Candi Plaosan Lor berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama. Setiap candi utama berdiri di atas kaki setinggi sekitar 60 cm tanpa selasar yang mengelilingi tubuhnya. Tangga menuju pintu dilengkapi dengan pipi tangga yang memiliki hiasan kepala naga di pangkalnya. Bingkai pintu dihiasi pahatan bermotif bunga dan sulur-su- luran. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala tanpa rahang bawah. Sepan- jang dinding luar tubuh Candi Plaosan Lor kedua candi utama dihiasi 07044’ 26” LS 110030’ 16” BT Candi Plaosan Lor adalah oleh relief yang menggam- candi Buddha yang didirikan barkan laki-laki dan perem- pada masa Mataram kuno. puan yang sedang berdiri Tidak berbeda dengan Candi dalam ukuran yang Plaosan Kidul, candi ini mendekati ukuran manusia Utara dibangun pada awal abad ke- sesungguhnya. Relief pada Arah hadap candi 9 oleh Raja Rakai Pikatan. dinding candi yang di selatan Candi ini dibangun dan men- menggambarkan laki-laki, jadi persembahan Raja Rakai sedangkan pada candi yang di Pikatan untuk permaisurinya, utara menggambarkan Pramodhawardani yang perempuan. memiliki gelar Sri Kahulu- Saat ini, kondisi Candi nan. Pramodhawardani Plaosan Lor cukup terawat. sendiri adalah putri dari Raja Usaha untuk membangun Samarattungga. kembali reruntuhan candi Komplek Candi Plaosan masih berjalan. Selain itu, Lor terdiri atas 2 candi utama pemberian informasi pen- yang dikelilingi oleh pagar dukung dan penjagaan atas batu. Masing-masing candi lingkungan candi juga cukup dikelilingi oleh 174 candi per- baik. Wisatawan domestik wara, yang terdiri atas 58 dan mancanegara juga cukup candi kecil dengan denah banyak yang berkunjung, dasar persegi dan 116 bangun khususnya mereka yang ter- an stupa. Tujuh candi tarik akan situs dan arsitek- berbaris di masing-masing tur budaya masa lampau. sisi utara dan selatan setiap candi utama, 19 candi Formasi Ruang Candi Plaosan dan Perwaranya | |60 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG
Candi Plaosan Kidul Tulisan di batu Candi Plaosan Kidul Candi Plaosan Kidul Arah hadap candi 07044’ 33” LS 110030’ 16” BT Utara Komplek Candi Plaosan merupakan Candi Plaosan Kidul candi Buddha yang didirikan pada masa Mataram kuno, tepatnya abad | |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 61 ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan. Candi ini merupakan persembahan raja Rakai Pikatan untuk permaisurinya, Pramodhawardani. Candi ini memiliki teras berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh din ding, tempat bertapa/semedi berupa gardu yang terletak dibagian barat, serta stupa disisi lainnya. Candi Plaosan Kidul juga memiliki pendopo di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi kecil yang terbagi menjadi 2 tingkat dan tiap-tiap tingkat terdiri dari 4 candi. Pada candi ini terdapat gambaran Tathagata Amitbha, Vajra- pani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai \"ibu dari semua Buddha\". Candi Plaosan Kidul
Candi Lumbung Candi Lumbung Candi Lumbung terletak lebih ku- 07044’ 53” LS rang 300 meter di sebelah utara Candi 110029’ 34” BT Prambanan. Berbeda dengan Candi Prambanan yang merupakan candi Candi Lumbung Hindu, Candi Lumbung adalah candi Buddha. Hal ini diketahui dari bentuk | |62 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG atap candi perwara yang berbentuk seperti stupa sehingga diperkirakan atap candi utama yang saat ini telah runtuh pun berbentuk stupa. Berdampingannya candi Hindu dan Buddha memperlihatkan telah adanya toleransi beragama yang cukup kuat pada masa itu. Candi Lumbung diperkirakan dibangun pada abad ke-9 di masa Kerajaan Mataram Kuno. Bangunan candi yang terbuat dari material batu kali terdiri atas 1 candi utama yang dikelilingi oleh 16 candi perwara. Selu- ruh candi perwara menghadap candi utama. Candi utama memiliki luas denah dasar 350 m2. Keempat sisi pada bagian luar candi utama dihiasi oleh pahatan-pahatan gambar lelaki dan perempuan. Ukuran pahatan tersebut hampir sama dengan kenyataan. Selain pahatan, pada dinding luar di sisi barat, utara, dan selatan terdapat juga relung untuk meletakkan arca Dhyani Buddha dengan jumlah relung 3 buah pada masing-masing sisi. Namun, saat ini, relung-relung tersebut kosong. Gambar pada dinding yang mengapit pintu masuk adalah Kuwera dan Hari- ti. Untuk memasuki candi utama, terse- dia tangga dan pintu masuk yang terletak di sisi timur. Kondisi candi saat ini cukup tera- wat. Meskipun candi utama sudah tidak utuh lagi dan candi perwara juga runtuh akibat gempa bumi yang me- landa Yogyakarta dan sekitarnya pada Mei 2006, namun usaha untuk mem- bangun kembali candi-candi tersebut tetap dilaksanakan. Selain itu, usaha- usaha pelestarian candi juga dilakukan. Hal ini dikarenakan candi ini termasuk salah satu objek yang cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan dan lokasi candi yang berada satu kompleks de- ngan Candi Prambanan.
Candi Bubrah Candi Bubrah Bubrah dalam bahasa Jawa berarti hancur be- rantakan. Kondisi inilah yang terjadi pada saat candi ini ditemukan. Meskipun demikian pem- berian nama bubrah itu sendiri masih kurang jelas. Apakah karena kondisinya yang hancur atau memang begitulah namanya. Candi Bubrah merupakan candi Buddha yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 di masa Kerajaan Mataram Kuno. Dilihat dari sisa ba ngunan, ukuran candi relatif kecil dengan bentuk persegi panjang, memanjang dari utara ke sela- tan. Tinggi kaki candi (batur) lebih kurang 2 meter dan sepanjang pelipit atas dihiasi oleh pa- hatan berpola simetris. Tangga naik ke selasar terletak disebelah timur. Dalam kompleks wisata Prambanan, candi ini terletak lebih kurang 200 meter dari Candi Lum- bung. Tidak berbeda dengan Candi Lumbung, candi inipun sepi pengunjung karena para wisa- tawan banyak terkonsentrasi di Candi Pram- banan. Kondisi candi yang hanya tinggal reruntuhan menyurutkan minat pengunjung untuk dating. Usaha untuk membangun kembali candi ini pun tidak maksimal karena keter- batasan referensi sejarah tentang struktur asli candi ini. Usaha pelestarian lebih terlihat pada melindungi batu-batuan sisa candi dari pela- pukan alam. Candi Bubrah 07044’ 47” LS 110029’ 34” BT | |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 63
Candi Merak Candi Merak merupakan candi Hindu Desa Candi, Karangnongko yang dibangun pada abad VIII-IX Masehi Klaten pada masa Kerajaan Mataram kuno. Candi terdiri atas 1 candi induk, 3 candi Candi Merak perwara. Candi ini memiliki ukuran pan- jang 8,86 meter, lebar 13,5 meter, dan Kompleks Candi Merak tinggi 12 meter. Arca yang dapat dite- 07040’ 10” LS mukan di lokasi ini adalah Yoni, arca 110033’ 12” BT Ganesha, dan arca Durga Mahisasura- mardhini. Selain itu juga terdapat Nandi serta arca dewa-dewa lain dalam agama Hindu. Nama Merak itu sendiri diduga terkait banyaknya sarang burung Merak yang ada ditempat ini. Candi ini telah mengalami pemugaran beberapa kali, yaitu pemugaran bagian kaki dan tubuh dilaksanakan pada tahun 2007 dan 2010 sedangkan pemugaran bagian atap dilakukan pada tahun 2011. Pemugaran dilakukan dengan mengganti batu-batu penyusun candi yang sudah lapuk atau rusak dengan batu. Kondisi candi saat ini sangat terawat. Lingkungan dipercantik dengan taman dan dijaga oleh petugas juru pelihara. Candi Merak | |64 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG
Candi Karangnongko Kompleks Candi Karangnongko 07041’ 48” LS 110034’ 36” BT Candi Karangnongko ditemukan pada tahun 1970-an. Dilihat dari posisi candi de ngan permukaan tanah disekitarnya, candi ini terkubur lebih kurang 1 meter dibawah per- mukaan tanah. Berada ditengah persawahan, candi ini diidentifikasi sebagai candi Hindu karena ditemukan Lingga pada bagian candi induk. Selain itu, juga ditemukan reruntuhan batuan penyusun candi perwara. Tidak jauh dari candi ini, terdapat sumber mata air yang oleh penduduk setempat disebut dengan Sumur Bandung. Pada dasar mata air ini terdapat susunan-susunan batu yang menyerupai kolam zaman dulu. Candi inipun berlokasi tidak jauh dari sungai. Sungai ini di- identifikasi sebagai sumber mata air penduduk kala itu. Saat ini, kondisi candi cukup terawat den- gan adanya seorang petugas pembersih yang membersihkan dan memelihara taman diseki- tar candi. Kontras dengan kondisi itu, usaha untuk eskavasi tubuh candi lainnya belum juga dilakukan sehingga masih banyak rahasia masa lalu yang diduga terubur disana. Salah satu sudut Candi Karangnongko | |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 65
Candi Gana Kompleks Candi Gana Stupa Candi Gana Relief di Candi Gana Candi Gana Candi Gana atau disebut juga Candi Asu ter- Candi Sewu letak disebelah timur kompleks Candi Sewu. Lokasi Candi Gana Pada awalnya, candi ini disebut Candi Asu. Dalam bahasa Jawa, Asu berarti anjing. Konon, banyak anjing yang berkeliaran diwilayah candi ini pada masa pra pemugaran. Akibatnya, petu- gas pada masa itu harus membersihkan banyak kotoran anjing yang berserakan. Perubahan nama menjadi Candi Gana dise- babkan banyak ditemukannya hiasan gana yang menggambarkan orang kerdil. Candi ini juga memiliki relief-relief unik seperti pola-pola me lingkar, relief seorang putri yang dilingkari be- berapa ekor ular, dan relief kaki binatang, kaki singa atau kaki anjing. Candi Gana merupakan candi Hindu. Meskipun demikian, candi ini memiliki karak- teristik seperti candi Buddha. Hal ini terlihat dari ditemukannya sisa bangunan berbentuk stupa yang berada di sudut bangunan candi. Saat ini, candi masih berada dalam masa pe- mugaran. Petugas masih mencocokan batu-batu- an penyusun candi. Selain itu, masih akan dilaksanakan usaha eskavasi untuk menemukan bangunan-bangunan candi lainnya. Diperki- rakan masih ada bangunan candi yang tertimbun dibawah rumah-rumah penduduk. | |66 Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG
Candi Sojiwan Candi Sojiwan merupakan salah satu candi yang stupa. Bagian puncak candi diberi mahkota stupa dibangun pada masa Mataram Kuno, yaitu abad yang besar. VIII – X Masehi, lebih tepatnya antara tahun 842 – Candi ini telah mengalami proses pemugaran 850 M. Candi ini dibangun sebagai bentuk peng- yang dimulai pada tahun 1996 sampai 2006. Untuk hormatan dari Raja Balitung kepada sang nenek, mengantisipasi kejadian gempa yang tidak terduga, yang bernama Nini Haji Rakryan Sanjiwana. Candi struktur bangunan candi menggunakan batu an- ini sendiri merupakan bangunan suci yang harus desit yang diperkuat dengan angkur besi serta ma- dijaga kelesatriannya oleh warga sekitar karena terial penguat antar batu. Selama proses Sang Nenek telah berjasa melakukan perbaikan di pemugaran, dilakukan juga kegiatan penelitian Desa Rukam. Hal ini tersebut dalam Prasasti arkeologis hingga ditemukannya struktur parit ke- Rukam yang berangka tahun 907 Masehi. liling, struktur pagar halaman I sisi utara dan Luas kompleks Candi Sojiwan adalah 8.140 m2 timur, struktur pagar halaman II sisi utara, serta dan hanya ada satu bangunan candi. Dimensi ba struktur candi perwara stupa pada halaman II sisi ngunan candi adalah 401,3 m2 dengan tinggi 27 utara. meter. Candi menghadap kearah barat. Pada kaki Lingkungan candi sangat terawat. Lokasi candi candi ditemukan relief yang berkisah tentang juga cukup banyak diminati oleh wisatawan asing satwa Jataka. Tubuh candi berukir sulur-sulur dan domestik sehingga diperlukan penjagaan dan namun dikarenakan banyak batu yang hilang maka perawatan ekstra untuk memelihara keasrian batu pengganti polos yang dipasang. Didalam ru- lingkungan candi. angan bilik hanya relung dan singgasana yang aslinya mungkin menyimpan arca Buddha atau Boddhisatwa yang kini sudah hilang. Satu arca Buddha yang telah rusak dan hilang kepalanya ditemukan di candi ini dan kini tersimpan di pos penjagaan candi. Atap candi bersusun tingkat tiga. ana Pada masing-masing tingkat ini terdapat jajaran Kompleks Candi Sojiwan Kompleks Candi Sojiwan 07045’ 40” LS 110029’ 45” BT Desa Kebondalem Kidul, Prambanan Candi Sojiwan | |Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) BIG 67
PETA SEBARAN CANDI KABUPATEN KARANGANYAR 68 | Atlas Budaya Indonesia (Edisi Candi) | BIG 7°2700LS Ke Purwodadi 110°50' 111°00' 111°10' 7°2700LS 110°4400BT U 111°1300BT Bengawan Solo Kalioso KABUPATEN SRAGEN Gondangrejo Ke Sragen Skala 1 : 200.000 0 KABUPATEN 0 24 8 Km BOYOLALI 12 4 Cm Kebakkramat Kebaksambi Ke Surakarta Kerjo PROPINSI Mojogedang JAWA TIMUR KOTA SURAKARTA Tasikmadu Karangpandan Jenawi KARANGANYAR Matesih Ke Surakarta Jaten Ketek 7°35' Cetho 7°35' Ngargoyoso Sukuh G. Lawu 3265 KABUPATEN Tugu SUKOHARJO LEGENDA : Ke Magetan 7°45' Candi Sungai Jumantono Tawangmangu 2329 Gunung Berapi KABUPATEN Ibukota Kabupaten Jumapolo Jatiyoso WONOGIRI dan Kota / Tinggi (m) Jatipuro Ibukota Kecamatan Kota Lainnya Ketinggian Jalan Kolektor Jalan Lokal 0 - 100 m Jalan Kereta Api 101 - 200 m Batas Provinsi 201 - 500 m 501 - 1000 m Batas Kabupaten 1001 - 1500 m dan Kota 1501 - 2000 m 2001 - 2500 m > 2501 m 7°45' 110°4400BT 111°1300BT 7°4730LS 110°50' 111°00' 111°10' 7°4730LS
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176
- 177