Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Naskah Buku Mesin Waktu

Naskah Buku Mesin Waktu

Published by Winarko Winarko, 2023-07-12 23:40:01

Description: Naskah Buku Mesin Waktu

Search

Read the Text Version

“Maaf, Pak, kalau boleh tanya, bapak lahir tahun berapa jika saat ini usia bapak menjelang 60 tahun?” “Bapak lahir tahun 2025, Nak,” jawaban singkat bapak itu membuat Galih tambah melongo. “Tapi ini baru tahun 2020, Pak. Bagaimana mungkin Bapak lahir tahun 2025?” “Sepertinya kamu memang amnesia, Nak. Sekarang sudah tahun 2084. Tahun 2020 bapak belum lahir.” Galih bingung tak tahu harus menjawab apa. Dia yakin sekali kalau dia sedang tidak berada di desanya yang berubah drastis. Tapi bapak itu mengatakan kalau hanya ada satu nama desa Sugiharjo dan itu adalah tempat Galih berpijak saat ini. “Baiklah, Nak. Bapak akan melanjutkan perjalanan lagi. Kamu bisa menjumpai warga desa setelah 500 meter jalan mengikuti jalan setapak ini. Mungkin di sana nanti masih ada orang yang kamu kenali jika benar kamu berasal dari desa Sugiharjo.” Galih mengangguk lemas setelah mengucapkan terima kasih. Saat Galih akan berjalan, terlihat truk pengangkut sampah melintas di hadapannya. Truk itu dibiarkan terbuka baknya tanpa diberi penutup sehingga sampah berceceran di sepanjang jalan. “Pak, berhenti, sampahnya berhamburan!” teriak Galih pada sopir truk sampah. Sopir truk sampah hanya melambaikan tangannya ke arah Galih sambil berkata, “Kamu kan juga suka membuang sampah sembarangan, kenapa panik begitu?” Galih terdiam membenarkan perkataan sopir truk sampah tadi. Dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju perumahan warga desa. Semoga apa yang dikatakan bapak tadi benar, aku masih menjumpai orang yang kukenal di desaku sendiri. “Awaaaas! Minggir-minggir!” Beberapa anak mendorong gerobak sampah beramai-ramai dan menuangkan isinya ke dalam sungai. 93

“Kenapa dibuang ke sungai sampahnya? Tidak adakah tempat pembuangan sampah di sini?” teriak Galih pada mereka. “Kita di sini biasa kok mau buang sampah di mana aja. Sejak kita lahir lingkungan kita sudah penuh dengan sampah. Jadi ada penampungan sampah atau tidak sepertinya nggak ada artinya bagi kita.” Galih membelalakkan matanya tak percaya dengan jawaban anak-anak itu. “Kalian tinggal di desa Sugiharjo?” “Ya, ini desa Sugiharjo. Kenapa?” jawab salah satu anak sambil mendekati Galih. “Aku ingin mencari rumahku di sini,” jelas Galih. Anak-anak itu saling pandang karena tak percaya. “Kalau dilihat dari penampilannya, kami tidak kenal denganmu. Lalu rumah siapa yang akan kamu tuju?” Galih bingung antara harus menyebutkan nama orang tuanya atau dibiarkan saja anak-anak itu penasaran dan melanjutkan perjalanannya lagi. Saat dia berpikir itulah, dari arah desa seluruh warga berbondong-bondong berlarian sambil meneriakkan kata, “Banjir, banjir, banjir.” Wus, seketika Galih dan warga desa terbawa arus sampah yang deras. Banjir kali ini bukan lagi banjir air dan lumpur melainkan banjir sampah sehingga badan yang hanyut tak dapat digerakkan. “Tolong, tolong, tolong!” Galih berteriak sekuat tenaga. Saat dia akan menggapai sebatang pohon yang mengapung di dekatnya, tiba-tiba, bruuuuk! “Aduuuuuh!” Galih meringis kala menyadari dirinya terjatuh dari tempat tidur. “Rupanya cuma mimpi,” Galih mengucapkan syukur pada Tuhan karena apa yang dialami barusan tidak nyata adanya. Bergegas Galih menuju jendela kamarnya untuk memastikan bahwa tadi memang mimpi. Halaman rumahnya tetap asri, tidak ada sampah yang menggunung di sana. Saat Galih keluar kamar untuk menuju ruang makan, dia juga tidak menjumpai sampah yang tercecer di sana. Semua bersih. 94

“Galih, buruan mandi, Nak. Sebentar lagi waktu ngaji di masjid,” Ibu mengingatkan anak sulungnya untuk bergegas mandi karena hari sudah sore. “Wil, tadi waktu tidur siang aku mimpi aneh,” Galih menceritakan mimpinya pada Wildan di sela-sela kegiatan ngaji mereka. “Itu akibatnya kalau kamu suka membuang sampah sembarangan, Lih. Udah bagus kamu mengalami mimpi seperti itu, artinya Tuhan memberimu pelajaran lewat cara yang sederhana. Coba kalau kamu ditegur Tuhan secara langsung dan benar-benar mengalami seperti yang terjadi di mimpimu, apa nggak tersiksa banget tu?” Wildan tersenyum menanggapi cerita Galih. “Iya, Wil. Aku jadi sadar, membuang sampah memang harus pada tempatnya supaya bumi kita tidak rusak. Aku sudah janji akan menghilangkan kebiasaan burukku membuang sampah sembarangan.” *** 95

Bunga Ajaib “Sandra, bangun, Nak. Katanya mau pergi membeli tanaman. Nanti keburu siang lho,” Ibu meneriaki putri bungsunya dari lantai bawah. Sandra masih menggeliat di atas tempat tidurnya. Ya, dia ingat, hari libur ini dia akan jalan-jalan ke pasar bunga untuk mencari beberapa bunga yang belum dimilikinya. Sandra memang hobi berkebun. Setiap weekend tiba, dia selalu menghabiskan waktunya untuk merawat tanamannya. Jadi tak heran kalau taman kecil di depan rumahnya tampak asri. Setiap orang yang datang ke rumah Sandra selalu memuji keindahan taman kecilnya. “Jadi jalan ke pasar bunga, San?” tanya Dito, kakak Sandra ketika mereka sudah berada di meja makan untuk sarapan. “Jadi, Kak. Habis sarapan aku dan Bella mau jalan ke pasar bunga.” “Memang mau cari bunga apalagi sih, San? Apa ada varian baru ya?” tanya Ibu sambil menuangkan teh hangat ke cangkir ayah. “Nggak tahu ni, Bu. Mau lihat-lihat dulu nanti ketemunya apa. Tabungan Sandra juga nggak begitu banyak kok. Cari yang murah tapi bagus aja, sih.” 96

“Ya, sudah, Ibu nggak masalah asal kamu punya waktu untuk merawatnya. Tanaman itu kan juga makhluk hidup sepeti kita. Kasihan kalau kita tidak merawatnya setiap hari.” “Aye, aye, captain.” Sandra memberi acungan dua jempol untuk ibunya. Kakak Sandra dan ayahnya hanya tertawa saja. “Gimana, Bel, kamu sudah mendapatkan bunga yang kamu inginkan?” tanya Sandra ketika mereka sudah hampir satu jam mengublek-ublek pasar bunga. “Belum ada yang menarik hati ni, San. Kamu sendiri gimana? Jadi mau nambah koleksi bunga apa?” “Sama seperti kamu deh. Belum ada yang pas di hati.” Keduanya lantas tertawa bersama. “O, iya, kemarin aku lihat spanduk, sepertinya mulai hari ini sampai satu minggu ke depan ada pameran bunga di Taman Pintar. Apa kita coba kesana aja, San? Jaraknya kan nggak begitu jauh dari sini.” “Boleh juga tu. Hayuk deh, kalau gitu.” Sandra menyerahkan helm pada Bella dan mereka segera menuju Taman Pintar yang terletak di pusat kota. Sampai di Taman Pintar ternyata sudah banyak pengunjung yang memiliki tujuan sama dengan Sandra dan Bella. Tapi itu tak menyurutkan langkah Sandra dan Bella untuk menjelajah setiap stand tanaman. “Cantik banget anggrek ini, San. Sayang harganya juga secantik warnanya.” Bella sedikit kecewa ketika melihat bunga anggrek dua warna yang ditawarkan dengan harga Rp 250.000,- “Kamu nggak tertarik membeli anggrek, San?” Bella menyenggol temannya yang tampak terpukau dengan bunga matahari yang ditanam pada sebuah pot cantik. “Eh, iya, apa Bel? Kamu tanya apa?” “Nggak jadi ah, aku dicuekin ough,” rajuk Bella. “San, aku ke stand kaktus dulu, ya. Sepertinya lagi trend tanaman yang unyu-unyu gitu. Kalau kamu tertarik dengan bunga 97

matahari itu, udah cus beli aja langsung. Bagus kok. Aku aja suka ngelihatnya. Nggak sukanya karena setelah berbunga indah dia akan mati. Harus nunggu bijinya tumbuh dulu untuk bisa melihat keindahan bunganya lagi.” Sandra mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Ketika Sandra mendekati bunga matahari yang sedang mekar indah-indahnya itu, tiba-tiba kelopak bunga matahari itu berubah warna menjadi biru. Sandra mencubit lengannya untuk memastikan jika dia tidak sedang bermimpi. “Auw, sakit,” pekiknya pelan. Sandra memutuskan untuk membeli bunga ajaib itu. Harga yang ditawarkannya pun juga masih terjangkau. Jauh lebih murah dari harga bunga anggrek yang diincar Bella. Sandra dan Bella sampai di rumah menjelang Asar. Bergegas Sandra membawa pot bunga matahari itu ke kamarnya untuk dilihatnya lebih seksama sebelum diletakkan di taman kecilnya. Pot bunga matahari itu diletakkan Sandra di atas meja belajar. Setelah mandi, Sandra duduk di depan meja belajar sambil memandang bunga matahari ajaib yang baru saja dibelinya. Tepat pukul lima sore, warna bunga yang semula kuning kebiru-biruan berubah total menjadi biru. Sandra sampai terpekik karena tidak percaya. Apa iya ada bunga yang dapat berubah warna seperti ini selain bunga panca warna? Antara belum tahu jawabannya dan lelah setelah seharian berburu bunga, Sandra tertidur pulas. Pagi hari Sandra membuka jendela kamarnya karena merasa mendengar suara aneh dari balik jendelanya. Alangkah terkejutnya Sandra ketika melihat ada seorang peri yang cantik sedang menyirami bunga melati milik Sandra yang ditanam di depan jendela kamarnya dengan cara memeras kain kecil yang basah oleh air. “Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di situ?” “Jangan takut, Sandra. Kenalkan, aku adalah peri bunga. Aku datang dari negeri peri karena diperintah untuk mencari bunga ajaib dan tiga bunga lainnya untuk mengobati rakyat di negeri kami yang sedang dilanda wabah penyakit.” 98

“Bunga ajaib apa yang kamu maksud?” Selidik Sandra yang khawatir jika bunga ajaib yang dimaksud itu adalah bunga mataharinya yang berwarna biru. “Bunga yang dapat berubah warna setiap menjelang senja, Sandra.” Benar dugaan Sandra. Peri bunga itu pasti tahu jika Sandra memiliki bunga ajaib yang dia cari. ”Kamu tahu dari mana aku memiliki bunga ajaib itu?” “Aku sudah mengelilingi kota ini selama dua hari, Sandra. Syukurlah hari ini aku menemukan rumahmu.” “Oke peri, aku akan membantu rakyat di negaramu dengan memberikan bunga ajaib yang baru saja kubeli. Semoga dengan begitu rakyatmu dapat segera sembuh, ya. Lantas tiga bunga apalagi yang harus kau bawa juga?” tanya Sandra bersahabat. “Setangkai mawar merah darah, setangkai tapak dara putih dan setangkai melati jepang yang masih kuncup,” jawab peri bunga. “Kebetulan bunga yang kamu butuhkan itu ada di taman kecilku. Kutemani kau untuk memetiknya, Peri.” Sandra bersiap keluar kamar untuk menuju taman kecil miliknya di halaman depan. “Terima kasih, Sandra. Kamu memang gadis yang baik hati. Aku pasti akan menceritakan kebaikanmu pada ratu peri setibanya di sana nanti.” Saat Sandra dan peri bunga sudah sampai di taman kecil, tiba- tiba serangan raja bakteri datang. Dengan pasukannya mereka menyebar bakteri yang dapat mematikan seluruh tanaman. Putri yang ingat bahwa bakteri dapat dimusnahkan dengan disinfektan segera masuk ke dalam untuk mengambil semprotan dan menyemprotkannya ke arah raja bakteri. Seketika raja bakteri dan anak buahnya mati. Peri bunga tersenyum gembira. “Terima kasih Sandra, kau menyelamatkan bunga-bunga yang akan kubawa nanti.” “Apa kau harus secepat itu meninggalkan kota ini, Peri?” 99

“Ya, Sandra. Aku harus kembali ke negeriku sebelum bunga ajaib ini berubah warna dari biru menjadi pink pada pukul lima sore nanti.” “Hati-hati ya, Peri. Semoga rakyatmu bisa terselamatkan dengan obat yang kamu bawa ini.” “Daaag, Sandra. Sampai bertemu lain waktu. Terima kasih untuk semuanya.” Peri bunga terbang dengan susah payah sambil membawa empat bunga yang ukurannya lebih besar daripada badannya itu. Pagi ini Sandra bangun lebih awal karena akan menjemput Bella untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Sandra membuka jendela kamarnya supaya sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarnya. Alangkah terkejutnya Sandra ketika melihat pot bunga ajaibnya sudah berada di depan jendela kamarnya. Di sebelah pot itu terdapat tulisan tangan kecil-kecil yang berisi ucapan terima kasih dari ratu negeri peri. Sandra tersenyum dan berbisik, semoga kita dapat bertemu kembali, peri kecil. *** 100

Negeri Boneka Melia hobi mengoleksi boneka. Segala macam boneka dia punya, mulai dari yang ukuran mini sampai dengan yang ukuran jumbo, sebesar tempat tidurnya. Sampai-sampai keluarga dan temannya yang masuk ke kamar Melia selalu berkata jika mereka berada di toko boneka. Melia paling suka jika mendapatkan boneka beruang. Menurutnya boneka beruang dalam bentuk apa pun pasti bulunya lembut dan enak dipeluk saat tidur. Hari ini Melia berniat untuk mencuci beberapa bonekanya yang diletakkan di lemari paling banyak ditempeli debu. Saat sedang menurunkan boneka-boneka tersebut, tiba-tiba tangannya tak bisa lepas dari boneka beruang warna coklat. “Lho, kenapa ini? Kenapa tanganku jadi tergenggam erat dengan tangan teddy bear?” Melia berusaha menarik terus tangannya agar terlepas dari tangan boneka beruang. Saat terlepas itulah, Melia merasa badannya terdorong sangat kencang. “Di mana ini?” Melia menatap sekelilingnya dengan bingung. Dari tempat dia terduduk itulah Melia dapat melihat sebuah kerajaan indah yang dijaga oleh pasukan boneka. Semua yang ada di tempat itu berwujud boneka tetapi dapat berbicara dengan bahasa Melia. 101

“Kamu siapa? Kenapa kamu hanya duduk-duduk di sini sementara yang lain sedang sibuk menyiapkan bekal untuk bertahan di dalam rumah sampai boneka lutung kasarung berhenti melakukan penyerangan?” tanya sesosok boneka berwujud kuda pony. “Indah sekali dirimu. Aku belum punya koleksi sepertimu di rumah,” Melia memuji terus terang pada boneka yang ada di hadapannya. “Hey, kau dengar apa yang kukatakan kan, boneka manusia?” “Iya, iya, aku dengar kok, kuda pony.” “Jadi, sedang apa kamu di sini?” “Entahlah, aku juga bingung, kuda pony. Tiba-tiba saja aku terdampar di duniamu ketika aku sedang membersihkan koleksi bonekaku. Namaku Melia. Aku beneran manusia, bukan boneka manusia seperti katamu.” “Sebaiknya kamu segera mencari tempat berlindung supaya ketika boneka lutung kasarung kemari, kamu tidak akan diserang olehnya.” “Memang boneka lutung itu siapa? Mengapa dia menyerang kalian?” “Dia sama seperti kita, hanya rakyat biasa di kerajaan boneka ini. Sayangnya dia selalu merasa dibeda-bedakan sehingga akhirnya dia memberontak dan memusuhi kami.” Dari kejauhan tampak sosok boneka lutung berjalan mendekati kerajaan sambil membawa tongkat panjang yang dipakainya untuk membantu berjalan dan berdiri tegak. “Itu, boneka lutung datang!” Tunjuk boneka kuda pony pada sosok boneka lutung kasarung. “Sebaiknya kita segera bersembunyi,” ajak boneka kuda pony. “Naiklah ke punggungku, akan kubawa kau ke tempat yang aman,” lanjutnya. Melia segera menaiki punggung boneka kuda pony. Dalam sekejap mereka sudah sampai di sebuah bukit yang indah. Hampir 102

semua penghuni bukit itu adalah komunitas boneka yang berbentuk bintanag. “Apa kamu tahu, boneka lutung itu dapat dikalahkan dengan cara apa?” Melia tergelitik untuk menanyakan hal tersebut pada boneka kuda pony dan teman-temannya yang berkumpul dalam sebuah kandang besar. “Aku tidak terlalu yakin si lutung itu bisa dimusnahkan dengan cara apa tetapi yang kutahu jika dia berguru pada salah satu penyihir di bukit seberang maka dia hanya bisa musnah ketika dipukul oleh tongkat yang ada di dalam Gua Kesambi,” jelas boneka sapi. “Jauhkah Gua Kesambi itu dari bukit ini? Jika aku ingin membantu rakyat negeri boneka, bolehkah?” Melia bertanya pada semua boneka binatang yang berkumpul dalam kandang tersebut. “Jauh, Mel. Tapi aku bisa mengantarmu ke sana jika kamu benar-benar akan membantu kami, ” boneka kuda pony langsung menjawab dengan semangat. “Aku tidak janji ya, teman-teman, tapi aku akan berusaha untuk mengalahkan boneka lutung kasarung supaya kalian bisa hidup tenteram seperti sedia kala. Sekarang kita istirahat saja terlebih dahulu untuk menyiapkan energi esok hari.” Melia mulai menyenderkan punggungnya di tepian kandang dan menyelonjorkan kakinya untuk bersiap memejamkan mata. Pagi itu kuda pony bersiap mengantar Melia menuju Gua Kesambi untuk mengambil tongkat sakti. “Ingat, ya, Mel, di dalam gua itu banyak boneka ular yang siap untuk mematokmu. Jadi kamu harus selalu waspada apalagi kondisinya gelap.” Kuda pony segera mengantar Melia menuju Gua Kesambi. Biasanya jika pagi seperti ini ular-ular berbisa masih tertidur. Melia dan boneka kuda pony sampai di pintu masuk gua. Mereka mengenda-endap di balik batu untu melihat situasi terlebih dahulu. “Pony, sebaiknya kamu menungguku di luar saja. Badanmu tidak memungkinkan untuk masuk ke dalam gua. Jika nanti terjadi 103

apa-apa padaku, kamu segera bersiap, ya. Beritahu aku jika di luar ada bahaya.” Melia langsung keluar dari persembunyiannya dan berjalan pelan-pelan menuju dalam gua. Benar kata pony. Gua itu gelap. Di beberapa sudut tampak ular- ular besar tengah melingkarkan badannya, “Semoga mereka nggak bangun dari tidurnya biar aku bisa fokus menemukan tongkat yang dimaksud dengan pony,” batin Melia. Tiba-tiba bebatuan yang ada di dalam gua runtuh. Dari balik runtuhan bebatuan itu tampak sebuah tongkat sakti yang dicari Melia. Namun sayang, saat Melia akan memanjat bebatuan untuk mengambil tongkat yang dicarinya, seekor ular besar melintas di depannya. Antara takut dan harus berjuang demi menyelamatkan rakyat negeri boneka membuat Melia bimbang. Melia lantas melempar sebuah batu ke arah yang berlawanan dengan ular tersebut. Ular itu mendesis dan bergerak pelan menuju batu yang dilempar Melia tadi. Melia bersyukur karena dia lolos dari ular besar itu. Segera dia naik ke bebatuan untuk mengambil tongkatnya. Begitu tongkat dipegang oleh Melia, bebatuan yang diinjak langsung runtuh. Melia panik karena dia harus tetap mempertahankan tongkat yang dipegangnya. Tubuh Melia melayang dari bebatuan yang paling atas terjun ke dasar gua. Saat Melia memejamkan matanya untuk berdoa mengharap keselamatan dirinya, punggungnya sudah jatuh ke tempat yang lembut. Melia membuka matanya dan melihat kuda pony telah menangkap tubuhnya dan membawanya terbang keluar dari gua. Sayang, perjalanan mereka tak semulus yang dibayangkan. Pintu gua mendadak tertutup oleh bebatuan yang entah runtuh dari sisi mana. Padahal mereka harus segera menuju ke kerajaan untuk memusnahkan lutung kasarung yang pagi ini membabi buta menyerang warga yang melintas di depannya. Kuda pony berputar-putar di dalam gua mencari celah yang bisa untuk keluar. 104

“Lihat, di atas sana ada cahaya. Pasti ada jalan keluar, Pony.” Melia menunjuk ke arah atas gua yang cukup tinggi. Kuda pony langsung mengepakkan sayapnya dengan kuat untuk menuju bagian atas gua. Benar saja, ada sedikit celah yang bisa dijadikan jalan keluar. Tapi jika pony yang melewatinya tentu saja tidak cukup. “Aku akan keluar terlebih dahulu melewati celah itu, Pony. Kau tunggu di dalam, aku akan menggeser batu ini sekuat tenaga.” Melia melompat dari punggung kuda pony dan menggapai celah dinding gua yang dapat dijadikan pegangan. Beruntung ternyata batu yang ada di sekitar celah itu dapat disingkirkan dengan mudah sehingga kuda pony langsung melesat keluar. Bergegas mereka terbang menuju kerajaan boneka. Di sana kondisinya sudah porak poranda karena amukan lutung kasarung. “Turunkan aku tepat di hadapan boneka lutung, Pony,” perintah Melia. Boneka lutung kasarung langsung berdiri dengan sombong begitu melihat Melia di hadapannya. “Siapa kau dan ada keperluan apa kau kemari!” bentak boneka lutung. “Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Lutung. Yang jelas kedatanganku kemari untuk membantu seluruh rakyat di negeri boneka supaya tidak kau sakiti lagi. Apa yang kamu lakukan itu salah, Lutung.” Melia bersiap dengan tongkat yang sejak tadi dipegangnya. “Aku tidak kenal siapa kamu, tapi kalau kamu berdiri di sini membela rakyat negeri boneka, maka kamu adalah musuhku. Bersiaplah wahai boneka manusia.” Boneka lutung langsung menyerang Melia secara membabi buta. Melia yang tidak siap sempat terjatuh akibat pukulan boneka lutung, tapi Melia segera bangkit untuk membalas serangan boneka lutung. Digunakannya tongkat sakti yang dia bawa untuk dipukulkan ke arah tubuh si lutung. 105

“Aaaaargh!” Tiba-tiba boneka lutung berteriak keras sebelum akhirnya jatuh terjerembap. Melia mendekat ke arah boneka lutung dan segera mengikat tangannya. Kemudian Melia menyeret boneka lutung menuju kerajaan. “Horeee, horeee, horeee!” Rakyat negeri boneka berhamburan keluar dari persembunyiannya begitu tahu boneka lutung dapat dikalahkan oleh Melia. Melia senang akhirnya perjuangannya membebaskan rakyat negeri boneka dari serangan boneka lutung tidak sia-sia. “Terima kasih, Mel. Karena pertolonganmu rakyat di negeri ini dapat hidup nyaman lagi tanpa ketakutan akan diserang oleh boneka lutung,” ucap boneka kuda pony dengan tulus. Melia tersenyum sambil mengelus-elus surai kuda pony yang indah. “Bisakah aku bertemu dengan raja dari kerajaan boneka ini?” Melia berbisik di telinga boneka kuda pony. “Aku akan mengantarmu.” Boneka kuda pony menemani Melia masuk ke dalam kerajaan. Boneka teddy bear besar dengan bulu coklatnya yang lembut menyambut kedatangan Melia. “Terima kasih, Melia. Atas keberanianmu, akhirnya boneka lutung dapat kau kalahkan.” Melia terlonjak kaget begitu melihat raja dari kerajaan boneka itu adalah boneka beruang yang biasa menemani Melia tidur. Ketika Melia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba dia sudah berada lagi di dunia nyata, yaitu kamar tidurnya. Melia menatap sekeliling kamarnya. Kemudian dia tersenyum, ternyata boneka yang hadir dalam imajinasinya tadi adalah boneka yang akan dicuci oleh Melia, termasuk boneka lutung kasarung yang bulunya hitam legam. 106

Tiga Jagoan Farel, Ezar, dan Kiano merupakan tiga pemuda yang terkenal di desa mereka karena kemampuan bela dirinya yang hebat. Mereka bersahabat sejak kecil sampai sekarang. Setiap ada kegiatan pertandingan bela diri mereka selalu mewakili desanya. Suatu hari Farel dan Ezar dikagetkan dengan ulah Kiano. Kiano mendadak menyerang seluruh warga desa dengan segala kekuatannya. Farel berusaha untuk mencegah Kiano, tapi kekuatan Kiano begitu besar. Bahkan beberapa rumah sudah dihancurkan oleh Kiano. Ezar berusaha menyelamatkan warga ke tempat yang lebih aman. “Farel, sepertinya ada yang tidak beres dengan Kiano. Kita harus segera menyelamatkan Kiano dan warga desa supaya korban tidak semakin banyak.” Ezar mendekat ke arah Farel yang sedang fokus untuk mengumpulkan kekuatannya kembali setelah dikalahkan oleh Kiano. “Apa rencanamu, Zar?” tanya Farel melirik Ezar yang tampak memikirkan sesuatu. “Kita bagi tugas, Rel. Kamu terus mengalihkan perhatian Kiano agar dia tidak semakin merusak desa. Aku menyelamatkan warga desa. Setidaknya biar mereka ngungsi ke tempat yang aman terlebih 107

dahulu. Baru nanti kita pikirkan bagaimana mengatasi Kiano.” Ezar berlari kembali ke arah warga yang menjerit-jerit ketakutan karena diserang oleh Kiano. “Woooooi, Kiano, sini kamu! Jangan cuma berani sama warga desa, coba lawan aku saja yang bisa menyeimbangimu,” Farel berteriak ke arah Ezar sambil melempar batu-batuan supaya Kiano melihat keberadaannya. Tak lama kemudian Kiano melihat ke arah Farel yang duduk santai di atas bukit kecil. Di depan Farel tampak tumpukan kerikil- kerikil tajam yang tadi digunakan untuk menyerang Kiano dari kejauhan. Tanpa aba-aba Kiano menyerang Farel menggunakan kekuatan anginnya. Farel yang tidak siap terlempar jauh ke belakang.” Ki, sadar! Jangan gunakan kekuatanmu untuk merusak. Bahaya. Ingat pesan guru kita.” Farel mencoba mengingatkan Kiano, tetapi Kiano kian marah setiap kali Farel menasihatinya. Mata Kiano berubah menjadi merah. Lingkaran api menyelimuti tubuh Kiano. “Kamu nggak apa-apa, Rel?” Ezar mendekat ke arah Farel setelah setelah menyelesaikan tugasnya mengamankan warga. “Sedikit nggak baik, Zar karena tadi Kiano menghempaskanku dengan kekuatan anginnya.” “Kiano kerasukan, Rel. Kita bisa menghentikan kekuatannya yang negatif itu jika memberinya air kelapa wulung yang dicampur telur ayam jawa. Aku udah meminta salah satu warga mencarinya. Tugas kita tinggal menangkap Kiano dan mengikatnya supaya kita bisa meminumkan air kelapa tersebut.” “Siap, Zar. Jika kita menyatukan kekuatan kita niscaya Kiano bisa kita lumpuhkan. Kasihan teman kita itu.” Setelah merundingkan apa yang akan dilakukan terhadap temannya, Kiano, Ezar dan Farel berjalan beriringan menghampiri Kiano yang masih merusak rumah warga satu per satu. “Ki, hentikan. Ingatlah, ada kami yang akan selalu membantumu,” Ezar mencoba menegur Kiano. 108

Kiano yang mendengar suara Ezar menghentikan aksinya. Tetapi tanpa memperhitungkan dampaknya Kiano menyerang kedua temannya dengan api yang dapat keluar dari sela-sela jari tangannya. Dengan sigap Farel dan Ezar langsung menyatukan kekuatan mereka sehingga api tersebut dapat dipadamkan dengan angin kencang yang mengandung embun. “Kita menyebar, Rel. Kemudian kita ikat Kiano dengan tali badai.” “Siap!” Farel berlari ke belakang Kiano dan Ezar tetap menghadap ke arah Kiano. Dengan kekuatannya Ezar melempar tali badai ke arah Farel yang berdiri di belakang Kiano,”Berputar, Rel. Aku yang menahan pusat tali dari depan!” Ezar sekuat tenaga mengumpulkan kekuatannya karena Kiano terus bergerak sehingga tali badai pun longgar. Akhirnya Ezar dan Farel dapat menghentikan aksi Kiano setelah tali badai mengikat kuat badan Kiano dari atas hingga bawah. “Cepat ikat, Zar, sebelum Kiano melakukan perlawanan. Sepertinya dia sudah kehabisan tenaga.” Setelah Kiano didudukkan oleh Farel, Ezar mengambil kelapa wulung yang sudah dicampur dengan telur ayam jawa untuk diminumkan kepada temannya. Ajaib, begitu air kelapa itu habis, kekuatan jahat yang menempel dalam tubuh Kiano langsung lenyap. Tubuh Kiano jatuh lemas. Ezar melepas ikatan badai di tubuh Kiano dengan pelan supaya Kiano tidak merasakan kesakitan. “Maafkan aku Rel, Zar.” Kiano mengusap muka dengan kedua tangannya menyadari kekhilafannya. “Nggak apa-apa, Ki. Kamu nggak salah karena ini bukan kemauanmu.” Ezar menepuk pundak sahabatnya. “Tapi desa ini hancur. Bagaimana nasib seluruh warga?” “Kita akan bergotong royong membangun desa ini kembali. Jangan terlalu kamu pikirkan.” 109

Sejak hari itu seluruh warga desa bergotong-royong membangun rumah warga yang hancur dan sarana prasarana desa yang dirusak oleh Kiano. Tak ada satu warga pun yang marah pada Kiano karena mereka tahu itu bukan kemauan Kiano. *** 110

Baju Pesta Luna Gabriel, Chelsa dan Luna sedang duduk di kantin menikmati bekal makan mereka ketika tiba-tiba Chacha datang membagikan sebuah undangan. “Jangan lupa datang ke acara ulang tahunku, ya. Dress code- nya warna putih.” Chacha menyerahkan tiga undangan dengan sampul putih yang indah sekali. “Aku pasti datang, Cha. Terima kasih, ya.” Gabriel tersenyum pada Chacha. Luna yang sedang menikmati bekalnya seketika melamun karena dia bingung jika datang ke acara ulang tahun Chacha berarti dia harus mempunyai gaun putih. Padahal selama ini dirinya tidak pernah memiliki gaun karena memang kondisi orang tuanya yang tidak memungkinkan Luna untuk membeli baju-baju yang sifatnya hanya dipakai sesaat. “Hey, jangan bengong, Luna.” Chelsa mengibas-ibaskan tangannya di depan muka Luna. Luna tersenyum. “Kamu bisa datang kan?” ulang Chelsa. “Belum tahu, Chel. Aku nggak punya gaun putih.” 111

“Masih ada waktu kok, Lun. Semoga sebelum hari H kamu bisa mendapatkan gaun untuk dipakai pada acara ulang tahun Chacha,” Gabriel menyemangati Luna. Gabriel dan Chelsa paham bagaimana kondisi kehidupan Luna. Untung saja Luna anak yang cerdas sehingga selalu mendapat beasiswa dari sekolah. Sampai di rumah Luna segera berganti baju dan membantu ayah ibunya berjualan di depan rumah mereka yang kecil. “Sejak pulang sekolah tadi wajahmu murung terus, kenapa, Lun?” tanya ibu lembut. “Emmmm, ini, Bu, aku dapat undangan ulang tahunnya Chacha minggu depan tapi harus pakai gaun yang berwarna putih. Aku kan nggak punya, Bu.” Luna menunduk. “Maafkan Ibu ya, Lun. Selama ini Ibu belum bisa memenuhi kebutuhanmu.” Ibu mengelus kepala Luna dengan sayang. Ayah ikut duduk di samping Luna. “Sabar ya, Nak. Siapa tahu dagangan kita ramai dalam seminggu ini sehingga kamu dapat membeli gaun yang kamu inginkan.” Luna tersenyum pada kedua orang tuanya.”Nggak apa-apa, Bu, Yah. Kalau nggak ada gaun yang bisa kupakai, aku tidak datang juga tidak apa-apa kok.” Hari ulang tahun Chacha sudah semakin dekat. Gabriel dan Chelsa sudah menunjukkan gaun putih yang akan dikenakan ke pesta ulang tahun Luna melalui kamera handphone. Luna hanya bisa menatap iri, tapi Luna menyadari bahwa dia tidak bisa memaksakan kehendak pada kedua orang tuanya. Malam ini hujan turun. Luna sedikit bersyukur karena dia memiliki alasan untuk tidak datang ke acara ulang tahun Chacha. Bukan karena tidak mempunyai gaun tetapi karena hujan. Luna yang tengah melamun di depan jendela kamar terkejut ketika tiba-tiba jendelanya diketuk dari luar. “Siapa?” tanya Luna sambil membuka jendela. 112

“Hai, Luna. Aku peri gaun. Aku datang untuk mengantarkan pesanan gaun milikmu.” Peri gaun itu menyerahkan sebuah baju pesta berwarna putih yang dihiasi oleh mutiara indah. “Ambillah, Luna. Kenakan baju pesta ini, datanglah ke acara ulang tahun temanmu.” Peri gaun memaksa Luna untuk segera mengganti baju tidurnya dengan gaun pesta yang dibawa tadi. “Tapi, Peri? Dengan apa aku harus ke rumah Chacha, sementara hujan turun deras seperti ini.” Luna menatap peri gaun dengan pandangan memelas. “Jangan khawatir, Luna. Aku akan membantumu. Yang penting kamu ganti bajumu dulu dengan gaun ini supaya aku bisa mendandanimu sesuai baju yang kamu kenakan.” Luna tersenyum senang. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih pada peri gaun yang malam itu datang ke rumahnya. “Karena takut terlambat, kita berangkat lewat jendela saja ya, Luna. Aku akan memayungimu supaya tidak kehujanan. Mobil yang akan mengantarmu ke rumah Chacha sudah siap di halaman depan.” Peri gaun menarik tangan kiri Luna yang tampak gugup. Tepat ketika Luna sampai di rumah Chacha, hujan berhenti. Teman-temannya mulai berdatangan satu per satu. Chacha bahagia karena temannya tetap datang ke acara ulang tahun yang diselenggarakannya walaupun hujan deras sempat mengguyur wilayah mereka. “Luna! Kamu cantik sekali. Baju pestamu bagus.” Chacha menyambut kedatangan Luna dengan antusias. “Terima kasih, Cha. Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu berkenan menerima kado dariku.” Luna menyerahkan sebuah bingkisan kecil pada Chacha. Chacha menerimanya dengan senang hati. “Kamu bisa datang aja aku sudah bersyukur, kenapa harus repot membawakan kado untukku? Terima kasih ya, Luna.” Akhirnya Luna bergabung dengan teman-temannya untuk menikmati pesta ulang tahun Chacha malam hari itu. Peri gaun 113

menunggu Luna dengan sabar di halaman depan rumah Chacha. Luna yang merasa tidak enak pada peri gaun yang sudah berbaik hati mengantarnya akhirnya mohon izin pada Chacha dan teman- temannya untuk pulang terlebih dahulu. “Bye, Luna. Sampai bertemu besok di sekolah.” Gabriel mengantar Chacha sampai halaman depan. Dia tidak ingin bertanya lebih lanjut darimana Luna mendapatkan baju pesta secantik yang dikenakan malam itu dan bagaimana dia bisa datang ke rumah Chacha. Yang Gabriel tahu pasti, ketika Luna mengalami kesulitan pasti ada orang lain yang membantunya. Makanya dia tidak pernah mengkhawatirkan sahabatnya. “Terima kasih, peri untuk malam yang indah ini,” Luna mengucapkan terima kasih pada peri gaun begitu peri gaun menurunkan Luna di depan jendela kamarnya lagi. Peri gaun melambaikan tangannya sambil tersenyum dan menghilang dari pandangan mata Luna. Luna masuk ke kamarnya lagi. Seketika baju pesta putih yang dikenakannya tadi menghilang dan berganti dengan baju tidur. Luna sedikit terlonjak, tapi dia sadar jika baju itu bukan miliknya. *** 114

Pertempuran Dua Negeri Galih dan Galuh adalah kakak beradik yang rajin berolah raga. Pagi itu mereka berlari mengitari taman kota sebelum berangkat ke sekolah. Saat Galuh beristirahat di bawah air mancur yang ada di tengah taman, tiba-tiba muncul seberkas cahaya dari dalam kolam yang memancar ke atas. “Galih, lihat! Menurutmu ini cahaya apa ya? Tiba-tiba muncul dari dalam kolam.” Galih mendekat dan mengikuti Galuh yang terpesona melihat cahaya dari dalam kolam itu. Tanpa sadar mereka tersedot masuk ke dalam air. “Wah, di manakah kita?” Galuh terpesona melihat keindahan tempat yang dia pijak saat itu. “Ini bukan taman yang tadi, ya?” Galih berputar-putar menatap sekelilingnya. “Selamat datang Galih dan Galuh. Selamat bermain di negeriku ini.” Seorang laki-laki berpakaian ala raja menyambut Galih dan Galuh. Dengan pengawalan ketat Galih dan Galuh diajak masuk ke kerajaan yang dipimpinnya itu. “Dulu kerajaan kami indah. Siapa pun yang berkunjung kemari menjuluki tempat ini sebagai negeri pelangi karena tempat ini selalu 115

penuh warna seperti pelangi. Sayang, kerajaan sebelah mengutuk negeri kami menjadi kering kerontang seperti ini. Panas, kering, debu ada di mana-mana. Banyak rakyat yang menderita akibat kutukan tersebut. Hanya orang di luar negeri kamilah yang dapat membebaskan kami dari kutukan ini,” jelas raja negeri pelangi dengan muka sedih. “Selamat datang penyelamat negeri kami.” Raja memberi hormat pada Galih dan Galuh. Galih dan Galuh seketika menjadi kaget. “Apa yang dapat kami bantu untuk menyelamatkan negeri pelangi ini, paduka?” Galuh memberanikan diri bertanya. “Pergilah ke negeri seberang, ke negeri awan. Negeri itu dipimpin oleh seorang ratu cantik. Karena niatnya untuk melamar putraku kuhalangi akhirnya dia mengutuk putraku dan negeri ini.” “Baiklah, paduka. Esok hari kami akan menempuh perjalanan menuju negeri awan. Siapa tahu kami dapat bernego dengan ratu negeri awan supaya mencabut kutukannya atas negeri pelangi.” “Terima kasih anak muda. Semoga perjalanan kalian tidak menemui kendala yang berat.” Keesokan harinya, Galih dan Galuh bersiap untuk menuju negeri awan. Mereka bertekad untuk menyatukan dua negeri yang berperang itu. Sesampainya di negeri awan, mendung menggantung mengiringi langkah perjalanan kaki Galuh dan Galih menuju kerajaan. “Permisi, Pak, ke manakah arah menuju kerajaan dari tempat ini? Kami pengembara jadi belum hafal negeri ini,” tanya Galuh sopan pada seseorang yang ditemuinya di tengah jalan. “Lurus saja, Nak. Kurang lebih 500 meter di depan sana akan ada pengawal kerajaan yang berjaga. Jika kalian ingin menemui ratu katakan saja supaya diantar oleh pengawal.” “Terima kasih, Pak.” 116

Galih dan Galuh melanjutkan perjalanan kembali. Baru sebentar di depan mata mereka tampak kerajaan awan yang ditutupi kabut tipis. Pemandangan di kerajaan ini benar-benar berbeda dengan kerajaan pelangi. Mungkin raja negeri pelangi punya alasan khusus mengapa tidak mengizinkan putranya menikah dengan ratu negeri awan. “Ada keperluan apa kalian ingin menghadapku?” Ratu negeri awan menemui Galih dan Galuh. “Maksud kedatangan kami kemari karena kami membawa misi perdamaian bagi dua negeri yang sedang berperang. Kami ingin ratu awan menghilangkan kutukan terhadap negeri pelangi. Tidakkah ratu kasihan terhadap seluruh rakyatnya? Jangan ratu pikirkan ego ratu sendiri,” Galuh mencoba menjelaskan maksud kedatangan kami pada ratu awan. Seketika ratu awan langsung murka, “Tidak! Aku tak mungkin mencabut kutukan yang kulemparkan pada negeri tersebut. Kalian tidak tahu bagaimana raja pelangi menolakku sebagai menantunya. Itu sangat menyakitkan.” Dengan berapi-api ratu awan menjelaskan kepada Galih dan Galuh. “Tapi, ratu, raja pelangi tidak ada maksud untuk menyakiti hati ratu. Mungkin karena raja awan butuh waktu untuk mengenal pribadi calon istri bagi putranya sehingga tidak bisa serta merta menerima lamaran ratu,” Galih menambahkan. “Ratu awan dan raja pelangi kan sama-sama pemimpin, jadi kami rasa kalian tahu apa yang terbaik untuk rakyatnya. Jika diminta pun kami yakin raja pelangi dan ratu awan akan mengorban diri sendiri untuk kesejahteraan rakyatnya. Tapi jika kenyataannya seperti ini, tentu saja rakyat yang menderita.” “Benar kata temanku, ratu. Negeri awan akan selalu gelap karena tak ada pelangi yang menghiasi. Demikian juga negeri pelangi yang indah akan semakin hancur karena diwarnai kekeringan sepanjang masa. Coba jika ratu awan bersikap seperti sedia kala, tetap bersahabat dan menjalin kerjasama yang baik dengan negeri pelangi, pasti rakyat dua negeri ini pun akan hidup sejahtera.” 117

“Siapa tahu dengan kebaikan hati yang ratu tunjukkan pada negeri pelangi, raja akan luluh dan mengizinkan putranya menikah dengan ratu awan.” Ratu Awan tampak berpikir keras mempertimbangkan kalimat yang dilontarkan Galuh dan Galih. “Apa yang kalian sampaikan memang ada benarnya, anak muda. Terutama kalimat kalian yang terakhir tadi. Mungkin jika aku bersikap baik pada raja pelangi maka dia akan merestui hubungiku dengan putranya.” “Ya, benar begitu, ratu.” Galih dan Galuh saling memandang. Mereka bersyukur karena ternyata ratu bisa memahami maksud baik mereka. “Kalau begitu kami pamit pulang, ratu. Kami berjanji pada raja pelangi jika kami sudah menemui ratu, maka kami akan segera pulang.” “Terima kasih, anak muda. Aku pastikan sebelum kalian sampai di negeri pelangi, kutukan dariku akan hilang sehingga kalian dapat menikmati keindahan negeri pelangi sebelum kalian kembali ke dunia nyata.” Ratu memeluk Galih dan Galuh bergantian sebelum mereka meninggalkan negeri awan. Sampai di negeri pelangi, Galih dan Galuh dielu-elukan oleh seluruh rakyat negeri pelangi. Mereka bahagia karena pahlawan mereka sudah berhasil menghilangkan kutukan di negeri mereka. “Terima kasih, Galuh dan Galih. Berkat kalian kutukan di negeri ini hilang.” Raja menyalami Galih dan Galuh. “Seperti janjiku, kalau kalian berhasil menghilangkan kutukan di negeri ini maka aku akan menghadiahi kalian sebuah pelangi yang indah ketika kalian kembali ke dunia kalian.” Tiba-tiba Galih dan Galuh sudah kembali ke taman kota tempat mereka lari pagi tadi. Benar kata raja, begitu mereka mengangkat kepala, tampak di hadapan mereka pelangi indah yang melengkung di taman kota. “Indah sekali,” kata Galuh. 118

“Iya, seindah pengalaman kita pagi ini, ya.” “Pengalaman yang tak akan terlupakan,” sambung Galih kemudian. *** 119

Mesin Waktu “Mesin Waktu” merupakan salah satu cerita fantasi dari 25 judul cerita fiksi dalam buku ini. Menceritakan tentang pengalaman Vian saat bermain petak umpet dan masuk ke dalam mesin waktu hingga bertemu dengan Jenderal Sudirman yang kala itu memimpin perang gerilya. Vian tersadar dan kembali ke dunia nyata ketika tangannya terkena tembakan musuh. 25 cerita dalam buku ini beraliran fiksi bergenre fantasi, dengan kekuatan imajinasi yang tidak mengikuti alur logika kejadian manusia dalam hidup keseharian. Fiksi imajinasi (imajination fiction) dapat dipahami sebagai “the willing suspension of disbelief” cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang tak lazim, aneh, melampaui batas logika dan batas ruang waktu. Seorang pencerita bisa membawa tokohnya dalam kehidupan di masa lalu, bisa juga mengantarkan pembaca pada kehidupan di masa yang akan datang. Pencerita bisa menyusupkan dongeng, mitos, kisah kepahlawanan dalam sebuah cerita fantasi yang mengejutkan pembaca, kadang diwarnai dengan teka-teki. Cerita fantasi menjadi genre yang dapat dijadikan lahan untuk mengembangkan kreativitas bagi peserta didik dalam menciptakan 120

karya sastranya sendiri. Menulis cerita fantasi dapat menjadikan peserta didik menuangkan kreativitasnya, karena imajinasi sangat berkaitan dengan unsur daya cipta. Peserta didik dapat menuangkan ide kreatif dan imajinasinya sesuai dengan keliaran fantasi dan perkembangan usia. Moralitas tentang lingkungan, kecintaan tanah air, kejujuran, keberanian, dan kebersahajaan, menjadi bagian struktur narasi yang dijalin dengan kisah fantasi yang seringkali terjalin secara irasional, tetapi penuh dengan daya bayang yang memikat pembaca. *** 121

Profil Penulis Iin Sulistyowati lahir di Semarang, 14 Januari. Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta (S1) dan Universitas PGRI Semarang (S2) ini bekerja sebagai pengajar di SMPN 31 Semarang. Selain kumpulan cerpen Mesin Waktu, karyanya yang lain adalah buku Siap Ujian Nasional Bahasa Indonesia (2010), Sukses Membidik Ujian Nasional Bahasa Indonesia (2011), novel Hujan Bunga Matahari (2015) dan antologi teks drama Janji Sobri (2018) juga cerpen anak di majalah Bobo dan Suara Merdeka. Kritik dan saran bisa dikirim ke: [email protected] 122


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook