Haji: Catatan & Refleksi koleksi digital New York Public Library 26
4 P anorama Arafah adalah miniatur panorama pa- dang mahsyar. Keragaman manusia dipersatukan dalam balutan ihram putih untuk menandai kesamaan asal dan akhir perjalanan hidup mereka. Itulah mengapa Surat Al-Hajj dimulai dengan panggilan kepada seluruh manusia (ya ayyuhan-nas) bukan hanya orang beriman, agar bersiap menghadapi kebenaran mutlak tentang peristiwa kiamat. “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya goncangan kiamat itu sesuatu yang sangat dahsyat.” (QS Al-Hajj: 1) 27
dokumentasi Aljazeera English Haji: Catatan & Refleksi Ahmed Jadallah/Reuters 28
Anis Matta Bangunan masyarakat multikultur di kawasan Zamzam, yang kelak men- jadi pembeda Islam dengan agama lain- nya, berdiri di atas fondasi kebenaran dasar ini: kesamaan asal dan tujuan, kesamaan awal dan akhir manusia. Maka, egalitarianisme menjadi prinsip dasar agama; kemuliaan dan kehinaan asasnya adalah takwa, bukan efek dari status sosial. Memuliakan dan menghinakan manusia adalah “pekerjaan Allah.” “Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tak akan ada yang dapat memuliakannya.” (QS Al Hajj: 18) 29
Haji: Catatan & Refleksi Mosa ab Elshamy/AP Tapi sebenarnya manusia juga dipersatukan oleh kebutuhan yang sama dalam hal penghidupan, yang eksistensial di antaranya adalah pangan dan keamanan. Sisi spiritual dalam diri manusia sulit mendapatkan ruang selama dua masalah itu tidak diselesaikan. Cerita Allah tentang Quraisy mengisyaratkan kelembutan dan kasih sayang-Nya bagi manusia. Perintah untuk menyembah-Nya baru datang setelah Allah memberi mereka makan dan rasa aman. “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Pemilik) rumah ini (Ka’bah) yang telah memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS Quraisy: 3-4) 30
Anis Matta Peran memberi minum atau pelayanan yang disebut dengan istilah siqayah kelak menjadi peran tradisional turunan Ismail sampai Bani Hasyim yang mengistimewakannya dari klan Quraisy yang lain. Hingga kini kemelimpahan selalu menjadi fenomena di Tanah Haram ini. Jadi, Zamzam menjadi magnet dari ba- ngunan masyarakat multikultur karena ia secara fundamental menyelesaikan problem ek- sistensial manusia yang melintasi kawasan itu. Apakah makna masyarakat multikultur jika perbedaan antara mereka bersifat aksesoris? Sementara, kebutuhan dasar mereka dalam hal penghidupan, kata Abu Bakar Ash-Shiddiq, pada dasarnya sama. Inilah yang kemudian disebut Abraham Maslow sebagai hierarki kebutuhan manusia. 31
Haji: Catatan & Refleksi Air adalah sumber kehidupan bagi semua penghuni bumi. Agama adalah sumber kehidupan bagi hati manusia. Agama akan mendapatkan ruang dalam hati manusia jika pada waktu yang sama kita membantu menyelesaikan problematika dasar mereka. Kelak ketika Ibrahim bersama Ismail diperintahkan membangun Ka’bah, kita segera ditarik ke dalam pusaran panorama dan kesadaran baru: Zamzam dan Ka’bah. Kesejahteraan dan agama. Kemelimpahan dan kesalehan. “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang yang sengsara lagi fakir.” (QS Al-Hajj: 28) 32 dokumentasi Fayez Nureldine (AFP)
Anis Matta Kelak ketika Ibrahim bersama Ismail diperintahkan membangun Ka’bah, kita segera ditarik ke dalam pusaran panorama dan kesadaran baru: Zamzam dan Ka’bah. Kesejahteraan dan agama. Kemelimpahan dan kesalehan. 33
Haji: Catatan & Refleksi koleksi digital New York Public Library 34
5 D i atas latar makna panorama Ka’bah dan Zamzam itulah fondasi bangunan Islam tegak, menyatukan dua hal yang terpisah saat itu dan juga saat ini: agama dan kesejahteraan, ruh dan materi, kemelimpahan dan kesalehan. Sebenarnya begitulah fitrah manusia. Agama ini memang agama untuk manusia. Diturunkan tidak untuk mengubah manusia menjadi malaikat. Diturunkan untuk manusia dengan semua bawaan fitrahnya. Ruh dari hampir semua doa yang dianjurkan dalam perjalanan haji juga mengandung makna itu: “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkanlah kami siksa neraka.” (QS Al- Baqarah: 201) 35
Haji: Catatan & Refleksi Saat mulai menghilang dari pan- dangan Hajar dan Ismail yang diting- gal di Mekkah, Ibrahim berdiri sejenak sambil menatap ke arah mereka dari kejauhan, lalu melantunkan doa yang mengharu biru ini: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihor- mati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manu- sia cenderung kepada mereka dan be- rilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37) Mendirikan shalat, menjadikan tempat mereka sebagai center of gravity yang dikunjungi manusia dari segala penjuru bumi, lalu kemelimpahan dalam rezeki, adalah gabungan semua kebaikan individu dan kolektif—dunia dan akhirat. 36
Anis Matta Mosa ab Elshamy/AP 37
Haji: Catatan & Refleksi Dalam ayat sebelumnya Ibrahim mendoakan negeri itu agar selalu aman dan tidak menyembah berhala. Keamanan dan tauhid. Kombinasi yang luar biasa. “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini aman dan jauhkan aku dan ke- turunanku dari menyembah berhala.’” (QS Ibrahim: 35) Makna doa-doa itu menunjukkan betapa relevan agama ini dengan tabiat dan fitrah manusia. Karenanya, ia akan “hidup” dalam keseharian mereka dan tak akan pernah terisolasi dari kehidupan nyata. Agama seperti ini akan menemani mereka di tempat ibadah dan tempat kerja. Di pasar dan di pemerintahan. Siang dan malam. Lapang dan sempit. Bahagia dan derita. Suka dan duka. Saat sendiri atau bersama. 38
Anis Matta Mosa ab Elshamy/AP Sedikit atau banyak, kebingungan manusia terhadap agama saat ini sebagiannya karena wajah peradaban yang terbelah. Satu belahan ada kemelimpahan tanpa kesalehan, di belahan lainnya ada kesalehan tanpa kemelimpahan, atau bahkan anti-kemelimpahan. Agama dengan makna dan karakter komprehensif seperti ini harus mendominasi ruang kesadaran manusia sepanjang sejarah, memberi arah bagi kemanusiaan secara terus-menerus tanpa disrupsi. 39
Haji: Catatan & Refleksi dokumentasi Reuters Sebuah simbol yang kokoh dan abadi diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan kesadaran ma- nusia tentang makna agama dan kehidupan. Maka, pada kunjungan Ibrahim ke jazirah selanjut- nya ia diperintahkan membangun Ka’bah yang menyatu- kan arah kehidupan umat manusia sepanjang zaman hingga kiamat kelak. Setelah itu Ibrahim mendapatkan perintah ini: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27). 40
Anis Matta Agama ini memang agama untuk manusia. Diturunkan tidak untuk mengubah manusia menjadi malaikat. Diturunkan untuk manusia dengan semua bawaan fitrahnya. 41
Haji: Catatan & Refleksi koleksi Gilles Sadek 42
6 S aat menyaksikan manusia dari berbagai penjuru bumi mengitari Ka’bah dalam thawaf, memori kita segera ditarik ke tahun-tahun panjang perjuangan Ibra- him mengemban amanah nubuwwah sampai ia mendiri- kan bangunan ini bersama putranya, Ismail. Ibrahim hidup selama 175 tahun, atau 200 tahun dalam riwayat lain. Lahir di Babilonia (sekarang Irak), selanjutnya beliau ke Harran atau Carrhae (sekarang Turki), lalu Palestina, lalu Mesir, lalu Jazirah (Mekkah), dan wafat di Hebron (Al-Khalil) Palestina. 43
koleksi Roukaya19/Skyscrapercity Haji: Catatan & Refleksi 44
Anis Matta Sebagian besar perjalanan hidup Ibrahim dipenuhi cerita perdebatan tentang tauhid dan pertarungan melawan syirik dan tirani. Bagian itulah yang mengambil porsi terbesar dalam seluruh ayat yang tersebar dalam banyak surat di Al-Qur`an yang menceritakan perjuangannya. Tidak ada nabi yang debat- debat teologinya diceritakan detail dalam Al-Qur`an selain Ibrahim. Dalam dakwah tauhid itu ia berhadapan dengan ayahnya sendiri, dengan raja, dan juga dengan masyarakat. 45
Haji: Catatan & Refleksi Pergulatan dalam dakwah tauhid itu berlangsung dalam waktu yang lama dan tersebar dalam wilayah yang sangat luas di zamannya. Di Babilonia orang menyembah patung. Di Harran orang menyembah bintang. Tapi yang paling mengerikan adalah karena ia lahir dan tumbuh di era puncak kejayaan kerajaan Babilonia di bawah kepemimpinan Raja Namrud. Di Babilonia pergulatan pertamanya justru dengan ayahnya sendiri, Azar, saat ia masih begitu muda. Hasil- nya: ayahnya tetap musyrik dan ia diusir dari keluarga. Setelah itu, Ibrahim berhadapan dengan Raja Nam- rud yang dikenal sebagai “Raja Seribu Tahun” karena berkuasa sekitar 400 tahun. Diktator dan menganggap dirinya sebagai tuhan karena merasa punya otoritas dan kemampuan menghidupkan dan mematikan. 46
Anis Matta dokumentasi Associated Press 47
Haji: Catatan & Refleksi Hasilnya Ibrahim dibakar tapi Allah memberinya mukjizat dengan mendinginkan api itu. Raja dan rakyat- nya terguncang. Raja yakin kerajaan- nya akan hilang sesuai mimpinya sebe- lumnya: bintang menutupi matahari dan bulan. Setelah itu, beliau bertolak menuju Harran. Di sana ia berhadapan dengan masyarakat penyembah bintang. Beliau terlibat lagi dalam perdebatan sengit dengan mereka. Penolakannya juga sama. Setelah itu, beliau menuju Mesir bersama istrinya, Sarah. Di situ malah sang raja hampir merampas istrinya tapi Allah melindungi dan akhirnya 48
Anis Matta menghadiahkan Hajar dari mana kelak ia dianugerahi Is- mail dan bersamanya mem- bangun Ka’bah. Dengan Ka’bah, Allah mengabadikan dakwah tauhid Ibrahim dan karenanya ia di- kenang sebagai Bapak Tauhid, sekaligus menjadi simbol arah kehidupan baru umat manu- sia karena di sanalah Allah kelak menutup mata rantai kenabian. 49 koleksi Gilles Sadek
Haji: Catatan & Refleksi Allah akhirnya juga menganugerahi putra dari Sarah: Ishaq. Darinya lahir Ya’qub yang kelak menjadi bapak Bani Is- rail. Semua nabi yang datang dari jalur ini hingga Musa dan Isa, lalu Ismail dan Muhammad SAW dari jalur Hajar adalah keturunan Ibrahim. Anugerah yang sem- purna. Ibrahim adalah Bapak Tauhid. Bapak Para Nabi. Bapak Agama Samawi. Kekasih Allah dan kekasih manusia. Sekitar 4,2 mili- ar dari 7 miliar (60%) penghuni bumi saat ini adalah pengikut agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam; Musa, Isa, Muhammad SAW). Ibrahim telah mengubah arah sejarah ke- manusiaan, sesuai doanya: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.” (QS Asy-Syu’ara: 83-85) 50
Anis Matta Dengan Ka’bah, Allah mengabadikan dakwah tauhid Ibrahim dan karenanya ia dikenang sebagai Bapak Tauhid, sekaligus menjadi simbol arah kehidupan baru umat manusia karena di sanalah Allah kelak menutup mata rantai kenabian. 51
Haji: Catatan & Refleksi koleksi digital New York Public Library 52
7 D oa Ibrahim untuk meramaikan Ka’bah dengan kunjungan manusia dari segala penjuru bumi di- abadikan Islam dengan menetapkan haji sebagai salah satu rukunnya. Dan hanya ini rukun Islam yang dijadi- kan nama surat dalam Al-Qur`an: Al-Hajj. Haji baru diwajibkan pada tahun ke-6 Hijriah, 4 ta- hun sebelum Rasulullah SAW wafat. Persis setelah keme- nangan besar kaum muslimin dalam Perang Khandaq. Karenanya haji menandai era baru dalam perjuangan “era ekspansi” setelah 5 tahun mempertahankan negara Madinah. Tapi, penyiapan negara Madinah sendiri dilakukan pada musim haji setelah selesainya embargo tahun ke- 10 di Mekkah hingga hijrah tahun ke-13 ke Madinah. Pada musim haji negara Madinah direncanakan. Dengan rukun haji peradaban global diawali. 53
Haji: Catatan & Refleksi Jadi, haji sejak awal membawa ruh ekspansi dengan semangat universalisme dan globalisme Islam. Haji disyariatkan sebagai instrumen terdepan penyebaran agama. Karena situasinya yang kompleks, Rasulullah SAW hanya berhaji satu kali. Pertama dan terakhir. Makanya, disebut haji wada’, haji perpisahan, yang dilaksanakan setelah seluruh risalah tersampaikan, dan semua ama- nah kenabian tertunaikan. Haji wada’ adalah momen “meresume” semua makna agama yang telah disampaikan dan dijalani 22 tahun sebelumnya. Haji wada’ seperti meletakkan mahkota di kepala sang raja saat inaugurasi. Seperti peristiwa topping off untuk menandai keutuhan sebuah bangunan. “... Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. …” (QS Al- Maidah: 3) 54
Anis Matta dokumentasi Aljazeera English 55
Haji: Catatan & Refleksi Jadi, haji wada’ adalah simbol kesempurnaan agama. Ini adalah hari kesaksian bahwa risalah telah disampai- kan, amanah telah ditunaikan, perjuangan telah ditun- taskan. Dalam menutup khotbah wada’, Rasulullah SAW berkata, “Ya Allah, tidakkah telah aku sampaikan?” Maka segenap penjuru orang menjawab, “Ya!” Lalu Rasulullah berkata, “Ya Allah, saksikanlah ini.” Tapi, kesempurnaan adalah awal dari sebuah akhir. Itu mengapa Abu Bakar menangis tersedu-sedu saat men- dengarkan khotbah Rasulullah SAW ini. Kekasih dari kekasih Allah itu tahu bahwa ajal kekasihnya, Rasulullah SAW, sebentar lagi akan tiba. dokumentasi Associated Press 56
Anis Matta Maka, peristiwa haji wada’ sekaligus juga merupakan Hari Pewarisan: pewarisan agama kepada seluruh manusia, pewarisan amanah dakwah kepada manusia biasa yang bukan nabi, dengan semua kelemahannya dan semua kompleksitas masalah yang ia hadapi tapi kali ini tanpa wahyu. Makna dari Hari Pewarisan itulah yang membe- dakan haji saya kali ini. Saya telah memahami rahasia keabadian risalah dan keagungan para pembawanya. Tapi, mewarisi amanah dakwah itu? Apa maknanya? Apa syaratnya? Apa konsekuensinya? Dan, apa saya layak? Apakah makna labbaika saat kita datang untuk melengkapi rukun agama? Apa pula makna labbaika saat kita datang dalam semangat menghadiri Hari Kesaksian dan Hari Pewarisan? Apa yang dirasakan para sahabat dalam haji wada’ itu? Hari Kesaksian itu? Hari Pewarisan itu? 57
Haji: Catatan & Refleksi Labbaika Allahumma labbaika... Ilhami kami kembali makna-makna yang dulu Engkau ilhamkan kepada para sahabat Rasulullah SAW di Hari Kesaksian itu, di Hari Pewarisan itu... Labbaika Allahumma labbaika... Ikutkanlah kami dalam kafilah para pewaris amanah nubuwwah itu… Labbaika Ya Allah... Ilhami kami jalan perjuangan menegakkan agama- Mu... Labbaika Allahumma labbaika... Ilhami kami pemahaman para nabi... Ilhami kami ‘azimah para nabi... Ilhami kami ketangguhan para nabi... Turunkan sakinah dalam hati kami… Terangi jalan perjuangan kami dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam... 58
Anis Matta Haji wada’ seperti meletakkan mahkota di kepala sang raja saat inaugurasi. Seperti peristiwa topping off untuk menandai keutuhan sebuah bangunan. Haji wada’ adalah simbol kesempurnaan agama. Hari kesaksian bahwa risalah telah disampaikan, amanah telah ditunaikan, perjuangan telah dituntaskan. 59
Haji: Catatan & Refleksi koleksi digital New York Public Library 60
8 C erita haji ini melibatkan dua dari lima nabi yang masuk disebut Al-Qur`an sebagai ulil azmi. Para pemilik tekad yang kuat. Nuh. Ibrahim. Musa. Isa. Dan Muhammad SAW. “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS Al- Ahzab: 7) Tantangan mereka sangat berat tapi mereka tangguh. Mereka menghadapi kerajaan-kerajaan besar yang solid, rajanya tiran, masyarakatnya pembangkang yang keras kepala, tapi mereka punya determinasi. Mereka melintasi semua rintangan itu. 61
Haji: Catatan & Refleksi Bukan hanya tatanan politik yang kuat dan tiran, mereka juga bekerja dalam waktu yang lama, terutama Nabi Nuh yang bekerja 950 tahun. Tapi, mereka teguh dan konsisten. Bayangkanlah agama Kristen baru menjadi agama resmi Romawi 300 tahun setelah Nabi Isa wafat. Kelima nabi ulil azmi itu memiliki garis kepribadian yang berbeda. Keras dan santun. Nuh dan Musa ada di garis keras. Ibrahim dan Isa di garis santun. Nabi Muhammad SAW mengikuti kakeknya, Nabi Ibrahim, di garis santun. 62
Anis Matta koleksi Roukaya19/Skyscrapercity 63
Haji: Catatan & Refleksi Nuh berdoa agar Allah membinasakan semua orang kafir yang ada di muka bumi tapi Ibrahim berdoa agar bahkan ayahnya yang musyrik bisa diampuni Allah SWT. Ibrahim adalah kekasih Allah (khalilullah). Musa berbicara langsung dengan Allah (kalimullah). Isa adalah Ruh Allah (ruhullah). Dar Yasin/AP 64
Anis Matta dokumentasi Associated Press Tapi, Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah yang diberi kesempatan melihat Allah SWT secara langsung. Tapi, Ibrahim AS dan Muhammad SAW disatukan dalam kategori yang lain: kekasih Allah. Itu adalah maqam tertinggi hierarki cinta dan itu dicapai dengan “pengorbanan’ yang tidak berbatas di jalan cinta Allah. Itu makna cerita penyembelihan Ismail. Maka, hanya Muhammad SAW dan Ibrahim AS yang kita sebut saat tasyahud dalam shalat. 65
Haji: Catatan & Refleksi Garis kepribadian mereka bisa berbeda dalam penampakannya tapi sama dalam wa- tak dasarnya: tekad yang kuat, ketangguhan, dan pengorbanan tanpa batas. Sekarang kita mengenang epik panjang perjuangan mereka. Makna kepribadian dasar itu harus hadir kembali mengilhami jalan para pewaris nubuwwah. Semua tantangan berat yang merintangi jalan perjuangan kita hari ini hanya bisa kita lewati jika kita mewarisi ‘azimah para nabi ulil azmi itu. Dan ‘azimah itu harus mengejawantah dalam “pengorbanan” tanpa batas. Sebab, dengan pengorbananlah kita menyatakan cinta dan kesetiaan pada Allah dan cita-cita sebagai pewaris nubuwwah. 66
Anis Matta Sapi dan kambing yang kita sembelih pada hari qurban ini adalah momentum cinta kepada Allah. Bukan hanya tak ada sekutu dalam kerajaan- Nya, tapi juga tak ada sekutu dalam cinta kepada-Nya. Sapi dan kambing tidak sampai kepada Allah. Cintalah yang sampai kepada Allah. Semua kita korbankan karena semuanya tak bermakna. Semua tantangan kita hadapi karena semua kecil. Tak ada “alam” yang besar. Tak ada “manusia” yang besar. Semuanya kecil. Hanya Allah Yang Mahabesar. Kita tangguh karena kita bersama Allah Yang Mahabesar. 67
Haji: Catatan & Refleksi Kelima nabi ulil azmi itu memiliki garis kepribadian yang berbeda. Keras dan santun. Nuh dan Musa ada di garis keras. Ibrahim dan Isa di garis santun. Nabi Muhammad SAW mengikuti kakeknya, Nabi Ibrahim, di garis santun. 68
9 P erbedaan ekstrem pada garis kepribadian antara yang santun dan yang keras di antara para nabi ulil azmi juga terjadi di kalangan sahabat-sahabat terdekat Rasulullah SAW yang kelak menjadi khalifah secara berurutan. Jika Ibrahim dan Isa berada di garis santun semen- tara Nuh dan Musa di garis keras, maka Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan ada di garis santun sementara Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib di garis keras. Bedanya adalah keempat nabi ulil azmi itu dipisah oleh jarak waktu yang sangat jauh. Nuh dengan Ibrahim terpisah jarak sekitar 1.000-an tahun. Musa ke Isa terpi- sah sekitar 1.700-an tahun. 69
Haji: Catatan & Refleksi dokumentasi Aljazeera English Sementara keempat sahabat itu ada dalam satu za- man di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW sehingga dinamika kolektif mereka memperlihatkan bagaimana perbedaan garis kepribadian itu menjadi keseimbangan kolektif mereka. Tampaknya perbedaan garis kepribadian individu ini berakar pada kecenderungan yang sama dalam tubuh umat secara umum, baik di kalangan ulama maupun masyarakat awam. Lihatlah misalnya bagaimana para ulama dan fuqaha sepanjang sejarah berbeda pandangan dan sikap dalam tema “fiqh perubahan” antara garis santun dan garis keras. 70
Anis Matta Rasulullah SAW sendiri berbeda dari keempat nabi ulil azmi sebelumnya dari waktu, ragam pengalaman, dan dampak perubahan dalam kehidupan manusia. Rasulullah SAW hanya berumur 63 tahun tapi pengalaman nubuwwah-nya lebih beragam, dan pengaruhnya lebih besar dan lebih lama. Keempat nabi ulil azmi diutus di tengah umat yang sistem politiknya solid atau konsolidasi sosialnya kuat. Sementara Rasulullah SAW diutus kepada kaum yang sistem sosial politiknya sederhana dan rapuh. Itu menjelaskan mengapa Islam datang dan langsung bisa mendirikan negara hanya dalam waktu 13 tahun, sementara Kristen baru menjadi agama resmi Romawi setelah 300-an tahun wafatnya Isa. Romawi terlalu solid. 71
Haji: Catatan & Refleksi Tapi Rasulullah SAW memiliki pengalaman memimpin perang secara langsung, sementara umat Nuh dan Fir’aunnya Musa sama-sama ditenggelamkan Allah, atau menang dengan mukjizat langsung, bukan melalui perang. Jumlah populasi bumi dan wilayah yang su- dah terhuni manusia jauh lebih besar dan lebih luas pada zaman Rasulullah SAW. Paling sedikit ada sekitar 100-an juta manusia yang menghuni tiga benua. Tema khotbah haji wada’ menjelaskan tema sosial, ekonomi, politik di samping ideologi (manhaj nubuwwah) terelaborasi secara komprehensif disebabkan interaksi manusia yang jauh lebih kompleks. Apalagi untuk Islam yang ditetapkan sebagai agama penutup agama- agama samawi. 72
Anis Matta Tema utama nabi-nabi sebelum Muham- mad SAW adalah tauhid. Populasi masih kecil. Wilayah bumi yang sudah terhuni masih terba- tas. Manusia merasa kecil di depan alam karena tidak punya pengetahuan tentang itu. Tema tauhid secara fundamental mengubah pan- dangan manusia saat itu tentang tiga hal: Tuhan, alam, dan manusia. dokumentasi Aljazeera English 73
Haji: Catatan & Refleksi Dengan begitu tema tauhid bukan saja menjadi fondasi dari struktur ajaran agama samawi tapi juga kelak menjadi landasan bagi kemajuan peradaban manusia. Terutama da- lam tema alam dan manusia karena tauhid membawa “ruh eksplorasi” yang melandasi kemajuan peradaban. Sekarang mata rantai nubuwwah telah ditutup tapi amanah nubuwwah harus dilanjutkan. Para nabi dibimbing Allah melalui wahyu secara langsung, sementara pewaris nubuwwah harus “berijtihad” yang panjang. Itulah tantangan kita sekarang. dokumentasi Associated Press 74
Anis Matta Tampaknya perbedaan garis kepribadian individu ini berakar pada kecenderungan yang sama dalam tubuh umat secara umum, baik di kalangan ulama maupun masyarakat awam. Lihatlah misalnya bagaimana para ulama dan fuqaha sepanjang sejarah berbeda pandangan dan sikap dalam tema “fiqh perubahan” antara garis santun dan garis keras. 75
Search
Read the Text Version
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168