Important Announcement
PubHTML5 Scheduled Server Maintenance on (GMT) Sunday, June 26th, 2:00 am - 8:00 am.
PubHTML5 site will be inoperative during the times indicated!

Home Explore EBook3_Menjemput Hidayah

EBook3_Menjemput Hidayah

Published by wishnugiar, 2022-12-15 02:09:24

Description: EBook3_Menjemput Hidayah

Search

Read the Text Version

Menjemput Hidayah ‫َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﳏَﱠﻤ ُﺪ ﺑْ ُﻦ اﻟ ﱠﺼﺒﱠﺎ ِح َوُزَﻫْﻴـُﺮ ﺑْ ُﻦ َﺣْﺮ ٍب َوﻋُﺜْ َﻤﺎ ُن ﺑْ ُﻦ أَِﰊ َﺷﻴْﺒَﺔَ ﻗَﺎﻟُﻮا َﺣ ﱠﺪﺛـَﻨَﺎ ُﻫ َﺸﻴْ ٌﻢ‬ ‫اﻟﱢﺮﺑَﺎ‬ ‫آﻛِ َﻞ‬ ‫َو َﺳﻠﱠ َﻢ‬ ‫اﻟﻠﱠﻪُ َﻋﻠَْﻴِﻪ‬ ‫ﻗَﺎ َل ﻟََﻌ َﻦ َر ُﺳﻮُل اﻟﻠﱠِﻪ َﺻﻠﱠﻰ‬ ‫َﻋ ْﻦ َﺟﺎﺑٍِﺮ‬ ‫اﻟﱡﺰﺑـَِْﲑ‬ ‫أَﺑُﻮ‬ ‫أَ ْﺧﺒَـَﺮﻧَﺎ‬ ٌ‫َﺳَﻮاء‬ ‫َوَﻛﺎﺗِﺒَﻪُ َو َﺷﺎ ِﻫ َﺪﻳِْﻪ َوﻗَﺎ َل ُﻫ ْﻢ‬ ُ‫َوُﻣْﺆﻛِﻠَﻪ‬ Dari Jabir R.A Rasulullah bersabda: \"Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama (dilaknat).\" (H.R. Muslim) 51

Menjemput Hidayah Bukan Perkara Untung dan Rugi Mobil dan sebidang tanah dua ratus meter persegi sudah terjual, tinggal satu unit rumah tipe 45 di tanah seratus meter persegi yang belum laku walaupun sudah beriklan di mana-mana, di koran, media sosial, memasang banner serta menawarkannya ke teman-teman dan kawan-kawan lainnya. Yang lebih ekstrim, Topan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai staf umum di perusahaan distribusi bahan makanan dan minuman yang cukup besar di kota Balikpapan, katanya banyak suap dan sogok serta peluang- peluang lainnya yang bisa membuatnya mendapatkan penghasilan tak halal. Topan sudah benar-benar insyaf dan bertaubat, sejak mengetahui jika apa yang dikerjakan dan dihasilkannya banyak yang berasal dari cara yang tak baik, iapun memutuskan untuk segera berhenti melakukan hal-hal yang tak sesuai syariah. Mobil yang masih dalam masa angsuranpun ia jual untuk kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membayar sisa utangnya di leasing, sebidang tanah yang sudah hampir sepuluh tahun dibeli melalui cara kreditpun ia jual untuk menutupi utang-utang yang masih ia miliki, dan satu unit rumah yang ia beli secara kredit melalui KPR Bank konvensional akan dijual untuk menutupi sisa utang yang ada. Topan tak ragu-ragu meninggalkan semuanya, walaupun sedikit kesusahan, rasa sakit hati dan ujian lainnya mengikuti keseriusannya selama hampir lima tahun ini, memang bukan perkara mudah meyakinkan istri, ibunda dan mertuanya yang rata-rata menyayangkan bahkan menentang, namun Topan tetap kukuh pada pendiriannya karena ia telah memahami bahwa apa yang selama ini dilakukannya justru melanggar aturan dan ketentuan syariah dan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Penghasilannya saat ini tak sebanding dengan ketika ia masih berkerja sebagai staf umum di perusahaan, selain gaji tetap, Topan juga sering mendapat uang tambahan dari pekerjaan-pekerjaan sampingan yang masih ada hubungannya dengan pekerjaan yang ia lakukan di kantor sehari-hari, bahkan yang mengejutkan, jumlah gaji pokoknya itu terkadang bisa lebih kecil dari penghasilan sampingan yang ia peroleh. 52

Menjemput Hidayah Tapi saat ini semua berbalik hampir 180 derajat, penghasilannya tak lagi melimpah, ia hanya berjualan madu dan herbal serta menjual jasa untuk keterampilannya memperbaiki komputer dan laptop, terkadang membantu beberapa teman-temannya menjualkan produk usaha kecilnya. “Wah, masa sampai empat tahun belum juga terjual rumahmu Pan?” tanya Habil. “Belum jodoh Bil, ada beberapa sih yang bertanya, tapi belum berlanjut.” “Berapa mau kamu lepas? Kalau ga salah harga pasaran di lokasi itu sekitar tiga ratus lima puluh jutaan” “Rumah itu masih asli dan belum aku renovasi Bil, rencana mau kulepas tiga ratus juta saja, bantulah kau tawarkan, aku ingin selesaikan utang-utangku.” “Mungkin kamu belum benar-benar ikhlas melepasnya pan, masih ada rasa ingin mempertahankannya, betul?” “Hmm, ga ngerti ya, ini hartaku satu-satunya yang tinggal selain motor NF tua ini Bil, tapi aku memang sudah niatkan untuk menjualnya.” Kata Topan seraya menunjuk motor Honda Supra buatan tahun 2005 yang terparkir di halaman tak jauh dari teras tempat mereka mengobrol. “Nah, itu sudah, kamu masih menganggap rumah itu sebagai harta yang tersisa, kamu mengabaikan harta lainnya.” Topan mengerenyitkan dahinya lalu memikirkan apa yang baru saja dikatakan Habil sahabatnya, agak terkejut juga mendengar Habil berbicara demikian, dari dalam hatinya ia ingin segera membela dirinya dengan kalimat-kalimat pembenaran versi batinnya. “Pendapatku, barangkali kamu harus lebih fokus kepada tujuanmu melakukan ini semua, maksudnya agar kau pertajam sebabnya, menjual karena perlu uang untuk bayar utang atau menjual karena ingin mengikuti perintahNya melepaskan diri dari utang riba.” Kata Habil lagi menusuk hati Topan yang tak bisa berkata lagi saking dalamnya perkataan Habil. “Kalau mobil dan tanahmu yang sudah terjual dengan mudah itu pasti kemudahan yang Allah berikan, karena kamu sudah betul-betul membutuhkannya selain memang kamu jual rugi juga kan?” “Maksudnya gimana Bil?” kali ini Topan tampak belum memahami yang disampaikan Habil. 53

Menjemput Hidayah “Allah itu maha baik dan juga maha adil Pan, betul kan? semua doa pasti dikabulkannya jika kamu meyakininya, Ia juga tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa, coba ingat-ingat apa yang sudah kamu lakukan sebelum menjual, ketika melakukan proses penjualan mobil dan setelah melakukan penjualannya, apakah ada sedikit kelalalaian Allah atas usahamu? Atau bahkan kamu tak mengingatNya ketika itu.” Panjang lebar Habil menerangkan pada Topan yang kemudian larut pada ingatannya saat ia menghadapi banyak debt collector yang mengusik ketenangannya. “Iya ya bil, astaghfirullah, dulu aku berpikir yang penting mobil kejual dulu agar bisa mengurangi tekanan debt collector, tanah juga yang penting ada pembelinya dulu supaya tak banyak panggilan telepon dari Bank setiap hari, rupanya itu justru yang mengurangi keikhlasan kita ya?” “Wallahu a’lam, bukan kesalahan tapi manusiawi itu Pan, baiknya kembali kita luruskan niatnya.” Topan sejenak tertunduk melihat dirinya lebih dalam, ada pertanyaan besar dalam dirinya apakah selama ini ia sudah benar melangkahkan kaki di jalanNya? ternyata hijrah sesungguhnya adalah ketika memahami dan kemudian mengamalkan suatu kebenaran yang didapatkan bukan hanya sekedar berhenti melakukan kemaksiatan dan menuntaskan semua perbuatan yang dilarang Allah. Tak lama berselang, Topan terlihat lebih sering berada di rumah yang akan ia jual, ia banyak berkegiatan disana walaupun kondisi rumah yang kosong dan tak lagi ada penyewa seperti sebelumnya, Topan sudah membulatkan tekad bahwa rumah yang sejak tujuh tahun lalu ia beli, lalu disewakannya menjadi kosong dan fokus untuk dijual dengan niat menyelesaikan urusan utang ribanya karena Allah saja. Setiap hari Topan ada di rumah tipe 45 itu, beribadah dan mengaji di dalamnya, membersihkannya serta memperbaiki bagian-bagian rumah yang rusak sehingga terlihat rapi dan bersih. Terkadang terlihat bercakap-cakap dengan tetangga atau mengunjungi Pak RT untuk sekedar berdiskusi dan bertukar pikiran tentang lingkungan sekitar. Hingga suatu hari Pak RT memberikan informasi pada Topan bahwa seorang pengusaha tengah mencari rumah dijual untuk anaknya yang baru saja berkeluarga. “Coba hubungi nomor ini mas, siapa tahu cocok, beliau sudah beberapa kali kemari, katanya dia pernah mendengar cerita lingkungan sini dari Pak Nawin pemilik 54

Menjemput Hidayah rumah di ujung jalan itu.” Kata Pak RT pada Topan sambil mencoba membuka file di HPnya. “Baik pak, insyaa Allah saya hubungi.” sahut Topan. Bukan menolak rejeki dan melepas peluang, setelah Topan menghubungi pengusaha yang berminat membelikan rumah untuk anaknya itu, ternyata akan memproses perjanjian jual beli rumah melalui Bank dengan sistem kredit kepemilikian rumah (KPR), Topan dengan halus menolaknya walaupun dari sisi harga Topan sangat puas dan merasakan banyak keuntungan didapatnya. “Kenapa ga di lepas Pan?” tanya Habil “Mau pake KPR, sama saja aku menjerumuskan pembeli.” “Iya juga sih, tapi kan itu urusan pembeli bukan urusan kita.” Kata Habil lagi. “Pengusaha itu Muslim Bil dan ia berencana akan memberikan rumah ini pada anaknya, aku ga yakin ia memberikan cuma-cuma pada anaknya itu, orang tua pengusaha akan membantu anaknya untuk berdiri tapi setelah bisa berjalan ia akan dilepas sendiri.” “…dan belajar berdiri tak sampai 15 tahun, ya kan?” sambung Habil sambil tertawa. “Lalu apa hubungannya dengan transaksi rumahmu?” Habil bertanya lagi. “Ga usah ngetest gitu, kata pak Ustaz Ali, semua muslim itu saudara kita, nah masa sekarang aku tega menjerumuskan saudara ke jurang riba.” Topan menjawab sambil tetap merasa bahwa Habil adalah sahabatnya yang lebih memiliki pengetahuan tentang Islam dan syariah lebih baik darinya. “Aku ga ngetest, sepengetahuanku jika diluar dari jangkauan kemampuan kita ya sebatas itu saja yang bisa kita lakukan dan kondisimu kan juga tertekan saat ini, darurat lah.” “Ah, yang darurat itu kan kalau bukan dibuat sendiri.” Jawab Topan tajam. “Daripada kesempatan menjual hilang?” Habil mulai memprovokasi. “Subhanallah, sejauh ini aku tetap yakin pada Allah Bil, jika kita tawakal dan meluruskan niat seperti yang kamu bilang, insyaa Allah kesempatan yang lebih baik akan datang.” 55

Menjemput Hidayah “Betul juga sih, kondisi sekarang sedang sulit, siapa yang mau beli rumah tiga ratus lima puluh juta cash? agak berat, tapi kalau Allah mau, siapa bisa menolak.” Kata Habil sambil meluruskan pandangannya jauh ke angkasa. “Sabar, ini ujian…” Topan berkata sambil tersenyum dan menjangkaukan tangannya ke bahu Habil. “Koq aku sih? yang bermasalah kan kamu Pan.” “Nah kan, sama saudara muslim dekat saja sikapnya begitu, gimana sama yang di Palestina sana.” Kedua orang yang bercakap-cakap itu lalu saling tersenyum dan menikmati sore yang cerah di rumah kosong milik Topan, ada hikmah yang tersirat bahwa menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, apalagi dengan sengaja mengorbankan diri dan orang lain yang tak berdosa, tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Persahabatan mereka yang terjalin saling mengisi, menasihati dan saling mengoreksi satu dengan lainnya itu terus berkembang dan berkelanjutan, mereka bukan lagi berpikir tentang perkara untung dan rugi di setiap perilaku, perbuatan dan tindakannya, mereka sudah mulai berpikir tentang surga dan neraka. 56

Menjemput Hidayah ‫ُﰒﱠ ﻟَﺘُ ْﺴٔـَﻠُ ﱠﻦ ﻳـَْﻮَﻣﯩ ٍﺬ َﻋ ِﻦ اﻟﻨﱠﻌِْﻴ ِﻢ‬ “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (Q. S. At Takatsur 102:8) 57

Menjemput Hidayah Harta, Tahta, Hanya Cerita Azan Subuh belum berkumandang, langitpun masih gelap gulita tak bercahaya, tak ada bintang apalagi terangnya bulan, Idham bergegas mengendarai motornya menuju Mesjid Al Makmur yang jaraknya lima kilometer dari tempat tinggalnya, Mesjid yang hampir setiap akhir pekan ia sambangi di waktu Subuh hingga matahari naik sepenggalan. Ini pekan ke tujuh Idham hadir di Mesjid Al Makmur, Mesjid yang memberinya banyak pencerahan belakangan ini, ada beberapa tausiyah yang mengena langsung menancap di hatinya hingga ia langsung berniat untuk berhijrah dan rajin mengikuti kuliah Subuh dan kajian duha di Mesjid itu. Pekan ketujuh ini seperti biasanya setelah salat Subuh Idham langsung duduk mengambil tempat di baris kedua sisi sebelah kanan mimbar, kali ini kuliah Subuhnya akan disampaikan Ustaz yang diundang khusus dari luar kota, ada Wak Haji Ansyari yang ia kenal sudah duduk bersila disamping kirinya dan seorang paruh baya di sisi kanannya yang belum Idham kenal, pakaian koko dan sarungnya sangat rapi, peci hitam di kepalanya tampak sedikit miring dan wangi parfum bermerk tercium tajam. Idham kemudian menyalami Wak Haji Ansyari sambil bersalawat demikian juga kepada Bapak disampingnya yang kemudian mengenalkan dirinya sebagai Afrizal yang belakangan Idham ketahui bahwa Pak Afrizal ini adalah seorang pengusaha besar di kota ini. Ustaz Hasan Abdurahman mulai menyampaikan materinya di kuliah subuh hari ini, perlahan dan sangat mudah dimengerti, pantas saja ia sering diundang banyak majelis dan kajian di berbagai kota, tausiyahnya menyejukkan dan menentramkan namun juga menyengat hingga tak jarang mereka yang memperhatikannya larut dalam suasana yang Ustaz Hasan ciptakan, dan ketika sampai kepada sesi tanya jawab Pak Afrizal nampaknya tak bisa membendung air matanya, berulang kali ia melepas kacamata minus yang dipakainya untuk sekedar menghapus air mata yang jatuh berbilur di pipinya. Tema fiqih muamalah, bisnis Islami dan dihubungkan dengan bekal kematian membuat Pak Afrizal nampak sangat tersentuh, Idham yang berada disampingnya sampai hilang fokus dan berulang kali melirik Pak Afrizal, ada keinginannya untuk mengeluskan tangannya di bahu pak Afrizal namun keraguan menggagalkan niatnya. 58

Menjemput Hidayah Selesai majelis Subuh Idham tak langsung pulang seperti jamaah lainnya, ia dan Wak Haji Ansyari beserta beberapa jamaah lainnya masih bertahan menanti kajian duha, Pak Afrizal sudah tak terlihat di kerumunan jamaah yang bersalaman dengan Ustaz Hasan, Idham berusaha mencari mengelilingkan pandangan matanya di sekitar ruangan hingga tertumpu pada seseorang yang tengah berjalan perlahan menuju pintu keluar, Idham lalu menghampiri Pak Afrizal. “Pak, langsung pulang?” tanya Idham seraya menyodorkan tangan mengajak bersalaman. “Eh iya mas, saya ada janji menemani istri saya menengok cucu pagi ini.” Jawab Pak Afrizal agak terkejut. “Oo, saya kira mau ikut kajian duha jam delapan ini Pak.” “Iya, saya ingin sekali tapi udah janji Mas, insyaa Allah pekan depan saya ikut ya.” Pak Afrizal kemudian kelihatan merogoh sesuatu di sakunya dan mengambil kartu nama dari dompetnya. “Ini, nanti siang sebelum waktu Zuhur kalau Mas ada waktu, mampir ke rumah ya.” Tiba-tiba Pak Afrizal memberikan kartu namanya pada Idham sekaligus pamit dan mengucapkan salam pada Idham yang hanya terdiam tak percaya atas apa yang terjadi padanya, maksud hati hanya menyapa tapi justru malah disambut dengan undangan silaturahim. “Waalaykumusalam Pak Afrizal, insyaa Allah.” singkat Idham menjawab sambil berusaha menyembunyikan keheranannya. Idham adalah seorang karyawan perbankan, sudah hampir tiga bulan ia dilanda galau, ia ingin segera mengundurkan diri sebagai karyawan setelah mengetahui bahwa pekerjaan yang sudah tiga tahun dilakoninya ini adalah pekerjaan yang tak dibenarkan menurut ajaran Islam, sebagai seorang Penyelia Marketing Kredit Usaha, ia meyakini bahwa pekerjaannya justru menjerumuskan banyak orang ke dalam jeratan utang riba. Idham berniat untuk segera keluar setelah mendapatkan pekerjaan baru yang sesuai dan tidak melanggar aturan hidup dalam Islam, kehidupannya kini diisi dengan banyak beribadah dan menuntut ilmu dari majlis-majlis taklim dan kajian-kajian di mesjid-mesjid sambil berusaha mendapatkan pekerjaan dan usaha baru. *** 59

Menjemput Hidayah Setadinya Idham meragu untuk mendatangi rumah di jalan Sudirman milik Pak Afrizal, dari alamat yang ia baca di kartu nama saja dipastikan bahwa rumah Pak Afrizal itu rumah yang istimewa, namun karena sudah berjanji, Idham memberanikan diri mengunjungi rumah Pak Afrizal. Benar saja, begitu sampai di depan rumahnya Idham terpaku memandangi pagar baja hitam bermotif setinggi dua setengah meter, dari sela-sela pagar ia bisa melihat dua pilar besar seperti pilar istana bergaya Romawi, kokoh mengesankan tangguh dan besarnya rumah itu. “Cari siapa Mas?” seorang Satpam tiba-tiba bertanya pada Idham. Idham terkejut, tiba-tiba saja Pak Satpam sudah berdiri disampingnya, ia sama sekali tak menyadari kalau sejak ia menghentikan motornya di depan gerbang tadi Pak Satpam sudah memperhatikannya. “Saya mau ketemu Pak Afrizal, Pak” jawab Idham “Oo, mau ketemu Bapak, boleh saya tahu keperluannya apa ya Mas?” tanya Pak Satpam dengan sopan. “Saya pagi tadi bertemu di Mesjid Al Makmur dan Pak Afrizal mengundang saya siang ini Pak, ini kartu nama yang beliau berikan ke saya” kata Idham sambil menunjukan kartu yang tadi pagi ia terima dari Pak Afrizal. “Oh baik Mas, tunggu disini sebentar ya, saya paging lebih dulu ke dalam” Pak Satpam bergegas menuju pos Security. Tak lama ia kembali keluar lalu membukakan gerbang dan meminta Idham masuk. “Silakan mas, nanti motornya diparkir di samping sana saja ya, supaya teduh.” Pak Satpam yang kemudian dikenal dari badgenya bernama Jamal kemudian menunjukan tempat parkir motor di bawah pohon yang cukup rindang bersama dua motor lain yang terlihat disitu. Belum selesai Idham memarkirkan motornya, Pak Afrizal sudah berdiri di depan pintu utama, berdiri menyambut sambil tersenyum pertanda gembira, Idham pun langsung menghampiri dan menyalami sambil sedikit membungkukkan badannya. “Ayo Mas Idham, silakan masuk, kita di ruang tengah saja ya sambil ngopi.” Pak Afrizal mempersilakan Idham masuk rumah. Idham tak habis kagumnya pada rumah itu, belum usai memandangi garasi disamping rumah yang berisikan tiga mobil yang terkenal mahal, satu mobil sedan, satu SUV dan satunya mobil Van untuk keluarga, satu motor besar terparkir juga 60

Menjemput Hidayah disana. Halaman rumah yang luas dan indah ditanami berbagai tanaman hias dan pohon-pohon peneduh, lalu Idham disajikan pula pemandangan interior ruang tamu yang mewah bergaya arsitektur klasik modern, paduan warna dinding yang bernuansa coklat dan emas menimbulkan kesan eksklusif, ada lukisan besar di dinding, sepertinya buah karya pelukis ekspresionis kenamaan dari Yogyakarta, Affandi. “Saya dulu ingin sekali belajar Seni Pak, maunya saya kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogya dulu pak, tapi ayah saya tak begitu menyetujui jadi saya kuliah Bisnis dan Manajemen saja sesuai apa yang beliau minta.” Idham berkisah ketika ditanya Pak Afrizal tentang latar belakang pendidikannya. Diskusi dimulai dan semakin menarik, mereka berdua saling bertukar kisah dan pengalaman, selisih usia dua puluh tahun tidak membuat keduanya canggung untuk berbicara lebih jauh, Pak Afrizal nampak lebih dominan, pengalaman pengusaha besar yang usianya lebih setengah abad ini sangat banyak dan beragam. “Jadi pagi tadi Mas, saya sangat tersentuh dengan apa yang disampaikan Ustaz Hasan, saya sudah banyak melakukan kesalahan, keliru mengambil langkah” Pak Afrizal terlihat begitu terpukul. “Selama ini saya tidak pernah mau belajar dan menganggap semuanya aman dan biasa saja, kalau saja saya tak tergerak untuk pergi ke Mesjid untuk salat Subuh tadi, mungkin ceritanya akan sangat berbeda.” “…Bayangkan Mas. Semua yang saya miliki ini sumbernya ternyata bukan dari hal yang baik, bisnis saya selama ini bergelimang dosa riba dan banyak hal yang tak sesuai syariah.” Idham hanya tertegun saja memperhatikan semua yang dibicarakan Pak Afrizal. Pak Afrizal lalu mengajak Idham mengelilingi rumahnya, singgah ke pendopo di bagian belakang rumah, pendopo yang terbuat dari bambu, berlantai anyaman bambu dan beratap sirap, di dekatnya ada mushola yang cukup luas, mushola yang nyaman dengan penerangan yang cukup dan berpendingin ruangan. Idham masih belum habis pikir akan banyaknya harta kekayaan Pak Afrizal ini, konon selain peternakan Sapi di Kilometer delapan belas yang ia miliki, ada juga Stable (Kandang Kuda) dengan sembilan ekor Kuda di dalamnya. “Saya masih merasa apa yang saya miliki saat ini menjadi sangat tidak berarti Mas, kalau ingat apa yang dikatakan Pak Ustaz Hasan tadi pagi, saya jadi 61

Menjemput Hidayah bingung harus mulai dari mana memperbaikinya, seperti sudah terlanjur semuanya.” Pak Afrizal kemudian duduk di tepi kandang burung Merpati tak jauh dari kolam ikan Koi sambil melemparkan jagung ke sekumpulan Merpati. “Jangan begitu juga Pak, kita perlu bersabar dan terus belajar Pak.” Idham berusaha menghibur Pak Afrizal. “…Kata Pak Ustaz tadi, mengikuti perintah Allah itu justru lebih mudah daripada melanggar aturanNya, bukan begitu Pak?” Idham melanjutkan. “Hmm, lalu…?” Pak Afrizal tertegun “Ga ada jalan lain Pak, untuk memudahkan agar Bapak tidak bingung maka ikuti saja perintah Allah, jika lalai maka bertobat lalu berhijrahlah secara kaffah, sebagai orang yang memiliki harta yang banyak dan juga memiliki jabatan di perusahaan-perusahaan tentunya Bapak tahu dari mana asal harta dan bagaimana memperlakukannya.” Pak Afrizal kemudian memandangi Idham beberapa saat, wajahnya berubah menuju cerah seperti mendapatkan ide segar dari apa yang baru saja dikatakan Idham. Lalu Pak Afrizal mengajak Idham cepat-cepat ke satu ruangan yang ia sebut ruang baca. “Katakan Mas, buku apa yang harus saya baca? pasti ada satu seperti yang barusan Mas Idham katakan di antara tumpukan buku di ruangan ini” Pak Afrizal terlihat sangat antusias, ternyata ia termasuk orang yang gemar membaca buku. “Kitab Petunjuk Tobat – Kembali ke Cahaya Allah, buku karya Yusuf Qardhawi Pak, kebetulan saya juga sedang membacanya.” Idham langsung merekomendasikan buku yang sejak sebulan lalu ia baca. Pak Afrizal langsung menuju rak ujung dekat pintu keluar, buku dengan 398 halaman bercover warna hijau dan kombinasi warna pasir itu mudah saja ia temukan “Buku ini dibeli Archan, anak saya beberapa waktu lalu, ia sempat menyarankan saya untuk membacanya, tapi saya selalu bilang iya nanti, iya nanti, sampai sekarang belum saya baca, setelah ini pokoknya prioritas saya baca deh, sementara ini apa yang bisa Mas Idham bisa simpulkan dari apa yang sudah dibaca?” Pak Afrizal bertanya serius pada Idham. “Buku itu menurut saya mengajarkan kita bahwa bertobat adalah perbuatan yang sangat disukai Allah, harta bukan sasaran pencapaian utama kita, harta justru 62

Menjemput Hidayah harus berperan sebagai media untuk menambahkan ketakwaan kita kepada Allah, untuk memudahkan kita berbuat baik hanya karena Allah.” Pak Afrizal terdiam sejenak lalu menganggukan kepalanya, sama sekali ia tak menyangka telah mendapatkan pencerahan dari seorang yang jauh lebih muda dari usianya. “Kenapa sekarang ketika mendengar harta, saya jadi merasa tak berguna, ketika nanti ditanya satu persatu saya pasti tak akan ingat harta yang sebegini banyaknya dan nanti ini hanya akan jadi cerita saja, yaa Allah, begitu hinanya saya.” Langit masih membiru dengan awan yang berarak, cuaca cerah dan lembab tanpa sengatan matahari siang itu membuat Pak Afrizal dan Idham tenggelam dalam suasana saling koreksi dan saling menguatkan tanpa secara langsung disadari keduanya, sebentar lagi masuk waktu Ashar, saat semua doa orang-orang bertobat naik ke langit dan bersiap untuk segera dikabulkan, Insyaa Alloh. Aamiin. 63

Menjemput Hidayah ‫َواَﻧِْﻔُﻘْﻮا ِ ْﰲ َﺳﺒِْﻴ ِﻞ اﻟٰﻠِّﻪ َوَﻻ ﺗُـْﻠُﻘْﻮا ﺑِﺎَﻳْ ِﺪﻳْ ُﻜ ْﻢ اَِﱃ اﻟﺘﱠـ ْﻬﻠُ َﻜِﺔ ۛ◌ َواَ ْﺣ ِﺴﻨُـْﻮا ۛ◌ اِ ﱠن اﻟٰﻠّﻪَ ُِﳛ ﱡﺐ‬ ‫اﻟْ ُﻤ ْﺤ ِﺴﻨِْ َﲔ‬ “Dan infaqkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Baqarah 2:195) 64

Menjemput Hidayah Waktu Bersujud TVEEUS begitu kode booking yang tertulis di e-tiket penerbangan yang kuterima kala itu, masih dalam perasaan tidak percaya bahwa keberangkatan ke tanah suci akan benar-benar terjadi, suatu perjalanan religius pertama kali yang bahkan sama sekali tak terfikirkan sebelumnya, berulang kali melihat tiket penerbangan itu, disitu tertulis jelas nama lengkapku Abdullah/ Ali Misbach MR dengan nomor tiket dan detail itinerary keberangkatan jam 06.45 dan diperkirakan tiba di Madinah jam 13.00 waktu setempat, Madinah? Iya Madinah, salah satu kota suci umat Islam dunia dimana Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, Muhammad bin Ibnu Abdullah, panutan dan suri tauladan kami dimakamkan. Kamis 5 April 2016, tanggal di kalender berwarna merah, kami diundang untuk kembali berkumpul di paviliun kediaman Pak Haji Nu’aiman, ada dua puluh orang anggota panitia yang hadir, mereka sudah bekerja dalam acara Tabligh Akbar sebulan yang lalu, Pak Hajipun berbicara di hadapan kita semua mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya untuk kelancaran acara, beliau juga menyampaikan nasihat-nasihat dan banyak hal tentang kehidupan yang tentu sangat bermanfaat bagi kami, Pak Haji Nu’aiman adalah seorang pengusaha sukses, tempat tinggal dan usahanya ada di lingkungan wilayah RT kami, beliau seorang yang dermawan, sangat ramah dan sering mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan terutama yang berhubungan dengan umat Islam, seperti bulan lalu ketika mengundang salah seorang Kyai terkemuka untuk bertabligh akbar di kota kami. “Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara berjalan lancar, semua laporan telah dievaluasi dan saya beri nilai baik, tidak ada komplain dari pihak manapun, semua senang dan bergembira, karenanya saya ingin memberikan penghargaan dan tanda terima kasih kepada antum semua, tidak banyak yang bisa saya berikan tapi kita patut syukuri bersama, bersyukur bersama-sama di Baitullah, kita akan ke Mekkah Al-Mukaromah di pertengahan Ramadan, insyaa Allah”. Pak Haji Nu’aiman mengejutkan kami di akhir pertemuan. Beberapa peserta kontan terhanyut, emosionil dengan kejutan Pak Haji, meneteskan air mata haru sambil menengadahkan tangan bersyukur kepada Allah Ta’ala, ada yg bersujud syukur dan ada yang saling berjabat tangan dan berpelukan. Aku sendiri hanya bisa tercengang dan lekas memanjatkan syukur seraya berdoa dan bersalawat tiada hentinya, benar kata pak ustaz “Barang siapa 65

Menjemput Hidayah meninggalkan keburukan maka Allah akan menggantikan dengan kebaikan yang berlipat ganda.” Seperti sebuah jawaban dari Allah atas perbuatan yang dilakukan, persis satu bulan lalu, aku dan istriku memutuskan untuk melepaskan satu-satunya harta yang tersisa yaitu dua puluh gram logam mulia untuk di lelang di Pegadaian, kami tak mampu lagi menebusnya dan tak mau lagi membayar angsurannya, riba. Sudah sejak satu setengah tahun lalu kami memutuskan untuk keluar dari jeratan riba, kami begitu terkejut bahwa ternyata utang riba berakibat dosa yang besar dan akan sulit sekali termaafkan, bahkan Allah dan Rasulnya mengancam dengan peperangan dan kekal selamanya di neraka jahanam jika kami tak berhenti berperilaku riba. Aku memilih langsung meninggalkan urusan dengan perilaku ekonomi riba dengan menjual semua aset yang ada, rumah, mobil dan semua harta benda yang masih dalam masa angsuran kami jual, hasil penjualannya kami gunakan untuk menutup semua utang dengan negosiasi tanpa membayar bunga, denda dan biaya- biaya lainnya, alhamdulillah semua bisa diselesaikan walaupun akhirnya kami harus pindah dan mengontrak rumah. Bersyukur istri dan anak-anak mau mengerti akan kondisi ini, begitu juga keluarga besar yang dengan sangat sabar membantuku untuk segera keluar dari jeratan utang riba. *** Sesampainya kami di Madinah, kami langsung menuju hotel yang jaraknya tak seberapa jauh ke Masjid Nabawi, gembira sekali kami hari itu, kamipun lalu beristirahat sambil menunggu waktu salat Ashar, “Assalamualaikum Mas Ali, njenengan dipanggil Pak Haji ke kamarnya” tiba- tiba Ustaz Ismail masuk ke kamar kami yang sengaja tak kami tutup pintunya, beliau adalah tour leader kami dalam rombongan jemaah umroh ini. “Waalaikumusalam, kira-kira ada apa ya Pak Ustaz?” aku bertanya agak keheranan sebab jarang-jarang Pak Haji memanggilku khusus seperti ini. “Wah nda’ tau saya mas, beliau ada di kamarnya, ada Pak Yunus dan Pak Habib juga disana.” Demikian pak Ustaz Ismail menjelaskan. Akupun bergegas menuju ke kamar Pak Haji Nu’aiman, benar saja disana sudah ada Pak Yunus & Pak Habib. 66

Menjemput Hidayah “Alhamdulillah, silakan duduk Mas Ali” begitu pak Haji memanggil dan mempersilakan. “Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya, sengaja saya mengumpulkan teman-teman disini karena saya menganggap teman-teman ini adalah orang-orang yang mampu menjadi pimpinan dalam rombongan ini, memang sudah ada Ustaz Ismail yang menjadi tour leader tapi saya memohon kepada antum bertiga supaya bisa menjaga rombongan kita yang lumayan banyak ini dan sudah banyak yang sepuh.” Pak Haji menyampaikan pesan ini dengan sangat santun sambil duduk di kursi tamu kamar hotelnya yang cukup luas. “Satu lagi, mohon doakan Ayah saya yang sedang sakit semoga beliau lekas sembuh, rasanya saya koq tidak akan tuntas bersama-sama rombongan ini.” suara beliau mulai terbata dan raut wajahnya berubah menjadi layu. Kami semua memahami, Pak Haji Nu’aiman masih memiliki Ayah yang sudah sepuh dan dalam kondisi sakit, usianya sekitar delapan puluhan, sebenarnya Pak Haji berat meninggalkan beliau walaupun ada saudara-saudara kandungnya yang menjaga, tapi dengan sedikit memaksa ia ingin sempatkan berdoa di Baitullah untuk kesembuhan Ayahnya. *** Hari keempat di Madinah menyisakan berjuta kenangan yang tidak mungkin terlupakan, ziarah ke makam Rasulullah dan para sahabat, berdesakan di pintu masuk Raudhah dan berbuka puasa bersama umat muslim dari seluruh penjuru dunia di mesjid Nabawi yang sangat mengesankan, kami pun kemudian menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah umroh di Baitullah, dengan mengemban amanah dari Pak Haji Nu’aiman aku semakin dekat dengan jamaah, lebih banyak perhatian dan banyak berusaha untuk memberikan bantuan dan pertolongan terutama kepada mereka yang sepuh, rupanya ada hikmah di balik amanah yang diberikan Pak Haji, mungkin ini isyarat untuk lebih banyak berbuat dan bermanfaat bagi orang lain, alhamdulillah dengan sepenuh hati dan kepercayaan diri yang meningkat akupun melakukannya dengan senang hati. Jendela kamar hotel kami persis menghadap Zam-zam Tower, kamar hotel di wilayah Misfalah yang persis berada di bagian selatan tower tertinggi di kota Mekkah itu, kami berempat dalam satu kamar sangat senang mendapatkan kamar di posisi itu, pemandangan yang cukup indah. 67

Menjemput Hidayah “Ini kamar istimewa banget mas, Alhamdulillah.” kata Pak Marsani salah satu jamaah sambil sesekali ia berdiri memandang keluar jendela untuk beberapa saat dan mengabadikan lewat gawainya. “Beruntung dapat hotel disini, patokannya gampang jadi mudah ketemunya, saya suka bingung kalau kembali dari Mesjid.” lagi Pak Marsani mengungkapkan rasa syukurnya “Alhamdulillah Mas, kalau saya ga pernah nyasar, asal ketemu Merpati kumpul.” kata pak Suharno sambil senyum-senyum, kami pun larut dalam percakapan dan diskusi kecil sore itu sampai kami mendapatkan kabar kalau besok siang setelah salat Zuhur Pak Haji Nu’aiman akan kembali ke tanah air. “Beliau kedukaan?” tanyaku ke Pak Marsani “Nda’ mas, Pak Yunus bilang Pak Haji mau pulang saja, perasaannya nda’ enak.” Aku langsung menelfon beliau yang kamarnya ada di lantai lima belas gedung ini, dari percakapan kami nampaknya Pak Haji memang sudah ingin segera pulang menemui ayahnya, kami hanya bisa mendoakan agar orang tua yang sangat dicintainya bisa segera sembuh dan kembali beraktifitas seperti biasa. *** Aku duduk bersila di halaman Masjidil Haram sambil sesekali mengalihkan pandangan ke sekeliling, orang-orang mulai berdatangan satu persatu mengisi saf- saf, duduk di karpet hijau bermotif yang sudah digelar sejak usai salat Zuhur, beragam model pakaian Islami dari berbagai negara di belahan bumi ini dikenakan tapi tak banyak orang yang bersarung dan peci, mengenakan sarung khas Samarinda dan peci hitam motif khas Aceh seperti yang kukenakan. Adalah hari terakhir kami di kota Mekkah setelah kami menyelesaikan semua rukun ibadah umroh, Aku tak bersama rombongan untuk berbuka puasa dan beribadah salat Maghrib, hanya ingin bersendirian khusuk mendoakan Ayah Pak Haji Nu’aiman yang wafat siang tadi setelah salat Zuhur, beritanya diterima dari Pak Gani, adik Pak Haji Nu’aiman di Indonesia, duka Pak Haji juga duka kami, ada banyak doa kami panjatkan untuk Pak Hasan Hasballah bin Muhammad Yasir, doa dari anak- anaknya yang terbaik dari tempat yang terbaik pula. Tak lama saf mulai padat dan azan pun berkumandang, kami menyegerakan berbuka puasa kemudian melaksanakan salat Magrib berjamaah, syukur kami tiada henti setiap saat di waktu pagi, siang dan malam, waktu kami lebih banyak 68

Menjemput Hidayah dihabiskan di mesjid untuk beritikaf, ruku dan sujud berlama-lama serta memanjatkan berjuta doa dan permohonan kami kepada Alloh Ta’ala agar selalu mendapat kebaikan dan keberkahan dalam menjalani sisa-sisa hidup kami, mengharapkan keridhoanNya atas segala sesuatu yang akan kami lakukan dan kerjakan. Ibadah Umroh ini adalah jawaban dari doa-doa kami di setiap waktu dan kesempatan, aku sangat meyakininya, Allah sangat menyayangi orang-orang yang bertobat dan berbuat kebaikan dan tentunya Ia akan membalas ketaatan umatnya dengan kebaikan yang tak terduga dan tak terhingga, melepaskan diri dari jeratan utang riba bukan perkara mudah, di tengah lautan perilaku ekonomi jahiliyah saat ini yang dianggap normal dan biasa saja namun sungguh suatu hal yang mudah bagi Allah memberikan kemudahan kepada hambaNya yang mau bersungguh-sungguh bertaubat mengikuti aturan dan menjauhi segala laranganNya. TVEEUS begitu kode booking yang tertulis di e-tiket penerbangan yang kubuka dari dalam tas, disitu tertulis jelas namaku Abdullah/ Ali Misbach MR dengan nomor tiket dan detail itinerary keberangkatan jam 13.45 waktu Jeddah. Rasanya berat sekali untuk segera pulang ke tanah air, aku masih betah disini, masih ingin berlama-lama beritikaf, bersholawat dan bersujud mencium lantai Masjidil Haram, rasanya waktu sangat pendek menjalani khusuknya ibadah dan nikmatnya waktu bersujud. 69

Menjemput Hidayah ‫اِ ﱠن اﻟﱠ ِﺬﻳْ َﻦ اَٰﻣﻨُـْﻮا َواﻟﱠ ِﺬﻳْ َﻦ َﻫﺎ َﺟُﺮْوا َو َۗ◌ﺟﺎَواَﻟﻫٰﻠُّﺪﻪُْواَﻏُِﻔْﰲْﻮٌرَﺳﱠﺒِرﻴِْﺣِﻴْﻞ ٌﻢاﻟٰﻠِّﻪ ۙ◌ اُوٰﻟۤﯩ َﻚ ﻳَـْﺮ ُﺟْﻮَن َرْﲪَ َﺖ اﻟٰﻠِّﻪ‬ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah 2:218) 70

Menjemput Hidayah Sabar dan Salat Menolongmu Meja yang hanya satu di rumah kontrakan itu terlihat kosong, biasanya di waktu siang jam istirahat begini sudah siap makanan untuk santap siang ketiga anggota keluarga penghuninya, Nizam tak lama lagi pulang dari sekolah dijemput Dimas Ayahnya yang akan berehat berjualan di pasar. “Makan dulu Nak, setelah itu istirahat, sore nanti waktunya mengaji di Mesjid kan?” Dewi menyodorkan sepiring nasi dan semangkuk mie instan yang baru saja dimasaknya. Dimas hanya memandang layu wajah istrinya, ia sudah paham jika menjumpai meja kosong dan makanan spesial hanya untuk Nizam, itu artinya siang ini mereka berdua harus berpuasa dan ketika sore nanti tak ada barang dagangan yang terjual maka tak ada makan malam lagi yang akan tersaji. Senyum manis Dewi mengiringi segelas air putih yang ia sajikan pada suami tercintanya, wajahnya berseri seolah ingin mengingatkan sesuatu yang tak perlu pada suaminya, sudah hampir tiga bulan keluarga kecil ini menemukan hikmah dari proses hijrah Dimas meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan riba. Dramanya sudah terjadi sejak tiga tahun lalu ketika tiba-tiba Dimas menjumpai hidayah di sebuah Mesjid tempat ia berteduh dari hujan deras di perjalanan menuju keluar kota, saat itu Dimas sedang mengantarkan stok minuman ke kantor cabang tempat ia bekerja sebagai supir di perusahaan produksi minuman, karena hujan sangat deras dan jarak pandang semakin pendek maka Dimas memutuskan untuk berhenti di sebuah Mesjid sekaligus beribadah salat Ashar. Setelah salat sambil menunggu hujan reda Dimas berbincang dengan imam Mesjid itu, mereka berdiskusi panjang hingga menjelang waktu Maghrib dan bahkan Dimas dalam beberapa waktu berikutnya sengaja mengatur janji temu dengan imam Mesjid yang kemudian dikenal sebagai Ustaz Muadz. Rupanya sejak itulah Dimas mengetahui bahwa apa yang ia sedang kerjakan adalah satu pekerjaan yang kurang keberkahannya, menjadi supir mobil boks untuk mengantar produk perusahaan memang tidak ada salahnya, namun produk yang diantar adalah produk yang akan membuat sesiapa yang mengkonsumsinya akan jatuh kedalam maksiat dan dosa, produk minuman beralkohol yang diantar Dimas dari satu gudang ke gudang lainnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan botol setiap pekan. 71

Menjemput Hidayah Selain itu, pencerahan lainnya yang Dimas dapatkan adalah mengenai perilakunya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, keinginannya untuk menafkahi keluarganya dilakukan dengan cara yang ternyata sangat dilarang oleh Allah, selain bekerja di tempat yang kurang tepat, Dimas juga kerap mengajukan pinjaman ke bank konvensional untuk memenuhi keinginannya memiliki kendaraan maupun sekedar mengajak istri dan anaknya berlibur keluar kota. Tanpa menunggu lebih lama, seperti yang disarankan Ustaz Muadz, Dimaspun segera memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan memulai berjualan madu, kurma dan berbagai macam produk herbal di pasar, ia membenahi dirinya untuk bersegera menambah kuantitas dan kualitas ibadahnya. Tak mudah memberi pemahaman terhadap istri, anak dan keluarganya, beruntung Dewi sebagai istri sangat patuh dan mengerti atas apa yang dilakukan suaminya, doa dan usahanya juga tak kalah seperti apa yang dilakukan Dimas, selain ibadah salat malam yang selalu dilakukannya iapun berusaha membantu perekonomian keluarga dengan menitipkan produksi kemasan kerupuknya ke warung-warung terdekat. Doa tak mesti Allah langsung ijabah, ketaatan tidak serta merta instan mendapatkan kebahagiaan, usahapun tak selamanya mendapatkan keuntungan bahkan terkadang kerugian mengintai di setiap waktu, namun Dimas dan Dewi selalu mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Lagi, Dimas memandang wajah istrinya yang justru ceria, semangatnya bertumbuh, diminumnya air bening di dalam gelas dengan tiga kali tegukan sambil memandangi Nizam yang lahap menyantap sajian makan siangnya. “Aku kembali ke pasar ya Bu.” Dimas berdiri dari duduk bersilanya sambil menepukkan kopiahnya ke paha kanannya. “Iya Pak, Oo iya, nanti setelah salat Maghrib ada salawatan di rumah Pak Jumadi, tadi Ibu Jum kesini memberi kabar, jangan lupa hadir ya!” Dewi kemudian mengambil gelas di meja dan mengantar suaminya sampai keluar dari pintu rumah. *** Azan Isya berkumandang, nyaring terdengar dari Mesjid yang jaraknya hanya tujuh puluh meter dari rumah kontrakan Dimas, kali ini Dewi sudah bersimpuh diatas sajadahnya sambil berdoa mendengar suara azan yang Dimas lantunkan dari Mesjid, Dimas dan Nizam sudah terbiasa hadir di Mesjid lebih awal, terkadang selain 72

Menjemput Hidayah Pak Muazin, Bapak dan anak ini bergantian mengumandangkan azan mengajak jamaah untuk segera menuju Mesjid. Ada kebahagiaan di wajah Dewi yang bersendirian di rumah, melihat bagaimana suami dan anaknya sangat taat menjalani perintah Allah beribadah, biasanya setelah salat Isya mereka langsung istirahat untuk bangun di sepertiga malam menunaikan salat tahajud, begitu juga ketika mereka akan melakukan aktifitas di pagi hari tak ketinggalan sebelumnya melakukan salat duha. “Nasi kotaknya dimakan dulu yo.” Ajak Dewi pada Dimas dan Nizam sepulang dari Mesjid. Dimas dan Nizam tanpa berbasa basi langsung duduk menghadapi kotak nasi yang dibawa dari rumah Pak Jumadi seusai salawatan tadi. “Rejeki ibu, kebagian juga kotaknya, tadi Bu Jum yang menitipkan ke Nizam.” Dimas berkata sambil tersenyum. “Alhamdulillah, tadi siang malah belum tahu kalau malam ini mau dapat rejeki.” Dewi menimpali. Nizam sudah menyelesaikan makan malamnya ketika Dewi baru saja membuka kotak nasinya. “Pak, Bu, Nizam duluan tidur ya, besok kan libur, Nizam mau pergi mancing ke sungai dengan teman-teman.” “Iya nak, tinggalkan kotaknya disitu biar ibu yang rapikan, jangan lupa cuci tangan dan gosok giginya ya.” Dewi mengingatkan Nizam dengan lembut. Nizam berlalu dan masuk kamarnya, Dewi kemudian merapikan meja, menyeduh teh untuk Dimas lalu kembali duduk disamping suaminya itu. “Pak, tadi Bu Darsono kesini, sudah waktunya bayar kontrakan untuk tiga bulan ke depan, sudah dua kali kita minta penangguhan.” Dewi pelan berkata pada Dimas. “Terus, ibu bilang apa?” tanya Dimas “Ibu bilang sesuai pesan bapak tadi pagi, besok akan menemui di rumah Pak Darsono, begitu kan? emang uangnya sudah ada?” wajah Dewi berubah bingung. Dimas tersenyum lalu beranjak menuju kamar, Dewi makin kebingungan melihat sikap suaminya yang tak seperti biasanya, tak lama Dimas kembali dengan membawa amplop berwarna coklat di tangannya. 73

Menjemput Hidayah “Alhamdulillah Bu, ini Allah titipkan rejeki melalui Pak Jumadi, selain tiga kotak makan malam tadi, pak Jumadi juga membeli sepuluh boks madu hitam dan pesan dua puluh kilogram kurma.” “Wah, banyak sekali Pak, buat apa pak Jumadi beli sebanyak itu?” Dewi bertanya, heran campur gembira. “Kata beliau mau dibawa pulang ke kampungnya pekan depan, ingin berbagi dengan keluarga sekaligus syukuran sepulang umroh.” “Koq madu dan kurma ya?” Dewi masih keheranan. “Subhanallah, bersyukur saja yang banyak Bu, Allah maha mengetahui segala sesuatu, doakan agar apa yang dibagikannya bermanfaat.” Dimas menyerahkan amplop coklatnya pada Dewi. Dewi segera membuka amplop itu, menghitung lalu memberikan sebagian kepada Dimas untuk dibayarkan sewa rumah kepada Pak Darsono. *** “Iya Pak, mohon maaf terlambat, saya baru bisa penuhi janji saya hari ini.” Dimas dengan santun berkata pada Pak Darsono. “Welah, yo nda apa-apa to’ Mas, ibunya anak-anak ini loh yang cerewet terus.” Pak Darsono menjawab dengan logat khasnya yang kental. “…rumah ada yang nempati saja saya sudah bersyukur mas, uang itu ga masalah.” Pak Darsono melanjutkan bicaranya. Dimas dan keluarga sudah hampir setahun belakangan ini tinggal di rumah sewa Pak Darsono, rumah sederhana tipe 21, cukup untuk keluarga kecil seperti keluarga Dimas, setadinya Pak Darsono meminta pembayaran untuk sewa setahun namun karena kemampuan Dimas membayar dalam jangka waktu tiga bulanan saja Pak Darsonopun tidak keberatan. “Oo iya Mas, saya bisa nyuwun tulung sampeyan?” Pak Darsono tiba-tiba teringat sesuatu. “Bantuan apa ya pak? jika saya mampu Insyaa Allah bisa pak.” Dimas cepat menjawab. “Anu, sampeyan kan bisa nyetir, saya itu mbesuk ada kedatangan tamu, tapi waktunya barengan, jadi yang satu nda’ bisa saya antar, Lek Warno sopir Innova saya sedang kedukaan, paling minggu depan dia baru kembali, gimana kalau mbesuk 74

Menjemput Hidayah sampeyan aja yang antar, mereka hanya mau ke bandara aja koq, pulang.” Jelas Pak Darsono yang memang memiliki usaha travel dan transportasi. Tanpa banyak basa-basi, Dimas menyetujui permintaan Pak Darsono, kebetulan besok Dimas harus mengambil pesanan kurma ke kota. “Pulangnya boleh saya ijin membawa barang dagangan saya Pak?” Dimas dengan sungkannya meminta ijin pak Darsono. “Lo ya nda’ apa-apa toh, kan pulangnya kosong, sampeyan pakai aja, mau bawa penumpang lagi yo ora opo-opo.” Pak Darsono nampak tak keberatan dengan rencana Dimas. Dimas pulang dengan berulang-ulang mengucap syukur alhamdulillah, pekerjaannya bertambah sekaligus berkurangnya biaya yang harus ia keluarkan untuk mengangkut dua puluh kilogram kurma pesanan pak Jumadi, belum lagi memulai berpikir cara mengangkut barang dagangannya, solusi sudah datang tanpa diundang. “Sering sebetulnya hal ini terjadi pada kita Bu, sayangnya sering juga kita melewatkan dan tidak menyadari skenario yang sudah Allah atur ini.” Kata Dimas pada Dewi. “Iya pak, perlu banyak mawas diri.” “Kita harus selalu tenang, yakin dan sabar menjalani ketentuan Allah, jangan grasah-grusuh, berprasangka dan tidak yakin sedikitpun Bu.” “Maafkan Ibu kalau terlalu sering buat Bapak jadi risau ya.” mata Dewi berkaca-kaca sambil berbaring di samping Dimas menatap langit-langit kamar. “Bapak juga bu, tolong dimaafkan, ingatkan kalau mulai terlewat lagi.” “Ya sudah, istirahat dulu, malam ini harus lebih awal salat malamnya Pak, Bapak besok berangkat setelah salat Subuh kan?” Dewi mengingatkan suaminya. Hening beberapa saat sebelum kemudian suara Cengkerik mewarnai malam yang lembab itu, Dimas dan Dewi kemudian melanjutkan tugasnya kemudian sebagai khalifah di muka bumi untuk beribadah hanya kepada Allah, menepatkan salat di awal waktunya serta menetapkan sabar sebagai bagian dari hari-hari kehidupan mereka. 75

Menjemput Hidayah ◌ۙ ‫َوا ْﺳﺘَﻌِْﻴـﻨُـْﻮا ﺑِﺎﻟ ﱠﺼِْﱪ َواﻟ ﱠﺼٰﻠﻮِة ۗ◌ َواِﻧـﱠَﻬﺎ ﻟَ َﻜﺒِْﻴـَﺮةٌ اِﱠﻻ َﻋﻠَﻰ ا ْٰﳋ ِﺸﻌِْ َﲔ‬ Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Q.S. Al-Baqarah 2: 45) 76

Menjemput Hidayah Raihan, Abangku Sepulang dua orang tamu Ayah beberapa menit lalu, kulihat wajah Ayah menjadi murung seperti tak bersemangat, aku tak sengaja lewat samping rumah dan memandanginya duduk di ruang tamu dengan tatapan yang kosong. Belakangan ini sering kudengar Ayah berbincang-bincang sangat serius dengan tamu-tamunya yang jarang lagi kukenal, dulu tak pernah seperti itu, aku mengenal teman-teman Ayah sesama pengemudi kendaraan dinas di kantor pemerintah yang jika datang ke rumah selalu membuat Ayah tersenyum gembira. Ingin rasanya aku bertanya tentang apa yang dihadapinya sekarang, tapi ia sangat tertutup, jarang sekali kami bisa berbicara satu dengan lainnya, selain sungkan aku juga enggan mengganggu kesibukan yang berkaitan dengan pekerjaannya, hanya kepada Ibu aku berani bertanya tentang Ayah, itupun jika Ibu sedang senggang dan tak banyak kegiatan di rumah. Seingatku, kami pernah mengobrol serius berdua saja ketika kami memancing ikan di teluk, saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas lima, saking jarangnya kami berdiskusi, aku jadi ingat betul apa yang dikatakannya, “Kamu itu laki-laki Rayi, jadi laki-laki harus berani, tahan banting dan pantang menyerah, jangan karena panas sedikit terus mengeluh.” Begitu katanya saat itu ketika aku mulai merasakan teriknya Matahari di perairan yang nyaris dekat ke laut lepas. Ada lagi satu pesannya yang juga melekat rekat dalam ingatanku, “Ingat, mengerjakan sesuatu itu harus tuntas, jangan separuh-separuh, kalau ada masalah harus dihadapi jangan lari.” Hari ini aku mempertanyakan nasihat-nasihat itu pada diriku sendiri, kenapa Ayah nampak tak seperti yang diucapkannya, agaknya ada rasa takut, khawatir dan gundah yang berlebihan. *** “Tadi itu orang Bank yang datang nak, sudah tiga bulan ini Ayahmu belum membayar angsurannya, asal kamu tahu saja ya, jangan bilang kakakmu.” Begitu Ibu menjawab ketika aku bertanya tentang Ayah. Baru tahun ini kelihatannya Ayah bermasalah dengan orang-orang Bank, sebelumnya tak pernah ada urusan dengan lembaga keuangan konvensional itu, sejak Ratih, kakakku diterima kuliah kedokteran, kondisi keuangan keluarga agak 77

Menjemput Hidayah lebih berat dari sebelumnya, memang Abangku yang sulung sudah bekerja di sebuah perusahaan besar di pulau Kalimantan dan sepertinya penghasilan yang ia dapatkan cukup besar, ia masih belum menikah dan pulang sebulan sekali dari lokasi tempat ia bekerja. “Loh Bu, apa Abang ga bisa bantu Ayah?” tanyaku pada Ibu. “Ayahmu ga ijinkan ibu menceritakan ini pada Abangmu, Ibu takut.” Ibuku orang yang sangat patuh pada suami, ketakutannya hanya sebuah kekhawatiran jika nanti Ayah akan marah. “Kalau Abang tahu, malah Abang nanti yang marah, dia kan ga senang berutang Bu, apalagi ke Bank dalam jumlah besar.” Aku mengingatkan Ibu lagi. “Ga tau ah, Ibu bingung, ingat ya jangan kasih tahu Kakak dan Abangmu.” Wajah Ibu betul-betul tegas mengingatkanku. *** Abangku Raihan akan pulang, sudah masuk jadwal liburnya, aku senang jika ia datang, ada saja oleh-oleh dan cinderamata yang dibawanya untuk kami adik- adiknya, kadang sepatu mahal atau jaket dan jam tangan. Usia kami terpaut hampir dua belas tahun sedangkan dengan Kak Ratih usiaku hanya berselisih dua setengah tahun, kadang usia inilah yang membuat kami juga sungkan terhadap Abang, ia orang yang cerdas dan berprestasi, konon Ayah mendidiknya dengan keras sehingga kini ia menjadi orang yang bisa dibilang berhasil, itu yang memang Ayah rencanakan sehingga jarak usia kami berdua cukup jauh. Abang juga seorang yang taat beribadah, kalau ada dia di rumah aku tak bisa bersantai menunggu Azan di Mesjid selesai baru aku berangkat, Abang pasti sudah mengajak pergi ke Mesjid bersama- sama sepuluh menit sebelum Azan berkumandang. “Bang, mau kuceritakan sesuatu?” Tanyaku pada Bang Raihan sambil berjalan seusai salat Isya di Mesjid Ibnu Umar yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah kami. “Tentang apa itu Yi? Sekolah? Pacar?” Kata Abang tak serius. “Bukan Bang, Ayah.” “Kenapa Ayah?” Wajah Abang berubah cepat, selalu begitu jika mendengar sesuatu tentang Ayah. “Sebetulnya Ibu melarang aku mengatakan hal ini pada Kakak dan Abang…” “Terus? Kenapa kamu mau ceritakan?” Tanya Abang lagi. 78

Menjemput Hidayah “Penting ini Bang, mestinya Abang yang peduli dan Abang yang bisa bantu, kasihan Ayah.” Kataku memberanikan diri. “Rayi, kalau ini penting dan menyangkut keluarga, kenapa harus ada rahasia- rahasiaan? Abang kan ga selalu update keadaan keluarga, ayo ceritakan!” Abang lalu mempercepat langkahnya mengajak aku ke warung kopi yang tak jauh dari Mesjid. “Tapi janji bantu aku kalau nanti ditegur Ibu ya?” pintaku pada Bang Raihan setelah kami duduk di warung kopi dan memesan dua cangkir kopi dan makanan ringan. “Iya, nanti kita bicarakan sama-sama, kenapa Ayah?” Bang Raihan nampak tak sabar, wajahnya terlihat sangat ingin tahu. “Ayah punya utang ke Bank dan sudah tiga bulan ini tak sanggup bayar angsurannya.” Aku berusaha bicara seperlahan mungkin walaupun tak ada orang lagi di warung kopi kecuali seorang Barista yang sibuk menyiapkan pesanan kami. Abang nampak terkejut, wajahnya tiba-tiba berubah semu, aku bersiap saja jika tiba-tiba ia marah padaku. “Subhanallah, beneran? Berapa banyak dan buat apa?” pertanyaannya meluncur cepat seolah ingin segera mendapatkan jawaban. “Kabarnya kan dari Ibu, masa iya Ibu bohong Bang? Kalau jumlahnya saya ga paham berapa banyak, kemungkinan sih untuk biaya Kak Ratih masuk kuliah itu.” Jawabanku mungkin tak akan memuaskan Bang Raihan tapi paling tidak ia mulai berpikir keras tentang hal ini. “Emang waktu Kak Ratih masuk kuliah Abang ga bantu gitu?” tanyaku sedikit ingin tahu sekaligus memecah diamnya bang Raihan setelah mendengar kabarku tadi. “Abang bantu koq Yi, tapi mungkin kurang, Ayah dan Ibu kan ga pernah minta, selama mereka masih mampu berusaha pasti ga akan minta bantuan kita.” Bang Raihan tampak sedih, wajahnya menyiratkan rasa kecewa yang dalam. “Iya Bang, selalu begitu, akupun ga bisa ngukur berapa banyak perhatian dan pengertian yang cukup untuk mereka.” Aku berusaha ikut larut dalam sedih campur kecewa Abangku. “Ya, sudah kalau begitu, nanti biar Abang yang bicara ke Ayah dan Ibu, yang pasti ini perilaku yang tidak baik, mungkin Ayah tidak tahu bahwa berutang ke Bank 79

Menjemput Hidayah konvensional itu akadnya batil, ada Riba disana dan itu berdosa.” Aku terdiam mendengarkan penjelasannya. “Setiap satu dirham riba lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali, kamu tahu Yi?” Mata Abang tajam menatapku, aku mengangguk seraya terkejut, belum sejauh ini aku mengetahui dosa riba. “Ayah terlalu sibuk bekerja Bang, jarang sekali ada di rumah.” Kataku. “Itulah, Ayah sangat mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain bahkan kita anak-anaknya, mungkin juga karena Ratih dan kamu masih perlu biaya, tahun depan kamu juga kuliah kan?” “Aku mau daftar Akademi Militer aja Bang, seperti Kakek.” Jawabku bersemangat. Bang Raihan tertawa kecil tanda setuju kemudian menyuruhku segera menghabiskan kopi dan makanan ringan yang sedari tadi disesap dan dicemili disela- sela pembicaraan, aku merasa lega setelah membicarakan ini dengan Bang Raihan, kami segera pulang dan berharap ada solusi esok hari *** Kaos distro bermerk dan jam tangan digital mahal ini pas kupakai, cinderamata dari Bang Raihan entah yang ke berapa sudah kuterima, ia banyak sekali memberiku hadiah, bahkan menurut Ibu, Bang Raihanlah yang selalu menitipkan uang untuk kebutuhan sekolahku, ia tak suka memberiku uang, Kak Ratihpun demikian, semua kebutuhan kuliahnya dibantu Bang Raihan melalui Ibu. Selepas salat Maghrib nampak Ayah, Ibu dan Bang Raihan berbicara di ruang makan, serius sekali hingga aku segan mendekat dan ikut berbaur, sepertinya apa yang dikatakan Abang kemarin betul-betul disampaikannya hari ini, sepertinya hanya dia yang sanggup berbicara dan berdiskusi dengan Ayah. Aku hanya bisa mengamati dari ruang tengah, berbatas rak buku dan kaca bening, kulihat mereka semakin serius, berkali-kali Ayah mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya sambil mendengarkan Abang bicara, bahkan Ibu tampak beberapa kali mengusap air matanya dengan tissue, sesekali Bang Raihan menggenggam tangan Ibu, mengusap- usap bahunya, peristiwa yang jarang sekali kulihat. Aku sangat meyakini bahwa urusan ini akan segera selesai, Abang sudah mengajak Ayah dan Ibu dalam kebaikan, Ayah yang terjerembab dalam kubangan ketidaktahuan serta keawamannya terhadap perintah dan larangan Allah Ta’ala, lalu 80

Menjemput Hidayah Ibu yang terjebak dalam jurang kepatuhannya pada suami. Ini membuatku semakin yakin bahwa ikatan keluarga ini mesti dikuatkan dengan komunikasi dan pengetahuan yang luas tentang ilmu syariah Islam sebagai pedoman hidup kita sehari-hari. *** “Rayi, sudah siap?” Ayah menanyaiku sambil memasukan joran kedalam tasnya. “Sudah Yah, ayo kita jalan.” Aku bersemangat dengan semua perlengkapan memancing yang sudah kusiapkan. “Abang ga ikut?” Ayah bertanya lagi. “Mana mau mancing dia itu, Ayah seperti baru kenal Abang aja.” Jawabku nyinyir disambut senyum Ayah yang nampak sangat gembira di hari libur ini. Kamipun berangkat menuju teluk, tempat dimana terakhir kami memancing hampir enam tahun yang lalu, Ayah masih ingat spot memancing favoritnya, ia masih kenal dengan pemilik kapal yang kami sewa dan masih cekatan memasang umpan. Aku tak menyangka bisa mengulang moment ini bersamanya. “Betul kamu mau daftar Akademi Militer Yi?” Ayah membuka pembicaraan sambil memasang umpan di kail jorannya. “Iya Yah” jawabku singkat. “Yakin? Ga mau kuliah seperti Kakak-kakakmu?” Ayah bertanya lagi. “Betul yah, Rayi mau jadi prajurit seperti Kakek.” Kataku meyakinkan. “Maafkan Ayah, mungkin tahun depan Ayah ga akan mampu membiayaimu kuliah, tapi Ayah akan selalu berusaha Nak.” Tiba-tiba Ayah menjadi melow. “Bukan gitu Yah, Rayi serius, menjadi Tentara adalah keinginan Rayi sejak dulu, sepeninggal Paman ga ada lagi yang meneruskan tradisi ini Yah.” Aku lalu menyinggung Paman Aksa, adik bungsu Ayah yang wafat di medan pertempuran melawan Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua. Ayah nampak melangut sambil memandangi laut lepas, ia pasti teringat kembali bagaimana Paman Aksa terakhir dijumpainya saat berpamitan hendak berangkat ke Papua. “Ga apa-apa yah, Bismillah, doakan Rayi mudah-mudahan apa yang Rayi cita- citakan bisa terwujud.” Kataku mencoba memungkasi diskusi. 81

Menjemput Hidayah “Abangmu sudah tahu?” Ayah bicara sambil menarik kail yang umpannya belum dimakan Ikan. “Sudah, kami sering diskusi, Abang sangat mendukung Yah.” Kataku menjawab Ayah. “Ayah yang dulu ingin Abangmu jadi Tentara, Ayah memaksanya dan hampir saja mencederainya, tapi ia anak yang kuat dan sangat kukuh dengan pendiriannya, kamu harus contoh dia.” Lagi-lagi satu hal yang membosankan bagiku ketika Ayah yang jarang bicara tapi sekalinya berbincang selalu membanggakan Abang kepada kami, Aku paham betul siapa Abang Raihan, nyaris sempurna rupanya abangku satu ini, Ibupun demikian, selalu menunjuk Abang sebagai contoh nomor wahid, akupun tak bisa memungkiri karena begitulah keadaannya, Abang bisa menyelesaikan masalah- masalahnya sendiri dan masalah-masalah kami sekeluarga, kerumitan dan kesulitan yang datang akan sangat mudah Abang tangani dan selesai. Sungguh Allah sangat memudahkan segala urusannya sementara ini, semudah Abang memberikan waktunya lebih banyak untuk beribadah dan berdoa kepada Allah, secepat geraknya ketika mendengar orang tua kami dalam kesulitan dan setulus hatinya ketika mengingat kami saudara-saudaranya yang tak bisa setiap hari bertemu. Sedekahnya bukan hanya materi tapi juga perhatian, senyum kebahagiaan dan keringanan tangannya, mudah-mudahan selalu sehat dan menjadi sebaik- baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya, Raihan, Abangku. 82

Menjemput Hidayah ََ ‫ِ َﺪ‬ ‫اﻟْ َﻤ ْﺴ‬ ‫ُﻠُﻮا‬ ‫َوِﻟ َﯿ ْﺪ‬ ‫ُو ُﺟ ْﻮ َﻫ ُ ْﲂ‬ ‫َ ۤٗﺴـ ْﻮا‬ ‫وَِﻟ ُۤﯿﺎﺘََءِّ ُﱪَ ْووْا ُﺪ َﻣﺎاْ ٰﻻ َﻠَِﺧْ َﻮاﺮِةﺗَِﻟْﺘ‬ ‫ﻓَ ِﺎ َذا‬ ۗ‫ﻓَﻠَﻬَﺎ‬ ‫ۗ َوِا ْن َا َﺳ ُ ْﰎ‬ ‫ِ َﻻﻧْ ُﻔ ِﺴ ُ ْﲂ‬ ‫َا ْﺣ َﺴ ْ ُ ْﱲ‬ ‫َا ْﺣ َﺴ ْ ُ ْﱲ‬ ‫ِا ْن‬ ‫ِ ْ ًﲑا‬ ‫َﻣﺮٍة‬ ‫َاو َل‬ ‫َد َﻠُ ْﻮ ُﻩ‬ Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai. (Q.S. Al-Isra 17: 7) 83

Menjemput Hidayah Pulang Baru kali ini ada teman yang senang kalau ada orang diputuskan hubungan kerjanya dari satu perusahaan, bukannya ikut prihatin, empati atau ikut sedih malah dengan terus terang mengatakan ikut gembira sambil tersenyum lebar. Untung saja Iwad dan Jamal sudah berteman baik, Jamal senang mendengar kabar Iwad di PHK bukan karena benci atau tidak suka tetapi lebih karena Jamal sangat mengharapkan Iwad dapat membantunya untuk membangun usahanya. Bukan sekali dua kali Jamal membujuk Iwad untuk bergabung bersamanya membangun bisnis dan perusahaan, namun Iwad merasa lebih nyaman sebagai karyawan daripada sebagai pengusaha walaupun Iwad tak pernah menutup kemungkinan untuk bergabung membantu Jamal dengan sering menyisihkan waktu liburnya untuk belajar dan juga bekerja bersama Jamal, bahkan sekali waktu pernah ia sengaja mengambil cuti tahunan selama dua belas hari hanya untuk mendesain A sampai Z rencana usaha yang akan dikembangkan Jamal. “Jadi, masih mau cari pekerjaan lagi?” tanya Jamal pada Iwad. “Belum tahu, saya masih agak terkejut ini Mal.” “Loh, justru mestinya Abang bersyukur, sekarang sudah punya waktu yang lebih banyak dan bisa mengatur sendiri.” Jamal memanggil Iwad dengan panggilan Abang karena selisih usia Iwad yang lebih senior sepuluh tahun. “Betul, tapi penghasilan kan harus dicari juga.” “Rejeki sudah Allah atur Bang, tak akan lari kemana.” Jamal kembali memberi semangat pada sahabatnya itu. Iwad sudah pernah kehilangan pekerjaan juga beberapa tahun yang lalu, kali itu karena tempat ia bekerja selama hampir lima tahun mulai membuka bisnis baru dengan dana pinjaman yang cukup besar dari Bank konvensional, Iwad yang seorang Akuntan di perusahaan itu tentu saja paham bahwa jika ia meneruskan bekerja sama berarti ia juga membantu perusahaan dalam kezaliman, sebagai eksekutor perusahaan dalam pembiayaan operasionalnya tentu saja Iwad terlibat dalam transaksi-transaksi yang tidak sesuai syariah. Iwad mengaji bersama Jamal dan sembilan saudara muslim lainnya, mereka sering berdiskusi dan saling mengingatkan, saling membantu dan tentu saja saling tolong menolong satu dengan lainnya dalam balutan persaudaraan yang Islami dan penuh kasih sayang. 84

Menjemput Hidayah “Ingat waktu kita berjualan di Pasar Ramadan Bang?” Jamal berusaha membuka ingatan mereka. “Di dekat Mesjid Al-Ikhwan, dua tahun lalu itu kan?” Iwad bertanya sekaligus berusaha mengingat-ingat. “Iya betul, di hari ke berapa kita baru dapat pembeli?” “Hari ke tujuh kan ya?” jawab Iwad sambil tertawa kecil. “Hampir kita tutup dan tak lanjutkan lapak kita itu Bang, tapi Allah ternyata memberi rejeki kita pada waktu yang sangat tepat.” Lagi-lagi Jamal membukakan cerita lamanya yang meninggalkan kesan. “Masyaa Allah, lapak aneh, di tengah orang menjual makanan untuk berbuka puasa kita malah jualan barang-barang untuk dipakai.” Iwad teringat ketika berjualan alat-alat salat, parfum, buku dan beberapa lembar sirwal dan baju koko. Ketika itu Jamal yang juga memiliki toko kecil di rumahnya menjual perlengkapan salat dan pernak-perniknya mengajak Iwad berjualan di area Pasar Ramadan, cukup banyak barang yang dijual saat itu walaupun baru di pertengahan Ramadan mereka mulai mendapatkan pembeli. “Saya meyakininya, tapi ini belum terpikir sebelumnya.” “Betul, dulu ketika saya masih jadi marbot Mesjid juga tak terpikir akan bisa berjualan buku hingga punya toko disana, semua mengalir begitu saja Bang.” “Ada yang bisa kita rencanakan, ada yang tidak dan ada juga yang terlewat untuk dipikir dan rencanakan Mal.” Iwad tampak agak menyesali ketidak siapannya menjadi pengangguran. “Bismillah Bang, insyaa Allah bisa cepat kembali normal, kalau Abang mau, aku sedang ada kerjaan membangun toko milik Pak Haji Wahab di jalan dekat terminal, Abang bisa menjadi pengawas tukang disana.” “Wah, selalu ada saja yang bisa kulakukan untukmu Mal, insyaa Allah siap saja seperti biasa.” Iwad menyambut gembira tawaran Jamal. *** Selain memiliki toko dan beberapa kios di pasar, Jamal juga banyak melakukan kerja sama usaha dengan beberapa rekannya, rata-rata dengan pengurus Mesjid. Ada pekerjaan mendirikan bangunan rumah dan toko, juga menjadi pemasok bahan makanan untuk usaha kuliner, usaha kecil yang sudah empat tahun dirintisnya kini mulai beranjak naik, rencana terdekatnya adalah membangun rumah 85

Menjemput Hidayah dan toko tiga lantai untuk dijadikan kantor dan toko serta mushola untuk salat dan tempat mengaji. “Mimpi besarku adalah menjadikan usaha ini permanen Bang, punya kantor sendiri dan tak berpindah-pindah lagi.” Jamal berkata, wajahnya menerawang seolah melihat sesuatu yang jauh. “Aku mengira tak lama lagi, bukan begitu?” “Insyaa Allah berdoa saja, selesai pekerjaan ruko milik pak Haji Wahab, kita akan mulai pekerjaan ruko kita sendiri.” Jamal menegaskan. “…dan Abang jangan kemana-mana lagi, tetaplah bersama kami, bantu saya Bang.” Jamal seperti memohon, masih ada khawatirnya sebab Iwad sudah memiliki gaji yang tinggi di tempat kerja sebelumnya. “Sebagai saudara seiman ini tak bisa ditolak, tetapi sebagai teman boleh beri tahu lebih dulu berapa harga yang kau tawarkan untuk pekerjaan ini?” Iwad berusaha tetap menjadi orang yang profesional. “Jikalau perbandingannya dengan perusahaan Abang yang lalu, tentu tak ada apa-apanya, tak akan sanggup rasanya menaruh harga.” Jamal merendahkan dirinya. “Maaf Mal, bukan apa-apa, sebab saya masih ada tanggungan.” “Tak Apa-apa Bang, aku paham, begini saja, bagaimana jika aku tawarkan Abang gaji lima juta rupiah dimulai ketika kita bersepakat dan dengan opsi kepemilikan satu perlima bagian perusahaanku terhitung saat soft opening kantor perusahaan yang baru, gimana?” Jamal berusaha mengunci Iwad. Iwad tercengang, tak ada satu kata keluar dari mulutnya, ia tak menyangka Jamal memberikan penawaran yang diluar kebiasaan, ini penawaran besar untuk masa depannya, memang nilai gaji yang ditawarkan hanya separuh dari gaji di perusahaan sebelumnya tapi opsi kepemilikan itu yang tak mungkin ditolaknya. “Serius Mal? aku ga salah dengar, seperlima?” Iwad berkata terbata. “Iya serius, desainnya seperti yang sudah kita bicarakan, secukupnya saja, selebihnya kita gunakan untuk banyak beramal kebaikan.” Iwad makin terdiam, baru kali ini ia diberikan kepercayaan bukan karena kemampuannya sebagai seorang Akunting tapi ia merasa dihargai sebagai teman dan saudara muslim oleh sahabatnya itu. *** 86

Menjemput Hidayah Pekerjaan pembangunan toko milik Pak Haji Wahab masih menyisakan waktu dua pekan tetapi hampir seluruh pekerjaan sudah rampung tak bersisa, Jamal senang tiada terkira, nampak sekali hasil kerja kali ini sangat memuaskan karena pengawasan yang baik dan sangat terorganisasi yang dilakukan Iwad. Pak Haji Wahabpun sangat bergembira karena ia akan punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan tokonya. Jamal lalu menyelesaikan semua urusannya yang berhubungan dengan pekerjaan toko Pak Haji Wahab, semua pembayaran tertunda diselesaikan, juga dengan kewajiban-kewajiban lainnya, seperti biaya tenaga kerja dan jasa-jasa lain termasuk jasa pengawasan untuk Iwad, ia tak pernah berutang untuk setiap pekerjaan yang dilakukannya, banyak klien dan vendor yang senang bekerja sama dengan Jamal dan perusahaannya, sebab mereka tak pernah terlambat menerima pembayaran bahkan jika diperlukan Jamal selalu melakukan pembayaran diawal waktu. Bagi Jamal, sejak awal berjualan buku ia sudah pelajari cara bermuamalah yang baik dan benar sehingga terhindar dari akad-akad yang batil dan mengarah pada timbulnya riba dan kezaliman lainnya, pengalaman buruk Ayahnya mengelola perekonomian keluarga dengan pinjaman dari Bank konvensional menjadikannya pelajaran dan hikmah. “Masih ada utang rumah Ayahku Bang, sampai sekarang belum selesai tapi kami sudah berhenti membayar angsuran.” Kata Jamal saat berdiskusi dengan Iwad seusai serah terima toko dengan Pak Haji Wahab. “Loh, pihak Bank tidak menyita?” Tanya Iwad keheranan. “Ada beberapa kali mereka pasang papan pengumuman tapi Ayah selalu mencopotnya, katanya selama rumah masih ditempati, Bank tidak berhak melakukan itu.” Jamal menjelaskan. “Sudah dicoba untuk dilunasi?” tanya Iwad lagi. “Sudah, tapi mereka bersikukuh menyertakan bunga dan dendanya, Ayah juga keras meminta agar bisa membayar pokok utangnya saja.” “Kuat-kuatan deh, Ayahmu berani juga ya.” “Dia sudah pelajari bersama komunitasnya Bang, aku sih manut apa kata beliau saja, pernah aku coba menawarkan untuk menyelesaikannya saja, toh uangnya ada, tapi beliau ga mau, ia sangat merasa bertanggung jawab atas langkah 87

Menjemput Hidayah yang sudah diambilnya.” Jamal kelihatan sedikit menyesal tak bisa membantu Ayahnya menyelesaikan masalah dengan cepat. “Oo iya Bang, kita masih punya waktu satu bulan untuk memulai pekerjaan kita, sementara menunggu, saya mau pulang kampung dulu ke Jogja sekaligus melobby satu travel agent disana untuk menjadi rekanan kita kedepannya.” Pembicaraan dialihkan Jamal ke rencananya. “Wah, bisa liburan juga dong?” Iwad tersenyum mendengar rencana Jamal. “Alhamdulillah, jangan Abang habiskan uangnya, mana tahu ga dapat lagi yang seperti ini besok hari.” Jamal tersenyum mengingatkan disambut tawa Iwad. Percakapan malam itu selesai begitu saja, tak ada yang istimewa, mereka berdua kemudian saling berpisah dengan mengucapkan salam. Iwad kemudian kembali ke rumahnya dan mengatur segala kebutuhannya dan berkegiatan bersama keluarga sambil kemudian menunggu pekerjaan berikutnya yang telah direncanakan bersama Jamal, sementara Jamal sendiri mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia lakukan selama perjalanan liburan sekaligus bisnisnya di Jogja. Pekan ketiga tak terasa begitu cepat dijalani dan tak ada kendala berarti, Iwad menyelesaikan beberapa bisnis kecilnya berjualan kue yang diolah bersama istrinya. “Pak, barusan Mas Ahmad telfon, katanya penting.” Hafsah istri Iwad mengabarkan pada suaminya yang meninggalkan handphone di meja tamu untuk mencuci motor di halaman rumah. “Oo Iya, sebentar ta’ hubungi balik.” kata Iwad sambil mengelapkan tangan yang basah ke celana pendeknya. Iwad kemudian meraih handphonenya sambil membaca pesan singkat, wajahnya berubah kusut lalu menelfon Ahmad. “Betulkah Mad? Innalillahi wa innailaihi roji’un” lemah terduduk di kursi tamu, Iwad kemudian minta diambilkan segelas air. “Siapa Pak yang meninggal?” tanya Hafsah sambil memberikan segelas air hangat pada suaminya. “Jamal Bu, wafat di Jogja, serangan jantung katanya.” Bergetar bibir Iwad masih merasa tak percaya. “Innalillahi wa innailaihi roji’un, koq pas di Jogja ya pak, di kampung halamannya. 88

Menjemput Hidayah “Itulah bu, tempo hari dia bilang ‘Pulang’ itu ternyata tak hanya sekedar pulang, pulang karena Allah memanggilnya, subhanallah, insyaa Allah husnul khotimah beliau.” Tidak seorangpun tahu kapan ia akan ‘Pulang’, manusia hanya bisa berencana, rencana yang banyak dan beraneka ragam namun hanya Allahlah sang pemilik waktu dan jiwa manusia, Dialah yang menentukan seseorang untuk kembali padaNya. Jamal tak kembali ke Balikpapan, kota tempat ia bertualang, berusaha dan menghabiskan masa produktifnya, ia bukan hanya pulang ke kampung halaman tempat ia dilahirkan akan tetapi sekaligus pulang ke haribaan Allah Ta’ala dengan segala amal ibadah dan kebaikan-kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. 89

Menjemput Hidayah ‫ُﻛ ﱡﻞ ﻧـَْﻔ ٍﺲ ذَاۤﯨَﻘﺔُ اﻟْ َﻤْﻮ ِت ۗ◌ َواِﱠﳕَﺎ ﺗـَُﻮﻓﱠـْﻮَن اُ ُﺟْﻮَرُﻛ ْﻢ ﻳَـْﻮَم اﻟِْﻘٰﻴ َﻤِﺔ ۗ◌ ﻓََﻤ ْﻦ ُز ْﺣِﺰَح َﻋ ِﻦ اﻟﻨﱠﺎ ِر‬ ◌ِ ‫َواُْد ِﺧ َﻞ ا ْﳉَﻨﱠﺔَ ﻓَـَﻘ ْﺪ ﻓَﺎَز ۗ◌ َوَﻣﺎ ا ْﳊَٰﻴﻮةُ اﻟ ﱡﺪﻧْـﻴَﺎ ٓ◌ اِﱠﻻ َﻣﺘَﺎ ُع اﻟْﻐُُﺮْور‬ Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Q.S. Ali Imran 3:185) 90

Menjemput Hidayah Malu Bertanya Sesat Kemudian Air laut mulai meninggi di pantai belakang rumah sakit itu, Ghafar yang sejak sejam lalu duduk di pinggirannya segera beranjak, sedari pagi tadi ia keluar rumah tanpa tujuan, galaunya baru tuntas setelah bertemu Hamdi dan pantai. Hamdi adalah teman baik Ghafar sejak empat tahun lalu, mereka bertemu di suatu presentasi bisnis tour wisata, awalnya mereka sekedar mengobrol basa-basi ala perkenalan pertama, namun lama-kelamaan mereka merasa cocok dan nyambung satu dengan lainnya. Usia Ghafar lebih banyak dari pada Hamdi yang memasuki angka tiga puluh lima tahun, mereka banyak memiliki kesamaan, akan tetapi justru Hamdi yang memiliki lebih banyak pengalaman hidup yang bergelombang, sepertinya pertemuan di presentasi bisnis itu menjadi titik balik bagi Ghafar untuk lebih memahami bahwa ternyata masih ada orang-orang di sekitarnya yang memiliki pengalaman inspiratif dibanding pengalamannya sendiri, selama ini Ghafar menganggap pengalaman pedihnya seolah tak ada tandingan. Ghafar memulai usaha penjualan tiket penerbangan setelah toko peralatan olahraga tempat ia bekerja selama hampir delapan tahun harus gulung tikar, usaha kecil-kecilannya diawali dengan modal semangat dan kepercayaan yang diperolehnya dari salah satu pelanggan yang sering datang ke toko, usaha penjualan tiket penerbanganpun tak bertahan lama sebab derasnya penjualan melalui sistem online memperkeruh kolam mata pencahariannya itu, Ghafar lalu menekuni usaha tour & travel sebagai pemandu wisata dan menawarkan paket perjalanan wisata lokal maupun regional. “Kalau memang mau membesarkan usaha mestinya cara pandang kita juga besar dan selalu berorientasi kepada yang Maha Besar” kata Hamdi yang kemudian mengunci Ghafar untuk melanjutkan kalimat optimismenya. Hamdi tak mengetahui rencana Ghafar untuk mengajukan pinjaman ke Bank konvensional untuk membesarkan usahanya, ia hanya melihat semangat Ghafar lebih besar dari pada kemampuannya, Hamdi sudah berpengalaman dalam dunia usaha, hampir sepuluh tahun ia mengelola usaha Tour & Travelnya mulai dari lokal, regional hingga menjadi travel provider ibadah Haji dan Umroh. Banyak kerjasama sudah ia lakukan dan iapun pernah mendapatkan suntikan dana pinjaman dari Bank konvensional yang menjadikannya enggan 91

Menjemput Hidayah mengulangi untuk yang kedua kali setelah mengetahui banyak kemudharatan didalamnya. “Saya dulu keburu nafsu Kang, apa yang saya anggap memudahkan, itu yang diambil, termasuk untuk membesarkan usaha padahal langkah yang saya ambil sangat bertentangan dengan hukum syariah, melanggar larangan Allah, saya sangat menyesal.” Hamdi berkata tentang pengalamannya pada Ghafar. “Lalu, bagaimana bisa sebesar ini usahanya Mas Hamdi?” Ghafar mencoba menggali pengalaman sahabatnya. “Ya belum besar sih, tapi secara kasat mata, usaha saya ini sempat lebih besar dari sekarang, awalnya saya hanya sales aja Kang, setelah merasa mampu untuk mendirikan usaha sendiri saya coba-coba pinjam dana ke Bank, astaghfirullah, kalau ingat ini saya sedih Kang, banyak dosa saya.” Hamdi lagi-lagi menunduk sebelum melanjutkan ceritanya. “Setelah saya mendapatkan pinjaman, usaha saya kelihatan maju, jamaah semakin banyak dan saya semakin terlena, sampai pada satu titik dimana Allah beri saya peringatan, cukup keras.” “Koq tahu kalau Allah mengingatkan?” Ghafar meningkat keseriusannya. “Saya belakangan menyadari dan lambat laun makin meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah, ga ada kecuali.” Kata Hamdi yakin. “Ketika usaha saya sedang banyak menghasilkan, mulai ada masalah- masalah yang sangat mengganggu, biasanya kan kalau masalah teknis pekerjaan bisa kita selesaikan, tapi masalah-masalah yang kemudian datang ini berlarut-larut dan agak susah untuk diatasi bahkan sampai mengganggu operasional.” Hamdi menjelaskan. “Masalah apa itu?” Ghafar makin terlihat penasaran. “Awalnya masalah korupsi karyawan Kang, lalu penipuan oleh pihak provider visa umroh, ada lagi kecelakaan bis yang ditumpangi jamaah, itu baru masalah- masalah dalam perusahaan, belum lagi masalah di keluarga saya seperti anak sakit yang sulit sembuh, orang tua juga begitu, pokoknya banyak masalah yang datang silih berganti sehingga saya tidak lagi merasa nyaman dan tenang menjalani kehidupan sehari-hari.” Ghafar semakin penasaran, ia ingin menggali terus pengalaman Hamdi dan sangat ingin mengetahui darimana kesemuanya bermuara. Ghafar melanjutkan 92

Menjemput Hidayah pertanyaan-pertanyaannya dan mencatatkannya lekat-lekat dalam pikirannya dan memaknai sebagai transfer pengalaman yang kelak akan menjadi gurunya, ia menyadari bahwa usaha yang dilakukannya saat ini ternyata belum berorientasi kepada yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rencana menjadikan usahanya lebih besar dari saat ini dengan meminjam modal kerja melalui Bank konvensional serta rencana bekerja sama dengan pihak- pihak lain ternyata perlu dikaji ulang, pengalaman Hamdi melakukan praktek ekonomi ribawi dengan dana pinjaman dari Bank konvensional serta menjaminkan aset yang dimiliki menjadi pelajaran berharga baginya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Hamdi. “Selain pinjaman ke Bank, saya juga menjaminkan aset yang dimiliki perusahaan, selain itu syarat-syarat penjaminan yang mengikat seperti asuransi dan lain-lain juga menambah kesulitan yang kemudian timbul.” Hamdi kemudian mengisahkan langkah-langkah buruknya di masa lalu. “Belakangan saya baru mengetahui kalau ternyata pinjam modal ke Bank itu Riba, karena ada bunga, biaya dan denda, ini jelas dilarang dalam syariah.” Jelas Hamdi. “Kan memang begitu aturan Bank, terus kemana lagi harus pinjam kalau tanpa bunga, biaya-biaya dan denda?” tanya Ghafar. “Tinggal pilih aja Kang, mau ikut aturan Bank atau ikut aturan Allah?” Ghafar langsung terhenyak dengan pertanyaan Hamdi. “Baik, aku ikuti aturan Allah, selanjutnya solusinya bagaimana?” Ghafar mulai kelihatan tak sabar. “Solusi apa? mencari modal? mengembangkan usaha?” tanya Hamdi. “Iya, terus terang aku berencana melakukan itu untuk mengembangkan usahaku ini.” “Wah, ya jangan Kang, sekarang kan sudah tahu, jadi ya ga perlu melakukan hal buruk yang sama dengan saya.” Kening Hamdi berkerut mendengar rencana Ghafar. “Saran saya Kang Ghafar lanjutkan usaha seperti saat ini saja lebih dulu sambil terus berusaha untuk meningkatkan omzet atau pendapatannya.” Lanjut Hamdi. 93

Menjemput Hidayah “…perlahan-lahan, tidak perlu terburu-buru dan jangan pengen instan menjadi besar, jika memerlukan modal bisa bersyirkah dengan keluarga atau teman yang satu frekwensi, selain itu ketakwaan dan keyakinan kita kepada Allah harus ditingkatkan.” Sambung Hamdi lagi. “Banyak peluang besar yang perlu disambut di luar sana, keuntungan yang didapatkan pasti besar, sayang kalau dilewatkan.” Ghafar mencoba berkelit. “Pasti? Luruskan keyakinan kita pada Allah saja Kang, yang pasti itu hanya milik Allah, kita hanya bisa berusaha saja, jika dijalani belum tentu semua yang didapatkan akan sesuai keinginan kita, tetapi pasti sesuai yang kita butuhkan dan sudah yang terbaik menurut Allah.” Hamdi bersemangat memberi masukan pada Ghafar yang kian lapar dan haus akan ilmu, yang dalam hatinya mulai goyah sedangkan pikirannya masih dipenuhi kegalauan dan godaan duniawi. “Benar juga sih, mesti banyak diskusi lagi.” Ghafar mulai melunak. “Kamis depan di rumah saya Kang, setelah salat Isya bersama pak Ustaz Hasan, insyaa Allah sempatkan waktu agar kita bisa berdiskusi di majlis itu.” ajak Hamdi. “Waduh, malu ah, pasti sudah ketinggalan jauh.” Ghafar merendah. “Nah justru karena ketinggalan jadi harus cepat mengejar, kalau diam saja malah tambah ketinggalan Kang.” Hamdi lalu tersenyum lebar. “Insyaa Allah, hadir.” Ghafar akhirnya takluk karena keinginan besarnya menuntut ilmu lebih besar. *** Benar saja, dari dua belas orang yang hadir malam itu hanya Ghafar saja yang tak fasih mengaji Al-Qur’an, nada suaranya ketika berdiskusipun masih terdengar keras dan tinggi daripada yang lainnya, Ustaz Hasan yang mengajaripun nampak lebih sering tersenyum kepada Ghafar. Ghafar nampak kikuk sendiri, entah karena belum terbiasa atau memang begitulah penampilan orang-orang salih, mereka sangat menjaga sopan santun, adab berbicara bahkan nada suara begitu lembut terdengar di telinganya. “Kalau begitu praktek ekonomi sekarang ini tidak sesuai syariah Islam, lalu kenapa pengusaha-pengusaha banyak yang mengikutinya?” Ghafar bertanya setelah mengikuti hampir satu jam pembahasan tentang perekonomian Islami dari Ustaz Hasan. 94

Menjemput Hidayah “Baik, sebelum saya jelaskan, ada yang berpendapat?” seperti biasa Ustaz Hasan mulai membuka diskusi disambut angkat tangan Yasin, seorang guru Madrasah. “Menurut saya karena negara tidak menganut sistem ekonomi Islam sehingga semua pihak terpaksa mengikuti aturan negara, bagi mereka yang taat tentu usahanya tidak bisa berkembang.” Jawab Yasin setelah dipersilakan Ustaz Hasan. “Baik, terima kasih Mas Yasin, ada yang lain?” tanya Ustaz Hasan. “Kalau saya berpendapat bahwa tidak semua pengusaha mengikuti sistem ini Taz, pasti ada yang menjalankan praktek ekonomi Islam.” Jawab Ansyari, seorang peternak Domba yang paling senior diantara mereka. “Terima kasih Mas Ansyari, kedua pendapat tadi benar, ada yang terpaksa mengikuti dan ada pula yang menjalankan sendiri perekonomian sesuai syariah, keduanya beresiko dan sebagai seorang yang wajib taat kepada Allah tentunya kita harus menjalankan semua perintahNya, dengan demikian sebisa mungkin tetap mengikuti aturan-aturan syariah.” Ustaz Hasan menjelaskan. “…keyakinan kepada Allah terlebih dahulu yang perlu ditingkatkan, sebab tidak ada sedikitpun hal yang luput dari perhatian dan pengamatanNya, pelajari lebih dalam ilmu ekonomi Islam, sambil jalan tidak mengapa, seperti Mas Hamdi, Bang Udin dan Mas Ansyari kan juga dalam tahap belajar sambil mengerjakan, bukan begitu?” lanjut Ustaz Hasan seraya memindahkan pandangannya pada nama-nama yang disebutnya. Hampir semua yang hadir mengangguk tanda setuju, selain Hamdi yang berprofesi sebagai pengusaha ada Ansyari yang peternak sekaligus pedagang Domba, Bang Udin yang pedagang kelontong di Pasar Induk juga ada Rifan yang memiliki usaha rental kendaraan, selebihnya berprofesi sebagai guru, karyawan perusahaan dan aparatur sipil negara. Beberapa pertanyaan lagi Ghafar ajukan kepada forum dan dijawab dengan baik dan santun, tidak ada satupun yang mendebat atau merendahkan pertanyaan- pertanyaan dari Ghafar, Ustaz Hasan menjelaskan dengan penuh khidmat dan mencerahkan, entahlah apa yang akan terjadi jika Ghafar tak bertemu Hamdi dan teman-teman salihnya ini, mungkin saja pekan depan ia sudah terjerembab dalam lubang kenistaan dan kehinaan, melakukan kesepakatan riba dengan Bank konvensional dan berbisnis tanpa mengikuti aturan-aturan yang sesuai syariah. 95

Menjemput Hidayah Beruntunglah karena Allah bahwa Ghafar berada di lingkungan yang sedemikian, sehingga semua keraguan Ghafar dapat sirna dari pikirannya, setiap pertanyaan mendapatkan jawabannya, tanpa harus malu karena sesat kemudian tentunya hanya akan menghasilkan penyesalan. 96

Menjemput Hidayah ُ‫اِﻳَـذَْاﺮﻓَﻗِِﻊْﻴ اَﻞﻟٰﻠّﻟَﻪُ ُﻜاﻟﱠِْﻢﲟِﺬَﺎﻳْﺗَـََﺗﻔَـﻦْﻌاٰﱠﺴََﻣﻤﻨﻠُـُُﺤْْﻮْﻮاﻮاَنِﻣِﻨْﰱَﺧُﻜﺒِاﻴْﻟـْْﻢٌﺮَﻤۙ◌ٰﺠَﻠِواﻟﱠِِﺬﺲﻳْﻓََﻦﺎﻓْاُْوَﺴﺗُﻮاُﺤْاﻮاﻟْﻌِﻳَـﻠْْﻔَﻢَﺴَدَِﺢر ٰﺟاﻟٰﻠٍّﻪُﺖ ﻟَۗ◌ُﻜَواْﻢﻟٰﻠّۚ◌ﻪ‬ ‫اَٰﻣﻨُـْﻮ ٓ◌ا‬ ‫اﻟﱠ ِﺬﻳْ َﻦ‬ ‫َواِٰيذَا ٓ◌اﻗَِﻳﻴْـﱡَﻬَﻞﺎ‬ ‫ﻓَﺎﻧْ ُﺸُﺰْوا‬ ‫اﻧْ ُﺸُﺰْوا‬ Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujadalah 58:11) 97

Menjemput Hidayah Satu Jam Yang Mencerahkan Gembiranya hari itu ketika menerima pemberitahuan bahwa aku diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan kontraktor pemboran minyak dan gas multi nasional dengan besaran upah yang dua kali lebih besar dari perusahaan tempat dimana aku bekerja sebelumnya, alasanku mengundurkan diri dari perusahaan yang bergerak di bidang percetakan untuk mencari yang lebih baik agaknya terpenuhi. Dita, anakku yang pertama baru memasuki usia setahun ketika aku memulai bekerja di perusahaan yang kantornya tak jauh dari rumah tempat tinggalku sekarang ini, aku beranggapan bahwa peristiwa ini adalah rejeki bawaan anak mengingat sebelum kehadirannya, kehidupan keluarga yang baru dibangun tak semulus yang diperkirakan, pada masa awal setelah menikah aku sempat setahun tak mendapatkan pekerjaan ketika sebelumnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebagai pengajar di lembaga pendidikan, untung saja ada kenalan yang mengajak untuk bergabung bersamanya membangun perusahaan percetakan yang sudah lama mati suri. Memulai pekerjaan sebagai Administratur di perusahaan baru, rekan kerja baru dan peralatan kerja yang baru serta sistem yang lebih mapan dan profesional membuatku bersemangat dan berusaha bekerja dengan baik, bekerja tanpa harus memikirkan biaya apabila ada anggota keluarga yang sakit dan kekhawatiran lainnya, ada fasilitas asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan, ini tak seperti ketika bekerja di lembaga pendidikan dan perusahaan percetakan sebelumnya, tak ada jaminan kesehatan dari perusahaan, biaya kesehatan dan lain-lainnya ditanggung karyawan sendiri. Dari sehari ke sehari aku jalani semua pekerjaan dengan baik, tugas dinas, pelatihan, rapat koordinasi, dan berbagai macam pekerjaan yang ditugaskan dapat aku tuntaskan, dan hanya dalam waktu kurang dari lima tahun posisikupun kemudian naik menjadi penyelia, satu hal yang sudah kuperkirakan, pencapaian yang cukup mengherankan bagi karyawan lain karena beberapa diantara mereka ada yang sudah memiliki masa kerja yang cukup lama namun posisi dan jabatannya belum mengalami perubahan. Aku sangat terobsesi untuk meningkatkan terus kinerja serta pencapaian dari tahun ketahun, yang kuimpikan kala itu adalah bisa mencapai posisi Manajer di departemen terkait selama kurang dari sepuluh tahun masa kerja, artinya ketika 98

Menjemput Hidayah usiaku mencapai empat puluh lima tahun aku sudah siap untuk menjadi pengusaha dan tak lagi bekerja untuk perusahaan, orang-orang bilang “Keluar dari zona nyaman.” “Jadi kalau nanti sudah empat puluh lima tahun mau keluar dan usaha sendiri gitu Pak?” Syakib bertanya padaku suatu ketika. “Iya Mas Syakib, saya mau usaha travel aja Mas supaya bisa jalan-jalan terus” jawabku pada Syakib rekan kerjaku dengan sedikit bercanda. “Berarti tinggal lima tahun lagi dong pak, saya ga yakin kalau perusahaan kita ini bisa survive sampai lima tahun kedepan.” Syakib tampak begitu pesimis melihat kondisi perusahaan yang memang sedang dalam fase penurunan yang sangat tajam, beberapa karyawan sudah ada yang di rumahkan sementara sebagian lainnya ada yang sudah diberhentikan. “Itukan baru rencana Mas, kalau nanti berbeda kenyataannya, ya kita harus siap merubah tujuan dan cita-cita kita Mas.” Aku serius menyampaikan pada Syakib yang usianya masih terpaut sepuluh tahun denganku. Semenjak dipercaya perusahaan untuk menjadi penyelia, nampak sekali perbedaan yang mencolok kurasakan dalam diri dan keluarga kecilku, ketika pendapatan meningkat, secara otomatis gaya hidup berubah dari sebelumnya, ada beberapa keinginan yang mestinya belum layak dipenuhi tiba-tiba saja diusahakan untuk didapatkan, misalnya saja rumah, karena masih mengontrak tiba-tiba saja ingin memiliki rumah sendiri dengan alasan agar uang yang dikeluarkan untuk biaya mengontrak tidak menguap menjadi biaya saja, artinya jika dibayarkan cicilan kepemilikan rumah maka dalam beberapa tahun kedepan sudah menjadi rumah milik sendiri. Demikian juga dengan kendaraan, motor yang dimiliki, rasanya sudah tidak cocok lagi untuk keluarga kami, setelah lahirnya anak kedua, dengan alasan sudah tak mungkin lagi naik motor berempat. Tanpa perhitungan yang matang aku mulai berusaha mendapatkan keinginan memiliki rumah, kendaraan roda empat serta barang-barang lain yang menjadi pendukung bagi lengkapnya semua keinginan- keinginanku saat itu, bahkan sebidang tanah 200 meter persegi yang tidak kuperlukan dengan alasan investasipun aku beli dengan cara mengangsur. Ada banyak kemudahan ketika mendapatkan barang-barang itu, kemudahan dengan posisi sebagai penyelia dari sebuah perusahaan multinasional berskala besar 99

Menjemput Hidayah yang sangat dipercaya oleh pihak-pihak lembaga keuangan dan perbankan. Sadar tidak sadar semua berlalu begitu saja dengan cepatnya, kesibukan bekerja ditambah lagi banyak kemudahan yang ditawarkan untuk memenuhi keinginan-keinginan itu makin membuka jurang-jurang kesengsaraan di tahun-tahun berikutnya, makin hari, bekerja bagiku makin menjemukan, melelahkan dan menjadi sangat tidak nyaman. “Nampaknya makin kusut aja nih bosku, ada apakah gerangan?” Mas Supri rekan kerjaku bertanya di ruang makan usai menyelesaikan makan siangnya. “Ga ngerti saya Mas Pri, belakangan ini perasaan saya ga enak terus, mulai pagi hari sampai mau tidur malam hari, seperti gelisah begitu, padahal ga ada juga yang saya pikirkan.” Aku menjawab pertanyaan Mas Supri dengan biasa saja. “Masa sih ga ada yang dipikirkan? mestinya kalau gejala seperti itu pasti ada masalah Pak Bos.” Mas Supri sepertinya kurang yakin dengan jawabanku. “Barangkali ibadah rutin ada yang terlewati atau masih ada kewajiban yang harus Pak Bos tunaikan.” Kata Mas Supri lagi yang selalu memanggilku Pak Bos padahal posisinya adalah manajer di departemen lain di kantorku, orangnya sangat sederhana, kalem dan dikenal sebagai orang yang taat beribadah. Aku terhenyak mendengar kalimat terakhirnya, memang benar banyak ibadah wajib dan sunah yang terlewati, sementara itu kewajiban yang ia maksudkan adalah hal-hal yang harus ditunaikan, bahasa halus gaya Mas Supri dalam menyebut utang, janji dan nazar, itupun banyak yang belum terlaksanakan, Subhanallah. “Koq jadi melamun Pak, ya wes saya kembali ke ruangan dulu, maaf kalau saya jadi meresahkan, Rabu nanti seperti biasa ada kajian di Mushola, ikut ya? Sudah lama Pak Bos ga hadir.” Lagi-lagi dengan kesantunannya Mas Supri membuatku menghujani diriku sendiri dengan banyak pertanyaan. Rabu sore selepas usai pekerjaan hari itu kamipun menjalankan salat Magrib berjamaah di mushola kantor, Ustaz Fikri hadir seperti biasa untuk membaca Al- Qur’an bersama-sama dan kami mendengarkan tausiyahnya seusai salat Isya. Daftar masalah dan pertanyaan yang sengaja kupikirkan dan kususun setelah bertemu dengan Mas Supri di ruang makan itu sudah siap kutanyakan pada Ustaz Fikri di sesi terakhir pengajian. Belum sampai sesi diskusi dan tanya jawab, dadaku rasanya sesak hendak meluap, tausiyah yang disampaikan Ustaz Fikri selama satu jam itu menjawab semua masalah dan pertanyaan yang sudah kususun. 100


Like this book? You can publish your book online for free in a few minutes!
Create your own flipbook