KISI-KISI UJIAN PENGETAHUAN BATCH 3 TAHUN 2022 UIN SALATIGA
1. Konsep ulum al-quran. Disajikan deskripsi beberapa pengertian Ulumul Quran menurut para pakar, mahasiswa dapat menyimpulkan pengertian Ulumul Quran yang paling lengkap dari definisi yang ada Jawab������ Dapat disimpulkan bahwa makna Ulum al-Quran ialah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kajian AlQuran seperti ilmu tata cara membaca Al-Quran, ilmu sejarah turunnya Al-Quran, ilmu tartib al-Kitabah dan tartib al-Tilawah (urutan penulisan), ilmu sejarah penghimpunan Al-Quran dari masa nabi Muhammad Saw. sampai masa ‘Usman bin ‘Affan. 2. Disajikan narasi tentang sejarah penulisan Alquran sebelum pembukuan,mahasiswa dapat menentukan pilihan yang benar sebagai pengusul pembukuan al-qura'n pertama Jawab������ Sepeninggal Rasulullah SAW, barulah upaya untuk mengumpulkan tulisan-tulisan yang berisikan ayat-ayat Alquran mulai dilakukan. Hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Khalifah Abu Bakar atas usulan Umar bin Khattab. 3. Disajikan deskripsi terkait definisi wahyu, ilham dan ta’lim, mahasiswa dapat membandingkan rusng lingkup dan perbedaan nya dari ketiga konsep Jawab������ Ada perbedaan antara wahyu, ilham, dan ta’lim. Wahyu adalah sebuah isyarat yang cepat atau pemberitahuan secara sembunyi-sembunyi dan cepat yang khusus ditunjukan kepada orang-orang yang menerimanya dan tanpa diketahui orang lain. Ilham adalah penyampaian suatu makna, fikiran atau hakikat di dalam jiwa atau hati yang meminta supaya dikerjakan oleh orang yang menerimanya. Ta’lim adalah memberikan pelajaran dan harus bersandarkan pengetahuan melalui proses pembelajaran . 4. Disajikan beberapa tahapan nuzul Alquran, mahasiswa menjabarkan tahapan Nuzulul Quran yang benar Jawab������ Para ulama membagi proses penurunan Al-Quran menjadi tiga tahapan, yaitu: (1) ke lauhul Mahfuz , (2) dari lauhul mahfuzh ke baitul izzah di langit dunia, dan (3) dari baitul izzah kepada Nabi Muhammad Saw. 5. Disajikan deskripsi yang menggambarkan asbab nuzul al-quran, mahasiswa dapat menentukan kegunaan asbab nuzul al-quran berdasarkan ilmu al-Quran; Jawab������ Kegunaan ilmu Asbab al-Nuzul: a. membantu memahami ayat dan dapat menghilangkan kekeliruan pemahaman seorang mufassir b. mengetahui hikmah dibalik pemberlakuan sebuah hukum c. membatalkan kebiasaan buruk dan akhlak jelek yang mendominasi masyarakat jahiliyah
d. menghilangkan keraguan seseorang yang memahami ayat hanya dari sisi zhahir semata . 6. Disajikan narasi terkait asbab nuzul suatu ayat atau surah, mahasiswa dapat memperjelas/ memaknai isi kandungan ayat tersebut berdasarkan kaeda Jawab������ Kaidah-kaidah dalam menerapkan ilmu Asbab al-Nuzul: a. jika ayat yang diturunkan bersifat khusus dan hanya terkait dengan konteks (sebab) penurunannya serta redaksi ayatnya tidak bersifat umum, maka ayat tersebut hanya berlaku untuk dan pada konteks (sebab) yang melatarbelakangi penurunan ayat tersebut. Atau dengan bahasa lain, kaidah yang tepat diterapkan dalam konteks ini adalah al-ibrah bi khushush al-sabab la bi umum al-lafzhi b. jika penyebab penurunan ayat bersifat khusus tapi redaksi ayatnya umum, maka menurut mayoritas ulama kaidah yang paling cocok diterapkan dalam konteks ini adalah al-ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khushush alsabab (penetapan hukum ditetapkan berdasarkan keumuman lafazh (redaksi ayat) bukan berdasarkan konteks yang menyebabkan diturunkannya ayat) . 7. Disajikan deskripsi terkait pengertian surah atau ayat Makkiyah dan Madaniyyah, mahasiswa menilai perbedaan orientasi dan kandungan surah atau ayat Makkiyah dan Madaniyyah Jawaban : Madaniyah Makkiyah a. berisi nida َاي أاُيّ اهاس a. berisi nida َايأاُيّهال ِذيْ ان أاامن ْو b. di dalamnya terdapat lafal “kalla” b. memuat hukum pidana (hudud) (Dalam seluruh al-Alquran, lafal dalam Q.S. al-Baqarah, Q.S. an-Nisa’, tersebut terdapat 33 kali dalam 25 Q.S. al-Maidah, Q.S. ash-Shura, dan surah di bagian akhir Mushaf pada ayat-ayat lain Ustmani) c. memuat hukum fara’id (Q.S. al- c. di dalamnya terdapat ayat-ayat Baqarah, Q.S. an-Nisa’, Q.S. al- sajdah Maidah) d. diawali dengan huruf-huruf tahajji d. berisi izin jihad fi sabilillah (Q.S. al- seperti فdan ق Baqarah, Q.S. al-Anfal, Q.S. at- e. memuat kisah para nabi dan umat- Taubah, Q.S. al-Hajj) umat terdahulu e. berisi keterangan tentang karakter f. di dalamnya terdapat cerita tentang orang-orang munafiq (kecuali Q.S. al- Ankabut) dalam Q.S. an-Nisa, Q.S. al- kemusyrikan Anfal, Q.S. at-Taubah, Q.S. al-Ahzab, g. di dalamnya terdapat keterangan Q.S. al-Fath, Q.S. al-Hadid, Q.S. al- adat istiadat orang kafir, orang Munafiqun, Q.S. at-Tahrim) musyrik, orang yang suka mencuri, f. berisi hukum ibadah (Q.S. al- merampok, membunuh, mengubur Baqarah, Q.S. al-Imran, Q.S. an-Nisa’,
hidup-hidup anak perempuan, dan Q.S. al-Maidah, Q.S. al-Anfal, Q.S. at- sebagainya Taubah, Q.S. al-Hajj, Q.S. an-Nur, dll) h. isinya memberi penekanan masalah g. berisi hukum muamalah seperti jual tauhid atau akidah beli, sewa-menyewa, gadai, utang- i. kebanyakan ayat dan suratnya piutang, dan sebagainya (Q.S. al- pendek. Baqarah, Q.S. al-Imran, Q.S. an-Nisa’, Q.S. al-Maidah, dll) h. berisi hukum munakahat, baik mengenai nikah cerai rujuk, hadanah (Q.S. al-Baqarah, Q.S. al-Imran, Q.S. an-Nisa’, Q.S. al-Maidah, dll) i. berisi hukum kemasyarakatan, kenegaraan, seperti permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan, pergaulan dan sebagainya (Q.S. al- Baqarah, Q.S. al-Imran, Q.S. al- Maidah, Q.S. al-Anfal, Q.S. at-Taubah, Q.S. al-Hujurat, dan sebagainya) j. berisi dakwah kepada pemeluk Yahudi dan Nasrani (Q.S. al-Baqarah, Q.S. al-Imran, Q.S. al-Fath, Q.S. al- Hujurat, dan sebagainya) k. kebanyakan ayat dan suratnya panjang. 8. Disajikan beberapa contoh surah atau ayat al-Qur'an, mahasiswa dapat mengidentifikasi karakteristik surah atau ayat al-Qur'an yang tergolong Makiyah atau Madaniyah Jawaban : Idem jawaban no soal 7 9. Disajikan suatu contoh penafsiran ayat atau surah al-quran yang termasuk kelompok Makiyah atau Madanyah, mahasiswa dapat menganalisis fungsi studi Makkiyah dan Madaniyyah dalam penafsiran al-quran Jawaban : a. mengetahui perbedaan uslub-uslub (gaya bahasa) Alquran b. mengetahui dialektika Alquran dengan masyarakatnya, dalam transformasi dan konstruksi ideologi masyarakat baru dalam sinaran wahyu ilahi c. mudah mengenali ayat atau surat yang turun lebih dahulu dan yang belakangan dan mudah mengenali (mungkin) dinaskh (diganti), dan ayat yang menasakh
d. mengetahui prinsip-prinsip umum (kulliy) dari isi ayat-ayat atau surat- surat makkiyah, dan prinsip khusus (juz’iy) dari isi ayat-ayat atau surat- surat madaniyah e. mengetahui sejarah pembentukan dan penerapan hukum Islam yang amat bijak dalam menetapkan hukumnya berdasarkan sistem sosial masyarakatnya f. mengetahui hikmah ditetapkan dan diterapkannya suatu hukum g. mengetahui teknik dan tahapan dakwah islamiah, serta sistem dan pola pendidikan al-Alquran yang disesuaikan dengan taraf berpikir, komunikasi, dan budaya masyarakatnya h. dapat mengetahui situasi dan kondisi masyarakat Kota Makkah dan Madinah pada saat al-Alquran diturunkan i. akan dapat menambah keimanan seseorang terhadap kebenaran kewahyuan al-Alquran, dan keaslian al-Alquran. Dalam referensi lain disebutkan bahwa pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyah berguna untuk: 1) membedakan atau mengenal mana ayat yang mansukh dan mana yang nasikh 2) mengetahui sejarah pembentukan dan pembinaan hukum Islam, dengan keberangsurannya yang memperlihatkan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum dalam pembentukannya 3) sebagai penguat orisinalitas al-Alquran karena hal ini tidak terlepas dari besarnya perhatian umat terhadap sejarah al-Alquran dengan mengetahui hal-ihwal turunnya. 10. Disajikan narasi suatu qishash dalam al-quran, mahasiswa dapat menganalisis macam macam kisah dalam alquran Jawaban : a. Kisah para Nabi Kisah ini mengandung ajakan dakwah kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada mereka untuk memperkuat kenabian (kerasulan)-nya, fase dakwah dan perkembangannya, balasan untuk orang- orang yang menentangnya maupun bagi orang-orang yang beriman, seperti dalam kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Harun,Nabi Muhammad, dan lain-lain. b. Kisah al-Alquran yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa di masa lampau dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya Misalnya kisah Talut dan Jalut, dua orang putera Nabi Adam, kisah ashabul Kahfi, Zulkarnain, Qarun, kisah Maryam, ashab al-Ukhdud, dan lain-lain. c. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Saw.
Beberapa kisah yang dijadikan contoh misalnya, perang badar, perang uhud (dalam surat Ali Imran), perang hunain dan Tabuk (dalam surat at-Taubah), perang ahzab (dalam surat al-Ahzab), peristiwa hijrah, peristiwa isra’ mi’raj, dan lain-lain. 11. Disajikan narasi beberapa metode pengungkapan qishash dalam al-quran, mahasiswa dapat membedakan antara beberapa metode tersebut secara tepat berdasarkan ilmu al- quran Jawaban : Berbagai metode yang digunakan dalam pengungkapan qashash dalam al- Alquran: 1. Karena kisah di dalam Alquran dimaksudkan untuk memberi pembelajaran kepada umat manusia, maka untuk mencapai tujuan tersebut biasanya Alquran memulai kisah secara umum, kemudian menguraikan secara rinci dari awal sampai akhir. Metode ini disebut dengan metode deduksi. Sebagaimana kisah Nabi Yusuf As., ketika bercerita tentang Nabi Yusuf As., al-Alquran memulainya dengan ayat yang artinya: “Kami menceritakan kepadamu cerita yang paling baik, dengan mewahyukan Alquran ini kepadamu … (Q.S. Yusuf: 3)”. Setelah mengemukakan kebaikan dari cerita yang disampaikan dan menceritakan secara singkat rangkuman kisah Nabi Yusuf, Al-Alquran kemudian menegaskan: “Sesungguhnya terdapat beberapa tanda kekuasaan Allah pada Yusuf dan sauda-saudaranya, bagi orang-orang yang bertanya (Q.S. Yusuf: 7)”. Kemudian barulah Alquran menguraikan kisah Nabi Yusuf secara deskriptif sampai selesai 2. Metode hikmah, diawali dengan pengungkapan akhir sebuah kisah dan pelajaran yang dapat diambil melalui kisah itu, kemudian baru diceritakan selengkapnya secara terperinci. Metode ini tercermin dalam kisah Nabi Musa As dalam surat al-Qasas. 3. Metode terpusat, yakni suatu kisah yang diuraikan secara langsung tanpa didahului dengan cerita pembuka dan juga tanpa kesimpulan. Metode ini dapat dilihat pada kisah Maryam, ketika Nabi Isa As. dilahirkan. 4. Melalui cerita dalam bentuk dialog. Dialog yang terjadi dalam kisah-kisah Al-Alquran diangkat dalam bentuk cerita antara tokoh. Bentuk percakapan dalam Al-Alquran terdiri dari dua bentuk: pertama, percakapan semi dialektis, yaitu percakapan yang cenderung mengarah pada perdebatan. Dialog semacam ini biasanya membawa misi keagamaan, yaitu untuk memberikan informasi kepada kita tentang kekerasan kaum terdahulu dalam menentang ajaran para nabi. Model dialog ini dapat dijumpai dalam cerita kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan Syu’aib. Kedua, model percakapan pengisahan, yaitu bentuk percakapan dimana Alquran berperan sebagai mediator yang mengajak pembaca masuk ke dalam peristiwa melalui sela-sela cerita.
12. Disajikan narasi tentang contoh pengulangan qishash dalam al-quran, mahasiswa dapat merumuskan hikmah adanya pengulangan qishash tersebut dalam al-quran Jawaban : Hikmah diulangnya kisah-kisah dalam Alquran adalah: a. Menjelaskan kebalaghaan Alquran pada tingkat yang lebih tinggi. Ia dapat mengungkapkan suatu makna dalam berbagai macam bentuk. Pengulangan cerita disajikan pada seluruh tempat dengan gaya bahasa yang berbeda-beda sehingga manusia tidak merasa jenuh atas pengulangan ceritanya, bahkan makna yang ditangkap selalu baru dan cocok dengan kondisi mereka b. Meneguhkan sisi kemukjizatan Alquran. Ketika suatu makna dalam al- Alquran diungkapkan dalam bentuk yang berbeda, tak seorangpun dapat menandinginya c. Untuk memberi penekanan tentang pentingnya masalah tersebut dan betapa besarnya perhatian al-Alquran terhadap kisah tersebut sehingga manusia mampu ibrah dan melekatkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya d. Menunjukkan perbedaan tujuan dari tiap-tiap pengulangan penyebutan kisah. Hal ini dapat dilihat pada metode penyebutan kisah, yakni sebagian dari makna-maknanya diterangkan di suatu tempat karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna lainnya dikemukakan di tempat lain sesuai dengan keadaan. 13. Disajikan deskripsi pengertan hadis dan sinonimnya, mahasiswa dapat menganalisis perbedaan antara makna dan kandungannya antara hadis, sunah, khabar dan atsar dalam ilmu hadis Jawab������ Pengertian Hadis secara bahasa mempunyai beberapa sinonim/murâdifmenurut para pakar Ilmu Hadis, yaitu Sunah, Khabar, dan Atsar. Secara etimologi. Kata ‘Hadis‛ (Hadîts) berarti ( الجديد/الجدةal-Jdîd/al- jiddah= baharu), atau ( ال َخبروالكلاَمal-khabar= berita,pembicaraan, perkataan). Sedangkan secara istilah hadis adalah sesuatu yang datang dari Nabi baik berupa perkataan atau perbuatan dan atau persetujuan. Dari segi bahasa Atsar diartikan = peninggalan atau bekas sesuatu, maksudnya peninggalan atau bekas Nabi karena Hadis itu peninggalan beliau. kata atsar artinya doa yang dipindahkan dari Nabi. Menurut istilah ada dua pendapat, A. pertama, Atsar sinonim Hadis. B. Kedua, Atsar adalah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat (mawqûf) dan tabi`in (maqthû`) baik perkataan maupun perbuatan.
14. Disajikan deskripsi pengertan Hadis dan sinonimnya, mahasiswa dapat menganalisis persamaan makna dan kandungannya antara hadis, sunah, khabar dan atsar dalam ilmu hadis Jawab������ PERBEDAAN dan PERSAMAAN HADITS, SUNNAH, KHABAR dan ATSAR Dari keempat pengertian hadits, sunnah, khabar, dan atsar, terdapat kesamaan dan perbedaan makna menurut istilah masing-masing. Keempatnya memiliki kesamaan maksud, yaitu segala yang bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya. Dan hadits dapat juga disebut dengan sunnah, khabar dan atsar. Oleh karena itu, hadits sahih dapat juga disebut dengan sunnah sahih, khabar sahih atau atsar sahih. Para ulama juga membedakan antara hadits, sunnah, khabar dan atsar sebagai berikut: a. Hadits dan sunnah: hadits terbatas pada perkataan, perbuatan, takrir yang bersumber pada Nabi SAW, sedangkan sunnah segala yang bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, tabiat, budi pekerti atau perjalanan hidupnya, baik sebelum di angkat menjadi rasul maupun sesudahnya. b. Hadits dan khabar: sebagian ulama hadits berpendapat bahwa khabar sebagai suatu yang berasal atau disandarkan kepada selain nabi SAW., hadits sebagai sesuatu yang berasal atau disandarkan pada Nabi SAW. c. Hadits dan atsar: jumhur ulama berpendapat bahwa atsar sama artinya dengan khabar dan hadits. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa atsar sama dengan khabar, yaitu sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW, sahabat dan tabiin 15. Disajikan contoh satu teks hadis secara utuh, mahasiswa dapat mengidentifikasi tentang struktur hadis yang terdiri atas sanad, matan dan mukharrij/perawi Jawab������ Struktur Hadis terddiri dari beberapa bagian yaitu sanad, matan dan mukharrij. Untuk memudahkan definisi istilah-istilah tersebut, terlebih dahulu Saudara diajak memperhatikan contoh struktur Hadis sebagai berikut : Memberitakan kepada kami Musaddad, memberitakan kepada kami Abd al- Wârits dari al-Ja`di dari Abi Rajâ’ dari Ibn Abbas dari Nabi saw bersabda : Barang siapa yang benci sesuatu dari pimpinannya (amir) maka hendaklah sabar, sesungguhnya barang siapa yang keluar dari penguasa (sultan) satu jengkal maka ia mati Jahiliayah‛.
(HR.al-Bukhari) Bagaimana Anda melihat contoh kerangka Hadis di atas ? Ada 3 bagian yang perlu anda perhatikan yaitu kalimat-kalimat yang bergaris bawah, yakni : 1. Penyandaran berita oleh «al-Bukhâri kepada Musaddad dari Abd al-Wârits dari al-Ja`di dari Abi Rajâ’ dari Ibn Abbas dari Nabi‛ rangkaian penyandaran ini disebut : Sanad. 2. Isi berita yang disampaikan Nabi : «Barang siapa yang benci sesuatu dari pimpinannya…» disebut : Matan. 3. Sedang pembawa periwayatan berita terakhir yang termuat dalam buku karyanya dan disampaikan kepada kita yakni alBukhâri disebut : Pe-rawi atau Mukharrij. Artinya, orang yang meriwayatkan Hadis dan disebutkan dalam kitab karyanya. 16. Disajikan deskripsi pengertian ulumul hadis secara terminologi yang dikemukakan para ahli hadis, mahasiswa dapat menganalisis pengertian ulumul hadis yang lengkap dari rumusan pengertian yang ada Jawab������ Kata ‘ulum jamak dari ‘ilm yang berarti pengetahuan. Menurut Mutakallimin, ilmu berarti kondisi tersingkapnya (terbukanya) sesuatu yang diketahui (obyek pengetahuan). Sebagian ulama mengartikan ilmu sesuatu yang tertanam dalam diri seseorang yang dapat digunakan mengetahui atau menemukan sesuatu.Para Ulama telah sepakat bahwa Ulumul Hadis atau ilmu yang membahas tentang perihal hadis baik dari segi periwayatannya atau dari segi materi/ matan riwayat hadis adalah suatu ilmu yang sangat penting. 17. Disajikan narasi tentang sejarah pertumbuhan dan penghimpunan hadis, mahasiswa dapat menentukan masa kesempurnaan pembukuan hadis Jawab������ Sejarah Pertumbuhan dan Penghimpunan Ilmu Hadis Sunnah atau hadis sebagai dasar tasyri’ yang kedua setelah Alquran dalam sejarahnya telah melalui beberapa tahapan perkembangan yang cukup panjang. 1. Hadis pada masa Rasulullah SAW Seluruh perbuatan, ucapan serta gerak-gerik Nabi dijadikan pedoman hidup bagi umatnya. Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat Islam dapat secara langsung memperoleh hadis dari Rasulullah SAW sebagai sumber hadis. Pada masa ini tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuan mereka. Ada beberapa cara yang digunakan Rasulullah SAW dalam menyampaikan hadis kepada para sahabatnya, yaitu: (1) Melalui para jamaah yang berada dipusat pembinaan atau majelis al- ilmi; (2) Dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW juga menyampaikan hadisnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.; (3) Cara lain yang dilakukan Rasulullah SAW adalah melalui ceramah atau pidato
ditempat terbuka, seperti haji wada’ dan futuh makkah. Para sahabat dalam menerima hadis Nabi berpegang teguh pada hafalannya, yakni menerima dengan jalan hafalan bukan jalan menulis. Mereka mendengar dengan hati-hati apa yang Nabi sabdakan kemudian makna atau lafadz tergambar dalam dzin (benak) mereka. Pun juga mereka menyampaikan kepada orang lain lewat hafalan pula. 2. 2. Hadis pada masa Sahabat Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat, khususnya Khulafa Ar-Rasyidin yaitu sekitar tahun 11 H sampai 40 H. Masa ini juga disebut masa sahabat besar. Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Alquran. Periwayatan hadis belum begitu berkembang dan masih dibatasi. Oleh karena itu para ulama menganggap masalah ini sebagai masa yang menunjukan adanya masa pembatasan periwayatan (Al-Tasabbut wa al-Iqlal min al-Riwayah ) 3. 3. Hadis pada masa Tabi’in Sesudah masa Utsman dan Ali, timbulah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghfal hadis serta menyebarkannya ke masyarakat luas dengan mengadakan perlawatan-perlawatan untuk mencari hadis. Pada tahun 17 H tentara islam mengalahkan Syiria dan Iraq. Pada tahun 20 H mengalahkan Mesir. Pada tahun 21 H mengalahkan Persia. Pada tahun 56 H tentara islam sampai disamarkand. Pada tahun 93 H tentara islam menaklukan Spanyol. Para sahabat berpindah ketempat-tempat itu. Kota itu menjadi “perguruan“ tempat mengajarkan Alquran dan hadis yang menghasilkan sarjana-sarjana tabi’in dalam bidang hadis. 4. 4. Masa kodifikasi (Tadwin Hadis). Yang dimaksud dengan kodifikasi Hadis atau Tadwin pada periode ini adalah kodifikasi secara resmi berdasarkan perintah kepala negara, dengan melibatkan beberapa sahabat yang ahli dibidangnya. Tidak seperti kodifikasi yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah SAW 18. Disajikan deskripsi beberapa cabang-cabang ilmu hadis, mahasiswa menyimpulkan tentang ilmu hadis dirayah Jawab������ Ilmu Dirayah (Kaidah Hadis tentang Rawi dan Sanad) a. Ilmu Rijal al-Hadis Adalah ilmu yang membahas tentang hal ihwal dan sejarah para rawi dari kalangan sahabat, tabi’in dan atba’ al- tabi’in. Sedangkan muhadditsin, sebagaimana dikutip dalam buku Endang Soetari mentarifkan Ilmu Rijal al-Hadis meliputi Ilmu Tabaqah dan Ilmu Tarikh al-Ruwah. Ilmu Thabaqah adalah ilmu yang membahas tentang kelompok orang orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama. Sedangkan Ilmu Tarikh Ar-Ruwah adalah ilmu yang membahas tentang biografi para perawi hadis. b. Ilmu Jarh wa al-Ta’dil Adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaibannya dan menguji keadilannya. Ta’dil artinya menganggap adil seorang rawi yakni memuji rawi dengan sifat- sifat yang membawa maqbulnya riwayat. Adapun al-Jarh atau
Tajrih artinya mencacatkan, yakni menuturkan sebab-sebab keaiban rawi. Ilmu ini berkaitan dengan hal-hal seperti bid’ah (i’tikad berlawanan dengan dasar syariat), mukhalafah (perlawanan sifat adil dan dhabith), gholath (kesalahan), jahalah al-hal (tidak diketahui identitasnya), da’wa al-inqitha’ (mendakwa terputusnya sanad). Kaidah Tajrih dan Ta’dil ada dua macam: (a) Naqd Khariji, yaitu kritik eksternal, yakni tentang cara dan sahnya riwayat dan tentang kapasitas rawi (b) Naqd Dakhili, yaitu kritik internal, yaitu tentang makna hadis dan syarat keshahihannya. 19. Disajikan contoh suatu teks hadis lengkap dengan sanad, matan dan mukharrijnya, mahasiswa dapat mengkategorikan hadis tersebut sebagai hadis ahad; masyhur, aziz dan atau Gharib 20. Disajikan contoh suatu teks hadis lengkap dengan sanad, matan, dan perawinya, mahasiswa dapat menentukan kualitas persyaratan hadis shahih 21. Disajikan contoh suatu teks hadis, mahasiswa dapat merumuskan indikator hadis dhaif pada teks hadis tersebut 22. Disajikan deskripsi singkat seorang sahabat bernama Muadz bin Jabal ketika akan berangkat ke Yaman untk berdakwah. Muadz bin Jabal ditanya Nabi tentang sumber hukum yang digunakan jika ada pertanyaan. Berdasarkan deskripsi tersebut mahasiswa dapat menanalisis kedudukan hadis dalam syari’at Islam 23. Disajikan sebuah dalil dari al-quran terkait dengan suatu masalah 24. Disajikan narasi terkait dengan beberapa fungsi hadis terhadap al-quran, mahasiswa dapat mengkategorikan fungsi hadis tersebut berdasarkan pada macama-macam fungsi hadis terhadap al-quran 25. Disajikan narasi tentang analisis takhrij hadis, mahasiswa dapat menyimpulkan makna esensial terkait dengan takkhrij hadis Jawab������ Takhrijul hadis adalah mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para rawinya, mengemukakan asal usul hadis sambil dijelaskan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang rangkaian sanadnya berdasarkan riwayat yang telah diterimanya sendiri atau berdasarkan rangkaian sanad gurunya, dan penelusuran atau pencarian hadis dalam berbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan. 26. Disajikan narasi tentang kegiatan takhrij hadis, mahasiswa dapat menemukan tujuan dan manfaat dari takhrij hadis Jawab������ Adapun tujuannya adalah sebagai berikut: a) Mengetahui sumber otentik suatu hadis dari buku hadis apa saja yang didapatkan.
b) Mengetahui ada berapa tempat hadis tersebut dengan sanad yang berbeda di dalam sebuah buku hadis atau dalam beberapa buku induk hadis. c) Mengetahui kualitas hadis makbul (diterima) atau mardud (ditolak). d) Mengetahui eksistensi suatu hadis apakah benar suatu hadis yang ingin diteliti terdapat dalam buku-buku hadis atau tidak. e) Mengetahui asal-usul riwayat hadis yang akan diteliti. f) Mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti. g) Mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi’ pada hadis yang akan diteliti. Manfaat takhrijul hadis cukup banyak diantaranya adalah sebagai berikut: a) Menghimpun sejumlah sanad hadis,dapat menemukan sebuah hadis yang akan diteliti di tempat, di dalam kitab Al Bukhori saja, atau di dalam kitab-kitab lain. b) Mengetahui referensi beberapa buku hadis, dapat mengetahui siapa perawi dan yang diteliti dan didalam kitab hadis apa saja hadis tersebut didapatkan. c) Mengetahui keadaan sanad yang bersambung (muttashil) dan yang terputus (munqothi’) dan mengetahui kadar kemampuan perawi dalam mengingat hadis serta kejujuran dalam periwayatan. d) Mengetahui status suatu hadis. e) Meningkatkan suatu hadis yang dhoif menjadi hasan lighoirihi karena adanya dukungan sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi kualitasnya, atau meningkatnya hadis hasan menjadi shohih lighoirihi dengan ditemukannya sanad lain yang seimbang atau lebih tinggi kualitasnya. f) Mengetahui bagaimana para imam hadis menilai suatu kualitas hadis dan bagaimana kritikan yang disampaikan. g) Dapat menghimpun beberapa sanad dan matan hadis. h) Dapat diketahui banyak sedikitnya beberapa jalur periwayatan suatu hadis yang sedang menjadi topik kajian. i) Dapat diketahui kuat dan tidaknya periwayatan. j) Kekaburan suatu periwayatan, dapat diperjelas dari periwayatan jalur isnad yang lain. Baik dari segi rawi, isnad maupun matan hadis. k) Dapat ditentukan status hadis shahih dzatihi atau shahih lighoirihi li ghoirihi, hasan li dzatihi atau hasan lighoirihi. Demikian juga akan diketahui istilah hadis mutawatir, masyhur, aziz, dan ghorib. l) Dapat diketahui persamaan dan perbedaan atau wawasan yang lebih luas tentang berbagai periwayatan dan beberapa hadis terkait. m) Memberika kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadis tersebut adlah maqbul (dapat diterima), sebaliknya orang yang tidak mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadis tersebut mardud (ditolak).
n) Mengetahui keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar berasal dari Rosululloh SAW yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut, baik dari segi sanad maupun matan. 27. Disajikan hasil penelitian hadis, mahasiswa dapat menentukan langkahlangkah dalam mentakhrij hadis baik melalui aplikasi maupun kitab manual Jawab������ Langkah praktis penelitian hadis adalah penelitian rowi, sanad, I`tibar, Tarikh Ar-ruwat, Al Jarh wa Ta`dil serta matan hadis. Kitab yang diperlukan ketika melakukan takhrij hadis yaitu Hidayatul bari ila tartibi Ahadisil Bukhori, Mu`jam Al-Fadzi wala Siyyama Al-Garibu Minha atau Fahras litartibi Ahadisi Sokhikh Muslim, Miftahus Shokhihain, Al-Bughyatu fi Tartibi Ahadisi Al-Hiyah Al- Jamius Shogir, Al Mu`jam Al Mufahras li Al Alfadzi Hadis Nabawi. 28. Disajikan narasi tentang pemahaman tahammul wal ada’ dalam kajian hadis, mahasiswa menemukan makna tentang tahammul wal ada' Jawab������ Al-Tahammul adalah menerima danmendengar suatu periwayatan hadis dari seorang guru dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan al-ada’ adalah menyampaikan atau meriwayatkan suatu hadis kepada orang lain dengan cara-cara tertentu. 29. Disajikan deskripsi terkait tahammul wal ada’, mahasiswa dapat mengidentifikasi ketentuan syarat-syarat sebagai perawi dalam tahammul wal ada’tersebut Jawab������ syarat-syarat bagi perawi dalam tahammul hadis: 1) Penerima harus dlabit ̹ (memiliki hafalan yang kuat atau memiliki dokumen yang valid). 2) Berakal sempurna serta sehat secara fisik dan mental 3) Tamyiz Menurut Imam Ahmad, ukuran tamyiz adalah adanya kemampuan menghafal yang didengar dan mengingat yang dihafal. Ada juga yang mengatakan bahwa ukuran tamyiz adalah pemahaman anak pada pembicaraan dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. Syarat perawi dalam ada’ al-hadis atau Syarat-syarat orang yang diterima dalam meriwayatkan hadis dikenal dengan istilah ahliyatul ada’ menurut ulama ahlul hadis adalah: 1) Islam 2) Baligh( perawi cukup usia ketika ia meriwayatkan hadis) 3) Adalah (adil)
4) Dlabit ( ingatan seseorang yang meriwayatkan hadis harus mengingat hadis yang ia sampaikan tersebut) Dabit oleh ulama ahli hadis dibagi menjadi dua yaitu: a) Dlabtu al-Shadri, yaitu dengan menetapkan atau menghafal apa yang ia dengar didalam dadanya, sekiranya ia mampu untuk menyampaikan hafalan tersebut kapanpun ia kehendaki. b) Dlabtu al-Kitab, yaitu memelihara, mempunyai sebuah kitab catatan hadis yang ia dengar, kitab tersebut dijaga dan ditasheh sampai ia meriwayatkan hadis sesuai dengan tulisan yang terdapat dalam kitab tersebut. Sedangkan untuk hadisnya sendiri itu haruslah Tsiqoh, maksudnya adalah hadis yang diriwayatkan tidak berlawanan dengan hadis yang lebih kuat atau dengan Qur’an. 30. tang tahammul wal ada’ dalam kajian hadis, mahasiswa dapat menganalisis sighat tahammul wal ada’ dalam kajian hadis tersebut Jawab������ Para ulama ahli hadis menggolongkan metode menerima suatu periwayatan hadis menjadi delapan macam, yaitu: a. al-Sima’ (mendengar) سمعت, ََحدثنى, أخبرنى, أنبأنى, لاَفلان قال b. al-Qira’ah (membacakan hadis pada guru) فلان قرأتَعلى, سمعت أنا و فلان على قرئ, أخبرنى,قراءعليه فلان ََحدثنا c. al-Ijazah (menerima hadis dan mentransfernya) أنبأنا,نفلاأجازنى d. al-Munawalah (Tindakan seorang guru memberikan sebuah kitab atau hadis tertulis agar disampaikan dengan mengambil sanad darinya) e. al-Mukatabah (menulis) Devinisi yang dimaksud dengan menulis di sini adalah aktivitas seorang guru menuliskan hadis, baik ditulis sendiri atau menyuruh orang lain untuk kemudian diberikan kepada orang yang ada di hadapannya, atau dikirimkan kepada orang yang berada ditempat lain. f. al-I’lam al-Syaikh (memberitahukan seorang guru) بالإعلامفلانأخبرنى,َبالإعلامفلانحدثن َى,فلانأعلمنى g. al-Washiyyah ( penegasan guru ketika hendak bepergian atau dalam masa-masa sakaratul maut, yaitu wasiat kepada seseorang tentang kitab tertentu yang diriwayatkannya.
إلىَفلا َن أوصلى, فلا َنبالوصي َة أخبرن َى h. al-Wijadah ( seseorang memperoleh hadis orang lain dengan mempelajari kitab- kitab dengan tidak melalui cara al-sama’, al-ijazah, atau al-munawalah) 31. Disajikan deskripsi tentang landasan ilmu al-Jarh wa Ta’dil, mahasiswa dapat menemukan landasan ilmu al-Jarh wa Ta’di tersebut dalam kajian hadits Jawaban Ajaran Islam melarang seseorang untuk melakukan ghibah yakni, membicarakan ataupun menyebarkan aib orang lain sementara dalam ilmu jarh wa ta’dil merupakan cabang ilmu yang membahas kebaikan maupun keburukan orangorang yang namanya tercantum dalam sanad hadis. Penilaian yang baik disebut ta’dil dan penilaian negatif (mencela atau melukai nama baiknya) disebut jarh. Sekalipun Islam melarang ghibah namun ada 6 hal ghibah yang diperbolehkan menurut Al-Ghazali dan AlNaqawi yang dikutip oleh Hasbi Ash Shiddieqy: a. Karena teraniaya; orang yang teraniaya boleh menmbicarakan penganiayaan yang dilakukan oleh pelakunya b. Meminta pertolongan untuk membasmi kemungkaran c. Untuk meminta fatwa d. Untuk menghindarkan manusia dari kejahatan e. Orang yang dicela merupakan orang yang terang-terangan melakukan bid’ah dan kemungkaran f. Untuk memberikan informasi yang sebenarnya 32. Disajikan data tentang syarat-syarat seseorang menjadi kritikus hadis, mahasiswa dapat menidentifikasi persyaratan untuk menjadi seorang kritikus hadis Jawaban Syarat Kritikus Hadits Mengingat perjalanan (pekerjaan) melakukan jarh dan ta‟dil ini merupakan pekerjaan yang rawan, karena menyangkut nama baik dan kehormatan para perawi yang akan menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadis, maka ulama yang menetapkan kriteria tertentu bagi seorang yang melakukan jarh dan ta’dil. Adapun syarat-syarat yang diperlukan, yakni: a. Haruslah orang tersebut ‘âlim (berilmu pengetahuan); b. Bertaqwa; c. Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat-syubhat, dosa- dosa kecil dan makruhatmakruhat); d. Jujur; e. Belum pernah dijarh; f. Menjauhi fanatik golongan; g. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta’dilkan dan untuk men-tajrihkan. Persyaratan yang berkenan dengan sikap pribadi meliputi
a. Bersifat adil, dalam pengertian ilmu hadis (‘adalah alruwah), dan sifat adil ini tetap terpelihara ketika melakukan penilaian terhadap periwayat hadis b. Tidak bersifat fanatik terhadap aliran yang dianutnya c. Tidak bersikap bermusuhan dengan periwayat yang berbeda aliran atau madshab dengannya d. Jujur e. Taqwa f. Wara’ 33. lakukan penilaian tentang tingkatan-tingkatan al-Jarh Wa Ta’dil, mahasiswa dapat menganalisis tingkatan-tingkatan tersebut dalam kajian ilmu hadis Jawaban Al Jarh Wa Ta’dil sama sama memiliki 6 tingkatan Tingkatan At Tadil 1) Tingkatan Pertama, Yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta’dil-an, atau dengan menggunakan wazan af‟ala dengan menggunakan ungkapan- ungkapan seperti : “Fulan kepadanyalah puncak ketepatan dalam periwayatan” atau “Fulan yang paling tepat periwayatan dan ucapannya” atau Fulan orang yang paling kuat hafalan dan ingatannya”. 2) Tingkatan Kedua, Dengan menyebutkan sifat yang menguatkan ke-tsiqah- annya, ke-adil-annya, dan ketepatan periwayatannya, baik dengan lafadh maupun denganmakna; seperti : tsiqatun-tsiqah, atau tsiqatun-tsabt, atau tsiqah dan terpercaya (ma‟mun), atau tsiqah dan hafizh. 3) Tingkatan Ketiga, Yang menunjukan adanya pentsiqahan tanpa adanaya penguatan atas hal itu, seperti: tsiqah, tsabat, atau hafizh. 4) Tingkatan Keempat, Yang menunjukkan adanya keadil-an dan kepercayaan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian. Seperti : Shaduq, Ma‟mun (dipercaya), mahalluhu ash-shidq (ia tempatnya kejujuran), atau laa ba‟sa bihi (tidak mengapa dengannya). Khusus untuk Ibnu Ma’in kalimat laa ba’sabihi adalah tsiqah (Ibnu Ma’in dikenal sebagai ahli hadis yang mutasyaddid, sehingga lafadh yang biasa saja bila ia ucapkan sudah cukup untuk menunjukkan ketsqahan perawi tersebut). 5) Tingkatan Kelima, Yang tidak menunjukkan adanya pentsiqahan ataupun celaan; seperti : Fulan Syaikh (fulan seorang syaikh), ruwiya „anhul-hadiits (diriwayatkan darinya hadis), atau hasanul-hadiits (yang baik hadisnya). 6) Tingkatan Keenam, Isyarat yang mendekati celaan (jarh), seperti: Shalihul- Hadiits (hadisnya lumayan), atau yuktabu hadiitsuhu (ditulis hadisnya. Sedangkan tingkatan Al Jarh 1) Pertama, Yang menunjukkan adanya kelemahan, dan ini yang paling rendah dalam tingkatan al-jarh seperti : layyinul-hadiits (lemah hadisnya), atau fiihi maqaal (dirinya diperbincangkan), atau fiihi dla’fun (padanya ada kelemahan). 2) Tingkatan Kedua, Yang menunjukkan adanya pelemahan terhadap perawi dan tidak boleh dijadikan sebagai hujjah; seperti : “Fulan tidak boleh dijadikan
hujjah”, atau dla’if, atau “ia mempunyai hadis-hadis yang munkar”, atau majhul (tidak diketahui identitas/kondisinya). 3) Tingkatan Ketiga, Yang menunjukkan lemah sekali dan tidak boleh ditulis hadisnya, seperti : “Fulan dla’if jiddan (dla’if sekali)”, atau “tidak ditulis hadisnya”, atau “tidak halal periwayatan darinya”, atau laisa bisyai-in (tidak ada apa-apanya). (Dikecualikan untuk Ibnu ma‟in bahwasannya ungkapan laisa bisyai-in sebagai petunjuk bahwa hadis perawi itu sedikit). 4) Tingkatan Keempat, Yang menunjukkan tuduhan dusta atau pemalsua hadis, seperti : Fulan muttaham bil-kadzib(dituduh berdusta) atau “dituduh memalsukan hadis”, atau “mencuri hadis”, atau matruk (yang ditinggalkan), ataulaisa bitsiqah (bukan orang yang terpercaya). 5) Tingkatan Kelima, Yang menunjukkan sifat dusta atau pemalsu dan semacamnya; seperti : kadzdzab (tukang dusta), atau dajjal, atau wadldla‟ (pemalsu hadis), atau yakdzib (dia berbohong), atau yadla‟ (dia memalsikan hadis). 6) Tingkatan Keenam, Yang menunjukkan adanya dusta yang berlebihan, dan ini seburuk-buruk tingkatan; seperti : “Fulan orang yang paling pembohong”, atau “ia adalah puncak dalam kedustaan”, atau “dia rukun kedustaan”. 34. . Disajikan uraian tentang sebab-sebab seseorang dikenakan jarh wa ta'dil, mahasiswa dapat menganalisis sebab-sebab tersebut berdasarkan kajian ilmu hadis Jawaban Menurut Ibn Hajar al-Asqolani, sebagaimana dikutip Hasbi, bahwa sebab-sebab yang menjadikan aibnya seoarang perawi itu banyak, tetapi semuanya berkisar disekitar lima macam saja: bid’ah, mukhlafah, ghalath, jahalah al-hal, da’wa al- inqitha’.19 a. Bid’ah yaitu melakukan tindakan tercela diluar ketentuan syara. Orang yang disifati dengan bid‟ah adakalanya tergolong orang yang dikafirkan dan adakalanya orang yang difasikan. Mereka yang dianggap kafir adalah golongan Rafidhah dan mereka yang dianggap fasik adalah golongan yang mempunyai keyakinan (‘itikad) yang berlawanan dengan dasar syari’at. b. Mukhalafah ialah menyalahi periwayatan orang yang lebih tsiqat. Mukhalafah ini dapat menimbulkan hadisnya syadz atau munkar. c. Ghalath ialah banyak kekeliruan dalam meriwayatkan. d. Jahalah hal-hal ialah tidak dikenal identitasnya, maksud perawi yang belum dikenal identitasnya ialah hadisnya tidak dapat diterima. e. Da’wa al-‘inqitha’ ialah diduga keras sanadnya terputus, misalnya menda‟wa perawi, mentadliskan atau mengirsalkan suatu hadis. 35. . Disajikan cara takhrij hadis dengan sistem manual, mahasiswa dapat menetukan kualitas hadis yang dihasilkan dari takhrihj hadis Jawaban Mahmûd al-Thahhân membagi metode takhrîj ke dalam lima kategori, yaitu : a. Takhrîj dengan jalan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis.
b. Takhrîj dengan jalan mengetahui lafal awal matan hadis. c. Takhrîj dengan jalan mengetahui lafal matan hadis yang jarang beredar. d. Takhrîj dengan jalan mengetahui tema hadis. e. Takhrîj dengan jalan mengetahui keadaan matan dan sanad hadis 36. Disajikan cara takhrij hadis dengan sistem digital, mahasiswa dapat menetukan kualitas hadis yang dihasilkan dari takhrihj hadis Jawaban Melakukan takhrij hadis secara konvensional adalah sangat baik, namun demikian ia membutuhkan waktu yang relatif lama. Untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadis dapat menggunakan antara lain: aplikasi ensiklopedi hadis, aplikasi Maktabah Syamilah, dan software Mausu’ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub al-Tis’ah. a. Software Mausu’ah al-Hadis al-Syarif al-Kutub alTis’ah b. Aplikasi Ensiklopedi Hadis 37. Disajikan penjelasan tentang terminologi tawasuth dalam perspektif al-quran dan hadis, mahasiswa dapat menganalisis terminologi tersebut dalam al-quran dan hadis jawab= Tawasuth adalah sikap tengah–tengah atau sedang di antara dua sikap, tidak terlalu keras (fundamentalis) dan terlalu bebas (liberalisme). 38. Disajikan narasi tentang konsep tasamuh dalam perspektif al-quran dan hadis, mahasiswa dapat menafsirkan konsep tasamuh tersebut berdasarkan prespektif al-quran dan hadis jawab= tasamuh dalam islam artinya membangun sikap saling menghargai, saling menghormati antara satu dengan yang lain. 39. Disajikan narasi terkait dengan sikap tawazun dalam kehidupan sosial, mahasiswa dapat menemukan makna sikap tawazzun berdasarkan perspektif al-qur'an dan hadis jawab= tawazun menurut bahasa berarti keseimbangan atau seimbang sedangkan menurut istilah tawazun merupakan suatu sikap seseorang untuk memilih titik yang seimbang atau adil dalam menghadapi suatu persoalan. 40. Disajikan narasi sejarah munculnya metode penafsiran tematik, mahasiswa dapat menyimpulkan keberadaan metode tafsir tematik dalam penafsiran al-qur'an jawab= Menurut sebgian ulama, tafsir tematik ditengarai sebagai metode alternative yang paling sesuai dengan kebutuhan ummat saat ini. Selain diharapkan dapat memberi jawaban atas berbagai problematika ummat, metode tematik dipandang sebagai yang paling obyektif, tentunya dalam batas-abatas tertentu. Melalui metode ini, seolah penafsir mempersilahkan Al-Quran berbicara sendiri melalui ayat-ayat dan kosa kata yang digunakannya terkait dengan persoalan tertentu. Istantiqil Al-Quran
(ajaklah Al-Quran berbicara), demikian ungkapan yang sering dikumandangkan oleh para ulama yang mendukung penggunaan metode ini Metode ini dikembangkan oleh para ulama untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada khazanah tafsir klasik yang didominasi oleh pendekatan tahlili, yaitu menafsirkan ayat demi ayat sesuai dengan susunannya dalam mushaf. 41. Disajikan deskripsi tentang metode tafsir tematik, mahasiswa dapat merumuskan Langkahlangkah metode tafsir tematik jawab= a. Memilih/menetapkan masalah Al-Quran yang akan dikaji secara maudhû’iy (tematik) b. Melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang telah ditetapkan, ayat Makkiyyah dan Madaniyyah. c. Menyusun ayat-ayat tersebut secara runtut menurut kronologi masa turunnya, disertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya ayat atau asbâb an-nuzûl. d. Mengetahui korelasi (munâsabah) ayat-ayat tersebut di dalam masing-masing suratnya. e. Menyusun tema bahasan di dalam kerangka yang pas, sistematis, sempurna dan utuh (outline). f. Melengkapi pembahasan dan uraian dengan hadis, bila dipandang perlu, sehingga pembahasan menjadi semakin sempurna dan semakin jelas. g. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung pengertian serupa, mengkompromikan antara pengertian ‘âm dan khash, antara yang muthlaq dan yang muqayyad, menyingkronkan ayat-ayat yang lahirnya tampak kontradiktif. 42. Disajikan narasi terkait dengan metode tafsir tematik, mahasiswa dapat merumuskan kelebihan dan kekurangan metode tafsir tematik dalam penafsiran al-qur'an jawab= Kelebihan Metode Tafsir Tematik (Maudhu'iy): a. Hasil tafsir maudhû’iy memberikan pemecahan terhadap permasalahan- permasalahan hidup praktis, sekaligus memberikan jawaban terhadap tuduhan/dugaan sementara orang bahwa Al-Quran hanya mengandung teori-teori spekulatif tanpa menyentuh kehidupan nyata. b. Sebagai jawaban terhadap tuntutan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang, menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap Al-Quran. c. Studi terhadap ayat-ayat terkumpul dalam satu topik tertentu juga merupakan jalan terbaik dalam merasakan fashâhah dan balâghahal-Qurân. d. Kemungkinan untuk mengetahui satu permasalahan secara lebih mendalam dan lebih terbuka. e. Tafsir maudhû’iy lebih tuntas dalam membahas masalah.
Sedangkan kekurangan Metode Tafsir Tematik (Maudhu'iy), meliputi: a. Mungkin melibatkan pikiran dalam penafsiran terlalu dalam. b. Tidak menafsirkan segala aspek yang dikandung satu ayat, tetapi hanya salah satu aspek yang menjadi topik pembahasan saja. c. Membatasi pemahaman ayat. 43. Disajikan narasi terkait dengan konsep analisis tafsir kontekstual, mahasiswa dapat menemukan rumusan konsep tafsir kontekstual sebagai salah satu jenis penafsiran al- quran Jawab : 1. Kata “kontekstual” berasal dari “konteks” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua arti: 1) bagian sesuatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna; 2) situasi yang ada hubungan dengan suatu kejadian. Kedua arti ini dapat digunakan karena tidak terlepas istilah dalam kajian pemahaman tafsir kontekstual. 2. Dari sini pemahaman kontekstual atas Al-Quran adalah memahami makna ayat-ayat Al-Quran dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat tersebut, atau dengan kata lain, dengan memperhatikan dan mengkaji konteksnya. Dengan demikian asbab an-nuzul dalam kajian kontekstual dimaksud merupakan bagian yang paling penting. Tetapi kajian yang lebih luas tentang pemahaman kontekstual tidak hanya terbatas pada asbab an-nuzul dalam arti khusus seperti yang biasa dipahami, tetapi lebih luas dari itu meliputi: konteks sosio-historis di mana asbab an-nuzul merupakan bagian darinya. Dengan demikian, pemahaman kontekstual atas ayat- ayat Al-Quran berarti memahami Al-Quran berdasarkan kaitannya dengan peristiwa-peristiwa dan situasi ketika ayat- ayat diturunkan, dan kepada siapa serta tujuannya apa ayat tersebut diturunkan. 44. Disajikan narasi tentang penafsiran al-quran, mahasiswa dapat menentukan komponen dasar dalam metode tafsir kontekstual Jawab : 1. Konteks literer Al-Quran. maksudnya adalah konteks di mana suatu tema atau istilah tertentu muncul didalam Al-Quran, mencakup ayat-ayat sebelum dan sesudahtema atau terma itu yang merupakan konteks langsungnyaserta rujukan silang kepada konteks- konteks relevan dalamsurat-surat lain. Pada batas-batas tertentu, konteks literer jugamencakup penelusuran keragaman tradisi teks (rasm) danbacaan Al-Quran (qira’ah) yang relevan dengan ayat-ayat yangdicobapahami untukmendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentangnya. 2. Konteks historis Al-Quran yang merupakan latarkesejarahan Al-Quran baik yang bersifat makro maupun mikro. Konteks historis makro adalah latar kesejarahan tidak langsungatau mileu yang berupa situasi masyarakat, agama, adat istiadat, pranata- pranata, relasi-relasi politik, dan bahkankehidupan secara menyeluruh di Arabia sampai
kepadakehidupan Nabi Muhammad saw sendiri, terutama Makkah dan Madinah menjelang dan pada saat pewahyuan Al-Quran 3. Konteks kronologis Al-Quran. Maksudnya kronologis pewahyuan bagian-bagian Al- Quran tentang suatu tema atau istilah tertentu yang akan memperlihatkan bagaimana tema tersebut berkembang dalam bentangan pewahyuan Al-Quranselama lebih kurang 23 tahun seirama dengan perkembangan misi kenabian Muhammad saw dan komunitas Muslim. Di dalam tradisi ‘Ulum Al-Quran, aspek kronologis ini setidaknya telah dicakup oleh ilmu tawarikh an- nuzul, ilmu al-makki wa al-madani dan ilmu al-naskh. 4. Konteks spasio-temporal yang merupakan konteks ruang dan waktu yang menjadi lahan pengimplementasian gagasan-gagasan Al-Quran. Di sini, situasi kontemporer harus diteliti secara cermat terkait berbagai unsur komponennya, sehingga dapat dinilai dan diubah sejauh diperlukan, serta dapat dideterminasi prioritas-prioritas baru untuk implementasi nilai-nilai Al-Quran secara segar dan bermakna. 45. Disajikan narasi tentang ragam metode dan klasifikasi tafsir al qur'an, mahasiswa dapat menentukan kelebihan dan kekurangan metode tafsir kontekstual dalam penafsiran alquran Jawab : KELEBIHAN : a. Mempertahankan semangat keuniversalan al Qur’an, sebab dengan penafsiran kontekstual maka nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan tetap sejalan dengan perkembangan zaman. b. Metode tafsir kontekstual merupakan sintesa dari metode analitis, tematik, dan hermeneutika. Sebab metode analitis diperkaya dengan sumber tradisional yang memuat substansi yang diperlukan bagi proses penafsiran, metode tematik diunggulkan dengan kemampuannya meramu ayat-ayat al Qur’an dalam satu tema dan mengaktualisasikannya, tafsir hermeneutika titik penekanannya adalah kajian kata dan bahasa , sejarah, sosiologi, antropologi dan sebagainya sebagai alat bantu yang penting dalam menafsirkan al Qur’an. Sehingga wajar bila tafsir kontekstual dianggap sebagai gabungan dari metode-metode tersebut. c. Metode tafsir kontekstual akan membuka wawasan berpikir serta mudah dipahami sebab banyak data yang ditampilkan namun penyampaiannya tetap sesuai dengan konteks pemahaman audiens. KEKURANAGAN : a. Hasil penafsiran kontekstual terkadang didahului oleh interest pribadi dan dorongan hawa nafsu karena adanya pintu penyesuaian nilai-nilai al Qur’an dengan kondisi masyarakat. Tentu dengan keterbukaan tersebut memancing seseorang untuk
menafsirkan al Qur’an sesuai dengan seleranya yang pada akhirnya penafsiran yang ia lahirkan sifatnya mengada-ada. b. Dengan semangat tafsir kontekstual terkadang melahirkan ketergesa-gesahan menafsirkan ayat yang merupakan otoritas Allah untuk mengetahui maknanya. c. Usaha tafsir kontekstual terkadang menitikberatkan sebuah penafsiran pada satu aspek misalnya aspek kondisi sosial semata tanpa melihat aspek-aspek yang lain termasuk bahasa, asbab nuzul, nasikh mansukh, dsb. Sehingga penafsiran tersebut menyimpang dari maksud yang diinginkan. d. Tafsir kontekstual memotivasi seseorang untuk cepat merasa mampu menafsirkan al Qur’an sekalipun syarat-syarat mufassir belum terpenuhi. Sebab penguasaan terhadap satu cabang ilmu dan keberanian berkomentar bukanlah dasar utama sebuah penafsiran. e. Berkembangnya tafsir kontekstual sebenarnya menjadi awal kemunduran umat Islam. Sebab terkadang tafsir kontekstual ini berdampak pada keengganan –kekurangan- untuk merujuk pada riwayat-riwayat dan penjelasan para ulama terdahulu. Padahal keiistimewaan dan ciri khas umat Islam adalah dalil-dalil naqlinya () نحن أمة الدليل 46. Disajikan narasi tentang ragam metode dan klasifikasi tafsir al-qur'an, mahasiswa dapat menentukan metode tafsir al-quran kontemporer dalam penafsiran al-quran Jawab : 1. Menguasai dengan baik sejarah manusia terutama sejarah orang-orang Arab pra-Islam, baik secara bahasa, sosial, politik, dan ekonomi sebagai modal awal proses penafsiran kontekstual. Sebab selain Al-Quran tidak diturunkan alam ruang hampa, di dalamnya juga terdapat banyak informasi tentang mereka. 5. Menguasai secara menyeluruh seluk-beluk orang-orang Arab dan sekitarnya sebagai sasaran utama turunnya Al-Quran dari awal turunnya ayat pertama hingga ayat terakhir, bahkan hingga Rasulullah saw. wafat. Sebab tidak semua ayat Al-Quran memiliki sababun nuzul sehingga bila hanya mengandalkan asbabun nuzul, maka penafsiran akan kurang sempurna. Oleh karenanya, penguasaan terhadap seluk-beluk orang-orang Arab dan sekitarnya sangat mendesak yang sangat diharapkan bisa membantu proses penafsiran kontekstual 6. Menyusun ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan kronologi turunnya, memperhatikan korelasi sawabiq dan lawahiq ayat, mencermati struktur lingustik ayat dan perkembangan penggunaannya dari masa ke masa, dan berusaha menggali kandungan inter-teks dan extra-teks secara komprehensif. 7. Mencermati penafsiran para tokoh besar awal Islam secara seksama dan konteks sosio-historinya, terutama yang secara lahir bertentangan dengan Al-Quran, tetapi
bila diperhatikan ternyata sesuai dengan tuntutan sosial yang ada pada waktu itu dan tetap berada dalam spirit Al-Quran 8. Mencermati semua karya-karya tafsir yang ada dan memperhatikan konteks sosio-historis para penafsirnya. Sebab bagaimana pun juga, para penafsir mempunyai sisi-sisi kehidupan yang berbeda satu sama lain dan turut memengaruhi penafsirannya. 9. Menguasai seluk-beluk kehidupan manusia dimana Al-Quran hendak ditafsirkan secara kontekstual dan perbedaan serta persamaannya dengan masa-masa sebelumnya, terutama pada masa awal Islam 10. Mengkombinasikan semua enam poin di atas dalam satu kesatuan utuh pada saat proses penafsiran dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar Al-Quran 47. Disajikan narasi terkait dengan sejarah tafsir kontemporer, mahasiswa dapat menganalisis urgensi tafsir kontemporer dalam penafsiran al-quran Jawab : Tafsir kontekstual yang tujuan utamanya adalah membumikan nilai-nilai al Qur’an sehingga semangat keislaman tetap selaras dengan perkembangan zaman, memberikan sebuah pemahaman bahwa keberadaan tafsir kontekstual mulai terasa dan berkembang sejak al Qur’an diturunkan. Tafsir kontekstual secara sederhana adalah kegiatan untuk mengeksplansi firman Allah SWT dengan memperhatikan indikasi-indikasi dari susunan bahasa dan keterkaitan kata demi kata yang tersusun dalam kalimat serta memperhatikan pula penggunaan susunan bahasa itu oleh masyarakat, sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Sehingga tafsir jenis ini memiliki aneka ragam konteks, baik konteks bahasa, konteks waktu, konteks tempat, maupun konteks sosial budaya. Dengan demikian, paling tidak terdapat dua hal yang perlu ditekankan dalam proses tafsir kontekstual, yaitu: aspek kebahasaan, dan aspek ruang dan waktu; baik masa terciptanya teks pada suatu masyarakat atau lingkungan tertentu, maupun masa sekarang yang menjadi ruang dan waktu dari penafsir suatu teks. 48. Disajikan narasi terkait dengan ragam penafsiran al-qur'an, mahasiswa dapat melakukan sintesis pendekatan tafsir dalam tafsir konteporer Jawab : Pendekatan sosio-historis, dalam pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang menekankan pentingnya memahami kondisi-kondisi aktual ketika Al-Quran dalam rangka menafsirkan pernyataan legal dan sosial ekonominya. Atau dengan kata lain, memahami Al-Quran dalam konteks kesejarahan dan harfiyah, lalu memproyeksikannya kepada situasi masa kini kemudian membawa fenomena-fenomena sosial ke dalam naungan- naungan tujuan Al-Quran. Pendekatan sejarah tersebut tidak bisa lepas dari asbab an-nuzul ayat Al-Quran yang biasanya walau tidak seluruhnya bersumber dari Sunnah, atsar ataupun dari tabi’in. Jadi, secara metodologis teknik ini termasuk kedalam metode tafsir bi al- ma’tsur. Hubungan teks dan konteks bersifat dialektis; teks menciptakan konteks, persis sebagaimana konteks menciptakan teks; sedangkan makna timbul dari keduanya. Upaya ke arah penafsiran kontekstual terhadap teks-teks Al-Quran pertama- tama harus dimulai dengan
menempatkan prinsip ketuhanan Tauhid. Di sinilah, maka ayat-ayat Al-Quran yang bermakna pesan-pesan yang bersifat universal ini harus menjadi dasar bagi seluruh cara pandang penafsiran kita terhadap teks-teks atau ayat-ayat Al-Quran. Aplikasi pendekatan kesejarahan ini menekankan pentingnya perbedaan antar tujuan atau “ideal moral” Al-Quran dengan ketentuan legal spesifiknya. Ideal moral yang dituju Al-Quran lebih pantas diterapkan ketimbang ketentuan legal spesifiknya. Jadi dalam kasus seperti perbudakan yang dituju Al-Quran adalah emansipasi budak. Sementara penerimaan Al-Quran terhadap pranata tersebut secara legal, dikarenakan kemustahilan untuk menghapuskan seketika. 49. Disajikan pendapat beberapa tokoh hermeneutika, mahasiswa dapat menganalisis perbedaan makna dan kandungan hermeneutika di antara tokoh tersebut Jawab : • Menurut Zygmunt Bauman sebagaimana dikutip oleh Komaruddin Hidayat bahwa hermeneutika adalah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang- remang dan kontradiksi sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca • Menurut Carl E. Braaten, hermeneutika adalah ilmu yang merefleksikan bagaimana sebuah kata atau peristiwa dalam budaya dan waktu yang lalu agar bisa dipahami dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang ini (the science of reflecting on how a word or event in a past time and culture may be understood and become existentially meaningful in our present situation). (pendalaman materi modul ke 3 KB 1) 50. Disajikan data tentang sejarah penafsiran al-quran, mahasiswa dapat merumuskan faktorfaktor digunakannya hermeneutika dalam kajian dan penafsiran al-quran Jawab : Menurut Alparslan Acikgence menyebutkan bahwa munculnya ilmu didorong karena 3 (tiga) faktor, yaitu adanya komunitas ilmuwan yang memiliki pandangan hidup yang pada dataran konsep mereka memiliki apa yang disebut lingkungan konseptual (conceptual environment), adanya keterkaitan antara satu konsep dan konsep keilmuan yang lain yang membentuk apa yang disebut sebagai kerangka konsep keilmuan (scienctific conceptual scheme), adanya keterkaitan konsep itu terjadilah suatu cara pandang terhadap sesuatu yang pada gilirannnya akan menghasilkan saling hubungan antara satu dan kosa kata teknis (technical vocabulary) lainnya. (pendalaman materi modul ke 3 KB 1) 51. Disajikan narasi tinjauan hermeneutika Esack dalam tafsir al-quran, mahasiswa dapat mengritisi konsep dasar dan pendekatan hermeneutika Esack dalam kajian al-quran Jawab : Selanjutnya menurut Esack, terdapat 3 (tiga) unsur intrinsik dalam setiap proses menafsirkan teks, yakni teks itu sendiri dan pengarangnya, penafsir, dan tindakan penafsiran. Penjelasan masing-masing adalah sebagai berikut : a. Teks dan pengarangnya
Dalam proses penafsiran sebuah teks maka seorang penafsir haruslah mampu memasuki pikiran pengarang teks. Dalam konteks Alquran maka sesungguhnya Tuhanlah pengarangnya. Persoalan mengaitkan diri dari seorang penafsir dengan Tuhan sebagai pengarang untuk tujuan mencapai makna teks yang sesungguhnya sangatlah problematis ketika yang dimaksud di sini adalah menyelami pribadi Tuhan sehingga produk penafsirannya identik dengan apa yang dikehendaki-Nya. Bagi Esack, manusia memang tak mungkin memasuki pikiran Tuhan tapi bukanlah hal yang luar biasa jika ada sebagian orang yang mengklaim bahwa Tuhan mengendalikan pikiran mereka. Pernyataan ini bisa dipahami dan digunakan dalam Islam. Terkait dengan hal tersebut jalur yang dilalui ada 2 (dua), yang pertama via intuisi yang secara metodologis menggabungkan antara kesalehan dan pemikiran untuk menghasilkan makna seperti yang biasa dilakukan para sufi sedangkan yang kedua via posisi Muhammad sebagai nabi yang mempunyai otoritas menafsirkan Alquran secara mutlak benar sehingga untuk mencapai makna suatu teks yang dimaksud Tuhan, penafsir seringkali bertanya “Bagaimana pemahaman Muhammad tentang teks ini “ b. Penafsir memikul banyak beban Tak bisa dielakkan bahwa ketika penafsir memasuki proses penafsiran, dia telah membawa seperangkat pemahaman awal tentang soal yang akan dirujuk teks sekalipun tak disuarakan. Penafsir juga seringkali menyertakan konsepsinya sendiri sebagai asumsi awal dalam penafsirannya. Dengan demikian maka makna dimanapun dia tempatkan selalu ada dalam struktur pemahaman penafsir c. Tindakan Penafsiran Penafsiran tak bisa melepaskan diri dari bahasa, sejarah, dan tradisi. Sesungguhnya Alquran sebagai firman Allah diturunkan untuk umat manusia sehingga Alquran diturunkan dengan bahasa manusia, yakni bahasa Arab. Hal ini mengingat penerima pertama wahyu adalah masyarakat Arab. Persoalan bahasa Alquran yakni bahasa Arab menjadi penting karena bahasa itu sendiri merupakan aktualisasi dari sejarah dan tradisi yang sedang berjalan di dalamnya. David Tracy mengatakan bahwa ketika penafsir mendatangi teks tidaklah bisa lepas dari bahasa, sejarah, dan tradisi (pendalaman materi modul ke 3 KB 1) 52. Diberikan data sejarah kodifikasi Quran, mahasiswa dapat menganalisis konsep dasar pendekatan historis dalam kajian al-quran Jawab : a. Pengumpulan Alquran pada Masa Rasulullah saw b. Pengumpulan Alquran pada Masa Khalifah Abu Bakar c. Pengumpulan Alquran pada Masa Khalifah Usman bin Affan (modul 3 KB 2) 53. Diberikan contoh perbedaan konteks sosial, mahasiswa dapat menganalisis Konsep dasar pendekatan sosiologis dalam kajian al-quran Jawab :
Dalam perspektif sosiologi ini ada 4 (empat) asumsi dasar kerja ilmiah yang secara umum digunakan. Adapun konsep dasar dari masing-masing asumsi dasar dimaksud adalah:21 a. Evolusionisme. Pendekatan ini memusatkan telaahnya pada mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda. Contoh: Apakah proses memudarnya masyarakat tradisional sama untuk setiap bangsa dan negara? b. Interaksionisme. Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada interaksi antara individu dan kelompok. Interaksi ini bisa denganmenggunakan simbol-simbol atau isyarat, kemudian diperhatikan reaksi orang terhadap makna dari simbol-simbol itu dan dihubungkan dengan benda- benda atau kejadian-kejadian yang berlangsung. c. Fungsionalisme. Dalam paham ini masyarakat dipandang sebagai satu jaringan kerja sama kelompok yang saling membutuhkan satu sama lain dalam sebuah sistem yang harmonis, misalnya: fenomena saling ketergantungan antara sekolah, anak didik, guru, dan orang tua. d. Konflik. Menurut konflik bahwa masyarakat itu terikat kerjasama yang erat karena kekuatan kelompok atau kelas yang dominan. Dia mewariskan sebuah ketegangan yang terus menerus dalam sebuah fenomena setiap kelompok ingin mempertahankan dominasinya (modul 3 KB 2) 54. Disajikan data tentang proses pewahyuan ayat-ayat Alquran, mahasiswa dapat menilai penolakan Fazlur Rahman tentang peran Malaikat Jibril seperti tukang pos dalam pendekatan historis sosiologis. Jawab : Berdasarkan argumen tersebut maka Rahman telah menolak adanya proses pewahyuan yang melibatkan Jibril sebagai sosok yang bersifat eksternal artinya pewahyuan bukanlah laksana proses seorang tukang pos yang menyampaikan surat dari pengirim surat ke penerima surat, melainkan pengalaman pewahyuan tersebut digambarkan sebagai suatu pengalaman spiritual. Dengan demikian Alquran adalah kata-kata Allah, tetapi tentu saja secara sepadan berhubungan intim dengan pribadi terdalam dari Nabi Muhammad yang hubungannya dengan kata-kata suci tersebut tak dapat diamati secara mekanis seperti halnya sebuah cataan. Katakata ilahi tersebut mengalir melalui hati Nabi. (modul 3 KB 2) 55. Diberikan narasi terkait sejarah kesadaran semantik dalam penafsiran al-quran pada abad ke-8 an, mahasiswa dapat menilai konsep dasar pendekatan semantik dalam kajian Quran Jwb: Semantik merupakan sebuah metode yang meneliti tentang makna-makna dan konsep- konsep yang terdapat pada kata di dalam al-Qur'an dengan mempelajari langsung sejarah penggunaan kata tersebut, bagaimana Perubahan maknanya, dan pembentukan konsep yang terkandung di dalam kata tersebut.
56. Diberikan contoh teks ayat QS. al-A'raf: 94-95. Berdasarkan ayat tersebut mahasiswa dapat menganalisis perkembangan makna sinonim substitutif. Jwb: memperhatikan secara khusus makna sinonim suatu kata tersebut untuk tujuan analisis. Kasus seperti ini dapat dilihat dalam Q.S. Al-A’raf : 94-95. ْ ثُ َّم َبدَّۡل َنا َم َكا َن ٱل َّس ِّيئَة ٱ ۡل َح َس َن َة َحتَّ ٰى َع َفواْ َّو َقالُوا٩٤ َو َمآ أَ ۡر َسۡل َنا في َق ۡر َي ٖة ِّمن َّنب ِّي إََّّل أَ َخ ۡذ َنآ أَ ۡه َل َها بٱۡل َب ۡأ َسآء َوٱل َّض َّرآء َلعَلَّ ُه ۡم َي َّض َّر ُعو َن ٩٥ َق ۡد َم َّس َءا َبآ َء َنا ٱل َّض َّرآ ُء َوٱل َّس َّرآ ُء َفأَ َخ ۡذ َٰن ُهم َب ۡغتَ ٗة َو ُه ۡم ََل َي ۡشعُ ُرو َن Artinya: Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri (94). Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya (95). (Q.S. Al-A’raf : 94-95) Dalam ayat tersebut frase “ba’sa dan dharra” digantikan oleh ayat berikutnya dengan frase lain yaitu “sayyiah” tanpa perubahan makna yang esensial. Dengan memperhatikan hal ini maka akan dapat diketahui secara pasti bahwa kata “sayyiah” memiliki kesamaan esensi makna dengan “jahat atau buruk”. 57. Disajikan tafsir moralitas dalam kata salih, khayr, hasan, birr, thayyib, dan mar'uf, mahasiswa dapat mengkritisi pendekatan Semantik dalam Studi al-quran menurut Toshihiko Izuts Jwb: Toshihiko Izutsu meneliti konsep-konsep etikareligius dalam Al- Quran. Hasil penelitiannya menetapkan ada lima nilai etik yang perlu dikembangkan ma nusia yaitu: 1) murah hati, 2) keberanian, 3) kesetiaan, 4)kejujuran, dan 5) kesabaran. Be rikutnya Izutsu menuangkan konsep kemunafikanreligius serta membahas konsep baik d an buruk secara mendalam. Bahasannya meliputi konsep salih, birr, fasad, ma‟ruf dan munkar, khair dan syarr, ḫ usn danqubh , fakhisyah atau fawakhisy, thayyib dan khabis, haram dan halal termasukkonsep dosa. S elain masyarakat muslim menjadikan Alquran sebagai paradigma dalam berbagai aspek kehidupan, faktor penyebab kemajuan pada zaman
keemasan Islam adalah sikap umat Islam yang mencintai dan mementingkan penguasaan Iptek. 58. Diberikan data sejarah penafsiran al-quran, mahasiswa dapat mengkritisi kajian historis pendekatan semiotika dalam kajian Alquran Jwb: Semiotika sebagai salah satu pendekatan studi al-Qur'an berupaya untuk mengkonstruksi makna bahasa al-Qur'an dengan sistem tanda. Metode interpretasi tanda adalah dengan mensinergikan antara petanda dan penanda sehingga melahirkan representasi makna yang baru. 59. Diberikan narasi terkait relasi semiotika dan tafsir Alquran, mahasiswa dapat memperjelas konsep dasar pendekatan semiotika dalam kajian al-quran Jwb: Pembacaan kembali al-Qur’an bertujuan untuk mengerti dan menemukan makna. Sebuah teks tidak akan habis memproduksi makna sehingga tidak boleh dibakukan. Pembakuan teks akan berakibat pada stagnasi. Untuk itu, kita harus mendekati al-Qur’an dengan semangat penelitian. Jadi setiap kali kita membaca, kita akan memproduksi makna. 60. Diberikan narasi tafsir QS Al-fatihah yang dilakukan Mohammed Arkoun, mahasiswa dapat menilai pendekatan semiotik dalam pembacaan Surat al-Fatihah oleh Mohammed Arkoun Jwb: hasil telaah Arkoun pada surah Al-Fatihah dengan metode hermeneutikanya menuai inti sebagai berikut. “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamini” menunjukkan kecenderungan pada keilmuan dasar seperti ontologis dan metodologis pengetahuan. Maaliki yamiddin” perihal ekskatologi. “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” bermakna peribadatan. “Ihdinash shiratal mustaqim” berbicara masalah etika. “Alladzina an’amta ‘alaihim” membicarakan ilmu kenabian. Kemudian, “ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhallin” mencakup masalah sejarah, spiritual kemanusiaan, tema-tema simbolis orang-orang yang buruk (kejahatan) yang diuraikan dalam kisah-kisah terdahulu. 61. Diberikan deskripsi beberapa terminologi tentang pendidikan karakter dari para tokoh pendidikan, mahasiswa dapat menyimpulkan pengertian pendidikan karakter yang sejalan dengan kandungan al-qur'an hadis 62. Diberikan contoh kasus pelaksanaan pendidikan karakter di madrasah, mahasiswa dapat mengembangkan konsep pendidikan karakter dalam perspektif quran 63. Diberikan contoh kasus pelaksanaan pendidikan karakter di madrasah, mahasiswa dapat mengembangankan Konsep pendidikan karakter dalam perspektif hadis
64. Diberikan narasi tentang pentingnya wawasan kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mahasiswa dapat menemukan makna wawasan kebangsaan yang sejalan dengan kandungan al-quran 65. Disajikan data dan studi kasus yang terdapat di masyarakat, mahasiswa dapat menemukan dalil terkait dengan konsep wawasan kebangsaan dalam prespektif al-quran 66. Disajikan data dan studi kasus yang terdapat di masyarakat, mahasiswa dapat menemukan dalil wawasan kebangsaan dalam prespektif hadis 67. Disajikan pokok bahasan dalam pembelajaran al-quran hadis, mahasiswa dapat memilih nilai-nilai karakter yang terdapat dalam mata pelajarana lquran hadis 68. Disajikan narasi terkait dengan contoh kasus permasalahan karakter siswa di satuan pendidikan atau masyarakat, mahasiswa dapat merumuskan nilai-nilai karakter dan wawasan kebangsaan dalam perspektif quran 69. Disajikan narasi terkait dengan contoh kasus permasalahan karakter siswa di satuan pendidikan atau masyarakat, mahasiswa dapat merumuskan nilai-nilai karakter dan wawasan kebangsaan dalam perspektif hadis 70. Disajikan teks ayat al quran QS Al-A’raf Ayat 176, mahasiswa dapat dapat merumuskan metode ibrah dalam al quran untuk diimplementasikan dalam kehidupan seharai-hari 71. Disajikan narasi terkait contoh krisis nilai-nilai karakater dan kebangsaan dalam kehidupan kebangsaan Indodnesia, mahasiswa dapat merumuskan metode keteladanan dalam alquran untuk diimplementasikan dalam kehidupan seharai-hari 72. Disajikan narasi terkait contoh krisis nilai-nilai karakater dan kebangsaan dalam kehidupan kebangsaan Indodnesia, mahasiswa dapat merumuskan metode nasehat dalam al-quran untuk diimplementasikan dalam kehidupan seharai-hari 73. Disajikan deskripsi kompetensi, mahasiswa dapat menganalisis rumusan KI KD dalam kaitan dengan penyusunan IPK Jawab������ Yang perlu diperhatikan dalam merumuskan indicator: a. Indikator dirumuskan dari KD. b. Menggunakan kata kerja operasional (KKO) yang dapat diukur. c. Indikator dirumuskan dalam kalimat yang simpel, jelas dan mudah dipahami. d. Tidak menggunakan kata yang bermakna ganda. e. Hanya mengandung satu kompetensi atau tindakan f. Memperhatikan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, masyarakat dan lingkungan. 74. Disajikan contoh IPK, mahasiswa dapat menentukan kriteria IPK yang bermuatan tuntutan pembelajaran abad 21 serta penguatan pendidikan karakter Jawab������ Kriteria IPK yang bermuatan tuntutan pembelajaran abad 21 serta penguatan Pendidikan karakter: a. Indikator Kunci ➢ Indikator yang sangat memenuhi kriteria UKRK.
➢ Kompetensi yang dituntut adalah kompetensi minimal yang terdapat pada KD. ➢ Memiliki sasaran untuk mengukur ketercapaian standar minimal dari KD. ➢ Dinyatakan secara tertulis dalam pengembangan RPP dan harus teraktualisasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran. d. Indikator Pendukung atau indikator prasyarat ➢ Membantu peserta didik memahami indikator kunci. ➢ Kompetensi yang sebelumnya telah dikuasai peserta didik dikaitkan dengan indikator kunci yang dipelajari. e. Indikator Pengayaan ➢ Mempunyai tuntutan kompetensi yang melebihi dari tuntutan kompetensi dari standar minimal. ➢ Tidak harus selalu ada. ➢ Dirumuskan apabila peserta didik berpotensi memiliki kompetensi yang lebih tinggi dan perlu peningkatan dari standar minimal. 75. Disajikan data dan informasi tentang usia peserta didik kelas antara 7-17 tahun, mahasiswa dapat menentukan model/pendekatan/strategi pembelajaran berdasarkan teori perkembangan intelektual peserta didik Jawab������ Cara menentukan model/pendekatan/strategi pembelajaran berdasarkan teori perkembangan intelektual peserta didik: a. Tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah faktor penentu utama dalam memilih metode pembelajaran, karena dari tujuan inilah bisa diketahui apakah tujuan pembelajaran bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik; b. Materi pembelajaran. Materi pembelajaran akan menentukan metode apa yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan kepada siswa; c. Karakteristik siswa. Salah satu faktor siswa yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode mengajar adalah usia, tingkat kecerdasan, minat, motivasi, dan kondisi fisik siswa; d. Karakteristik Guru. Karakteristik guru yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode mengajar adalah kondisi fisik dan kompetensi yang dimiliki guru; e. Media pembelajaran. Faktor media yang harus dipertimbangkan oleh guru adalah ketersediaan media pembelajaran yang ada, karena pemilihan metode akan menentukan pula media apa yang dibutuhkan; f. Lingkungan. Faktor lingkungan yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam memilih metode mengajar adalah lingkungan alam, cuaca, dan lingkungan sosial dimana proses pembelajaran dilakukan.
76. Disajikan studi kasus terkait dengan tindak tawuran pelajar, mahasiswa dapat menganalisis perilaku menyimpang peserta didik berdasarkan teori perkembangan moral. Jawab������ Menurut Sarwono dalam Dian Lestari, terdapat beberapa bentuk perilaku menyimpang yang sering terjadi pada tawuran antar pelajar yaitu: a. Perkelahian, pengancam atau intimidasi pada orang lain b. Merusak fasilitas umum c. Menganggu jalannya aktifitas orang lain d. Melanggar aturan sekolah e. Melanggar undang-undang hukum yang berlaku di suatu Negara f. Melanggar aturan orang tua. 77. Disajikan studi kasus/data atau informasi terkait dengan kehidupan peserta didik di lingkun dan sekolah/masyarakat, mahasiswa dapat menganalisis perilaku peserta didik berdasarkan teori perkembangan emosional Jawab������ Perilaku peserta didik berdasarkan teori perkembangan emosional yaitu cinta/ kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu sedih, dan lain-lain. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan perkembangan emosionalnya, dan khususnya pola pendidikan yang dilakukan seseorang terhadap ungkapan perkembangan emosional peserta didik. 78. Diberikan deskripsi tentang gaya belajar siswa (tanpa menyebut nama gaya belajar) dalam pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan jenis teori belajar behavioristik dalam pembelajaran. Jawab������ Jenis teori belajar behavioristik dalam pembelajaran: 2. Teori belajar koneksionisme dengan tokoh Edward Lee Thorndike Belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. 3. Teori belajar classical conditioning dengan tokoh Pavlov. 4. Teori belajar Descriptive behaviorism atau operant conditioning dengan tokoh Skinner. 79. Diberikan deskripsi tentang gaya belajar siswa (tanpa menyebut nama gaya belajar) dalam pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan jenis teori belajar kognitif dalam pembelajaran. 80. Diberikan deskripsi tentang gaya belajar siswa (tanpa menyebut nama gaya belajar) dalam pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan jenis teori belajar konstruktivistik dalam pembelajaran 81. Diberikan deskripsi tentang gaya belajar siswa (tanpa menyebut nama gaya belajar) dalam pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan jenis teori belajar humanistik dalam pembelajaran. 82. Diberikan deskripsi tentang gaya belajar siswa (tanpa menyebut nama gaya belajar) dalam pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan jenis teori belajar sosial dalam pembelajaran
83. Diberikan kasus tentang pembelajaran, mahasiswa dapat menilai konstruksi IPK dalam RPP yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan kemampuan kolaboratif 84. Disajikan informasi tentang kegiatan pembelajaran SKI, mahasiswa dapat menentukan Model/Pendekatan/Strategi pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berpikir kritis 85. Disajikan informasi tentang kegiatan pembelajaran SKI, mahasiswa dapat menentukan Model/Pendekatan/Strategi pembelajaran untuk pengembangan kemampuan berpikirkreatif 86. Disajikan informasi tentang kegiatan pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan Model/Pendekatan/Strategi pembelajaran untuk untuk pengembangan kemampuan berpikir inovatif 87. Disajikan kasus pembelajaran, mahasiswa dapat menilai pelaksanaan pembelajaran tersebut apakah telah berorientasi pada pendekatan TPACK 88. . Disajikan data dan informasi tentang kemajuan teknologi, mahasiswa dapat menentukan karakteristik guru abad 21 89. Disajikan beberapa contoh materi pokok dan bahan ajar, mahasiswa dapat menyusun materi ajar berdasarkan struktur pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif 90. Disajikan narasi terkait dengan pembelajaran dan tuntutan keterampilan global sebagai dasar dalam pembuatan RPP, mahasiswa mampu merumuskan Langkah-langkah penentuan pendekatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan tuntutan K13 dan perkembangan abad 21 91. Disajikan narasi terkait dengan pembelajaran dan tuntutan keterampilan global sebagai dasar dalam pembuatan RPP, mahasiswa mampu merumuskan Langkah-langkah penentuan pstrategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan tuntutan K13 dan perkembangan abad 21 92. Disajikan Rumusan KI KD dan IPK, mahasiswa mampu menentukan sumber belajar konvensional dan berbasis IT yang relevan 93. Disajikan model pembelajaran, peserta mampu menentukan model yang paling tepat 94. Diuraikan ciri-ciri pembelajaran holistik, peserta didik mampu menganalisis pembelajaran holistic 95. Disajikan konsep pembelajaran kontekstual dan futuristik, peserta didik mampu membedakan konsep keduanya 96. Disajikan RPP yang memanfaatkan teknologi dan media informasi abad 21, peserta mampu menemukan RPP yang paling tepat 97. Disajikan narasi pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan unsur-unsur pembelajaran berdasarkan saintifik 98. Disajikan deskripsi pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan teknik guru dalam menstimulasi siswa untuk bertanya dalam pembelajaran berdasarkan pendekatan saintifik
99. Diberikan contoh-contoh aktifitas guru di dalam kelas dalam pembelajaran, mahasiswa mampu mengidentifikasi langkah yang tepat dalam pengembangan kemampuan penalaran siswa 100. Diberikan contoh-contoh aktifitas guru di dalam kelas dalam pembelajaran, mahasiswa mampu mengidentifikasi langkah yang tepat dalam penerapan TPAC pada pembelajaran 101. Diberikan contoh-contoh aktifitas guru di dalam kelas dalam pembelajaran, mahasiswa mampu mengidentifikasi langkah yang tepat dalam penerapan pembelajaran untuk mencapai abad 21 102. Disajikan deskripsi tentang konsep dasar pengukuran, mahasiswa dapat mengambil kesimpulan tentang pengertian, ciri, tujuan, dan manfaat penilaian pembelajaran 103. Disajikan deskripsi tentang konsep dasar pengukuran, mahasiswa dapat mengambil kesimpulan tentang pengertian, ciri, tujuan, dan manfaat evaluasi pembelajaran 104. Disajikan data hasil belajar siswa, mahasiswa dapat menentukan keterhubungan antara objek dan teknik evaluasi pembelajaran 105. Disajikan contoh-contoh soal, mahasiswa dapat menentukan katagori karakteristik soal HOTS 106. Disajikan soal untuk mengukur ranah kognitif, mahasiswa dapat menganalisis soal tersebut berdasarkan standar HOTS 107. Disajikan data soal yang sudah diujicobakan, mahasiswa dapat menganalisis butir soal untuk menentukan tingkat validitas dan reliabilitas soal 108. Disajikan data hasil tes, mahasiswa mampu menyimpulkan teknik pengolahan hasil tes menggunakan standar tertentu 109. Disajikan data hasil tes, mahasiswa dapat mengkatagorisasikan jenis penilaian kinerja 110. Disajikan materi tentang Program remedial, mahasiswa dapat menganalisis konsep Program remedial untuk menentukan kuantitas dan kualitas suatu objek dalam pembelajaran 111. Disajikan materi tentang Program Pengayaan, mahasiswa dapat menganalisis konsep Pengolahan hasil penilaian Program Pengayaan unjuk kerja untuk menentukan kuantitas dan kualitas suatu objek dalam pembelajaran 112. Disajikan deskripsi tentang konsep dasar PTK, mahasiswa dapat mengambil kesimpulan tentang pengertian, ciri, tujuan, dan manfaat PTK 113. Disajikan deskripsi tentang permasalahan pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan rumusan masalah PTK 114. Disajikan deskripsi tentang masalah pembelajaran, mahasiswa dapat menentukan tindakan solusi yang sesuai dalam PTK 115. Disajikan deskripsi tetang kegiatan PTK, mahasiswa mampu mengidentifikasi Langkahlangkah PTK yang sistematik 116. Disajikan deskripsi tentang alur penyusunan proposal PTK, mahasiswa dapat menetukan Langkah-langkah penyusunan proposal PT 117. Disajikan deskripsi tentang kasus pembelajaran sebagai data dan informasi, mahasiswa dapat menetukan teknik pengumpulan data yang tepat dalam PTK
118. Disajikan deskripsi tentang data dan informasi pembelajaran, mahasiswa dapat mengidentifikasi teknik pengolahan dan analisis data 119. Disajikan deskripsi tentang konsep dasar KTI, mahasiswa dapat mengambil kesimpulan tentang pengertian, ciri, tujuan, dan manfaat KTI 120. Disajikan deskripsi tentang ragam KTI, mahasiswa mampu menentukan ragam bentuk KTI
Search
Read the Text Version
- 1 - 34
Pages: