WARISAN NILAI-NILAI KERUKUNAN DI KAMPUNG SAWAH : Peran Gereja Santo Servatius terhadap Nilai-Nilai Kerukunan di Kampung Sawah.
KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan buku ini yang berjudul Warisan Kerukunan Beragama di Kampung Sawah: Pengaruh Gereja Santo Servatius terhadap Kerukunan Beragama di Kampung Sawah dengan tepat waktu. Buku ini dibuat untuk memenuhi projek ketiga Kurikulum Merdeka Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah kegiatan berbasis proyek yang dirancang untuk memperkuat upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang dibuat berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. Kami menyadari bahwa buku yang telah kami buat ini masih jauh dari kata sempurna baik dari sisi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran apabila pembaca menemukan kesalahan dalam buku ini.
HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kelancaran serta kemudahan dalam menyelesaikan buku ini. Tugas Akhir ini kami persembahkan untuk keluarga, orang tua, guru, sahabat, teman-teman, para narasumber, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam proses penulisan buku ini. Kalian lah motivasi utama dari awal hingga akhir.
UCAPAN TERIMA KASIH Pada proses penelitian buku ini kami selaku peneliti menyadari bahwa reak=lisasinya kami didukung dan dibantu oleh orang-orang sekitar yang selalu mendukung dan membantu kami dalam mengerjakan penelitian ini. Maka dari itu kami secara tulus mengucapkan rasa terima kasih kami kepada: Tuhan Yang Maha Esa, yang telah mengaruniai kami begitu banyak ide sehingga kami bisa merampungkan buku ini. Tanpa-Mu, WE ARE NOTHING. Tak lupa juga rasa terima kasih kami untuk, Kepala Sekolah SMAN 11 Bekasi yaitu, Ibu Hj. Widjajanti, S.IP, M.Pd, yang telah mendukung kami dalam melakukan penelitian ini. Seluruh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMAN 11 Bekasi, wabil khusus Ibu Ririn Setyorini, ST, M.Pd, selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 11 Bekasi yang telah memberikan semangat serta dorongan untuk kami melakukan penelitian. Serta tak lupa juga untuk seluruh guru pembimbing penelitian kami, yaitu Bapak Tyo Prakoso, S.Pd, Ibu Woro Tien Asrini Putri, S.Pd, Bapak Deri Ahmad Sofari, S.Pd.I, Bapak Irvan Hartarto, M.Pd, dan Ibu Rohana Retno Febriyani, S.Pd, yang telah bersedia menyisihkan waktunya untuk membimbing serta memberikan masukan terhadap penelitian kami, dan juga memberikan semangat untuk kami sehingga penelitian kami bisa berjalan dengan lancar. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Yohannes Wartoyo selaku Kepala Paroki Gereja
Santo Servatius, yang telah bersedia untuk berbagi informasi kepada kami mengenai Kampung Sawah serta Bapak Matius Nalih selaku Narasumber yang telah meluangkan waktunya untuk membantu kita dalam menyusuri Gereja Santo Servatius. Tanpa Bapak sekalian, kami tidak akan bisa menyelesaikan penelitian kami dengan mudah, dikarenakan banyak sekali hal yang masih belum kami ketahui mengenai Kampung Sawah dan Gereja Santo Servatius. Tim penelitian, yang telah berusaha keras untuk menuangkan ide serta pemikiran nya dalam pembuatan buku ini, dan telah bekerja sama dengan baik selama penelitian ini berlangsung. Tanpa ada nya tim penelitian, mungkin buku ini tidak akan terselesaikan. Terima kasih teman-teman untuk semangat nya, WE DID IT, YEAY!
Warisan kerukunan beragama di Kampung Sawah: Pengaruh Gereja Santo Servatius terhadap kerukunan beragama di Kampung Sawah Penulis: Abigail Yosephin, Adinda Bilqis Mikaila, Flora Tri Nur Celia, Latifah Agustin, Muhammad Rasya Bintang Nugraha, Nabila Nur Afiqah, Raihan Ir Yudhatama Putra Editor: Tyo Prakoso, S.Pd, Woro Tien Asrini Putri, S.Pd, Deri Ahmad Sofari, S.Pd.I, Irvan Hartarto, M.Pd, Rohana Retno Febriyani, S.Pd Desain Cover: Abigail Yosephin, Latifah Agustin Hak cipta dilindungi undang-undang All rights reserved Cetakan I, Juni 2023 Diterbitkan pertama kali oleh ELPRESS (Eleven Press) Komp Perwira Tinggi, Kav. Pati TNI AU, Jatisari, Jatiasih Kota Bekasi - Jawa Barat 17426. Email: [email protected] Web: sman11bekasi.sch.id
SAMBUTAN KETUA KOMITE Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rakhmat dan petunjukNya semata. Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan pelaksanaan atas Kurikulum Merdeka tahun pelajaran 2022/2023 dengan mengambil pilihan sebagai Sekolah Penggerak, yang mana menerapkan kurikulum Merdeka di kelas X, dan kelas XI serta kelas XII yang masih menggunakan kurikulum tahun 2013. Pada kurikulum Merdeka ini menggunakan paduan intrakurikuler dan kokuriler melalui Penguatan Profil Pelajar Pancasila, sedangkan kurikulum 2013 hanya pembelajaran intrakurikuler. Penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan peserta didik menjadikan pewaris bangsa yang berprestasi dan produktif, dengan mengutamakan kompetensi, berkepribadian dan sepanjang hayat bertindak sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. SMA Negeri 11 Kota Bekasi sebagai salah satu sekolah yang menerapkan kurikulum Merdeka Tahun pelajaran 2022/2023 melaksanakan profil penguatan Pancasila dengan mengambil 3 Tema yaitu:
Tema 1 – tentang Gaya Hidup Berkelanjutan; Tema 2 – tentang Kewirausahaan; dan Tema 3 – tentang Kearifan Lokal. Dengan mengambil 3 tema tersebut diharapkan siswa akan belajar lebih banyak tentang kondisi lingkungan di sekitarnya, membangun kearifan dalam interaksinya dengan lingkungan alam sekitar maupun sosial dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pelajar Pancasila dalam kesehariannya. Demikian kami sampaikan dan terima kasih atas dukungan semua orang tua siswa, khususnya serta keluarga SMAN 11 – Bekasi pada umumnya. Selamat membaca! H. Dr. Ngurah Oka
SAMBUTAN KEPALA SEKOLAH Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rakhmat dan karuniaNya kita masih diberi kesempatan untuk tetap berusaha bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya SMA Negeri 11 Kota Bekasi sebagai salah satu sekolah yang menerapkan kurikulum Merdeka Tahun pelajaran 2022/2023 melaksanakan Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan mengambil 3 Tema yaitu: Tema 1 – tentang Gaya Hidup Berkelanjutan; Tema 2 – tentang Kewirausahaan; dan Tema 3 – tentang Kearifan Lokal. Hal ini ditujukan sebagai upaya menanamkan sejumlah karakter dan nilai-nilai berlandaskan Pancasila. Seperti peduli terhadap persoalan lingkungan, mencintai budaya bangsa serta dapat berpikir kreatuf dalam bidang ekonomi. Diharapkan karakter dan nilai-nilai tersebut dapat teraktualisasi ke dalam pribadi peserta didik masing-masing. Buku yang ada di tangan pembaca merupakan salah satu produk dari karakter dan nilai-nilai yang disebut di atas.
Buku ini adalah implementasi SMA Negeri 11 Kota Bekasi terhadap Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Buku yang ditulis sepenuhnya oleh peserta didik SMA Negeri 11 Kota Bekasi juga diniatkan sebagai Upaya SMA Negeri 11 Kota Bekasi berperan di lingkungan sekitar. Semoga apa yang ditulis oleh peserta didik SMA Negeri 11 Kota Bekasi dapat menjadi dokumentasi, dan pembelajaran bagi khalayak ramai. Demikian kami sampaikan dan terima kasih atas dukungan semua orang tua siswa, khususnya komite, dan jajaran keluarga SMA Negeri 11 Kota Bekasi. Selamat membaca! Hj. Widjajanti, S.IP, M.Pd Kepala SMA Negeri 11 Kota Bekasi
SAMBUTAN WAKIL KEPALA SEKOLAH BID. KURIKULUM Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan salah satu bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Projek tersebut berfokus pada aktivitas pembelajaran, pelatihan, dan praktik langsung yang di dalamnya terdapat penekanan pada dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila. SMA Negeri 11 Kota Bekasi menjadi pelaksana kurikulum merdeka Tahun Pelajaran 2022/2023 dengan mengambil pilihan sebagai sekolah merdeka berubah. Pada sekolah dengan pilihan merdeka berubah ini menerapkan kurikulum merdeka di kelas X, sementara kelas XI dan XII masih menggunakan kurikulum 2013. Perbedaan kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya adalah bahwa pada kurikulum merdeka ini menggunakan paduan pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila sedangkan pada kurikulum 2013 hanya ada pembelajaran intrakurikuler. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat menjadikan peserta didik menjadi pewaris bangsa yang berprestasi dan produktif. Siswa sebagai pelajar dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan. Profil Pelajar Pancasila mengubah peserta didik Indonesia menjadi pembelajar yang kompeten, berkepribadian, dan sepanjang hayat yang bertindak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Sebagai salah satu sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka Tahun Pelajaran 2022/2023, SMAN 11 Bekasi melaksanakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan mengambil 3 tema utama yaitu Gaya Hidup Berkelanjutan, Kewirausahaan, dan Kearifan Lokal. Pada tema 1 Gaya Hidup Berkelanjutan, siswa membuat landmark “Taman Merdeka SMAN 11 Bekasi” dengan memanfaatkan sampah botol minuman dan bungkus plastik bekas dibentuk menjadi ecobrick. Hasil landmark terdapat di lapangan basket halaman depan sekolah, yang sekarang sudah dapat dinikmati sebagai ikon baru sekolah. Tema kedua Kewirausahaan, siswa diajarkan bagaimana merencanakan sebuah usaha sampai dengan kelengkapan yang dibutuhkan dalam suatu usaha. Pada tema kewirausahaan tersebut hasil yang didapatkan siswa adalah scrapbook yang berisi gambar, foto, dan tulisan daftar menu makanan dan siswa juga melaksanakan bazar berjualan makanan dengan modal dari sekolah. Sementara pada projek ke 3 Kearifan Lokal, siswa dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok pagelaran, penelitian dan bazar. Pada kelompok pagelaran, siswa akan mementaskan karya kearifan lokal. Kelompok penelitian melakukan observasi lapangan ke 3 kampung, yaitu kampung Kranggan, Kampung Pabuaran dan Kampung Sawah yang hasilnya dituangkan dalam bentuk buku. Sedangkan pada kelompok Bazar, siswa melaksanakan jual beli makanan dengan menggunakan modal dari
sekolah. Pada kegiatan projek ke 3 ini, puncak acara ditampilkan di kegiatan gebyar pagelaran dan exhibisi Projek Pelajar Pancasila pada 24 Juni 2023. Diharapkan, melalui kegiatan projek ini, para siswa dapat belajar lebih banyak tentang kondisi lingkungan di sekitarnya, membangun kearifan dalam interaksinya dengan lingkungan alam maupun sosial, dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pelajar Pancasila dalam kesehariannya. Hj. Ririn Setyorini, ST, M.Pd Wakil Kepala Bid. Kurikulum SMA Negeri 11 Kota Bekasi
SAMBUTAN WALI KELAS Dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberi kemampuan kepada siswa/siswi kelas X.3 untuk menyelesaikan buku tentang kearifan lokal sebagai tugas dari Projek 3 yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pembelajaran dari Kurikulum Meredeka. Saya selaku Wali Kelas X.3, Rohana Retno Febriyani, S.Pd, sangat bangga dengan kerja keras Tim Penelitian dalam usahanya untuk menyelesaikan tugas pembuatan buku tentang kearifan lokal. Dalam hal ini yaitu meneroka 3 kampung yang berada di sekitar sekolahan, yaitu kampung Kranggan, kampung Pabuaran dan Kampung Sawah kota Bekasi. Dari ketiga kampung tersebut, siswa kelas X.3 merasa tertarik dengan salah satu kampung yang memang memiliki kebudayaan yang masih kental dengan kepercayaannya, yaitu Kampung Sawah. Yang akhirnya mereka melakukan penelitian dan mencari informasi tentang kearifan-kearifan lokal yang ada di Kampung Sawah.
Untuk pembuatan buku yang saat ini sedang ada di tangan pembaca, saya yakin prosesnya tidaklah mudah. Mereka harus mengikuti tahapan-tahapan yang sangat melelahkan dan menyita waktu serta pikiran. Selain harus menyimak apa yang disampaikan oleh para koordinator projek dan narasumber yang kompeten di bidangnya, serta para guru pendamping tentang bagaimana langkah- langkah dalam melakukan penelitian, mereka juga harus mencari informasi melalui sejumlah buku, jurnal dan laman internet tentang kampung-kampung yang akan menjadi objek penelitian mereka, bahkan mereka juga harus langsung mendatangi tokoh dari kampung tersebut untuk diwawancara yang kemudian harus mereka buat dalam bentuk sebuah buku dan harus mereka selesaikan dalam waktu kurang dari satu bulan. Dan saya memberikan apresiasi yang tinggi dengan kinerja tim penelitian dari kelas X.3, yang terdiri dari Abigail Yosephin, Adinda Bilqis Mikaila, Flora Tri Nur Celia, Latifah Agustin, Muhammad Rasya Bintang Nugraha, Nabila Nur Afiqah, dan Raihan Ir Yudhatama Putra, dalam proses menyelesaikan pembuatan buku ini.
Yang memang sungguh sangat diluar dugaan, ternyata hasilnya sangat bagus sekali. Mudah-mudahan buku yang diberi judul “Warisan kerukunan beragama di Kampung Sawah: Pengaruh Gereja Santo Servatius terhadap kerukunan beragama di Kampung Sawah” ini bisa menjadi bacaan yang bermanfaat dan bisa memberikan banyak informasi tentang kearifan lokal yang ada di Kampung Sawah yang memang selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya masyarakat Kota Bekasi. Tak lupa saya ucapkan banyak terimakasaih kepada Kepala SMA Negeri 11 Kota Bekasi Ibu Hj. Widjajanti, S.IP., M.Pd, para Wakil Kepala Sekolah, para dewan guru dan juga semua fihak yang terlibat dalam pembuatan dan penulisan buku ini. Terkhusus koordinator penelitian Projek 3 bapak Tyo Prakoso dan Bu Worotien yang sangat luar biasa dalam membimbing siswa/siswi untuk menyelesaikan pembuatan buku ini.
Demikian sambutan ini ditulis. Selamat membaca dan semoga bermanfaat! Rohana Retno Febriyani, S.Pd Wali Kelas X.11
DAFTAR ISI Kata Pengantar ………………………………….. I Halaman Persembahan ............................................... II Ucapan Terimakasih ................................................... III Sambutan Ketua Komite ............................................ VI Sambutan Kepala Sekolah ……………………. VIII Sambutan Wakil Kurikulum Bidang Kurikulum ........ X Sambutan Wali Kelas ……………………………... XIII Prolog …………………………………………......... Chapter 1………………………………..................... A. Latar Belakang …………………………… 02 B. Sejarah Masuknya Agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik ….……………………… 04 Chapter 2 …………………………………................ A. Perkembangan Agama Katolik di Kampung Sawah ..………………………………….. 06 B. Provokasi di Sekitar Kampung Sawah……………………………………… 14 C. Upaya Mencegah dan Menghadapi Konflik 16 D. Segitiga Emas Sebagai Simbol Kerukunan 18 Chapter 3 …………………………………................ A. Kearifan Lokal Sebagai Bentuk Warisan ….. 21 B. Warisan Kearifan Lokal ………..………….. 23 B.1. Tradisi Membawa Relikwi Santo Servatius Keliling Kampung Sawah ……………..….. 23
B.2. Babaritan/Sedekah Bumi ……………... 24 B.3. Ngaduk Dodol ..……………… 25 B.4. Ngariung Bareng ………………… 26 B.5. Tradisi Dalam Berpakaian ……………. 27
DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Ruangan dalam Gereja Santo Servatius .03 Gambar 1.2. Migrasi penduduk …………………. 04 Gambar 1.3. Gereja Katedral Jakarta …………… 05 Gambar 2.1. Pastor van Driell ………………… 10 Gambar 2.2. Ngariung bareng ………………… 17 Gambar 2.3. Bangunan segitiga emas …………. 19 Gambar 3.1. Bergandeng tangan dalam keberagaman 22 Gambar 3.2. Relikwi ………..………….…………. 24 Gambar 3.3. Sedekah bumi………………………… 25 Gambar 3.4. Ngaduk dodol ……………………..…. 26 Gambar 3.5. Ngariung bareng…………………….... 27 Gambar 3.6. Baju koko……………………………. 28 Gambar 3.7. Baju encim…………………………... 29
Prolog Manusia adalah makhluk sosial yang secara alamiah hidup dalam masyarakat (Aristoteles, 384 SM - 322 SM). Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dilepaskan dari hubungan dengan sesamanya. Hubungan antar manusia dalam masyarakat ditata dalam suatu tatanan yang kerap disebut norma. Norma adalah aturan-aturan yang ditetapkan oleh masyarakat untuk mengendalikan tingkah laku anggota-anggotanya agar sesuai dengan nilai-nilai yang diakui dalam masyarakat (M. J. O'Donnell, 1974). Tujuan norma diadakan adalah untuk mengatur masyarakat sehingga menciptakan kenyamanan serta keamanan bagi masyarakatnya. Kampung Sawah adalah kampung yang terkenal akan kerukunan beragamanya, juga akan kearifan lokalnya. Kampung Sawah memiliki kultur yang ramah, sehingga jika ada orang baru datang pasti mendapat sapaaan beserta teguran ramah. Penduduk asli setempat menanamkan kepada anak-anaknya nilai-nilai kerukunan, sopan santun, serta toleransi yang kuat. Penanaman nilai inilah yang menjadi warisan bagi generasi mendatang. Hal ini menjadi topik yang menarik untuk dibahas karena Kampung Sawah dapat menjadi teladan sebagai panduan kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai yang tertanam di Kampung Sawah, terutama nilai kerukunan pada kearifan lokal membawa pengaruh positif yang besar.
Chapter 1
Latar Belakang Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, bahasa, agama dan sebagainya. Berbagai keberagaman di Indonesia pasti dapat menimbulkan pertikaian antar kelompok jika masyarakatnya tidak menghargai dan menghormati keberagaman yang ada. Keberagaman agama di Indonesia merupakan salah satu topik sensitif yang seringkali menyebabkan pertikaian antar masyarakat. Berdasarkan hal ini, masyarakat harus memiliki pemahaman yang baik tentang kerukunan beragama agar tidak menimbulkan pertikaian antar masyarakat beragama. Kerukunan adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainya yang berbeda dengan pendirian (Purwadarminta, 1986). Sementara Kerukunan beragama adalah suatu keadaan di mana hubungan antarumat beragama di suatu wilayah dapat saling menerima, menghargai, dan menghormati keyakinan masing-masing. Sudah sepatutnya kita sebagai warga Indonesia yang religius untuk menerapkan kerukunan beragama. Hal ini dipicu karena Indonesia meyakini kemerdekaan dicapai karena berkat dan rahmat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga agama adalah hal yang wajib sebagai ucapan syukur untuk mengingat kebaikan Tuhan. Kerukunan beragama juga mengandung nilai Pancasila, sila ke-1 juga sila ke-3.
Salah satu contoh kerukunan beragama di Indonesia dapat dilihat di Kampung Sawah, termasuk di dalamnya adalah umat Katolik Kampung Sawah dengan gerejanya Santo Servatius, yang terletak di Jalan Raya Kampung Sawah, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. gambar 1.1. Ruangan dalam Gereja Santo Servatius (Abigail, 2023)
Sejarah Masuknya Agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik Pada abad 19 mulai banyak migrasi penduduk dari luar daerah, disebabkan karena adanya pemberitaan injil oleh muridnya Kyai Sadrah, yang berkembang mulai dari daerah sekitar Pasar Kecapi. Terdapat satu jemaat yang berkembang dengan nama Gereja Metodis. Gereja Metodis inilah yang sekarang bernama GKP (Gereja Kristen Protestan). 1 gambar 1.2. Migrasi penduduk Sumber: https://images.app.goo.gl/PKRAjDj2ZjWQmebp6 Dari Gereja Metodis ini ada beberapa jemaat yang mengalami dinamika rohani tertentu. Sehingga mereka memutuskan untuk memisahkan diri sebagai jemaat Gereja Metodis. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah melihat sisi kerohanian para tetangga mereka yang bekerja di Batavia yang beragama Rum Katolik, mereka pun menuju Batavia untuk mengajukan permohonan menjadi Rum Katolik. Di Batavia mereka 1 Eko Praptanto, 14 Juni 2023 dalam wawancara
bertemu dengan Pastor Bernadus Schweitz SJ. Para jemaat itu pun memutuskan untuk belajar dari beliau selama satu tahun. Setelah itu barulah mereka dibaptis. Di tahap pertama ada 6 orang guru asli orang Kampung Sawahyang dibaptis menjadi Katolik. Tahap berikutnya, 18 orang Kampung Sawah dibaptis, setelah belajar di Katedral Batavia. gambar 1.3. Gereja Katedral Jakarta Sumber: https://images.app.goo.gl/4ZKMjfQ3jXBzLPxy8 Kedelapan belas warga asli Kampung Sawah tersebut dibaptis pada tanggal 6 Oktober 1896 oleh Romo Bernadus Schweitz SJ dari Gereja Katedral. Peristiwa tersebut dapat disebut sebagai cikal bakal berkembangnya umat Katolik di Kampung Sawah yang warganya merupakan etnis Betawi Kampung Sawah. Peristiwa pembaptisan 18 orang asli Kampung Sawah tersebut pun ditetapkan sebagai hari lahirnya Gereja Katolik Kampung Sawah.
Di kemudian hari, Pastor Schweitz menunjuk salah seorang warga yaitu Bapak Suradi untuk mengajarkan agama Katolik kepada warga Kampung Sawah di rumahnya. Seiring berjalannya waktu, penganut Katolik di Kampung Sawah semakin banyak dan untuk menunjang kegiatan peribadatan, didirikanlah sebuah gereja kecil, yang disebut gereja gubug. Gereja ini nantinya yang akan menjadi Stasi Kampung Sawah yang dipimpin oleh Engku (Guru) Nathanael.2 2 Paroki Gereja Santo Sevatius, 2014. Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (5) http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2014/05/13/225300
Chapter 2
Perkembangan Agama Katolik di Kampung Sawah Perkembangan agama Katolik di Kampung Sawah ditandai dengan dibaptisnya 18 warga asli Kampung Sawah pada tanggal 6 Oktober 1896 oleh Romo Bernadus Schweitz dari Gereja Katedral. 18 orang pertama yang dibaptis ini merupakan cikal bakal berkembangnya penganut Katolik di Kampung Sawah yang warganya merupakan etnis Betawi.3 Akhirnya Pastor Schweitz menunjuk salah seorang warga yaitu Bapak Suradi untuk mengajarkan agama Katolik kepada warga Kampung Sawah di rumahnya. Seiring berjalannya waktu, penganut Katolik di Kampung Sawah semakin banyak dan untuk menunjang kegiatan peribadatan, akhirnya didirikanlah sebuah gereja kecil dengan biaya 70 gulden yang terbuat dari bambu di wilayah tersebut oleh Pastor Schweitz dan warga setempat pada tahun 1897 yang dapat menampung sekitar 50 orang. Gereja ini nantinya yang akan menjadi Stasi Kampung Sawah yang dipimpin oleh Nathanael. Pada akhir tahun 1897, tercatat jumlah baptisan Katolik mencapai 47 orang. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu sempat menyatakan keberatannya terhadap hal tersebut. Rupanya Pastor Schweitz mengabaikan peringatan tersebut, dibuktikan dengan dibaptisnya 10 orang asli Kampung Sawah lagi pada Mei 1898. Namun setelah itu, pada tahun yang sama Pastor Schweitz jatuh sakit dan pulang ke Belanda dan digantikan oleh Pastor A. Kortenhors. Lalu pada tahun 3 Ibid
1900 tercatat bahwa sudah terdapat 78 umat Katolik di Kampung Sawah. Pada sekitar tahun 1902 – 1904, gereja Katolik dilarag oleh pemerintah kolonial di Batavia yang membuat kegiatan peribadatan di Kampung Sawah dilakukan secara diam-diam. Namun, pada akhir masa pelarangan, Pastor Kortenhors justru membaptis 19 orang lagi. Dalam perjalanannya, umat Katolik di Kampung Sawah tidak selalu bertambah, dibuktikan pada sekitar tahun 1917, jemaat Gereja Katolik berjumlah 0. Ini bermula pada tahun 1905, dimana guru Nathanael memliki konflik dengan polisi dan menyebabkan ia diberhentikan oleh Pastor Kortenhors. Lalu pada tahun 1906, Nathanael melirik ajaran Gereja Methodis dan pada tahun yang sama, ia bersama sebagian warga Kampung Sawah berpindah ke ajaran Gereja Methodis di sekitar daerah Bogor. Penurunan jumlah umat ini juga disebabkan oleh jarangnya kunjungan pastor pada saat itu.4 Setelah kejadian tersebut, tercatat jumlah umat pada tahun 1906 mencapai 130 orang. Di tahun ini, Guru Markus masih membaptis 4 orang lagi. Lalu, pada tahun 1907, karena banyak umat yang menyebrang ke Gereja Methodis, jumlah umat tersisa 34 orang. Di tahun yang sama pula terjadi penurunan kembali sebanyak 15 orang. Sampai pada akhirnya, pada tahun 1908 jumlah umatnya adalah nol. Namun, pada tahun 1909 jumlah umat bertambah menjadi dua, tidak diketahui secara pasti mengapa ada pertambahan jumlah umat pada kala itu. 4 Paroki Gereja Santo Servatius, 2014. Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (5) http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2014/05/13/225300
Setelah itu, pada tahun 1910 - 1914, terhadi penurunan jumlah umat kembali, pada tahun ini jumlah umatnya kosong lagi. Setelah itu, pada tahun 1915 terdapat penambahan sebanyak 2 umat. Namun pada tahun 1916 - 1917,umat Gereja Katolik Kampung Sawah kosong kembali. Kondisi ini diperparah ketika pada tahun 1917, Pastor Kortenhors wafat di usia 69 tahun. Setelah peristiwa tersebut, ditunjuklah Pastor A. Mathijsen untuk menghidupkan Kembali umat Kampung Sawah. Usaha tersebut tidaklah sia-sia, karena umat Katolik di Kampung Sawah tersebut mulai berkembang lagi. Dengan dibantu oleh keluarga Pak Markus yang merupakan umat Katolik yang masih tersisa di Kampung Sawah, dan pastor yang baru yaitu Pastor Yoanes van der Loo, umat Katolik Kampung Sawah mulai hidup kembali. Hidupnya kembali umat Gereja Katolik Kampung Sawah ditandai dengan meningkatnya jumlah umat. Pada tahun 1921, umat yang dahulu menyebrang ke Gereja Methodis,kembali lagi ke Gereja Katolik. Umat yang semula berjumlah 20 orang, jumlahnya tiba - tiba melunjak menjadi 150 umat. Kondisi ini merupakan bukti kegigihan umat Gereja Katolik Kampung Sawah dan Pastor Loo yang berusaha bertahan di tengah kekacauan yang terjadi.5 Setahun setelahnya yaitu pada tahun 1922, Pastor Loo mengajak umat untuk membangun gedung gereja kedua. Gedung kecil dengan dilengkapi sebuan menara, dibangun di tanah persawahan, di lokasi gereja saat ini. Namun, pada tahun itu, Pastor Loo harus kembali ke negeri asalnya karena kesehatannya menurun. 5 Paroki Gereja Santo Servatius, 2014. Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (6) http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2014/05/28/212316
Sepulangnya Pastor Loo ke nega ra asalnya, Pastor yang melayani umat Kampung Sawah adalah Pastor van Driel. Lalu pada tahun 1935, Pastor penggangti Pastor van Driel telah tiba di Kampung Sawah. Beliau merupakan pastor pertama yang menetap di Kampung Sawah. Beliau adalah Pastor Oscar Cremers. Layanan dari Pastor van Driel melayani umat Kampung Sawah dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2.1. Pastor van Driel Dalam layanan Pastor Cremers, umat Kampung Sawah sangatlah makmur karena kepedulian dan perhatian dari Pastor Cremers. Pada tahun 1935, Pastor Cremers mengajak umat untuk membangun gereja dan pastoran baru karena gereja lama telah (rapuh, bobrok, rusak) bangunannya. Lalu, dengan kegigihan dan kesabaran umat dan Pastor Cremers, sebuah gedung gereja berukuran 11 meter × 24 meter dengan menara kecil pun terbangun dan selesai pada tanggal 23 September 1937. Pastor Cremers juga menerangi Kampung Sawah dengan pendidikan. Pada tahun 1936, beliau memberkati Sekolah Misi (cikal bakal Strada) yang sebenarnya sudah
berfungsi sejak 1925, namun baru saja selesai dipugar. Pada hari yang sama, Pastor Cremers memperkenakan 10 anak untuk menerima Komuni Kudus. Tak berhenti sampai disitu, Pastor Cremers juga mengirim beberapa pemuda ke Jakarta untuk mengikuti Cursus voor Voksonderwijzer (Sekolah Guru Desa) yang nantinya ketika mereka sudah lulus, akan ditempatkan di Sekolah Misi di Kampung Sawah. Pada tahun 1938, Pastor Cremers juga mengirimkan 2 pemuda ke Pusat Pendidikan Katolik di Tomohon, Sulawesi Utara. Bukan hanya itu, Pastor Cremers juga peduli terhadap kesehatan masyarakat. Dengan dukungan Het Sing Melania Werk voor Java, yaitu perkumpulan sosial yang beranggotakan ibu-ibu Belanda dan pribumi. Pada tahun 1935, berdirilah sebuah poliklinik di Kampung Sawah Selama tahun-tahun tersebut umat Katolik Kampung Sawah mengalami banyak perkembangan yang menggembirakan. Namun pada sekitar tahun 1945, sesaat setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia mengalami situasi yang tak menentu. Berbagai kelompok pejuang mulai bermunculan.6 Kampung Sawah yang pada saat itu menjadi kampung dengan warga yang banyak beragama Katolik dan Protestan diidentifikasikan sebagai bagian dari kolonial yang pro Belanda dan kontra revolusioner. Dari sudut pandang para pejuang, warga Kampung Sawah merupakan warga yang harus diperangi karena dianggap sebagai bagian dari kolonial. Pandangan inilah yang 6 Morita, 2018. Sejarah Datangnya Agama Nasrani di Kampung Sawah Bekasi https://www.kompasiana.com/estermorita1161/607c00f1d541df59ec 32a842/sejarah-datangnya-agama-nasrani-di-kampung-sawah-bekasi
menyebabkan terjadinya suatu peristiwa kelam yang dikenal sebagai peristiwa Gedoran Kampung Sawah. Gedoran merupakan suatu peristiwa kelam yang pernah terjadi di Kampung Sawah yang melibatkan antara kelompok pejuang dan warga Kampung Sawah. Gedoran berasal dari kata gedor yang artinya mengetuk pintu dengan keras yang tujuannya untuk memasuki rumah dalam arti lain pada saat itu warga Kampung Sawah mengalami perampokan dan penjarahan. Bermula pada 4 Oktober 1945, terjadi pertempuran antara pasukan pelopor dan polisi keamanan Cililitan di dekat Pondok Gede yang berdampak pada kejadian berikutnya yaitu pada tanggal 5 Oktober 1945.7 Pada 5 Oktober 1945, kelompok juang naik motor ke kampung sawah dengan tujuan menggeledah rumah penduduk untuk mendapatkan senjata. Tapi sesampainya mereka di Kampung Sawah, mereka malah membuat kekacauan dengan meletuskan tembakan sambil berteriak \"Merdeka!\". Sebagian dari mereka mulai menjarah dan merampok rumah-rumah warga dan sebagian yang lain pergi ke gereja Katolik dan membakar gereja tersebut. Akibat kerusuhan yang mereka ciptakan, warga Kampung Sawah pada malam itu tidur di bawah pepohonan dalam ketakutan. Harta dan benda mereka juga ludes dirampok oleh kelompok tersebut. Setelah kejadian malam itu, sejumlah warga mengungsi ke Jakarta karena rasa takut dan berbagai intimidasi. Ada warga yang mengungsi ke gereja Kramat dan ditampung selama 1 sampai 3 tahun di asrama Santo Yusuf, ada yang berlindung di pekarangan Gereja 7 Paroki Gereja Santo Servantius, 2014. Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (8) http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2014/05/28/214937
Katedral dan ada juga yang berlindung di pastoran Jatinegara. Tak lama kemudian, setelah situasi dirasa cukup aman, umat pun satu persatu kembali ke Kampung Sawah. Pada akhir tahun 1946 sudah terkumpul kembali lebih dari 90 warga Katolik di Kampung Sawah.8 Di tahun 1948, Pastor Fransiscus yang saat itu melayani Kampung Sawah mulai merenovasi pastoran dan gereja Kampung Sawah yang rusak akibat peristiwa gedoran. Namun ternyata situasi di Kampung Sawah masihlah rawan, berulang kali pada saat malam hari, warga masih dikejutkan dengan suara tembakan beruntun. Namun ternyata renovasi pastoran selesai pada 23 April 1950 saat itu jumlah umat Katolik yang sudah kembali ke Kampung Sawah berjumlah 200 orang. 1 bulan kemudian diselenggarakan lah pelantikan Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) pertama di kampung sawah yang terdiri dari 5 orang dan pada tanggal 20 Juni 1950 tercatat terjadi Misa Kudus pertama di Bekasi. 8 Paroki Gereja Santo Servantius, 2015. Sepangkeng Kisah Gereja Katolik Kampung Sawah (9) http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2015/04/14/204755
Provokasi di Sekitar Kampung Sawah Menurut Pak Eko Praptanto, pegiat kebhinnekaan Kampung Sawah, di Kampung Sawah tidak pernah terjadi konflik antaragama maupun antarmasyarakat. Konflik yang pernah terjadi di Kampung Sawah berasal dari provokasi pihak luar yang melakukannya dengan tujuan memecah belah kerukunan di Kampung Sawah. Provokasi itu berupa fitnah juga penyebaran hoaks. Provokasi dari luar yang pertama terjadi saat masa kampanya pemilu, tahun 1996-an. Terdapat rombongan truk yang sedang kampanye, diprovokasi untuk membakar gereja sembari melempar batu. Di saat provokasi terjadi yang menjaga serta mengamankan gereja, selain umat Katolik, juga umat Islam. Hal ini dapat terjadi karena kuatnya rasa persaudaraan antarmasyarakat di Kampung Sawah, yang dalam keadaan apa pun siap untuk bergandengan tangan dan saling membantu bila muncul masalah. Provokasi berikutnya, adalah, adanya komunitas agama tertentu yang menyebarkan fitnah tentang adanya kristenisasi, bahkan yahudinisasi di Kampung Sawah melalui media cetak Nasional. Berkaitan dengan hal ini, teguran keras dilakukan oleh ustadz asli Kampung Sawah.
Ustadz tersebut menyampaikan dengan keras, “Orang baru yang datang ke Kampung Sawah jangan menimbulkan fitnah dan kekacauan di masyarakat Kampung Sawah. Di sini sudah sejak dahulu rukun.” ujar Eko Praptanto menirukan ucapan sang ustadz.
Upaya Pencegahan Konflik Masyarakat Kampung Sawah sudah menerapkan Nilai Kerukunan sejak dahulu. Sehingga tidak mungkin konflik yang terjadi di Kampung Sawah berasal dari warga setempat. Beberapa konflik yang pernah terjadi di Kampung Sawah merupakan ulah pihak luar. Konflik ini biasanya berupa provokasi maupun fitnah. Inilah yang menjadi bukti, bahwa warga sudah terbiasa menghadapi masalah yang bermaksud datang dengan tujuan memecah belah. Dalam hal ini, pastinya ada beberapa hal yang diterapkan masyarakat setempat untuk mencegah dan menghadapi setiap permasalahan tersebut. Ketika ada masalah, masyarakat atau warga setempat selalu menyelesaikan dengan kepala dingin. Dimana dilakukan dengan bermusyawarah atau membahas permasalahan secara baik-baik dan bekerja sama untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, upaya ini biasa disebut dengan tradisi ngariung bareng. Dimana pemuka agama maupun warga bertemu dan berunding untuk menemukan inti permasalahan. Masyarakat setempat juga menghadapi masalah dengan saling percaya satu sama lain, hidup dengan kerukunan, tanpa rasa iri hati/dengki.
gambar 2.1. Ngariung bareng Sumber: https://pelitanusantara.com/polsek-rangkasbitung- laksanakan-lebak-ngariungdi-kampung-sawah/ Tidak hanya melakukan kegiatan ngeriung bareng, masyarakat Kampung Sawah selalu bahu- membahu di setiap saat. Maka ketika terjadinya konflik, masyarakat sudah paham secara jelas bagaimana cara terbaik untuk menghadapinya. Sebagai contohnya, setiap 30 September di saat umat Katolik membawa relikwi sambil mengelilingi Kampung Sawah, umat Muslim menjaga jalan yang akan dilalui umat Katolik. Contoh lainnya, saat salat Idul Fitri atau Idul Adha, umat Kristiani membantu dengan menjaga parkir dan mengatur jalan raya agar lancar dan tidak terjadi kemacetan.
Segitiga Emas Menjadi Simbol Kerukunan Terdapat sebuah Kawasan yang dijuluki “Segitiga Emas.” Kawasan ini bernama Kampung Sawah. Kampung Sawah tampak berbeda dibandingkan kawasan penduduk lainnya. Mereka memiliki tiga rumah ibadah dari agama yang berbeda dan lokasinya berdekatan.9 Tiga rumah ibadah ini adalah Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Kampung Sawah, dan Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi. Lokasi yang berdekatan dan titik bangunan berdiri membuat ketiga rumah ibadah itu terlihat seperti membentuk sebuah segitiga. Segitiga Emas didasari dari ketiga bangunan yang jika ditarik garis akan membentuk segitiga. Sementara emas memiliki arti berharga. Jadi Segitiga Emas jika dimaknai adalah semangat antar umat beragama dalam menjaga kerukunan yang berharga. Ketiga bangunan ini sering kali menjadi objek panutan bagi setiap warga yang melewati jalan tersebut. Karena faktanya, kerukunan yang ada di Kampung Sawah sangat dikagumi oleh masyarakat lain. 9 Kompas, 27 Desembar 2022. Asal-usul Segitiga Emas (https://amp.kompas.com/megapolitan/read/2022/12/27/11184941/as al-usul-julukan-segitiga-emas-untuk-kampung-sawah-kota-bekasi)
gambar 2.2. Bangunan segitiga emas Sumber: https://batakindonesia.com/kuatnya-imunitas- toleransi-warga-kampung-sawah/
Chapter 3
Kearifan Lokal Sebagai Bentuk Warisan Kampung sawah terkenal akan kerukunannya baik dari segi agama maupun budaya. Kerukunan-kerukunan tersebut hanya dapat terjalin karena adanya nasihat- nasihat dari orang ke orang dengan menggunakan pemisalan. Nasihat di Kampung Sawah berkesan menakut-nakuti anak agar nasihat tersebut dapat tertanam di kehidupannya. Hal ini hanya dapat dilakukan jika orang tersebut memiliki relasi yang baik. Karena, orang yang mendapat nasihat akan menanamkannya dengan maksimal jika nasihat tersebut disampaikan oleh orang yang memiliki relasi baik. Contohnya seperti orang tua dan anaknya, pemimpin agama dengan umatnya. Nasihat ini juga salah satu kearifan lokal yang diturunkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Warisan ini merupakan keunggulan, karena jika di masa yang akan datang terjadi masalah, dengan mudahnya masyarakat Kampung Sawah akan bergandeng tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kampung Sawah menerapkan prinsip kerja sama sebagai tradisi, dimana hal ini sudah menjadi kegiatan sehari hari masyarakat Kampung Sawah. Tradisi adalah sebuah peninggalan ataupun warisan ataupun aturan- aturan, ataupun harta, kaidah-kaidah, adat istiadat dan juga norma (Van Reusen, 1992).
gambar 3.1. Bergandengan tangan dalam keberagaman Sumber: https://images.app.goo.gl/FcT3woTxe37LZ4wR7 Masyarakat memiliki bermacam-macam cara untuk meneruskan kearifan lokal berupa nasihat-nasihat dari orang ke orang dengan menggunakan pemisalan. Hal ini hanya dapat dilakukan jika orang tersebut memiliki relasi yang baik. Contohnya seperti orang tua dan anaknya, pemimpin agama dengan umatnya.
Warisan Kearifan Lokal 1. Tradisi Membawa Relikwi Santo Servatius Keliling Kampung Sawah Relikwi dapat didefinisikan sebagai suatu material, baik berupa bagian tubuh dari para santa-santo atau para kudus yang telah meninggal, dan juga benda-benda yang bersentuhan dengan mereka. Relikwi dibagi menjadi tigakelas. Relikwi kelas pertama adalah semua bagian tubuh dari orang kudus tersebut; kelas kedua adalah pakaian dan segala sesuatu yang penting yang dipunyai oleh santa- santo, serta alat-alat penyiksaan yang membunuh santa-santo; kelas ketiga adalah benda-benda yang disentuhkan kepada orang kudus atau ke makam orang kudus.10 Tradisi membawa relikwi ini diawali pada tanggal 30 September 1996, dimana dating sepotong tulang dari abad keempat dibawa dari gereja induk Santo Servatius di Maastrich, Belanda. Sesampai di gereja, relikwi ditempatkan di tempat khusus. Sejak saat itu, umat Paroki Kampung Sawah setiap tahun, pada tanggal 30 September, memperingati kedatangan relikwi Santo Servatius dengan melakukan prosesi hening keliling kampung (Paroki Gereja Santo Servatius, 2014). 10 Paroki Gereja Santo Servatius, 2015. Sepakeng Kisah Gereja Santo Servatius. http://www.servatius- kampungsawah.org/read/2015/04/14/221930
gambar 3.2 Relikwi (Abigail, 2023) 2. Babaritan/Sedekah Bumi Sedekah bumi merupakan tradisi yang dilakukan setiap tanggal 13 Mei, dimana dilaksanakan hanya setahun sekali. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk selalu mengingat atas hasil alam yang telah dilimpahkan kepada umat manusia. Sedekah bumi dulunya dikenal dengan nama babaritan adalah tradisi masyarakat dalam mensyukuri berkah panenan yang diberikan Tuhan kepada umatnya. Pada zaman dahulu, tradisi ini lebih dikenal sebagai sebuah upacara animisme kuno memohon keselamatan kepada penunggu di suatu tempat tertentu. Menurut Bapak Eko Praptanto dalam wawancara 14 Juni 2023, sedekah bumi adalah sebuah upaya manusia untuk mensyukuri apa yang sudah diberikan bumi kepada manusia tersebut (Praptanto, 2023).
gambar 3.3. Sedekah bumi (Bilqis, 2023) 3. Ngaduk Dodol Ngaduk dodol merupakan salah satu bagian dari tradisi sedekah bumi. Ngaduk adalah tradisi kita mengumpulkan hasil bumi yang kita peroleh untuk membuat dodol. Tradisi ini membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya, yaitu sekitar 7 jam. Tradisi ini melibatkan seluruh warga untuk saling berkumpul dan mengaduk dodol bersama-sama. Ngaduk dodol mengandung nilai gotong royong, dimana tradisi ini membawa hal positif, yaitu menguatkan kebersamaan masyrakat. Tradisi ngaduk dodol tidak hanya sebatas mengaduk dodol saja. Terdapat makna yang mendalam didalam tradisi tersebut. Dalam wawancara, 9 Juni 2023, Bapak Matheus Nalih menjelaskan bahwa dodol yang dibuat oleh masyarakat Kampung Sawah memiliki filosofi sebagai dodol persaudaraan.
Diibaratkan akan harumnya dodol, se-harum rasa persaudaraan yang ada di Kampung Sawah. Lengketnya dodol, se-lengket rasa persaudaraan orang-orang Kampung Sawah yang tidak boleh lepas. Dodol itu bertahan lama, oleh karena itu kekuatan persaudaraan di Kampung Sawah juga harus memiliki daya tahan yang lama. gambar 3.4. Ngaduk dodol Sumber: https://images.app.goo.gl/tzJQhR4tPC3N4z4t7 4. Ngariung Bareng Ngariung bareng adalah kegiatan dimana para masyarakat maupun pemimpin agama berkumpul untuk membahas sesuatu. Ngariung bareng merupakan salah satu upaya yang kerap dilakukan masyarakat. Dilakukannya ngariung dengan tujuan mempererat kesatuan di dalam masyarakat. Tidak hanya itu, ngariung bareng juga merupakan salah satu upaya dalam menghadap konflik yang ada.
Setiap warga di Kampung Sawah sudah menerapkan nilai kerukunan di dalam kehidupannya. Di saat itulah nilai kerukunan yang sudah ada pada masing-masing warga dipadukan, kemudian saling berkumpul dengan pemikiran yang sudah rukun itu untuk meningkatkan apapun. Seperti lingkungan hidupnya dan bagaimana teknologi bisa menyatukan ini semua (Praptanto, 2023). gambar 3.5. Ngariung Bareng Sumber: https://nasional.sindonews.com/newsread/956757/94 /tradisiunik-kampung-sawah-bekasi-warga-saling- antar-makanan-di- 5. Tradisi Dalam Berpakaian Melestarikan identitas Kampung Sawah juga menjadi strategi yang dilakukan Gereja St. Servatius. Para pelayan umat mengenakan pakaian khas Betawi saat Misa. Bagi pria mengenakan baju koko, selempang sarung, dan peci nasional. Sementara yang perempuan memakai kebaya encim.11 11 Mubarok, 02 Desember 2022. Budaya Betawi Jadi Perekat Kerukunan Beragama di Kampung Sawah Bekasi. (http://okezone.com/read/2022/12/02/337/2719100/budaya-betawi- jadi-perekat-kerukunan-beragama-di-kreadung-sawah-bekasi)
Search