ANTOLOGI GENERASI Z SEBAGAI PIONEER LITERASI BERBUDAYA DI ERA DISRUPSI DIGITAL KumPulan KaRya Tulis Ilmiah dan InfogRafis PeseRTa Pekan Raya LiTeRasi Budaya LITFEST BRAWIJAYA 2022 HIMPUNAN MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
i
Antologi Generasi Z Sebagai Pioneer Literasi Berbudaya Di Era Distrupsi Digital Kumpulan Karya Tulis Ilmiah dan Infografis Pekan Raya Literasi Budaya Zhafirah Mazaya Albi, Made Chintana Laksmi Devi, Alfina Auliyaul Chusna, Della Agustin Putri, Hari Firmansyah, Ahmad Miftah Abdul Razaq, Rakha Hafish Setiawan, Nur Azizah, Moch Ilham Firmansyah, Dendy Prayoga, Maria Frederica A, Jihan Imaliana R, Audry Shafa, Ashillah Filanti, Hania Zuhda Jingga Rasika M i
Antologi Generasi Z Sebagai Pioneer Literasi Berbudaya Di Era Distrupsi Digital Penulis : Zhafirah Mazaya Albi, Made Chintana Laksmi Devi, Alfina Auliyaul Chusna, Della Agustin Putri, Hari Firmansyah, Ahmad Miftah Abdul Desain Cover Razaq, Rakha Hafish Setiawan, Nur Azizah, Moch Ilham Firmansyah, Layout Isi Dendy Prayoga, Maria Frederica A, Jihan Imaliana R, Audry Shafa, Editor Ashillah Filanti, Hania Zuhda, Jingga Rasika M. : Zharfa Audi Sanusi : Shafira Az Zahra : Shafira Az Zahra ii
KATA PENGANTAR Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya juga merupakan sebuah hal penting, tetapi seringkali terabaikan. Negara kita yaitu Indonesia adalah negeri yang terkenal kaya akan budaya. Budaya yang bermacam-macam tersebut merupakan salah satu kekuatan yang juga sekaligus menjadi karakteristik bangsa Indonesia. Budaya di dalamnya memuat semua sistem ide, gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang nantinya akan dijadikan klaim manusia dengan cara belajar. Topik literasi seringkali diangkat dan digaungkan namun hanya berputar-putar pada minat baca-tulis. Padahal literasi memiliki artinya yang luas yakni mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Kemampuan tersebut di abad ke-21 ini disebut sebagai literasi informasi. Salah satu aspek literasi dasar yang digagas oleh Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah literasi budaya dan kewargaan. Literasi jenis ini masih jarang terdengar dibanding dengan literasi baca-tulis padahal seperti yang disampaikan oleh Muniroh dalam jurnal penelitiannya yang berjudul «Pengembangan Literasi Budaya dan Kewargaan Anak Usia Dini di Sanggar Allegro» disebutkan bahwa literasi budaya dan kewargaan dapat menjadi toleransi pemahaman akan perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri tak terhindarkan dari bangsa Indonesia. Generasi Z dituntut untuk dapat menjadi pioner literasi budaya di era gempuran disrupsi digital. Disrupsi diartikan sebagai suatu era yang mana terjadi perubahan besar- besaran dan inovasi yang secara fundamental mengakibatkan perubahan pada semua tatanan, sistem, dan lanskap yang ada, menjadi cara yang baru. Tantangan utama generasi muda dalam perkembangan digital adalah untuk tidak hanyut dan menjadi korban dari sisi negatif kemajuan teknologi. Melihat kebutuhan akan literasi budaya bagi Indonesia, maka Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya bermaksud menyelenggarakan rangkaian festival dalam bentuk perlombaan dengan tema \"Generasi Z Sebagai Pioner Literasi Berbudaya di Era Disrupsi Digital\". iii
Tercapainya suatu kegiatan secara baik perlu untuk dirayakan dengan penuh syukur dan bahagia. Momentum yang bernilai sangatlah berharga untuk dimiliki. Oleh karena itu, Litfest Brawijaya 2022 menyelenggarakan sebuah awarding night sebagai puncak acara dari kegiatan perlombaan Litfest Brawijaya 2022 dan sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam menghasilkan karya terbaik. Malang, 3 November 2022 Penulis iv
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................iii DAFTAR ISI.................................................................................................................v BAB I ............................................................................................................................1 LITERATION.GROUP: BENTUK PERAN GENERASI MUDA DALAM MELESTARIKAN KEBUDAYAAN MELALUI LITERASI DIGITAL BERBASIS MEDIA SOSIAL INSTAGRAM .......................................................1 KARYA TULIS ILMIAH 2 .................................................................................23 ASACA-LIB: INOVASI LITERASI DIGITAL SKILL BERBASIS BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA MAHASISWA FIA UB 2022 ......................................................................................................................23 KARYA TULIS ILMIAH 3 .................................................................................48 PENINGKATAN KEMAHIRAN DIGITAL PADA PERKEMBANGAN BUDAYA LITERASI MEDIA BARU ................................................................48 BAB II.........................................................................................................................61 INFOGRAFIS .............................................................................................................61 INFOGRAFIS 1 ...................................................................................................62 Pentingnya Literasi Digital untuk Masa Depan Bangsa.......................................62 INFOGRAFIS 2 ...................................................................................................63 Pelukah Budaya Literasi di Era Masa Kini?.........................................................63 INFOGRAFIS 3 ...................................................................................................64 Pengaruh Sosial Media terhadap Minimnya Tingkat Literasi ..............................64 INFOGRAFIS 4 ...................................................................................................65 Budaya Penerapan Literasi pada Anak.................................................................65 INFOGRAFIS 5 ...................................................................................................66 Gen Z vs Literasi ..................................................................................................66 BIOGRAFI PENULIS.................................................................................................67 v
BAB I KARYA TULIS ILMIAH 1 LITERATION.GROUP: BENTUK PERAN GENERASI MUDA DALAM MELESTARIKAN KEBUDAYAAN MELALUI LITERASI DIGITAL BERBASIS MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Made Chintana Laksmi Devi Universitas Brawijaya ABSTRAK Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.Dalam menjaga keutuhan bangsa harus diperhatikan dari segala hal dan arah, salahsatunya adalah kebudayaan. Kebudayaan dalam hal ini merupakan DNA-nya Indonesia dan merupakan potensi yang harus dioptimalkan agar dapat bersaing dengan negara lain. Akan tetapi, rasa bangga dan kepedulian melestarikan budaya kurang tertanam di generasi muda Indonesia saat ini. Salah satu faktor penyebabnyaadalah kurangnya informasi kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia,serta minat literasi masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Kehadiran media sosial, khususnya Instagram menjadi sarana bagi pengguna internet untuk mendapatkan informasi. Berdasarkan data dari We Are Social dan Hootsuite mengungkapkan jumlah pengguna Instagram di Indonesia tahun 2022 sebanyak 99,15 juta jiwa, sehingga Instagram cocok dijadikan sebagai wadah untuk membagikan informasi dan konten-konten yang berbobot ke khalayak umum dan generasi muda memiliki peran penting untuk membangun budaya literasi digital kepada pengguna Instagram melalui pembentukan suatu komunitas. Adapun tujuanpenelitian ini, yaitu untuk mengetahui peran generasi muda, analisis SWOT dan prospek pengembangan literation.group. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berdasarkan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Pembentukan literation.group melalui Instagram oleh generasi muda dapat menjadi wadah bagi masyarakat dalam berpartisipasi melestarikan kebudayaan, 2) Pembentukan literation.group sebagai komunitas literasi digital memiliki 1
keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dibentuknya komunitas literasi ini dapat memberikan kegiatan yang positif kepada generasi muda khusunya dalam hal literasi, sedangkan kelemahannya, yaitu masih kurangnya minat pengguna untuk melihat konten- konten positif yang beredar di media sosial, khusunya Instagram, 3) Prospek pengembangan literation.group di Instagram menggunakan strategi prioritas Stregth- Oppurtunity (S-O) dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas konten yang dibuat, melakukan sosialisasi yang lebih gencar kepada semua kalangan pengguna terutama anak- anak, remaja hingga orang dewasa, sertaperlu juga adanya evaluasi tiap kontenya untuk melihat seberapa pengaruh konten tersebut kepada pengguna Instagram. Kata kunci: literation.group, kebudayaan, literasi digital, Instagram 2
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan “generasi muda” dan “kaum muda”. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki pengertian yang beragam. Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan, baik untuk saat ini maupun masa datang (Pratama, Purnomo and Agustiyara, 2020). Hal ini membuktikan bahwa seorang pemuda memiliki peran penting sebagai tumpuan untuk kemajuan bangsa dan negara kedepannya, salah satunya yakni ikut andil dan bersinergi dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dalam menjaga keutuhan bangsa harus diperhatikan dari segala hal dan arah, salah satunya adalah kebudayaan. Kebudayaan dalam hal ini merupakanDNA-nya Indonesia dan merupakan potensi yang harus dioptimalkan agar dapatbersaing dengan negara lain. Untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat, bisa dilakukan dengan mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki. Budaya mestinya tidak hanya dipandang sebagai tontonan kesenian dalam bentuk seni tari, pertunjukan, lukis, patung, maupun seni lainnya, melainkan dipandang sekaligus sebagai tuntunan berupa norma-norma, nilai-nilai kemasyarakatan, tata kelakuan, religi, filsafat, dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan. Akan tetapi, rasa bangga dan kepedulian melestarikan budaya kurang tertanam di generasi muda Indonesia saat ini. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya informasi kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pada perkembangan era digital saat ini, kehadiran media sosial menjadi salah satu faktor bagi generasi muda untuk menghabiskan waktunya di dunia digital terutama dalam mencari informasi. Informasi yang tersedia di media sosial tentunya harus di filter keakuratannya, mengingat banyak berita bohong yang marak bersebaran di media sosial saat ini. Oleh sebab itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan dalam literasi digital, 1
tidak hanya berkaitan dengan membaca dan menulis saja, tetapi harus dipenuhi dengan tuntutan memahami informasi secara kritis dan analitis dalam menghadapi tantangan masa depan. Literasi digital dalam konteks ini tidak sekadar bermakna kemampuan menggunakan komputer untuk menulis dan membaca seperti dalam konteks literasi umumnya, melainkan seperangkat keterampilan dasar dalam penggunaan dan produksi media digital, pemanfaatan informasi, partisipasi dalam jejaring sosial untuk berbagi pengetahuan (Tour, 2015). Namun sayangnya, berdasarkan hasil survey PISA 2018 menunjukan bahwa Indonesiamenempati peringkat ke-74 dari 79 negara di mana dalam kategori membaca mendapat skor terendah, yaitu sebesar 371 dan masih di bawah rata-rata OECDsebesar 489. Hal ini menunjukan bahwa kualitas dari kategori membaca masyarakat Indonesia masih cukup rendah sehingga perlunya dibangun budayaliterasi terutama literasi digital. Media sosial merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh para pengguna internet untuk mendapatkan informasi. Menurut laporan dari We AreSocial dan Hootsuite tahun 2022 tercatat lebih dari 4 miliar manusia bergabungke media sosial. Berdasarkan data dari We Are Social dan Hootsuite mengungkapkan jumlah pengguna Instagram di Indonesia tahun 2022 sebanyak99,15 juta jiwa (tahun 2021: 85 juta jiwa). Berdasarkan popularitasnya, media sosial Instagram cocok dijadikan sebagai wadah untuk membagikan informasi dan konten-konten yang berbobot ke khalayak umum. Sehingga, generasi muda memiliki peran penting untuk membangun budaya literasi digital kepada pengguna Instagram melalui pembentukan suatu komunitas. Pada karya tulis ini, penulis memunculkan gagasan tentang pembentukan komunitas literasi digital melalui Instagram dengan membagikan informasi berupa konten- konten yang menarik dan edukatif. Oleh karena itu, penulis mengusulkan karya tulis dengan judul “LITERATION.GROUP: BENTUK PERAN GENERASI MUDA DALAM MELESTARIKAN KEBUDAYAAN MELALUI LITERASI DIGITAL BERBASIS MEDIA SOSIAL INSTAGRAM.” Rumusan Masalah 1. Bagaimana peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaanmelalui literasi 2
digital berbasis media sosial Instagram? 2. Bagaimana analisis SWOT dari pembentukan literation.group sebagaibentuk peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan? 3. Bagaimana prospek pengembangan ke depan mengenai pembentukan literation.group? Tujuan 1. Mengetahui peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaanmelalui literasi digital berbasis media sosial Instagram. 2. Menjelaskan analisis SWOT dari pembentukan literation.group sebagai bentuk peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan. 3. Mengetahui prospek pengembangan ke depan mengenai pembentukan literation.group Manfaat 1. Memberikan informasi terbaru tentang kekayaan kebudayaan Indonesiakepada khalayak umum. 2. Sebagai salah satu solusi dalam melestarikan kebudayaan di Indonesia. 3. Meningkatkan kualitas membaca masyarakat Indonesia dengan literasidigital. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kebudayaan Indonesia Secara etimologi, kata kebudayaan atau akar budaya berasal dari Bahasa Sansekerta, yakni dari akar kata Buddhi tunggal, jamaknya adalah buddhayah yang diartikan budi, atau akal, atau akal budi atau pikiran. Setelah mendapat awalan ke dan akhiran an menjadi kebudayaan, yang ang berarti hal mengenai alam pikiran manusia. Menurut Sir Edward B. Tylor, menggunakan kata kebudayaan untuk menunjuk “keseluruhan kompleks dari ide dan segala sesuatu yang dihasilkan manusia dalam pengalaman historinya” (Soerjono, 2012). Termasuk disini ialah “pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, kebiasaan, dan kemampuan serta perilaku lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Robert H. Lowie, kebudayaan adalah “segala sesuatu yang diperoleh oleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan karena kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang dapat melalui pendidikan formal atau informal”. Menurut Clyde Kluckhohn, mendefinisikan kebudayaan sebagai “total dari carahidup suatu bangsa, warisan sosial yang diperoleh individu dari grupnya”. Gillin beranggapan bahwa, “kebudayaan terdiri dari kebiasaan-kebiasaan yangterpola dan secara fungsional saling bertautan dengan individu tertentu yang membentuk grup-grup atau kategori sosial tertentu. Sedangkan menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah “keseluruhan system gagasan , tindakan,dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan tidak diwariskan secara biologis, melainkan hanya mungkin diperoleh dengan cara belajar dan kebudayaan tersebut diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan (Maran, 2007). Unsur-unsur kebudayaan terdapat pada setiap kebudayaan dari semua manusia dimanapun mereka berada. Kebudayaan itu muncul dari kebiasaan yang telah dilakukan dan dilestarikan secara terus menerus dan bisa berwujud berbagai hal seperti yang dijabarkan oleh Koenjtaraningrat dalam warsito,wujud kebudayaan dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu : 4
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas sertatindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. c. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia(Warsito, 2012). Wujud yang telah tertuang tersebut dalam kenyataan kehidupan masyarakattidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya. Kebudayaan yang ideal serta adat istiadat memberikan arah kepada sebuah tindakan dan karya yang diciptakan oleh manusia. Kebudayaan biasanya dapat berupa pikiran dan ide- ide atau dapat berupa bentuk fisik dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan fisikini dapat membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang semakin lama akan berpengaruh terhadap menjauhnya pola perbuatan manusia maupun cara berpikirnya dari lingkungan ilmiahnya. Literasi Digital Literasi atau dalam Bahasa Inggris, yaitu literacy menurut arti katanya mengandung makna melek akan huruf dan berkaitan dengan kegiatan menulis dan membaca. Literasi digital dapat diartikan sebagai kemampuan seorang individu untuk mampu menerapkan berbagai keterampilan pada perangkatdigital seperti menemukan maupun menggunakan informasi, mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif, serta tetap menjaga keamanan perangkat elektronik serta memperhatikan konteks sosial- budaya yang berkembang (Hague & Payton, 2011). Literasi digital tidak hanyaterkait dengan kemampuan membaca saja, melainkan juga kemampuan memahami makna dan mengerti (Kurnianingsih et al., 2017). Literasi digital juga berkaitan dengan kemampuan untuk memahami informasi, mengevaluasi dan mengintegrasi informasi dalam berbagai format yang disajikan dalambentuk digital secara kritis. Secara kompetensi, literasi digital sebagai keterampilan multi literacies ataudapat diartikan sebagai berbagai kemampuan yang dimiliki seperti penguasaan terhadap kesadaran, sikap, dan kemampuan, individu dalam memanfaatkan perangkat digital untuk berkomunikasi, dan mengekspresikan diri secara nyata dalam kehidupan sehari-hari 5
(Goodfellow, 2011). Kemampuan tersebutmeliputi literasi seperti teknologi informasi, literasi media, literasi visual, audioserta literasi berkomunikasi. Sementara itu, kerangka kompetensi digital atau Digcomp yang diciptakan di tingkat Eropa, yang mencakup lima komponen intiyaitu information, communication, content creation, safety, dan problem solving (Ferrari, 2013). Media Sosial Instagram Media sosial merupakan sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Blog, jejaringsosial, dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia (Kurniawan, 2017). Media sosial online merupakan media yang dimana didesain untuk dapat memudahkaninteraksi sosial bersifat interaktif dengan berbasis teknologi internet yang mengubah pola penyebaran informasi dari sebelumnya bersifat broadcast mediamonolog ke media sosial dialog. Jenis serta komposisi media sosial online di dunia virtual sangat beragam, antara lain jejaring sosial (Facebook, Instagram, Linkedln, dan sebagainya), microblogging platform (Twitter, dan lain-lain), jejaring berbagi foto serta video (Video.com, Youtube, dan sebagainya). Sebagian besar platform media sosial digunakan untuk mencari informasi. Media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi,berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual (Sari Puspita, 2017). Salah satu media yang paling marak digunakan di Indonesia adalah media sosial Instagram. Instagram adalah layanan berbagi foto ponsel, berbagi video, dan jejaring sosial (SNS) online yang memungkinkan penggunanya untuk mengambil gambar dan video, dan kemudian membagikannya di platform lain (Frommer, 2010). Definisi lain menyebutkan bahwa Instagram adalah aplikasi berbagi fotoseluler dan jejaring sosial yang populer dengan lebih dari 300 juta pengguna aktif saat ini. Instagram memungkinkan pengguna terhubung dengan mudah dengan platform jejaring sosial lainnya untuk berbagi gambar yang diambil, danmemungkinkan untuk menerapkan filter pada gambar mereka (Frewerdi et al., 2015). Dapat ditarik kesimpulan dari kedua pernyataan tersebut bahwa Instagram merupakan sebuah aplikasi jejaring sosial yang memungkinkan penggunanya untuk 6
berbagi foto maupun video bahkan dapat secara otomatis terhubung dengan platform jejaring sosial lainnya. Jejaring sosial Instagram dibekali dengan berbagai macam fitur dan juga keunggulan yang membuat penggunanya dapat berkreasi melalui fasilitas tersebut. Fitur – fitur utama dalam aplikasi Instagram meliputi : a. Follow Di aplikasi Instagram, untuk menjalin hubungan pertemanan terdapat fitur follow. Dengan fitur ini pengguna yang telah saling mem-follow dapat saling berkomunikasi, misalnya memberikan tanda like ataupun komentar. Selain itu, dengan fitur ini penggunadapat mengetahui aktifitas yang dilakukan oleh akun yang ia follow sebagai contoh ketika memberikan like, mengunggah video, dan membuat snapgram. Maka dari itu, dalam aplikasi Instagram follower merupakan hal yang penting seperti halnya teman di aplikasi Facebook. b. Kamera Instagram memiliki kegunaan utama, yaitu sebagai media untuk mengunggah serta berbagi foto maupun video dengan pengguna lain yang mengikuti mereka. Pada aplikasi ini foto atau video yang diunggah dapat bersumber dari galeri yang ada di handphone pengguna atau melakukan pengambilan langsung melalui fitur kamera yang disediakan oleh Instagram. Hasil pengambilan gambar atau video tersebut dapat disimpan dihandphone pengguna. Sebelum mengunggah, pengguna dapat memberikan efek terlebih dahulu untuk memperindah unggahan. Instagram menyediakan dua pilihan untuk mengunggah postingan, pertama untuk dipajang di profil pengguna dan di Story. Jika dipajang di profil pengguna, postingan akan bertahanhingga dihapus sedangkan jika di Story hanya bertahan selama 24jam. c. Like dan Komentar Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk menyukai postinganyang dikirimkan oleh pribadi atau pengguna lain. Melalui fitur inikita dapat mengetahui bagaimana kualitas postingan yang diunggah berdasarkan jumlah Like yang diberikan oleh penggunalain. Sedangkan fitur komentar membuat para pengguna dapat saling berkomunikasi perihal suatu postingan, sehingga memungkinkan terjalinnya pertemanan yang baru ataupun yang telah terjalin sebelumnya. 7
d. Mentions Dengan menggunakan fitur ini, pengguna dapat memanggil pengguna lain ketika ingin mendiskusikan sesuatu atau hanya sekedar berbincang disuatu postingan. e. Direct Message Selain berkomunikasi melalui komentar, Instagram menawarkan fitur direct message dimana penggunanya dapat saling mengirim pesan maupun berbagi postingan secara pribadi. Dengan fitur ini, pengguna dapat membagikan postingan pribadi bahkan postingan orang lain. f. Hashtag Fitur ini memberikan kemudahan kepada pengguna untuk mengkategorikan suatu postingan sebagai topik tertentu. Bagi pengguna yang memiliki minat terhadap topik tertentu, fitur ini dapat memudahkan dalam pencarian dan akan memunculkan postingan dari berbagai sumber dengan topik yang sama. 8
BAB III METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dan jenis penelitian berdasarkan metode deskriptif. Tahap Penulisan Karya tulis ini terdiri dari beberapa tahap penulisan untuk menggali informasi dan data- data tertentu. Tahapan-tahapan tersebut antara lain: a. Mengamati permasalahan, yaitu perlunya suatu wadah (komunitas) untuk membantu melestarikan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. b. Adanya peran generasi muda sebagai usaha dalam melestarikan kebudayaan melalui literasi digital berbasis media sosial instagram. c. Menentukkan teknik pengumpulan pustaka yang akan digunakan. d. Melakukan analisis pustaka. e. Menyusun saran atau rekomendasi. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penulisan karya tulis ini adalah analisis dokumen. Penulis mengumpulkan informasi dan data dari berbagai sumber, baik jurnal maupun literatur cetak dan elektronik yang mendukung objekpenulisan karya tulis ini. Analisis dokumen dan data dilakukan berdasarkan sumber yang relevan untuk menyimpulkan hasil dan memberikan saran. Analisis Data Analisis data yang dilakukan diantaranya dengan cara deskriptif-kualitatif. Pada karya tulis ini dilakukan proses pemilihan, pengolahan, dan pemusatan bahasan dari data yang mendukung kerangka berpikir mengenai potensi pengembangan kebudayaan melalui literasi digital berbasis media sosial Instagram. 9
Kerangka Berpikir fakta Kurangnya informasi mengenai kekayaan kebudayaan yang dimiliki Indonesia menyebabkan Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kekayaan kebudayaan Indonesia membutuhkan Peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan menghasilkan Sebagai wadah dalam melestarikan kebudayaanIndonesia dan juga Literation.group sebagai bentuk peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan melalui literasi digital Gambar 1. Kerangka Berpikir 10
BAB IV PEMBAHASAN Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Kebudayaan Melalui Literasi Digital Berbasis Media Sosial Instagram Peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaan melalui literasi digital berbasis media sosial Instagram, diharapkan dapat meningkatkan apresiasi pengguna Instagram terhadap kebudayaan Indonesia, serta sekaligus meningkatkan minat literasi. Usaha yang dapat dilakukan, yaitu dengan membentuk suatu komunitas “Literation.group” melalui media sosial Instagram dengan membagikan informasi berupa konten-konten menarik yang bersifat edukatif. Literation.group merupakan suatu komunitas yang dibangun oleh generasi muda dalam rangka melestarikan kebudayaan melalui literasi digital. Tahap awal membangun komunitas ini adalah membuat logo dan akun Instagram. Username yang dipilih adalah “literation.group”, sementara untuk pemegang akun adalah sebagai Young Generation. Pemilihan Young Generation menjelaskan bahwa akun ini dipegang oleh generasi muda yang dipercayai sebagai pihak untuk memberikan informasi edukatif kepada pengguna Instagram. Gambar 2. Logo dan Akun Instagram Logo dan akun Instagram merupakan cikal bakal berdirinya dari komunitasini. Filosofi dari logo di atas menggambarkan literasi digital yang digambarkandengan ilustrasi buku sebagai bentuk literasi dan gambar handphone sebagai bentuk digital. Berikutnya menentukan tema, konsep, serta konten-konten apasaja yang akan dibagikan. Tema yang diangkat mengenai edukasi terkait kebudayaan yang ada di Indonesia dengan konsep 11
microblog. Komunitas ini tentunya akan berfokus membagikan konten mengenai informasi kebudayaan- kebudayaan, sehingga secara tidak langsung para pengguna Instagram ikut serta dalam melestarikan kebudayaan yang ada dengan melalui kegiatan literasi. Selanjutnya adalah kegiatan pembuatan konten, terdiri dari dua jenis kontenyang akan dibagikan, yaitu berupa quotes dan leaflet. Konten berupa quotes berisikan pesan atau kutipan yang perlu diingat oleh pengguna Instagram. Sedangkan konten berupa leaflet berisikan informasi seputar kebudayaan Indonesia dengan visual tampilan yang menarik agar pengguna Instagram tertarik untuk membacanya. 12
Gambar 3. Konten Quotes Gambar 4. Konten Leaflet Kegiatan selanjutnya, yaitu membagikan konten ke Instagram. Dalam membagikan Konten perlunya memperhatikan penyajian konten di Instagram. Penyajian konten mempergunakan sistem single post dan multiple post. Sistem single post untuk menampilkan informasi yang singkat, padat, dan jelas pada konten berupa quotes. Sedangkan, sistem multiple post untuk menampilkan pesan yang bersifat berantai pada konten berupa leaflet dengan memperhatikankonsep microblog, yaitu setiap konten yang dibagikan terdiri dari 5-7 slide. 13
Gambar 5. Postingan Instagram Dalam membagikan konten, diperlukan caption dan hashtag untuk menarik perhatian dan mempermudah pengguna Instagram dalam mencari informasi yang diperlukan. Caption yang digunakan berupa kata-kata yang sesuai dengankonten yang dibagikan dan bersifat menarik. Penggunaan hashtag (#) pada konten harus relevan dan tepat sesuai dengan konten yang diposting. Setelah konten dibagikan, pengguna Instagram dapat membaca dan memahami isi konten tersebut. Kemudian, pengguna Instagram dapat memberikan like dan comment pada konten yang dibagikan sebagai bentuk dukungan. Analisis SWOT Pembentukan Literation.group sebagai Bentuk Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Kebudayaan Melalui Literasi Digital Berdasarkan data-data yang mendukung dalam pemanfaatan media sosial Instagram sebagai bentuk peran generasi muda dalam melestarikan kebudayaanmelalui literasi dalam bentuk digital, selanjutnya dilakukan analisismenggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan identifikasi faktor secara sistematis untuk merumuskan sebuah strategi. Analisis SWOTdigunakan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal penggunaan media sosial Instagram sebagai komunitas literasi digital. 14
Berdasarkan matriks SWOTdapat ditarik rumusan empat alternatif strategi yang mampu menggambarkansecara jelas bagaimana kekuatan dan kelemahan internal yang dimiliki serta peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam lingkungan sendiri, terdiri dari kekuatan (S) dan kelemahan (W). A. Kekuatan/Strength (S) 1. Meningkatnya angka literasi di kalangan generasi muda Dengan adanya komunitas literasi digital ini tujuannya adalah untuk meningkatkan angka literasi di Indonesia. Komunitas ini ingin membiasakan semua orang semenjak dini maupun remaja untuk dapat selalu membaca, menulis, dan lain sebagainya melalui platform digital/media sosial karena media sosial lah yang paling dekat dengan setiap kalangan di jaman sekarang ini. 2. Pemanfaatan media sosial Instagram dengan bijak Selain hanya digunakan sebagai galeri foto dan video, media sosial ini bisa juga digunakan untuk mengjangkau banyak teman,berkomunikasi secara luas dan saling berbagi informasi antara satu dengan yang lainnya. Pemanfaatan media sosial yang baik adalah mereka yang mampu dengan bijak memakainya, tidak berlebihan dan juga tidak ketinggalan informasi sama sekali. 3. Memberikan kegiatan yang positif kepada generasi muda Pembuatan konten mengenai liteasi digital ini akan memberikankegiatan yang positif kepada generasi muda, di mana mereka bisa menggali banyak informasi, memaknai informasi dan data tersebut lalu menyebarluaskannya melalui sebuah konten yang menarik. Banyak manfaat dan pengalaman yang tercipta danditerima oleh generasi muda nantinya. B. Kelemahan/Weakness (W) 1. Masih kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi Kurangnya kesadaran akan literasi sudah terjadi sejak lama, baikliterasi secara digital maupun non digital. Untuk meningkatkan kesadaran semua orang akan pentingnya literasi tersebut perlu adanya sebuah pergerak yang 15
memang berfokus dalam bidang ini. 2. Masih kurangnya konten yang mendukung dalam hal literasi Konten yang kurang banyak tercipta mengenai literasi sangat berpengaruh untuk tidak dimunculkan oleh aplikasi Instagram ini, karena kurang diminati dan hanya dilihat oleh sedikit oleh.Dengan begitu jika hal ini terus terjadi, maka konten-kontenpositif seperti ini lama-kelamaan akan semakin menghilang. 3. Penggunaan media sosial Instagram yang kurang baik Bagi generasi muda media sosial Instagram hanya dipergunakanseperti galeri foto dan video mereka saja. Hanya sebatas itu dalampemanfaatannya saat ini. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar lingkungan, terdiri dari peluang (O) dan ancaman (T) A. Peluang/Opportunity (O) 1. Menyebarkan konten positif di media sosial Pembuatan konten dalam media sosial sangat mudah untuk dilakukan dan memang sudah banyak jika kita lihat di media sosial Instagram saat ini. Akan tetapi, untuk membuat konten yang menarik dan isinya positif perlu adanya sebuah gagasan danpemikiran yang kreatif dalam merancangnya sehingga terciptalahkonten yang bagus. Dengan banyaknya orang yang dapat membuat konten positif akan memperbanyak jumlahnya di media sosial sehingga hal tersebut berpotensi dapat menaikan engagement dan menarik penonton untuk ikut serta memahami konten positif. 2. Adanya bantuan dari komunitas lainnya Adanya bantuan dari komunitas lainnya di media sosial manapun, terutamanya di Instagram akan berpotensi untuk memperluasjangkauan dari komunitas literasi ini. Kita bisa melakukan Kerjasama dan kolaborasi untuk mencapai tujuan masing-masingyang mencangkup generasi muda dalam penanaman literasi digital mereka. B. Ancaman/Threat (T) 1. Lebih banyak bertebaran konten yang kurang berbobot namun lebih menarik audiens 16
Banyaknya jenis konten yang ter upload di media sosial Instagram akan lebih memberikan banyak pilihan untuk penggunanya dalam menonton konten tersebut. Apalagi konten yang marak bertebaran adalah konten yang kurang berbobot dan memang diminati oleh banyak kalangan. Sehingga hal tersebut akan membuat sedikit ancaman kepada konten kreator yang mengarah ke penanaman literasi secara digital. 2. Kurangnya minat dalam literasi secara digital Kurangnya minat ini biasanya muncul karena banyak pengguna dalam menggunakan media sosial hanya mencari hiburan yang ringan-ringan saja, seperti kartun, video lucu, dan sebagainya. Untuk itu dalam membangun kebiasan aktivitas membaca dan memahami secara digital perlu adanya sebuah konten yang menarik dan kreatif tetapi tidak menghilangkan eksistensi, upayameningkatkan literasi digital tersebut. Strengths (S) Weaknesses (W) 1. Meningkatnya angka literasi 1. Masih kurangnya kesadaran dikalangan generasi muda akanpentingnya literasi 2. Pemanfaatan media sosial 2. Masih kurangnya konten Instagram dengan bijak yang mendukung dalam hal literasi 3. Memberikan kegiatan yang positifkepada generasi muda 3. Penggunaan media sosial Instagram yang kurang baik Opportunity (O) Threats (T) 1. Menyebarkan konten positif 1. Lebih banyak bertebaran dimedia sosial konten yang kurang berbobot 2. Adanya bantuan dari namun lebihmenarik audiens komunitaslainnya 2. Kurangnya minat dalam literasi secara digital Tabel 1. Analisis SWOT 17
Prospek Pengembangan ke Depan Mengenai Pembentukan Literation.group Berdasarkan analisis SWOT, digunakan strategi prioritas Strength- Oppurtunity (S-O) dalam mengembangkan komunitas literasi ini. Strategi S-O antara lain: 1. Meningkatkan kualitas setiap kontennya Kualitas tidak hanya soal nilai dan manfaat yang melekat pada konten, namun bagaimana persepsi konsumen sebagai pengguna media sosial mengenai konten yang telah disuguhkan. Dalam membuat sebuah kontendiperlukannya konsentrasi, kreatifitas, dan keahlian dalam merancangnya. Diperlukan banyak tenaga dalam berpikir untuk menentukan konsep, dalam membuat secara editing, serta dalam mempublikasikan ke pengguna media sosial. Sehingga dalam pembuatan komunitas ini diperlukannya banyak anggota untuk bisa bekerja bersama-sama dalam membangun sebuah komunitas yang sehat dan menciptakan output berupa konten yang berkualitas bagi pengguna media sosial. 2. Melakukan kegiatan workshop maupun sosialisasi dikalangan luas Kegiatan workshop maupun sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait penggunaan media sosial yang baik dan pemilihankonten yang berkualitas bagi pengguanya. 3. Mengevaluasi minat pengguna media sosial Melakukan evaluasi rutin setiap dipublikasikannya konten ke mediasosial. Dengan melihat engagement dari masing-masing konten, kita bisa melihat sejauh mana keberhasilan konten tersebut, dan konten mana yangpaling menarik bagi pengguna sehingga bis akita jadikan sebuah panduan/patokan dalam menyusun konten berikutnya. Supaya sesuai dengan pasar di pengguna media sosial Instagram. 18
BAB V PENUTUP Kesimpulan Literation.group merupakan suatu komunitas yang dibangun oleh generasimuda dalam rangka melestarikan kebudayaan melalui literasi digital berbasis Instagram. Komunitas ini bertujuan untuk mengajak generasi muda bersama-sama berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaanmelalui literasi digital dengan memanfaatkan media sosial Instagram sebagai wadah untuk menyebarkan informasi edukatif. Pembentukan literation.group sebagai komunitas literasi digital memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dibentuknya komunitas literasi ini dapat memberikan kegiatan yang positif kepada generasi muda khusunya dalam hal literasi. Adapun kelemahan dari pembentukan komunitas ini, yaitu masih kurangnya minat pengguna untuk melihatkonten-konten positif yang beredar di media sosial, khusunya Instagram. Prospek pengembangan literation.group di media sosial Instagram menggunakan strategi prioritas Stregth-Oppurtunity (S-O) dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas konten yang dibuat, melakukan sosialisasi yang lebih gencar kepada semua kalangan pengguna terutama anak-anak, remaja hingga orang dewasa, serta perlu juga adanya evaluasi tiap kontenya untuk melihat seberapa pengaruh konten tersebut kepada pengguna Instagram. Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pembentukan literation.group,serta juga perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, swasta, dan masyarakat sehingga pentingnya partisipasi dalam melestarikan kebudayaan melalui literasi digital dapat disadari oleh masyarakat luas. 19
DAFTAR PUSTAKA Ferrari, A. (2013). DIGCOMP: A Framework for Developing and Understanding Digital Competence in Europe. Publications Office of the European Union. Frewerdi, B., Schedi, M., & Tkalcic, M. (2015). Prediting Personality Traits with Instagram Pictures. Frommer, D. (2010). ‘Here’s How To Use Instagram.’ Business Insider. http://www.businessinsider.com/instagram-2010-11 Goodfellow, R. (2011). Literacy, Literacies And The Digital In Higher Education. Teaching in Higher Education, 16(1), 131–144. Hague, C., & Payton, S. (2011). Digital Literacy Across The Curriculum. Curriculum Leadership. Bristol:Futurelab. https://www.nfer.ac.uk/publications/FUTL 6 Kurnianingsih, I., Rosini, & Nita, I. (2017). Upaya Peningkatan Kemampuan Literasi Digital bagi Tenaga Perpustakaan Sekolah dan Guru di Wilayah Jakarta Pusat Melalui Pelatihan Literasi Informasi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(1), 61–76. Kurniawan, P. (2017). Pemanfaatan Media Sosial Instagram Sebagai Komunikasi Pemasaran Modern Pada Batik Burneh. Jurnal Kompetensi, 11(2), 217– 255. Maran, R. R. (2007). Manusia Dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Rineka Cipta. Pratama, N. B., Purnomo, E. P., & Agustiyara, A. (2020). Sustainable DevelopmentGoals (SDGs) dan Pengentasan Kemiskinan Di Daerah Istimewa Yogyakarta. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 6(2), 64. https://doi.org/10.30738/sosio.v6i2.8045 Sari Puspita, M. (2017). Fenomena Penggunan Media Sosial Instagram Sebagai Komunikasi Pembelajaran Agama Islam Oleh Mahasiswa Fisip Universitas. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, 4(2), 1–13. 21
Soerjono, S. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Tour, E. (2015). Digital mindsets: Teachers’ technology use in personal life and teaching. Language Learning & Technolog. 19(3), 124–139. Warsito. (2012). Antropologi Budaya. Ombak 22
KARYA TULIS ILMIAH 2 ASACA-LIB: INOVASI LITERASI DIGITAL SKILL BERBASIS BUDAYA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI BUDAYA MAHASISWA FIA UB 2022 Alfina Auliyaul Chusna, Della Agustin Imawati Putri, Hari Firmansyah Universitas Brawijaya ABSTRAK Tingkat literasi masyarakat Indonesia termasuk dalam golongan rendah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya informasi palsu yang beredar di masyarakat dan juga sedikitnya angkat penerbitan buku per-tahunnya, yaitu hanya sekitar 18.000 buku per- tahun. Tentunya hal ini cukup mengkhawatirkan sehingga pemerintah menetapkan undang-undang yang dapat dijadikan payung hukum serta dasar dari peningkatan literasimasyarakat, yaitu UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Kendati demikian, masih banyak masyarakat yang kurang mendapatkan fasilitas untuk mengakses perpustakaan. Oleh karena itu, kami membuat inovasi berupa Asaca-Lib di mana masyarakat terutama mahasiswa FIA UB yang menjadi lokasi penelitian diberi kebebasan untuk mengakses banyak perpustakaan di Indonesia dan juga mendapatkan ruang diskusiberkaitan dengan literasi yang telah dilakukan. Dengan metode penelitian berupa literature review, diharapkan inovasi ini dapat menjadi salah satu terobosan baru untuk meningkatkan literasi digital mahasiswa FIA UB angkatan 2022. Kata kunci: literasi, budaya, mahasiswa. ABSTRACT The literacy level of the Indonesian people is included in the low class. This is evidenced by the amount of false information circulating in the community and also at least the number of book publications per year, which is only about 18,000 books per year. Of course, this is quite worrying so that the government enacts a law that can be used as a legal umbrella and the basis for increasing public literacy, namely Law no. 43of 2007 concerning Libraries. However, there are still many people who lack the facilitiesto access the library. Therefore, we made an innovation in the form of Asaca-Lib where the public, especially students of FIA UB who became the research location, were giventhe freedom to access many libraries in 23
Indonesia and also get a discussion room relatedto literacy that had been carried out. With the research method in the form of literature review, it is hoped that this innovation can be one of the new breakthroughs to improve digital literacy of FIA UB students batch 2022. Keyword: literacy, culture, student 24
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kualitas suatu bangsa dapat dilihat melalui kecerdasan dan pengetahuan masyarakat pula pemerintahnya. Kecerdasan dan pengetahuan tersebut dapat diukur melalui seberapa banyak ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui pengumpulan informasi-informasi yang ada, baik informasi secara lisan maupun tulisan. Kalimat tersebut seakan menegaskan bahwa literasi adalah kunci dari penentuan kualitas suatu bangsa. Dengan literasi, pengetahuan masyarakat suatu bangsa akan semakin tinggi yang juga akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan bernegara baik dari segi kehidupan apapun. Pengetahuan membantu masyarakat untuk lebih mengembangkan dirinya yang juga menjadi bagian dari pengembangan suatu negara. Sayangnya, tingkat literasi di Indonesia tergolong cukup rendah. Hal ini terlihat dari jumlah terbitan bukudi Indonesia yang bahkan tidak sampai angka 18.000 buku per tahun. Angka ini tergolong rendah apabila dibandingkan dengan angka terbitan buku di Jepang yang mencapai 40.000 buku per tahun. Bahkan, pada survei budaya membacayang diadakan oleh UNESCO pada tahun 2011 menunjukkan betapa rendahnya budaya membaca di Indonesia yang mana menyentuh nilai 0,001. Angka ini berarti dari sekitar seribu orang yang ada di Indonesia, hanya satu orang yang masih mau membaca dan mempertahankan budaya membaca. Survei mengenai budaya membacaatau tingkat literasi yang diadakan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 juga menunjukkan angka yang sama rendahnya, yaitu Indonesia menempati peringkat ke 60 dari 61 negara. Oleh karena itu, diperlukan inovasi atau terobosan baru guna meningkatkan atau mungkin membentuk dasar awal lagi dari budaya membaca. Pemerintah sendiri sebelumnya telah menyusun dan menetapkan undang-undang yang sekiranya dapat membantu meningkatkan budaya membaca di Indonesia, yaitu UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Namun, pada realitanya, implementasi dari UU ini masih jauh dari harapan (Permatasari, 2015). Dari pihak pemerintah sendiri sudah menanggapi fakta ini dan berusaha untuk meningkatkan tingkat literasi dan melestarikan budaya membaca di masyarakatIndonesia kembali dengan menghadirkan beberapa inovasi. Beberapa inovasi yang dibuat dan dikembangkan oleh pemerintah adalah dengan berkolaborasi denganlayanan video pendek 25
yang berfokus pada literasi digital. Ide ini diusung olehKementerian Kominfo dalam rangka mempersiapkan masyarakat Indonesia untuk menjadi cakap digital. Selain itu, juga terdapat inovasi yang dikemukakan dan dikembangkan oleh Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi yang meluncurkan film series berjudul Mangi-Mangi. Peluncuran film ini dinilai dapat meningkatkan literasi masyarakat Indonesia mengenai bidang kemaritiman di Indonesia. Dan tidak lupa juga dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset danTeknologi juga mengusung inovasi untuk menjadikan literasi digital sebagai salah satu konsep dalam kurikulum 2013 sejak tahun 2017 (Kholipah, 2021). Pada masyarakat Indonesia sendiri, perkembangan di generasi Z cukup menyita perhatian dikarenakan generasi Z adalah calon-calon pemimpin dan penerus bangsa saat ini. Tingkat literasi di generasi Z juga lumayan diperhatikan dikarenakan tingkatliterasi tersebut menandakan tingkat luasnya pengetahuan di generasi Z dan kesiapan mereka menjadi penerus bangsa. Diketahui saat ini generasi Z adalah generasi yang paling erat kaitannya dengan dunia digital. Berkaitan dengan dunia digital ini pula, banyak generasi Z banyak yang mulai melakukan literasi digital sebagai bentuk pembaruan dari bentuk literasi sebelumnya yang hanya berbasis media buku yang terbuat dari kertas. Kendati demikian, masih banyak generasi Z yang belum maksimaldalam melakukan literasi digital, sekalipun mereka hidup dekat dengan dunia digitaltersebut (Pratikto, 2018). Hal ini juga ditunjukkan pula oleh mahasiswa yang bahkanhingga saat ini masih menggunakan internet guna mencari sumber informasi untuk tugas namun tidak mengerti bahwa tidak semua sumber informasi tersebut dapat dijadikan referensi. Hal ini juga merupakan dampak dari kurangnya literasi dan perluasan pengetahuan melalui budaya membaca (Cahyani, 2021). Seiring dengan adanya fakta tersebut, maka tingkat literasi tersebut pasti juga turut berpengaruh terhadap tingkat literasi mahasiswa FIA UB. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan budaya membaca di masyarakat, terutama di tingkat mahasiswa khususnya mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya angkatan 2022, kami mengangkat sebuah inovasi berjudul Ad-Lib : Inovasi Literasi Digital Skill Berbasis Budaya untuk Meningkatkan Literasi Budaya Mahasiswa FIA UB yang mana inovasi ini akan memberikan kebebasan juga layanan bagi mahasiswa FIA untuk mengakses perpustakaan- perpustakaan yang ada di Indonesia dan membentukruang diskusi bersama dengan orang- orang baru guna membentuk skill pemahaman tingkat lanjut mengenai buku atau informasi yang telah dibaca sebelumnya. 26
Rumusan Masalah 1. Bagaimana kondisi literasi masyarakat Indonesia? 2. Apa inovasi yang dapat dilakukan berkaitan dengan kondisi literasi tersebut? Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui kondisi literasi masyarakat Indonesia; 2. Untuk menerapkan inovasi yang dapat dilakukan berkaitan dengan kondisi literasi tersebut. Manfaat Penulisan A. Akademis Diharapkan dengan adanya karya tulis ilmiah ini dapat menjadi rujukan atau referensi bagi pemerintah maupun akademisi dan masyarakat lain yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai kondisi tingkat literasi di masyarakat dan hubungannya dengan kondisi literasi di mahasiswa FIA UB angkatan 2022 dan inovasi yang dapat diterapkan berkaitan dengan tingkat literasi tersebut. B. Praktis Diharapkan dengan adanya karya tulis ilmiah ini dapat menjadi sumber rujukan bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian yang serupa dan dapat meningkatkan keilmuan penulis. 27
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Literasi Digital Secara umum, literasi media digital adalah kemampuan, pengetahuan, kesadaran,dan keterampilan secara khusus pada masyarakat umum sebagai pembaca di media cetak, media di dunia maya, penonton televise atau pendengar radio. Media digital yang dimaksud adalah media yang digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi, terkoneksi dengan internet, termasuk penggunaan smartphone (Praktikto, 2018). Selain itu, menurut UNESCO, literasi digital juga dapat dijabarkan sebagai kemampuan untuk mengakses, mengelola, memahami, mengintegrasikan, mengkomunikasikan, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara aman dan tepat melalui perkembangan teknologi digital yang meliputi kemampuan- kemampuan dan potensi yang beragam seperti literasi komputer, literasi ICT, literasi informasi dan literasi media (Rochadiani, 2020).temuan Literasi digital di Indonesia sendiri masih tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya informasi yang tidak benar yang masih ditelan mentah-mentah oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei pada tahun 2019 yang dilakukan olehMasyarakat Telematika Indonesia (Mastel), literasi digital dapat dikatakan sebagai solusi untuk menghambat penyebaran berita yang tidak benar (hoax). Berikut terdapat temuan isu hoax pada Agustus 2018- Maret 2019 (Rochadiani, 2020). Gambar 2.1. Hasil Temuan Hoaks Tim AIS per kategori Bulan Agustus 2018 - Maret2019 Sumber : Kominfo 28
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa masih banyak hoax atau berita palsu yang beredar di masyarakat. Tingkat literasi digital yang rendah menandakan rendahnya pengidentifikasian hoax oleh masyarakat Indonesia. Rendahnya tingkat literasi digital di Indonesia juga ditunjukkan oleh data pada IMD World Digital Competitiveness Ranking 2019 di mana Indonesia menduduki peringkat ke-56 dari 63 negara yang disurvei (Rochadiani, 2020). UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Sejarah telah mencatat bahwa negara-negara yang maju adalah negara-negara yang memberikan fokus perhatian dan sangat memahami mengenai pentingnya perpustakaan bagi kemajuan peradaban bangsa. Hal ini dikatakan bahwa apabila sebuah negara ingin memajukan peradaban dan keilmuan dari masyarakatnya, maka negara tersebut harus menaruh perhatian pada perpustakaan sebagai sumber bidang ilmu pengetahuan. Di negara Indonesia sendiri, bidang perpustakaan dan kepustakawanan masih harus berjuang untuk meraih perhatian dari publik danpemerintah. Karena itu, dengan adanya UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan telah memberikan secercah harapan bagi para pustakawan untuk mendorong maju lagi eksistensi dari perpustakaan. Selain menjadi payung hukum, undang- undang ini juga menjadi roda utama dalam pergerakan kemajuan perpustakaan. Pada saat yang sama, perkembangan dari kemajuan teknologi informasi komunikasi (TIK) juga turut membawa pengaruh terhadap dunia kepustakawanan Indonesia. Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut yang juga dibarengi dengan adanya pergerakan maju dari perpustakaan, Indonesia dapat memulai proses transformasi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi (MI). Proses transformasi ini dapat dilakukan dengan adanya perluasan fasilitas perpustakaan danpeningkatan akses terhadap perpustakaan sesuai dengan UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Untuk itu pemerintah Indonesia, di tingkat pusat dan daerah diharapkan dapat mewujudkan hal-hal berikut ini sebagai bagian dari implementasi Undang-Undang No. 43 Tahun 2007. 1. Melakukan revitalisasi terhadap semua jenis perpustakaan sebagai lembaga yang berperan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui akses yang luas terhadap sumber-sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang berkualitas pula. 2. Menghadirkan lebih banyak perpustakaan umum dan memperkuat juga 29
memperbaiki fasilitas dan kualitas perpustakaan yang sudah ada guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan masyarakat ke arah yang lebih baik melalui penyediaan layanan informasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat umum. Keberadaan perpustakaan umum di setiap wilayah akan mengurangi tingkat kesenjangan sosial yang ada di masyarakat. 3. Meningkatkan peran perpustakaan umum sebagai lembaga yang memiliki fokus pada budaya untuk ikut melestarikan warisan budaya, kesusastraan dan literasi. 4. Menumbuhkan dan mendorong timbulnya motivasi setiap masyarakat dan memfasilitasi masyarakat dalam melakukan pembelajaran seumur hidup (lifelong learner), baik lewat lembaga pendidikan formal maupun informal dalam rangka mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang masa (lifelong learner society Budaya Kata Budaya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu budhayah yang berarti budi atau akal yang ada pada manusia. Budaya merupakan pola atau cara hidup yang terusberkembang oleh sekelompok orang dan diturunkan pada generasi berikutnya. Berikut ini adalah pengertian budaya dari beberapa tokoh: 1. Ki Hajar Dewantara Kebudayaan berarti bukti kejayaan hidup manusia dari zaman dahulu yang berhasil mengatasi rintangan hidup dan menghasilnya sebuah hal yang bersifat tertib dan damai. 2. Robert H Lowie Kebudayaan adalah segala hal yang mecakup kehidupan manusia dan berupa warisan zaman dahulu. 3. Koentjaraningrat Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia beserta budi pekertinya yang harus dibiasakan dengan belajar. 4. Rafael Raga Maran Kebudayaan adalah cara bertahan hidup manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya guna memenuhi keinginan dan tujuan hidupnya. 5. Keesing Kebudayaan adalah gabungan dari pengetahuan dan pengalaman manusia 30
yang kemudian diterapkan secara sosial. 6. EB Taylor, Primitive Culture, 1871 Kebudayaan adalah keseluruhan gabungan dari pengetahuan,kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan manusia dalam kehidupan sosialnya. Indonesia sendiri memiliki beragam kebudayaan dilihat dari banyaknya jumlahpulau yang dimiliki. Beberapa jenis keberagaman budaya Indonesia, yaitu: 1. Rumah adat 2. Upacara adat 3. Pakaian adat 4. Tari tradisional 5. Makanan khas 31
BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki jenis pendekatan berupa penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk mengkaji kondisi objek alam, dimana peneliti sebagai alat kunci, teknik pengumpulandata dilakukan melalui triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dengan hasil menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2015). Sedangkan menurut Modul Rancangan Penelitian (2019) yang diterbitkan Ristekdikti, penelitiankualitatif bisa dipahami sebagai prosedur riset yang memanfaatkan data deskriptif, berupa kata tertulis atau perkataan orang dan pelaku yang dapat diamati. Hasil penelitian dari kualitatif deskriptif metode literature review (kajian pustaka)ini akan menyajikan data dalam bentuk deskriptif terkait meningkatkan minat baca mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi 2022 melalui perpustakaan digital. Menurut Miles dan Huberman (1992 : 43) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang menyajikan temuannya dalam bentuk deskripsi kalimat yang rinci, lengkap, dan mendalam mengenai proses mengapa dan bagaimana sesuatuitu bisa terjadi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena dalam penelitian ini objek penelitian dibatasi agar data - data yang diambil dapat digali sebanyak mungkin serta agar dalam penelitian ini tidak dimungkinkan adanya pelebaran objek penelitian. Alasan peneliti menggunakan kualitatif deskriptif metode literature review(kajian pustaka) adalah untuk mengkaji lebih dalam mengenai penerapan inovasi perpustakaan digital kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya 2022. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah tempat yang dipergunakan peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang sedang dijalankan. Dalam penelitian ini lokasi penelitian yang dipilih,yaitu Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya yang terletak di Jl. MT. Haryono No.163, Ketawanggede, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65145. Alasan 32
memilih lokasi ini, yaitu pada saat ini Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya karena mahasiswa masih berkenalan dengan satu budayadengan budaya lain. Fokus Penelitian Fokus penelitian sangat dibutuhkan dalam melakukan penelitian karena supaya bisa mengetahui dan memahami apa yang ingin diteliti dan batas-batas masalah pertanyaan yang akan diteliti. Hal ini didukung oleh pendapat (Sugiyono, 2015) bahwa dengan menggunakan fokus penelitian memungkinkan peneliti untuk lebih fokus membahas suatu fenomena daripada mengembangkannya. Dalam penelitian kualitatif, ada yang disebut batas, dan batas ini disebut fokus, dan mencakup topik- topik yang masih bersifat universal. Fokusnya adalah pada batasan-batasan yang ditentukan oleh peneliti berdasarkan pokok bahasan yang akan diteliti. Oleh karena itu, fokus penelitian ini adalah meningkatkan pengetahuan literasi budaya kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya 2022. Sumber dan Jenis Data Peneliti menggunakan berbagai macam sumber untuk mendalami dan mengumpulkan data. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder menurut Hasan (2002) adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber- sumber yang sudah ada. Data ini digunakan untuk menguatkan informasi primer, dimana data ini dapat berasal dari bahan pustaka, literatur, penelitian terdahulu, dan sebagainya. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari telaah kepustakaan daribeberapa penulis dari penelitian terdahulu, buku, dan jurnal serta studi literatur mengenai meningkatkan pengetahuan literasi mahasiswa. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan studi literatur. Teknik studi literatur adalah susunan kegiatan yang berkaitan dengan prosedur pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian. Menurut Danial dan Warsiah (2009:80), studi literatur merupakan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku atau majalah yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Studi literatur memiliki tujuanuntuk mengungkap 33
hipotesis yang berbeda dan yang relevan untuk masalah penelitian yang sedang dihadapi/diselidiki sebagai bahan referensi dalam pembahasan hasil penelitian. Pada penelitian ini menggunakan teknik studi literatur dimana para penelititidak terlibat secara langsung dengan objek penelitian. Peneliti mengamatimeningkatkan pengetahuan literasi mahasiswa. Teknik studi literatur ini dilakukan dengan dengan melakukan kajian mendalam terhadap literatur dan data yang ada yangmendukung penelitian ini. Teknik Analisis Data Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2014: 246-253) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu: 1. Data Display Penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan berupa uraian singkat, flowchart, hubungan antar kategori, bagan, dan sejenisnya. Penggunaan penyajian data dalam penelitian kualitatif dengan bentuk teks yang bersifat naratif.sehingga dalam hal ini peneliti akan menyajikan data dalam bentuk teks. Selain itu, agar hasil penelitian semakin jelas maka dapat dibantu dengan mencantumkan tabeldan gambar. 2. Conclusion Drawing/Verification Kesimpulan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjawab permasalahan yang menjadi pokok penelitian. kesimpulan dalam penelitian ini berupa deskripsi atau gambaran yang dapat diteliti dengan jelas. 34
BAB IV PEMBAHASAN Kondisi Literasi di Masyarakat Indonesia Kondisi literasi di Indonesia masih tergolong rendah apabila disandingkan dengan negara-negara asia lainnya seperti Jepang. Hal ini dilihat dari perbedaan jumlah penerbitan buku pada kedua negara tersebut. Di Indonesia, setiap tahun hanyamenerbitkan sekitar 18.00 buku. Angka tergolong rendah apabila dibandingkan dengan Jepang yang hampir selalu menerbitkan sekitar 40.000 buku setiap tahunnya.Namun, selain melihat dari kedua pembanding tersebut, tingkat literasi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari banyaknya informasi palsu yang beredar di dunia maya.Hal ini dikarenakan kurangnya kompetensi masyarakat Indonesia dalam menyaring informasi-informasi tersebut. Beberapa kompetensi yang dapat dikembangkan berkaitan dengan literasi digital adalah: 1. Technical Skills Technical Skills adalah kemampuan untuk mengakses danmengoperasikan media digital. Kemampuan ini mencakup beberapa kemampuan dasar seperti kemampuan untuk menggunakan komputer dan internet, kemampuan menggunakan media secara aktif, dan kemampuan menggunakan internet dengan daya penggunaan yang tinggi atau dapat dikatakan selektif. 2. Critical Understanding Critical Understanding adalah kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi isi media secara komprehensif. Kemampuan ini mencakup beberapa kemampuan mendalam pula seperti kemampuan memahami isi kontendan fungsi media, memiliki pengetahuan tentang media dan regulasi media, dan perilaku pengguna dalam menggunakan media digital. 3. Communicative Abilities Communicative Abilities adalah kemampuan untuk bersosialisasi dan berpartisipasi melalui media serta memproduksi konten media. 35
Inovasi Asaca-Lib Pengenalan Aplikasi 1. Nama Aplikasi Asaca- Lib merupakan salah satu inovasi berupa aplikasi perpustakaan digital yang membebaskan para penggunanya atau yang bisa disebut Neta (Netizen Asaca- Lib), untuk mengakses perpustakaan dari berbagai daerah di Indonesia. Nama Asaca- Lib berasal dari Wangun Acitya Saka Waca Library. Adapun arti dari nama aplikasi iniadalah membangun pengetahuan dari membaca. Jadi, dengan adanya inovasi ini, mahasiswa FIA UB serta seluruh masyarakat Indonesia diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai budaya- budaya di Indonesia melalui bacaan pada perpustakaan digital ini. 2. Pengenalan Logo No. Nama Simbol Keterangan 1. Logo Membangun pengetahuan melalui kegiatan membaca. 2. Bangunan Menciptakan dan berbentuk buku membangun pengetahuan secara bertahap 3. Batik Mega Mengandung konsep Mendung ketuhanan 36
4. Semut Tidak pernah menyerah walaupun terdapat hal yang 5. Gunungan berusaha menghalangi. Selain (Wayang) itu, semut juga mengartikan gotong royong dan persatuan persaudaraan. Sebagai sarana hiburan Tujuan dan Sasaran a. Tujuan Aplikasi Asaca- Lib bertujuan untuk meningkatkan daya bacamahasiswa FIA UB mengenai kebudayaan Indonesia. b. Sasaran Adapun sasaranpenggunaan aplikasi Asaca- Lib adalah mahasiswa FIA UB angkatan 202 37
Cara Kerja Aplikasi 1. Daftar atau Login Gambar 4 1 Halaman Login Gambar 4 2 Halaman Kartu Pengguna Langkah pertama yang dapat dilakukan pengguna baru adalah mendaftar atau dapat memilih menu Sign Up. Namun, apabila pengguna sudah memiliki akun, maka dapat memilih menu Log in. Pada menu Sign Up, pengguna diarahkan untuk mengisi data diri, seperti e-mail, nama lengkap, password, instansi, program studi, dan tanggal bergabung. Lalu, pada menu Log in, pengguna hanya perlu memasukkan e- mail dan password. Jika pendaftar berasal dari instansi umum, maka memilih “-“ untuk mengosongkannya tetapi, apabila pendaftar berasal dari Universitas Brawijaya, maka pendaftardapat mengisi program studi sesuai dengan yang telah diampu. Lalu, setelah mendaftar, pengguna mendapatkan kartu anggota yang disebut Asaca- Card yang bisa digunakan untuk mengakses perpustakaan yang tersedia. 38
2. Menu Home Gambar 4 3 Home Setelah melewati proses pendaftaran atau masuk dengan akun lama, pengguna akan ditampilkan dengan tampilan Home. Pada tampilan Home, terdapat tiga menu berupa tampilan pintu, yaitu MacaYo!, Rembug, dan Ulin. Penjelasan mengenai tiga fitur tersebut adalahsebagai berikut: a. Maca Yo! Gambar 4 4 Denah Library Digital 39
Gambar 4 5 Avatar Digital Library Maca Yo! adalah fitur utama yang ditawarkan oleh aplikasi ini. Maca Yo! berasal dari Bahasa Jawa yang berarti “Ayo Membaca”. Pada fitur ini, pengguna akan diarahkan pada suatu area jalan raya,di mana di tepi jalan raya terdapat berbagai bangunan yang tak lainadalah perpustakaan. Pada aplikasi ini, tersedia berbagai perpustakaan dari berbagai pulau di Indonesia, yaitu pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Tidak semua perpustakaan di berbagai pulau yang disediakan di dalam aplikasi Asaca- Lib, namun hanya perpustakaan di provinsi tertentu pada masing- masing pulau. Berikut adalah rincian pulau serta perpustakaan daerah yang dipilih sebagai perpustakaan pusat di masing- masing pulau di Indonesia pada aplikasi Asaca- Lib: Pulau Sumatra: Perpustakaan Nasional Bung Hatta Pulau Kalimantan: Perpustakaan Daerah di Kalimantan Barat Pulau Jawa: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Pulau Sulawesi: Perpustakaan Umum di Makassar Pulau Papua: Perpustakaan Daerah di Jayapura 40
Pengguna bebas memasuki perpustakaan yang akan dipilih hanya dengan menggunakan Asaca- Card. Setelah memasuki salah satu perpustakaan, pengguna dapat menunjukkan Asaca- Card yang akan di- scan oleh sistem yang tersedia. Pengguna yangtelah men- scan Asaca- Card, akan ditampilkan denah perpustakaan yang sedang dikunjungi. Setelah itu, pengguna dapatbebas membaca buku atau karya yang diminati. Setiap membaca 1 koleksi perpustakaan hingga selesai, pengguna dapat memperoleh 1 koin yang setara dengan Rp100, 00. Koin tersebut dapat digunakan oleh pengguna untuk memanfaatkan fitur Ulin. 41
b. Rembug Gambar 4 6 Ruang Diskusi Rembug berasal dari Bahasa Jawa yang berarti musyawarah. Rembug adalah fitur yang dapat digunakan untuk mendiskusikan suatu hal bersama pengguna lain atau rekan diskusi. Pengguna dapat memanfaatkan fitur Undang Teman untuk mengajak pengguna lain mengikuti suatu diskusi. Namun, syaratnya sama, rekan pengguna harus memiliki Asaca- Card terlebih dahulu. Dalam ruang diskusi ini, terdapat fitur berupa Bubble Chat. Pengguna dapat membicarakan suatu hal dengan rekan diskusinya dengan mengetik, kemudian pembicaraan akan muncul pada Bubble Chat. Selain itu, di dalam ruang diskusi juga terdapat fitur Video Conference. Jadi, pengguna dapat mengadakan Video Meetings bersama pengguna lain supaya lebih mudah dalam berkoordinasi dan mendiskusikan suatu hal. c. Ulin Ulin berasal dari Bahasa Sunda yang memiliki arti permainan. Ulin adalah salah satu fitur dari aplikasi Asaca- Lib berupa games. Games yang disediakan berupa permainan daerah, seperti angklung, melengkapi kalimat rumpang, dan puzzle. Penjelasan mengenai berbagai permainan pada fitur Ulin adalah sebagai berikut: Angklung 42
Search