Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Buletin Geotangkas Edisi 4 Januari 2018

Buletin Geotangkas Edisi 4 Januari 2018

Published by BIG, 2018-02-28 03:34:31

Description: Buletin Geotangkas Edisi 4 Januari 2018

Search

Read the Text Version

Artikel Penyediaan Tenaga Penyediaan Lahan KEK Kerja Terampil yang Clean and ClearPromosi Lokasi KEK Pembentukan Kelengkapan Pengembangan Kelembagaan Kawasan Ekonomi Khusus KEK Pembangunan PengembanganInfrastruktur Dasar Infrastruktur dasar Luar Kawasan dalam Kawasan Pembangunan Konektivitas/ AksesibilitasGambar 2. Konsep Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (Bappenas, 2017) Keterpaduan seluruh kegiatan yang KEK Tanjung Lesung merupakan satu darisaling memperkuat dan selaras dalam mencapai sepuluh Kawasan Strategis Pariwisata Nasionalsasaran prioritas nasional yang direncanakan (KSPN). Menurut amanat PP Nomor 58 Tahunberdasarkan data dan informasi yang baik 2017, KEK ini merupakan salah satu proyekserta lokasi yang jelas sehingga memudahkan strategis nasional yang diharapkan mampuproses integrasi dan pemantauan. Peran memberikan kontribusi dalam pengembanganInformasi Geospasial (IG) dalam perencanaan wilayah dan mengurangi kesenjangan antarpembangunan telah merubah paradigma wilayah di Banten dan sekitarnya (Dwihatmojo,pendekatan sektoral menjadi pendekatan yang 2017). KEK Tanjung Lesung terletak di Kecamatanlebih THIS dalam proses perencanaan dan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, dikelolapengambilan keputusan. Pendekatan tersebut oleh PT. Banten West Java Corporation dengansejalan dengan tugas pokok Badan Informasi status HGB seluas 1.500 Ha. (Administrator KEK,Geospasial dalam penyediaan IG. 2017).Gambar 3. Masterplan & Project Investment KEK Tanjung Lesung (Administrator KEK Tanjung Lesung, 2017) GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 4499

Artikel Gambar 4. Pantai Tanjunglesung Sumber : PPTRA, 2017 Proses pembangunan beberapa sektor di 2015). Perubahan penutup lahan menggambarkandalam kawasan tersebut sedikit terhambat karena perubahan dari aspek pemanfaatannya yanginvestor masih menunggu adanya kemudahan akses dipengaruhi oleh kondisi alam, pertumbuhanmenuju kawasan tersebut, misalnya jalan bebas penduduk, dan perilaku manusia dalam mengelolahambatan Serang-Panimbang. Kondisi infrastruktur lahan. Peningkatan kuantitas penduduk tentunyayang memadai diharapkan mampu membawa akan berdampak pada kebutuhan ruang, baik itudampak positif terhadap proses pembangunan. untuk permukiman maupun fasilitas sarana danNamun kondisi infrastruktur belum maksimal dan prasarana pendukung lainnya.belum berjalan secara signifikan sehingga dapatmenghambat daya saing dan daya tarik investasi. Perubahan penutup lahan juga mengacu pada sistem lingkungan dan sistem pembangunan. Salah satu peran IG dalam mendukung Sistem lingkungan adalah faktor-faktor internalKEK Tanjung Lesung adalah melalui pemetaan yang menyangkut kemampuan lahan untuksumberdayanya. Pemetaan dinamika sumberdaya dimanfaatkan menjadi penutup lahan tertentu.memiliki nilai strategis bagi pengembangan dan Sistem pembangunan merupakan kebijakan dariperencanaan ruang wilayah. Dinamika sumberdaya pemerintah dalam pembangunan pada arahmemetakan alih fungsi lahan (landuse change), laju pembangunan atau perencanaan wilayah yang telahkonversi dan arah perubahan, sebagai dampak dari disepakati (Yusrani, 2006).pelaksanaan suatu kebijakan di kawasan tersebut.Neraca Sumberdaya Lahan Neraca sumberdaya lahan merupakan informasi tentang perubahan (imbangan) potensi sumber daya lahan pada periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam aktiva dan pasiva (BSN,5050 GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187

Artikel Tabel 1. Neraca Penutup Lahan Kabupaten Pandeglang Tahun 2010-2015No Penutup Lahan Aktiva Tahun 2010 Pasiva Tahun 2015 Perubahan Aktiva Tahun 2010 Pasiva Tahun 2015 Perubahan (Ha) (Ha) Luas (Ha) (%) Luas (Ha) (%) No Penutup Lahan Luas (Ha) (%) Luas (Ha) (%) 0,00 0,001 Perairan laut dangkal 36,43 0,01 36,43 0,01 -0,55 28 Terminal bus 1,38 0,00 1,38 0,00 0,82 1,26 3.476,60 1,262 Perkebunan tanaman 3.477,16 0,00 29 Stadion dan sarana 9,73 0,00 10,55 0,00 semusim lain -414,28 olah raga 56,103 Hutan rakyat 1.953,36 0,71 1.953,36 0,71 30 Bangunan non 339,47 0,12 403,02 0,15 63,55 37.446,11 13,56 37.031,83 13,41 0,00 permukiman lain4 Kebun campuran 135,16 0,05 191,26 0,07 -89,87 31 Hutan lahan tinggi 10.641,70 3,85 10.641,70 3,85 0,005 Ladang/tegalan primer kerapatan dengan palawija 0,00 sedang6 Ladang/tegalan 7,03 0,00 7,03 0,00 0,00 32 Rawa pesisir 15,6 0,01 15,6 0,01 0,00 holtikultura 0,00 bervegetasi 8.429,24 3,05 8.423,24 3,05 -6,007 Sawah dengan padi 58.719,49 21,26 58.629,62 21,23 0,00 33 Hutan lahan tinggi terus menerus sekunder kerapatan 0,07 0,00 tinggi8 Sawah dengan padi 204,77 204,77 0,07 2.273,91 0,82 2.272,32 0,82 -1,59 diselingi tanaman 0,02 147,73 34 Hutan lahan tinggi lain/bera 0,00 0,00 sekunder kerapatan 0,00 sedang9 Padang golf 56,93 0,06 56,93 0,02 0,00 44.672,01 16,17 44.672,01 16,17 0,00 5,77 0,00 30,49 35 Hutan lahan rendah10 Hutan kota, jalur hijau 5,77 0,00 0,00 primer kerapatan dan taman kota 166,46 0,06 1,19 tinggi 0,46 0,0011 Hamparan pasir pantai 166,46 0,02 12,6 0,00 0,00 36 Hutan lahan rendah 45,54 0,02 45,54 0,02 0,00 non-volkanik 0,02 0,00 sekunder kerapatan 0,00 1.418,48 0,51 32,70 tinggi12 Rataan lumpur (tidak 12,6 0,14 44,23 0,02 dirinci) 0,00 45,32 0,02 0,00 37 Hutan lahan rendah 0,00 1,12 0 sekunder kerapatan 8.128,13 2,94 8.117,99 2,94 -10,13 0,00 423,57 0,15 17,28 sedang13 Lahan terbuka lain 1.270,75 0,01 0,2 0,00 0,00 13,19 0,00 605,38 38 Hutan lahan rendah14 Waduk irigasi 44,23 0,02 4,08 0,00 sekunder kerapatan 13.840,54 5,01 13.803,13 5 -37,41 35,82 0,01 149,12 rendah15 Waduk multiguna 45,32 0,39 6,79 0,00 74,72 0,03 39 Sungai (tidak dirinci)16 Danau buatan lainnya 1,12 0,22 1.217,21 0,44 1.217,21 0,44 0,00 40 Hutan mangrove 8,34 0,00 8,34 0,00 0,0017 Tambak ikan/udang 393,09 4,02 sekunder kerapatan sedang18 Kolam ikan air tawar 0,20 0,21 41 Semak belukar19 Embung 12,00 56.359,69 20,4 55.766,81 20,19 -592,88 42 Padang rumput 80,1720 Kolam air tawar lain 4,08 10,46 0,03 78,91 0,03 -1,26 43 Tubuh air lain (tidak21 Saluran air 35,82 dirinci) 0,00 10,46 0,00 0,0022 Tampungan air lain 6,79 44 Hutan jati23 Penggalian pasir, tanah 42,03 45 Perkebunan kelapa 170,33 0,06 170,33 0,06 0,00 dan batu (sirtu) 386,48 46 Perkebunan kelapa 12.134,40 0,14 378,76 0,14 -7,72 sawit24 Jaringan jalan aspal/ 1.072,48 1.072,48 0,39 4,39 12.191,75 4,41 57,35 beton/tanah Total25 Bangunan permukiman 617,53 634,81 0,23 Luas Lahan Berubah 276.223,69 100 276.223,69 100 0,00 kota 1.333,70 Luas Lahan Tidak26 Bangunan permukiman 11.101,31 11.706,69 4,24 Berubah 274.889,99 desa Total Luas Daerah27 Bangunan industri, 591,35 740,47 0,27 perdagangan dan perkantoran 276.223,69Sumber : Analisis, 2017 Perubahan penutup lahan pada tahun 2010 belukar seluas 592,88 Ha dan kebun campurandan 2015 sebesar 1.333,7 Ha atau 0,48% dari luas seluas 414,28 Ha. Terjadi konversi lahan pertanianKabupaten Pandeglang. Perubahan penutup lahan berupa sawah dengan padi terus menerus menjadipaling besar terjadi pada bangunan permukiman area penggunaan lain, penurunan luas lahan sawahdesa seluas 605,38 Ha, bangunan industri, mencapai 89,87 Ha.perdagangan dan perkantoran seluas 149,12 Ha,dan lahan terbuka lain seluas 147,73 Ha. Sedangkanpenutup lahan yang berkurang adalah semak GGEEOOtatnagnkgaksasVoVlo.l3. 4- 2- 0210718 5511

Artikel Gambar 5. Gambaran Neraca Sumberdaya Lahan Kabupaten Pandeglang Analisis perubahan penutup lahan sebagai tahun aktual. Model prediksi penutup lahanmendeteksi perkembangan yang ada di Kabupaten dilakukan dengan menggunakan metode CellularPandeglang. Analisis ini dapat digunakan untuk Automata (CA). Metode CA adalah model sederhanakesesuaian tata ruang. Evaluasi penutup lahan dari proses terdistribusi spasial dalam GIS. Dalamini meliputi kesesuaian lahan dengan arahan aplikasi SIG, CA diadaptasi menjadi sebuah modelpenutup lahan kawasan lindung dan arahan dinamis serta digunakan untuk simulasi spasialpenutup lahan kawasan budidaya. Hasil evaluasi (Wijaya dan Umam, 2015).ini juga akan digunakan sebagai acuan dalampenentuan rekomendasi arahan pembangunan dan Skenario Pemodelan Spasialpengembangan selanjutnya. Pemodelan penutup lahan bertujuan memprediksiPemodelan Penutup Lahan penutup lahan hingga tahun 2030. Pemodelan penutup lahan dalam pembahasan ini menggunakan Analisis perubahan penutup lahan dapat 3 skenario pemodelan yakni skenario dasardilakukan dengan menggunakan suatu model. yang tidak menggunakan infrastruktur dariModel merupakan salah satu pendekatan untuk proyek strategis nasional (PSN), skenario keduamempelajari sesuatu yang terjadi di alam. Pemodelan menggunakan rencana infrastruktur dari PSNyang bersifat dinamis dapat memprediksi keadaan seperti rencana gerbang tol, pelabuhan, stasiunyang akan datang. Model dinamis mengkalkulasi KA dan Bandara Panimbang dan skenario ketigakondisi menggunakan beberapa waktu antara. menggunakan rencana pembangunan infrastrukturPenggunaan Sistem Informasi Geografi (SIG) dalam (kecuali Bandara). Pemodelan prediksi penutuppemodelan penutup lahan sangat dibutuhkan. lahan yang digunakan menggunakan dasar dari lajuSIG cukup andal karena memiliki beberapa fungsi perubahan lahan dari tahun 2010 hingga 2015. Lajuyaitu pemodelan, pemetaan, pemantauan dan perubahan lahan merupakan perbandingan tingkatpengukuran (Aronoff, 1989). Dalam hal ini, prediksi perubahan luas penutup lahan tertentu terhadapperubahan lahan lewat SIG dilakukan dengan penutup lahan sebelumnya. Besarnya nilai lajumembandingkan penutup lahan pada tahun 2010 perubahan lahan dilihat dari persentase nilai yangsebagai tahun lampau, sedangkan tahun 2015 diperoleh.5252 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. l4. 3- 2-0210817

Artikel Final landscape Single-step map transition Matrix Final landscape Save Table map “Single.csv”“LU_2015.img Transition RatesFinal landscape Multi-step map transition Matrix Final landscape Save Table map “multi.csv”“LU_2015.img Gambar 6. Model Perhitungan Laju Perubahan Penutup LahanProyeksi Penutup Lahan Model proyeksi penutup lahan bertujuan untuk mengalokasikan perubahanpada sel-sel (grid atau picture element) yang memiliki nilai kemungkinan transisiterbesar. Proyeksi penutup lahan menggunakan matriks transisi perubahan lahantahun 2010-2015, koefisien bobot bukti, variabel statis dan peta penutup lahantahun 2015 sebagai dasar proyeksi. Gambar 7. Model Alokasi Perubahan LahanValidasi Analisis nilai Kappa dapat digunakan untuk mengukur kebenaran antara modeldengan kenyataan atau menghitung jumlah nilai yang ada dalam perhitungan matrikskesalahan. Indeks Kappa adalah hasil statistik dari metode cell by cell merupakan salahsatu metode yang ada pada comparison kit dalam membandingkan data penutup lahan diKabupaten Pandeglang pada kondisi waktu/temporal yang berbeda. GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.34--22001178 5533

Artikel Gambar 8. Hasil Perhitungan KappaNilai statistik Kappa menunjukkan kesamaan lahan yang mengalami perubahan signifikankuantitas dan kesamaan lokasi. Kesamaan kuantitas ataupun tidak dipengaruhi faktor-faktor tertentu.mengacu pada total jumlah sel yang diambil oleh Variabel statis dan variabel dinamis pentingmasing-masing kategori (jenis penutup lahan) yang dimasukan pada skenario pemodelan spasialsudah berupa daa raster, kemudian kesamaan penutup lahan. Analisis hasil pemodelan jugalokasi mengacu pada distribusi spasial dari berbagai dipengaruhi oleh tingkat jumlah penduduk perkategori yang ada di peta. Pada dasarnya, proses wilayah. Hasil kajian akan difokuskan pada sekitarvalidasi data merupakan kegiatan mencocokkan KEK Tanjung Lesung.hasil proyeksi data yang berupa peta yaitu petapenutup lahan tahun 2015 dan membandingkannya Skenario 1dengan peta penutup lahan eksisting atau aktual. Skenario 1 melihat perkembangan penutup Hasil Pemodelan lahan tanpa adanya pembangunan infastruktur sehingga luasan proyeksi penutup lahan tidak Hasil pemodelan berdasarkan skenario berbasis berubah secara signifikan. Hasil dari skenario spasial temporal ini bertujuan untuk melihat 1 menunjukan persebaran yang tidak terpusat proyeksi penutup lahan mengikuti perkembangan pada satu titik, melainkan menyebar secara acak permukiman pada 5 tahun ke depan. Penutup khususnya untuk permukiman. Gambar 9. Panorama Tanjunglesung Sumber : PPTRA, 20175454 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Artikel Tabel 2. Simulasi Skenario 1 Eksisting Pemodelan Skenario 1No Klasifikasi 2010 2015 2020 2025 Penutup Lahan Ha % Ha % Ha (%) Ha (%) 1 Bangunan lain 404,58 0,15 468,94 0,17 468,94 0,17 468,94 0,17 2 Permukiman 11.698,97 4,24 12.317,00 4,46 13.538,56 4,90 14.142,92 5,12 3 Tubuh Air 4 Hutan 186,64 0,07 187,84 0,07 187,84 0,07 187,84 0,07 5 Sungai 88.031,88 31,9 87.976,83 31,9 87.867,34 31,81 87.816,38 31,79 6 Rawa 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 7 Semak belukar 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,01 8 Pertanian lahan kering 56.663,70 20,5 56.228,13 20,4 55.495,22 20,09 55.132,63 19,96 9 Pertanian lahan basah 37.571,28 13,6 37.208,13 13,5 36.538,64 13,23 36.208,69 13,11 10 Perkebunan 58.990,64 21,4 58.931,42 21,3 58.828,63 21,30 58.773,05 21,28 11 Hutan produksi 15.968,97 5,78 16.021,25 5,8 16.128,02 5,84 16.180,67 5,86 12 Pasir pantai 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 13 RTH 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 14 Pertambangan 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 15 Jalan 42,09 0,02 74,69 0,03 74,69 0,03 74,69 0,03 16 Industri, perdagangan 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 568,78 0,21 713,31 0,26 999,66 0,36 1.141,73 0,41 dan jasa 17 KEK 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55Sumber : Analisis, 2017 Gambar 10. Simulasi Skenario 1 Sekitar KEK Tanjung LesungPerkembangan penutup lahan sekitar KEK Tanjung masuk PSN namun masuk RTRW KabupatenLesung tidak banyak mengalami perubahan. Pola Pandeglang. Hasil dari skenario 2 menunjukanpersebaran yang terjadi tidak terpusat namun linier persebaran menyebar secara acak khususnya untukmengikuti jalan. Perluasan penambahan kawasan permukiman. Hasil pemodelan skenario kedua inipermukiman terjadi di utara Kecamatan Panimbang tidak berbeda jauh dengan skenario 1, keduanyayang berada sekitar pesisir pantai. Penambahan menyebar namun skenario 2 pola penambahan luastersebut terjadi setiap tahunnya secara terus permukiman membentuk luasan yang lebih besar.menerus. Pada pusat kota, terdapat permukiman baru tiap tahun pada radius 2 km dari pusat kota. PermukimanSkenario 2 di sekitar KEK Tanjung Lesung meningkat dibanding skenario 1. Perluasan permukiman terjadi di bagianSkenario 2 melihat perubahan lahan dengan utara Kecamatan Panimbang dan bagian selatanadanya pembangunan infrastruktur. Skenario 2 KEK berjarak sekitar 2,5 km, di Kecamatan Cigeulismempertimbangkan bandara yang sudah tidak dan Sobang. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 5555

Artikel Tabel 3. Simulasi Skenario 2 Eksisting Pemodelan Skenario 2No Penutup Lahan 2010 2015 2020 20251 Bangunan lain Ha % Ha % Ha (%) Ha (%)2 Permukiman3 Tubuh Air 404,58 0,15 468,94 0,17 468,94 0,17 468,94 0,174 Hutan5 Sungai 11.698,97 4,24 12.317,00 4,46 13.538,56 4,9 14.142,92 5,126 Rawa7 Semak belukar 186,64 0,07 187,84 0,07 187,84 0,07 187,84 0,078 Pertanian lahan kering9 Pertanian lahan basah 88.031,88 31,87 87.976,83 31,85 87.867,34 31,81 87.812,66 31,7910 Perkebunan11 Hutan produksi 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 1216,64 0,44 1.216,64 0,4412 Pasir pantai13 RTH 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,0114 Pertambangan15 Jalan 56.663,70 20,51 56.228,13 20,36 55.495,22 20,09 55.132,63 19,9616 Industri, perdagangan 37.571,28 13,6 37.208,13 13,47 36.538,64 13,23 36.208,69 13,11 dan jasa17 KEK 58.990,64 21,36 58.931,42 21,33 58.828,63 21,3 58.776,77 21,28 15.968,97 5,78 16.021,25 5,8 16.128,02 5,84 16.180,67 5,86 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 42,09 0,02 74,69 0,03 74,69 0,03 74,69 0,03 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 568,78 0,21 713,31 0,26 999,66 0,36 1.141,73 0,41 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55Sumber : Analisis, 2017 Gambar 11. Simulasi Skenario 2 Sekitar KEK Tanjung LesungPerubahan permukiman memang tidak terlalu Skenario 3signifikan tiap tahunnya. Gambar 8 menunjukkanperluasan permukiman mengikuti permukiman Skenario 3 menggunakan rencana pembangunaneksisting yang terjadi pada tahun 2016, 2019, exit toll, rencana stasiun kereta api, dan rencanadan 2030. Penambahan permukiman tersebut pelabuhan tanpa mempertimbangkan rencanabersifat linier karena selain mengikuti penutup pembangunan bandara sebagai driving factor.lahan eksisting, perluasan juga mengikuti jalan Pada skenario ketiga ini ingin melihat perbedaanlokal yang ada di sekitarnya. Tidak banyak terjadi perubahan penutup lahan khususnya untukperkembangan permukiman di sekitar KEK Tanjung permukiman. Hasil dari skenario ini menunjukkanLesung. persebaran pola perkembangan permukiman hampir sama seperti pada skenario 2 yakni menyebar tidak terpusat pada satu titik.5656 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Artikel Tabel 4. Simulasi Skenario 3 Eksisting Pemodelan Skenario 2No Penutup Lahan 2010 2015 2020 20251 Bangunan lain Ha % Ha % Ha (%) Ha (%)2 Permukiman3 Tubuh Air 404,58 0,15 468,94 0,17 468,94 0,17 468,94 0,174 Hutan5 Sungai 11.698,97 4,24 12.317,00 4,46 13.538,56 4,9 13.538,56 4,96 Rawa7 Semak belukar 186,64 0,07 187,84 0,07 187,84 0,07 187,84 0,078 Pertanian lahan kering9 Pertanian lahan basah 88.031,88 31,87 87.976,83 31,85 87.867,34 31,81 87.867,34 31,8110 Perkebunan 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 1.216,64 0,44 1.216,64 0,4411 Hutan produksi12 Pasir pantai 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,01 36,36 0,0113 RTH14 Pertambangan 56.663,70 20,51 56.228,13 20,36 55.495,22 20,09 55.495,22 20,0915 Jalan 37.571,28 13,6 37.208,13 13,47 36.538,64 13,23 36.538,64 13,2316 Industri, perdagangan 58.990,64 21,36 58.931,42 21,33 58.828,63 21,3 58.828,63 21,3 dan jasa17 KEK 15.968,97 5,78 16.021,25 5,8 16.128,02 5,84 16.128,02 5,84 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 2.123,41 0,77 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 147,59 0,05 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 2,31 0,00 42,09 0,02 74,69 0,03 74,69 0,03 74,69 0,03 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 1.061,20 0,38 568,78 0,21 713,31 0,26 999,66 0,36 999,66 0,36 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.508,98 0,55 1.509,15 0,55 Sumber : Analisis, 2017Perkembangan kawasan permukiman sekitar KEK Tanjung Lesung antara ketiga skenariomenunjukkan adanya kesamaan, yakni berkembang di sekitar pesisir utara KecamatanPanimbang. Namun, yang membedakan di antara ketiga skenario tersebut adalah padatahun perkembangannya. Pada skenario ketiga ini, perkembangan permukiman dominanterjadi pada tahun 2016-2019. Gambar 12. Simulasi Skenario 3 Sekitar KEK Tanjung Lesung GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 5577

ArtikelHasil pemodelan menunjukan adanya • Berdasarkan hasil skenario pemodelanperkembangan kawasan permukiman di spasial, penutup lahan yang bertambahsekitar exit toll yang hanya berjarak 500 meter. luas adalah permukiman, perkebunan, danPerkembangan yang terjadi secara linier industri perdagangan serta jasa.mengikuti jalan arteri. Perkembangan tersebut • Hasil model menunjukkan penambahanterjadi pada tahun 2019-2020 di wilayah bagian luas permukiman menyebar pada setiaptimur. Selain itu, perkembangan juga terjadi di skenario namun kecenderungan distribusiwilayah bagian barat dengan radius 3,6 km dari spasial maupun temporal berbeda karenatitik exit toll. adanya perbedaan driving factor.Kesimpulan Catatan• Perubahan lahan 2010 sampai 2015 sebesar Hasil kajian yang dilakukan memiliki keterbatasan0,48% dari luas Kabupaten Pandeglang pada model yang digunakan yaitu model linier,sebesar 1.333,7 Ha. pemanfaatan sistem dinamis sebagai salah satu• Perubahan lahan paling besar adalah metode menghitung alokasi kebutuhan lahanbangunan permukiman desa seluas 605,38 dari pembangunan infrastruktur, pertumbuhanHa. ekonomi dan intervensi kebijakan lainnya. Penulis adalah Surveyor Pemetaan Muda, BIGReferensi:Administrator KEK Tanjung Lesung (2017). Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Pandeglang.Aronoff, S. (1989). Geographic Information Systems: A Management Perspective. WDL Publications. Ottawa.BIG (2017). Pemetaan Dinamika KEK Tanjung Lesung. Bogor.BSN (2014). Standar Nasional Indonesia 7645-1-2014 : Klasifikasi Penutup Lahan. Jakarta.BSN (2017). Standar Nasional Indonesia 6728.3-2015 : Penyusunan Neraca Spasial Sumberdaya Alam Bagian 3 Sumberdaya Lahan. Jakarta.Bappenas. (2017). Perkembangan KEK Tanjung Lesung. Jakarta.Dwihatmojo, R. (2017). Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Buletin Geotangkas Volume 3 Tahun 2017 : 20-25.Wijaya, M.S dan Umam, N. (2015). Pemodelan Spasial Perkembangan Fisik Perkotaan Yogyakarta Menggunakan Model Cellular Automata dan Regresi Logistik Biner. Majalah Ilmiah Globe Vol 17 No.2 Tahun 2015 : 165-172.Yusrani, A. 2006. Kajian Perubahan Tata Guna Lahan pada Pusat Kota Cilegon. Tesis. Program MagisterPerencanaan Wilayah Kota. Universitas Diponegoro. Semarang.58 58 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817

Geo-TeknologiE-ATLAS NASIONAL INDONESIA “Jendela Informasi Geografi Nusantara” Oleh: Satrio Jati Kinantyo Widhi Setiap Warga Negara Indonesia berhak untuk menjadi media diseminasi wawasan kebangsaanberkomunikasi dan memperoleh informasi untuk dan media penyebarluasan data geospasial berbagaimengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, tema kepada institusi pemerintah, swasta, duniaserta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, pendidikan, dan masyarakat. Aplikasi yang mulaimenyimpan, mengolah, dan menyampaikan dibangun sejak tahun 2016 ini, dikembangkaninformasi dengan menggunakan segala jenis dari sisi performa kinerja, tampilan, fitur, fungsisaluran yang tersedia. Sejalan dengan hal tersebut, dan konten. Pengembangan aplikasi bertujuanpemerintah pusat menyusun Undang-undang untuk lebih memudahkan dan menarik minatRI nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan masyarakat dalam mencari informasi geospasialInformasi Publik, untuk menjamin hak Warga tematik dengan tampilan yang lebih interaktif danNegara Indonesia dalam memperoleh informasi dilengkapi multimedia pendukung.publik yang benar dan akurat. Dengan semangatyang sama, Badan Informasi Geospasial (BIG) Arsitektur aplikasi ini menggunakan phpselaku institusi pemerintah yang bertanggungjawab native, javascript untuk tampilan antar muka,atas ketersedian informasi geospasial ingin Arcgis server digunakan untuk server aplikasimenyebarkan informasi geospasial, baik dasar sesuai infrastruktur di BIG, PostgreSQL untukmaupun tematik kepada seluruh Warga Negara basisdata, serta penggunaan web-service padaIndonesia dimanapun berada. front end dan back end sebagai komunikasi dari aplikasi ke database termasuk di dalamnya adalah Berbagai macam informasi tematik mengenai fungsi query. Dengan menggunakan web-service,Indonesia yang tersaji dalam peta dan atlas selama fungsi query menjadi lebih lancar dan powerful.ini sudah cukup banyak diproduksi oleh BIG melalui Faktor-faktor yang diperhatikan dalam prosesKedeputian bidang Informasi Geospasial Tematik, pengembangan sistem aplikasi adalah memenuhinamun masih terbatas pada produk cetak dan kaidah kartografi, bersifat interaktif, hubunganproduk digital yang bersifat luar jaringan (offline) antar jenis data/media, performa tinggi, easysehingga agak sulit untuk disebarluaskan. Padahal to use, user Interface yang menarik, fungsi yangdi sisi lain kebutuhan masyarakat akan informasi handal (reliability), mampu beradaptasi dengangeografi Indonesia semakin tinggi. Kuatnya arus perkembangan teknologi, mampu berinteraksipertukaran informasi di tengah pesatnya kemajuan dengan aplikasi lain (interoperability), dan dapatteknologi membuat masyarakat semakin mudah diakses pada berbagai ukuran layar, sistem operasimemperoleh informasi tentang apapun. Momen pengguna, dan mobile device. Aplikasi e-Atlasini ditangkap BIG untuk menyebarluaskan informasi Nasional memiliki 3 fitur utama, yaitu Atlasgeospasial mengenai kondisi geografis, sosial Multitema, Storymap dan E-book.budaya dan kekayaan sumberdaya Indonesiamelalui aplikasi e-Atlas Nasional. E-atlas Nasional merupakan media digitalonline yang dikembangkan untuk mendukung prosesdiseminasi informasi geospasial, dalam bentuktampilan visual yang menarik dan mudah diakses.Kehadiran atlas elektronik (e-Atlas) diharapkan lebihdari sekedar memberikan informasi, namun juga GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 5599

Geo-Teknologi Gambar 1. Tampilan Halaman Muka (Front-end) E-Atlas Nasional IndonesiaATLAS MULTITEMA ingin mencari unsur geografis berdasarkan table atribut. Penyajian simbologi dibuat menarik danAtlas Multitema merupakan fitur informatif agar dapat digunakan sebaik-baiknyauntuk menyajikan informasi geospasial dalam oleh pengguna aplikasi.format webgis dan dikelompokan menjadi 4 Wilayah NKRI mengilustrasikan gambarankelompok tema, yaitu Wilayah NKRI, Fisik dan spasial Indonesia beserta batas-batasnya.Lingkungan Alam, Potensi dan Sumberdaya, Batas wilayah kekuasaan Republik Indonesia diserta Sejarah dan Penduduk. Fungsi query pada darat dan di laut menurut hukum internasionalfitur ini semakin lancar dan powerful. Dengan tergambar jelas, lengkap dengan keterangannya.memasukkan toponim unsur geografis pada Informasi geografis dasar seperti wilayahkolom pencarian, maka peta akan otomatis administrasi, sebaran sungai, sebaran gunung,zoom-in menuju ke objek yang dimaksud. Fungsi topografi wilayah dan toponimi juga disajikanpencarian lebih lanjut (advance query) juga pada peta digital ini secara dinamis mengikutidisediakan untuk mengakomodir pengguna yang zoom level. Gambar 2. Tampilan Tema Wilayah NKRI pada fitur Atlas Multitema6060 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Geo-Teknologi Tema Fisik dan Lingkungan alam menyajikan pada tahun 2010.peta-peta unsur geografis fisik seperti geologi, Tema sejarah dan penduduk yang menyajikangeomorfologi, gunung api, penutup lahan, rawanbencana, dan kawasan konservasi. Peta-peta peta-peta terkait kejadian-kejadian bersejarah dibersumber dari dari Atlas Nasional Indonesia Indonesia dari zaman prasejarah, masa kerajaanVolume I (ANI I) yang diproduksi oleh BIG pada Hindu-Budha, masa Kerajaan Islam, masatahun 2009 dalam bentuk atlas cetak. Tema potensi penjajahan hingga masa revolusi kemerdekaan.dan sumberdaya berisikan peta-peta terkait Sejarah perkembangan wilayah administrasi negarakeanekaragaman hayati dan kekayaan potensi juga disajikan dalam tema ini sehingga penggunasumberdaya alam yang ada di nusantara, yaitu dapat mengetahui dinamika wilayah administrasisebaran potensi tambang batubara, tambang logam, dari zaman kolonial sampai sekarang menjaditambang non-logam, sumber panas bumi, sebaran 34 provinsi. Pada tema ini juga disajikan petaflora dan fauna, potensi perikanan laut, sumberdaya sebaran transmigrasi dari tahun ke tahun, migrasialam non perikanan, hidrogeologi, wilayah sungai suku bangsa, dan peta persebaran suku bangsadan potensi pariwisata. Tema ini mengacu pada Atlas dari Sabang sampai Merauke. Tema sejarah danNasional Indonesia volume II (ANI II) yang diproduksi penduduk mengacu pada Atlas Nasional Indonesia Volume III (ANI III) yang diproduksi pada tahun 2012.Gambar 3. Tampilan Peta Geomorfologi pada Tema Fisik dan Lingkungan AlamGambar 4. Tampilan Peta Flora dan Fauna pada Tema Potensi dan Sumberdaya 6611 GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178

Geo-Teknologi Gambar 5. Tampilan Peta Transmigrasi pada Tema Sejarah dan PendudukSTORYMAP tertarik untuk menggali informasi dari sebuah peta. Storymap yang digunakan dalam aplikasi iniFitur baru yang ditambahkan pada berbasis pada ESRI dan menggunakan templatetahun 2017 ini adalah fitur Storymap. Storymap yang sudah disediakan oleh ESRI. Sampai saat inimerupakan bentuk penyajian informasi geospasial ada 4 konten storymap yang dapat diakses yaitusecara digital yang dapat disajikan menggunakan Tsunami di Indonesia, Sebaran Batik Indonesia,alur cerita, dan dapat digabungkan dengan Sebaran Suku Bangsa Indonesia, dan Atlas Budayamultimedia pendukung seperti narasi, suara, Edisi Candi Nusantara. Setiap konten disajikanvideo dan tautan ke laman lain. Penyajian dengan lengkap dengan alur yang dinamis, peta digital,menggabungkan berbagai macam multimedia narasi deskriptif, gambar, foto , citra satelit dandan adanya interaksi membuat pengguna lebih video. Gambar 6. Pilihan Tema dalam fitur Storymap6262 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Geo-TeknologiGambar 7. Tampilan Salah Satu Halaman dalam Storymap Atlas Budaya Edisi Candi NusantaraE-BOOK ATLAS Gambar 8. Tampilan Halaman Kumpulan E-book Atlas BIG melalui Pusat Pemetaan Tata Ruang danAtlas sudah banyak menyusun atlas cetak berbagaitema dengan kualitas yang baik. Banyak pihak yangpada dasarnya membutuhkan buku-buku atlastersebut, baik untuk keperluan pendidikan maupunkeperluan informasi umum. Namun, distribusi atlasbelum dapat dilakukan dengan merata. Sebagai media publikasi buku-buku atlastersebut, maka fitur e-book juga disematkan dalamaplikasi e-Atlas Nasional Indonesia. Fitur e-bookdibangun menggunakan engine Uniflip, denganjaminan kemudahan untuk mencari kata atau subjekyang ada di dalam setiap halaman buku digital. Saatdi-klik pada hasil pencarian yang muncul, maka secaraotomatis akan menuju ke halaman yang dimaksud.Selain dapat dibaca secara online, masing-masingbuku atlas digital dapat diunduh dalam format PDFsehingga memungkinkan untuk dibaca secara offline.Saat ini, tersedia 10 buku atlas digital di dalam aplikasiyaitu Atlas Bentanglahan Papua, Atlas BentanglahanSumatera, Atlas Budaya edisi Candi, Atlas BPJS DKIJakarta, Atlas Junior, Atlas Kemaritiman Regional,Atlas Nasional Indonesia Vol.3, Atlas OverviewSumberdaya dan Lingkungan edisi Bali-Nusatenggara,Atlas Overview Sumberdaya dan Lingkungan edisiPapua, serta Atlas SDA Nasional dan PembangunanBerkelanjutan. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 6633

Geo-Teknologi Gambar 9. Tampilan salah satu Buku E-Book dengan fitur Uniflip Tingginya pengetahuan tentang kondisi Kedepannya, aplikasi ini akan terus bertambah dan potensi suatu negara akan menimbulkan kontennya untuk memenuhi kebutuhan rasa mencintai dan rasa memiliki yang besar masyarakat akan informasi yang akurat dan bagi warganya. Seperti tagline yang muncul di dapat meningkatkan rasa cinta kepada Tanah beranda laman e-Atlas Nasional Indonesia ini, Air Indonesia. Aplikasi Atlas Nasional Indonesia “Jendela Informasi Geografi Nusantara”, kami dapat diakses melalui alamat www.atlas.big. mengharapkan aplikasi ini hadir untuk menjadi go.id. media informasi dari ilmu pengetahuan geografis yang lengkap tentang nusantara kepada seluruh Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIG masyarakat Indonesia dimanapun berada.64 64 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817

Geo-TeknologiDukunganLayanan Asistensi dan SupervisiPemetaan Tata RuangOleh: Marhensa Aditya HadiGambar 1. Sistem Monitoring Capaian Asistensi dan Supervisi Peta Rencana Tata RuangRencana tata ruang merupakan suatu satu basis data, dan satu portal.peraturan hukum yang mengatur fungsi Penyusunan Peta Rencana Tata Ruang wajibpemanfaatan ruang sebuah wilayah dalam jangka dikonsultasikan kepada Badan yang menanganiwaktu tertentu. Salah satu lampirannya berupa aspek perpetaan di Indonesia, dalam hal ini adalahpeta rencana pola dan struktur ruang yang menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG). Hal ini tertuangacuan secara spasial mengenai ijin, pengembangan, dalam PP 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Petadan pemanfaatan sebuah ruang. Rencana tata Rencana Tata Ruang. Proses konsultasi ini dilakukanruang (spatial planning) tidak terlepas dari aspek pada tahap pembuatan Peta Rencana yang dispatial (spasial) itu sendiri. Dalam konteks tersebut dalamnya terdapat Peta Struktur Ruang dan Poladata dan informasi geospasial mempunyai peranan Ruang. Mekanisme konsultasi yang dilakukan berupapenting dan cukup erat kaitannya dalam penyusunan asistensi dan supervisi. Secara lebih detail diaturrencana tata ruang. dalam Perka BIG Nomor 6 Tahun 2014 tentangHasil akhir berupa rencana tata ruang Tata Cara Konsultasi Penyusunan Peta Rencana Tataakan menjadi produk hukum yang harus ditaati Ruang.oleh semua pihak yang berada di wilayah Secara umum pelaksanaan konsultasi dimulaitersebut. Kepatuhan terhadap aturan peruntukan dari tahap pemeriksaan sumber data, peta dasar,ruang terutama mengenai perijinan dan arahan dan peta tematik. Pemeriksaan dilakukan secarapemanfaatan ruang. Untuk itu peta tata ruang yang menyeluruh terhadap sumber data, peta dasar,menjadi acuan spasial perlu disusun sebaik mungkin peta tematik, peta rencana, album peta, sampaiagar menjadi produk hukum yang berkualitas dan pemeriksaan mengenai kesesuaian antara petadapat dipertanggungjawabkan. dengan naskah rancangan peraturan perundanganSesuai UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang terkait penataan ruang yang sedang disusun. HalInformasi Geospasial mengamanatkan bahwa ini dilakukan supaya produk rencana tata ruangseluruh peta tematik, termasuk Peta Rencana Tata bersumber pada data yang jelas dan valid, danRuang, harus mengacu pada Informasi Geospasial diolah secara teliti mengikuti spesifikasi teknis danDasar (IGD). Hal ini juga sejalan dengan amanat menaati pedoman aspek perpetaan yang diaturKebijakan Satu Peta (KSP). KSP mengamanatkan dalam peraturan perundangan.supaya semua peta yang berkekuatan hukum diIndonesia ini memiliki satu referensi, satu standar, GGEEOOtangkas Vol. 34- 20178 6655

Geo-TeknologiPelaksanaan proses konsultasi dilakukan RTRW dan penyusunan RDTR sehingga semakinbeberapa kali dan diberikan berita acara pada tiap banyak yang melakukan asistensi ke BIG.pertemuannya sesuai kemajuan capaian masing- Percepatan proses asistensi ini dilakukanmasing pelaksana pembuat peta. Pada tahap melalui dukungan pemeriksaan data peta rencanaakhir konsultasi, di saat semua aspek perpetaan tata ruang oleh suatu tim pendukung supervisitelah terverifikasi dengan baik, akan diterbitkan yang bekerja dalam suatu studio pemeriksaanSurat Rekomendasi dari BIG yang menyatakan peta rencana tata ruang. Tim pendukung asistensibahwa peta tersebut sudah layak menjadi bagian ini akan bekerja dengan tahapan dan proseduryang melekat dengan rancangan peraturan pemeriksaan yang telah ditentukan oleh BIG. Hasilperundangan yang sedang disusun. pemeriksaan tersebut akan diserahkan kepadaSesuai amanat Inpres Nomor 8 Tahun tim asistensi. Dalam hal ini tim asistensi dapat2013, BIG dituntut untuk melakukan percepatan memiliki waktu yang cukup untuk melakukandalam proses asistensi dan supervisi peta rencana asistensi dan supervisi pada daerah yang lain.tata ruang. Artinya BIG perlu melakukan upaya Melalui mekanisme ini diharapkan volume datapercepatan dalam pemeriksaan peta rencana yang diperiksa dapat lebih banyak, semakintata ruang. Terkait hal tersebut, BIG melakukan banyak daerah yang terlayani, dan waktu asistensikegiatan Dukungan Layanan Asistensi dan yang dibutuhkan menjadi lebih cepat.Supervisi Pemetaan Tata Ruang di Tahun 2017 Kegiatan Dukungan Layanan Asistensi dandan akan berlanjut di tahun berikutnya. Kegiatan Supervisi dimulai pada bulan Mei 2017 hinggaini secara garis besar bertujuan untuk membantu Desember 2017. Dalam jangka waktu delapantim asistensi Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas bulan tersebut telah diperiksa sebanyak 1.328(PPTRA) BIG untuk mempercepat proses asistensi dataset yang telah diasistensikan. Berikut inidan supervisi peta rencana tata ruang, terutama adalah capaian dataset kegiatan asistensi dankarena daerah sudah pada tahap melakukan revisi supervisi pada tahun 2017.Tabel 1. Jumlah dukungan pemeriksaan dataset peta rencana tata ruang Tahun 2017Jenis RTR Bulan Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des TotalRTRW ProvinsiRTRW Kab/Kota 6 3 46 4 4 7 1 35RDTR 297KSN 19 24 34 52 36 63 54 15 928KSP 6KSK 80 81 100 123 154 169 188 33 41Khusus 17Total 21 1 2 4 1.328 38 5 56 13 1 2 1 12 8 12 21 1 114 119 146 183 199 250 265 52 Berdasarkan tabel tersebut, bantuan sebanyak 692 dataset, dan pemeriksaan koreksipemeriksaan dataset paling banyak terjadi di geometris sebanyak 194 dataset. Selengkapnyabulan November yaitu sebanyak 265 dataset. mengenai jumlah dan jenis dukunganDilihat dari jenisnya, rencana tata ruang yang pemeriksaan dataset dapat dilihat secara lebihpaling banyak diperiksa adalah RDTR sebanyak jelas pada grafik berikut ini.928 dataset. Dari aspek jenis pemeriksaan, yangterbanyak mengenai penyusunan peta dasar6666 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Geo-Teknologi Gambar 2. Jumlah dan jenis dukungan pemeriksaan dataset peta rencana tata ruang Berkat dukungan pemeriksaan dataset dalam layanan asistensi dan supervisi tahun2017, menunjukkan penambahan jumlah layanan yang cukup signifikan dibandingkan tahunsebelumnya. Pada tahun 2017 terdapat 2.018 layanan asistensi, terjadi peningkatan sejumlah543 layanan dibanding tahun 2016 yang berjumlah 1.475 jumlah layanan asistensi. Tabel 2. Jumlah layanan asistensi dan supervisi dari PPTRA BIG Tahun 2017Jenis RTR Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des TotalKS Nasional 3 221 1 2 11KS Provinsi 26 3 3 8 6 4 3 8 8 12 9 72KS Kab/Kota 13 1 1 3 5 1 2 17RTRW ProvinsiRTRW Kota/Kab 1 1 1 2 6 3 4 8 4 6 6 4 46 8 11 16 22 29 25 39 54 45 77 71 48 445RDTR 54 58 88 72 103 80 114 152 173 204 197 138 1427 108 100 151 117 163 220 230 300 288 197 2018Jumlah 65 79 Berkat dukungan pemeriksaan dataset dalam layanan asistensi dan supervisi tahun2017, menunjukkan penambahan jumlah layanan yang cukup signifikan dibandingkan tahunsebelumnya. Pada tahun 2017 terdapat 2.018 layanan asistensi, terjadi peningkatan sejumlah543 layanan dibanding tahun 2016 yang berjumlah 1.475 jumlah layanan asistensi. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 6677

Geo-Teknologi INTI PEMBAHASAN PERTEMUAN UNTUK ASISTENSI RDTR 128 (246 Kab/Kota, 650 RDTR, 1427 Pertemuan) TAHUN 2017 285 680Sumber data masih belum jelas 114Sumber data sudah benar namun belum terkoreksigeometrisTelah terkoreksi geometris dan sedang menyusunpeta dasarSelesai peta dasar dan menyusun peta tematikSelesai peta tematik dan menyusun peta rencana 87Selesai peta rencana dan ke tahapan selanjutnya 57Selesai album peta 39Penerbitan rekomendasi 37 Jumlah Asistensi 1427Gambar 3. Inti pembahasan pertemuan dalam asistensi dan supervisi peta rencana tata ruangDari keterangan diatas cukup membuktikan untuk tahapan tersebut tentunya relatif kecil.bahwa ketersediaan peta dasar skala besar sebagai Dari hasil layanan asistensi dan supervisidasar penyusunan peta RDTR sangat dibutuhkan oleh 2017, Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas, BIGPemerintah Daerah. Pemerintah Daerah kesulitan memberikan rekomendasi dalam rangka persetujuanuntuk menyusun peta dasar skala besar karena aspek teknis perpetaan sebagai lampiran Peraturanketerbatasan sumber daya yang Pemerintah Daerah Daerah terkait Rencana Tata Ruang sebanyak 61miliki saat ini. Pemahaman mengenai aspek teknis rekomendasi. Secara rinci yaitu untuk RDTR sebanyakperpetaan skala besar juga masih kurang, begitu 37 BWP, RTRW sebanyak 18 Kabupaten / Kota, RTRWpula dengan sumber daya manusia yang memahami Provinsi sebanyak 3 Provinsi, dan 3 Kawasan Strategispengerjaan peta dasar skala besar tersebut juga Provinsi.masih kurang memadai. Jika peta dasar skala besarsudah tersedia maka jumlah frekuensi asistensi Gambar 4. Kegiatan Asistensi dan Supervisi6868 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. -32-0210817

Geo-Teknologi Gambar 5. Rekomendasi peta rencana tata ruang pada Tahun 2017Dari jumlah wilayah/lokasi yang mendapatkan sedang menyusun peta rencana tata ruang.rekomendasi, Provinsi Jawa Timur merupakan Selain itu juga mempercepat layanan asistensiProvinsi yang paling banyak menerima dan supervisi yang sudah ada. Diharapkanrekomendasi peta rencana tata ruang pada dengan semakin banyaknya daerah yangTahun 2017. terlayani dan semakin cepatnya proses asistensiDukungan layanan asistensi dan supervisi dan supervisi akan dapat mempercepat prosesini sangat membantu untuk Pusat Pemetaan penyusunan rencana tata ruang secara nasional,Tata Ruang dan Atlas BIG untuk dapat lebih yang merupakan target percepatan yang sedangbanyak melayani Pemerintah Daerah yang dilakukan oleh BIG. Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIG GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 6699

Bedah WilayahOverview Bentanglahan Kalimantan Oleh: Fakhruddin Mustofa Mengenali bentanglahan Kalimantan atau Borneo dalam konteks internasional, sejatinya tidak dapat dipisahkan antara Borneo yang menjadi bagian Indonesia dan yang menjadi bagian Malaysia dan Brunei Darussalam. Secara fisik, Borneo merupakan satu kesatuan alamiah dengan segala karakteristik fisik yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Hanya karena sejarah kelam kolonial yang memisahkan pulau besar ini menjadi 2 bagian. Bagian selatan masuk wilayah Indonesia, bagian utara yang lebih kecil masuk wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam. Dalam tulisan ini, difokuskan pada wilayah yang menjadi bagian Indonesia yaitu Kalimantan. Sebuah wilayah yang hangat pemberitaannya terkait pemindahan ibukota negara.Bentanglahan (landscape) merupakan Bentanglahan Kalimantan cukup unik danbentangan permukaan bumi dengan seluruh menarik untuk dicermati dari sisi alam danfenomenanya yang mencakup unsur fisik dan unsur budayanya. Keduanya tidak dapat dipisahkan sebabyang dipengaruhi aktivitas manusia. Pengenalan Kalimantan merupakan tempat kehidupan makhlukterhadap bentanglahan sebuah wilayah tidak dapat sejak masa lampau hingga kini. Berbagai ragamdilepaskan dari unsur bentang alam (nature) dan budaya telah lahir dan berkembang yang mengisibentang budaya (culture). Bentang alam mencakup ruang-ruang setiap sudut bentang alam Kalimantan.bagian yang tampak dari lingkungan alamiah, Gambar 1 menunjukkan secara umum kondisi alamsedangkan bentang budaya merupakan kenampakan di Kalimantan. Di berbagai sudut alam Kalimantanhasil adaptasi dan interaksi antara manusia terhadap inilah, kehidupan makhluk berkembang dan budayaalam atau lingkungannya. yang lestari dari dulu hingga kini. Tempat Bentang kehidupan Budaya makhluk hidup Gambar 1. Bentang Alam Kalimantan dan segala fenomenanya7070 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817

Bedah WilayahPembahasan mengenai bentanglahan Kalimantan/Borneo bagian utara (Malaysia) sampaiKalimantan secara umum (overview) dilakukan pesisir bagian selatan di sekitar Pontianak, Sampit,dengan mengenali terlebih dulu pembagian zona Banjarmasin, Samarinda, sampai Tanjungselorbentanglahannya. Bentanglahan Kalimantan dapat dan sekitarnya. Dari peta hanya ditampakkandilihat dari kacamata bentang alam yang tercermin bagian Indonesia saja, namun dari penamaandari kenampakan permukaan bumi/fisiografinya. Van fisiografinya dapat diketahui setidaknya ada dua yangBemmelen membagi fisiografi Kalimantan menjadi menggunakan referensi geografis Malaysia yaitutiga belas zona seperti Gambar 2. Zona Kuching dan Pegunungan Rajang.Dalam analisis zona pembagiannya, Bemmelensecara utuh membagi fisiografi seluruh regionGambar 2. Peta Fisiografi Kalimantan (sumber: Bemmelen) Fisiografi dari Bemmelen menjadi salah satu referensi Kuching. Keenam zona tersebut yaitureferensi dalam pembagian zona bentanglahan Zona Pegunungan Niut dan Cekungan Kapuas, ZonaKalimantan. Referensi lain berasal dari hasil diskusi Pegunungan Tengah, Zona Pegunungan Meratusterfokus dengan narasumber, peta sistem lahan, dan Antiklinorium Samarinda, Zona Perbukitandan sumber interpretasi citra SRTM (Shuttle Mangkalihat, Zona Dataran Kalimantan, dan ZonaRadar Topography Mission). Dari perpaduan Pulau-pulau Kecil. Pembahasan mengenai masing-ketiganya diperoleh enam zona bentanglahan masing zona dilakukan secara analisis deskriptifutama Kalimantan (lihat Gambar 3). Penamaan dengan memadukan antara kondisi fisik dan kondisizona secara umum mengikuti referensi yang ada, umum sosial budayanya.namun disesuaikan juga dengan nama referensigeografis setempat untuk menggantikan nama GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178 7711

Bedah WilayahGambar 3. Pembagian Zona Bentanglahan Kalimantan (Sumber: Atlas Bentanglahan Kaimantan)1. Zona Pegunungan Niut dan Cekungan kompleks jajaran perbukitan dan pegunungan Kapuas dengan Gunung Niut sebagai puncak tertinggi kurang lebih 1.701 meter dpl. Dari identifikasi Penamaan zona diambil dari nama geografis peta geologi, peta sistem lahan, dan interpretasisetempat yang mendominasi wilayah ini yaitu SRTM, mengindikasikan bahwa Gunung Niut dankompleks Pegunungan Niut di perbatasan sekitarnya merupakan gunung vulkanik purba.Bengkayang dan Landak. Nama Cekungan Kapuas Indikasi beberapa batuan jenis basalt, batuandigunakan karena bagian timur zona ini berada terobosan di Sintang bagian utara sampai Malinau,pada sebuah cekungan ‘besar/raksasa’ tempat dan sebaran lava andesit, merupakan bukti bahwadimana anak-anak Sungai Kapuas mengalir dari aktivitas vulkanik telah terjadi dimasa lampau.hulu menuju ke tempat rendah hingga ke SungaiKapuas. Van Bemmelen menamakan zona ini Wilayah subzona Cekungan Kapuas beradasebagai Zona Kuching karena secara fisiografi mulai dari Danau Sentarum di bagian hulu hinggamenyatu dengan wilayah Kuching dan sekitarnya di di sekitar Kota Sanggau, membentang kurang lebihMalaysia. Berdasarkan hasil diskusi terfokus dengan panjangnya 375 km dan lebar 150 km. Sebagaimananarasumber, penamaan zona ini disesuaikan. paragraf awal, wilayah ini bagaikan cawan atau mangkuk besar tempat Sungai Kapuas dan anak- Subzona Pegunungan Niut sebagian besar anak sungainya yang berasal dari hulu. Beberapaberada wilayah di Kabupaten Bengkayang, ciri fisik bentang alamnya antara lain adanya DanauMempawah, Singkawang, Landak, Sanggau Sentarum yang memiliki keanekaragaman hayatibagian utara, dan Sintang bagian utara. Subzona sangat tinggi. Ciri berikutnya berupa dataran diPegunungan Niut berada di sisi barat, merupakan sepanjang tepian Sungai Kapuas yang melewati Kota Sanggau, Sekadau, Sintang hingga Putussibau.7272 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817

Bedah WilayahGambar 4. Kompleks Pegunungan Niut di Bengkayang (Sumber: BIG) Bentang budaya di zona ini tidak terlepas Kerajaan Sanggau bercorak Islam di tepi Sungaiterutama dari keberadaan Sungai Kapuas. Kapuas. Ketiga adalah Istana Al-Mukarramah diSetidaknya ada empat contoh pusaka budaya yang Kota Sintang tepi Sungai Kapuas yang juga bercoraktidak ternilai. Pertama, keberadaan Batu Bertulis di Islam. Contoh keempat adalah keberadaan SukuNangamahab, Sekadau. berupa prasasti masa Hindu Dayak yang mendiami rumah-rumah adat Betang diberhuruf Pallawa berbahasa Sansekerta. Kedua beberapa titik, misalnya rumah Betang di wilayahadalah keberadaan Keraton Suryanegara pada masa Kapuas Hulu.Gambar 5. Rumah Betang (Sumber: BIG)2. Zona Pegunungan Tengah tengah pulau, sambung menyambung dari barat daya (Ketapang) mengarah ke timur laut di sekitar Bila mengamati citra SRTM Kalimantan, Malinau-Nunukan. Itulah Zona Pegunungan Tengahakan tampak warna kuning cerah sampai yang wilayah fisiknya berada di 4 provinsi yaituwarna kecoklatan di bagian tengah pulau Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantanyang menandakan sebuah perbukitan sampai Timur, dan Kalimantan Utara.pegunungan. Warna tersebut mendominasi bagian GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 73

Bedah WilayahZona ini menjadi hulu sekaligus sumber mata air lebat di Provinsi Kalimantan Tengah sisi utara,penyuplai sungai-sungai besar Kalimantan seperti Kalimantan Barat sisi barat, serta di hampir sebagianKapuas, Barito, Mahakam, Kahayan, dan Kayan. besar Kalimantan Utara.Zona ini secara umum terbagi menjadi enam Zona Pegunungan Tengah sangat kayasubzona yaitu subzona Pegunungan Schwaner, sumberdaya dan keanekaragaman hayati terutamaPegunungan Muller, Pegunungan Kapuas Hulu, hutan yang harus terjaga. Di sinilah, tegakan-tegakanPegunungan Iram (Wahau), Pegunungan Rajang, dan kayu berdiameter lebih dari 1 meter biasa dijumpai.subzona Pegunungan Bulungan. Penamaan subzona Tak heran bila Kalimantan dikenal sebagai salahSchwanner dan Muller cukup unik dan terkesan asing satu jantung paru-paru dunia. Tidak berlebihankarena memang nama ini diambil dari dua penjelajah juga kiranya julukan tersebut masih melekat karenabelantara Kalimantan yang berasal dari Jerman dan hutan hujan tropis yang sangat lebat tumbuh subur.Belanda. Sedangkan penamaan subzona lainnya lebih Menjaga hutan Kalimantan dengan menjadikannyadidasarkan karena nama toponim geografi setempat. sebagai taman nasional merupakan salah satu upayaSubzona Pegunungan Schwaner dan Pegunungan pemerintah Indonesia, seperti Taman Nasional Kutai,Muller berada di sekitar perbatasan Kalimantan Barat Taman Nasional Betung Kerihun, dan Taman Nasionaldan Tengah. Penduduk lebih banyak mendiami kedua Kayan Mentarang.zona ini dibanding 4 subzona lainnya yang beradadi wilayah cukup tinggi/pegunungan dan berhutanGambar 6. Batas Pegunungan Tengah dengan dataran Tanjungselor (Sumber: BIG)3. Zona Pegunungan Meratus dan memisahkan Kalimantan Selatan sisi barat dan sisiAntiklinorium Samarinda timur. Sisi barat lebih maju dan berkembang di banding sisi timur. Pegunungan ini juga merupakan Zona Pegunungan Meratus dan Antiklinorium sumber air atau sebagai hulu sungai yang mengalirSamarinda membentang dari selatan ke utara atau di kedua sisi tersebut. Salah satu sumber air yangdari Kota Pelaihari di Kalimantan Selatan sampai sangat penting bagi warga adalah Waduk Riamperbukitan lipatan/antiklinorium sebelah barat Kanan. Seluruh air waduk ini berasal dari PegununganSangatta, Kalimantan Timur. Subzona Pegunungan Meratus dan dimanfaatkan terutama untuk sumberMeratus yang secara morfogenesa tergolong air minum, pembangkit listrik, perikanan, dan suplaistruktural ini tampak jelas sebagai batas alam yang irigasi.7474 GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187

Bedah Wilayah Gambar 7. PLTA Riamkanan di Pegunungan Meratus (Sumber: BIG)Subzona Antiklinorium Samarinda secara fisik 4. Zona Perbukitan Mangkalihatmenyambung dengan subzona Pegunungan Meratus.Cakupan atau area subzona Antiklinorium Samarinda Zona Perbukitan Mangkalihat berada dibersumbu memanjang arah barat daya di perbatasan wilayah Kabupaten Berau dan Kutai Timur, ProvinsiKalimantan Selatan (Tabalong) ke arah timur laut Kalimantan Timur. Bentanglahan utama pada zona inidekat Sangatta. Topografi pada subzona ini cukup berupa pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat.beragam mulai dari dataran landai, bergelombang, Karst merupakan sebuah bentuk permukaan bumisampai perbukitan. Puncak-puncak bukit subzona pada lempeng batuan gamping yang terbentukAntiklinorium Samarinda mencapai ketinggian antara oleh pelarutan batuan gamping. Hasil pelarutannya300-400 meter dpl. dicirikan antara lain adanya bukit-bukit karst, sungai Meratus adalah sumber kehidupan. Kalimat bawah tanah, dan gua. Selain fenomena fisik yangtersebut tidak berlebihan karena selain sumber air unik, zona ini juga sangat kaya akan keanekaragamandan hutan untuk kehidupan, kompleks pegunungan hayati. LIPI dan The Nature Conservancy mencatatini juga menjadi bagian penting dalam berbagai kurang lebih 400 jenis vegetasi, 120 species burung,sektor penting. Kita sebut dua sektor penting yaitu 200 spesies serangga dan antropoda, 50 spesies ikan,sumberdaya batubara dan wisata. Penambangan serta menjadi habitat penting orangutan.batubara di beberapa sisi Pegunungan Meratus Luas karst Sangkulirang-Mangkalihat mencapaitelah menyumbang pendapatan asli daerah dan 1.867.676 Ha. Wilayah ini menjadi tumpuanmeningkatkan perekonomian setempat karena hidup sebagian penduduk Berau dan Kutai Timur.aktivitas penambangan. Walaupun di satu sisi Setidaknya kehidupan penduduk di 111 desa dan 13penambangan tersebut juga harus memperhatikan kecamatan di dua kabupaten tersebut mengandalkankeberlanjutan lingkungan Meratus. Lubang-lubang sumberdaya wilayah ini. Wilayah karst yang luasmenganga akibat penambangan merupakan ini merupakan daerah tangkapan dan sumber airpekerjaan rumah bersama agar lingkungan Meratus dari lima sungai utama yang mengalir ke wilayahtetap terjaga. Sektor wisata juga berkembang cukup Karangan, Sangkulirang, Bengalon, Tabalar, Kelay, danbaik karena panorama Pegunungan Meratus dan Wahau.Antiklinorium Samarinda sangat menarik, sebagaicontoh tempat wisata Loksado dan Bukit Bangkirai. GGEEOOtatnagnkgaksaVs oVlo. l3. 4- 2- 0210718 7755

Bedah Wilayah Sungai sungai tersebut menjadi sumber dinding gua membuktikan adanya peradaban masakehidupan utama bagi masyarakat yang bermukim lampau. Penelitian arkeologi mencatat terdapat 150di kawasan tersebut. Kurang lebih 300.000 ha dari gua dengan ukuran yang bervariasi. Dari 150 gua,luas karst total merupakan zona lindung/inti sesuai ditemukan 30 gua yang memiki gambar/lukisandengan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 67 Tahun cadas di dinding dan atap gua. Gua-gua tersebut2012. Peraturan ini bertujuan untuk menjaga dan menjadi bukti adanya hunian manusia purbamelindungi zona inti dari eksploitasi lahan sekaligus sekaligus menjadi tempat aktivitas kehidupannya.untuk menjaga kerusakan daerah tangkapan air. Inilah kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya. Sekali merusak maka akan punahlah cerita sejarah Dari aspek bentang budaya, penemuan gua- yang tidak akan sampai pada anak cucu kelak.gua karst dan lukisan-lukisan kuno prasejarah di Gambar 8. Karst Sangkulirang-Mangkalihat (Sumber: BIG) Gambar 9. Lukisan dinding gua di Sangkulirang-Mangkalihat (Sumber: Disbudpar Kab. Kutai Timur)7676 GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187

Bedah Wilayah5. Zona Dataran Kalimantan sawit, sawah irigasi, vegetasi gambut, tegalan dan ladang merupakan pemandangan yang sering Wilayah atau zona dataran di Kalimantan dijumpai di hampir semua zona dataran. Kondisimerupakan zona paling luas dan terdapat di semua ini tentu tidak terlepas dari kemudahan untukwilayah provinsi. Menurut morfogenesanya, zona ini melakukan usaha/budidaya ditempat atau daerahterbentuk terutama karena proses marine, fluvial, yang relatif datar.dan organik. Bentuk lahan yang dijumpai cukupbervariasi mulai dari pesisir pantai, dataran rendah Satu hal lagi yang perlu diingat kembali yaitulahan basah (gambut), dataran aluvial, delta, dataran Kalimantan dikenal dengan wilayah seribu sungai.lahan kering, sampai kaki perbukitan. Zona ini secara Banyak sungai mengalir dari daerah Pegununganumum terbagi menjadi 7 subzona yaitu Delta Kapuas, Tengah dan Meratus menuju dataran kaki perbukitanDataran Kaki Perbukitan, Dataran Aluvial Kalimantan lalu ke dataran aluvial hingga akhirnya bermuara dibagian selatan, Dataran Aluvial Kalimantan perairan. Sungai menjadi urat nadi utama hubunganbagian tenggara, Delta Mahakam, Dataran rendah antar penduduk Kalimantan, dari dulu hingga kini.Tanjungselor, dan Cekungan Mahakam. Aktivitas Tidak sekadar hubungan antar manusia semata,aliran sungai dan sedimentasi yang terjadi selama tetapi di dorong untuk memenuhi kebutuhanratusan ribu tahun telah membentuk dataran delta ekonomi skala kecil dan besar. Tak mengherankanyang cukup luas yaitu Delta Kapuas (sisi barat) dan bila kita berkunjung ke Kalimantan, kita akan biasaMahakam (sisi timur). melihat hilir mudik perahu kecil tak bermesin, kapal boat, sampai tongkang pembawa batubara. Harmoni Penggunaan lahan non hutan atau kawasan kehidupan antara faktor alam (sungai) dan manusiabudidaya sebagian besar berada pada zona dataran. akan melahirkan budaya air seperti bangunan rumahPusat-pusat perkotaan skala besar juga berada pada panggung, jual beli di tengah sungai, dan sungai yangzona ini yaitu Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, menjadi beranda depan.Samarinda, dan Tanjungselor. Perkebunan terutama Gambar 10. Pasar Apung (Sumber: BIG)Gambar 11. Dataran pantai di Ketapang (Sumber: BIG) GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187 7777

Bedah Wilayah6. Zona Kepulauan dan Pulau-pulau Kecil pulau tersebut antara lain Pulau Tarakan, Bunyu, Nunukan, Kepulauan Derawan, Kaniungan, Secara ekoregion pulau, zona kepulauan dan dan Sebatik yang kita kenal sebagai pulau yangpulau-pulau kecil mempunyai karakter spesifik/ wilayahnya terbagi menjadi 2 negara. Pulau-pulaukhusus yang tidak berhubungan langsung dengan di sisi timur Kalimantan umumnya relatif maju,daratan utama atau pulau besar (Kalimantan/ infrastruktur memadai, dan berkembang terutamaBorneo). Tetapi dalam aspek administrasi dan wisata di banding yang lain. Sebagai contohgeostrategi perlu mengikutsertakan zona ini sebagai Tarakan dan Nunukan, kedua pulau ini menjadibagian integral Kalimantan. Dari interpretasi visual pusat pemerintahan kota dan kabupaten. Bahkancitra satelit, beberapa contoh pulau kecil Kalimantan kalau dilihat dari sejarah, Pulau Tarakan merupakan(<2.000 km2) di pesisir barat dan selatan di pesisir tempat pertama kali Jepang mengekspansi kebarat dan selatan Kalimantan antara lain Pulau Indonesia. Bentang budaya Tarakan dapat ditinjauKabung, Penata Besar, Temaju, Datu, Gelam, Laut, juga dari banyaknya peninggalan-peninggalan masaSebuku, Matasiri, Kalambau, dan beberapa pulau kolonial di berbagai sudut kota yang masih terawatkecil lainnya. Untuk wilayah kepulauan di sisi barat hingga kini.yang secara administrasi masuk Kalimantan antaralain Kepulauan Karimata. Memahami bentanglahan Kalimantan secara utuh dan konprehensif akan melahirkan kebijakan Pulau kecil di sisi timur Kalimantan memiliki pembangunan dengan tetap memperhatikanaspek geostrategis karena merupakan pulau-pulau kelestarian alamnya. Kita semua berharap alamperbatasan dengan negara tetangga. Beberapa Kalimantan tetap terjaga. Gambar 12. Pulau Kaniungan Kecil Sumber : Pemkab Berau Penulis adalah Surveyor Pemetaan Muda, BIGReferensiBemmelen, R.W.van, 1970. The Geology of Indonesia. Government Printing Office.The HaquePusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas BIG, 2017. Laporan FGD dan Hasil Survei Kalimantan.Setiawan dan S. Wawan, 2011. Sangkulirang nan Eksotis, Pusaka Alam dan Budaya Kawasan Karst Kutai Timur. Disbudpar Kutai Timur.Laman: www.kalbar.go.id, www.kalteng.go.id, www.kalsel.go.id, www.kaltim.go.id, www.kaltara.go.id7878 GGEEOOttaannggkkaassVVooll..43--22001187

Bedah WilayahPERENCANAAN ALOKASI RUANGKABUPATEN BLITAR BERBASISKEMAMPUAN LAHANOleh : Iman Sadesmesli Pemanfaatan lahan harus diarahkan sesuai dengan lahan aktualnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwakemampuannya untuk menghindari terjadinya kerusakan pengggunaan lahan aktual di Kabupaten Blitar sebagian besaratau degradasi. Alokasi ruang yang optimal harus mampu merupakan penggunaan lahan budidaya. Kelas kemampuanmenyeimbangkan kepentingan produksi dan konservasi. lahan terdiri atas enam kelas yaitu kelas II, III, IV, VI, VII danPenelitian ini bertujuan menyusun rencana alokasi ruang kelas VIII yang dapat dibedakan menjadi 15 subkelas. WilayahKabupaten Blitar berbasis kemampuan lahan dengan yang mampu mendukung aktivitas budidaya pertanian (kelasmemetakan kondisi penggunaan lahan aktual, mengevaluasi kemampuan II-IV) hanya sebanyak 61.940 ha (39,0% dari luaskelas kemampuan lahan dan mengevaluasi kesesuaian RTRW total), sedangkan wilayah yang sebaiknya tidak digunakandengan kemampuan lahannya. Penggunaan lahan aktual untuk aktivitas budidaya pertanian (kelas VI-VIII) sebanyakdipetakan dengan interpretasi visual sedangkan kemampuan 96.939 ha (61,0%). Kesesuaian RTRW dengan kemampuanlahan dievaluasi dengan prinsip evaluasi kemampuan lahan mencapai 79.498 ha atau 50,0%. Alokasi ruanglahan dari United States Department of Agriculture (USDA). Kabupaten Blitar yang paling sesuai dengan kemampuanKesesuaian RTRW terhadap kemampuan lahan dianalisis lahannya adalah kawasan lindung 51.387 ha (32,3%),secara deskriptif berdasarkan interpretasi atribut hasil kawasan hutan produksi 18.034 ha (11,4%), kawasanoverlay menggunakan sistem informasi geografis. Arahan perkebunan 15.852 ha (10,0%), kawasan permukimanpemanfaatan ruang disusun berdasarkan pola ruang RTRW 33.633 ha (21,2%), kawasan pertanian lahan basah 33.291dengan mempertimbangkan kemampuan lahan dan faktor ha (21,0%) dan kawasan pertanian lahan kering 5.153 hapembatas pada setiap pola ruang serta kondisi penggunaan (3,23%).Latar Belakang penambahan mendekati 1.174.894 jiwa pada tahun 2020 (BPS, 2016). Perkembangan aktivitas Kabupaten Blitar berada dalam Wilayah perekonomian wilayah Kabupaten BlitarPengembangan Blitar sebagai kawasan pertanian diindikasikan oleh laju pertumbuhan ekonomitanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dengan penambahan nilai rata-rata PDRB ataspeternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, dasar harga konstan 2010 meningkat sebesar 0,96pendidikan, kesehatan dan pariwisata. Secara milyar rupiah (5,2%) per tahun. Laju pertumbuhantopografis, wilayah Kabupaten Blitar meliputi ekonomi Kabupaten Blitar tahun 2015 sebesarkawasan pegunungan di bagian utara, perbukitan 5,06%, lebih tinggi pertumbuhan ekonomi nasionalkapur di selatan dan wilayah dataran di bagian yang hanya sebesar 4,79%.tengah termasuk wilayah Kota Blitar. Berdasarkandata BPS Kabupaten Blitar (2016), penggunaan Pertumbuhan penduduk dan peningkatanlahan di Kabupaten Blitar belum seutuhnya optimal aktivitas perekonomian wilayah membutuhkandalam pemanfaatan ruangnya. Kondisi ini tercermin ruang baru yang mendorong peningkatandari 41,1% luas penggunaan lahan pertanian masih kebutuhan lahan untuk pemukiman dan aktivitasberupa tegalan/kebun dan ladang. pendukung lainnya. Peningkatan kebutuhan lahan menyebabkan tekanan terhadap lahan sehingga Pada sisi lain, jumlah penduduk dan memacu terjadinya konversi lahan. Lahan yangperkembangan aktivitas perekonomian wilayah dianggap bernilai kurang ekonomis seperti lahanKabupaten Blitar selama periode 2010-2015 pertanian, hutan dan lahan basah menjadi sasarancenderung meningkat. Data statistik tahun 2016 konversi untuk memenuhi kebutuhan lahanmemperlihatkan laju pertumbuhan penduduk permukiman dan lahan terbangun lainnya (Pontohrata-rata sebesar 0,51% atau meningkat 2,58% dan Sudrajat, 2005; Kumar, 2009; Johnson andsejak 2010. Jumlah penduduk terus mengalami Zuleta, 2013; Fahimuddin et al., 2016). GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.43--22001187 7799

Bedah WilayahHal ini harus diimbangi dengan pembukaan lahan 40’ – 112° 10’ BT dan 7° 58’ – 8° 9’ LS. Wilayahpertanian baru untuk tetap memenuhi kebutuhan penelitian mencakup 22 kecamatan yaitu: Bakung,primer yang pada umumnya akan mengkonversi lahan Wonotirto, Panggungrejo, Wates, Binangun,suboptimal. Lahan suboptimal memiliki kemampuan Sutojayan, Kademangan, Selorejo, Kesamben, Doko,rendah dan berisiko mengalami kerusakan, sehingga Selopuro, Wlingi, Talun, Gandusari, Kanigoro, Garum,perubahan penggunaan pada lahan-lahan ini akan Nglegok, Sanankulon, Srengat, Ponggok, Wonodadimelampaui potensinya. Perubahan penggunaan lahan dan Udanawu.pada lahan suboptimal ini akan melebihi potensinyadan akan menyebabkan terjadinya degradasi lahan Analisis dan Hasil Perencanaan Alokasi(Goldshegler et al., 2010; Pramono, 2014). Olehkarena itu, alokasi ruang di Kabupaten Blitar harus Ruang berbasis Kemampuan Lahandisesuaikan dengan kemampuan lahannya sehinggadapat memberikan manfaat yang optimal dan tetap Penggunaan Lahan Aktualmenjaga keberlanjutan lahan. Penggunaan lahan aktual Kabupaten BlitarTujuan (Gambar 1) dipetakan dengan menginterpretasi citra SPOT-6 Tahun 2015 secara visual. Interpretasi Secara umum, tujuan utama penelitian ini adalah menggunakan perangkat lunak pengolah data spasialmenyusun rencana alokasi ruang Kabupaten Blitar (ArcGIS) dengan bantuan peta penggunaan lahanberbasis kemampuan lahan. Alokasi ruang disusun tahun 2010, peta kawasan hutan, google earth dandengan memetakan penggunaan lahan aktual di cek lapang. Pengecekan lapang dilakukan pada 48 titikKabupaten Blitar, mengevaluasi kemampuan lahan yang dianggap masih meragukan kelas penggunaandi Kabupaten Blitar, mengevaluasi kesesuaian RTRW lahannya. Klasifikasi penggunaan lahan mengacudengan kemampuan lahan. pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 7645-1:2014 dengan generalisasi terhadap kelas penggunaanLingkup Wilayah lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan menjadi kelas penggunaan sawah. Penelitian dilakukan di Kabupaten Blitar,Provinsi Jawa Timur dengan posisi geografis 111° Gambar 1. Penggunaan lahan Kabupaten Blitar tahun 20158080 GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187

Bedah WilayahPenggunaan lahan aktual Kabupaten Blitar skala 1:50.000 (Pratondo, 2001) dengan informasiterdiri atas sebelas kelas, yaitu: permukiman, yang terkandung di dalamnya meliputi bentuksawah, hutan, tegalan, kebun campur, perkebunan, lahan dan karakteristik lahan berupa tekstur tanah,sungai, bendungan lahar, semak, bendungan PLTA drainase, keadaan erosi, kerikil/batuan di permukaandan danau. Penggunaan lahan terluas adalah tanah dan banjir. Informasi kedalaman efektif tanahpermukiman dengan luas 30,860 hektar (19,4%), diperbaharui dari peta kedalaman efektif tanahdisusul penggunaan lahan sawah sebesar 30,565 ha yang bersumber dari Bappeda Kabupaten Blitar,(19,2%) dan hutan 30,111 ha (19,0%). Penggunaan sedangkan informasi lereng permukaan didetilkanlahan terkecil adalah danau dengan luasan hanya 4 menggunakan peta lereng hasil pengolahan dataha. DEM SRTM resolusi 30 meter. Evaluasi kemampuan lahan dilakukan denganKemampuan Lahan membandingkan karakteristik lahan terhadap persyaratan kebutuhan lingkungan dengan kriteria dan intensitas faktor pembatas. Evaluasi kemampuan Kelas kemampuan lahan adalah salah lahan pada tingkat kelas dan subkelas dilakukansatu indikator yang dapat digunakan untuk terhadap masing-masing satuan lahan yangmengalokasikan pemanfaatan ruang yang sesuai mempunyai karakteristik sama. Karakteristik lahandengan daya dukung lahan. Evaluasi kemampuan yang digunakan dalam mengevaluasi kemampuanlahan mengacu pada klasifikasi kemampuan lahan lahan pada penelitian ini berupa faktor penghambatdari Departemen Pertanian Amerika Serikat (United permanen yang terdiri atas tekstur tanah, kemiringanStates Department of Agriculture - USDA), dengan lereng permukaan, kedalaman efektif tanah, drainase,metode yang dideskripsi dalam Arsyad (2010) keadaan erosi, kerikil/ batuan di permukaan tanahdan Hardjowigeno & Widiatmaka (2007). Evaluasi dan ancaman banjir. Secara keseluruhan Kabupatenkemampuan lahan dilakukan terhadap satuan lahan Blitar terbagi menjadi 28 satuan lahan (Gambar 2)yang terdiri dari unsur bentuk wilayah, bahan induk, dengan intensitas besaran faktor penghambat dijenis tanah dan kemiringan lereng. Peta satuan lahan masing-masing satuan lahan disajikan pada Tabel 1.dalam penelitian ini menggunakan peta satuan lahan Gambar 2. Satuan lahan Kabupaten Blitar GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187 8811

Bedah Wilayah Tabel 1. Faktor pembatas dan kelas kemampuan lahan di setiap satuan lahanSatuan Bentuk t Faktor Pembatas o Kemampuan Lahan Pembatas Luas (ha)Lahan Lahan t3 lk d e b O0 Kelas Subkelas Utama 8,5101 D1 l1 k0 d3 e4 b0 VII VII-e4 e2 D2 t3 l4 k0 d3 e0 b0 O0 VI VI-l4 l 3,343 8123 D5 t2 l3 k0 d1 e0 b0 O0 IV IV-l3 l 166 2704 F10 t3 l1 k0 d1 e0 b0 O0 II II-l1 l 8,233 12,9295 F12 t4 l0 k0 d3 e0 b0 O0 III III-t4,d3 t, d 44,272 6,9476 F5 t1 l1 k0 d1 e1 b0 O0 II II-t1,l1 t, l 28,232 7,0507 F7 t2 l0 k0 d3 e0 b3 O0 VIII VIII-b3 b 429 1,8358 F8 t1 l1 k0 d2 e0 b0 O0 II II-t1,l1,d2 t, l, d 1,526 5,5979 K1.1 t1 l2 k2 d3 e1 b3 O0 VIII VIII-b3 b 1,001 6,76910 K1.2 t1 l4 k2 d3 e0 b0 O0 VI VI-l4 l 1,044 1,07111 K1.3 t2 l4 k2 d3 e0 b0 O0 VI VI-l4 l 2,05012 K11 t2 l4 k2 d3 e4 b2 O0 VII VII-e4 e 431 2,73713 K11.2 t1 l4 k2 d2 e0 b3 O0 VIII VIII-b3 b 2,834 4,29014 K11.3 t1 l1 k3 d2 e2 b3 O0 VIII VIII-b3 b 5,333 37515 K5.2 t1 l3 k2 d3 e3 b0 O0 VI VI-e3 e 779 1516 K5.3 t1 l3 k3 d2 e1 b2 O0 VI VI-k3 k17 S14.1 t1 l1 k1 d2 e0 b0 O0 III III-k1 k18 S14.2 t4 l2 k1 d1 e0 b0 O0 III III-t4,l2,k1 t, l, k19 S14.3 t1 l2 k1 d3 e4 b3 O0 VIII VIII-b3 b20 V1 t1 l4 k0 d1 e1 b0 O0 VI VI-l4 l21 V2 t5 l5 k0 d3 e0 b0 O0 VII VII-l5 l22 V4 t1 l6 k1 d2 e0 b0 O0 VIII VIII-l6 l23 V5 t1 l6 k0 d3 e0 b0 O0 VIII VIII-l6 l24 V6 t4 l4 k0 d4 e0 b0 O0 VI VI-l4 l25 V7 t5 l4 k0 d2 e2 b0 O0 VI VI-l4 l26 V8 t3 l2 k0 d2 e0 b0 O0 III III-l2 l27 V9 t1 l4 k0 d1 e0 b0 O0 VI VI-l4 l28 P0 t5 l5 k2 d4 e4 b3 O0 VIII VIII-b3 bt: tekstur tanah; l: lereng permukaan ; k: kedalaman efektif tanah; d: drainase; e: keadaan erosi;b: kerikil/batuan permukaan ; o: ancaman banjir Kelas kemampuan lahan di Kabupaten Blitar (budidaya pertanian intensif) sebanyak 33,2%, kelasterdiri atas enam kelas yaitu kelas II, III, IV, VI, VII III (budidaya pertanian sedang) 5,3% dan kelas IVdan kelas VIII yang terbagi menjadi lima belas (budidaya pertanian terbatas) 0,5%.subkelas kemampuan lahan seperti disajikan padaGambar 3. Kabupaten Blitar tidak memiliki lahan Lahan kelas VI dan VII adalah lahan yangkelas kemampuan I yang sesuai untuk semua jenis memiliki pilihan penggunaan lahan sangat terbatas.penggunaan lahan tanpa memerlukan tindakan Lahan kelas VI mampu mendukung penggembalaanperbaikan tanah. Kelas lahan terbaik adalah lahan sedang hingga terbatas sebanyak 36,3%, sedangkankelas kemampuan II. Lahan kelas kemampuan II- lahan kelas VII (penggembalaan terbatas) sebanyakIV yang mampu mendukung aktivitas budidaya 5,9%. Lahan kelas VIII yang tidak diperbolehkanpertanian hanya mencakup luasan 61.940 ha atau untuk aktivitas budidaya, hanya bisa dijadikan39,0% wilayah Kabupaten Blitar, terdiri dari kelas II sebagai cagar alam dan hutan lindung sebesar 18,8%.8282 GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187

Bedah Wilayah Secara keseluruhan luas lahan yang kelas Berdasarkan kondisi ini, potensi lahan yangkemampuannya tidak memungkinkan untuk ada di Kabupaten Blitar terbatas sehinggamendukung aktivitas budidaya pertanian diperlukan rencana yang baik untuk mencapai(kelas VI-VIII) sebanyak 96.939 ha atau 61,0%. kondisi optimum.Gambar 3. Kemampuan lahan tingkat kelasKesesuaian RTRW dengan Kemampuan Tingkat kesesuaian alokasi pola ruang denganLahan kemampuan lahan dikelaskan dalam 3 (tiga) kategori yaitu: sesuai, sesuai bersyarat, dan tidak Kesesuaian RTRW dengan kemampuan lahan sesuai. Kategori sesuai jika rencana pola ruangmenggambarkan kondisi lahan yang mampu memiliki beban yang sama atau lebih rendah darimendukung rencana alokasi pola ruang sesuai kemampuan lahan. Kategori sesuai bersyarat jikakelas lahan tanpa menyebabkan kerusakan. Tingkat rencana pola ruang melebihi beban kemampuankesesuaian antara RTRW dan kemampuan lahan lahan namun masih dimungkinkan dengandievaluasi melalui proses tumpangsusun antara memberikan perbaikan atau menghilangkan faktorpeta pola ruang RTRW Kabupaten Blitar tahun 2011- pembatas kemampuan lahannya, sedangkan2031 dengan peta kemampuan lahan. Interpretasi kategori tidak sesuai berarti rencana pola ruangkesesuaian mempertimbangkan kelas kemampuan sudah melebihi kapasitas kemampuan lahan.lahan dan pola ruangnya, berdasarkan potensi Pola ruang sungai tidak dievaluasi kesesuaiannya.dan kendala lahan. Lahan kelas I-IV adalah lahan Secara spasial tingkat kesesuaian RTRW Kabupatenyang mampu mendukung alokasi pola ruang untuk Blitar dengan kemampuan lahannya disajikan padaaktivitas budidaya pertanian hingga level tertentu. Gambar 4. Pola ruang RTRW yang tergolong sesuaiLahan kelas V-VII memiliki pilihan alokasi pola ruang dengan kemampuan lahan sebanyak 79.498 ha atauterbatas, sedangkan lahan kelas VIII sangat tidak 50,0%. Pola ruang kategori sesuai bersyarat seluassesuai untuk alokasi pola ruang kawasan budidaya 29.783 ha (18,8%), kategori tidak sesuai 48.784dan harus dilindungi. ha (30,7%) dan pola ruang yang tidak dievaluasi sebanyak 814 ha (0,5%). GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187 8383

Bedah Wilayah Gambar 4. Kesesuaian RTRW dengan kemampuan lahan Sebagian besar pola ruang kategori tidak kepentingan produksi dan konservasi.sesuai kemampuan lahan berada di kelas VIII Pemanfaatan ruang secara sederhana mengacudengan luas 20.842 ha (42,7%), terdiri atas kepada pola penggunaan lahan. Perencanaankawasan perkebunan, permukiman, kawasan alokasi ruang yang sesuai kemampuan lahanpertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan disusun dengan menyelaraskan kemampuankering dan kawasan hutan produksi. Pola ruang lahan dan faktor pembatasnya serta rencanakategori tidak sesuai kemampuan lahan lainnya alokasi pola ruang RTRW dan penggunaan lahanterdapat di kelas kemampuan VI (19.758 ha atau aktualnya. Rencana alokasi ruang Kabupaten Blitar40,5%) dan kelas kemampuan VII (7.755 ha atau dalam penelitian ini terdiri atas enam kawasan15,9%) dengan jenis pola ruang yang sama seperti yaitu kawasan lindung, kawasan hutan produksi,pola ruang di lahan kelas VIII. Pola ruang kawasan kawasan perkebunan, kawasan permukiman,pertanian lahan basah di lahan kelas IV seluas kawasan pertanian lahan basah dan kawasan428 ha termasuk kategori tidak sesuai disebabkan pertanian lahan kering seperti Gambar 5.oleh faktor lereng yang agak curam (15-25%).Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Alokasi ruang Kabupaten Blitar yangluas alokasi pola ruang melebihi kemampuan optimum berdasarkan kemampuan lahanlahan dan berpotensi menyebabkan kerusakan pada setiap kawasan adalah kawasan lindungmencapai 78.585 ha (49,5%). 51,387 ha (32,3%), kawasan hutan produksi 18,034 ha (11,4%), kawasan perkebunan 15,852Alokasi Ruang Berbasis Kemampuan ha (10,0%), kawasan permukiman 33,633 haLahan (21,2%), kawasan pertanian lahan basah 33,291 ha (21,0%) dan kawasan pertanian lahan kering Pemanfaatan lahan harus diarahkan sesuai 5,153 ha (3,23%). Berdasarkan komposisi alokasidengan kemampuannya untuk menghindari ruang ini, kesesuaian perencanaan RTRW denganterjadinya kerusakan atau degradasi. Alokasi ruang kemampuan lahan meningkat dari 79,498 hayang optimal harus mampu menyeimbangkan (50,0%) menjadi 98,943 ha (62,3%) .8484 GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.43--22001187

Bedah WilayahGambar 5. Rencana alokasi ruang Kabupaten Blitar berbasis kemampuan lahanKesimpulan kemampuan lahan, sehingga perlu direncanakan alokasi ruang yang lebih optimum. Komposisi Pengggunaan lahan aktual di Kabupaten alokasi ruang Kabupaten Blitar yang paling sesuaiBlitar sebagian besar merupakan penggunaan dengan kemampuan lahannya adalah kawasanlahan budidaya. Namun kondisi biofisik lahannya lindung 51.387 ha (32,3%), kawasan hutandidominasi oleh kelas kemampuan lahan yang produksi 18.034 ha (11,4%), kawasan perkebunantidak memungkinkan untuk diarahkan sebagai 15.852 ha (10,0%), kawasan permukiman 33.633kawasan budidaya pertanian (kelas VI-VIII). ha (21,2%), kawasan pertanian lahan basah 33.291Kondisi ini mempengaruhi pola ruang RTRW ha (21,0%) dan kawasan pertanian lahan keringKabupaten Blitar tahun 2011-2031 yang hanya 5.153 ha (3,23%).79.489 ha (50,0%) alokasi ruangnya sesuai dengan Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIGDaftar PustakaArsyad, S. (2010). Konservasi Tanah dan Air. Serial Pustaka IPB Press. Bogor.BPS (Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar). (2016). Kabupaten Blitar dalam Angka 2016. Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar. Blitar.Fahimuddin, M.M., B. Barus, S. Mulatsih. (2016). Analisis Daya Dukung Lahan di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Jurnal Tataloka, 18(3), 183-196.Goldshleger, N., E. Ben-Dor, R. Lugassi, G. Eshel. (2010). Soil Degradation Monitoring by Remote Sensing: Examples with Three Degradation Processes”. Soil Science Society of American Journal, 74, 1433–1445.Hardjowigeno, S. & Widiatmaka. (2007). Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.Johnson, B.G., & G.A. Zuleta. (2013). Land-use land-cover change and ecosystem loss in the Espinal Ecoregion,Argentina. Elsevier: Agriculture, Ecosystems and Environment, 181, 31– 40.Kumar, P. (2009). Assessment of Economic Drivers of Land Use Change in Urban Ecosystems of Delhi, India. Springer Science & Business Media, 38(1), 5-9.Pontoh, N.K., & D.J. Sudrajat. (2005). Hubungan Perubahan Penggunaan Lahan Dengan Limpasan Air Permukaan: Studi Kasus Kota Bogor. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 16(3), 44-56.Pramono, I.B. (2014). Mitigation of land Degradation at Juana Watershed, Central Java. J. Degraded and Mining Management, 2(1), 235-242.Pratondo, B.J. (2001). Evaluasi Sumberdaya Lahan dengan Memanfaatkan Teknologi Inderaja dan SIG di Kabupaten Blitar. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187 8855

Foto dari drone salah satu sudut Pantai Carita, Kab. Pandeglang Sumber: PPTRA-BIG8686 GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.43--22001187

INTEGRASItata ruang darat & lautWilayah pesisir sangat rentan terhadap bencana alam dan gangguanlainnya. Untuk itu perlu sinergi semua pihak menjadikan pesisir sebagairuang yang ramah. Mewujudkan ruang yang nyaman, produktif, danberkelanjutan di wilayah pesisir memerlukan keterpaduan, integrasi danharmonisasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan RencanaZonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. (RZWP3K).Ayo kita wujudkan! GGEEOOtatannggkkaassVVool.l.43--22001187 8877

Sorot NawacitaMembangun Desa Melalui Peta:Sebuah Pendekatan Spasial dalamPembangunan Kawasan PerdesaanOleh: Fuad Hasyim Gambar 1. Penggunaan Lahan di salah satu desa di ButonPendahuluan yang tidak berdiri sendiri dan akan terkait dengan pengembangan wilayah yang lebih luas, kawasan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 perdesaan harus dipandang sebagai bagian yangTahun 2007 tentang Penataan Ruang, penataan tak terpisahkan dengan kawasan perkotaan.ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem fungsi Pemerintah saat ini memiliki perhatian yang lebihutama kawasan, wilayah administratif, kegiatan kepada isu perdesaan dan kawasan perbatasan. Halkawasan, dan nilai strategis kawasan. Penataan ini dapat dilihat dari beberapa program pemerintahruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas yang menyasar perdesaan dan wilayah perbatasan,penataan ruang kawasan perkotaan dan penataan misalnya: dana desa dan pembangunan kawasanruang kawasan perdesaan. Kawasan perdesaan perbatasan. Hal tersebut memang sesuai denganadalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama nawacita ketiga yaitu Membangun Indonesia daripertanian, termasuk pengelolaan sumber daya Pinggiran dengan Memperkuat Daerah dan Desaalam dengan susunan fungsi kawasan sebagai dalam Kerangka Negara Kesatuan.tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasapemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan Dalam pembangunan kawasan perdesaan,ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang No. terdapat tantangan yang harus dicarikan solusinya.32 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Beberapa tantangan yang dihadapi saat iniDesa adalah kesatuan masyarakat hukum yang diantaranya:memiliki batas wilayah yang berwenang untukmengatur dan mengurus urusan pemerintahan, • rendahnya kualitas SDM di desakepentingan masyarakat setempat berdasarkan yang menjadikan aspek partisipatifprakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak pembangunan desa mungkin akantradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem menjadi lebih sulitpemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. • terbatasnya lapangan kerja di desa yang Perdesaan merupakan suatu bagian wilayah manjadikan masih derasnya migrasi penduduk dari desa ke kota8888 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817

Sorot Nawacita • rendahnya kualitas sarana dan prasarana perencanaan tata ruang. Dalam pemetaan perdesaan berakibat desa menjadi sulit tata ruang, data terkait sumberdaya sangat berkembang dan banyak diantaranya terisolir diperlukan, misalnya informasi tentang tutupan lahan, kawasan hutan, potensi pertambangan, • meningkatnya kesenjangan kebijakan desa- curah hujan, dan sebagainya. kota yang mengakibatkan masyarakat enggan berada di desa 2. Alat untuk delineasi batas peruntukan ruang Rencana tata ruang merupakan sebuah produk • meningkatnya konversi lahan pertanian ke non hukum yang mengatur tentang peruntukan pertanian karena kebutuhan akan permukiman pemanfaatan ruang, sehingga delineasi batas dan lainnya peruntukan merupakan hal yang sangat penting. IG dapat digunakan untuk mendelineasi batas, • belum adanya tata ruang yang khusus mengatur diantaranya batas wilayah, batas peruntukan wilayah perdesaan, sehingga menjadikan arah ruang maupun batas perizinan pemanfaatan pembangunan kawasan perdesaan belum ruang. Batas-batas tersebut tergambar pada jelas. peta dan menjadi lampiran produk hukum penataan ruang yang disepakati bersama. Aspek Informasi Geospasial, selanjutnya disebut Kepastian penggambaran pada peta akanIG, selalu seiring sejalan dengan aspek perencanaan. meminimalisir konflik peruntukan ruang.Perencanaan tidak akan pernah lengkap tanpa adanyaIG yang peta didalamnya, karena perencanaan 3. Alat untuk identifikasi tumpang tindihwilayah merupakan dokumen yang mengatur aspek peruntukan ruangspasial atau ruang. Dalam perencanaan tata ruang Dalam pemanfaatan ruang, sering terjadikawasan perdesaan, aspek pemetaan juga menjadi tumpang tindih antar pemanfaatan ruang.penting, dari peta dapat diketahui misalnya delineasi Contoh yang sering terjadi misalnya peruntukankawasan perdesaan, peruntukan ruang kawasan, pertambangan, perkebunan, dan kawasantumpang tindih peruntukan dan sebagainya. Sehingga hutan, dimana izin kawasan masuk dalamdipandang perlu untuk dibuat suatu pedoman kawasan hutan. Selain itu dalam peta rencanatentang pemetaan tata ruang kawasan perdesaan tata ruang, seringkali ditemukan pemanfaatanyang memberikan pedoman tentang pemilihan skala ruang yang tidak sesuai dengan peruntukannya.peta, spesifikasi sumber data, kebutuhan Informasi Melalui IG, hal tersebut dapat teridentifikasiGeospasial Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial sehingga langkah penanggulangannya akanTematik (IGT) sampai pada aspek penyajian peta semakin mudah.rencana tata ruang kawasan perdesaan. 4. Alat bantu analisis keruanganFungsi Informasi Geospasial dalam Terdapat banyak manfaat IG dalam pengambilanPenataan Ruang kebijakan, termasuk diantaranya dalam penataan ruang. Informasi geospasial dapat Informasi Geospasial merupakan alat bantu diolah sedemikian rupa untuk menghasilkanuntuk memperkuat informasi secara spasial dalam data baru yang lebih bermanfaat, misalnyaperencanaan tata ruang, sehingga informasi yang peta kerawanan bencana, peta kesesuaianditampilkan tidak hanya berupa data numerik atau dan kemampuan lahan, sampai pada analisistabular, tetapi juga menjelaskan tentang aspek lokasi pemodelan spasial untuk tujuan tertentu. Hasildan persebarannya. Beberapa manfaat informasi analisis tersebut selanjutnya dimanfaatkan olehgeospasial dalam penataan ruang antara lain: stakeholder dalam pengambilan keputusan. 1. Alat inventarisasi sumberdaya IG umum dimanfaatkan dalam pemetaan sumberdaya (lahan, air, mineral) pada suatu wilayah. Melalui pemetaan sumberdaya, dapat dengan mudah diketahui informasi jumlah, sebaran bahkan sampai perubahannya. Informasi tersebut sangat membantu dalam GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 89

Sorot Nawacita5. Alat untuk memonitor perubahan pemanfaatan batas fungsional sangat dimungkinkan tidak ruang sama dengan batas administrasi. Beberapa Fenomena yang sering dijumpai saat ini misalnya fungsi keterkaitan diantaranya adalah fungsi penggundulan hutan, alih fungsi lahan pertanian, ekologis, sosial, ekonomi dan sebagainya. perkembangan area terbangun, dan lainnya Beberapa contoh batas delineasi secara dapat dengan mudah diidentifikasi menggunakan fungsional antara lain: IG. Melalui IG kita dapat memonitor fenomena • batas fungsional ekologis, seperti tersebut dari tahun ke tahun didukung dengan data yang memadai. Hasil monitoring tersebut keterkaitan dan kesamaan fungsi aliran selanjutnya dapat dijadikan sebagai bukti jika sungai, bentuk lahan, ekoregion, dan terjadi pelanggaran pemanfaatan ruang. sebagainya, • batas fungsional sosial, seperti keterkaitan6. Alat koordinasi antar stakeholder dan kesamaan etnis, bahasa, budaya dan Peta yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan sebagainya, pembangunan haruslah peta yang sudah • batas fungsional ekonomi, seperti menjadi kesepakatan semua pihak, serta telah keterkaitan dan kesamaan fungsi produksi, divalidasi oleh instansi yang berwenang. Dalam komoditas unggulan, potensi ekonomi penyusunan peta rencana tata ruang, data perdesaan, agropolitan, dan sebagainya. dasar yang digunakan harus mengacu pada IGD, serta IGT yang digunakan dalam analisis Selain pendekatan delineasi wilayah peta harus merupakan IGT yang dikeluarkan administrasi dan fungsional, juga dikenal oleh walidatanya. Apabila hal tersebut sudah delineasi yang berdasarkan pada kawasan dilaksanakan maka seluruh stakeholder akan strategis. Batas wilayah perencanaan kawasan bersepakat terhadap produk turunannya, seperti perdesaan ditentukan berdasarkan penetapan misalnya peta rencana tata ruang. kawasan strategis yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah, baik strategisPemetaan Tata Ruang Kawasan Perdesaan ekonomi, lingkungan, sosial budaya maupun teknologi dan pertahanan keamanan. Dengan1. Delineasi kawasan batas kawasan strategis, maka terdapat sebagian atau seluruh desa-desa yang masukKawasan perdesaan merupakan perpaduan dalam kawasan strategis. Penetapan batas perencanaan kawasan perdesaan dapatpembangunan antar-desa. Wilayah dilaksanakan dengan mekanisme hasil kajian dan penetapan oleh Pemerintah Daerahperencanaan dalam Penyusunan Rencana Tata berdasarkan prinsip partisipasi masyarakat desa.Ruang Kawasan Perdesaan dapat ditentukan 2. Skala petadengan pertimbangan administrasi, fungsional, Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013, Peta Rencana Tata Ruangdan kawasan strategis. Batas wilayah (RTR) Kawasan Perdesaan yang melingkupi wilayah satu kabupaten digambarkan padaperencanaan kawasan perdesaan berdasarkan skala minimal 1:10.000, sedangkan untuk kawasan perdesaan yang terdiri dari dua ataubatas-batas administrasi dapat dikategorikan lebih kawasan perdesaan dalam satu atau lebih wilayah provinsi digambarkan padamenjadi: skala minimal 1:50.000. Peta yang disajikan dalam skala lebih besar akan memperjelas• kawasan perdesaan terdiri dari beberapa rencana tata ruang yang akan disusun, tetapi membutuhkan data dasar pada skala yangdesa dalam satu kecamatan lebih detil serta hasil cetakan peta akan lebih banyak tergantung pada luas wilayah• kawasan perdesaan terdiri dari beberapa yang dipetakan. Pembagian skala peta dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.desa yang berada dalam lebih dari satukecamatan (antar desa antar kecamatan)dalam satu kabupaten, dan• kawasan perdesaan terdiri dari beberapadesa (antar desa) yang berada dalamkabupaten atau provinsi yang berbedaBatas wilayah perencanaan kawasan perdesaansecara fungsional ditentukan berdasarkanbatas-batas keterkaitan dan kesamaan fungsiantar desa-desa yang masuk didalamnya. Dalam9090 GGEOEOtatnagnkgaksaVsoVlo. 4l. 3- 2-0210817

Sorot NawacitaTabel 1. Kebutuhan Skala Peta RTR Kawasan PerdesaanNo. Kriteria Skala adalah sebagai berikut: minimal • Perairan (hidrografi) sebagai representasi1. Kawasan perdesaan lingkup 1 kabupaten 1:10.000 wilayah genangan atau aliran air; • Transportasi dan utilitas sebagai representasi2. Kawasan perdesaan lingkup lebih dari satu 1:50.000 jaringan penghubung aktivitas dan mobilitas kabupaten/provinsi buatan manusia; • Bangunan dan fasilitas umum sebagaiDalam pelaksanaannya, skala peta dapat bervariasi, representasi obyek yang digunakan manusiamisalnya untuk suatu kawasan perdesaan yang dalam beraktivitas;memiliki luasan yang kecil, dapat dipetakan pada • Penutup/penggunaan lahan sebagaiskala 1:5.000, atau kawasan perdesaan yang representasi zonasi obyek rupabumimemiliki luasan cukup besar, bisa dipetakan berdasarkan kriteria pemanfaatan/fungsipada skala 1:25.000 agar delineasi peruntukan lahan;ruang terpetakan dengan cukup jelas. Skala • Batas administrasi atau batas wilayah1:50.000 digunakan pada saat kawasan perdesaan perencanaan sebagai representasi areaditetapkan dengan luasan yang besar atau terdiri perencanaan;dari beberapa kabupaten/provinsi • Toponim sebagai representasi sebaran nama dan lokasi unsur geografis.3. Kebutuhan Informasi Geospasial Kebutuhan IG untuk pemetaan rencana tata ruang Sedangkan kebutuhan IGT dalam pemetaan rencana tata ruang kawasan perdesaan dapat dijabarkankawasan perdesaan dapat dikategorikan menjadi sebagai berikut:dua, yaitu IGD dan IGT. Kebutuhan IGD untukpemetaan rencana tata ruang kawasan perdesaan Tabel 2. Informasi Geografis Tematik (IGT) yang Diperlukan dalam Pemetaan RTR Kawasan Perdesaan No. Produk Peta RTR IGT yang Diperlukan 1 Batas wilayah perencanaan a. Batas desa Informasi batas desa (batas alam, batas kesepakatan, koordinat) b. Batas kawasan perdesaan Informasi batas desa Keterkaitan fungsional (jaringan jalan, ekonomi, sosial) 2. Tipologi wilayah c. Desa Karakteristik lingkungan geografis Karakteritik produksi d. Kawasan perdesaan Karakteristik lingkungan geografis 3. Penataan ruang Karakteritik produksi a. Pola ruang Tutupan lahan dan penggunaan lahan Kawasan lindung b. Struktur ruang Kawasan budidaya 1. Sistem permukiman (berdasarkan data klasifikasi RTRW) 2. Sistem jaringan Jumlah penduduk Bangunan dan permukiman C. Kegiatan strategis Sarana prasarana desa (pendidikan, kesehatan, ekonomi, peribadahan, kantor desa, dll) fasum dan fasos. Pusat perdesaan dan sub pusat perdesaan 9911 Jaringan jalan Jaringan irigasi Jaringan listrik Jaringan telepon/telekomunikasi Sarana transportasi Sistem hubungan ekonomi Strategis ekonomi (sentra produksi) Strategis lingkungan (rawan bencana dan konservasi) Strategis budaya (pusat budaya) GGEEOOttaannggkkaassVVool.l.34--22001178

Sorot Nawacita4. Produk Pemetaan Tata Ruang Kawasan Perdesaan Tujuan agar tergambarkan dengan jelas sistem Perencanaan Tata Ruang Kawasan Perdesaan hubungan dan keterkaitan fungsional antar desa atau antar bagian wilayah.sebagai bagian integrasi dari tata ruang wilayah secaraumum mengacu kepada dua substansi tata ruang b. Rencana Pola Ruangyaitu peruntukan fungsi pola ruang dan struktur Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruangruang. Selain itu penataan kawasan perdesaan harusdisesuaikan dengan kebijakan arahan pengembangan dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukandari rencana diatasnya dan juga disesuaikan dengan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruangkegiatan-kegiatan potensi perekonomian unggulan untuk fungsi budidaya yang meliputi kawasanyang ada di kawasan yang bersangkutan. Secara lindung perdesaan dan kawasan budidaya. Polasubstansional, output penataan kawasan perdesaan ruang kawasan perdesaan merupakan gambaranterdiri dari tiga bagian yaitu rencana struktur ruang, pemanfaatan ruang kawasan perdesaan, baik untukrencana pola ruang, dan kawasan strategis sesuai pemanfaatan yang berfungsi lindung maupundengan potensi dan tema perencanaan. budidaya yang bersifat strategis perdesaan, yang ditinjau dari berbagai sudut pandang akan lebiha. Rencana Struktur Ruang berdaya guna dan berhasil guna dalam mendukung Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat pencapaian tujuan pembangunan perdesaan.permukiman dan sistem jaringan prasarana dan c. Kawasan Strategis Perdesaansarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan Selain aspek struktur dan pola ruang kawasansosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkismemiliki hubungan fungsional. Dengan demikian, perdesaan, di dalam wilayah perencanaan jugarencana struktur ruang meliputi rencana sistem pusat dapat ditentukan wilayah strategis yaitu bagianpermukiman dan rencana sistem jaringan prasarana. areal kawasan perdesaan yang diprioritaskan dikarenakan memiliki pengaruh yang sangat Rencana struktur ruang wilayah perdesaan penting dalam pengembangan perdesaan baikmerupakan arahan perwujudan sistem permukiman karena pertimbangan ekonomi, sosial budaya,dalam wilayah perdesaan dan jaringan prasarana sumberdaya alam maupun lingkungan. Tipologiwilayah yang dikembangkan. Rencana struktur ruang areal strategis kawasan perdesaan diantaranya berdasarkan nilai strategis:kawasan perdesaan terdiri atas: • ekonomi perdesaana) Sistem permukiman perdesaan • sosial budaya • pelestarian sumberdaya alamb) Sistem pusat kegiatan ekonomi pedesaan • mempertahankan fungsi daya dukungyang terintegrasi dengan pusat pusat kegiatan lingkungan hidupdalam RTRW Provinsi/Kabupaten.c) Sistem jaringan prasarana dan sarana perdesaan, terdiri atas :• sistem prasarana dan sarana lingkungan d. Tantangan Pemetaan TR Kawasan perdesaan; Perdesaan• sistem jaringan energi dan kelistrikan; Tantangan dalam pemetaan rencana tata• sistem jaringan telekomunikasi; ruang kawasan perdesaan secara umum sama• sistem jaringan transportasi; dengan tantangan penyelesaian rencana umum• sistem jaringan sumber daya air; dan rencana detil saat ini, yaitu:• sistem penyediaan air minum; • ketersediaan IGD dan IGT, serta• sistem persampahan; • ketersediaan SDM di daerah• sistem jaringan air limbah;• sistem jaringan drainase;• penyediaan prasarana lainnya, berupa fasilitassosial dan fasilitas umum, jalur evakuasibencana. Dalam penyusunan rencana struktur ruangkawasan perdesaan juga dianalisis tentang pusatperdesaan dan wilayah belakangnya (Hinterland).9292 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817

Sorot Nawacita Tantangan lainnya yaitu terkait dengan partisipatif dengan lebih mengeksplorasi kebutuhanimplementasi rencana tata ruang kawasan perdesaan dan keinginan dari masyarakat desa. Inilah yangitu sendiri. Tentunya merupakan hal yang tidak menjadi ruh dalam perencanaan kawasan perdesaan.mudah untuk memastikan bahwa rencana tata ruangbenar-benar dipatuhi dan terimplementasi dengan baik. Hal tersebut disebabkan karena bervariasinya Kesimpulankondisi kawasan perdesaan di Indonesia. Adakawasan yang mengalami konversi lahan pertanian ke Penyusunan Pedoman Pemetaan Tata Ruangnon pertanian secara signifikan, dilain pihak ada juga Kawasan Perdesaan dimaksudkan untuk menjawabdesa yang terisolir dengan kualitas infrastruktur yang tantangan pembangunan kawasan saat ini yaitukurang memadai. belum adanya tata ruang yang khusus mengatur wilayah perdesaan. Pedoman ini diharapkan dapat Dalam aspek ketersediaan IGD dan IGT, sesuai menjadi masukan yang berarti terutama pada aspekdengan kebutuhan skala peta yaitu skala minimal pemetaan.1:10.000 sampai 1:50.000 masih belum memadai.Untuk skala 1:50.000 secara nasional relatif dapat IG diketahui memiliki manfaat yang pentingterpenuhi datanya, tetapi belum memenuhi aspek dalam penataan ruang, dari mulai alat untukkebaruan data, sedangkan untuk kebutuhan menginventarisir sumberdaya, delineasi bataspemetaan tata ruang diperlukan IGD yang terbaru. peruntukan, identifikasi konflik peruntukan ruang,IGD skala 1:10.000 belum tersedia merata secara alat bantu dalam analisis keruangan, monitoringnasional, karena kebijakan pemetaan sekarang lebih perubahan pemanfaatan ruang, hingga alat koordinasidifokuskan untuk pemetaan skala 1:5.000. Solusi lintas sektor. Melalui pendekatan IG diharapkanyang dapat digunakan sementara ini adalah data citra pembangunan perdesaan menjadi semakin jelas dansatelit, yang ketersediaannya masih belum mencakup terarah.seluruh wilayah Indonesia. IGD dan IGT mutlak dibutuhkan dalam pemetaan Selain kebutuhan IGD, hal yang tidak kalah rencana tata ruang kawasan perdesaan, mulaipenting adalah ketersediaan IGT. Pemerintah baru dari informasi dasar (rupabumi), data karakteristikmemprogramkan sinkronisasi data tematik pada lingkungan geografis sampai data jaringan prasarana,skala 1:50.000 melalui Kebijakan Satu Peta (KSP). semua digunakan dalam analisis pemetaan kawasanKSP diselenggarakan untuk IGT yang sudah tersedia, perdesaan.sementara beberapa IGT untuk pemetaan tataruang belum tercakup pada skala 1:50.000. Ini baru Tantangan keterbatasan ketersediaan IGT dapatberbicara pada aspek ketersediaan, sementara aspek dijawab dengan pendekatan partisipatif, sehinggakebaruan data masih jauh dari harapan. Kebutuhan analisis perencanaan tidak hanya menggunakanidealnya adalah tersedianya IGT dalam skala besar data karakteristik wilayah tetapi juga menggunakanyang update. masukan partisipatif dari masyarakat. Ketika pendekatan spasial yang bersifat bottomup masih belum bisa menjawab kebutuhan pemetaantata ruang perdesaan, maka aspek partisipatif bisa jadimenjadi jawabanya, dimana kebutuhan untuk analisisIGT dapat diganti dengan pemetaan dan perencanaan Penulis adalah Surveyor Pemetaan Pertama, BIGDaftar PustakaUndang – undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang DesaUndang – undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pemerintahan DaerahLutfi Muta’ali. 2016. Pengembangan Wilayah Perdesaan (Perspektif Keruangan). Badan Penerbit Fakultas Geografi. GGEEOOttaannggkkaassVVooll..34--22001178 9933

Sorot Nawacita“Integrasi Pemetaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Dengan Rencana Zonasi Wilaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil”Oleh : Chintia Dewi Pengertian istilah ruang dalam Undang-undang kekeliruan, kesalahan, dan tumpang tindih perijinan(UU) Nomor 26 Tahun 2007 adalah ruang darat, antar kawasan. Diharapkan pada mendatangruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam permasalahan-permasalahan mendasar akibatbumi. Mengingat cakupan ruang tersebut maka perbedaan sumber acuan peta dasar diharapkanrencana tata ruang yang disusun seharusnya bukan dapat terselesaikan dengan mengacu pada UUhanya mempertimbangkan ruang darat saja tetapi Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial.juga ruang laut dan udara sebagai suatu kesatuan.Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Kajian mengenai integrasi informasi geospasial/Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang pemetaan RTRW dengan RZWP3K diharapkan dapatkemudian diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014, mengetahui tingkat harmonisasi antara ruang darat,mewajibkan pemerintah dan pemerintah daerah pesisir dan laut, termasuk pulau-pulau kecil. Kajianmenyusun rencana pengelolaan pesisir dan pulau- pemodelan spasial dan harmonisasinya dilakukan dipulau kecil. Kedua peraturan tersebut mengatur tata delapan provinsi yaitu Lampung, DKI Jakarta, Banten,ruang yang selaras dan terintegrasi, terutama ruang Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantandarat dan laut secara terpadu. Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat. Kajian dilakukan pada provinsi tersebut khususnya di Rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kabupaten/kota yang berada di wilayah pesisir.kecil (RZWP3K) merupakan implementasi nyata tataruang terutama di laut. Rencana ini menentukan Secara umum terdapat tiga tahapan dalamarah penggunaan sumberdaya tiap-tiap satuan melakukan pemodelan spasial integrasi pemetaanperencanaan disertai dengan penetapan kawasan RTRW dengan RZWP3K yaitu integrasi, sinkronisasipemanfaatan umum, kawasan strategis nasional serta harmonisasi. Uraian secara teknis sebagaitertentu, alur laut, dan lain sebagainya pada kawasan berikut:perencanaan. Didalamnya memuat kegiatan yang 1. Melakukan analisis integrasi muatan informasiboleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan sertakegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah geografis (geometrik, topologi, klasifikasimemperoleh izin. Area peraturan dalam RZWP3K dan toponimi) antar tingkat rencana tataberdasarkan kesepakatan antar kementerian/ ruang, dalam hal ini RTRW Provinsi dan RTRWlembaga merupakan wilayah laut sejauh 12 mil dari Kabupaten/Kota.garis pantai. 2. Melakukan sinkronisasi muatan IG peta RTRW Provinsi dengan peta RTRW Kabupaten dan Demi mewujudkan tujuan penataan ruang yang Kota dalam format GIS serta menstandarkanaman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan, maka basis data RTRW Kabupaten dan Kota tersebutdiperlukan harmonisasi antara rencana tata ruang kedalam format seamless berbasis spasial.wilayah (RTRW) dengan RZWP3K. Salah satunya 3. Melakukan analisis harmonisasi antara RZWP3Kmelalui pemodelan data spasial. Harmonisasi melalui dengan peta rencana tata ruang yang sudahbentuk model data spasial dapat menampilkan seamless.berbagai macam potensi dan keunggulan di masing-masing wilayah secara informatif dan berbasiskeruangan sehingga dapat mempermudah prosesanalisis. Informasi geospasial berperan menghindari94 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 94 GEOtangkas Vol. 3 - 2017

Sorot NawacitaDokumen Tertulis RTRW Dokumen Tertulis RZWP3K Persandingan (Matriks) Peta RTRW Persandingan Pengkelasan: Matrik Persandingan Peta Perbandingan Peta RZWP3K 1. Saling menguntungkan RTRW dan RZWP3K 2. Saling Lepas 3. Terindikasi Konflik/ Pengecekan data dalam Bermasalah SpasialPengkelasan:4. Saling menguntungkan Peta Tentatif Harmonisasi5. Saling Lepas RTRW dan RZWP3K6. Terindikasi Konflik/Bermasalah ANALISA (Klasifikasi & Konfirmasi daerah, masukan dan analisa tenaga ahli) Kajian Harmonisasi RTRW dan RZWP3KGambar 1. Flow Chart Kajian Integrasi RTRW dengan RZWP3KPemodelan Integrasi RTRW dengan RZWP3K Gambar 2. Pemodelan Integrasi RTRW dengan RZWP3K GEOtangkas Vol. 3 - 2017 95 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 95

Sorot Nawacita SEAMLESS Peta Seamles Proses Integrasi informasi geospasial (Geometri, Topologi,1. Naskah Perda sehingga menjadi satu kesatuan peta Toponimi,2. Lampiran Perda yang utuh dan Klasifikasi3. Album Peta4. Informasi Geospasial dalamFormat SHP RTRW Provinsi Gambar 3. Metodologi SeamlessRTRW Kabupaten RTRW Kota RZWP3K1. Naskah Perda SEAMLESS Peta Sinkronisasi2. Lampiran Perda Proses Integrasi informasi Matriks3. Album Peta geospasial sehingga menjadi satu4. Informasi Geospasial dalam kesatuan peta yang utuh PerbandinganFormat SHP Sinkronisasi Proses pengaturan dan RTRW Provinsi penyeragaman alokasi pemanfaatan RTRW Kabupaten ruang dari skala yang berbedaRTRW Kota RZWP3K Gambar 4. Metodologi Sinkronisasi96 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 96 GEOtangkas Vol. 3 - 2017

Sorot NawacitaGambar 5. Metodologi Harmonisasi Integrasi Peta RTRW merupakan suatu proses Meskipun penentuan pola ruang merupakanpenggabungan atau penyatuan data-data spasial kewenangan masing-masing pemerintah kabupaten/(peta-peta) RTRW. Peta RTRW meliputi peta pola kota, tetapi diharapkan antar kabupaten/kota jugaruang, struktur ruang, dan kawasan strategis. tetap saling berkoordinasi dalam pengambilanAdapun peta RTRW yang digabungkan adalah peta kebijakan terkait pengelolaan tata ruang dipola ruang, struktur ruang, dan kawasan strategis perbatasan. Dalam beberapa kasus yang ditemukanmasing-masing kabupaten/kota dari delapan provinsi pada daerah yang berbatasan, terdapat beberapayang menjadi lokasi kajian. Dalam melakukan proses kondisi antara lain saling menguntungkan satuintegrasi diperlukan proses koreksi terlebih dahulu sama lain, saling lepas (tidak berdampak apapun)karena kondisi data spasial masing-masing daerah serta memiliki indikasi konflik (masalah). Sebagaimemiliki masalah berbeda-beda sehingga tidak dapat contoh perbatasan Kabupaten Pemalang dengandigabungkan secara langsung. Permasalahan yang Kabupaten Pekalongan, terdapat peruntukanditemukan antara lain perbedaan aspek geometrik, kawasan hutan produksi terbatas yang berbatasanpenamaan atribut serta klasifikasi, sistem proyeksi, dengan kawasan hutan lindung. Pada kondisitopologi (Overlap dan Gap) pada peta rencana pola tersebut maka direkomendasikan agar ada peraturanruang, struktur ruang serta kawasan strategis. pengendalian ketat yang bertujuan agar delineasi batas hutan produksi tetap terjaga dan pembatasan Selain permasalahan teknis perpetaan, juga pemanfaatan hutan produksi harus diawasi supayaterdapat beberapa masalah yang terkait dengan tidak merambah dan merusak hutan lindung.substansi alokasi pemanfaatan ruang. Hal iniberkaitan dengan pertemuan dua peruntukan Pada kasus Kabupaten Serang dengan Kotayang kontras yaitu kawasan lindung dan kawasan Cilegon terdapat zona industri yang berdampinganbudidaya, terutama ditemukan pada wilayah dengan kawasan yang memberikan perlindunganbatas dua kabupaten. Kawasan lindung sendiri terhadap kawasan di bawahnya (kawasan resapanberdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 merupakan air). Untuk kasus ini diperlukan upaya peninjauanwilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama kembali peruntukan wilayah tersebut karenamelindungi kelestarian lingkungan hidup yang kawasan industri akan menghalangi fungsi kawasanmencakup sumberdaya alam dan sumber daya yang memberikan perlindungan terhadap kawasanbuatan, sedangkan kawasan budidaya merupakan di bawahnya (kawasan resapan air). Selain indikasiwilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk yang berpotensi konflik serta saling menguntungkan,dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber juga terdapat pemanfaatan yang saling lepas (tidakdaya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya berdampak apapun).buatan.GEOtangkas Vol. 3 - 2017 97 GEOtangkas Vol. 4 - 2018 97

Sorot Nawacita Kasus ini terjadi di Kabupaten Tanah Laut dan pengaturan RTRW dibawahnya (RTRW Kabupaten/Kabupaten Tanah Bumbu terdapat sempadan sungai Kota) secara spasial maupun substansinya.yang berbatasan dengan kawasan perikanan. Haltersebut tidak saling memberikan dampak apapun. Hasil kajian menyebutkan proses sinkronisasi rencana pola ruang dan struktur ruang RTRW Provinsi Setelah dilakukan integrasi antar kabupaten/ dengan RTRW Kabupaten/Kota sudah terakomodirkota, proses selanjutnya adalah melakukan dengan baik. Namun masih terdapat beberapasinkronisasi antara Peta Rencana Pola Ruang serta catatan, misalnya untuk RTRW Provinsi LampungPeta Rencana Struktur Ruang RTRW Provinsi dengan terdapat perbedaan antara arahan peruntukanRTRW Kabupaten/Kota dibawahnya. Secara umum, terminal dalam RTRW Provinsi Lampung denganproses sinkronisasi ini betujuan untuk melakukan arahan peruntukan pada RTRW Kabupaten/Kota.identifikasi arahan struktur ruang atau pola ruang RTRW Provinsi Lampung menyebutkan terdapatyang terdapat dalam RTRW Provinsi dipastikan arahan terminal tipe A, namun tidak diakomodirterakomodir di dalam RTRW Kabupaten/Kota. dalam RTRW Kabupaten/Kota yaitu: terminalBegitu pula mengenai arahan yang terdapat dalam Rajabasa di Kota Bandar Lampung, yang berada diRTRW Kabupaten/Kota apakah sudah sesuai dengan Kecamatan Bakauheni serta Terminal Rejosari diarahan dalam RTRW Provinsi berdasarkan peraturan Kecamatan Natar. Pada rencana pola ruang terdapatdaerah (Perda) terbaru mengenai RTRW masing- beberapa ketidaksesuaian misalnya untuk kawasanmasing daerah. peruntukan hutan rakyat Kabupaten Serang tidak diakomodir dalam RTRW Provinsi Banten, antara Sinkronisasi struktur ruang dilakukan untuk lain: Kecamatan Gunung Sari, Waringin Kurung,mengidentifikasi konektivitas antar pusat-pusat Kramatwatu, Ciomas, Padarincang, Mancak,kegiatan baik dalam skala provinsi maupun Cinangka, Bojonegara, dan Puloampel. Dalamkabupaten/kota. Aktivitas ini juga mengidentifikasi RTRW Provinsi Banten, area tersebut diperuntukkankesesuaiannya dengan hierarki struktur ruang kota sebagai kawasanserta mengidentifikasi lokasi sarana prasarananya.Hasil identifikasi diharapkan dapat menjawab Setelah melewati proses seamless, integrasiapakah sudah sesuai dengan arahan spasial yang dan sinkronisasi, langkah selanjutnya adalahtelah diuraikan sebelumnya, yaitu untuk kawasan melakukan proses harmonisasi RZWP3K denganyang dikendalikan seharusnya tidak dikembangkan RTRW yang diawali dengan menyandingkansarana prasarana yang akan memicu perkembangan informasi geospasial alokasi ruang laut dengansuatu kawasan. Sebaliknya untuk kawasan yang alokasi ruang darat. Berdasarkan persandingan inididorong/dikembangkan seharusnya didukung kemudian dilakukanlah tinjauan hubungan alokasidengan pengembangan sarana prasarana yang ruang darat dan ruang laut yang berdampinganmemadai. untuk setiap provinsi dengan memperhatikan tipikal zona, intensitas, dan sebab-akibat. Ketiga Sinkronisasi pola ruang dilakukan untuk tinjauan ini kemudian diilustrasikan melaluimendetailkan informasi pola ruang dalam RTRW diagram pemetaan hubungan ruang dan jugaProvinsi ke dalam arahan pola ruang dalam RTRW lokasi rinci pada peta persandingan. Hasil tinjauanKabupaten/Kota. Skala peta pola ruang RTRW ini lalu dianalisa berdasarkan empat aspek, yaituProvinsi yaitu strategis, prosedural, teknis, dan substantif. Empat aspek sudut pandang yang digunakan dalam kajian 1 : 250.000 sehingga informasi pola ruang dijabarkan sebagai berikut:yang dimuat tidak terlalu detail. Selain itu arahandalam batang tubuh Perda RTRW Provinsi mengenai 1. Aspek Strategispola ruang hanya menyebutkan sampai tingkat Tinjauan permasalahan yang terjadi darikabupaten/kota saja. Untuk itu perlu didetailkandengan arahan pola ruang dalam Perda RTRW aspek strategis salah satunya adalah perubahanKabupaten/Kota maupun peta pola ruang RTRW PerMen KP No. 34/2014 menjadi No. 23/2016.Kabupaten/Kota pada skala 1 : 50.000. Pendetailanini akan berguna dalam melakukan proses integrasiRTRW dengan RZWP3K agar dapat meminimalisirterjadinya bias pada skala peta yang lebih besar.Selain itu juga untuk mengetahui kesinambunganantara pengaturan RTRW di tingkat provinsi dengan9898 GEGOEtOantagnkgaksaVsoVl.o4l.-32-0210817


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook