihan dan ketebalan kerabang Secara estetis, telur yang kerabangnya bersih akan lebih menarik daripada telur yang kerabangnya kotor. Kerabang kotor dapat disebabkan oleh bekas kotoran ayam atau bekas darah. Tebalnya kerabang akan menentukan mudah tidaknya telur pecah. Telur yang kerabangnya tebal relatif lebih sulit pecah daripada telur yang kerabangnya tipis. Warna kerabang telur ayam ras ada dua yaitu putih dan coklat. Perbedaan warna kerabang disebabkan adanya pigmen cephopyrin yang terdapat pada permukaan kulit telur warna coklat. Kulit telur warna coklat lebih tebal, dengan ketebalan rata-rata 0,51 mm, sedangkan tebal kulit warna putih rata-rata 0,44 mm. Berdasarkan kebersihan dan ketebalan kerabang, telur-telur dapat dikelompokan menjadi empat golongan mutu, yaitu: →1 ) K e l a s m u t u I t e l u r y a n g b e r k e r a b a n g t i d a k r e t a k a t a u tidak pecah dan kenampakannya bersih. →2 ) K e l a s m u t u I I t e l u r y a n g k e r a b a n g n y a t i d a k r e t a k a t a u pecah tetapi kenampakannya kotor. →3 ) K e l a s m u t u I I I t e l u r y a n g k e r a b a n g n y a a d a y a n g r e t a k →t e t a p i i s i n y a b e l u m k e l u a r . 4) Kelas mutu IV telur yang kerabangnya sudah pecah sebagian isinya keluar. 14

2. Berdasarkan ukuran telur Meskipun bentuk dan ukuran setiap telur hampir tidak selalu sama, namun telur-telur dapat digolongkan menjadi empat golongan mutu berdasarkan ukuran. Biasanya ukuran telur dihubungkan dengan beratnya. Makin besar ukurannya, akan semakin berat. Penggolongan telur berdasarkan beratnya dapat dihat pada tabel berikut. 3. Berdasarkan isi telur Keadaan isi telur dapat dilihat dengan cara peneropongan, atau disebut candling. Cara pemeriksaan isi telur dengan candling dapat dikerjakan secara sederhana yaitu menyinari telur dengan lampu melalui tabung selinder. Dengan cara demikian isi telur akan dapat terlihat. Penentuan mutu telur berdasarkan keadaan isinya, masih harus memperhatikan keadaan kerabangnya. 15

PENGAWETAN TELUR SEGAR A. Perlakuan Awal Pengawetan telur utuh bertujuan untuk mempertahankan mutu telur segar. Prinsip dalam pengawetan telur segar adalah mencegah penguapan air dan terlepasnya gas-gas lain dari dalam isi telur, serta mencegah masuk dan tumbuhnya mikroba di dalam telur selama mungkin. Hal-hal di atas dapat dilakukan dengan cara menutup pori-pori kulit telur atau mengatur kelembaban dan kecepatan aliran udara dalam ruangan penyimpanan. Penutupan pori-pori kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan larutan kapur, parafin, minyak nabati (minyak sayur), air kaca (water glass), dicelupkan dalam air mendidih dan lain-lain. Sedangkan pengaturan kecepatan dan kelembaban udara dapat dilakukan dengan penyimpanan di ruangan khusus. Sebelum dilakukan prosedur pengawetan, penting diperhatikan kebersihan kulit telur. Hal ini karena meskipun mutunya sangat baik, tetapi jika kulitnya kotor, telur dianggap bermutu rendah atau tidakdipilih pembeli. Pembersihan kulit telur dapat dilakukan dengan cara merendam telur dalam air bersih, dapat diberi sedikit detergen atau Natrium hidroksida (soda api). Kemudian dicuci bersih sehingga kotoran yang menempel hilang. 16

B. Pengemasan Kering Pengemasan telur dapat dilakukan secara kering dengan menggunakan bahan-bahan seperti sekam, pasir dan serbuk gergaji. Jika pengemasnya padat, cara ini akan memperlambat hilangnya air dan CO2. Kelemahan cara ini adalah menambah berat dan volume, yang dapat menaikkan ongkos angkut dan ruang penyimpanan. Disamping itu, pengemasan kering tidak banyak memberikan perlindungan terhadap mikroba selama penyimpanan. 17

C. Perendaman dalam Cairan Metode ini merupakan suatu cara pengawetan telur yang terutama bertujuan mencegah penguapan air, serta umumnya dikombinasikan dengan penyimpanan dingin. Beberapa cara yang dapat digunakan adalah : 1. Perendaman telur dalam larutan kapur Larutan kapur dapat dibuat dengan cara melarutkan 100 g batu kapur (CaO) dalam 1,5 liter air, lalu dibiarkan sampai dingin. Daya pengawet dari kapur karena mempunyai sifat basa, sehingga mencegah tumbuhnya mikroba. Kapur (CaO) akan bereaksi dengan udara membentuk lapisan tipis kalsium karbonat (CaCO3) di atas permukaan cairan perendam. Kemudian CaCO3 yang terbentuk akan mengendap di atas permukaan telur, membentuk lapisan tipis yang menutupi pori- pori. Pori-pori yang tertutup ini menyebabkan mikroba tidak dapat masuk ke dalam telur dan mencegah keluarnya air dan gas-gas lain dari dalam isi telur. Kapur juga menyebabkan kenaikan kenaikan pH pada permukaan kulit telur yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. 2. Perendaman dalam minyak parafin Telur direndam atau dicelupkan dalam minyak parafin selama beberapa menit. Selanjutnya dikeringkan dengan membiarkan di udara terbuka (dikering-anginkan) sehingga minyak parafin menjadi kering dan menutupi pori-pori kulit telur. 18

3. Perendaman dalam air kaca (water glass) Air kaca adalah larutan natrium silikat (Na2SiO4), berbentuk cairan kental, tidak berwarna, tidak berbau dan jernih seperti kaca. Larutan ini dapat dibuat dengan melarutkan 100 g natrium silikat ke dalam 900 ml akuades, kemudian dapat digunakan untuk merendam telur. Pada saat perendaman telur, air kaca membentuk dan mengendapkan silikat pada kulit telur, sehingga pori-porinya tertutup. Air kaca juga mempunyai daya antiseptik, sehingga mencegah pertumbuhan mikroba. 4. Pencelupan telur dalam air mendidih Pencelupan telur dilakukan selama kurang lebih 5 detik pada air mendidih. Hal ini menyebabkan permukaan dalam kulit telur akan menggumpal dan menutupi pori-pori kulit telur dari dalam. 5. Pengawetan telur dengan bahan penyamak nabati Prinsip dasar dari pengawetan menggunakan bahan penyamak nabati adalah terjadinya reaksi penyamakan pada bagian luar kulit telur olah zat penyamak (tanin). Akibatnya kulit telur menjadi impermeabel (tidak dapat bersatu atau bercampur) terhadap air dan gas. Dengan demikian, keluarnya air dan gas dari dalam telur dapat dicegah sekecil mungkin. Bahan penyamak nabati yang banyak digunakan adalah daun akasia (Acasia decurrena) atau daun jambu biji (Psidium guajava) yang telah dikeringkan. Daun kering tersebut direndam selama semalam dan direbus 1 jam, kemudian airnya disaring dan digunakan untuk merendam telur. 19

6. Penutupan pori-pori kulit telur Penutupan pori-pori kulit telur dapat dilakukan menggunakan agar-agar, getah karet, sabun, gelatin, minyak nabati dan bahkan getah kaktus. Bahan yang paling banyak digunakan adalah berbagai minyak nabati atau minyak sayur karena mudah disediakan dan murah. Minyak nabati digunakan dengan cara pencelupan atau penyemprotan. Minyak nabati yang dapat digunakan, yaitu minyak kelapa, minyak kelapa sawit minyak kacang, minyak jagung atau kombinasi/campuran minyak-minyak di atas. Teknik penyemprotan akan menghasilkan sekitar 50 mg minyak yang menutupi pori-pori sebutir telur. Jika cara ini dikombinasikan dengan penyimpanan pada suhu dingin dapat mengawetkan telur selama 6 bulan, dengan hampir tidak ada perubahan dibandingkan keadaan segarnya. D. Penyimpanan Dingin Telur segar dapat dipertahankan mutunya dalam waktu yang relatif lama bila disimpan dalam ruangan dingin dengan kelembaban udara antara 80-90% dan kecepatan aliran udara 1-1,5 m/detik. Dalam hal ini telur disimpan sedekat mungkin di atas titik beku telur yaitu -2ºC. Suhu yang rendah ini akan memperlambat hilangnya CO2 dan air dari dalam telur serta penyebaran air dari putih ke kuning telur. Untuk lebih menghambat hilangnya CO2 maka kadar CO2 di dalam ruang penyimpanan dapat ditingkatkan sampai 3%. 20

PENGERINGAN TELUR Pengeringan telur sudah dilakukan di Amerika Serikat sejak tahun 1880. Proses pengeringan telur akan menghasilkan produk berupa tepung telur atau telur bubuk. Pada pengeringan telur, air dikeluarkan dari cairan telur dengan cara penguapan sampai tinggal bagian padatan dengan sedikit air. Kadar air bahan dikurangi sampai batas dimana mikroorganisme tidak dapat tumbuh di dalamnya. Disamping mencegah aktivitas mikroorganisme sehingga memperpanjang daya simpan, pengeringan telur juga bertujuan untuk mengurangi ruang penyimpanan, serta mempermudah penanganan dan transportasi. Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti suhu cairan, luas permukaan cairan, suhu udara pengering dan tekanan uap diudara. Perambatan panas dapat berlangsung secara konduksi, konveksi atau radiasi. Kecepatan perambatan panas dipengaruhi oleh sifat-sifat tertentu dari cairan telur yang dikeringkan, seperti panas spesifik, kekentalan, densitas (berat jenis) dan tegangan permukaan. 21

Metode pengeringan yang dapat digunakan untuk membuat tepung telur ada 4 macam, yaitu pengeringan semprot (spray drying), pengeringan secara lapis tipis (pan drying), pengeringan beku (freeze drying) dan pengeringan busa (foaming drying). Pengeringan semprot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk memproduksi tepung telur. Prinsip metode ini adalah menyemprotkan cairan telur ke dalam aliran udara panas, sehingga permukaan cairan telur menjadi sangat luas dan pengeringan berlangsung dengan cepat. Pengeringan semprot biasanya digunakan untuk membuat tepung telur utuh dan tepung kuning telur, tetapi tidak di gunakan untuk membuat tepung putih telur. Putih telur dapat menggumpal sehingga menyumbat peralatan pengering semprot. Emulsi telur yang akan dikeringkan dengan metode pengeringan semprot sebaiknya bersuhu awal sekitar 4,5°C atau bisa juga bersuhu 60°C. Pada suhu awal emulsi telur 4,5°C akan dihasilkan tepung telur dengan kerapatan jenis sebesar 0,53 gram per cm3, sedangkan jika suhu awal 60°C kerapatan jenisnya 0,48 gram per cm3. Pengeringan semprot biasanya menggunakan tekanan semprot terhadap emulsi telur sebesar 126,67-31,85 kg/cm2 dan suhu sekitar 110°C-149°C agar diperoleh tepung dengan kadar air 3-5%. Pengeringan telur utuh dan kuning telur dengan pengering semprot beraliran co-current (arah udara panas dan arah cairan yang disemprotkan sama atau searah) dan alat penyemprot jenis rotary atau nozzle, pada suhu udara masuk 145-200°C akan menghasilkan tepung telur dengan kadar air 2-4%. 22

Metode pengeringan secara lapis umumnya digunakan untuk membuat tepung putih telur, tetapi dapat juga digunakan untuk membuat tepung telur utuh dan tepung kuning telur. Pengeringan cara ini dilakukan pada suhu sekitar 40,56°C sampai 47,78°C sedangkan jenis alat pengering yang digunakan antara lain oven dan water jacketed pan. Pengeringan telur utuh atau kuning telur yang dilakukan pada suhu 40-45°C dengan tebal lapisan sekitar 6 mm dan lama pengeringan 6 jam menghasilkan tepung telur dengan kadar air 5%. Pada pengeringan beku, air diuapkan dari bahan beku secara sublimasi, yang prosesnya berlangsung dalam keadaan vakum. Tepung telur yang dihasilkan dengan cara ini mempunyai sifat-sifat yang sangat baik, dalam arti tidak atau sedikit sekali mengalami perubahan sifat fisikokimia selama pengeringan. Kelemahannya adalah metode ini memerlukan biaya operasi yang relatif mahal, sehingga hanya akan menguntungkan jika dilakukan dalam skala yang besar. Pengeringan busa digunakan untuk mengeringkan bahan cair yang dapat dibusakan, misalnya putih telur. Pembentukan busa menghasilkan luas permukaan yang besar sehingga mempercepat proses pengeringan. Pengeringan cara ini hampir sama dengan pengeringan cara lapis. Cairan telur dikocok sehingga membentuk busa, kemudian dikeringkan dengan ketebalan 3,2 mm pada suhu 82,2°C selama 12 menit. Setelah kering dilakukan penggilingan, hasilnya berupa tepung telur dengan kadar air 2-3 %. 23

1. Telur Cair Cairan telur diperoleh dengan memecah telur. Isi telur selanjutnya diproses sebagai campuran kuning dan putih telur sesuai keadaan asalnya, dipisahkan putih dan kuning telurnya, atau campuran putih dan kuning telur dengan perbandingan tertentu untuk tujuan khusus. Untuk mencegah kontaminasi Salmonella, semua isi telur harus dipasteurisasi. Proses pasteurisasi berbeda-beda untuk isi telur utuh, kuning telur dan putih telur. Sebagai contoh, di bawah ini merupakan metode pasteurisasi yang disyaratkan di Australia (Food Standard Code) : a. Pasteurisasi pada 64°C selama minimal 2,5 menit dan diikuti pendinginan dengan cepat pada suhu < 7°C cukup untuk cairan telur utuh atau campuran kuning dan putih telur tanpa menyebabkan terjadinya penggumpalan protein atau menurunkan kegunaan isi telur tersebut sebagai bahan baku produk pangan (terutama makanan panggang/baked food). Untuk kuning telur, pasteurisasi dilakukan pada suhu 60°C selama 3,5 menit kemudian diikuti pendinginan dengan cepat pada suhu < 7°C. b. Untuk cairan putih telur, pasteurisasi dilakukan pada suhu 55°C selama 9,5 menit dan kemudian diikuti dengan pendinginan pada suhu < 7°C. c. Pasteurisasi tidak diperlukan jika telur yang di pecahkan langsung digunakan dalam pembuatan suatu produk pangan. d. Semua isi telur harus dipasteurisasi lebih dulu sebelum dibekukan atau dikeringkan. 24

2. Telur Beku Telur yang akan digunakan untuk pembuatan produk pangan diawetkan dengan cara dibekukan. Persiapan yang dilakukan sebelum telur dalam hal ini isi telur dibekukan sama dengan yang dilakukan sebelum pengeringan telur. Seperti halnya tepung telur, cairan telur dapat dibekukan sebagai telur utuh, dipisahkan antara kuning dan putih telurnya, atau campuran putih dan kuning telur dalam perbandingan tertentu. Sebelum dipecahkan, telur dicuci dan dikeringkanditiriskan lebih dulu. Pemecahan telur dapat dilakukan secara manual atau otomatik menggunakan mesin pemecah telur. Tujuan utama pembekuan telur adalah untuk mengawet telur dan mempertahankan sifat fisikokimianya, misalnya daya busa. Juga untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu telur, misalnya dalam pembuatan es krim, kuning telur beku yang digunakan sebagai zat penstabil stabilizer dapat memberikan konsistensi yang lebih baik dibandingkan menggunakan telur segar. Tahap-tahap yang dilakukan selama persiapan telur untuk dibekukan dalam sebagai berikut : a. Pemilihan telur yang baik dengan metode candling. Telur yang terpilih kemudian didinginkan sampai 15°C. b. Pencucian telur sampai bersih, sebaiknya menggunakan air yang telah diberi klorin. c. Pemecahan dan pemisahan putih dan kuning telur. Putih dan kuning telur dapat dibekukan secara terpisah atau bersama-sama dengan proporsi seperti telur utuh. d. Penyaringan untuk memisahkan pecahan kulit telur, membran, kalaza dan benda-benda asing lainnya. e. Pasteurisasi cairan telur pada suhu 57,2°C selama 15 menit.Pasteurisasi dapat juga dilakukan pada suhu 63°C selama 1 menit untuk mengurangi jumlah mikroba. 25

Pembekuan telur dilakukan dalam wadah khusus untuk pembekuan pada suhu -18 sampai -21°C selama 72 jam. Dapat juga dilakukan menggunakan metode pembekuan cepat blast freezer pada suhu -23,3 sampai -28,9°C atau -40 sampai -45,6°C dalam wadah kaleng kemasan 12,5 kg dan berlangsung selama sekitar 15 jam. Masalah utama dalam pembekuan telur adalah terbentuknya struktur seperti gel pada saat kuning telur beku dicairkan di thawing. Hal ini akan mengganggu penggunaan kuning telur tersebut dalam pengolahan produk pangan, karena membutuhkan pengadukan yang kuat. Telur utuh beku juga mempunyai masalah yang sama, tetapi tidak separah kuning telur beku. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pemberian enzim proteolitik misalnya papain dan fosfolipase A sebelum kuning telur dibekukan. Cara lain adalah dengan menambahkan 2-10 garam atau 5-10 glukosa ke dalam kuning telur sebelum dibekukan. Disamping gula, dapat juga ditambahkan gliserol. Kuning telur yang mengandung gula ini banyak digunakan untuk produk-produk bakeri atau konfektionery. Sedangkan kuning telur beku yang ditambah garam digunakan untuk pembuatan bumbu-bumbu cair, misalnya mayonnaise. Telur beku yang telah dicairkan (thawing) harus segera digunakan dan tidak boleh dibekukan kembali. Hal ini karena meskipun pembekuan dan pasteurisasi telah dapat mengurangi jumlah mikroba, tetapi produk telur beku bukan produk yang steril. Bakteri yang merusak telur pada suhu rendah adalah Pseudomonas sp. dan juga mikroba-mikroba dari golongan Alcaligenes, Proteus, Flavobacterium, Salmonella dan Koliform. 26

PENGOLAHAN TELUR ASIN Penambahan garam dalam jumlah tertentu pada suatu bahan pangan dapat mengawetkan bahan pangan tersebut. Hal ini disebabkan adanya kenaikan tekanan osmotik yang menyebabkan plasmolisis sel mikroba (sel mengalami dehidrasi atau keluarnya cairan dari sel) dan sel menjadi peka terhadap CO2. Penambahan garam juga akan mengurangi oksigen terlarut, menghambat kerja enzim, danmenurunkan aktivitas air (aw atau kandungan air bebas dalam bahan pangan). Pengasinan merupakan proses penetrasi garam ke dalam bahan yang diasin dengan cara difusi setelah garam mengion menjadi Na+ dan Cl-. Laju difusi tergantung perbedaan tekanan osmosis antara isi telur dan kandungan garam dalam adonan. Makin besar perbedaannya, makin cepat laju difusi yang terjadi. Laju difusi mendapat hambatan dari lapisan kapur pada kulit dan lemak pada kuning telur. Pengasinan yang biasa dilakukan secara tradisional menghasilkan telur yang bercita rasa khas dan disukai. Meskipun demikian terjadi kehilangan berat telur yang relatif besar. Hal ini disebabkan adanya difusi air serta penguapan uap air dan gas-gas keluar dari dalam telur. Telur yang telah diasin mengalami penurunan berat sekitar 2-8,4%. 27

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat telur asin, yaitu telur bebek 30 butir; abu gosok atau bubuk bata merah; garam dapur 1/2 kg; larutan teh 50 gram teh dalam 3 liter air; dan air bersih. Dan alat yang dibutuhkan, yaitu ember plastik; panci; kopor; alat pengaduk; stoples atau alat penyimpan telur. Cara pembuatan: 1. Pilih telur yang bermutu baik (tidak retak atau busuk); 2.Bersihkan telur dengan jalan mencuci atau dilap dengan air hangat, kemudian keringkan; 3. Amplas seluruh permukaan telur agar pori-porinya terbuka; 4. Buat adonan pengasin yang terdiri dari campuran abu gosok dan garam, dengan perbandingan sama (1:1). Dapat pula digunakan adonan yang terdiri dari campuran bubuk bata merah dengan garam; 5.Tambahkan sedikit air ke dalam adonan kemudian aduk sampai adonan berbentuk pasta; 6.Bungkus telur dengan adonan satu persatu secara merata sekeliling permukaan telur, kirakira setebal 1 – 2 mm; 7. Simpan telur dalam kuali tanah dan ember plastik selama 15–20 hari. Usahakan agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan terbuka; 8.Setelah selesai bresihkan telur dari adonan, kemudian rendam dalam larutan teh selama 8 hari (bila perlu). Catatan : 1. Asin tidaknya telur asin dan keawetannya, sangat tergantung pada kadar garam yang diberikan. Semakin tinggi kadar garam, akan semakin awet telur yang diasinkan, tetapi rasanya akan semakin asin. 2.Telur asin matang tahan selama 2–3 minggu, sedangkan pembubuhan larutan the dalam adonan pengasin dapat meningkatkan telur asin sampai 6 minggu. 28

RANGKUMAN Telur merupakan bahan pangan hasil ternak unggas yang kaya sumber protein hewani, memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Telur yang diperdagangkan dan dikonsumsi oleh manusia, yaitu telur ayam negeri (ras), telur ayam kampung, telur bebek/itik, dan telur burung puyuh. Struktur telur yaitu kulit telur, putih, telur, dan kuning telur. Telur mengandung hampir semua zat makanan yang diperlukan manusia seperti lemak, protein, vitamin, dan mineral. Sifat-sifat telur, yaitu kulitnya mudah pecah, telur tidak mepunyai ukuran yang sama besar, udara kelembapan relatif dan suhu dapat mempengaruhi mutunya. Kualitas telur dapat ditentukan berdasarkan kaulitas internal dan eksternal telur. Penentuan mutu telur dapat dilakukan berdasarkan kebersihan dan ketebalan kerabang, berdasarkan ukuran telur, dan berdasarkan isi telur. Pengawetan telur utuh bertujuan untuk mempertahankan mutu telur segar. Proses pengeringan telur akan menghasilkan produk berupa tepung telur. Cairan telur diperoleh dengan memecah telur. Telur asin diolah dengan cara pengasinan yang biasa dilakukan secara tradisional. 29

Latihan Soal 1. Berat rata-rata telur ayam kampung adalah... a. 45-50 gram c. 65-70 gram b. 50-65 gram d. 70-85 gram 2. Zat yang terkandung dalam telur adalah... a. Lemak c. Karbohidrat b. Protein d. Vitamin 3. Bagian putih telur yang terletak dekat kuning telur lebih kental dan membentuk lapisan disebut... a. Yolk c. Cangkang b. Albumin d. Kalaza 4. Putih telur mengandung lapisan putih telur encer sebanyak... dan sisanya... lapisan putih kental. a. 30% dan 10% c. 40% dan 60% b. 10% dan 30% d. 60% dan 40% 5. Metode pengawetan telur yang bertujuan mencegah penguapan adalah... a. Perendaman dalam cairan c. Pengemasan kering b. Penyimpanan dingin d. Perlakuan awal 30

Kunci Jawaban 1. A 2. B 3. D 4. C 5. A 31

Glosarium Embrio: Sebuah eukariota diploid multi sel dalam tahap paling awal dari perkembangan. Membran vitellin: Bagian telur yang membungkus kuning telur sehingga membuat kuning telur telah tercampur dengan putih telur. Ovomusin: Protein putih telur yang berbentuk selaput (film) yang tidak larut dalam air dan berfungsi menstabilkan buih. Toksikologi: Bidang ilmu yang mempelajari efek berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh bahan kimia atau zat pada manusia, hewan, dan lingkungan. Mikroorganisme: Organisme hidup yang berukuran sangat kecil dan hanya bisa diamati dengan bantuan mikroskop. Minyak parafin: Berbagai campuran ringan tak berwarna dan tak berbau dari alkana tinggi yang berasal dari sumber mineral, terutama distilat minyak bumi. Bahan penyamak nabati: Senyawa organik hasil ekstrak bahan nabati dari kulit, akar, batang, daun, dan buah. Pasteurisasi: Proses yang dilakukan untuk membunuh sebagian mikroba, dengan meminimalisasi kerusakan protein akibat suhu yang terlalu tinggi. Kalaza: Tali kuning telur berguna untuk menahan kuning telur pada tempatnya, agar tetap pada tempatnya dan menjaga sebuah embrio tetap berada di atas kuning telur. 32

Daftar Pustaka Azizah, D. N. (2021). Telur. Diakses pada 25 Maret 2022. Dari 198001022015042002_TELUR 2021.pdf. Evanuarini, H., Thohari, I., & Safitri, A. R. (2021). Industri Pengolahan Telur. Malang: UB Press. Koswara, S. (2009). Teknologi Pengolahan Telur (Teori dan Praktek). eBookpangan.com. Thohari, I. (2018). Teknologi Pengolahan & Pengawetan Telur. Malang: UB Press. 33




Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook