KURIKULUM MERDEKA PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Perbandingan Kurikulum PAUD Mancanegara Dosen Pengampu: Dr. Kulsum Nur Hayati, M.Pd., M.Si. Disusun Oleh: Anis Kumala Fasha Lintang Febyarum PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2022
KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpandingan Kurikulum PAUD di Mancanegara. Kami menyadari sepenuhnya di dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan khususnya bisa bermanfaat bagi penyusun dan dapat menambah wawasan kita. Yogyakarta, September 2022 Penyusun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa 70% siswa berusia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum dalam memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar. Skor PISA ini tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam sepuluh hingga lima belas tahun terakhir. Studi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan besar antarwilayah dan antarkelompok sosial-ekonomi dalam hal kualitas belajar. Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemendikbudristek melakukan penyederhanaan kurikulum dalam kondisi khusus (kurikulum darurat) untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran (learning loss) pada masa pademi. Hasilnya, dari 31,5% sekolah yang menggunakan kurikulum darurat menunjukkan, penggunaan kurikulum darurat dapat mengurangi dampak pandemi sebesar 73% (literasi) dan 86% (numerasi). Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus semakin menguatkan pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih komprehensif. Dalam pemulihan pembelajaran, sekarang sekolah diberikan kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih yaitu: Kurikulum 2013 secara penuh, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran.
B. Rumusan Masalah 1. Apa yang menjadi Dasar pemikiran ditetapkannya Kurikulum Merdeka? 2. Apa yang menjadi Karakteristik Kurikulum Merdeka? 3. Bagaimana Kerangka Kurikulum Merdeka? 4. Bagaimana Struktur Kurikulum Merdeka? 5. Bagaimana Cara Menyusun Kurikulum Merdeka? 6. Apa yang Menjadi Prasyarat Penerapan Kurikulum Merdeka? 7. Bagaimana Pengembangan Kurikulum Merdeka? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui Dasar Pemikiran Ditetapkannya Kurikulum Merdeka 2. Untuk mengetahui Karakteristik Kurikulum Merdeka 3. Untuk mengaetahui Kerangka Kurikulum Merdeka 4. Untuk mengetahui Struktur Kurikulum Merdeka 5. Untuk mengetahui Bagaimana Cara menyusun Kurikulum Merdeka 6. Untuk mengetahui Prasyarat Penerapan Kurikulum Merdeka 7. Untuk mengetahui Pengembangan Kurikulum Merdeka
BAB II PEMBAHASAN A. Dasar Pemikiran Ditetapkannya Kurikulum Merdeka Landasan utama perancangan Kurikulum Merdeka adalah filosofi Merdeka Belajar yang juga melandasi kebijakan-kebijakan pendidikan lainnya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Rencana Strategis Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024 (Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020). Permendikbud tersebut mengindikasikan bahwa Merdeka Belajar mendorong perubahan paradigma, termasuk paradigma terkait kurikulum dan pembelajaran. Dalam mendukung upaya ini, “kurikulum yang terbentuk oleh Kebijakan Merdeka Belajar akan berkarakteristik fleksibel, berdasarkan kompetensi, berfokus pada pengembangan karakter dan keterampilan lunak (soft skills), dan akomodatif terhadap kebutuhan dunia” (Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020, p.55). Filosofi Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara juga menjadi landasan penting dalam merumuskan prinsip perancangan kurikulum. Menurut Dewantara, kemerdekaan merupakan tujuan pendidikan sekaligus sebagai prinsip yang melandasi strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Kemerdekaan sebagai tujuan belajar, menurut Dewantara, dicapai melalui pengembangan budi pekerti. “Budi pekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga…. Dengan adanya ‘budi pekerti’ itu tiaptiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya”. 1 B. Karakteristik Kurikulum Merdeka 1. Menguatkan kegiatan bermain yang bermakna sebagai proses belajar 2. Menguatkan relevansi PAUD sebagai fase fondasi (bagian penting dari pengembangan karakter dan kemampuan anak serta kesiapan anak bersekolah di jenjang selanjutnya) 3. Menguatkan kecintaan pada dunia literasi dan numerasi sejak dini 4. Adanya projek penguatan profil pelajar pancasila 1 Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Kurikulum Untuk Pemulihan Pembelajaran: Edisi 1 2021, h. 28
5. Proses pembelajaran dan asesmen yang lebih fleksibel 6. Hasil asesmen digunakan sebagai pijakan guru untuk merancang kegiatan bermain dan pijakan orang tua dalam mengajak anak bermain di rumah 7. Menguatkan peran orang tua sebagai mitra satuan2 C. Kerangka Kurikulum Merdeka Kerangka Dasar Kurikulum ditetepkan oleh Pemerintah Pusat dengan mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan SNP. Tujuan Pendidikan Nasional Profil Pelajar Pancasila Standar Kompetensi Lulusan (Untuk PAUD STPPA) Standar Isi Standar Proses Standar Penilaian Standar lainnya Standar Kurikulum Capaian Pembelajaran Prinsip Pembelajaran dan Asesmen Visi & Misi satuan Kurikulum pendidikan operasional di satuan pendidkan Konteks dan kebijakan lokal Perangkay ajar yang dikembangkan secara mandiri 2 Kemendikbud RI, Buku Saku Tanya Jawab Kurikulum Merdeka: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2021, h. 17
D. Struktur Kurikulum Merdeka Struktur Kurikulum Pada PAUD terdiri atas: 1. Kegiatan Pembelajaran Intrakulikuler Kegiatan pembelajaran intrakulikuler dirancang agar anak dapat mencapai kemampuan yang tertuang di dalam capaian pembelajaran. Intisari kegiatan pembelajaran intrakulikuler merupakan bermain bermakna sebagai perwujudan “Merdeka Belajar, Merdeka Bermain”. kegiatan yang dipilih harus memberikan pengalaman yang menyenangkan dan mampu meningkatkan capaian anak. Kegiatan perlu didukung oleh penggunaan sumber-sumber belajar yang nyata dan ada di lingkungan sekitar anak. Sumber belajar yang tidak tersedia secara nyata dapat dihadirkan dengan dukungan teknologi dan buku bacaan anak. 2. Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila Projek penguatan profil pelajar pancasila bertujuan untuk memperkuat upaya pencapaian profi pelajar pancasila yang mengacu pada standar Kompetensi Lulusan (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak untuk PAUD). Penguatan profil pelajar pancasila di PAUD dilakukan dalam konteks perayaan tradisi lokal, hari besar nasional, dan internasional. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar pancasila menggunakan alokasi waktu kegiatan di PAUD. Alokasi waktu pembelajaran di PAUD usia tahun sampai dengan 6 tahun paling sedikit 900 menit perminggu atau 1050 menit perminggu. Alokasi waktu di PAUD usia 3 tahun sampai dengan 4 tahun paling sedikit 360 menit perminggu. Penguatan profil pelajar Pancasila dilaksanakan dalam konteks perayaan tradisi lokal, hari besar nasional, dan internasional. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan perwujudan enam karakter profil pelajar Pancasila pada fase fondasi. Untuk pelaksanaan kegiatan di PAUD, pemerintah menetapkan tema-tema utama yang dapat dikerucutkan menjadi topik oleh satuan pendidikan sesuai dengan konteks wilayah serta karakteristik peserta didik yaitu Aku sayang Bumi, Aku Cinta Indonesia, Bermain dan Bekerja Sama, serta Imajinasiku.3 Tema tema yang masih bersifat umum ini bisa dikembangkan lagi menjadi topik-topik yang bisa menginspirasi menciptakan kegiata proyek. Dalam rancangan kegiatan proyek 3 KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 262/M/2022 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 56/M2022 TENTANG PEDOMAN PENERAPAN KURIKULUM DALAM RANGKA PEMULIHAN PEMBELAJARAN
tersebut, satuan PAUD bisa menentukan tujuan pembelajaran yang lebih konkret dan kontekstual. Struktur Kegiatan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka Pada Pendidikan Anak Usia Dini dibagi dalam tiga elemen capaian pembelajaran yang pelaksanaannya dilakukan secara terpadu dalam kegiatan bermain sambil belajar. Adapun tiga elemen capaian pembelajaran (CP) pada pendidikan anak usia dini yaitu: (1) nilai agama dan budi pekerti; (2) jatidiri; (3) dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa dan seni. Nilai Agama dan Budi Pekerti mencakup kemampuan dasar-dasar agama dan akhlak mulia. Adapun rumusan capaian pembelajaran untuk elemen ini yaitu Anak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulai mengenal dan mempraktikkan ajaran pokok sesuai dengan agama dan kepercayaanNya. Jati Diri adalah penilaian dan pemahaman seseorang mengenai dirinya, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari kelompok tertentu. Dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dikaitkan dengan kemampuan berbicara, berhitung, memecahkan masalah yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, memahami dan menggunakan potensi kemampuan dirinya.4 E. Cara Menyusun Kurikulum Merdeka Bagian Depan 1. Cover 2. Lembar pengesahan (Kepala Sekolah, Komite, Kepala Dinas) 3. Kata Pengantar 4. Rangkuman hasil pengembangan kurikulum tahun sebelumnya 5. Daftar isi 6. Daftar lampiran Bagian Isi BAB I PENDAHULUAN: 1. Latar Belakang: Tujuan pendidikan, profil pelajar pancasila, standar Nasional Pendidikan, kondisi satuan pendidikan 4 Lina Eka Retnaningsih, Ummu Khairiyah, Kurikulum Merdeka Pada Pendidikan Anak Usia Dini: Jurnal Program Studi PGRA Vol.8 No. 2 Juli 2022, h. 152-153
2. Budaya dan pengembangannya 3. Struktur kurikulum BAB II 1. Karakteristik satuan pendidikan 2. Visi misi 3. Tujuan pendidikan satuan 4. Rencana pembelajaran 5. Pengorganisasian pembelajaran 6. Evaluasi 7. Lampiran : RPP, SOP PENUTUP F. Prasyarat Penerapan Kurikulum Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Kurikulum Merdeka yang sebelumnya dikenal sebagai Kurikulum Prototipe yang telah diimplementasikan di hampir 2.500 sekolah yang tergaung dalam Program Sekolah penggerak (PGP) sebagai bagian dari pembelajaran paradigma baru. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Kriterianya ada satu, yaitu berminat menerapkan Kurikulum Merdeka untuk memperbaiki pembelajaran. Kepala sekolah/madrasah yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka akan diminta untuk mempelajari materi yang disiapkan oleh Kemendikbudristek tentang konsep Kurikulum Merdeka. Selanjutnya, jika setelah mempelajari materi tersebut sekolah memutuskan untuk mencoba menerapkannya, mereka akan diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan sebuah survei singkat. Jadi, prosesnya adalah pendaftaran dan pendataan, bukan seleksi. Kemendikbudristek percaya bahwa kesediaan kepala sekolah/madrasah dan guru dalam memahami dan mengadaptasi kurikulum di konteks masing-masing menjadi kunci keberhasilan. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka dapat diterapkan di semua
sekolah/madrasah, tidak terbatas di sekolah yang memiliki fasilitas yang bagus dan di daerah perkotaan. Namun, kita menyadari tingkat kesiapan sekolah/madrasah berbeda- beda karena adanya kesenjangan mutu sekolah/madrasah. Oleh karena itu, Kemendikbudristek menyiapkan skema tingkat penerapan kurikulum, berdasarkan hasil survei yang diisi sekolah ketika mendaftar.5 G. Pengembangan Kurikulum Melalui Kurikulum Merdeka, guru lebih kreatif dalam pembelajaran. Fungsi kurikulum bagi guru, adalah untuk memandu dalam proses belajar murid. Melalui Kurikulum Merdeka, guru dapat fokus pada perkembangan capaian pembelajaran pada anak usia dini sebagai peserta didik. Berdasarkan Kepmen 033/H/KR/tahun 2022 bahwa capaian pembelajaran di PAUD meliputi nilai agama dan budi pekerti, jati diri, serta dasar-dasar kemampuan literasi, matematika, sains,teknologi, rekayasa, dan seni. Hasil tersebut sejalan bahwa guru memberikan stiulasi bermaindan memberikan pembelajaran yang dirancang dnegan cermat melalui stimulasi melalui lingkungan yang dirancang dengan cermat guna mengembangkan potensi anak usia dini. Prinsip melaksanakan kegiatan pendidikan anak usia dini yang ada pada kurikulum mengharuskan memberikan kemudahan bagi praktisi dan masyarakat.6 Persepsi guru PAUD dalam pembelajaran paradigma baru pada kurikulum merdeka menyatakan bahwa kurikulum merdeka memudahkan guru dalam membuat perangkat ajar, artinya kurikulum merdeka lebih sederhana dalam membuat rancangan pembelajaran. Rencana pembelajaran yang dikaitkan dengan tujuan kegiatan dimaknai.7 5 Pengawas Smp et al., “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU SMP NEGERI 10 KOTA TEBINGTINGGI DALAM MENYUSUN MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA MELALUI KEGIATAN”, 2022, p. 92– 106,. 6 Rosyida Nurul Anwar, “Management of Islamic Religious Education Learning in Children with Special Needs”, Vol. 6 No. 1 (2021), p. 539–548, https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i1.971. 7 Rosyida Nurul Anwar, “Persepsi Guru PAUD Terhadap Pembelajaran Paradigma Baru Melalui Kurikulum Merdeka”, Vol. 9 No. 1 (2021), p. 210–219,.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kurikulum merdeka beriringan dengan konsep merdeka belajar yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam menyusun kurikulum merdeka yang perlu diperhatikan yaitu kerangka dasar dan struktur kurikulumnya. Dalam kurikulum merdeka, struktur kurikulum berisi kegiatan intrakulikuler untuk penguatan profil pelajar Pancasila. Yang Menjadi Karakteristik Kurikulum Merdeka yaitu: 1). Menguatkan kegiatan bermain yang bermakna sebagai proses belajar, 2). Menguatkan relevansi PAUD sebagai fase fondasi (bagian penting dari pengembangan karakter dan kemampuan anak serta kesiapan anak bersekolah di jenjang selanjutnya), 3). Menguatkan kecintaan pada dunia literasi dan numerasi sejak dini, 4). Adanya projek penguatan profil pelajar pancasila, 5). Proses pembelajaran dan asesmen yang lebih fleksibel, 6). Hasil asesmen digunakan sebagai pijakan guru untuk merancang kegiatan bermain dan pijakan orang tua dalam mengajak anak bermain di rumah, 7). Menguatkan peran orang tua sebagai mitra satuan.
DAFTAR PUSTAKA Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Kurikulum Untuk Pemulihan Pembelajaran: Edisi 1 2021 Kemendikbud RI, Buku Saku Tanya Jawab Kurikulum Merdeka: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2021 KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 262/M/2022 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI NOMOR 56/M2022 TENTANG PEDOMAN PENERAPAN KURIKULUM DALAM RANGKA PEMULIHAN PEMBELAJARAN Lina Eka Retnaningsih, Ummu Khairiyah, Kurikulum Merdeka Pada Pendidikan Anak Usia Dini: Jurnal Program Studi PGRA Vol.8 No. 2 Juli 2022 Pengawas Smp et al., “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU SMP NEGERI 10 KOTA TEBINGTINGGI DALAM MENYUSUN MODUL AJAR KURIKULUM MERDEKA MELALUI KEGIATAN”, 2022 Rosyida Nurul Anwar, “Management of Islamic Religious Education Learning in Children with Special Needs”, Vol. 6 No. 1 2021 https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i1.971. Rosyida Nurul Anwar, “Persepsi Guru PAUD Terhadap Pembelajaran Paradigma Baru Melalui Kurikulum Merdeka”, Vol. 9 No. 1 2021
Search
Read the Text Version
- 1 - 12
Pages: