Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore EBook3_Menjemput Hidayah

EBook3_Menjemput Hidayah

Published by wishnugiar, 2022-12-15 02:09:24

Description: EBook3_Menjemput Hidayah

Search

Read the Text Version

Menjemput Hidayah Banyak hal selama ini yang sudah kulewatkan, jangankan salat sunah duha dan tahajud, salat lima waktu yang wajib saja masih sering terlambat dan terkalahkan oleh banyak kesibukan pekerjaan, jangankan untuk puasa sunah Senin dan Kamis, puasa Ramadanpun masih tambal sulam. Aku hanya bisa tertunduk diantara tujuh jamaah lainnya di Mushola itu, rasanya menyesal dan ingin menangis segera memohon ampun atas semua kelalaian ini, kelalaian menaati aturan Allah untuk menjauhi Riba dan sejenisnya, dan ketika ustaz Fikri sampai kepada hadist riwayat Ibnu Majah nomor 2274 yang menjelaskan “Riba itu ada tujuh puluh dosa, yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” Aku seolah tak sanggup lagi berkata-kata, bahkan untuk sekedar mengangkat wajah memandang orang di sekitarku. Setelah kejadian Rabu malam itu, aku lalu memutuskan untuk mengevaluasi semua sisi yang menyertai kehidupanku, berniat untuk kembali mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, memantaskan diri untuk menjadi hambaNya yang taat, menjauhi semua yang dilarangNya dan berusaha meraih keberkahan serta keridoanNya. Aku bertekad untuk melepaskan diri dari utang terutama yang mengandung unsur riba tanpa kecuali dan tanpa mencari-cari pembenaran atas apa yang telah keliru dilakukan selama ini, sebab jelas sekali dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 278- 279 Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” “Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat maka kamu berhak atas pokok hartamu, kamu tidak berbuat zalim dan tidak pula dizalimi.” Benar saja, tak lama setelah mengevaluasi, badai itu datang, tiba-tiba saja perekonomian rumah tangga seperti carut marut tak karuan, gaji bulanan hanya lewat rekening saja, kehidupan rumah tangga mulai beriak dan mulai muncul masalah-masalah yang menguras emosi dan membuang waktu saja. Beruntungnya isyarat besar ini sudah dapat dipahami dan aku lalu bertindak seperti yang disarankan Ustaz Fikri. Menghentikan semua hubungan dengan Lembaga Keuangan, Bank, Leasing dan lainnya memang bukan hal mudah dan cepat, tapi juga tak lama dan tak juga terlalu rumit, dengan memohon doa kepada Allah di setiap waktu dan kesempatan, 101

Menjemput Hidayah memantaskan diri untuk ditolong oleh Allah serta bersikap baik terhadap segala hal adalah kunci yang sangat kuperlukan, aku kemudian menjual aset-aset yang ada sehingga perekonomian rumah tangga tak terganggu terlampau berat, bernegosiasi dengan bank untuk menyelesaikan utang dengan membayar pokok pinjaman. Mobil, sebidang tanah dan rumah yang ada semua kulepaskan untuk menyelesaikan utang- utang yang ada, hanya motor dan sepeda gunung saja yang kupertahankan agar bisa mengantar anak-anak kesekolah dan sepeda yang bisa kupakai ke kantor. Kurang dari tiga tahun semua urusan utang riba ini bisa diselesaikan, harta benda sudah tak dimiliki lagi tapi hidup menjadi lebih tenang dan menyenangkan, tak ada lagi debt collector yang bolak balik datang ke rumah, tak pernah lagi gelisah dan susah tidur menghantui seperti waktu-waktu yang dilalui sebelumnya. Perjalanan waktu ini tak sebentar ditempuh namun dari satu jam pencerahan yang didapatkan ternyata bisa membuatku merubah banyak hal, bisa mendapatkan banyak kebaikan dan mampu berhijrah dari hal-hal yang buruk kepada kebaikan walaupun masih terus berlanjut dan kuusahakan agar menjadi semakin baik dari sehari kesehari, satu jam belum cukup melegakan tapi satu jam ternyata mampu mencerahkan. 102

Menjemput Hidayah ‫ٰي ٓ◌اَﻳـﱡَﻬﺎ اﻟﱠ ِﺬﻳْ َﻦ اَٰﻣﻨُﻮا اﺗﱠـُﻘﻮا اﻟٰﻠّﻪَ َوذَُرْوا َﻣﺎ ﺑَِﻘ َﻲ ِﻣ َﻦ اﻟﱢﺮٰﺑﻮ ٓ◌ا اِ ْن ُﻛْﻨﺘُ ْﻢ ﱡﻣْﺆِﻣﻨِْ َﲔ‬ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. (Q.S. Al-Baqarah 2: 278) 103

Menjemput Hidayah Salam Sepakat, Merdeka Hingga Akhir Hayat Salim bergegas keluar dari ruang kedatangan Bandara Udara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, sudah lama sekali ia menantikan kesempatan ini untuk bisa bertemu teman-teman lamanya yang hampir dua puluh lima tahun tak berjumpa, langkahnya laju seperti orang memburu sesuatu yang sangat penting, wajahnya terlihat ceria sambil sesekali melirik gawainya. Sudah ada beberapa nama dalam daftar rencana kunjungan Salim ke Yogyakarta, salah satunya adalah Sumardi, itulah nama teman lama Salim yang menjadi tujuan utamanya, Salim sudah mencari nomor kontak Sumardi sebelumnya namun tak ada informasi yang ia dapatkan, Sumardi memang pribadi yang agak tertutup, tak memiliki akun sosial media bahkan jarang sekali berkumpul bersama teman-teman alumni, namun Salim sangat yakin Sumardi tak akan kemana-mana, ia pasti masih di rumah orang tuanya, tak akan merantau seperti beberapa teman lainnya sebab tinggal Sumardi anak satu-satunya di keluarga Sumohadi setelah kakaknya meninggal kecelakaan motor ketika masih sekolah dulu, tak ada lagi yang menjaga Ibu Sum, ibunda Sumardi yang sangat disayanginya. “Assalamualaikum, Mardi?” Salim segera mematikan sepeda motor sewaannya ketika tiba di depan rumah Sumardi lalu menyapa orang yang sangat ia kenal sebagai teman baiknya ketika kuliah dulu. “Masih ingat aku?” tanya Salim lagi sambil menyodorkan tangannya mengajak bersalaman. “Waalaikumsalam, wah, kamu Salim kan?” setengah terkejut Sumardi malah balik bertanya. “…kamu banyak berubah, gemuk sekarang, suaramu saja yang ga berubah.” Sumardi melanjutkan terkejutnya dan langsung mengajak Salim masuk ke rumahnya. Mereka berdua kemudian saling melepas rindu dan berbicara kesana kemari, tentang pekerjaan, keluarga, pendidikan, kegiatan sosial dan banyak hal yang tak lagi mereka alami bersama-sama. Sumardi ternyata tak menyelesaikan kuliahnya, ia tersibukkan dengan usaha-usahanya yang ia tekuni, merawat usaha rumah kos yang sejak dulu sudah dikerjakannya serta beternak ayam potong dan ayam petelur di rumahnya yang luas, dulu Salim sering membantu Sumardi membersihkan kamar kos yang baru 104

Menjemput Hidayah ditinggalkan penghuninya untuk disiapkan dan ditawarkan kepada penghuni baru, ada dua puluh pintu kamar kos yang ia sewakan saat itu. Salim lebih beruntung bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu dan segera mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak dan gas bumi, keberuntungannya berlanjut setelah ia diterima bekerja di perusahaan eksplorasi minyak asing yang beroperasi di Indonesia dan terbawa hingga bisa melanglangbuana ke Timur Tengah dan Afrika. Salim bersemangat menceritakan suka duka perjalanan hidupnya yang beragam, tentang pekerjaannya yang sangat disukainya, tentang perjalanan ke luar negri yang diimpikannya dan liku-liku dunia kerja di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya, sedangkan Sumardi yang hanya bekerja sebagai peternak ayam dan pengusaha kos-kosan justru berkisah tentang banyak kegagalannya dalam berusaha, bahkan ia sempat gagal pada pernikahannya yang pertama dan kini ia telah menikah lagi dengan seorang perawat dan telah dikaruniai dua orang anak. Sejak dulu Sumardi adalah seorang yang berkecukupan namun sangat rendah hati dan ringan tangan, ia selalu menunjukan kesederhanaan dan keramahan serta kemurahan hati pada teman-temannya yang kebanyakan pendatang dari kota- kota di seluruh Indonesia. Salim bukan sekedar berkunjung jauh-jauh melewati pulau dan menyeberangi samudra, ada hal penting dari sekedar datang ke Yogya dan bercerita tentang kehidupan selama dua puluh lima tahun terakhir, semenjak berpisah dengan Sumardi sahabatnya yang selalu bersamanya membantu di kala susah dan bersama- sama di waktu riang dahulu saat masih berkuliah. Hal penting yang selama ini mengganggunya, memenjarakannya bagai seorang narapidana ditahan sekian lama, hidup dalam bayang-bayang yang menghantuinya sehari-hari, hal dimana membuatnya gelisah dan tak nyaman tidur apalagi setelah mendengar tausiyah Ustaz yang sering menyampaikan bahwa seorang yang berjihad akan senantiasa diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali utangnya. “Utang, aku masih mengingat pernah pinjam uangmu dulu dan belum kubayar lunas, tapi aku lupa berapa nilainya, rasanya dua ratus ribu Mar.” Salim menjawab pertanyaan Sumardi yang keheranan akan kedatangan Salim yang tiba- tiba. 105

Menjemput Hidayah “..bukannya tak mau membayar tapi waktu itu aku benar-benar lupa dan baru mengingatnya setelah membuka catatan lamaku ketika aku sedang bekerja di Kalimantan, setelah itu aku bekerja di luar negri dengan jadwal yang tidak menentu, hingga aku tak sempat ke Yogya untuk menemuimu.” “…Bukannya aku merasa berlebihan dan tidak juga kekurangan, hanya itu saja yang selalu membuatku teringat padamu Mar, sebab utang dibawa mati dan aku tak ingin lalai dengan kewajiban ini.” Salim menerangkan perlahan dan dengan sangat serius. “…Beruntung kita masih bisa bertemu, aku tak mau ini berkepanjangan dan menjadi bebanku di akhirat nanti, kita sudah mulai menua dan hanya kebaikan dan kebaikan saja yang aku cari Mar, mudah-mudahan kita bisa bersepakat.” Salim semakin serius bicara sambil sesekali menyesap wedang uwuh yang Sumardi sajikan. Wajah Sumardi nampak berubah haru, matanya berkaca-kaca hampir menetes air dari dalamnya, ia teringat pertemanan yang ia jalin dengan Salim, Suntoro, Okta, Ahmad dan Aska, tinggal Salim dan Ahmad yang masih ada, Suntoro, Okta dan Aska sudah lebih dahulu meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. “Aku lupa Lim berapa utangmu, banyak teman kita juga berutang padaku dulu, tetapi yang kuingat malah tak pernah datang dan mengembalikannya, terutama yang besar-besar.” Salim agak terkejut mendengarnya, tak disangka, Sumardi yang sudah menjadi pengusaha sejak masih kuliah dulu ternyata juga meminjamkan banyak uang pada teman-teman lainnya. “…dan kalaupun masih ada, aku sudah ikhlaskan, kuanggap lunas Lim, Lillahi Ta’ala karena aku juga khawatir malah aku yang terus berprasangka dan kurang bersyukur.” Sumardi melanjutkan. “Aku paham betul kondisi kita waktu dulu dan saat ini, maafkan aku jarang berkabar karena aku ingin menjaga agar kalian tak sungkan untuk datang padaku.” Sumardi menerangkan lagi. “Aku yang harusnya minta maaf Mar, aku sangat menyesal” Salim lalu tertunduk karena kesederhanaan dan kebijakan Sumardi. “Sudahlah, aku sangat bersyukur kita bisa dipertemukan lagi, seperempat abad bukan waktu yang sebentar Lim, dua ratus ribu rupiah tak bisa membayar harga pertemanan ini.” Sumardi lalu menyodorkan tangannya, Salim menyambutnya dengan suka cita sambil menahan rasa gembira yang sangat bergejolak, tak sia-sia ia 106

Menjemput Hidayah datang ribuan kilometer jauhnya untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maafnya. “Aku juga menyesal karena tak sempat bertemu Toro, Okta dan Aska untuk terakhir kalinya.” “Iya Mar, aku juga, ketika Okta kecelakaan pesawat di Medan, aku sedang di Qatar dan ketika Aska wafat aku sedang dalam perjalanan pulang dari Gabon.” “Hpku jadul dan aku ga main sosmed, kalau tak dihubungi ya wassalam.” Kata Sumardi seraya menunjukan gawai lamanya pada Salim. “…Toropun aku baru tahu setelah sepekan dimakamkan, padahal kami sama-sama tinggal di Yogya.” Lanjut Sumardi. Salim kemudian mengulang permintaannya untuk pembebasan utang dari Sumardi walaupun ia menginginkan untuk bisa membayarnya namun Sumardi tetap pada pendiriannya membebaskan beban Salim dengan ikhlas. Mereka kemudian bersepakat dalam kebaikan dan kerelaan sebagai teman, sahabat bahkan mungkin seperti bagian keluarga, sepakat untuk saling mengikhlaskan dan menjadikan peristiwa lalu sebagai hikmah dan pelajaran agar tak terulang di masa yang akan datang. Berat tanggung jawab berutang, jangankan berutang riba yang mengandung dosa, meminjam barang saja harus dikembalikan sehingga akan terlepas dari tanggung jawab di akhirat kelak. Jelas dalam surat Al-Baqarah ayat ke 282, Allah berfirman yang terjemahannya adalah: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu, Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang 107

Menjemput Hidayah perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Bagi Salim, akhir perjuangan untuk mengakui ini adalah kemerdekaan yang tiada terhingga, tujuan hidupnya kini lebih mudah untuk dicapai tanpa halangan sekecil apapun itu walaupun ia masih berusaha mencari hal-hal lain yang sekiranya mengganjal di hati dan masih bisa ditelusuri dan dituntaskan, tak akan berhenti disitu, Salim akan terus mencari, belajar dan berhijrah menuju kebaikan disetiap waktu dan kesempatan, utangnya pada Sumardi lunas tiada tanggungan lagi, hidupnya kini lega tak ada lagi yang menghantui, salam sepakat merdeka hingga akhir hayat. 108

Menjemput Hidayah Panggilan Tak Terjawab Ini sudah memasuki hari ke lima suamiku pergi mengantar kendaraan ke luar kota, pekerjaan sementara yang ditekuninya beberapa bulan terakhir ini setelah ia mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja, hampir sepuluh tahun ia bekerja di perusahaan produsen barang-barang konsumsi sebagai staf umum. Hobinya pada kendaraan mengenalkannya pada komunitas-komunitas pencinta kendaraan roda empat dan juga ekspeditor kendaraan yang memberinya pekerjaan paruh waktu, sayangnya keinginannya terlalu besar daripada kebutuhan pokok yang harus dipenuhinya, hobinya hampir saja merusak kehidupan keluarga kami. Masih penuh bersyukur pada akhirnya kami dapat melewati apa yang kami sebut ujian yang justru penyelesaiannya banyak dibantu oleh orang-orang terdekat, keluarga dan teman-teman suamiku itu. Ia pernah bercerita bahwa Om Ilham, temannya di komunitas yang mengajaknya mengaji dan selanjutnya banyak mengubah cara pandang suamiku terhadap kehidupan. “Ma, kapan Papa pulang?” Tiba-tiba Jehan, anakku yang sulung bertanya seolah mengerti siapa yang sedang aku pikirkan. “Besok nak, insyaa Allah.” Kataku pada gadis kecil kesayangan papanya yang baru saja masuk sekolah dasar. “Koq lama ya Ma?” Katanya lagi. “Ga lama koq, bulan lalu kan Papa berangkat lebih lama.” Jawabku menenangkannya lalu Jehanpun sibuk lagi dengan mainannya. Pekerjaan Mas Ahmad yang dulu lebih menyenangkan bagiku, jarang sekali Mas Ahmad terlambat memberikan uang bulanan, setiap tanggal dua puluh lima sudah pasti masuk ke rekeningku, mengaturnyapun lebih mudah, terkadang ada beberapa kali dalam sebulan ia memberikan tambahan dari pekerjaan sampingannya memperbaiki atau memodifikasi kendaraan milik teman-temannya. Sejak kami memutuskan untuk mengambil kredit rumah melalui Bank konvensional lima tahun lalu dan membeli mobil dengan cara kredit melalui Leasing dua tahun setelahnya, mulailah drama finansial dalam keluarga kecil kami, setadinya aku menolak untuk membeli rumah karena cicilannya akan mengurangi tabungan sekolah anak-anak, selisih lima ratus ribu dengan membayar kontrakan cukup 109

Menjemput Hidayah mengganggu, akan tetapi Mas Ahmad meyakinkanku bahwa ia masih bisa mendapatkan tambahannya, begitu pula ketika membeli kendaraan, kali itu angsurannya sudah diluar budget, hampir dua juta lima ratus ribu, artinya setiap bulan harus tombok sekitar tiga juta rupiah. Mas Ahmad selalu mengusahakan setiap bulan agar setiap angsuran tetap dibayarkan tepat waktu, yang aku tahu ia selalu pergi ke bengkel temannya setiap hari Sabtu dan Minggu dan juga bekerja lembur hampir setiap hari untuk menambah penghasilan. Waktunya dihabiskan di tempat bekerja dan bengkel hingga banyak melewatkan hal-hal lain yang lebih penting, seperti ketika Paman Samsudin dan Bibi Isni datang berkunjung ke rumah kami, Mas Ahmad sedang berada di bengkel. Paman Sudin, begitu biasa kupanggil adalah adik ayahku satu-satunya yang paling kuhormati, setelah ayah dan ibu tiada, hanya Paman dan Bibilah yang menjadi tempatku curhat dan berkeluh kesah, mereka sangat memperhatikan keluargaku terutama kepada Jehan dan Janis anak-anak kami. Minggu pagi itu ketika kami belum lagi genap setahun menempati rumah, mereka datang ke rumah baru kami dengan membawa sekantong plastik besar oleh-oleh, kata Paman dan Bibi, mereka baru selesai berolahraga pagi dan mampir ke pasar dan lanjut mengunjungi kami, mereka melihat-lihat rumah kami dari depan hingga halaman belakang, rumah type 54 dengan dua kamar tidur yang lebih dari cukup untuk keluarga kecil kami. “Agak berputar jalannya menuju kesini dari rumah kita ya Bu?” Begitu Paman memintai persetujuan Bibi Isni. “Iya, tapi disini lebih leluasa dibandingkan rumah kontrakan kemarin itu.” Kata Bibi pada Paman. “Siapa bilang leluasa?” Paman lalu duduk di ruang tengah bersama kami lalu melanjutkan pembicaraan ke arah yang lebih jauh. Aku hanya tertunduk ketika Paman sudah mulai mengutip beberapa ayat Al- Qur’an menasihati dan mengingatkanku, ia tahu betul kemampuan finansial kami walaupun kami tak pernah sekalipun meminta bantuan keuangan kepadanya. “Hati-hati ‘nduk, bukannya Paman mau ikut campur urusan keluarga kalian tapi apa yang sudah kalian lakukan itu adalah kezaliman yang besar, riba itu dilarang.” Tegas Paman menasihati langsung menusuk batinku yang tak paham bahwa ternyata bukan hanya pemberi riba saja yang berdosa. 110

Menjemput Hidayah “Iya Nak, sampaikan pada suamimu agar segera bertaubat, maafkan kami baru sekarang mengingatkan karena Pamanmu khawatir kalian jadi enggan bicara pada kami.” Bi Isni menambahkan seraya mengalungkan tangannya dipundakku. Aku hanya bisa tertunduk dan menangis mendengarkan Paman dan Bibi berbicara, andaikan ada Mas Ahmad, tentu ia bisa menjelaskan semua yang dilakukannya, aku hanya mengikuti saja apa yang diinginkannya walaupun dalam hatiku merasa tak sepakat dengan keputusan-keputusan Mas Ahmad, kalau kemudian kuceritakan tentang pertemuan yang cukup menggetarkanku ini, kadang Mas Ahmad sering menghindar atau mencari-cari alasan pembenaran yang sering membuatku enggan melanjutkan dengan berdebat memanjang dan melebar kemana- mana. Hingga suatu hari Mas Ahmad rupanya mulai galau dan kehilangan kemampuannya memenuhi kebutuhan hidup kami, aku sedikit demi sedikit mulai mengembalikan tanggung jawabnya yang kuambil alih untuk membantunya, semua kulakukan agar ia segera menyadari kesalahan-kesalahannya selain dengan benyak berdoa memperbaiki ibadahku kepada Allah dan berusaha menambahkan ibadah- ibadah sunnah yang selama ini sulit sekali kulakukan. Mas Ahmad mulai merasa ada sesuatu yang meresahkannya, seolah-olah ia bisa mengatasi namun tak bisa menuntaskannya, perlahan peringatan dari Allahpun hadir, selain berkurangnya pendapatan sampingan dari bengkel, juga gejolak perubahan suasana kerja di kantornya semakin deras hingga akhirnya Mas Ahmad harus mengundurkan diri karena tekanan besar dari perusahaan. Aku begitu yakin bahwa peringatan Allah melalui surat Al-Baqarah ayat 278 & 279 begitu nyata: “ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” “Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan RasulNya, tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim dan tidak dizalimi.” Siapa yang bisa mengalahkan Allah dan RasulNya ketika manusia menantang perang denganNya, apa yang Mas Ahmad alami adalah bagian kecil dari peringatan yang Allah berikan padanya, aku selalu mengingatkan Mas Ahmad dengan santun tanpa 111

Menjemput Hidayah menyinggung dan merendahkan harga dirinya serta tak pernah berhenti meminta dan berharap agar Allah segera membukakan mata hatinya menyadari kesalahannya. Sampai pada pertemuan Mas Ahmad dengan Om Ilham yang banyak mengubah sikapnya terhadap perilaku riba, ia begitu menyadari setelah hampir tiga bulan berturut-turut aktif mengikuti pengajian bersama Om Ilham dan teman-teman lainnya, ia sering bercerita sepulang mengaji di malam hari tentang teman-teman barunya, Ustaz yang mengajarinya serta apa-apa saja yang dibahas dalam kajian tersebut. Sikap dan perilaku di rumahpun banyak berubah, pola hidupnya berganti drastis, tak pernah lagi ia tidur diatas jam sepuluh malam dan selalu bangun di sepertiga malam untuk bersama-sama menjalankan ibadah salat tahajud, sebisa mungkin ia menyempatkan dirinya untuk salat berjamaah di mesjid dan bersegera jika ada ajakan untuk mengikuti acara-acara yang berhubungan dengan ibadah, majlis ilmu serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Walaupun pendapatan kami tak tetap seperti dulu dan kendaraan yang kami gunakan hanya satu unit motor tua, tak menghalangi kami untuk tetap berusaha semaksimal mungkin dalam mendapatkan keberkahan dari setiap rejeki yang Allah berikan, mobil dan rumah yang belum selesai masa angsurannya telah dijual rugi, yang penting pokok hutangnya terbayar meski tak ada kelebihan dari hasil penjualan mobil dan rumah tersebut. Kasih sayang Allah kepada hambaNya tak pernah putus, meski dalam kondisi sulit kami masih diberikan keleluasaan untuk mencari penghidupan, Mas Ahmad masih bisa mendapatkan pekerjaan-pekerjaan serabutan mengantarkan kendaraan-kendaraan baru ke dealer di luar kota maupun ke lokasi kerja di pedalaman, kadang aku masih bisa mendapatkan pesanan-pesanan kue kering atau pesanan jahitan baju anak-anak. Bibi Isni makin rutin berkunjung ke rumah kontrakan kami untuk sekedar berbincang serta membawakan Jehan dan Janis susu dan makanan, Paman Sudin beberapa kali mengajak Mas Ahmad untuk berniaga ke luar kota, hasilnya mencukupi untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, kesehatan kami dan anak-anak juga terjaga dengan baik, Janis yang masih balita sangat kuat dan jarang sakit. Waktu menunjukan jam sepuluh malam, Mas Ahmad belum juga sampai rumah, satu jam sebelumnya ia mengabari bahwa ia sudah berada di rest area yang jaraknya hanya satu setengah jam saja dari rumah, mestinya sudah tiba di rumah, 112

Menjemput Hidayah aku mencoba menghubunginya, nada sambung terdengar dari gawaiku tapi tak dijawab, aku mengira Mas Ahmad sedang mengemudikan kendaraan jadi tak bisa mengangkat gawainya. Sampai tengah malam belum juga ada kabar, aku berusaha menenangkan diriku dengan salat dan berdoa, tak terasa aku tertidur diatas sajadah hingga terdengar ketukan keras pintu rumah membangunkanku. “Loh Bashir…” aku terkejut setelah membuka pintu karena bukan Mas Ahmad yang muncul, sepupuku bersama anaknya Ayu berdiri dihadapanku, aku melirik ke dinding dan jam menunjukan jam 03.30 pagi, aku lalu meminta Bashir dan Ayu masuk, mereka lalu duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu kami. “Mba’ yang sabar, Mas Ahmad sekarang ada di Rumah Sakit.” Bashir seperti terbata menyampaikan sementara tulang-tulang di badanku serasa melunak, lemah tak berdaya. Ayu berpindah duduk di sebelahku, ia memegangi tanganku dan melingkarkan lengannya ke tubuhku, hanya kalimat istighfar yang bisa keluar dari mulutku beberapa saat. “Kenapa Mas Ahmad? Kecelakaan? Gimana kondisinya?” Sambil berusaha menguatkan diri aku membuka suara dengan apa yang bisa kutanyakan pada Bashir. “Saya dan Ayu sedang di rumah Ayah waktu dihubungi seseorang dari Rumah Sakit, katanya Pak Ahmad kecelakaan dan dirawat di ruang gawat darurat.” Jawab Bashir agak gugup. “…Ibu menyarankan agar saya mengantar Mba’ ke Rumah Sakit, biar Ayu yang menunggu Jehan dan Janis, Ayah sudah lebih dulu ke Rumah sakit setengah jam yang lalu.” “Baiklah, Mba’ ganti pakaian sebentar, titip Jehan dan Janis ya Yu.” Aku bergegas ke kamar dengan mengurangi rasa gugup dan khawatir, kehadiran Ayu cukup menguatkanku, Ayu seorang mahasiswi akademi keperawatan semester akhir, aku tenang meninggalkan Jehan dan Janis bersamanya. Dini hari menjelang fajar itu cukup dingin dan berkabut, aku dan Bashir tiba di pelataran ruang gawat darurat Rumah Sakit yang sepi, tak ada kesibukan sama sekali, tak terlihat ada ambulance atau mobil lainnya terparkir di dekat ruang itu. aku setengah berlari memasuki ruangan disambut seorang Satpam berseragam putih biru. “Selamat malam Ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya Satpam dengan ramah. 113

Menjemput Hidayah “Malam Pak, betul ada pasien yang baru masuk atas nama Ahmad?” tanyaku. “Oo…Pak Akhmad Hambali ya bu, Ibu keluarganya juga? Baru saja dipindahkan ke kamar jenazah bu.” Pak Satpam yang di dadanya tersemat nama Jayadi ini semakin ramah menjelaskan. “Bukan pak, Ahmad Sani, suami saya.” Kataku memperjelas. “Ya salam, Pak Sani? baru saja keluar sama Bapaknya, beliau yang mengantar Pak Akhmad kesini bu.” Satpam Jayadi nampak kebingungan. “Mba, Ayah dan Mas Ahmad sedang di Mesjid mau salat Subuh, barusan saya hubungi Ayah.” Bashir menyela percakapanku dengan Satpam Jayadi. Hatiku agak tenang setelah mendengar penjelasan Satpam Jayadi, rupanya ada salah paham karena nama yang sama, tapi aku masih perlu penjelasan kenapa sampai Bashir yang dihubungi oleh pihak Rumah Sakit dan gawai Mas Ahmad tak bisa dihubungi. Aku memeluk Mas Ahmad erat ketika bertemu beberapa saat sebelum salat Subuh di mesjid lingkungan Rumah Sakit, kami berempat lalu menuju kantin untuk sekedar melepas ketegangan usai melaksanakan salat. “Kami sama-sama keluar dari rest area tadi malam, mobil yang dikendarai Pak Akhmad itu melaju kencang menyusul kami di tikungan keluar rest area, tanpa diduga sebuah truk besar tanpa muatan juga melaju kencang lalu menghantam mobil Pak Akhmad.” Mas Ahmad menceritakan kejadian yang dialaminya tadi malam. “…Kami spontan berhenti dan membantu penumpang mobil Pak Akhmad, ada lima orang didalamnya, kecuali Pak Akhmad yang lainnya hanya luka ringan.” Mas Ahmad melanjutkan. “Lalu, kenapa jadi Bashir yang dihubungi pihak Rumah Sakit Mas?” aku bertanya. “Ketika sampai di Rumah Sakit saya langsung diinterogasi Polisi, teman- teman yang dua orang diminta menghubungi pihak keluarga korban, nah dua-duanya HPnya low batt, hanya HP saya yang aktif, jadilah HP saya yang dipakai menghubungi kesana kemari.” “…Sementara saya diinterogasi, saya titip ke Slamet agar menghubungi Bashir, supaya bisa memberitahu kondisi ini pada Mimi agar tak khawatir.” Mas Ahmad berkisah sembari menyesap kopi yang kami pesan di kantin itu. “Koq ga minta Mas Slamet nelfon saya langsung?” Tanyaku sedikit kesal. 114

Menjemput Hidayah “Maafkan Mas Mi, kami bertiga panik, sebab setahu Mas, Pak Akhmad ini waktu dipindahkan ke ambulance masih ada nafasnya tapi ketika sampai di Rumah Sakit sudah meninggal, kami khawatir kenapa-kenapa jadi supaya tidak banyak orang yang panik maka Mas minta hubungi Bashir saja agar bisa menyampaikan dengan tenang kepadamu dan Paman.” “Ya itu, kan aneh harusnya kan Slamet yang nelfon Bashir, kenapa jadi orang Rumah Sakit? salah berita pula.” Paman Sudin bertanya sambil sedikit menggerutu. “Itulah Paman, karena panik rupanya Slamet salah pengertian, dikiranya saya menginformasikan bahwa Bashir adalah nama keluarga Pak Akhmad yang bisa dihubungi, karena dia sebelumnya ditanya petugas ruang gawat darurat siapa keluarga Pak Akhmad yang bisa dihubungi.” Jelas Mas Ahmad sambil tertawa kecil. “Yah sudahlah, alhamdulillah kita masih diberi perlindungan dan keselamatan, banyak bersyukur dan bermuhasabah ya.” Paman memungkasi percakapan dengan nasihatnya. Kamipun kembali pulang, kekhawatiranku punah, sedikit prasangka akan hukuman Allah pada kami rupanya tak beralasan, rasa bersalah atas dosa-dosa riba yang telah kami lakukan sepertinya masih terus melekat menunggu peringatan dari Allah berikutnya, tapi itu ternyata tak terbukti, Allah maha baik, maha melindungi dan maha menyelamatkan terutama kepada mereka-mereka yang dengan sungguh- sungguh bertaubat, insyaa Allah, semoga Allah menjawab doa-doa permohonan ampun yang kami panjatkan di setiap waktu dan kesempatan. 115

Menjemput Hidayah ‫ﻓَﺎِ ْن ﱠﱂْ ﺗَـْﻔَﻌﻠُْﻮا ﻓَﺄْذَﻧـُْﻮا ِﲝَْﺮ ٍب ﱢﻣ َﻦ ﺗاَﻟٰﻠّﻈِْﻠﻪِ ُﻤَوْﻮَرَنُﺳْﻮَﻟوَِﻪﻻ ٖ◌ﺗُ ۚ◌ﻈْﻠََُوﻤاِْﻮْنَنﺗـُْﺒﺘُ ْﻢ ﻓَـﻠَ ُﻜ ْﻢ ُرءُْو ُس اَْﻣَﻮاﻟِ ُﻜ ْﻢ ۚ◌ َﻻ‬ Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul- Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan). (Q.S. Al-Baqarah 2: 279) 116

Menjemput Hidayah Simpang Jalan Dua Empat Tak sedikit orang yang tahu Simpang Jalan Dua Empat, sebuah perempatan ramai di kota kami yang jika pagi dan sore hari dipenuhi pejalan kaki yang berburu kuliner di daerah itu, kendaraan tak bisa lagi melewati jalan yang menghubungkan pusat perkantoran, jalan utama, taman kota dan jalan alternatif sebagai penghubung ke lokasi perumahan dan pasar. Jangankan pada bulan puasa, hari biasa saja Simpang Jalan Dua Empat ini banyak dipenuhi orang yang mencari sarapan di pagi hari serta kudapan di sore hari, jalan yang lebarnya tak sampai empat meter sepanjang satu setengah kilometer ini memang seperti di desain sebagai tempatnya kuliner kota, toko pakaian, toko kelontong, café, warung bahkan barber shop berjajar sepanjang jalan. Konon jalan yang melegenda ini sudah ada sejak dahulu namun baru berkembang sebagai pusat perdagangan pada tahun 1979, dan pada tahun 2000-an karena kerap membuat kemacetan dan kepadatan maka kendaraan tidak diperkenankan lagi melewati jalan itu sejak tahun 2005. Sempat bertanya bagaimana cara toko-toko menambah barang-barang jualannya jika kendaraan tak diperkenankan masuk jalan itu, ternyata pemerintah kota telah mengatur para supplier untuk masuk ke jalan tersebut pada jam-jam khusus, tiga kali dalam satu hari kendaraan diperkenankan masuk. “Bagus Mas, Pemerintah Kota banyak perhatiannya pada kawasan ini sehingga berkembang terus sampai sekarang.” Bapak yang kukenal bernama Sumantri ini yang menjawab pertanyaanku. Pak Sumantri sudah berusia 60 tahun, ia tinggal di daerah Simpang Jalan Dua Empat ini sejak tahun 1980, ia seorang anak yatim piatu yang diadopsi oleh Pak Ruhiyat seorang pengusaha bahan makanan terkenal di kota kami, kini ia memiliki sendiri usaha produksi roti dan tokonya, enam Café dan empat mini market yang tersebar di seluruh kota selain melanjutkan usaha perdagangan bahan makanan orang tua angkatnya. Kami sudah saling mengenal sekitar setahun, banyak pelajaran yang aku dapat dari Pak Man begitu panggilannya, ia pengusaha yang gigih walaupun hanya berpendidikan Sekolah Menengah saja, kami tak sengaja bertemu di Taman Kota, saat itu Pak Man sedang duduk-duduk santai di sore hari sambil memberi makan ikan di kolam besar yang ada di taman, sementara aku sedang berolah raga jalan kaki di jogging track, kegiatan yang rutin kulakukan di taman kota sejak dokter 117

Menjemput Hidayah memvonisku terkena penyakit jantung koroner, usiaku 10 tahun lebih muda dari Pak Man, tapi ia terlihat sangat fit, tidak gemuk dan wajahnya cerah bercahaya, walaupun rambutnya mulai memutih tapi kulitnya tidak keriput dan mengering seperti pada umum orang seusianya, ada tanda hitam di keningnya dan janggut yang dipelihara tak seberapa panjang menandakan ia orang yang rajin beribadah. “Saya banyak mengkonsumsi air saja Mas, sehari minimal satu liter dan jarang sekali minum obat-obat kimia.” Begitu katanya ketika kutanyakan rahasia menjaga kesehatannya. Walaupun setelah kugali lebih dalam lagi ternyata ia menjaga kesehatannya juga dengan cara berpuasa sunah, olahraga kecil tapi rutin dan menjaga suasana hatinya agar tidak berprasangka, galau dan sedih, begitu kata Pak Man sekali waktu. Kadang aku malu jika bersama-sama dengannya, Istriku pernah bilang kalau aku justru kelihatan 10 tahun lebih tua dari Pak Man, badanku yang gemuk dengan perut yang buncit ditambah lagi bibir yang hitam dan gigi yang banyak rusak karena kebiasaan merokok, belum lagi wajahku yang sepertinya tak secerah Pak Man, kantung mata mulai mengganggu dan milia yang mulai bermunculan, Oo, iya, penglihatanku juga mulai banyak berkurang sedangkan menurut Pak Man ia masih bisa melihat dengan jelas tanpa bantuan kacamata. Jika kami bercakap-cakap, Pak Man adalah seorang pribadi yang sangat sederhana, rendah hati dan menyenangkan, belum pernah aku merasakan rindu kepada seseorang seperti merindui Pak Man jika lama tak bertemu, sikap dan kata- katanya selalu mencari tempatnya sendiri di hatiku dan selalu ada saja hal-hal yang membuatku menjadi ingin bertemu dengannya, belajar dari pengalaman dan nasihat- nasihatnya yang sangat menyejukkan. Awalnya kesan pertama dari Pak Man bagiku adalah orang yang keras dan kokoh dalam menjalankan aturan agama, pebisnis yang tangguh serta sulit diajak berdiskusi, akan tetapi kesemua anggapan itu patah begitu saja ketika kami sering bertemu, entah apa yang ada dalam benak Pak Man tentangku, yang jelas saat ini bagiku Pak Man seperti sudah menjadi role model yang lengkap, mungkin jika Mas Ibnu, kakakku yang tertua masih ada, barangkali hampir sebelas dua belas sajalah dengan Pak Man ini. Sekali waktu ingin sekali aku mendengar kisah pengalaman mengelola usahanya yang maju pesat, hingga kini ada sekitar 200 orang karyawan di berbagai 118

Menjemput Hidayah macam usahanya dan kemungkinan tahun depan ia berencana membuka beberapa cabang di luar kota untuk Café dan toko bahan makanannya, kami pun kemudian berdiskusi di Café Bukhara miliknya. “Insyaa Allah tahun depan Mas, ini ada beberapa ikhwan yang akan bersyirkah untuk Café.” Kata Pak Man padaku. “Café Bukhara ini kapan mulainya sih Pak?” tanyaku bersemangat. “Sebetulnya saya mulai Café ini sambil lalu saja Mas, supaya ada tempat teman-teman berdiskusi sambil ngopi.” Pak Man kemudian membalikan badannya ke arah meja bar. “..tapi Abdul, Barista saya itu serius sekali dan kerja sangat baik, jadi saya senang sekali mendukungnya.” Pak Man kemudian memanggil Abdul yang sedang sibuk merapikan meja bar dan perlengkapan serta display kopi di rak. Café Bukhara ini memang bukan sembarang Café, desainnya cantik dengan penataan ruang yang sangat apik, nuansa warna Krem dan Khaki mendominasi serta pencahayaan yang baik membuat para pencinta kopi betah berlama-lama di ruangan dalam berpendingin dengan kapasitas dua puluh lima orang dan dua puluh orang di teras luar. Ada kelihatan mesin kopi yang cukup besar dan beberapa peralatan yang tersusun rapi di meja bar, sepertinya mesin kopi Espresso, Coffee Maker dan mesin grinder yang agak besar. “Saya sebelumnya ga ngerti soal kopi sama sekali, tapi Abdul ini akhirnya yang membuat saya jadi paham sedikit demi sedikit.” Kata Pak Man melanjutkan dengan memperkenalkan Abdul sebagai orang kepercayaannya sembari meminta dibuatkan kopi spesial Arabica Gayo. “Kabarnya dulu usahanya sempat hampir kolaps ya Pak?” Tanyaku. “Oo… Iya, Pak Ruhiyat, Bapak angkat saya dulu kan usahanya hanya toko kelontong dan bahan makanan saja, rupanya sempat menerima kredit dari Bank Swasta sekitar tahun 90-an, tujuannya untuk membesarkan usahanya dengan membuka toko-toko lain di kawasan Kota Baru yang waktu itu belum genap setahun beroperasi.” Pak Man agak beringsut dari tempat duduk semula lebih mendekat kepadaku. “…Saat itu saya sedang membantu di toko kelontong beliau bersama Rudi anak tertuanya yang sekarang sudah jadi warga negara Amerika Serikat.” “Loh, Pak Rudi itu ga kembali ke Indonesia ya Pak?” Tanyaku heran. 119

Menjemput Hidayah “Iya, Mas Rudi senang belajar, setelah selesai S-2nya ia lalu bekerja di perusahaan multimedia dan menetap disana.” “Ga ada rencana kembali Pak?” “Waktu Pak Ruhiyat wafat, Mas Rudi sebagai anak yang tertua menyerahkan semua bisnis kepada Mbak Rumi adiknya dan menyampaikan kepada kami semua bahwa ia akan menetap di Amerika.” “…Nah, karena Mbak Rumi juga akan ikut suaminya ke Australia sekaligus mengajak Ibu tinggal disana, ia juga menyerahkan semuanya ke saya.” “Wah, Bapak ketiban Durian runtuh ya.” senyumku mencandai Pak Man. “Subhanallah, ini amanah Mas, bukan tanpa kesulitan, saya juga sebetulnya ga ngerti apa-apa, lillahi ta’ala, saya jalani aja.” “…Waktu Bapak wafat, karyawan sudah ada lima puluh-an, Ibu juga sudah sepuh jadi sudah kurang tertarik lagi mengelola bisnis seperti dulu, pesan Ibu sebelum ke Australia bersama Mbak Rumi agar tetap menghidupi semua karyawan, karena rata-rata karyawan saat itu sudah lama bekerja bersama kami.” Pak Man menjelaskan dengan rinci. “Lalu, setelah mendapat kredit dari Bank, Mas Rudi jadi membuka toko di Kota Baru?” “Jadi Mas, itu Mas Rudi sepenuhnya yang kawal, sempat beberapa bulan berjalan tapi dasar uangnya hasil transaksi riba, ya akhirnya perlahan-lahan habis ga karuan.” “Gulung tikar ya Pak?” Aku makin penasaran bertanya lagi. “Iya Mas, dua toko kami sempat tutup dan Pak Ruhiyat lalu menjual kendaraan operasionalnya untuk membayar utang.” Pak Man mulai menerawang. “…itu masa sulit kami, hanya toko bahan makanan saja yang waktu itu bertahan dengan stok seadanya, Mas Rudi sangat kecewa, beruntung ia dapat bea siswa ke Amerika, Mbak Rumi dan suaminya yang membantu Mas Rudi sampai selesai kuliahnya.” “Nah, Pak Man sendiri ga kuliah?” Tanyaku memecah sedih yang mulai merambat di wajah Pak Man. “Bapak sempat menawari, tapi saya tolak sebab saat itu pas lagi kesulitan, saya menolak dengan meminta Bapak mengajari saya membuka bisnis kuliner saja untuk mempercepat pemulihan ekonomi keluarga.” 120

Menjemput Hidayah “ Wah berarti Pak Man yang lebih visioner ya?” “Ah ya nda’ juga Mas, sebetulnya saya juga pengen kuliah, tapi dorongan untuk berbisnis lebih kuat, saya melihat Mas Rudi sepertinya ga mau balik ke bisnis, dia kecewa betul dengan peristiwa itu, padahal yang berutang Bapaknya, yang panas dingin sampai sakit ya Mas Rudi itu.” Kami beberapa kali menyesap kopi Arabica Gayo yang terhidang dengan biskuit choco chips sebagai pelengkap perbincangan sore itu, Abdul memang terlatih menjadi Barista, olahannya sangat berbeda dengan kopi yang pernah kunikmati sebelumnya. “Jadi utang riba dilunasi atau gimana Pak Man?” Tanyaku penasaran. “Dibayar pokoknya saja Mas, alot waktu itu urusan dengan Banknya, saya hanya berdoa dan berusaha membantu sekuatnya agar urusan Bapak dan Mas Rudi selesai, Alhamdulillah, ga sampai setahun sudah rampung.” “Memangnya Pak Ruhiyat belum tahu kalau dana yang dipinjamnya riba ya Pak?” Tanyaku lagi “Tahu Mas, Bapak pernah mengaji bersama Ustaz Jafar” Kata Pak Man menjelaskan. “Oo… Ustaz Jafar Shidiq yang sekarang di mesjid As-Syams?” “Betul Mas, saya pernah ingatkan Bapak tapi belum sempat dilaksanakan, mudah-mudahan Allah mengampuni segala kekhilafan Bapak.” Pak Man lalu sedikit memaksaku memesan makanan dari daftar menu yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Pak Man cukup cerdas memahami kondisi dan memanfaatkan kesempatan kecil menjadi peluang besar, sisi kuliner Simpang Jalan Dua Empat yang belum tersentuh pada waktu itu menjadi tujuannya untuk kemudian mengembangkannya hingga menjadi populer seperti sekarang ini, ia seperti mempelopori berjualan produk yang lebih populer dan beragam di persimpangan ini dan serius serta konsisten melakukannya. “Saat itu Mas, kami melewati setahun berasa bertahun-tahun, lama sekali, sepertinya susah sekali keluar dari jeratan riba, Alhamdulillah Pak Ruhiyat sekeluarga sangat istiqomah dalam bertaubat, semua bergerak memohon kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan seperti itu lagi, bahkan Pak Ruhiyat dan Ibu tak segan-segan mengajak semua karyawannya untuk rajin beribadah dan bersedekah.” “Ada hal menarik yang Pak Man temui selama setahun itu?” 121

Menjemput Hidayah “Banyak Mas, bukan hanya menarik tapi aneh dan unik.” “Apa saja itu Pak?” tanyaku penasaran. “Yang jelas kesemuanya adalah pertolongan Allah, serba dimudahkan, jika ada permasalahan selalu ada jalan keluarnya dan kami semua merasa dicukupkan.” “Peristiwanya apa Pak, contohnya?” Kataku mengorek. “Misalnya Toko kedua kami di jalan Pejaksan itu Mas, itu unik sebab dibangun tanpa biaya sama sekali dari kantong Bapak, bahkan isi toko itu semua adalah pemberian dari seorang pengusaha yang bertemu Bapak di Bank.” “Bagaimana ceritanya Pak, koq bisa?” “Waktu itu Bapak dan Mas Rudi mau menyelesaikan urusan utangnya dengan Bank, sudah nego dan akan membayar pokok utangnya saja, di Bank rupanya Bapak mengobrol dengan Pengusaha itu, namanya saya lupa, rencananya ia akan mendepositokan uangnya, tapi setelah bicara dengan Bapak dan Mas Rudi ia membatalkan niatnya, seluruh uang yang akan di depositokan diberikan ke Bapak untuk dijadikan toko itu Mas.” “Kerjasama Syirkah gitu Pak?” “Tidak Mas, cuma-cuma, disuruh kelola gitu aja, sedekah saja katanya sebagai tanda terima kasih telah diingatkan bahwa Riba itu haram hukumnya.” “Siapa sih Pak, pengusaha lokal sini ya?” “Bapak dan Mas Rudi ga pernah memberi tahu, pesan mereka ke saya khusus toko itu agar keuntungannya selalu dibagi tiga, untuk Mesjid, Anak Yatim & Dhuafa.” “Pengusaha itu ga pernah minta keuntungannya sedikitpun pak?” “Tidak pernah Mas, Mas Rudi pernah cerita, konon setelah bersedekah itu si pengusaha hijrah juga Mas, selain menghentikan semua kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan riba, ia juga hijrah ke ibukota menjadi pengusaha besar yang berhasil, bahkan sekarang kegiatan ekonominya berkembang sampai ke luar negri katanya.” “Wah, luar biasa ya Pak.” “Iya Mas, Allah itu Maha Kuasa, apa yang diinginkanNya tak bisa kita tolak, jadi sampaikanlah keinginan kita hanya pada Allah dan hiduplah dengan apa yang menjadi kebutuhan kita saja di dunia.” Isi kepalaku kemudian seperti diaduk-aduk dengan kalimat-kalimat yang disampaikan Pak Man, seolah-olah pengalaman-pengalaman berharga orang-orang 122

Menjemput Hidayah berhijrah itu sudah menjadi contoh dan inspirasi terbaik bagiku, menjauhi apa yang dilarangNya tentu akan makin membuat Allah senang kepada kita hambaNya, jika Allah senang maka akan mudah bagiNya untuk mewujudkan apa yang Ia mau dan Allah pasti mengerti betul dengan apa yang kita inginkan, kita perlukan, apalagi yang sangat kita butuhkan. Hari makin merapat ke waktu sore, lembayung sudah nampak di ufuk Barat dan Simpang Jalan Dua Empat mulai lengang seiring suara tilawah dari Mesjid Ar- Ruhiyah di seberang Café tempat kami berbincang, sebentar lagi Pak Man pasti akan mengajakku ke sana untuk bersiap menyambut panggilan untuk bersyukur, bertafakur dan bersujud hanya kepadaNya. Semoga kami masih bisa dipertemukan lagi setelah hari ini dengan segala kemanfaatan dan kebaikan yang selalu hadir diantara kami, disini di Simpang Jalan Dua Empat. 123

Menjemput Hidayah ‫ﻳَـﻐِْﻔُﺮ‬ َ‫اﻟٰﻠّﻪ‬ ‫ۗ◌اِ ﱠن‬ ‫اﻟٰﻠِّﻪ‬ ‫ِاﻣﻟﱠْﻦﺮِﺣﱠﻴْر ُْﻢﲪَِﺔ‬ ‫َﻻ ﺗَـْﻘﻨَﻄُْﻮا‬ ‫اَ ْاﺳﻟَﺮﻓﱡُـﺬﻧْـُﻮاْﻮ َﻋَبٰﻞ َٓ◌ِﲨﻴْـىًﻌﺎاَﻧْـ ُۗﻔ◌اِِﻧﱠﺴﻪِﻬ ٗ◌ْﻢ‬ ‫اﻟﱠ ِﺬﻳْ َﻦ‬ ‫ٰﻳﻌِﺒَﺎِد َي‬ ‫ﻗُ ْﻞ‬ ‫ُﻫَﻮ اﻟْﻐَُﻔْﻮُر‬ Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Az Zumar 39: 53) 124

Menjemput Hidayah Terima Kasih  Ibunda Anjarsari untuk kasih sayang dan dukungan tiada habisnya.  Istriku Erni Darmawati dan anak-anakku: Madaniya Giar Pramandita, Madyafiqhia Giar Pramananda & Meutiadinda Giar Pramaziya.  The Giars: Kreshna Giar Pambudhi, Adithya Giar Setiakhy, Arya Giar Anjasmara, Pandu Giar Pamungkas, Hendarman, Diah Ayu Putriani, Exi Indarti, Mutiara Widya Kusuma.  Gurunda Ustaz Ali Arifin, Ustaz Husein Budiraharjo, Ustaz M. Taufik Hidajah, Ustaz Muhammad Satibi, Ustaz Samsul Rizal Azis.  Sahabat-sahabatku, teman belajar, berdiskusi dan memotivasi: Agus Nurochman, Agus Sumardi, Andri Iswanto, Asmadianto, Bambang Wijanarko, Cepi Himawan Nugraha, Dandy Hidayat, Daniyanris Idris, Danu Ariefiyanto, Didin Hamid, Didin Hasirudin, Djoko Suseno, Edwin Andi, Fatuloh Husein, Febriyanti Dwi Safitri, Gatot Subandono, Gatot Susanto, Heru Utomo, Imam Hadi, Imam Rakhmat, Ia Kurniawan, Indri Jerseyana Dirgantarini, Iwan Arif Fadhilah, Muhammad Yusuf Indrajaya, Nanang Setia Budi, Nino Afriano, Pribadi Budi Andriyanto, Rahoyo Ahmad, Rostang Abdillah, Rully Fachrizal, Soni Priatna, Soni Trisaksono, Suparman, Uli Abdurahman, Zulhandiansyah.  Sahabat-sahabatku yang menginspirasi dan telah lebih dahulu kembali kepada yang Maha Pencipta: Abdul Kadir Jaelani, Amir Husin, Dwi Handri, Dwi Purwoko, May Wiendarko, Rizal Rifai Rusman, Sri Slamet Irmiati, Wawan Agus Setiana, Williandrew Arya Pratama, Yuli Supriono.  Komunitas Bebas Riba Bebas Utang Kota Balikpapan  Komunitas Hidup Berkah Tanpa Riba  Komunitas Anti Riba Indonesia  Komunitas Satupena Kalimantan Timur 125

Menjemput Hidayah Daftar Referensi 1. Kitabullah, Al-Qur’an Nurkarim. 2. Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, 99 Kisah Orang Shalih, Terj. Munawarrah Hannan Cetakan II, DH Grafika-Jakarta, 2002. 3. Muhammad Syafii Atsmari, Tobat Nasuha, Cetakan I, Penerbit Marja- Bandung, 2012 4. Rumaysho.com 5. Merdeka.com 6. Cinta Qur’an TV YouTube Channel 7. Muslim.or.id 126

Menjemput Hidayah Tentang Penulis Wishnu Giar Lahir di Sragen, Jawa Tengah dan dibesarkan di Cimahi, Jawa Barat adalah anak pertama dari lima bersaudara yang kini berdomisili di Balikpapan, Kalimantan Timur. Antologi Cerita Pendek “Menjemput Hidayah” ini adalah karya solo ketiga setelah buku Cerita Pendek “Tinggal Tunggu Waktu” dan Antologi Fiksi Mini “Retjeh” Karya-karya lainnya yang telah diterbitkan:  Kontributor pada 14 cerita pendek dalam berbagai antologi cerita pendek yang telah diterbitkan.  Editor Novel Bayoma, Balikpapan-Yogya-Magelang, Kisah Cinta Tiga Kota Karya Dandy Hidayat.  Tinggal Tunggu Waktu – Cerita Pendek, Penerbit Guepedia.  Retjeh – Antologi Fiksi Mini, Penerbit SIP Publishing. Berharap karya-karyanya dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca dan mampu memberikan kontribusi positif dalam dunia literasi. Penulis menerima saran dan kritik untuk perbaikan karya-karyanya di masa mendatang, silakan menuliskannya ke: Vishmadeva Prasatya Management e-mail: [email protected] WA: 081347470114 Temui tulisan-tulisan, artikel, opini dan kisah nyata lainnya di laman Facebook: Wishnu Giar, Instagram: @wishnu_giar, Storial.co: @wishnu2804. Salam Literasi Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat 127

Menjemput Hidayah Blurb: Kumpulan cerita pendek ini singkat, menarik dan mudah memahaminya, memberikan pemahaman kepada yang membacanya terutama \"Masalah Riba\" yang Allah telah mensyariatkan keharamannya. (M. Satibi) Penulis menyajikan kisah dengan gaya bahasanya yang cukup sederhana sehingga mudah dipahami dan mampu menyajikan dengan baik kepada pembaca. (Ali Arifin) Dalam beberapa kisahnya, saya tak sanggup menahan air mata haru, sangat menyentuh, hampir saja gagal melanjutkan penyuntingannya. (A. Abinayya) Semoga Penulis dan karya Tulisannya bermanfaat bagi kaum Muslim yang ingin dan sedang berhijrah. (M. Taufik Hidajah) Buku ini sangat layak dibaca karena buku ini ditulis langsung oleh seorang yang sebelumnya pernah terjebak dalam praktek riba dan kemudian hijrah meninggalkannya dan merasakan ketenangan hidup atas keputusan hijrahnya tersebut. (Husein Budiraharjo) 128


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook