Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Naskah Buku Mesin Waktu

Naskah Buku Mesin Waktu

Published by Winarko Winarko, 2023-07-12 23:40:01

Description: Naskah Buku Mesin Waktu

Search

Read the Text Version

["menyilaukan tapi Rahma tetap melihatnya penuh rasa ingin tahu. Sesosok peri kecil muncul setelah cahaya tersebut menghilang. Rahma menatapnya tak percaya. Benarkah yang dilihatnya itu? Seorang peri yang cantik dengan tubuh mungil dan sayapnya yang indah ada di depan matanya. \u201cHai, Rahma. Kenalkan, aku peri permen. Aku dikirim untuk mengajakmu bermain ke dunia permen.\u201d \u201cDunia permen? Adakah negeri itu?\u201d tanya Rahma tak percaya. \u201cTentu saja ada. Apalagi untuk anak sebaik kamu.\u201d Rahma merasa tersanjung dengan penjelasan peri permen. Ya, Rahma memanggilnya peri permen karena peri tersebut memiliki senyum yang manis. Peri mengulurkan tangannya pada Rahma. \u201cAyo, kita harus segera berangkat supaya kamu mempunyai waktu bermain lebih lama di dunia permen, Rahma. Pegang tanganku biar aku membantumu menuju dunia permen.\u201d Rahma menyambut uluran tangan peri permen. Tiba-tiba tubuhnya berasa melayang menembus jendela kamarnya dan terbang menuju angkasa. \u201cIndahnya!\u201d Rahma terpesona melihat pemandangan malam hari di desanya dari atas langit. \u201cKamu baru kali ini melihat pemandangan ini kah?\u201d tanya si peri. \u201cIya, peri. Aku kan nggak pernah keluar malam hari.\u201d \u201cBersyukurlah dirimu, Rahma karena kamu tinggal di bumi yang hijau dan sejuk. Semoga kelak ketika kamu besar kamu bisa membangun desamu menjadi lebih maju.\u201d Rahma tersenyum dipuji demikian oleh peri permen. \u201cKita sudah sampai, Rahma. Silakan kamu bermain sepuasnya di sini. Kamu juga boleh mencicipi semua permen yang kamu sukai.\u201d \u201cWah, terima kasih peri. Kamu baik sekali karena mewujudkan impianku untuk masuk ke dunia permen.\u201d Rahma berbinar-binar menatap semua mainan yang terbuat dari permen, hidangan beraneka macam permen, dan semua hal yang manis serta menarik. 43","\u201cIni hadiah untuk anak sebaik kamu, Rahma. Semoga setelah ini kamu semakin sering melakukan kebaikan kepada sesama.\u201d Rahma bermain sampai kelelahan. Bahkan tanpa sadar Rahma memasukkan beberapa permen yang ingin dimakannya tapi perutnya sudah terlalu kenyang ke dalam kantong baju tidurnya. Peri permen menatap Rahma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah melihat jam, peri permen memegang tangan Rahma dan menerbangkannya kembali ke kamar Rahma. \u201cRahma, bangun, Nak. Sudah jam lima, kamu harus sekolah, lho.\u201d Ibu mengguncang-guncang tubuh putrinya yang masih tertidur pulas. \u201cKebiasaan banget kamu, Rahma. Makan permen sebelum tidur.\u201d Ibu Rahma kemudian membereskan permen-permen yang berhamburan di tempat tidur Rahma. Rahma menggeliatkan badannya ketika merasa Ibu meraba tempat tidurnya mencari-cari permen, \u201cIbu sedang apa?\u201d tanya Rahma yang langsung bangun dari tidurnya. \u201cKenapa banyak sekali permen di tempat tidurmu, Rahma?\u201d Ibu menunjukkan permen-permen dalam kemasan cantik di tangannya pada Rahma yang takjub menyadari bahwa permen-permen itu semalam dia bawa ketika bermain di dunia permen bersama peri permen. \u201cItu dari dunia permen, Bu. Semalam aku main ke sana.\u201d Ibu Rahma menggeleng-gelengkan kepalanya. \u201cYa, sudah kamu segera mandi ya.\u201d Rahma meraba saku bajunya dan menemukan beberapa permen lagi yang masih tersisa di sana. \u201cIbu pasti berpikir jika aku mengkhayal main ke dunia permen. Padahal beneran aku ke sana tadi malam. Terima kasih, peri,\u201d bisik Rahma sambil berjalan menuju kamar mandi dan bersiap menjalani hari ini. 44","Melintasi Masa Arya, Jihan dan Vian berencana untuk jalan-jalan menggunakan kereta api listrik. Mereka memang terbiasa menghabiskan waktu akhir pekan untuk menjelajah tempat-tempat baru yang belum pernah mereka kunjungi. \u201cJadi tujuan kita ke mana hari ini?\u201d Jihan mengawali percakapan dengan teman-temannya setelah mereka duduk di ruang tunggu stasiun. \u201cKatanya pengen ke Kota Lama?\u201d Arya mengingatkan rencana mereka kemarin ketika ngobrol melalui Whatsapp. \u201cAku ngikut ke mana aja asal tempatnya asyik.\u201d Vian sibuk memotret-motret suasana stasiun dengan kamera handphonenya. \u201cItu keretanya datang. Kita siap-siap yuk,\u201d ajak Jihan sambil berdiri dan jalan menuju pintu masuk gerbong. Sampai di dalam gerbong ternyata semua kursi yang tersedia sudah penuh. Terpaksa mereka bertiga pun berdiri. Baru saja kereta api meninggalkan stasiun, tiba-tiba kereta seperti terlempar dahsyat. Arya, Jihan dan Vian yang saat itu berdiri sambil berpegangan pada gantungan kereta merasa seolah terlempar keluar dari gerbong yang mereka naiki. \u201cDi mana kita?\u201d Jihan tiba-tiba bingung melihat sekelilingnya. 45","\u201cKenapa banyak sekali rumah dan gedung perkantoran yang bergaya kolonial di sini?\u201d \u201cLihat petunjuk arah itu, teman-teman. Pelabuhan Sunda Kelapa 1,5 km. Ini kita ada di Jakarta sekitar abad ke-13 lho,\u201d jelas Arya. \u201cJadi, kita melintasi masa?!\u201d pekik Jihan tak percaya. \u201cSepertinya begitu. Dilihat dari bangunan yang ada di sekitar tempat kita terlempar, semuanya menunjukkan kalau ini adalah bangunan tua.\u201d \u201cTerus bagaimana caranya kembali ke masa kita?\u201d Jihan mulai terisak karena takut. \u201cYa, tolong kamu aktifkan handphone dan cari petunjuk jalan menuju kantor polisi terdekat.\u201d Vian meminta tolong Arya yang seketika langsung merogoh saku celananya. \u201cHandphoneku nggak ada, Vi. Sepertinya terlempar saat kita jatuh tadi.\u201d \u201cHandphoneku juga nggak bisa digunakan.\u201d Vian turut menyesal. \u201cIyalah, kalian pakai handphone segala tu untuk apa? Masa kita kan udah serba teknologi sementara masa ini belum ada apa- apanya,\u201d Jihan menengahi kebingungan Arya dan Vian. \u201cSebaiknya kita segera berjalan mencari kantor polisi terdekat. Mungkin nanti kita bisa bertanya dengan orang yang kita jumpai di jalan.\u201d Ketiga anak itu berdiri dan berjalan menyusuri gedung-gedung tua yang berjajar di sepanjang jalan. \u201cPermisi, Pak, mau numpang tanya. Kalau mau ke kantor polisi kita harus lewat mana ya?\u201d tanya Arya pada seorang bapak yang tengah mengayuh sepeda menuju arah mereka berjalan. Bapak tua itu menghentikan sepedanya dan memandang aneh pada tiga anak yang berdiri di hadapannya. \u201cKalian dari mana? Penampilan kalian aneh sekali.\u201d \u201cKami dari Jakarta, Pak,\u201d jawab Jihan sopan. 46","Bapak tua itu mengangguk-angguk. Sepertinya dia juga bingung. Tapi kemudian dia menjawab, \u201cKalian jalan lurus saja kurang lebih 2 kilometer ke arah timur. Di sana nanti ada Stasiun Beos. Di depan stasiun ada kantor polisi. Mungkin itu yang kalian maksud.\u201d \u201cTerima kasih, Pak. Kami harus melanjutkan perjalanan,\u201d Vian pamit sembari menarik kedua temannya. \u201cKalau Bapak tadi mengarahkan kita ke arah stasiun baiknya kita tidak perlu mencari kantor polisi,\u201d Arya mencoba menganalisis apa yang baru saja diucapkan. \u201cMaksudmu? Untuk apa kita ke stasiun?\u201d Jihan mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan Arya. \u201cTadi kita berangkat dari rumah kan dari stasiun. Kemudian kereta api yang kita tumpangi kecelakaan dan kita terlempar ke masa abad 13. Siapa tahu jika kita ke stasiun kita akan menemukan jalan pulang ke masa abad 21.\u201d \u201cIya juga sih. Berarti kita terlempar tidak jauh dari stasiun dan kini kita pun diarahkan ke kantor polisi yang searah dengan stasiun.\u201d \u201cItu stasiunnya!\u201d Tunjuk Jihan ketika mereka sudah berjalan kurang lebih setengah jam. \u201cBangunan stasiun ini mirip dengan stasiun Jakarta Kota tapi kenapa namanya Beos ya?\u201d Arya mengingat-ingat detail stasiun yang pernah disinggahinya ketika akan menuju Bogor. \u201cKamu pernah ke situ?\u201d tanya Jihan. \u201cSepertinya kakakku selalu kemari jika akan menuju Bogor dengan kereta. Aku ingat banget dengan bangunannya. Tapi kenapa namanya beda. Apa mungkin halusinasiku aja ya?\u201d Arya memutuskan untuk masuk menuju stasiun. Siang hari itu stasiun sepi. Hanya tampak beberapa orang berlalu lalang membongkar muatan dari gerbong kereta barang. Stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun kereta api terbesar yang ada di Indonesia. Stasiun ini mempunyai ketinggian 4 mdpl dan mempunyai 12 jalur kereta api. Stasiun Jakarta Kota merupakan 47","stasiun type Terminus, yang artinya merupakan stasiun akhir dan tidak mempunyai kelanjutan jalur rel kereta api. Di sebelah timur stasiun Jakarta Kota, terdapat Dipo Kereta yang digunakan untuk menyimpan dan melakukan perawatan kereta api jarak jauh, misalnya Kereta api Bima, Kereta api Gayabaru Malam Selatan, kereta api Taksaka, dan lain sebagainya. Itu yang diingat Arya dari penjelasan kakaknya yang pertama kali mengajak Arya ke stasiun ini. \u201cHayuk, kita harus bergegas menuju jalur 4. Jika benar ini stasiun Jakarta Kota semoga saja tempat yang aku maksud dapat memberi petunjuk bagaimana kita bisa kembali ke masa kita.\u201d Vian dan Jihan mengikuti langkah Arya menyeberangi jalur kereta satu persatu untuk menuju jalur 4. \u201cHey, apa yang kalian lakukan di sana!\u201d teriak seorang lelaki berseragam ala pasukan Belanda. Wajah laki-laki itu terkesan dingin. \u201cKami akan menuju jalur 4, Pak,\u201d jawab Jihan gugup. \u201cKalian akan ke mana? Jam segini tidak ada kereta berangkat atau pun datang. Pasti kalian pribumi yang menyamar dan akan melakukan penyerangan.\u201d \u201cBukan. Bukan seperti itu, Pak. Kami menuju jalur 4 karena kami ingin kembali ke masa kami.\u201d \u201cApa maksud kalian? Saya tidak sedang becanda! Sebaiknya kalian ikut dengan kami ke kantor dan jelaskan maksud kalian tersebut pada pimpinan kami.\u201d \u201cTidak, Pak. Kami anak baik-baik. Kami hanya ingin kembali ke masa kami,\u201d Vian menolak perintah petugas stasiun tersebut. \u201cBicara kalian semakin ngelantur.\u201d Dengan seluruh kekuatannya petugas stasiun mendorong tiga anak itu. Arya dan Vian saling tatap kemudian sambil memberi kode tangan, Arya memberi aba-aba, \u201cLari arah jam 12!\u201d 48","Ketiga anak tersebut sengaja berlari dengan jarak yang berjauhan alias menyebar supaya petugas stasiun kesulitan untuk mengejar mereka. \u201cBerhenti! Saya tidak akan segan mengeluarkan senjata jika kalian melawan!\u201d teriak petugas stasiun yang ternyata fokus mengejar Jihan. Mungkin dia berpikir kalau mengejar perempuan akan lebih mudah menangkapnya. Arya yang pertama sampai di jalur 4 langsung menuju salah satu tiang besar yang menjadi penyangga utama stasiun. Pada tiang tersebut terdapat banyak tombol yang tidak seorang pun tahu fungsinya. Arya juga hanya bersepekulasi bahwa salah satu tombol itu jika dipejet akan membawanya kembali ke masa sekarang. \u201cCepat teman-teman. Waktu kita tidak lama. Jangan sampai kita tertahan di stasiun ini dan orang-orang tidak paham dengan cerita kita.\u201d Ketika Jihan dan Vian sudah didekat Arya, tiba-tiba, \u201c1, 2, 3 waaaaaw,\u201d kata mereka bersamaan. Mereka masuk ke dalam tiang besar ketika tak sengaja Arya menekan suatu tombol yang membuat mereka berputar pada pusaran waktu yang membawa mereka keluar dari Stasiun Beos menuju ke kota yang dekat dengan rumah mereka. Saat sampai mereka hampir tak percaya bahwa mereka mendapat petualangan yang sangat aneh dari menaiki kereta api listrik itu. *** 49","Persahabatan vs Berlian Sore itu seusai hujan, Aruni, Dito dan Ewa duduk di pinggir menatap arus yang deras dari arah pegunungan di atas tempat tinggal mereka. \u201cRasanya udah lama banget ya kita jarang ngobrol di tempat ini. Biasanya setelah hujan Ewa mancing dan kita nungguin,\u201d Aruni memecah keheningan di antara mereka. \u201cDan sampai berjam-jam kita nungguin nggak ada satu pun ikan yang makan umpan Ewa,\u201d Dito menjawab dengan gaya bercandanya. Ewa hanya manyun diledek oleh kedua teman-temannya. Mereka bertiga memang sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil. Di mana ada Aruni pasti ada Dito dan Ewa yang setia menemani. Rumah mereka juga berdekatan sehingga memang sejak kecil mereka biasa main bersama. Saat sedang bercanda bersama, tiba-tiba datang peri cantik dari arah sungai. \u201cHey, sedang apa kalian di sini?\u201d sapa peri sungai dengan tersenyum. \u201cKami sedang menunggu senja,\u201d jawab Dito. \u201cAku membawa hadiah untuk kalian. Maukah kalian menerimanya?\u201d 50","\u201cHadiah? Hadiah apa?\u201d Peri sungai mengeluarkan tiga buah batu kecil serupa berlian yang berkilauan dengan tiga warna berbeda. \u201cSilakan kalian pilih,\u201d tawar peri sungai. Ketiga anak tersebut tampak ragu. Mereka saling pandang satu sama lain. \u201cAku ambil yang biru.\u201d Dito meraih berlian berwarna biru dari tangan peri sungai. Aruni dan Ewa masih belum bergeming. \u201cTinggal kalian yang belum ambil. Di tanganku masih ada berlian hijau dan kuning.\u201d Peri sungai menoleh pada Aruni dan Ewa. Tanpa disadari oleh semuanya, Ewa berkata, \u201cAku tidak akan mengambil satu pun berlian pemberianmu. Walaupun aku tahu berlian itu mahal tapi aku merasa lebih mahal persahabatan yang kujalin dengan Aruni dan Dito.\u201d Sontak Dito pun kaget dan langsung menyerahkan berlian biru yang tadi diambilnya dari tangan peri sungai. \u201cNi, kukembalikan berliannya. Aku juga sependapat dengan Ewa. Aku tidak mau setelah kami memiliki berlian ini persahabatan kami menjadi rusak.\u201d Aruni jadi terharu oleh perkataan kedua sahabatnya itu. Kemudian Aruni menjelaskan pada peri sungai bahwa mereka lebih menghargai persahabatan di atas segalanya apalagi perbandingannya adalah berlian yang indah. Peri sungai yang mendengar pendapat ketiga anak itu menjadi terharu. \u201cKalian luar biasa sekali. Di zaman seperti ini kalian masih menghargai persahabatan di atas segalanya dibandingkan kemewahan.\u201d \u201cSimpan saja berlian itu, Peri. Siapa tahu nanti ada orang lain yang membutuhkan.\u201d Dito tersenyum pada peri sungai. \u201cTerima kasih. Dari kalian aku belajar banyak hal. Sebagai hadiah akan keperlihatkan pemandangan yang indah di seberang sungai tersebut.\u201d Peri sungai menggerakkan tangannya beberapa 51","kali sampai kemudian terlihat sebuah bukit yang indah dihiasi pelangi yang cerah di atasnya. \u201cWaaaaa, ini luar biasa indah!\u201d teriak Aruni, Dito dan Ewa bersamaan. \u201cIni tak seberapa kok. Sampai bertemu lagi ya.\u201d Setelah berkata demikian peri sungai menghilang dari hadapan tiga anak tersebut. *** 52","Biji Okra Ajaib Nindy, ibu dan adiknya tinggal di sebuah rumah kecil di desa yang berada di kaki gunung. Ibunya sudah lama menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal dunia. Nindy harus putus sekolah karena setiap hari harus membantu ibunya bekerja. \u201cNin, jangan lupa nanti sepulang mencuci baju di rumah Pak Ali, kamu antar pesanan jagung di rumah Bu Diah, ya. Jagungnya kamu ambilkan dulu di ladang belakang rumah.\u201d \u201cBaik, Bu. Nanti Nindy ke rumah Bu Diah membawa jagung pesanannya.\u201d Ibu Nindy kemudian berangkat bekerja ke rumah tetangganya. Saat Nindy akan berangkat menuju rumah Pak Ali, di tengah jalan dia menjumpai seorang kakek yang membawa beban berat dan terjatuh di pematang sawah. Nindy segera berlari untuk menolong kakek tersebut. \u201cKek... Kek... Kakek bisa dengar suara saya?\u201d Nindy mengguncang-guncang tubuh kakek tersebut. Tak berapa lama kakek itu membuka matanya. Dia tersenyum pada Nindy. 53","\u201cTerima kasih karena sudah menolongku, Nak. Kakek hanya kelelahan saja karena harus membawa gerabah ini menuju ke kota.\u201d \u201cIstirahat dulu, Kek.\u201d Nindy memberikan botol minumnya pada kakek tersebut. Diurungkannya niat Nindy untuk langsung berangkat menuju rumah Pak Ali. Nindy memutuskan untuk menunggui kakek tersebut sampai kuat berjalan lagi. Sambil beristirahat, kakek tua menanyakan kehidupan Nindy sehari-hari. Nindy pun menceritakan kisah hidupnya sambil sesekali menarik napas panjang karena dia tak ingin menangis di depan orang lain. Setelah dirasa kuat, Nindy menawarkan diri untuk mengantar kakek tersebut menuju ujung desa, \u201cSaya bantu angkat gerabahnya sampai ujung desa, Kek. Setelah itu kakek bisa melanjutkan perjalanan ke kota.\u201d \u201cNggak usah, Nak. Kamu menolongku saja, kakek sudah bersyukur sekali. Oiya, ini ada sebungkus biji okra. Tanamlah di belakang rumahmu, di antara jagung-jagung yang kau tanam. Siapa tahu biji okra ini bermanfaat untuk hidupmu.\u201d Kakek tersebut menyerahkan sebungkus kain berwarna coklat tua yang di dalamnya terdapat biji okra kering siap tanam. \u201cItu biji okra ajaib, Nak. Jika kau mau menanamnya dengan ikhlas dan sabar maka hasilnya akan luar biasa.\u201d Usai berkata demikian kakek tersebut berdiri dan berjalan meninggalkan Nindy. Setelah mengucapkan terima kasih, Nindy melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Ali. Bungkusan biji okra pemberian kakek tadi disimpannya dalam saku rok yang dikenakan Nindy. Sampai di rumah Nindy bercerita kepada ibunya jika tadi dia bertemu dengan seorang kakek dan diberinya biji okra ajaib. Ibu Nindy mendengarkan cerita anaknya dengan sabar sambil berkata, \u201cBaiklah, besok pagi kita tanam biji-biji okra tersebut di belakang rumah seperti pesan kakek yang memberinya. Tapi jangan lupa, Nin. Kamu harus rajin menyiraminya,\u201d pesan Ibu pada Nindy. 54","Pagi harinya Nindy dan ibu menuju halaman belakang rumah untuk menanam biji okra. Setelah ditanam di beberapa tempat yang berbeda, Nindy menyiraminya dengan air. Benar seperti kata kakek itu, biji okra yang ditanamnya memang biji okra ajaib. Baru sehari ditanam biji-biji tersebut sudah tumbuh dengan subur. Nindy sangat senang. Nantinya okra-okra yang dipanen akan dijualnya di kota. Harga okra masih lumayan tinggi sehingga Nindy berharap hasil panennya nanti dapat untuk membantu ekonomi keluarga. \u201cBu, lihat, tanaman okranya sudah tumbuh dengan subur.\u201d Tunjuk Nindy ke arah halaman belakang rumah. Ibunya terpekik tak percaya, \u201cSecepat itu tanaman okra tumbuh?\u201d \u201cNindy sudah tak sabar untuk memanennya, Bu. Belum ada seminggu tanaman okra itu sudah berbunga. Benar-benar ajaib ya, Bu?\u201d \u201cIya, Nak. Nanti kalau sudah panen kita bisa jual ke kota. Terus kita tanam lagi okra-okra yang baru. Siapa tahu lewat okra tersebut hidup kita akan berubah ya, Nak,\u201d kata ibunya penuh harap. Nindy tersenyum bahagia. Buat Nindy asal ibunya tidak lelah setiap pulang kerja sudah merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Tepat pada hari ke tujuh, Nindy dan ibunya memanen okra yang mereka tanam. Alangkah bahagianya Nindy karena okranya besar, segar dan berwarna hijau terang. \u201cKamu sisihkan beberapa okra yang bagus kemudian kamu jemur bijinya agar bisa kita tanam lagi, Nin. Ibu yang akan ke pasar menjual hasil panen kita.\u201d Ibu bersiap keluar dari rumah membawa keranjang besar berisi okra. Adik Nindy menemani ibunya ke pasar yang ada di kota. \u201cNin, Nindy!\u201d ibu berteriak dari luar rumah sore itu. \u201cKak, Kakak!\u201d suara adik Nindy juga tak kalah kerasnya. \u201cAda apa, Bu, Dek? Kok teriak kenceng banget?\u201d Nindy keluar rumah menyambut kedatangan mereka. 55","\u201cAlhamdulillah, hari ini kita mendapatkan rezeki yang lumayan. Okra kita dibeli pedagang di kota dengan harga yang tinggi. Katanya kualitas okra kita bagus. Kalau kita panen lagi, dia mau membelinya lagi.\u201d Ibu bercerita sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya untuk ditunjukkan pada Nindy. \u201cWah, alhamdulillah kalau begitu, Bu. Nindy janji akan merawat okra-okra yang kita tanam dengan baik supaya hasil panennya juga bagus-bagus.\u201d \u201cIya, Nin. Kalau besok hasil panen kita bagus lagi, kita bisa berbagi dengan warga desa ini supaya mereka juga merasakannya. Banyak orang yang sekarang mengonsumsi okra untuk sayur atau campuran minuman karena okra banyak khasiatnya,\u201d lanjut Ibu sebelum menuju kamar untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Nindy dan keluarganya kini hidup berkecukupan. Namun walaupun mereka merasa serba cukup, mereka tidak pelit untuk membagikan biji okra pada tetangga-tetangganya agar bisa menikmati hasil okra tersebut sehingga seluruh warga desa pun kini hidup sejahtera. *** 56","Kucing yang Tahu Membalas Budi Di sebuah rumah kecil di kota besar, hiduplah seorang tukang reparasi tas dan sepatu yang sudah tua. Rumah kecilnya itu berfungsi sebagai kios tempat dia bekerja menerima perbaikan tas dan sepatu para pelanggan. Pak tua memelihara seekor kucing yang berbulu indah dan diberi nama Kelana. Kelana setiap hari menunggui majikannya bekerja sambil mengamati setiap detail pekerjaan yang dilakukan Pak Tua. Walaupun sudah tua, Pak Tua sangat rapi mengerjakan tugasnya sehingga pelanggan tidak ada yang kecewa dengan pekerjaannya. Pagi itu Pak Tua belum bangun dari tidurnya. Kelana sudah berupaya membangunkan majikannya tetapi tetap saja majikannya tidur. \u201cJangan-jangan Pak Tua sakit,\u201d pikir Kelana. Kelana kemudian berjalan ke rumah bagian depan, tempat di mana Pak Tua meletakkan pekerjaan langganannya yang belum diselesaikan. \u201cAstaga! Masih banyak tas dan sepatu yang belum sempat dikerjakan Pak Tua,\u201d teriak Kelana dalam hati. 57","\u201cKelana, pus, pus,\u201d suara Pak Tua terdengar lirih dari dalam kamarnya. Kelana senang karena Pak Tua sudah bangun dari tidurnya. Kelana berjalan menghampiri Pak Tua dan melompat ke samping Pak Tua. Wajah Pak Tua sangat pucat, badannya juga dingin. Sepertinya Pak Tua memang sakit. \u201cKelana, hari ini kamu cari makan sendiri, ya. Aku nggak kuat untuk bangun. Mungkin aku tidak bisa membuka kios beberapa waktu,\u201d kata Pak Tua sambil mengelus punggung kucing kesayangannya. Kelana sedih sekali mendengar perkataan majikannya. Kalau soal makan dia bisa mencari sendiri, tapi bagaimana dengan pekerjaan Pak Tua? Para pelanggan pasti akan marah kalau tas dan sepatu yang terlanjur ditinggal tidak dikerjakan Pak Tua. Kelana berdoa dalam hati semoga majikannya segera sembuh. Dia berharap bisa membalas kebaikan Pak Tua yang selama ini sudah merawatnya dengan cara menyelesaikan seluruh pekerjaan Pak Tua. Tapi apa daya, dirinya hanya seekor kucing. Kuku kakinya yang bercakar menyulitkannya untuk melakukan pekerjaan. Saat Kelana merenung, tiba-tiba seberkas cahaya menimpa dirinya. Kelana tersentak dari lamunannya. Kemudian dengan kedua kaki depannya, Kelana menghalau cahaya tersebut. Tetapi tetap saja cahaya itu jatuh di permukaan tubuh Kelana. Ketika cahaya itu semakin memudar, Kelana menyadari sesuatu, \u201cKaki depanku bisa bergerak seperti manusia. Apa ini pertanda bahwa aku bisa mengerjakan pekerjaan Pak Tua ya?\u201d Kelana berjalan kembali menuju ruang depan dan mencoba mengambil salah satu sepatu yang robek pada tepi depannya. \u201cAjaib, kaki depanku bisa digerakkan seperti tangan manusia.\u201d Kelana tersenyum senang. Dia segera mengambil posisi yang nyaman untuk membantu Pak Tua menjahit tas dan sepatu milik pelanggannya. Dalam sekejap pekerjaan Kelana sudah selesai. Kelana berjalan kembali menengok Pak Tua di kamarnya. Tampak Pak Tua yang meringkuk karena kedinginan. Tanpa pikir 58","panjang, Kelana segera mengambil secarik kertas dan mencoret- coret di kertas tersebut lalu dia melompat jendela menuju rumah tetangga untuk meninggalkan kertas yang berisi pesan permintaan tolong untuk membawa Pak Tua berobat. Beruntung tetangga Pak Tua segera mengambil kertas yang diletakkan Kelana di atas meja makan. Tetangga Pak Tua segera menuju rumah Pak Tua. Karena pintu rumah terkunci akhirnya beberapa tetangga membantu mendobrak pintu rumah Pak Tua. \u201cLihat, Pak Tua terbaring sakit. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit.\u201d Salah seorang tetangga yang mencari Pak Tua di dalam rumah menemukan Pak Tua meringkuk di dalam kamar. Sudah dua hari ini Pak Tua tidak pulang ke rumah. Mungkin Pak Tua dirawat di rumah sakit, pikir Kelana. Setiap hari Kelana membereskan rumah dan menyelesaikan beberapa pekerjaan Pak Tua yang kemarin-kemarin belum bisa dikerjakan Kelana. Tepat pada hari kelima, Pak Tua pulang ke rumah dengan diantar tetangga-tetangganya. Wajah Pak Tua sudah lebih segar dibandingkan lima hari yang lalu. Kelana menyambut Pak Tua di depan pintu dengan mengelus-eluskan badannya ke kaki Pak Tua dan mengitarinya beberapa kali. Pak Tua langsung menggendong Kelana. \u201cApa kabar, Kelana. Maaf, ya, aku meninggalkanmu begitu lama.\u201d Pak Tua lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan terima kasih kepada para tetangga yang sudah membantunya selama dia dirawat di rumah sakit. \u201cJangan terlalu capai, ya, Pak. Ingat, kesehatan prioritas Bapak saat ini,\u201d begitu pesan para tetangga yang satu per satu mulai meninggalkan rumah Pak Tua. Alangkah terkejutnya Pak Tua ketika masuk ke dalam rumah. Rumahnya menjadi bersih dan tertata rapi. Yang lebih membuat Pak Tua kaget adalah semua pekerjaan langganannya sudah selesai. 59","Pak Tua memeriksa satu per satu pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan itu. Rapi, batinnya. \u201cApa kau yang melakukan semua ini, Kelana?\u201d tanya Pak Tua sambil memangku Kelana. Kelana hanya membalasnya dengan kibasan ekornya. Saat Pak Tua akan masuk ke kamarnya, seorang pelanggan datang ke rumah Pak Tua. \u201cPak, saya akan mengambil sepatu yang saya jahitkan kemari seminggu yang lalu. Sudah jadi apa belum? Kios Bapak tutup terlalu lama sehingga saya terpaksa bekerja mengenakan sepatu yang tidak biasanya.\u201d \u201cMari, masuk, Bu. Maaf kemarin saya sakit jadi kios tutup, tapi sepatu Ibu sudah jadi kok. Silakan kalau mau Ibu ambil.\u201d Pak Tua menyodorkan sebuah sepatu hitam dengan tumit setinggi 5 cm kepada pelanggannya. \u201cWah, rapi sekali. Nggak nyesel saya nunggu lama untuk bisa memakai sepatu itu lagi.\u201d Ada senyum kelegaan di wajah Pak Tua mendengar pujian pelanggannya. Kelana juga ikut tersenyum senang. Dia ingat sekali, sepatu hitam Ibu itu merupakan sepatu yang dijahit pertama kali ketika kedua kaki depannya bisa digerakkan. Kebetulan sepatu itu hanya robek bagian depannya sehingga tidaklah sulit bagi Kelana untuk menjahitnya. Pak Tua mengucapkan terima kasih pada Ibu itu kemudian bergegas membuka kiosnya. Dia khawatir pelanggannya ingin segera mengambil tas dan sepatu yang diperbaiki di tempat Pak Tua. *** 60","Tabib Bijaksana Dahulu kala hiduplah seorang raja yang sangat terhormat dan bijaksana. Sang raja hanya mempunyai seorang putri. Saat usianya semakin tua, sang raja tetap memikirkan bagaimana kelak putrinya dapat meneruskan tahta kerajaan yang dipimpinnya selama ini. Terlebih putrinya masih remaja dan belum menikah. Raja berniat menyuruh putrinya melakukan perjalanan keliling wilayah untuk mengenal kehidupan di luar kerajaan dan mengetahui kehidupan rakyat yang kelak akan dipimpinnya. Hari ini putri raja melakukan perjalanan ke luar kerajaan hanya dengan mengendarai kuda dan dikawal oleh dua orang abdi kerajaan. Putri raja akan kembali setelah dia mengelilingi seluruh wilayah yang dipimpin oleh ayahnya. Setelah beberapa bulan putri raja pun kembali ke kerajaan. Namun keadaan sang putri kelihatan berbeda, banyak bercak merah di kulit sang putri, setiap hari jumlahnya bertambah banyak dan gatal. \u201cApa yang terjadi dengan dirimu, Nak. Di mana kamu tertular penyakit seperti ini?\u201d Raja sangat panik mengetahui kondisi putrinya. Berbagai obat tradisional diramu untuk diberikan kepada sang putri, tetapi tak kunjung sembuh juga. 61","Raja akhirnya memanggil tabib istana untuk memeriksa putri kesayangannya itu. Setelah memeriksa tabib istana memberitahukan bahwa putri terkena penyakit cacar. Betapa terpukulnya sang raja, putri yang akan segera menggantikan posisinya seminggu lagi justru terkena penyakit yang konon bekasnya akan susah hilang. Apa kata rakyat di luar kerajaan sana nanti, juga tamu undangan yang hadir ketika melihat putri raja badannya totol-totol hitam karena cacar. Sayembara segera digelar, semua tabib terbaik di seluruh negeri diundang untuk menyembuhkan sang putri. Namun tak satu pun yang dapat menyembuhkannya. Semua obat telah diminum dan semua salep telah dioleskan, tetapi cacar sang putri tak kunjung hilang, malah terus bertambah banyak dan menyebar ke seluruh badannya. Kabar dicarinya seorang tabib yang dapat menyembuhkan cacar yang putri raja ini sampai ke telinga seorang tabib yang berasal dari wilayah timur. Tabib Haris walaupun masih muda tetapi rajin membaca segala macam buku, sehingga dia paham sekali ramuan yang digunakan dan manfaatnya bagi kesembuhan pasien. Selain itu tabib Haris juga tidak memasang tarif kepada pasiennya. Siapa saja dan dari kalangan mana saja akan dilayaninya dengan baik. Tak heran jika di wilayah timur, tabib Haris sangat terkenal. \u201cSepertinya aku harus membantu raja. Kasihan beliau yang akan mangkat harus memikirkan nasib putrinya yang sedang sakit,\u201d pikir tabib Haris sambil menyiapkan ramuan yang akan dibawanya menuju ke istana. Setelah tabib Haris tiba di istana, ia menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya kepada raja, \u201cYang Mulia, perkenalkan hamba adalah tabib Haris. Asal hamba dari wilayah timur. Jika Yang Mulia berkenan, hamba akan mencoba mengobati cacar yang diderita oleh putri.\u201d \\\"Kau yakin dengan perkataanmu anak muda? Karena sudah banyak tabib berdatangan dari seluruh penjuru dunia tetapi tak ada satu pun yang berhasil menyembuhkan putriku. Malah cacar di 62","tubuh putriku semakin banyak. Padahal beberapa hari lagi aku akan menobatkan putriku sebagai pengganti diriku yang akan mangkat sebagai raja.\u201d \u201cYang Mulia, hamba akan menyembuhkan putri tanpa memberinya obat untuk diminum atau pun salep untuk dioleskan. Semoga sang putri sembuh pada hari penobatan sebagai ratu kerajaan ini,\\\" janji tabib Haris. Ketika sang raja mendengar ini, dia berkata, \\\"Jika engkau berhasil, aku akan memenuhi janjiku untuk menikahkan siapa pun laki-laki yang bisa menyembuhkan penyakit putriku. Sekarang kau akan diantar oleh pengawal kerajaan untuk melihat putriku. Setelah itu kau bisa kembali lagi kemari.\u201d Raja banyak berharap akan keberhasilan tabib Haris menyembuhkan cacar putrinya karena raja tak tega melihat putrinya yang tidak bisa keluar dari kamar. Jangankan rakyat, abdi kerajaan yang merawat putri pun beberapa ada yang risih melihat kulit putri yang penuh bintik-bintik merah. Mereka takut tertular. Tabib Haris mohon diri pada raja untuk melihat kondisi sang putri. Karena hari sudah menjelang malam ketika tabib Haris sampai di kerajaan, maka ia memutuskan besok pagi-pagi sekali akan kembali lagi ke kerajaan dan memberitahukan apa yang harus dilakukan sang putri. Benar saja, keesokan harinya tabib Haris sudah kembali lagi ke kerajaan. Tidak ada obat atau apa pun yang dibawanya kecuali kulit kayu dan daun sirih. \u201cYang Mulia, jika diizinkan, saya meminta Yang Mulia menyerahkan kulit kayu ajaib dan daun sirih ini kepada sang putri. Campurkan kulit kayu dan daun sirih ini pada rendaman air hangat yang digunakan sang putri untuk mandi pagi ini.\u201d Tabib Haris menyerahkan kulit kayu dan daun sirih yang dibawanya pada raja. \u201cAku bukannya tidak mempercayaimu wahai tabib yang bijaksana. Tapi selama ini putriku dilarang mandi semenjak cacar menyerang tubuhnya. Bagaimana mungkin aku menyuruhnya mandi 63","dengan air hangat yang dicampur kulit kayu dan daun sirih ini? Selain terasa perih apa tidak akan membuat cacarnya semakin bertambah banyak? Lihatlah, kulit kayu yang kaubawa itu sudah ditempeli banyak jamur. Pastinya akan berbahaya bagi kulit putriku,\u201d ragu raja berkata pada tabib Haris. \u201cJika Tuhan mengizinkan, kekhawatiran raja tidak akan terjadi. Raja boleh langsung mengusir saya jika dalam dua hari ini tidak ada perubahan yang dialami oleh sang putri.\u201d Akhirnya raja memanggil salah satu abdi kerajaan yang dipercaya mengurus putrinya. \u201cTolong kamu masukkan kulit kayu dan daun sirih ini pada air hangat yang digunakan tuan putrimu untuk mandi. Laporkan padaku setelah tuan putri selesai mandi. Jika terjadi apa-apa pada putriku aku akan segera mengusir tabib ini.\u201d \u201cBaik, Yang Mulia, perintah akan hamba laksanakan.\u201d Abdi kerajaan mohon diri untuk menuju kamar sang putri dan menyiapkan air hangat untuk mandi pagi. Ajaib. Begitu putri Tiara selesai mandi, dia berkata kepada abdi kerajaan, \u201cMbok, lihat, cacar di badanku langsung mengering dan sudah tidak terasa gatal lagi.\u201d \u201cWaaaah, syukurlah tuan putriku yang cantik jelita. Coba tuan putri ngaca, cacar di wajah tuan putri juga sudah kempes sehingga aura cantik tuan putri terlihat kembali.\u201d \u201cIya, benar, Mbok. Aku senang sekali. Selama sakit aku sedih memikirkan ayah yang terus-terusan khawatir pada kondisiku.\u201d \u201cKalau begitu saya akan laporan dulu pada Yang Mulia kalau setelah mandi pagi ini kondisi tuan putri semakin membaik.\u201d Abdi kerajaan berlalu dari dalam kamar sang putri dan tergopoh-gopoh menemui raja. Raja yang sedang mengobrol dengan tabib Haris kaget melihat abdi kerajaan menemuinya lagi. \u201cKenapa, Mbok? Ada yang membuatmu harus segera bertemu denganku?\u201d \u201cYang Mulia, hamba akan melaporkan bahwa setelah mandi dengan kulit kayu dan daun sirih tadi, kondisi tuan putri semakin 64","membaik. Cacarnya sudah kering merata di seluruh tubuh. Sebentar lagi pasti akan hilang.\u201d \u201cSyukurlah kalau begitu, Mbok. Kamu bisa kembali lagi ke dalam,\u201d perintah sang raja. \u201cTunggu dulu, Mbok. Ini kulit kayu dan daun sirih yang harus dipakai sang putri untuk mandi sore. Semoga nanti kondisinya sudah lebih baik.\u201d Tabib Haris menyerahkan kulit kayu dan daun sirih pada abdi kerajaan. \u201cBaiklah anak muda. Kuizinkan kau untuk berada di sekitar wilayah kerajaanku sampai besok kupastikan kalau putriku akan segera sembuh.\u201d Tabib Haris tersenyum lega. Ternyata dengan kayu ajaib yang dibawanya cacar yang diderita sang putri bisa sembuh. Usai mandi sore, sang putri berteriak senang karena satu persatu bekas cacar di tubuhnya sudah mengelupas bahkan tak ada bekasnya sedikit pun. Raja yang mengetahui putrinya sudah membaik merasa bersyukur karena tabib yang mendatanginya benar-benar membawa kabar gembira. Dalam hati raja tak menyesal jika tabib itu akan menjadi menantunya. Keesokan harinya, tepat dua hari setelah putri Tiara mandi menggunakan kulit kayu, cacar yang ada di seluruh tubuhnya sudah benar-benar hilang. Kulit putri Tiara kembali bersih dan aura kecantikannya pun semakin memancar. Ketika penobatan sang putri menjadi ratu, raja tak lupa mengumumkan kepada seluruh rakyatnya dan tamu undangan yang hadir bahwa putrinya akan dinikahkan dengan tabib Haris, tabib bijaksana yang menyembuhkan putrinya dari cacar di saat genting. Tak hanya raja yang berbahagia, seluruh rakyat juga berbahagia karena akan mendapatkan pemimpin yang tak kalah bijaksana dari ayahnya. 65","Penjaga Jembatan Pada zaman dahulu, hiduplah tiga orang saudara yang cerdik. Mereka hidup rukun di desa yang damai. Sejak orang tua mereka meninggal dunia, Si Sulung mengajarkan kepada adiknya untuk selalu hidup tolong-menolong. Jika satu dari mereka mempunyai masalah maka yang lain akan membantu menyelesaikannya, begitu juga sebaliknya. Mereka bertiga bernama Si Bungsu, Si Tengah, dan Si Sulung. Suatu hari, Si Bungsu kakinya terluka karena terperosok ke jurang sewaktu dia mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Lukanya cukup lebar sehingga harus dijahit. Si Bungsu pun harus dibawa ke desa seberang untuk dijahit lukanya. Namun perjalanan menuju desa seberang sangatlah berbahaya karena medan yang berupa bukit dan mereka harus melewati jembatan yang dijaga raksasa kejam yang suka memakan manusia. \u201cApa pun yang terjadi, kita tetap harus membawa Si Bungsu ke desa seberang. Kalau lukanya tidak segera dijahit akibatnya Si Bungsu akan kehilangan banyak darah.\u201d Si Sulung segera menyiapkan bekal yang akan dibawa untuk menuju desa seberang. 66","\u201cTapi, Kak. Bagaimana jika di tengah jalan kita berhadapan dengan raksasa penjaga jembatan sementara kondisi Bungsu seperti ini?\u201d Si Tengah agak ragu dengan keputusan Si Sulung. \u201cTenang saja, seperti biasa kita harus bisa melindungi satu sama lain. Nanti sambil jalan kita atur strategi supaya kita bisa lolos dari si raksasa jahat itu.\u201d Si Sulung memapah Si Bungsu yang tengah membalut lukanya dengan kain seadanya untuk menghentikan darah yang terus mengalir. Akhirnya mereka bertiga berangkat menuju desa seberang dengan kebulatan tekad akan menghadapi raksasa penunggu jembatan secara bersama-sama. Siang hari mereka tiba di tempat yang paling ditakutkan yaitu jembatan penghubung antar desa. Setelah melewati bukit mereka harus menyeberangi jembatan yang berada di atas sungai dengan aliran air yang deras dan batu-batuan yang besar. Mereka berhenti sejenak untuk mengatur strategi melewati jembatan tersebut. \u201cBungsu, kau nanti berjalan terlebih dahulu menuju jembatan itu!\u201d Tunjuk Si Sulung pada jembatan yang ada di bawah tempat mereka berhenti. \u201cJika raksasa mendekatimu, katakan bahwa di belakangmu akan lewat kakakmu yang lebih besar dan dagingnya lebih banyak. Si Tengah, setelah Si Bungsu berhasil melewati jembatan, kamu menyusul. Seperti yang dikatakan Si Bungsu tadi, kamu juga harus bilang bahwa di belakangmu ada aku yang berbadan lebih besar dan kuat.\u201d Si Sulung memberi aba-aba pada kedua adiknya. Si Bungsu dan Si Tengah menganggukkan kepala tanda kalau mereka paham dengan perintah kakaknya. \u201cBaiklah, sekarang kita turun menuju jembatan tersebut. Tidak perlu panik. Tuhan pasti akan melindungi kita.\u201d Si Sulung menyemangati adik-adiknya. Saat Si Bungsu menyeberang ia berkata, \u201cBiarkan aku Iewat. Nanti akan ada kakakku di belakangku yang bertubuh Iebih besar.\u201d \u201cBaiklah silahkan kamu lewat,\u201d kata raksasa itu. 67","Si Bungsu langsung bergegas melewati jembatan dan bersembunyi di ujung jembatan untuk menunggu kakaknya, Si Tengah. Kemudian giliran Si Tengah menyeberang jembatan dan berkata, \u201cBiarkan aku lewat. Nanti akan ada kakakku di belakangku yang bertubuh lebih besar.\u201d \u201cBaiklah, silahkan kamu lewat,\u201d kata raksasa yang bersiap menghadang orang yang akan lewat jembatan setelah Si Tengah. Kemudian kini giliran Si Sulung menyeberangi jembatan dan ia berkata, \u201cBiarkan aku lewat. Akulah kakak yang paling besar dan pemberani!\u201d seru Si Sulung dengan gagah berani sambil mendorong raksasa itu sekuat tenaga hingga tewas karena terjatuh ke sungai. Mereka pun lolos dan dapat menyeberangi jembatan itu dengan selamat. Si Bungsu pun akhirnya bisa diobati dan dijahit lukanya. Setelah tewasnya raksasa penunggu jembatan, jembatan itu pun kini menjadi ramai dan tak ada lagi yang mengganggu warga yang akan melintasi jembatan penghubung antar desa. *** 68","Berada di Dunia Mimpi Aku tersadar dan kaget ketika menyadari bahwa saat ini diriku berada di tengah hutan yang lebat, gelap, dan hanya terdapat pohon di sana-sini. Seingatku tadi aku masih tertidur di kamarku yang nyaman setelah selesai membaca sebuah novel. Kuputuskan untuk berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di tengah hutan ini. \u201cSemoga aku akan segera menemukan jalan supaya bisa keluar dari hutan,\u201d batinku. Baru saja aku berjalan beberapa meter tampak di depan sana ada cahaya seperti api unggun yang dinyalakan di tengah hutan. \u201cSebaiknya aku menuju ke sana, siapa tahu aku bertemu dengan seseorang yang dapat kutanyai arah jalan keluar dari hutan ini.\u201d Mantab kulangkahkan kaki menuju api unggun tersebut. Benar saja, di depan api unggun itu duduk seorang gadis yang membelakangiku. Dia duduk mendekap kedua lututnya dan memandangi api unggun dengan pandangan kosong. \u201cSelamat malam, apa aku mengganggumu?\u201d sapaku. Gadis itu mengangkat mukanya mendengar suaraku. \u201cNimas!\u201d pekikku antara bahagia karena bertemu teman mainku di hutan ini dan bingung kenapa Nimas ada di tengah hutan malam- malam seperti ini. 69","\u201cNimas? Aku bukan Nimas,\u201d elaknya acuh. \u201cHey, kamu lupa dengan namamukah?\u201d \u201cAku sudah lama tak mengingat apa pun sejak desaku dihancurkan oleh raksasa jahat itu.\u201d \u201cRaksasa?\u201d Aku semakin bingung dengan perkataan Nimas. Zaman seperti ini masih percaya adanya raksasa? Jangan-jangan Nimas amnesia ni, pikirku. Kuputuskan untuk ikut duduk di sebelah Nimas, menghadap api unggun dan mencari kehangatan di dinginnya hutan malam ini. \u201cKamu dari mana dan apa keperluanmu datang ke hutan ini? Tempat ini sangat berbahaya untuk gadis sepertimu.\u201d Nimas menoleh sekilas kemudian menatap api unggun lagi. \u201cEntahlah, aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba aku bisa berada di sini dan bertemu denganmu. Sedikit bersyukur karena aku bertemu denganmu. Kupikir aku hanya sendirian di sini karena aku ingin bertanya jalan keluar dari hutan ini pada orang yang kujumpai.\u201d \u201cIkutlah denganku.\u201d Nimas berdiri dan menarikku untuk ikut berdiri juga. Aku berdiri dan berjalan mengikuti Nimas. Kami sampai di pinggir hutan sebelah timur. \u201cLihatlah di depan itu desaku. Semua hancur lebur karena serangan raksasa yang membabi buta kemarin. Tetua desa kami lupa menyerahkan sesaji pada raksasa sehingga akhirnya raksasa masuk ke desa kami dan menghancurkan apa yang dilihatnya. Banyak orang meninggal akibat ulahnya itu. Ternak jadi santapannya semua. Rumah-rumah warga dirusak dan ditendang. Dan seperti itulah pemandangan yang kamu lihat saat ini.\u201d Nimas menoleh padaku. Aku menganga tak percaya. Nimas benar, desa yang ada di hadapanku memang hancur lebur, sisa-sisa rumah roboh, pohon tumbang dan jenazah orang yang meninggal masih dibiarkan begitu saja. Aku begidik ngeri membayangkannya. \u201cBagaimana kamu bisa selamat?\u201d tanyaku pada Nimas. 70","\u201cWaktu itu Ibu menyuruhku pergi ke hutan mengambil daun jati untuk membungkus makanan yang biasa Ibu jual ke pasar. Ketika raksasa datang, aku baru saja keluar dari rumah.\u201d Nimas kemudian menangis. Dia teringat pada ibu dan kakaknya yang menjadi korban kemarahan raksasa. \u201cJangan sedih, Nimas. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana cara melawan raksasa itu.\u201d Aku menyemangati Nimas supaya dia tidak larut dalam kesedihannya. \u201cSembunyilah. Lihat, raksasa muncul kembali. Sepertinya dia mencium keberadaan kita.\u201d Nimas mendorongku untuk kembali masuk ke dalam hutan sementara dia dengan tekadnya bersiap menghadapi raksasa jahat itu. Aku berlari mengikuti saran Nimas untuk bersembunyi. Aku mencari pohon yang besar yang dapat melindungi diriku sambil sesekali mengintip dari balik pohon, apa yang akan dilakukan oleh Nimas. Tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan dari arah pedesaan. Cahaya itu menembus dada Nimas. Seketika Nimas berubah menjadi besar dengan pakaian ala superhero. Nimas terbang menuju raksasa yang masih bertahan berdiri di tengah desa yang telah hancur. \u201cWaaaa, Nimas berubah jadi power girl. Semoga Nimas bisa melawan raksasa jahat itu,\u201d doaku dalam hati. Tampak dari tempatku bersembunyi Nimas melawan raksasa dengan susah payah. Ya, walau bagaimana pun Nimas tetaplah perempuan dan raksasa itu memiliki ukuran badan yang dua kali lebih besar dari badan Nimas setelah berubah menjadi power girl. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba tubuhku diselimuti cahaya terang yang pelan-pelan mengubah sosokku menjadi gadis yang super besar. Aku berubah menjadi power girl juga seperti Nimas. \u201cBantulah temanmu. Dia nggak mungkin menghadapi raksasa itu sendirian,\u201d sebuah bisikan singgah di telinga kananku. 71","Aku segera terbang menuju arah Nimas dan raksasa yang sedang bertempur. Kuserang raksasa itu bertubi-tubi dari arah belakang sampai dia sempoyongan. Nimas yang melihatku datang membantu mengucapkan terima kasih dengan kedipan matanya. Begitu melihat raksasa terhuyung ke depan, Nimas langsung menyerangnya dan akhirnya raksasa itu jatuh tersungkur di tanah. Aku dan Nimas menyatukan kekuatan kami untuk menyerang raksasa yang sudah tergeletak itu. \u201cRasakan pembalasanku, raksasa jahat. Ini yang kemarin kamu lakukan pada keluarga dan warga desaku.\u201d Nimas mengarahkan kumpulan cahaya dariku dan darinya yang berupa gumpalan api ke arah tubuh raksasa. Raksasa itu mati setelah mengerang cukup keras. Perlahan cahaya kembali menyelimuti tubuhku dan Nimas. Kami kembali lagi ke bentuk semula. Aku hendak berkata sesuatu pada Nimas, tapi Nimas lebih dulu berlari menjauh dariku. \u201cNimas! Nimas!\u201d teriakku sambil berusaha lari mengejarnya. Aku ingin bertanya apa yang akan dia lakukan setelah ini. Keluarganya sudah tidak ada dan desanya sudah hancur. Kasihan Nimas. Sialnya, ketika aku berlari, aku tersandung akar pohon sehingga jatuh terjerembab. Buuug. Suara jatuhku terdengar keras sekali di sepinya hutan malam itu. Seketika aku membuka mataku dan mengelus kepalaku yang sakit akibat terjatuh tadi. Ternyata aku jatuh dari tempat tidur akibat mimpiku tadi. Mungkin ini efek kebiasaanku membaca novel petualangan sebelum tidur. *** 72","Buku Imajinasi Ninik adalah gadis periang yang menyenangkan, sehingga baik di rumah atau pun di sekolah temannya banyak. Dari sekian banyak temannya, Ninik dekat dengan Reza yang jago gambar, Iska yang pandai berhitung dan Lilis yang bijaksana. Mereka sering bermain bersama atau pun mengerjakan tugas sekolah bersama. Suatu hari wali kelas mereka meminta tolong untuk merapikan buku-buku perpustakaan karena wali kelas tahu mereka berempat suka menyelesaikan sesuatu secara bersama-sama dan hasilnya rapi. Ketika sampai di perpustakaan, Ninik berkata, \u201cAku akan merapikan buku-buku pelajaran ya. Yang mau novel, ensiklopedia dan kamus siapa terserah deh.\u201d \u201cHuuu, curang kamu, Nik. Kalau merapikan buku pelajaran kan mudah,\u201d Lilis memprotes sahabatnya yang memang suka mendahului ide tertentu. Ninik nyengir dan berlalu meninggalkan ketiga temannya yang masih mempertimbangkan akan merapikan buku-buku apa saja di perpustakaan sekolah mereka. \u201cLihat buku di meja pojok yang terbuka itu. Sepertinya menarik teman-teman.\u201d Reza menghampiri sebuah buku yang terbuka tepat 73","di halaman tengah. Ketiga temannya mengekor di belakang Reza karena tertarik dengan buku tersebut. \u201cSahabat imajinasi,\u201d bisik Iska pelan. \u201cMelihat gambarnya sepertinya ini bukan di negara kita,\u201d Ninik menyambung. Saat tangan Reza menyentuh halaman buku tersebut untuk membaliknya, mereka berempat tertarik masuk ke dalam buku. Buuug! Mereka terjatuh di halaman sebuah rumah yang penuh dengan aneka manisan. \u201cWaaah, menyenangkan sekali. Seperti ada di toko yang menjual aneka jajan ya, teman-teman.\u201d Iska mencoba berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk rumah tersebut. \u201cAyo, kita coba mengunjungi rumah itu.\u201d Reza menyusul Iska yang sudah berdiri lebih dulu. Ninik dan Lilis mengikuti di belakangnya. \u201cSelamat datang di rumah manisan. Selamat menikmati aneka hidangan di rumah ini.\u201d Seorang bocah laki-laki menyambut mereka di pintu masuk rumah dan mempersilakan keempatnya untuk masuk. \u201cNamaku Dio, jika kalian memerlukan bantuanku jangan sungkan untuk bertanya ya. Aku berjaga di pintu depan karena tugasku menyambut tamu-tamu yang datang.\u201d \u201cTerima kasih, Dio. Senang berkenalan denganmu.\u201d Setelah puas menikmati aneka manisan dari buah, mereka keluar dari rumah tersebut. \u201cBagaimana kalau kita singgah ke rumah di seberang jalan ini. Sepertinya itu rumah coklat karena seluruh catnya berwarna coklat.\u201d Lilis mencoba mengusulkan ide pada teman-temannya. \u201cBaiklah, kita menyeberang jalan dulu.\u201d \u201cSelamat datang di rumah coklat. Selamat menikmati hidangan di rumah kami.\u201d Kali ini mereka berempat disambut oleh Santi, gadis manis yang berdiri di pintu masuk rumah coklat. 74","\u201cPerkenalkan, kami Ninik, Lilis, Reza, dan Iska. Terima kasih sudah mengizinkan kami singgah kemari.\u201d \u201cApakah di sini tersedia semua hidangan yang terbuat dari coklat?\u201d tanya Reza antusias. \u201cTentu saja. Setelah kalian mencicipi aneka manisan, coba saja menu coklat di rumah ini mumpung kalian masuk ke dunia imajinasi. Jadi, kalian harus mencoba semuanya yang terdapat di sini,\u201d jelas Santi dengan ramah. Reza dan Lilis langsung menyerbu rak-rak berisi coklat. Ada kue coklat, minuman, permen, tart, dan semua jenis makanan yang terbuat dari coklat. Puas menikmati itu semua, berempat pamit pada Santi untuk melanjutkan petualangan di dunia imajinasi. \u201cKalau saja di negara kita ada rumah makanan seperti ini, enak, lengkap dan gratis pasti kita gemuk-gemuk ya,\u201d canda Lilis. \u201cMumpung kita di sini sebaiknya kita nikmati saja isi seluruh rumah makanan yang ada di sini.\u201d \u201cSepertinya di sini tidak hanya berisi rumah makanan tapi juga ada rumah mainan. Ke sana yuk!\u201d Tunjuk Iska pada salah satu rumah yang paling besar berbentuk lego. \u201cSelamat datang di rumah mainan. Kalian dapat bermain sepuasnya di sini,\u201d sambut Ewa di pintu masuk rumah mainan. Badan Ewa terlihat seperti mainan lego. \u201cAku mau mencoba roler coster mini itu ah!\u201d seru Reza. \u201cAku mau main cangkir putar,\u201d Iska tak mau kalah. \u201cAku naik kereta aja yang nggak memacu andrenalin,\u201d Lilis menambahkan. Ninik sudah hilang berputar-putar di dalam rumah mainan untuk mencari mainan apa saja yang akan ia coba selama ada di dalam rumah mainan ini. Setelah lama dan puas mencoba seluruh mainan yang tersedia, mereka pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Ewa. 75","\u201cSebaiknya kalian juga mengunjungi taman peri, supaya kalian dapat melihat indahnya negeri imajinasi ini,\u201d saran Ewa sebelum menutup pintu rumah mainan. \u201cBoleh juga usul teman lego kita itu. Ayo, kita cari taman peri yang dimaksud Ewa,\u201d ajak Reza. Berempat mereka berjalan menuju taman peri yang ternyata ada di ujung jalan sambil bercanda-canda. Mereka merasa bersyukur bisa terdampar di dunia imajinasi ini. \u201cWaaaaah, benar-benar indah. Pas bener namanya taman peri. Ternyata di sana banyak peri cantik-cantik.\u201d Reza begitu semangat berjalan menuju ke taman peri begitu dia lihat dari kejauhan, banyak peri yang beterbangan di atas taman tersebut. \u201cSayang, ya, kita nggak bawa kamera, jadi kita nggak bisa mengabadikan kenangan kita bermain di dunia imajinasi bersama teman-teman baru.\u201d Ninik terlihat begitu menyesal. \u201cNggak apa-apa, pengalaman ini aku yakin akan membekas selama hidup kita,\u201d jawab Lilis. Berempat mereka bermain di pinggir telaga yang dipenuhi oleh peri-peri yang juga sibuk bercengkerama dengan teman-temannya. Saat sedang duduk-duduk di kursi dekat telaga, mereka tertarik kembali ke dunia nyata. Mereka tidak menyadari jika taman peri adalah jalan menuju dunia nyata lagi. \u201cKita kembali ke perpustakaan lagi.\u201d Iska memandang takjub sekelilingnya. \u201cBuku-buku kenapa sudah rapi ya, padahal kita belum bekerja merapikannya.\u201d Ninik berlari menuju rak buku mata pelajaran yang semula akan ia rapikan. Tanpa mereka sadari buku yang tadi membawa keempat anak itu berpetualang di dunia imajinasi menghilang dengan sendirinya. \u201cBagaimana, sudah bereskah pekerjaan kalian. Jika sudah kalian bisa kembali ke kelas.\u201d Bu Wina, wali kelas mereka masuk ke dalam perpustakaan untuk mengecek pekerjaan murid-muridnya. 76","\u201cKalian luar biasa sekali. Dalam sekejap perpustakaan ini sudah rapi kembali buku-bukunya. Ibu bangga pada kalian,\u201d Puji Bu Wina tulus. Empat anak tersebut hanya saling pandang kemudian serentak mengatakan, \u201cSama-sama, Bu.\u201d \u201cBaiklah, nanti sepulang sekolah Ibu akan memberi bonus untuk kerja keras kalian hari ini.\u201d \u201cHoreee!\u201d teriak Reza senang. *** 77","Penjaga Diri Jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Lima belas menit lagi ujian kenaikan kelas dimulai. Setengah berlari Lia menuju ke sekolahnya. Tepat pukul 07.00 WIB Lia sudah berdiri di depan pintu kelasnya. \u201cMaaf, Bu, saya terlambat.\u201d Lia menghadap pengawas ruangan. \u201cCepat duduk dan siapkan alat tulismu. Ujian akan segera dimulai.\u201d Pengawas tersebut masih berbaik hati mengizinkan Lia untuk masuk ke ruang ujian. \u201cKenapa terlambat?\u201d bisik Enno yang duduk di belakang Lia. \u201cAku tadi mengantar pesanan roti agak jauh, jadi terlambat deh,\u201d Lia menjelaskan sekilas. Saat istirahat Lia, Enno dan Siska keluar menuju kantin. \u201cKamu akhir-akhir ini kok sering terlambat sih, Lia,\u201d Siska menegur Lia yang menikmati bekal makannya dengan lahap. \u201cEm, maklumlah. Kalian tahu kan kalau aku ini harus membantu nenek menjual dan mengantar kue-kue pesanan pelanggan dulu sebelum berangkat ke sekolah? Jadi kalau kuenya jadi agak siangan ya aku mengantarnya tidak bisa pagi-pagi dong.\u201d 78","\u201cTapi ini kan ujian, Lia. Kamu harus prioritas dulu agar prestasimu sebagai juara umum tidak merosot,\u201d Enno menasihati. \u201cSiaaaaap! Besok kuusahakan untuk berangkat lebih awal deh,\u201d Janji Lia sambil mengangkat dua jarinya. Bel akhir ujian sudah berbunyi. Lia dan teman-temannya bergegas untuk segera pulang. \u201cJangan lupa nanti jam 2 siang ada les, Lia. Sampai ketemu nanti ya.\u201d Enno meninggalkan Lia yang masih membereskan buku- bukunya. \u201cKamu nggak pulang, Lia?\u201d Siska menepuk pundak Lia. \u201cIni baru kemas-kemas. Kamu sudah dijemput?\u201d Siska mengangguk. \u201cAku duluan ya Lia, kamu hati-hati di jalan. Lesnya jangan telat lagi ya.\u201d Lia tersenyum dalam hati menyadari betapa teman-temannya sangat peduli pada dirinya. Saat akan meninggalkan sekolah, hujan turun dengan deras. Lia yang sudah keluar dari kelas akhirnya berteduh di pos satpam. Lia sampai terkantuk-kantuk menunggu hujan reda. Sebenarnya kalau dia membawa sepeda bisa saja dia nekad menerobos hujan, tapi sayangnya hari itu Lia tidak naik sepeda ke sekolah. Lamunan Lia terhenti ketika pundaknya merasa ditepuk oleh seseorang. \u201cKamu akan pulang, Lia?\u201d tanya seorang perempuan cantik berbaju biru langit. Warna yang cerah sehingga membuat pemakainya jadi semakin cantik. \u201cIya, tapi nunggu hujan reda.\u201d \u201cBagaimana kalau kuantar pulang. Kebetulan rumah kakak searah dengan rumahmu.\u201d \u201cDi mana kakak mengenalku? Aku sendiri merasa tidak kenal dengan kakak.\u201d \u201cMasalah aku kenal di mana, nggak usah dibahas. Yang penting dulu aku pernah mengenalmu.\u201d 79","Lia merasa tidak asing dengan wajah perempuan itu tapi walau diingat-ingat tetap saja Lia tidak ingat di mana dan kapan dia bertemu dengan perempuan tersebut. \u201cKakak turunkan kamu di sini ya. Kamu tinggal jalan sedikit dari ujung gang ini karena kakak buru-buru.\u201d \u201cTerima kasih, Kak. Nggak apa-apa kok aku jalan. Hujannya juga udah reda.\u201d \u201cSampai ketemu lagi ya Lia.\u201d Perempuan itu melambaikan tangan pada Lia dan segera melajukan mobilnya. \u201cLia, makan dulu, Nak. Nenek sudah masak makanan kesukaanmu.\u201d Lia yang begitu sampai di rumah tidak ganti baju tapi langsung tiduran langsung kaget begitu Nenek berdiri di sampingnya. \u201cNanti saja, Nek. Lia capai banget. Ngantuk. Tadi kelamaan nunggu hujan reda.\u201d Begitu selesai menjawab pertanyaan neneknya, Lia langsung tertidur. Nenek Lia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan cucu semata wayangnya itu. Sejak usia 5 tahun Lia dirawat dan dibesarkan oleh neneknya. Ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan sehingga mau tidak mau sejak kecil Lia sudah terbiasa membantu neneknya yang mempunyai usaha membuat kue dan roti. Nenek sering mendapat pesanan sehingga Lia berinisiatif untuk membantu neneknya mengantar kue pesanan orang bahkan menjualnya jika nenek sedang sepi orderan. \u201cWaaaaaa, sudah hampir jam dua. Aku telat les lagi ni.\u201d Lia segera bangun dan berlari ke kamar mandi. \u201cNek, Lia berangkat les dulu ya,\u201d pamitnya sambil berlari. \u201cTelat lagi, Lia?\u201d bisik Enno. \u201cKetiduran,\u201d jawab Lia sambil nyengir. Siska dan Enno hanya menatap iba pada sahabatnya yang satu itu. Mereka selalu berupaya untuk menolong Lia, tapi Lia menolaknya dengan halus. Lia tidak ingin dikasihani oleh siapa pun karena menurutnya dia sudah cukup bahagia dengan hidupnya. 80","Neneknya memberikan seluruh kasih sayang dan perhatian pada dirinya. \u201cAwas! Minggir!\u201d Seseorang mengingatkan Lia yang berjalan di pinggir lapangan dengan santai. Bruuuuuk! Seorang perempuan jatuh di hadapan Lia. Lia terpekik kaget karena perempuan itu terjatuh akibat menyelamatkan dirinya dari hantaman bola voli yang terlalu keras dipukul dan keluar dari lapangan. Kepala perempuan itu mengeluarkan darah. Lia tambah kaget ketika menyadari bahwa perempuan yang jatuh itu adalah perempuan yang tadi mengantarnya pulang ketika hujan turun. Bahkan baju perempuan itu pun masih sama. Lia bergegas membawa perempuan itu menuju rumah sakit menggunakan taksi. Sampai di rumah sakit, Lia segera menghubungi neneknya. Lia khawatir jika neneknya menunggu kepulangan Lia dari tempat les. \u201cSiapa yang sakit, Nak? Kok kamu di rumah sakit.\u201d \u201cCeritanya panjang, Nek.\u201d \u201cNenek akan menyusulmu ke rumah sakit. Kamu tunggu nenek ya. Jangan ambil tindakan apa pun.\u201d \u201cBaik, Nek.\u201d Tak lama kemudian nenek sampai di rumah sakit. \u201cApa yang terjadi, Nak?\u201d tanya nenek sambil duduk di sebelah Lia yang menunggu di depan ruang IGD. \u201cKeluarga nona Sari?\u201d Seorang dokter dan perawat keluar dari ruang IGD. \u201cSaya, Dok.\u201d Nenek berdiri memenuhi panggilan perawat \u201cMaafkan kami, Bu. Kami sudah berusaha menyelamatkan nyawa cucu Ibu, tapi perdarahan begitu hebat di kepalanya sehingga nyawa cucu ibu tak dapat kami selamatkan.\u201d Dokter tertunduk usai berkata demikian. Lia menangis terisak mendengar itu semua. Tak disangka, orang yang telah menyelamatkan nyawanya justru tak tertolong. 81","Nenek mengajak Lia masuk ke ruang IGD untuk melihat jenazah perempuan yang telah menyelamatkan nyawa cucunya. Alangkah terkejutnya nenek begitu melihat perempuan tersebut. Wajahnya tak asing bagi nenek. Seketika nenek pingsan di samping jenazah perempuan itu. Lia beserta perawat segera mengangkat nenek untuk ditidurkan di tempat tidur yang ada di ruang IGD. Pikiran Lia sangat kacau. \u201cNek, sadar, Nek. Nenek kenapa?\u201d Lia menepuk pelan pipi nenek yang begitu dia sayangi. \u201cNanti kalau neneknya sadar, tolong berikan teh hangat ini ya, Dik. Kami biar membawa jenazah kakak adik ini ke kamar jenazah terlebih dahulu.\u201d Seorang perawat meletakkan segelas teh hangat di atas nakas. \u201cTerima kasih, Sus.\u201d \u201cNek, ayo sadar, Nek. Lia bingung harus bagaimana kalau nenek pingsan begini.\u201d Tak lama kemudian nenek sadar dari pingsannya dan langsung memeluk Lia, \u201cMaafkan nenek ya, Nak. Nenek membuatmu bingung. Jujur nenek juga tidak menyangka jika kamu selamat karena pertolongan perempuan yang mirip sekali dengan ibumu.\u201d Nenek mengusap wajah Lia penuh sayang. \u201cMaksud nenek apa? Bukannya ibu sudah meninggal dunia lama?\u201d \u201cBenar, Lia. Rupanya ibumu masih menjagamu dari kejauhan, lewat perempuan yang seharian ini menolongmu.\u201d Tiba-tiba nenek mengeluarkan sebuah foto lama dari dalam tasnya. Perempuan dalam foto itu sangat mirip dengan perempuan berbaju biru yang Lia temui hari ini. Lia menangis dalam pelukan neneknya. \u201cTerima kasih, Tuhan, ibu masih selalu menjagaku walau dengan cara yang tidak kumengerti. Tolong sampaikan ke ibu bahwa aku menyayanginya dan semoga ibu tenang di pangkuan-Mu.\u201d Doa Lia tulus. *** 82","Rahasia Loteng Kakek Setiap kali lebaran, kami keluarga besar selalu menyempatkan mudik ke desa kakek dan menginap dua-tiga hari di sana. Sejak aku kecil sampai remaja sekarang ini, waktu mudik adalah waktu yang paling kunantikan karena di rumah kakek, aku bisa berkumpul dengan sepupu-sepupu yang seusiaku dan ngobrol banyak hal. Lebaran kali ini pun aku juga diajak oleh ayah dan ibu untuk pergi ke desa. \u201cIngat ya, Ris, kalau di rumah kakek jangan sekali-kali kamu bermain di loteng. Sudah banyak sepupumu yang mengalami kejadian tidak menyenangkan di loteng itu.\u201d Ayah selalu berpesan demikian jika kami sudah akan sampai di rumah kakek. Tapi saat ini aku sudah remaja, bukannya aku ingat baik-baik pesan ayah melainkan aku semakin penasaran dengan loteng yang ada di rumah kakek. Aku bertekad akan mencari tahu sendiri ketika sampai di rumah kakek. \u201cHai, Ris. Akhirnya kamu sampai juga kemari,\u201d Ayub sepupuku menyambut kedatangan kami di halaman rumah kakek yang luas. \u201cKamu nginap di sini, kan?\u201d tanya Ayub lagi. Aku menganggukkan kepala sambil memeluk sepupuku yang tinggal di pulau lain. 83","\u201cAku juga akan menginap seminggu di rumah kakek. Besok kita main-main ya, Ris biar tidak bosan di rumah.\u201d Aku beriringan masuk menuju rumah kakek. Setelah menjabat tangan kakek dan menciumnya, juga mencium saudara-saudara lain yang sudah berkumpul di rumah kakek, aku membawa barang bawaanku ke kamar belakang. Kamar ini khusus disediakan kakek untuk ayah, ibu dan aku jika mudik kemari. Sedangkan kamar yang ditempati Ayub dan pamanku ada di dekat ruang makan. \u201cSttttt, Yub, pernah nggak sih kamu dilarang oleh paman untuk tidak bermain di loteng yang ada di rumah ini?\u201d aku berbisik pada Ayub seusai kami makan malam bersama. Ayub seperti mengingat-ingat sesuatu kemudian menganggukkan kepalanya. \u201cPernah. Tapi waktu aku masih kecil. Ayah bilang jangan main di loteng, bahaya, banyak tikusnya nanti kalau digigit bisa sakit pes.\u201d \u201cKamu percaya?\u201d \u201cPercayalah. Tikus kan memang suka bersarang di tempat yang gelap dan kotor.\u201d \u201cDulu aku juga percaya, Yub. Tapi sekarang nggak lagi. Mana mungkin tikus itu di loteng dan nggak jalan ke mana-mana. Buktinya rumah kakek yang kita tinggali ini juga bebas dari tikus.\u201d \u201cTerus maksud kamu apa, Ris?\u201d \u201cBesok kita naik ke loteng yuk. Kita cari tahu ada apa sebenarnya di loteng tersebut.\u201d \u201cBoleh deh. Kita ajak Sekar juga, ya.\u201d Aku mengangguk senang karena Ayub menyetujui usulku. \u201cAku akan memberitahu Sekar dulu.\u201d Ayub meninggalkanku untuk menemui Sekar yang duduk-duduk di teras depan rumah kakek. Sekar juga sepupuku. Dia putri dari pakdheku yang tingal di Surabaya. Pagi ini usai sarapan pagi, aku, Ayub dan Sekar akan mengendap-endap untuk naik ke loteng rumah kakek. Kebetulan kakek mengajak anak-anaknya untuk menengok ladang kakek yang 84","berada tak jauh dari rumah kakek sehingga tidak ada yang curiga jika mereka bertiga tidak kelihatan di rumah. Ayub yang naik tangga menuju loteng pertama kali membuka pintu loteng yang tak dikunci itu. \u201cJangan terlalu kuat membukanya, Yub. Nanti ibu kita mendengarnya dari bawah,\u201d Sekar berbisik ke arah Ayub yang mendorong pintu buru-buru. Aku menyalakan lampu di belakang pintu. Tampak sebuah ruangan yang sangat nyaman. Hanya saja sedikit pengap karena pintunya selalu ditutup. \u201cNggak ada yang aneh di sini.\u201d Sekar berkeliling melihat-lihat setiap perabot yang berada di loteng itu. \u201cHey, lihat, ini ada sebuah peti yang lumayan besar dan ditutup oleh kain. Apa ini yang sengaja disembunyikan kakek?\u201d Aku membuka penutup kain di atas peti kotak itu. Ayub dan Sekar mendekatiku. \u201cGemboknya nggak dikaitkan, berarti peti ini sering dibuka tutup dong. Tapi siapa yang melakukan ya?\u201d Setelah berunding, akhirnya kami membuka peti itu bersama- sama. Seberkas sinar terang langsung menyala begitu penutup peti dibuka. Kami sampai menutup mata karena silau dengan pancaran cahaya tersebut. Sedikit demi sedikit cahaya itu menghilang. Kami melongokkan kepala ke dalam peti. \u201cRupanya cahaya itu terpancar dari tiga berlian yang ada di sini.\u201d Ayub menyentuh tiga berlian berwarna hijau, kuning dan biru itu. Sekar mengambil berlian berwarna kuning. Aku pun akhirnya mengikuti kedua sepupuku dengan mengambil berlian berwarna biru. Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun, tahu-tahu badan kami melayang di udara dan terhempas ke dalam peti. Kami terus melayang di dalam peti bak masuk ke sebuah mesin waktu. 85","\u201cKita lihat saja, akan dibawa ke mana kita melalui mesin waktu ini.\u201d Ayub terus menatap ke depan karena dia tidak ingin ketika sampai nanti dia akan mendarat di tempat yang tidak nyaman. Blummmm! Kami bertiga jatuh dalam posisi duduk di sebuah kerajaan. Ya, ini benar-benar kerajaan. Di depan kami duduk seorang ratu yang sedang bersedih hatinya. Air matanya menetes tanpa suara. Pasukan yang berjaga di sekitar ratu langsung mengajukan tombak ke arah kami. \u201cMaaf, yang mulia, tiba-tiba ada tiga anak yang masuk ke dalam kerajaan. Mereka pasti penyusup,\u201d kata seorang pengawal. Ratu yang sedang menangis itu mengangkat mukanya. Sungguh, ratu itu cantik sekali. Tapi mengapa dia menangis ya? \u201cBukan, ratu. Kami bukan penyusup. Tiba-tiba saja kami terbawa oleh mesin waktu ketika kami bermain tadi. Dan sampailah kita di sini.\u201d \u201cLepaskan tiga anak itu, pengawal. Biar mereka menceritakan dahulu maksud kedatangannya,\u201d ratu tersebut memberi perintah pada pasukannya untuk menjauhkan tombaknya dari tubuh kami. \u201cJika ratu berkenan, kami akan membantu kesulitan yang ratu alami. Kami melihat tadi ratu menangis. Ada apa gerangan?\u201d Ratu berdiri dari duduknya dan turun dari singgasananya untuk menghampiri kami. \u201cJika memang kedatangan kalian dapat menyelamatkan kerajaan ini, maka aku akan memberi kalian banyak hadiah.\u201d Ratu tiba-tiba sudah berdiri di dekat kami. \u201cApa yang terjadi dengan kerajaan ini?\u201d tanya Sekar pelan. \u201cSudah dua minggu ini kerajaan seperti dikutuk oleh penyihir. Semua yang akan kami makan berubah menjadi pasir. Kalian lihat bukan, pasukanku lemas dan badannya mengurus. Itu karena mereka sudah dua minggu tidak kemasukan makanan apa pun. Jika mereka ingin minum, maka mereka harus keluar terlebih dahulu dari 86","kerajaan ini supaya airnya tidak berubah menjadi pasir,\u201d ratu menjelaskan dengan sedih masalah yang dialaminya. \u201cApa ratu memiliki musuh?\u201d tanya Ayub terus terang. \u201cEntahlah, aku merasa tidak memusuhi seseorang. Tapi aku berpikir, pasti ada salah satu pangeran yang sakit hati padaku karena aku tidak menerima lamarannya.\u201d Kami mengangguk-anggukkan kepala sambil berpikir cepat. \u201cMungkin tiga berlian yang kita bawa ini dapat menyelamatkan kerajaan ratu. Kasihan seluruh penghuni kerajaan ini jika tidak dapat makan dan minum.\u201d Aku mencoba menganalisis dari cerita yang dikisahkan oleh sang ratu. \u201cBaiklah ratu, kami akan mencoba membantumu,\u201d Ayub memberanikan diri untuk menawarkan bantuan. \u201cDengan apa kalian akan membantuku?\u201d \u201cKami memiliki tiga berlian ajaib. Jika tiga berlian ini disatukan niscaya kekuatan sihir yang melingkupi kerajaan akan hilang karena cahaya dari tiga berlian ini begitu kuat,\u201d aku menjelaskan bagaimana kami akan menolong ratu dan seluruh warga kerajaan agar terbebas dari pengaruh sihir. \u201cSatu, dua, tiga!\u201d Ayub memberi aba-aba. Segera kami mengangkat tiga berlian yang berbeda warna itu ke atas yang menyatukannya. Sedetik, dua detik, tiga detik, tepat pada hitungan ke tujuh, cahaya yang begitu menyilaukan keluar dari penyatuan tiga berlian yang kami pegang. Cahayanya menerobos dan memenuhi seluruh kerajaan. Para pengawal sampai terpukau menatapnya. Tak menunggu lama, tiba-tiba pasir yang berada di atas meja kecil dekat singgasana ratu berubah menjadi makanan yang lezat. Koki kerajaan juga berlari mendekati ratu sambil berkata jika makanan yang ada di dapur kerajaan sudah kembali seperti semula. Pasir-pasir yang merupakan sihir dari makanan-makanan di dalam kerajaan itu mulai lenyap sedikit demi sedikit. Seluruh pengawal ratu bersorak gembira melihat perubahan tersebut. Ratu juga tersenyum 87","lega karena kami dapat membuktikan janji kami untuk membantu melenyapkan sihir di kerajaan itu. Cahaya dari batu berlian yang kami pegang mulai redup. Kami menurunkan tangan pelan-pelan dan melepaskan penyatuan kami. \u201cTerima kasih, anak muda. Kalian benar-benar hebat. Aku akan memenuhi janjiku untuk memberi kalian banyak hadiah karena kalian telah menyelamatkan kami semua.\u201d Ratu meminta pengawalnya untuk mengambilkan bingkisan dari dalam kerajaan. \u201cAriiiiiiis! Ayuuub! Sekaaaar! Kalian ada di mana?\u201d Suara kakek sayub-sayub terdengar di telinga kami bertiga. \u201cSebaiknya kita harus segera pergi dari kerajaan ini jika tidak ingin dimarahi oleh kakek,\u201d ajakku pada kedua sepupuku. \u201cTapi hadiahnya, Ris?\u201d \u201cSudahlah, jangan pikirkan hadiah lagi. Kalau menolong orang lain sebaiknya ikhlas supaya kita mendapat pahala.\u201d Sekar mengangguk tanda setuju dengan pernyataanku. Kami memutuskan untuk kabur dari kerajaan itu sebelum pengawal itu datang membawa bingkisan yang dijanjikan oleh ratu. \u201cHey, tunggu kalian! Bingkisan dariku belum kalian bawa! Perhiasan ini pasti bermanfaat jika kalian dewasa kelak.\u201d Ratu meneriaki kami yang terus berlari menuju pintu keluar kerajaan. Saat kami lari itulah, angin besar mengangkat tubuh kami ke udara. Kembali kami masuk ke dalam mesin waktu dan melayang- layang seperti ketika tadi kami dihempaskan ke kerajaan ratu. Braaaak! Tepat ketika kakek membuka pintu loteng, kami mendarat kembali ke loteng. \u201cKalian ngapain di sini?\u201d Kakek menatap kami satu per satu. \u201cKa... ka... kami hanya bermain-main, Kek,\u201d jawab Sekar gugup sambil tertunduk tak berani menatap wajah kakek. Kakek tersenyum kemudian tertawa. \u201cBagaimana perjalanan kalian dengan mesin waktu tadi? Menyenangkan, bukan?\u201d \u201cKok kakek tahu kalau kita habis masuk mesin waktu?\u201d tanya Ayub. 88","\u201cSejak dulu kakek mengingatkan ayah kalian untuk melarang kalian masuk ke loteng ini supaya kalian tidak mengalami kejadian seperti tadi. Ternyata kalian bandel juga, ya? Sama seperti ayah kalian yang dulu juga nekat untuk masuk ke loteng dan akhirnya merasakan masuk ke dalam mesin waktu.\u201d \u201cTapi seru, Kek. Kejadian yang kami alami menyenangkan kok karena kami bisa menolong orang lain.\u201d \u201cYa, ya, ya, kakek percaya pada kalian,\u201d jawab kakek senang. \u201cTapi kami nggak sempat membawa bingkisan yang diberikan ratu, Kek karena Aris buru-buru mengajak kabur.\u201d Ayub mengutarakan kekecewaannya. \u201cJika kalian menerima bingkisan tadi, kalian tidak akan kembali lagi kemari. Karena kalian sudah melakukan kebaikan dengan tidak menerima pemberian dari orang yang sudah kalian tolong,\u201d jelas kakek sambil mengelus kepala Ayub. \u201cHehehehe, iya, Kek. Aku cuma bercanda kok.\u201d Ayub menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal karena ketahuan niatnya yang masih pamrih. *** 89","Gara-Gara Sampah \u201cHey, Galih, jangan buang sampah di situ!\u201d Wildan mengingatkan sahabatnya yang selalu membuang sampah seenaknya. \u201cNanti kan sampah-sampah itu akan disapu oleh Pak Budi, tukang kebun sekolah,\u201d jawab Galih santai. \u201cDisapu kalau sampah yang kamu buang itu tampak oleh mata. Kalau sudah terbawa angin dan keluar jauh dari kelas kita, siapa yang akan menyapu sampahmu?\u201d Wildan menjelaskan lagi. \u201cNggak tau. Yang penting kan kelas kita bersih dari sampah.\u201d Wildan memilih diam ketika tidak berhasil menasihati sahabatnya. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Sambil jalan pulang menuju rumah, Wildan dan Galih membeli kentang goreng dalam kemasan. Sampai di atas jembatan, lagi-lagi Galih melempar sampah bungkus kentang gorengnya begitu saja ke sungai di bawah jembatan. \u201cTu, kan, kamu selalu buang sampah sembarangan. Nggak boleh. Lihat di ujung jembatan itu ada spanduk besar bertuliskan \u2018Jangan Membuang Sampah di Sungai\u2019. Kita hampir tiap hari lewat sini tapi kenapa kamu nggak peka, ya?\u201d Galih yang merasa bersalah hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir ke arah Wildan. 90","\u201cIya, iya, maaf, aku salah.\u201d Begitulah Galih. Untuk urusan peduli pada lingkungan dia susah sekali diingatkan. \u201cGalih, ganti bajumu dulu baru makan. Jangan lupa cuci tangan!\u201d Ibu Galih mengingatkan anaknya yang pulang sekolah langsung mencomot gorengan dari atas meja makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. \u201cIya, Bu. Maaf, Galih lupa.\u201d Setelah makan siang dengan ibu dan adiknya, Galih masuk kamar untuk melanjutkan membaca majalah yang kemarin dibelikan oleh ayahnya. Tiba-tiba Galih mendengar suara gemuruh air banjir yang dekat sekali dengan rumahnya. Baru saja Galih akan membuka pintu kamar, tahu-tahu air bah menerjangnya begitu saja,\u201dToloooong, tolooooong, tolooooong!\u201d Teriak Galih sambil menggapai barang apa pun yang bisa dijadikan pegangan supaya tidak hanyut terbawa air banjir. Galih membuka matanya setelah beberapa lama dia terombang-ambing di atas batang pisang yang mengapung di tengah sungai. \u201cAku di mana? Kenapa sekelilingku dingin semua?\u201d Setelah Galih sadar bahwa dirinya ada di tengah sungai, digunakannya tangannya untuk mengayuh batang pisang itu agar menepi ke pinggir sungai. Galih berhasil mendarat di pinggir sungai. Dilepasnya kaos yang dipakai untuk diperas airnya dan dikenakan lagi. \u201cAku pasti hanyut bersama air banjir tadi,\u201d pikir Galih. \u201cTerus di mana ayah, ibu dan adikku, ya?\u201d Galih yang panik seketika berlari menuju jalan setapak yang ada di sepanjang sungai. Jalan yang dia lewati semuanya penuh dengan sampah. Bahkan sawah yang ada di seberang sungai pun dipenuhi dengan sampah- sampah yang entah dari mana asalnya itu. Menjijikkan sekali, pikir Galih. 91","Setelah berjalan beberapa meter, Galih berpapasan dengan seorang bapak yang mengayuh sepeda berlawanan arah dengan Galih. \u201cPermisi, Pak. Saya boleh bertanya?\u201d Galih menghentikan bapak yang mengayuh sepeda tersebut dengan merentangkan kedua tangannya di tengah jalan. Bapak itu tersenyum lalu turun dari sepedanya. \u201cKenapa, Nak? Kamu dari mana kok basah kuyup seperti itu?\u201d Bapak itu bingung melihat penampilan Galih yang seperti anak habis berenang. \u201cSaya ini korban banjir, Pak. Saya hanyut dan sampai di sini. Untunglah saya segera sadar sehingga bisa menepi ke pinggir sungai,\u201d jelas Galih. \u201cDaerah mana yang banjir? Setahu Bapak wilayah ini sudah lama tidak diguyur hujan. Lihatlah di sekelilingmu, tanaman banyak yang kering. Sampah-sampah plastik beterbangan ke mana-mana. Sungai di depan sana juga tidak mengalir deras,\u201d jawab bapak itu bingung. \u201cTapi benar, Pak. Desa saya hujan deras dan banjir bandang.\u201d \u201cDi mana desamu, Nak?\u201d tanya bapak itu lagi. \u201cDesa Sugiharjo, Pak.\u201d \u201cIni desa Sugiharjo, Nak. Apa kamu lupa dengan nama desamu sendiri?\u201d tegas Bapak itu. \u201cYang benar, Pak? Jika ini desa saya, bagaimana mungkin saya tidak mengenalinya?\u201d Galih melihat ke sekelilingnya dengan bingung. \u201cSetahu Bapak yang sudah hampir 60 tahun tinggal di desa kelahiran bapak ini ya hanya ada satu desa bernama Sugiharjo, Nak. Dan itu lokasinya di sini. Kalau kamu masih tak percaya, coba kamu lihat lagi barangkali ada satu tempat yang kamu kenali sebagai ciri desamu.\u201d Bapak itu bermaksud menaiki sepedanya lagi untuk melanjutkan perjalanan. 92"]


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook