Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore Rumah Tangga yang Bahagia

Rumah Tangga yang Bahagia

Published by Digital Library, 2021-01-27 07:11:53

Description: Rumah Tangga yang Bahagia oleh Leo Tolstoi

Keywords: Leo Tolstoi

Search

Read the Text Version

Rumah Tangga yang Bahagia 93 di situ—bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada diriku, sesuatu yang asli dari pedalam an, sederhana, nam un m em ikat hati. Ketenaran yang kuperoleh ini m em buat hatiku m elam bung tinggi hingga kukatakan dengan terus terang kepada suamiku bahwa aku senang sekali kalau dapat pergi dua atau tiga kali ke pesta dalam tahun itu. “Dengan dem ikian puaslah hatiku,” tam bahku dalam lagak seorang munaik. Suamiku rela, dan mula-mula dia pun pergi dengan benar- benar gem bira bersam aku, dan tam paknya lupa sam a sekali apa yang pernah dikatakannya dulu padaku atau lupa m enarik kem bali kata-katanya itu. Tapi lam a-kelam aan dia letih juga, kehidupan yang m engelilingi kam i baginya m enjem ukan. Tetapi bagiku hal itu bukan merupakan perhatian, dan kalaupun sewaktu-waktu kuperhatikan sinar m atanya yang sungguh- sungguh, m erenung-renung, seperti bertanya-tanya kepadaku, toh aku tidak menginsyai apa artinya itu. Aku demikian silau oleh kegem aranku untuk dicintai sem ua orang yang baru ini, oleh suasana yang serba sopan dan halus, serba m enyenangkan, serba baru, suasana yang baru pertam a kali aku m enghirupnya di sini, secara mendadak aku merasa terlepas dari pengaruh batin suamiku, aku merasa amat senang di dalam pergaulan ini bukan sekadar dipandang sebagai orang yang setaraf belaka m elainkan sebagai orang yang lebih tinggi (sesuatu yang hanya m ungkin kuberikan kepadanya secara berlim pah-lim pah dan dengan rela karena cintaku kepadanya), sehingga aku tidak dapat m em aham i apakah yang dilihatnya m em bahayakan diriku dalam pergaulan hidup. Baru pertam a kali itulah aku m engalam i perasaan bangga dan puas akan tingkah-laku sendiri, yakni pabila aku m em asuki ruangan dansa maka semua mata ditujukan kepadaku, sedangkan dia tam pak seperti m erasa dirinya m alu sewaktu m em perkenalkan bahwa aku adalah m iliknya, lalu dia buru-buru m eninggalkan aku

94 Leo Tolstoi dan m enghilang dalam kerum unan orang-orang yang serba hitam oleh pakaian malam. “Tunggu saja!” begitulah pikiranku tatkala sering-sering kupergoki dia—sendirian, tak ada yang m em perhatikan, sering kali tam pak jem u—di ujung ruangan. “Tunggu saja sam pai kita pulang, dan kau akan m engerti—kau akan tahu buat siapa aku berusaha supaya cantik dan m enarik, dan kau akan tahu siapakah yang kucintai di atas sem ua orang lain ini.” Dan m em ang benar apa yang kurasakan sebagai sukses hingga m em buat diriku gem bira itu adalah sem ata-m ata untuknya, hanya dengan jalan itulah aku m erasa telah m engabdikan diri padanya. Satu-satunya hal, pikirku, yang bakal m engaibkan diriku dalam pergaulan ini ialah kem ungkinan m erasa tertarik kepada orang lain yang kujum pai, yang akan m enyebabkan suam iku cem buru. Tetapi dia dem ikian percaya padaku, lagi pula orang-orang m uda ini tam paknya bukan apa-apa dibandingkan dengan dia, sehingga aku tidak takut akan bahaya ini. Perhatian yang diberikan orang-orang sedem ikian banyak ini m enyenangkan hatiku, m encum buiku, dan membuatku merasakan suatu keuntungan di dalam mencintai suam iku, sesuatu yang m em buat sikapku terhadapnya jadi biasa dan percaya pada diri sendiri. “Kuperhatikan kau tatkala kau sedang berbicara dengan asyiknya dengan N.N.,”kataku pada suatu m alam dalam perjalanan pulang dari pesta dansa, seraya kujentikkan jariku kepadanya. Wanita yang kusebut itu am at terkenal di St. Petersburg, dan suam iku sudah barang tentu berbicara dengannya m alam itu. Kukatakan ini untuk m engusiknya agar m au bicara, karena dia hanya berdiam diri saja dan kelihatan letih, lebih dari yang sudah- sudah. “Mengapa kaukatakan itu? Dapatkah yang dem ikian ini kaubicarakan, Masha?” katanya, seperti sedang m enahan diri dari perasaan nyeri pada tubuhnya. “Tak pantas buat kau dan aku.

Rumah Tangga yang Bahagia 95 Serahkan hal dem ikian itu pada orang lain. Kepalsuan sem acam itu akan mengurangi kemesraan hubungan kita, dan aku tetap m engharapkan agar segala sesuatunya akan kem bali seperti biasa.” Aku m erasa m alu dan tetap berdiam diri. “Bukan kah segalan ya akan jadi baik kem bali, Masha? Bagaim ana pikiranm u?” katanya. “Sam a sekali takkan ada yang kurang, takkan pernah,” kataku, dan memang begitulah pada saat itu. Hanya sekali itulah dia m engatakan hal itu kepadaku. Waktu yang selebihnya kubayangkan bahwa dia sebahagia aku. Dan aku dem ikian riang dan bahagia! “Kalau dia kadang-kadang m erasa jem u,” kuyakinkan diriku kem bali, “aku juga jem u karena kesukaannya tinggal di pedusunan, tak apalah kalau hubungan kita berubah sedikit, toh segalanya akan kem bali seperti biasa segera setelah kita hidup m enyendiri kem bali bersam a Tatyana Sem yonovna di Nikolskoye.” Dan demikianlah aku hampir tidak memperhatikan bahwa m usim din gin telah berlalu. Berten tan gan den gan ren can a semula, malah kami melewatkan Paskah di St. Petersburg. Pada perm ulaan m inggu St. Tim othy, yakni ketika kam i ham pir akan berangkat, dan pada saat suam iku—sesudah m em beli barang- barang hadiah dan buat keperluan rumah tangga serta bunga buat m en yem arakkan kehidupan kam i di desa—sedan g ada dalam suasana bahagia dan mesra, maka tanpa disangka-sangka datanglah saudara sepupunya dan m ulailah dengan gigihnya ia berbicara kepada kami agar kami menangguhkan keberangkatan sam pai hari Sabtu, supaya kam i bisa hadir pada pesta dansa di rum ah nyonya bangsawan R. Dikatakannya bahwa nyonya bangsawan itu ingin sekali aku hadir—bahwa Pangeran M., yang ketika itu ada di St. Petersburg, ingin sekali berkenalan denganku setelah melihatku akhir-akhir ini di suatu pesta dan agar aku

96 Leo Tolstoi hadir di pesta yang sengaja untuk itu, dan dikatakannya pula bahwa aku adalah wanita tercantik di Rusia. Semua orang di kota itu akan hadir di pesta—pendeknya, aku tak boleh tidak harus menghadiri pesta. Suamiku sedang bercakap-cakap dengan seseorang di ujung kamar duduk. “J adi, kau akan pergi, Marie?” saudara sepupun ya itu bertanya padaku. “Kam i berniat lusa berangkat ke kam pung,” kataku m ulai tak pasti, sambil melirik ke arah suamiku. “Akan kubujuk dia,” kata saudara sepupu itu, “lalu kita pergi ke pesta hari Sabtu dan membiarkan setiap orang mengarahkan pandangannya padam u. Begitu, kan?” “Itu akan m engacaukan rencana kam i, dan segala-galanya telah dipak,” jawabku, m ulai m enyerah. “Lebih baik dia pergi dan m em bungkukkan badannya kepada pangeran itu malam ini,” kata suamiku dari ujung ruangan dengan nada yang m engandung rasa tak suka, yang belum pernah kudengar dari dia sebelum nya. “Astaga! Dia cem buru. Tak pernah kulihat dia begitu m acam dulu,” kata saudara sepupu tertawa. “Tapi jangan begitu ah, ini bukan hanya untuk pangeran sem ata-m ata tapi untuk kita sem ua, itulah sebabnya m engapa aku m em bujuk istrim u, Sergei Mikhailich. Kau belum dengar betapa Nyonya R. m enyem bah- nyem bah padaku supaya dia datang!” “Terserah dialah,” kata suam iku din gin , dan dia pergi meninggalkan ruangan. Tam paknya pikirannya itu lebih kacau daripada biasanya, ini m enyiksa diriku, karena itu aku tidak m em buat janji apa- apa dengan saudara sepupunya. Begitu sepupunya pergi, aku datang padanya. Dia sedang berjalan naik-turun tangga, sam bil

Rumah Tangga yang Bahagia 97 m erenung dalam -dalam , dan tak didengarnya aku berjalan berjingkat-jingkat masuk ke dalam kamar. “Dia sedan g m em bayan g-bayan gkan rum ah kam i yan g tercinta di Nikolskoye,” pikirku, sam bil m em andang padanya, “kopi pagi hari di ruang tam u yang penuh dengan para m uzhik, dan sore hari di kamar duduk, lalu makan tengah malam dengan m en gen d a p -en d a p .” “Tidak,” kuputuskan, “aku tidak akan pergi ke pesta dansa yang m ana pun juga dan kujauhi segala bujuk rayu pangeran m ana pun dem i kesenangannya dan cinta kasihnya yang m esra.” Aku ingin m engatakan padanya bahwa aku bukan saja tidak pergi, tetapi malah tidak mau pergi ke pesta, ketika dengan tiba-tiba dia melihat dan menatapku. Dia m engerutkan alisnya, kem udian pandangan m atanya yang lunak dan m erenung itu berubah. Dan m atanya itu m em ancarkan sinar yang m enem bus, sinar bijak bestari dan kelebihannya sebagai pelindung. Kelihatannya dia seperti tak mau tampak sebagai orang biasa di hadapanku, dia mau kelihatan sebagai setengah dewa—berdiri diam di atas tangga di depanku. “Ada apa, Sayang?” tanyanya begitu saja, tenang-tenang, sambil menoleh padaku. Aku tidak m enjawab. Aku kesal m elihat lagaknya yang m enyem bunyikan diri dariku—yang tak diperlihatkan seperti aku m em perlihatkan cintaku terhadapnya. “Apakah kau m au datang ke pesta hari Sabtu nanti?” tanyanya. “Aku ingin,” kataku, “tetapi kau tak suka... dan segala- galanya sudah dipak.” Tak pernah dia melihat demikian dingin padaku, juga dalam kata-katanya. “Aku dapat m enunggu sam pai hari Sabtu dan barang-barang kita pun bisa dibongkar,” katanya. “Pergilah jika kau suka, aku pun m inta supaya kau pergi ke pesta. Aku tidak akan berangkat.”

98 Leo Tolstoi Sebagaim ana biasa kalau hatinya sedang kalang-kabut, dia mulai berjalan hilir-mudik dengan gelisah tanpa melihat padaku. “Aku tidak m engerti sikapm u sam a sekali,” kataku sam - bil berdiri di tem patku dan m ataku m engikuti gerak-geriknya. “Kaukatakan bahwa kau selalu tenang (dia tak pernah berkata begitu), m engapa bicaram u jadi aneh begitu padaku? Aku m au mengorbankan kesenangan ini buat kamu, tapi sekarang kaulah yang m em inta supaya aku pergi juga—dan dengan cara m enyindir. Tak biasa kau begitu denganku sebelum nya.” “Apakah yang ingin kaulakukan untukku? Kau ... pengorbanan (ditekankannya ucapan ini) ... dan begitu pula aku. Apa bisa m endapatkan yang lebih baik dari itu? Macam pertunjukan untuk m em perlihatkan siapa yang paling berm urah hati. Inilah yang dibutuhkan dalam perkawinan yang bahagia.” Inilah buat pertam a kali aku m endengar kata-kata yang kasar dan dem ikian pahit dari m ulutnya. Tetapi kata-kata kasar tidaklah m em buat aku m erasa m alu—m alah m em buat luka di hatiku, dem ikian pula luapan em osinya tidaklah m enakutkanku, sebaliknya m alah m enggugahku. Diakah itu? Dia yang selalu takut akan kepalsuan dalam hubungan kam i, dia yang selalu dem ikian bersahaja dan ikhlas—m ana m ungkin dia yang berkata- kata dem ikian itu? Yang baru saja sem enit yang lalu kupaham i betul dan kucintai dem ikian m endalam nya? Peranan kam i jadi terbalik sekarang dialah yang m enghindari kata-kata sederhana yang lurus, dan aku yang m encarinya. “Kau telah berubah banyak sekali,” keluhku, “dalam hal apa aku telah m enyalahkanm u? Aku tak dapat hadir di pesta itu— tentunya hatim u m engandung apa-apa terhadapku. Mengapa ketidakikhlasan in i? Biasan ya kau waspada akan hal yan g dem ikian. Katakanlah terus terang bagaim ana pandanganm u tentang aku.” Dalam hatiku, “Dialah yang seharusnya m engatakan sesuatu padaku,” sambil dengan puas mengingat-ingat bahwa

Rumah Tangga yang Bahagia 99 selam a m usim dingin ini dia tak m enim bulkan sesuatu penyesalan padaku. Aku pergi ke tengah-tengah ruangan agar dengan begitu dia m au tak m au berjalan m endekatiku. Kulihat dia. “Tentu ia akan mendatangiku, memelukku, dan dengan demikian habislah sudah,” pikirku, dan aku m erasa m enyesal telah m elepaskan kesem patan buat m em perlihatkan padanya bahwa betapa salahnya dia itu. Tetapi dia berhenti di ujung ruangan dan memandang padaku. “Apa kau m asih sukar untuk m em aham i?” “Ma s ih .” “Kalau begitu, akan kuterangkan. Seum ur hidupku baru pertam a kali inilah aku m engalam i perasaan yang disebut benci, tetapi yang tak bisa aku m enahannya....” Ia berhenti, tam pak nyata dari kekasaran lagu bicaranya. “Apa yang kaum aksudkan?” aku bertanya dengan m ata berlinangan karena berang. “Aku benci bahwa pangeran itu beranggapan kam u cantik, sedangkan kamu malah bergegas lari menemui dia, lupa pada suami dan dirimu sendiri serta pada harga dirimu sebagai wanita. Dan kam u tidak m au m engerti terhadap sesuatu yang harus diderita oleh suamimu karena ulah dirimu itu, sekalipun andaikata kam u sendiri sudah tak punya perasaan harga diri. Ini sebaliknya m alah, kam u datang dan berkata pada suam im u bahwa kam u berkorban, dengan lain perkataan, betapa senang sekiranya aku dapat m em perlihatkan m ukaku di hadapan Sri Baginda, tetapi akan kukorbankan kesenangan ini demi untukmu.” Makin ia bicara m akin ia m arah, kentara dari bunyi suaranya itu sendiri, dan suaranya itu kasar, bengis, pedas. Aku tak pernah m elihat dia dalam keadaan sedem ikian sebelum nya, pula tak pernah m enyangkanya. Darahku tersirap ke m uka. Aku m erasa takut, tetapi bersamaan dengan itu maka suatu perasaan malu

100 Leo Tolstoi yang tidak pada tem patnya dan perasaan angkuh oleh sebab terhina tim bul dalam diriku, dan aku ingin m em balasnya pula sen d ir i. “Telah lam a kutun ggu-tun ggu in i,” kataku. “Teruskan , t er u ska n !” “Tak tahu aku apa yang kautunggu-tunggu itu,” katanya selanjutnya. “Akulah yang seharusnya m enunggu-nunggu sesuatu yang paling buruk, m elihat kam u setiap hari bergelim ang dalam kecem aran, foya-foya, dan kem ewahan kalangan yang dungu itu, dan sekaranglah waktunya. Kubiarkan segalanya sam pai hari ini, hingga aku tak punya m uka karena m alu serta sakit hati, yang tak pernah kualam i sebelum nya, sakit hatiku sewaktu tem anm u itu m encelupkan tangannya yang najis ke dalam hatiku dan m ulai berbicara tentang cem buru—hal cem buruku—dan cem buru karena siapa? Karena seorang laki-laki yang tak dikenal baik olehmu maupun olehku. Dan kamu begitu saja tak mau mengerti terhadapku serta ingin mengorbankan dirimu sendiri, dan apa jadinya? Akulah yang m alu karena kam u—m alu karena melihat kamu merendahkan harkat dirimu sendiri begitu saja. Pengorbanan!” ulangnya. “J adi, itulah hak seorang suam i!” pikirku. “Untuk m enghina dan m erendahkan derajat seorang wanita yang tak bersalah apa- apa. J adi, itulah hak seorang suami! Tetapi aku tidak mau tunduk pada aturan itu.” “Tidak, aku tidak m au berkorban apa pun untukm u,” kataku, dan aku merasa hidungku mengembang serta darah tersirap ke m ukaku. “Aku akan pergi ke pesta hari Sabtu—pasti aku akan pergi.” “Mudah-m udahan kau m enyenanginya, akan tetapi sem uanya habislah sudah antara kau dan aku,” dia berteriak dengan gemas. “Aku tidak akan m em biarkan kau terus-m enerus m enyiksa aku. Akulah yang dungu,” dia m ulai lagi, tetapi bibirnya gem etar, dan

Rumah Tangga yang Bahagia 101 hanya dengan sekuat tenaga tentunya dia m enguasai dirinya agar dapat m engakhiri apa yang sudah terlanjur dikatakannya itu. Aku takut dan benci padanya di saat itu. Banyak yang m au kukatakan kepadanya untuk m em balas dendam atas sem ua penghinaannya, tetapi sekiranya aku buka m ulut m aka aku akan menangis melolong-lolong dan harga diriku akan jatuh dalam pandangan m atanya. Kutinggalkan kam ar tanpa berkata sepatah kata pun jua. Tetapi segeralah aku m endengar langkahnya, aku tak takut lagi akan apa yang telah kuperbuat. Ngeri aku m em ikirkannya, bahwa tali kasih yang m enjalin kebahagiaanku akan terputus untuk selam a-lam anya. “Tetapi, apakah dia akan cukup tenang buat m em aham i diriku seandainya aku pergi kepadanya dan dengan diam -diam kuulurkan tanganku kepadanya serta kupandang m atanya? Maukah dia m engerti akan kem urahan hatiku? Bagaim ana nanti kalau dipandangnya sebagai kesedihan yang munaik? Atau m enerim a rasa penyesalanku sedangkan dia percaya bahwa dialah yang benar, dan m em aafkan aku dengan keram ahtam ahannya yan g an gkuh? Bagaim an a bisa dia—laki-laki yan g dem ikian kucintai sepenuh hati—tega m enghinaku sedem ikian kejam nya?” Aku tidak pergi kepadanya. Aku pergi ke kam arku, di situ aku duduk lama sekali dan menangis. Mengingat-ingat dengan ngeri kata-kata yang telah kam i ucapkan, kuganti kata-kata tersebut dengan kata-kata lain yang baik, dan kuingat-ingat kem bali sem ua yang telah kam i katakan itu dengan perasaan ngeri dan hina. Ketika aku m eninggalkan kam arku buat m inum teh pada malam itu dan bertemu dengan suamiku di depan kehadiran S., yang telah dipanggilnya, aku m erasa bahwa jurang telah terbuka antara kam i dan akan tetap begitu untuk selam a-lam anya. S. bertanya kapan kam i akan berangkat. “H ari Selasa,” balas suam iku, tak m em beri kesem patan padaku untuk m enjawabnya. “Kam i akan pergi dulu ke pesta

102 Leo Tolstoi Nyonya R. Kau akan pergi, ‘kan?” tanyanya, sam bil m enoleh padaku. Aku m erasa takut m endengar suaranya yang berlainan serta lirikannya terhadapku. Matanya lengket m em andang padaku, dan berang ucapannya serta kasar, dingin dan keras suaranya. “Ya,” sahutku. Pada sore hari, tatkala kam i m enyendiri, dia datang padaku dan m engulurkan tangannya. “Lupakanlah apa yang telah kukatakan padam u,” gum am nya. Kuam bil tangannya. Pada bibirku tersungging senyum an yang gem etar, dan air m ataku m ulailah m em banjir, tetapi dia m enarik kem bali tangannya dan—seperti takut akan adegan yang sentim entil—duduklah ia di kursi tangan agak jauh dariku. “Mungkinkah dia m asih m em andang bahwa dirinyalah yang benar?” aku bertanya-tanya dalam hati, dan penyesalan serta perm intaan yang sudah ada di ujung lidahku supaya tak usah saja pergi ke pesta, tetap tinggal tak terucapkan. “Kita harus m enulis surat pada ibu bahwa kita m enangguhkan keberangkatan kita,” katanya, “kalau tidak begitu nanti ia akan m asygul.” “Dan m enurut kau kapan kita pergi?” tanyaku. “Hari Selasa, sehabis pesta.” “Mudah-m udahan kau tidak m elakukan itu buat diriku,” kataku, sam bil m em andang ke dalam m atanya. Nam un m atanya itu memandang padaku tanpa mengucapkan apa-apa seakan- akan tertutup tabir. Mukanya seperti m endadak jadi tua dan tak m enyedapkan dalam pandangan m ataku. Kam i pergi ke pesta dan aku m erasa bahwa hubungan kam i yang akrab telah pulih kem bali, nam un hubungan itu lain sam a sekali dari dulu. Ketika pangeran itu datang m engham piriku, aku sedang duduk di antara dua orang wanita, hingga karena itu aku harus

Rumah Tangga yang Bahagia 103 berdiri sewaktu bicara dengan dia. Ketika aku bangkit untuk berdiri tanpa sengaja mataku mencari-cari suamiku dan kulihat dia memandang padaku dari ujung lain ruangan, kemudian dia melengos. Mendadak saja aku merasa kikuk, serta darah tersirap di muka dan di leherku, di bawah sorot mata pangeran itu. Tetapi aku harus berdiri dan m endengarkan ucapannya sewaktu pangeran itu mengincarku dari atas. Percakapan kami singkat saja, tak ada tempat di situ untuk dapat duduk di sisiku, dan barangkali dia merasa bahwa aku benar-benar tak merasa enak berbicara bebas dengannya. Kam i m em bicarakan pesta dansa yang akhir-akhir ini, perihal di mana aku akan tinggal selama musim dingin, dan lain-lainnya. Sewaktu pangeran itu m eninggalkan aku, dia m enyatakan keinginannya untuk berkenalan dengan suamiku, dan kulihat mereka berjumpa di ujung lain ruangan dan m ulai bercakap-cakap. Pengeran itu m estinya m engatakan sesuatu tentang diriku, karena di tengah-tengah pembicaraan dia m elirik padaku dan tersenyum . Mendadak saja suam iku kelihatan seperti kejang dan m erah m ukanya, dia m em bungkuk dalam - dalam dan pergi dari pangeran itu. Mukaku juga jadi merah, aku malu atas anggapan pangeran itu tentang diriku, dan lebih- lebih lagi, tentang suam iku. Kubayangkan bahwa setiap orang m em perhatikan sikapku yang m alu-m alu dan canggung sewaktu bercakap-cakap dengan pangeran, serta tingkah-laku suamiku yang aneh. Bagaim anakah anggapan m ereka tentang itu, atau apakah mereka tahu percakapanku dengan suamiku? Saudara sepupunya m engantarkan aku pulang dan di tengah jalan kam i m em bicarakan dia. Aku tak dapat m enahan diri dan segalanya kuceritakan kepadanya, perihal percekcokan kam i m engenai pesta dansa yang bernasib buruk itu. Dia m enenangkanku, dikatakannya bahwa hal itu m erupakan kesalahan paham yang harus segera dilenyapkan supaya tak ada bekas-bekasnya. Dia m enerangkan tentang watak suam iku

104 Leo Tolstoi sepanjang yang dia ketahui. Dia berpendapat bahwa suam iku itu m akin jadi angkuh dan tidak ram ah-tam ah. Aku setujui pendapatnya dan seakan-akan diriku m ulai m engerti suam iku dengan lebih baik, lebih tidak memakai perasaan. Tetapi ketika aku tinggal m enyendiri bersam a suam iku, m aka penilaianku tentang dirinya itu terkapar dalam lubuk hatiku bagaikan kejahatan, dan aku m erasa bahwa jurang yang memisahkan kami semakin melebar.

8 SEJ AK HARI ITU kehidupan serta hubungan kam i berubah sam a sekali. Kam i tidak lagi m em peroleh kesenangan dalam diri m asing-m asing untuk berada bersam a-sam a. Ada hal-hal yang kami hindari, dan adalah lebih lancar bagi kami untuk berbicara dalam kehadiran orang ketiga daripada kalau hanya berdua saja. Begitu pem bicaraan m enyangkut kehidupan di kam pung, atau di pesta, m aka m ulailah iblis-iblis kecil m engintip dari lubangnya, dan kam i m erasa rikuh kalau berpandangan. Kam i berdua jadi sadar akan adanya jurang yang m em isahkan kam i serta takut untuk m endekatinya. Aku jadi percaya bahwa dia itu orang angkuh dan cepat marah dan karena itu harus hati-hati jangan sam pai m enyinggung perasaannya. Dia jadi yakin bahwa aku tak dapat hidup tanpa pergaulan di kalangan m asyarakat bangsawan, bahwa aku tak suka kehidupan desa, dan bahwa dia merasa harus m enyesuaikan diri dengan seleraku yang rendah ini. Begitulah kam i m asing-m asing m enghindari pokok pem bicaraan yang

106 Leo Tolstoi demikian, dan masing-masing secara keliru saling menuduh. Sudah lama kami berhenti untuk saling memperlihatkan kesem purnaan diri. Kam i m em banding-bandingkan diri dengan orang lain dan saling menilai secara rahasia. Aku jatuh sakit sebelum berangkat, dan m alahan m enyewa rum ah kecil di luar kota daripada pergi ke Nikolskoye, dari situlah Sergei Mikhailich pergi m enuju ibunya tanpa aku. Sewaktu dia berangkat, sebetulnya aku cukup m erasa sehat untuk m elakukan perjalanan bersam anya, tetapi dia m em bujukku supaya aku tak ikut pergi karena dia m engkhawatirkan kesehatanku. Kurasa bukan kesehatankulah yang dia khawatirkan tetapi hal-hal yang akan m em buat kam i tidak enak di pedusunan, aku tidak mendesak, melainkan diam dan menurut. Tanpa dia aku merasa kesepian, dan hidupku serasa hampa, tetapi aku m erasa heran sewaktu dia kem bali, kehadirannya taklah mengubah kehidupanku kembali seperti dulu. Hari-hari percintaan lama sudah tiada, hari-hari tatkala aku sering merasa tertekan oleh setiap pikiran dan kesan jika ternyata bahwa dia tak turut am bil bagian di dalam nya, hari-hari tatkala setiap tindak- an dan perkataannya seakan-akan m erupakan contoh dari hal kesem purnaan diri, hari-hari tatkala dengan hanya berpandang- pandangan saja sudah cukup dapat mencerahkan ketawa di bibir m asing-m asing—hari-hari yang dem ikian telah pergi. Hubungan kami sedikit demi sedikit jadi berubah hingga tak kami perhatikan bagaim ana cinta kam i yang lam a itu m enghilang. Masing-m asing punya kesukaan dan ketidaksukaannya sendiri-sendiri, dan kam i tidak berusaha untuk saling m erasakannya. Bahkan antara kam i berhentilah sikap saling mengharubiru dan masing-masing kian m enjadi terbiasa dengan yang dem ikian, lalu kurang-lebih dalam setahun kami sudah tak bisa lagi saling memandang kalau merasa tak puas. Perasaan riang gem bira yang m eliputi dirinya bilam ana dekat denganku lenyap sam a sekali, dem ikian juga sifat kekanak-

Rumah Tangga yang Bahagia 107 kanakannya, sikap siap sedia untuk m em aafkan apa saja, juga ketakacuhannya yang tak kepalang tanggung itu. Tak pernah lagi m atanya m elihat padaku dengan pandangan yang m eneliti, yang biasanya m em buat aku m alu tersipu-sipu nam un m enggirangkan pula, tak pernah lagi kami mengucapkan doa bersama-sama atau m enghanyutkan diri dalam perm ainan urakan, jarang kam i m elihat satu sam a lainnya, seolah-olah dia tak putus-putusnya sibuk dengan urusannya dan tidak m erasa sayang atau khawatir m eninggalkan aku sendirian. Aku tetap pergi ke tem pat pergaulan bila tidak memerlukan dia. Kam i tak lagi m erasa gelisah karena m elakukan kesalahan atau dari sebab tingkah-laku yang tak sesuai. Aku m encoba m em biarkan segala kesenangannya dan dia m eluluskan segala yang kuingini, tam paknya seperti kam i ini saling cinta-m encintai saja. Apabila kam i sedang berduaan, yang tak sering terjadi, tak pernah aku merasa gembira, merasa tergerak hati atau kebingungan, rasanya seperti sendirian saja. Aku m enyadari benar-benar bahwa dia suam iku—bukan orang asing, m elainkan laki-laki yang baik, suam iku, yang kukenal seperti terhadap diriku sendiri. Aku percaya bahwa aku tahu terhadap apa pun yang akan dilakukannya, atau dikatakannya, tahu pula bagaim ana pan dan gan n ya m en gen ai diriku. Bilam an a dia m elakukan sesuatu atau m em andang padaku lain daripada yang kuharapkan, kukhayalkan bahwa dia m em buat kesalahan. Pendek kata, dia itu suam iku, tak lebih dari itu. Kupandang bahwa m em ang begitulah sem estinya, bahwa suam i istri itu seharusnya begitu, dan kam i pun selalu begitu. Bila dia pergi, terutam a pada perm ulaannya, aku m erasa kesepian dan merasa kecil hati tanpa dia, aku suka merasa benar- benar m em butuhkan bantuannya. Bila dia kem bali m aka suka kulilitkan lenganku padanya dengan gem bira, tetapi dua jam

108 Leo Tolstoi kemudian segeralah kegembiraan ini kulupakan dan tak mampu m enem ukan apa-apa untuk dibicarakan dengan dia. Hanya di saat-saat yang tenang, kem esraan yang tertekan itu sering terasa mengganggu, jantungku akan berdegup keras, dan seakan kubaca hal yang sam a dalam m atanya. Aku sadar akan batas-batas kemesraan, di luar itu baik dia ataupun aku tak dapat lanjut. Kadang-kadang yang dem ikian itu m em buat hatiku sengsara, nam un aku terlalu sibuk untuk m em usingkannya, aku m encoba m elupakan kesedihan yang terbit dari perasaan sadar yang sam ar-sam ar terhadap perubahan dalam hiburan yang senantiasa m en a n t i-n a n t iku . Kehidupan kalangan bangsawan, yang pada m ulanya tidak lebih dari m enakjubkan dengan kegem erlapan dan rayuannya, serta-m erta m em andangku hingga m enjadi kebiasaan. Kehidupan ini telah membelenggu diriku dan mengambil tempat dalam hati yang m endam bakan cinta. Aku m elupakan apa yang disebut kesepian serta tak punya keberanian buat m em ikirkan kehidupan diriku. Seluruh waktuku diisi kesibukan, dari pagi mula sampai lewat tengah malam. Tak pernah aku tinggal sendirian, sekalipun tak pergi dari rumah. Semua ini tidak menggirangkan atau menjemukan lagi, aku mengira bahwa aku harus terus-menerus hidup dengan cara begini buat selam a-lam anya. Tiga tahun berlalu, dan hubungan kami tetap begitu juga, seakan-akan jadi mengental tertuang dalam satu acuan, tak dapat tumbuh lebih baik atau lebih buruk. Selama tiga tahun itu terjadilah peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga kami. Nam un tak satu pun yang m engubah hidupku, ialah kelahiran anak kam i yang pertam a, dan kem atian Tatyana Sem yonovna. Pada m ulanya kasih ibu begitu kuat m enguasai diriku, dan m enjadikan sebab tim bulnya tali kasih yang tak disangka-sangka hingga timbul pikiran bahwa kehidupan baru telah mulai bagiku. Namun dalam dua bulan saja, ketika aku mulai lagi menampakkan

Rumah Tangga yang Bahagia 109 diri di dalam pergaulan, perasaan ini susut lagi hingga jadi sesuatu yang biasa dan m erupakan tugas resm i untuk m em enuhi kewajiban belaka. Sebaliknya, dengan kelahiran anakku yang laki-laki suamiku jadi lebih pendiam serta puas tinggal di rumah lebih dari yang sudah-sudah, dan kem esraan serta kegirangannya yang dulu-dulu dialihkannya kepada bayi. Kerapkali pabila aku m asuk ke kam ar bayi dalam pakaian pesta, untuk m em buat tanda salib di atas si anak, suamiku sering kujumpai di situ dan kulihat seakan-akan pandangannya yang kesal sedang m eneliti dan mengawasi diriku, dan aku pun sering malu. Tiba-tiba saja aku merasa seakan-akan hati nuraniku tersentak oleh sikapku yang m asa bodoh terhadap anak, dan aku suka bertanya pada diri sendiri apakah aku ini benar-benar wanita yang lebih buruk dari yang lain. “Tetapi apa dayaku?” aku bertanya-tanya dalam hati. “Aku m encintai anakku, tetapi aku tak dapat terus-m enerus duduk di sam pingnya sehari suntuk—itu akan m enjem ukan. Dan aku tidak mau berpura-pura, sekali-kali tidak.” Kem atian ibunya sangat m enyedihkan Sergei Mikhailich. Katanya berat baginya untuk tinggal di Nikolskoye sekarang setelah ibunya tiada. Tentang diriku, aku m erasa senang dan dam ai tinggal di dusun tanpa ibunya, m eskipun aku m erasa bersedih hati atas kem atiannya serta bersim pati terhadap suam iku. Waktu selama tiga tahun itu sebagian besar kami pergunakan buat tinggal di kota. Aku pergi ke udik sekali dalam dua bulan, dan pada tahun ketiga berangkatlah kami ke luar negeri. Kam i habiskan waktu m usim panas di tem pat sum ber air. Ketika itu dua puluh satu tahun um urku. Pada pikiranku, segala urusan kami berkembang dengan baik, aku tidak minta lebih daripada yang diberikan oleh kehidupan keluarga kam i. Kutahu setiap orang agaknya m encintaiku, tubuhku segar bugar, gaunku yang terbagus di tem pat pem andian, aku tahu aku cantik, cuaca bagus, aku dikelilingi oleh suasana yang serba bagus dan m enarik

110 Leo Tolstoi hati, diriku bersukaria. Kerian gan ku taklah seperti sewaktu di Nikolskoye, ketika aku m erasa bahagia sendiri, ketika aku m erasa layak untuk berbahagia, dan bahwa betapa pun besarnya kebahagiaanku itu, masih ingin lebih besar lagi, tatkala aku haus akan kebahagiaan yang ingin lebih banyak lagi. Itulah kebahagiaan yang berlainan, tetapi pada m usim panas ini juga, aku m erasa senang. Tak ada yang kuinginkan, tak ada yang kuharapkan, tak ada yang kukhawatirkan, kehidupanku seperti penuh, dan kesadaranku seperti sedang istirahat. Dari semua orang muda pada musim itu, kurasa tak seorang pun yang m enarik. Pangeran K. tidak m enarik, pun Duta Besar kam i tidak m enarik, padahal ia m em uja-m uja aku. Yang satu tam pak m uda, lainnya tam pak tua, si Inggris beram but pirang, dan si Perancis berjanggut kecil, semua sama saja bagiku, dan m ereka pun sem ua berguna. Hanya seorang dari m ereka, yaitu bangsawan D., seorang Italia, m enarik hatiku lebih dari yang lain karena keberaniannya m enyatakan kekagum annya terhadapku. Dia tak pernah melepaskan kesempatan untuk bersama denganku, berdansa atau berpacu denganku, berada di tempat judi denganku, dan m enyatakan pula betapa cantiknya aku. Berkali-kali kulihat dia dari jendela sedang berdiri di depan rum ah kam i, dan sering kali tatapannya yang tak m enyenangkan dari m atanya yang nakal itu m em buat m erah m ukaku dan m elengos. Dia m asih m uda, tam pan, dan gagah, tetapi yang terbagus dari segalanya ialah senyum nya dan dahinya yang m en gin gatkan pada suam iku. Keserupaan in i m en akjubkan , terutam a karena pada paras m uka Sergei Mikhailich yang tam pan terlukis kebaikan hati dan ketenangan batinnya, sedangkan pada dia terlukis sesuatu yang kasar dan kurang ajar—pada bibir, sorot m ata, dan dagunya yang panjang. Aku yakin kem udian bahwa dia m encintaiku dengan penuh nafsu dan kadang-kadang aku pun m erasa iba padanya. Aku suka m eredakan dia dan m em bujuknya

Rumah Tangga yang Bahagia 111 agar berlaku sebagai seorang tem an yang dapat dipercaya dan waspada, tetapi dia menolak dengan keras tawaranku itu serta m elanjutkan bujuk rayunya terhadapku dengan cinta asm aranya yang setiap saat siap m engham bur dari bibirnya. Aku takut orang ini, meskipun kutolak perasaan demikian itu, dan sering kali aku memikirkan dia di luar kehendakku. Suamiku diperkenalkan kepadanya, dan kian lebih dingin dan angkuh suam iku terhadapnya dan terhadap kenalan kam i yang lain, yakni orang-orang yang m enganggap dia itu hanyalah sekadar seorang suam i bagi istrinya. Menjelang akhir musim aku jatuh sakit dan tak dapat ke luar rum ah untuk dua m inggu lam anya. Ketika suatu m alam aku pergi ke luar dari rumah untuk mendengarkan musik (buat pertam a kalinya aku m enam pakkan diri sejak aku sem buh) kudengar perihal kedatangan Nyonya S., wanita yang terkenal karena kecantikannya, yang di sini telah lam a ditunggu-tunggu orang. Ketika itu aku disam but dengan gem bira dan segera jadi pusat tempat kenalan-kenalanku berkerumun, tetapi sebagian besar dari kumpulan itu berkerumun sekeliling si cantik jelita yang baru. Tak ada lain yang dibicarakan orang selain tentang dialah. Mereka m enunjukkannya padaku, kulihat m em ang dia cantik dan m enarik, tetapi aku tidak enak m elihat sorot m atanya yang bangga serta banyak cakap. Pada hari itu segala sesuatu yang biasanya m enggirangkan tam paknya m enjem ukan. Pada keesokan harinya Nyonya S. m erencanakan pergi ke istana benteng, tetapi aku m erasa enggan pergi. Kenyataannya tak seorang pun yang tinggal bersam aku dan segala sesuatunya berubah sama sekali di mataku. Setiap orang dan setiap benda tam paknya dungu dan m enjem ukan. Aku ingin m enangis, yang kuinginkan hanyalah cepat sem buh dan pulang ke Rusia. Hatiku berat, tetapi aku tak m erelakannya sekalipun buat diriku. Aku merasa lemah dan tak pernah menampakkan diri di kalangan

112 Leo Tolstoi itu lagi, hanya pada pagi hari kadang-kadang aku pergi keluar m inum air, atau naik kendaraan ke pedusunan yang ada di sekitar bersam a L.M., seorang wanita Rusia kenalanku. Suam iku sedang di Heidelberg pada waktu itu, menunggu aku selesai tetirah untuk kemudian kembali ke Rusia. Sewaktu-waktu dia datang menjenguk aku. Pada suatu hari Nyonya S. m em bawa serta sem ua orang pergi berburu, sedangkan L.M. dan aku sehabis m akan sore berpacu m enuju istana benteng. Kam i m ulai bercakap-cakap dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang tak pernah kam i lakukan sebelum nya tatkala naik kuda yang dijalankan dengan perlahan- lahan. J alan besar penuh dikelilingi dengan pohon-pohon kenari yang telah tua, dan m elalui celah-celah pohon yang rindang itu kam i dapat m elihat kilasan-kilasan alam pedusunan yang indah dan terawat rapi sekitar Baden, tertim pa cahaya m atahari yang akan terbenam . Meskipun telah lam a kukenal L.M., aku tak pernah menginsyai bahwa wanita ini ternyata seorang wanita yang baik hati dan cerdas, wanita yang bisa dipercaya dan m enyenangkan untuk dijadikan seorang sahabat. Kam i bercakap-cakap tentang keluarga, tentang anak-anak, dan tentang waktu yang terbuang dengan percum a di pesta- pesta. Kam i m enginginkan kem bali ke Rusia, ke negeri kam i, dan perasaan rindu kam pung halam an yang m eresahkan hati nam un nyam an m enyerang kam i dan m engam bil tem pat dalam diri kam i tatkala kami memasuki istana benteng. Sejuk dan teduh di dalam benteng, dan dari atas, dari tempat di mana sinar matahari bermain di atas puing-puing, datanglah bunyi telapak kaki dan suara-suara lain. Pem andangan alam Baden m em bingkai di pintu gerbang—indah, m em pesonakan bagi orang Rusia. Kam i duduk istirahat dan m em andang dengan diam -diam ke arah m atahari yang lagi terbenam .

Rumah Tangga yang Bahagia 113 Suara-suara orang jadi lebih jelas terdengar dan kudengar ada yang sedang m em percakapkan aku. Suara tersebut tak asing lagi, itulah suara bangsawan D. dan suara seseorang yang juga kukenal, orang Perancis. Mereka sedang mempercakapkan aku dan Nyonya S. Orang Perancis itu sedang m em banding-bandingkan antara keduanya dan m enguraikan bentuk-bentuk keindahan kam i. Dia tidak m engucapkan perkataan yang m enyinggung perasaan, tetapi darah di mukaku tersirap, ketika kudengar apa yang sedang diperkatakannya. Dia m enjelaskan bagian-bagian kam i yang bagus secara terperinci, aku dikatakannya sudah punya anak, sedangkan Nyonya S. baru sem bilan belas tahun, ram butku lebih tebal, sedangkan raut m uka Nyonya S. lebih m enarik, Nyonya S. bukan sem barang orang, “sedangkan sahabatm u itu hanya seorang wanita dari sekian banyak putri bangsawan kecil Rusia yang m ulai sering datang ke m ari”. Dia m enyim pulkan disertai peringatan agar aku secara bijaksana tidak mencoba m em banding-bandingkan diri dengan Nyonya S. dan bahwa aku kini telah m ati dan terkubur di alam Baden ini. “Aku m erasa iba padanya,” katanya, diiringi suara ketawa yang m enusuk hati serta kejam . “Kalau saja dia tidak berketetapan untuk mencari hiburan bersamamu.” “J ika dia pergi, aku akan m em buntutinya,” terdengar suara yang serak dengan logat Italianya. “Makhluk berbahagia! Laki-laki in i m asih dapat m en - cintainya!” kata orang Perancis itu tertawa. “Cinta!” suaranya bergem a, dan kem udian, sesudah berhenti sebentar, “Aku tak tahan tanpa cinta. Untuk itulah aku hidup— satu-satunya yang paling penting ialah m engubah hidup ke dalam hidup bercinta-cintaan. Dan petualangan cintaku takkan berhenti di tengah jalan. Aku ingin sam pai di ujungnya.”

114 Leo Tolstoi “Bonne chance, m on am i,”2 kata orang Perancis itu. Mereka tak kedengaran lagi karena mereka berjalan mengitari sudut, dan suara langkah kakinya kem udian terdengar di sebelah lainnya. Mereka turun tangga dan beberapa m enit kem udian mereka tampak di pintu samping, dan terkejut ketika melihat kami. Merah mukaku ketika bangsawan D. datang menghampiriku, dan tegaklah bulu rom aku tatkala dia m engulurkan tangannya sewaktu kami keluar dari benteng. Tetapi aku tak dapat menolak dan pergilah m enuju kereta, berjalan di belakang L.M. dan tem annya. Aku m erasa rendah diri teringat pada apa yang dikatakan orang Perancis itu, meskipun dalam lubuk hatiku kuakui bahwa apa yang dikatakannya itu aku pun telah m enduganya. Cara bangsawan itu berkata-kata m em ang kasar sekali hingga m engagetkan dan m engejutkan aku. Ada apa-apa yang tertekan dalam perasaannya yang tak kenal m alu itu selagi hadir di depanku, m eskipun sem estinyalah dia tahu bahwa kam i telah m endengarkan m ereka. Aku m erasa m uak berdekatan dengannya. Tanpa m elihat padanya, tanpa m enyahut, kupegang tangannya dem ikian rupa hingga takkan dirasakan olehnya bahwa aku lagi m engejar L.M. dan orang Perancis itu. Bangsawan itu sedang mengatakan sesuatu tentang keindahan pemandangan, tentang kegem biraannya yang tak disangka-sangka bertem u dengan aku. Aku sedang m em ikirkan suam iku dan anakku, dan Rusia. Aku m erasa m alu, aku m enyayangkan sesuatu, aku m enginginkan sesuatu, dan ingin cepat-cepat kembali ke kamarku di Hotel de Bade agar aku dapat sendirian, tak ada yang m engganggu dalam m em ikirkan itu sem ua. Tetapi L.M. berjalan pelan-pelan dan m asih jauh dari kendaraan, dan pengawalku ini tam paknya berm aksud m em perlam bat langkahnya seolah-olah dia m au m enahanku. “Mana bisa begitu!” pikirku, dan aku berusaha 2 Semoga berhasil, Temanku.

Rumah Tangga yang Bahagia 115 untuk berjalan lebih cepat. Tetapi ternyata dia m em egangku dan m enahan, bahkan dia m enjepit tanganku. L.M. berbelok dan kam i tinggal berdua. Aku m erasa takut. “Maafkan saya,” kataku dingin, dan m encoba m elepaskan tanganku, tetapi ujung lengan bajuku tersangkut di kancing jasnya. Dia m em iringkan badannya, napasnya dekat padaku, dan m ulailah ia m elepaskan ujung lenganku, dan tangannya yang tak bersarung itu m enyentuh tanganku. Suatu perasaan baru—entah ngeri, entah nikm at—m enyebabkan badanku gem etar sam pai saraf di punggungku seperti turun-naik. Aku m elirik kepadanya, berusaha untuk m enahan rasa m uak terhadapnya dan bukannya m em perlihatkan sinar m ata ketakutan dan gentar. Matanya yang membasah dan berapi-api itu dekat sekali ke mukaku, penuh- penuh m em andangku, leher dan napasku, kedua belah tangannya m em belai-belai lenganku, bibirnya yang terbuka m enggum am kan sesuatu—m engatakan bahwa dia m encintaiku, dan bahwa diriku m erupakan segala-galanya baginya. Bibirnya m akin dekat, m akin dekat, dan tangannya yang hangat sem akin m endekap badanku kuat-kuat. Sesuatu yang m enyala m engalir di pem buluh darahku, dan segala-galanya jadi gelap, aku m enggigil, dan kata yang ingin kuucapkan supaya dia m enghentikannya tersum bat di ker on gkon ga n . Tiba-tiba bibirnya terasa di atas pipiku, dan, dingin cam pur gem etar kuhentikan, lalu m elihat padanya. Tak berdaya untuk bicara atau bergerak—ngeri—m enunggu sesuatu, m enginginkan sesuatu. Ini berlangsung hanya sejenak, tetapi itulah saat yang m endebarkan jantung. Kulihat dia jelas sekali, kubaca wajahnya dem ikian nyata—dahinya yang rendah yang begitu m irip dengan dahi suam iku—tam pak dari pinggir topi jeram inya, hidungnya yang lurus dan m anis dengan lubangnya yang m engem bang, kum isnya yang panjang dan tebal beserta janggutnya, pipinya yang dicukur licin serta lehernya yang hitam terbakar sinar

116 Leo Tolstoi m atahari. Aku benci terhadapnya, aku takut padanya, dia asing bagiku, tetapi dalam pada itu betapa merasuk dan menggoda keasingan ini, seorang yang kubenci m uncul di dalam diriku! Betapa tak tertahan kan hasratku un tuk m em biarkan diriku dikecupi oleh m ulut yang kasap dan tam pan itu, untuk dipeluk oleh tangan-tangan yang halus belaiannya serta bercincin pada jarinya. Alangkah ingin aku m enjatuhkan diriku dengan kepala tersuruk ke dalam rawa kenikm atan terlarang yang dengan tiba- tiba terbuka di hadapanku dan sedang m enyeret aku! “Aku dem ikian sengsara!” pikirku. “Apa jadinya andaikata lebih banyak lagi kesialan yang m engerum uni diriku?” Tangannya yang sebelah lagi dililitkannya ke tubuhku serta dia m em bungkuk kepadaku. “Apa jadinya andaikata lebih banyak lagi noda dan dosa tercurah ke atas kepalaku!” “Je vous aim e,”3 dia berbisik dengan suara yang seperti suam iku. Kuingat suam iku beserta bayiku sebagai m akhluk yang pada suatu ketika begitu kukasihi, tetapi yang sekarang tiba-tiba m usnah. Tiba-tiba aku m endengar L.M. m em anggilku dari sekitar belokan. Aku lari kepadanya. Aku m asuk ke dalam kendaraan, dan hanya setelah itu aku m encuri pandang ke arahnya. Dia telah m em buka topinya dan sedang tersenyum serta m engatakan sesuatu. Dia takkan tahu bahwa dalam diriku ada kebencian terhadap dirinya yang tak terperikan pada saat itu. Rupa-rupanya dem ikian tak bahagia hidupku, demikian tak ada harapan hari depanku, demikian hitam m asa lam pauku! L.M. sedang berbicara kepadaku, tetapi apa yang dikatakannya itu tak kupaham i. Rasanya seperti dia sem ata-m ata berbicara hanya karena m erasa kasihan saja padaku, dan buat m enyem bunyikan pandangan yang m enistaiku, yang ada dalam hatinya. Kurasakan kenistaan dan rasa belas yang m enghina ini 3 Aku m encintaim u.

Rumah Tangga yang Bahagia 117 dalam setiap kata dan kejapan m atanya. Pipiku serasa terbakar karena malu oleh karena laki-laki itu telah menciumku, dan ingatan kepada suami dan anakku sudah tak tertahankan lagi. Sendirian dalam kamar, aku merasa ingin memikirkan peri keadaanku, tetapi aku takut sendirian. Tanpa kuhabiskan teh yang tersedia untukku, aku m ulai m engepak—serta-m erta tanpa berhen ti un tuk m em ikirkan m en gapa—beran gkatlah m en uju Heidelberg, menuju suamiku, dengan kereta api malam. Begitu aku m asuk bersam a babuku ke dalam gerbong kosong, maka berangkatlah kereta api dan udara segar menghembus ke arahku dari jen dela. Aku m ulai sium an dan m em asan g penglihatan seterang-terangnya ke m asa lam pau dan m asa depanku. Kulihat seluruh kehidupan perkawinanku sejak kam i pindah ke St. Petersburg dengan cara m em andang yang baru, dan hati nuraniku jadi m eronta. Kehidupan kam i di pedusunan sewaktu baru saja m enikah serta rencana-rencana yang kam i buat ketika itu, buat pertam a kalinya kem bali hidup dalam ingatanku, dan untuk pertam a kalinya aku bertanya pada diri sendiri tentang kesenangan apakah yang telah diperoleh suam iku selam a ini, lalu aku m erasa bersalah. “Tetapi m engapakah ia tidak m elarang aku?” aku bertanya pada diri sendiri. “Mengapa kemunaikan ini? Mengapa dia menjauhkan diri dari penjelasan? Mengapa menghina aku? Mengapa dia tidak mempergunakan pengaruh kekuatan cintanya terhadapku? Ataukah dia tidak m encintaiku?” Tetapi betapapun besar kesalahannya, cium an laki-laki itu telah menempel di pipiku, dan kurasakan itu di pipiku. Semakin dekat aku ke Heidelberg semakin jelas tampak suamiku dalam bayanganku, pula sem akin ngerilah aku m em bayangkan bagaim ana nanti aku berjum pa dengannya. “Akan kukatakan segala-galanya,” pikirku. “Kan kucucurkan air m ata penyesalan dan dia pun akan mengampuniku,” tetapi aku sendiri tidak tahu

118 Leo Tolstoi apa yang disebut “segala-galanya” itu, begitu pula aku tak tahu apakah dia juga mau mengampuniku. Tetapi sesudah aku m em asuki kam ar dan m elihat m ukanya yang tenang namun keheran-heranan, insyalah aku bahwa tak perlu kukatakan apa-apa padanya, tak perlu m em buat pengakuan, tak perlu m inta m aaf. Kesedihan dan penyesalanku yang tak terperikan ini harus tetap terkunci di dalam hatiku. “Mengapa ke m ari?” katanya. “Aku pikir, akulah yang besok pergi kepadam u.” Kem udian, sam bil m em andang dekat-dekat ke m ukaku, dia kelihatan jadi gelisah. “Ada apa gerangan?” tanyanya. “Tak ada apa-apa.” sahutku, ham pir tak dapat m em bendung air m ata. “Kedatanganku ini untuk seterusnya. Aku siap kem bali ke Rusia, besok pun boleh jika kau m enghendakinya.” Untuk beberapa lama dia diam saja, mengawasi aku dengan teliti. “Tetapi katakanlah apa yang terjadi,” ulangnya. Merah mukaku dan kujatuhkan pandangan mataku ke bawah. Ungkapan rasa terperkosa dan terhina terbayang di wajahnya. Takut oleh pikiran yang tentunya bakal terlintas dalam benaknya, kukatakan saja dengan gaya bersandiwara yang aku sendiri tak tahu apakah aku m am pu m elakukannya. “Tak terjadi apa-apa, aku hanya jem u saja dan m erasa tertekan serta mulai berpikir tentang hidup kita dan tentang dirimu. Aku telah m em perlakukan kau tak sepantasnya dem ikian lam a! Mengapa aku kaubawa ke suatu tempat, sedangkan kau sendiri tak m au pergi ke sana? Aku telah bersalah dem ikian lam anya,” aku m engulangnya, dan kem bali lagi air m ata berlinang-linang m em enuhi m ataku. “Mari kita pulang ke desa untuk selam a- lam anya.” “Ah, nanti dulu, Sayang! J angan tergesa,” katanya dingin. “Mem ang aku pun girang bahwa kau ingin kem bali pulang ke kam pung halam an, karena kita tak banyak uang, tetapi buat

Rumah Tangga yang Bahagia 119 tinggal di sana, itulah hanya m im pi belaka. Aku tahu bahwa kau takkan pernah bisa tahan hidup di sana. Sekarang minumlah teh, itulah yang paling baik,” dan dia berdiri m em anggil pelayan. Tatkala kulihat sorot m atanya yang ragu-ragu dan rikuh, yang sedang ditujukan padaku, serta kubayangkan gerangan apakah yang sedang dia pikirkan perihal aku, m aka aku pun m erasa tersiksa oleh anggapan bahwa dialah sebenarnya yang jadi sebab-m usababnya. Tidak! Tidak m ungkin dia m em aham i diriku dan m em pedulikan aku. Aku berkata bahwa aku m au m elihat anakku dulu, dan kutinggalkan dia. Aku ingin sendirian, lalu menangis, menangis, menangis....

9 RUMAH DI NIKOLSKOYE yang kosong dan sudah lam a tak kenal api itu, kini hidup kem bali—tetapi apa yang dulu pernah hidup di dalam nya telah m ati. Mam an sudah lam a tiada, dan kam i m enyendiri pula sekalipun sekarang tak butuh lagi kesepian— karena hanya akan m em berati kam i saja. Musim dingin berjalan terseret-seret, aku sakit dan baru sembuh setelah kelahiran anakku laki-laki yang kedua. H ubunganku dengan suam iku berlanjut sedingin seperti di kota, tetapi di sini di pedusunan, setiap bilah papan di lantai, setiap serpih dinding, setiap potong perabotan, m engingatkan aku padanya pada waktu kuperoleh apa-apa yang telah hilang. Dan seolah-olah antara kam i berdua m en gan ga luka yan g tak dapat pulih kem bali—seakan -akan dia sedang m enghukum aku karena sesuatu sebab yang dia pura-pura tak tahu. Tak ada yang perlu kum intakan m aaf, tak ada alasan buat bertobat, satu-satunya hukum an yang dijatuhkannya padaku ialah ketidaksudiannya untuk m em berikan

Rumah Tangga yang Bahagia 121 seluruh dirinya, seluruh jiwanya, seperti dulu. Tetapi dia juga tak m em berikannya kepada siapa pun dan untuk apa pun—sem ua itu seakan-akan sudah lenyap dari dirinya. Kadang-kadang tim bul pikiran dalam benakku, apakah sebetulnya dia itu hanya pura- pura saja dan m aksudnya hanya sekadar m enyiksa diriku, dan bahwa sebenarnya perasaannya yang lam a itu m asih hidup dalam dirinya dan sedang diusahakan supaya bangkit kem bali? Tetapi, ia m enjauhi segala yang hendak dia percayai—seakan-akan dia itu m encurigai sesuatu yang disangkanya kulakukan dengan dibuat- buat, dan takut kalau-kalau segala perasaan yang tam pak terlihat itu akan terasa sebagai sesuatu yang m enggelikan saja. Sorot m ata dan suaranya berkata, “Aku tahu segalanya, tahu benar-benar— m alahan tahu apa yang bakal kaukatakan. Aku tahu bahwa kau akan mengatakan ini-itu.” Mula-mula aku merasa tersinggung oleh ketakutannya untuk m em percayaiku lagi, tetapi perasaan ini kem udian jadi biasa, karena aku tahu bahwa yang dem ikian bukanlah takut, m elainkan kesegananlah yang m enyebabkan dia m enjauhkan diri dari sikap percaya padaku. Aku sendiri tak dapat begitu saja m engatakan bahwa aku cinta padanya, atau meminta dia agar mengucapkan doa bersama-sama denganku, atau memanggil dia untuk mendengarkan aku bermain piano. Suatu aturan sopan-santun tertentu menguasai tingkah-laku kam i m asing-m asing, seorang terhadap lainnya. Ia punya urusan, dan aku tak perlu campur tangan, dan aku pun sekarang tak ada hasrat untuk m elakukannya. Aku m erasa enggan untuk m engharubiru perasaan hatinya lagi. Anak-anak m asih terlalu kecil untuk mempertemukan kami. Tetapi tibalah m usim sem i, dan Katya bersam a Son ya datang ke dusun buat melewatkan musim panas. Rumah kami di Nikolskoye sedang dibangun kem bali, karena itu kam i pindah ke Pokrovskoye. Rum ah kam i m asih seperti rum ah lam a dengan beranda depan, m eja-tarik dan piano di ruang duduk yang

122 Leo Tolstoi cerah, kam arku yang dulu dengan tirai jendela yang putih serta m im piku dari m asa gadis seakan-akan m asih ada di baliknya dan dilupakan. Di kam arku itu ada dua buah ranjang kecil—yang satu ranjangku yang dulu, kini tem pat aku pada m alam hari m em buat tanda salib pada tubuh Kokosha, yang tergolek di situ dengan tangannya yang m ontok direntangkan, lainnya ranjang kecil sekali, di situlah wajah Vanya yang m ungil m enyem bul dari kain- kain selim ut badannya. Setelah m em buat tanda salib pada tubuh m ereka, aku berdiri di tengah-tengah kam ar yang sunyi itu. Dan tiba-tiba m uncullah pem andangan dulu yang telah kulupakan, pemandangan sewaktu aku masih gadis, datang memanjat dari sudut, dari dinding, dari tirai. Kudengar nyanyian sewaktu aku m asih rem aja. Apakah yang terjadi dengan m im pi-m im piku itu? Dengan nyanyian yang indah m erdu itu? Ham pir-ham pir tak perlu aku m engharapkannya karena m em ang telah datang benar- benar. Mim pi-m im piku yang kalang-kabut dan sam ar-sam ar telah jadi kenyataan, dan kenyataan jadi kehidupan yang tak kenal belas kasihan, banyak liku-likunya, pula tak m enggem birakan. Dan di sini segalanya tetap tinggal sam a—kulihat kebun yang itu juga m elalui jendela, halam an rum put yang itu juga, jalan setapak yang itu juga, bangku yang itu juga di dekat ngarai, burung bulbul yang itu juga yang sedang bernyanyi di dekat kolam , bunga lilak yang itu juga yang sedang m ekar penuh, dan bulan yang itu juga yang tengah m engam bang di atas rum ah. Dan pada waktu yang sam a segalanya telah berubah begitu m engerikan, begitu sukar untuk dipercaya! Segala yang tadinya dem ikian akrab dan indah jadi demikian dingin dan asing, jadi samar-samar. Seperti dulu, aku pun sekarang duduk bersam a Katya di ruang tamu, sambil berbicara pelan-pelan tentang dia. Tetapi Katya yang ini adalah Katya yang sudah keriput dan tam pak sakit- sakitan, m atanya tak lagi bercahaya seperti dulu—bukan m ata yang penuh kegem biraan dan harapan—tetapi m ata yang penuh

Rumah Tangga yang Bahagia 123 dengan ucapan turut m erasakan kesedihan dan penyesalan. Apa yang kam i bicarakan tak lagi sam pai m engasyikkan seperti kalau kami sedang mempercakapkan dia dulu, sekarang kami duduk-duduk seraya m enilai-nilai dia. Kam i tak lagi bertanya- tanya m engapa kam i bahagia, pula tak ada keinginan untuk m em bicarakan seluruh dunia yang sedang kam i pikirkan. Kam i duduk sam bil berbisik-bisik, satu sam a lain, bagaikan orang yang sedang berkom plot. Beratus-ratus kali kam i saling m enanyakan m engapa segala sesuatunya jadi berubah m enyedihkan? Dan Sergei Mikhailich tetap begitu juga, seperti dulu, hanya garis antara alisnya kian m engerut lebih dalam , dan ram but di pelipisnya m em utih, serta sorot m atanya yang seperti m enyelidik itu selalu saja menghindar dari aku. Dan aku pun begitu juga, namun dalam diriku tak lagi ada cinta, juga tak ada keinginan untuk m encintai. Aku m erasa tak perlu bekerja, dan tak ada kepuasan dalam diriku. Betapa jauhnya, betapa tak m ungkinnya aku kembali bisa khidmat beribadat seperti dulu, dan dengan cintaku yang lam a terhadapnya, pula peri kehidupanku dulu yang penuh. Aku tak lagi m em aham i apa yang dulu tam pak terang benderang dan benar, kebahagiaan hidup untuk orang lain. Mengapa untuk orang lain, sedangkan untuk diri sendiri saja aku sudah tak ada hasrat buat hidup? Musik telah sama sekali kutinggalkan sejak aku pergi ke St. Petersburg, tetapi sekarang piano tua dan musik lama kembali menarik hatiku. Pada suatu hari aku merasa tidak enak badan dan tinggal sendirian di rum ah sewaktu Katya dan Sonya pergi bersam a dia ke Nikolskoye untuk m elihat sam pai di m ana rum ah itu selesai dikerjakan. Meja telah disiapkan untuk minum teh, aku turun ke bawah dan duduk pada piano dan m enunggu m ereka. Kubuka Beethoven pada Sonata Quasi Una Fantasia dan m ulailah aku berm ain. Tak ada seorang pun yang m elihat atau m endengarkan,

124 Leo Tolstoi jendela yang m enghadap ke kebun terbuka, dan suara yang syahdu m enyedihkan serta akrab m em enuhi ruangan. Aku telah selesai dengan bagian pertam a, dan sungguh tanpa kusadari—hanyalah karena dorongan kebiasaan belaka—aku m elirik ke sudut tem pat dia biasanya m endengarkan. Ia tidak ada di sana, kursinya ada di sudut, telah lam a tak ada yang m engganggu. Lewat jendela kulihat jelas rumpun lilak terpampang ditimpa sinar matahari yang sedang terbenam , dan udara sore hari yang sejuk m asuk ke dalam m elalui jendela. Kuletakkan siku di atas piano, lalu mukaku kutumpangkan di atas tangan, merenungkan dengan pilu m asa lam pau yang telah pergi takkan kem bali, dan dengan m alu- malu kupikirkan pula masa depan. Tetapi aku tidak melihat apa- apa pada m asa depanku. Rasa-rasanya aku m enginginkan yang tiada dan m engharapkan yang tiada. “Dapatkah aku m enem puh hidup ini?” Aku bertanya-tanya, sam bil m engangkat kepala, lalu berm ain kem bali untuk m elupakannya dan bukan untuk m engingatnya, dan lagi-lagi itulah Andante yang sam a. “Tuhanku Yan g Pen gasih,” kuhirup n apas dalam -dalam , “am pun ilah sekiranya aku bersalah, dan kem balikanlah padaku sem ua yang pernah dem ikian indah, atau ajarilah aku bagaim ana seharusnya, bagaimana aku menempuh hidup ini.” Kudengar suara roda kereta di atas rum put, dan bunyi langkah kaki yang hati-hati dan tak asing lagi terdengar di pintu m uka dan di beranda, lalu sunyi. Nam un bunyi kaki yang tak asing itu tak lagi m em bangkitkan perasaanku yang dulu. Ketika permainanku habis, suara langkah kaki itu ada di belakangku, dan sebuah tangan diletakkan di atas bahuku. “Betapa m erdu sonata itu,” katanya. Aku tidak m enjawab. Aku m enggelengkan kepala, tak m elihat padanya, hingga dengan begitu dia takkan tahu jejak-jejak perasaanku yang ada di wajahku.

Rumah Tangga yang Bahagia 125 “Beberapa m enit lagi m ereka akan tiba di sini—kudanya riang, karena itu mereka pergi keluar dan sedang menuju ke mari dengan cepat,” ujarnya. “Kita tunggu saja di sini sebentar,” kataku sam bil m au ke- luar dari beranda dengan harapan dia akan mengikutiku, tetapi yang dia tanyakan hanyalah anak-anak, lalu ia pergi m enem ui m ereka. Lagi-lagi kehadirannya dan suaranya yang ram ah-tam ah tapi tak lagi m esra itu m em beri kesan bahwa akulah yang salah duga, bahwa akulah yang telah kehilangan sesuatu. Apa lagi yang kuinginkan? Dia seorang suam i yang baik, ram ah, dan cakap, seorang bapak yang baik—dapatkah aku m inta lebih dari itu? Aku pergi ke luar beranda dan duduk di bawah tenda di bangku yang itu juga, bangku yang kududuki dulu tatkala dia m enyatakan cintanya padaku. Matahari telah terbenam dan sinar senja m ulai tampak, awan hitam tergantung di atas rumah dan di atas kebun, dan hanya di atas pepohonan terlihat garis-garis langit yang cerah berhiaskan cahaya lem bayung dari m atahari yang lagi terbenam dengan bintang yang baru saja m uncul. Bayang-bayang awan m enjalari setiap yang ada, dan yang ada sedang m enunggu curahan ringan hujan m usim sem i. Angin m ati, tak selem bar pun daun dan rum put bergoyang, harum sem erbak bunga lilak dan ceri burung begitu m enyengat hidung hingga seluruh udara seakan- akan sedang pesta bunga. Harum bunga itu memenuhi kebun dan beranda, datang bergelombang demi gelombang, terkadang lem ah, terkadang kuat m enyengat. Manusia ingin m em ejam kan m atanya, tak ingin berkata-kata, tak ingin m endengarkan apa- apa, yang ada hanyalah m enghirup-hirup dalam keharum an yang nyam an ini. Bunga dahlia dan m awar m asih belum m ekar, kelihatannya seperti m erayap perlahan-lahan pada pagar. Katak berkerak-kerok nyaring dan bergetar di ngarai, m eski bunyinya itu buat terakhir kalinya sebelum hujan m enghanyutkan m ereka ke dalam air. Suara yang m elengking tinggi terdengar m engatasi

126 Leo Tolstoi segala keram aian ini. Burung bulbul sedang bersahut-sahutan, m erisaukan hati, ketika m ereka m elayang-layang terbang dari satu tempat ke lain tempat. J uga pada musim semi ini kukira burung itu sedang m em buat sarangnya dalam sem ak-sem ak di bawah jendela, tetapi tatkala aku keluar kudengar suaranya datang dari lorong, bersiul dan kem udian sunyi senyap, serta m en u n ggu -n u n ggu . Sia-sia aku mencoba menenangkan diriku, aku pun sedang menunggu-nunggu sesuatu dan sedang penuh diliputi rasa p en yesa la n . Ia datang ke bawah dan duduk di sisiku. “Aku khawatir Sonya dan Katya akan basah kuyup,” katanya. “Ya,” gum am ku, dan kem bali lagi kam i berdiam diri, lam a sekali. Tak ada angin, dan awan mengendap kian rendah kian rendah, segalanya jadi sem akin sepi dan sem akin harum . Tiba- tiba titik-titik hujan jatuh di atas atap tenda seperti mengambul. Yang lainnya jatuh di atas batu kerikil jalan setapak. Titik-titik hujan yang agak besar jatuh di atas daun-daun burdock yang lebar, sesudah itu m aka tercurahlah hujan yang segar, deras dan lebat. Seketika sunyilah burung bulbul dan katak, hanya ada satu suara yang gem etar m em bubung di udara, m eski akhirnya m enghilang ditelan hujan, dan beberapa ekor burung, yang agaknya bersem bunyi di bawah daun-daunan yang kering di dekat beranda, dengan teratur m engeluarkan dua nada suaranya yang m enjem ukan. Dia bangkit dan m au pergi. “Mau ke m ana?” tanyaku, aku m enahannya. “Begitu m e- nyenangkan di sini.” “Aku harus pergi m em bawa payung dan sepatu rangkap buat m er eka.” “Mereka tak m em erlukannya—sebentar lagi hujan pun akan reda.”

Rumah Tangga yang Bahagia 127 Ia m engiyakan aku, dan kam i tinggal di situ bersam a-sam a di dekat kisi-kisi beranda. Kusandarkan lenganku di atas kisi-kisi beranda yang basah dan licin lalu kutarik kepalaku dari bawah tenda. Hujan yang sejuk m em ercik kuat pada ram but dan leherku. Gumpalan awan kecil di atas berangsur-angsur menipis dan terang seperti sedang m engosongkan dirinya di atas kam i, kem udian suara hujan yang m enderap beralih m enjadi hujan m enitik jatuh dari langit dan daun-daunan. Kem bali katak di bawah m ulai lagi berkerak-kerok, kembali lagi burung bulbul memilukan hati dan bersahut-sahutan. Sekitar kami cuaca berangsur terang. “Bukankah itu m enakjubkan?” katanya, sam bil duduk di atas palang kisi-kisi dan m engusap-usap ram butku yang basah. Elusan yang sederhana ini seperti suatu penyesalan yang ditujukan kepadaku dan aku mulai menangis. “Apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang laki-laki?” tanyanya. “Aku begitu puas kini—tak m au apa-apa lagi, aku benar-benar b a h a gia !” “Bukan kebiasaanm u untuk m engatakan bahagia,” kataku dalam hati. “Kau tak biasa m engatakan begitu betapapun besarnya kebahagiaan yang kaurasakan, kau m asih m enginginkan sesuatu. Dan sekarang kau tenang bahagia, sedangkan hatiku penuh dengan penyesalan yang tak terperikan serta air m ata yang tak pernah mengalir keluar.” Akan tetapi kukatakan den gan n yarin g, “Aku m erasa puas juga, tetapi kepuasan demikian ini membuatku sedih. Segalanya begitu kacau-balau dalam diriku, begitu tak lengkap, aku senantiasa m enginginkan sesuatu, m eskipun segala-galanya di sini begitu indah dan penuh dengan istirah. Tak pernahkah alam terbangun dalam dirim u laksana kesenangan yang m urung, seakan-akan kau m enginginkan apa-apa yang tak m ungkin, dan m enyayangkannya karena ada sesuatu yang telah pergi?” Dia m engangkat tangannya dari kepalaku dan sunyi sebentar.

128 Leo Tolstoi “Biasanya begitu, terutam a kalau m usim sem i,” katanya, seperti sedang m engingat-ingat sesuatu. “Aku juga, tak dapat tidur pada malam hari, menanti dan mengharapkan sesuatu— m alam -m alam yang indah itu! Tetapi kem udian segala-galanya ada di depanku, dan sekarang segala-galanya ada di belakang, kini cukuplah aku dengan yang ada, aku cukup puas.” Dia m engakhirinya dengan penuh hati-hati serta m eyakinkan hingga, m eskipun terasa sakit di hatiku sewaktu m endengarkannya, nam un aku percaya bahwa dia berbicara benar. “Dan karena itu tak ada yang kauinginkan?” tanyaku. “Tak satu pun yang tak m ungkin,” jawabnya, m enduga-duga apa yang sedang kurasakan. “Kepalam u basah,” tam bahnya, dan tangannya kem bali m engusap-usap ram butku, m em belaiku seperti aku ini seorang anak. “Kau iri hati pada daun-daunan dan rum put-rum putan karena m ereka dibasahi hujan—kau ingin seperti daun dan rumput dan hujan. Tetapi aku sudah cukup puas dengan hanya m elihat m ereka itu, seperti pula terhadap setiap yang m asih m uda dan cantik dan bahagia.” “Dan tak ada sesuatu yang kausesalkan di m asa yang lam pau?” Aku m eneruskan bertanya, m erasa sem akin berat sem akin berat di dalam hati. Dia m en im ban g-n im ban g seben tar. Aku dapat m elihat ketakutannya untuk berterus terang. “Tidak,” katanya singkat. “Itu tidak betul! Tidak betul!” teriakku, sam bil m em balik dan m elihat ke dalam m atanya. “Tidakkah kau m enyesali apa-apa yang telah hilang dari kita?” “Tidak,” ulan gn ya. “Aku berterim a kasih kepada m asa lam pau, bukan m enyesal.” “Tetapi apakah kau tak ingin agar itu kem bali?” aku m endesak. Dia berpaling dan memandang ke dalam kebun.

Rumah Tangga yang Bahagia 129 “Aku tak m enginginkannya lagi, karena kalau begitu aku m en gin gin kan sesuatu yan g m ustahil,” katan ya. “Itu tidak m u n gkin .” “Dan apakah kau tidak pernah m enem ukan apa-apa yang salah pada masa lampau? Tak pernah ada kejengkelan, baik terhadap dirimu ataupun terhadap diriku?” “Tak pernah. Segala-galanya punya itikad baik.” “Coba dengarkan,” kataku, sam bil m enyentuh tangannya agar dia m elihat padaku. “Mengapa kau tak pernah m engatakan padaku bahwa kau ingin agar aku dapat hidup sesuai dengan apa yang kaupandang? Mengapa kauberi aku kebebasan yang aku sendiri tak tahu bagaim ana harus m em pergunakannya? Mengapa kau berhenti m engajariku? Sekiranya kau m enginginkannya, sekiranya kau m em bim bing aku, takkan pernah ada yang terjadi, tak ada.” Dan suaraku naik jadi suara kejengkelan dan kekesalan yang dingin, tanpa cinta seperti dulu. “Apakah ada sesuatu yan g takkan pern ah terjadi itu?” tanyanya keheranan, m em balik kepadaku. “Tak ada yang takkan pernah terjadi. Segala-galanya adalah baik, sangat baik,” dia m enam bahkan sam bil tersenyum . “Apakah boleh jadi,” aku bertan ya-tan ya dalam hati, “bahwa dia itu tak m em aham i aku, atau lebih jelek lagi tak m au memahamiku?” dan air mataku merembes keluar. “Takkan pern ah terjadi, hin gga aku sen an tiasa m erasa dihukum oleh ketidakacuhan, malah kesombongan, meski kau tak m enim pakan itu kepadaku,” aku m elolong. “Takkan pernah terjadi, sehingga kau m eram pas dari aku apa yang kupuja-puja walau aku polos sekalipun.” “Mengapa, apa yang kaukatakan itu, Sayang?” katanya seperti tak memahami diriku. “J angan m em otong pem bicaraan, biar kukatakan sem uanya. Kau telah m engam bil segala-galanya dariku, kepercayaanm u,

130 Leo Tolstoi cintam u, penghargaanm u, dan apa-apa yang pernah ada padaku, aku tak lagi percaya bahwa kau m encintaiku. Tunggu, harus kukatakan segala yang telah m enyiksa diriku begitu lam a,” kataku ketika m encoba lagi berbicara. “Apakah aku salah bila aku tak tahu hidup, dan kau membiarkan aku belajar sendiri? Apakah aku salah, tatkala kupaham i apa-apa yang kuinginkan, tatkala ham pir satu tahun aku berdaya upaya dengan segala cara agar aku kembali kepadamu, sedangkan kamu malah menampik aku, seakan-akan kam u tak tahu apa yang kuinginkan? Dan kau berlaku sedem ikian rupa sam pai tak ada penyesalan, dan sam bil begitu m em buat diriku supaya m erasakan sebagai satu-satunya orang yang bersalah dan tak bahagia. Ya, kau ingin m elem parkan aku kem bali ke dalam kehidupan yang bisa m em buat m alapetaka baik terhadapmu maupun terhadapku.” “Apa yang m enyebabkan kau punya pikiran begitu?” tanyanya, benar-benar heran dan m erasa diberitahu akan adanya bahaya. “Bukankah kau yang m engatakan kem arin bahwa aku takkan pernah dapat tinggal di sini? Dan bukankah kau yang tak henti- hentinya berkata bahwa pada m usim dingin kita akan kem bali ke St. Petersburg yang aku benci? Daripada kau m enolong aku, malah aku dibiarkan, tak pernah ada kata-kata halus dan mesra yang kaukatakan. Dan pabila kem udian aku jatuh sam a sekali kau akan menistaiku dan bergembira bahwa aku telah jatuh.” “Tunggu,” katanya keras dan dingin. “Apa yang kaukatakan itu tidak benar. Itu hanya m enandakan bahwa kau punya pikiran jelek terhadapku, dan bahwa kamu tidak....” “Tidak m encintaim u? Katakan itu! Katakan itu!” kataku m engakhirinya, dan m enangis m elolong-lolong. Aku duduk di bangku dan menutup muka dengan sapu tangan. “Dan itulah dia, bagaim ana caranya dia m em aham iku!” pikirku, sam bil m encoba m enahan isak tangis yang m enyesak pada diriku. “Cinta kam i telah pergi, pergi,” begitulah selalu

Rumah Tangga yang Bahagia 131 suara yang ada dalam diriku. Apa yang telah kukatakan itu m enyinggung hatinya. Suaranya tenang dan dingin. “Aku tak tahu apa yang kausesalkan pada diriku,” katanya m ula-m ula. “Andaikata aku tidak m encintaim u sebagaim ana b ia sa n ya .” “Sebagaim ana biasanya!” gum am ku ke dalam sapu tanganku, dan air mata kegetiran makin menderas. “…kem udian sudah waktunya bahwa yang dem ikian itu salah, juga kita sendiri. Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri.” Dia berhenti. “Apakah aku harus m enyatakan seluruh kenyataan? Sekiranya kau tetap berpegang teguh pada ketulusan hatimu.... Seperti pada tahun ketika aku pertama kalinya m engenalm u, aku tidak dapat tidur sem alam -m alam an karena m em ikirkan kam u dan karena cinta yang tum buh dalam hati yang kian m em besar. Dem ikian pula di St. Petersburg dan di luar negeri terdapat m alam -m alam yang m endahsyatkan bilam ana aku tak dapat tidur, karena cinta yang berkobar dalam hati kupupus habis. Cinta itu sendiri tak kubinasakan, yang kupupus hanyalah apa-apa yang m enyiksa diriku, aku m enem ukan kedam aian, dan tetap m encintaim u, tetapi caranya sudah lain.” “Kaunam akan itu cinta, bukan… itulah siksaan,” gum am ku. “Mengapa kaubiarkan aku hidup di dalam kalangan pergaulan itu sekiranya kau berpendapat bahwa cara hidup yang dem ikian adalah nista, hingga kau berhenti mencintaiku demi cinta itu sen d ir i?” “Bukan pergaulannya, Sayang.” “Mengapa kau tidak m em pergunakan kekuatanm u untuk m enguasai diriku?” aku m eneruskannya. “Mengapa kau tidak memegang aku erat-erat, membunuhku? Itulah lebih baik daripada m enghilangkan segala yang m em buat diriku bahagia. Aku akan puas dan tidak m alu.”

132 Leo Tolstoi Kem bali aku m en an gis tersedu-sedu sam bil m en utup mukaku. Pada saat itu Katya dan Sonya, basah dan riang, m em asuki beranda, tertawa-tawa dan berbicara keras-keras, tetapi begitu dilihatnya kam i ada lantas saja m ereka m engundurkan diri tanpa berkata apa-apa. Lam a sekali kam i duduk dalam kesunyian setelah m ereka pergi. Aku m enjerit dalam hati, lalu aku m erasa lega. Kulirik dia. Dia sedang duduk dengan kepala di atas tangannya, dan tam paknya seperti ingin m engatakan sesuatu untuk m enjawab lirikanku, nam un hanya m engeluh keras dan kem balilah ia m em benam kan kepalanya ke dalam tangannya. Kudekati dia dan kutarik tan gan n ya. Dia m em balikkan badannya, m em andang sam bil m erenung padaku. “Ya,” katanya, seakan-akan dia m elanjutkan lagi pikirannya. “Kita ini, sem ua, tetapi terutam a kau sebagai wanita, harus hidup melalui kedangkalan kehidupan sedemikian agar dapat m enem ukan kehidupan yang sebenarnya. Tak seorang pun dari kita dapat m em etik m anfaat dari pengalam an orang lain. Kam u sedang jauh dari hidup yang dangkal dan m anis ini, dan aku m em perkenankan kau pergi untuk m engalam inya sendiri, karena aku m erasa bahwa aku tidak punya hak untuk m em batasi dirim u, m eskipun aku sendiri telah lam pau m asanya untuk berbuat begitu.” “Men gapa kau tin ggal bersam a aku dan hidup m elalui pengalam an itu bersam a aku bila kau m encintaiku?” tanyaku. “Karen a m eskipun aku m en gin gin kan n ya agar tidak mengalami hidup serupa itu, toh kamu tidak akan mengindahkan aku dengan hanya berkata-kata saja. Kau sendiri harus m elihatnya, dan kau telah m elakukannya.” “Kau terlalu ban yak pertim ban gan dan terlalu sedikit mencinta,” kataku.

Rumah Tangga yang Bahagia 133 Kem bali kam i berdiam diri. “Apa yang baru kaukatakan m em ang kejam , tetapi itu benar,” katanya sam bil serentak bangkit, kem udian m elangkah kian ke m ari di beranda. “Ya, itulah benar. Dulu aku salah,” dia m enam bahkan, seraya berhenti di depanku. “Seharusnya salah satu kupilih, yakni tidak m em biarkan diriku m encintaim u, atau aku m encintaim u dengan cara yang lebih sederhana.” “Marilah kita lupakan segalanya,” kataku m alu-m alu. “Tidak, apa yang telah terjadi tak dapat dihapuskan, takkan pernah, takkan pernah dapat dihapuskan,” dan suaranya sem akin lembut ketika dia mengatakan itu. “Apa pun dapat dihapuskan,” kataku sam bil m eletakkan tanganku di atas pundaknya. Dia m eraih tanganku dan m enekannya. “Taklah benar pabila tadi kukatakan bahwa aku tidak punya rasa penyesalan. Aku m enyesali m asa lam pau. Aku m eratapi cinta yang telah m ati, cinta yang takkan hidup kem bali itu. Siapakah yang bersalah dalam hal ini? Tak tahu aku. Cinta tetap, tetapi bukan seperti yang pernah terjadi. Tem pat untuk cinta telah ditinggalkan, tetapi cinta itu sendiri telah mengalami penderitaan, tak ada lagi daya kekuatan atau tenaga yang tinggal. Kita hanya dapat m engenangkannya dan m erasa bersyukur, tetapi....” “J angan katakan itu,” aku m enyela. “Segalanya akan sebiasa lagi bagiku. Bisa ‘kan, begitu?” aku bertanya sam bil m em andang ke dalam niatannya. Tetapi m atanya itu bening dan hening, pula tak melihat mataku dalam-dalam. Dan tatkala aku berkata, aku m enyadari bahwa apa yang kukemukakan sebagai pembelaan itu tidaklah mungkin. Dia tersenyum —senyum tenang dan ram ah, senyum orang yang tam paknya telah tua. “Kau benar-benar m asih m uda, sedangkan aku sudah tua!” katanya. “Apa yang ada dalam diriku tak lagi seperti yang kam u

134 Leo Tolstoi cari—m engapa m au m enipu diri sendiri?” tam bahnya, sam bil terus tersenyum . Aku berdiri diam di sam pingnya dan hatiku m erasa lebih r in ga n . “Tak m au kita m encoba m engem balikan apa yang telah pergi,” katanya m enyim pulkan. “Tak m au kita m em bohongi diri sendiri. Dan jika tak ada lagi kecemasan dan kegirangan lama, m arilah kita m engucap syukur untuk itu! Tak ada yang kita cari, tak ada yang m engharubiru kita. Tak sedikit kebahagiaan yang telah kita punyai. Sekarang sudah waktunya kita m enyisih buat m em beri jalan padanya,” katanya sam bil m enunjuk kepada Vanya yang ada dalam pangkuan perawat yang sedang berhenti di pintu. “Nah, begitulah, Sayang,” dia m engakhirinya sam bil m erunduk, m encium aku pada kepala. Dan cium annya itu bukan cium an seorang pencinta, melainkan seperti ciuman kawan lama. Dan dari kebun, datanglah keharum an m alam —lebih keras dan lebih nyam an. Lalu kian syahdu bunyi dan kesunyian, kian berkelap-kelip bintang-bintang bersinar. Aku m elihat padanya, tiba-tiba saja hatiku m erasa lebih ringan, seolah-olah syarafku yang sakit telah dipindahkan. Dengan jelas dan tenang aku m enyadari bahwa cinta m asa itu telah pergi untuk selam a- lam anya, dan bahwa bukan saja tak m ungkin untuk m enghidupkan kem bali, tetapi m alah akan sakit dan m erana buat m elakukannya. Dan apa yang telah terjadi benar-benar m enakjubkan, karena bukankah m asa itu seakan-akan telah m em bahagiakan? Ah, alangkah jauhnya m asa dulu, alangkah jauhnya m asa dulu itu terjadi! “Kita telah lupa m inum teh,” katanya, dan kam i m asuk ke kamar tamu bersama-sama. Di pintu masuk, kembali kam i bertem u dengan perawat yang m em bawa Vanya dalam pelukannya. Kuam bil bayi itu, kuselim uti kakinya yang putih kem erah-m erahan, kudekap dan kucium dia, dengan lahapnya

bibirku m encium i dia. Bayi itu m erekahkan jari-jarinya, seakan- akan terkantuk-kantuk, kem udian m atanya yang tersilau-silau itu dibukanya, seperti m encari sesuatu atau m engingat-ingat sesuatu. Tiba-tiba begitu saja m atanya m enatap padaku, dan cahaya berkilat dalam m atanya, kerenyut bibirnya yang penuh, lalu m em bukakan sebuah sen yum an . “Milikku, seluruhn ya m ilikku!” pikirku. Dengan segala denyut kebahagiaan yang ada dalam sekalian anggota badanku kudekap dia ke dada, hingga nyaris m enyakiti tubuhnya. Lalu m ulailah aku m engecupi kakinya yang kecil dan kedinginan itu, kem udian perut dan tangannya, kepalanya yang m ungil itu kuselim uti dengan kain wol. Suam iku m engham piri aku. Cepat-cepat kuselim uti m uka sang bayi, tapi terbuka lagi. “Ivan Sergeich!” kata suam iku, sam bil m enggam it ke bawah dagunya dengan tangannya. Tetapi selim ut Ivan Sergeich buru- buru ditutupnya kem bali. Hanya akulah yang telah m em andang lam a-lam a kepadanya. Aku m elirik kepada suam iku, dan m atanya tersenyum m elihat padaku. Dalam beberapa saat lam anya, untuk pertam a kalinya aku m erasa gem bira dan terasa ringan di dalam hati tatkala aku m enatap ke dalam dirinya. Hari itu berakhirlah petualangan cintaku dengan suamiku. Cintaku yang lam a tetap m erupakan kenang-kenangan yang indah dan takkan kembali. Tetapi sesuatu perasaan baru, perasaan cinta terhadap anak-anakku dan bapaknya, m eratakan jalan awal kehidupan lain yang bahagia, sesuatu yang lain sam a sekali, dan kehidupan ini tak pernah berakhir sampai hari ini. [•]

Leo Tolstoi PENGARANG RUSIA yang terkenal ini dilahirkan pada tanggal 28 Agustus 1828. Ia lebih suka belajar sendiri daripada bersekolah, tapi sempat belajar bahasa-bahasa asing dan ilmu hukum di Universitas Kazan. Karangan-karangan J ean J aques Rousseau berpengaruh besar pada alam pikiran, cita-cita dan hidupnya. Setelah hidup senang sam pai tahun 1851, ia m endaftarkan diri m enjadi anggota resim en artileri di Kaukasus, daerah antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Ia turut serta dalam Perang Krim ea dan sesudah m em pertahankan Sebastopol ditulisnya Kisah- kisah Sebastopol yang m em buat nam anya m ulai dikenal sebagai pengarang. Bukunya Masa Kanak-kanak m endapat sam butan baik di m ana-m ana, dem ikian pula buku berikutnya Masa Muda dan Masa Rem aja. Tahun 1859 ia m endirikan sekolah untuk anak-anak petani. Untuk keperluan itu ia mempelajari metodik dan didaktik di St. Petersburg, J erm an, Prancis, Italia, dan Inggris. Sekolahnya itu kemudian menjadi contoh bagi sekolah-sekolah di negeri Rusia.

Rumah Tangga yang Bahagia 137 Tahun 1862 ia m enikah dengan Sofya Bers, gadis yang lebih m uda 16 tahun daripadanya, dan dari perkawinannya itu m em peroleh 13 orang anak. Rom an besarnya Perang dan Dam ai m enggem parkan pem bacanya, disusul dengan rom an Anna Karenina, sehingga ia diakui sebagai pengarang terbesar di Rusia. Tapi bukunya yang berjudul Sebuah Pengakuan m enandakan adanya perubahan dalam hidup dan karyanya, ia m enjadi seorang nasionalis dan m oralis yang ekstrem . Ia m enulis artikel-artikel tentang agam a, m em buang gelar Count-nya, berpakaian seperti petani, dan m enerbitkan buku-buku tipis yang berharga m urah agar orang-orang m iskin dapat m enikm ati kesusastraan. Karena cita-cita dan hidupnya yang ekstrem itu, ia bukan hanya tidak disukai oleh gereja dan pem erintah, tapi juga oleh istrinya sehingga lam a-lam a rum ah tangganya terasa olehnya sebagai neraka. Akhirnya Tolstoi m eninggal dunia tanggal 7 Novem ber 1910 , tak lam a setelah ia m elarikan diri dari rum ahnya.





LeO TOLSTOI rUmah TanGGa YanG BahaGIa Rumah Tangga yang Bahagia merupakan kisah cinta yang sederhana antara Marya Alexandrovna dan Sergei Mikhailich. Dengan gambaran detail suasana pedesaan dan gejolak perasaan Marya, Tolstoi menyajikan cerita ini dengan sangat memikat dan gempita. Leo Tolstoi dilahirkan pada 28 Agustus 1828. Tahun 1859 ia mendirikan sekolah untuk anak-anak petani dengan bekal ilmu metodik dan didakik dari St. Petersburg, Jerman, Prancis, Italia, dan Inggris. Sekolahnya kemudian menjadi contoh bagi sekolah-sekolah di negeri Rusia. Roman besarnya Perang dan Damai menggemparkan pembaca, disusul dengan roman Anna Karenina, sehingga ia diakui sebagai pengarang terbesar di Rusia. Bukunya yang berjudul Sebuah Pengakuan menandakan perubahan dalam hidup dan karyanya yang menjadikannya seorang nasionalis dan moralis ekstrem. SASTRA KPG: 59 16 01226 KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA) Gedung Kompas Gramedia, Blok 1 Lt. 3, Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270 Telp. 021-53650110, 53650111 ext. 3359; Fax. 53698044, www.penerbitkpg.com KepustakaanPopulerGramedia; @penerbitkpg; penerbitkpg


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook